٩ - بَابُ شُرۡبِ الۡأَعۡلَى إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ
9. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi hingga Setinggi Dua Mata Kaki
٢٣٦٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا مَخۡلَدٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ
جُرَيۡجٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ
أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ فِي
شِرَاجٍ مِنَ الۡحَرَّةِ يَسۡقِي بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
(اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ - فَأَمَرَهُ بِالۡمَعۡرُوفِ - ثُمَّ أَرۡسِلۡ إِلَى
جَارِكَ). فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: آنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ
وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ، حَتَّى يَرۡجِعَ
الۡمَاءُ إِلَى الۡجَدۡرِ). وَاسۡتَوۡعَى لَهُ حَقَّهُ، فَقَالَ الزُّبَيۡرُ:
وَاللهِ إِنَّ هٰذِهِ الۡآيَةَ أُنۡزِلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ﴿فَلَا وَرَبِّكِ لَا
يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥].
قَالَ لِي ابۡنُ شِهَابٍ: فَقَدَّرَتِ الۡأَنۡصَارُ وَالنَّاسُ قَوۡلَ
النَّبِيِّ ﷺ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ) وَكَانَ
ذٰلِكَ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. [طرفه في: ٢٣٦٠].
2362. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Makhlad mengabarkan kepada
kami. Ia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Syihab
menceritakan kepadaku dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya ia menceritakan
kepadanya:
Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair mengenai
saluran-saluran air dari bukit batu yang ia gunakan untuk mengairi pohon
kurma. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Airilah
(kebunmu) wahai Zubair—beliau memerintahkannya dengan cara yang
makruf—kemudian alirkanlah kepada tetanggamu.”
Orang Ansar itu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”
Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian
beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) kemudian bendunglah sampai air menggenang
setinggi dinding pembatas tanah!”
Beliau memenuhi hak Az-Zubair secara utuh. Az-Zubair berkata: Demi Allah,
sesungguhnya ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut:
“Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau
(Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS
An-Nisa’: 65).
Ibnu Syihab berkata kepadaku: Maka orang-orang Ansar dan manusia mengukur
sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Airilah (kebunmu) kemudian
bendunglah sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah,” dan batasan
tersebut adalah hingga setinggi dua mata kaki.