٧٤ - بَابُ الۡإِسۡرَاءِ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى السَّمَوَاتِ وَفَرۡضِ
الصَّلَوَاتِ
74. Bab Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ke
Langit dan Kewajiban Salat-Salat
٢٥٩ - (١٦٢) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ
سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ
رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُتِيتُ بِالۡبُرَاقِ - وَهُوَ دَابَّةٌ أَبۡيَضُ
طَوِيلٌ فَوۡقَ الۡحِمَارِ وَدُونَ الۡبَغۡلِ. يَضَعُ حَافِرَهُ عِنۡدَ
مُنۡتَهَى طَرۡفِهِ -. قَالَ: فَرَكِبۡتُهُ حَتَّى أَتَيۡتُ بَيۡتَ
الۡمَقۡدِسِ، قَالَ: فَرَبَطۡتُهُ بِالۡحَلۡقَةِ الَّتِي يَرۡبِطُ بِهِ
الۡأَنۡبِيَاءُ،
259. (162). Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin
Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami
dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,
“Aku dibawakan burak—yaitu seekor hewan tunggangan yang berwarna putih,
bertubuh panjang, ukurannya di atas keledai dan di bawah bagal, ia
melangkahkan kakinya sejauh ujung pandangan matanya—.”
Beliau melanjutkan, “Maka aku pun menungganginya hingga aku tiba di
Baitulmakdis.”
Beliau melanjutkan, “Lalu aku mengikatnya pada lingkaran besi yang biasa
digunakan oleh para nabi untuk mengikat hewan tunggangan mereka.”
قَالَ: ثُمَّ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ فَصَلَّيۡتُ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ
خَرَجۡتُ، فَجَاءَنِي جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنۡ خَمۡرٍ
وَإِنَاءٍ مِنۡ لَبَنٍ، فَاخۡتَرۡتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبۡرِيلُ ﷺ: اخۡتَرۡتَ
الۡفِطۡرَةَ، ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ
فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ:
مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ،
فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي
بِخَيۡرٍ.
Beliau melanjutkan:
Kemudian aku masuk ke dalam masjid lalu melaksanakan salat dua rakaat di
dalamnya, setelah itu aku keluar. Lalu Jibril—‘alaihis-salam—mendatangiku
dengan membawa sebuah wadah berisi khamar dan sebuah wadah berisi susu. Aku
pun memilih susu, maka Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Kamu
telah memilih fitrah.”
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit pertama, lalu Jibril meminta agar
dibukakan pintu langit. Maka dia ditanya, “Siapakah kamu?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanya lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Adam. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ
عَلَيۡهِ السَّلَامُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ
مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ
إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابۡنَىِ الۡخَالَةِ عِيسَى ابۡنِ
مَرۡيَمَ وَيَحۡيَىٰ بۡنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيۡهِمَا،
فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيۡرٍ.
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kedua, lalu
Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan,
“Siapakah kamu?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
dua orang sepupu (dari jalur ibu), yaitu ‘Isa putra Maryam dan Yahya bin
Zakariyya`—shalawatullahi ‘alaihima—. Keduanya menyambutku dengan hangat dan
mendoakan kebaikan untukku.
ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ،
فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ:
مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ،
فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ ﷺ، إِذَا هُوَ قَدۡ أُعۡطِيَ شَطۡرَ
الۡحُسۡنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.
Kemudian Jibril membawa aku naik ke langit ketiga, lalu Jibril meminta agar
dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Yusuf—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ternyata ia telah dianugerahi separuh
dari seluruh ketampanan. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan
untukku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ
عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ
مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ
إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإِذَا أَنَا بِإِدۡرِيسَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي
بِخَيۡرٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ٥٧﴾
[مريم: ٥٧].
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keempat, lalu
Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan,
“Siapakah ini?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad.”
Dia bertanya, ”Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Idris. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.
Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang
tinggi.” (QS Maryam: 57).
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الۡخَامِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ،
قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ. قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ،
قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا،
فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ،
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kelima, lalu Jibril meminta agar
dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Harun—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan
mendoakan kebaikan untukku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ
عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ
مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ
إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَىٰ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي
بِخَيۡرٍ.
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keenam, lalu
Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan,
“Siapakah ini?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan
mendoakan kebaikan untukku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ،
فَقِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ:
مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ،
فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِبۡرَاهِيمَ ﷺ، مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى
الۡبَيۡتِ الۡمَعۡمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدۡخُلُهُ كُلَّ يَوۡمٍ سَبۡعُونَ
أَلۡفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيۡهِ.
Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta agar
dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah ini?”
Jibril menjawab, “Jibril.”
Ditanyakan lagi, “Siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”
Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”
Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”
Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan
Ibrahim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang menyandarkan punggungnya ke
Baitulmakmur. Ternyata tempat itu dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat
setiap harinya dan mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana setelahnya.
ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدۡرَةِ الۡمُنۡتَهَى، وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ
الۡفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالۡقِلَالِ. قَالَ: فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنۡ
أَمۡرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتۡ، فَمَا أَحَدٌ مِنۡ خَلۡقِ اللهِ
يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَنۡعَتَهَا مِنۡ حُسۡنِهَا، فَأَوۡحَى اللهُ إِلَيَّ مَا
أَوۡحَىٰ، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمۡسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ،
فَنَزَلۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَىٰ أُمَّتِكَ؟
قُلۡتُ: خَمۡسِينَ صَلَاةً، قَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ، فَاسۡأَلۡهُ
التَّخۡفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَإِنِّي قَدۡ
بَلَوۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَخَبَرۡتُهُمۡ،
Kemudian Jibril membawa aku pergi ke Sidratulmuntaha, ternyata daun-daunnya
seperti telinga-telinga gajah dan buah-buahnya seperti tempayan besar.
Beliau melanjutkan:
Tatkala pohon itu dilingkupi oleh perintah Allah berupa apa saja yang
melingkupinya, pohon itu pun berubah bentuk, sehingga tidak ada seorang pun
dari makhluk Allah yang sanggup melukiskan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan
kepadaku apa yang Dia wahyukan. Dia mewajibkan kepadaku lima puluh kali salat
dalam setiap sehari semalam. Kemudian aku turun menemui Musa—shallallahu
‘alaihi wa sallam—, lalu ia bertanya, “Apakah yang telah Rabmu wajibkan atas
umatmu?”
Aku menjawab, “Lima puluh kali salat.”
Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya,
karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu. Sesungguhnya
aku telah menguji Bani Israil dan telah mengetahui betul karakter mereka.”
قَالَ: فَرَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي فَقُلۡتُ: يَا رَبِّ، خَفِّفۡ عَلَى أُمَّتِي،
فَحَطَّ عَنِّي خَمۡسًا، فَرَجَعۡتُ إِلَى مُوسَىٰ فَقُلۡتُ: حَطَّ عَنِّي
خَمۡسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَارۡجِعۡ إِلَى
رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، قَالَ: فَلَمۡ أَزَلۡ أَرۡجِعُ بَيۡنَ
رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيۡنَ مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ حَتَّى
قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمۡسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ،
لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشۡرٌ، فَذٰلِكَ خَمۡسُونَ صَلَاةً. وَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ
فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ لَهُ
عَشۡرًا، وَمَنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا لَمۡ تُكۡتَبۡ شَيۡئًا،
فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ سَيِّئَةً وَاحِدَةً،
Beliau melanjutkan:
Maka aku kembali kepada Rabku lalu aku memohon, “Wahai Rabku, berilah
keringanan bagi umatku.”
Lalu Dia mengurangi lima kali salat dariku. Aku pun kembali menemui Musa lalu
aku berkata, “Dia telah mengurangi lima kali salat dariku.”
Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu, maka
kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”
Beliau melanjutkan:
Maka aku terus-menerus bolak-balik antara Rabku taala dan
Musa—‘alaihis-salam—, hingga akhirnya Allah berkata, “Wahai Muhammad,
sesungguhnya kewajiban itu adalah lima kali salat dalam setiap sehari semalam,
yang mana setiap salat nilainya sebanding dengan sepuluh salat, maka itu sama
saja dengan lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat melakukan
satu kebaikan lalu ia belum sempat mengamalkannya, maka dicatat untuknya satu
kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Dan
barang siapa yang berniat melakukan satu keburukan lalu ia tidak
mengamalkannya, maka tidak dicatat sesuatu pun atasnya. Jika ia
mengamalkannya, maka dicatat sebagai satu keburukan.”
قَالَ: فَنَزَلۡتُ حَتَّى انۡتَهَيۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ،
فَقَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: قَدۡ رَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسۡتَحۡيَيۡتُ
مِنۡهُ).
Beliau melanjutkan:
Maka aku turun hingga aku sampai kepada Musa—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—lalu aku mengabarkan hal itu kepadanya. Musa berkata, “Kembalilah
kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”
Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Aku menjawab, “Aku
telah berulang kali kembali kepada Rabku hingga aku merasa malu kepada-Nya.”
٢٦٠ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا
بَهۡزُ بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ: حَدَّثَنَا
ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أُتِيتُ،
فَانۡطَلَقُوا بِي إِلَى زَمۡزَمَ فَشُرِحَ عَنۡ صَدۡرِي، ثُمَّ غُسِلَ بِمَاءِ
زَمۡزَمَ، ثُمَّ أُنۡزِلۡتُ).
260. ‘Abdullah bin Hasyim Al-‘Abdi telah menceritakan kepadaku: Bahz bin Asad
menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami:
Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Ia berkata:
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku didatangi, lalu mereka
membawaku pergi ke sumur Zamzam, kemudian dadaku dibelah lalu dibasuh dengan
menggunakan air Zamzam, setelah itu aku dikembalikan.”
٢٦١ - (...) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ
سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ
رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهُ جِبۡرِيلُ ﷺ وَهُوَ يَلۡعَبُ مَعَ الۡغِلۡمَانِ،
فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنۡ قَلۡبِهِ، فَاسۡتَخۡرَجَ الۡقَلۡبَ،
فَاسۡتَخۡرَجَ مِنۡهُ عَلَقَةً. فَقَالَ: هٰذَا حَظُّ الشَّيۡطَانِ مِنۡكَ،
ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ
أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الۡغِلۡمَانُ يَسۡعَوۡنَ إِلَى أُمِّهِ -
يَعۡنِي ظِئۡرَهُ – فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدۡ قُتِلَ، فَاسۡتَقۡبَلُوهُ
وَهُوَ مُنۡتَقَعُ اللَّوۡنِ، قَالَ أَنَسٌ: وَقَدۡ كُنۡتُ أَرَى أَثَرَ ذٰلِكَ
الۡمِخۡيَطِ فِي صَدۡرِهِ.
261. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah
menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas
bin Malik:
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah didatangi oleh
Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang bermain bersama
anak-anak kecil lainnya. Lalu Jibril mengambil beliau dan merebahkannya,
kemudian membelah dada (bagian) jantung beliau. Jibril lalu mengeluarkan
jantung tersebut dan mengeluarkan sepotong gumpalan darah darinya, seraya
berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada di dalam dirimu.”
Kemudian Jibril membasuh jantung tersebut di dalam sebuah nampan emas dengan
menggunakan air Zamzam, lalu merapatkannya kembali, setelah itu
mengembalikannya ke tempat semula. Sementara itu, anak-anak kecil lainnya
datang berlari-lari menemui ibunya—yaitu ibu susuan beliau—lalu mereka
berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh!”
Orang-orang pun bergegas menyongsong beliau dan mereka mendapati beliau dalam
keadaan pucat pasi warnanya.
Anas berkata: Dan sungguh, dahulu aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di
dada beliau.
٢٦٢ - (...) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا
ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ – قَالَ:
حَدَّثَنِي شَرِيكُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي نَمِرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ
أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنۡ لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ
مِنۡ مَسۡجِدِ الۡكَعۡبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبۡلَ أَنۡ
يُوحَىٰ إِلَيۡهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ... وَسَاقَ
الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ، نَحۡوَ حَدِيثِ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، وَقَدَّمَ
فِيهِ شَيۡئًا وَأَخَّرَ، وَزَادَ وَنَقَصَ.
262. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb
menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sulaiman—yaitu Ibnu Bilal—mengabarkan
kepadaku. Ia berkata: Syarik bin ‘Abdullah bin Abu Namir menceritakan
kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan kepada kami
tentang malam ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diperjalankan
dari masjid Ka’bah; bahwasanya ada tiga orang yang mendatangi beliau sebelum
beliau diberi wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidilharam …. Ia
membawakan hadis tersebut dengan kisahnya secara lengkap yang semisal dengan
hadis Tsabit Al-Bunani, namun ia mendahulukan sebagian isi dan mengakhirkan
sebagian yang lain, serta menambah dan mengurangi.