١٨ - بَابٌ الۡبِكۡرَانِ يُجۡلَدَانِ وَيُنۡفَيَانِ
18. Bab Dua Orang yang Belum Pernah Menikah Dicambuk dan Diasingkan
﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجۡلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا مِائَةَ
جَلۡدَةٍ وَلَا تَأۡخُذۡكُمۡ بِهِمَا رَأۡفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنۡ كُنۡتُمۡ
تُؤۡمِنُونَ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ
مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ * الزَّانِي لَا يَنۡكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ
مُشۡرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنۡكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٌ
وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [النور: ٢-٣] قَالَ ابۡنُ عُيَيۡنَةَ:
رَأۡفَةٌ فِي إِقَامَةِ الۡحُدُودِ.
“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya
seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu
untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan
hari kemudian, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh
sebagian orang-orang yang beriman. Pezina laki-laki tidak menikah melainkan
dengan pezina perempuan atau wanita musyrik; dan pezina perempuan tidak
dinikahi melainkan oleh pezina laki-laki atau laki-laki musyrik, dan yang
demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nur: 2–3).
Ibnu ‘Uyainah berkata: (Makna) belas kasihan adalah dalam hal menegakkan
hukuman pidana (hudud).
٦٨٣١ - حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ:
أَخۡبَرَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ
عُتۡبَةَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ
يَأۡمُرُ فِيمَنۡ زَنَى وَلَمۡ يُحۡصَنۡ: جَلۡدَ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبَ عَامٍ.
[طرفه في:
٢٣١٤].
6831. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz
menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari ‘Ubaidullah
bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dari
Zaid bin Khalid Al-Juhani. Ia berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan
terhadap orang yang berzina dan belum pernah menikah: hukuman cambuk seratus
kali dan pengasingan selama satu tahun.
٦٨٣٢ - قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عُرۡوَةَ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ
عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ غَرَّبَ، ثُمَّ لَمۡ تَزَلۡ تِلۡكَ السُّنَّةَ.
6832. Ibnu Syihab berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa
‘Umar bin Al-Khaththab pernah mengasingkan (pezina yang belum pernah menikah),
kemudian hal itu senantiasa menjadi sunah yang berlaku.
٦٨٣٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ
عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي
هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَضَى فِيمَنۡ زَنَى
وَلَمۡ يُحۡصَنۡ: بِنَفۡىِ عَامٍ، بِإِقَامَةِ الۡحَدِّ عَلَيۡهِ. [طرفه في:
٢٣١٤].
6833. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan
kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari
Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—memutuskan terhadap orang yang berzina dan belum pernah menikah: dengan
pengasingan selama satu tahun beserta penegakan hukuman hudud atasnya.