Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2494

٧ - بَابُ شَرِكَةِ الۡيَتِيمِ وَأَهۡلِ الۡمِيرَاثِ
7. Bab Perserikatan Anak Yatim dan Ahli Waris


٢٤٩٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡعَامِرِيُّ الۡأُوَيۡسِيُّ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ: أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا. وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، عَنۡ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا﴾ إِلَى: ﴿وَرُبَاعَ﴾ [النساء: ٣].

2494. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Al-‘Amiri Al-Uwaisi telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab: ‘Urwah mengabarkan kepadaku: Ia bertanya kepada ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Dan Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Ia bertanya kepada ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—tentang firman Allah taala: “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil …” hingga: “… dan empat.” (QS An-Nisa’: 3).

فَقَالَتۡ: يَا ابۡنَ أُخۡتِي، هِيَ الۡيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجۡرِ وَلِيِّهَا، تُشَارِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيُعۡجِبُهُ مَالُهَا وَجَمَالُهَا، فَيُرِيدُ وَلِيُّهَا أَنۡ يَتَزَوَّجَهَا، بِغَيۡرِ أَنۡ يُقۡسِطَ فِي صَدَاقِهَا، فَيُعۡطِيهَا مِثۡلَ مَا يُعۡطِيهَا غَيۡرُهُ، فَنُهُوا أَنۡ يَنۡكِحُوهُنَّ إِلَّا أَنۡ يُقۡسِطُوا لَهُنَّ، وَيَبۡلُغُوا بِهِنَّ أَعۡلَى سُنَّتِهِنَّ مِنَ الصَّدَاقِ، وَأُمِرُوا أَنۡ يَنۡكِحُوا مَا طَابَ لَهُمۡ مِنَ النِّسَاءِ سِوَاهُنَّ.

‘Aisyah berkata: Wahai putra saudaraku, anak perempuan yatim itu berada dalam pengasuhan walinya dan berserikat dengannya dalam hartanya. Lalu harta dan kecantikannya membuat walinya tertarik, sehingga walinya ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam maharnya, yaitu tidak memberinya mahar setara dengan mahar yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Mereka dilarang menikahi anak-anak yatim tersebut kecuali mereka berlaku adil kepada mereka dan memberikan mahar tertinggi yang menjadi hak mereka, serta mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita lain yang menyenangkan hati mereka selain anak-anak yatim itu.

قَالَ عُرۡوَةُ: قَالَتۡ عَائِشَةُ: ثُمَّ إِنَّ النَّاسَ اسۡتَفۡتَوۡا رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعۡدَ هٰذِهِ الۡآيَةِ، فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿وَيَسۡتَفۡتُونَكَ فِي النِّسَاءِ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَتَرۡغَبُونَ أَنۡ تَنۡكِحُوهُنَّ﴾ [النساء: ١٢٧] وَالَّذِي ذَكَرَ اللهُ أَنَّهُ يُتۡلَى عَلَيۡكُمۡ فِي الۡكِتَابِ الۡآيَةُ الۡأُولَى، الَّتِي قَالَ فِيهَا: ﴿وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا فِي الۡيَتَامَى فَانۡكِحُوا مَا طَابَ لَكُمۡ مِنَ النِّسَاءِ﴾ [النساء: ٣]‏ قَالَتۡ عَائِشَةُ: وَقَوۡلُ اللهِ فِي الۡآيَةِ الۡأُخۡرَى: ﴿وَتَرۡغَبُونَ أَنۡ تَنۡكِحُوهُنَّ﴾ هِيَ رَغۡبَةُ أَحَدِكُمۡ لِيَتِيمَتِهِ الَّتِي تَكُونُ فِي حَجۡرِهِ، حِينَ تَكُونُ قَلِيلَةَ الۡمَالِ وَالۡجَمَالِ، فَنُهُوا أَنۡ يَنۡكِحُوا مَا رَغِبُوا فِي مَالِهَا وَجَمَالِهَا مِنۡ يَتَامَى النِّسَاءِ إِلَّا بِالۡقِسۡطِ، مِنۡ أَجۡلِ رَغۡبَتِهِمۡ عَنۡهُنَّ.

[الحديث ٢٤٩٤ - أطرافه في: ٢٧٦٣، ٤٥٧٣، ٤٥٧٤، ٤٦٠٠، ٥٠٦٤، ٥٠٩٢، ٥٠٩٨، ٥١٢٨، ٥١٣١، ٥١٤٠، ٦٩٦٥].

‘Urwah berkata: ‘Aisyah berkata: Kemudian orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—setelah turunnya ayat ini, lalu Allah menurunkan, “Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita …” hingga firman-Nya: “… sedang kalian ingin menikahi mereka.” (QS An-Nisa’: 127). Ayat yang Allah sebutkan bahwa itu dibacakan kepada kamu dalam Al-Qur’an adalah ayat pertama, yang Dia berfirman di dalamnya, “Dan jika kalian khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.” (QS An-Nisa’: 3). ‘Aisyah berkata: Dan firman Allah dalam ayat yang lain: “... wa targhabuna an tankihuhunna …” itu adalah keengganan salah seorang dari kalian menikahi anak yatimnya yang berada dalam pengasuhannya ketika anak yatim itu sedikit harta dan kecantikannya. Maka mereka dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka minati harta dan kecantikannya kecuali dengan berlaku adil, disebabkan oleh keengganan mereka terhadap perempuan-perempuan yatim yang hartanya sedikit dan tidak cantik itu.