٢٧ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى
27. Bab Firman Allah Taala
﴿وَأَتۡمَمۡنَاهَا بِعَشۡرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةً *
وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا
تَتَّبِعۡ سَبِيلَ الۡمُفۡسِدِينَ * وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا
وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنۡظُرۡ إِلَيۡكَ قَالَ لَنۡ
تَرَانِي﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَأَنَا أَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [الأعراف:
١٤١-١٤٣].
“Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka
sempurnalah waktu yang ditentukan Rabnya empat puluh malam. Dan Musa berkata
kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan
perbaikilah (urusan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang
yang berbuat kerusakan.’ Ketika Musa datang untuk (munajat pada) waktu yang
telah Kami tentukan dan Rabnya telah berfirman (langsung) kepadanya, ia
berkata, ‘Ya Rabku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat
Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.’” Hingga
firman-Nya: “dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS Al-A’raf:
142–143).
يُقَالُ: دَكَّهُ زَلۡزَلَهُ، ﴿فَدُكَّتَا﴾ [الحاقة: ١٤] فَدُكِكۡنَ، جَعَلَ
الۡجِبَالَ كَالۡوَاحِدَةِ، كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَنَّ
السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقًا﴾ [الأنبياء: ٣٠]، وَلَمۡ يَقُلۡ:
كُنَّ، رَتۡقًا: مُلۡتَصِقَتَيۡنِ، ﴿أُشۡرِبُوا﴾ [البقرة: ٩٣] ثَوۡبٌ مُشَرَّبٌ
مَصۡبُوغٌ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿انۡبَجَسَتۡ﴾ [الأعراف: ١٦٠] انۡفَجَرَتۡ،
﴿وَإِذۡ نَتَقۡنَا الۡجَبَلَ﴾ [الأعراف: ١٧١] رَفَعۡنَا.
Dikatakan: dakkahu artinya mengguncangkannya. “Fa dukkatā” (QS Al-Haqqah: 14)
bermakna fa dukikna (maka mereka dihancurkan). Allah menjadikan gunung-gunung
itu seperti satu kesatuan sebagaimana firman Allah—‘azza wa jalla—: “Bahwa
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu.” (QS Al-Anbiya’:
30) dan Dia tidak berfirman kunna (bentuk jamak). Ratqan artinya keduanya
melekat menjadi satu. “Usyribū” (diresapkan) (QS Al-Baqarah: 93), ibarat kain
yang dicelup pewarna. Ibnu ‘Abbas berkata: “Inbajasat” (QS Al-A’raf: 160)
artinya memancar. “Dan (ingatlah), ketika nataqnā bukit” (QS Al-A’raf: 171)
artinya Kami mengangkat.
٣٣٩٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ
عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ،
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (النَّاسُ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ،
فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ
مِنۡ قَوَائِمِ الۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَفَاقَ قَبۡلِي، أَمۡ جُوزِيَ
بِصَعۡقَةِ الطُّورِ). [طرفه في:
٢٤١٢].
3398. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan
kepada kami dari ‘Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Abu Sa’id—radhiyallahu
‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Manusia
akan pingsan pada hari kiamat, lalu akulah orang pertama yang sadar. Ternyata
aku dapati Musa sedang memegang salah satu tiang arasy. Aku tidak tahu apakah
ia sadar sebelumku, ataukah ia telah dicukupkan dengan pingsannya pada hari
Bukit Thur.”