Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5493 dan 5494

١٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ الۡبَحۡرِ﴾ [المائدة: ٩٦]
12. Bab Firman Allah Taala: “Binatang buruan laut dihalalkan untuk kalian” (QS Al-Maidah: 96)


وَقَالَ عُمَرُ: صَيۡدُهُ مَا اصۡطِيدَ، ﴿وَطَعَامُهُ﴾ [المائدة: ٩٦] مَا رَمَى بِهِ. وَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: الطَّافِي حَلَالٌ.

‘Umar berkata, “Binatang buruan laut adalah apa yang ditangkap, dan makanannya adalah apa yang dihempaskan olehnya.” Abu Bakr berkata, “Binatang air yang mati lalu mengapung di atas permukaan air halal.”

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: طَعَامُهُ مَيۡتَتُهُ، إِلَّا مَا قَذِرۡتَ مِنۡهَا، وَالۡجِرِّيُّ لَا تَأۡكُلُهُ الۡيَهُودُ، وَنَحۡنُ نَأۡكُلُهُ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanan dari laut adalah bangkainya, kecuali yang kamu jijik darinya. Dan al-jirri (belut/lele), orang-orang Yahudi tidak memakannya, sedangkan kita memakannya.”

وَقَالَ شُرَيۡحٌ، صَاحِبُ النَّبِيِّ ﷺ: كُلُّ شَيۡءٍ فِي الۡبَحۡرِ مَذۡبُوحٌ.

Syuraih—sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— berkata, “Segala sesuatu yang ada di laut adalah telah disembelih.”

وَقَالَ عَطَاءٌ: أَمَّا الطَّيۡرُ فَأَرَى أَنۡ يَذۡبَحَهُ.

‘Atha` berkata, “Adapun burung, maka menurutku hendaknya ia disembelih.”

وَقَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: قُلۡتُ لِعَطَاءٍ: صَيۡدُ الۡأَنۡهَارِ وَقِلَاتِ السَّيۡلِ، أَصَيۡدُ بَحۡرٍ هُوَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، ثُمَّ تَلَا: ﴿هٰذَا عَذۡبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهٰذَا مِلۡحٌ أُجَاجٌ وَمِنۡ كُلٍّ تَأۡكُلُونَ لَحۡمًا طَرِيًّا﴾ [فاطر: ١٢] وَرَكِبَ الۡحَسَنُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ عَلَى سَرۡجٍ مِنۡ جُلُودِ كِلَابِ الۡمَاءِ.

Ibnu Juraij berkata: Aku bertanya kepada ‘Atha`, “Binatang buruan sungai dan genangan air banjir, apakah itu termasuk buruan laut?”

Ia menjawab, “Ya.” Kemudian ia membaca, “Yang ini tawar, segar, lagi sedap diminum dan yang ini asin lagi pahit. Dan dari masing-masing kalian dapat memakan daging yang segar” (QS Fatir: 12).

Al-Hasan—‘alaihis-salam—menunggangi pelana dari kulit kilabul-ma` (anjing air/berang-berang).

وَقَالَ الشَّعۡبِيُّ: لَوۡ أَنَّ أَهۡلِي أَكَلُوا الضَّفَادِعَ لَأَطۡعَمۡتُهُمۡ. وَلَمۡ يَرَ الۡحَسَنُ بِالسُّلَحۡفَاةِ بَأۡسًا.

Asy-Sya’bi berkata, “Seandainya keluargaku memakan katak, niscaya aku akan memberi mereka makan.”

Al-Hasan tidak memandang ada masalah pada kura-kura.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: كُلۡ مِنۡ صَيۡدِ الۡبَحۡرِ نَصۡرَانِيٌّ أَوۡ يَهُودِيٌّ أَوۡ مَجُوسِيٌّ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanlah dari buruan laut apa saja yang ditangkap oleh seorang Nasrani, Yahudi, atau Majusi.”

وَقَالَ أَبُو الدَّرۡدَاءِ فِي الۡمُرِي: ذَبَحَ الۡخَمۡرَ النِّينَانُ وَالشَّمۡسُ.

Abu Ad-Darda` berkata tentang al-muri (sejenis saus ikan), “Ikan dan matahari telah ‘menyembelih’ khamar itu.”

٥٤٩٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: غَزَوۡنَا جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ، فَجُعۡنَا جُوعًا شَدِيدًا، فَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمۡ يُرَ مِثۡلُهُ، يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا مِنۡهُ نِصۡفَ شَهۡرٍ، فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ عَظۡمًا مِنۡ عِظَامِهِ، فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5493. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij. Ia berkata: ‘Amr mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Kami ikut berperang dalam Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun) dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk sebagai pemimpin. Kami mengalami kelaparan yang amat sangat, lalu laut melemparkan seekor ikan mati yang belum pernah terlihat semisalnya, yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakan darinya selama setengah bulan. Abu ‘Ubaidah mengambil salah satu tulangnya, lalu seorang penunggang unta bisa lewat di bawahnya.

٥٤٩٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرًا يَقُولُ: بَعَثَنَا النَّبِيُّ ﷺ ثَلَاثَمِائَةِ رَاكِبٍ، وَأَمِيرُنَا أَبُو عُبَيۡدَةَ، نَرۡصُدُ عِيرًا لِقُرَيۡشٍ، فَأَصَابَنَا جُوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلۡنَا الۡخَبَطَ، فَسُمِّيَ جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا نِصۡفَ شَهۡرٍ وَادَّهَنَّا بِوَدَكِهِ، حَتَّى صَلَحَتۡ أَجۡسَامُنَا، قَالَ: فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ ضِلَعًا مِنۡ أَضۡلَاعِهِ فَنَصَبَهُ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ، وَكَانَ فِينَا رَجُلٌ، فَلَمَّا اشۡتَدَّ الۡجُوعُ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ نَهَاهُ أَبُو عُبَيۡدَةَ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5494. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari ‘Amr. Ia berkata: Aku mendengar Jabir berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kami dalam rombongan tiga ratus penunggang dengan pemimpin kami Abu ‘Ubaidah untuk mengintai kafilah dagang Quraisy. Kami mengalami kelaparan yang sangat hingga kami memakan daun-daunan yang rontok, sehingga pasukan itu dinamakan Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun).

Lalu laut menghempaskan seekor ikan yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakannya selama setengah bulan dan mengoleskan lemaknya pada tubuh kami hingga tubuh kami kembali pulih.

Jabir berkata: Abu ‘Ubaidah lantas mengambil salah satu tulang rusuk hewan itu dan menegakkannya, lalu seorang penunggang unta lewat di bawahnya. Sebelum itu, di tengah-tengah kami ada seorang laki-laki. Ketika kelaparan semakin hebat, ia menyembelih tiga ekor unta, kemudian menyembelih tiga ekor unta lagi, hingga akhirnya Abu ‘Ubaidah melarangnya.