Cari Blog Ini

Taisirul 'Allam - Hadits ke-37

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ

٣٧ – عَنۡ عَمَّارِ بۡنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَاجَةٍ فَأَجۡنَبۡتُ، فَلَمۡ أَجِدِ الۡمَاءَ فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ فَقَالَ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَقُولَ بِيَدَيۡكَ هٰكَذَا) ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيۡهِ الۡأَرۡضَ ضَرۡبَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الۡيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيۡهِ وَوَجۡهَهُ[1].
37. Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan. Kemudian aku junub dan tidak mendapati air. Lalu aku pun berguling-guling di tanah sebagaimana bergulingnya binatang. Setelah itu aku datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku ceritakan kepada beliau. Beliau bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu hanya melakukan demikian dengan kedua tanganmu.” Kemudian beliau menepuk tanah menggunakan kedua tangan satu kali tepukan, lalu beliau mengusapkan tangan kiri ke tangan kanan, punggung kedua telapak tangan, dan wajah.
غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:

  • فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ- تَقَلَّبَ فِي الۡأَرۡضِ حَتَّى عَمَّ بَدَنَهُ التُّرَابُ.
  • أَنۡ تَقُولَ بِيَدَيۡكَ: يُرَادُ بِالۡقَوۡلِ الۡفِعۡلُ، وَهُوَ كَثِيرٌ فِي لِسَانِ الشَّرۡعِ وَلُغَةِ الۡعَرَبِ.
Kosa kata asing dalam hadits:
  • فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ: membolak-balikkan badan di tanah sampai tanah merata mengenai seluruh badan.
  • أَنۡ تَقُولَ بِيَدَيۡكَ: yang dimaukan al-qaul adalah perbuatan. Dan ini sering digunakan di dalam ungkapan syariat dan bahasa Arab.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ (عَمَّارَ بۡنَ يَاسِرٍ) فِي سَفَرٍ لِبَعۡضِ حَاجَاتِهِ، فَأَصَابَتۡهُ جَنَابَةٌ، فَلَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ لِيَغۡتَسِلَ مِنۡهُ، وَكَانَ لَا يَعۡلَمُ حُكۡمَ التَّيَمُّمِ لِلۡجَنَابَةِ، وَإِنَّمَا يَعۡلَمُ حُكۡمَهُ لِلۡحَدَثِ الۡأَصۡغَرِ. فَاجۡتَهَدَ وَظَنَّ أَنَّهُ كَمَا مَسَحَ بِالصَّعِيدِ بَعۡضَ أَعۡضَاءِ الۡوُضُوءِ عَنِ الۡحَدَثِ الۡأَصۡغَرِ، فَلَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ التَّيَمُّمُ مِنَ الۡجَنَابَةِ بِتَعۡمِيمِ الۡبَدَنِ بِالصَّعِيدِ، قِيَاسًا عَلَى الۡمَاءِ، فَتَقَلَّبَ فِي الصَّعِيدِ حَتَّى عَمَّهُ التُّرَابُ وَصَلَّى.
فَلَمَّا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَكَانَ فِي نَفۡسِهِ مِمَّا عَمِلَهُ شَيۡءٌ، لِأَنَّهُ عَنِ اجۡتِهَادٍ مِنۡهُ، ذَكَرَ لَهُ ذٰلِكَ، لِيَرَى، هَلۡ هُوَ عَلَى صَوَابٍ أَوۡ لَا؟
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: يَكۡفِيكَ عَنۡ تَعۡمِيمِ بَدَنِكَ كُلِّهِ بِالتُّرَابِ أَنۡ تَضۡرِبَ بِيَدَيۡكَ الۡأَرۡضَ، ضَرۡبَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسَحَ شِمَالَكَ عَلَى يَمِينِكَ، وَظَاهِرَ كَفَّيۡكَ وَوَجۡهَكَ.
Makna secara umum:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus ‘Ammar bin Yasir dalam suatu perjalanan untuk sebagian keperluan beliau. Lalu ‘Ammar mengalami junub dan tidak memperoleh air untuk mandi. Beliau waktu itu tidak mengetahui hukum tayammum untuk junub. Beliau hanya mengetahui hukum tayammum untuk hadats kecil. Lalu beliau pun berijtihad dan menyangka sebagaimana tayammum dari hadits kecil dengan cara mengusap sebagian anggota wudhu` menggunakan tanah, berarti tayammum dari junub dengan cara meratakan tanah ke seluruh badan. Beliau mengkiaskan kepada air. Maka, beliau pun membolak-balikkan badan di tanah sampai tanah mengenai seluruh tubuh lalu beliau shalat.
Kemudian, ketika ‘Ammar datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di dalam benak ‘Ammar ada yang mengganjal dari perbuatannya tersebut karena itu dari hasil ijtihadnya sendiri, maka beliau ceritakan kepada Nabi. Sehingga akan terlihat apakah perbuatannya itu benar atau tidak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Cukup bagimu dari perbuatanmu meratakan tanah ke seluruh badan dengan menepuk tanah satu tepukan menggunakan kedua tanganmu. Kemudian engkau usapkan tangan kiri ke tangan kanan, punggung kedua telapak tangan, dan wajah.
اخۡتِلَافُ الۡعُلَمَاءِ:
اخۡتِلَافُ الۡعُلَمَاءِ، هَلۡ يُجۡزِئُ فِي التَّيَمُّمِ ضَرۡبَةٌ وَاحِدَةٌ لِلۡوَجۡهِ وَالۡكَفَّيۡنِ أَوۡ لَا بُدَّ مِنۡ ضَرۡبَتَيۡنِ؟ وَهَلۡ لَا بُدَّ مِنَ الۡمَسۡحِ عَلَى الۡيَدَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ:
فَذَهَبَ بَعۡضُهُمۡ –وَمِنۡهُمۡ الشَّافِعِي- إِلَى أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنۡ ضَرۡبَتَيۡنِ، وَاحِدَةٌ لِلۡوَجۡهِ وَالۡأُخۡرَى لِلۡيَدَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، مُحۡتَجِّينَ بِأَحَادِيثَ.
مِنۡهَا مَا رَوَاهُ الدَّارُقُطۡنِيُّ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ (التَّيَمُّمُ ضَرۡبَتَانِ، ضَرۡبَةٌ لِلۡوَجۡهِ وَضَرۡبَةٌ لِلۡيَدَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ). 
وَذَهَبَ الۡجُمۡهُورُ، وَمِنۡهُمۡ الۡإِمَامُ أَحۡمَدُ، وَالۡأَوۡزَاعِيُّ، وَإِسۡحَاقُ، وَأَهۡلُ الۡحَدِيثِ: إِلَى أَنَّ التَّيَمُّمَ ضَرۡبَةٌ وَاحِدَةٌ، وَأَنَّهُ لَا يُمۡسَحُ إِلَّا الۡوَجۡهُ وَالۡكَفَّانِ مُسۡتَدِلِّينَ بِأَحَادِيثَ صَحِيحَةٍ، مِنۡهَا حَدِيثُ عَمَّارٍ هٰذَا. قَالَ ابۡنُ حَجَرٍ: وَكَانَ عَمَّارٌ يُفۡتِي بِهِ بَعۡدَ زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَالرَّاوِي لِلۡحَدِيثِ أَعۡرَفُ بِمُرَادِهِ.
وَأَجَابُوا عَنۡ أَحَادِيثِ الضَّرۡبَتَيۡنِ وَالۡمِرۡفَقَيۡنِ، بِمَا فِيهَا مِنَ الۡمَقَالِ الۡمَشۡهُورِ.
وَلَا نَجۡعَلُ تِلۡكَ الۡأَحَادِيثَ فِي صَفِّ الۡأَحَادِيثِ الصِّحَاحِ الۡوَاضِحَةِ. قَالَ ابۡنُ عَبۡدِ الۡبَرِّ: أَكۡثَرُ الۡآثَارِ الۡمَرۡفُوعَةِ عَنۡ عَمَّارٍ ضَرۡبَةٌ وَاحِدَةٌ. وَمَا رُوِيَ مِنۡ ضَرۡبَتَيۡنِ فَكُلُّهَا مُضۡطَرِبَةٌ. وَقَالَ ابۡنُ دَقِيقِ الۡعِيدِ: وَرَدَ فِي حَدِيثِ التَّيَمُّمِ ضَرۡبَتَانِ، ضَرۡبَةٌ لِلۡوَجۡهِ، وَضَرۡبَةٌ لِلۡيَدَيۡنِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يُقَاوِمُ هٰذَا الۡحَدِيثُ فِي الصِّحَّةِ، وَلَا يُعَارِضُ مِثۡلُهُ بِمِثۡلِهِ.
وَقَالَ الۡخَطَّابِيُّ: ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ إِلَى أَنَّ التَّيَمُّمَ ضَرۡبَةٌ وَاحِدَةٌ لِلۡوَجۡهِ وَالۡكَفَّيۡنِ، وَهٰذَا الۡمَذۡهَبُ أَصَحُّ فِي الرِّوَايَةِ.
Perselisihan ulama:
Ulama berselisih apakah tayammum itu cukup satu tepukan untuk wajah dan dua telapak tangan atau harus dua tepukan. Dan apakah harus mengusap kedua tangan itu sampai kedua siku.
Sebagian ulama –di antaranya Asy-Syafi’i- berpendapat bahwa harus dua tepukan. Satu tepukan untuk wajah dan tepukan lain untuk kedua tangan sampai siku. Mereka berhujjah dengan hadits-hadits. Di antaranya adalah hadits riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar yang artinya, “Tayammum itu dua tepukan. Satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan untuk kedua tangan sampai siku.”
Mayoritas ulama, di antaranya adalah Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ishaq, dan ahli hadits, berpendapat bahwa tayammum itu satu tepukan dan yang diusap hanya wajah dan kedua telapak tangan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang shahih. Di antaranya hadits ‘Ammar ini. Ibnu Hajar berkata: ‘Ammar berfatwa dengannya sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabat yang meriwayatkan hadits lebih mengetahui maksud hadits.
Mereka menjawab tentang hadits dua tepukan dan dua siku dengan jawaban yang masyhur. Dan kita tidak memasukkan hadits-hadits tersebut ke dalam jajaran hadits-hadits shahih yang jelas. Ibnu ‘Abdul Barr berkata: Sebagian besar atsar yang marfu’ dari ‘Ammar adalah satu tepukan. Adapun yang diriwayatkan dua tepukan seluruhnya mudhtarib. Ibnu Daqiqil ‘Id berkata: Telah datang di dalam hadits tayammum itu dua kali tepukan, satu tepukan untuk wajah, satu tepukan untuk dua tangan. Namun itu tidak bisa menandingi hadits ‘Ammar ini dari sisi keshahihan dan hadits semisal ini tidak bisa menyelisihi hadits yang lebih shahih. Al-Khathabi berkata: Sekelompok ulama berpendapat bahwa tayammum itu satu tepukan untuk wajah dan dua telapak tangan, dan madzhab ini adalah yang paling shahih dalam periwayatan.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١- التَّيَمُّمُ لِلۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
٢- أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنۡ طَلَبِ الۡمَاءِ قَبۡلَ التَّيَمُّمِ.
٣- صِفَةُ التَّيَمُّمِ، وَهُوَ ضَرۡبُ الۡأَرۡضِ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسۡحُ الۡوَجۡهِ وَالۡيَدَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ وَتَعۡمِيمِهَا بِالۡمَسۡحِ. قَالَ ابۡنُ رُشۡدٍ: إِطۡلَاقُ اسۡمِ الۡيَدِ عَلَى الۡكَفِّ أَظۡهَرُ مِنۡ إِطۡلَاقِهِ عَلَى الۡكَفِّ وَالسَّاعِدِ.
٤- ذَكَرَ الصَّنۡعَانِيُّ أَنَّ الۡعَطۡفَ فِي رِوَايَاتِ هٰذَا الۡحَدِيثِ قَدۡ جَاءَ بِالۡوَاوِ وَتُفِيدُ الۡعَطۡفَ مُطۡلَقٌ وَجَاءَ بِالۡفَاءِ وَثُمَّ وَتُفِيدَانِ التَّرۡتِيبَ- وَالتَّرۡتِيبُ زِيَادَةٌ، وَالزِّيَادَةُ مِنَ الۡعَدۡلِ مَقۡبُولَةٌ فَيَحۡمِلُ مَجۡمُوعُ مَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ عَلَى التَّرۡتِيبِ. وَلَمۡ يَرِدۡ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ تَقۡدِيمُ الۡيَدَيۡنِ عَلَى الۡوَجۡهِ لَا قَوۡلًا وَلَا فِعۡلًا.
٥- أَنَّ التَّيَمُّمَ لِلۡحَدَثِ الۡأَكۡبَرِ، كَالتَّيَمُّمِ لِلۡحَدَثِ الۡأَصۡغَرِ، فِي الصِّفَةِ وَالۡأَحۡكَامِ.
٦- الۡاجۡتِهَادُ فِي مَسَائِلِ الۡعِبَادَاتِ.
٧- أَنَّ الۡمُجۡتَهِدَ إِذَا أَدَّاهُ اجۡتِهَادَهُ إِلَى غَيۡرِ الصَّوَابِ، وَفَعَلَ الۡعِبَادَةِ، ثُمَّ تَبَيَّنَ لَهُ الصَّوَابُ بَعۡدَ ذٰلِكَ، فَإِنَّهُ لَا يُعِيدُ تِلۡكَ الۡعِبَادَةَ.
Faidah hadits:
  1. Tayammum untuk mandi junub.
  2. Harus mencari air sebelum tayammum.
  3. Tata cara tayammum. Yaitu menepuk tanah satu kali tepukan, lalu mengusap wajah dan kedua tangan sampai siku dan meratakannya dengan mengusapnya. Ibnu Rusyd berkata: pemutlakan kata yad kepada telapak tangan itu lebih nampak daripada pemutlakan kepada telapak tangan dan lengan.
  4. Ash-Shan’ani menyebutkan bahwa ‘athaf pada riwayat-riwayat hadits ini datang dengan huruf wawu yang berfungsi ‘athaf mutlak dan ada pula menggunakan huruf fa` dan tsumma yang berfungsi tertib / urut. Urutan ini bersifat tambahan. Dan tambahan dari yang adil adalah diterima sehingga riwayat yang terkumpul di dalam dua kitab shahih menunjukkan tertib / urut. Dan tidak ada periwayatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan kedua tangan daripada wajah, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
  5. Bahwa tayammum untuk hadats besar seperti tayammum untuk hadats kecil dalam tata cara dan hukumnya.
  6. Ijtihad di dalam perkara ibadah.
  7. Bahwa orang yang berijtihad jika sudah melaksanakan ijtihadnya yang keliru, lalu melakukan suatu ibadah. Setelah itu kebenaran tampak baginya, maka ia tidak perlu mengulangi ibadahnya tadi. 

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٣٤٧) فِي التَّيَمُّمِ، وَمُسۡلِمٌ (٣٦٨) فِي الۡحَيۡضِ، وَرَوَاهُ أَيۡضًا أَبُو دَاوُدَ (٣٢١) فِي الطَّهَارَةِ، وَأَحۡمَدُ فِي الۡمُسۡنَدِ (٤/٣٩٦).

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Bagian-bagian Kalam

أَجۡزَاءُ الۡكَلَامِ

قَالَ: وَأَقۡسَامُهُ ثَلَاثَةٌ: اسۡمٌ، وَفِعۡلٌ، وَحَرۡفٌ جَاءَ لِمَعۡنًى.
Pembagian kalam ada tiga: isim, fi'il, dan huruf yang memiliki makna.
أَقُولُ: أَقۡسَامُ الۡكَلَامِ -أَيۡ: أَجۡزَاؤُهُ- الَّتِي يَتَأَلَّفُ مِنۡهَا أَوۡ مِنۡ بَعۡضِهَا ثَلَاثَةٌ لَا رَابِعَ لَهَا بِاتِّفَاقِ النَّحۡوِيِّينَ:
الۡأَوَّلُ: الۡاسۡمُ. الثَّانِي: الۡفِعۡلَ. الثَّالِثُ: الۡحَرۡفُ الَّذِي لَهُ مَعۡنًى.
فَمِثَالُ تَأَلُّفِهِ مِنۡهَا كُلِّهَا وَهُوَ الۡأَكۡثَرُ قَوۡلُكَ: (لَمۡ يُسَافِرۡ خَالِدٌ) فَـ(لَمۡ) حَرۡفٌ، وَ(يُسَافِرُ) فِعۡلٌ، وَ(خَالِدٌ) اسۡمٌ.
وَمِثَالُ تَأَلُّفِهِ مِنۡ بَعۡضِهَا قَوۡلُكَ: (حَضَرَ زَيۡدٌ) وَ(الصِّدۡقُ نَجَاةٌ) فَالۡأَوَّلُ مُؤَلَّفٌ مِنۡ فِعۡلٍ وَاسۡمٍ. وَالثَّانِي: مُؤَلَّفٌ مِنۡ اسۡمَيۡنِ.
وَقُدِّمَ الۡاسۡمُ عَلَى الۡفِعۡلِ وَالۡحَرۡفِ؛ لِشَرَفِهِ عَلَيۡهِمَا.
Pembagian kalam yang kalam itu tersusun darinya atau dari sebagiannya ada tiga, tidak ada keempatnya, menurut kesepakatan ahli nahwu: 
  1. Isim 
  2. Fi'il 
  3. Huruf yang memiliki makna. 
Contoh susunan kalam yang terdiri dari semua tiga bagian ini -dan ini yang paling banyak- adalah perkataanmu: لَمۡ يُسَافِرۡ خَالِدٌ. Di sini لَمۡ adalah huruf, يُسَافِرۡ adalah fi'il, dan خَالِدٌ adalah isim. Contoh susunan kalam yang terdiri dari sebagiannya saja adalah perkataanmu: حَضَرَ زَيۡدٌ dan الصِّدۡقُ نَجَاةٌ. Contoh pertama tersusun dari fi'il dan isim, contoh kedua tersusun dari dua isim.
Isim disebut lebih dahulu daripada fi'il dan huruf karena kemuliaannya di atas keduanya.
وَالۡاسۡمُ لُغَةً: مَا دَلَّ عَلَى مُسَمًّى. وَاصۡطِلَاحًا: كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا وَلَمۡ تَقۡتَرِنۡ بِزَمَانٍ، نَحۡوُ: (زَيۡدٌ شُجَاعٌ) فَإِنَّ كُلًّا مِنۡ (زَيۡدٌ)، وَ(شُجَاعٌ) كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا. فَـ(زَيۡدٌ) دَلَّ عَلَى ذَاتٍ مُسَمًّى بِهِ. وَ(شُجَاعٌ) دَلَّ عَلَى ذَاتٍ مَوۡصُوفَةٍ بِهٰذَا الۡوَصۡفِ وَهُوَ (الشَّجَاعَةُ)، وَكُلٌّ مِنۡهُمَا لَمۡ يَقۡتَرِنۡ بِزَمَانٍ.
فَخَرَجَ بِقَوۡلِنَا: (دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا) الۡحَرۡفُ؛ فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي غَيۡرِهَا.
وَخَرَجَ بِقَوۡلِنَا: (وَلَمۡ تَقۡتَرِنۡ بِزَمَانٍ) الۡفِعۡلُ؛ فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا وَاقۡتَرَنَتۡ بِزَمَانٍ.
Isim secara bahasa adalah yang menunjukkan kepada yang dinamai. Adapun secara istilah adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna pada kata itu sendiri dan tidak berkaitan dengan waktu. Contoh: زَيۡدٌ شُجَاعٌ, setiap dari زَيۡدٌ dan شُجَاعٌ adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri. Jadi زَيۡدٌ menunjukkan suatu zat yang dinamai dengan Zaid. شُجَاعٌ menunjukkan suatu zat yang disifati dengan sifat ini yaitu الشُجَاعَةُ (keberanian). Dan setiap keduanya tidak berkaitan dengan waktu.
Dengan definisi “menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri” maka harf tidak termasuk ke dalamnya. Karena harf itu adalah kata yang menunjukkan suatu makna di dalam selain kata tersebut. Dan dengan definisi “dan tidak berkaitan dengan waktu” maka fi'il tidak termasuk ke dalamnya. Karena fi'il adalah kalimat yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri dan berkaitan dengan waktu.
وَالۡفِعۡلُ لُغَةً: هُوَ نَفۡسُ الۡحَدَثِ الَّذِي يُحۡدِثُهُ الۡفَاعِلُ مِنۡ قِيَامٍ وَقُعُودٍ وَنَحۡوِهِمَا.
وَاصۡطِلَاحًا: كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا وَاقۡتَرَنَتۡ بِأَحَدِ الۡأَزۡمِنَةِ الثَّلَاثَةِ الَّتِي هِيَ: الۡمَاضِي وَالۡحَالُ وَالۡاسۡتِقۡبَالُ، نَحۡوُ: (خَرَجَ زَيۡدٌ).
فَـ(خَرَجَ) كَلِمَةٌ دَلَّتۡ فِي نَفۡسِهَا عَلَى مَعۡنًى وَهُوَ الۡخُرُوجُ، وَاقۡتَرَنَتۡ بِأَحَدِ الۡأَزۡمِنَةِ وَهُوَ الزَّمَنُ الۡمَاضِي الَّذِي حَصَلَ فِيهِ الۡخُرُوجُ.
فَخَرَجَ بِقَوۡلِنَا: (دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا) الۡحَرۡفُ؛ فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي غَيۡرِهَا.
وَخَرَجَ بِقَوۡلِنَا: (وَاقۡتَرَنَتۡ بِأَحَدِ الۡأَزۡمِنَةِ) الۡاسۡمُ؛ فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا وَلَمۡ تَقۡتَرِنۡ بِزَمَانٍ كَمَا تَقَدَّمَ.
Fi'il secara bahasa adalah perbuatan yang dilakukan oleh pelaku berupa berdiri, duduk, dan semisal keduanya. Adapun secara istilah adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri dan berkaitan dengan salah satu dari tiga waktu, yaitu: madhi (lampau), hal (sekarang), dan istiqbal (akan datang). Contoh: خَرَجَ زَيۡدٌ. Di sini خَرَجَ adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri yaitu keluar dan ia berkaitan dengan salah satu zaman yaitu zaman madhi (lampau) yang terjadi padanya perbuatan keluar itu.
Definisi “menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri” mengeluarkan harf. Karena harf adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di selain kata tersebut. Dan dengan definisi “berkaitan dengan salah satu zaman” mengeluarkan isim. Karena isim adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri dan tidak berkaitan dengan waktu sebagaimana penjelasannya telah lewat.
ثُمَّ اعۡلَمۡ أَنَّ الۡفِعۡلَ يَنۡقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقۡسَامٍ:
الۡأَوَّلُ: الۡمَاضِي: وَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ وَقَعَ قَبۡلَ زَمَانِ التَّكَلُّمِ) نَحۡوُ: (خَرَجَ وَأَكۡرَمَ وَانۡطَلَقَ وَاسۡتَخۡرَجَ).
وَالثَّانِي: الۡمُضَارِعُ: وَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ يَقَعُ فِي زَمَانِ التَّكَلُّمِ أَوۡ بَعۡدَهُ) نَحۡوُ: (يَخۡرُجُ وَيُكۡرِمُ وَيَنۡطَلِقُ وَيَسۡتَخۡرِجُ).
وَالثَّالِثُ: الۡأَمۡرُ: وَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ مُسۡتَقۡبَلٍ يُطۡلَبُ حُصُولُهُ أَوِ اسۡتِمۡرَارُهُ)، فَالۡأَوَّلُ: -وَهُوَ الۡأَكۡثَرُ- نَحۡوُ: (اخۡرُجۡ وَأَكۡرِمۡ وَانۡطَلِقۡ وَاسۡتَخۡرِجۡ) وَالثَّانِي: نَحۡوُ قَوۡلِكَ لِلۡمُجۡتَهِدِ: (اجۡتَهِدۡ) أَيۡ: اسۡتَمِرَّ عَلَى الۡاجۡتِهَادِ. وَمِنۡهُ قَوۡلُهُ تَعَالَى لَسَيِّدِ الۡمُتَّقِينَ: ﴿اتَّقِ اللهَ﴾ [الأحزاب: ١] أَيۡ: اسۡتَمِرَّ عَلَى تَقۡوَاكَ.
Kemudian, ketahuilah, bahwa fi'il terbagi menjadi tiga bagian: 
  1. Madhi, yaitu: fi'il yang menunjukkan suatu perbuatan yang terjadi sebelum waktu pembicaraan. Contoh: خَرَجَ, أَكۡرَمَ, انۡطَلَقَ, dan اسۡتَخۡرَجَ. 
  2. Mudhari', yaitu: fi'il yang menunjukkan suatu perbuatan yang terjadi pada waktu pembicaraan atau setelahnya. Contoh: يَخۡرُجُ, يُكۡرِمُ, يَنۡطَلِقُ, dan يَسۡتَخۡرِجُ. 
  3. Amr, yaitu fi'il yang menunjukkan suatu perbuatan yang akan datang yang dituntut untuk diwujudkan atau dituntut untuk tetap berlangsung. Contoh yang pertama dan ini yang paling banyak: اخۡرُجۡ, أَكۡرِمۡ, انۡطَلِقۡ, dan اسۡتَخۡرِجۡ. Contoh kedua adalah ucapanmu kepada seorang yang bersungguh-sungguh: اجۡتَهِدۡ yakni teruslah bersungguh-sungguh. Termasuk contoh ini adalah firman Allah ta'ala kepada tuannya orang-orang yang bertakwa: اتَّقِ اللهَ (QS. Al-Ahzab: 1), yakni teruslah di atas ketakwaanmu. 
وَالۡحَرۡفُ لُغَةً: الطَّرَفُ -بِفَتۡحِ الرَّاءِ- وَاصۡطِلَاحًا: (كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي غَيۡرِهَا) نَحۡوُ: (لَمۡ)، فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى وَهُوَ النَّفۡيُ.
وَهَٰذَا الۡمَعۡنَى لَا يَظۡهَرُ إِلَّا فِي غَيۡرِهِ وَهُوَ الۡفِعۡلُ. فَإِذَا قُلۡتَ: (لَمۡ يَقُمۡ زَيۡدٌ) كَانَ مَعۡنَاهُ نَفۡيَ الۡقِيَامِ عَنۡ زَيۡدٍ.
وَمِثۡلُهُ (هَلۡ)، فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى وَهُوَ الۡاسۡتِفۡهَامُ، وَهَٰذَا الۡمَعۡنَى لَا يَظۡهَرُ إِلَّا فِي غَيۡرِهِ، وَهُوَ الۡفِعۡلُ أَوِ الۡاسۡمُ، نَحۡوُ: (هَلۡ قَامَ زَيۡدٌ)، وَ(هَلۡ مُحَمَّدٌ كَرِيمٌ). فَالۡأَوَّلُ مَعۡنَاهُ: الۡاسۡتِفۡهَامُ عَنۡ قِيَامِ زَيۡدٍ. وَالثَّانِي مَعۡنَاهُ: الۡاسۡتِفۡهَامُ عَنۡ كَرَمِ مُحَمَّدٍ.
فَخَرَجَ بِقَوۡلِنَا: (دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي غَيۡرِهَا) الۡاسۡمُ وَالۡفِعۡلُ؛ فَإِنَّ كُلًّا مِنۡهُمَا كَلِمَةٌ دَلَّتۡ عَلَى مَعۡنًى فِي نَفۡسِهَا كَمَا تَقَدَّمَ.
Harf secara bahasa adalah tharaf (samping / tepi) dan secara istilah adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam selain kata itu. Contoh: لَمۡ adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna yaitu nafi (peniadaan). Makna ini tidak muncul kecuali di selain kata ini yaitu di fi'il setelahnya. Jika engkau katakan: لَمۡ يَقُمۡ زَيۡدٌ, maka maknanya adalah meniadakan berdirinya Zaid.
Semisal itu adalah هَلۡ, yaitu kata yang menunjukkan suatu makna berupa pertanyaan. Dan makna ini tidak muncul kecuali di selain kata ini, bisa di fi'il atau isim setelahnya. Contoh: هَلۡ قَامَ زَيۡدٌ dan هَلۡ مُحَمَّدٌ كَرِيمٌ. Contoh pertama maknanya adalah menanyakan dari berdirinya Zaid. Dan contoh kedua maknanya adalah mempertanyakan kedermawanan Muhammad.
Dan keluar dari ucapan kami “yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam selain kata tersebut” adalah isim dan fi'il. Karena setiap dari keduanya adalah kata yang menunjukkan kepada suatu makna di dalam kata itu sendiri sebagaimana yang penjelasannya telah lewat.
وَقَيَّدَ الۡمُصَنِّفُ الۡحَرۡفَ بِقَوۡلِهِ: (جَاءَ لِمَعۡنًى)؛ لِيُبَيِّنَ أَنَّ الۡحَرۡفَ الَّذِي يَدۡخُلُ فِي تَرۡكِيبِ الۡكَلَامِ هُوَ الَّذِي يَكُونُ لَهُ مَعۡنًى مِنَ الۡمَعَانِي كَـ(لَمۡ) فَإِنَّ مَعۡنَاهُ النَّفۡيُ، وَ(هَلۡ) فَإِنَّ مَعۡنَاهُ الۡاسۡتِفۡهَامُ، وَ(فِي) فَإِنَّ مَعۡنَاهُ الظَّرۡفِيَّةُ، وَنَحۡوُ ذَلِكَ مِنۡ حُرُوفِ الۡمَعَانِي.
فَإِنۡ لَمۡ يَكُنۡ لَهُ مَعۡنًى لَمۡ يَدۡخُلۡ فِي تَرۡكِيبِ الۡكَلَامِ كَزَايِ (زَيۡدٍ) وَيَائِهِ وَدَالِهِ؛ فَإِنَّهَا لَا مَعۡنًى لَهَا.
وَالۡحَاصِلُ: أَنَّ الۡحَرۡفَ يَنۡقَسِمُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ:
أَحَدِهِمَا: حَرۡفُ مَعۡنًى، وَهُوَ الَّذِي يَدۡخُلُ فِي تَرۡكِيبِ الۡكَلَامِ، كَالۡبَاءِ فِي قَوۡلِكَ: (بِاللهِ لَأَجۡتَهِدَنَّ)؛ فَإِنَّهَا تُفِيدُ الۡقَسَمَ.
وَالثَّانِي: حَرۡفُ مَبۡنًى، وَهُوَ الَّذِي يَدۡخُلُ فِي تَرۡكِيبِ الۡكَلِمَةِ، وَلَا يَكُونُ لَهُ مَعۡنًى، كَالۡبَاءِ فِي قَوۡلِكَ: (بَابٌ).
Penulis telah memberi batasan dengan perkataan beliau “yang memiliki makna” untuk menjelaskan bahwa harf yang termasuk di dalam susunan kalam adalah yang memiliki makna. Seperti لَمۡ yang bermakna nafi, هَلۡ yang bermakna pertanyaan, dan فِي yang bermakna keterangan, serta contoh lain dari huruf-huruf ma'ani (yang memiliki makna). Sehingga, apabila harf tidak memiliki makna, maka tidak termasuk di dalam susunan kalam. Seperti huruf zay, ya`, dan dal pada زَيۡدٍ, karena huruf-huruf itu tidak memiliki makna.
Kesimpulannya, harf terbagi menjadi dua bagian:
  1. Harf ma'nan, yaitu huruf yang masuk di dalam susunan kalam, seperti huruf ba` pada ucapanmu: بِاللهِ لَأَجۡتَهِدَنَّ yang memberi faidah sumpah. 
  2. Harf mabnan, yaitu huruf yang masuk di dalam susunan kata dan tidak memiliki makna, seperti huruf ba` dalam ucapanmu: بَابٌ.

Lihat juga:

Kebutuhan Manusia terhadap Ilmu

Berkata Harb bin Isma'il bin Khalaf Abu Muhammad al-Handzali rahimahullah, Aku pernah mendengar al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
النَّاسُ يَجۡتَاجُّونَ إِلَى الۡعِلۡمِ مِثۡلَ الۡخُبۡزِ وَالۡمَاءِ، لِأَنَّ الۡعِلۡمَ يُحۡتَاجُّ إِلَيۡهِ فِي كُلِّ سَاعَةٍ، وَالۡخُبۡزَ وَالۡمَاءَ فِي كُلِّ يَوۡمٍ مَرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ
"Manusia itu lebih butuh kepada ilmu daripada roti (makanan) dan air (minuman). Setiap detik ilmu itu senantiasa dibutuhkan. Adapun roti dan air dalam sehari hanya dibutuhkan sekedar satu atau dua kali sudah mencukupi."
(Thabaqah al-Hanabilah karya Ibn Abi Ya'la rahimahullah 1/55)

Sunan Abu Dawud hadits nomor 321

٣٢١ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ الۡأَنۡبَارِيُّ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ الضَّرِيرُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ، قَالَ: كُنۡتُ جَالِسًا بَيۡنَ عَبۡدِ اللهِ وَأَبِي مُوسَى، فَقَالَ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ! أَرَأَيۡتَ لَوۡ أَنَّ رَجُلًا أَجۡنَبَ فَلَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ شَهۡرًا، أَمَا كَانَ يَتَيَمَّمُ؟ قَالَ: لَا، وَإِنۡ لَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ شَهۡرًا، فَقَالَ أَبُو مُوسَى: فَكَيۡفَ تَصۡنَعُونَ بِهَذِهِ الۡآيَةِ الَّتِي فِي سُورَةِ الۡمَائِدَةِ ﴿فَلَمۡ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَوۡ رُخِّصَ لَهُمۡ فِي هَذَا لَأَوۡشَكُوا إِذَا بَرَدَ عَلَيۡهِمُ الۡمَاءُ أَنۡ يَتَيَمَّمُوا بِالصَّعِيدِ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: وَإِنَّمَا كَرِهۡتُمۡ هٰذَا لِهٰذَا؟ قَالَ: نَعَمۡ. فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: أَلَمۡ تَسۡمَعۡ قَوۡلَ عَمَّارٍ لِعُمَرَ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَاجَةٍ، فَأَجۡنَبۡتُ فَلَمۡ أَجِدِ الۡمَاءَ، فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَتَمَرَّغُ الدَّابَّةُ، ثُمَّ أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرۡتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَصۡنَعَ هَكَذَا) فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى الۡأَرۡضِ فَنَفَضَهَا، ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ عَلَي يَمِينِهِ، وَبِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ، عَلَى الۡكَفَّيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ وَجۡهَهُ؟ فَقَالَ لَهُ عَبۡدُ اللهِ: أَفَلَمۡ تَرَ عُمَرَ لَمۡ يَقۡنَعۡ بِقَوۡلِ عَمَّارٍ؟ [ق].
321. Muhammad bin Sulaiman Al-Anbari telah menceritakan kepada kami, Abu Mu'awiyah Adh-Dharir menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Syaqiq, beliau berkata: Aku pernah duduk di antara 'Abdullah dan Abu Musa. Abu Musa berkata: Wahai Abu 'Abdurrahman, apa pendapatmu sekiranya seseorang mengalami junub namun tidak mendapatkan air selama sebulan. Tidakkah ia bertayammum? Beliau menjawab: Tidak, walaupun ia tidak mendapatkan air selama sebulan. Abu Musa berkata: Lalu bagaimana yang kalian perbuat dengan ayat di surah Al-Maidah yang artinya, “lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” 'Abdullah berkata: Kalau mereka diberi keringanan dalam keadaan ini, khawatirnya apabila air terasa dingin bagi mereka, nanti mereka bertayammum dengan tanah. Abu Musa berkata kepadanya: Engkau tidak menyukainya hanya karena alasan ini? Beliau menjawab: Iya. Abu Musa berkata kepada beliau: Belumkah engkau mendengar ucapan 'Ammar kepada 'Umar: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu aku junub dan tidak mendapatkan air. Maka aku pun berguling-guling di tanah bagaikan binatang berguling. Setelah itu aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan aku ceritakan kepada beliau. Beliau bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu hanya melakukan demikian.” Beliau menepuk tanah dengan tangannya lalu mengibaskannya. Kemudian beliau mengusap tangan kanan dengan tangan kiri dan tangan kiri dengan tangan kanan pada kedua telapak tangan. Kemudian beliau mengusap wajahnya. 'Abdullah lalu berkata kepada beliau: Apakah engkau tidak melihat bahwa 'Umar tidak merasa cukup dengan ucapan 'Ammar?

Shahih Muslim hadits nomor 368

١١٠ – (٣٦٨) – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ، جَمِيعًا عَنۡ أَبِي مُعَاوِيَةَ قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ؛ قَالَ: كُنۡتُ جَالِسًا مَعَ عَبۡدِ اللهِ وَأَبِي مُوسَىٰ. فَقَالَ أَبُو مُوسَىٰ: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، أَرَأَيۡتَ لَوۡ أَنَّ رَجُلًا أَجۡنَبَ فَلَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ شَهۡرًا. كَيۡفَ يَصۡنَعُ بِالصَّلَاةِ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَا يَتَيَمَّمُ وَإِنۡ لَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ شَهۡرًا. فَقَالَ أَبُو مُوسَىٰ: فَكَيۡفَ بِهَٰذِهِ الۡآيَةِ فِي سُورَةِ الۡمَائِدَةِ: ﴿فَلَمۡ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾ [المائدة: ٦] فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَوۡ رُخِّصَ لَهُمۡ فِي هَٰذِهِ الۡآيَةِ، لَأَوۡشَكَ، إِذَا بَرَدَ عَلَيۡهِمُ الۡمَاءُ، أَنۡ يَتَيَمَّمُوا بِالصَّعِيدِ. فَقَالَ أَبُو مُوسَىٰ لِعَبۡدِ اللهِ: أَلَمۡ تَسۡمَعۡ قَوۡلَ عَمَّارٍ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَاجَةٍ فَأَجۡنَبۡتُ، فَلَمۡ أَجِدِ الۡمَاءَ، فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ، ثُمَّ أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرۡتُ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَقُولَ بِيَدَيۡكَ هَٰكَذَا) ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيۡهِ الۡأَرۡضَ ضَرۡبَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الۡيَمِينِ، وَظَاهِرَ كَفَّيۡهِ، وَوَجۡهَهُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: أَوَلَمۡ تَرَ عُمَرَ لَمۡ يَقۡنَعۡ بِقَوۡلِ عَمَّارٍ؟
[البخاري: كتاب التيمم، باب إذا خاف الجنب على نفسه المرض...، رقم: ٣٤٥].
110. (368). Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami, seluruhnya dari Abu Mu'awiyah. Abu Bakr berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Syaqiq; Beliau berkata: Aku pernah duduk bersama 'Abdullah dan Abu Musa. Abu Musa berkata: Wahai Abu 'Abdurrahman, apa pendapatmu kalau seseorang junub namun ia tidak mendapatkan air selama sebulan. Bagaimana dengan shalatnya? 'Abdullah berkata: Dia tidak tayammum walaupun tidak mendapatkan air selama sebulan. Abu Musa berkata: Lalu, bagaimana dengan ayat dalam surah Al-Maidah ini, yang artinya, “lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6). 'Abdullah berkata: Kalau mereka diberi rukhsah dengan ayat ini, tentu apabila air terasa dingin bagi mereka, nanti mereka bertayammum menggunakan tanah. Abu Musa berkata kepada 'Abdullah: Belumkah engkau mendengar ucapan 'Ammar: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu aku junub dan aku tidak memperoleh air. Maka, aku pun berguling-guling di tanah seperti bergulingnya hewan. Setelah itu aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu aku ceritakan itu kepada beliau. Beliau bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu hanya melakukan demikian dengan kedua tanganmu.” Kemudian beliau menepuk tanah dengan kedua tangannya sekali tepukan, lalu mengusapkan tangan kiri ke tangan kanan, punggung kedua telapak tangan, dan wajah. 'Abdullah berkata: Tidakkah engkau lihat bahwa 'Umar tidak merasa cukup dengan ucapan 'Ammar?
١١١ - (…) - وَحَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الۡجَحۡدَرِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ شَقِيقٍ قَالَ: قَالَ أَبُو مُوسَىٰ لِعَبۡدِ اللهِ. وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ... نَحۡوَ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَقُولَ هَٰكَذَا) وَضَرَبَ بِيَدَيۡهِ إِلَى الۡأَرۡضِ، فَنَفَضَ يَدَيۡهِ فَمَسَحَ وَجۡهَهُ وَكَفَّيۡهِ.
111. Abu Kamil Al-Jahdari telah menceritakan kepada kami: 'Abdul Wahid menceritakan kepada kami: Al-A'masy menceritakan kepada kami, dari Syaqiq, beliau berkata: Abu Musa berkata kepada 'Abdullah. Beliau melanjutkan hadits dengan kisahnya... seperti hadits Abu Mu'awiyah. Hanya saja, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu untuk melakukan demikian.” Beliau menepuk tanah dengan kedua tangannya, lalu mengibas kedua tangannya dan mengusap wajah dan kedua telapak tangan.
١١٢ - (…) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا – يَحۡيَىٰ يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدٍ الۡقَطَّانَ - عَنۡ شُعۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي الۡحَكَمُ عَنۡ ذَرٍّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبۡزَىٰ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا أَتَى عُمَرَ فَقَالَ: إِنِّي أَجۡنَبۡتُ فَلَمۡ أَجِدۡ مَاءً. فَقَالَ: لَا تُصَلِّ. فَقَالَ عَمَّارٌ: أَمَا تَذۡكُرُ، يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ أَنَا وَأَنۡتَ فِي سَرِيَّةٍ فَأَجۡنَبۡنَا، فَلَمۡ نَجِدۡ مَاءً، فَأَمَّا أَنۡتَ فَلَمۡ تُصَلِّ، وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكۡتُ فِي التُّرَابِ وَصَلَّيۡتُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَضۡرِبَ بِيَدَيۡكَ الۡأَرۡضَ، ثُمَّ تَنۡفُخَ، ثُمَّ تَمۡسَحَ بِهِمَا وَجۡهَكَ وَكَفَّيۡكَ) فَقَالَ عُمَرُ: اتَّقِ اللهَ يَا عَمَّارُ. قَالَ: إِنۡ شِئۡتَ لَمۡ أُحَدِّثۡ بِهِ.
قَالَ الۡحَكَمُ: وَحَدَّثَنِيهِ ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبۡزَى عَنۡ أَبِيهِ، مِثۡلَ حَدِيثِ ذَرٍّ. قَالَ: وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ، عَنۡ ذَرٍّ، فِي هٰذَا الۡإِسۡنَادِ الَّذِي ذَكَرَ الۡحَكَمُ. فَقَالَ عُمَرُ: نُوَلِّيَكَ مَا تَوَلَّيۡتَ.
[البخاري: كتاب التيمم، باب التيمم هل ينفخ فيهما، رقم: ٣٣٨].
112. 'Abdullah bin Hasyim Al-'Abdi telah menceritakan kepadaku: Yahya bin Sa'id Al-Qaththan menceritakan kepada kami, dari Syu'bah, beliau berkata: Al-Hakam menceritakan kepadaku dari Dzarr, dari Sa'id bin 'Abdurrahman bin Abza, dari ayahnya: Bahwa seseorang datang kepada 'Umar lalu berkata: Sesungguhnya aku mengalami junub, namun aku tidak mendapati air. Beliau berkata: Engkau jangan shalat. 'Ammar berkata: Wahai amirul mu`minin, apa engkau tidak ingat ketika aku dan engkau dalam suatu rombongan pasukan lalu kita junub dan kita tidak mendapati air. Adapun engkau tidak shalat. Sedangkan aku berguling-guling ke tanah lalu aku shalat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu untuk menepuk tanah dengan kedua tanganmu, lalu engkau tiup, kemudian engkau usap wajah dan kedua telapak tanganmu menggunakan kedua tanganmu.” 'Umar berkata: Bertakwalah kepada Allah, wahai 'Ammar. Beliau berkata: Jika engkau ingin, aku tidak akan menceritakannya.
Al-Hakam berkata: Ibnu 'Abdurrahman bin Abza menceritakan hadits ini dari ayahnya, semisal hadits Dzarr. Beliau berkata: Salamah menceritakan kepadaku, dari Dzarr dengan sanad ini yang telah disebutkan Al-Hakam. 'Umar berkata: Kami serahkan hal itu padamu.
١١٣ - (…) - وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا النَّضۡرُ بۡنُ شُمَيۡلٍ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡحَكَمِ قَالَ: سَمِعۡتُ ذَرًّا، عَنِ ابۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبۡزَى. قَالَ: قَالَ الۡحَكَمُ: وَقَدۡ سَمِعۡتُهُ مِنِ ابۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبۡزَى، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا أَتَى عُمَرَ فَقَالَ: إِنِّي أَجۡنَبۡتُ فَلَمۡ أَجِدۡ مَاءً. وَسَاقَ الۡحَدِيثَ. وَزَادَ فِيهِ: قَالَ عَمَّارٌ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، إِنۡ شِئۡتَ - لِمَا جَعَلَ اللهُ عَلَيَّ مِنۡ حَقِّكَ - لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا وَلَمۡ يَذۡكُرۡ: حَدَّثَنِي سَلَمَةُ، عَنۡ ذَرٍّ.
113. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr bin Syumail menceritakan kepada kami: Syu'bah mengabarkan kepada kami, dari Al-Hakam, beliau berkata: Aku mendengar Dzarr, dari Ibnu 'Abdurrahman bin Abza. Beliau berkata: Al-Hakam berkata: Sungguh aku telah mendengarnya dari Ibnu 'Abdurrahman bin Abza, dari ayahnya: Bahwa seseorang datang kepada 'Umar dan berkata: Sesungguhnya aku junub namun aku tidak mendapati air. Beliau melanjutkan hadits. Beliau menambahkan: 'Ammar berkata: Wahai amirul mu`minin, jika engkau ingin -atas dasar yang telah Allah menjadikan hakmu untuk wajib aku tunaikan-, aku tidak menceritakannya kepada seorang pun. Beliau tidak menyebutkan: Salamah menceritakan kepadaku, dari Dzarr.