Cari Blog Ini

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1425

٣ - بَابُ مَا جَاءَ فِي السَّتۡرِ عَلَى الۡمُسۡلِمِ 
3. Bab riwayat tentang menutupi aib seorang muslim 


١٤٢٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ نَفَّسَ عَنۡ مُؤۡمِنٍ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ الدُّنۡيَا نَفَّسَ اللهُ عَنۡهُ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ الۡآخِرَةِ، وَمَنۡ سَتَرَ عَلَى مُسۡلِمٍ سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوۡنِ الۡعَبۡدِ مَا كَانَ الۡعَبۡدُ فِي عَوۡنِ أَخِيهِ). 

1425. [Sahih] Qutaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang meringankan satu kesusahan dari sekian kesusahan dunia dari seorang mukmin, niscaya Allah akan ringankan darinya satu kesusahan dari sekian kesusahan akhirat. Dan siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” 

وَفِي الۡبَابِ عَنۡ عُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ، وَابۡنِ عُمَرَ. حَدِيثُ أَبِي هُرَيۡرَةَ هَٰكَذَا رَوَى غَيۡرُ وَاحِدٍ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَ رِوَايَةِ أَبِي عَوَانَةَ، وَرَوَى أَسۡبَاطُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، قَالَ: حُدِّثۡتُ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ وَكَأَنَّ هَٰذَا أَصَحُّ مِنَ الۡحَدِيثِ الأَوَّلِ. [(ابن ماجه)(٢٢٥): م]. 

Dalam bab ini ada riwayat dari ‘Uqbah bin ‘Amir dan Ibnu ‘Umar. Hadis Abu Hurairah seperti ini diriwayatkan lebih dari satu orang dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti riwayat Abu ‘Awanah. Asbath bin Muhammad juga meriwayatkan dari Al-A’masy. Beliau berkata: Aku diceritai dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut dan seakan-akan hadis ini lebih sahih daripada hadis pertama. 

١٤٢٥ (م) - حَدَّثَنَا بِذٰلِكَ عُبَيۡدُ بۡنُ أَسۡبَاطِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ الۡأَعۡمَشِ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ. 

‘Ubaid bin Asbath bin Muhammad telah menceritakan hadis itu kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan hadis ini kepadaku dari Al-A’masy.

Shahih Muslim hadits nomor 127

٥٨ - بَابُ تَجَاوُزِ اللهِ عَنۡ حَدِيثِ النَّفۡسِ وَالۡخَوَاطِرِ بِالۡقَلۡبِ إِذَا لَمۡ تَسۡتَقِرَّ 
58. Bab pemaafan Allah dari yang tebersit dalam jiwa dan yang terlintas dalam hati jika tidak menetap 


٢٠١ - (١٢٧) - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدٍ الۡغُبَرِيُّ - وَاللَّفۡظُ لِسَعِيدٍ - قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ زُرَارَةَ بۡنِ أَوۡفَىٰ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتۡ بِهِ أَنۡفُسَهَا مَا لَمۡ يَتَكَلَّمُوا، أَوۡ يَعۡمَلُوا بِهِ). 
[البخاري: كتاب العتق، باب الخطأ في العتاقة والطلاق...، رقم: ٢٥٢٨]. 

201. (127). Sa’id bin Manshur, Qutaibah bin Sa’id, dan Muhammad bin ‘Ubaid Al-Ghubari telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Sa’id. Mereka berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Zurarah bin Aufa, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan pada umatku apa saja yang tebersit dalam jiwanya selama mereka tidak mengungkapkannya atau mengamalkannya.” 

٢٠٢ - (...) - حَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ وَعَبۡدَةُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ: كُلُّهُمۡ عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ زُرَارَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا حَدَّثَتۡ بِهِ أَنۡفُسَهَا مَا لَمۡ تَعۡمَلۡ أَوۡ تَكَلَّمۡ بِهِ). 

202. ‘Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb telah menceritakn kepadaku. Keduanya berkata: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Mushir dan ‘Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami: Mereka semua dari Sa’id bin Abu ‘Arubah, dari Qatadah, dari Zurarah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah azza wajalla memaafkan pada umatku dari apa saja yang melintas dalam jiwanya selama dia tidak melakukannya atau mengungkapkannya.” 

وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا مِسۡعَرٌ وَهِشَامٌ. (ح) وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ شَيۡبَانَ، جَمِيعًا عَنۡ قَتَادَةَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. 

Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Waki’ menceritakan kepada kami: Mis’ar dan Hisyam menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepadaku: Al-Husain bin ‘Ali mengabarkan kepada kami dari Za`idah, dari Syaiban. Semuanya dari Qatadah melalui sanad ini semisal hadis tersebut.

Doa

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillah berkata,
قُلۡتَ: مِنۡ أَنۡوَاعِهَا الدُّعَاءُ...
Maka, engkau jawab, “Termasuk jenis-jenis ibadah adalah doa[1] ..."


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam syarahnya berkata:

[1] أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ كَثِيرَةٌ أَعۡظَمُهَا: الدُّعَاءُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ [غافر: ٦٠]. 

Macam-macam ibadah ada banyak. Ibadah yang paling agung adalah doa. Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berkata: Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

أَمَرَ اللهُ بِدُعَائِهِ وَسَمَّى ذٰلِكَ عِبَادَةً، فَقَالَ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى﴾ أَيۡ: عَنۡ دُعَائِي، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ). 

Allah memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya dan menamakan hal itu sebagai ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku,” yaitu dari berdoa kepada-Ku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2969).

فَالدُّعَاءُ هُوَ أَعۡظَمُ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ دَعَا غَيۡرَ اللهِ مِنَ الۡمَوۡتَى وَالۡمَقۡبُورِينَ وَالۡجِنِّ وَالشَّيَاطِينِ، فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]. 

Jadi doa adalah jenis ibadah yang paling agung. Siapa saja yang berdoa kepada selain Allah, di antaranya kepada orang-orang yang sudah mati, orang-orang yang sudah dikubur, jin, dan setan, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah dengan syirik akbar. Allah taala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyembah seorang pun di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18). 

وَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿فَٱدۡعُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ﴾ [غافر: ١٤]. مُخۡلِصِينَ لَهُ فِي الدُّعَاءِ، فَسَمَّى الدُّعَاءَ دِينًا، كَمَا سَمَّاهُ فِي الۡأُخۡرَى عِبَادَةً، إِذَنۡ فَالدُّعَاءُ دِينٌ، وَالدُّعَاءُ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهَٰذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى عِظَمِ الدُّعَاءِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنۡ يَدۡعُوَ غَيۡرَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَإِنَّهُ هُوَ الۡقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ، وَهُوَ الَّذِي إِذَا دَعَوۡتَهُ فَإِنَّهُ يَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَتِكَ وَيَقۡدِرُ عَلَى إِعۡطَاءِكَ مَا تُرِيدُ، أَمَّا غَيۡرُ اللهِ فَإِنَّهُ عَاجِزٌ.

Allah subhanahu wa taala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya.” (QS. Ghafir: 14). Yaitu memurnikan doa untuk-Nya. Allah menamakan doa dengan agama, sebagaimana Allah menamakannya di ayat lain sebagai ibadah. Jadi, doa adalah agama dan doa adalah ibadah kepada Allah azza wajalla. Ini adalah di antara hal yang menunjukkan keagungan doa dan bahwa tidak boleh berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala. Karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah adalah yang jika engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia mampu untuk mengabulkan dan Dia mampu memberikan apa saja yang engkau inginkan kepadamu. Adapun selain Allah, maka dia tidak mampu. 

كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلِ ٱدۡعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٍ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٍ ۝٢٢ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُۥ ۚ﴾ [سبأ: ٢٢-٢٣]. 

Sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.” (QS. Saba`: 22-23). 

﴿وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَـٰفِلُونَ﴾ [الأحقاف: ٥]. 

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 5). 

﴿إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُوا۟ دُعَآءَكُمۡ﴾ [فاطر: ١٤]. لِأَنَّهُمۡ أَمۡوَاتٌ أَوۡ جَمَادَاتٌ لَا تَسۡمَعُ الدُّعَاءَ 

“Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruan kalian.” (QS. Fathir: 14). Karena mereka adalah orang-orang mati atau benda-benda mati yang tidak bisa mendengar seruan. 

﴿وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟﴾ [فاطر: ١٤] مَا يَقۡدِرُونَ عَلَى الۡإِجَابَةِ؛ 

“Andai mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaan.” (QS. Fathir: 14). Mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa. 

لِأَنَّهُمۡ فُقَرَاءُ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا، ﴿لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ﴾ [سبأ: ٢٢] 

Karena mereka adalah orang-orang yang fakir, tidak memiliki sesuatu pun. “Mereka tidak memiliki seberat zarah pun di langit dan di bumi.” (QS. Saba`: 22). 

فَكَيۡفَ يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؟! بَلۡ كَيۡفَ يُتۡرَكُ دُعَاءُ اللهِ وَيُصۡرَفُ الدُّعَاءُ لِغَيۡرِ اللهِ مِنۡ هَٰؤُلَاءِ الۡأَمۡوَاتِ، وَالۡأَشۡجَارِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡغَائِبِينَ؟! أَيۡنَ عُقُولُ بَنِي آدَمَ؟! تَدۡعُو أُنَاسًا لَا يَسۡمَعُونَ، وَلَوۡ أَنَّهُمۡ سَمِعُوا لَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى الۡإِجَابَةِ؛ لِأَنَّهُمۡ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا؟! 

Lalu bagaimana mereka di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala?! Bahkan bagaimana doa kepada Allah ditinggalkan dan doa dialihkan kepada selain Allah, seperti kepada orang-orang mati, pepohonan, bebatuan, dan orang-orang yang sedang tidak hadir?! Di mana akal-akal bani Adam?! Mereka berdoa kepada orang-orang yang tidak mendengar. Andai mereka mendengar, mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa karena mereka tidak memiliki sesuatu pun.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6078

٦٣ - بَابُ مَا يَجُوزُ مِنَ الۡهِجۡرَانِ لِمَنۡ عَصَى 
63. Bab alasan yang dibolehkan memboikot bagi orang yang bermaksiat 


وَقَالَ كَعۡبٌ، حِينَ تَخَلَّفَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: وَنَهَى النَّبِيُّ ﷺ الۡمُسۡلِمِينَ عَنۡ كَلَامِنَا، وَذَكَرَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً. 

Ka’b berkata ketika tidak menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam perang Tabuk): Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami. Beliau menyebutkan bahwa kejadian itu berlangsung lima puluh malam. 

٦٠٧٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدَةُ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنِّي لَأَعۡرِفُ غَضَبَكِ وَرِضَاكِ). قَالَتۡ: قُلۡتُ: وَكَيۡفَ تَعۡرِفُ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (إِنَّكِ إِذَا كُنۡتِ رَاضِيَةً قُلۡتِ: بَلَى وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنۡتِ سَاخِطَةً قُلۡتِ: لَا وَرَبِّ إِبۡرَاهِيمَ). قَالَتۡ: قُلۡتُ: أَجَلۡ، لَسۡتُ أَهۡجُرُ إِلَّا اسۡمَكَ. [طرفه في: ٥٢٢٨]. 

6078. Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui kemarahan dan keridaanmu.” ‘Aisyah berkata: Aku bertanya, “Bagaimana engkau mengetahui itu, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Sesungguhnya jika engkau sedang rida, engkau berkata: Tentu demi Rabb Muhammad. Dan ketika engkau sedang marah, engkau berkata: Tidak demi Rabb Ibrahim.” ‘Aisyah berkata: Aku berkata, “Betul. Aku hanya meninggalkan (penyebutan) namamu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5228

١٠٩ - بَابُ غَيۡرَةِ النِّسَاءِ وَوَجۡدِهِنَّ 
109. Bab kecemburuan dan kemarahan para istri 


٥٢٢٨ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنِّي لَأَعۡلَمُ إِذَا كُنۡتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنۡتِ عَلَيَّ غَضۡبَى). قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: مِنۡ أَيۡنَ تَعۡرِفُ ذٰلِكَ؟ فَقَالَ: (أَمَّا إِذَا كُنۡتِ عَنِّي رَاضِيَةً، فَإِنَّكِ تَقُولِينَ: لَا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنۡتِ غَضۡبَى، قُلۡتِ: لَا وَرَبِّ إِبۡرَاهِيمَ ). قَالَتۡ: قُلۡتُ: أَجَلۡ وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَهۡجُرُ إِلَّا اسۡمَكَ. [الحديث ٥٢٢٨ – طرفه في: ٦٠٧٨]. 

5228. ‘Ubaid bin Muslim telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui jika engkau sedang senang denganku dan jika engkau sedang marah terhadapku.” 

‘Aisyah berkata: Aku bertanya, “Dari mana engkau tahu itu?” 

Nabi menjawab, “Adapun jika engkau sedang senang denganku, maka engkau mengatakan: Tidak demi Rabb-nya Muhammad. Dan apabila engkau sedang marah, engkau berkata: Tidak demi Rabb-nya Ibrahim.” 

‘Aisyah berkata: Aku berkata, “Benar, demi Allah, wahai Rasulullah, aku hanya meninggalkan (penyebutan) namamu.”