Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadis nomor 1678

٨ - بَابُ الۡمُجَازَاةِ بِالدِّمَاءِ فِي الۡآخِرَةِ وَأَنَّهَا أَوَّلُ مَا يُقۡضَى فِيهِ بَيۡنَ النَّاسِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ
8. Bab pembalasan pertumpahan darah di akhirat dan inilah yang pertama diputuskan antara manusia pada hari kiamat


٢٨ - (١٦٧٨) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ. جَمِيعًا عَنۡ وَكِيعٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدَةُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَوَّلُ مَا يُقۡضَى بَيۡنَ النَّاسِ، يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فِي الدِّمَاءِ).

[البخاري: كتاب الرقاق، باب القصاص يوم القيامة، رقم: ٦٥٣٣].

28. (1678). ‘Utsman bin Abu Syaibah, Ishaq bin Ibrahim, dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Waki’, dari Al-A’masy. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdah bin Sulaiman dan Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perkara pertama yang diputuskan antara manusia pada hari kiamat adalah perkara pertumpahan darah.”

حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ حَبِيبٍ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡحَارِثِ -. (ح) وَحَدَّثَنِي بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. كُلُّهُمۡ عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.

غَيۡرَ أَنَّ بَعۡضَهُمۡ قَالَ عَنۡ شُعۡبَةَ (يُقۡضَىٰ). وَبَعۡضُهُمۡ قَالَ: (يُحۡكَمُ بَيۡنَ النَّاسِ).

‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Habib telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami. Mereka semua dari Syu’bah, dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semisal hadis tersebut. Hanya saja sebagian mereka berkata dari Syu’bah dengan ungkapan “yuqḍā” dan sebagiannya mengatakan dengan ungkapan “yuḥkamu bainan nās”.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6864

٦٨٦٤ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوَّلُ مَا يُقۡضَى بَيۡنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ). [طرفه في: ٦٥٣٣].

6864. ‘Ubaidullah bin Musa telah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perkara pertama yang diputuskan di antara manusia (pada hari kiamat) adalah dalam hal darah.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 4290

٤٢٩٠ - (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ إِيَاسٍ الۡجُرَيۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (نَحۡنُ آخِرُ الۡأُمَمِ، وَأَوَّلُ مَنۡ يُحَاسَبُ، يُقَالُ: أَيۡنَ الۡأُمَّةُ الۡأُمِّيَّةُ وَنَبِيُّهَا؟ فَنَحۡنُ الۡآخِرُونَ الۡأَوَّلُونَ). [(الصحيحة)(٢٣٧٤)].

4290. [Sahih] Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Salamah menceritakan kepada kami dari Hammad bin Salamah, dari Sa’id bin Iyas Al-Jurairi, dari Abu Nadhrah, dari Ibnu ‘Abbas: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kita adalah umat terakhir dan yang paling awal dihisab. Nanti akan dikatakan: Di mana umat yang umi dan nabinya? Jadi, kitalah orang-orang yang akhir (di dunia) yang pertama (di hari kiamat).”

Shahih Muslim hadis nomor 856

٢٢ - (٨٥٦) - وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ وَوَاصِلُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ. قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ أَبِي مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيِّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. وَعَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ. قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَضَلَّ اللهُ عَنِ الۡجُمُعَةِ مَنۡ كَانَ قَبۡلَنَا، فَكَانَ لِلۡيَهُودِ يَوۡمُ السَّبۡتِ. وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوۡمُ الۡأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا، فَهَدَانَا اللهُ لِيَوۡمِ الۡجُمُعَةِ، فَجَعَلَ الۡجُمُعَةَ وَالسَّبۡتَ وَالۡأَحَدَ. وَكَذٰلِكَ هُمۡ تَبَعٌ لَنَا يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ. نَحۡنُ الۡآخِرُونَ مِنۡ أَهۡلِ الدُّنۡيَا، وَالۡأَوَّلُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، الۡمَقۡضِيُّ لَهُمۡ قَبۡلَ الۡخَلَائِقِ).

وَفِي رِوَايَةِ وَاصِلٍ: (الۡمَقۡضِيُّ بَيۡنَهُمۡ).

22. (856). Abu Kuraib dan Washil bin ‘Abdul A’la telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami dari Abu Malik Al-Asyja’i, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah. Dan dari Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah. Keduanya mengatakan:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah tidak memberi petunjuk tentang keutamaan hari Jumat kepada umat sebelum kita sehingga orang-orang Yahudi memilih hari Sabtu dan orang-orang Nasrani memilih hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan kita. Allah memberi kita petunjuk untuk mengutamakan hari Jumat, sehingga Allah menjadikan hari raya Jumat (untuk muslimin), Sabtu (untuk Yahudi), dan Ahad (untuk Nasrani). Seperti itulah mereka nanti akan mengikuti mereka pada hari kiamat. Kita adalah orang-orang yang akhir dari penduduk dunia namun menjadi orang-orang yang pertama pada hari kiamat yang diadili sebelum makhluk lainnya.”

Di dalam riwayat Washil, “Yang diadili antara mereka.”

٢٣ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ طَارِقٍ: حَدَّثَنِي رِبۡعِيُّ بۡنُ حِرَاشٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُدِينَا إِلَى الۡجُمُعَةِ وَأَضَلَّ اللهُ عَنۡهَا مَنۡ كَانَ قَبۡلَنَا) فَذَكَرَ بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِ ابۡنِ فُضَيۡلٍ.

23. Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Za`idah mengabarkan kepada kami dari Sa’d bin Thariq: Rib’i bin Hirasy menceritakan kepadaku dari Hudzaifah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kita diberi petunjuk untuk mengutamakan hari Jumat dan Allah tidak memberi petunjuk tentangnya kepada umat sebelum kita.”

Lalu beliau menyebutkan yang semakna dengan hadis Ibnu Fudhail.

Musnad Ahmad hadis nomor 22782

٢٢٧٨٢ (٢٢٤١٨) - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ، حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَيَّاشٍ، عَنۡ ضَمۡضَمِ بۡنِ زُرۡعَةَ؛ قَالَ شُرَيۡحُ بۡنُ عُبَيۡدٍ:

22782. (22418). Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami dari Dhamdham bin Zur’ah. Syuraih bin ‘Ubaid berkata:

مَرِضَ ثَوۡبَانُ بِحِمۡصَ، وَعَلَيۡهَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ قُرۡطٍ الۡأَزۡدِيُّ، فَلَمۡ يَعُدۡهُ، فَدَخَلَ عَلَى ثَوۡبَانَ رَجُلٌ مِنَ الۡكَلَاعِيِّينَ عَائِدًا، فَقَالَ لَهُ ثَوۡبَانُ: أَتَكۡتُبُ؟ فَقَالَ: نَعَمۡ، فَقَالَ: اكۡتُبۡ، فَكَتَبَ (لِلۡأَمِيرِ) عَبۡدِ اللهِ بۡنِ قُرۡطٍ مِنۡ ثَوۡبَانَ مَوۡلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّهُ لَوۡ كَانَ لِمُوسَى وعِيسَى مَوۡلًى بِحَضۡرَتِكَ لَعُدۡتَهُ، ثُمَّ طَوَى الۡكِتَابَ، وَقَالَ لَهُ: أَتُبَلِّغُهُ إِيَّاهُ؟ فَقَالَ: نَعَمۡ، فَانۡطَلَقَ الرَّجُلُ بِكِتَابِهِ فَدَفَعَهُ إِلَى ابۡنِ قُرۡطٍ، فَلَمَّا قَرَأَهُ قَامَ فَزِعًا، فَقَالَ النَّاسُ: مَا شَأۡنُهُ، أَحَدَثَ أَمۡرٌ؟

Tsauban mengalami sakit di daerah Homs yang ketika itu dipimpin oleh ‘Abdullah bin Qurth Al-Azdi. ‘Abdullah bin Qurth belum menjenguk Tsauban. Ada seseorang lelaki dari kabilah Kala’i masuk menemui Tsauban untuk menjenguk. Tsauban bertanya kepadanya, “Apakah engkau bisa menulis?”

Lelaki itu menjawab, “Bisa.”

Tsauban berkata, “Tolong tuliskan!”

Lelaki itu menulis surat, “Untuk pemimpin ‘Abdullah bin Qurth dari Tsauban maula Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Amabakdu, andaikan Musa dan ‘Isa memiliki seorang maula di wilayahmu, pasti engkau akan menjenguknya.”

Kemudian beliau melipat surat itu dan berkata kepada lelaki itu, “Apakah engkau bisa menyampaikan surat ini kepada ‘Abdullah bin Qurth?”

Lelaki itu berkata, “Bisa.”

Lelaki itu pergi membawa surat itu dan menyerahkannya kepada Ibnu Qurth. Setelah membacanya, Ibnu Qurth berdiri ketakutan. Orang-orang bertanya-tanya, “Ada apa dengannya? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

فَأَتَى ثَوۡبَانَ، حَتَّى دَخَلَ عَلَيۡهِ، فَعَادَهُ وَجَلَسَ عِنۡدَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قَامَ، فَأَخَذَ ثَوۡبَانُ بِرِدَائِهِ وَقَالَ: اجۡلِسۡ حَتَّى أُحَدِّثَكَ حَدِيثًا سَمِعۡتُهُ (٥/٢٨١) مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، سَمِعۡتُهُ يَقُولُ: لَيَدۡخُلَنَّ الۡجَنَّةَ مِنۡ أُمَّتِي سَبۡعُونَ أَلۡفًا لَا حِسَابَ عَلَيۡهِمۡ وَلَا عَذَابَ، مَعَ كُلِّ أَلۡفٍ سَبۡعُونَ أَلۡفًا. [قال شعيب: المرفوع منه صحيح لغيره وهذا إسناد رجاله ثقات].

Ibnu Qurth mendatangi Tsauban sampai masuk menemuinya. Dia menjenguknya dan duduk di dekatnya sejenak, kemudian berdiri.

Tsauban memegang pakaiannya seraya berkata: Duduklah agar aku menceritakan kepadamu sebuah hadis yang aku dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Aku mendengar beliau bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku pasti akan masuk janah tanpa hisab dan tanpa azab. Ada tujuh puluh ribu orang lagi yang akan menyertai setiap seribunya.”