Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 1464

٤٧ - بَابٌ لَيۡسَ عَلَى الۡمُسۡلِمِ فِي عَبۡدِهِ صَدَقَةٌ
47. Bab tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim pada budaknya


١٤٦٤ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ خُثَيۡمِ بۡنِ عِرَاكٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. ح. حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا خُثَيۡمُ بۡنُ عِرَاكِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَيۡسَ عَلَى الۡمُسۡلِمِ صَدَقَةٌ فِي عَبۡدِهِ وَلَا فِي فَرَسِهِ). [طرفه في: ١٤٦٣].

1464. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Khutsaim bin ‘Irak. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. (Dalam riwayat lain) Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Wuhaib bin Khalid menceritakan kepada kami: Khutsaim bin ‘Irak bin Malik menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim pada budak dan kudanya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 1461

٤٥ - بَابُ الزَّكَاةِ عَلَى الۡأَقَارِبِ
45. Bab zakat kepada kerabat


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَهُ أَجۡرَانِ: أَجۡرُ الۡقَرَابَةِ وَالصَّدَقَةِ).

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Dia mendapat dua pahala: pahala kekerabatan dan sedekah.”

١٤٦١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ الۡأَنۡصَارِ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا مِنۡ نَخۡلٍ، وَكَانَ أَحَبَّ أَمۡوَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرُحَاءَ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا، وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ. قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا أُنۡزِلَتۡ هٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢]، قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾. وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بَيۡرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا، يَا رَسُولَ اللهِ، حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ. قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخۡ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ. تَابَعَهُ رَوۡحٌ. وَقَالَ يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى وَإِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ مَالِكٍ: (رَايِحٌ).

[الحديث ١٤٦١ - أطرافه في: ٢٣١٨، ٢٧٥٢، ٢٧٥٨، ٢٧٦٩، ٤٥٥٤، ٤٥٥٥، ٥٦١١].

1461. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Beliau mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Dahulu Abu Thalhah merupakan orang Ansar di Madinah yang hartanya berupa pohon kurma paling banyak. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha` yang berada di depan masjid Nabawi. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa masuk ke kebun itu dan minum dari air yang segar di dalamnya.

Anas berkata: Ketika ayat “Kalian tidak bisa mencapai kebajikan (yang sempurna) hingga kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai” (QS. Ali ‘Imran: 92) turun, Abu Thalhah bangkit menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah—tabaraka wa ta’ala—berfirman, ‘Kalian tidak bisa mencapai kebajikan (yang sempurna) hingga kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.’ Sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah Bairuha`. Aku jadikan itu sebagai sedekah di jalan Allah. Aku mengharapkan itu menjadi kebajikan dan simpanan di sisi Allah. Wahai Rasulullah, gunakanlah kebun itu sesuai yang Allah perlihatkan kepadamu.”

Anas berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wah, itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar ucapanmu dan aku berpandangan menjadikan kebun itu untuk para kerabat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan lakukan wahai Rasulullah.” Lalu Abu Thalhah membagikan kebun itu untuk kerabatnya dan putra-putra pamannya.

Rauh mengiringi ‘Abdullah bin Yusuf. Yahya bin Yahya dan Isma’il berkata, dari Malik, “rāyiḥ (segera memberikan manfaat untuk pemiliknya).”

Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata,

فَصۡلٌ فِي تَوۡحِيدِ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ
Pasal tentang Tauhid Al-Asma` wash-Shifat

٣ - وَكُلُّ مَا جَاءَ فِي الۡقُرۡآنِ أَوۡ صَحَّ عَنِ الۡمُصۡطَفَى عَلَيۡهِ السَّلَامُ مِنۡ صِفَاتِ الرَّحۡمٰنِ وَجَبَ الۡإِيمَانُ بِهِ وَتَلَقِّيهِ بِالتَّسۡلِيمِ وَالۡقَبُولِ، وَتَرۡكِ التَّعَرُّضِ لَهُ بِالرَّدِّ وَالتَّأۡوِيلِ، وَالتَّشۡبِيهِ وَالتَّمۡثِيلِ.

3. Seluruh yang datang dalam Alquran atau yang sahih dari Al-Mushthafa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang menyebutkan sifat-sifat Ar-Rahman wajib diimani dan disambut dengan sikap pasrah dan terima. Tidak boleh menentangnya dengan membantah, menakwil, menyerupakan, dan memperumpamakan.

٤ - وَمَا أَشۡكَلَ مِنۡ ذٰلِكَ وَجَبَ إِثۡبَاتُهُ لَفۡظًا، وَتَرۡكُ التَّعَرُّضِ لِمَعۡنَاهُ، وَنَرُدُّ عِلۡمَهُ إِلَى قَائِلِهِ، وَنَجۡعَلُ عُهۡدَتَهُ عَلَى نَاقِلِهِ، اتِّبَاعًا لِطَرِيقِ الرَّاسِخِينَ فِي الۡعِلۡمِ، الَّذِينَ أَثۡنَى اللهُ عَلَيۡهِمۡ فِي كِتَابِهِ الۡمُبِينِ بِقَوۡلِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا﴾ [آل عمران: ٧].

4. Sifat-sifat yang dia anggap sulit dimengerti, wajib ditetapkan lafaznya dan tidak boleh menentang maknanya. Kita kembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya dan kita jadikan pertanggungjawabannya kepada penukilnya dalam rangka mengikuti jalannya orang-orang yang mendalam ilmunya yang telah disanjung oleh Allah dalam Alquran yang jelas dengan firman-Nya—subhanahu wa ta’ala—, “Orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami.” (QS. Ali ‘Imran: 7).

٥ - وَقَالَ فِي ذَمِّ مُبۡتَغِي التَّأۡوِيلِ لِمُتَشَابِهِ تَنۡزِيلِهِ: ﴿فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ﴾ [آل عمران: ٧] فَجَعَلَ ابۡتِغَاءَ التَّأۡوِيلِ عَلَامَةً عَلَى الزَّيۡغِ وَقَرَنَهُ بِابۡتِغَاءِ الۡفِتۡنَةِ فِي الذَّمِّ، ثُمَّ حَجَبَهُمۡ عَمَّا أَمَّلُوهُ، وَقَطَعَ أَطۡمَاعَهُمۡ عَمَّا قَصَدُوهُ، بِقَوۡلِهِ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ﴾ [آل عمران: ٧].

5. Allah berkata ketika mencela orang yang mencari takwil ayat Alquran yang mutasyabihat, “Adapun orang-orang yang ada penyakit di hati mereka, lalu mengikuti ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah atau mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 7). Allah menjadikan tujuan mencari-cari takwil sebagai tanda penyakit hati. Allah menyandingkannya dengan tujuan menimbulkan fitnah dalam konteks celaan kemudian Allah menghalangi mereka dari yang mereka angankan dan Allah memutus keinginan mereka dari tercapainya tujuan mereka dengan firman Allah—subhanahu—, “Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 7).[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam syarahnya berkata,

[1] تَقۡسِيمُ نُصُوصِ الصِّفَاتِ وَطَرِيقَةُ النَّاسِ فِيهَا:

Pembagian nas-nas sifat Allah dan cara manusia menyikapinya:

تَنۡقَسِمُ نُصُوصُ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ الۡوَارِدَةُ فِي الصِّفَاتِ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: وَاضِحٌ جَلِيٌّ، وَمُشۡكِلٌ خَفِيٌّ.

فَالۡوَاضِحُ: مَا اتَّضَحَ لَفۡظُهُ وَمَعۡنَاهُ فَيَجِبُ الۡإِيمَانُ بِهِ لَفۡظًا وَإِثۡبَاتُ مَعۡنَاهُ حَقًّا بِلَا رَدٍّ وَلَا تَأۡوِيلٍ، وَلَا تَشۡبِيهٍ وَلَا تَمۡثِيلٍ؛ لِأَنَّ الشَّرۡعَ وَرَدَ بِهِ فَوَجَبَ الۡإِيمَانُ بِهِ وَتَلَقِّيهِ بِالۡقَبُولِ وَالتَّسۡلِيمِ.

Nas-nas Alquran dan sunah yang menyebutkan sifat Allah terbagi menjadi dua bagian: jelas gamblang dan sulit samar. Sifat Allah yang jelas adalah yang jelas lafaz dan maknanya. Wajib mengimaninya secara lafaz dan menetapkan maknanya secara hakiki tanpa dibantah, ditakwil, diserupakan, atau dipermisalkan karena syariat telah menyebutkannya, jadi wajib mengimaninya dan menyambutnya dengan sikap penerimaan dan pasrah.

وَأَمَّا الۡمُشۡكِلُ: فَهُوَ مَا لَمۡ يَتَّضِحۡ مَعۡنَاهُ لِإِجۡمَالٍ فِي دَلَالَتِهِ أَوۡ قَصۡرٍ فِي فَهۡمِ قَارِئِهِ فَيَجِبُ إِثۡبَاتُ لَفۡظِهِ لِوُرُودِ الشَّرۡعِ بِهِ وَالتَّوَقُّفُ فِي مَعۡنَاهُ وَتَرۡكُ التَّعَرُّضِ لَهُ؛ لِأَنَّهُ مُشۡكِلٌ لَا يُمۡكِنُ الۡحُكۡمُ عَلَيۡهِ فَنَرُدُّ عِلۡمَهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ.

Adapun sifat Allah yang sulit dipahami adalah yang maknanya belum jelas karena dalilnya masih terlalu umum atau pendeknya pemahaman orang yang membacanya, maka wajib menetapkan lafaznya karena telah disebutkan dalam syariat, bersikap diam tentang maknanya, dan tidak mempertentangkannya. Alasannya adalah karena sifat tersebut sulit dimengerti sehingga tidak mungkin mengambil hukum darinya. Jadi kita kembalikan ilmunya kepada Allah dan Rasul-Nya.

وَقَدِ انۡقَسَمَتۡ طُرُقُ النَّاسِ فِي هٰذَا الۡمُشۡكِلِ إِلَى طَرِيقَيۡنِ:

Cara manusia dalam menyikapi sifat Allah yang sulit dimengerti ini terbagi menjadi dua macam:

الطَّرِيقَةُ الۡأُولَى: طَرِيقَةُ الرَّاسِخِينَ فِي الۡعِلۡمِ الَّذِينَ آمَنُوا بِالۡمُحۡكَمِ وَالۡمُتَشَابِهِ وَقَالُوا كُلٌّ مِنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا وَتَرَكُوا التَّعَرُّضَ لِمَا لَا يُمۡكِنُهُمُ الۡوُصُولَ إِلَى مَعۡرِفَتِهِ وَالۡإِحَاطَةَ بِهِ، تَعۡظِيمًا لِلهِ وَرَسُولِهِ وَتَأَدُّبًا مَعَ النُّصُوصِ الشَّرۡعِيَّةِ، وَهُمُ الَّذِينَ أَثۡنَى اللهُ عَلَيۡهِمۡ بِقَوۡلِهِ: ﴿وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا﴾ [آل عمران: ٧].

Cara pertama adalah cara orang-orang yang mendalam ilmunya yang mereka beriman kepada ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Mereka mengatakan, “Semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Mereka tidak menentangnya karena mereka tidak mungkin sampai pada tingkat mengerti dan menjangkau sifat tersebut dalam rangka mengagungkan Allah dan Rasul-Nya dan beradab terhadap nas-nas syariat.

Merekalah yang dipuji oleh Allah dengan firman-Nya, “Orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami.” (QS. Ali ‘Imran: 7).

الطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ: طَرِيقَةُ الزَّائِغِينَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا الۡمُتَشَابِهَ طَلَبًا لِلۡفِتۡنَةِ وَصُدًّا لِلنَّاسِ عَنۡ دِينِهِمۡ وَعَنۡ طَرِيقَةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ، فَحَاوَلُوا تَأۡوِيلَ هٰذَا الۡمُتَشَابِهِ إِلَى مَا يُرِيدُونَ لَا إِلَى مَا يُرِيدُهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، وَضَرَّبُوا نُصُوصَ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ بَعۡضَهَا بِبَعۡضٍ، وَحَاوَلُوا الطَّعۡنَ فِي دَلَالَتِهَا بِالۡمُعَارَضَةِ وَالنَّقۡصِ لِيُشَكِّكُوا الۡمُسۡلِمِينَ فِي دَلَالَتِهَا وَيُعۡمُوهُمۡ عَنۡ هِدَايَتِهَا، وَهٰؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ ذَمَّهُمُ اللهُ بِقَوۡلِهِ: ﴿فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ﴾ [آل عمران: ٧].

Cara kedua adalah cara orang-orang yang hatinya berpenyakit yang mengikuti ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan menghalangi kaum muslimin dari agama mereka dan dari jalan para salaf yang saleh lalu mereka memalingkan takwil ayat mutasyabihat ini kepada keinginan mereka. Bukan kepada yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka membenturkan nas-nas Alquran dan sunah, satu dengan yang lain. Mereka membuat kritikan terhadap dalil-dalilnya dengan penentangan dan pencacatan untuk membuat kaum muslimin ragu dengan dalil-dalilnya dan membutakan mereka dari hidayahnya.

Mereka itu adalah orang-orang yang dicela oleh Allah dengan firman-Nya, “Adapun orang-orang yang ada penyakit di hati mereka, lalu mengikuti ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah atau mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 7).

تَحۡرِيرُ الۡقَوۡلِ فِي النُّصُوصِ مِنۡ حَيۡثُ الۡوُضُوحِ وَالۡإِشۡكَالِ:

Koreksi pendapat tentang nas-nas dari sisi kejelasan dan kesulitan makna

إِنَّ الۡوُضُوحَ وَالۡإِشۡكَالَ فِي النُّصُوصِ الشَّرۡعِيَّةِ أَمۡرٌ نِسۡبِيٌّ يَخۡتَلِفُ بِهِ النَّاسُ بِحَسَبِ الۡعِلۡمِ وَالۡفَهۡمِ، فَقَدۡ يَكُونُ مُشۡكِلًا عِنۡدَ شَخۡصٍ مَا هُوَ وَاضِحٌ عِنۡدَ شَخۡصٍ آخَرَ، وَالۡوَاجِبُ عِنۡدَ الۡإِشۡكَالِ اتِّبَاعُ مَا سَبَقَ مِنۡ تَرۡكِ التَّعَرُّضِ لَهُ وَالتَّخَبُّطِ فِي مَعۡنَاهُ.

Jelas atau rumitnya nas-nas syariat merupakan perkara relatif. Tiap orang berbeda-beda sesuai tingkat ilmu dan pemahamannya. Terkadang bagi seseorang suatu nas sulit dipahami, sedangkan menurut orang lain nas tersebut sudah jelas. Hal yang wajib ketika sulit memahami adalah mengikuti langkah-langkah yang telah disebutkan, yaitu tidak mempertentangkan dan membenturkan maknanya.

أَمَّا مِنۡ حَيۡثُ وَاقِعِ النُّصُوصِ الشَّرۡعِيَّةِ فَلَيۡسَ فِيهَا بِحَمۡدِ اللهِ مَا هُوَ مُشۡكِلٌ لَا يَعۡرِفُ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ مَعۡنَاهُ فِيمَا يُهِمُّهُمۡ مِنۡ أَمۡرِ دِينِهِمۡ وَدُنۡيَاهُمۡ؛ لِأَنَّ اللهَ وَصَفَ الۡقُرۡآنَ بِأَنَّهُ نُورٌ مُبِينٌ وَبَيَانٌ لِلنَّاسِ وَفُرۡقَانٌ، وَأَنَّهُ أَنۡزَلَهُ تِبۡيَانًا لِكُلِّ شَيۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً، وَهٰذَا يَقۡتَضِي أَنۡ لَا يَكُونَ فِي النُّصُوصِ مَا هُوَ مُشۡكِلٌ بِحَسَبِ الۡوَاقِعِ بِحَيۡثُ لَا يُمۡكِنُ أَحَدٌ مِنَ الۡأُمَّةِ مَعۡرِفَةَ مَعۡنَاهُ.

Adapun dari sisi kenyataan nas-nas syariat, alhamdulillah tidak ada padanya sesuatu yang rumit yang tidak ada seorang pun mengerti maknanya dalam perkara agama dan dunia yang penting untuk mereka.

Alasannya karena Allah menyifati Alquran dengan cahaya yang terang, penjelasan untuk manusia, dan furqan. Juga bahwa Allah menurunkan Alquran untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, dan rahmat. Hal ini mengharuskan tidak adanya sesuatu yang rumit dalam nas-nas dari sisi kenyataan sehingga tidak mungkin tidak ada seseorang pun yang mengerti maknanya.

مَعۡنَى الرَّدِّ وَالتَّأۡوِيلِ وَالتَّشۡبِيهِ وَالتَّمۡثِيلِ وَحُكۡمُ كُلٍّ مِنۡهَا:

Makna menolak, menakwil, menyerupakan, dan mempermisalkan, serta hukum masing-masingnya.

(الرَّدُّ): التَّكۡذِيبُ وَالۡإِنۡكَارُ مِثۡلُ أَنۡ يَقُولَ قَائِلٌ لَيۡسَ لِلهِ يَدٌ لَا حَقِيقَةً وَلَا مَجَازًا وَهُوَ كُفۡرٌ لِأَنَّهُ تَكۡذِيبٌ لِلهِ وَرَسُولِهِ.

Radd (menolak) adalah mendustakan dan mengingkari. Contohnya adalah orang yang mengatakan bahwa Allah tidak memiliki tangan, baik secara hakikat atau majas. Ini merupakan kekufuran karena mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

وَ (التَّأۡوِيلُ): التَّفۡسِيرُ وَالۡمُرَادُ بِهِ هُنَا تَفۡسِيرُ نُصُوصِ الصِّفَاتِ بِغَيۡرِ مَا أَرَادَ اللهُ بِهَا وَرَسُولُهُ وَبِخِلَافِ مَا فَسَّرَهَا بِهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ لَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ.

Takwil artinya tafsir. Yang dimaukan di sini adalah menafsirkan nas-nas sifat Allah dengan penafsiran yang tidak dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta berbeda dengan penafsiran para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik.

وَحُكۡمُ التَّأۡوِيلِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقۡسَامٍ:

Hukum takwil ada tiga macam.

الۡأَوَّلُ: أَنۡ يَكُونَ صَادِرًا عَنِ اجۡتِهَادٍ وَحُسۡنِ نِيَّةٍ بِحَيۡثُ إِذَا تَبَيَّنَ لَهُ الۡحَقُّ رَجَعَ عَنۡ تَأۡوِيلِهِ فَهٰذَا مَعۡفُوٌّ عَنۡهُ؛ لِأَنَّ هٰذَا مُنۡتَهَى وُسۡعِهِ وَقَدۡ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا﴾ [البقرة: ٢٨٦].

Pertama: Takwil yang muncul dari ijtihad dan niat yang baik. Apabila kebenaran telah jelas baginya, dia rujuk dari takwilnya. Takwil semacam ini dimaafkan karena ini batas kemampuannya, sementara Allah taala berfirman, “Allah tidak membebani suatu jiwa pun kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

الثَّانِي: أَنۡ يَكُونَ صَادِرًا عَنۡ هَوًى وَتَعَصُّبٍ، وَلَهُ وَجۡهٌ فِي اللُّغَةِ الۡعَرَبِيَّةِ، فَهُوَ فِسۡقٌ وَلَيۡسَ بِكُفۡرٍ، إِلَّا أَنۡ يَتَضَمَّنَ نَقۡصًا أَوۡ عَيۡبًا فِي حَقِّ اللهِ فَيَكُونُ كُفۡرًا.

Kedua: Takwil yang muncul dari hawa nafsu dan fanatisme, namun memiliki sisi pendukung dalam bahasa Arab. Takwil ini adalah kefasikan dan bukan kekufuran kecuali jika takwil sifat yang mengandung cacat atau aib pada hak Allah. Takwil demikian merupakan kekufuran.

الۡقِسۡمُ الثَّالِثُ: أَنۡ يَكُونَ صَادِرًا عَنۡ هَوًى وَتَعَصُّبٍ وَلَيۡسَ لَهُ وَجۡهٌ فِي اللُّغَةِ الۡعَرَبِيَّةِ فَهٰذَا كُفۡرٌ لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ التَّكۡذِيبُ حَيۡثُ لَا وَجۡهَ لَهُ.

Ketiga: Takwil yang muncul dari hawa nafsu dan fanatisme, serta tidak ada sisi pendukungnya dalam bahasa Arab. Ini adalah kekufuran karena hakikat takwil ini adalah pendustaan yang tidak ada sisi kebenarannya.

وَ (التَّشۡبِيهُ): إِثۡبَاتُ مُشَابِهٍ لِلهِ فِيمَا يَخۡتَصُّ بِهِ مِنۡ حُقُوقٍ أَوۡ صِفَاتٍ وَهُوَ كُفۡرٌ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الشِّرۡكِ بِاللهِ، وَيَتَضَمَّنُ النَّقۡصَ فِي حَقِّ اللهِ حَيۡثُ شَبَّهَهُ بِالۡمَخۡلُوقِ النَّاقِصِ.

Tasybih adalah menetapkan penyerupaan untuk Allah dalam hak dan sifat yang khusus untuk-Nya. Ini adalah kekufuran karena termasuk dalam perbuatan syirik kepada Allah dan mengandung pencacatan terhadap hak Allah dari sisi diserupakannya Allah dengan makhluk yang memiliki kekurangan.

وَ (التَّمۡثِيلُ): إِثۡبَاتُ مُمَاثِلٍ لِلهِ فِيمَا يَخۡتَصُّ بِهِ مِنۡ حُقُوقٍ أَوۡ صِفَاتٍ وَهُوَ كُفۡرٌ لِأَنَّهُ مِنَ الشِّرۡكِ بِاللهِ وَتَكۡذِيبٌ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ﴾ [الشورى: ١١] وَيَتَضَمَّنُ النَّقۡصَ فِي حَقِّ اللهِ حَيۡثُ مَثَّلَهُ بِالۡمَخۡلُوقِ النَّاقِصِ.

Tamtsil adalah menetapkan permisalan untuk Allah dalam hak atau sifat yang khusus bagi-Nya. Ini merupakan kekufuran karena termasuk dalam perbuatan syirik kepada Allah dan mendustakan firman Allah taala, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11).

Tamtsil mengandung pencacatan terhadap hak Allah dari sisi memisalkan Allah dengan makhluk yang memiliki kekurangan.

وَالۡفَرۡقُ بَيۡنَ التَّمۡثِيلِ وَالتَّشۡبِيهِ: أَنَّ التَّمۡثِيلَ يَقۡتَضِي الۡمُسَاوَاةَ مِنۡ كُلِّ وَجۡهٍ بِخِلَافِ التَّشۡبِيهِ.

Perbedaan antara tamtsil dengan tasybih adalah bahwa tamtsil mengharuskan penyamaan dari segala sisi. Lain halnya dengan tasybih.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 1677

٤٠ - بَابٌ فِي الرُّخۡصَةِ فِي ذٰلِكَ
40. Bab tentang rukhsah dalam hal itu


١٦٧٧ - (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ وَيَزِيدُ بۡنُ خَالِدِ بۡنِ مَوۡهَبٍ الرَّمۡلِيُّ، قَالَا: نا اللَّيۡثُ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ جَعۡدَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفۡضَلُ؟ قَالَ: (جُهۡدُ الۡمُقِلِّ، وَابۡدَأۡ بِمَنۡ تَعُولُ).

1677. [Sahih] Qutaibah bin Sa’id dan Yazid bin Khalid bin Mauhab Ar-Ramli telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zubair, dari Yahya bin Ja’dah, dari Abu Hurairah.

Beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling utama?”

Rasulullah menjawab, “Sedekah dari orang yang memiliki sedikit harta. Mulailah dari orang yang menjadi tanggung jawabmu!”

Mukadimah Lum'ah Al-I'tiqad

مُقَدِّمَةُ لُمۡعَةِ الۡاِعۡتِقَادِ

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ الۡأَوۡحَدُ شَرَفُ الۡإِسۡلَامِ مُفۡتِى الۡفِرَقِ وَقُدۡوَةُ الۡأَنَامِ أَوۡحَدُ الزَّمَانِ مُوَفَّقُ الدِّينِ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ قُدَامَةَ الۡمَقۡدِسِيُّ – قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى رُوحَهُ وَنَوَّرَ ضَرِيحَهُ -:

Syekh Imam tanpa tanding, kemuliaan Islam, ahli fatwa firkah-firkah, teladan manusia, tanpa tanding di zamannya, Muwaffaqu Ad-Din Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdisi—semoga Allah taala menyucikan ruhnya dan menerangi kuburnya—berkata:


١ - الۡحَمۡدُ لِلهِ الۡمَحۡمُودِ بِكُلِّ لِسَانٍ، الۡمَعۡبُودِ فِي كُلِّ زَمَانٍ، الَّذِي لَا يَخۡلُو مِنۡ عِلۡمِهِ مَكَانٌ، وَلَا يَشۡغَلُهُ شَأۡنٌ عَنۡ شَأۡنٍ، جَلَّ عَنِ الۡأَشۡبَاهِ وَالۡأَنۡدَادِ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الصَّاحِبَةِ وَالۡأَوۡلَادِ، وَنَفَذَ حُكۡمُهُ فِي جَمِيعِ الۡعِبَادِ، لَا تُمَثِّلُهُ الۡعُقُولُ بِالتَّفۡكِيرِ، وَلَا تَتَوَهَّمُهُ الۡقُلُوبُ بِالتَّصۡوِيرِ، ﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾ [الشورى: ١١].

Segala pujian untuk Allah. Dia dipuji oleh setiap lisan. Diibadahi di setiap zaman. Tidak ada satu tempat pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Dia tidak tersibukkan dari berbagai keadaan. Dia Maha Mulia dari berbagai penyerupaan dan tandingan.

Dia disucikan dari istri dan anak. Ketetapan-Nya terlaksana pada semua hamba. Akal tidak mampu memikirkan yang menyerupai Dia. Hati tidak mampu membayangkan-Nya. “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

٢ - لَهُ الۡأَسۡمَاءُ الۡحُسۡنَى وَالصِّفَاتُ الۡعُلَى: ﴿ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ۝٥ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ ۝٦ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَى﴾ [طه: ٥-٧]. أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمًا، وَقَهَرَ كُلَّ مَخۡلُوقٍ عِزَّةً وَحُكۡمًا، وَوَسِعَ كُلَّ شَيۡءٍ رَحۡمَةً وَعِلۡمًا: ﴿يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِۦ عِلۡمًا﴾ [طه: ١١٠] مَوۡصُوفٌ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفۡسَهُ فِي كِتَابِهِ الۡعَظِيمِ، وَعَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ الۡكَرِيمِ.

Hanya milik Dialah seluruh nama yang indah dan sifat yang tinggi. “Ar-Rahman tinggi di atas arasy. Milik-Nyalah segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah. Jika engkau mengeraskan suara ucapan, sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia dan yang tersembunyi.” (QS. Thaha: 5-7).

Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Ketetapan dan kemuliaan-Nya pasti berlaku terhadap setiap makhluk. Rahmat dan ilmu-Nya menjangkau segala sesuatu. “Dia mengetahui segala yang di hadapan mereka dan segala yang di belakang mereka, serta ilmu mereka tidak bisa menjangkau-Nya.” (QS. Thaha: 110). Dia disifati dengan sifat yang Dia sifati Diri-Nya di dalam Kitab-Nya yang agung dan melalui lisan Nabi-Nya yang mulia.[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah di dalam syarahnya menyebutkan,

[1] لُمۡعَةُ الۡاِعۡتِقَادِ:

(اللُّمۡعَةُ): تُطۡلَقُ فِي اللُّغَةِ عَلَى مَعَانٍ مِنۡهَا: الۡبُلۡغَةُ مِنَ الۡعَيۡشِ وَهٰذَا الۡمَعۡنَى أَنۡسَبُ مَعۡنًى لِمَوۡضُوعِ هٰذَا الۡكِتَابِ فَمَعۡنَى لُمۡعَةِ الۡاِعۡتِقَادِ هُنَا: الۡبُلۡغَةُ مِنَ الۡاِعۡتِقَادِ الصَّحِيحِ الۡمُطَابِقِ لِمَذۡهَبِ السَّلَفِ رِضۡوَانُ اللهِ عَلَيۡهِمۡ.

وَ (الۡاِعۡتِقَادُ): الۡحُكۡمُ الذِّهۡنِيُّ الۡجَازِمُ فَإِنۡ طَابَقَ الۡوَاقِعَ فَصَحِيحٌ وَإِلَّا فَفَاسِدٌ.

Lum’ah Al-I’tiqad

Lum’ah dalam bahasa Arab disebutkan secara mutlak untuk beberapa makna. Di antaranya adalah kebutuhan hidup yang pokok. Makna ini makna paling cocok dengan topik kitab ini. Sehingga makna Lum’ah Al-I’tiqad di sini adalah prinsip pokok dari keyakinan yang sahih yang sesuai dengan mazhab salaf semoga Allah meridai mereka.

Al-I’tiqad artinya (keyakinan) ketetapan pikiran yang pasti. Jika mencocoki kenyataan, maka keyakinan ini benar. Jika tidak, maka keyakinan ini rusak.

مَا تَضَمَّنَتۡهُ خُطۡبَةُ الۡكِتَابِ:

تَضَمَّنَتۡ خُطۡبَةُ الۡمُؤَلِّفِ فِي هٰذَا الۡكِتَابِ مَا يَأۡتِي:

Kandungan khotbah pembukaan kitab ini

Khotbah mualif di kitab ini mengandung hal-hal berikut:

١ - الۡبَدَاءَةُ بِالۡبَسۡمَلَةِ اقۡتِدَاءً بِكِتَابِ اللهِ الۡعَظِيمِ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

وَمَعۡنَى ﴿بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيمِ﴾: أَيۡ أَفۡعَلُ الشَّيۡءَ مُسۡتَعِينًا وَمُتَبَرِّكًا بِكُلِّ اسۡمٍ مِنۡ أَسۡمَاءِ اللهِ تَعَالَى الۡمَوۡصُوفِ بِالرَّحۡمَةِ الۡوَاسِعَةِ.

وَمَعۡنَى ﴿الله﴾: الۡمَأۡلُوهُ أَيۡ الۡمَعۡبُودُ حُبًّا وَتَعۡظِيمًا وَتَأَلُّهًا وَشَوۡقًا.

وَ ﴿الرَّحۡمٰن﴾: ذُو الرَّحۡمَةِ الۡوَاسِعَةِ.

وَ ﴿الرَّحِيم﴾: الۡمُوَصِّلُ رَحۡمَتَهُ مَنۡ شَاءَ مِنۡ خَلۡقِهِ.

فَالۡفَرۡقُ بَيۡنَ الرَّحۡمٰنِ وَالرَّحِيمِ أَنَّ الۡأَوَّلَ بِاعۡتِبَارِ كَوۡنِ الرَّحۡمَةِ وَصۡفًا لَهُ وَالثَّانِيَ بِاعۡتِبَارِهَا فِعۡلًا لَهُ يُوَصِّلُهَا مَنۡ شَاءَ مِنۡ خَلۡقِهِ.

1. Mengawali dengan basmalah dalam rangka meneladani kitab Allah yang agung dan mencontoh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Makna bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi adalah aku melakukan suatu perbuatan dengan memohon pertolongan dan mencari keberkahan dengan setiap nama dari nama-nama Allah taala yang disifati dengan rahmat yang luas.

Makna Allah adalah al-ma`luh yakni yang diibadahi dengan kecintaan, pengagungan, penghambaan, dan kerinduan. Ar-Rahman adalah pemilik rahmat yang luas. Ar-Rahim adalah yang menyampaikan rahmat-Nya kepada siapa saja makhluk yang Dia kehendaki.

Perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim adalah nama pertama dari sisi rahmat yang merupakan sifat Allah, sedangkan nama kedua dari sisi rahmat yang merupakan perbuatan-Nya yang Dia sampaikan kepada makhluk siapa saja yang Dia kehendaki.

٢ - الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ بِالۡحَمۡدِ.

وَ (الۡحَمۡدُ): ذِكۡرُ أَوۡصَافِ الۡمَحۡمُودِ الۡكَامِلَةِ وَأَفۡعَالِهِ الۡحَمِيدَةِ مَعَ الۡمَحَبَّةِ لَهُ وَالتَّعۡظِيمِ.

2. Sanjungan kepada Allah dengan segala pujian (al-hamd). Al-hamd adalah penyebutan sifat-sifat yang terpuji lagi sempurna dan penyebutan perbuatan-perbuatan-Nya yang terpuji diiringi rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.

٣ - إِنَّ اللهَ مَحۡمُودٌ بِكُلِّ لِسَانٍ وَمَعۡبُودٌ بِكُلِّ مَكَانٍ أَيۡ: مُسۡتَحِقٌّ وَجَائِزٌ أَنۡ يُحۡمَدَ بِكُلِّ لُغَةٍ وَيُعۡبَدَ بِكُلِّ بُقۡعَةٍ.

3. Bahwa Allah dipuji oleh setiap lisan dan diibadahi di semua tempat. Artinya Dia berhak dan boleh dipuji dengan segala macam bahasa dan diibadahi di semua tempat.

٤ - سِعَةُ عِلۡمِ اللهِ بِكَوۡنِهِ لَا يَخۡلُو مِنۡ عِلۡمِهِ مَكَانٌ وَكَمَالُ قُدۡرَتِهِ وَإِحَاطَتُهُ حَيۡثُ لَا يُلۡهِيهِ أَمۡرٌ عَنۡ أَمۡرٍ.

4. Keluasan ilmu Allah karena tidak ada satu tempat pun yang lolos dari ilmu-Nya. Kesempurnaan kemampuan-Nya dan jangkauan-Nya karena tidak ada satu urusan pun yang dapat membuatnya lengah dari mengurusi urusan lainnya.

٥ - عَظَمَتُهُ وَكِبۡرِيَاؤُهُ وَتَرَفُّعُهُ عَنۡ كُلِّ شَبِيهٍ وَنِدٍّ مُمَاثِلٍ لِكَمَالِ صِفَاتِهِ مِنۡ جَمِيعِ الۡوُجُوهِ.

5. Keagungan, kemuliaan, dan keunggulan Allah dari segala tandingan yang menyerupai karena kesempurnaan sifat Allah dari segala sisi.

٦ - تَنَزُّهُهُ وَتَقَدُّسُهُ عَنۡ كُلِّ زَوۡجَةٍ وَوَلَدٍ وَذٰلِكَ لِكَمَالِ غِنَاهُ.

6. Penyucian Allah dari seluruh istri dan anak karena kesempurnaan kecukupan-Nya.

٧ - تَمَامُ إِرَادَتِهِ وَسُلۡطَانِهِ بِنُفُوذِ قَضَائِهِ فِي جَمِيعِ الۡعِبَادِ فَلَا يَمۡنَعُهُ قُوَّةُ مَلِكٍ وَلَا كَثۡرَةُ عَدَدٍ وَمَالٍ.

7. Kesempurnaan keinginan dan kekuasaan Allah dengan terlaksananya ketentuan-Nya pada seluruh hamba. Tidak ada yang bisa mencegah-Nya, baik kekuatan raja ataupun banyaknya jumlah pasukan dan harta.

٨ - عَظَمَةُ اللهِ فَوۡقَ مَا يَتَصَوَّرُ بِحَيۡثُ لَا تَسۡتَطِيعُ الۡعُقُولُ لَهُ تَمۡثِيلًا وَلَا تَتَوَهَّمُ الۡقُلُوبُ لَهُ صُورَةً؛ لِأَنَّ اللهَ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَيۡءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ.

8. Keagungan Allah di atas segala yang tergambar oleh akal karena akal tidak mampu membuat perumpamaan untuk-Nya dan hati tidak bisa membayangkan bentuk-Nya. Hal itu karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

٩ - اخۡتِصَاصُ اللهِ بِالۡأَسۡمَاءِ الۡحُسۡنَى وَالصِّفَاتِ الۡعُلَى.

9. Kekhususan Allah dengan nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat yang paling mulia.

١٠ - اسۡتِوَاءُ اللهِ عَلَى عَرۡشِهِ وَهُوَ عُلُوُّهُ وَاسۡتِقۡرَارُهُ عَلَيۡهِ عَلَى الۡوَجۡهِ اللَّائِقِ بِهِ.

10. Istiwa` Allah di atas arasy-Nya artinya ketinggian-Nya dan menetapnya Dia di atasnya sesuai sifat yang layak bagi-Nya.

١١ - عُمُومُ مُلۡكِهِ لِلسَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَمَا تَحۡتَ الثَّرَى.

11. Kepemilikan Allah yang menyeluruh meliputi langit-langit, bumi, segala yang di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.

١٢ - سِعَةُ عِلۡمِهِ وَقُوَّةُ قَهۡرِهِ وَحُكۡمِهِ وَأَنَّ الۡخَلۡقَ لَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلۡمًا لِقُصُورِ إِدۡرَاكِهِمۡ عَمَّا يَسۡتَحِقُّهُ الرَّبُّ الۡعَظِيمُ مِنۡ صِفَاتِ الۡكَمَالِ وَالۡعَظَمَةِ.

12. Keluasan ilmu Allah, kekuatan pengaturan dan hukum-Nya, serta bahwa ilmu makhluk tidak akan bisa menjangkau-Nya karena pendeknya pengetahuan mereka terhadap sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang layak bagi Allah Tuhan yang Maha Agung.