Cari Blog Ini

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 527

٥٢٧ - (صحيح بما قبله) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ الۡحَنَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُعَيۡبٍ، عَنۡ أُمِّ كُرۡزٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (بَوۡلُ الۡغُلَامِ يُنۡضَحُ، وَبَوۡلُ الۡجَارِيَةِ يُغۡسَلُ).

527. [Sahih dengan riwayat sebelumnya] Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepada kami. Ia berkata: Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Syu’aib, dari Ummu Kurz, bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Air kencing anak laki-laki diperciki air (secara merata), sedangkan air kencing anak perempuan dicuci.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4718

١١ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿عَسَى أَنۡ يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحۡمُودًا﴾ ۝٧٩
11 - Bab Firman-Nya: “Mudah-mudahan Rabmu mengangkat engkau ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79)


٤٧١٨ - حَدَّثَنِي إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبَانَ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ آدَمَ بۡنِ عَلِيٍّ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ جُثًا، كُلُّ أُمَّةٍ تَتۡبَعُ نَبِيَّهَا يَقُولُونَ: يَا فُلاَنُ اشۡفَعۡ، حَتَّى تَنۡتَهِيَ الشَّفَاعَةُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَذَلِكَ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُ اللهُ الۡمَقَامَ الۡمَحۡمُودَ. [طرفه في: ١٤٧٥].

4718. Isma’il bin Aban telah menceritakan kepadaku: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Adam bin ‘Ali. Dia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata, “Sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan berkelompok-kelompok. Setiap umat mengikuti nabinya seraya berkata, ‘Wahai Fulan, berilah syafaat!’ Hingga (pencarian) syafaat itu berujung kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Itulah hari ketika Allah membangkitkan beliau ke tempat yang terpuji (maqam mahmud).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7163 dan 7164

١٧ - بَابُ رِزۡقِ الۡحُكَّامِ وَالۡعَامِلِينِ عَلَيۡهَا
17. Bab Imbalan para Hakim dan Para Petugas Pengelola Negara


وَكَانَ شُرَيۡحٌ الۡقَاضِي يَأۡخُذُ عَلَى الۡقَضَاءِ أَجۡرًا.

Syuraih sang Hakim dahulu mengambil upah atas tugas pengadilan.

وَقَالَتۡ عَائِشَةُ: يَأۡكُلُ الۡوَصِيُّ بِقَدۡرِ عُمَالَتِهِ، وَأَكَلَ أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ.

‘Aisyah berkata, “Seorang wasi (pengampu harta anak yatim) boleh memanfaatkan harta sesuai dengan kadar jerih payah pekerjaannya.” Abu Bakr dan ‘Umar pun pernah memanfaatkan harta baitulmal.

٧١٦٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي السَّائِبُ بۡنُ يَزِيدَ ابۡنُ أُخۡتِ نَمِرٍ: أَنَّ حُوَيۡطِبَ بۡنَ عَبۡدِ الۡعُزَّى أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ السَّعۡدِيِّ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ فِي خِلَافَتِهِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: أَلَمۡ أُحَدَّثۡ أَنَّكَ تَلِي مِنۡ أَعۡمَالِ النَّاسِ أَعۡمَالًا، فَإِذَا أُعۡطِيتَ الۡعُمَالَةَ كَرِهۡتَهَا؟ فَقُلۡتُ: بَلَى، فَقَالَ عُمَرُ: مَا تُرِيدُ إِلَى ذٰلِكَ؟ قُلۡتُ: إِنَّ لِي أَفۡرَاسًا وَأَعۡبُدًا، وَأَنَا بِخَيۡرٍ، وَأَرِيدُ أَنۡ تَكُونَ عُمَالَتِي صَدَقَةً عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ. قَالَ عُمَرُ: لَا تَفۡعَلۡ، فَإِنِّي كُنۡتُ أَرَدۡتُ الَّذِي أَرَدۡتَ، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُعۡطِينِي الۡعَطَاءَ، فَأَقُولُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، حَتَّى أَعۡطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلۡتُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (خُذۡهُ، فَتَمَوَّلۡهُ، وَتَصَدَّقۡ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنۡ هٰذَا الۡمَالِ وَأَنۡتَ غَيۡرُ مُشۡرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذۡهُ، وَإِلَّا فَلَا تُتۡبِعۡهُ نَفۡسَكَ). [طرفه في: ١٤٧٣].

7163. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: As-Sa`ib bin Yazid keponakan Namir mengabarkan kepadaku: Huwaithib bin ‘Abdul-‘Uzza mengabarkan kepadanya: ‘Abdullah bin As-Sa’di mengabarkan kepadanya:

Dia menemui ‘Umar pada masa kekhalifahannya, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Bukankah aku mendapat kabar bahwa engkau mengurus beberapa urusan dari urusan-urusan manusia, namun apabila engkau diberi upah pekerjaannya, engkau tidak menyukainya?”

Aku menjawab, “Benar.”

‘Umar berkata, “Apa yang engkau inginkan dengan hal itu?”

Aku menjawab, “Aku telah memiliki beberapa ekor kuda dan beberapa hamba sahaya, dan aku berada dalam keadaan baik. Aku ingin agar upah pekerjaanku dijadikan sebagai sedekah bagi kaum muslimin.”

‘Umar berkata:

Jangan engkau lakukan itu, karena sesungguhnya aku dahulu pernah menginginkan seperti apa yang engkau inginkan. Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir kepadanya daripadaku.”

Hingga pada suatu kali beliau memberiku suatu harta, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir kepadanya daripadaku.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ambillah harta ini, lalu jadikanlah sebagai hartamu dan bersedekahlah dengannya. Harta apa saja dari jenis ini yang mendatangi engkau dalam keadaan engkau tidak mengharap-harapkannya dan tidak pula memintanya, maka ambillah. Jika tidak demikian, maka janganlah engkau memperturutkan jiwamu kepadanya.”

٧١٦٤ - وَعَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنۡ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: سَمِعۡتُ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعۡطِينِي الۡعَطَاءَ، فَأَقُولُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، حَتَّى أَعۡطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلۡتُ أَعۡطِهِ مَنۡ هُوَ أَفۡقَرُ إِلَيۡهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (خُذۡهُ، فَتَمَوَّلۡهُ، وَتَصَدَّقۡ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنۡ هٰذَا الۡمَالِ وَأَنۡتَ غَيۡرُ مُشۡرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذۡهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتۡبِعۡهُ نَفۡسَكَ).[طرفه في: ١٤٧٣].

7164. Dan dari Az-Zuhri, dia berkata: Salim bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata:

Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir daripadaku.”

Hingga pada suatu kali beliau memberiku suatu harta, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir daripadaku.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ambillah harta ini, lalu jadikanlah sebagai hartamu dan bersedekahlah dengannya. Harta apa saja yang mendatangi engkau dalam keadaan engkau tidak mengharap-harapkannya dan tidak pula memintanya, maka ambillah. Dan apa yang tidak demikian, maka janganlah engkau memperturutkan jiwamu kepadanya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3143

١٩ - بَابُ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعۡطِي الۡمُؤَلَّفَةَ قُلُوبُهُمۡ وَغَيۡرَهُمۡ مِنَ الۡخُمُسِ وَنَحۡوِهِ
19. Bab Apa yang Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Berikan kepada Orang-Orang yang Dilunakkan Hatinya dan Selain Mereka dari Khumus dan Sejenisnya


رَوَاهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Zaid, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٣١٤٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، وَعُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ سَأَلۡتُهُ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: (يَا حَكِيمُ، إِنَّ هٰذَا الۡمَالَ خَضِرٌ حُلۡوٌ، فَمَنۡ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفۡسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنۡ أَخَذَهُ بِإِشۡرَافِ نَفۡسٍ لَمۡ يُبَارَكۡ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأۡكُلُ وَلَا يَشۡبَعُ، وَالۡيَدُ الۡعُلۡيَا خَيۡرٌ مِنَ الۡيَدِ السُّفۡلَى). قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ، لَا أَرۡزَأُ أَحَدًا بَعۡدَكَ شَيۡئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنۡيَا، فَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ يَدۡعُو حَكِيمًا لِيُعۡطِيَهُ الۡعَطَاءَ فَيَأۡبَى أَنۡ يَقۡبَلَ مِنۡهُ شَيۡئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعۡطِيَهُ فَأَبَى أَنۡ يَقۡبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعۡشَرَ الۡمُسۡلِمِينَ إِنِّي أَعۡرِضُ عَلَيۡهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللهُ لَهُ مِنۡ هٰذَا الۡفَيۡءِ، فَيَأۡبَى أَنۡ يَأۡخُذَهُ، فَلَمۡ يَرۡزَأۡ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ حَتَّى تُوُفِّيَ. [طرفه في: ١٤٧٢].

3143. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab dan ‘Urwah bin Az-Zubair: Hakim bin Hizamradhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku meminta (harta) kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi kepada beliau, lalu beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barang siapa mengambilnya dengan kelapangan jiwa, maka harta itu akan diberkahi baginya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan jiwa, maka harta itu tidak akan diberkahi baginya, dan dia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Hakim berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengurangi harta dari seorang pun setelahmu sedikit pun hingga aku berpisah dengan dunia.”

Suatu ketika, Abu Bakr pernah memanggil Hakim untuk memberinya pemberian, tetapi dia menolak untuk menerima apa pun darinya. Kemudian ‘Umar juga pernah memanggilnya untuk memberinya, tetapi dia menolak untuk menerimanya. ‘Umar berkata, “Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari harta fai ini, tetapi dia menolak untuk mengambilnya.”

Hakim tidak pernah mengurangi harta seorang pun dari manusia setelah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga dia wafat.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2750

٩ - بَابُ تَأۡوِيلِ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿مِنۡ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوۡ دَيۡنٍ﴾ [النساء: ١٢]
9. Bab Takwil Firman Allah Taala: “setelah dipenuhi wasiat yang dibuat oleh mereka atau setelah dibayar utangnya.” (QS An-Nisa’: 12)


وَيُذۡكَرُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَضَى بِالدَّيۡنِ قَبۡلَ الۡوَصِيَّةِ.

وَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ اللهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَنۡ تُؤَدُّوا الۡأَمَانَاتِ إِلَى أَهۡلِهَا﴾ [النساء: ٥٨].

فَأَدَاءُ الۡأَمَانَةِ أَحَقُّ مِنۡ تَطَوُّعِ الۡوَصِيَّةِ، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا صَدَقَةَ إِلَّا عَنۡ ظَهۡرِ غِنًى).

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا يُوصِي الۡعَبۡدُ إِلَّا بِإِذۡنِ أَهۡلِهِ، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الۡعَبۡدُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ).

Disebutkan bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan pelunasan utang didahulukan sebelum pelaksanaan wasiat.

Dan firman-Nya: “Sungguh, Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisa’: 58)

Jadi, menunaikan amanat lebih berhak didahulukan daripada wasiat yang bersifat sukarela. Dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada sedekah melainkan dari kelebihan kebutuhan.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Seorang hamba sahaya tidak boleh berwasiat melainkan dengan izin tuannya. Dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seorang hamba sahaya adalah pemelihara harta tuannya.”

٢٧٥٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، وَعُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ سَأَلۡتُهُ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: (يَا حَكِيمُ، إِنَّ هٰذَا الۡمَالَ خَضِرٌ حُلۡوٌ، فَمَنۡ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفۡسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنۡ أَخَذَهُ بِإِشۡرَافِ نَفۡسٍ لَمۡ يُبَارَكۡ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأۡكُلُ وَلَا يَشۡبَعُ، وَالۡيَدُ الۡعُلۡيَا خَيۡرٌ مِنَ الۡيَدِ السُّفۡلَى). قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ، لَا أَرۡزَأُ أَحَدًا بَعۡدَكَ شَيۡئًا، حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنۡيَا. فَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ يَدۡعُو حَكِيمًا لِيُعۡطِيَهُ الۡعَطَاءَ فَيَأۡبَى أَنۡ يَقۡبَلَ مِنۡهُ شَيۡئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعۡطِيَهُ فَيَأۡبَى أَنۡ يَقۡبَلَهُ، فَقَالَ: يَا مَعۡشَرَ الۡمُسۡلِمِينَ، إِنِّي أَعۡرِضُ عَلَيۡهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللهُ لَهُ مِنۡ هٰذَا الۡفَيۡءِ، فَيَأۡبَى أَنۡ يَأۡخُذَهُ. فَلَمۡ يَرۡزَأۡ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ حَتَّى تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللهُ. [طرفه في: ١٤٧٢].

2750. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Auza'i menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab dan ‘Urwah bin Az-Zubair: Hakim bin Hizamradhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku meminta (harta) kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi kepada beliau, lalu beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barang siapa mengambilnya dengan kelapangan jiwa, maka harta itu akan diberkahi baginya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan jiwa, maka harta itu tidak akan diberkahi baginya, dan dia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Hakim berkata: Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengambil harta dari seorang pun setelahmu sedikit pun hingga aku berpisah dengan dunia.”

Suatu ketika, Abu Bakr pernah memanggil Hakim untuk memberinya pemberian, tetapi dia menolak untuk menerima apa pun darinya. Kemudian ‘Umar juga pernah memanggilnya untuk memberinya, tetapi dia menolak untuk menerimanya. ‘Umar berkata, “Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari harta fai ini, tetapi dia menolak untuk mengambilnya.”

Hakim tidak pernah mengambil harta seorang pun dari manusia setelah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga dia wafat—rahimahullah.”