Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7481

٣٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى:
32. Bab Firman Allah Taala,


﴿وَلَا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنۡدَهُ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنۡ قُلُوبِهِمۡ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡ قَالُوا الۡحَقَّ وَهُوَ الۡعَلِيُّ الۡكَبِيرُ﴾ [سبأ: ٢٣].

وَلَمۡ يَقُلۡ: مَاذَا خَلَقَ رَبُّكُمۡ.

Syafaat tidak berguna di sisi Allah kecuali bagi siapa saja yang Dia izinkan, sehingga apabila ketakutan telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rab kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar.” Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Saba’: 23).

Allah tidak berfirman: apakah yang telah diciptakan Rab kalian.

وَقَالَ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]، وَقَالَ مَسۡرُوقٌ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ: إِذَا تَكَلَّمَ اللهُ بِالۡوَحۡيِ سَمِعَ أَهۡلُ السَّمَوَاتِ شَيۡئًا، فَإِذَا فُزِّعَ عَنۡ قُلُوبِهِمۡ وَسَكَنَ الصَّوۡتُ، عَرَفُوا أَنَّهُ الۡحَقُّ وَنَادَوۡا: ﴿مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡ قَالُوا الۡحَقَّ﴾، وَيُذۡكَرُ عَنۡ جَابِرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أُنَيۡسٍ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (يَحۡشُرُ اللهُ الۡعِبَادَ، فَيُنَادِيهِمۡ بِصَوۡتٍ يَسۡمَعُهُ مَنۡ بَعُدَ كَمَا يَسۡمَعُهُ مَنۡ قَرُبَ: أَنَا الۡمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ).

Allah—jalla dzikruh—berfirman, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.” (QS Al-Baqarah: 255).

Masruq berkata dari Ibnu Mas’ud: Ketika Allah mengatakan wahyu, penduduk langit mendengar sesuatu. Ketika ketakutan telah dihilangkan dari hati-hati mereka dan suara telah tenang, mereka mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dan mereka berkata, “Apa yang dikatakan oleh Rab kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar.”

Disebutkan dari Jabir, dari ‘Abdullah bin Unais. Beliau berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Allah akan mengumpulkan para hamba lalu memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: Aku adalah Al-Malik (raja). Aku adalah Ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba).”

٧٤٨١ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ، قَالَ: (إِذَا قَضَى اللهُ الۡأَمۡرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ الۡمَلَائِكَةُ بِأَجۡنِحَتِهَا خُضۡعَانًا لِقَوۡلِهِ، كَأَنَّهُ سِلۡسِلَةٌ عَلَى صَفۡوَانٍ - قَالَ عَلِيٌّ: وَقَالَ غَيۡرُهُ: صَفَوَانٍ - يَنۡفُذُهُمۡ ذٰلِكَ، فَإِذَا ﴿فُزِّعَ عَنۡ قُلُوبِهِمۡ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡ قَالُوا الۡحَقَّ وَهُوَ الۡعَلِيُّ الۡكَبِيرُ﴾). قَالَ عَلِيٌّ: وَحَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَمۡرٌو، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، بِهٰذَا. قَالَ سُفۡيَانُ: قَالَ عَمۡرٌو: سَمِعۡتُ عِكۡرِمَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيۡرَةَ؟ قَالَ عَلِيٌّ: قُلۡتُ لِسُفۡيَانَ: قَالَ سَمِعۡتُ عِكۡرِمَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قُلۡتُ لِسُفۡيَانَ: إِنَّ إِنۡسَانًا رَوَى عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ يَرۡفَعُهُ: أَنَّهُ قَرَأَ ﴿فُزِّعَ﴾. قَالَ سُفۡيَانُ هَكَذَا قَرَأَ عَمۡرٌو، فَلَا أَدۡرِي سَمِعَهُ هَكَذَا أَمۡ لَا، قَالَ سُفۡيَانُ: وَهِيَ قِرَاءَتُنَا. [طرفه في: ٤٧٠١].

7481. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari ‘Ikrimah, dari Abu Hurairah, sampai kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata:

Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat memukulkan sayapnya karena tunduk kepada perkataan-Nya. Suaranya bagaikan bunyi rantai di atas batu licin (shafwan). ‘Ali berkata: Selain Sufyan berkata: shafawan. Allah memberlakukan itu kepada mereka. Ketika ketakutan telah dihilangkan dari hati-hati mereka, mereka bertanya, “Apa yang telah dikatakan oleh Rab kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar.” Dan Dia adalah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

‘Ali berkata: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr menceritakan hadis ini kepada kami dari ‘Ikrimah, dari Abu Hurairah.

Sufyan berkata: ‘Amr berkata: Aku mendengar ‘Ikrimah: Abu Hurairah menceritakan kepada kami.

‘Ali berkata: Aku berkata kepada Sufyan: Dia berkata: Aku mendengar ‘Ikrimah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah? Beliau menjawab: Iya.

Aku berkata kepada Sufyan: Sesungguhnya orang-orang meriwayatkan dari ‘Amr, dari ‘Ikrimah, dari Abu Hurairah dengan menyandarkannya kepada Nabi: Bahwa beliau membaca “fuzzi’a.” Sufyan berkata: Demikianlah ‘Amr membacanya, namun aku tidak tahu apakah beliau mendengarnya demikian atau tidak. Sufyan berkata: Itu adalah bacaan kami.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7480

٧٤٨٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي الۡعَبَّاسِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ قَالَ: حَاصَرَ النَّبِيُّ ﷺ أَهۡلَ الطَّائِفِ فَلَمۡ يَفۡتَحۡهَا، فَقَالَ: (إِنَّا قَافِلُونَ إِنۡ شَاءَ اللهُ). فَقَالَ الۡمُسۡلِمُونَ: نَقۡفُلُ وَلَمۡ نَفۡتَحۡ! قَالَ: (فَاغۡدُوا عَلَى الۡقِتَالِ). فَغَدَوۡا فَأَصَابَتۡهُمۡ جِرَاحَاتٌ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّا قَافِلُونَ غَدًا إِنۡ شَاءَ اللهُ). فَكَأَنَّ ذٰلِكَ أَعۡجَبَهُمۡ، فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. [طرفه في: ٤٣٢٥].

7480. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Abu Al-‘Abbas, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Beliau berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengepung penduduk Tha`if, namun belum berhasil menaklukkannya. Beliau berkata, “Sesungguhnya kita akan pulang insyaallah.”

Kaum muslimin berkata, “Kita pulang padahal kita belum menaklukkannya?!”

Nabi berkata, “Besok berangkatlah berperang!”

Esoknya mereka berangkat (berperang), lalu mereka menderita banyak luka. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Sesungguhnya kita pulang besok insyaallah.”

Sepertinya itu membuat mereka senang, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tersenyum.

Shahih Muslim hadis nomor 2995

٥٧ - (٢٩٩٥) - حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الۡمِسۡمَعِيُّ، مَالِكُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ الۡمُفَضَّلِ: حَدَّثَنَا سُهَيۡلُ بۡنُ أَبِي صَالِحٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنًا لِأَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ يُحَدِّثُ أَبِي، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمۡ، فَلۡيُمۡسِكۡ بِيَدِهِ عَلَىٰ فِيهِ. فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ يَدۡخُلُ).

57. (2995). Abu Ghassan Al-Misma’i Malik bin ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepadaku: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami: Suhail bin Abu Shalih menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar seorang putra Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan kepada ayahku dari ayahnya. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang kalian menguap, tutuplah mulutnya dengan tangannya karena setan bisa masuk.”

٥٨ - (...) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمۡ، فَلۡيُمۡسِكۡ بِيَدِهِ فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ يَدۡخُلُ).

58. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id, dari ayahnya: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang kalian menguap, tutuplah (mulut) dengan tangannya, karena setan bisa masuk.”

٥٩ - (...) - حَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ سُهَيۡلِ بۡنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمۡ فِي الصَّلَاةِ، فَلۡيَكۡظِمۡ مَا اسۡتَطَاعَ، فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ يَدۡخُلُ).

59. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepadaku: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Suhail bin Abu Shalih, dari putra Abu Sa’id Al-Khudri, dari ayahnya. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang kalian menguap ketika salat, tahanlah sekuat tenaga karena setan bisa masuk.”

(...) - حَدَّثَنَاهُ عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، وَعَنِ ابۡنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ بِشۡرٍ وَعَبۡدِ الۡعَزِيزِ.

‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakannya kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ayahnya dan dari putra Abu Sa’id, dari Abu Sa’id. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda semisal hadis Bisyr dan ‘Abdul ‘Aziz.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7475

٧٤٧٥ - حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بۡنُ صَفۡوَانَ بۡنِ جَمِيلٍ اللَّخۡمِيُّ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَيۡنَا أَنَا نَائِمٌ، رَأَيۡتُنِي عَلَى قَلِيبٍ، فَنَزَعۡتُ مَا شَاءَ اللهُ أَنۡ أَنۡزِعَ، ثُمَّ أَخَذَهَا ابۡنُ أَبِي قُحَافَةَ، فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوۡ ذَنُوبَيۡنِ، وَفِي نَزۡعِهِ ضَعۡفٌ، وَاللهُ يَغۡفِرُ لَهُ، ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ، فَاسۡتَحَالَتۡ غَرۡبًا، فَلَمۡ أَرَ عَبۡقَرِيًّا مِنَ النَّاسِ يَفۡرِي فَرِيَّهُ، حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ حَوۡلَهُ بِعَطَنٍ). [طرفه في: ٣٦٦٤].

7475. Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al-Lakhmi telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Ketika aku tidur, aku mimpi berada di tepi sumur. Lalu aku menimba sebanyak yang Allah kehendaki. Kemudian Ibnu Abu Quhafah mengambilnya, lalu dia menimba satu atau dua timba. Meski ada kelemahan dalam penimbaannya, Allah mengampuninya. Kemudian ‘Umar mengambilnya, lalu timbanya berubah menjadi timba yang lebih besar. Aku belum pernah melihat orang cerdas yang melakukan pekerjaan yang luar biasa sepertinya sampai orang-orang membuat tempat unta menderum di sekelilingnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7472

٧٤٧٢ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ وَالۡأَعۡرَجِ. وَحَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: حَدَّثَنِي أَخِي، عَنۡ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي عَتِيقٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ وَسَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: اسۡتَبَّ رَجُلٌ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، وَرَجُلٌ مِنَ الۡيَهُودِ، فَقَالَ الۡمُسۡلِمُ: وَالَّذِي اصۡطَفَى مُحَمَّدًا عَلَى الۡعَالَمِينَ، فِي قَسَمٍ يُقۡسِمُ بِهِ، فَقَالَ الۡيَهُودِيُّ: وَالَّذِي اصۡطَفَى مُوسَى عَلَى الۡعَالَمِينَ، فَرَفَعَ الۡمُسۡلِمُ يَدَهُ عِنۡدَ ذٰلِكَ، فَلَطَمَ الۡيَهُودِيَّ. فَذَهَبَ الۡيَهُودِيُّ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَخۡبَرَهُ بِالَّذِي كَانَ مِنۡ أَمۡرِهِ وَأَمۡرِ الۡمُسۡلِمِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى، فَإِنَّ النَّاسَ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ يُفِيقُ، فَإِذَا مُوسَى بَاطِشٌ بِجَانِبِ الۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَكَانَ فِيمَنۡ صَعِقَ فَأَفَاقَ قَبۡلِي، أَوۡ كَانَ مِمَّنِ اسۡتَثۡنَى اللهُ).

7472. Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dan Al-A’raj. Isma’il juga telah menceritakan kepada kami: Saudaraku menceritakan kepadaku dari Sulaiman, dari Muhammad bin Abu ‘Atiq, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dan Sa’id bin Al-Musayyab: Abu Hurairah berkata:

Seorang pria muslim dan seorang pria Yahudi saling mencela. Si muslim berkata dalam sumpahnya, “Demi Yang telah memilih Muhammad atas alam semesta.”

Si Yahudi berkata, “Demi Yang telah memilih Musa atas alam semesta.”

Mendengar itu, si Muslim mengangkat tangannya lalu menampar si Yahudi. Si Yahudi pergi menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu mengabarkan kejadian antara dirinya dan si Muslim. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Jangan kalian lebihkan aku di atas Musa karena semua manusia akan pingsan pada hari kiamat lalu aku adalah orang pertama yang siuman. Ternyata Musa sedang berpegangan erat di sisi arasy. Aku tidak tahu apakah beliau termasuk yang pingsan lalu siuman sebelumku atau beliau termasuk yang dikecualikan oleh Allah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7470

٧٤٧٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ بۡنُ سَلَامٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ الۡحَذَّاءُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ عَلَى أَعۡرَابِيٍّ يَعُودُهُ، فَقَالَ: (لَا بَأۡسَ عَلَيۡكَ، طَهُورٌ إِنۡ شَاءَ اللهُ). قَالَ: قَالَ الۡأَعۡرَابِيُّ: طَهُورٌ؟ بَلۡ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، عَلَى شَيۡخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ الۡقُبُورَ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (فَنَعَمۡ إِذًا). [طرفه في: ٣٦١٦].

7470. Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami: Khalid Al-Hadzdza` menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk menjenguk seorang badui Arab, lalu beliau berkata, “Lā ba’sa ‘alaika, ṭahūrun insyā’allāh (tidak apa-apa, insyaallah sebagai pencuci dosa).”

Ibnu ‘Abbas berkata: Si badui Arab berkata, “Pencuci? Bahkan ini adalah demam yang begitu mendidih pada seorang yang sudah tua yang mengantarkannya ke kubur.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Iya kalau begitu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6602

٦٦٠٢ - حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا إِسۡرَائِيلُ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ، عَنۡ أُسَامَةَ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ إِذۡ جَاءَهُ رَسُولُ إِحۡدَى بَنَاتِهِ، وَعِنۡدَهُ سَعۡدٌ وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ وَمُعَاذٌ، أَنَّ ابۡنَهَا يَجُودُ بِنَفۡسِهِ، فَبَعَثَ إِلَيۡهَا: (لِلهِ مَا أَخَذَ وَلِلهِ مَا أَعۡطَى، كُلٌّ بِأَجَلٍ، فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ). [طرفه في: ١٢٨٤].

6602. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Isra`il menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Abu ‘Utsman, dari Usamah. Beliau berkata: Aku pernah berada di dekat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika utusan salah satu putrinya mendatangi beliau yang mengabarkan bahwa putra dari putri Nabi tersebut hampir meninggal. Saat itu di dekat Nabi ada Sa’d, Ubayy bin Ka’b, dan Mu’adz. Lalu Nabi berpesan kepada putrinya, “Sesungguhnya hanya milik Allah segala apa yang Dia ambil dan hanya milik Allah segala apa yang Dia berikan. Segala sesuatu ada ajalnya. Maka, hendaknya dia bersabar dan mengharap pahala.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5345

٥٣٤٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَزۡمٍ: حَدَّثَنِي حُمَيۡدُ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ حَبِيبَةَ ابۡنَةِ أَبِي سُفۡيَانَ: لَمَّا جَاءَهَا نَعِيُّ أَبِيهَا، دَعَتۡ بِطِيبٍ فَمَسَحَتۡ ذِرَاعَيۡهَا، وَقَالَتۡ: مَا لِي بِالطِّيبِ مِنۡ حَاجَةٍ، لَوۡلَا أَنِّي سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (لَا يَحِلُّ لِامۡرَأَةٍ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ تُحِدُّ عَلَى مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَى زَوۡجٍ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا). [طرفه في: ١٢٨٠].

5345. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Abu Bakr bin ‘Amr bin Hazm: Humaid bin Nafi’ menceritakan kepadaku dari Zainab binti Umu Salamah, dari Umu Habibah binti Abu Sufyan:

Ketika berita kematian ayahnya datang kepadanya, dia meminta wewangian lalu dioleskan ke kedua lengannya dan berkata: Aku tidak butuh wewangian kalau saja aku tidak mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk ihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal. Kecuali terhadap suami, (masa ihdadnya) selama empat bulan sepuluh hari.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5339

٥٣٣٩ - وَسَمِعۡتُ زَيۡنَبَ ابۡنَةَ أُمِّ سَلَمَةَ تُحَدِّثُ، عَنۡ أُمِّ حَبِيبَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَحِلُّ لِامۡرَأَةٍ مُسۡلِمَةٍ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ أَنۡ تُحِدَّ فَوۡقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، إِلَّا عَلَى زَوۡجِهَا أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا). [طرفه في: ١٢٨٠].

5339. Aku mendengar Zainab binti Umu Salamah menceritakan dari Umu Habibah: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak halal bagi wanita muslimah yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan ihdad (berkabung) lebih dari tiga hari, kecuali terhadap suami, (masa ihdadnya) selama empat bulan sepuluh hari.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7466

٧٤٦٦ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سِنَانٍ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحٌ: حَدَّثَنَا هِلَالُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَثَلُ الۡمُؤۡمِنِ كَمَثَلِ خَامَةِ الزَّرۡعِ، يَفِيءُ وَرَقُهُ، مِنۡ حَيۡثُ أَتَتۡهَا الرِّيحُ تُكَفِّئُهَا، فَإِذَا سَكَنَتِ اعۡتَدَلَتۡ، وَكَذٰلِكَ الۡمُؤۡمِنُ يُكَفَّأُ بِالۡبَلَاءِ، وَمَثَلُ الۡكَافِرِ كَمَثَلِ الۡأَرۡزَةِ، صَمَّاءَ مُعۡتَدِلَةً، حَتَّى يَقۡصِمَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ). [طرفه في: ٥٦٤٤].

7466. Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami: Fulaih menceritakan kepada kami: Hilal bin ‘Ali menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Permisalan mukmin bagai tumbuhan muda. Daun-daunnya bergoyang mengikuti arah angin yang datang menerpanya. Ketika angin mereda, tumbuhan itu kembali ke posisinya semula. Demikianlah mukmin yang diterpa musibah. Permisalan orang kafir bagaikan pohon cedar yang kaku lagi lurus sehingga Allah mematahkannya ketika Dia kehendaki.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7461

٧٤٦١ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي حُسَيۡنٍ: حَدَّثَنَا نَافِعُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وَقَفَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى مُسَيۡلِمَةَ فِي أَصۡحَابِهِ فَقَالَ: (لَوۡ سَأَلۡتَنِي هٰذِهِ الۡقِطۡعَةَ مَا أَعۡطَيۡتُكَهَا، وَلَنۡ تَعۡدُوَ أَمۡرَ اللهِ فِيكَ، وَلَئِنۡ أَدۡبَرۡتَ لَيَعۡقِرَنَّكَ اللهُ). [طرفه في: ٣٦٢٠].

7461. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin Abu Husain: Nafi’ bin Jubair menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan Musailamah bersama para sahabatnya lalu beliau berkata, “Kalau engkau memintaku potongan (tangkai) ini, niscaya aku tidak akan memberikannya kepadamu dan engkau tidak akan bisa melampaui ketetapan Allah padamu. Jika engkau berpaling, Allah pasti akan membinasakanmu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7455

٧٤٥٥ - حَدَّثَنَا خَلَّادُ بۡنُ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ ذَرٍّ: سَمِعۡتُ أَبِي يُحَدِّثُ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (يَا جِبۡرِيلُ، مَا يَمۡنَعُكَ أَنۡ تَزُورَنَا أَكۡثَرَ مِمَّا تَزُورُنَا؟). فَنَزَلَتۡ: ﴿وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمۡرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِينَا وَمَا خَلۡفَنَا﴾ [مريم: ٦٤] إِلَى آخِرِ الۡآيَةِ. قَالَ: هٰذَا كَانَ الۡجَوَابَ لِمُحَمَّدٍ ﷺ. [طرفه في: ٣٢١٨].

7455. Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Dzarr menceritakan kepada kami: Aku mendengar ayahku menceritakan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Wahai Jibril, apa yang menghalangimu mengunjungi kami lebih sering daripada biasanya?”

Lalu turunlah ayat “Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Rabmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita ...” (QS Maryam: 64) Sampai akhir ayat.

Ibnu ‘Abbas berkata: Ini adalah jawaban untuk Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7451

٢٦ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللهَ يُمۡسِكُ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ أَنۡ تَزُولَا﴾ [فاطر: ٤١]
26. Bab Firman Allah Taala, “Sesungguhnya Allah menahan langit-langit dan bumi supaya tidak lenyap” (QS Fathir: 41)


٧٤٥١ - حَدَّثَنَا مُوسَى: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: جَاءَ حَبۡرٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ يَضَعُ السَّمَاءَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡأَرۡضَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡجِبَالَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالشَّجَرَ وَالۡأَنۡهَارَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَسَائِرَ الۡخَلۡقِ عَلَى إِصۡبَعٍ، ثُمَّ يَقُولُ بِيَدِهِ: أَنَا الۡمَلِكُ، فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَقَالَ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدۡرِهِ﴾‏ [الزمر: ٦٧]. [طرفه في: ٤٨١١].

7451. Musa telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Beliau berkata:

Seorang alim Yahudi datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah meletakkan langit di satu jari, bumi di satu jari, gunung-gunung di satu jari, pepohonan dan sungai-sungai di satu jari, dan seluruh makhluk di satu jari. Kemudian Dia berkata sembari (memberi isyarat) dengan tangan-Nya: Aku adalah raja.”

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa dan berkata, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS Az-Zumar: 67).

Sunan Abu Dawud hadis nomor 1833

٣٤ - بَابٌ فِي الۡمُحۡرِمَةِ تُغَطِّي وَجۡهَهَا
34. Bab tentang Wanita Muhrim Menutupi Wajahnya


١٨٣٣ - (ضعيف) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا هُشَيۡمٌ، نا يَزِيدُ بۡنُ أَبِي زِيَادٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتۡ: كَانَ الرُّكۡبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحۡنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ مُحۡرِمَاتٌ، فَإِذَا حَاذَوۡا بِنَا سَدَلَتۡ إِحۡدَانَا جِلۡبَابَهَا مِنۡ رَأۡسِهَا إِلَى وَجۡهِهَا، فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفۡنَاهُ.

1833. [Daif] Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami: Yazid bin Abu Ziyad menceritakan kepada kami dari Mujahir, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan: Dahulu para pengendara melewati kami dalam keadaan kami sedang ihram bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ketika mereka telah (menyusul) bersebelahan dengan kami, maka kami, para wanita, mengulurkan jilbabnya dari kepala ke wajahnya. Apabila mereka telah melewati kami, kami menyingkapkannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7448 dan 7449

٢٥ - بَابُ مَا جَاءَ فِي قَوۡلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ رَحۡمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الۡمُحۡسِنِينَ﴾ [الأعراف: ٥٦]
25. Bab Riwayat tentang Firman Allah Taala, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-A’raf: 56)


٧٤٤٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا عَاصِمٌ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ، عَنۡ أُسَامَةَ قَالَ: كَانَ ابۡنٌ لِبَعۡضِ بَنَاتِ النَّبِيِّ ﷺ يَقۡضِي، فَأَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ أَنۡ يَأۡتِيَهَا، فَأَرۡسَلَ: (إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعۡطَى، وَكُلٌّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ). فَأَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ، فَأَقۡسَمَتۡ عَلَيۡهِ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَقُمۡتُ مَعَهُ وَمُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ وَعُبَادَةُ بۡنُ الصَّامِتِ، فَلَمَّا دَخَلۡنَا، نَاوَلُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ الصَّبِيَّ، وَنَفۡسُهُ تَقَلۡقَلُ فِي صَدۡرِهِ، حَسِبۡتُهُ قَالَ: كَأَنَّهَا شَنَّةٌ، فَبَكَى رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ: أَتَبۡكِي؟ فَقَالَ: (إِنَّمَا يَرۡحَمُ اللهُ مِنۡ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ). [طرفه في: ١٢٨٤].

7448. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami: ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Abu ‘Utsman, dari Usamah. Beliau berkata:

Dahulu, seorang putra dari salah seorang putri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hampir meninggal. Lalu putri Nabi itu mengutus orang meminta beliau untuk datang. Namun Nabi menitipkan pesan, “Sesungguhnya hanya milik Allah segala apa yang Dia ambil dan hanya milik Allah segala apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya ada ajal yang telah ditentukan. Maka, hendaknya dia bersabar dan mengharap pahala.”

Putri Nabi kembali mengutus orang dan bersumpah meminta agar Nabi datang. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—beranjak. Aku, Mu’adz bin Jabal, Ubayy bin Ka’b, dan ‘Ubadah bin Ash-Shamit berdiri menyertai beliau. Ketika kami masuk, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil bayi itu yang nafasnya sudah tersengal. Aku mengira perawi berkata: Seperti kantong air yang kering. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menangis. Sa’d bin ‘Ubadah bertanya, “Apakah Anda menangis?”

Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya merahmati orang-orang yang penyayang dari hamba-hamba-Nya.”

٧٤٤٩ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحِ بۡنِ كَيۡسَانَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (اخۡتَصَمَتِ الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ إِلَى رَبِّهِمَا، فَقَالَتِ الۡجَنَّةُ: يَا رَبِّ مَا لَهَا لَا يَدۡخُلُهَا إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمۡ، وَقَالَتِ النَّارُ - يَعۡنِي - أُوثِرۡتُ بِالۡمُتَكَبِّرِينَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى لِلۡجَنَّةِ: أَنۡتِ رَحۡمَتِي، وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنۡتِ عَذَابِي أُصِيبُ بِكِ مَنۡ أَشَاءُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنۡكُمَا مِلۡؤُهَا، قَالَ: فَأَمَّا الۡجَنَّةُ فَإِنَّ اللهَ لَا يَظۡلِمُ مِنۡ خَلۡقِهِ أَحَدًا، وَإِنَّهُ يُنۡشِىءُ لِلنَّارِ مَنۡ يَشَاءُ، فَيُلۡقَوۡنَ فِيهَا، فَتَقُولُ: هَلۡ مِنۡ مَزِيدٍ؟ ثَلَاثًا، حَتَّى يَضَعَ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَمۡتَلِىءُ، وَيُرَدُّ بَعۡضُهَا إِلَى بَعۡضٍ، وَتَقُولُ: قَطۡ قَطۡ قَطۡ). [طرفه في: ٤٨٤٩].

7449. ‘Ubaidullah bin Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Ya’qub menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih bin Kaisan, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata:

Janah dan neraka bertengkar di hadapan Rab mereka. Janah berkata, “Wahai Rabku, mengapa tidak ada yang memasuki janah kecuali orang-orang yang lemah dan hina?”

Neraka berkata, “Aku dikhususkan untuk orang-orang yang takabur.”

Allah taala berkata kepada janah, “Engkau adalah rahmat-Ku.”

Allah berkata kepada neraka, “Engkau adalah azab-Ku yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki dan setiap dari kalian akan dipenuhi.”

Nabi berkata:

Adapun janah, maka sungguh Allah tidak menzalimi satupun dari makhluk-Nya dan sungguh Allah akan menciptakan siapa saja yang Dia kehendaki untuk neraka lalu mereka akan dilemparkan ke dalamnya. Lalu neraka akan berkata, “Apakah masih ada tambahan?” Sebanyak tiga kali hingga Allah akan meletakkan telapak kaki-Nya ke dalam neraka sehingga neraka itu penuh dan sebagiannya mendorong sebagian lainnya. Neraka akan berkata, “Cukup, cukup, cukup.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7444, 7445, dan 7446

٧٤٤٤ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ الصَّمَدِ، عَنۡ أَبِي عِمۡرَانَ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ قَيۡسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (جَنَّتَانِ مِنۡ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنۡ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيۡنَ الۡقَوۡمِ وَبَيۡنَ أَنۡ يَنۡظُرُوا إِلَى رَبِّهِمۡ إِلَّا رِدَاءُ الۡكِبۡرِ عَلَى وَجۡهِهِ فِي جَنَّةِ عَدۡنٍ). [طرفه في: ٤٨٧٨].

7444. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami dari Abu ‘Imran, dari Abu Bakr bin ‘Abdullah bin Qais, dari ayahnya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Ada dua kebun dari perak, bejana-bejananya dan isi kedua kebun tersebut. Ada pula dua kebun dari emas, bejana-bejananya dan isi kedua kebun tersebut. Tidak ada yang menghalangi kaum itu memandang Rab mereka kecuali rida keangkuhan pada wajah-Nya di janah ‘Adn.”

٧٤٤٥ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكُ بۡنُ أَعۡيَنَ، وَجَامِعُ بۡنُ أَبِي رَاشِدٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنِ اقۡتَطَعَ مَالَ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ بِيَمِينٍ كَاذِبَةٍ، لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيۡهِ غَضۡبَانُ). قَالَ عَبۡدُ اللهِ: ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِصۡدَاقَهُ مِنۡ كِتَابِ اللهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ اللهِ وَأَيۡمَانِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمۡ فِي الۡآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ﴾ [آل عمران: ٧٧] الۡآيَةَ. [طرفه في: ٢٣٥٦].

7445. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Abdul Malik bin A’yan dan Jami’ bin Abu Rasyid menceritakan kepada kami dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa mengambil sebagian harta seorang muslim dengan sumpah dusta, niscaya dia akan bertemu Allah dalam keadaan dimurkai.”

‘Abdullah berkata: Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membaca ayat yang mendukungnya dari kitab Allah—jalla dzikruh—, “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memiliki bagian di akhirat dan mereka tidak diajak bicara oleh Allah...” (QS Ali Imran: 77).

٧٤٤٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ: رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى سِلۡعَةٍ لَقَدۡ أَعۡطَى بِهَا أَكۡثَرَ مِمَّا أَعۡطَى وَهُوَ كَاذِبٌ، وَرَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ لِيَقۡتَطِعَ بِهَا مَالَ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ، وَرَجُلٌ مَنَعَ فَضۡلَ مَاءٍ، فَيَقُولُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ: الۡيَوۡمَ أَمۡنَعُكَ فَضۡلِي كَمَا مَنَعۡتَ فَضۡلَ مَا لَمۡ تَعۡمَلۡ يَدَاكَ). [طرفه في: ٢٣٥٨].

7446. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Tiga golongan yang tidak diajak bicara dan tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat: (1) seseorang yang bersumpah palsu bahwa dia telah membeli barang dagangannya dengan harga yang lebih tinggi daripada harga sebenarnya, (2) seseorang yang bersumpah palsu setelah asar dalam rangka merampas sebagian harta seorang muslim, dan (3) seseorang yang menghalangi orang lain dari kelebihan air, nanti Allah berkata pada hari kiamat, ‘Pada hari ini, Aku akan menghalangimu dari limpahan karunia-Ku sebagaimana engkau dahulu menghalangi orang lain dari kelebihan sesuatu yang bukan hasil usahamu.’”

Al-Isti'ab - 260. Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Khazraji

٢٦٠ - [ثابت بن الضحاك الخزرجي]:


ثابت بن الضحاك بن أمية بن ثعلبة بن جشم بن مالك بن سالم بن عمرو بن عوف بن الخزرج الۡأنصاري الخزرجي، هو أخو أبى جبيرة ابن الضحاك.

Tsabit bin Adh-Dhahhak bin Umayyah bin Tsa’labah bin Jusyam bin Malik bin ‘Amr bin ‘Auf bin Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji. Ia adalah saudara Abu Jubairah bin Adh-Dhahhak.

كان ثابت بن الضحاك رديف رسول الله ﷺ يوم الخندق ودليله إلى حمراء الأسد، وكان ممن بايع تحت الشجرة بيعة الرضوان، وهو صغير.

Tsabit bin Adh-Dhahhak adalah sahabat yang membonceng Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari Perang Khandaq dan pemandu beliau ke Hamra` Al-Asad. Ia termasuk di antara orang-orang yang berbaiat di bawah pohon saat baiat Ar-Ridhwan ketika masih kecil.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7441

٧٤٤١ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنِي عَمِّي: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَرۡسَلَ إِلَى الۡأَنۡصَارِ فَجَمَعَهُمۡ فِي قُبَّةٍ وَقَالَ لَهُمۡ: (اصۡبِرُوا حَتَّى تَلۡقَوُا اللهَ وَرَسُولَهُ، فَإِنِّي عَلَى الۡحَوۡضِ). [طرفه في: ٣١٤٦].

7441. ‘Ubaidullah bin Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Pamanku menceritakan kepadaku: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Anas bin Malik menceritakan kepadaku: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengirim utusan kepada orang-orang Ansar untuk mengumpulkan mereka dalam suatu tenda, lalu beliau berkata kepada mereka, “Bersabarlah sampai kalian bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya, karena aku nanti berada di haud.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7433

٧٤٣٣ - حَدَّثَنَا عَيَّاشُ بۡنُ الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ التَّيۡمِيِّ عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: سَأَلۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَنۡ قَوۡلِهِ: ﴿وَالشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرٍّ لَهَا﴾ [يس: ٣٨] قَالَ: (مُسۡتَقَرُّهَا تَحۡتَ الۡعَرۡشِ). [طرفه في: ٣١٩٩].

7433. ‘Ayyasy bin Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzarr. Beliau berkata: Aku menanyakan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang firman Allah, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya” (QS Yasin: 38), Nabi menjawab, “Mustaqarr (tempat menetap) matahari adalah di bawah arasy.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7426, 7427, dan 7428

٧٤٢٦ - حَدَّثَنَا مُعَلَّى بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ عِنۡدَ الۡكَرۡبِ: (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الۡعَلِيمُ الۡحَلِيمُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الۡأَرۡضِ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡكَرِيمِ).

7426. Mu’alla bin Asad telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Abu Al-‘Aliyah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika sedang susah, beliau berdoa, “Lā ilāha illallāhul-‘alīmul-ḥalīm. Lā ilāha illallāhu rabbul-‘arsyil-‘aẓīm. Lā ilāha illallāhu rabbus-samawāti wa rabbul-arḍi rabbul-‘arsyil-karīm. (Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Rab arasy yang agung. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Rab langit-langit, Rab bumi, dan Rab arasy yang mulia).”

٧٤٢٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (النَّاسُ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنۡ قَوَائِمِ الۡعَرۡشِ). [طرفه في: ٢٤١٢].

7427. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Orang-orang pingsan pada hari kiamat. Lalu ternyata aku dan Musa berpegangan kepada salah satu pilar arasy.”

٧٤٢٨ - وَقَالَ الۡمَاجِشُونُ: عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡفَضۡلِ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ بُعِثَ، فَإِذَا مُوسَى آخِذٌ بِالۡعَرۡشِ). [طرفه في: ٢٤١١].

7428. Al-Majisyun berkata: Dari ‘Abdullah bin Al-Fadhl, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Aku adalah orang pertama yang dibangkitkan. Ternyata Musa sedang berpegangan arasy.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7424

٧٤٢٤ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ - هُوَ التَّيۡمِيُّ - عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمۡسُ قَالَ: (يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلۡ تَدۡرِي أَيۡنَ تَذۡهَبُ هٰذِهِ؟). قَالَ: قُلۡتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ، قَالَ: (فَإِنَّهَا تَذۡهَبُ تَسۡتَأۡذِنُ فِي السُّجُودِ فَيُؤۡذَنُ لَهَا، وَكَأَنَّهَا قَدۡ قِيلَ لَهَا: ارۡجِعِي مِنۡ حَيۡثُ جِئۡتِ، فَتَطۡلُعُ مِنۡ مَغۡرِبِهَا) ثُمَّ قَرَأَ: (ذٰلِكَ مُسۡتَقَرٌّ لَهَا) فِي قِرَاءَةِ عَبۡدِ اللهِ. [طرفه في: ٣١٩٩].

7424. Yahya bin Ja’far telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzarr. Beliau berkata:

Aku masuk masjid ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang duduk. Ketika matahari telah terbenam, beliau bertanya, “Wahai Abu Dzarr, apakah engkau tahu ke mana matahari ini pergi?”

Abu Dzarr berkata: Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah bersabda, “Dia pergi meminta izin untuk sujud lalu diizinkan. Seakan-akan hampir ada yang berkata kepadanya: Kembalilah dari tempat datangmu! Lalu dia pun terbit dari tempat tenggelamnya.” Kemudian beliau membaca, “Itu adalah tempat menetapnya” dalam qiraah ‘Abdullah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7420 dan 7421

٧٤٢٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: جَاءَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ يَشۡكُو، فَجَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: (اتَّقِ اللهَ، وَأَمۡسِكۡ عَلَيۡكَ زَوۡجَكَ). قَالَتۡ عَائِشَةُ: لَوۡ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ كَاتِمًا شَيۡئًا لَكَتَمَ هٰذِهِ، قَالَ: فَكَانَتۡ زَيۡنَبُ تَفۡخَرُ عَلَى أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللهُ تَعَالَى مِنۡ فَوۡقِ سَبۡعِ سَمَوَاتٍ. وَعَنۡ ثَابِتٍ: ﴿وَتُخۡفِي فِي نَفۡسِكَ مَا اللهُ مُبۡدِيهِ وَتَخۡشَى النَّاسَ﴾ [الأحزاب: ٣٧] نَزَلَتۡ فِي شَأۡنِ زَيۡنَبَ وَزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ. [طرفه في: ٤٧٨٧].

7420. Ahmad telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas. Beliau berkata:

Zaid bin Haritsah datang mengadu, lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Bertakwalah kepada Allah! Tahanlah istrimu tetap bersamamu!”

‘Aisyah berkata: Kalau Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyembunyikan sesuatu, niscaya beliau akan menyembunyikan hal ini.

Anas berkata: Zainab berbangga di hadapan istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang lain dengan berkata, “Keluarga kalian telah menikahkan kalian, sementara yang menikahkan aku adalah Allah taala dari atas tujuh langit.”

Dan dari Tsabit: “Engkau menyembunyikan pada hatimu perkara yang hendak Allah tampakkan dan engkau takut kepada manusia” (QS Al-Ahzab: 37) turun dalam perkara Zainab dan Zaid bin Haritsah.

٧٤٢١ - حَدَّثَنَا خَلَّادُ بۡنُ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا عِيسَى بۡنُ طَهۡمَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: نَزَلَتۡ آيَةُ الۡحِجَابِ فِي زَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ، وَأَطۡعَمَ عَلَيۡهَا يَوۡمَئِذٍ خُبۡزًا وَلَحۡمًا، وَكَانَتۡ تَفۡخَرُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ ﷺ، وَكَانَتۡ تَقُولُ: إِنَّ اللهَ أَنۡكَحَنِي فِي السَّمَاءِ. [طرفه في: ٤٧٩١].

7421. Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Thahman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Ayat hijab turun pada kejadian Zainab binti Jahsy. Di hari (pernikahannya) itu, Nabi memberi hidangan walimahnya dengan roti dan daging. Zainab berbangga di hadapan istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menikahkanku di langit.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2093

٣١ - بَابُ ذِكۡرِ النَّسَّاجِ
31. Bab Penyebutan Penenun


٢٠٩٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: سَمِعۡتُ سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَتِ امۡرَأَةٌ بِبُرۡدَةٍ – قَالَ: أَتَدۡرُونَ مَا الۡبُرۡدَةُ؟ فَقِيلَ لَهُ: نَعَمۡ، هِيَ الشَّمۡلَةُ، مَنۡسُوجٌ فِي حَاشِيَتِهَا – قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي نَسَجۡتُ هٰذِهِ بِيَدِي أَكۡسُوكَهَا، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ ﷺ مُحۡتَاجًا إِلَيۡهَا، فَخَرَجَ إِلَيۡنَا وَإِنَّهَا إِزَارُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: يَا رَسُولَ اللهِ، اكۡسُنِيهَا. فَقَالَ: (نَعَمۡ). فَجَلَسَ النَّبِيُّ ﷺ فِي الۡمَجۡلِسِ، ثُمَّ رَجَعَ فَطَوَاهَا، ثُمَّ أَرۡسَلَ بِهَا إِلَيۡهِ، فَقَالَ لَهُ الۡقَوۡمُ: مَا أَحۡسَنۡتَ، سَأَلۡتَهَا إِيَّاهُ، لَقَدۡ عَلِمۡتَ أَنَّهُ لَا يَرُدُّ سَائِلًا. فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللهِ مَا سَأَلۡتُهُ إِلَّا لِتَكُونَ كَفَنِي يَوۡمَ أَمُوتُ. قَالَ سَهۡلٌ: فَكَانَتۡ كَفَنَهُ. [طرفه في: ١٢٧٧].

2093. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Abu Hazim. Beliau berkata: Aku mendengar Sahl bin Sa’d—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Seorang wanita membawa selembar burdah.

Sahl bertanya: Apakah kalian tahu burdah?

Ada yang menjawab kepadanya: Iya, burdah adalah mantel yang tepiannya ditenun.

Wanita itu berkata, “Aku menenunnya dengan tanganku lalu aku berikan kepadamu agar Anda memakainya.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambilnya karena memang membutuhkannya. Lalu beliau keluar menuju kami dengan menyarungkan burdah itu. Salah seorang pria di antara orang-orang berkata, “Berikanlah burdah itu untuk kupakai!”

Nabi berkata, "Iya."

Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—duduk di suatu majelis, kemudian pulang dan melipat burdah itu. Kemudian beliau mengirimnya kepada pria tadi. Orang-orang berkata, “Tidak baik begitu. Engkau meminta burdah kepada beliau, padahal engkau tahu kalau beliau tidak menolak permintaan.”

Pria itu berkata, “Demi Allah, aku tidak memintanya kecuali untuk kupakai sebagai kafan di hari kematianku.”

Sahl berkata: Lalu burdah itu benar-benar menjadi kafannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7418

٢٢ - بَابُ ﴿وَكَانَ عَرۡشُهُ عَلَى الۡمَاءِ﴾ [هود: ٧]
22. Bab “Dan arasy-Nya di atas air” (QS Hud: 7)


﴿وَهُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ﴾ [التوبة: ١٢٩].

“Dan Dia adalah Rab arasy yang agung.” (QS At-Taubah: 129).

قَالَ أَبُو الۡعَالِيَةِ: ﴿اسۡتَوَى إِلَى السَّمَاءِ﴾ ارۡتَفَعَ. ﴿فَسَوَّاهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٩] خَلَقَهُنَّ.

Abu Al-‘Aliyah berkata, “istawā ilas-samā’” artinya naik (ke langit). “Fasawwāhunna” (QS Al-Baqarah: 29) artinya Dia menciptakan mereka.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿اسۡتَوَى﴾ عَلَا ﴿عَلَى الۡعَرۡشِ﴾ [الأعراف: ٥٤]،

Mujahid berkata, “Istawā, artinya tinggi, di atas arasy.” (QS Al-A’raf: 54).

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿الۡمَجِيدُ﴾ [البروج: ١٥]: الۡكَرِيمُ، ﴿وَالۡوَدُودُ﴾ [البروج: ١٤] الۡحَبِيبُ، يُقَالُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، كَأَنَّهُ فَعِيلٌ مِنۡ مَاجِدٍ، مَحۡمُودٌ مِنۡ حَمِيدٍ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al-Majīd (QS Al-Buruj: 15) artinya Al-Karīm (Maha Mulia). Al-Wadūd (QS Al-Buruj: 14) artinya Al-Ḥabīb (Maha Pengasih). Dikatakan, “ḥamīdun majīd,” seakan-akan kata majīd diambil dari wazan fa‘īl kata mājid, maḥmūd dari ḥamīd.

٧٤١٨ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ، عَنۡ أَبِي حَمۡزَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ جَامِعِ بۡنِ شَدَّادٍ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ قَالَ: إِنِّي عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ إِذۡ جَاءَهُ قَوۡمٌ مِنۡ بَنِي تَمِيمٍ، فَقَالَ: (اقۡبَلُوا الۡبُشۡرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ). قَالُوا: بَشَّرۡتَنَا فَأَعۡطِنَا، فَدَخَلَ نَاسٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡيَمَنِ، فَقَالَ: (اقۡبَلُوا الۡبُشۡرَى يَا أَهۡلَ الۡيَمَنِ، إِذۡ لَمۡ يَقۡبَلۡهَا بَنُو تَمِيمٍ). قَالُوا: قَبِلۡنَا، جِئۡنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ، وَلِنَسۡأَلَكَ عَنۡ أَوَّلِ هٰذَا الۡأَمۡرِ مَا كَانَ، قَالَ: (كَانَ اللهُ وَلَمۡ يَكُنۡ شَيۡءٌ قَبۡلَهُ، وَكَانَ عَرۡشُهُ عَلَى الۡمَاءِ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ، وَكَتَبَ فِي الذِّكۡرِ كُلَّ شَيۡءٍ). ثُمَّ أَتَانِي رَجُلٌ فَقَالَ: يَا عِمۡرَانُ أَدۡرِكۡ نَاقَتَكَ فَقَدۡ ذَهَبَتۡ، فَانۡطَلَقۡتُ أَطۡلُبُهَا، فَإِذَا السَّرَابُ يَنۡقَطِعُ دُونَهَا، وَايۡمُ اللهِ لَوَدِدۡتُ أَنَّهَا قَدۡ ذَهَبَتۡ وَلَمۡ أَقُمۡ. [طرفه في: ٣١٩٠].

7418. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami dari Abu Hamzah, dari Al-A’masy, dari Jami’ bin Syaddad, dari Shafwan bin Muhriz, dari ‘Imran bin Hushain. Beliau berkata:

Sesungguhnya aku berada di dekat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika suatu kaum dari bani Tamim mendatanginya. Nabi berkata, “Terimalah kabar gembira, wahai bani Tamim!”

Mereka berkata, “Engkau sudah memberi kabar gembira kepada kami, sekarang berilah kami (harta).”

Lalu orang-orang dari penduduk Yaman masuk. Nabi berkata, “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena bani Tamim tidak mau menerimanya.”

Orang-orang itu berkata, “Kami terima. Kami datang kepadamu supaya bisa mendalami ilmu agama dan bertanya kepadamu tentang awal penciptaan alam semesta.”

Nabi berkata, “Tidak ada sesuatu pun sebelum Allah dan arasy Allah di atas air, kemudian Allah menciptakan langit dan bumi, dan Allah menulis takdir segala sesuatu di lauh mahfuz.”

Kemudian seorang pria mendatangiku lalu berkata, “Wahai ‘Imran, susullah untamu karena dia telah pergi.”

Aku pergi mencarinya, ternyata jaraknya sudah melebihi fatamorgana. Demi Allah, aku benar-benar sangat ingin bahwa unta telah pergi dan aku tidak bangkit (dari majelis bersama Nabi).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4082

٤٠٨٢ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ شَقِيقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: هَاجَرۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَنَحۡنُ نَبۡتَغِي وَجۡهَ اللهِ، فَوَجَبَ أَجۡرُنَا عَلَى اللهِ، فَمِنَّا مَنۡ مَضَى، أَوۡ ذَهَبَ، لَمۡ يَأۡكُلۡ مِنۡ أَجۡرِهِ شَيۡئًا، كَانَ مِنۡهُمۡ مُصۡعَبُ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَلَمۡ يَتۡرُكۡ إِلَّا نَمِرَةً، كُنَّا إِذَا غَطَّيۡنَا بِهَا رَأۡسَهُ خَرَجَتۡ رِجۡلَاهُ، وَإِذَا غُطِّيَ بِهَا رِجۡلَاهُ خَرَجَ رَأۡسُهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ ﷺ: (غَطُّوا بِهَا رَأۡسَهُ، وَاجۡعَلُوا عَلَى رِجۡلَيۡهِ الۡإِذۡخِرَ). أَوۡ قَالَ: (أَلۡقُوا عَلَى رِجۡلَيۡهِ مِنَ الۡإِذۡخِرِ). وَمِنَّا مَنۡ أَيۡنَعَتۡ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهۡوَ يَهۡدِبُهَا. [طرفه في: ١٢٧٦].

4082. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Zuhair menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Syaqiq, dari Khabbab—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Kami telah berhijrah bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan menginginkan wajah Allah, lalu ganjaran kami telah ditetapkan di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah meninggal terlebih dulu sehingga dia tidak menikmati ganjarannya sedikit pun. Yang termasuk mereka adalah Mush’ab bin ‘Umair yang terbunuh pada hari Uhud dan hanya meninggalkan selembar namirah (kain bergaris berwarna putih hitam). Apabila kami tutupkan ke kepalanya, kedua kakinya tersembul. Apabila kami tutupkan ke kedua kakinya, kepalanya tersembul. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada kami, “Tutupkan ke kepalanya dan letakkan idzkhir (tanaman semacam serai) di atas kedua kakinya!” Atau beliau berkata, “Taburkan idzkhir ke atas kakinya!”

Di antara kami ada yang (masih hidup dan) mendapati buah-buahan matang lalu memetiknya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4047

٤٠٤٧ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ شَقِيقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: هَاجَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ نَبۡتَغِي وَجۡهَ اللهِ، فَوَجَبَ أَجۡرُنَا عَلَى اللهِ، وَمِنَّا مَنۡ مَضَى، أَوۡ ذَهَبَ، لَمۡ يَأۡكُلۡ مِنۡ أَجۡرِهِ شَيۡئًا، كَانَ مِنۡهُمۡ مُصۡعَبُ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ، لَمۡ يَتۡرُكۡ إِلَّا نَمِرَةً، كُنَّا إِذَا غَطَّيۡنَا بِهَا رَأۡسَهُ خَرَجَتۡ رِجۡلَاهُ، وَإِذَا غُطِّيَ بِهَا رِجۡلَاهُ خَرَجَ رَأۡسُهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ ﷺ: (غَطُّوا بِهَا رَأۡسَهُ، وَاجۡعَلُوا عَلَى رِجۡلِهِ الۡإِذۡخِرَ) أَوۡ قَالَ: (أَلۡقُوا عَلَى رِجۡلِهِ مِنَ الۡإِذۡخِرِ). وَمِنَّا مَنۡ قَدۡ أَيۡنَعَتۡ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهۡدُبُهَا. [طرفه في: ١٢٧٦].

4047. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Zuhair menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Syaqiq, dari Khabbab—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Kami telah berhijrah bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menginginkan wajah Allah, lalu ganjaran kami telah ditetapkan di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah meninggal terlebih dulu sehingga dia tidak menikmati ganjarannya sedikit pun. Yang termasuk mereka adalah Mush’ab bin ‘Umair yang terbunuh pada hari Uhud dan hanya meninggalkan selembar namirah (kain bergaris berwarna putih hitam) yang apabila kami tutupkan ke kepalanya, kedua kakinya tersembul. Apabila kami tutupkan ke kedua kakinya, kepalanya tersembul. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada kami, “Tutupkan ke kepalanya dan letakkan idzkhir (tanaman semacam serai) di atas kedua kakinya!” Atau beliau berkata, “Taburkan idzkhir ke atas kakinya!”

Di antara kami ada yang (masih hidup dan) mendapati buah-buahan matang lalu memetiknya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3913 dan 3914

٣٩١٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ خَبَّابٍ قَالَ: هَاجَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. [طرفه في: ١٢٧٦].

3913. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari Khabbab. Beliau berkata: Kami telah berhijrah bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٣٩١٤ - وَحَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: سَمِعۡتُ شَقِيقَ بۡنَ سَلَمَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا خَبَّابٌ قَالَ: هَاجَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ نَبۡتَغِي وَجۡهَ اللهِ، وَوَجَبَ أَجۡرُنَا عَلَى اللهِ، فَمِنَّا مَنۡ مَضَى لَمۡ يَأۡكُلۡ مِنۡ أَجۡرِهِ شَيۡئًا، مِنۡهُمۡ مُصۡعَبُ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَلَمۡ نَجِدۡ شَيۡئًا نُكَفِّنُهُ فِيهِ إِلَّا نَمِرَةً، كُنَّا إِذَا غَطَّيۡنَا بِهَا رَأۡسَهُ خَرَجَتۡ رِجۡلَاهُ، فَإِذَا غَطَّيۡنَا رِجۡلَيۡهِ خَرَجَ رَأۡسُهُ، فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نُغۡطِيَ رَأۡسَهُ بِهَا، وَنَجۡعَلَ عَلَى رِجۡلَيۡهِ مِنۡ إِذۡخِرٍ، وَمِنَّا مَنۡ أَيۡنَعَتۡ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهۡدِبُهَا. [طرفه في: ١٢٧٦].

3914. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. Beliau berkata: Aku mendengar Syaqiq bin Salamah berkata: Khabbab menceritakan kepada kami. Beliau berkata:

Kami telah berhijrah bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menginginkan wajah Allah, lalu ganjaran kami telah ditetapkan di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah meninggal terlebih dulu sehingga dia belum menikmati ganjarannya sedikit saja. Yang termasuk mereka adalah Mush’ab bin ‘Umair yang terbunuh pada hari Uhud. Kami tidak menemukan sesuatu untuk mengafaninya kecuali selembar namirah (kain bergaris berwarna putih hitam) yang apabila kami tutupkan ke kepalanya, kedua kakinya terlihat. Apabila kami tutupkan ke kedua kakinya, kepalanya terlihat. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan kami agar menutupkannya ke kepala dan meletakkan idzkhir (tanaman semacam serai) di atas kedua kakinya. Di antara kami ada yang (masih hidup dan) mendapati buah-buahan matang lalu memetiknya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3897

٤٥ - بَابُ هِجۡرَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَأَصۡحَابِهِ إِلَى الۡمَدِينَةِ
45. Bab Hijrah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Para Sahabatnya ke Madinah


وَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ، وَأَبُو هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَوۡلَا الۡهِجۡرَةُ لَكُنۡتُ امۡرَأً مِنَ الۡأَنۡصَارِ).

‘Abdullah bin Zaid dan Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Kalau bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang Ansar.”

وَقَالَ أَبُو مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (رَأَيۡتُ فِي الۡمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنۡ مَكَّةَ إِلَى أَرۡضٍ بِهَا نَخۡلٌ، فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الۡيَمَامَةُ، أَوۡ هَجَرُ، فَإِذَا هِيَ الۡمَدِينَةُ يَثۡرِبُ).

Abu Musa berkata dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah wilayah yang ada pohon-pohon kurma. Pikiranku tertuju ke wilayah Yamamah atau Hajar. Ternyata wilayah itu adalah Madinah Yatsrib.”

٣٨٩٧ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا وَائِلٍ يَقُولُ: عُدۡنَا خَبَّابًا، فَقَالَ: هَاجَرۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ نُرِيدُ وَجۡهَ اللهِ، فَوَقَعَ أَجۡرُنَا عَلَى اللهِ، فَمِنَّا مَنۡ مَضَى لَمۡ يَأۡخُذۡ مِنۡ أَجۡرِهِ شَيۡئًا، مِنۡهُمۡ مُصۡعَبُ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ، وَتَرَكَ نَمِرَةً، فَكُنَّا إِذَا غَطَّيۡنَا بِهَا رَأۡسَهُ بَدَتۡ رِجۡلَاهُ، وَإِذَا غَطَّيۡنَا رِجۡلَيۡهِ بَدَا رَأۡسُهُ، فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نُغَطِّيَ رَأۡسَهُ، وَنَجۡعَلَ عَلَى رِجۡلَيۡهِ شَيۡئًا مِنۡ إِذۡخِرٍ، وَمِنَّا مَنۡ أَيۡنَعَتۡ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهۡدِبُهَا. [طرفه في: ١٢٧٦].

3897. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Wa`il berkata: Kami menjenguk Khabbab. Khabbab berkata:

Kami telah berhijrah bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menginginkan wajah Allah, lalu ganjaran kami telah ditetapkan di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah meninggal terlebih dulu sehingga dia tidak mengambil ganjarannya sedikit pun. Yang termasuk mereka adalah Mush’ab bin ‘Umair yang terbunuh pada hari Uhud dan hanya meninggalkan selembar namirah (kain bergaris berwarna putih hitam) yang apabila kami tutupkan ke kepalanya, kedua kakinya terlihat. Apabila kami tutupkan ke kedua kakinya, kepalanya terlihat. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan kami agar menutupkannya ke kepala dan meletakkan idzkhir (tanaman semacam serai) di atas kedua kakinya. Di antara kami ada yang (masih hidup dan) mendapati buah-buahan matang lalu memetiknya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4462

٤٤٦٢ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ ﷺ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ، فَقَالَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ: وَاكَرۡبَ أَبَاهُ، فَقَالَ لَهَا: (لَيۡسَ عَلَى أَبِيكِ كَرۡبٌ بَعۡدَ الۡيَوۡمِ). فَلَمَّا مَاتَ قَالَتۡ: يَا أَبَتَاهۡ، أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ، يَا أَبَتَاهۡ، مَنۡ جَنَّةُ الۡفِرۡدَوۡسِ مَأۡوَاهُ، يَا أَبَتَاهۡ، إِلَى جِبۡرِيلَ نَنۡعَاهۡ، فَلَمَّا دُفِنَ قَالَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ: يَا أَنَسُ، أَطَابَتۡ أَنۡفُسُكُمۡ أَنۡ تَحۡثُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ التُّرَابَ؟

4462. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas. Beliau mengatakan:

Ketika sakit Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tambah parah, beliau mulai pingsan. Fathimah—‘alaihas-salam—berkata, “Betapa menderitanya ayahanda.”

Nabi berkata kepadanya, “Tidak ada lagi penderitaan pada ayahmu setelah hari ini.”

Ketika Nabi telah meninggal, Fathimah berkata, “Duhai ayahanda, beliau telah menjawab Rab yang memanggilnya. Duhai ayahanda, orang yang janah Firdaus adalah tempat kembalinya. Duhai ayahanda, kepada Jibril kami mengumumkan kematiannya.”

Ketika Nabi dikuburkan, Fathimah—‘alaihas-salam—berkata, “Wahai Anas, apakah diri-diri kalian merasa senang mengurukkan tanah ke atas Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7417

٢١ - بَابٌ ﴿قُلۡ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَادَةً﴾ [الأنعام: ١٩]
21. Bab “Katakanlah: Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” (QS Al-An’am: 19)


وَسَمَّى اللهُ تَعَالَى نَفۡسَهُ شَيۡئًا، وَسَمَّى النَّبِيُّ ﷺ الۡقُرۡآنَ شَيۡئًا، وَهُوَ صِفَةٌ مِنۡ صِفَاتِ اللهِ.

وَقَالَ: ﴿كُلُّ شَيۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُ﴾ [القصص: ٨٨].

Allah taala menyebut dirinya dengan syai` (sesuatu). Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menamakan Al-Qur’an dengan syai` (sesuatu) dan Al-Qur’an adalah salah satu sifat Allah.

Allah berfirman, “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya.” (QS Al-Qasas: 88).

٧٤١٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِرَجُلٍ: (أَمَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ شَيۡءٌ؟) قَالَ: نَعَمۡ سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا، لِسُوَرٍ سَمَّاهَا. [طرفه في: ٢٣١٠].

7417. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepada seorang pria, “Apakah engkau punya hafalan Al-Qur’an?”

Pria itu menjawab, “Iya. Surah ini dan surah ini.” Dia menyebutkan nama beberapa surah.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 3738

٢٢ - بَابُ مَنَاقِبِ أَبِي مُحَمَّدٍ طَلۡحَةَ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ
22. Bab Keutamaan Abu Muhammad Thalhah bin ‘Ubaidullah—radhiyallahu ‘anhu


٣٧٣٨ - (حسن) حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بۡنُ بُكَيۡرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ، عَنۡ يَحۡيَى ابۡنِ عَبَّادِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنِ الزُّبَيۡرِ، قَالَ: كَانَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوۡمَ أُحُدٍ دِرۡعَانِ فَنَهَضَ إِلَى صَخۡرَةٍ فَلَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَأَقۡعَدَ تَحۡتَهُ طَلۡحَةَ فَصَعِدَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى اسۡتَوَى عَلَى الصَّخۡرَةِ، فَقَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (أَوۡجَبَ طَلۡحَةُ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. [مضى برقم (١٦٩٢)].

3738. [Hasan] Abu Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yunus bin Bukair menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Az-Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu ‘Abdullah bin Az-Zubair, dari Az-Zubair.

Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memakai dua zirah pada perang Uhud, lalu beliau mencoba menaiki sebuah batu besar namun tidak bisa. Lalu beliau mendudukkan Thalhah di bawahnya, kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendaki hingga berhasil naik di atas batu besar itu.

Az-Zubair berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Thalhah wajib (masuk janah).”

Ini hadis hasan sahih garib.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1692

١٧ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الدِّرۡعِ
17. Bab Riwayat tentang Zirah


١٦٩٢ - (حسن) حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بۡنُ بُكَيۡرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ عَبَّادِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ الۡعَوَّامِ، قَالَ: كَانَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ دِرۡعَانِ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَنَهَضَ إِلَى الصَّخۡرَةِ فَلَمۡ يَسۡتَطِعۡ، فَأَقۡعَدَ طَلۡحَةَ تَحۡتَهُ فَصَعِدَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَيۡهِ حَتَّى اسۡتَوَى عَلَى الصَّخۡرَةِ. فَقَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (أَوۡجَبَ طَلۡحَةُ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ أُمَيَّةَ، وَالسَّائِبِ بۡنِ يَزِيدَ. وَهٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعۡرِفُهُ إِلَّا مِنۡ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ. [(المشكاة)(٦١١٢)، (مختصر الشمائل)(٨٩)، (صحيح أبي داود)(٢٣٣٢)].

1692. [Hasan] Abu Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yunus bin Bukair menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Az-Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu ‘Abdullah bin Az-Zubair, dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam.

Beliau mengatakan: Ketika perang Uhud, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memakai dua zirah, lalu beliau mencoba naik ke atas batu besar namun tidak bisa. Lalu beliau mendudukkan Thalhah di bawahnya lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—naik ke atasnya hingga berhasil naik ke atas batu besar itu.

Az-Zubair berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Thalhah wajib (masuk janah).”

Di dalam bab ini ada riwayat dari Shafwan bin Umayyah dan As-Sa`ib bin Yazid. Ini adalah hadis hasan garib yang tidak kami ketahui kecuali dari hadis Muhammad bin Ishaq.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7416

٢٠ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا شَخۡصَ أَغۡيَرُ مِنَ اللهِ)
20. Bab Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah”


وَقَالَ عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ: لَا شَخۡصَ أَغۡيَرُ مِنَ اللهِ.

‘Ubaidullah bin ‘Amr berkata dari ‘Abdul Malik, “Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah.”

٧٤١٦ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ، عَنۡ وَرَّادٍ كَاتِبِ الۡمُغِيرَةِ، عَنِ الۡمُغِيرَةِ قَالَ: قَالَ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ: لَوۡ رَأَيۡتُ رَجُلًا مَعَ امۡرَأَتِي لَضَرَبۡتُهُ بِالسَّيۡفِ غَيۡرَ مُصۡفَحٍ، فَبَلَغَ ذٰلِكَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (تَعۡجَبُونَ مِنۡ غَيۡرَةِ سَعۡدٍ، وَاللهِ لَأَنَا أَغۡيَرُ مِنۡهُ، وَاللهُ أَغۡيَرُ مِنِّي، وَمِنۡ أَجۡلِ غَيۡرَةِ اللهِ حَرَّمَ الۡفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيۡهِ الۡعُذۡرُ مِنَ اللهِ، وَمِنۡ أَجۡلِ ذٰلِكَ بَعَثَ الۡمُبَشِّرِينَ وَالۡمُنۡذِرِينَ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيۡهِ الۡمِدۡحَةُ مِنَ اللهِ، وَمِنۡ أَجۡلِ ذٰلِكَ وَعَدَ اللهُ الۡجَنَّةَ) [طرفه في: ٦٨٤٦].

7416. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Malik menceritakan kepada kami dari Warrad juru tulis Al-Mughirah, dari Al-Mughirah. Beliau berkata:

Sa’d bin ‘Ubadah berkata, “Kalau aku melihat ada seorang pria bersama dengan istriku, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang bukan pada sisi tumpulnya.”

Perkataannya sampai kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau berkata, “Kalian takjub dengan kecemburuan Sa’d?! Demi Allah, aku lebih cemburu daripada dia dan Allah lebih cemburu daripada aku. Karena kecemburuan Allah itulah, Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji yang tampak maupun yang batin. Tidak ada satupun yang lebih menyukai hujah daripada Allah. Oleh karenanya, Allah mengutus para pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Tidak ada satupun yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Oleh karenanya, Allah memberi janji janah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7414 dan 7415

٧٤١٤ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: سَمِعَ يَحۡيَى بۡنَ سَعِيدٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ: حَدَّثَنِي مَنۡصُورٌ وَسُلَيۡمَانُ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَبِيدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، أَنَّ يَهُودِيًّا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ يُمۡسِكُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡأَرَضِينَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡجِبَالَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡخَلَائِقَ عَلَى إِصۡبَعٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الۡمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدۡرِهِ﴾‏ [الزمر: ٦٧]. قَالَ يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ: وَزَادَ فِيهِ فُضَيۡلُ بۡنُ عِيَاضٍ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَبِيدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ تَعَجُّبًا وَتَصۡدِيقًا لَهُ. [طرفه في: ٤٨١١].

7414. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Yahya bin Sa’id dari Sufyan: Manshur dan Sulaiman menceritakan kepadaku dari Ibrahim, dari ‘Abidah, dari ‘Abdullah:

Seorang Yahudi datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memegang langit-langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, gunung-gunung di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, dan makhluk-makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berkata, ‘Aku adalah raja.’”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat. Kemudian beliau membaca ayat, “Mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.” (QS Az-Zumar: 67).

Yahya bin Sa’id berkata: Fudhail bin ‘Iyadh menambahkan padanya dari Manshur, dari Ibrahim, dari ‘Abidah, dari ‘Abdullah: Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa karena takjub dan membenarkannya.

٧٤١٥ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصِ بۡنِ غِيَاثٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: سَمِعۡتُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: سَمِعۡتُ عَلۡقَمَةَ يَقُولُ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ فَقَالَ: يَا أَبَا الۡقَاسِمِ، إِنَّ اللهَ يُمۡسِكُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡأَرَضِينَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالشَّجَرَ وَالثَّرَى عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡخَلَائِقَ عَلَى إِصۡبَعٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الۡمَلِكُ أَنَا الۡمَلِكُ. فَرَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدۡرِهِ﴾. [طرفه في: ٤٨١١].

7415. ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: Aku mendengar Ibrahim berkata: Aku mendengar ‘Alqamah berkata: ‘Abdullah berkata:

Seorang pria dari ahli kitab mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Wahai Abu Al-Qasim, sesungguhnya Allah memegang langit-langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pepohonan dan tanah di atas satu jari, dan makhluk-makhluk di atas satu jari, kemudian berkata, ‘Aku adalah raja. Aku adalah raja.’”

Lalu aku melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat, kemudian membaca ayat, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7412 dan 7413

٧٤١٢ - حَدَّثَنَا مُقَدَّمُ بۡنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمِّي الۡقَاسِمُ بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (إِنَّ اللهَ يَقۡبِضُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ الۡأَرۡضَ، وَتَكُونُ السَّمَوَاتُ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الۡمَلِكُ). رَوَاهُ سَعِيدٌ عَنۡ مَالِكٍ.

وَقَالَ عُمَرُ بۡنُ حَمۡزَةَ: سَمِعۡتُ سَالِمًا: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِهٰذَا.

7412. Muqaddam bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Pamanku Al-Qasim bin Yahya menceritakan kepadaku dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah akan menggenggam bumi pada hari kiamat. Langit-langit akan berada di tangan kanan-Nya. Kemudian Allah berkata, ‘Aku adalah raja.’”

Sa’id meriwayatkannya dari Malik.

‘Umar bin Hamzah berkata: Aku mendengar Salim: Aku mendengar Ibnu ‘Umar dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyampaikan hadis ini.

٧٤١٣ - وَقَالَ أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَقۡبِضُ اللهُ الۡأَرۡضَ) [طرفه في: ٤٨١٢].

7413. Abu Al-Yaman berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: Abu Salamah mengabarkan kepadaku: Abu Hurairah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah menggenggam bumi.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4045

٤٠٤٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِيهِ إِبۡرَاهِيمَ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ أُتِيَ بِطَعَامٍ، وَكَانَ صَائِمًا، فَقَالَ: قُتِلَ مُصۡعَبُ بۡنُ عُمَيۡرٍ وَهُوَ خَيۡرٌ مِنِّي، كُفِّنَ فِي بُرۡدَةٍ: إِنۡ غُطِّيَ رَأۡسُهُ بَدَتۡ رِجۡلَاهُ، وَإِنۡ غُطِّيَ رِجۡلَاهُ بَدَا رَأۡسُهُ، وَأُرَاهُ قَالَ: وَقُتِلَ حَمۡزَةُ وَهُوَ خَيۡرٌ مِنِّي، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنۡيَا مَا بُسِطَ، أَوۡ قَالَ: أُعۡطِينَا مِنَ الدُّنۡيَا مَا أُعۡطِينَا، وَقَدۡ خَشِينَا أَنۡ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتۡ لَنَا، ثُمَّ جَعَلَ يَبۡكِي حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ. [طرفه في: ١٢٧٤].

4045. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin Ibrahim, dari ayahnya, yaitu Ibrahim:

Makanan dihidangkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan beliau ketika itu berpuasa lalu beliau mengatakan, “Mush’ab bin ‘Umair terbunuh dan beliau lebih baik dariku. Beliau dikafani dengan selembar burdah (kain yang bergaris). Apabila kepalanya ditutupi, kedua kakinya terlihat. Jika kedua kakinya ditutupi, kepalanya terlihat.”

Aku mengira beliau berkata, “Hamzah juga terbunuh dan beliau lebih baik dariku. Kemudian dunia dibentangkan untuk kami seperti sekarang.” Atau beliau berkata, “Kami diberi dunia seperti sekarang ini. Kami sungguh khawatir jikalau kebaikan-kebaikan kami disegerakan balasannya.”

Lantas beliau menangis sampai tidak menyentuh makanan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5795

٥٧٩٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرٍو: سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَتَى النَّبِيُّ ﷺ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أُبَيٍّ بَعۡدَ مَا أُدۡخِلَ قَبۡرَهُ، فَأَمَرَ بِهِ فَأُخۡرِجَ، وَوُضِعَ عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ، وَنَفَثَ عَلَيۡهِ مِنۡ رِيقِهِ، وَأَلۡبَسَهُ قَمِيصَهُ، وَاللهُ أَعۡلَمُ. [طرفه في: ١٢٧٠].

5795. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari ‘Amr. Beliau mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi ‘Abdullah bin Ubay setelah dikuburkan. Beliau memerintahkan agar jenazahnya dikeluarkan (dari liang kubur) dan diletakkan di atas kedua lutut beliau. Beliau meniupkan air liur kepadanya dan memakaikan gamis beliau kepadanya. Wallahualam.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5796

٥٧٩٦ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ: أَخۡبَرَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي نَافِعٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: لَمَّا تُوُفِّيَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أُبَيٍّ، جَاءَ ابۡنُهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَعۡطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنۡهُ فِيهِ وَصَلِّ عَلَيۡهِ، وَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُ. فَأَعۡطَاهُ قَمِيصَهُ، وَقَالَ: (إِذَا فَرَغۡتَ فَآذِنَّا). فَلَمَّا فَرَغَ آذَنَهُ، فَجَاءَ لِيُصَلِّيَ عَلَيۡهِ، فَجَذَبَهُ عُمَرُ فَقَالَ: أَلَيۡسَ قَدۡ نَهَاكَ اللهُ أَنۡ تُصَلِّيَ عَلَى الۡمُنَافِقِينَ؟ فَقَالَ: ﴿اسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِنۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةً فَلَنۡ يَغۡفِرَ اللهُ لَهُمۡ﴾‏ [التوبة: ٨٠]؛ فَنَزَلَتۡ ﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنۡهُمۡ مَاتَ أَبَدًا﴾ [التوبة: ٨٤]. فَتَرَكَ الصَّلَاةَ عَلَيۡهِمۡ. [طرفه في: ١٢٦٩].

5796. Shadaqah telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami dari ‘Ubaidullah. Beliau berkata: Nafi’ mengabarkan kepadaku dari ‘Abdullah. Beliau berkata:

Ketika ‘Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah gamismu kepadaku untuk aku kafankan kepada ayahku! Salatilah dia dan mintakan ampunan untuknya!”

Rasulullah memberikan gamisnya dan berkata, “Jika engkau sudah selesai mengurusnya, beri tahu kami.”

Ketika dia selesai, dia memberi tahu Rasulullah. Lalu Rasulullah datang untuk menyalati jenazah ‘Abdullah bin Ubay. ‘Umar menarik Rasulullah seraya berkata, “Bukankah Allah telah melarangmu menyalati orang-orang munafik?”

Allah berfirman, “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.” (QS At-Taubah: 80).

Lalu turunlah ayat “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka.” (QS At-Taubah: 84).

Setelah itu, Rasulullah tidak lagi menyalati jenazah orang-orang munafik.

Shahih Muslim hadis nomor 1594

٩٦ - (١٥٩٤) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ صَالِحٍ الۡوُحَاظِيُّ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ. (ح) وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ سَهۡلٍ التَّمِيمِيُّ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الدَّارِمِيُّ - وَاللَّفۡظُ لَهُمَا -. جَمِيعًا عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ حَسَّانَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ - وَهُوَ ابۡنُ سَلَّامٍ -: أَخۡبَرَنِي يَحۡيَىٰ - وَهُوَ ابۡنُ أَبِي كَثِيرٍ -. قَالَ: سَمِعۡتُ عُقۡبَةَ بۡنَ عَبۡدِ الۡغَافِرِ يَقُولُ: سَمِعۡتُ أَبَا سَعِيدٍ يَقُولُ: جَاءَ بِلَالٌ بِتَمۡرٍ بَرۡنِيٍّ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مِنۡ أَيۡنَ هٰذَا؟) فَقَالَ بِلَالٌ: تَمۡرٌ، كَانَ عِنۡدَنَا، رَدِيءٌ. فَبِعۡتُ مِنۡهُ صَاعَيۡنِ بِصَاعٍ. لِمَطۡعَمِ النَّبِيِّ ﷺ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ، عِنۡدَ ذٰلِكَ (أَوَّهۡ. عَيۡنُ الرِّبَا، لَا تَفۡعَلۡ، وَلَكِنۡ إِذَا أَرَدۡتَ أَنۡ تَشۡتَرِيَ التَّمۡرَ فَبِعۡهُ بِبَيۡعٍ آخَرَ. ثُمَّ اشۡتَرِ بِهِ).

لَمۡ يَذۡكُرِ ابۡنُ سَهۡلٍ فِي حَدِيثِهِ: عِنۡدَ ذٰلِكَ.

[البخاري: كتاب الوكالة، باب إذا باع الوكيل شيئًا فاسدًا فبيعه مردود، رقم: ٢٣١٢].

96. (1594). Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Shalih Al-Wuhazhi mengabarkan kepada kami: Mu’awiyah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Sahl At-Tamimi dan ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad-Darimi telah menceritakan kepadaku. Lafaz hadis ini milik mereka berdua. Semuanya dari Yahya bin Hassan: Mu’awiyah bin Sallam menceritakan kepada kami: Yahya bin Abu Katsir mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Uqbah bin ‘Abdul Ghafir berkata: Aku mendengar Abu Sa’id berkata:

Bilal datang membawa kurma Barni. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepadanya, “Dari mana ini?”

Bilal berkata, “Kami punya kurma yang jelek. Lalu aku membarter dua sha’ darinya dengan satu sha’ untuk makanan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendengar itu lantas berkata, “Aduh! Itu adalah hakikat dari riba. Jangan engkau lakukan! Tetapi apabila engkau ingin membeli kurma itu, juallah kurmamu dengan barang yang lain kemudian belilah kurma yang kauinginkan dengan hasil penjualan itu.”

Ibnu Sahl tidak menyebutkan lafaz “mendengar itu” dalam hadisnya.

٩٧ - (...) - وَحَدَّثَنَا سَلَمَةُ بۡنُ شَبِيبٍ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ أَعۡيَنَ: حَدَّثَنَا مَعۡقِلٌ، عَنۡ أَبِي قَزَعَةَ الۡبَاهِلِيِّ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ. قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَمۡرٍ. فَقَالَ: (مَا هٰذَا التَّمۡرُ مِنۡ تَمۡرِنَا) فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِعۡنَا تَمۡرَنَا صَاعَيۡنِ بِصَاعٍ مِنۡ هٰذَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هٰذَا الرِّبَا، فَرُدُّوهُ. ثُمَّ بِيعُوا تَمۡرَنَا وَاشۡتَرُوا لَنَا مِنۡ هٰذَا).

97. Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami: Al-Hasan bin A’yan menceritakan kepada kami: Ma’qil menceritakan kepada kami dari Abu Qaza’ah Al-Bahili, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id. Beliau berkata:

Ada yang membawa kurma kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bertanya, “Kurma ini bukan kurma tempat kita.”

Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah menjual dua sha’ kurma kami dengan satu sha’ kurma ini."

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Ini adalah riba. Kembalikanlah kemudian juallah kurma kita! Lalu belikanlah kurma ini untuk kami (dengan hasil penjualan tadi)!”