٧ - بَابٌ إِذَا وَهَبَ شَيۡئًا لِوَكِيلٍ أَوۡ شَفِيعِ قَوۡمٍ جَازَ
7. Bab Apabila Seseorang Memberikan Sesuatu Melalui Seorang Wakil atau
Perantara Suatu Kaum, Hal Itu Boleh
لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ لِوَفۡدِ هَوَازِنَ حِينَ سَأَلُوهُ الۡمَغَانِمَ،
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (نَصِيبِي لَكُمۡ).
Berdasarkan sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kepada utusan Hawazin
ketika mereka meminta beliau (agar) harta rampasan perang (dikembalikan kepada
mereka), lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagianku aku
serahkan kepada kalian.”
٢٣٠٧، ٢٣٠٨ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيۡثُ
قَالَ: حَدَّثَنِي عُقَيۡلٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: وَزَعَمَ عُرۡوَةُ
أَنَّ مَرۡوَانَ بۡنَ الۡحَكَمِ وَالۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ أَخۡبَرَاهُ:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَامَ حِينَ جَاءَهُ وَفۡدُ هَوَازِنَ مُسۡلِمِينَ،
فَسَأَلُوهُ أَنۡ يَرُدَّ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَالَهُمۡ وَسَبۡيَهُمۡ، فَقَالَ
لَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَحَبُّ الۡحَدِيثِ إِلَيَّ أَصۡدَقُهُ، فَاخۡتَارُوا
إِحۡدَى الطَّائِفَتَيۡنِ: إِمَّا السَّبۡيَ، وَإِمَّا الۡمَالَ، وَقَدۡ كُنۡتُ
اسۡتَأۡنَيۡتُ بِهِمۡ). وَقَدۡ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ انۡتَظَرَهُمۡ بِضۡعَ
عَشۡرَةَ لَيۡلَةً حِينَ قَفَلَ مِنَ الطَّائِفِ، فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُمۡ
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ غَيۡرُ رَادٍّ إِلَيۡهِمۡ إِلَّا إِحۡدَى
الطَّائِفَتَيۡنِ، قَالُوا: فَإِنَّا نَخۡتَارُ سَبۡيَنَا، فَقَامَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ فِي الۡمُسۡلِمِينَ، فَأَثۡنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ، ثُمَّ
قَالَ: (أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّ إِخۡوَانَكُمۡ هَؤُلَاءِ قَدۡ جَاءُونَا
تَائِبِينَ، وَإِنِّي قَدۡ رَأَيۡتُ أَنۡ أَرُدَّ إِلَيۡهِمۡ سَبۡيَهُمۡ،
فَمَنۡ أَحَبَّ مِنۡكُمۡ أَنۡ يُطَيِّبَ بِذٰلِكَ فَلۡيَفۡعَلۡ، وَمَنۡ أَحَبَّ
مِنۡكُمۡ أَنۡ يَكُونَ عَلَى حَظِّهِ حَتَّى نُعۡطِيَهُ إِيَّاهُ مِنۡ أَوَّلِ
مَا يُفِيءُ اللهُ عَلَيۡنَا فَلۡيَفۡعَلۡ). فَقَالَ النَّاسُ: قَدۡ طَيَّبۡنَا
ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّا لَا نَدۡرِي مَنۡ
أَذِنَ مِنۡكُمۡ فِي ذٰلِكَ مِمَّنۡ لَمۡ يَأۡذَنۡ، فَارۡجِعُوا حَتَّى
يَرۡفَعُوا إِلَيۡنَا عُرَفَاؤُكُمۡ أَمۡرَكُمۡ). فَرَجَعَ النَّاسُ،
فَكَلَّمَهُمۡ عُرَفَاؤُهُمۡ، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ
فَأَخۡبَرُوهُ: أَنَّهُمۡ قَدۡ طَيَّبُوا وَأَذِنُوا. [الحديث ٢٣٠٧ - أطرافه
في: ٢٥٣٩، ٢٥٨٤، ٢٦٠٧، ٣١٣١، ٤٣١٨، ٧١٧٦].
[الحديث ٢٣٠٨ - أطرافه في: ٢٥٤٠، ٢٥٨٣، ٢٦٠٨، ٣١٣٢، ٤٣١٩، ٧١٧٧].
2307, 2308. Sa’id bin ‘Ufair telah menceritakan kepada kami. Ia berkata:
Al-Laits menceritakan kepadaku. Ia berkata: ‘Uqail menceritakan kepadaku dari
Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Urwah mengklaim bahwasanya Marwan bin Al-Hakam dan
Al-Miswar bin Makhramah mengabarkan kepadanya:
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri ketika utusan Hawazin
mendatangi beliau dalam keadaan masuk Islam. Mereka meminta kepada beliau agar
mengembalikan harta-harta dan tawanan-tawanan mereka. Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—berkata kepada mereka, “Perkataan yang paling aku sukai
adalah yang paling jujur. Pilihlah salah satu dari dua kelompok: apakah
tawanan, ataukah harta. Aku telah menunda pembagiannya demi menunggu kalian.”
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memang telah menanti kedatangan
mereka selama belasan malam ketika beliau kembali dari Tha`if. Ketika makin
jelas bagi mereka bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak
akan mengembalikan kepada mereka kecuali salah satu dari dua kelompok
tersebut, mereka berkata, “Sesungguhnya kami memilih tawanan kami.”
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan kaum muslimin,
lalu memuji Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, kemudian beliau
bersabda, “Amabakdu. Sesungguhnya saudara-saudara kalian ini telah datang
kepada kita dalam keadaan bertobat, dan aku berpendapat untuk mengembalikan
tawanan-tawanan mereka kepada mereka. Jadi, barang siapa di antara kalian yang
dengan senang hati menyetujuinya, hendaklah ia melakukannya. Barang siapa di
antara kalian yang ingin tetap mempertahankan bagiannya sampai kami
memberikannya dari jatah pertama yang Allah kelak berikan kepada kita sebagai
fai, hendaklah ia melakukannya.”
Orang-orang pun berkata, “Kami telah merelakannya untuk Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—.”
Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya kami
tidak mengetahui siapa di antara kalian yang telah mengizinkan hal itu dan
siapa yang belum mengizinkan. Kembalilah kalian sampai para pemuka kelompok
kalian menyampaikan urusan kalian kepada kami.”
Orang-orang pun kembali, lalu para pemuka kelompok mereka berbicara dengan
mereka. Kemudian mereka kembali kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—lalu mengabarkan kepada beliau bahwasanya mereka telah merelakan dan
mengizinkannya.