١٢ - بَابُ مَا يُكۡرَهُ مِنَ الشُّرُوطِ فِي الۡمُزَارَعَةِ
12. Bab Syarat-Syarat yang Dibenci dalam Muzaraah
٢٣٣٢ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بۡنُ الۡفَضۡلِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ،
عَنۡ يَحۡيَى: سَمِعَ حَنۡظَلَةَ الزُّرَقِيَّ، عَنۡ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ
عَنۡهُ قَالَ: كُنَّا أَكۡثَرَ أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ حَقۡلًا، وَكَانَ أَحَدُنَا
يُكۡرِي أَرۡضَهُ، فَيَقُولُ: هٰذِهِ الۡقِطۡعَةُ لِي وَهٰذِهِ لَكَ،
فَرُبَّمَا أَخۡرَجَتۡ ذِهِ، وَلَمۡ تُخۡرِجۡ ذِهِ، فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ ﷺ.
[طرفه في:
٢٢٨٦].
2332. Shadaqah bin Al-Fadhl telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah
mengabarkan kepada kami dari Yahya: Ia mendengar Hanzhalah Az-Zuraqi, dari
Rafi’—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:
Kami dahulu adalah penduduk Madinah yang paling banyak memiliki tanah
pertanian. Salah seorang dari kami biasa menyewakan tanahnya lalu berkata,
“Petak ini untukku dan petak ini untukmu.”
Terkadang petak ini menghasilkan (panen) sedangkan petak ini tidak
menghasilkan. Oleh karena itu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang
mereka (dari praktik tersebut).