Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2468

٢٤٦٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي ثَوۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمۡ أَزَلۡ حَرِيصًا عَلَى أَنۡ أَسۡأَلَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ الۡمَرۡأَتَيۡنِ مِنۡ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ، اللَّتَيۡنِ قَالَ اللهُ لَهُمَا: ﴿إِنۡ تَتُوبَا إِلَى اللهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَا﴾ [التحريم: ٤]. فَحَجَجۡتُ مَعَهُ، فَعَدَلَ وَعَدَلۡتُ مَعَهُ بِالۡإِدَاوَةِ، فَتَبَرَّزَ، حَتَّى جَاءَ فَسَكَبۡتُ عَلَى يَدَيۡهِ مِنَ الۡإِدَاوَةِ فَتَوَضَّأَ، فَقُلۡتُ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، مَنِ الۡمَرۡأَتَانِ مِنۡ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ، اللَّتَانِ قَالَ لَهُمَا: ﴿إِنۡ تَتُوبَا إِلَى اللهِ﴾؟

2468. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Abu Tsaur mengabarkan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Aku senantiasa bersemangat untuk bertanya kepada ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—mengenai dua orang perempuan dari istri-istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang Allah firmankan kepada keduanya, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong.” (QS At-Tahrim: 4).

Aku pun berhaji bersamanya, lalu ia membelok dan aku pun ikut berbelok bersamanya dengan membawa wadah air. Ia pergi menunaikan hajatnya hingga kembali, lalu aku menuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangannya, dan ia pun berwudu. Aku bertanya, “Wahai Amirulmukminin, siapakah dua orang perempuan dari istri-istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang Allah firmankan kepada keduanya: ‘Jika kamu berdua bertobat kepada Allah’?”

فَقَالَ: وَاعَجَبِي لَكَ يَا ابۡنَ عَبَّاسٍ، عَائِشَةُ وَحَفۡصَةُ، ثُمَّ اسۡتَقۡبَلَ عُمَرُ الۡحَدِيثَ يَسُوقُهُ، فَقَالَ: إِنِّي كُنۡتُ وَجَارٌ لِي مِنَ الۡأَنۡصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بۡنِ زَيۡدٍ، وَهِيَ مِنۡ عَوَالِي الۡمَدِينَةِ، وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَيَنۡزِلُ يَوۡمًا وَأَنۡزِلُ يَوۡمًا، فَإِذَا نَزَلۡتُ جِئۡتُهُ مِنۡ خَبَرِ ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ مِنَ الۡأَمۡرِ وَغَيۡرِهِ، وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثۡلَهُ، وَكُنَّا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ نَغۡلِبُ النِّسَاءَ، فَلَمَّا قَدِمۡنَا عَلَى الۡأَنۡصَارِ إِذَا هُمۡ قَوۡمٌ تَغۡلِبُهُمۡ نِسَاؤُهُمۡ، فَطَفِقَ نِسَاؤُنَا يَأۡخُذۡنَ مِنۡ أَدَبِ نِسَاءِ الۡأَنۡصَارِ، فَصِحۡتُ عَلَى امۡرَأَتِي فَرَاجَعَتۡنِي، فَأَنۡكَرۡتُ أَنۡ تُرَاجِعَنِي، فَقَالَتۡ: وَلِمَ تُنۡكِرُ أَنۡ أُرَاجِعَكَ؟ فَوَاللهِ إِنَّ أَزۡوَاجَ النَّبِيِّ ﷺ لَيُرَاجِعۡنَهُ، وَإِنَّ إِحۡدَاهُنَّ لَتَهۡجُرُهُ الۡيَوۡمَ حَتَّى اللَّيۡلِ.

Ia berkata, “Sungguh mengherankan keadaanmu, wahai Ibnu ‘Abbas! Keduanya adalah ‘Aisyah dan Hafshah.”

Kemudian ‘Umar menceritakan kisahnya dari awal secara terperinci. Ia berkata:

Dahulu aku dan seorang tetanggaku dari kaum Ansar tinggal di perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, yaitu di daerah ‘Awali Madinah. Kami biasa bergiliran turun menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia turun pada suatu hari dan aku turun pada hari berikutnya. Jika aku yang turun, aku membawakan berita hari itu mengenai urusan (wahyu) dan peristiwa lainnya kepadanya, dan jika ia yang turun, ia pun melakukan hal yang sama. Kami dari kalangan kaum Quraisy dahulu biasa memegang kendali atas kaum wanita. Namun, ketika kami tiba di tengah kaum Ansar, ternyata mereka adalah kaum yang didominasi oleh wanita-wanita mereka. Mulailah istri-istri kami mempelajari kebiasaan wanita-wanita Ansar. Pada suatu hari aku membentak istriku, lalu ia membantahku. Aku pun merasa keberatan ia membantahku.

Istriku berkata, “Kenapa engkau mengingkari aku membantahmu? Demi Allah, sesungguhnya istri-istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—benar-benar membantah beliau, bahkan salah seorang di antara mereka benar-benar mendiamkannya dari pagi hingga malam hari!”

فَأَفۡزَعَنِي، فَقُلۡتُ: خَابَتۡ مَنۡ فَعَلَ مِنۡهُنَّ بِعَظِيمٍ، ثُمَّ جَمَعۡتُ عَلَيَّ ثِيَابِي فَدَخَلۡتُ عَلَى حَفۡصَةَ، فَقُلۡتُ: أَيۡ حَفۡصَةُ، أَتُغَاضِبُ إِحۡدَاكُنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ الۡيَوۡمَ حَتَّى اللَّيۡلِ؟ فَقَالَتۡ: نَعَمۡ، فَقُلۡتُ: خَابَتۡ وَخَسِرَتۡ، أَفَتَأۡمَنُ أَنۡ يَغۡضَبَ اللهُ لِغَضَبِ رَسُولِهِ ﷺ فَتَهۡلِكِينَ؟ لَا تَسۡتَكۡثِرِي عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَلَا تُرَاجِعِيهِ فِي شَيۡءٍ وَلَا تَهۡجُرِيهِ، وَاسۡأَلِينِي مَا بَدَا لَكِ، وَلَا يَغُرَّنَّكِ أَنۡ كَانَتۡ جَارَتُكِ هِيَ أَوۡضَأَ مِنۡكِ وَأَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ - يُرِيدُ عَائِشَةَ –

Hal itu membuatku terkejut, lalu aku berkata, “Celakalah siapa saja di antara mereka yang melakukan perbuatan besar itu!”

Kemudian aku merapikan pakaianku dan masuk menemui Hafshah, lalu aku berkata, “Wahai Hafshah, apakah salah seorang di antara kalian benar-benar membuat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—marah hingga malam hari?”

Ia menjawab, “Ya.”

Aku berkata, “Celaka dan merugilah ia! Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah disebabkan kemurkaan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sehingga kalian binasa?! Janganlah kalian meminta tambahan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, jangan membantahnya dalam urusan apa pun, dan jangan mendiamkannya. Mintalah kepadaku apa saja yang terlintas di benakmu, dan jangan sampai engkau teperdaya oleh kenyataan bahwa tetanggamu jauh lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Yang ‘Umar maksud adalah ‘Aisyah.

وَكُنَّا تَحَدَّثۡنَا أَنَّ غَسَّانَ تُنۡعِلُ النِّعَالَ لِغَزۡوِنَا، فَنَزَلَ صَاحِبِي يَوۡمَ نَوۡبَتِهِ، فَرَجَعَ عِشَاءً، فَضَرَبَ بَابِي ضَرۡبًا شَدِيدًا، وَقَالَ: أَنَائِمٌ هُوَ؟ فَفَزِعۡتُ، فَخَرَجۡتُ إِلَيۡهِ، وَقَالَ: حَدَثَ أَمۡرٌ عَظِيمٌ، قُلۡتُ: مَا هُوَ أَجَاءَتۡ غَسَّانُ؟ قَالَ: لَا، بَلۡ أَعۡظَمُ مِنۡهُ وَأَطۡوَلُ، طَلَّقَ رَسُولُ اللهِ ﷺ نِسَاءَهُ، قَالَ: قَدۡ خَابَتۡ حَفۡصَةُ وَخَسِرَتۡ، كُنۡتُ أَظُنُّ أَنَّ هٰذَا يُوشِكُ أَنۡ يَكُونَ، فَجَمَعۡتُ عَلَيَّ ثِيَابِي فَصَلَّيۡتُ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَدَخَلَ مَشۡرُبَةً لَهُ فَاعۡتَزَلَ فِيهَا، فَدَخَلۡتُ عَلَى حَفۡصَةَ، فَإِذَا هِيَ تَبۡكِي، قُلۡتُ: مَا يُبۡكِيكِ؟ أَوَلَمۡ أَكُنۡ حَذَّرۡتُكِ؟ أَطَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ قَالَتۡ: لَا أَدۡرِي، هُوَ ذَا فِي الۡمَشۡرُبَةِ،

Sebelum kejadian itu, kami memperbincangkan bahwa kaum Ghassan sedang menyiapkan sepatu untuk kuda-kuda mereka guna menghadapi perang melawan kami. Tetanggaku turun pada hari gilirannya, kemudian ia pulang pada waktu isya dan mengetuk pintu rumahku dengan keras, lalu bertanya, “Apakah ia sedang tidur?”

Aku terkejut dan keluar menemuinya. Ia berkata, “Telah terjadi peristiwa besar!”

Aku bertanya, “Ada apa? Apakah pasukan Ghassan datang?”

Ia menjawab, “Tidak, bahkan lebih besar dan lebih panjang daripada itu. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menceraikan istri-istrinya.”

Aku berkata, “Celakalah Hafshah dan merugilah ia! Aku memang sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.”

Kemudian aku merapikan pakaianku, lalu aku salat Subuh bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau masuk ke sebuah kamar loteng miliknya dan mengucilkan diri di dalamnya. Aku masuk menemui Hafshah, dan ternyata ia sedang menangis.

Aku bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Bukankah aku sudah memperingatkanmu? Apakah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menceraikan kalian semua?”

Ia menjawab, “Aku tidak tahu. Beliau sedang berada di kamar loteng itu.”

فَخَرَجۡتُ فَجِئۡتُ الۡمِنۡبَرَ، فَإِذَا حَوۡلَهُ رَهۡطٌ يَبۡكِي بَعۡضُهُمۡ، فَجَلَسۡتُ مَعَهُمۡ قَلِيلًا، ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَجِدُ، فَجِئۡتُ الۡمَشۡرُبَةَ الَّتِي هُوَ فِيهَا، فَقُلۡتُ لِغُلَامٍ لَهُ أَسۡوَدَ: اسۡتَأۡذِنۡ لِعُمَرَ، فَدَخَلَ فَكَلَّمَ النَّبِيَّ ﷺ، ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ: ذَكَرۡتُكَ لَهُ فَصَمَتَ، فَانۡصَرَفۡتُ حَتَّى جَلَسۡتُ مَعَ الرَّهۡطِ الَّذِينَ عِنۡدَ الۡمِنۡبَرِ، ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَجِدُ فَجِئۡتُ فَذَكَرَ مِثۡلَهُ، فَجَلَسۡتُ مَعَ الرَّهۡطِ الَّذِينَ عِنۡدَ الۡمِنۡبَرِ، ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَجِدُ فَجِئۡتُ الۡغُلَامَ، فَقُلۡتُ: اسۡتَأۡذِنۡ لِعُمَرَ، فَذَكَرَ مِثۡلَهُ، فَلَمَّا وَلَّيۡتُ مُنۡصَرِفًا فَإِذَا الۡغُلَامُ يَدۡعُونِي، قَالَ: أَذِنَ لَكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ،

Aku pun keluar dan mendatangi mimbar. Ternyata di sekelilingnya terdapat sekelompok orang yang sebagian mereka sedang menangis. Aku duduk bersama mereka sebentar, tetapi kesedihanku tidak tertahankan. Lalu aku mendatangi kamar loteng tempat beliau berada, dan berkata kepada pelayannya yang berkulit hitam, “Mintakanlah izin untuk ‘Umar.”

Pelayan itu masuk, lalu berbicara kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, kemudian keluar dan berkata, “Aku telah menyebutkan namamu kepada beliau, tetapi beliau diam.”

Aku pun beranjak pergi hingga duduk kembali bersama kelompok orang di dekat mimbar. Namun, perasaanku tidak karuan, lalu aku mendatangi kamar itu lagi dan meminta hal yang sama, tetapi beliau tetap diam. Aku kembali duduk bersama kelompok di dekat mimbar, lalu karena tidak tahan lagi, aku mendatangi pelayan itu dan berkata, “Mintakanlah izin untuk ‘Umar.” Ia pun memberikan jawaban yang sama.

Ketika aku berbalik pergi, tiba-tiba pelayan tersebut memanggilku dan berkata, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengizinkanmu.”

فَدَخَلۡتُ عَلَيۡهِ، فَإِذَا هُوَ مُضۡطَجِعٌ عَلَى رِمَالِ حَصِيرٍ، لَيۡسَ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهُ فِرَاشٌ، قَدۡ أَثَّرَ الرِّمَالُ بِجَنۡبِهِ ﷺ، مُتَّكِىءٌ عَلَى وِسَادَةٍ مِنۡ أَدَمٍ، حَشۡوُهَا لِيفٌ، فَسَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ، ثُمَّ قُلۡتُ وَأَنَا قَائِمٌ: طَلَّقۡتَ نِسَاءَكَ؟ فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَيَّ، فَقَالَ: (لَا). ثُمَّ قُلۡتُ وَأَنَا قَائِمٌ أَسۡتَأۡنِسُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ رَأَيۡتَنِي وَكُنَّا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ نَغۡلِبُ النِّسَاءَ، فَلَمَّا قَدِمۡنَا عَلَى قَوۡمٍ تَغۡلِبُهُمۡ نِسَاؤُهُمۡ، فَذَكَرَهُ، فَتَبَسَّمَ النَّبِيُّ ﷺ، ثُمَّ قُلۡتُ: لَوۡ رَأَيۡتَنِي وَدَخَلۡتُ عَلَى حَفۡصَةَ فَقُلۡتُ: لَا يَغُرَّنَّكِ أَنۡ كَانَتۡ جَارَتُكِ هِيَ أَوۡضَأَ مِنۡكِ وَأَحَبَّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ - يُرِيدُ عَائِشَةَ - فَتَبَسَّمَ أُخۡرَى،

Aku pun masuk menemui beliau. Ternyata beliau sedang berbaring di atas tikar pelepah kurma yang tidak ada alas di antara tubuh beliau dan tikar tersebut, sehingga bekas tikar itu tampak membekas di lambung beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersandar pada sebuah bantal kulit yang isinya serabut pelepah kurma.

Aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu aku bertanya sambil berdiri, “Apakah engkau menceraikan istri-istrimu?”

Beliau mengangkat pandangannya kepadaku dan menjawab, “Tidak.”

Lalu aku berkata sambil berdiri untuk mencairkan suasana, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihatku, kami dari kalangan kaum Quraisy dahulu biasa memegang kendali atas kaum wanita, tetapi ketika kami tiba di tengah kaum yang didominasi oleh wanita-wanita mereka …” Lalu ‘Umar menceritakannya.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tersenyum.

Kemudian aku berkata, “Seandainya engkau melihatku ketika aku masuk menemui Hafshah, lalu aku berkata: ‘Janganlah engkau teperdaya oleh kenyataan bahwa tetanggamu jauh lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.’” Yang ‘Umar maksud adalah ‘Aisyah. Beliau tersenyum lagi.

فَجَلَسۡتُ حِينَ رَأَيۡتُهُ تَبَسَّمَ، ثُمَّ رَفَعۡتُ بَصَرِي فِي بَيۡتِهِ، فَوَاللهِ مَا رَأَيۡتُ فِيهِ شَيۡئًا يَرُدُّ الۡبَصَرَ، غَيۡرَ أَهَبَةٍ ثَلَاثَةٍ، فَقُلۡتُ: ادۡعُ اللهَ فَلۡيُوَسِّعۡ عَلَى أُمَّتِكَ، فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيۡهِمۡ وَأُعۡطُوا الدُّنۡيَا، وَهُمۡ لَا يَعۡبُدُونَ اللهَ، وَكَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ: (أَوَفِي شَكٍّ أَنۡتَ يَا ابۡنَ الۡخَطَّابِ؟ أُولَئِكَ قَوۡمٌ عُجِّلَتۡ لَهُمۡ طَيِّبَاتُهُمۡ فِي الۡحَيَاةِ الدُّنۡيَا). فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ اسۡتَغۡفِرۡ لِي، فَاعۡتَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ أَجۡلِ ذٰلِكَ الۡحَدِيثِ حِينَ أَفۡشَتۡهُ حَفۡصَةُ إِلَى عَائِشَةَ، وَكَانَ قَدۡ قَالَ: مَا أَنَا بِدَاخِلٍ عَلَيۡهِنَّ شَهۡرًا، مِنۡ شِدَّةِ مَوۡجَدَتِهِ عَلَيۡهِنَّ حِينَ عَاتَبَهُ اللهُ، فَلَمَّا مَضَتۡ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ، دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ فَبَدَأَ بِهَا، فَقَالَتۡ لَهُ عَائِشَةُ: إِنَّكَ أَقۡسَمۡتَ أَنۡ لَا تَدۡخُلَ عَلَيۡنَا شَهۡرًا، وَإِنَّا أَصۡبَحۡنَا لِتِسۡعٍ وَعِشۡرِينَ لَيۡلَةً أَعُدُّهَا عَدًّا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الشَّهۡرُ تِسۡعًا وَعِشۡرُونَ) وَكَانَ ذٰلِكَ الشَّهۡرُ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ،

Setelah aku melihat beliau tersenyum, aku pun duduk, lalu aku melayangkan pandanganku ke sekeliling rumah beliau. Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu pun yang menarik perhatian selain tiga lembar kulit yang disamak.

Aku berkata, “Berdoalah kepada Allah agar meluaskan rezeki bagi umatmu, karena bangsa Persia dan Romawi telah diluaskan rezeki mereka dan diberi dunia, padahal mereka tidak menyembah Allah.”

Beliau yang tadinya sedang bersandar lalu duduk tegak dan bersabda, “Apakah engkau masih dalam keraguan, wahai Ibnu Al-Khaththab? Mereka adalah suatu kaum yang kenikmatan-kenikmatan mereka disegerakan dalam kehidupan dunia.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan untukku.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengasingkan diri disebabkan pembicaraan yang dibocorkan Hafshah kepada ‘Aisyah. Beliau sebelumnya mengatakan, “Aku tidak akan menemui mereka selama sebulan,” karena sangat marahnya kepada mereka setelah Allah menegur beliau.

Ketika genap dua puluh sembilan hari, beliau menemui ‘Aisyah dan memulainya dengannya. ‘Aisyah berkata kepada beliau, “Engkau telah bersumpah untuk tidak menemui kami selama sebulan, padahal hari ini kami memasuki malam kedua puluh sembilan. Aku menghitungnya hari demi hari.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bulan itu adalah dua puluh sembilan hari.”

Dan bulan saat itu memang berjumlah dua puluh sembilan hari.

قَالَتۡ عَائِشَةُ: فَأُنۡزِلَتۡ آيَةُ التَّخۡيِيرِ، فَبَدَأَ بِي أَوَّلَ امۡرَأَةٍ، فَقَالَ: (إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمۡرًا، وَلَا عَلَيۡكِ أَنۡ لَا تَعۡجَلِي حَتَّى تَسۡتَأۡمِرِي أَبَوَيۡكِ). قَالَتۡ: قَدۡ أَعۡلَمُ أَنَّ أَبَوَيَّ لَمۡ يَكُونَا يَأۡمُرَانِي بِفِرَاقِكَ، ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ اللهَ قَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلۡ لِأَزۡوَاجِكَ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿عَظِيمًا﴾) [الأحزاب: ٢٨-٢٩]. قُلۡتُ: أَفِي هٰذَا أَسۡتَأۡمِرُ أَبَوَيَّ؟! فَإِنِّي أُرِيدُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ، ثُمَّ خَيَّرَ نِسَاءَهُ، فَقُلۡنَ مِثۡلَ مَا قَالَتۡ عَائِشَةُ. [طرفه في: ٨٩].

‘Aisyah berkata: Maka ayat pilihan diturunkan, dan beliau memulainya denganku sebagai wanita pertama. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku akan menyampaikan suatu urusan kepadamu, dan tidak mengapa bagimu jika engkau tidak tergesa-gesa sampai engkau meminta pendapat kedua orang tuamu terlebih dahulu.”

‘Aisyah berkata, “Aku tahu persis bahwa kedua orang tuaku tidak akan menyuruhku untuk berpisah darimu.”

Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu ...’ hingga firman-Nya: ‘... pahala yang besar.’” (QS Al-Ahzab: 28-29).

Aku (‘Aisyah) berkata, “Apakah untuk urusan ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Kemudian beliau memberikan pilihan kepada istri-istrinya yang lain, dan mereka pun mengatakan hal yang serupa dengan apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah.