Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sunan Ad-Darimi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunan Ad-Darimi. Tampilkan semua postingan

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 96

٩٦ - أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ يُونُسَ بۡنِ يَزِيدَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، قَالَ: كَانَ مَنۡ مَضَى مِنۡ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ: الِاعۡتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ، وَالۡعِلۡمُ يُقۡبَضُ قَبۡضًا سَرِيعًا، فَنَعۡشُ الۡعِلۡمِ ثَبَاتُ الدِّينِ وَالدُّنۡيَا، وَفِي ذَهَابِ الۡعِلۡمِ ذَهَابُ ذٰلِكَ كُلِّهِ.

96. Abu Al-Mughirah telah mengabarkan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Yunus bin Yazid, dari Az-Zuhri. Beliau berkata, “Orang-orang terdahulu dari kalangan ulama kita senantiasa mengatakan: Berpegang teguh pada sunah adalah keselamatan, dan ilmu itu dicabut dengan cepat, maka hidupnya ilmu merupakan kelestarian urusan agama dan dunia, dan hilangnya ilmu merupakan kepunahan itu semua.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 205

٢٠٥ - أَخۡبَرَنَا يَعۡلَى، حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ حَبِيبٍ، عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ، قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: اتَّبِعُوا، وَلَا تَبۡتَدِعُوا؛ فَقَدۡ كُفِيتُمۡ.

205. Ya’la telah mengabarkan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Habib, dari Abu ‘Abdurrahman. Beliau berkata: ‘Abdullah berkata, “Ikutilah (sunah) dan janganlah kalian membuat bidah; karena sungguh kalian telah dicukupkan.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 158

١٥٨ - أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ عَبۡدَةَ بۡنِ أَبِي لُبَابَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: مَنۡ أَحۡدَثَ رَأۡيًا لَيۡسَ فِي كِتَابِ اللهِ، وَلَمۡ تَمۡضِ بِهِ سُنَّةٌ مِنۡ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ؛ لَمۡ يَدۡرِ عَلَى مَا هُوَ مِنۡهُ إِذَا لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ.

158. Abu Al-Mughirah telah mengabarkan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari ‘Abdah bin Abu Lubabah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata, “Barang siapa yang mengadakan suatu pandangan yang tidak ada dalam Kitabullah dan tidak pula ada sunah dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang melandasinya, maka ia tidak akan tahu bagaimana keadaannya kelak tatkala menjumpai Allah—‘azza wa jalla.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 139

١٣٩ - أَخۡبَرَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ، حَدَّثَنَا زَمۡعَةُ بۡنُ صَالِحٍ، عَنۡ عُثۡمَانَ بۡنِ حَاضِرٍ الۡأَزۡدِيِّ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَى ابۡنِ عَبَّاسٍ فَقُلۡتُ: أَوۡصِنِي، فَقَالَ: نَعَمۡ؛ عَلَيۡكَ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالۡاِسۡتِقَامَةِ اتَّبِعۡ وَلَا تَبۡتَدِعۡ.

139. Abu Nu’aim telah mengabarkan kepada kami: Zam’ah bin Shalih menceritakan kepada kami dari ‘Utsman bin Hadhir Al-Azdi. Beliau berkata:

Aku masuk menemui Ibnu ‘Abbas lalu aku berkata, “Berilah wasiat kepadaku.”

Beliau menjawab, “Baik. Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istikamah. Ikutilah (sunah) dan janganlah engkau membuat bidah.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 204

٢٠٤ - أَخۡبَرَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجۡلِسُ عَلَى بَابِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَبۡلَ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيۡنَا مَعَهُ إِلَى الۡمَسۡجِدِ،

204. Al-Hakam bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami: ‘Amr bin Yahya mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya. Ia berkata: Kami dahulu biasa duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—sebelum salat Subuh. Apabila ia keluar rumah, kami pun berjalan bersamanya menuju masjid.

فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الۡأَشۡعَرِيُّ، فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيۡكُمۡ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بَعۡدُ؟ قُلۡنَا: لَا، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمۡنَا إِلَيۡهِ جَمِيعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، إِنِّي رَأَيۡتُ فِي الۡمَسۡجِدِ آنِفًا أَمۡرًا أَنۡكَرۡتُهُ، وَلَمۡ أَرَ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ إِلَّا خَيۡرًا، قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنۡ عِشۡتَ فَسَتَرَاهُ، قَالَ: رَأَيۡتُ فِي الۡمَسۡجِدِ قَوۡمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنۡتَظِرُونَ الصَّلَاةَ، فِي كُلِّ حَلۡقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيۡدِيهِمۡ حَصًى، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً؛ فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً؛ فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً، قَالَ: فَمَاذَا قُلۡتَ لَهُمۡ؟ قَالَ: مَا قُلۡتُ لَهُمۡ شَيۡئًا انۡتِظَارَ رَأۡيِكَ أَوِ انۡتِظَارَ أَمۡرِكَ، قَالَ: أَفَلَا أَمَرۡتَهُمۡ أَنۡ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمۡ. وَضَمِنۡتَ لَهُمۡ أَنۡ لَا يَضِيعَ مِنۡ حَسَنَاتِهِمۡ؟

Lalu Abu Musa Al-Asy’ari—radhiyallahu ‘anhu—mendatangi kami dan bertanya, “Apakah Abu ‘Abdurrahman sudah keluar menemui kalian?”

Kami menjawab, “Belum.”

Maka ia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar. Ketika ia keluar, kami semua segera beranjak mendekatinya, lalu Abu Musa berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku anggap asing, namun—segala puji bagi Allah—aku tidak melihat kecuali kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Perkara apakah itu?”

Abu Musa menjawab, “Jika engkau panjang umur, niscaya engkau akan melihatnya. Aku melihat di masjid ada sekelompok orang yang duduk membuat halakah-halakah sambil menunggu salat. Di setiap lingkaran ada seorang laki-laki dan di tangan mereka ada batu-batu kecil. Laki-laki itu berkata: ‘Bertakbirlah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertakbir seratus kali. Laki-laki itu berkata lagi: ‘Bertahlillah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertahlil seratus kali. Dan ia berkata lagi: ‘Bertasbihlah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertasbih seratus kali.”

‘Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Lalu apa yang kamu katakan kepada mereka?”

Abu Musa menjawab, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka karena menunggu pandanganmu atau menunggu perintahmu.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Mengapa tidak kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka dan kamu jamin untuk mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan ada yang sia-sia?”

ثُمَّ مَضَى وَمَضَيۡنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلۡقَةً مِنۡ تِلۡكَ الۡحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيۡهِمۡ، فَقَالَ: مَا هٰذَا الَّذِي أَرَاكُمۡ تَصۡنَعُونَ؟، قَالُوا: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكۡبِيرَ، وَالتَّهۡلِيلَ، وَالتَّسۡبِيحَ، قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمۡ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنۡ لَا يَضِيعَ مِنۡ حَسَنَاتِكُمۡ شَيۡءٌ، وَيۡحَكُمۡ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! مَا أَسۡرَعَ هَلَكَتَكُمۡ؛ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمۡ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهٰذِهِ ثِيَابُهُ لَمۡ تَبۡلَ، وَآنِيَتُهُ لَمۡ تُكۡسَرۡ، وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمۡ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهۡدَى مِنۡ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، أَوۡ مُفۡتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ، قَالُوا: وَاللهِ يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ مَا أَرَدۡنَا إِلَّا الۡخَيۡرَ، قَالَ: وَكَمۡ مِنۡ مُرِيدٍ لِلۡخَيۡرِ لَنۡ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا: أَنَّ قَوۡمًا يَقۡرَؤُونَ الۡقُرۡآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمۡ، وَايۡمُ اللهِ مَا أَدۡرِي لَعَلَّ أَكۡثَرَهُمۡ مِنۡكُمۡ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنۡهُمۡ،

Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud berlalu dan kami pun ikut berlalu bersamanya, hingga ia mendatangi salah satu dari halakah tersebut. Ia lalu berdiri di depan mereka dan bertanya, “Perbuatan apa yang aku lihat sedang kalian lakukan ini?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini adalah batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalau begitu, hitunglah dosa-dosa kalian! Maka aku menjamin bahwa tidak akan ada sedikit pun dari kebaikan kalian yang sia-sia. Celaka kalian, wahai umat Muhammad! Betapa cepatnya kebinasaan kalian! Mereka para sahabat Nabi kalian—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih banyak yang hidup, pakaian beliau belum lagi usang, dan bejana-bejana beliau pun belum ada yang pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, ataukah kalian sebenarnya sedang membuka pintu kesesatan?!”

Mereka berkata, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan, namun ia tidak pernah mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menceritakan kepada kami bahwa ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, jangan-jangan mayoritas dari mereka adalah kalian.”

Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud berpaling meninggalkan mereka.

فَقَالَ عَمۡرُو بۡنُ سَلَمَةَ: رَأَيۡنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الۡحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوۡمَ النَّهۡرَوَانِ مَعَ الۡخَوَارِجِ.

‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat sebagian besar orang-orang yang berada di halakah tersebut ikut menikam kami pada hari perang Nahrawan bersama orang-orang Khawarij.

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 1371

١٣٧١ - أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى وَمُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنۡ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: (لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمۡ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ لَيۡسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنۡهُ شَيۡءٌ).

1371. ‘Ubaidullah bin Musa dan Muhammad bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jangan sampai salah seorang di antara kalian salat dengan menggunakan satu pakaian yang tidak ada sedikit pun kain dari pakaian tersebut yang diletakkan di atas pundaknya.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 2585

٤٧ - بَابُ الرُّجۡحَانِ فِي الۡوَزۡنِ
47. Bab memperberat timbangan


٢٥٨٥ - أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ سِمَاكِ بۡنِ حَرۡبٍ، عَنۡ سُوَيۡدِ بۡنِ قَيۡسٍ قَالَ: جَلَبۡتُ أَنَا وَمَخۡرَمَةُ الۡعَبۡدِيُّ بَزًّا مِنَ الۡبَحۡرَيۡنِ إِلَى مَكَّةَ، فَأَتَانَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَمۡشِي فَسَاوَمَنَا بِسَرَاوِيلَ، أَوِ اشۡتَرَى مِنَّا سَرَاوِيلَ، وَثَمَّ وَزَّانٌ يَزِنُ بِالۡأَجۡرِ، فَقَالَ لِلۡوَزَّانِ: (زِنۡ وَأَرۡجِحۡ). فَلَمَّا ذَهَبَ يَمۡشِي قَالُوا: هٰذَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.

2585. Muhammad bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari Simak bin Harb, dari Suwaid bin Qais. Beliau berkata:

Aku dan Makhramah Al-‘Abdi mendatangkan dagangan pakaian dari Bahrain ke Makkah. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang berjalan ke tempat kami. Beliau melakukan tawar-menawar sirwal (celana panjang longgar) kepada kami atau beliau membeli sirwal dari kami.

Di sana ada seorang tukang timbang yang menimbang dengan upah. Rasulullah bersabda kepada tukang timbang, “Timbanglah dan perberat!”

Ketika Rasulullah pergi berlalu berjalan, mereka berkata, “Beliau ini adalah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 1136

١١٣٦ – أَخۡبَرَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ حَكِيمٍ الۡأَثۡرَمِ، عَنۡ أَبِي تَمِيمَةَ الۡهُجَيۡمِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنۡ أَتَى حَائِضًا، أَوِ امۡرَأَةً فِي دُبُرِهَا، أَوۡ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ فَقَدۡ كَفَرَ بِمَا أُنۡزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ. 

1136. Abu Nu’aim telah mengabarkan kepada kami dari Hammad bin Salamah, dari Hakim Al-Atsram, dari Abu Tamimah Al-Hujaimi, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Siapa saja yang menggauli istri yang sedang haid, atau menggauli istri di duburnya, atau mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya; maka dia telah kafir dengan agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 741

٦٣ – بَابُ بَوۡلِ الۡغُلَامِ الَّذِي لَمۡ يَطۡعَمۡ
63. Bab kencing bayi yang belum memakan makanan


٧٤١ – أَخۡبَرَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ وَحَدَّثَنَاهُ، عَنۡ يُونُسَ أَيۡضًا، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ، عَنۡ أَمِّ قَيۡسٍ بِنۡتِ مِحۡصَنٍ أَنَّهَا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ بِابۡنٍ لَهَا لَمۡ يَبۡلُغۡ أَنۡ يَأۡكُلَ الطَّعَامَ، فَأَجۡلَسَتۡهُ فِي حِجۡرِهِ، فَبَالَ عَلَيۡهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَنَضَحَهُ، وَلَمۡ يَغۡسِلۡهُ. 

741. ‘Utsman bin ‘Umar telah mengabarkan kepada kami: Malik bin Anas menceritakan kepada kami. Beliau juga telah menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dari Umu Qais binti Mihshan; 

Bahwa beliau datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membawa putranya yang (masih kecil) belum memakan makanan. Umu Qais mendudukkan putranya di pangkuan Nabi. Tiba-tiba, anak itu kencing di pangkuan beliau. Beliau pun minta diambilkan air lalu beliau memercikinya dan tidak mencucinya.

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 685

٢٠ – بَابُ السِّوَاكِ عِنۡدَ التَّهَجُّدِ
20. Bab bersiwak ketika hendak salat tahajud


٦٨٥ – أَخۡبَرَنَا سَعِيدُ بۡنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ حُصَيۡن، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا وَائِلٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى التَّهَجُّدِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ. 

685. Sa’id bin Ar-Rabi’ telah mengabarkan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Hushain. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Wa`il, dari Hudzaifah. Beliau mengatakan: Dahulu, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun untuk salat tahajud, beliau membersihkan mulut menggunakan siwak.

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 683

٦٨٣ – أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَحۡمَدَ، حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لَوۡ لَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي؛ لَأَمَرۡتُهُمۡ بِهِ عِنۡدَ كُلِّ صَلَاةٍ) قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعۡنِي السِّوَاكَ. 

683. Muhammad bin Ahmad telah mengabarkan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kalaulah tidak akan menyulitkan umatku, tentu aku memerintahkannya kepada mereka setiap kali hendak salat.” Abu Muhammad berkata: yakni bersiwak.

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 739

٦١ – بَابُ الۡاِتِّقَاءِ مِنَ الۡبَوۡلِ
61. Bab waspada dari kencing


٧٣٩ – أَخۡبَرَنَا الۡمُعَلَّى بۡنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنِ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ بِقَبۡرَيۡنِ، فَقَالَ: (إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ؛ كَانَ أَحَدُهُمَا يَمۡشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَكَانَ الۡآخَرُ لَا يَسۡتَنۡزِهُ، عَنِ الۡبَوۡلِ) أَوۡ (مِنَ الۡبَوۡلِ) قَالَ: ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطۡبَةً، فَكَسَرَهَا، فَغَرَزَ عِنۡدَ رَأۡسِ كُلِّ قَبۡرٍ مِنۡهُمَا قِطۡعَةً، ثُمَّ قَالَ: (عَسَى أَنۡ يُخَفَّفَ عَنۡهُمَا حَتَّى تَيۡبَسَا). 

739. Al-Mu’alla bin Asad telah mengabarkan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Mujahid, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati dua kuburan lantas bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang diazab di dalam kubur keduanya. Keduanya tidak diazab dalam perkara yang besar (untuk ditinggalkan). Dahulu, salah satunya suka mengadu domba, sedang yang lainnya tidak menjaga diri dari kencing.” 

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian beliau mengambil sebatang pelepah pohon kurma yang masih basah lalu mematahkannya. Beliau menancapkan satu potongan di bagian kepala setiap dua kubur itu, kemudian bersabda, “Semoga azab diringankan dari keduanya hingga kedua potongan ini mengering.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 669

١٠ – بَابُ مَا يَقُولُ إِذَا دَخَلَ الۡمَخۡرَجَ
10. Bab doa yang diucapkan ketika hendak masuk kakus


٦٦٩ – أَخۡبَرَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الۡخَلَاءَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الۡخُبۡثِ وَالۡخَبَائِثِ). 

669. Abu An-Nu’man telah mengabarkan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan: Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila hendak masuk kakus, beliau mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan jantan dan setan betina.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 665

٦٦٥ – أَخۡبَرَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ، حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ أَبِي أَيُّوبَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (إِذَا أَتَيۡتُمُ الۡغَائِطَ، فَلَا تَسۡتَقۡبِلُوا الۡقِبۡلَةَ بِغَائِطٍ، وَلَا بَوۡلٍ، وَلَا تَسۡتَدۡبِرُوهَا) قَالَ: ثُمَّ قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: فَقَدِمۡنَا الشَّامَ، فَوَجَدۡنَا مَرَاحِيضَ قَدۡ بُنِيَتۡ عِنۡدَ الۡقِبۡلَةِ، فَنَنۡحَرِفُ وَنَسۡتَغۡفِرُ اللهَ. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: وَهَٰذَا أَصَحُّ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ الۡكَرِيمِ وَعَبۡدُ الۡكَرِيمِ شِبۡهُ الۡمَتۡرُوكِ. 

665. Abu Nu’aim telah mengabarkan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Atha` bin Yazid, dari Abu Ayyub, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila kalian datang ke tempat buang air, maka jangan menghadap kiblat ketika buang air kecil atau buang air besar! Jangan pula membelakanginya!” 

Beliau berkata: Kemudian Abu Ayyub berkata: Kami tiba di Syam dan kami dapati tempat-tempat buang air sudah dibangun menghadap kiblat. Kami pun menyerong dan memohon ampun kepada Allah. 

Abu Muhammad berkata: Hadis ini lebih sahih daripada hadis ‘Abdul Karim. ‘Abdul Karim menyerupai matruk (orang yang hadisnya ditinggalkan).

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 435

٤٣٥ - أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ، عَنۡ مُجَالِدٍ، عَنۡ عَامِرٍ، عَنۡ جَابِرٍ: أَنَّ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ بِنُسۡخَةٍ مِنَ التَّوۡرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَٰذِهِ نُسۡخَةٌ مِنَ التَّوۡرَاةِ، فَسَكَتَ، فَجَعَلَ يَقۡرَأُ وَوَجۡهُ رَسُولِ اللهِ يَتَغَيَّرُ، فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: ثَكِلَتۡكَ الثَّوَاكِلُ! مَا تَرَى مَا بِوَجۡهِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجۡهِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليۡهِ وَسَلَّمَ: (وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوۡ بَدَا لَكُمۡ مُوسَى فَاتَّبَعۡتُمُوهُ وَتَرَكۡتُمُونِي؛ لَضَلَلۡتُمۡ عَنۡ سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَلَوۡ كَانَ حَيًّا وَأَدۡرَكَ نُبُوَّتِي لَاتَّبَعَنِي). 

435. Muhammad bin Al-‘Ala` telah mengabarkan kepada kami: Ibnu Numair menceritakan kepada kami dari Mujalid, dari ‘Amir, dari Jabir: 

Bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa sebuah salinan Taurat. 

‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sebuah salinan Taurat.” 

Rasulullah diam. ‘Umar mulai membaca sementara raut muka Rasulullah berubah. 

Abu Bakr berkata, “Para ibu kehilangan engkau! Tidakkah engkau melihat raut muka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

‘Umar memandang wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami rida Allah sebagai rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, andai Nabi Musa muncul kepada kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, niscaya kalian sesat dari jalan yang lurus. Andai beliau hidup dan menjumpai masa kenabianku, niscaya beliau akan mengikutiku.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 2755

٤١ – بَابُ الۡإِسۡلَامِ بَدَأَ غَرِيبًا
41. Bab Islam mulai dalam keadaan asing


٢٧٥٥ – حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بۡنُ عَدِيٍّ، حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: (إِنَّ الۡإِسۡلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا) أَظُنُّ حَفۡصًا قَالَ: (فَطُوبَى لِلۡغُرَبَاءِ) قِيلَ: وَمَنِ الۡغُرَبَاءُ؟ قَالَ: (النُّزَّاعُ مِنَ الۡقَبَائِلِ). 

2755. Zakariyya bin ‘Adi telah menceritakan kepada kami: Hafsh bin Ghiyats menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abu Al-Ahwash, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam mulai dalam keadaan garib dan akan kembali dalam keadaan garib.” 

Aku menyangka Hafsh berkata, “Maka, kebahagiaan bagi orang-orang yang garib.” 

Ada yang bertanya, “Siapa orang-orang yang garib itu?” 

Rasulullah menjawab, “Orang-orang yang terasing dari kabilah-kabilah.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 2432

٣٩ – بَابُ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ يُقَاتِلُونَ عَلَى الۡحَقِّ
39. Bab ada sekelompok dari umat ini yang senantiasa berperang di atas kebenaran


٢٤٣٢ - أَخۡبَرَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ عَوۡنٍ، حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسِ بۡنِ أَبِي حَازِمٍ عَنِ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَزَالُ قَوۡمٌ مِنۡ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى النَّاسِ حَتَّى يَأۡتِيَ أَمۡرُ اللهِ وَهُمۡ ظَاهِرُونَ). 

2432. Ja’far bin ‘Aun telah mengabarkan kepada kami: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Qais bin Abu Hazim, dari Al-Mughirah bin Syu’bah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada suatu kaum dari umatku yang senantiasa unggul di atas manusia hingga ketetapan Allah datang dalam keadaan mereka tetap unggul.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 2797

٧٦ – بَابٌ فِي الطَّاعَةِ وَلُزُومِ الۡجَمَاعَةِ
76. Bab tentang ketaatan dan menetapi al-jama’ah (jemaah kaum muslimin yang bersatu di atas kebenaran)


٢٧٩٧ – حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، أَخۡبَرَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ بۡنِ جَابِرٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي زُرَيۡقُ بۡنُ حَيَّانَ مَوۡلَى بَنِي فَزَارَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ مُسۡلِمَ بۡنَ قَرَظَةَ الۡأَشۡجَعِيَّ يَقُولُ: سَمِعۡتُ عَوۡفَ بۡنَ مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيَّ يَقُولُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (خِيَارُ أَئِمَّتِكُمۡ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمۡ وَيُحِبُّونَكُمۡ، وَتُصَلُّونَ عَلَيۡهِمۡ وَيُصَلُّونَ عَلَيۡكُمۡ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمۡ الَّذِينَ تُبۡغِضُونَهُمۡ وَيُبۡغِضُونَكُمۡ، وَتَلۡعَنُونَهُمۡ وَيَلۡعَنُونَكُمۡ) قُلۡنَا: أَفَلَا نُنَابِذُهُمۡ يَا رَسُولَ اللهِ عِنۡدَ ذٰلِكَ؟ قَالَ: (لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنۡ وُلِّيَ عَلَيۡهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأۡتِي شَيۡئًا مِنۡ مَعۡصِيَةِ اللهِ، فَلۡيَكۡرَهۡ مَا يَأۡتِي مِنۡ مَعۡصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنۡزِعَنَّ يَدًا مِنۡ طَاعَةٍ) قَالَ ابۡنُ جَابِرٍ: فَقُلۡتُ: آللهِ يَا أَبَا الۡمِقۡدَامِ! أَسَمِعۡتَ هَٰذَا مِنۡ مُسۡلِمِ بۡنِ قَرَظَةَ؟ فَاسۡتَقۡبَلَ الۡقِبۡلَةَ، وَجَثَا عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ، فَقَالَ: آللهِ لَسَمِعۡتُ هَٰذَا مِنۡ مُسۡلِمِ بۡنِ قَرَظَةَ، يَقُولُ: سَمِعۡتُ عَمِّي عَوۡفَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُهُ. 

2797. Al-Hakam bin Al-Mubarak telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir. Beliau berkata: Zuraiq bin Hayyan maula bani Fazarah mengabarkan kepadaku bahwa beliau mendengar Muslim bin Qarazhah Al-Asyja’i berkata: Aku mendengar ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i mengatakan: 

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemimpin terbaik kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan mereka dan mereka mendoakan kebaikan kalian. Pemimpin terjelek kalian adalah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” 

Kami bertanya, “Apakah kami boleh menghunuskan senjata kepada mereka ketika itu, wahai Rasulullah?” 

Beliau bersabda, “Tidak boleh, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seseorang, lalu dia melihatnya melakukan suatu kemaksiatan kepada Allah, maka bencilah kemaksiatannya, namun jangan mencabut tangan dari ketaatan.” 

Ibnu Jabir berkata: Aku bertanya, “Demi Allah, wahai Abu Al-Miqdam, apakah engkau mendengar ini dari Muslim bin Qarazhah?” 

Lalu Zuraiq menghadap kiblat dan berlutut di atas kedua lututnya seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mendengar ini dari Muslim bin Qarazhah. Beliau berkata: Aku mendengar pamanku, yaitu ‘Auf bin Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 2519

٧٦ – بَابٌ فِي لُزُومِ الطَّاعَةِ وَالۡجَمَاعَةِ 
76. Bab tentang menetapi ketaatan dan al-jama’ah


٢٥١٩ – حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنِ الۡجَعۡدِ أَبِي عُثۡمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ الۡعُطَارِدِيُّ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ يَرۡوِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنۡ رَأَى مِنۡ أَمِيرِهِ شَيۡئًا يَكۡرَهُهُ فَلۡيَصۡبِرۡ؛ فَإِنَّهُ لَيۡسَ مِنۡ أَحَدٍ يُفَارِقُ الۡجَمَاعَةَ شِبۡرًا فَيَمُوتُ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً). 

2519. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Al-Ja’d Abu ‘Utsman: Abu Raja` Al-‘Utharidi menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas meriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Siapa saja yang melihat sesuatu yang tidak disukai pada diri amirnya, maka hendaknya dia bersabar karena tidaklah seorang pun yang memisahkan diri dari jemaah kaum muslimin sejauh sejengkal lalu meninggal kecuali dia meninggal dalam keadaan jahiliah.”

Sunan Ad-Darimi hadits nomor 2518

٧٥ – بَابٌ فِي افۡتِرَاقِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ
75. Bab tentang perpecahan umat ini


٢٥١٨ – أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا صَفۡوَانُ، حَدَّثَنِي أَزۡهَرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡحَرَازِيُّ، عَنۡ أَبِي عَامِرٍ – هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ لُحَيٍّ الۡهَوۡزَنِيِّ – عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ أَبِي سُفۡيَانَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا، فَقَالَ: (أَلَا إِنَّ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ افۡتَرَقُوا عَلَى ثِنۡتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَٰذِهِ الۡأُمَّةَ سَتَفۡتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ، اثۡنَتَانِ وَسَبۡعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الۡجَنَّةِ) قَالَ عَبۡدُ اللهِ: الۡحَرَازُ قَبِيلَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡيَمَنِ. 

2518. Abu Al-Mughirah telah mengabarkan kepada kami: Shafwan menceritakan kepada kami: Azhar bin ‘Abdullah Al-Harazi menceritakan kepadaku dari Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai Al-Hauzani, dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah kami lalu bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab telah tercerai-berai menjadi tujuh puluh dua sekte dan sesungguhnya umat ini akan tercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga. Tujuh puluh dua di neraka, sedangkan yang satu di janah.” 

‘Abdullah berkata: Al-Haraz adalah suatu kabilah penduduk Yaman.