Cari Blog Ini

At-Tuhfatus Saniyyah - Dua Tanda Jazm

عَلَامَتَا الْجَزْمِ

وَلِلْجَزْمِ عَلَامَتَانِ: السُّكُونُ وَالْحَذْفُ.
Jazm memiliki dua tanda, yaitu sukun dan hadzf (penghapusan).
وَأَقُولُ: يُمْكِنُكَ أَنْ تَحْكُمَ عَلَى الْكَلِمَةِ بِأَنَّهَا مَجْزُومَةٌ إِذَا وَجَدْتَ فِيهَا وَاحِدًا مِنْ أَمْرَيْنِ؛ الْأَوَّلُ: السُّكُونُ، وَهُوَ الْعَلَامَةُ الْأَصْلِيَّةُ لِلْجَزْمِ، وَالثَّانِي: الْحَذْفُ، وَهُوَ الْعَلَامَةُ الْفَرْعِيَّةُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هَاتَيْنِ الْعَلَامَتَيْنِ مَوَاضِعُ سَنَذْكُرُهَا لَكَ فِيمَا يَلِي:
Engkau bisa menentukan suatu kata itu dijazm jika engkau mendapati padanya salah satu dari dua perkara. Pertama, sukun. Ini adalah tanda asli jazm. Kedua, al-hadzf (penghapusan). Ini adalah tanda cabang. Setiap salah satu dari dua tanda ini memiliki tempat-tempat yang akan kita sebutkan pada pembahasan berikutnya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 39

٣٠ – بَابٌ الدِّينُ يُسۡرٌ

30. Bab agama ini mudah

وَقَوۡلُ النَّبِيِّ ﷺ: (أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللهِ الۡحَنِيفِيَّةُ السَّمۡحَةُ).
Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Agama yang paling dicintai Allah adalah agama tauhid yang mudah.”
٣٩ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ مُطَهَّرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ مَعۡنِ بۡنِ مُحَمَّدٍ الۡغِفَارِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ الدِّينَ يُسۡرٌ وَلَنۡ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبۡشِرُوا، وَاسۡتَعِينُوا بِالۡغَدۡوَةِ وَالرَّوۡحَةِ وَشَيۡءٍ مِنَ الدُّلۡجَةِ). [الحديث ٣٩ – أطرافه في: ٥٦٧٣، ٦٤٦٣، ٧٢٣٥].
39. 'Abdus Salam bin Muthahhar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: 'Umar bin 'Ali menceritakan kepada kami, dari Ma'n bin Muhammad Al-Ghifari, dari Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorangpun yang memberatkan diri dalam agama ini kecuali sikapnya tersebut akan mengalahkan dia. Maka bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, berilah kabar gembira, dan manfaatkanlah kesempatan pada pagi hari, sore hari, dan sebagian waktu malam.”

Puasa Ramadhan bagi Musafir

Saudara-saudaraku kaum muslimin -rahimakumullah-, kehadiran bulan suci Ramadhan di tengah-tengah kita sungguh membawa berkah yang besar di mana Allah melipatgandakan pahala amalan-amalan di dalamnya, dibukanya pintu-pintu surga dan berkah, serta fadhilah-fadhilah lainnya.
Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin segala aktivitas yang dilakukan tidaklah mengganggu shoum yang sedang kita jalani. Di sisi lain kita meyakini bahwa agama ini tidaklah menyulitkan para pemeluknya sebagaimana pernyataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah,
إِنَّ الدِّينَ يُسۡرٌ
"Sesungguhnya agama ini mudah." (HR. Al-Bukhari no. 39)
Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan keringanan untuk berbuka dari shoumnya bagi siapa saja yang memiliki udzur syar'i seperti sakit atau musafir (yang sedang mengadakan satu perjalanan) atau yang lainnya.
Berkenaan dengan hal itu, menjadi satu hal penting jika kita mengetahui ahkam yang berkaitan dengan shoum atau berbuka bagi musafirin. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan dan taufiq.

A. Beberapa dalil tentang masalah ini:

  • Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ 

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (Q.S. Al Baqarah: 184).
  • Dari hadits Aisyah,
أَنَّ حَمۡزَةَ بۡنَ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيَّ، قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ، فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ).
Bahwa Hamzah bin Amr Al Aslami bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah aku berpuasa dalam keadaan safar?" - dan beliau adalah orang yang sering melakukan shoum - Rasulullah menjawab, "Jika engkau berkehendak maka shoumlah, jika tidak maka berbukalah." (H.R. Al-Bukhari 1943 dan Muslim 1121). Hadits ini menunjukkan bolehnya shoum dan berbuka jika shoumnya nafilah (shoum sunnah).
  • Dari Anas bin Malik, ia berkata,
كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ.
"Kami bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang berpuasa tidak mencela kepada yang berbuka, demikian pula sebaliknya yang berbuka tidak mencela kepada yang berpuasa." (H.R. Al-Bukhari 1947 dan Muslim 1118). Hadits ini lebih dekat pendalilannya atas kebolehan shoum Ramadhan dalam keadaan safar.
  • Dari Abu Darda, ia berkata,
خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي شَهۡرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، حَتَّىٰ إِنۡ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَىٰ رَأۡسِهِ مِنۡ شِدَّةِ الۡحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ رَوَاحَةَ.
"Kami keluar bersama Rasulullah di bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca sangat panas, sampai-sampai seseorang di antara kami ada yang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena saking panasnya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rowahah." (H.R. Al-Bukhari 1945 dan Muslim 1122). Hadits ini dalil bolehnya berbuka dan bolehnya shoum di bulan Ramadhan.
  • Dan masih banyak hadits-hadits lainnya dalam masalah ini.

B. Berbuka bagi yang musafir

Dibolehkan bagi yang musafir untuk berbuka berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala di atas dalam Al Qur'an surat Al Baqarah: 184, dan telah dinukil pula ijma' (kesepakatan) sebagian besar dari kalangan ahlul ilmi, sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, "Barangsiapa yang mengatakan tidak boleh bagi musafir untuk berpuasa, kecuali kalau tidak mampu untuk shoum, maka hendaknya ia bertaubat. Jika tidak, maka diperangi." Dan berkata lagi, "Barangsiapa yang mengatakan yang berbuka dari shoumnya akan mendapatkan dosa hendaknya ia bertaubat."

C. Shoum bagi yang musafir

Terdapat beberapa perbedaan dari kalangan ahlul ilmi tentang boleh dan tidaknya shoum bagi musafir, namun pendapat yang rajih dalam hal ini adalah bolehnya shoum bagi musafir dan ini pendapatnya jumhur ulama dengan dalil di antaranya hadits Abu Darda di atas.

D. Jika shoum ataupun berbuka dibenarkan dalam keadaan safar lalu mana yang lebih afdhal atau yang lebih didahulukan?

Sebagian kalangan ulama menyatakan yang lebih afdhal adalah shoum, jika keadaannya sama antara shoum maupun berbuka, yakni tidak menimbulkan lelah. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah madzhab Malik, Asy Syafi'i, Abu Hanifah, dan yang lainnya. Mereka berdalil di antaranya dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala,
وَأَن تَصُومُوا۟ خَيۡرٌ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 

"Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Q.S. Al Baqarah: 184).
Sebagiannya lagi seperti Imam Ahmad, Ishaq, dan jamaah dari para sahabat dan tabi'in berpendapat bahwa yang afdhal adalah berbuka. Adapun di antara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok para sahabat, di antaranya Anas bin Malik, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas secara marfu', "Sesungguhnya Allah menyukai untuk didatangi rukhsoh-Nya (keringanan-Nya)." Dan hadits Jabir,
لَيۡسَ مِنَ الۡبِرِّ الصَّوۡمُ فِي السَّفَرِ
"Bukanlah termasuk kebaikan shoum dalam keadaan safar." (H.R. Al-Bukhari 1946 dan Muslim 1115).
Dalam lafazh Muslim,

عَلَيۡكُمۡ بِرُخۡصَةِ اللهِ الَّذِي رَخَّصَ لَكُمۡ
"Hendaklah kalian dengan rukhsoh Allah bagi kalian."
Berkata Ibnu Daqiqil 'Ied, "Di dalamnya terdapat dalil bahwa disunnahkan untuk berpegang teguh dengan rukhsoh jika keperluan mendesaknya."

Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat melihat tentang kebolehannya bagi musafir untuk berbuka maupun berpuasa, namun kita dapat katakan bahwa sebaiknya dan afdhal bagi musafir untuk berbuka dengan syarat tidak memberatkannya di saat menqodhonya.
Wal 'ilmu 'indallah.

Maraji':
- Al Majmu'
- Al Muhalla
- Al Mughni
- Bidayatul Mujtahid
- Majmu'ul Fatawa
- Al Fath
- Ash Shohihah
- Ihkamul Ihkam
- Az Zaad

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara`Edisi ke-1 Tahun ke-1 / 22 November 2002 M / 17 Ramadhan 1423 H

Al-Qawa'idul Mutsla - Muqaddimah

﷽

الۡمُقَدِّمَةُ

Mukadimah

الۡحَمۡدُ لِلهِ، نَحۡمَدُهُ، وَنَسۡتَعِينُهُ، وَنَسۡتَغۡفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيۡهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ شُرُورِ أَنۡفُسِنَا، وَمِنۡ سَيِّئَاتِ أَعۡمَالِنَا، مَنۡ يَهۡدِهِ اللهُ فَلَا مُضَلَّ لَهُ، وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ، وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ، وسَلَّمَ تَسۡلِيمًا.
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, meminta pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tiada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, satu-satunya tidak ada sekutu bagiNya. Aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
وَبَعۡدُ:
فَإِنَّ الۡإِيَمانَ بِأَسۡمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ أَحَدُ أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ بِاللهِ تَعَالَى، وَهِيَ الۡإِيمَانُ بِوُجُودِ اللهِ تَعَالَى، وَالۡإِيَمانُ بِرُبُوبِيَّتِهِ، وَالۡإِيمَانُ بِأُلُوهِيَّتِهِ، وَالۡإِيمَانُ بِأَسۡمَائِهِ وَصِفَاتِهِ.
Sesungguhnya iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan salah satu rukun iman kepada Allah ta'ala. Karena iman kepada Allah itu meliputi mengimani wujud Allah ta'ala, beriman terhadap rububiyyah Allah, beriman terhadap uluhiyyah Allah, dan beriman kepada nama-nama dan sifat-sifatNya.
وَتَوۡحِيدُ اللهِ بِهِ أَحَدُ أَقۡسَامِ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةِ: تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَتَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، وَتَوۡحِيدِ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ.
Dan mentauhidkan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya merupakan satu bagian dari tiga bagian tauhid. Yaitu, tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid al-asma` wash-shifat.
فَمَنۡزِلَتُهُ فِي الدِّينِ عَالِيَةٌ، وَأَهَمِّيَتُهُ عَظِيمَةٌ، وَلَا يُمۡكِنُ أَحَدًا أَنۡ يَعۡبُدَ اللهَ عَلَى الۡوَجۡهِ الۡأَكۡمَلِ حَتَّى يَكُونَ عَلَى عِلۡمٍ بِأَسۡمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ، لِيَعۡبُدَهُ عَلَى بَصِيرَةٍ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلِلهِ الۡأَسۡمَآءُ الۡحُسۡنَىٰ فَادۡعُوهُ بِهَا﴾ (الأعراف: ١٨٠). وَهٰذَا يَشۡمَلُ دُعَاءَ الۡمَسۡأَلَةِ، وَدُعَاءَ الۡعِبَادَةِ.
فَدُعَاءُ الۡمَسۡأَلَةِ: أَنۡ تُقَدِّمَ بَيۡنَ يَدَيۡ مَطۡلُوبِكَ مِنۡ أَسۡمَاءِ اللهِ تَعَالَى مَا يَكُونُ مُنَاسِبًا مِثۡلَ أَنۡ تَقُولَ: يَا غَفُورُ اغۡفِرۡ لِي. وَيَا رَحِيمُ ارۡحَمۡنِي. وَيَا حَفِيظُ احۡفَظۡنِي. وَنَحۡوُ ذٰلِكَ.
Oleh karena itulah, kedudukannya di dalam agama ini sangatlah tinggi dan urgensinya sangat agung. Tidak mungkin bagi seseorangpun untuk beribadah kepada Allah secara sempurna sampai dia berilmu terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala. Agar dia dapat beribadah di atas ilmu. Allah ta'ala berfirman,
وَلِلهِ الۡأَسۡمَآءُ الۡحُسۡنَىٰ فَادۡعُوهُ بِهَا
Dan hanya bagi Allah lah nama-nama yang baik, maka berdoalah dengannya. (QS. Al-A'raf: 180)
Hal ini juga mencakup doa permintaan dan doa ibadah.
Doa permintaan yaitu sebelum engkau meminta, engkau mendahulukan nama-nama Allah ta'ala yang sesuai. Semisal engkau ucapkan, “Ya Ghafur, ampunilah aku. Ya Rahim, kasihilah aku. Ya Hafizh, jagalah aku.” Dan semisal itu.
وَدُعَاءُ الۡعِبَادَةِ: أَنۡ تَتَعَبَّدَ لِلهِ تَعَالَى بِمُقۡتَضَى هٰذِهِ الۡأَسۡمَاءِ، فَتَقُومُ بِالتَّوۡبَةِ إِلَيۡهِ؛ لِأَنَّهُ التَّوَّابُ، وَتَذۡكُرُهُ بِلِسَانِكَ لِأَنَّهُ السَّمِيعُ، وَتَتَعَبَّدُ لَهُ بَجَوَارِحِكَ لِأَنَّهُ الۡبَصِيرُ، وَتَخۡشَاهُ فِي السِّرِّ لِأَنَّهُ اللَّطِيفُ الۡخَبِيرُ، وَهٰكَذَا.
Doa ibadah yaitu engkau beribadah kepada Allah ta'ala sesuai tuntutan nama-nama ini. Sehingga engkau bertaubat kepadaNya karena Dia adalah At-Tawwab (Maha Penerima Taubat). Engkau berdzikir dengan lisanmu karena Dia adalah As-Sami' (Maha Mendengar). Engkau beribadah kepadaNya dengan anggota tubuhmu karena Dia adalah Al-Bashir (Maha Melihat). Engkau takut kepadaNya ketika sendirian karena Dia adalah Al-Lathif (Maha Lembut) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui). Demikian seterusnya.
وَمِنۡ أَجۡلِ مَنۡزِلَتِهِ هٰذِهِ، وَمِنۡ أَجۡلِ كَلَامِ النَّاسِ فِيهِ بِالۡحَقِّ تَارَةً وَبِالۡبَاطِلِ النَّاشِئِ عَنِ الۡجَهۡلِ أَوِ التَّعَصُّبِ تَارَةً أُخۡرَى، أَحۡبَبۡتُ أَنۡ أَكۡتُبَ فِيهِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الۡقَوَاعِدِ، رَاجِيًا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنۡ يَجۡعَلَ عَمَلِي خَالِصًا لَوَجۡهِهِ، مُوَافِقًا لِمَرۡضَاتِهِ، نَافِعًا لِعِبَادِهِ.
Karena kedudukannya ini dan karena ucapan manusia tentangnya pada satu saat benar dan pada saat lain keliru yang muncul dari sebab kebodohan dan fanatik, maka aku ingin untuk menulis dalam masalah ini kaidah-kaidah yang mudah dengan mengharap dari Allah ta'ala agar menjadikan amalanku ini ikhlas mengharap wajahNya, mencocoki ridhaNya, dan bermanfaat untuk para hambaNya.
وَسَمَّيۡتُهُ: (الۡقَوَاعِدُ الۡمُثۡلَى فِي صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى وَأَسۡمَائِهِ الۡحُسۡنَى).
Aku namai tulisan ini dengan “Al-Qawa'idul Mutsla fi Shifatillahi ta'ala wa Asma`ihil Husna”.

Shahih Muslim hadits nomor 1512

٣ – (١٥١٢) – وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ - وَاللَّفۡظُ لِحَرۡمَلَةَ - قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عَامِرُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيَّ قَالَ: نَهَانَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنۡ بَيۡعَتَيۡنِ وَلِبۡسَتَيۡنِ: نَهَىٰ عَنِ الۡمُلَامَسَةِ وَالۡمُنَابَذَةِ فِي الۡبَيۡعِ.
وَالۡمُلَامَسَةُ: لَمۡسُ الرَّجُلِ ثَوۡبَ الۡآخَرِ بِيَدِهِ بِاللَّيۡلِ، أَوۡ بِالنَّهَارِ، وَلَا يَقۡلِبُهُ إِلَّا بِذٰلِكَ. وَالۡمُنَابَذَةُ: أَنۡ يَنۡبِذَ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ بِثَوۡبِهِ وَيَنۡبِذَ الۡآخَرُ إِلَيۡهِ ثَوۡبَهُ، وَيَكُونُ ذٰلِكَ بَيۡعَهُمَا مِنۡ غَيۡرِ نَظَرٍ وَلَا تَرَاضٍ.
3. (1512). Abuth Thahir dan Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku – dan lafazh ini milik Harmalah -, mereka berdua berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab: 'Amir bin Sa'd bin Abu Waqqash mengabarkan kepadaku, bahwasanya Abu Sa'id Al-Khudri berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kami dari dua jual beli dan dua pakaian. Beliau melarang dari al-mulaamasah dan al-munaabadzah dalam jual beli.
Al-Mulaamasah adalah seseorang menyentuh pakaian orang lain dengan tangannya di malam atau di siang hari dan dia tidak membolak-baliknya kecuali dengan menyentuhnya saja. Al-Munaabadzah adalah seseorang melemparkan pakaiannya kepada orang lain dan orang lain itu melemparkan pakaiannya kepadanya dan itulah cara jual beli mereka dengan tanpa memeriksa dan tanpa saling rela.