Cari Blog Ini

Manhajus Salikin - Kitab Ath-Thaharah (1), Bab Istinja` dan Adab Buang Hajat

Bab Istinja` dan Adab Buang Hajat

Disunnahkan jika masuk WC agar mendahulukan kaki kiri, kemudian mengucapkan,
بِسۡمِ اللهِ أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”[1] Jika keluar dari WC, mendahulukan kaki kanan lalu mengucapkan,
غُفۡرَانَكَ، الۡحَمۡدُ للهِ الَّذِي أَذۡهَبَ عَنِّي الۡأَذَى وَعَافَانِي
“Aku memohon ampunanMu ya Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan yang telah menyehatkanku.”
Dan bertumpu ketika duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan, dan menutup diri dengan dinding atau selainnya, atau menjauh jika berada di tempat terbuka.
Tidak halal buang hajat di jalan, di tempat yang biasa buat duduk orang-orang, di bawah pohon yang berbuah, atau di tempat yang dapat menyebabkan orang-orang terganggu. Tidak boleh menghadap kiblat atau membelakanginya ketika dia menunaikan hajatnya, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا
“Jika kalian masuk WC, maka jangan menghadap kiblat ketika kencing atau buang air besar, dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timur atau barat.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).
Jika sudah selesai menunaikan hajatnya, lalu dia bercebok (istijmar) dengan tiga batu atau semacamnya sehingga dapat membersihkan kemaluannya, kemudian cebok dengan air. Cukup untuk bercebok dengan salah satunya. Tidak boleh istijmar menggunakan kotoran hewan dan tulang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hal itu. Demikian pula tidak boleh istijmar dengan sesuatu yang memiliki kemuliaan.
Pada saat mencuci najis pada badan, pakaian, tempat, atau selainnya, cukup untuk menghilangkan zat najis itu dari tempatnya. Karena Allah tidak mensyaratkan untuk mencuci najis berkali-kali kecuali pada najis anjing. Allah mensyaratkan padanya tujuh kali cucian, salah satunya menggunakan tanah.
Dan benda-benda yang najis adalah kencing dan kotoran manusia, dan darah. Kecuali darah yang sedikit, hal itu dimaafkan. Contoh darah yang najis adalah darah yang mengalir pada hewan-hewan yang dimakan, selain darah yang tersisa di daging dan urat, darah yang tersisa ini suci.
Termasuk najis adalah kencing dan kotoran hewan yang haram dimakan, semua binatang buas adalah najis, demikian pula bangkai-bangkai, kecuali mayat manusia, bangkai yang tidak memiliki darah mengalir, ikan, belalang, karena bangkai-bangkai tersebut suci. Allah ta’ala berfirman,
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah.” (QS. Al-Maa`idah: 3). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ لَا يَنْجَسُ حَيًّا وَلَا مَيِّتًا
“Seorang mu`min itu tidak najis baik ketika hidup maupun sudah mati.” Beliau bersabda,
أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. أَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
“Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang. Adapun dua darah adalah hati dan limpa.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Adapun kotoran dan kencing hewan yang dimakan, maka itu suci.
Mani manusia adalah suci. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci mani yang masih basah dan mengeriknya apabila sudah kering. Kencing anak kecil laki-laki yang belum makan makanan tambahan cukup untuk diperciki, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ
“Yang terkena kencing anak kecil perempuan dicuci dan yang terkena kencing anak kecil laki-laki diperciki.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i).
Jika zat najisnya sudah hilang, berarti sudah suci. Adapun sisa warna dan bau tidak mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Khaulah binti Yasar tentang darah haidh,
يَكْفِيكِ الْمَاءُ، وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ
“Air cukup bagimu, adapun bekas haidhnya tidak mengapa.”

[1] HR. Al-Bukhari (142) dan Muslim (375) dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu tanpa basmalah. Bacaan basmalah datang dengan sanad yang shahih di atas syarat Muslim riwayat Al-’Umari dari hadits Anas, sebagaimana di dalam Fathul Baari (1/244).
[2] HR. Al-Bukhari (394) dan Muslim (264) dari hadits Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu.

Shahih Muslim hadits nomor 224

(٢٢٤) – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الۡجَحۡدَرِيُّ - وَاللَّفۡظُ لِسَعِيدٍ - قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ سِمَاكِ بۡنِ حَرۡبٍ، عَنۡ مُصۡعَبِ بۡنِ سَعۡدٍ، قَالَ: دَخَلَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ عَلَى ابۡنِ عَامِرٍ يَعُودُهُ وَهُوَ مَرِيضٌ. فَقَالَ: أَلَا تَدۡعُو اللهَ لِي يَا ابۡنَ عُمَرَ؟ قَالَ: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (لَا تُقۡبَلُ صَلَاةٌ بِغَيۡرِ طُهُورٍ، وَلَا صَدَقَةٌ مِنۡ غُلُولٍ)، وَكُنۡتَ عَلَى الۡبَصۡرَةِ.
(224). Sa'id bin Manshur, Qutaibah bin Sa'id, dan Abu Kamil Al-Jahdari telah menceritakan kepada kami – lafazh ini milik Sa'id -, mereka berkata: Abu 'Awanah telah menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Mush'ab bin Sa'd, beliau berkata: 'Abdullah bin 'Umar masuk menjenguk Ibnu 'Amir yang sedang sakit. Ibnu 'Amir berkata: Tidakkah engkau berdo'a kepada Allah untukku, wahai Ibnu 'Umar? Ibnu 'Umar berkata: Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat tidak diterima tanpa bersuci. Dan shadaqah tidak diterima dari ghulul (pengkhianatan).” Engkau waktu itu ada di Bashrah.
(…) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ. قَالَ أَبُو بَكۡرٍ وَوَكِيعٌ: عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، كُلُّهُمۡ عَنۡ سِمَاكِ بۡنِ حَرۡبٍ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ... بِمِثۡلِهِ. 
Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami: Syu'bah telah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami: Husain bin 'Ali telah menceritakan kepada kami, dari Za`idah. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr dan Waki' berkata: dari Isra`il. Mereka semua dari Simak bin Harb dengan sanad ini, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan hadits yang semisalnya.

Shahih Muslim hadits nomor 16

٥ – بَابُ بَيَانِ أَرۡكَانِ الۡإِسۡلَامِ وَدَعَائِمِهِ الۡعِظَامِ

5. Bab penjelasan rukun-rukun Islam dan pilar-pilarnya yang agung

١٩ – (١٦) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ الۡهَمۡدَانِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ - يَعۡنِي سُلَيۡمَانَ بۡنَ حَيَّانَ الۡأَحۡمَرَ - عَنۡ أَبِي مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيِّ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ عُبَيۡدَةَ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (بُنِيَ الۡإِسۡلَامُ عَلَى خَمۡسَةٍ: عَلَى أَنۡ يُوَحَّدَ اللهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَالۡحَجِّ).
فَقَالَ رَجُلٌ: الۡحَجِّ وَصِيَامِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: لَا، (صِيَامِ رَمَضَانَ وَالۡحَجِّ). هٰكَذَا سَمِعۡتُهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.
19. (16). Muhammad bin 'Abdillah bin Numair Al-Hamdani menceritakan kepada kami: Abu Khalid – yakni Sulaiman bin Hayyan Al-Ahmar – telah menceritakan kepada kami dari Abu Malik Al-Asyja'i, dari Sa'd bin 'Ubaidah, dari Ibnu 'Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: agar Allah itu diesakan, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.
Seseorang berkata: Haji, lalu puasa Ramadhan? Ibnu 'Umar berkata: Tidak, puasa Ramadhan lalu haji. Demikianlah aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
٢٠ - (…) - وَحَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ عُثۡمَانَ الۡعَسۡكَرِيُّ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا سَعۡدُ بۡنُ طَارِقٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي سَعۡدُ بۡنُ عُبَيۡدَةَ السُّلَمِيُّ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ؛ قَالَ: (بُنِيَ الۡإِسۡلَامُ عَلَى خَمۡسٍ: عَلَى أَنۡ يُعۡبَدَ اللهُ وَيُكۡفَرَ بِمَا دُونَهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الۡبَيۡتِ، وَصَوۡمِ رَمَضَانَ).
20. Sahl bin 'Utsman Al-'Askari telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Zakariyya telah menceritakan kepada kami: Sa'd bin Thariq telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sa'd bin 'Ubaidah As-Sulami telah menceritakan kepadaku, dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: agar Allah disembah dan selainNya dikufuri, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Makkah, dan puasa Ramadhan.”
٢١ - (…) - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عَاصِمٌ - وَهُوَ ابۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ - عَنۡ أَبِيهِ؛ قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: (بُنِيَ الۡإِسۡلَامُ عَلَى خَمۡسٍ: شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الۡبَيۡتِ، وَصَوۡمِ رَمَضَانَ).
21. 'Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku telah menceritakan kepada kami: 'Ashim – yaitu bin Muhammad bin Zaid bin 'Abdillah bin 'Umar – telah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Beliau berkata: 'Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad hamba dan rasulNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Makkah, dan puasa Ramadhan.”
٢٢ - (…) - وَحَدَّثَنِي ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا حَنۡظَلَةُ، قَالَ: سَمِعۡتُ عِكۡرِمَةَ بۡنَ خَالِدٍ يُحَدِّثُ طَاوُسًا: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ: أَلَا تَغۡزُو؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (إِنَّ الۡإِسۡلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمۡسٍ: شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الۡبَيۡتِ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب دعاؤكم إيمانكم، رقم: ٨].
22. Ibnu Numair telah menceritakan kepadaku: Ayahku telah menceritakan kepada kami: Hanzhalah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar 'Ikrimah bin Khalid mengabari Thawus: Sesungguhnya ada seseorang lelaki berkata kepada 'Abdullah bin 'Umar: Tidakkah engkau berperang? Maka 'Abdullah berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Makkah.”

Shahih Muslim hadits nomor 1037

٩٨ – (١٠٣٧) – حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ الۡحُبَابِ: أَخۡبَرِنِي مُعَاوِيَةُ بۡنُ صَالِحٍ: حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بۡنُ يَزِيدَ الدِّمَشۡقِيُّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَامِرِ الۡيَحۡصُبِيِّ، قَالَ: سَمِعۡتُ مُعَاوِيَةَ يَقُولُ: إِيَّاكُمۡ وَأَحَادِيثَ إِلَّا حَدِيثًا كَانَ فِي عَهۡدِ عُمَرَ، فَإِنَّ عُمَرَ كَانَ يُخِيفُ النَّاسَ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: (مَنۡ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيۡرًا يُفَقِّهۡهُ فِي الدِّينِ).

وَسَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ، فَمَنۡ أَعۡطَيۡتُهُ عَنۡ طِيبِ نَفۡسٍ فَيُبَارَكُ لَهُ فِيهِ، وَمَنۡ أَعۡطَيۡتُهُ عَنۡ مَسۡأَلَةٍ وَشَرَهٍ كَانَ كَالَّذِي يَأۡكُلُ وَلَا يَشۡبَعُ).

98. (1037). Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami: Zaid bin Al-Hubab telah menceritakan kepada kami: Mu'awiyah bin Shalih telah mengabari aku: Rabi'ah bin Yazid Ad-Dimasyqi telah menceritakan kepadaku, dari 'Abdullah bin 'Amir Al-Yahshubi, beliau berkata: Aku mendengar Mu'awiyah berkata: Hati-hati kalian dari hadits-hadits, kecuali hadits pada zaman 'Umar, karena sesungguhnya 'Umar menakut-nakuti manusia kepada Allah 'azza wa jalla. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, akan Allah pahamkan dia tentang agama.”

Dan aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang penyalur harta. Sehingga barangsiapa yang aku beri dengan senang hati, maka dia akan diberkahi padanya. Dan barangsiapa yang aku beri dia karena meminta dan rakus, maka dia seperti orang makan namun tidak kenyang.”

١٠٠ – (١٠٣٧) - وَحَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: حَدَّثَنِي حُمَيۡدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ قَالَ: سَمِعۡتُ مُعَاوِيَةَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ وَهُوَ يَخۡطُبُ يَقُولُ: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيۡرًا يُفَقِّهۡهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعۡطِي اللهُ). 


100. (1037). Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufyan ketika berkhotbah berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan pahamkan dia dalam agama ini. Aku hanyalah pembagi dan Allah-lah yang memberi.”

١٧٤ – (١٠٣٧) - حَدَّثَنَا مَنۡصُورُ بۡنُ أَبِي مُزَاحِمٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ حَمۡزَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ بۡنِ جَابِرٍ؛ أَنَّ عُمَيۡرَ بۡنَ هَانِىءٍ حَدَّثَهُ. قَالَ: سَمِعۡتُ مُعَاوِيَةَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ يَقُولُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنۡ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمۡرِ اللهِ، لَا يَضُرُّهُمۡ مَنۡ خَذَلَهُمۡ - أَوۡ خَالَفَهُمۡ -، حَتَّىٰ يَأۡتِيَ أَمۡرُ اللهِ وَهُمۡ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ). 


174. (1037). Manshur bin Abu Muzahim telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Hamzah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir bahwa ‘Umair bin Hani` menceritakan kepadanya. Beliau berkata: Aku mendengar Mu’awiyah ketika di atas mimbar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sekelompok dari umatku yang senantiasa melaksanakan perintah Allah. Siapa saja yang menghinakan atau menyelisihi mereka, tidak merugikan mereka hingga ketetapan Allah datang dalam keadaan mereka unggul di atas orang-orang.” 

١٧٥ – (...) - وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا كَثِيرُ بۡنُ هِشَامٍ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرٌ - وَهُوَ ابۡنُ بُرۡقَانَ - حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ الۡأَصَمِّ. قَالَ: سَمِعۡتُ مُعَاوِيَةَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ ذَكَرَ حَدِيثًا رَوَاهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. لَمۡ أَسۡمَعۡهُ رَوَىٰ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ عَلَىٰ مِنۡبَرِهِ حَدِيثًا غَيۡرَهُ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيۡرًا يُفَقِّهۡهُ فِي الدِّينِ. وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الۡحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَىٰ مَنۡ نَاوَأَهُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ). 

175. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepadaku: Katsir bin Hisyam mengabarkan kepada kami: Ja’far bin Burqan menceritakan kepada kami: Yazid bin Al-Ashamm menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufyan menyebutkan suatu hadis yang beliau riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum mendengar beliau meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbarnya suatu hadis selain itu. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Dia akan pahamkan dia dalam agama ini. Ada sekelompok dari kaum muslimin yang senantiasa berperang di atas kebenaran dalam keadaan unggul atas orang yang melawan mereka hingga hari kiamat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5426

٥٤٢٦ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سَيۡفُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ مُجَاهِدًا يَقُولُ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ أَبِي لَيۡلَى: أَنَّهُمۡ كَانُوا عِنۡدَ حُذَيۡفَةَ، فَاسۡتَسۡقَى فَسَقَاهُ مَجُوسِيٌّ، فَلَمَّا وَضَعَ الۡقَدَحَ فِي يَدِهِ رَمَاهُ بِهِ، وَقَالَ: لَوۡ لَا أَنِّي نَهَيۡتُهُ غَيۡرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيۡنِ، كَأَنَّهُ يَقُولُ: لَمۡ أَفۡعَلۡ هٰذَا، وَلَكِنِّي سَمِعۡتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (لَا تَلۡبَسُوا الۡحَرِيرَ وَلَا الدِّيبَاجَ، وَلَا تَشۡرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ، وَلَا تَأۡكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمۡ فِي الدُّنۡيَا وَلَنَا فِي الۡآخِرَةِ).
5426. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Saif bin Abi Sulaiman telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Mujahid berkata: ‘Abdurrahman bin Abi Laila telah menceritakan kepadaku: Bahwasanya mereka berada di sisi Hudzaifah. Beliau meminta minum, lalu seorang Majusi memberi beliau minum. Ketika dia meletakkan gelas ke tangan beliau, beliau melemparnya dengan gelas. Beliau berkata: Kalau bukan karena aku telah melarangnya tidak hanya satu atau dua kali - seakan-akan beliau berkata: Tentu aku tidak melakukannya -. Akan tetapi aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memakai sutra dan campuran sutra. Janganlah kalian meminum dari bejana emas dan perak. Dan jangan kalian makan dari piringnya. Karena itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat.”