Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadits nomor 219

٣٧٣ – (٢١٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ - يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي حَازِمٍ -، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَيَدۡخُلَنَّ الۡجَنَّةَ مِنۡ أُمَّتِي سَبۡعُونَ أَلۡفًا أَوۡ سَبۡعُ مِئَةِ أَلۡفٍ - لَا يَدۡرِي أَبُو حَازِمٍ أَيَّهُمَا قَالَ – مُتَمَاسِكُونَ، آخِذٌ بَعۡضُهُمۡ بَعۡضًا، لَا يَدۡخُلُ أَوَّلُهُمۡ حَتَّى يَدۡخُلَ آخِرُهُمۡ، وُجُوهُهُمۡ عَلَى صُورَةِ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ). 

[البخاري: كتاب الرقاق، باب صفة الجنة والنار، رقم: ٦٥٥٤]. 

373. (219). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu—Abu Hazim tidak tahu mana yang diucapkan dari dua bilangan itu—dari umatku pasti akan masuk janah. Mereka saling berpegangan. Yang paling awal dari mereka tidak masuk hingga yang paling akhir masuk. Wajah-wajah mereka cerah seperti bulan di malam purnama.”

Shahih Muslim hadits nomor 2856

٥٠ – (٢٨٥٦) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (رَأَيۡتُ عَمۡرَو بۡنَ لُحَىِّ بۡنِ قَمَعَةَ بۡنِ خِنۡدِفَ، أَبَا بَنِي كَعۡبٍ هَٰؤُلَاءِ، يَجُرُّ قُصۡبَهُ فِي النَّارِ). 

50. (2856). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah melihat ‘Amr bin Luhai bin Qama’ah bin Khindif, bapak bani Ka’b ini, menyeret ususnya di dalam neraka.” 

٥١ – (...) - حَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ وَحَسَنٌ الۡحُلۡوَانِيُّ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ. قَالَ عَبۡدٌ: أَخۡبَرَنِي. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ. وَهُوَ ابۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيَّبِ يَقُولُ: إِنَّ الۡبَحِيرَةَ الَّتِي يُمۡنَعُ دَرُّهَا لِلطَّوَاغِيتِ، فَلَا يَحۡلُبُهَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ. وَأَمَّا السَّائِبَةُ الَّتِي كَانُوا يُسَيِّبُونَهَا لِآلِهَتِهِمۡ، فَلَا يُحۡمَلُ عَلَيۡهَا شَىۡءٌ. 

وَقَالَ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (رَأَيۡتُ عَمۡرَو بۡنَ عَامِرٍ الۡخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصۡبَهُ فِي النَّارِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَنۡ سَيَّبَ السُّيُوبَ). 

[البخاري: كتاب التفسير، باب: ﴿ما جعل الله من بحيرة ولا سائبة...﴾، رقم: ٤٦٢٣]. 

51. ‘Amr An-Naqid, Hasan Al-Hulwani, dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku. ‘Abd berkata: Telah mengabarkan kepadaku. Dua rawi lainnya berkata: Ya’qub menceritakan kepada kami—beliau adalah putra Ibrahim bin Sa’d—: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Sesungguhnya bahirah adalah unta betina yang air susunya dicegah hanya untuk tagut-tagut, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh memerahnya. Adapun sa`ibah adalah hewan yang dibiarkan bebas untuk sesembahan mereka (selain Allah), sehingga tidak boleh dipikuli apapun. 

Ibnu Al-Musayyab berkata: Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah melihat ‘Amr bin ‘Amir Al-Khuza’i menyeret ususnya di dalam neraka. Dia adalah orang yang memelopori membiarkan bebas hewan sa`ibah.”

Ayat Kursi Akhir Hidupnya

Dahulu kala negeri Syam sangat produktif melahirkan ulama-ulama besar. Di antara sekian banyak ulama terdahulu dari negeri ini lahir di kota Halab. Adapun sekarang kota ini lebih dikenal dengan nama Kota Aleppo. Aleppo adalah sebuah kota kuno besar dan merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di kota inilah dahulu terlahir seorang ulama pakar hadis yang bernama Al Mizzi Yusuf bin Abdurrahman bin Yusuf Abul Hajjaj Jamaluddin Al Kalbi Al Mizzi rahimahullah. Ulama yang populer dengan sebutan Al Mizzi ini lahir pada 10 Rabiul Awwal tahun 654 di Kota Halab. Namun beliau tumbuh dan berkembang di Kota Mizzah dekat Damaskus hingga beliau dinisbatkan kepada kota tersebut. 

PERJALANAN MENUNTUT ILMU 


Sejak kecil Al Mizzi sudah hafal Al Quran dengan hafalan yang baik lagi kuat. Pengalaman pertama kali belajar beliau jalani pada tahun 675 H dan banyak mengambil ilmu dari Ahmad bin Abil Khair Ad Dimasyqi Al Hambali. Sejak saat itulah Al Mizzi memiliki antusias yang menjulang tinggi untuk mendalami ilmu hadis. Selain itu beliau juga belajar kepada Al Muslim bin ‘Alan, Al Fahr bin Al Bukhar, Muhyiddin An Nawawi, dan yang lainnya. Yang menakjubkan adalah beliau meriwayatkan hadis sendiri dari para ulama. 

Kemudian setelahnya belajar kitab-kitab induk seperti As Sunnah, Al Musnad, Al Mu’jamul Kabir, Tarikhul Khatib, An Nasab karya Az Zubair, Al Mustakhraj ala Muslim, Al Hilyah, Ad Dalail, Muwatha dan masih banyak yang lainnya. Al Mizzi sempat melakukan perjalanan panjang dalam periwayatan hadis seperti ulama salaf pada umumnya. Berbagai negeri Islam pernah dijelajahi seperti Haramain, Mesir, Halab, Iskandariyah, Himsh, Ba’labak, Bilbis, dan selainnya. Di sana beliau menguatkan ilmu-ilmu dasar seperti bahasa, tashrif, atau yang semisalnya. Oleh karenanya beliau sangat ahli dalam ilmu bahasa, hadis, dan para perawinya. 

Jika ditotal jumlah guru beliau kurang lebih seribu ulama dari berbagai penjuru negeri. Seperti Abul Abbas bin Salamah, Ismail bin Al Asqalani, Ibnu Abi Umar, Ibnu Alan, Al ‘Izz Al Harani, Ibnu Ad Darji, An Nawawi, Az Zawawi, Dimyathi, Ibnu Daqiqil Ied, Ibnu Nafis, Ibnu Taimiyah, dan masih banyak yang lainnya. Sebagaimana muncul pula nama-nama besar yang pernah berguru kepadanya seperti Al Barzali, Ibnul Fahr, Al ‘Alai, Ibnu Katsir, Ibnu Athar, Al Jumaizi, Ibnul Ja’bari, dan selainnya. 

Pada masa mudanya sempat bermajelis kepada Afif At Tilmisani. Namun Al Mizzi rahimahullah meninggalkannya tatkala mengetahui kesesatannya. Afif At Tilmisani adalah seorang penyair sesat dan menyimpang. 

Al Mizzi sendiri mempunyai seorang istri yang shalihah pengajar Al Quran yang sangat handal. Sang istri dialah Aisyah bintu Ibrahim bin Shadiq, seorang penghafal Al Quran. Hingga sekian banyak wanita bisa menghatamkan Al Quran atas jasanya. Putrinya yang bernama AmaturRahim Zainab adalah istri Al Hafidz Ibnu Katsir Ad Dimasyqi. Ibnu Katsir merupakan salah satu murid Al Mizzi yang sangat terkenal. Sangat jarang wanita saat itu yang berkarakter istri Al Mizzi. Seorang wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah, penghafal Al Quran, zuhud, dan fasih bahasanya. Sang istri meninggal sembilan bulan sebelum kematian suaminya dalam usia delapan puluh tahun. Al Mizzi sangat mencintai dan memuliakan istrinya tersebut. Bahkan Al Mizzi hampir-hampir tidak pernah menyelisihinya dalam suatu perkara. Hal ini karena besarnya kecintaan dan penghormatan Al Mizzi terhadapnya.

AKHLAKNYA 


Keindahan akhlak menghiasi kehidupan Al Mizzi rahimahullah dalam berinteraksi dengan sesama. Berpredikat sebagai ahli hadis dan ulama besar tidak membuatnya lupa diri. Cukup banyak perangai terpuji yang melekat pada dirinya sebagai pribadi yang baik. Di antaranya adalah sifat malu, sabar, qana’ah, rendah hati, berkasih sayang dengan sesama, sangat sedikit bicara kecuali apabila ditanya maka beliau pun menjawab dengan jawaban sangat baik, tidak pernah melakukan ghibah yang terlarang terhadap siapa pun, zuhud, hidup dalam kemiskinan, dan kesederhanaan. 

Beliau adalah figur ulama yang komitmen dalam mengamalkan dan membela kebenaran. Hingga pernah dipenjara karena menyuarakan al haq bersama Ibnu Taimiyah. Sebagai ulama yang berakidah Ahlus Sunnah, Al Mizzi banyak mendapatkan penentangan dari manusia. Puncaknya terjadi pada tahun 705 H ketika mengajarkan Kitab Khalqu Af’alil Ibad karya Imam Al Bukhari rahimahullah. Saat itu beliau membacakan sebuah pasal dalam kitab tersebut yang membantah ideologi orang-orang Jahmiyah. Mendengar hal itu maka marahlah sebagian hadirin dan mereka merasa tersinggung seraya mengatakan, “Kitalah yang sedang dia bicarakan.” Mereka pun melaporkannya kepada Qadhi Ibnu Shasra, dia adalah salah satu musuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang bermadzhab syafi’iyah. Sehingga dia memerintahkan agar Al Mizzi dipenjara, maka akhirnya beliau dipenjara. Tatkala mendengar hal itu, Ibnu Taimiyah bergegas menuju penjara dan membebaskannya. 

Satu hal yang menarik pada diri beliau adalah perhatian yang besar terhadap keluarganya dalam ilmu agama. Beliau senantiasa membawa keluarga dan handai taulan ke majelis-majelis periwayatan hadis. Bahkan beliau pun membawa budak-budak perempuannya ke berbagai majelis ilmu. 

Beliau adalah figur ulama yang lembut, tenang, dan sabar dalam menghadapi orang-orang yang menggibahi atau menyakitinya. Sebagaimana gangguan yang pernah dilakukan oleh Abul Hasan Ibnul Athar. Namun Al Mizzi tidak pernah membicarakan dan mencelanya. Beliau sedikit berbicara kecuali jika ditanya maka beliaupun menjawab dan memberikan faedah.

KITAB-KITABNYA 


Karya tulisnya cukup banyak, di antaranya yang sangat populer adalah Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijal yang terdiri dari 12 jilid dan Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifatil Athraf yang terdiri dari 8 jilid. Ibnu Thulun mengatakan tentang kedua kitab tersebut, “Telah diketahui bahwa para ahli hadis sepeninggal Al Mizzi sangat membutuhkan kedua kitab ini. Karya beliau yang lain adalah Al Muntaqa minal Ahadis dan Al Kuna. Nama Al Mizzi melambung dalam dunia hadis lewat dua karya monumentalnya. Yaitu Tahdzibul Kamal dan Tuhfatul Asyraf bima’rifatil Athraf

Al Hafidz Abu Abdillah Adz Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Aku pernah melihat manusia dengan hafalan yang sangat kuat, mereka adalah; Ibnu Daqiqil Ied, Ad Dimyathi, Ibnu Taimiyah, dan Al Mizzi. Adapun Ibnu Daqiqil Ied adala yang paham tentang hadis, Ad Dimyathi adalah yang paling berilmu tentang nasab, sementara Ibnu Taimiyah adalah yang paling hafal berbagai matan, dan Al Mizzi yang paling mengetahui tentang perawi-perawi hadis.” Adz Dzahabi juga menyatakan, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih kuat hafalannya dalam ilmu hadis daripada Al Mizzi.” Adz Dzahabi memberikan sanjungan yang sangat tinggi dalam kitabnya Tadzkiratul Huffazh, “Al Mizzi belajar ilmu bahasa dan menjadi pakar dalam bidang ilmu tersebut. Adapun berkenaan dengan pengetahuannya tentang para perawi hadis, maka dia adalah pembawa bendera ilmu Rijal. Tidak akan dijumpai ulama dengan kapasitas keilmuan seperti dia.” At Taaj As Subki mengatakan, “Al Mizzi adalah syaikh kami, ustadz kami, suri tauladan bagi kami, beliaulah Jamaluddin Abul Hajjaj Al Mizzi, penghafal andal di zaman kami, pembawa bendera Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.” 

Al Mizzi meninggal pada hari Sabtu sebelum tiba waktu Ashar pada tanggal 12 Shafar tahun 742 H. Beliau sakitselama beberapa hari karena penyakit thaun sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir. Akhirnya beliau meninggal dalam keadaan membaca ayat kursi. Jenazah beliau disalati pada hari Ahad pagi dan dimakamkan di pemakaman Shufiyah tepat di samping makam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau. Allahu A’lam


Sumber: Majalah Qudwah edisi 72 vol.07 1441 H rubrik Biografi. Pemateri: Al-Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2532

٣٥ - بَابٌ فِي الۡغَزۡوِ مَعَ أَئِمَّةِ الۡجَوۡرِ 
35. Bab tentang berperang bersama pemimpin yang zalim 


٢٥٣٢ – (ضعيف) حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، نا جَعۡفَرُ بۡنُ بُرۡقَانَ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي نُشۡبَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ‏: (ثَلَاثَةٌ مِنۡ أَصۡلِ الۡإِيمَانِ: الۡكَفُّ عَمَّنۡ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا [تُكَفِّرۡهُ] بِذَنۡبٍ، وَلَا [تُخۡرِجۡهُ] مِنَ الۡإِسۡلَامِ بِعَمَلٍ؛ وَالۡجِهَادُ مَاضٍ مُنۡذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنۡ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ، لَا يُبۡطِلُهُ جَوۡرُ جَائِرٍ، وَلَا عَدۡلُ عَادِلٍ؛ وَالۡإِيمَانُ بِالۡأَقۡدَارِ). 

2532. [Daif] Sa’id bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami: Ja’far bin Burqan menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu Nusybah, dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hal yang termasuk pokok keimanan: (1) menahan diri dari (membunuh) orang yang telah mengucapkan ‘tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah’, tidak mengafirkannya dengan sebab suatu dosa (selain kufur akbar), dan tidak mengeluarkannya dari Islam dengan sebab suatu perbuatan (dosa selain kufur akbar); (2) jihad terus berlangsung semenjak Allah mengutusku hingga akhir umatku memerangi Dajjal, jihad tidak gugur karena kezaliman atau keadilan pemimpin; (3) dan iman kepada takdir.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3522

٣٥٢٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيِّبِ قَالَ: الۡبَحِيرَةُ الَّتِي يُمۡنَعُ دَرُّهَا لِلطَّوَاغِيتِ وَلَا يَحۡلُبُهَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ، وَالسَّائِبَةُ: الَّتِي كَانُوا يُسَيِّبُونَهَا لِآلِهَتِهِمۡ فَلَا يُحۡمَلُ عَلَيۡهَا شَىۡءٌ. قَالَ: وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (رَأَيۡتُ عَمۡرَو بۡنَ عَامِرِ بۡنِ لُحَىٍّ الۡخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصۡبَهُ فِي النَّارِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَنۡ سَيَّبَ السَّوَائِبَ). [الحديث ٣٥٢٢ – طرفه في: ٤٦٢٣]. 

3522. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyib berkata: Bahirah adalah (unta betina) yang air susunya tidak boleh diperah seorang pun dan hanya dipersembahkan untuk tagut-tagut. Sa`ibah adalah binatang ternak yang dibiarkan bebas untuk sesembahan mereka (selain Allah), sehingga tidak boleh untuk memikul beban sedikit pun. Sa’id berkata: Abu Hurairah mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku melihat ‘Amr bin ‘Amir bin Luhai Al-Khuza’i menyeret ususnya di dalam neraka. Dia adalah orang yang memelopori membiarkan hewan-hewan sa`ibah.”