In memorial: Imam Adz Dzahabi rahimahullah

Mengenang kisah hidup para pendahulu yang shalih semoga dapat melembutkan jiwa. Terlebih di zaman ini. Jiwa begitu mudahnya membatu. Seiring dengan jauhnya ilmu, tersebarnya kejahilan. Sangat butuh kita dengan berbagai figur teladan.

Pembaca, kenangan kita kali ini akan tertuju kepada seorang alim pada abad ke-8 Hijriyah. Seorang alim yang mewariskan “kekayaan ilmiah” yang bermanfaat bagi Islam dan muslimin. Tercatat lebih dari 200 kitab telah beliau tinggalkan. Baik dalam bidang qiraat, hadits, akidah, fikih, adab, sejarah, biografi, tokoh, dll.

Sejenak saya jadi teringat dengan seorang rekan di Darul Hadits Ma’bar. Namanya Serdaar. Wajahnya seram, namun bila disapa, senyumnya langsung mengembang dan menjadi teman bercakap yang tak menjemukan. Ia berasal dari Turkmenistan. Entah apa artinya, saya belum sempat bertanya kepada yang bersangkutan tentang nama itu. Yang jelas ia bukan orang Arab. Sudah lama beliau bersimpuh di hadapan Syaikh Muhammad Al Imam dan syaikh yang lain. Wallahu a’lam, apakah beliau masih di sana atau sudah pulang ke kampung halamannya yang hijau. Semoga Allah menjaganya dan menjaga kita selalu.

Tulisan kita kali ini bukan mengisahkan saudara kita Serdaar. Tapi tentang seorang alim yang namanya bukan hanya tertulis dengan tinta emas, bahkan ia adalah emas. Seorang tokoh yang namanya bukan hanya bersinar bagai matahari, bahkan ia adalah sang surya. Beliau digelari dengan “Syamsuddin” dan akrab dengan sebutan “Adz Dzahabi”. Menurut para sejarawan, ia berasal dari Turkmenistan.

Kita awali dengan cerita ‘satu kalimat’ yang ternyata bermanfaat ‘sepanjang hayat’. Kalimat yang tulus dari guru beliau Al Barzali. Beliau mengisahkan, “Suatu hari guruku melihat catatanku. Maka beliau berkomentar, ‘Gaya tulisanmu mirip sekali dengan tulisan para ulama hadits.’ Sejak itulah aku begitu cinta dengan thalabul ilmi. Aku mendengar hadits dari beliau. Dan ilmunya yang luas di bidang hadits dan tarikh begitu berkesan bagiku.”

KELAHIRAN DAN KELUARGA ADZ DZAHABI


Sebenarnya, bibit-bibit kebaikan ini sudah muncul jauh sebelum itu. Kakek beliau yang bernama Utsman adalah seorang yang buta huruf. Ia seorang tukang kayu. Walaupun tidak ada sisi “ilmiyah” dari kehidupan beliau, namun ia seorang yang kuat keyakinannya kepada Allah.

Ayah beliau, Ahmad tidak meneruskan pekerjaan Utsman dalam pertukangan. Ia menekuni kerajinan emas. Karena keuletannya, lambat laun Ahmad bin Utsman menjadi seorang pengrajin emas terkemuka. Di kemudian hari, beliau pun mulai menapakkan kaki, menimba ilmu hadits. Kurang lebih pada umur 25 tahun beliau mengikuti majelis Shahih Al Bukhari bersama Al Miqdad Al Qaisi. Ahmad juga dikenal kuat dalam menjalani ketaatan. Beliau terbiasa dengan qiyamul lail.

Dengan ilmu, ketaatan, dan harta yang thayyibah inilah, Ahmad “Adz Dzahabi” (pengrajin emas) membina sebuah keluarga setelah menikahi putri seorang tokoh Maushil, Alamudin Abu Bakr Sinjar bin Abdillah. Dengan pernikahan ini, terlahirlah pada tgl 13 Rabi’ul Akhir 673 H, bayi mungil bernama Muhammad, yang kelak menjadi seorang alim yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyah, Al Mizzi, dan Al Barzali.

PENDIDIKAN ADZ DZAHABI DI USIA DINI


Di masa kecil, ayah beliau membawanya kepada salah seorang muaddib (guru agama). Ia sangat piawai mendidik anak-anak dalam membaca, menulis, dan berbahasa. Ia adalah Syaikh Alauddin. Entah berapa lama Adz Dzahabi kecil berada dalam bimbingan Syaikh Alauddin. Yang jelas, hingga tahun 682 H, menurut catatan sejarah, ia masih bermulazamah dengan Syaikh Alauddin hingga sangat mahir dalam menulis.

Beliau belajar Al Quran dengan bimbingan Syaikh Mas’ud. Ditalqin oleh beliau dari Al Fatihah hingga An-Naas. Setelah itu, Adz Dzahabi menyetorkan hafalannya kepada Syaikh Mas’ud, tidak kurang dari 40 kali khatam. Setelah mengokohkan Al Quran, barulah ia menghadiri majelis para syaikh untuk mendengarkan berbagai bidang ilmu.

Demikianlah, dunia anak adalah dunia bermain dan bersenang-senang. Namun begitu, kelaurga Adz Dzahabi tetap memberikan perhatian besar terhadap ilmu.

KONDISI MASYARAKAT DAMASKUS


Syam dan Mesir saat itu dikuasai oleh Dinasti Mamalik Bahriyah. Di saat itu, berkembang akidah Asy’ariyah. Tersebar pula aliran tasawwuf di segala penjuru negeri. Banyak bermunculan ‘paranormal’ yang berhasil mencuri hati dan merampas kehidupan masyarakat awam di Damaskus. Bahkan sebagian mereka mampu ‘membobol’ benteng istana.

Raja Zhahir Baybars memiliki seorang penasihat bersama Syaikh Khadir. Syaikh ini dikenal dengan ilmu gendam dan terawangan. Ia sering dikunjungi raja, dimintai ramalannya, dan sering diajak menemani dalam setiap perjalanannya karena keyakinan akan kekuatan metafisika pada diri syaikh ini. Kita berlindung kepada Allah dari kesyirikan.

Pengultusan syaikh, dalam hidup dan matinya, sangat-sangat tersebar di Damaskus saat itu. Banyak orang berziarah ke kubur untuk bernadzar, bersedekah, sujud, bahkan meminta ampunan dari para penghuninya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari kesyirikan mereka.

ADZ DZAHABI MENDALAMI ILMU QIRAAT


Saat itu, usia Adz Dzahabi baru menginjak angka 18. Kecenderungan kepada ilmu semakin melambung tinggi. Ia begitu antusias mendalami ilmu qiraat. Pada tahun 691 H, ia belajar qiraat kepada Syaikhul Qurra` Al Fadhili di Turbah Ummi Shalih. Adz Dzahabi tidak bisa menamatkan belajarnya bersama syaikh ini, karena pada tahun 692 syaikh Al Fadhili wafat.

Walaupun begitu, ia punya guru lain yaitu Syaikh Jamaluddin. Di hadapan beliau, Adz Dzahabi bisa menyelesaikan satu khataman, mengumpulkan tujuh qiraat sekaligus, sesuai dengan kitab At Taisir karangan Ad Dani, dan Hirzul Amany karangan Asy Syathibi Al Andalusi.

Dalam waktu singkat, Adz Dzahabi dengan kejeniusannya sangat menguasai pokok-pokok madzhab qiraat maupun rinciannya. Ia mengisahkan, “Aku pernah duduk di hadapan qadhi agung Syihabuddin Al Khuwaiy. Lalu aku ditanya berbagai permasalahan pelik dalam ilmu qiraat. Allah buka dadaku, sehingga semua pertanyaan bisa kujawab dengan tepat. Dengan itu, Syihabuddin memberikan ijazah atas riwayat-riwayatnya untukku,” kenangnya.

Ia tidak mencukupkan dengan satu syaikh dalam mengumpulkan qiraat. Di samping itu juga, tidak melewatkan kesempatan berguru kepada para syaikh yang masyhur, kitab-kitab penting dalam ilmu tajwid dan qiraat. Ia menjadi sangat menonjol dalam bidang ini. Sehingga pada akhir tahun 692 H, guru beliau Syaikh Ad Dimyathi yang memiliki halaqah talqin di masjid Jami’ Umawy menyerahkan ‘kursinya’ kepada Adz Dzahabi. Syaikh Ad Dimyathi pada akhirnya wafat pada awal tahun 693 H karena sakit.

ADZ DZAHABI MENDALAMI ILMU HADITS


Di samping menggeluti ilmu qiraat, Adz Dzahabi juga sangat menggemari ilmu hadits. Ratusan guru ia datangi untuk mendapat riwayat hadits yang mereka punya. Saking meluapnya semangat mendapat hadits, terkadang ia mendapati guru-guru yang kondisinya tidak laik secara fisik.

Ia berkata tentang salah satu gurunya, Mahmud Al Kharaithi, “Beliau adalah seorang yang hampir tuli. Aku harus mendekatkan mulutku ke telinganya dan kubacakan riwayat-riwayat haditsnya dengan teriak.”

ADZ DZAHABI BERTUALANG KE LUAR NEGERI SYAM UNTUK MEMPERDALAM ILMU


Hatinya begitu rindu untuk bertemu ulama di negeri-negeri Islam. Namun, kerinduannya tak begitu saja dengan mudah mengantarnya kepada mereka. Ayahnya tidak tega bila Adz Dzahabi pergi jauh meninggalkannya. Sangatlah dimaklumi karena Adz Dzahabi adalah anak semata wayang. Ia juga masih sangat muda saat kakinya mulai kokoh dalam ilmu. Sementara timba para ulama dalam negeri Syam telah ia reguk hingga tetes-tetes penghabisan. Saatnya ia bertualang.

Namun Adz Dzahabi bukanlah sosok pemuda yang durhaka. Ia sangat memahami bahwa di antara adab mencari ilmu adalah meminta izin kepada orang tua sebelum bertualang. Dengan penuh adab Adz Dzahabi mendekati sang ayah. Sampai akhirnya sang ayah mengizinkannya untuk bertualang ke luar Damaskus dengan batasan waktu tidak lebih dari 4 bulan. Setiap bertualang, ayahnya selalu mengutus bersamanya seorang pendamping.

Waktu-waktu yang sangat singkat namun penuh berkat. Ia gunakan kesempatan emas ini untuk berkunjung ke Himsh, Tarablus, Kurk, Ma’rah, Bushra, Nablus, Ramlah, Al Quds, Tabuk, dan juga negeri Mesir. Dan di negeri Mesir lah petualangan ilmiah paling berharga yang beliau jalani.

HUBUNGAN DEKATNYA DENGAN TOKOH-TOKOH ISLAM


Tidak bisa disisihkan dari sejarah Adz Dzahabi, akan jalinan hubungan yang begitu indah, kuat, dan tulus antara beliau dengan tokoh-tokoh Islam di zaman itu. Tersebutlah 3 nama ulama kesohor.

  1. Jamaluddin Yusuf yang dikenal dengan Imam Al Mizzi, 19 tahun lebih tua dari Adz Dzahabi.
  2. Taqiyudin Ahmad yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, selisih 12 tahun.
  3. Alamuddin Al Qasim yang dikenal dengan Imam Al Barzali, beliau juga bermadzhab Syafi’i.

Al Mizzi adalah paling senior di antara 4 serangkai ini. Umurnya terpaut hampir 20 tahun dengan Adz Dzahabi. Sedangkan Ibnu Taimiyah dan Al Barzali lebih tua 10 tahun darinya. Walaupun terpaut dari sisi umur, bahkan madzhab mereka pun tidak sama, namun satu sama lain saling mencintai karena Allah. Ibnu Taimiyah bermazhab Hanbali. Sedangkan 3 ulama lainnya semua bermadzhab Syafi’i. Berbeda madzhab, namun disatukan dengan kesamaan akidah yang haq.

Masing-masing dari 4 ulama ini adalah kawan, sekaligus guru bagi yang lain. Mereka saling mengajar dan mengambil ilmu. Tidaklah perbedaan madzhab memecahkan ukhuwah di antara ulama ini. Dalam beberapa masalah fikih misalnya, Al Mizzi membela madzhab Ibnu Taimiyah, karena lebih dekat dengan sunnah. Begitu pula sebaliknya, Adz Dzahabi pernah menulis kritikan khusus untuk Ibnu Taimiyah dan penganut madzhab Hanbali atas beberapa pendapat madzhab yang tidak sesuai dengan atsar. Kritikan yang diberi judul dengan “Nasihat Emas”.

Satu sama lain saling memberikan penghormatan dan menyebutkan kemuliaannya. Tentang Al Mizzi, Adz Dzahabi menyebutnya sebagai allamah (alim besar), al hafizh, muhaddits Islam, penutup para huffazh, kritisi hadits yang ulung, kepadanyalah kami bertanya jika menjumpai persoalan pelik, dan dialah yang menguraikan benang-benang kusut, sehingga permasalahan yang tak jelas ujung pangkalnya menjadi terurai.

Tentang Al Barzali, Adz Dzahabi mengatakan bahwa beliau adalah imam, al hafizh yang kokoh hafalannya, al hujah, pakar hadits negeri Syam, sejarawan ulung, rekan yang senantiasa memberi faedah dan ilmu kepada kami.

Adapun Ibnu Taimiyah, maka beliau adalah seorang alim yang telah matang keilmuannya. Saat Adz Dzahabi baru mulai menapaki jalan thalabul ilmi, ia telah menjadi seorang mujtahid. Sejak tahun 698 H, beliau telah terjun dalam perdebatan sengit dengan para penentang akidah ahlus sunnah wal jama’ah dari berbagai sekte. Beliau perangi paranormal dari para dedengkot tasawuf. Berkeliling bersama murid-muridnya memerangi kemungkaran. Menumpahkan minuman keras dan menasihati mereka untuk bertakwa kepada Allah. Bahkan memerangi para penguasa yang mengecam akidah yang benar. Karena itulah beliau sempat dijebloskan di penjara. Namun Al Mizzi berhasil membebaskan rekan tercinta ini.

Suatu ketika, Adz Dzahabi ditanya tentang Ibnu Taimiyah. Maka beliau mengatakan, “Tiada artinya orang biasa seperti saya menilai tokoh semulia beliau. Sungguh, kedua mata ini belum pernah menyaksikan orang yang lebih agung dari pada beliau. Bahkan aku berani bersumpah, ia sendiri belum pernah mendapati orang yang lebih berilmu dari padanya.”

KEILMUAN DAN KEDUDUKAN ADZ-DZAHABI


Adz-Dzahabi sempat menduduki sejumlah jabatan keilmuan di kota Damaskus. Di antaranya: pemberi khutbah, pengajar, menjadi syaikh agung di sejumlah perguruan hadits, seperti Dar Al-Hadits di Turbah Umm Ash-Shalih, Dar Al-Hadits Azh-Zhahiriyah, Dar Al-Hadits Wa Al-Qur’an At-Tankiziyah, dan Dar Al-Hadits Al-Fadhiliyah.

Semua kesibukan ini tidaklah menghalangi beliau untuk melakukan penelitian ilmiyah dan penulisan karya tulis. Ketika beliau berpindah di sebuah Kafarbathna, sebuah kampung yang hening terletak di bilangan Ghuthah, Damaskus, beliau menulis banyak karya. Bahkan, beliau berhasil meninggalkan kekayaan ilmiah yang besar dan penuh berkah. Di mana kitab-kitab dan karya tulis beliau mencapai 200 lebih. Yang mencakup ilmu qiraat, hadits, mushthalah hadits, sejarah, biografi, akidah, ushul fiqih, dan lain-lain.

ADZ DZAHABI KEMBALI KEPADA PEMILIKNYA


Setelah mengalami kebutaan lebih dari 4 tahun, beliau meninggalkan dunia ini. Beliau wafat pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H. Dimakamkan di Bab Ash-Shaghir di Damaskus. Banyak dari muridnya menuliskan syair-syair mengenang jasa beliau bagi Islam dan kaum muslimin. Semoga rahmat Allah yang luas untuk beliau. Semoga surga yang luas adalah tempat tinggal beliau. Dan memasukkan kita semua dengan rahmat-Nya ke dalam golongan hamba-Nya yang shalih.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 6 vol.1 1434H/2013M rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini.