Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 238

٧٢ - بَابُ الۡمَاءِ الدَّائِمِ 
72. Bab air yang tidak mengalir 


٢٣٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ قَالَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ هُرۡمُزَ الۡأَعۡرَجَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ). 

[الحديث ٢٣٨ – أطرافه في: ٨٧٦، ٨٩٦، ٢٩٥٦، ٣٤٨٦، ٦٦٢٤، ٦٨٨٧، ٧٠٣٦، ٧٤٩٥]. 

238. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami bahwa ‘Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah: Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) namun paling mendahului (pada hari kiamat).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6541 dan 6542

٥٠ – بَابٌ يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ سَبۡعُونَ أَلۡفًا بِغَيۡرِ حِسَابٍ 
50. Bab tujuh puluh orang akan masuk janah tanpa hisab 


٦٥٤١ - حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ: حَدَّثَنَا حُصَيۡنٌ (ح). وَحَدَّثَنِي أَسِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ حُصَيۡنٍ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ فَقَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (عُرِضَتۡ عَلَىَّ الۡأُمَمُ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡخَمۡسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحۡدَهُ، فَنَظَرۡتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلۡتُ: يَا جِبۡرِيلُ، هَٰؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنِ انۡظُرۡ إِلَى الۡأُفُقِ، فَنَظَرۡتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَٰؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَٰؤُلَاءِ سَبۡعُونَ أَلۡفًا قُدَّامَهُمۡ لَا حِسَابَ عَلَيۡهِمۡ وَلَا عَذَابَ، قُلۡتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكۡتَوُونَ، وَلَا يَسۡتَرۡقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ). فَقَامَ إِلَيۡهِ عُكَّاشَةُ بۡنُ مِحۡصَنٍ فَقَالَ: ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡهُ مِنۡهُمۡ). ثُمَّ قَامَ إِلَيۡهِ رَجُلٌ آخَرُ قَالَ: ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ). [طرفه في: ٣٤١٠]. 

6541. ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami: Hushain menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Asid bin Zaid telah menceritakan kepadaku: Husyaim menceritakan kepada kami dari Hushain. Beliau berkata: Aku pernah berada di dekat Sa’id bin Jubair. Beliau berkata: Ibnu ‘Abbas menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

Umat-umat diperlihatkan kepadaku. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada banyak pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada beberapa pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada sepuluh pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada lima pengikut. Ada nabi yang berlalu sendirian. 

Lalu aku melihat ada kerumunan orang banyak. Aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah mereka ini umatku?” 

Jibril menjawab, “Tidak, akan tetapi lihatlah ke ufuk.” 

Aku pun melihat ternyata ada kerumunan banyak orang. 

Jibril berkata, “Mereka ini adalah umatmu dan mereka ini ada tujuh puluh ribu orang di depan mereka yang tidak dihisab dan tidak diazab.” 

Aku bertanya, “Mengapa?” 

Jibril menjawab, “Mereka tidak melakukan kay (pengobatan dengan menempelkan besi panas), tidak minta di-ruqyah, tidak melakukan tathayyur (menganggap sial dengan sesuatu yang dilihat, didengar, atau lainnya), dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” 

‘Ukkasyah bin Mihshan bangkit menghadap beliau seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka.” 

Nabi berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk mereka.” 

Kemudian ada seorang pria lain yang bangkit menghadap beliau seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka.” 

Nabi bersabda, “’Ukkasyah telah mendahuluimu.” 

٦٥٤٢ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ أَسَدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ حَدَّثَهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (يَدۡخُلُ مِنۡ أُمَّتِي زُمۡرَةٌ هُمۡ سَبۡعُونَ أَلۡفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمۡ إِضَاءَةَ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ). وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: فَقَامَ عُكَّاشَةُ بۡنُ مِحۡصَنٍ الۡأَسَدِيُّ يَرۡفَعُ نَمِرَةً عَلَيۡهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡهُ مِنۡهُمۡ). ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، فَقَالَ: (سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ). [طرفه في: ٥٨١١]. 

6542. Mu’adz bin Asad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Sa’id bin Al-Musayyab menceritakan kepadaku bahwa Abu Hurairah menceritakan kepadanya. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk (janah) serombongan orang dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan di malam purnama.” 

Abu Hurairah mengatakan: ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi bangkit seraya mengangkat pakaian namirah (pakaian dari wol yang bermotif garis berwarna putih, hitam, dan merah) yang dia kenakan sembari berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk mereka.” 

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk mereka.” 

Kemudian ada seorang pria Ansar bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk mereka.” 

Rasulullah bersabda, “’Ukkasyah telah mendahuluimu.”

Syafaat

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitab Lum'at Al-I'tiqad berkata:

وَيَشۡفَعُ نَبِيُّنَا ﷺ فِيمَنۡ دَخَلَ النَّارَ مِنۡ أُمَّتِهِ مِنۡ أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ فَيَخۡرُجُونَ بِشَفَاعَتِهِ بَعۡدَ مَا احۡتَرَقُوا وَصَارُوا فَحۡمًا وَحُمَمًا، فَيَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ بِشَفَاعَتِهِ. 

وَلِسَائِرِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمَلَائِكَةِ شَفَاعَاتٌ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ﴾ [الأنبياء: ٢٨]. 

وَلَا تَنۡفَعُ الۡكَافِرَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ. 

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka di antara umatnya dari kalangan para pelaku dosa besar sehingga mereka keluar dengan sebab syafaat beliau setelah mereka dibakar dan menjadi arang. Maka mereka pun masuk janah dengan sebab syafaat beliau. 

Begitu pula seluruh para nabi, kaum mukminin, dan para malaikat bisa memberi syafaat. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya`: 28). 

Namun syafaat dari para pemberi syafaat tidak bermanfaat bagi orang kafir.[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:

[1] الشَّفَاعَةُ: 

الشَّفَاعَةُ لُغَةً: جَعۡلُ الۡوِتۡرِ شَفۡعًا. 

وَاصۡطِلَاحًا: التَّوَسُّطُ لِلۡغَيۡرِ بِجَلۡبِ مَنۡفَعَةٍ أَوۡ دَفۡعِ مَضَرَّةٍ. 

وَالشَّفَاعَةُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ نَوۡعَانِ: خَاصَّةٌ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَعَامَّةٌ لَهُ وَلِغَيۡرِهِ. 

Syafaat


Syafaat secara bahasa adalah membuat yang ganjil menjadi genap. Secara istilah artinya adalah mengantarai yang lain untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu mudarat. 

Syafaat pada hari kiamat ada dua jenis, yaitu yang khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umum bagi beliau dan selain beliau. 

فَالۡخَاصَّةُ بِهِ ﷺ: شَفَاعَةُ الۡعُظۡمَى فِي أَهۡلِ الۡمَوۡقِفِ عِنۡدَ اللهِ لِيُقۡضَى بَيۡنَهُمۡ حِينَ يَلۡحَقُهُمۡ مِنَ الۡكَرۡبِ وَالۡغَمِّ مَا لَا يُطِيقُونَ، فَيَذۡهَبُونَ إِلَى آدَمَ فَنُوحٍ فَإِبۡرَاهِيمَ فَمُوسَى فَعِيسَى وَكُلُّهُمۡ يَعۡتَذِرُونَ، فَيَأۡتُونَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَيَشۡفَعُ فِيهِمۡ إِلَى اللهِ، فَيَأۡتِي سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لِلۡقَضَاءِ بَيۡنَ عِبَادِهِ. 

Syafaat khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat al-‘uzhma (teragung) terhadap orang-orang di maukif (padang mahsyar) di sisi Allah agar perkara di antara mereka diputuskan ketika mereka tertimpa kepayahan dan kesulitan yang sudah tidak bisa mereka tanggung. Mereka pergi kepada Adam, lalu Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa. Namun mereka semua uzur. Maka orang-orang pun datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun mengajukan syafaat bagi mereka kepada Allah. Lalu Allah subhanahu wa taala datang untuk memberi keputusan di antara para hamba-Nya. 

وَقَدۡ ذُكِرَتۡ هَٰذِهِ الصِّفَةُ فِي حَدِيثِ الصُّورِ الۡمَشۡهُورِ، لَكِنۡ سَنَدُهُ ضَعِيفٌ مَتُكَلَّمٌ فِيهِ، وَحُذِفَتۡ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فَاقَتۡصَرَ مِنۡهَا عَلَى ذِكۡرِ الشَّفَاعَةِ فِي أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ. 

قَالَ ابۡنُ كَثِيرٍ وَشَارِحُ الطَّحَاوِيَّةِ: وَكَانَ مَقۡصُودُ السَّلَفِ مِنَ الۡاقۡتِصَارِ عَلَى الشَّفَاعَةِ فِي أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ هُوَ الرَّدُّ عَلَى الۡخَوَارِجِ وَمَنۡ تَابَعَهُمۡ مِنَ الۡمُعۡتَزِلَةِ. 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ لَا يُنۡكِرُهَا الۡمُعۡتَزِلَةُ وَالۡخَوَارِجُ، وَيُشۡتَرَطُ فِيهَا إِذۡنُ اللهِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]. 

Sifat syafaat al-‘uzhma ini disebutkan di dalam hadis sangkakala yang masyhur namun sanadnya daif yang ada pembicaraan padanya. Adapun hadis-hadis yang sahih tidak disebutkan di sini. Penulis mencukupkan dengan menyebutkan syafaat untuk pelaku dosa-dosa besar. 

Ibnu Katsir dan pensyarah kitab Ath-Thahawiyyah berkata: Maksud ulama salaf dari mencukupkan hanya menyebutkan syafaat untuk pelaku dosa besar sebagai bantahan terhadap Khawarij dan yang mengikuti mereka dari kalangan Mu’tazilah. 

Adapun syafaat al-‘uzhma tidak diingkari oleh kelompok Mu’tazilah dan Khawarij. Syafaat ini dipersyaratkan adanya izin Allah, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255). 

النَّوۡعُ الثَّانِي: الۡعَامَّةُ: وَهِيَ الشَّفَاعَةُ فِيمَنۡ دَخَلَ النَّارَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ أَنۡ يَخۡرُجُوا مِنۡهَا بَعۡدَمَا احۡتَرَقُوا وَصَارُوا فَحۡمًا وَحُمَمًا. لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا أَهۡلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمۡ أَهۡلُهَا فَلَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحۡيَوۡنَ وَلَكِنۡ أُنَاسٌ – أَوۡ كَمَا قَالَ – تُصِيبُهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمۡ – أَوۡ قَالَ بِخَطَايَاهُمۡ – فَيُمِيتُهُمۡ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا صَارُوا فَحۡمًا أُذِنَ فِي الشَّفَاعَةِ..) الۡحَدِيثُ رَوَاهُ أَحۡمَدُ. 

Jenis kedua adalah syafaat yang umum. Yaitu syafaat bagi siapa saja yang telah masuk neraka dari kalangan kaum mukminin pelaku dosa-dosa besar sehingga bisa keluar darinya setelah mereka dibakar dan menjadi arang. Berdasarkan hadis Abu Sa’id. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun penghuni neraka yang mereka tinggal di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak pula hidup. Tetapi ada orang-orang yang masuk ke dalam neraka karena dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan mereka. Allah akan mematikan mereka sehingga ketika mereka telah menjadi arang, Allah izinkan mendapat syafaat…” (HR. Ahmad). 

قَالَ ابۡنُ كَثِيرٍ فِي النِّهَايَةِ (٢/٢٠٤): وَهَٰذَا إِسۡنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرۡطِ الشَّيۡخَيۡنِ وَلَمۡ يُخۡرِجَاهُ مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ تَكُونَ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَغَيۡرِهِ مِنَ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡمَلَائِكَةِ وَالۡمُؤۡمِنِينَ لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَفِيهِ: (فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى شَفَعَتِ الۡمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الۡمُؤۡمِنُونَ وَلَمۡ يَبۡقَ إِلَّا أَرۡحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقۡبِضُ قَبۡضَةً مِنَ النَّارِ فَيَخۡرُجُ مِنۡهَا قَوۡمًا لَمۡ يَعۡمَلُوا خَيۡرًا قَطُّ قَدۡ عَادُوا حُمَمًا). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ. 

Ibnu Katsir di dalam kitab An-Nihayah (2/204) berkata, “Hadis ini sanadnya sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya dari jalur ini.” 

Syafaat ini bisa dimiliki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau dari kalangan para nabi, malaikat, dan kaum mukminin berdasarkan hadis Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya disebutkan, “Allah taala berkata: Para malaikat telah memberi syafaat, para nabi telah memberi syafaat, kaum mukminin telah memberi syafaat. Tidak ada yang tersisa, kecuali syafaat Allah yang Maha Penyayang. Lalu Allah menggenggam satu genggaman dari neraka, sehingga keluar darinya suatu kaum yang belum beramal satu kebaikan sama sekali dalam keadaan mereka telah menjadi arang.” (HR. Al-Bukhari nomor 7439 dan Muslim nomor 183). 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ يُنۡكِرُهَا الۡمُعۡتَزِلَةُ وَالۡخَوَارِجُ بِنَاءً عَلَى مَذۡهَبِهِمۡ: أَنَّ فَاعِلَ الۡكَبِيرَةِ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ فَلَا تَنۡفَعُهُ الشَّفَاعَةُ. 

وَنَرُدُّ عَلَيۡهِمۡ بِمَا يَأۡتِي: 

١ – أَنَّ ذٰلِكَ مُخَالِفٌ لِلۡمُتَوَاتِرِ مِنَ الۡأَحَادِيثِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. 

٢ – أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِإِجۡمَاعِ السَّلَفِ. 

Syafaat ini diingkari oleh Mu’tazilah dan Khawarij berdasarkan mazhab mereka bahwa pelaku dosa besar dikekalkan di dalam neraka, sehingga syafaat tidak bermanfaat untuknya. 

Kita membantah mereka dengan alasan berikut: 
  1. Bahwa hal itu menyelisihi hadis yang mutawatir (banyak jalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hal itu menyelisihi ijmak ulama salaf. 

وَيُشۡتَرَطُ لِهَٰذِهِ الشَّفَاعَةِ شَرۡطَانِ: 

الۡأَوَّلُ: إِذۡنُ اللهِ فِي الشَّفَاعَةِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]. 

الثَّانِي: رِضَا اللهِ عَنِ الشَّافِعِ وَالۡمَشۡفُوعِ لَهُ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارۡتَضَىٰ﴾ [الأنبياء: ٢٨]، فَأَمَّا الۡكَافِرُ فَلَا شَفَاعَةَ لَهُ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَمَا تَنۡفَعُهُمۡ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ﴾ [المدثر: ٤٨] أَيۡ: لَوۡ فُرِضَ أَنَّ أَحَدًا شَفَعَ لَهُمۡ لَمۡ تَنۡفَعۡهُمُ الشَّفَاعَةُ. 

Dua syarat disyaratkan untuk syafaat ini: 
  1. Izin Allah terhadap syafaat tersebut, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255). 
  2. Keridaan Allah terhadap pemberi syafaat dan yang disyafaati, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Mereka tidak dapat memberi syafaat kecuali kepada siapa saja yang telah Allah ridai.” (QS. Al-Anbiya`: 28). Adapun orang kafir, maka tidak ada syafaat untuknya, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Maka tidak ada syafaat dari pemberi syafaat yang bermanfaat untuk mereka.” (QS. Al-Muddatstsir: 48). Yaitu andai ditetapkan ada seseorang yang memberi syafaat untuk mereka, niscaya syafaat itu tidak dapat memberi manfaat untuk mereka. 

وَأَمَّا شَفَاعَةُ النَّبِيِّ ﷺ لِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ حَتَّى كَانَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ وَعَلَيۡهِ نَعۡلَانِ يُغۡلَى مِنۡهُمَا دِمَاغُهُ وَإِنَّهُ لَأَهۡوَنُ أَهۡلِ النَّارِ عَذَابًا. 

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَلَوۡ لَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرۡكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ. 

فَهَٰذَا خَاصٌّ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَبِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ فَقَطۡ وَذٰلِكَ وَاللهُ أَعۡلَمُ لِمَا قَامَ بِهِ مِنۡ نُصۡرَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَالدِّفَاعِ عَنۡهُ، وَعَمَّا جَاءَ بِهِ. 

Adapun syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya, yaitu Abu Thalib, hingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, memakai sepasang sandal yang membuat otaknya mendidih, dan dia merupakan penduduk neraka yang paling ringan azabnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai bukan karenaku, niscaya dia berada di kerak neraka paling bawah.” (HR. Al-Bukhari nomor 3883, 6208, dan Muslim nomor 209). 

Ini syafaat khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya—Abu Thalib—saja. Hal itu—wallahualam—karena perbuatan dia berupa pertolongan dan pembelaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama yang beliau bawa. 

Shahih Muslim hadits nomor 209

٩٠ - بَابُ شَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ لِأَبِي طَالِبٍ وَالتَّخۡفِيفِ عَنۡهُ بِسَبَبِهِ

90. Bab syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib dan peringanan azab untuk Abu Thalib dengan sebab beliau


٣٥٧ – (٢٠٩) - وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ الۡقَوَارِيرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرِ الۡمُقَدَّمِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ الۡأُمَوِيُّ، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ، عَنِ الۡعَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ: أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ نَفَعۡتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَىۡءٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغۡضَبُ لَكَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، هُوَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ. وَلَوۡلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرۡكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ).


357. (209). ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawariri, Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami, dan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Umawi telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, bahwa beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah memberi suatu manfaat kepada Abu Thalib? Sesungguhnya dia dahulu melindungimu dan marah karena kepentinganmu.”

Rasulullah menjawab, “Iya. Dia berada di api neraka yang dangkal. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka yang paling bawah.”

٣٥٨ – (...) - حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ قَالَ: سَمِعۡتُ الۡعَبَّاسَ يَقُولُ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَنۡصُرُكَ، فَهَلۡ نَفَعَهُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، وَجَدۡتُهُ فِي غَمَرَاتٍ مِنَ النَّارِ فَأَخۡرَجۡتُهُ إِلَى ضَحۡضَاحٍ).

358. Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Abdullah bin Al-Harits. Beliau berkata: Aku mendengar Al-‘Abbas mengatakan:

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Thalib dahulu melindungi dan menolongmu. Apakah engkau hal itu bermanfaat untuknya?”

Rasulullah menjawab, “Iya. Aku mendapatinya tenggelam di dalam api neraka, lalu aku mengeluarkannya ke tempat yang dangkal.”

٣٥٩ – (...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡحَارِثِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡعَبَّاسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِنَحۡوِ حَدِيثِ أَبِي عَوَانَةَ.

359. Muhammad bin Hatim telah menceritakannya kepadaku: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Sufyan. Beliau berkata: ‘Abdul Malik bin ‘Umair menceritakan kepadaku. Beliau berkata: ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib mengabarkan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan melalui sanad ini, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Abu ‘Awanah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4685

٤ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَيَقُولُ الۡأَشۡهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمۡ أَلَا لَعۡنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾ ۝١٨ 
4. Bab firman Allah yang artinya, “Dan para saksi akan berkata: Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18) 


وَاحِدُ الۡأَشۡهَادِ شَاهِدٌ، مِثۡلُ: صَاحِبٍ وَأَصۡحَابٍ. 

Bentuk tunggal dari asyhad adalah syahid semisal shahib dan ashhab

٤٦٨٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ وَهِشَامٌ قَالَا: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ قَالَ: بَيۡنَا ابۡنُ عُمَرَ يَطُوفُ، إِذۡ عَرَضَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ ـ أَوۡ قَالَ: يَا ابۡنَ عُمَرَ ـ سَمِعۡتَ النَّبِيَّ ﷺ فِي النَّجۡوَى؟ فَقَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (يُدۡنَى الۡمُؤۡمِنُ مِنۡ رَبِّهِ ـ وَقَالَ هِشَامٌ: يَدۡنُو الۡمُؤۡمِنُ ـ حَتَّى يَضَعَ عَلَيۡهِ كَنَفَهُ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، تَعۡرِفُ ذَنۡبَ كَذَا؟ يَقُولُ: أَعۡرِفُ، يَقُولُ: رَبِّ أَعۡرِفُ، مَرَّتَيۡنِ، فَيَقُولُ: سَتَرۡتُهَا فِي الدُّنۡيَا، وَأَغۡفِرُهَا لَكَ الۡيَوۡمَ، ثُمَّ تُطۡوَى صَحِيفَةُ حَسَنَاتِهِ. وَأَمَّا الۡآخَرُونَ أَوِ الۡكُفَّارُ، فَيُنَادَى عَلَى رُؤُسِ الۡأَشۡهَادِ: ﴿هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمۡ﴾. 

وَقَالَ شَيۡبَانُ، عَنۡ قَتَادَةَ: حَدَّثَنَا صَفۡوَانُ. [طرفه في: ٢٤٤١]. 

4685. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id dan Hisyam menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Qatadah menceritakan kepada kami dari Shafwan bin Muhriz. Beliau berkata: Ketika Ibnu ‘Umar sedang tawaf, tiba-tiba ada seorang pria menghadap seraya bertanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman—atau dia berkata: Wahai Ibnu ‘Umar—apakah engkau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembicaraan rahasia? 

Ibnu ‘Umar menjawab: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin akan didekatkan dengan Rabb-nya—Hisyam berkata: Seorang mukmin akan mendekat—hingga Allah meletakkan tabir-Nya, lalu Allah membuat dia mengakui dosa-dosanya. Apakah engkau mengenali dosa ini? Mukmin itu menjawab: Aku mengenalinya. Mukmin itu berkata: Wahai Rabb-ku, aku mengenalinya. Dua kali. Lalu Allah berkata: Aku telah menutupinya di dunia dan aku mengampuni dosa itu untukmu pada hari ini. Kemudian ia diberi lipatan lembaran catatan kebaikannya. Adapun selain mukmin, yaitu orang-orang kafir, maka dia akan diseru di hadapan para saksi: Mereka ini adalah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” 

Syaiban berkata dari Qatadah: Shafwan menceritakan kepada kami.