Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4583

١٠ – بَابُ ﴿وَإِنۡ كُنۡتُمۡ مَرۡضَى أَوۡ عَلَى سَفَرٍ أَوۡ جَاءَ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ مِنَ الۡغَائِطِ﴾ ۝٤٣
10. Bab “Jika kalian sakit atau sedang safar atau salah seorang dari kalian datang dari tempat buang air” (QS. An-Nisa`: 43)


﴿صَعِيدًا﴾ [٤٣] وَجۡهَ الۡأَرۡضِ.

وَقَالَ جَابِرٌ: كَانَتِ الطَّوَاغِيتُ الَّتِي يَتَحَاكَمُونَ إِلَيۡهَا: فِي جُهَيۡنَةَ وَاحِدٌ، وَفِي أَسۡلَمَ وَاحِدٌ، وَفِي كُلِّ حَيٍّ وَاحِدٌ، كُهَّانٌ يَنۡزِلُ عَلَيۡهِمُ الشَّيۡطَانُ.

وَقَالَ عُمَرُ: الۡجِبۡتُ السِّحۡرُ، وَالطَّاغُوتُ الشَّيۡطَانُ.

وَقَالَ عِكۡرِمَةُ: الۡجِبۡتُ بِلِسَانِ الۡحَبَشَةِ شَيۡطَانٌ، وَالطَّاغُوتُ الۡكَاهِنُ.

Sha’iidan” (QS. An-Nisa`: 43) artinya tanah di permukaan bumi.

Jabir berkata, “Tagut-tagut yang dahulu mereka berhakim kepadanya: di kabilah Juhainah ada satu, di kabilah Aslam ada satu, di setiap kampung ada satu; mereka adalah dukun-dukun yang setan-setan turun kepada mereka.”

‘Umar berkata, “Jibt adalah sihir dan tagut adalah setan.”

‘Ikrimah berkata, “Jibt menurut bahasa Habasyah adalah setan dan tagut adalah dukun.”

٤٥٨٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدَةُ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: هَلَكَتۡ قِلَادَةٌ لِأَسۡمَاءَ، فَبَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ فِي طَلَبِهَا رِجَالًا، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، وَلَيۡسُوا عَلَى وُضُوءٍ، وَلَمۡ يَجِدُوا مَاءً، فَصَلَّوۡا وَهُمۡ عَلَى غَيۡرِ وُضُوءٍ، فَأَنۡزَلَ اللهُ، يَعۡنِي: آيَةَ التَّيَمُّمِ. [طرفه في: ٣٣٤].

4583. Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan: Seuntai kalung milik Asma` hilang (dalam perjalanan). Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus beberapa orang untuk mencarinya. Waktu salat datang dalam keadaan mereka belum berwudu dan mereka tidak mendapati air. Lalu mereka salat dalam keadaan tidak berwudu. Lalu Allah menurunkan ayat tayamum.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3773

٣٧٧٣ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّهَا اسۡتَعَارَتۡ مِنۡ أَسۡمَاءَ قِلَادَةً فَهَلَكَتۡ، فَأَرۡسَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِهِ فِي طَلَبِهَا، فَأَدۡرَكَتۡهُمُ الصَّلَاةُ فَصَلَّوۡا بِغَيۡرِ وُضُوءٍ، فَلَمَّا أَتَوُا النَّبِيَّ ﷺ شَكَوۡا ذٰلِكَ إِلَيۡهِ، فَنَزَلَتۡ آيَةُ التَّيَمُّمِ، فَقَالَ أُسَيۡدُ بۡنُ حُضَيۡرٍ: جَزَاكِ اللهُ خَيۡرًا، فَوَاللهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمۡرٌ قَطُّ إِلَّا جَعَلَ اللهُ لَكِ مِنۡهُ مَخۡرَجًا وَجَعَلَ لِلۡمُسۡلِمِينَ فِيهِ بَرَكَةً.

[طرفه في: ٣٣٤].

3773. ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

Bahwa beliau meminjam sebuah kalung dari Asma`, lalu kalung tersebut hilang (dalam perjalanan). Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus sebagian sahabatnya untuk mencarinya. Mereka memasuki waktu salat, lalu mereka salat tanpa wudu (karena tidak ada air). Ketika mereka kembali mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mereka mengadukan hal itu kepada beliau. Kemudian ayat tayamum turun.

Usaid bin Hudhair berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Demi Allah, tidak pernah sama sekali ada perkara yang turun mengenai engkau kecuali Allah menjadikan jalan keluar darinya untukmu dan Allah menjadikan keberkahan padanya untuk kaum muslimin.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3672

٣٦٧٢ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا أَنَّهَا قَالَتۡ: خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي بَعۡضِ أَسۡفَارِهِ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالۡبَيۡدَاءِ، أَوۡ بِذَاتِ الۡجَيۡشِ، انۡقَطَعَ عِقۡدٌ لِي، فَأَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى الۡتِمَاسِهِ، وَأَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، وَلَيۡسُوا عَلَى مَاءٍ، وَلَيۡسَ مَعَهُمۡ مَاءٌ، فَأَتَى النَّاسُ أَبَا بَكۡرٍ، فَقَالُوا: أَلَا تَرَى مَا صَنَعَتۡ عَائِشَةُ، أَقَامَتۡ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ وَبِالنَّاسِ مَعَهُ، وَلَيۡسُوا عَلَى مَاءٍ، وَلَيۡسَ مَعَهُمۡ مَاءٌ، فَجَاءَ أَبُو بَكۡرٍ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ وَاضِعٌ رَأۡسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدۡ نَامَ، فَقَالَ: حَبَسۡتِ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَالنَّاسَ، وَلَيۡسُوا عَلَى مَاءٍ، وَلَيۡسَ مَعَهُمۡ مَاءٌ، قَالَتۡ: فَعَاتَبَنِي، وَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ أَنۡ يَقُولَ، وَجَعَلَ يَطۡعُنُنِي بِيَدِهِ فِي خَاصِرَتِي. فَلَا يَمۡنَعُنِي مِنَ التَّحَرُّكِ إِلَّا مَكَانُ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى فَخِذِي، فَنَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى أَصۡبَحَ عَلَى غَيۡرِ مَاءٍ، فَأَنۡزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَتَيَمَّمُوا، فَقَالَ أُسَيۡدُ بۡنُ الۡحُضَيۡرِ: مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمۡ يَا آلَ أَبِي بَكۡرٍ، فَقَالَتۡ عَائِشَةُ: فَبَعَثۡنَا الۡبَعِيرَ الَّذِي كُنۡتُ عَلَيۡهِ، فَوَجَدۡنَا الۡعِقۡدَ تَحۡتَهُ. [طرفه في: ٣٣٤].

3672. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—bahwa beliau berkata:

Kami pernah keluar bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam salah satu safarnya. Hingga ketika kami berada di Al-Baida` atau Dzat Al-Jaisy, kalungku terputus. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berhenti dari safarnya untuk mencarinya. Begitu juga orang-orang berhenti dari safarnya bersama beliau dalam keadaan mereka di tempat yang tidak ada air dan tidak membawa air.

Lalu orang-orang mendatangi Abu Bakr seraya berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang diperbuat ‘Aisyah? Dia membuat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan orang-orang menghentikan safarnya dalam keadaan di tempat yang tidak ada air dan mereka tidak membawa air.”

Abu Bakr datang ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang meletakkan kepalanya di atas pahaku dalam keadaan telah tertidur. Abu Bakr berkata, “Engkau telah menahan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kaum muslimin padahal mereka di tempat yang tidak ada air dan mereka tidak membawa air.”

‘Aisyah berkata: Abu Bakr memarahiku dan mengucapkan ucapan yang Allah kehendaki. Beliau menusukku dengan tangannya di bagian panggulku. Tidak ada yang mencegahku untuk bergerak kecuali keberadaan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di atas pahaku. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidur hingga keesokan harinya tidak ada air. Lalu Allah menurunkan ayat tayamum sehingga merekapun bertayamum.

Usaid bin Al-Khudhair berkata, “Ini bukan keberkahan pertama kalian wahai keluarga Abu Bakr.”

‘Aisyah mengatakan: Kamipun melepas tali tambatan unta yang sebelumnya aku naiki, lalu kami dapati kalung itu ada di bawahnya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 345 dan 346

٧ - بَابٌ إِذَا خَافَ الۡجُنُبُ عَلَى نَفۡسِهِ الۡمَرَضَ أَوِ الۡمَوۡتَ، أَوۡ خَافَ الۡعَطَشَ، تَيَمَّمَ
7. Bab apabila orang yang junub mengkhawatirkan dirinya sakit atau meninggal, atau mengkhawatirkan kehausan, maka dia boleh tayamum


وَيُذۡكَرُ: أَنَّ عَمۡرَو بۡنَ الۡعَاصِ أَجۡنَبَ فِي لَيۡلَةٍ بَارِدَةٍ، فَتَيَمَّمَ وَتَلَا: ﴿وَلَا تَقۡتُلُوا أَنۡفُسَكُمۡ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمًا﴾ [النساء: ٢٩]، فَذَكَرَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَلَمۡ يُعَنِّفۡ.

Disebutkan bahwa ‘Amr bin Al-‘Ash pernah mengalami junub di malam yang dingin, lalu beliau bertayamum dan membaca ayat, “Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian! Sesungguhnya Allah amat menyayangi kalian.” (QS. An-Nisa`: 29). ‘Amr menyebutkan hal itu kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Nabi tidak mencelanya.

٣٤٥ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، هُوَ غُنۡدَرٌ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: قَالَ أَبُو مُوسَى لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ: إِذَا لَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ لَا يُصَلِّي؟ قَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَوۡ رَخَّصۡتُ لَهُمۡ فِي هٰذَا، كَانَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُهُمُ الۡبَرۡدَ قَالَ هٰكَذَا، يَعۡنِي تَيَمَّمَ، وَصَلَّى. قَالَ: قُلۡتُ: فَأَيۡنَ قَوۡلُ عَمَّارٍ لِعُمَرَ؟ قَالَ: إِنِّي لَمۡ أَرَ عُمَرَ قَنِعَ بِقَوۡلِ عَمَّارٍ. [طرفه في: ٣٣٨].

345. Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad, yaitu Ghundar, menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Sulaiman, dari Abu Wa`il. Beliau berkata:

Abu Musa bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, “Apabila seseorang tidak mendapati air, apa boleh dia tidak salat?”

‘Abdullah menjawab, “Kalau aku memberi rukhsah kepada mereka dalam masalah ini, niscaya apabila salah seorang mereka mendapati cuaca yang sangat dingin, dia akan berpendapat demikian, yakni tayamum dan salat.”

Abu Musa berkata: Aku bertanya, “Lalu bagaimana ucapan ‘Ammar kepada ‘Umar?”

‘Abdullah menjawab, “Sesungguhnya aku tidak memandang ‘Umar merasa puas dengan ucapan ‘Ammar.”

٣٤٦ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ قَالَ: سَمِعۡتُ شَقِيقَ بۡنَ سَلَمَةَ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ عَبۡدِ اللهِ وَأَبِي مُوسَى، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: أَرَأَيۡتَ يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، إِذَا أَجۡنَبَ فَلَمۡ يَجِدۡ مَاءً، كَيۡفَ يَصۡنَعُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَا يُصَلِّي حَتَّى يَجِدَ الۡمَاءَ. فَقَالَ أَبُو مُوسَى: فَكَيۡفَ تَصۡنَعُ بِقَوۡلِ عَمَّارٍ، حِينَ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (كَانَ يَكۡفِيكَ؟) قَالَ: أَلَمۡ تَرَ عُمَرَ لَمۡ يَقۡنَعۡ بِذٰلِكَ؟ فَقَالَ أَبُو مُوسَى: فَدَعۡنَا مِنۡ قَوۡلِ عَمَّارٍ، كَيۡفَ تَصۡنَعُ بِهٰذِهِ الۡآيَةِ؟ فَمَا دَرَى عَبۡدُ اللهِ مَا يَقُولُ، فَقَالَ: إِنَّا لَوۡ رَخَّصۡنَا لَهُمۡ فِي هٰذَا، لَأَوۡشَكَ إِذَا بَرُدَ عَلَى أَحَدِهِمُ الۡمَاءَ أَنۡ يَدَعَهُ وَيَتَيَمَّمَ. فَقُلۡتُ لِشَقِيقٍ: فَإِنَّمَا كَرِهَ عَبۡدُ اللهِ لِهٰذَا؟ قَالَ: نَعَمۡ. [طرفه في: ٣٣٨].

346. ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Syaqiq bin Salamah berkata:

Aku pernah berada di dekat ‘Abdullah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya kepada ‘Abdullah, “Apa pendapatmu wahai Abu ‘Abdirrahman, apabila seseorang mengalami junub namun tidak mendapati air, apa yang mesti dia lakukan?”

‘Abdullah menjawab, “Dia tidak salat sampai mendapatkan air.”

Abu Musa berkata, “Lalu apa yang engkau lakukan dengan ucapan ‘Ammar ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, ‘(Tayamum) cukup bagimu.’?”

‘Abdullah berkata, “Tidakkah engkau melihat bahwa ‘Umar tidak merasa puas dengan itu?”

Abu Musa berkata, “Baik. Kita tinggalkan ucapan ‘Ammar. Lalu bagaimana yang engkau lakukan dengan ayat ini?”

‘Abdullah tidak mengetahui sisi pendalilan dari apa yang dia ucapkan, lantas berkata, “Sesungguhnya kalau kami memberi rukhsah kepada mereka dalam masalah ini, kemungkinan besar nanti apabila salah seorang mereka mendapati air yang dingin, dia akan meninggalkannya dan melakukan tayamum.”

Aku (Al-A’masy) bertanya kepada Syaqiq, “Apakah ‘Abdullah membenci (tayamum bagi orang junub) hanya karena alasan ini?”

Syaqiq menjawab, “Iya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 344

٦ - بَابٌ الصَّعِيدُ الطَّيِّبُ وَضُوءُ الۡمُسۡلِمِ يَكۡفِيهِ مِنَ الۡمَاءِ
6. Bab tanah yang bagus adalah alat bersuci seorang muslim yang mencukupinya dari air


وَقَالَ الۡحَسَنُ: يُجۡزِئُهُ التَّيَمُّمُ مَا لَمۡ يُحۡدِثۡ. وَأَمَّ ابۡنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَيَمِّمٌ. وَقَالَ يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ: لَا بَأۡسَ بِالصَّلَاةِ عَلَى السَّبَخَةِ، وَالتَّيَمُّمِ بِهَا.

Al-Hasan berkata, “(Sekali) tayamum sudah mencukupinya selama dia tidak berhadas.”

Ibnu ‘Abbas mengimami dalam keadaan beliau bertayamum.

Yahya bin Sa’id berkata, “Tidak mengapa salat di atas tanah berkadar garam tinggi dan tayamum menggunakannya.”

٣٤٤ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَوۡفٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، عَنۡ عِمۡرَانَ قَالَ: كُنَّا فِي سَفَرٍ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، وَإِنَّا أَسۡرَيۡنَا، حَتَّى كُنَّا فِي آخِرِ اللَّيۡلِ، وَقَعۡنَا وَقۡعَةً، وَلَا وَقۡعَةَ أَحۡلَى عِنۡدَ الۡمُسَافِرِ مِنۡهَا، فَمَا أَيۡقَظَنَا إِلَّا حَرُّ الشَّمۡسِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَنِ اسۡتَيۡقَظَ فُلَانٌ ثُمَّ فُلَانٌ ثُمَّ فُلَانٌ - يُسَمِّيهِمۡ أَبُو رَجَاءٍ فَنَسِيَ عَوۡفٌ - ثُمَّ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ الرَّابِعُ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا نَامَ لَمۡ يُوقَظۡ حَتَّى يَكُونَ هُوَ يَسۡتَيۡقِظُ، لِأَنَّا لَا نَدۡرِي مَا يَحۡدُثُ لَهُ فِي نَوۡمِهِ، فَلَمَّا اسۡتَيۡقَظَ عُمَرُ وَرَأَى مَا أَصَابَ النَّاسَ، وَكَانَ رَجُلًا جَلِيدًا، فَكَبَّرَ وَرَفَعَ صَوۡتَهُ بِالتَّكۡبِيرِ، فَمَا زَالَ يُكَبِّرُ وَيَرۡفَعُ صَوۡتَهُ بِالتَّكۡبِيرِ، حَتَّى اسۡتَيۡقَظَ لِصَوۡتِهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا اسۡتَيۡقَظَ شَكَوۡا إِلَيۡهِ الَّذِي أَصَابَهُمۡ، قَالَ: (لَا ضَيۡرَ - أَوۡ لَا يَضِيرُ – ارۡتَحِلُوا).

344. Musaddad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepadaku. Beliau berkata: ‘Auf menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Raja` menceritakan kepada kami dari ‘Imran. Beliau berkata:

Dahulu kami pernah dalam suatu safar bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Kami melakukan perjalanan di malam hari hingga ketika di akhir malam, kami tertidur. Tidak ada tidur yang lebih nyenyak bagi musafir daripada tidur yang demikian. Tidak ada yang membangunkan kami kecuali panas matahari. Ketika itu, yang pertama bangun adalah si Polan, si Polan, kemudian si Polan. Abu Raja` menyebutkan namanya, namun ‘Auf lupa. Kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab orang keempat yang bangun.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila tidur, tidak ada yang membangunkan beliau sampai beliau sendiri yang bangun karena kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada beliau ketika beliau tidur. Ketika ‘Umar telah bangun dan melihat yang dialami orang-orang—beliau adalah orang yang tegar—lalu beliau bertakbir dan mengeraskan suara takbirnya. Beliau terus bertakbir dan mengeraskan suara takbirnya hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bangun karena suaranya. Ketika beliau telah bangun, mereka mengadukan kejadian yang mereka alami tersebut.

Nabi bersabda, “Tidak masalah. Jalanlah kalian!”

فَارۡتَحَلَ فَسَارَ غَيۡرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ نَزَلَ فَدَعَا بِالۡوَضُوءِ فَتَوَضَّأَ، وَنُودِيَ بِالصَّلَاةِ فَصَلَّى بِالنَّاسِ، فَلَمَّا انۡفَتَلَ مِنۡ صَلَاتِهِ، إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مُعۡتَزِلٍ لَمۡ يُصَلِّ مَعَ الۡقَوۡمِ، قَالَ: (مَا مَنَعَكَ يَا فُلَانُ أَنۡ تُصَلِّيَ مَعَ الۡقَوۡمِ؟) قَالَ: أَصَابَتۡنِي جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ، قَالَ: (عَلَيۡكَ بِالصَّعِيدِ، فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ). ثُمَّ سَارَ النَّبِيُّ ﷺ، فَاشۡتَكَى إِلَيۡهِ النَّاسُ مِنَ الۡعَطَشِ، فَنَزَلَ فَدَعَا فُلَانًا - كَانَ يُسَمِّيهِ أَبُو رَجَاءٍ نَسِيَهُ عَوۡفٌ - وَدَعَا عَلِيًّا فَقَالَ: (اذۡهَبَا فَابۡتَغِيَا الۡمَاءَ). فَانۡطَلَقَا، فَتَلَقَّيَا امۡرَأَةً بَيۡنَ مَزَادَتَيۡنِ، أَوۡ سَطِيحَتَيۡنِ مِنۡ مَاءٍ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا، فَقَالَا لَهَا: أَيۡنَ الۡمَاءُ؟ قَالَتۡ: عَهۡدِي بِالۡمَاءِ أَمۡسِ هٰذِهِ السَّاعَةَ، وَنَفَرُنَا خُلُوفًا، قَالَا لَهَا: انۡطَلِقِي إِذًا، قَالَتۡ: إِلَى أَيۡنَ؟ قَالَا: إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، قَالَتِ: الَّذِي يُقَالُ لَهُ: الصَّابِىءُ؟ قَالَا: هُوَ الَّذِي تَعۡنِينَ، فَانۡطَلِقِي،

Beliau berjalan dan menempuh perjalanan yang tidak jauh kemudian beliau berhenti singgah. Beliau minta air wudu lalu berwudu. Lalu dikumandangkan seruan untuk salat, lalu beliau salat mengimami kaum muslimin. Ketika beliau selesai dari salatnya, ternyata ada seorang pria yang menyendiri tidak ikuti salat bersama kaum muslimin.

Nabi bertanya, “Wahai Polan, apa yang menghalangimu salat bersama kaum muslimin?”

Dia menjawab, “Aku sedang junub, tetapi tidak ada air.”

Nabi bersabda, “Bersucilah dengan tanah karena itu cukup bagimu!”

Kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melanjutkan perjalanan. Orang-orang mengeluh kehausan kepada beliau. Beliau berhenti lalu memanggil si Polan—Abu Raja` menyebutkan namanya namun ‘Auf lupa namanya—dan memanggil ‘Ali. Beliau bersabda, “Pergilah kalian berdua dan carilah air!”

Keduanya pergi. Lalu keduanya berjumpa dengan seorang wanita yang berada di atas untanya di antara kedua kantong air besar. Keduanya bertanya kepada wanita itu, “Dari mana air itu?”

Wanita itu menjawab, “Aku mendapati air ini kemarin di saat seperti sekarang ini, semetara rombongan kami masih di belakang.”

Keduanya berkata, “Kalau begitu, mari berangkat!”

Wanita itu bertanya, “Ke mana?”

Keduanya berkata, “Kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Wanita itu bertanya, “Maksud kalian, orang yang disebut-sebut ash-shabi` (orang yang pindah agama)?”

Keduanya menjawab, “Iya, beliau adalah orang yang engkau maksud. Berangkatlah!”

فَجَاءَا بِهَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَحَدَّثَاهُ الۡحَدِيثَ، قَالَ: فَاسۡتَنۡزَلُوهَا عَنۡ بَعِيرِهَا، وَدَعَا النَّبِيُّ ﷺ بِإِنَاءٍ، فَفَرَّغَ فِيهِ مِنۡ أَفۡوَاهِ الۡمَزَادَتَيۡنِ، أَوِ السَّطِيحَتَيۡنِ، وَأَوۡكَأَ أَفۡوَاهَهُمَا، وَأَطۡلَقَ الۡعَزَالِيَ، وَنُودِيَ فِي النَّاسِ: اسۡقُوا وَاسۡتَقُوا، فَسَقَى مَنۡ شَاءَ، وَاسۡتَقَى مَنۡ شَاءَ، وَكَانَ آخِرَ ذَاكَ أَنۡ أَعۡطَى الَّذِي أَصَابَتۡهُ الۡجَنَابَةُ إِنَاءً مِنۡ مَاءٍ، قَالَ: (اذۡهَبۡ فَأَفۡرِغۡهُ عَلَيۡكَ). وَهِيَ قَائِمَةٌ تَنۡظُرُ إِلَى مَا يُفۡعَلُ بِمَائِهَا، وَايۡمُ اللهِ لَقَدۡ أُقۡلِعَ عَنۡهَا وَإِنَّهُ لَيُخَيَّلُ إِلَيۡنَا أَنَّهَا أَشَدُّ مِلۡأَةً مِنۡهَا حِينَ ابۡتَدَأَ فِيهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اجۡمَعُوا لَهَا). فَجَمَعُوا لَهَا مِنۡ بَيۡنِ عَجۡوَةٍ وَدَقِيقَةٍ وَسَوِيقَةٍ، حَتَّى جَمَعُوا لَهَا طَعَامًا، فَجَعَلُوهَا فِي ثَوۡبٍ، وَحَمَلُوهَا عَلَى بَعِيرِهَا، وَوَضَعُوا الثَّوۡبَ بَيۡنَ يَدَيۡهَا، قَالَ لَهَا: (تَعۡلَمِينَ، مَا رَزِئۡنَا مِنۡ مَائِكِ شَيۡئًا، وَلَكِنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي أَسۡقَانَا).

Kedua sahabat itu datang bersama wanita itu kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan keduanya menceritakan kisahnya. Nabi bersabda, “Mintalah dia untuk turun dari untanya!”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta sebuah bejana lalu menuangkan kedua kantong besar itu ke dalam bejana itu. Beliau mengikat mulut kedua kantong itu dan membuka lubang bawahnya. Orang-orang dipanggil, “Ambillah air ini untuk kalian dan hewan-hewan kalian!”

Hingga semua orang yang ingin bisa memberi minum hewan-hewannya dan semua orang yang ingin bisa menggunakan air itu. Yang terakhir, beliau memberikan satu bejana air kepada orang yang sedang junub tadi. Beliau bersabda, “Pergilah dan guyurkan air ini ke tubuhmu!”

Sementara wanita tadi berdiri memandang apa yang diperbuat dengan airnya. Demi Allah, ketika kantong air itu sudah tidak diperlukan, kantong tersebut terlihat lebih penuh daripada ketika awal mulanya. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kumpulkanlah sesuatu untuk wanita itu!”

Para sahabat ada yang mengumpulkan kurma ‘ajwah, tepung, dan gandum hingga mereka mengumpulkan bahan-bahan makanan untuk dia. Lalu mereka membungkusnya dalam selembar kain dan memikulkannya ke atas untanya. Mereka meletakkan bungkusan kain itu di depannya.

Nabi bersabda kepadanya, “Ketahuilah! Kami tidak mengurangi airmu sedikit saja. Akan tetapi Allahlah yang memberi air kepada kami.”

فَأَتَتۡ أَهۡلَهَا وَقَدِ احۡتَبَسَتۡ عَنۡهُمۡ، قَالُوا: مَا حَبَسَكِ يَا فُلَانَةُ؟ قَالَتِ: الۡعَجَبُ، لَقِيَنِي رَجُلَانِ، فَذَهَبَا بِي إِلَى هٰذَا الَّذِي يُقَالُ لَهُ الصَّابِىءُ، فَفَعَلَ كَذَا وَكَذَا، فَوَاللهِ، إِنَّهُ لَأَسۡحَرُ النَّاسِ مِنۡ بَيۡنِ هٰذِهِ وَهٰذِهِ - وَقَالَتۡ بِإِصۡبَعَيۡهَا الۡوُسۡطَى وَالسَّبَّابَةِ، فَرَفَعَتۡهُمَا إِلَى السَّمَاءِ تَعۡنِي: السَّمَاءَ وَالۡأَرۡضَ - أَوۡ إِنَّهُ لَرَسُولُ اللهِ حَقًّا. فَكَانَ الۡمُسۡلِمُونَ بَعۡدَ ذٰلِكَ يُغِيرُونَ عَلَى مَنۡ حَوۡلَهَا مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، وَلَا يُصِيبُونَ الصِّرۡمَ الَّذِي هِيَ مِنۡهُ، فَقَالَتۡ يَوۡمًا لِقَوۡمِهَا: مَا أُرَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الۡقَوۡمَ يَدَعُونَكُمۡ عَمۡدًا، فَهَلۡ لَكُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ؟ فَأَطَاعُوهَا فَدَخَلُوا فِي الۡإِسۡلَامِ. [الحديث ٣٤٤ - طرفاه في: ٣٤٨، ٣٥٧١].

Wanita itu menemui keluarganya dalam keadaan dia sudah terlambat. Keluarganya bertanya, “Apa yang menahanmu, wahai Fulanah?”

Wanita itu menjawab, “Keajaiban. Dua orang berjumpa denganku lalu keduanya membawaku pergi menemui orang yang disebut-sebut dengan ash-shabi` lalu dia melakukan ini dan itu. Demi Allah, dia adalah orang yang paling pandai menyihir di antara ini dengan ini.” Wanita itu memberi isyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya lalu mengangkatnya ke langit. Yang dia maksud adalah antara langit dengan bumi. “Atau kalau bukan, berarti dia benar-benar seorang utusan Allah.”

Setelah kejadian itu, kaum muslimin menyerang orang-orang musyrik yang berada di sekitar tempat wanita itu dan mereka tidak menyerang kampung tempat wanita itu. Pada suatu hari, wanita itu berkata kepada kaumnya, “Aku yakin mereka membiarkan (tidak menyerang) kalian karena ada maksud tertentu. Apakah kalian memiliki keinginan untuk masuk Islam?”

Lalu kaumnya menuruti wanita itu dan merekapun memeluk agama Islam.