Cari Blog Ini

Syarh Al-Ushulus Sittah - Pondasi Kedua (3)

ثُمَّ صَارَ الۡأَمۡرُ إِلَى أَنَّ الۡافۡتِرَاقَ فِي أُصُولِ الدِّينِ وَفُرُوعِهِ هُوَ الۡعِلۡمُ وَالۡفِقۡهُ فِي الدِّينِ.
Kemudian keadaan berubah sehingga perpecahan di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama dianggap sebagai ilmu dan fiqih dalam agama.[1]
وَصَارَ الۡأَمۡرُ بِالۡاجۡتِمَاعِ لَا يَقُولُهُ إِلَّا زِنۡدِيقٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ.
Dan sehingga tidaklah orang yang memerintahkan untuk bersatu kecuali ia dianggap sebagai orang yang zindiq atau gila.[2]

[1] صَارَ الۡأَمۡرُ مَعَ الۡأَسَفِ عِنۡدَ الۡمُتَأَخِّرِينَ: أَنَّ الۡاخۡتِلَافَ فِي الۡأُصُولِ وَالۡفُرُوعِ هُوَ الۡفِقۡهُ، مَعَ أَنَّ الۡوَاجِبَ الۡعَكۡسُ: أَنَّ الۡاجۡتِمَاعَ هُوَ الۡفِقۡهُ فِي دِينِ اللهِ. 
Sedihnya, keadaan sekarang berubah. Yaitu, bahwa perselisihan di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama dianggap sebagai fikih. Padahal yang wajib adalah kebalikannya. Bahwa persatuan merupakan fikih dalam agama Allah. 
هُمۡ يَقُولُونَ: إِنَّ التَّفَرُّقَ وَإِعۡطَاءَ الۡحُرِّيَّةِ لِلنَّاسِ وَعَدَمَ الۡحَجۡرِ عَلَيۡهِمۡ هٰذَا هُوَ الۡفِقۡهُ. 
وَنَحۡنُ نَقُولُ: الۡفِقۡهُ هُوَ: الۡاجۡتِمَاعُ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ. 
Mereka mengatakan: Sesungguhnya perpecahan, pemberian kebebasan kepada manusia, dan tidak adanya larangan atas mereka itulah fikih. 
Maka kita katakan: Fikih adalah persatuan di atas Kitab Allah dan Sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
وَبَعۡضُهُمۡ يَقُولُ: هٰذَا مِنۡ سَعَةِ الۡإسۡلَامِ أَنَّهُ إِذَا حَرَّمَ عَلَيۡنَا أَحَدٌ شَيۡئًا يَجِدُ مَنۡ يفۡتِي بِحِلِّهِ، اتَّخَذُوا النَّاسَ هُمۡ الۡمُشَرِّعِينَ، فَعَلَى رَأۡيِ هٰؤُلَاءِ إِذَا قَالَ فُلَانٌ: هٰذَا حَلَالٌ، صَارَ حَلَالًا لَنَا وَلَوۡ كَانَ حَرَامًا فِي كِتَابِ اللهِ أَوۡ سُنَّةِ رَسُولِهِ. 
فَنَقُولُ: نَرۡجِعُ إِلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَنۡ شُهِدَ لَهُ بِالۡحَقِّ أَخَذۡنَا بِهِ، وَمَنۡ شُهِدَ عَلَيۡهِ بِالۡخَطَأِ تَرَكۡنَاهُ، هٰذَا هُوَ الۡوَاجِبُ. 
Sebagian mereka berkata: Ini adalah keluasan Islam, yaitu bahwa jika seseorang mengharamkan sesuatu kepada kita dan ada yang berfatwa tentang kehalalan sesuatu itu, maka mereka menjadikan manusia adalah yang membuat syariat. Maka menurut pandangan mereka, jika seseorang berkata: Ini halal, maka jadilah halal meskipun itu haram di dalam Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. 
Maka kita katakan: Kita kembali kepada Kitab Allah. Barangsiapa dipersaksikan dengan kebenaran, maka kita berpegang dengannya. Dan barangsiapa nyata salahnya, kita tinggalkan. Inilah yang wajib. 
[2] الَّذِي يَأۡمُرُ بِالۡاجۡتِمَاعِ وَتَرۡكِ الۡخِلَافِ يَقُولُونَ عَنۡهُ: هٰذَا خَارِجٌ عَلَى الۡأُمَّةِ، هٰذَا زِنۡدِيقٌ؛ لِأَنَّهُ يُلۡغِي أَقۡوَالَ الۡعُلَمَاءِ، فَنَحۡنُ لَا نُلۡغِي أَقۡوَالَ الۡعُلَمَاءِ، إِنَّمَا نُعۡرِضُهَا عَلَى كِتَابِ اللهِ، نَحۡنُ لَمۡ نُكَلَّفۡ بِاتِّبَاعِ النَّاسِ، إِنَّمَا أُمِرۡنَا بِاتِّبَاعِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، هٰذَا هُوَ الۡحَقُّ، مَا أُمِرۡنَا بِاتِّبَاعِ فُلَانٍ وَفُلَانٍ، وَاللهُ تَعَالَى لَمۡ يَكِلۡنَا إِلَى آرَائِنَا وَاجۡتِهَادَاتِنَا، بَلۡ أَنۡزَلَ عَلَيۡنَا كِتَابَهُ وَأَرۡسَلَ إِلَيۡنَا رَسُولَهُ، وَإِذَا رَجَعۡنَا إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ زَالَ الشِّقَاقُ وَزَالَ الۡاخۡتِلَافُ وَاجۡتَمَعَتِ الۡكَلِمَةُ. 
Orang yang memerintahkan untuk bersatu dan meninggalkan perselisihan akan dikatakan bahwa orang ini keluar dari ajarannya, orang ini zindiq, karena ia meninggalkan ucapan para ulama. 
Sesungguhnya kami tidak meninggalkan ucapan para ulama. Kami hanya menyodorkan kepada Kitab Allah, kami tidak dibebani untuk mengikuti manusia. Kami hanya diperintah untuk mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah yang benar. Kami tidak diperintah untuk mengikuti orang ini dan itu. Dan Allah tidak membiarkan kita bersandar kepada pemikiran dan ijtihad kita. Bahkan Dia telah menurunkan KitabNya dan telah mengutus kepada kita RasulNya. Apabila kita kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, maka pertentangan dan perselisihan itu akan sirna dan persatuan akan terwujud. 
أَتَدۡرُونَهُ أَنَّهُ إِلَى عَهۡدٍ قَرِيبٍ كَانَ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ أَرۡبَعَةُ مَحَارِيبَ، كُلُّ أَصۡحَابِ مَذۡهَبٍ يُصَلُّونَ جَمَاعَةً وَحۡدَهُمۡ مَعَ أَهۡلِ مَذۡهَبِهِمۡ بِجِوَارِ الۡكَعۡبَةِ، حَتَّى قَيَّضَ اللهُ مَنۡ جَمَعَهُمۡ عَلَى إِمَامٍ وَاحِدٍ وَزَالَ –وَلِلهِ الۡحَمۡدُ- هٰذَا الۡمَظۡهَرُ السَّيِّءُ. 
هٰذَا كُلُّهُ مِنۡ اتِّبَاعِ الۡمَذَاهِبِ وَاتِّبَاعِ الۡآرَاءِ، حَتَّى الصَّلَاةَ فَرَّقُوهَا، صَارَ الۡحَنَفِيُّ لَا يُصَلِّي وَرَاءَ الۡحَنۡبَلِيِّ، وَالۡحَنۡبَلِيُّ لَا يُصَلِّي وَرَاءَ الشَّافِعِيِّ، وَلَا يُصَلُّونَ فِي وَقۡتٍ وَاحِدٍ، هٰذَا يُصَلِّي فِي أَوَّلِ الۡوَقۡتِ وَهٰذَا فِي آخِرِهِ؛ لِأَنَّ فُلَانًا يَرَى تَأۡخِيرَ الصَّلَاةِ، وَفُلَانًا يَرَى تَقۡدِيمَهَا، يُرِيدُونَ أَنۡ يُرۡضُوا جَمِيعَ النَّاسِ. 
Apakah kalian tahu bahwa belum lama pernah terjadi di Masjidil Haram ada empat mihrab. Setiap penganut madzhab shalat berjama’ah bersama yang semadzhab dengan mereka di sekitar Ka’bah. Sampai Allah tetapkan orang yang mengumpulkan mereka kepada satu imam dan segala puji hanya bagi Allah, pemandangan yang tidak menyenangkan ini telah hilang. 
Ini seluruhnya karena mengikuti madzhab-madzhab dan mengikuti pemikiran-pemikiran. Sampai-sampai shalat pun mereka pecah belah. Pengikut Abu Hanifah tidak shalat di belakang pengikut Ahmad bin Hanbal. Orang yang bermadzhab Hanbali tidak shalat di belakang orang yang bermadzhab Asy-Syafi’i. Mereka bahkan tidak shalat di satu waktu. Yang ini shalat di awal waktu dan yang itu shalat di akhirnya. Dikarenakan si Fulan berpendapat mengakhirkan shalat dan si Fulan yang lain berpendapat mengawalkannya. Mereka ingin untuk membuat ridha semua manusia. 
وَهٰذَا وَجَدۡنَاهُ فِي بَعۡضِ الۡبِلَادِ الۡأُخۡرَى بَاقِيًا إِلَى الۡآنَ، حَتَّى الۡحُمۡعَةَ لَا يُصَلُّونَهَا فِي وَقۡتٍ وَاحِدٍ، بَعۡضُهُمۡ لَا يُصَلِّيهَا إِلَّا عِنۡدَ الۡعَصۡرِ؛ لِأَنَّ فُلَانًا قَالَ كَذَا وَكَذَا، وَإِذَا أَرَادَ أَحَدُهُمۡ أَنۡ يُصَلِّيَ مُبَكِّرًا ذَهَبَ يُصَلِّي مَعَ فُلَانٍ، وَإِذَا أَرَادَ أَحَدُهُمۡ أَنۡ يَتَأَخَّرَ صَلَّى مَعَ فُلَانٍ، وَلٰكِنۡ عِنۡدَنَا –وَلِلهِ الۡحَمۡدُ- فِي هٰذِهِ الۡبِلَادِ فِي ظِلِّ هٰذِهِ الدَّعۡوَةِ الۡمُبَارَكَةِ عَادُوا فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ إِلَى مَا كَانَ عَلَيۡهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ يُصَلُّونَ جَمِيعًا فِي وَقۡتٍ وَاحِدٍ وَخَلۡفَ إِمَامٍ وَاحِدٍ. 
Dan ini kita temukan di sebagian negeri-negeri lain masih ada sampai sekarang. Sampai shalat Jum’at tidak mereka selenggarakan di satu waktu. Sebagian mereka tidak shalat Jum’at kecuali ketika mendekati ‘Ashr karena si Fulan berpendapat demikian dan demikian. Jika salah seorang mereka ingin shalat di awal waktu, maka ia pergi shalat bersama si Fulan ini. Jika ingin shalat di akhir, ia shalat bersama si Fulan itu. Akan tetapi –segala puji hanya bagi Allah- kita berada di negeri ini (Arab Saudi) berada di bawah naungan dakwah yang berkah. Di Masjidil Haram ini, mereka kembali kepada kebiasaan para salafush shalih. Mereka shalat bersama di satu waktu di belakang satu imam.

At-Tuhfatus Saniyyah - Mashdar

الۡمَصۡدَرُ

(بَابُ الْمَصْدَرِ) الْمَصْدَرُ هُوَ: الْإِسْمُ الْمَنْصُوبُ الَّذِي يَجِىءُ ثَالِثًا فِي تَصْرِيفِ الْفِعْلِ، نَحْوُ: ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا.
Bab Mashdar. Mashdar adalah isim manshub yang datang di urutan ketiga dalam tashrif fi’il. Contoh: ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا.
أَقُولُ: قَدۡ عَرَّفَ الۡمُؤَلِّفُ الۡمَصۡدَرَ بِأَنَّهُ (الَّذِي يَجِيءُ ثَالِثًا فِي تَصۡرِيفِ الۡفِعۡلِ) وَمَعۡنَى ذٰلِكَ أَنَّهُ لَوۡ قَالَ لَكَ قَائِلٌ: صَرِّفۡ (ضَرَبَ) مَثَلًا، فَإِنَّكَ تَذۡكُرُ الۡمَاضِي أَوَّلًا، ثُمَّ يَجِيءُ بِالۡمُضَارِعِ، ثُمَّ بِالۡمَصۡدَرِ، فَتَقُولُ: ضَرَبَ يَضۡرِبُ ضَرۡبًا.
Ibnu ‘Ajurrum telah memberikan definisi mashdar, yaitu: yang datang di urutan ketiga dalam tashrif fi’il. Maknanya adalah kalau seseorang berkata kepadamu: Tashriflah ضَرَبَ, misalnya. Maka engkau sebutkan pertama kali fi’il madhi, lalu fi’il mudhari’, kemudian mashdar. Sehingga engkau katakan: ضَرَبَ يَضۡرِبُ ضَرۡبًا. 
وَلَيۡسَ الۡغَرَضُ هٰهُنَا مَعۡرِفَةَ الۡمَصۡدَرِ لِذَاتِهِ، وَإِنَّمَا الۡغَرَضُ مَعۡرِفَةُ الۡمَفۡعُولِ الۡمُطۡلَقِ، وَهُوَ يَكُونُ مَصۡدَرًا، وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنۡ (مَا لَيۡسَ خَبَرًا مِمَّا دَلَّ عَلَى تَأۡكِيدِ عَامِلِهِ، أَوۡ نَوۡعِهِ، أَوۡ عَدَدِهِ).
Tujuan akhirnya bukanlah untuk mengenali mashdar itu sendiri. Namun tujuannya adalah untuk mengenali maf’ul mutlak yang berupa mashdar. Maf’ul mutlak adalah ungkapan dari setiap yang bukan khabar yang menunjukkan penekanan makna ‘amilnya, jenisnya, atau jumlahnya.
فَقَوۡلُنَا: (لَيۡسَ خَبَرًا) مُخۡرِجٌ لِمَا كَانَ خَبَرًا مِنَ الۡمَصَادِرِ، نَحۡوُ قَوۡلِكَ (فَهۡمُكَ فَهۡمٌ دَقِيقٌ).
Sehingga, ucapan kami: لَيۡسَ خَبَرًا mengeluarkan setiap khabar yang berupa mashdar, contohnya ucapanmu: فَهۡمُكَ فَهۡمٌ دَقِيقٌ (Pemahamanmu adalah pemahaman yang mendetail).
وَقَوۡلُنَا: (مِمَّا دَلَّ... إلخ) يُفِيدُ أَنَّ الۡمَفۡعُولَ الۡمُطۡلَقَ ثَلَاثَةُ أَنۡوَاعٍ:
الۡأَوَّلُ: الۡمُؤَكِّدُ لِعَامِلِهِ، نَحۡوُ (حَفِظۡتَ الدَّرۡسَ حِفۡظًا)، وَنَحۡوُ: (فَرِحۡتُ بِقُدُومِكَ جَذَلًا).
وَالثَّانِي: الۡمُبَيِّنُ لِنَوۡعِ الۡعَامِلِ، نَحۡوُ (أَحۡبَبۡتُ أُسۡتَاذِي حُبَّ الۡوَلَدِ أَبَاهُ)، وَنَحۡوُ: (وَقَفۡتُ لِلۡأُسۡتَاذِ وُقُوفَ الۡمُؤَدَّبِ).
وَالثَّالِثُ: الۡمُبَيِّنُ لِلۡعَدَدِ، نَحۡوُ: (ضَرَبۡتُ الۡكَسُولَ ضَرۡبَتَيۡنِ)، وَنَحۡوُ: (ضَرَبۡتُهُ ثَلَاثَ ضَرۡبَاتٍ).
Dan ucapan kami: مِمَّا دَلَّ... إلخ memberi faidah bahwa maf’ul mutlak ada tiga macam:
  1. Yang menekankan makna ‘amilnya, contoh: حَفِظۡتَ الدَّرۡسَ حِفۡظًا (Engkau benar-benar telah menghafal pelajaran) dan فَرِحۡتُ بِقُدُومِكَ جَذَلًا (Aku benar-benar senang dengan kedatanganmu).
  2. Yang menjelaskan jenis ‘amilnya, contoh: أَحۡبَبۡتُ أُسۡتَاذِي حُبَّ الۡوَلَدِ أَبَاهُ (Aku mencintai guruku seperti cintanya anak kepada ayahnya) dan وَقَفۡتُ لِلۡأُسۡتَاذِ وُقُوفَ الۡمُؤَدَّبِ.
  3. Yang menjelaskan jumlah, contoh: ضَرَبۡتُ الۡكَسُولَ ضَرۡبَتَيۡنِ (Aku memukul pemalas itu dua kali pukulan) dan ضَرَبۡتُهُ ثَلَاثَ ضَرۡبَاتٍ (Aku telah memukulnya sebanyak tiga kali).

Syarh Al-Ushulus Sittah - Pondasi Kedua (2)

وَنَهَانَا أَنۡ نَكُونَ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخۡتَلَفُوا قَبۡلَنَا فَهَلَكُوا.
Dan Allah telah melarang kita menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih sebelum kita, sehingga mereka binasa[1].
وَذَكَرَ أَنَّهُ أَمَرَ الۡمُسۡلِمِينَ بِالۡاجۡتِمَاعِ فِي الدِّينِ، وَنَهَاهُمۡ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيهِ.
Dan Allah menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu di dalam agama dan melarang mereka dari berpecah belah dalam agama[2].
وَيَزِيدُهُ وُضُوۡحًا مَا وَرَدَتۡ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الۡعَجَبِ الۡعُجَّابِ فِي ذٰلِكَ.
Dan seluruh dalil As-Sunnah tentangnya semakin menambah jelas dari keanehan yang paling aneh dalam perkara itu[3]. 

[1] لَمَّا بَقَوۡا عَلَى اخۡتِلَافِهِمۡ، هَلَكُوا وَتَنَاحَرُوۡا فِيمَا بَيۡنَهُمۡ وَتقَاتَلُوا، هٰذَا شَأۡنُ أَهۡلِ الۡاخۡتِلَافِ، أَمَّا شَأۡنُ أَهۡلِ الۡاجۡتِمَاعِ فَهُوَ الۡقُوَّةُ وَزَوَالُ الۡحِقۡدِ مِنۡ قُلُوبِهِمۡ. 
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِيٓ أَنۡفُسِهِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُوا تَسۡلِيمًا ۝٦٥﴾ [النساء: ٦٥]. 
وَلَا يُرۡضِي النَّاسَ وَلَا يُنۡهِي النِّزَاعَ إِلَّا الرُّجُوعُ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ. 
Tatkala mereka tetap berada di atas perselisihan mereka, mereka akan binasa, berseteru, dan bertengkar di antara mereka. Ini adalah keadaan orang-orang yang berselisih. Adapun keadaan orang-orang yang bersatu, mereka kuat dan hilang kedengkian dari hati-hati merka. 
“Demi Rabbmu, mereka tidak akan beriman sehingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim pada perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan sedikit pun keberatan dalam diri-diri mereka dari apa yang telah engkau putuskan dan mereka sepenuhnya menerima.” (QS. An-Nisa`: 65). 
Sehingga tidak ada yang membuat manusia ridha dan menyelesaikan perselisihan kecuali kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
[2] قَالَ تَعَالَى: ﴿شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ أَنۡ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ﴾ [الشورى: ١٣]. أَيۡ: لَا يَصِيرُ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ دِينٌ؛ لِأَنَّ الدِّينَ وَاحِدٌ لَيۡسَ فِيهِ تَفَرُّقٌ. 
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dia telah mensyari'atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura: 13). Yaitu, janganlah setiap orang memiliki agama sendiri-sendiri karena sungguh agama ini hanya satu tidak ada perpecahan di dalamnya. 
[3] نَعَمۡ، ثَبَتَ عَنِ الرَّسُولِ ﷺ مِنَ الۡأَحَادِيثِ مَا يَحُثُّ عَلَى الۡاجۡتِمَاعِ وَيَنۡهَى عَنِ التَّفَرُّقِ وَالۡاخۡتِلَافِ. 
مِثۡلُ حَدِيثِ: (فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ) الۡحَدِيث. 
Ya, telah tetap hadits-hadits dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan untuk bersatu dan melarang dari berpecah belah dan berselisih. Seperti hadits yang artinya, “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup (setelahku), maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka, kalian wajib berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin.”

Taisirul 'Allam - Hadits ke-33

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كُنۡتُ أَغۡسِلُ الۡجَنَابَةَ مِنۡ ثَوۡبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَيَخۡرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ وَإِنَّ بُقَعَ الۡمَاءِ فِي ثَوۡبِهِ[1]. وَفِي لَفۡظِ مُسۡلِمٍ (لَقَدۡ كُنۡتُ أَفۡرُكُهُ مِنۡ ثَوۡبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَرۡكًا فَيُصَلِّي فِيهِ)[2].
Dari ‘Aisyah, beliau berkata: Aku pernah mencuci pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkena mani. Kemudian beliau keluar untuk shalat dan sungguh bekas air masih ada di pakaian beliau. Di dalam lafazh riwayat Muslim: Sungguh aku pernah benar-benar mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau shalat dengan memakai pakaian tersebut.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
تَذۡكُرُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّهُ كَانَ يُصِيبُ ثَوۡبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡمَنِيُّ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
فَتَارَةً يَكُونُ رَطۡبًا فَتَغۡسِلُهُ مِنَ الثَّوۡبِ بِالۡمَاءِ، فَيَخۡرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ، وَالۡمَاءُ لَمۡ يَجِفَّ مِنَ الثَّوۡبِ.
وَتَارَةً أُخۡرَى، يَكُونُ الۡمَنِيُّ يَابِسًا، وَحِينَئِذٍ تَفۡرُكُهُ مِنۡ ثَوۡبِهِ فَرۡكًا، فَيُصَلِّي فِيهِ.
Makna secara umum:
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa mani pernah mengenai pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena junub. Sekali waktu mani masih basah, maka beliau mencuci pakaian dengan air. Kemudian Rasulullah keluar untuk shalat dalam keadaan air belum kering dari pakaian beliau. Dan sekali waktu yang lain, mani sudah kering. Pada keadaan ini, ‘Aisyah mengeriknya dari pakaian Rasulullah, lalu beliau shalat dengan memakainya.
اخۡتِلَافُ الۡعُلَمَاءِ:
اۡخَتَلَفَ الۡعُلَمَاءُ فِي نَجَاسَةِ الۡمَنِيِّ.
فَذَهَبَتۡ الۡحَنَفِيَّةُ، وَالۡمَالِكِيَّةُ إِلَى نَجَاسَتِهِ. مُسۡتَدِلِّينَ بِأَحَادِيثَ غَسۡلِهِ مِنۡ ثَوۡبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَمِنۡهَا هٰذَا الۡحَدِيثُ الَّذِي مَعَنَا.
وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ، وَأَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ الۡحَدِيثِ، وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَشَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ (ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ) وَغَيۡرُهُمۡ مِنَ الۡمُحَقِّقِينَ، إِلَى طَهَارَتِهِ، مُسۡتَدِلِّينَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنۡهَا مَا يَأۡتِي:
١ – صِحَّةُ أَحَادِيثَ فَرۡكِ عَائِشَةَ الۡمَنِيَّ مِنۡ ثَوۡبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذَا كَانَ يَابِسًا، بِظُفۡرِهَا، فَلَوۡ كَانَ نَجَسًا، لَمَّا كَفَى إِلَّا الۡمَاءُ، كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ.
٢ – أَنَّ الۡمَنِيَّ هُوَ أَصۡلُ الۡإِنۡسَانِ وَمَعۡدِنُهُ، فَلَا يَنۡبَغِي أَنۡ يَكُونَ أَصۡلُهُ نَجَسًا خَبِيثًا، اللهُ كَرَّمَهُ وَطَهَّرَهُ.
٣ – لَمۡ يَأۡمُرِ النَّبِيُّ ﷺ بِغَسۡلِهِ وَالتَّحَرُّزِ مِنۡهُ، كَالۡبَوۡلِ.
٤ – أَجَابُوا عَنۡ أَحَادِيثِ غَسۡلِهِ، بِأَنَّ الۡغَسۡلَ لَا يَدُلُّ عَلَى النَّجَاسَةِ، كَمَا أَنَّ غَسۡلَ الۡمُخَاطِ وَنَحۡوِهِ، لَا يَدُلُّ عَلَى نَجَاسَتِهِ.
وَالنَّظَافَةُ مِنَ النَّجَاسَاتِ وَالۡمُسۡتَقۡذِرَاتِ، مَطۡلُوبَةٌ شَرۡعًا.
فَكَيۡفَ لَا يُقِرُّ غَسۡلَهُ ﷺ.
Perselisihan ulama:
Ulama berselisih tentang kenajisan mani. Pengikut Abu Hanifah dan Malik berpendapat mani itu najis. Mereka berdalil dengan hadits tentang mencuci mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya hadits yang sedang kita bahas. Asy-Syafi’i, Ahmad, ahli hadits, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan selain mereka dari kalangan ulama muhaqqiqin berpendapat sucinya mani. Mereka berdalil dengan dalil yang banyak, di antaranya sebagai berikut:
  1. Shahihnya hadits-hadits tentang ‘Aisyah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kering dengan kuku beliau. Sekiranya mani itu najis, tentu tidak cukup membersihkan kecuali menggunakan air, sebagaimana seluruh najis-najis.
  2. Bahwa mani adalah asal dan unsur pembentukan manusia. Sehingga tidak pantas bila asal manusia adalah sesuatu yang najis dan kotor, padahal Allah telah memuliakan dan mensucikannya.
  3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk mencucinya dan berhati-hati darinya. Berbeda dengan tindakan beliau terhadap kencing.
  4. Mereka menjawab hadits tentang mencuci mani bahwa mencuci itu tidak mesti menunjukkan najis. Sebagaimana mencuci ingus atau semisalnya tidak menunjukkan kenajisannya. Dan kebersihan dari najis dan hal-hal yang kotor adalah perkara yang dituntut secara syar’i. Sehingga bagaimana bisa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan untuk mencucinya.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ – طَهَارَةُ الۡمَنِيِّ، وَعَدَمُ وُجُوبِ غَسۡلِهِ مِنَ الۡبَدَنِ وَالثِّيَابِ وَغَيۡرِهَا.
٢ – اسۡتِحۡبَابُ إِزَالَتِهِ عَنِ الثَّوۡبِ وَالۡبَدَنِ فَيُغۡسَلُ رَطۡبًا، وَيُفۡرَكُ يَابِسًا.
Faidah hadits:
  1. Sucinya mani dan tidak wajib mencucinya dari badan, pakaian, dan selainnya.
  2. Disukai menghilangkan mani dari pakaian dan badan dengan cara dicuci ketika masih basah dan dikerik ketika sudah kering.

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٢٢٩) فِي الۡوُضُوءِ. 
[2] رَوَاهُ مُسۡلِمٌ (٢٨٨) فِي الطَّهَارَةِ.

At-Tuhfatus Saniyyah - Jenis-jenis Maf'ul Bih

أَنۡوَاعُ الۡمَفۡعُولِ بِهِ

وَهُوَ قِسْمَانِ: ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ؛ فَالظَّاهِرُ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ، وَالْمُضْمَرُ قِسْمَانِ: مُتَّصِلٌ وَمُنْفَصِلٌ، فَالْمُتَّصِلُ اثْنَا عَشَرَ، وَهِيَ: ضَرَبَنِي، وَضَرَبَنَا، وَضَرَبَكَ، وَضَرَبَكِ، وَضَرَبَكُمَا، وَضَرَبَكُمْ، وَضَرَبَكُنَّ، وَضَرَبَهُ، وَضَرَبَهَا، وَضَبَهُمَا، وَضَرَبَهُمْ، وَضَرَبَهُنَّ. وَالْمُنْفَصِلُ اثْنَا عَشَرَ، وَهِيَ: إِيَّايَ، وَإِيَّانَ، وَإِيَّاكَ، وَإِيَّاكِ، وَإِيَّاكُمَا، وَإِيَّاكُمْ، وَإِيَّاكُنَّ، وَإِيَّاهُ، وَإِيَّاهَا، وَإِيَّاهُمَا، وَإِيَّاهُمْ، وَإِيَّاهُنَّ.
Maf’ul bih ada dua bagian: zhahir dan mudhmar. Adapun yang zhahir (tampak), telah lewat penyebutannya. Yang mudhmar ada dua bagian: muttashil (bersambung) dan munfashil (terpisah). Yang muttashil ada dua belas, yaitu: ضَرَبَنِي، وَضَرَبَنَا، وَضَرَبَكَ، وَضَرَبَكِ، وَضَرَبَكُمَا، وَضَرَبَكُمْ، وَضَرَبَكُنَّ، وَضَرَبَهُ، وَضَرَبَهَا، وَضَبَهُمَا، وَضَرَبَهُمْ، وَضَرَبَهُنَّ. Dan yang munfashil ada dua belas, yaitu: إِيَّايَ، وَإِيَّانَ، وَإِيَّاكَ، وَإِيَّاكِ، وَإِيَّاكُمَا، وَإِيَّاكُمْ، وَإِيَّاكُنَّ، وَإِيَّاهُ، وَإِيَّاهَا، وَإِيَّاهُمَا، وَإِيَّاهُمْ، وَإِيَّاهُنَّ.
وَأَقُولُ: يَنۡقَسِمُ الۡمَفۡعُولُ بِهِ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: الۡأَوَّلُ الظَّاهِرُ، وَالثَانِي الۡمُضۡمَرُ.
وَقَدۡ عَرَفۡتَ أَنَّ الظَّاهِرَ مَا يَدُلُّ عَلَى مَعۡنَاهُ بِدُونِ احۡتِيَاجٍ إِلَى قَرِينَةِ تَكَلُّمٍ أَوۡ خِطَابٍ أَوۡ غَيۡبَةٍ، وَأَنَّ الۡمُضۡمَرَ مَا لَا يَدُلُّ عَلَى مَعۡنَاهُ إِلَّا بِقَرِينَةٍ مِنۡ هٰذِهِ الۡقَرَائِنِ الثَّلَاثِ؛ فَمِثَالُ الظَّاهِرِ (ضَرَبَ مُحَمَّدٌ بَكۡرًا) وَ(يَضۡرِبُ خَالِدٌ عَمۡرًا) وَ(قَطَفَ إِسۡمَاعِيلُ زَهۡرَةً) وَ(يَقۡطِفُ إِسۡمَاعِيلُ زَهۡرَةً).
Maf’ul bih terbagi menjadi dua bagian: zhahir dan mudhmar.
Engkau telah mengetahui bahwa zhahir itu adalah setiap yang menunjukkan maknanya tanpa butuh kepada penanda orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga. Dan bahwa mudhmar adalah setiap yang tidak menunjukkan maknanya kecuali dengan penanda dari tiga tanda ini. Contoh maf’ul bih zhahir adalah ضَرَبَ مُحَمَّدٌ بَكۡرًا, يَضۡرِبُ خَالِدٌ عَمۡرًا, قَطَفَ إِسۡمَاعِيلُ زَهۡرَةً, dan يَقۡطِفُ إِسۡمَاعِيلُ زَهۡرَةً.
وَيَنۡقَسِمُ الۡمُضۡمَرُ الۡمَنۡصُوبُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: الۡأَوَّلُ الۡمُتَّصِلُ، وَالثَّانِي الۡمُنۡفَصِلُ.
أَمَّا الۡمُتَّصِلُ فَهُوَ: مَا لَا يُبۡتَدَأُ بِهِ الۡكَلَامُ وَلَا يَصِحُّ وُقُوعُهُ بَعۡدَ (إِلَّا) فِي الۡاخۡتِيَارِ، وَأَمَّا الۡمُنۡفَصِلُ فَهُوَ: مَا يُبۡتَدَأُ بِهِ الۡكَلَامُ وَيَصِحُّ وُقُوعُهُ بَعۡدَ (إِلَّا) فِي الۡاخۡتِيَارِ.
Maf’ul bih mudhmar yang manshub terbagi menjadi dua bagian: muttashil dan munfashil.
Adapun muttashil adalah setiap yang tidak bisa mengawali pembicaraan dan tidak bisa terletak setelah illa di dalam ikhtiyar.
وَلِلۡمُتَّصِلِ اثۡنَا عَشَرَ لَفۡظًا:
الۡأَوَّلُ: الۡيَاءُ، وَهِيَ لِلۡمُتَكَلِّمِ الۡوَاحِدِ، وَيَجِبُ أَنۡ يُفۡصَلَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ الۡفِعۡلِ بِنُونٍ تُسَمَّى نُونَ الۡوِقَايَةِ، نَحۡوُ: (أَطَاعَنِي مُحَمَّدٌ) وَ(يُطِيعُنِي بَكۡرٌ) وَ(أَطِعۡنِي يَا بَكۡرُ).
وَالثَّانِي: (نَا) وَهُوَ لِلۡمُتَكَلِّمِ الۡمُعَظِّمِ نَفۡسَهُ أَوۡ مَعَهُ غَيۡرُهُ، نَحۡوُ (أَطَاعَنَا أَبۡنَاؤُنَا).
والثَّالِثُ: الۡكَافُ الۡمَفۡتُوحَةُ وَهِيَ لِلۡمُخَاطَبِ الۡمُفۡرَدِ الۡمُذَكَّرِ، نَحۡوُ (أَطَاعَكَ ابۡنُكَ).
وَالرَّابِعُ: الۡكَافُ الۡمَكۡسُورَةُ وَهِيَ لِلۡمُخَاطَبَةِ الۡمُفۡرَدَةِ الۡمُؤَنَّثَةِ، نَحۡوُ (أَطَاعَكِ ابۡنُكِ).
وَالۡخَامِسُ: الۡكَافُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا الۡمِيمُ وَالۡأَلِفُ، َهِيَ لِلۡمُثَنَّى الۡمُخَاطَبِ مُطۡلَقًا، نَحۡوُ (أَطَاعَكُمَا).
وَالسَّادِسُ: الۡكَافُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا الۡمِيمُ وَحۡدَهَا، وَهِيَ لِجَمَاعَةِ الذُّكُورِ الۡمُخَاطَبِينَ، نَحۡوُ (أَطَاعَكُمۡ).
وَالسَّابِعُ: الۡكَافُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا النُّونُ الۡمُشَدَّدَةُ، وَهِيَ لِجَمَاعَةِ الۡإِنَاثِ الۡمُخَاطَبَاتِ، نَحۡوُ (أَطَاعَكُنَّ).
وَالثَّامِنُ: الۡهَاءُ الۡمَضۡمُومَةُ، وَهِيَ لِلۡغَائِبِ الۡمُفۡرَدِ الۡمُذَكَّرِ، نَحۡوُ (أَطَاعَهُ).
وَالتَّاسِعُ: الۡهَاءُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا الۡأَلِفُ، وَهِيَ لِلۡغَائِبَةِ الۡمُفۡرَدَةِ الۡمُؤَنَّثَةِ، نَحۡوُ (أَطَاعَهَا).
وَالۡعَاشِرُ: الۡهَاءُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا الۡمِيمُ وَالۡأَلِفُ، وَهِيَ لِلۡمُثَنَّى الۡغَائِبِ مُطۡلَقًا، نَحۡوُ (أَطَاعَهُمَا).
وَالۡحَادِي عَشَرَ: الۡهَاءُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا الۡمِيمُ وَحۡدَهَا، وَهِيَ لِجَمَاعَةِ الذُّكُورِ الۡغَائِبِينَ، نَحۡوُ (أَطَاعَهُمۡ).
وَالثَّانِي عَشَرَ: الۡهَاءُ الۡمُتَّصِلُ بِهَا النُّونُ الۡمُشَدَّدَةُ، وَهِيَ لِجَمَاعَةِ الۡإِنَاثِ الۡغَائِبَاتِ، نَحۡوُ (أَطَاعَهُنَّ).
Muttashil ini memiliki dua belas lafazh:
  1. Huruf ya` untuk yang berbicara tunggal. Wajib untuk dipisahkan antara ya` dan fi’il dengan huruf nun yang dinamakan nun wiqayah, contoh: أَطَاعَنِي مُحَمَّدٌ, يُطِيعُنِي بَكۡرٌ, dan أَطِعۡنِي يَا بَكۡرُ.
  2. نَا untuk yang berbicara yang mengagungkan dirnya atau ada yang lain bersamanya, contoh: أَطَاعَنَا أَبۡنَاؤُنَا.
  3. Huruf kaf yang difathah untuk yang diajak bicara tunggal mudzakkar, contoh: أَطَاعَكَ ابۡنُكَ.
  4. Huruf kaf yang dikasrah untuk yang diajak bicara tunggal muannats, contoh: أَطَاعَكِ ابۡنُكِ.
  5. Huruf kaf yang bersambung dengan mim dan alif untuk mutsanna yang diajak bicara baik mudzakkar maupun muannats, contoh: أَطَاعَكُمَا.
  6. Huruf kaf yang bersambung dengan mim saja untuk jamak mudzakkar yang diajak bicara, contoh: أَطَاعَكُمۡ.
  7. Huruf kaf yang bersambung dengan nun yang ditasydid untuk jamak muannats yang diajak bicara, contoh: أَطَاعَكُنَّ.
  8. Huruf ha` yang didhammah untuk pihak ketiga tunggal mudzakkar, contoh: أَطَاعَهُ.
  9. Huruf ha` yang bersambung dengan alif untuk pihak ketiga tunggal muannat, contoh: أَطَاعَهَا.
  10. Huruf ha` yang bersambung dengan mim dan alif untuk mutsanna pihak ketiga baik mudzakkar maupun muannats, contoh: أَطَاعَهُمَا.
  11. Huruf ha` yang bersambung dengan mim saja untuk jamak mudzakkar pihak ketiga, contoh: أَطَاعَهُمۡ.
  12. Huruf ha` yang bersambung dengan nun yang ditasydid untuk jamak muannats pihak ketiga, contoh: أَطَاعَهُنَّ.
وَلِلۡمُنۡفَصِلِ: اثۡنَا عَشَرَ لَفۡظًا أَيۡضًا، وَهِيَ: (إِيَّا) مُرۡدَفَةً بِالۡيَاءِ لِلۡمُتَكَلِّمِ وَحۡدَهُ، أَوۡ (نَا) لِلۡمُعَظِّمِ نَفۡسَهُ، أَوۡ مَعَ غَيۡرِهِ، أَوۡ بِالۡكَافِ مَفۡتُوحَةً لِلۡمُخَاطَبِ الۡمُفۡرَدِ الۡمُذَكَّرِ، أَوۡ بِالۡكَافِ مَكۡسُورَةً لِلۡمُخَاطَبَةِ الۡمُفۡرَدَةِ الۡمُؤَنَّثَةِ، وَلَا يَخۡفَى عَلَيۡكَ مَعۡرِفَةُ الۡبَاقِي.
Munfashil juga memiliki dua belas lafazh, yaitu: إِيَّا yang ditambahi huruf ya` untuk yang berbicara tunggal, atau نَا untuk yang mengagungkan dirinya atau ada yang lain bersamanya, atau dengan huruf kaf yang difathah untuk yang diajak bicara tunggal mudzakkar, atau dengan huruf kaf yang dikasrah untuk yang diajak bicara tunggal muannats. Dan sudah tidak tersembunyi atasmu untuk mengenali sisanya.
وَالصَّحِيحُ أَنَّ الضَّمِيرَ هُوَ (إِيَّا) وَأَنَّ مَا بَعۡدَهُ لَوَاحِقُ تَدُلُّ عَلَى التَّكَلُّمِ أَوِ الۡخِطَابِ أَوِ الۡغَيۡبَةِ، تَقُولُ: (إِيَّايَ أَطَاعَ التَّلَامِيذُ) وَ(مَا أَطَاعَ التَّلَامِيذُ إِلَّا إِيَّايَ) وَمِنۡهُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾، وَقَوۡلُهُ سُبۡحَانَهُ: ﴿أَمَرَ أَن لَّا تَعۡبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ﴾.
Yang benar bahwa dhamir (kata ganti) adalah إِيَّا dan bahwa yang setelahnya adalah pelengkap yang menunjukkan atas pihak pertama yang berbicara, pihak kedua yang diajak bicara, atau pihak ketiga. Engkau katakan: إِيَّايَ أَطَاعَ التَّلَامِيذُ, مَا أَطَاعَ التَّلَامِيذُ إِلَّا إِيَّايَ. Dan yang termasuk ini adalah firman Allah ta’ala: إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ dan firmanNya subhanahu wa ta’ala: أَمَرَ أَن لَّا تَعۡبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ.