Cari Blog Ini

As-Sunnah Al-Marwazi hadis nomor 60

[٦٠] حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ (انبا) عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡمُحَارِبِيُّ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ زِيَادِ بۡنِ أَنۡعَمَ الۡإِفۡرِيقِيِّ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يَزِيدَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (سَيَأۡتِي عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسۡرَائِيلَ، مِثۡلًا بِمِثۡلٍ، حَذۡوَ النَّعۡلِ بِالنَّعۡلِ، وَإِنَّهُمۡ تَفَرَّقُوا عَلَى ثِنۡتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ مِلَّةً، وَسَتَفۡتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمۡ فِي النَّارِ غَيۡرُ وَاحِدَةٍ)، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا تِلۡكَ الۡوَاحِدَةُ؟ قَالَ: (هُوَ مَا أَنَا عَلَيۡهِ الۡيَوۡمَ وَأَصۡحَابِي). 

60. Ishaq telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi memberitakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Ifriqi, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Beliau mengatakan: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umatku apa yang telah datang kepada bani Israil. Sama persis. Tidak berbeda. Sesungguhnya mereka telah terpecah menjadi tujuh puluh dua sekte dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga sekte. Mereka semua di dalam neraka kecuali satu.” 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kelompok apa yang satu itu?” 

Beliau menjawab, “Kelompok yang mengikuti jalan hidup yang ditempuh olehku dan para sahabatku pada hari ini.”

As-Sunnah Al-Marwazi hadis nomor 71

[٧١] حَدَّثَنَا عِيسَىٰ بۡنُ مُسَاوِرٍ (انبا) الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ عَنۡ ثَوۡرِ بۡنِ يَزِيدَ عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَمۡرٍو السُّلَمِيِّ وَحُجۡرِ بۡنِ حُجۡرِ الۡكَلَاعِيِّ، قَالَا: دَخَلَنَا عَلَى عِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ – وَهُوَ الَّذِي نَزَلَ فِيهِ -: ﴿ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ قُلۡتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ﴾ - وَهُوَ مَرِيضٌ، فَقُلۡنَا لَهُ: إِنَّا جِئۡنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقۡتَبِسِينَ، فَقَالَ عِرۡبَاضٌ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَلَّىٰ لَنَا صَلَاةَ الۡغَدَاةِ، ثُمَّ أَقۡبَلَ عَلَيۡنَا فَوَعَظَنَا مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً، ذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ، وَوَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هَٰذِهِ لَمَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعۡهَدُ إِلَيۡنَا؟ قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَىٰ اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ عَبۡدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ [بَعۡدِي] فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ). 

71. ‘Isa bin Musawir telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim memberitakan kepada kami dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami dan Hujr bin Hujr Al-Kala’i. Keduanya berkata: Kami masuk menemui Al-‘Irbadh bin Sariyah. Pada beliau turun ayat yang artinya, “Orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.” (QS. At-Taubah: 92). Ketika itu beliau sedang sakit. 

Kami berkata kepada beliau: Sesungguhnya kami datang kepadamu dalam rangka mengunjungi, menjenguk, dan mengambil ilmu. 

‘Irbadh mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat Subuh mengimami kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberi nasihat yang sangat mengena sehingga air mata berlinang dan hati-hati bergetar karenanya. 

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” 

Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar, dan taat walaupun dipimpin oleh budak Abyssinia (Etiopia). Karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, kalian wajib mengikuti sunahku dan sunah para khalifah yang rasyid dan diberi petunjuk. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham dan waspadalah kalian dari perkara yang diada-adakan. Karena setiap bidah adalah kesesatan.”

Tidak Mengafirkan Seorang Muslim dengan sebab Kemaksiatan

٢٤ – وَلَا نَجۡزِمُ لِأَحَدٍ مِنۡ أَهۡلِ الۡقِبۡلَةِ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا مَنۡ جَزَمَ لَهُ الرَّسُولُ ﷺ، لَكِنَّا نَرۡجُو لِلۡمُحۡسِنِ وَنَخَافُ عَلَى الۡمُسِيءِ.
24. Kami tidak memastikan seorang pun dari kaum muslimin dengan janah atau neraka kecuali orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi kami mengharapkan (janah) bagi orang yang berbuat baik dan mengkhawatirkan orang yang berbuat buruk.[1]
وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنۡ أَهۡلِ الۡقِبۡلَةِ بِذَنۡبٍ، وَلَا نُخۡرِجُهُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ بِعَمَلٍ.
Kami tidak mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin dengan sebab suatu dosa (selain kufur akbar) dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam dengan sebab suatu perbuatan (dosa selain kufur akbar).[2]
وَنَرَى الۡحَجَّ وَالۡجِهَادَ مَاضِيَانِ مَعَ كُلِّ إِمَامٍ، بَرًّا كَانَ أَوۡ فَاجِرًا، وَصَلَاةَ الۡجُمُعَةِ خَلۡفَهُمۡ جَائِزَةٌ. 
Kami berpendapat bahwa haji dan jihad terus berlangsung bersama seluruh pemimpin, baik pemimpin itu baik maupun jahat. Kami juga berpendapat bahwa salat Jumat di belakang mereka adalah sah. 
قَالَ أَنَسٌ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (ثَلَاثٌ مِنۡ أَصۡلِ الۡإِيمَانِ: الۡكَفُّ عَمَّنۡ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نُكَفِّرُهُ بِذَنۡبٍ وَلَا نُخۡرِجُهُ مِنَ الۡإِسۡلَامِ بِعَمَلٍ. وَالۡجِهَادُ مَاضٍ مُنۡذُ بَعَثَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ لَا يُبۡطِلُهُ جَوۡرُ جَائِرٍ، وَلَا عَدۡلُ عَادِلٍ، وَالۡإِيمَانُ بِالۡأَقۡدَارِ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. 
Anas mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hal termasuk pokok keimanan: (1) menahan diri dari orang yang telah mengucapkan ‘tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah’, kami tidak mengafirkannya dengan sebab suatu dosa (selain kufur akbar), dan kami tidak mengeluarkannya dari agama Islam dengan sebab suatu perbuatan (dosa selain kufur akbar); (2) jihad (bersama pemimpin kaum muslimin) terus berlangsung sejak Allah azza wajalla mengutusku hingga akhir umatku memerangi Dajjal. Jihad ini tidak gugur karena kejahatan atau keadilan pemimpin; (3) iman kepada takdir.” (HR. Abu Dawud nomor 2532). 




[1] الۡمُعَيَّنُونَ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ فِي الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ: 

Orang-orang yang telah ditentukan termasuk penduduk neraka di dalam Alquran dan sunah: 

مِنَ الۡمُعَيَّنُونَ بِالۡقُرۡآنِ: أَبُو لَهَبٍ عَبۡدُ الۡعُزَّى بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ ﷺ، وَامۡرَأَتُهُ أُمُّ جَمِيلٍ أَرۡوَى بِنۡتُ حَرۡبِ بۡنِ أُمَيَّةَ أُخۡتُ أَبِي سُفۡيَانَ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿تَبَّتۡ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ﴾ [المسد: ١] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ. 

Di antara orang-orang yang telah ditentukan (termasuk penduduk neraka) di dalam Alquran adalah Abu Lahab ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib—paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan istrinya, yaitu Ummu Jamil Arwa binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan. Ini berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. Al-Masad: 1). Sampai akhir surah. 

وَمِنَ الۡمُعَيَّنُونَ بِالسُّنَّةِ: أَبُو طَالِبٍ عَبۡدُ مَنَافِ بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (أَهۡوَنُ أَهۡلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنۡتَعِلُ نَعۡلَيۡنِ يَغۡلِي مِنۡهُمَا دِمَاغُهُ) رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ. 

Di antara orang-orang yang telah ditentukan (termasuk penduduk neraka) di dalam sunah adalah Abu Thalib ‘Abdu Manaf bin ‘Abdul Muththalib, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penduduk neraka yang azabnya paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim nomor 212). 

وَمِنۡهُمۡ: عَمۡرُو بۡنُ عَامِرِ بۡنِ لُحَيٍّ الۡخُزَاعِيُّ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (رَأَيۡتُهُ يَجُرُّ أَمۡعَاءَهُ فِي النَّارِ). رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ. 

Di antara mereka adalah ‘Amr bin ‘Amir bin Luhai Al-Khuza’i. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku melihatnya menyeret ususnya di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari nomor 3522 dan Muslim nomor 2856). 


[2] تَكۡفِيرُ أَهۡلِ الۡقِبۡلَةِ بِالۡمَعَاصِي: 

Mengafirkan ahli kiblat dengan sebab kemaksiatan: 

أَهۡلُ الۡقِبۡلَةِ: هُمُ الۡمُسۡلِمُونَ الۡمُصَلُّونَ إِلَيۡهَا لَا يَكۡفُرُونَ بِفِعۡلِ الۡكَبَائِرِ، وَلَا يَخۡرُجُونَ مِنَ الۡإِسۡلَامِ بِذٰلِكَ، وَلَا يَخۡلُدُونَ فِي النَّارِ: 

لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُوا۟ فَأَصۡلِحُوا۟ بَيۡنَهُمَا﴾ [الحجرات: ٩] إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُوا۟ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ﴾ [الحجرات: ١٠] فَأَثۡبَتَ الۡأُخُوَّةَ الۡإِيمَانِيَّةَ مَعَ الۡقِتَالِ وَهُوَ مِنَ الۡكَبَائِرِ، وَلَوۡ كَانَ كُفۡرًا لَانۡتَفَتِ الۡأُخُوَّةُ الۡإِيمَانِيَّةُ. 

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: (مَنۡ كَانَ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ حَبَّةٍ مِنۡ خَرۡدَلٍ مِنَ إِيمَانٍ فَأَخۡرِجُوهُ – يَعۡنِي: مِنَ النَّارِ –) مُتَّفَقٌّ عَلَيۡهِ. 

Ahli kiblat adalah kaum muslimin, yaitu orang-orang yang salat menghadap kiblat. Mereka tidak kafir dengan sebab melakukan dosa-dosa besar (di bawah kesyirikan), tidak keluar dari Islam dengan sebab itu, dan mereka tidak kekal di dalam neraka. Berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kalian damaikan antara keduanya,” (QS. Al-Hujurat: 9) sampai firman-Nya yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu.” (QS. Al-Hujurat: 10). Allah menetapkan adanya ukhuwah atas dasar keimanan walaupun mereka berperang, padahal perang sesama mukmin termasuk dosa besar. Apabila perbuatan itu adalah kekufuran niscaya tidak ada ukhuwah atas dasar keimanan ini. 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah taala berfirman, “Siapa saja yang di dalam hatinya ada keimanan seberat biji sawi, maka keluarkanlah dia.” Yakni dari neraka. (HR. Al-Bukhari nomor 22 dan Muslim nomor 184). 

وَخَالَفَ فِي هَٰذَا طَائِفَتَانِ: 

الۡأُولَى: الۡخَوَارِجُ: 

قَالُوا: فَاعِلُ الۡكَبِيرَةِ كَافِرٌ خَالِدٌ فِي النَّارِ. 

الثَّانِيَةُ: الۡمُعۡتَزِلَةُ: 

قَالُوا: فَاعِلُ الۡكَبِيرَةِ خَارِجٌ عَنِ الۡإِيمَانِ لَيۡسَ بِمُؤۡمِنٍ وَلَا كَافِرٍ، فِي مَنۡزِلَةٍ بَيۡنَ مَنۡزِلَتَيۡنِ، وَهُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ. 

Ada dua kelompok yang menyelisihi prinsip ini: 
  1. Khawarij. Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal di dalam neraka. 
  2. Mu’tazilah. Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar keluar dari keimanan, bukan seorang mukmin, bukan pula kafir. Dia berada di salah satu manzilah dari dua manzilah dan dia kekal di dalam neraka. 

وَنَرُدُّ عَلَى الطَّائِفَتَيۡنِ بِمَا يَأۡتِي: 

١ – مُخَالِفَتُهُمۡ لِنُصُوصِ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. 

٢ – مُخَالِفَتُهُمۡ لِإِجۡمَاعِ السَّلَفِ. 

Kita bantah dua kelompok ini dengan alasan berikut:
  1. Penyelisihan mereka terhadap nas-nas Alquran dan sunah. 
  2. Penyelisihan mereka terhadap ijmak ulama salaf.

Shahih Muslim hadits nomor 2541

٢٢٢ – (٢٥٤١) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ. قَالَ: كَانَ بَيۡنَ خَالِدِ بۡنِ الۡوَلِيدِ وَبَيۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ شَىۡءٌ، فَسَبَّهُ خَالِدٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنۡ أَصۡحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمۡ لَوۡ أَنۡفَقَ مِثۡلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدۡرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمۡ، وَلَا نَصِيفَهُ).


222. (2541). ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id. Beliau mengatakan: Dahulu, antara Khalid bin Al-Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf ada suatu permasalahan, sehingga Khalid mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku. Karena andai salah seorang kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai (infak) satu mud (satu cakupan kedua telapak tangan) salah seorang mereka (berupa bahan makanan). Separuhnya pun tidak.”

(...) - حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ وَأَبُو كُرَيۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. (ح) وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. جَمِيعًا عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِإِسۡنَادِ جَرِيرٍ وَأَبِي مُعَاوِيَةَ.... بِمِثۡلِ حَدِيثِهِمَا. 

وَلَيۡسَ فِي حَدِيثِ شُعۡبَةَ وَوَكِيعٍ ذِكۡرُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ وَخَالِدِ بۡنِ الۡوَلِيدِ. 

Abu Sa’id Al-Asyajj dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. (Dalam riwayat lain) ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami. Semuanya dari Syu’bah, dari Al-A’masy, melalui sanad Jarir dan Abu Mu’awiyah… semisal hadis keduanya. 

Dalam hadis Syu’bah dan Waki’ tidak disebutkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan Khalid bin Al-Walid.

Pemilik Karamah

Menurut pendapat yang sahih beliau bernama Abdullah bin Tsuwab. Di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah memeluk Islam. Beliau berangkat dari negeri Yaman menuju Madinah untuk berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah yang lebih terkenal dengan kunyah Abu Muslim Al Khaulani. 

Sesampainya beliau di Madinah ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Dan shahabat Abu Bakar Ash Shiddiq telah dibai’at menjadi khalifah. Keberadaan para shahabat tidak beliau sia-siakan. Beliau bersemangat untuk belajar dan menggali ilmu dari mereka. Beberapa senior shahabat masuk dalam daftar guru-guru beliau, seperti ‘Umar bin Al Khatthab, Mu’adz bin Jabal, Abu ‘Ubaidah, Abu Dzar Al Ghifary, dan ‘Ubadah bin Shamit

Beliau juga dikenal sebagai orang yang bijaksana. Beliau juga memiliki semangat untuk mengingkari kemungkaran. Disebutkan oleh Imam Ma’mar dari Imam Az Zuhri beliau berkata, “Aku pernah berada di sisi Al Walid bin ‘Abdil Malik. Dia mencela ‘Aisyah Ummul Mukminin. Akupun berkata, ‘Wahai Amiirul mukminin, maukah aku ceritakan seorang dari Negeri Syam yang telah mendapatkan hikmah?’ Dia berkata, ‘Siapa dia?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Abu Muslim Al Khaulani.’ Beliau pernah mendengar penduduk Syam mencela Aisyah Ummul Mukminin. Maka Abu Muslim berkata kepada mereka, ‘Maukah aku beritakan kepada kalian, permisalan antara aku dengan ibu kalian ini? Bagaikan dua mata pada kepala seseorang. Kedua mata ini mengganggu pemiliknya. Dan pemiliknya tidak bisa menghukum keduanya kecuali dengan hal baik untuk keduanya. Maka sang khalifah pun terdiam.” 

Beliau juga dikenal sangat giat dalam beribadah. Berkata ‘Utsman bin Abil ‘Atikah, “Abu Muslim menggantungkan cambuk di masjid. Beliau berkata, “Aku lebih layak dicambuk daripada hewan ternak. Bila beliau merasa malas dalam ibadah beliau mencambuk betisnya sekali atau dua kali.” Kesalehan beliau membuat beliau dianugerahi karamah oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak kesempatan. 

Namun di antaranya ada yang diriwayatkan dari jalur yang lemah dan ada pula yang sahih. Di antara karamah beliau yang sahih, disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Dunya dari Abdul Malik bin ‘Umar, dia berkata, “Abu Muslim Al Khaulaany bila beliau berdoa minta hujan, Allah langsung menurunkan hujan.” 

Disebutkan pula oleh Imam Ibnu Abi Dunya dari Sulaiman bin Mughirah, beliau berkata menjelaskan serangan kaum muslimin kala itu untuk menaklukkan Romawi. Abu Muslim sampai di tepi sungai Daljah bersama pasukan. Jembatan kayu rusak karena besarnya sungai tersebut. Abu Muslim pun berjalan di atas air diikuti oleh pasukannya. Kemudian beliau menoleh ke arah mereka sambil bertanya, “Apakah kalian merasa kehilangan sesuatu? Kita akan berdoa kepada Allah untuk mengembalikannya.” 

Disebutkan pula oleh Al Imam Al Laalikai dari Sulaiman, beliau berkata, “Abu Muslim memiliki seorang budak perempuan. Suatu hari budak perempuan ini berkata kepada Abu Muslim, “Wahai Abu Muslim, sungguh aku sudah menaburkan racun ke dalam makananmu berkali-kali. Tapi aku melihat dirimu baik-baik saja?!” Abu Muslim kaget dan bertanya, “Mengapa kau lakukan itu padaku?” Dia menjawab, “Sungguh aku adalah budak perempuan yang masih muda. Aku adalah milikmu. Tapi engkau sama sekali tidak mendekatiku dan engkau juga enggan untuk menjualku.” 

Maka Abu Muslim berkata, “Sungguh kebiasaanku bila hendak makan aku baca doa: 
بِسۡمِ اللهِ خَيۡرِ الۡأَسۡمَاءِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسۡمِهِ دَاءٌ رَبِّ الۡأَرۡضِ وَرَبِّ السَّمَاءِ 
Dengan menyebut nama Allah, sebaik-baik nama yang tidak akan membahayakan diriku penyakit apapun bila menyebut nama-Nya, Rabb bumi dan langit.

Subhaanallah, sungguh besar kekuasaan Allah. Allah menampakkan kepada hamba-hamba-Nya betapa besar keagungan dan kekuasaan-Nya. Seorang manusia biasa bukan Nabi dan bukan Rasul. Dengan kesalehannya Allah menampakkan kepadanya dan kepada seluruh hamba sesuatu yang sangat menakjubkan. 

Beliau memang dikenal sebagai orang yang mustajab doanya. Hal itu ditunjukkan oleh kejadian luar biasa berikut ini. Bilal bin Ka’b berkata, “Ada beberapa anak kecil datang kepada Abu Muslim dan berkata, “Wahai Aba Muslim! Berdoalah kepada Allah agar menahan rusa itu supaya kami bisa menangkapnya.” Beliau pun berdoa kepada Allah. Rusa itu pun tertahan dan mereka pun menangkapnya dengan mudah. 

Beliau juga dikenal memiliki kedermawanan yang luar biasa. Hal itu dikisahkan oleh ‘Atha’ Al Khurasaany beliau berkata, “Suatu hari istri Abu Muslim berkata kepadanya, “Tepung di rumah habis!” Beliau bertanya, “Apakah engkau memiliki uang?” “Ya, ada satu dirham. Aku dapatkan setelah menjual kain.” Jawab istrinya. “Serahkan kepadaku dan tolong ambilkan kantong untuk belanja.” Pinta Abu Muslim. Beliau pun membawa uang tadi dan menenteng kantong masuk ke dalam pasar. Tiba-tiba ada seorang yang meminta-minta kepada beliau dan terus merengek memohon belas kasih dari beliau. 

Beliau tidak tega dan akhirnya diberikanlah uang satu dirham itu kepada pengemis tadi. Beliau pun mengisi kantong yang dibawanya dengan pasir. Beliau pulang dengan penuh kekhawatiran. Takut bila istrinya marah karena tidak membawa apa-apa. Sambil membawa kantong berisi pasir beliau bergegas pulang. Sesampainya di rumah beliau membuka kantong itu, ternyata isinya berubah menjadi tepung yang sangat putih. Istri beliau pun mengambil tepung itu dan membuat adonan roti darinya. 

Ketika malam tiba sang istri menyuguhkan roti yang tadi ia buat untuk suaminya. Ketika melihat roti Abu Muslim bertanya kepada istrinya, “Dari mana roti ini?” Istrinya menjawab, “Dari tepung yang engkau bawa tadi.” Beliau memakannya sambil menangis. 

Subhanallah kedermawanan yang sangat menakjubkan. Dalam kondisi yang amat susah beliau masih bersemangat untuk bersedekah. Dan Allah membalas kebaikan beliau dan menggantikannya dengan yang lebih baik. 

Beliau juga dikenal pemberani dan sangat perhatian dengan para penguasa. Bila beliau melihat ada hal yang perlu diluruskan beliau segera menemui penguasa tersebut dan menasehatinya dengan bijak dan penuh hikmah. 

Disebutkan beliau pernah mendatangi Mu’awiyah bin Yazid. Beliau berkata kepadanya memberi nasehat, “Janganlah engkau memihak dengan kabilah manapun. Hal itu membuat engkau jauh dari keadilan.” Disebutkan oleh para ulama ahli sejarah beliau meninggal di bumi Romawi. Semoga Allah membalas segala kebaikan dan perjuangan beliau dengan pahala yang melimpah. 


Disadur dari kitab Siyar A’laamun Nubala’ dan yang lain. 

Sumber: Majalah Qudwah edisi 72 vol.07 1441 H rubrik Ulama. Pemateri: Al Ustadz Abu Amr As Sidawiy.