Cari Blog Ini

Dia... di atas Langit

Amat mengherankan perkaranya ketika dimunculkan satu pertanyaan i'tiqodiyah, "Di mana Allah?", kita mendapatkan jawaban yang bermacam-macam dan berbeda-beda dari mulut-mulut kaum muslimin. Ada yang beranggapan bahwa tidak boleh mempertanyakan di mana Allah, tetapi tak sedikit pula yang menjawab, "Allah ada di mana-mana", lebih ironisnya ada yang mengatakan, "Allah tidak di atas, tidak juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah kiri, tidak di barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di utara."

Para pembaca, sungguh sangat memprihatinkan bila seorang muslim atau banyak muslim tidak mengetahui masalah pokok dalam agamanya ini, tapi apa hendak dikata bila memang realita yang ada menunjukkan demikian, satu fenomena yang cukup mu`sif (menyedihkan) menimpa ummat ini yang dilatarbelakangi dengan jauhnya dari pendidikan ilmu agama yang benar, sementara Allah telah berfirman,
يُؤۡتِى ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِىَ خَيۡرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
"Allah menganugrahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur`an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (QS Al Baqoroh: 269).
قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS Az Zumar: 9).

Bagaimana tidak dikatakan hal yang pokok dalam agama, pengetahuan tentang "di mana Allah?" tatkala ternyata Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikannya sebagai dalil akan kebenaran iman seseorang. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud, Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu'awiyah bin Hakam as Sulami, ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, "Wahai Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?" Beliau menjawab, "Panggil dia kemari!" Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, "Di mana Allah?" Dia menjawab, "Di langit." "Siapa aku?" tanya Rosul. "Engkau Rosulullah (utusan Allah)" ujarnya. Kemudian Rosulullah berkata padaku, "Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang mu`min."

Di dalam hadits ini terkandung tiga pelajaran yang sangat signifikan.

  • Pertama: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit.
  • Kedua: Disyari'atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya "Di mana Allah?".
  • Ketiga: Disyari'atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar menjawab, "Di atas langit." Sulaiman at Taimi, salah seorang tabi'in mengatakan, "Bila aku ditanya di mana Allah? Aku pasti akan menjawab di atas langit."

Para pembaca, apa jadinya jika ternyata sebagian kaum yang taunya sebatas "air barokah" dan orang-orang yang spesialisasinya hanya itu kemudian apriori untuk menolak bahkan lebih dari itu mengkafirkan orang yang mempertanyakan "Di mana Allah?" Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengingkari permasalahan ini berarti ia telah mengingkari Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, wal 'iyadzubillah bila kemudian mengkafirkannya. Jawaban seorang budak dalam hadits di atas sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala,
ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ ۝١٦ أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا
"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu... Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu." (QS Al Mulk: 16-17).
Tidaklah mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah -seorang alim dari negeri Iraq- berkata, "Barangsiapa yang mengingkari Allah 'azza wa jalla di langit maka ia telah kufur!" Imam Malik -imam Darul Hijroh- mengatakan, "Allah di atas langit, sedang ilmuNya (pengetahuanNya) di setiap tempat, tidak akan luput sesuatu darinya." Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan sebutan Imam asy Syafi'i berkata, "Berbicara tentang sunnah yang menjadi peganganku dan para ahli hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas 'arsy di langit..." Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, "Apakah Allah di atas langit yang ke tujuh di atas 'arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?" Beliau menjawab, "Ya, Dia di atas 'arsyNya tidak akan luput sesuatupun darinya." (Lihat kitab Al 'Uluw, Imam adz Dzahabi).

Aqidah yang agung ini telah tertanam dalam dada-dada kaum muslimin periode pertama, para salafus sholih ahlussunnah wal jama'ah. Berkata Imam Qutaibah bin Sa'id -wafat pada tahun 240 H-, "Ini adalah pendapat / ucapan para imam-imam Islam, sunnah, dan jama'ah, bahwa kita mengenal Rabb kita di atas langit yang ke tujuh di atas 'arsyNya." Sehingga semakin jelaslah bahwa Allah di atas langit sebagai ijma ahlissunnah wal jama'ah yang berlandaskan Kitab, Sunnah, akal, dan fitrah. Allah berfirman,
دَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi." (QS As Sajdah: 5).
إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥ
"KepadaNyalah naik perkataan yang baik dan amal sholeh yang dinaikkanNya." (QS Fathir: 10).
تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٍ
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhannya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." (QS Al Ma'arij: 4).
ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ
"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit..." (QS Al Mulk: 16-17).
سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى
"Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi." (QS Al A'laa: 1).
Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan sampai-sampai sebagian besar kalangan Syafi'i mengatakan, "Di dalam Al Qur`an terdapat seribu dalil atau bahkan lebih menunjukkan bahwa Allah ta'ala tinggi di atas makhlukNya." (Majmu'ul Fatawa: 5/226). Di dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu 'anhu bahwa ketika Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia pada hari Arafah, beliau berkata, "Ya Allah, saksikanlah" (seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah langit). Semua orang yang berakal akan menetapkan bahwa ketinggian adalah sifat sempurna sedangkan kebalikannya adalah sifat kekurangan, sementara Allah 'azza wa jalla tersucikan dari hal-hal yang bersifat kekurangan, ini semua menunjukkan bahwa Dzat Allah di atas langit adalah suatu kesempurnaan bagiNya. Demikian pula secara fitroh, semua kaum muslimin di belahan dunia apabila berdo'a mengangkat kedua tangannya ke langit, tak didapatkan seorang pun dari mereka apabila mengatakan, "Ya Allah, ampunilah dosaku" mengarahkan kedua tangannya ke tanah -selama-lamanya!!- menunjukkan secara fitrah, semua manusia menetapkan bahwa Dzat Allah di atas langit.

Para pembaca, perjalanan waktu yang cukup lama aqidah Islam ini tak lagi dikenal dan diketahui mayoritas umat Islam, seakan-akan sirna dari sumbernya, malah sebaliknya faham-faham Jahmiyah, Asy'ariyah, Mu'tazilah, dan ahli kalam yang merajalela bak wabah penyakit yang menular. Kalangan anak-anak, remaja, dan para orang tua, bahkan sang ustadz atau kyai dan guru ngaji bila ditanya, "Di mana Allah?" serempak menjawab, "Allah ada di mana-mana." Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sebagian yang dinisbatkan kepada ilmu berdalil atas pernyataannya itu dengan firman Allah,
وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS Al Hadid: 4).
Memang menjadi ciri khas ahli bathil adalah "seenaknya mengambil dalil tetapi buruk ketika berdalil". Ketahuilah bahwa ayat itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah ada di mana-mana, sebab bila difahami demikian, maka tentu ketika seseorang berada di masjid Allah ada di situ, ketika di pasar Allah juga ada di situ, bahkan tatkala seseorang berada di tempat kotor sekalipun, seperti WC, maka Allah pun ada di situ! Maha tinggi Allah atas pernyataan-pernyataan ini. Tetapi maksud dari ayat itu "Dia bersama kamu..." ialah ilmuNya, pengawasanNya, penjagaanNya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317). Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H- pernah ditanya tentang ayat ini "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." Beliau menjawab, "yakni ilmuNya." Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad, pent.) ditanya apa makna "Dan Dia bersama kamu"? Beliau menjawab, "Yakni ilmuNya, ilmuNya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas arsy..." Imam Nu'aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang firman Allah "Dan Dia bersama kamu" beliau berkata, "Maknanya tidak ada sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmunya." (lihat Al 'Uluw, Imam adz Dzahabi). Ketika Imam Abu Hanifah mengatakan, "Allah subhanahu wa ta'ala di langit tidak di bumi", ada yang bertanya, "Tahukah Anda bahwa Allah berfirman, 'Dia (Allah) bersama kamu'?" Beliau menjawab, "Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang "saya akan selalu bersama kamu" padahal kamu jauh darinya. (I'tiqodul a`immah al arba'ah).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sudah saatnya kita tanamkan kembali aqidah yang murni warisan Nabi dan para salafus sholih ini di dalam jiwa-jiwa generasi Islam kini dan mendatang. Sungguh keindahan, ketentraman mewarnai anak-anak kita dan para orang tua saat kita tanyai "Di mana Allah?" lalu mereka mengarahkan jari telunjuknya ke atas dan berucap, "Allah di langit." Wallahul haadi ila sabilir rosyaad. Wal ilmu indallah.

Ditulis oleh al Ustadz Abu Hamzah al Atsari.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` Edisi ke-42 Tahun ke-1 / 03 Oktober 2003 M / 06 Sya'ban 1424 H.

Al-Ishabah - 911. Tsabit bin Waqsy

٩١١ – ثَابِتُ بۡنُ وَقۡشِ بۡنِ زُغۡبَةَ بۡنِ زَعُورَاءَ بۡنِ عَبۡدِ الۡأَشۡهَلِ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡأَشۡهَلِيُّ

911. Tsabit bin Waqsy bin Zughbah bin Za’ura` bin ‘Abdul Asyhal Al-Anshari Al-Asyhali

ذَكَرَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ فِي الۡمَغَازِي قَالَ: حَدَّثَنِي عَاصِمُ بۡنُ عُمَرَ عَنۡ مَحۡمُودِ بۡنِ لَبِيدٍ قَالَ: لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى أُحُدٍ رَفَعَ ثَابِتَ بۡنَ وَقۡشٍ وَحِسۡلَ بۡنَ جَابِرٍ، وَهُوَ وَالِدُ حُذَيۡفَةَ بۡنِ الۡيَمَانِ فِي الۡآطَامِ مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبۡيَانِ وَكَانَا شَيۡخَيۡنِ كَبِيرَيۡنِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلۡآخَرِ: لَا أَبَا لَكَ، مَا نَنۡتَظِرُ؟ إِنَّمَا نَحۡنُ هَامَةٌ الۡيَوۡمَ أَوۡ غَدًا، فَلَحِقَا بِالۡمُسۡلِمِينَ لِيُرۡزَقَا الشَّهَادَةَ، فَلَمَّا دَخَلَا فِي النَّاسِ قَتَلَ الۡمُشۡرِكُونَ ثَابِتَ بۡنَ وَقۡشٍ، وَالۡتَفَّتۡ أَسۡيَافُ الۡمُسۡلِمِينَ عَلَى وَالِدِ حُذَيۡفَةَ فَقَالَ حُذَيۡفَةُ: أَبِي أَبِي فَقَتَلُوهُ، وَهُمۡ لَا يَعۡرِفُونَهُ، فَقَالَ حُذَيۡفَةُ: يَغۡفِرُ اللهُ لَكُمۡ، وَتَصَدَّقَ بِدِيَتِهِ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ، وَقِصَّةُ وَالِدِ حُذَيۡفَةَ فِي ذٰلِكَ فِي الصَّحِيحِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ لَكِنۡ لَيۡسَ فِيهِ ذِكۡرُ ثَابِتٍ.
Ibnu Ishaq menyebutkan di dalam Al-Maghazi, beliau berkata: ‘Ashim bin ‘Umar dari Mahmud bin Labid, beliau berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Uhud, beliau mengirim Tsabit bin Waqsy dan Hisl bin Jabir –beliau ayah Hudzaifah ibnul Yaman- ke benteng bersama para wanita dan anak-anak. Keduanya adalah dua orang yang sudah lanjut usia. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Tidak ada ayah bagimu! Apa yang kita tunggu? Kita ini sudah dekat dengan kematian. Lalu keduanya menyusul kaum muslimin agar bisa meraih syahid. Ketika keduanya masuk ke kancah peperangan, pasukan musyrikin berhasil membunuh Tsabit bin Waqsy. Sedangkan pedang-pedang pasukan muslimin berbalik mengurung ayahnya Hudzaifah. Hudzaifah menyeru: Ayahku, ayahku. Namun mereka telah membunuhnya dalam keadaan mereka tidak mengetahuinya. Hudzaifah berkata: Semoga Allah mengampuni kalian. Lalu ia mensedekahkan diatnya kepada kaum muslimin. Dan kisah Hudzaifah tersebut ada di kitab Shahih dari hadits ‘Aisyah, namun Tsabit tidak disebutkan padanya.

Al-Ishabah - 1712. Hisl bin Jabir

١٧١٢ – حِسۡلُ – بِكَسۡرِ أَوَّلِهِ وَسُكُونِ ثَانِيهِ – بۡنُ جَابِرِ الۡعَبۡسِيُّ وَالِدُ حُذَيۡفَةَ

1712. Hisl –dengan mengkasrah huruf pertama dan menyukun huruf kedua- bin Jabir Al-‘Absi, ayah dari Hudzaifah

يَأۡتِي فِي حُسَيۡلٍ بِالتَّصۡغِيرِ.. (ز).
Akan datang pada Husail dengan bentuk tashghir.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6316

١٠ – بَابُ الدُّعَاءِ إِذَا انۡتَبَهَ بِاللَّيۡلِ

10. Bab doa ketika terbangun di waktu malam

٦٣١٦ – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا ابۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ سَلَمَةَ، عَنۡ كُرَيۡبٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: بِتُّ عِنۡدَ مَيۡمُونَةَ، فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ فَأَتَى حَاجَتَهُ، غَسَلَ وَجۡهَهُ وَيَدَيۡهِ، ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ، فَأَتَى الۡقِرۡبَةَ فَأَطۡلَقَ شِنَاقَهَا، ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءًا بَيۡنَ وُضُوءَيۡنِ لَمۡ يُكۡثِرۡ، وَقَدۡ أَبۡلَغَ، فَصَلَّى، فَقُمۡتُ فَتَمَطَّيۡتُ، كَرَاهِيَةَ أَنۡ يَرَى أَنِّي كُنۡتُ أَتَّقِيهِ، فَتَوَضَّاۡتُ، فَقَامَ يُصَلِّي، فَقُمۡتُ عَنۡ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِأُذُنِي عَنۡ يَمِينِهِ، فَتَتَامَّتۡ صَلَاتُهُ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ رَكۡعَةً، ثُمَّ اضۡطَجَعَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ، وَكَانَ إِذَا نَامَ نَفَخَ، فَآذَنَهُ بِلَالٌ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى وَلَمۡ يَتَوَضَّأۡ، وَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: (اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡ فِي قَلۡبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمۡعِي نُورًا، وَعَنۡ يَمِينِي نُورًا، وَعَنۡ يَسَارِي نُورًا، وَفَوۡقِي نُورًا، وَتَحۡتِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلۡفِي نُورًا، وَاجۡعَلۡ لِي نُورًا). قَالَ كُرَيۡبٌ: وَسَبۡعٌ فِي التَّابُوتِ، فَلَقِيتُ رَجُلًا مِنۡ وَلَدِ الۡعَبَّاسِ، فَحَدَّثَنِي بِهِنَّ، فَذَكَرَ عَصَبِي وَلَحۡمِي وَدَمِي وَشَعَرِي وَبَشَرِي، وَذَكَرَ خَصۡلَتَيۡنِ. [طرفه في: ١١٧].
6316. 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami: Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salamah, dari Kuraib, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Aku pernah bermalam di rumah Maimunah. Malam itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit berdiri lalu menunaikan hajat. Lalu mencuci wajah dan kedua tangannya, kemudian tidur. Kemudian beliau bangun menuju wadah air dan membuka ikatannya. Lalu beliau berwudhu` dengan wudhu` yang pertengahan, tidak berlebihan air namun sudah mencukupi. Beliau lalu shalat. Aku bangun dan meregangkan badan karena tidak suka kalau beliau mengetahui bahwa aku sudah memperhatikan beliau dari tadi. Lalu aku wudhu` kemudian shalat. Aku berdiri di sebelah kiri beliau. Ternyata beliau menarik telingaku ke sebelah kanan beliau. Beliau menyelesaikan sebanyak tiga belas raka'at. Setelah itu beliau berbaring dan tidur sampai mendengkur. Dan beliau memang terbiasa mendengkur apabila tidur. Setelah itu, Bilal mengumumkan shalat kepada beliau. Lalu beliau pun shalat tanpa berwudhu` lagi. Beliau berkata di dalam doa beliau, “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di penglihatanku, cahaya di telingaku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan jadikanlah cahaya untukku.” Kuraib berkata: Dan ada tujuh tempat cahaya yang dahulu kuhafal di dadaku, lalu aku bertemu seseorang anaknya Al-'Abbas yang menceritakanku ketujuh tempat itu. Dia menyebutkan urat sarafku, dagingku, darahku, rambutku, kulitku. Dan dia menyebutkan dua tempat lagi.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Bab Fa'il

بَابُ الۡفَاعِلِ

قَالَ: (بَابُ الۡفَاعِلِ) الۡفَاعِلُ هُوَ: الۡاسۡمُ، الۡمَرۡفُوعُ، الۡمَذۡكُورُ قَبۡلَهُ فِعۡلُهُ.
Bab Fa'il. Fa'il adalah isim yang dirafa' yang fi'ilnya disebutkan sebelumnya.
أَقُولُ: الۡفَاعِلُ لُغَةً، مَنۡ أَوۡجَدَ الۡفِعۡلَ. وَاصۡطِلَاحًا: مَا ذَكَرَهُ الۡمُصَنِّفُ بِقَوۡلِهِ: (هُوَ الۡاسۡمُ) إلخ.
فَقَوۡلُهُ: (الۡاسۡمُ) خَرَجَ بِهِ الۡفِعۡلُ وَالۡحَرۡفُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا فَاعِلًا.
وَقَوۡلُهُ: (الۡمَرۡفُوعُ) خَرَجَ بِهِ الۡمَنۡصُوبُ وَالۡمَجۡرُورُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا فَاعِلًا.
وَقَوۡلُهُ: (الۡمَذۡكُورُ قَبۡلَهُ فِعۡلُهُ) خَرَجَ بِهِ الۡمُبۡتَدَأُ وَالۡخَبَرُ وَبَقِيَّةُ الۡمَرۡفُوعَاتِ؛ فَإِنَّ الۡمُبۡتَدَأَ -مَثَلًا- اسۡمٌ مَرۡفُوعٌ، لَمۡ يُذۡكَرۡ قَبۡلَهُ فِعۡلٌ أَصۡلًا.
Fa'il secara bahasa adalah siapa saja yang mewujudkan suatu perbuatan. Adapun secara istilah adalah yang disebutkan penyusun dengan ucapannya: “Isim...” sampai selesai.
Ucapan beliau “isim” berarti fi'il dan huruf tidak termasuk, sehingga salah satu dari keduanya tidak bisa menjadi fa'il.
Ucapan beliau “yang dirafa'” berarti yang dinashab dan dijar tidak termasuk. Sehingga salah satu dari kedua jenis isim itu tidak bisa menjadi fa'il.
Ucapan beliau “yang fi'ilnya disebutkan sebelumnya” berarti mubtada`, khabar, dan isim marfu' lainnya tidak termasuk. Karena mubtada` -misalnya- adalah isim yang dirafa' namun fi'ilnya tidak disebutkan sebelumnya secara asal.
مِثَالُ الۡفَاعِلِ قَوۡلُكَ: (قَامَ بَكۡرٌ) وَ(ضَرَبَ مُحَمَّدٌ زَيۡدًا) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَجَآءَ رَبُّكَ﴾ [الفجر: ٢٢] فَكُلٌّ مِنۡ (بَكۡرٌ وَمُحَمَّدٌ وَرَبُّكَ) فَاعِلٌ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ مَرۡفُوعٌ تَقَدَّمَهُ فِعۡلُهُ الۡوَاقِعُ مِنۡهُ وَهُوَ (قَامَ وَضَرَبَ وَجَاءَ).
فَعُلِمَ مِمَّا تَقَدَّمَ أَنَّ الۡفَاعِلَ لَا يَكُونُ إِلَّا اسۡمًا، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَرۡفُوعًا، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مُؤَخَّرًا عَنِ الۡفِعۡلِ.
Contoh fa'il adalah ucapanmu: قَامَ بَكۡرٌ dan ضَرَبَ مُحَمَّدٌ زَيۡدًا, serta firman Allah ta'ala: وَجَآءَ رَبُّكَ (QS. Al-Fajr: 22). Jadi setiap dari بَكۡرٌ, مُحَمَّدٌ, dan رَبُّكَ adalah fa'il karena ia adalah isim yang dirafa' yang didahului oleh fi'il (perbuatan) yang dilakukannya yaitu قَامَ, ضَرَبَ, dan جَاءَ.
Jadi, telah diketahui dari pembahasan di atas, bahwa fa'il tidak bisa kecuali berupa isim, tidak bisa kecuali dirafa', dan tidak bisa kecuali terletak setelah fi'il.

Lihat pula:
  • Pembahasan Bab Fa'il pada kitab At-Tuhfatus Saniyyah