Cari Blog Ini

Qutaibah bin Sa'id

Sang Guru Besar


Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad bin Hambal. Tentunya nama-nama tadi sudah sangat tidak asing lagi di telinga kita. Tak usah heran, kitab-kitab mereka adalah kitab rujukan utama dalam bidang hadits. Nah, tahukah pembaca sekalian bahwa mereka, para imam-imam hadits tersebut, kecuali Ibnu Majah, pernah memiliki guru yang sama? Salah satu guru mereka adalah Qutaibah bin Sa’id. Pernah mendengar namanya? Mari kita simak biografinya.

Beliau adalah pemuda yang semangat belajar, banyak melakukan perjalanan dalam thalabul ilmi, belajar dari tiga angkatan ulama, berumur panjang. Sederetan nama ulama besar belajar kepadanya.

Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif Ats-Tsaqafi, al Balkhi, al Baghlani. Dilahirkan di tahun 149 H. Dikisahkan bahwa kakek beliau, Jamil bin Tharif termasuk bekas budak al Hajjaj Ats Tsaqafi, sang gubernur yang sangat terkenal kezalimannya. Apabila al Hajjaj duduk di singgasananya, maka Jamil bin Tharif duduk di atas kursi sebelah kanan al Hajjaj.

MASA MUDA


Qutaibah bercerita, “Dulu, ketika saya masih muda, saya belajar ra`yu (logika). Kemudian di dalam mimpiku, saya melihat sebuah wadah air diulurkan dari langit. Saya melihat ketika itu orang-orang berusaha menggapainya tapi tidak bisa. Kemudian saya mendekati wadah air tersebut dan berhasil meraihnya. Saya pun melihatnya. Ternyata saya bisa melihat tempat-tempat antara barat dan timur. Tatkala esok harinya, saya datang kepada Mikhdha’ al Bazzaz, beliau biasanya mengetahui takwil mimpi. Saya pun ceritakan mimpiku kepadanya. Ia pun berkata, ‘Wahai putraku hendaknya kamu menekuni hadits, karena ilmu berlandaskan logika tidak akan mencapai timur dan barat. Yang bisa demikian adalah dengan mempelajari hadits.’ Saya pun tinggalkan ra’yu dan mulailah saya menekuni ilmu hadits.”

Muhammad bin Humaid bin Farwah rahimahullah berkata, Qutaibah pernah berkata, “Saya turun ke Iraq (untuk menuntut ilmu) pertama kali pada tahun 172 H, ketika itu saya berumur 23 tahun.”

KETELITIAN DALAM MENIMBA ILMU


Qutaibah rahimahullah berkata, “Dulu, kami tidak menulis hadits Ibnu Lahi’ah[1] kecuali dari catatan keponakannya atau dari catatan Ibnu Wahb.” Qutaibah rahimahullah pernah menuturkan, bahwa Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata, “Hadits-hadits Anda dari Ibnu Lahi’ah shahih-shahih.” Maka jawab beliau, “Karena dulu kami menulisnya terlebih dahulu dari Ibnu Wahb kemudian baru mendengarnya dari Ibnu Lahi’ah.” Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam meriwayatkan hadits. Beliau tidak meriwayatkan semua hadits dari Ibnu Lahi’ah, tidak pula membuang semua haditsnya. Dia teliti satu per satu hadits dari Ibnu Lahi’ah agar tidak tersebar hadits yang lemah, dan tidak terbuang hadits yang kuat.

UMUR PANJANG UNTUK MEMBANTU ISLAM DAN MUSLIMIN


Beliau berumur panjang. Beliau meninggal berumur 90 tahun. Beliau menimba ilmu dari para ulama dari tiga angkatan: angkatan Al Laits, angkatan Waki’, dan angkatan Isma’il bin Abi Uwais. Beliau mengumpulkan ilmu dari ulama Khurasan, Iraq, Hijaz, dan Mesir. Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Qutaibah melakukan banyak perjalanan untuk mencari ilmu. Beliau telah menulis ilmu yang tidak terhingga banyaknya.”

Beliau menimba ilmu yang banyak dari para ulama. Di antara guru beliau adalah Imam Malik, Laits bin Sa’ad (ulama besar Mesir), dan masih banyak lainnya.

SEMANGAT PARA PENUNTUT ILMU UNTUK MENIMBA ILMU BELIAU


Qutaibah adalah guru dari para tokoh-tokoh terkenal. Penyusun kutubus sittah, enam kitab induk hadits yang merupakan referensi utama kaum muslimin, merupakan murid-murid beliau. Kecuali Ibnu Majah. Namun, Ibnu Majah pun sebenarnya juga meriwayatkan dari beliau, hanya saja melalui perantara.

Selain itu, tercatat sekian nama besar belajar di majelis beliau, seperti Nu’aim bin Hammad, Ahmad bin Hanbal, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Yahya bin Ma’in, al Hasan bin Arafah, Ibrahim bin al Harbi, Abu Zur’ah, Ja’far al Firyabi, al Hasan bin Sufyan, Musa bin Harun, Abul Abbas as Sarraj dan yang lainnya.

Tidak ada tokoh besar satu pun di Irak kecuali telah menimba ilmu dari Qutaibah. Imam Ahmad, imam negeri Baghdad, juga telah mengambil periwayatan dari beliau. Hal yang serupa dilakukan oleh Abu Khaitsamah, Abbas al Anbari, al Humaidi, di Makkah.

Al Fallas berkata, “Saya pernah bertemu Qutaibah di Mina. Saat itu Abbas al Anbari sedang menulis ilmu dari Qutaibah. Ketika itu saya melewatinya begitu saja. Saya tidak mengambil ilmu beliau sedikit pun. Maka kemudian saya menyesal.”

Abu Dawud berkata, “Qutaibah datang ke Baghdad pada tahun 216 H. Kemudian majelis beliau dihadiri oleh Ahmad [bin Hanbal] dan Yahya [bin Ma’in].”

Abu Hatim ar Razi mengatakan, “Saya menghadiri majelis beliau di Baghdad. Imam Ahmad telah hadir ketika itu, bertanya kepada Qutaibah tentang beberapa hadits, kemudian hadits-hadits tersebut disampaikan Qutaibah kepada Imam Ahmad. Di kesempatan yang lain di Kufah, Abu Bakar bin Abi Syaibah hadir bersama Ibnu Numair pada suatu malam di Kufah. Saya pun ikut hadir bersama keduanya. Keduanya meneliti hadits bersama Qutaibah, demikian pula saya, sampai waktu Shubuh.”

SEMANGAT BELIAU UNTUK MENYAMPAIKAN HADITS


Ahmad bin Sayyar bin Ayyub berkata, “Qutaibah seseorang yang berperawakan sedang, rambut bagian depan rontok sehingga terlihat kulit kepalanya, berwajah manis, berjenggot bagus, berakhlak baik, berpelana luas, kaya memiliki sekian ragam ternak, unta, sapi, kambing, dan memiliki banyak hadits. Beliau pernah berkata kepadaku, ‘Tinggallah di sini bersamaku musim dingin ini, sampai saya keluarkan seratus ribu hadits dari lima orang.’ Saya pun menebaknya, ‘Mungkin salah satunya adalah Umar bin Harun?’ Jawab beliau, ‘Bukan, dulu saya menulis dari Umar bin Harun saja lebih dari 30 ribu hadits, akan tetapi hadits-hadits tersebut dari Waki’ bin al Jarrah, Abdul Wahhab ats Tsaqafi, Jarir ar Rozi, Muhammad bin Bakar al Barsani.’ Dan orang yang kelima saya lupa ketika beliau menyebutnya.”

BELIAU TERHADAP ORANG-ORANG YANG PERNAH BELAJAR DI HADAPANNYA


Qutaibah rahimahullah mengatakan, “Tidak sedikit saya menulis riwayat dari Abu Bakar bin Abu Syaibah.” Ibnu Abi Syaibah merupakan salah satu murid beliau.

Qutaibah rahimahullah juga mengatakan tentang Ahmad bin Hanbal, “Orang terbaik zaman kita adalah Ibnul Mubarak kemudian pemuda ini.” Yang beliau maksudkan adalah Ahmad bin Hanbal. “Apabila engkau melihat seseorang mencintai Ahmad, ketahuilah bahwa orang tersebut pengikut sunnah. Seandainya Ahmad menjumpai masa Ats Tsauri, al Auzai, dan al Laits, tentunya dia akan lebih mulia dari mereka.” Dikatakan kepada Qutaibah, “Anda menyejajarkan Ahmad dengan jajaran tabi’in?” Jawabnya, “Bahkan kepada tabi’in senior.” Ya, begitulah beliau memuliakan Ahmad bin Hanbal. Dengan menyejajarkan Ahmad bin Hanbal di golongan tabi’in, ini berarti menyatakan bahwa Ahmad lebih baik daripada beliau. Inilah kerendahhatian beliau.

Qutaibah rahimahullah juga pernah berkata, “Pemuda Khurasan (yang menonjol dalam ilmunya) ada empat: Muhammad bin Isma’il (Al Bukhari), Abdullah ad Darimi, Zakariya bin Yahya al Lu’lu’i, dan al Hasan bin Syuja’ al Balkhi.”

Qutaibah rahimahullah juga mengatakan, “Tokoh penghafal hadits di Khurasan adalah Ishaq bin Rahuyah, kemudian Abdullah ad Darimi kemudian Muhammad bin Isma’il.”

Muhammad bin Yusuf rahimahullah bercerita, “Dulu kami berada di sisi Abu Raja’ Qutaibah, kemudian beliau ditanya tentang hukum orang yang sedang mabuk menjatuhkan talak kepada istri. Beliau justru menjawab, ‘Itu ada Ahmad bin Hanbal, Ibnul Madini, Ibnu Rahuyah. Allah telah mendatangkan mereka kepadamu (maksudnya, hari ini anda tidak perlu repot-repot mendatangi mereka karena mereka sekarang ada di sini- Allahu a’lam, ed.)’, dan menunjuk Muhammad bin Isma’il (Al Bukhari).”

Qutaibah juga tidak segan untuk menyanjung muridnya, jika memang muridnya pantas untuk menerima sanjungan tersebut. Tidak pernah tebersit dalam dirinya rasa tersaingi oleh ketenaran muridnya. Muhammad bin Yusuf al Hamadzani berkata, “Dulu kami bersama Qutaibah bin Sa’id. Datang seseorang dari kabilah Sya’rani yang dipanggil Abu Ya’qub. Dia bertanya kepada Qutaibah perihal Muhammad bin Isma’il (al Bukhari). Qutaibah pun menundukkan kepalanya, beberapa lama kemudian mendongakkannya ke arah langit, lalu berkata, ‘Wahai kalian, saya telah memerhatikan hadits dan ar ra’yu (ilmu logika). Saya sudah bermajelis kepada para ahli fikih, orang-orang zuhud, dan ahli ibadah. Semenjak saya bisa mengingat, saya belum pernah melihat ada orang seperti Muhammad bin Isma’il.”

Beliau juga menyanjung al Bukhari, “Muhammad bin Isma’il dari sisi jujur dan wara’-nya, kalau berada di kalangan shahabat, seperti Umar di tengah-tengah shahabat.”

Tatkala Qutaibah bin Sa’id sampai ke kota Rayy (sekarang Teheran), para penduduk Rayy meminta beliau agar menyampaikan hadits kepada mereka. Beliau justru menolaknya. Jawab beliau, “Apakah saya masih akan menyampaikan hadits kepada kalian, padahal setelah majelisku ada Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnul Madini, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Abu Khaitsamah?”

SEBAGIAN MURIDNYA TELAH MENINGGAL, SEBAGIAN LAGI BARU BELAJAR


Al Humaidi, Nu’aim bin Hammad, Yahya bin Abdil Hamid al Harrani, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali Al Madini, Muhammad bin Abdillah bin Numair, Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya telah menimba ilmu dari Qutaibah dan meninggal lebih dahulu daripada Qutaibah.

Al Khathib al Baghdadi rahimahullah berkata, “Nu’aim bin Hammad dan Abul Abbas As Sarraj telah meriwayatkan hadits dari Qutaibah sedangkan selisih kematian keduanya adalah 84 tahun.”

Adz Dzahabi menerangkan bahwa di antara ulama yang pernah meriwayatkan hadits dari Qutaibah adalah al Humaidi dan Muhammad bin al Fadhl al Wa’izh, selisih antara kematian mereka berdua adalah 98 tahun. Al Wa’izh az Zahid Abu Abdillah Muhammad bin al Fadhl Al Balkhi, merupakan murid Qutaibah bin Sa’id yang paling terakhir meninggal.

MAKSUD HATI INGIN BELAJAR


Sebagian para penuntut ilmu berkeinginan untuk bisa menimba ilmu dari beliau akan tetapi sebagian mereka terhalang, seperti Ibnu Majah.

Ja’far al Khuldi berkata, “Bahwasanya Al Abbar –salah seorang yang menekuni kezuhudan- meminta izin kepada ibunya agar bisa melakukan belajar kepada Qutaibah. Akan tetapi dia tidak diizinkan ibunya. Setelah beberapa lama kemudian ibunya meninggal, barulah ia berangkat ke daerah Khurasan. Namun setibanya di kota Balkh ternyata Qutaibah telah meninggal. Para penduduk kota tersebut pun menghiburnya atas musibah tersebut. Maka ia justru menjawab, ‘Ini buah dari ilmu, sesungguhnya saya memilih ridha ibu.’”

Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya meminta izin kepada ayahku untuk belajar kepada Qutaibah, justru beliau berkata, ‘Pelajari dulu al Quran sampai nanti saya izinkan,’ Saya pun benar-benar menguasai Al Quran. Namun ayah berkata kepadaku, ‘Tunggu dulu sampai selesai shalat tarawih.’ Tatkala selesai hari ‘Id, beliau baru mengizinkan, kemudian saya berangkat ke Maru (ibu kota Khurasan). Namun, saya pun mendengar di Maru al Zudz tentang berita kematian Qutaibah.”

KECINTAAN TERHADAP SUNNAH DAN AHLUSSUNNAH


Qutaibah sangat mencintai para ulama yang mengagungkan sunnah. Hal ini merupakan bentuk nyata pengagungan beliau terhadap sunnah. Beliau pernah mengatakan, “Asy Syafi’i adalah imam.”

Abu Zur’ah berkata, “Saya pernah mendengar Qutaibah bin Said mengatakan, ‘Ats Tsauri meninggal, mati pulalah sifat wara’, Asy Syafii meninggal mati pulalah sunnah-sunnah, kelak Ahmad meninggal akan muncul bid’ah-bid’ah.’”

PENILAIAN ULAMA TERHADAP BELIAU


Abu Bakr al Atsram berkata, “Saya pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika disebut Qutaibah, beliau langsung memujinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah telah memberi gelar beliau, “tsiqah tsabt”. Gelar ini merupakan gelar yang tinggi. Dengan gelar tsiqah (terpercaya) saja, sudah menunjukkan agamanya yang baik disertai hapalan yang kuat. Apalagi ditambah dengan gelar tsabt (kokoh), ini menunjukkan bahwa Qutaibah bukanlah orang yang sembarangan.

Terbukti, Adz Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya, “Qutaibah bin Sa’id adalah Syaikhul Islam, al Muhaddits (ahli hadits yang menyibukkan dirinya dengan hadits), al imam (pemuka ulama), tsiqah (yang terpercaya), yang banyak melakukan perjalanan (menuntut ilmu), salah seorang periwayat (yang terkemuka dalam) Islam.”

MASA TUA DI BAGHLAN


Di akhir kehidupannya, beliau ditunjuk sebagai hakim untuk daerah Baghlan, suatu daerah pelosok di al Balkh. An Nasa’i pergi menuntut ilmu kepada Qutaibah pada tahun 230 H, tinggal di Baghlan setahun penuh, menulis banyak hadits dari Qutaibah. Akan tetapi, beliau merasa berat untuk meriwayatkan dari kitab Ibnu Lahi’ah karena an Nasa’i memandang Ibnu Lahi’ah lemah.

Qutaibah meninggal pada bulan Sya’ban tahun 240 H di Baghlan dalam usia 90 tahun. Telah menghabiskan waktu yang panjang dalam membela sunnah dan para pembawanya. Rahimahullah rahmatan wasi’an, semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. [Ustadz Abdullah]


[1] Ibnu Lahi’ah adalah seorang perawi yang memiliki hafalan yang lemah pada akhir hayatnya. Sebagian ulama mengatakan beliau menjadi melemah hafalannya setelah terbakar kitab-kitabnya. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau lemah sejak awal hidupnya.

Sumber: Majalah Qudwah, edisi 18 volume 2 1435 H/ 2014 M, rubrik Biografi.