Cari Blog Ini

Sufyan Ats Tsauri

Betapa butuhnya seorang muslim untuk mengenali sejarah ulamanya. Merekalah tokoh-tokoh langka dan ajaib yang terlahir untuk umat ini. Berawal dari mengenali, selanjutnya berusaha berjalan di atas jalannya, dan mengikuti jejak-jejaknya.

Benar, merekalah qudwah hasanah, teladan yang baik bagi orang yang ingin mencari teladan. Mempelajari sejarah peri kehidupan mereka akan membangkitkan dalam jiwa ini keberanian di atas al haq, mengobarkan semangat dalam mencari ilmu, tekun dalam ibadah, berdakwah, serta mengingkari kemungkaran.

Dan di antara ulama tersebut adalah Imam Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats Tsauri. Sungguh, beliau adalah seorang tokoh besar, rujukan dalam ilmu, panutan dalam bab zuhud terhadap dunia dan wara’. Teladan dalam mengingkari kemungkaran dan menampakkan al haq. Dia adalah simbol dalam ibadah dan kekuatan hafalan. Semoga Allah merahmati dan meridhainya. Amat sedikit orang yang mengenalnya, hampir-hampir nama beliau dilupakan begitu saja, tidak pernah disebut-sebut di masyarakat kebanyakan.

Ia adalah putra seorang ahli hadits, Sa’id bin Masruq bin Habib. Mereka berasal dari kabilah Tsaur dari Bani Mudhar. Lahir pada tahun 97 H. Ayahnya adalah seorang yang tsiqah dalam hadits. Riwayat-riwayatnya disebutkan dalam kitab Shahih dan Sunan.

Sufyan memulai langkahnya dalam mencari ilmu ketika masih kecil, di bawah bimbingan langsung ayahandanya yang shadiq. Ibundanya adalah seorang wanita shalihah. Tentu begitu besar pengaruh sang ibu dalam membentuk langkah-langkah Sufyan meniti jalan ilmu.

Suatu saat sang ibu menasihati, “Wahai anakku, tuntutlah ilmu. Akulah yang akan mencukupi kebutuhanmu dengan alat pintal ini.” Ibunya adalah seorang wanita yang terampil memintal. Dari hasil jerih payah inilah, sang ibu mencukupi kebutuhan putranya untuk membeli kitab, alat-alat tulis, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya sebagai seorang thalibul ilmi.

Di kesempatan lain ibunya berkata, “Wahai Sufyan jika engkau telah berhasil menulis 10 huruf maka perhatikanlah, apakah ilmu itu menambah rasa takut kepada Allah pada jiwamu ataukah tidak? Jika tidak, maka ketahuilah ilmu itu tidak bermanfaat buatmu, bahkan membuatmu binasa.” Laa ilaha illa llah.

Dari gubuk semacam inilah, muncul sosok Sufyan Ats Tsauri. Ini mengingatkan kita semua wahai ayah ibu, betapa sangat besar pengaruh tarbiyah dalam sebuah keluarga. Keluarga yang baik akan mengeluarkan generasi yang baik pula dengan izin Allah. Dan sebaliknya.

Sufyan telah menghabiskan umurnya untuk mencari ilmu dan mencari hadits. Beliau berkata, “Ketika aku mulai menuntut ilmu, aku berpikir, “Wahai Rabbku, sebenarnya aku butuh untuk mencari nafkah demi penghidupanku, namun aku saksikan ilmu agama mulai sirna sedikit sedikit. Ilmu banyak ditinggalkan oleh manusia.”

Kata beliau selanjutnya, “Maka aku pun putuskan untuk tafarugh (konsentrasi) menuntut ilmu dan aku berdoa kepada Allah agar aku diberi-Nya kecukupan.”

Tahukah pembaca berapa lama beliau menuntut ilmu? 2 tahun? Tidak wahai saudaraku. Beliau menuntut ilmu lebih dari 60 tahun. Allahu Akbar!

Beliau berkata, “Sudah selayaknya seorang ayah mengarahkan anak-anaknya untuk mencari ilmu dan mempelajari hadits. Sungguh, kalian wahai orang tua akan diminta pertanggungan jawabannya atas anak-anak kalian.”

Beliau berkata pula, “Sungguh, karena arahan orang tuaku maka aku terus belajar dan belajar selama aku mendapati orang yang bisa mengajari ilmu kepadaku. Seandainya para ulama hadits tidak berdatangan ke negeri ini untuk menyampaikan ilmu dan membacakan hadits, maka aku lah yang datang ke rumah-rumah mereka.”

Tahukah pembaca berapa jumlah guru beliau selama menuntut ilmu? 5 guru? 10 guru? Tidak wahai saudaraku. Sesungguhnya beliau telah mereguk ilmu di hadapan 600 orang syaikh. Subhanallah!

Diriwayatkan dari Al Mubarak bin Sa’id, ia mengatakan, “Aku berjumpa dengan ‘Ashim bin Abi Najud. Ia adalah seorang imam, ahli qiraah yang mulia di zamannya. Datang imam ini kepada Sufyan Ats Tsauri meminta fatwa kepadanya.”

‘Ashim berkata kepada Sufyan, “Wahai Sufyan, engkau dahulu datang berguru kepada kami ketika masih kecil. Dan sekarang kamilah yang datang kepadamu dalam keadaan engkau telah menjadi seorang imam besar!”

Sufyan adalah seorang yang sangat gemar mencatat ilmu. Sampai-sampai di penghujung dari kehidupannya ia masih saja sibuk dengan ilmu. Ketika Sufyan terbaring di atas ranjangnya, dalam keadaan menunggu ajal dalam sakitnya yang parah, datanglah seseorang menyampaikan kepadanya sebuah hadits. Tahukah pembaca apa yang diperbuat Sufyan Ats Tsauri saat itu? Rasa takjubnya kepada hadits tak bisa menahan tangannya untuk menggapai papan tulis kecil yang tersimpan di bawah ranjangnya, lalu segera ia tulis hadits tersebut.

“Wahai Imam, dalam keadaan seperti ini engkau masih sibuk pula dengan mencatat?!” Ujar sebagian penjenguk keheranan.

“Apa salahnya? Bukankah ini perkara baik? Kalau aku masih diberi umur panjang, berarti aku telah mendengar satu kebaikan. Kalaupun aku mati, maka aku telah menulis satu kebaikan pula.” demikian prinsip beliau.

Sufyan melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah untuk mencari ilmu, berhaji, dan menziarahi masjid Nabi. Beliau sempatkan pula untuk berziarah ke Masjid Al Aqsha di Syam. Di awal perjalanan menuntut ilmu, umur beliau masih sangat muda, bulu-bulu pada wajah dan dagunya belum seberapa lebat. Perjalanan ke Yaman ditempuhnya pula untuk berguru kepada Ma’mar. Itulah beberapa safar yang dijalani Sufyan di samping negeri-negeri lainnya.

Waktu panjang yang dihabiskan oleh Sufyan Ats Tsauri dalam pengembaraan ini tentu membutuhkan banyak biaya. Apalagi Sufyan sempat menjadi buruan penguasa selama beberapa tahun dari kehidupannya gara-gara menolak permintaan khalifah untuk menjadi hakim. Ia harus gesit berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bersembunyi dan menyamar dengan berbagai cara sehingga ia lolos dari pengawasan utusan kerajaan. Namun begitu, ia tetap melanjutkan thalabul ilmi, mencari hadits dari para ulama. Untuk itulah, ia sempatkan dari waktunya untuk berdagang atau bekerja kepada seseorang dan mengambil upah darinya.

DAYA HAFAL YANG KUAT SERTA PENGAKUAN PARA ALIM


Sufyan memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia pernah berterus terang tentang dirinya, “Belum pernah qalbuku menghafal sesuatu, lalu aku lupa dengannya.” Para ulama hadits di zamannya mengunggulkan Sufyan daripada Imam Malik dan Syu’bah bin Al Hajjaj dari sisi hafalan hadits.

Yahya bin Sa’id Al Qaththan berkata, “Menurutku, tidak ada seorang pun (di zaman itu) lebih aku kagumi daripada Syu’bah. Bahkan menurutku, tidak ada yang menandinginya. Namun bila hafalan Syu’bah berbeda dengan Sufyan maka aku lebih yakin dengan hafalan Sufyan.”

Sufyan terbiasa membagi malamnya menjadi dua. Separuh untuk membaca Al Quran dan shalat malam. Separuh untuk mengulang-ulang hadits dan menghafalnya. Yang dihafalnya dari hadits tidak kurang dari 30 ribu.

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang yang lebih tahu halal dan haram daripada Sufyan Ats Tsauri.”

Sebagian dari umurnya, terpaksa dijalani dalam keadaan bersembunyi. Dalam kegentingan yang demikian mencekam, ia tetap bisa mencari hadits. Seorang ahli hadits, Sulaiman bin Mutsanna mengatakan bahwa Sufyan datang ke negerinya. Ia berkirim surat kepadanya melalui seseorang.

Dalam surat itu Sufyan berkata, “Telah sampai kepadaku sejumlah hadits (yang berasal darimu), aku ingin mendengar langsung darimu. Namun aku tidak bisa bertemu denganmu karena keadaan yang telah engkau ketahui. Jika engkau tidak keberatan, datanglah kemari wahai Sulaiman.”

Maka datanglah Sulaiman dan Sufyan mendengarkan riwayat-riwayat haditsnya.

TELADAN DALAM RASA TAKUT DAN PENGAMALAN ILMU


Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Suatu ketika kami berada di samping Sufyan. Kita melihat seakan Sufyan sedang berdiri menghadapi pengadilan di padang mahsyar. Tampak dari badan beliau rasa takut dan khusyuk. Tidak mungkin kami angkat bicara sementara keadaan beliau sedemikian rupa. Ketika mulai reda barulah beliau membacakan haditsnya.”

Abdurrahman bin Mahdi berkata pula, “Saya mendengar Sufyan Ats Tsauri berkata, ‘Tidaklah sampai kepadaku ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku telah mengamalkannya walau hanya sekali.’”

Ia benar-benar merasakan sebuah tanggung jawab yang besar. Ia takut jikalau bertemu dengan Allah lalu ditanya pada tiap haditsnya, buat apa engkau hafal Al Quran, apakah engkau sudah mengamalkannya?

Dalamnya ilmu beliau, justru semakin membuat Sufyan lebih bersikap hati-hati dalam setiap fatwa. Kata Marwan bin Muawiyah, “Aku bersaksi bahwa Sufyan suatu ketika dia dimintai fatwa tentang perceraian.

Ia terdiam dan berkata, “Ini adalah masalah penting. Bagaimana jika aku berfatwa dengan halal sementara yang benar adalah haram?”

Adalah Sufyan Ats Tsauri seorang yang bijaksana. Ia berkata, “Jika kalian berada di Syam, banyak-banyaklah menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Sebab sebagian penduduk Syam suka mencelanya. Jika kalian berada di Kufah, sebutkanlah hadits-hadits tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar. Sebab orang-orang yang terpengaruh dengan Syiah di Kufah tidak jarang mencela Abu Bakar dan Umar.

IBADAHNYA


Ibadahnya luar biasa. Diceritakan oleh Yusuf bin Al Asbath bahwa selepas Isya, Sufyan minta disediakan air wudhu.

“Berikan kepadaku kendi itu, aku ingin berwudhu.”

Maka Yusuf memberikan kendi itu kepadanya lalu diterimanya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya berada di pipi sebelah kiri menopang kepalanya. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Yusuf pun beranjak dari tempat itu untuk tidur sampai waktu fajar. Ketika hendak mengambil air wudhu, Yusuf terkejut bukan kepalang. Ternyata Sufyan masih dalam posisi semula.

“Sudah subuh wahai Sufyan.” Yusuf berkata kepadanya mengingatkan.

“Hah, benarkah? Sejak engkau berikan kendil itu, tiba-tiba pikiranku terbang ke kampung akhirat. Aku memikirkannya sepanjang malam!”

Beliau paling sering melakukan shalat malam hingga menjelang waktu subuh. Setelah itu, ia merebahkan badan, diangkatnya kedua kaki, lalu disandarkan pada dinding untuk mempercepat aliran darah ke kepala sehingga badan kembali bugar.

Kalau ia baru makan enak, ibadahnya pun bertambah giat. Suatu ketika ia makan daging cincang yang dimasak dengan kurma dan susu.

Ia berujar, “Berbuat baiklah dengan jasadmu yang telah letih.”

Ketika ia mendatangi Abdurrazaq, disuguhkan di hadapannya Sakbaj, makanan khas, berupa daging yang dimasak dengan cuka. Ats Tsauri menyantapnya dengan bersemangat. Dihidangkan pula di hadapannya kurma kering dari Thaif, maka ia pun menyantapnya. Lalu berkata, “Wahai Abdurrazzaq engkau telah memberikan makan kepada himarmu. Sungguh, sekarang ia benar-benar punya gairah untuk bekerja.” Maka malam itu ia shalat hingga menjelang subuh.

Ali bin Fudhail berkata, “Aku melihat Ats Tsauri sedang sujud di dekat Ka’bah. Aku pun memulai thawaf. Setelah aku menyelesaikan 7 putaran, ia belum mengangkat kepalanya.

Begitu pula dikatakan oleh Ibnu Wahb, “Aku pernah melihat Ats Tsauri shalat sunnah setelah Maghrib. Ketika ia sujud, ia tenggelam dalam sujudnya hingga berkumandang adzan Isya.

Rasa takutnya kepada Allah sulit dilukiskan. Kata Qabishah, “Tidaklah aku duduk bersama Sufyan, kecuali ia selalu mengingatkan aku dengan kematian. Dan tidaklah aku bermajelis dengan seorang pun yang lebih banyak mengingatkan kematian daripada bermajelis dengan Sufyan.”

ZUHUDNYA TERHADAP DUNIA DAN TAWADHUNYA


Ia adalah seorang yang zuhud. Dunia datang kepadanya namun ia tinggalkan. Ia hanya mengambil secukupnya supaya terhindar dari mengemis. Terkadang ia sibuk dengan jual beli, namun tidaklah jual beli itu melampaui kebutuhan pokoknya.

Ia memiliki wasiat-wasiat penting dalam masalah zuhud. Ia berkata, “Zuhud itu bukan diukur dengan makan yang serba keras atau baju yang serba kasar. Namun zuhud artinya menyederhanakan angan-angan dan menanti kematian.”

Ia menasihati orang yang hendak bepergian untuk tidak keluar dengan orang yang jauh lebih kaya. “Kalau engkau membelanjakan hartamu seperti dirinya, bekalmu tentu lebih cepat habis. Sebaliknya, kalau engkau mengirit, kamu akan dianggap orang pelit. Maka pergilah kamu bersama orang yang sepertimu.”

SEMANGAT MENGINGKARI KEMUNGKARAN


Berkata Syuja’ bin Al Walid, “Aku berhaji bersama Sufyan. Tidak henti-hentinya lisannya beramar makruf nahi mungkar. Baik ketika berangkat ataupun ketika pulang. Ia merasakan betapa besar tanggung jawabnya dalam perkara ini. Terkhusus jika ia tidak mampu melakukan inkarul munkar (pengingkaran terhadap kemungkaran).

Ia berkata, “Jika aku melihat diriku berkewajiban mengingatkan kemungkaran, namun aku tidak mampu melakukannya, maka aku merasakan besarnya tanggung jawabku di sisi Allah. Sehingga aku bisa kencing darah seketika.”

Dari Ibnu Mahdi, “Aku bersama Sufyan duduk-duduk di Makkah. Lalu dia melompat dari tempat duduknya dan berkata, ‘Waktu siang telah berlalu. Mari kita bangkit untuk berbuat. Duduk-duduk kalau hanya sekadar membuang waktu tidak ada gunanya.’”

Tawadhu’nya juga luar biasa. Kata Ibnu Mahdi suatu saat, “Ketika aku tidur di rumahnya, maka ia menangis. Aku bertanya, “Kenapa engkau menangis?”

Ia berkata, “Sesungguhnya dosaku mungkin lebih ringan dari sekepal tanah ini. Namun aku takut, imanku akan dicabut sesaat sebelum aku mati.”

Inilah gambaran sikap takut dan takwanya serta wara’nya, dan apa yang tersembuyi yang tidak ternukil kepada kita barangkali lebih banyak lagi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membuka mata kita, kemudian menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu berkaca dan berupaya meneladani mereka. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami nilai-nilai kemuliaan mereka. Amin.

---== ||| ==---

Imam Sufyan bin Said Ats Tsauri rahimahullah bukan hanya zuhud dari harta dunia. Namun, beliau pun sangat hati-hati terhadap godaan kedudukan duniawi. Beliau rahimahullah lebih memilih menjauh dari jabatan duniawi. Inilah di antara buah dari kapasitas ilmunya yang luar biasa.

JAUH DARI PINTU ISTANA/PENGUASA


Ketika Al Mahdi, putra Abu Ja’far Al Manshur naik tahta menjadi khalifah sepeninggal ayahnya, ia mengirimkan utusan kepada Sufyan untuk menghadapnya. Ketika sampai di istana, khalifah melepaskan cincinnya, dan melemparkannya di hadapan Sufyan. Lalu berkata, “Wahai Abu Abdillah ini adalah cincinku. Berbuatlah untuk umat Islam dengan Al Kitab dan As Sunnah.”

Sufyan tidak segera mengambil cincin itu. Namun ia berkata menyela, “Izinkan aku bicara sedikit wahai Amirul Mukminin?”

“Silakan!”

“Jika aku bicara, apakah engkau akan menjamin keamanan untukku?”

“Ya!” kata khalifah.

“Wahai khalifah, janganlah engkau mengutus kepadaku seorang pun. Biarkan aku datang sendiri. Dan jangan engkau memberikan sesuatu kepadaku, kecuali kalau aku memintanya.” ujar Sufyan di hadirat khalifah.

Khalifah marah besar dengan sindiran Sufyan. Hampir saja ia berbuat sesuatu terhadap Sufyan, kalau tidak diingatkan oleh sekretarisnya akan jaminan keselamatan dan keamanan yang kadung diberikan.

Ketika Sufyan pergi meninggalkan istana, ia diikuti murid-muridnya. Mereka menyesalkan tindakan Sufyan, “Apa yang mencegahmu menyanggupi permintaan khalifah? Bukankah khalifah telah memintamu untuk bertindak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Sufyan menanggapi ucapan mereka bagai angin lalu. Ia berkata, “Aku tidak takut dengan penghinaan mereka, justru aku takut dengan penghormatan mereka, sehingga aku tidak bisa menilai kejelekan sebagai kejelekan.” Akhirnya Sufyan pergi menuju Bashrah.

KISAH SUFYAN DIBURU KHALIFAH AL MANSHUR


Sufyan sempat melarikan diri dan berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain beberapa waktu dari umurnya. Hal ini dikarenakan dahulu, di masa khalifah Abu Ja’far Al Manshur, beliau diminta untuk menjadi qadhi (hakim). Namun beliau menolak permintaan ini.

Sayang, Abu Ja’far tetap saja memaksakan kehendaknya. Akhirnya Sufyan dijebloskan dalam bui dan dicambuk. Sehingga, dengan sangat terpaksa beliau menerima tugas untuk menjadi qadhi tersebut. Tak lama kemudian, Sufyan melarikan diri dari jabatan sebagai qadhi. Ia terus menerus melarikan diri dan bersembunyi. Kitab-kitab yang ia miliki dikubur sementara. Namun demikian ia tetap memburu hadits dan mencari ilmu serta beribadah kepada Allah.

Khalifah Abu Ja’far begitu getol menggalakkan pencarian terhadap Sufyan. Abu Ahmad Az Zubairi berkata, “Aku berada di masjid Khaif bersama Sufyan. Ada seorang petugas menyampaikan sayembara, ‘Barang siapa yang bisa membawa Sufyan kepada khalifah, maka ia akan mendapat hadiah 10 ribu (dirham/dinar).’”

Diceritakan pula bahwa Sufyan pergi ke Yaman dalam rangka menghilangkan jejak sekaligus mencari ilmu dan hadits dari Ma’mar. Belum lama menginjakkan kedua kaki di Yaman, ia dituduh telah melakukan pencurian.

Akhirnya mereka seret Sufyan kepada gubernur Yaman saat itu yang bernama Ma’an bin Zaidah. Dia juga telah mendapat mandat dari khalifah untuk turut serta dalam memburu Sufyan.

Para pelapor itu berkata, “Wahai amir, orang ini mencuri barang kami!”

“Ha! Kenapa engkau mencuri barang mereka?”

“Aku tidak mencuri apa-apa!”

“Menyingkirlah kalian semua, biar aku leluasa menginterogasi!”

Amir berbicara empat mata dengan Sufyan dan bertanya, “Siapa namamu?”

“Aku adalah Abdullah bin Abdurrahman (hamba Allah anak dari hamba ar Rahman).” Sufyan tidak ingin berdusta, namun tidak pula ingin berterus terang tentang jati dirinya, sebab ia sedang dalam pencarian.

“Aku bertanya kepadamu demi Allah, sebutkan garis nasabmu!”

Sufyan tidak mungkin lagi menyembunyikan jati dirinya, sebab gubernur Yaman telah meminta dengan menyebut nama Allah.

“Aku adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats Tsauri.”

“Hah kamu Ats Tsauri?! Bukankah kamu buron khalifah?!”

Beliau menjawab, “Benar!”

Kepala sang gubernur tertunduk sejenak memikirkan sesuatu. “Baiklah, jika engkau mau, tinggallah di sini, atau pergi dari sini. Seandainya engkau bersembunyi di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya. Aku akan jaga dirimu dan aku akan bela engkau.” Sungguh Ma’an bin Zaidah memiliki kebaikan yang banyak.

KABUR KE BASHRAH


Abdurrahman bin Mahdi menceritakan, Sufyan tiba di Bashrah saat penguasa belum juga mengendurkan upaya pencarian terhadapnya.

Ia bersembunyi di sebuah kebun kurma. Ia mendaftarkan diri menjadi pekerja dan penjaga kebun, serta memelihara buah-buah kurma.

Suatu ketika kebunnya didatangi oleh para petugas kerajaan yang biasa mengambil sebagian dari hasil bumi untuk kerajaan. “Siapa kamu wahai orang tua?”

“Aku berasal dari Kufah.”

“Dari Kufah? Antara kurma Bashrah dan kurma Kufah, mana yang lebih lezat dan manis?”

“Maaf aku tidak tahu. Belum pernah aku makan kurma Bashrah.”

“Hah? Pembohong besar kamu. Semua orang, orang jahat, atau orang baik bahkan binatang serendah anjing pun itu dengan leluasa makan kurma. Kenapa kamu belum pernah memakannya? Aneh sekali pengakuanmu.”

Maka para petugas itu pun kembali kepada gubernur Bashrah ingin menceritakan berita yang sangat aneh ini. Setelah dilaporkan tentang orang tersebut, sang wali berkata, “Bodohnya kalian! Tangkap orang tua itu. Kalau kamu jujur aku yakin dia pasti Sufyan. Cepat burulah dia biar kita bisa hadapkan untuk khalifah!”

Maka kembalilah petugas-petugas itu. Namun, Sufyan sudah lebih dulu kabur.

BERAKHIRNYA PENCARIAN


Abu Ja’far benar-benar serius dalam memburu Sufyan. Pada akhirnya Ats Tsauri bersembunyi di Makkah, tinggal bersama sebagian para ulama hadits. Entah berita dari mana, ternyata Abu Ja’far mengetahui bahwa Sufyan berada di Makkah.

Abdurrazzaq berkata, “Abu Ja’far mengutus para tukang kayu ketika ia keluar menuju Makkah. ‘Wahai para tukang, jika kalian mendapati Ats Tsauri, tangkap dan salib saja dia.’”

Dipancangkanlah tiang salib. Selanjutnya diumumkan sayembara, “Bagi siapa yang mendapatkan Sufyan, maka…”

Di saat yang genting itu, Sufyan bersembunyi di antara dua kamar. Kepalanya berada di kamar Fudhail dan kedua kakinya berada di kamar Ibnu Uyainah. Dikatakan kepada Sufyan, “Bersembunyilah wahai Abu Abdillah, jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan musuh-musuh kita.”

Lalu Sufyan menarik sebuah kain dan menutupi dirinya dengan kain-kain itu.

Ternyata sebelum sampai di Makkah, datanglah kabar bahwa Khalifah Abu Ja’far keburu dijemput ajal. Sejak itulah, pencarian terhadap Sufyan akhirnya dihentikan.

Kitab-kitabnya yang dulu dikubur, digali lagi bersama seorang rekan belajar. Saat penggalian, sang teman mengatakan (setengah bercanda), “Wahai saudaraku, sesungguhnya pada rikaz (barang-barang temuan yang terpendam) itu ada kewajiban zakat. Wahai Abu Abdillah, sisihkanlah dan berikan untukku sebagian dari harta itu sesukamu?”

Maka Sufyan menyisihkan beberapa juz dari kitab-kitabnya, dan membacakan hadits-haditsnya kepada rekan tersebut.

KEMBALI KEPADA PEMILIKNYA DAN KENANGAN PARA ULAMA


Setelah itu Sufyan tetap melanjutkan tugasnya sebagai hamba Allah, terus beribadah, mencari ilmu, mengajar, amar makruf nahi mungkar, hingga menjumpai ajal yang telah Allah takdirkan untuknya. Ia meninggal di Bashrah pada bulan Sya’ban tahun 161 hijriah. Dia dimandikan oleh Abdullah bin Ishaq Al Kinani.

Berkata Yazid bin Ibrahim, “Aku melihat Sufyan dalam mimpi di malam kematiannya, ada yang berkata kepadaku, ‘Telah berpulang seorang amirul mukminin dalam hadits.’” Saudara-saudara dan murid-murid serta rekan-rekannya tidak mampu untuk berkumpul untuk menshalati Sufyan. Sehingga mereka menshalati Sufyan setelah dikubur.

Berkata Ibrahim, “Aku melihat Sufyan dalam mimpiku, aku bertanya kepadanya, ‘Sedang apa engkau wahai Sufyan?’ Kata Sufyan, ‘Aku bersama para malaikat Al Kiram (yang mulia) Al Bararah (yang baik).’”

Berkata Ahmad bin Hanbal, “Ibnu Uyainah berkata kepadaku, ‘Engkau tidak akan lagi menjumpai orang sehebat Sufyan sampai engkau mati.’”

Auza’i berkata, “Kalau aku diminta memilih dari umat ini seorang yang benar-benar menjalankan Al Quran dan As Sunnah, tentu aku akan memilih Sufyan.”

Abdullah bin Al Mubarak mempersaksikan, “Aku menulis ilmu dan hadits lebih dari 100.000 syaikh. Tidak ada yang lebih afdhal dari Sufyan.”

Berkata Ibnu Abidz Dzi`b, “Aku tidak menjumpai orang yang paling mirip dengan kepribadian seorang tabi’in melainkan Sufyan Ats Tsauri.”

Berkata Sa’id, “Aku melihat Sufyan dalam mimpiku terbang dari dahan kurma ke dahan yang lain dan berkata, ‘Alhamdulillah, Dia telah menepati janji-Nya.’”

Wallahu a’lam. Semoga Allah merahmati Sufyan Ats Tsauri rahimahullah. Amin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 11 & 12 vol.1 1434 H/2013 M rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini.