DOA yang TERKABULKAN

Kehilangan orang yang dicintai adalah musibah yang besar bagi seseorang yang mencintainya. Apalagi kehilangan tersebut disebabkan datangnya kematian yang merenggut jiwa. Terlebih semasa hidupnya dilalui dengan penuh kebersamaan baik suka maupun duka. Sungguh bukan suatu perkara yang ringan bila terjadi pada kehidupan seseorang. Betapa kita melihat di sekitar kita, banyak orang terjerumus ke dalam kesalahan ketika mengalami peristiwa tersebut. Ada yang meratapi mayit, menyesali nasibnya, mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kemarahan dan ketidaksukaan terhadap takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Akibatnya… bukan pertolongan Allah yang datang menghampiri setelahnya, akan tetapi kesulitan serta kemurkaan Allah yang ia dapatkan sebagai akibat dari penyimpangan dan kesalahan ketika menghadapi peristiwa tersebut. Na’udzu billahi min dzaalik.

Akan tetapi sebaliknya…, ketika seseorang menghadapi peristiwa itu dengan berbekal kekuatan iman di dada, serta keyakinan yang mantap akan janji Allah subhanahu wa ta’ala, maka tidak ada yang menjadi sulit baginya. Bahkan musibah sebesar apapun dapat dihadapinya disertai harapan dan kepercayaan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti memberikan pertolongan dan telah mempersiapkan suatu perkara yang baik bagi dirinya dan kehidupannya di masa yang akan datang.

Dalam kisah niswah kali ini kita akan melihat bukti dari semua ucapan di atas. Yang ada dalam sepenggal kisah kehidupan seorang muslimah yang Allah beri karunia kebaikan dalam kehidupan dunia dan agamanya dengan dikabulkannya doa yang dipanjatkannya ketika mendapati musibah yang besar yaitu kehilangan sang suami yang dicintainya. Dialah Ummul Mukminin Ummu Salamah Hindun binti Abi Umayyah radhiyallahu ‘anha.

Beliau adalah putri salah seorang tokoh Quraisy yang masyhur dengan kedermawanannya, Abu Umayyah bin Al Mughirah Al Makhzumi Al Quraisy. Selain memiliki nasab yang mulia di kalangan Quraisy, beliau juga terkenal sebagai seorang wanita yang cantik, cerdas, dan berwibawa. Beliau pertama kali menikah dengan anak paman beliau yaitu Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi (Abu Salamah) radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdahulu masuk Islam, bahkan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di rumah Arqam bin Abil Arqam. Abu Salamah juga termasuk sahabat yang melaksanakan hijrah ke negeri Habasyah 2 kali. Pertama kali sebelum menikah dengan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, sedangkan pada kali yang kedua ketika Ummu Salamah telah mendampinginya sebagai istrinya. Di negeri Habasyah itulah Ummu Salamah melahirkan anak pertama mereka Salamah. Akan tetapi setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhuma masuk Islam, keduanya kembali ke Makkah bersama sebagian kaum muslimin yang lainnya.

Islam mulai masuk ke negeri Madinah atau Yatsrib yang dimulai sejak diadakannya baiat Aqabah yang pertama oleh beberapa penduduk Madinah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada musim haji tahun sebelas nubuwwah. Islam terus berkembang di Madinah hingga terjadinya baiat Aqabah yang kedua pada tahun ketiga belas nubuwwah. Pada saat itu kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkembang di dada-dada mayoritas penduduk Madinah sekalipun mereka belum pernah bertemu dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya penduduk Makkah untuk berhijrah ke Madinah agar lebih bisa menegakkan syariat Islam di sana. Abu Salamah beserta keluarganya ikut dalam rombongan tersebut.

Ketika Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu bersama istrinya Ummu Salamah dan anak mereka Salamah hendak berangkat berhijrah, orang-orang dari kalangan Bani Mughirah yaitu kaum Ummu Salamah, serta orang-orang dari kalangan Bani Abdul Asad yaitu kaum Abu Salamah berusaha menghalangi mereka. Bani Mughirah berhasil mengambil Ummu Salamah dari suaminya dan membawanya kembali kepada kaumnya. Sementara Bani Abdul Asad mengambil anak mereka Salamah dan membawanya pergi bersama mereka. Abu Salamah sendiri terpaksa meneruskan perjalanannya ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan agamanya.

Peristiwa tersebut sangat mengguncang jiwa Ummu Salamah. Perpisahan antara dirinya dengan suami dan anaknya tercinta begitu menyakitkan baginya. Setiap hari sejak peristiwa tersebut dia sering datang ke gurun pasir yang luas, menangis hingga malam datang, memohon kepada Allah akan pertolongan-Nya. Ingin rasanya menyusul suami tercinta akan tetapi dirinya tidak ammpu melakukannya. Hanya doa dan pengharapan akan pertolongan Allahlah yang membuatnya terus berharap dan melakukan hal tersebut selama kurang lebih satu tahun. Hingga suatu hari akhirnya –dengan kehendak Allah- Bani Mughirah dan Bani Abdul Asad merasa iba kepadanya. Kemudian mereka mengembalikan Salamah kepadanya serta memperbolehkannya untuk menyusul suaminya ke Madinah. Maka Ummu Salamah bergegas menaiki untanya dan membawa anaknya Salamah dalam pangkuannya. Tak ada seorang pun yang mau membantunya untuk melakukan perjalanan tersebut. Akan tetapi tekad di dada telah bulat. Ummu Salamah tetap melakukan perjalanan tersebut hingga sampailah beliau di Tan’im, sebuah tempat berjarak kurang lebih 3 mil dari kota Makkah. Di sana beliau bertemu dengan Utsman bin Thalhah yang pada waktu itu belum masuk Islam.

Ketika mengetahui keadaan Ummu Salamah beserta anaknya yang hendak melakukan perjalanan ke Madinah tanpa seorang pun menyertainya maka timbullah rasa iba di hatinya dan akhirnya dia berkeputusan untuk mengantarkan Ummu Salamah beserta anaknya hingga sampai ke Madinah, yaitu di desa Bani Amr bin Auf –tempat Abu Salamah berada-. Kemudian setelah itu, Utsman bin Thalhah kembali pulang ke Makkah.

Pada akhirnya Utsman bin Thalhah radhiyallahu ‘anhu pun masuk Islam tepat setelah perjanjian Hudaibiyah, dan beliau berislam dengan keislaman yang baik dan –insya Allah- syahid di Ajnadain di masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dengan hijrahnya Ummu Salamah tersebut, jadilah beliau wanita yang pertama kali berhijrah ke Madinah.

Abu Salamah termasuk sahabat kepercayaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun termasuk sahabat yang mengikuti Perang Badr dan Perang Uhud. Pada saat mengikuti perang Uhud, Abu Salamah mendapatkan luka yang cukup serius. Belum sembuh benar luka yang beliau derita, Abu Salamah mendapatkan kepercayaan dari Rasulullah untuk memimpin pasukan perang menuju perkampungan Bani Asad bin Khuzaimah, sebuah kabilah yang tengah menggalang kekuatan untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Salamah berangkat beserta kurang lebih 150 orang dari Muhajirin dan Anshar. Beliau bersama pasukannya berhasil menyerang Bani Asad di waktu yang tidak terduga sehingga Bani Asad melarikan diri, dan kaum muslimin berhasil mendapatkan kemenangan serta ghanimah yang banyak tanpa harus berperang. Akan tetapi qadarullah… luka yang didapatkan Abu Salamah pada perang Uhud ternyata terinfeksi, sehingga tidak lama setelah kepulangan beliau dari Bani Asad Abu Salamah pun meninggal dunia. Tepatnya di bulan Jumadits Tsaniyah tahun ke 4 hijriyah.

Ketika Abu Salamah wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi janazahnya dan mendoakan kebaikan bagi Abu Salamah, kemudian berkata kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang artinya, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan musibah kemudian dia berkata:
إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيۡهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أۡجُرۡنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخۡلِفۡ لِي خَيۡرًا مِنۡهَا
“Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah saja semua kembali, Ya Allah berilah pahala aku dalam musibah yang menimpaku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya”.
Tidak lain Allah akan memberi ganti dia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” [H.R. Muslim].

Kehilangan suami tercinta memang bukan perkara yang mudah. Akan tetapi Ummu Salamah dengan kekuatan iman yang ada di dadanya berusaha menjalankan bimbingan tersebut, sekalipun terbesit di dalam benaknya ‘siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?’.

Akan tetapi keraguan tersebut tidak diteruskannya. Ummu Salamah yakin ketika seseorang mengamalkan tuntunan syariat maka Allah akan memberikan janji-Nya sebagaimana yang Allah janjikan. Maka tidak lama berselang, tepatnya pada bulan Syawal masih di tahun yang sama, tidak lama setelah selesai masa iddahnya, Rasulullah mengutus Hatib bin Abi Balta’ah untuk melamarnya. Pada awalnya, Ummu Salamah seakan tidak percaya. Beliau radhiyallahu ‘anha sempat meragukan dirinya bisa menjadi pendamping yang baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya ia berkata kepada Rasulullah,
“Sesungguhnya aku telah mempunyai anak dan sesungguhnya aku seorang yang pencemburu”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
أَمَّا ابۡنَتُهَا فَنَدۡعُو اللهَ أَنۡ يُغۡنِيَهَا عَنۡهَا وَأَدۡعُو اللهَ أَنۡ يَذۡهَبَ بِالۡغَيۡرَةِ 
“Adapun putrinya maka kami berdoa kepada Allah agar mencukupinya dari Ummu Salamah. Dan aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkan sifat cemburunya.” [H.R. Muslim]

Maka dengan jawaban tersebut, mantaplah hati Ummu Salamah menerima lamaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membuktikan bahwa kekuatan doa dan keyakinan kepada Allah akan dipenuhinya janji Allah kepada seseorang yang benar dalam keimanannya sungguh terbukti. Allah kabulkan doanya yang dia panjatkan di waktu yang sulit yaitu pada masa kehilangan suami tercinta. Kemudian Allah ganti dengan seseorang yang lebih baik yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, yaitu sebagai salah satu ummahatul mukminin yang hidup di bawah naungan petunjuk nubuwwah, di bawah bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh suatu ganti yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Subhanallah

Setelah itu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha hidup dalam rumah tangga nubuwah, maka semakin berkembanglah kecerdasan dan kewibawaannya. Sebagai seorang istri, beliau bukan hanya menjalankan tugas-tugas rumah tangganya, akan tetapi kecerdasan dan kematangan serta kedewasaan beliau dalam berpikir terkadang sangat membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan beberapa permasalahan umat.

Salah satu bukti adalah sebagaimana yang terkisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari di dalam shahihnya tentang peristiwa Hudaibiyah. Dalam peristiwa tersebut kaum muslimin yang hendak melaksanakan ibadah haji ke Makkah terhalang dan bahkan harus mengadakan perjanjian damai dengan utusan Quraisy. Dalam perjanjian tersebut dirasakan terdapat perkara-perkara yang sangat memberatkan kaum muslimin dan menzalimi hak-hak mereka. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu tentang hikmah di balik peristiwa tersebut. Sehingga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyepakati perjanjian tersebut dan memerintahkan para sahabat menyembelih qurban dan mencukur rambut-rambut mereka maka para sahabat terlihat enggan untuk melakukannya, sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengulangi perintahnya sebanyak tiga kali. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan menceritakan kesedihan beliau terhadap sikap para sahabat yang seakan tidak memerhatikan perintah beliau, Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan yang seperti itu? Maka keluarlah dan janganlah engkau bicara sepatah katapun kepada mereka hingga engkau menyembelih unta yang gemuk. Dan panggillah tukang cukur untuk mencukur rambut Anda!.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan pendapat dan saran dari Ummu Salamah dan beliau melakukan perkara tersebut. Maka ketika para sahabat melihat apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun bergegas bangkit untuk menyembelih hewan-hewan qurban mereka dan mencukur rambut-rambut mereka. Mereka tersadarkan dari kesalahannya tidak memerhatikan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka pun setelahnya bergegas memenuhi perintah tersebut hingga hampir saja satu sama lain berkelahi karena hendak menjalankannya. Subhanallah… Satu contoh bahwa ternyata seorang wanita pun dengan kematangan berpikirnya dapat memberikan manfaat bagi kemaslahatan agama.

Begitupun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ikut andil dalam memberikan pengajaran dan penjelasan-penjelasan kepada kaum muslimin tentang beberapa perkara yang beliau ketahui dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga didapati banyak hadis yang diriwayatkan dari jalan beliau. Beliau pun tidak jarang memperhatikan berbagai peristiwa yang berlangsung di sekitarnya dan memberikan masukan serta nasihat-nasihat kepada para sahabat yang terkait dengan peristiwa-peristiwa tersebut.

Hingga akhirnya Allah mewafatkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 50 hijriyah pada usia ke 84 tahun. Subhanallah… sungguh apa yang beliau lakukan dari awal keislamannya hinga wafatnya penuh dengan keteladanan yang patut untuk ditiru oleh seluruh wanita muslimah dimanapun berada. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengambil pelajaran dari kehidupan beliau dan memudahkan kita untuk mencontoh kemuliaan agama yang dimiliki para pendahulu kita yang shalih… Amin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 33 vol.03 1437 H/ 2015 M rubrik Niswah. Pemateri: Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.