Abdurrahman bin Abi Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma

Panas dan ganas, sebuah gambaran yang pas untuk mendeskripsikan tanah Arab yang beriklim padang pasir. Alam yang sama sekali tidak bersahabat, dengan keadaan yang minim air, makanan, tempat bernaung serta panas matahari yang membakar. Oleh karenanya, medan padang pasir berperan besar dalam membentuk karakter manusia yang hidup di sekitarnya. Fisik yang kuat, tekad yang berpadu dengan kesabaran, pantang menyerah dengan keadaan, berani sekaligus kelihaian untuk mempertahankan diri adalah sebagian hasil tempaan alam ini. Sejarah adalah saksi bisu lahirnya banyak kader pilih tanding yang berasal darinya.

Di tempat seperti inilah Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu lahir dan dibesarkan. Sebagaimana watak kaum Arab yang ditempa secara alamiah dengan iklim gurun ini, Abdurrahman pun tumbuh dengan membawa karakter yang kuat pada dirinya. Ia adalah seorang yang dikaruniai kepandaian dalam memanah dan menunggang kuda, tak mengherankan bila Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu menjadi salah seorang pemimpin pasukan pemanah yang disegani di garda depan pertempuran.

Dari sisi nasab, Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu adalah putra sulung Abu Bakar Ash Shiddiq, manusia terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga merupakan saudara kandung Ummul Mukminin Aisyah. Ibunya adalah Ummu Rumman bintu ‘Amir bin Uwaimir bin Abdisyams bin ‘Atab. Di masa jahiliyyah ia bernama Abdul Ka’bah bin Abdillah bin Abi Quhafah Utsman Bin ‘Amir Bin Amr Bin Kaab Bin Saad Bin Taim Bin Murrah Al Qurasy, namanya kemudian diganti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah masuk Islam dengan nama Abdurrahman.

AKHLAK DAN KEPRIBADIAN


Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang tidak pernah berbohong dalam kesehariannya walaupun ia masih hidup dalam kejahiliahan. Sifat jujur yang kian langka di masa ini menjadi kepribadiannya yang menonjol pada dirinya terlebih setelah memeluk Islam. Ia juga seorang yang cerdik lagi pemberani. Terkenal sebagai seorang yang pandai dan cakap dalam bidang syair Arab. Sebagai contoh keberaniannya adalah saat terjadi peperangan Yamamah, perang menghadapi pasukan Musailamah si nabi palsu. Ia termasuk seorang pemberani yang mampu membunuh tujuh orang pembesar musuh, di antara mereka adalah Mahkam bin Thufail yang menjadi otak dan dedengkot musuh. Dengan terbunuhnya Mahkam di tangan Abdurrahman, goyahlah semangat dari pasukan Musailamah Al Kadzdzab.

MASA SEBELUM ISLAM


Bila ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali beriman, membenarkan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lain halnya dengan Abdurrahman. Ia masih tetap tenggelam dalam kesyirikan dan jahiliyyah kaumnya. Ia menjadi sosok yang keras kepala dan kokoh dalam membela berhala-berhala Jahiliyyah.

Tidak sebagaimana putra-putri Abu Bakar Ash Shiddiq yang membela mati-matian ayahnya, ia justru menjadi layaknya duri yang menghambat ayahnya. Saat peristiwa hijrahnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Abu Bakar, ia justru berperan aktif membantu kafir Quraisy untuk menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan pembelaannya terhadap agama paganisme ini ia realisasikan dengan mengangkat senjata melawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayahnya sendiri. Dalam peristiwa perang Badar ia masuk dalam barisan penyerang kaum musyrikin Quraisy dan menantang adu tanding kepada kaum Muslimin. Dan dalam perang Uhud, ia mengepalai pasukan panah yang dipersiapkan Quraisy untuk menghadapi kaum Muslimin.

Kita tentu bertanya seberapa besarkah kebencian yang ada dalam diri Abdurrahman bin Abi Bakar terhadap Islam dan pemeluknya, hingga begitu keras menentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayahnya. Mungkinkah jiwa yang membatu seperti ini bisa melembut dan menerima Islam.

Akan tetapi, akal manusia tidak selalu bisa menjangkau hikmah Allah subhanahu wa ta’ala di balik semua peristiwa. Di tangan Allahlah hikmah dalam seluruh kejadian dan di Tangan-Nyalah hidayah itu diperoleh. Allahlah yang membolak-balikkan hati. Sekeras apa pun permusuhan manusia, bila Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki tentu bisa mengubahnya menjadi rasa cinta. Oleh karenanya seorang manusia tiada boleh untuk berputus asa untuk mengharap hidayah Allah subhanahu wa ta’ala untuk seseorang dan tiada boleh pula tergesa memvonis kecelakaan atas manusia tertentu.

KEHIDUPAN SETELAH ISLAM


Penyesalan memang datang belakangan. Bila hati telah mengenal Allah dan agama-Nya, tak mungkin jiwa seorang akan membencinya. Beberapa saat sebelum peristiwa fathu Makkah, Allah berkenan untuk menganugerahi Abdurrahman dengan hidayah Islam. Tepatnya di sebuah tempat bernama Al Hadanah, Abdurrahman menyatakan keislamannya. Bergegas Abdurrahman pun berhijrah ke Madinah dan berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersama Muawiyyah dan serombongan kecil pemuda Makkah beliau menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan Islam. Dengan Islamnya Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu, sang ayah pun begitu bahagia. Apalagi Abu Quhafah-Utsman bin ‘Amir- ayah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga masuk Islam dalam waktu yang berdekatan. Alhamdulillah keutamaan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Setelah keislaman ini, Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu bersegera melakukan berbagai ketaatan yang telah sekian waktu ia tentang. Sikap ksatria yang ia miliki di saat jahiliyyah, terus ia kembangkan dalam membela Islam. Medan pertempuran Yamamah, Yarmuk, dan berbagai tempat dalam peperangan untuk membuka kota Syam adalah saksi akan kegigihan beliau dalam meninggikan kalimatullah. Ia pun menjadi salah satu pembesar kaum muslimin.

Beliau meriwayatkan beberapa peristiwa yang beliau alami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah kisah kematian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta siwak yang beliau bawa sebelum meninggal. Ia juga meriwayatkan hadis dari Aisyah yang maknanya, ‘Celakalah orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhunya, ia akan disiksa di neraka’. Beliau juga seorang yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemani Aisyah dalam pelaksanaan umrah saat haji Wada’. Demikian sedikit gambaran tentang dekatnya hubungan Abdurrahman dengan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

WAFATNYA


Beliau wafat di tahun 53/54 hijriyyah di masa peralihan kepemimpinan Muawiyyah. Beliau meninggal saat tidurnya di tempat yang bernama Al Habasyi, yang berjarak 6-12 mil dari Makkah. Maka beliau pun dimakamkan di dataran tinggi sekitar Makkah. Radhiyallahu ‘anhu. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 56 vol.05 1437H-2016M rubrik Figur.