Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadits nomor 2549

٥ – (٢٥٤٩) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ حَبِيبٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ، يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدٍ الۡقَطَّانَ، عَنۡ سُفۡيَانَ وَشُعۡبَةَ. قَالَا: حَدَّثَنَا حَبِيبٌ، عَنۡ أَبِي الۡعَبَّاسِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَسۡتَأۡذِنُهُ فِي الۡجِهَادِ. فَقَالَ: (أَحَىٌّ وَالِدَاكَ؟) قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: (فَفِيهِمَا فَجَاهِدۡ). 


5. (2549). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Habib. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id Al-Qaththan menceritakan kepada kami dari Sufyan dan Syu’bah. Keduanya berkata: Habib menceritakan kepada kami dari Abu Al-‘Abbas, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Beliau mengatakan: 

Ada seorang lelaki datang menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta izin beliau untuk berjihad. 

Nabi bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” 

Lelaki itu menjawab, “Masih.” 

Nabi bersabda, “Bersungguh-sungguhlah berbakti kepada keduanya!” 

(...) - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ حَبِيبٍ: سَمِعۡتُ أَبَا الۡعَبَّاسِ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ يَقُولُ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَذَكَرَ بِمِثۡلِهِ. 

قَالَ مُسۡلِمٌ: أَبُو الۡعَبَّاسِ اسۡمُهُ السَّائِبُ بۡنُ فَرُّوخَ الۡمَكِّيُّ. 

‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Habib: Aku mendengar Abu Al-‘Abbas: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengatakan: Ada seorang lelaki datang menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu beliau menyebutkan semisal hadis tersebut. 

Muslim berkata: Abu Al-‘Abbas bernama As-Sa`ib bin Farrukh Al-Makki. 

(...) - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ بِشۡرٍ، عَنۡ مِسۡعَرٍ. (ح) وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بۡنُ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ. (ح) وَحَدَّثَنِي الۡقَاسِمُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجُعۡفِيُّ، عَنۡ زَائِدَةَ. كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ. جَمِيعًا عَنۡ حَبِيبٍ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. 

Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Ibnu Bisyr mengabarkan kepada kami dari Mis’ar. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Mu’awiyah bin ‘Amr menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq. (Dalam riwayat lain) Al-Qasim bin Zakariyya` telah menceritakan kepadaku: Husain bin ‘Ali Al-Ju’fi menceritakan kepada kami dari Za`idah. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy. Semuanya dari Habib melalui sanad ini, semisal hadis tersebut. 

٦ – (...) - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، أَنَّ نَاعِمًا، مَوۡلَىٰ أُمِّ سَلَمَةَ حَدَّثَهُ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ قَالَ: أَقۡبَلَ رَجُلٌ إِلَىٰ نَبِيِّ اللهِ ﷺ فَقَالَ: أُبَايِعُكَ عَلَى الۡهِجۡرَةِ وَالۡجِهَادِ، أَبۡتَغِي الۡأَجۡرَ مِنَ اللهِ. قَالَ: (فَهَلۡ مِنۡ وَالِدَيۡكَ أَحَدٌ حَىٌّ؟) قَالَ: نَعَمۡ. بَلۡ كِلَاهُمَا. قَالَ: (فَتَبۡتَغِي الۡأَجۡرَ مِنَ اللهِ؟) قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: (فَارۡجِعۡ إِلَىٰ وَالِدَيۡكَ فَأَحۡسِنۡ صُحۡبَتَهُمَا). 

6. Sa’id bin Manshur telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Al-Harits mengabarkan kepadaku dari Yazid bin Abu Habib: Bahwa Na’im maula Ummu Salamah menceritakan kepadanya: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengatakan: 

Seorang pria datang menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad dalam rangka mengharap pahala dari Allah.” Nabi bertanya, “Apakah ada salah seorang dari kedua orang tuamu yang masih hidup?” 

Pria itu menjawab, “Iya, bahkan keduanya masih hidup.” 

Nabi bertanya, “Apa engkau mengharap pahala dari Allah?” 

Pria itu menjawab, “Iya.” 

Nabi bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu lalu perbaikilah baktimu kepada keduanya!”

Syarh Sittah Mawadhi' min As-Sirah - Peristiwa Kelima

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Sittah Mawadhi' min As-Sirah berkata:

الۡمَوۡضِعُ الۡخَامِسُ: قِصَّةُ الۡهِجۡرَةِ، وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ وَالۡعِبَرِ مَا لَا يَعۡرِفُهُ أَكۡثَرُ مَنۡ قَرَأَهَا. 

Peristiwa kelima: Kisah hijrah. Dalam kisah ini ada faedah-faedah dan pelajaran-pelajaran yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang membacanya.[1]

وَلَكِنۡ مُرَادُنَا الۡآنَ مَسۡأَلَةٌ مِنۡ مَسَائِلِهَا، وَهِيَ أَنَّ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مَنۡ لَمۡ يُهَاجِرۡ مِنۡ غَيۡرِ شَكٍّ فِي الدِّينِ وَتَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَلَكِنۡ مَحَبَّةً لِلۡأَهۡلِ وَالۡمَالِ وَالۡوَطَنِ، فَلَمَّا خَرَجُوا إِلَى بَدۡرٍ خَرَجُوا مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ كَارِهِينَ، فَقُتِلَ بَعۡضُهُمۡ بِالرَّمۡيِ، وَالرَّامِي لَا يَعۡرِفُهُ. 

Akan tetapi yang kita inginkan sekarang adalah sebuah permasalahan di antara berbagai permasalahan dalam kejadian tersebut. Yaitu bahwa sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ada yang tidak berhijrah. Alasannya bukan karena ragu dengan agama Islam dan bukan untuk mendukung agama orang-orang musyrik. Akan tetapi alasannya adalah kecintaan terhadap keluarga, harta, dan tanah air. Ketika mereka keluar menuju medan perang Badr, mereka keluar bersama barisan kaum musyrikin dalam keadaan tidak suka. Sebagian mereka terbunuh karena lemparan senjata, sementara si pelempar tidak mengenalinya. 

فَلَمَّا سَمِعَ الصَّحَابَةُ أَنَّ مِنَ الۡقَتۡلَى فُلَانًا وَفُلَانًا شَقَّ عَلَيۡهِمۡ وَقَالُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا. فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمۡ﴾ ... إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَكَانَ ٱللَّـهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [النساء: ٩٧-١٠٠]. 

Ketika para sahabat mendengar bahwa di antara korban perang ada si Polan dan si Polan, mereka merasa berat dan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.” Lalu Allah taala menurunkan ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri-diri mereka…” hingga firman-Nya, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 97-100). 

فَمَنۡ تَأَمَّلَ قِصَّتَهُمۡ وَتَأَمَّلَ قَوۡلَ الصَّحَابَةِ: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا، عَلِمَ أَنَّهُ لَوۡ بَلَغَهُمۡ عَنۡهُمۡ كَلَامٌ فِي الدِّينِ أَوۡ كَلَامٌ فِي تَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ لَمۡ يَقُولُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا. 

Maka, siapa saja yang merenungkan kisah mereka dan merenungkan perkataan sahabat, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita,” maka dia mengetahui bahwa andai ada ucapan (keraguan) terhadap agama Islam atau ucapan yang mendukung agama kaum musyrikin dari kaum muslimin yang tidak ikut hijrah didengar oleh para sahabat, niscaya para sahabat tidak akan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.”[2]

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدۡ بَيَّنَ لَهُمۡ وَهُمۡ بِمَكَّةَ قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ أَنَّ ذٰلِكَ كُفۡرٌ بَعۡدَ الۡإِيمَانِ بِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَن كَفَرَ بِٱللَّـهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَـٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنٌّۢ بِٱلۡإِيمَـٰنِ﴾ [النحل: ١٠٦]. وَأَبۡلَغُ مِنۡ هَٰذَا مَا تَقَدَّمَ مِنۡ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى فِيهِمۡ، فَإِنَّ الۡمَلَائِكَةَ تَقُولُ: ﴿فِيمَ كُنتُمۡ﴾ وَلَمۡ يَقُولُوا: كَيۡفَ تَصۡدِيقُكُمۡ؟ ﴿قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ۚ﴾ [النساء: ٩٧]. 

Karena sungguh Allah taala telah menjelaskan kepada mereka ketika mereka berada di Makkah sebelum hijrah bahwa ucapan-ucapan itu adalah kekufuran sesudah keimanan dengan dasar firman-Nya taala, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106). 

Yang lebih gamblang daripada ayat ini adalah firman Allah taala yang telah disebutkan tentang mereka. Yaitu, bahwa malaikat bertanya, “Bagaimana keadaan kalian ketika itu?” 

Para malaikat tidak menanyakan, “Bagaimana pembenaran kalian?” 

Mereka menjawab, “Dahulu kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” (QS. An-Nisa`: 97).[3]

وَلَمۡ يَقُولُوا: كَذَبۡتُمۡ. مِثۡلَ مَا يَقُولُ اللهُ وَالۡمَلَائِكَةُ لِلۡمُجَاهِدِ الَّذِي يَقُولُ: جَاهَدۡتُ فِي سَبِيلِكَ حَتَّى قُتِلۡتُ، فَيَقُولُ اللهُ: كَذَبۡتَ، وَتَقُولُ الۡمَلَائِكَةُ: كَذَبۡتَ، بَلۡ قَاتَلۡتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، وَكَذٰلِكَ يَقُولُونَ لِلۡعَالِمِ وَالۡمُتَصَدِّقِ: كَذَبۡتَ، بَلۡ تَعَلَّمۡتَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَتَصَدَّقۡتَ لِيُقَالَ: جَوَّادٌ. 

Para malaikat tidak berkata, “Kalian telah berdusta.” 

Seperti yang dikatakan oleh Allah dan malaikat kepada mujahid yang berkata, “Aku berjihad di jalan-Mu sampai aku terbunuh.” 

Lalu Allah berkata, “Engkau dusta.” 

Malaikat juga berkata, “Engkau dusta. Engkau berperang hanya agar engkau disebut sebagai pemberani.” 

Demikian pula yang mereka katakan kepada orang yang alim dan orang yang bersedekah, “Engkau dusta. Engkau belajar agar engkau disebut sebagai orang yang alim dan engkau bersedekah agar disebut sebagai orang yang dermawan.” (HR. Muslim nomor 1905, At-Tirmidzi nomor 2382, dan An-Nasa`i nomor 3137).[4]

وَأَمَّا هَٰؤُلَاءِ فَلَمۡ يُكۡذِبُوهُمۡ بَلۡ أَجَابُوهُمۡ بِقَوۡلِهِمۡ: ﴿قَالُوٓا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ﴾ وَيَزِيدُ ذٰلِكَ إِيضَاحًا لِلۡعَارِفِ وَالۡجَاهِلِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا، وَهِيَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا﴾ [النساء: ٩٨]. 

Adapun mereka yang tidak ikut hijrah ini, maka malaikat tidak menyatakan bahwa mereka berdusta, bahkan menanggapi mereka dengan ucapan mereka. “Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah luas sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?” 

Ayat setelahnya akan menambah jelas hal itu, baik bagi orang yang pandai maupun yang jahil. Yaitu firman Allah taala, “Kecuali orang-orang yang tertindas dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisa`: 98).[5]

فَهَٰذَا أَوۡضَحُ جِدًّا أَنَّ هَٰؤُلَاءِ خَرَجُوا مِنَ الۡوَعِيدِ، فَلَمۡ يَبۡقَ شُبۡهَةً، لَكِنۡ لِمَنۡ طَلَبَ الۡعِلۡمَ، بِخِلَافِ مَنۡ لَمۡ يَطۡلُبۡهُ، بَلۡ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿صُمٌّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ﴾ [البقرة: ١٨]. 

Ini sangat jelas bahwa mereka (yang tidak hijrah karena uzur) tidak termasuk ke dalam ancaman (yang disebutkan di akhir surah An-Nisa` ayat 97). Maka, sudah tidak tersisa syubhat lagi. Namun, hilangnya syubhat ini hanya bisa dicapai oleh orang yang menuntut ilmu. Beda halnya dengan orang yang tidak mau menuntut ilmu. Bahkan Allah berfirman tentang mereka, “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak bisa kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 18).[6]

وَمَنۡ فَهِمَ هَٰذَا الۡمَوۡضِعَ وَالَّذِي قَبۡلَهُ فَهِمَ كَلَامَ الۡحَسَنِ الۡبَصۡرِيِّ، قَالَ: لَيۡسَ الۡإِيمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا بِالتَّمَنِّي وَلَٰكِنۡ مَا وَقَرَ فِي الۡقُلُوبِ وَصَدَقَتۡهُ الۡأَعۡمَالُ. 

Barang siapa yang memahami peristiwa ini dan sebelumnya, maka dia akan paham ucapan Al-Hasan Al-Bashri. Beliau menuturkan, “Keimanan bukan sekadar dengan hiasan lahiriah dan angan-angan, akan tetapi keimanan adalah keyakinan yang kukuh di dalam kalbu dan dibuktikan oleh amalan-amalan.”[7]

وَذٰلِكَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥ ۚ﴾ [فاطر: ١٠]. 

Tentang itu pula Allah taala berfirman, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10).[8]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Syarh Sittah Mawadhi' min As-Sirah berkata:

[1] الۡهِجۡرَةُ فِي اللُّغَةِ: مَأۡخُوذَةٌ مِنَ الۡهَجۡرِ وَهُوَ التَّرۡكُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ﴾ [المدثر: ٥]. 

أَيۡ: اتۡرُكۡهُ، فَالۡهَجۡرُ هُوَ التَّرۡكُ، وَمِنۡهُ هَجۡرُ أَهۡلِ الۡمَعَاصِي، وَهَجۡرُ الۡمُشۡرِكِينَ -يَعۡنِي: تَرَكَهُمۡ وَعَدَمُ مَحَبَّتِهِمۡ- قَالَ ﷺ: (الۡمُهَاجِرُ مَنۡ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ) أَيۡ: تَرَكَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ. 

Hijrah secara bahasa diambil dari kata al-hajr yaitu meninggalkan. Allah taala berfirman, “War-rujza fahjur.” (QS. Al-Muddatstsir: 5). Artinya: Tinggalkan berhala!” Jadi al-hajr adalah meninggalkan. Dari pengertian ini ada ungkapan “hajr ahlil ma’ashi (meninggalkan pelaku maksiat)” dan “hajr al-musyrikin (meninggalkan orang-orang musyrik)”, yakni meninggalkan mereka dan tidak mencintai mereka. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud nomor 2481 dan An-Nasa`i nomor 4996). Artinya meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah. 

أَمَّا الۡهِجۡرَةُ فِي الشَّرۡعِ: فَهِيَ الۡاِنۡتِقَالُ مِنۡ بَلَدِ الشِّرۡكِ إِلَى بَلَدِ الۡإِسۡلَامِ لِأَجۡلِ الدِّينِ، هَٰذِهِ هِيَ الۡهِجۡرَةُ الشَّرۡعِيَّةُ، وَالۡهِجۡرَةُ فِيهَا فَضۡلٌ عَظِيمٌ، وَهِيَ عَدِيلَةُ الۡإِيمَانِ وَالۡجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ، ﴿ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟﴾ [الأنفال: ۷۲] فَهَٰذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَی عِظَمِ الۡهِجۡرَةِ. 

Adapun hijrah dalam istilah syariat adalah pindah dari daerah kesyirikan ke daerah Islam karena kepentingan agama. Ini hijrah secara syariat. Hijrah memiliki keutamaan yang sangat agung. Amalan hijrah setara dengan keimanan dan jihad di jalan Allah. “Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad.” (QS. Al-Anfal: 72). Ini di antara yang menunjukkan keagungan amalan hijrah. 

وَالۡهِجۡرَةُ بَاقِيَةٌ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، فَالَّذِي لَا يَقۡدَرُ عَلَى إِظۡهَارِ دِينِهِ فِي بِلَادِ الۡمُشۡرِكِينَ يَجِبُ عَلَيۡهِ أَنۡ يُهَاجِرَ إِلَى بَلَدٍ يَقۡدَرُ فِيهِ عَلَى إِظۡهَارِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يُهَاجِرۡ وَهُوَ يَقۡدَرُ عَلَى الۡهِجۡرَةِ، فَإِنَّ اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعالَى أَنۡزَلَ فِيهِ الۡقُرۡآنَ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِيمَ كُنتُمۡ ۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ۚ قَالُوٓا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ‌ٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُ ۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا﴾ [النساء: ٩٧]. 

Syariat hijrah tetap ada hingga hari kiamat terjadi. Jadi orang yang tidak mampu menampakkan agamanya di negeri-negeri musyrikin, maka dia wajib hijrah ke suatu negeri yang dia mampu untuk menampakkan agamanya. Jika dia tidak berhijrah dalam keadaan mampu berhijrah, maka sungguh Allah—subhanahu wa ta’ala—menurunkan di dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, para malaikat bertanya, ‘Di mana kalian waktu itu?’ Orang-orang tadi menjawab, ‘Kami dahulu dalam keadaan tertindas di muka bumi.’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah luas sehingga kalian bisa berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa`: 97). 

هَٰذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ مَعَ أَنَّهُمۡ مُسۡلِمُونَ، لَكِنۡ لَمَّا تَرَكُوا الۡهِجۡرَةَ بِعُذۡرِ مَحَبَّةِ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ وَالۡوَطَنِ، وَقَدَّمُوا مَحَبَّةَ هَٰذِهِ الۡأَشۡيَاءِ عَلَى الۡهِجۡرَةِ فَاللهُ -جَلَّ وَعَلَا- تَوَعَّدَهُمۡ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ. 

Ini adalah ancaman keras padahal mereka adalah muslimin. Tetapi ketika mereka meninggalkan hijrah dengan alasan cinta harta, anak, dan negara; dan mereka mendahulukan cinta kepada hal-hal tersebut daripada hijrah, maka Allah—jalla wa ‘ala—mengancam mereka dengan ancaman ini. 

وَسَبَبُ نُزُولِ الۡآيَةِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَتۡ غَزۡوَةُ بَدۡرٍ كَانَ مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ أُنَاسٌ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ بَقَوۡا فِي مَكَّةَ وَلَمۡ يُهَاجِرُوا شُحًّا بِوَطَنِهِمۡ وَبِلَادِهِمۡ وَأَمۡوَالِهِمۡ وَأَوۡلَادِهِمۡ، وَهُمۡ يَقۡدَرُونَ عَلَى الۡهِجۡرَةِ، فَلَمَّا خَرَجَ الۡمُشۡرِكُونَ إِلَى بَدۡرٍ خَرَجُوا بِهِمۡ مَعَهُمۡ بِغَيۡرِ اخۡتِيَارِهِمۡ، وَأَلۡزَمُوهُمۡ بِالۡخُرُوجِ مَعَهُمۡ، ثُمَّ لَمَّا دَارَتِ الۡمَعۡرَكَةُ قُتِلَ أُنَاسٌ مِنۡهُمۡ وَهُمۡ فِي صَفِّ الۡكُفَّارِ، وَلَمۡ يَعۡلَمِ الۡمُسۡلِمُونَ بِهِمۡ، فَلَمَّا عَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ بِهِمۡ نَدِمُوا وَقَالُوا : قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا. 

Sebab turunnya ayat ini adalah ketika perang Badr, ada orang-orang muslim yang berada di pasukan orang-orang musyrik. Mereka tinggal di Makkah dan tidak berhijrah karena mengutamakan tanah air, negeri, harta, dan anak-anak mereka, padahal mereka mampu hijrah. Maka, ketika orang-orang musyrik keluar berperang ke Badr, orang-orang muslim yang tidak hijrah itu ikut bersama mereka karena tidak ada pilihan lain. Orang-orang musyrik memaksa mereka untuk ikut. Kemudian ketika perang berkecamuk, sebagian orang-orang muslim yang tidak hijrah itu terbunuh dalam keadaan berada di barisan orang-orang kafir dan pasukan muslimin tidak mengetahui mereka. Ketika pasukan muslimin mengetahuinya, maka mereka menyesal dan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.” 

فَأَنۡزَلَ اللهُ هَٰذِهِ الۡآيَةَ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِيمَ كُنتُمۡ﴾. 

يَعۡنِي: مَا الۡوَطَنُ الَّذِي أَنۡتُمۡ فِيهِ، أَيۡ وَطَنٍ؟ 

مَا قَالُوا: كَيۡفَ حَالُكُمۡ فِي الۡإِيمَانِ؟ أَوۡ مَا يَقِينُكُمۡ؟ مَا سَأَلُوهُمۡ عَنۡ هَٰذَا، وَإِنَّمَا سَأَلُوهُمۡ عَنِ الۡمَكَانِ، ﴿فِيمَ كُنتُمۡ﴾ ﴿قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ۚ﴾ [النساء: ٩٧]. 

Lalu Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri mereka, malaikat bertanya, ‘Di mana kalian waktu itu?’” 

Yakni, negeri mana tempat kalian tinggal? 

Para malaikat tidak bertanya, “Bagaimana keadaan iman kalian?” atau “Apa keyakinan kalian?” Para malaikat tidak menanyakan ini. Para malaikat hanya menanyai mereka tentang tempat. “Di mana kalian waktu itu?” 

“Orang-orang itu menjawab, ‘Kami dahulu dalam keadaan tertindas di muka bumi.’” (QS. An-Nisa`: 97). 

يَعۡنِي: أَجۡبَرُونَا عَلَى الۡخُرُوجِ بِسَبَبِ ضَعۡفِنَا وَلَا نَقۡدَرُ أَنۡ نَمۡتَنِعَ ﴿قَالُوٓا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ﴾ كَانَ لَكُمۡ مَنۡدُوحَةٌ عَنۡ هَٰذَا، لَوۡ هَاجَرۡتُمۡ مِثۡلَمَا هَاجَرَ إِخۡوَانُكُمۡ لَسَلِمۡتُمۡ مِنۡ هَٰذِهِ الۡوَاقِعَةِ ﴿فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُ ۖ﴾ هَٰذَا وَعِيدٌ ﴿وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ۝٩٧ إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ﴾ [النساء: ۹۷-۹۸] الَّذِينَ لَا يَقۡدَرُونَ عَلَى الۡهِجۡرَةِ، وَبَقَوۡا فِي بِلَادِ الشِّرۡكِ لِأَنَّهُمۡ مَا يَقۡدَرُونَ عَلَى الۡهِجۡرَةِ ﴿إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَ‌ٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا ۝٩٨ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَعۡفُوَ عَنۡهُمۡ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا ۝٩٩ وَمَن يُهَاجِرۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُرَ‌ٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [النساء: ٩٧-١٠٠]. 

Yakni orang-orang musyrik memaksa kami untuk keluar berperang disebabkan kelemahan kami dan kami tidak mampu untuk menolaknya. 

“Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian bisa berhijrah di bumi itu?” 

Bumi itu diluaskan untuk kalian berhijrah. Andai kalian berhijrah semisal saudara-saudara kalian yang telah berhijrah, niscaya kalian selamat dari kejadian ini. 

“Orang-orang itu tempatnya neraka jahanam.” Ini adalah ancaman. “Dan neraka jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang tertindas.” (QS. An-Nisa`: 97-98). Yaitu orang-orang yang tidak mampu berhijrah dan tetap berada di negeri-negeri kesyirikan karena mereka tidak mampu hijrah. 

“Kecuali orang-orang yang tertindas dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Siapa saja yang berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Siapa saja yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya kemudian ajal menjemputnya, maka pahalanya telah tetap di sisi Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 97-100). 

هَٰذَا فِي شَأۡنِ هَٰؤُلَاءِ، وَهَٰذِهِ قِصَّةٌ عَجِيبَةٌ وَعَظِيمَةٌ: أَنَّ هَٰؤُلَاءِ مَعَ إِسۡلَامِهِمۡ وَصِدۡقِهِمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ، لَمَّا تَرَكُوا الۡهِجۡرَةَ مِنۡ غَيۡرِ عُذۡرٍ حَصَلَ عَلَيۡهِمۡ هَٰذَا الۡوَعِيدُ وَهَٰذَا التَّوۡبِيخُ مِنَ الۡمَلَائِكَةِ لَمَّا جَاءَتۡ تَقۡبِضُ أَرۡوَاحَهُمۡ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلۡمُوَحِّدِ الۡمُسۡلِمِ أَنۡ يَتَسَاهَلَ بِهَٰذَا الۡأَمۡرِ وَأَنۡ يَكُونَ مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ مِنۡ غَيۡرِ مَحَبَّةٍ لَهُمۡ، لَكِنۡ مَحَبَّةً لِمَالِهِ أَوۡ وَلَدِهِ أَوۡ بَيۡتِهِ أَوۡ غَيۡرِ ذٰلِكَ 

Ini tentang keadaan kaum muslimin yang tidak hijrah padahal mampu. Ini merupakan kisah yang menakjubkan dan agung. Yaitu bahwa mereka ini, meski mereka muslim dan jujur dalam keislaman, namun ketika mereka meninggalkan hijrah tanpa uzur, maka ancaman ini tertuju kepada mereka. Begitu pula cercaan dari para malaikat ketika datang mencabut ruh-ruh mereka. Jadi, ini menunjukkan bahwa seorang muwahid muslim tidak boleh bermudah-mudahan dalam urusan ini dan tidak boleh bersama orang-orang musyrik walaupun bukan karena mencintai mereka, namun karena cinta harta, anak, rumahnya, atau selain itu. 

﴿قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟﴾ [التوبة: ٢٤] يَعۡنِي: انۡتَظِرُوا ﴿حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ ۗ﴾ هَٰذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ ﴿وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ﴾ [التوبة: ٢٤] 

“Katakanlah: Jika ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat-tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Ini adalah ancaman keras. “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24). 

فَلَا يَجُوزُ تَقۡدِيمُ مَحَبَّةِ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ عَلَى طَاعَةِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَعَلَى الۡهِجۡرَةِ وَالۡجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالۡكَثِيرُ مِنَ النَّاسِ يَقۡرَءُونَ هَٰذِهِ الۡآيَةَ وَلَا يَتَدَبَّرُونَهَا. 

Jadi, tidak boleh mendahulukan kecintaan terhadap harta dan anak daripada ketaatan kepada Allah—subhanahu wa ta’ala—, daripada hijrah dan jihad di jalan Allah—‘azza wa jalla—. Kebanyakan orang membaca ayat ini namun mereka tidak menadaburinya. 


[2] فَالصَّحَابَةُ مَا قَالُوا: (إِخۡوَانَنَا) إِلَّا لِأَنَّهُمۡ مُسۡتَقِيمُونَ عَلَى الدِّينِ، مَا ذُكِرَ عَنۡهُمۡ أَنَّهُمۡ مَالُوا مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ أَوۡ مَدَحُوا الۡمُشۡرِكِينَ، بَلۡ يَبۡغُضُونَ دِينَ الۡمُشۡرِکِینَ وَكَانُوا عَلَى التَّوۡحِيدِ، وَكَانُوا مُخۡلِصِينَ لِلهِ وَلَيۡسَ فِيهِمۡ نِفَاقٌ، لَكِنۡ تَرَكُوا شَيۡئًا وَاحِدً وَهُوَ الۡهِجۡرَةُ مِنۡ غَيۡرِ عُذۡرٍ. فَلَامَهُمُ اللهُ عَلَى ذٰلِكَ. 

Para sahabat tidaklah mengatakan, “Saudara-saudara kami,” kecuali karena (kaum muslimin yang ikut berperang di barisan orang kafir dan tidak hijrah itu) masih istikamah di atas agama Islam. Tidak disebutkan kabar dari mereka bahwa mereka sudah berpihak bersama orang-orang musyrik atau memuji orang-orang musyrik. Bahkan mereka membenci agama orang-orang musyrik dan mereka tetap di atas tauhid. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas untuk Allah dan tidak ada kenifakan pada diri mereka. Hanya saja mereka meninggalkan satu amalan, yaitu hijrah, tanpa ada uzur. Maka Allah pun mencela mereka akan hal itu. 


[3] فَالۡمَلَائِكَةُ مَا سَأَلُوهُمۡ عَنۡ إِيمَانِهِمۡ وَعَقِيدَتِهِمۡ؛ لِأَنَّهُمۡ يَعۡرِفُونَ أَنَّهُمۡ عَلَى عَقِيدَةٍ صَحِيحَةٍ وَعَلَى إِيمَانٍ صَادِقٍ، لَكِنۡ سَأَلُوهُمۡ عَنِ الۡمَكَانِ الَّذِي هُمۡ فِيهِ، حَيۡثُ لَا يَجُوزُ لَهُمۡ أَنۡ يَبۡقَوۡا فِيهِ وَهُمۡ يَقۡدَرُونَ عَلَى الۡهِجۡرَةِ مِنۡهُ. 

Malaikat tidak menanyai mereka tentang keimanan dan akidah mereka, karena malaikat mengetahui bahwa mereka di atas akidah yang benar dan di atas keimanan yang jujur. Tetapi, malaikat menanyai mereka tentang tempat mereka berada, karena mereka tidak boleh tetap tinggal di tempat itu dalam keadaan mereka mampu berhijrah darinya. 


[4] الۡمَلَائِكَةُ لَمۡ تَقُلۡ: كَذَبۡتُمۡ لَسۡتُمۡ مُسۡلِمِينَ وَلَسۡتُمۡ مُؤۡمِنِینَ، بَلۡ قَالُوا: فِيمَ کُنۡتُمۡ؟ سَأَلُوهُمۡ عَنِ الۡمَكَانِ الَّذِي هُمۡ مَوۡجُودُونَ فِيهِ، مَوۡجُودُونَ حَيۡثُ خَرَجُوا مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوا مُكۡرَهِينَ؛ لِأَنَّهُمۡ هُمُ السَّبَبُ فِي تَسَلُّطِ الۡكُفَّارِ عَلَيۡهِمۡ، وَلَا يَجُوزُ مُرَافَقَتُهُمۡ وَالۡخُرُوجُ مَعَهُمۡ حُبًّا لِلۡمَالِ وَلِلۡأَهۡلِ، وَمُدَارَاةً لِكَيۡ يُبۡقَوۡا عَلَى أَمۡوَالِهِمۡ. 

Malaikat tidak mengatakan, “Kalian dusta. Kalian bukan muslim dan kalian bukan mukmin.” Namun malaikat bertanya, “Di mana kalian berada?” Malaikat bertanya kepada mereka tentang tempat keberadaan mereka. Mereka ditemukan berada di tempat mereka keluar bersama orang-orang musyrik walaupun dalam keadaan dipaksa. Hal itu karena mereka sendiri yang menjadi sebab dikuasai oleh orang-orang kafir. Tidak boleh bersanding dengan orang-orang kafir dan keluar berperang bersama mereka karena cinta harta, cinta keluarga, dan basa-basi agar dibiarkan tetap bersama harta-hartanya. 


[5] يَعۡنِي: لَا يُعۡذَرُ إِلَّا مَنۡ تَرَكَ الۡهِجۡرَةَ عَاجِزًا عَنۡهَا، فَإِنَّهُ مَعۡذُورٌ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً﴾ لِلۡخُرُوجِ ﴿وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا﴾ إِلَيۡهِ ﴿فَأُو۟لَـٰٓئِكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَعۡفُوَ عَنۡهُمۡ ۚ﴾ [النساء: ۹۸-۹۹] هَٰذَا وَعۡدٌ مِنَ اللهِ بِالۡعَفۡوِ عَنۡهُمۡ. 

Yakni: Tidak diberi uzur kecuali siapa saja yang meninggalkan hijrah karena ketidakmampuannya. Orang yang demikian diberi uzur. 

Allah taala berfirman, “Kecuali orang-orang yang lemah dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya,” untuk keluar, “dan tidak memiliki penunjuk jalan,” ke sana. “Mereka inilah yang semoga dimaafkan oleh Allah.” (QS. An-Nisa`: 98-99). 

Ini adalah janji pemaafan dari Allah untuk mereka. 


[6] نَعَمۡ، اخۡتِلَاطُ الۡمُسۡلِمِينَ مَعَ الۡكُفَّارِ مِنۡ غَيۡرِ عُذۡرٍ أَمۡرٌ لَا يَجُوزُ، بَلۡ لَابُدَّ أَنۡ تَتَمَيَّزَ بِلَادُ الۡمُسۡلِمِينَ عَنۡ بِلَادِ الۡكُفَّارِ، وَلَا يُخَالِطُ الۡمُسۡلِمُ الۡمُشۡرِكَ، بَلۡ قَالَ ﷺ: (لَا تَتَرَاءَى نَارَاهُمَا) أَيۡ: يَبۡعُدُ عَنۡهُ مَهۡمَا أَمۡكَنَهُ ذٰلِكَ. 

Ya. Percampuran antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir tanpa uzur adalah perkara yang tidak boleh. Bahkan harus terpisahkan antara negeri kaum muslimin dengan negeri orang kafir. Seorang muslim jangan bercampur dengan orang musyrik. Bahkan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Agar tidak saling melihat api keduanya.” (HR. Abu Dawud nomor 2645 dan At-Tirmidzi nomor 1604). Maksudnya adalah menjauh dari orang kafir selama hal itu memungkinkan. 


[7] فَالۡإِيمَانُ هُوَ مَا (صَدَقَتۡهُ الۡأَعۡمَالُ) وَمِنۡهَا الۡهِجۡرَةُ؛ لِأَنَّهَا مِنَ الۡأَعۡمَالِ، وَهَٰذَا فِيهِ رَدٌّ عَلَى الۡمُرۡجِئَةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّهُ يَكۡفِي الۡإِيمَانُ بِالۡقَلۡبِ، أَوۡ بِالۡقَلۡبِ وَاللِّسَانِ. فَلَا يَكۡفِي الۡاِعۡتِقَادُ وَالنُّطۡقُ بَلۡ لَا بُدَّ مِنَ الۡعَمَلِ. 

Jadi iman adalah sesuatu yang dibuktikan dengan amalan. Di antaranya adalah hijrah, karena hijrah termasuk amalan. Dalam ucapan Al-Hasan ini ada bantahan terhadap Murji`ah yang mengatakan, “Bahwa iman itu cukup dengan kalbu; atau cukup dengan hati dan ucapan.” Jadi keyakinan dan ucapan saja tidak cukup, namun harus ada amalan. 


[8] قَوۡلُهُ ﴿إِلَيۡهِ﴾ أَيۡ: إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، ﴿يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ﴾ مِنَ الذِّكۡرِ وَقِرَاءَةِ الۡقُرۡآنِ وَالتَّسۡبِيحِ وَالتَّهۡلِيلِ، وَكُلِّ كَلَامٍ طَيِّبٍ فَإِنَّهُ يَصۡعَدُ إِلَى اللهِ -جَلَّ وَعَلَا-، وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ، وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ، وَتَعۡلِيمِ الۡعِلۡمِ النَّافِعِ، كُلُّ هَٰذَا مِنَ الۡكَلِمِ الطَّيِّبِ، وَالۡكَلَامُ الطَّيِّبُ مَعَ النَّاسِ وَمَعَ الۡأَقَارِبِ ﴿وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسۡنًا﴾ [البقرة: ٨٣] ﴿وَقُل لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا﴾ [الإسراء: ۲۳]. 

Firman Allah, “Kepada-Nya,” yaitu kepada Allah—subhanahu wa ta’ala—. “Perkataan-perkataan yang baik itu naik” berupa zikir, bacaan Alquran, tasbih, tahlil, dan segala ucapan yang baik. Itu semua naik kepada Allah—jalla wa ‘ala—. Termasuk pula amar makruf nahi mungkar, pengajaran ilmu yang bermanfaat. Ini semua termasuk perkataan yang baik. Demikian pula ucapan yang baik kepada orang-orang dan karib kerabat. “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia!” (QS. Al-Baqarah: 83). “Ucapkan perkataan yang mulia kepada mereka berdua!” (QS. Al-Isra`: 23). 

كُلُّ هَٰذَا مِنَ الۡكَلِمِ الطَّيِّبِ، يَصۡعَدُ إِلَى اللهِ، لَٰكِنۡ لَا يَصۡعَدُ بِنَفۡسِهِ، بَلۡ لَابُدَّ مِنَ الۡعَمَلِ ﴿وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥ ۚ﴾ [فاطر: ۱۰] وَفِي هَٰذَا رَدٌّ عَلَى الۡمُرۡجِئَةِ أَيۡضًا. 

Semua ini termasuk perkataan yang baik yang akan naik kepada Allah. Akan tetapi dia tidak bisa naik dengan sendirinya, akan tetapi harus disertai amalan. “Dan amalan saleh menaikkannya.” (QS. Fathir: 10). Dalam ayat ini ada bantahan terhadap pemahaman Murji`ah.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 4996

٩ - صِفَةِ الۡمُسۡلِمِ
9. Sifat seorang muslim


٤٩٩٦ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ عَامِرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (الۡمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالۡمُهَاجِرُ مَنۡ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ). [(الروض النضير)(٥٩١)، (صحيح أبي داود)(١٢٤٣)، خ]. 

4996. [Sahih] ‘Amr bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Isma’il, dari ‘Amir, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Orang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2481

٢٤٨١ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا يَحۡيَى، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، نا عَامِرٌ قَالَ: أَتَى رَجُلٌ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَمۡرٍو وَعِنۡدَهُ الۡقَوۡمُ حَتَّى جَلَسَ عِنۡدَهُ، فَقَالَ: أَخۡبِرۡنِي بِشَىۡءٍ سَمِعۡتَهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (الۡمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالۡمُهَاجِرُ مَنۡ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ). [خ]. 

2481. [Sahih] Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid: ‘Amir menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Seorang pria mendatangi ‘Abdullah bin ‘Amr ketika ada orang-orang di dekat beliau hingga pria itu duduk di dekatnya lalu berkata: Kabarkan kepadaku sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”

Syarh Sittah Mawadhi' min As-Sirah - Peristiwa Keempat

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Sittah Mawadhi' min As-Sirah berkata:

الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: قِصَّةُ أَبِي طَالِبٍ، فَمَنۡ فَهِمَهَا حَسَنًا وَتَأَمَّلَ إِقۡرَارَهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَحَثَّ النَّاسِ عَلَيۡهِ، وَتَسۡفِيهَ عُقُولِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَمَحَبَّتَهُ لِمَنۡ أَسۡلَمَ وَخَلَعَ الشِّرۡكَ، ثُمَّ بَذَلَ عُمۡرَهُ وَمَالَهُ وَأَوۡلَادَهُ وَعَشِيرَتَهُ فِي نُصۡرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى أَنۡ مَاتَ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى الۡمَشَقَّةِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡعَدَاوَةِ الۡبَالِغَةِ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَلَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنۡ دِينِهِ الۡأَوَّلِ لَمۡ يَصِرۡ مُسۡلِمًا، مَعَ أَنَّهُ يَعۡتَذِرُ مِنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ فِيهِ مسَبَّةً لِأَبِيهِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَلِهَاشِمٍ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ مَشَايِخِهِمۡ. 

Peristiwa keempat: Kisah Abu Thalib. Siapa saja yang memahaminya dengan baik dan memperhatikan 
  • pengakuannya terhadap tauhid, 
  • anjurannya kepada manusia agar bertauhid, 
  • sikap beliau yang membodoh-bodohkan akal orang-orang musyrik, 
  • kecintaan beliau kepada orang yang masuk Islam dan lepas dari kesyirikan, 
  • beliau menghabiskan umur, harta, anak-anak, dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal, 
  • sikap beliau yang menyabarkan Rasulullah terhadap kesulitan yang besar dan permusuhan yang memuncak.[1]
Akan tetapi ketika Abu Thalib tidak masuk Islam dan tidak berlepas diri dari agamanya yang dahulu, maka dia tidak menjadi seorang muslim. Meskipun dia beralasan dengan apabila dia masuk Islam, maka akan mencoreng kehormatan ayahnya—yaitu ‘Abdul Muththalib—dan Hasyim, serta selain keduanya dari para tokoh leluhur mereka.[2]

ثُمَّ مَعَ قَرَابَتِهِ وَنُصۡرَتِهِ اسۡتَغۡفَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣]. 

Kemudian karena hubungan kekerabatan dan pembelaan Abu Thalib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuknya. Lalu Allah taala menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).[3]

وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذَا أَنَّهُ إِذَا عُرِفَ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ أَوِ الۡأَحۡسَاءِ بِحُبِّ الدِّينِ وَبِحُبِّ الۡمُسۡلِمِينَ، مَعَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡصُرِ الدِّينَ بِيَدٍ وَلَا مَالٍ وَلَا لَهُ مِنَ الۡأَعۡذَارِ مِثۡلُ مَا لِأَبِي طَالِبٍ، وَفَهِمَ الۡوَاقِعَ مِنۡ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡهُدَى مِنَ الضَّلَالِ، وَعَرَفَ سُوءَ الۡأَفۡهَامُ، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ. 

Dan yang lebih memperjelas ini adalah apabila 
  • ada seseorang dari penduduk Bashrah atau Ahsa` yang dikenal mencintai agama Islam dan mencintai kaum muslimin, namun dia tidak menolong agama dengan tangan dan harta. Dia juga tidak memiliki uzur semisal uzur yang dimiliki Abu Thalib. 
  • dia memahami kenyataan berupa banyaknya orang yang mengaku-aku mengerti agama 
maka akan jelas baginya petunjuk dari kesesatan dan dia akan mengerti buruknya pemahaman (sebagian kaum muslimin terhadap agamanya). Allah lah yang dimintai pertolongan.[4]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Syarh Sittah Mawadhi' min As-Sirah berkata:

[1] أَبُو طَالِبٍ عَمُّ الرَّسُولِ ﷺ، لَمَّا تُوُفِّيَ وَالِدُ الرَّسُولِ ﷺ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، وَالرَّسُولُ ﷺ حَمۡلٌ فِي بَطۡنِ أُمِّهِ، ثُمَّ لَمَّا وُلِدَ ﷺ كَفَلَهُ جَدُّهُ عَبۡدُ الۡمُطَّلِبِ؛ لِأَنَّهُ أَصۡبَحَ يَتِيمًا فَكَفَلَهُ جَدُّهُ عَبۡدُ الۡمُطَّلِبِ، ثُمَّ لَمَّا حَضَرَتۡ عَبۡدَ الۡمُطَّلِبِ الۡوَفَاةُ أَوۡصَى بِهِ إِلَى ابۡنِهِ أَبِي طَالِبٍ، وَأَبُو طَالِبٍ قَامَ بِالۡوَاجِبِ وَحَضَنَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَبَّاهُ وَأَكۡرَمَهُ. 

Abu Thalib adalah paman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ketika ayah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yaitu ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib wafat, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih berada di dalam kandungan ibunya. Kemudian ketika beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah lahir, beliau diasuh oleh kakeknya, yaitu ‘Abdul Muththalib, karena beliau menjadi anak yatim. Jadi, kakeknya, yaitu ‘Abdul Muththalib, mengasuh beliau. Kemudian ketika ‘Abdul Muththalib wafat, dia mewasiatkan agar Rasulullah diasuh oleh putranya, yaitu Abu Thalib. Maka, Abu Thalib menunaikan kewajiban, mengasuh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mendidiknya, dan memuliakannya. 

ثُمَّ لَمَّا بَعَثَهُ اللهُ رَسُولًا إِلَى الۡعَالَمِينَ قَامَ مَعَهُ يَحۡمِيهِ وَيُدَافِعُ عَنۡهُ، وَلَقِيَ الۡأَذَى مِنۡ قُرَيۡشٍ فِي سَبِيلِ حِمَايَةِ دَعۡوَةِ الرَّسُولِ ﷺ وَالدِّفَاعِ عَنۡهُ، وَعَرَّضَ نَفۡسَهُ لِلۡخَطَرِ وَالۡمَجَاعَةِ، حَتَّى إِنَّهُمۡ حَاصَرُوهُمۡ فِي الشَّعۡبِ سِنِينَ وَقَاطَعُوهُمۡ، وَقَطَعُوا عَنۡهُمُ الۡمُؤَنَ، وَقَطَعُوا عَنۡهُمُ الۡاِتِّصَالَ، وَمَعَهُمۡ أَبُو طَالِبٍ وَصَبَرَ عَلَى هَٰذَا، وَكَانَ يَمۡدَحُ دِینَ الرَّسُولِ ﷺ وَيَقُولُ: 

وَلَقَدۡ عَلِمۡتُ بِأَنَّ دِینَ مُحَمَّدٍ مِنۡ خَيۡرِ أَدۡيَانِ الۡبَرِيَّةِ دِينَا 

لَوۡلَا الۡمَلَامَةُ أَوۡ حِذَارُ مَسَبَّةٍ لَرَأَيۡتَنِي سَمۡحًا بِذَاكَ مُبِينَا 

Kemudian ketika Allah mengutusnya menjadi rasul kepada alam semesta, Abu Thalib berada di pihak beliau, menjaganya, dan membelanya. Abu Thalib juga mengalami gangguan dari orang musyrik Quraisy ketika dia menjaga dakwah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan membelanya. Abu Thalib mengajukan dirinya menghadapi bahaya dan kelaparan. Bahkan sampai orang-orang musyrik Quraisy mengepung mereka di sebuah lembah antara dua gunung selama beberapa tahun dan mengembargo mereka. Orang-orang musyrik memutus barang kebutuhan pokok dan hubungan dari kaum muslimin dalam keadaan Abu Thalib bersama kaum muslimin. Beliau sabar menanggung penderitaan ini dan beliau pernah memuji agama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—serta berkata, “Sungguh aku mengetahui bahwa agama Muhammad merupakan agama terbaik yang dianut manusia. Kalau bukan karena celaan atau takut hinaan, niscaya engkau akan melihatku mengikutinya dengan lapang dada dan terang-terangan.” 

وَفِي لَامِيَتِهِ الۡمَشۡهُورَةِ الطَّوِيلَةِ الَّتِي أَوۡرَدَهَا ابۡنُ كَثِيرٍ فِي الۡبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ اعۡتَرَفَ بِأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَأَنَّهُ صَادِقٌ فِي رِسَالَتِهِ، وَأَنَّهُ لَمۡ يَمۡنَعۡهُ مِنِ اتِّبَاعِهِ إِلَّا خَشۡيَهُ مَسَبَّةِ دِينِ آبَائِهِ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى عِبَادَةِ الۡأَصۡنَامِ، فَأَخَذَتۡهُ الۡحَمِيَّةُ الۡجَاهِلِيَّةُ فِي امۡتِنَاعِهِ مِنِ اتِّبَاعِ مُحَمَّدٍ ﷺ لِئَلَّا يَجُرَّ عَلَى أَشۡيَاخِهِ الۡمَسَبَّةَ. 

Di dalam kasidah Lamiyah Abu Thalib yang terkenal dan panjang, yang dibawakan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Abu Thalib mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah dan bahwa Muhammad adalah orang yang benar dalam kerasulannya. Disebutkan pula dalam kasidah tersebut bahwa tidak ada yang menghalangi Abu Thalib dari mengikuti Muhammad kecuali takut menghina agama leluhurnya yang adat mereka adalah menyembah berhala-berhala. Jadi fanatisme kejahiliahan membuatnya terhalang dari mengikuti Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar tidak mengakibatkan penghinaan terhadap para tetuanya. 

ثُمَّ لَمَّا حَضَرَتۡهُ الۡوَفَاةُ جَاءَهُ النَّبِيُّ ﷺ وَعِنۡدَهُ أَبُو جَهۡلٍ وَعِنۡدَهُ آخَرُ مِنۡ بَنِي مَخۡزُومٍ، فَالرَّسُولُ ﷺ قَالَ لَهُ: (يَا عَمِّ، قُلۡ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنۡدَ اللهِ) فَقَالَ لَهُ أَبُو جَهۡلٍ وَمَنۡ مَعَهُ: أَتَتۡرُكُ دِينَ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ؟ فَأَعَادَ عَلَيۡهِ الرَّسُولُ، فَأَعَادَا: أَتَتۡرُكُ دِينَ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ؟ ثُمَّ كَانَ آخِرُ مَا قَالَ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ. وَمَاتَ عَلَى ذٰلِكَ. 

Kemudian ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatanginya. Ketika itu ada Abu Jahl dan satu orang lagi dari bani Makhzum di dekat Abu Thalib. 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada Abu Thalib, “Wahai pamanku, katakanlah: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Satu kalimat yang aku bisa beralasan dengannya di sisi Allah.” 

Abu Jahl dan yang bersamanya berkata kepada Abu Thalib, “Apakah engkau akan meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?” 

Rasulullah mengulang ucapan beliau. Abu Jahl dan temannya juga mengulangi, “Apakah engkau akan meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?” 

Ternyata akhir ucapan Abu Thalib adalah bahwa beliau tetap di atas agama ‘Abdul Muththalib dan meninggal dalam keadaan demikian. 

فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ مَا لَمۡ أُنۡهَ عَنۡكَ) فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَی: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ۱۱۳]. وَأَنۡزَلَ فِي أَبِي طَالِبٍ: ﴿إِنَّكَ لَا تَهۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ﴾ [القصص: ٥٦]. 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku pasti akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.” 

Lalu Allah taala menurunkan ayat, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan untuk orang-orang musyrik, walaupun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah nyata bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113). (HR. Al-Bukhari 1360, 3884, 4675, 4772, 5657, 6681, dan Muslim nomor 24). 

Allah juga menurunkan ayat tentang Abu Thalib, “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56). 

فَدَلَّ هَٰذَا عَلَى أَنَّ مَدۡحَ الۡإِسۡلَامِ وَمَدۡحَ الرَّسُولِ، وَاعۡتِقَادَ أَنَّ الۡإِسۡلَامَ حَقٌّ وَأَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ مِنۡ غَيۡرِ اتِّبَاعٍ لِلرَّسُولِ، أَنَّ ذٰلِكَ لَا يَنۡفَعُ، وَأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنِ اتِّبَاعِ الرَّسُولِ ﷺ؛ لِأَنَّ هَٰذَا لَوۡ كَانَ يَنۡفَعُ لَنَفَعَ أَبَا طَالِبٍ، فَإِنَّ الۡإِقۡرَارَ بِأَنَّ الۡإِسۡلَامَ حَقٌّ وَأَنَّ الرَّسُولَ صَادِقٌ، مَعَ الۡمُدَافَعَةِ عَنِ الۡإِسۡلَامِ وَحِمَايَةِ الۡإِسۡلَامِ، كُلُّ هَٰذَا لَا يَنۡفَعُ إِلَّا مَعَ الۡاِتِّبَاعِ، وَإِلَّا فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَٰذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الۡفَاجِرِ). 

Ini menunjukkan bahwa pujian kepada Islam, pujian kepada Rasulullah, keyakinan bahwa Islam adalah benar dan Rasulullah benar, namun tidak mengikuti Rasulullah, maka itu semua tidaklah bermanfaat. Harus ada sikap mengikuti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—karena andai perbuatan tadi bermanfaat, niscaya akan memberi manfaat kepada Abu Thalib. 

Pengakuan bahwa Islam benar, Rasulullah benar, disertai pembelaan terhadap Islam dan penjagaan terhadap Islam, semua itu tidak bermanfaat kecuali disertai sikap mengikuti Rasulullah. 

Kalau tanpa mengikuti Rasulullah akan bermanfaat, niscaya Abu Thalib akan mendapat manfaatnya. Namun ternyata tidak, sementara Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya Allah bisa saja menguatkan agama ini melalui pelaku kemaksiatan.” (HR. Al-Bukhari nomor 3062, 4204, 6606, dan Muslim nomor 111). 

فَلَا بُدَّ مِنَ الۡاِتِّبَاعِ، فَلَا تَنۡفَعُ الۡمُعَاوَنَةُ وَالۡمَدۡحُ وَالۡحِمَايَةُ لِلۡإِسۡلَامِ وَغَيۡرُ ذٰلِكَ، وَلَا الۡقَرَابَةُ مِنَ الرَّسُولِ بِدُونِ اتِّبَاعٍ لَهُ، فَهَٰذَا عَمُّ الرَّسُولِ ﷺ لَمَّا مَاتَ عَلَى الۡكُفۡرِ لَمۡ يَنۡفَعۡهُ الرَّسُولُ ﷺ بِإِخۡرَاجِهِ مِنَ النَّارِ رَغۡمَ الۡمُحَاوَلَةِ، وَمَنَعَهُ اللهُ مِنَ الۡاِسۡتِغۡفَارِ لَهُ، وَقَالَ: ﴿إِنَّكَ لَا تَهۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ﴾ وَقَالَ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ۱۱۳]. 

Jadi harus ada sikap ittiba’ (mengikuti Rasul). Pertolongan, pujian, penjagaan terhadap Islam dan sikap selain itu, serta hubungan kekerabatan dengan Rasulullah, tidak memberi manfaat bagi dirinya apabila tidak mengikuti beliau. Contohnya paman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ini. Ketika dia mati dalam keadaan kafir, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak bisa memberi manfaat kepadanya untuk bisa mengeluarkannya dari neraka, meski sudah berusaha. Allah melarang beliau untuk memintakan ampunan untuknya dan berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk siapa saja yang engkau cintai.” Dan Allah berfirman, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan untuk orang-orang musyrik, walaupun mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan setelah nyata bahwa mereka merupakan penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113). 

وَاللهُ -جَلَّ وَعَلَا- يَقُولُ: ﴿قَالَ عَذَابِىٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُ ۖ وَرَحۡمَتِى وَسِعَتۡ كُلَّ شَىۡءٍ ۚ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَو‌ٰةَ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَـٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ۝١٥٦ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلۡأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِى ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَـٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَـٰلَ ٱلَّتِى كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ﴾ لَمۡ يَكۡتَفِ بِقَوۡلِهِ: ﴿ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ﴾ بَلۡ قَالَ: ﴿وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ﴾ [الأعراف: ١٥٦-١٥٧]. 

Allah—jalla wa ‘ala—berfirman, “Allah berfirman, ‘Azab-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.’ (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya.” Allah tidak mencukupkan dengan firman-Nya, “beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya,” bahkan Allah melanjutkan, “dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 156-157). 

فَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَدۡحَ الۡإِسۡلَامِ وَالثَّنَاءَ عَلَى الۡإِسۡلَامِ وَالۡمُسۡلِمِينَ، وَأَنَّهُمۡ عَلَى حَقٍّ وَأَنَّ الۡكُفَّارَ عَلَى بَاطِلٍ، وَأَنَّ الشِّرۡكَ بَاطِلٌ، كُلُّ هَٰذَا لَا يَكۡفِي وَأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنَ الۡاِتِّبَاعِ، فَمَنۡ كَانَ يُمۡدِحُ الۡإِسۡلَامَ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ وَيُمۡجِدُهُ، وَهُوَ لَمۡ يَتۡرُكِ الشِّرۡكَ بَلۡ يَدۡعُو غَيۡرَ اللهِ، يَدۡعُو الۡأَصۡنَامَ وَالۡأَضۡرِحَةَ وَالۡقُبُورَ، فَإِنَّ هَٰذِهِ الۡأُمُورَ لَا تَنۡفَعُهُ وَلَا تُفِيدُهُ شَيۡئًا، لَوۡ كَانَتۡ تَنۡفَعُ وَتُفِيدُ لَأَفَادَتۡ أَبَا طَالِبٍ عَمَّ الرَّسُولِ ﷺ. فَهَٰذِهِ مَسۡأَلَةٌ دَقِيقَةٌ يَنۡبَغِي التَّنَبُّهُ لَهَا. 

Ini menunjukkan bahwa pujian terhadap Islam, sanjungan kepada Islam dan kaum muslimin, pernyataan bahwa mereka di atas kebenaran dan bahwa orang-orang kafir di atas kebatilan, serta bahwa kesyirikan adalah batil, semua ini tidak cukup. Harus ada sikap ittiba’ (mengikuti Rasul). 

Jadi siapa saja yang memuji Islam, menyanjungnya, dan memuliakannya, namun dia tidak meninggalkan kesyirikan, bahkan dia berdoa kepada selain Allah, berdoa kepada berhala-berhala dan kuburan-kuburan, maka sungguh perkara-perkara tadi tidak memberi manfaat kepadanya dan tidak memberi faedah sedikit pun kepadanya. Andai perkara tadi bermanfaat dan berfaedah, niscaya akan memberi faedah kepada Abu Thalib paman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Jadi ini merupakan permasalahan detail yang perlu untuk dicermati. 


[2] هَٰذَا الَّذِي مَنَعَهُ وَهُوَ النَّخۡوَةُ وَالۡعَصَبِيَّةُ الۡجَاهِلِيَّةُ، مَنَعَتۡهُ مِنَ الدُّخُولِ فِي الۡإِسۡلَامِ وَمَاتَ عَلَى الۡكُفۡرِ، مَعَ مَا لَهُ مِنَ الۡمَوَاقِفِ الۡعَظِيمَةِ فِي نُصۡرَةِ الۡحَقِّ وَالدِّفَاعِ عَنۡهُ، وَمَعَ ذٰلِكَ لَمَّا لَمۡ يَتَّبِعِ الرَّسُولَ ﷺ لَمۡ تَنۡفَعۡهُ هَٰذِهِ الۡأُمُورُ، إِلَّا مَا صَحَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنۡهُ مِنۡ عَذَابِ النَّارِ، حَيۡثُ أَصۡبَحَ فِي ضَحۡضَاحِ مِنۡ نَارٍ بِسَبَبِ شَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ لَهُ، وَفِي رِوَايَةٍ: (فِي أَخۡمَصِ قَدَمَيۡهِ جَمۡرَتَانِ مِنۡ نَارٍ يَغۡلِي مِنۡهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا مِنَ النَّارِ أَشَدَّ مِنۡهُ عَذَابًا، وَإِنَّهُ لَأَهۡوَنُهُمۡ عَذَابًا). 

Inilah yang menghalangi Abu Thalib, yaitu harga diri dan fanatisme jahiliah. Ini yang menghalanginya masuk ke dalam agama Islam dan meninggal dalam keadaan kafir, padahal dia memiliki peran yang besar dalam menolong dan membela kebenaran. Walau demikian, ketika dia tidak mengikuti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maka perkara-perkara ini tidak bermanfaat untuknya, kecuali telah sahih bahwa azab neraka diringankan darinya. Yaitu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal dengan sebab syafaat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuknya. (HR. Al-Bukhari nomor 6208, 6572, dan Muslim nomor 209). Di dalam riwayat lain, “Dua bara api neraka diletakkan di bagian tengah kedua telapak kakinya sehingga menyebabkan otaknya mendidih. Dia tidak mengira ada seorang yang azab nerakanya lebih dahsyat daripada dia, padahal dia benar-benar yang paling ringan azabnya.” (HR. Al-Bukhari nomor 6561, 6562, dan Muslim nomor 213). 

لَمۡ يَنۡفَعۡهُ ذٰلِكَ فِي إِخۡرَاجِهِ مِنَ النَّارِ، فَلَا يَتَعَارَضُ هَٰذَا مَعَ قَوۡلِهِ تَعَالَى عَنِ الۡكُفَّارِ: ﴿فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ﴾ [المدثر: ٤٨] إِنَّمَا نَفَعَهُ فِي التَّخۡفِيفِ عَنۡهُ مِنَ الۡعَذَابِ فَقَطۡ. 

Jasa Abu Thalib itu tidak bermanfaat untuk bisa mengeluarkannya dari neraka. Jadi hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah taala tentang orang-orang kafir, “Syafaat dari para pemberi syafaat tidak berguna bagi mereka.” (QS. Al-Muddatstsir: 48). Syafaat Nabi hanya bermanfaat untuk meringankan azabnya saja. 


[3] نَسۡتَفِيدُ مِنۡ هَٰذَا أَنَّهُ لَا يَكۡفِي الۡإِقۡرَارُ بِأَنَّ الۡإِسۡلَامَ حَقٌّ، وَلَا يَكۡفِي الۡمُدَافَعَةُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ، وَلَا يَكۡفِي ذَمُّ الشِّرۡكِ وَالۡمُشۡرِكِينَ، كُلُّ هَٰذَا لَا يَكۡفِي إِلَّا بِاتِّبَاعِ الرَّسُولِ ﷺ، فَمَنۡ لَمۡ يَتَّبِعِ الرَّسُولَ ﷺ فَإِنَّ هَٰذِهِ الۡأُمُورَ لَا تَنۡفَعُهُ. 

Kita bisa mengambil faedah dari kisah ini, bahwa tidak cukup pengakuan bahwa agama Islam adalah benar, tidak cukup pembelaan terhadap Islam, tidak cukup mencela kesyirikan dan orang-orang musyrik. Semua ini tidak cukup kecuali dengan sikap mengikuti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Jadi siapa saja yang tidak mengikuti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maka sesungguhnya perkara-perkara ini tidak memberi manfaat kepadanya. 

وَبِنَاءً عَلَى ذٰلِكَ، فَإِنَّ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَشۡهَدُونَ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَقَدۡ يُجَاهِدُونَ الۡكُفَّارَ، وَلَٰكِنَّهُمۡ لَا يَتۡرُكُونَ الشِّرۡكَ حَوۡلَ الۡأَضۡرِحَةِ وَالۡقُبُورِ، وَيَسۡتَغِيثُونَ بِالۡأَمۡوَاتِ، وَيَذۡبَحُونَ لِلۡقُبُورِ، فَهَٰؤُلَاءِ لَا يَنۡفَعُهُمۡ ذٰلِكَ؛ لِأَنَّ الشِّرۡكَ لَا يَنۡفَعُ مَعَهُ عَمَلٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ أُوحِىَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ﴾ [الزمر: ٦٥] مَا دَامَ أَنَّهُ لَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، وَلَمۡ يُقَاطِعۡهُمۡ فِي الدِّينِ، فَإِنَّهُ لَا يَنۡفَعُهُ ذٰلِكَ. 

Berdasarkan hal itu, orang-orang yang salat, siam, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah, bahkan terkadang berjihad memerangi orang-orang kafir, namun mereka tidak meninggalkan perbuatan kesyirikan di sekitar kuburan-kuburan, beristigasah untuk orang-orang mati, menyembelih untuk penghuni kubur, maka amalan-amalan tadi tidak bermanfaat bagi mereka, karena amalan yang disertai kesyirikan tidaklah bermanfaat. Sebagaimana firman Allah taala, “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: Jika engkau berbuat syirik, niscaya amalanmu pasti terhapus dan engkau pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65). Jadi selama dia tidak berlepas diri dari orang-orang musyrik dan tidak memutuskan hubungan dengan mereka dalam perkara agama, maka amalannya tidak memberi manfaat untuknya. 


[4] يُقۡصَدُ بِذٰلِكَ الۡعُلَمَاءِ الَّذِينَ فِي وَقۡتِهِ، الَّذِينَ عَرَفُوا الۡحَقَّ وَعَرَفُوا التَّوۡحِيدَ وَعَرَفُوا بُطۡلَانَ الشِّرۡكِ، لَكِنۡ مَعَ هَٰذَا لَمۡ يَقُومُوا بِالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ وَالۡأَمۡرِ بِالتَّوۡحِيدِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الشِّرۡكِ وَالۡإِنۡكَارِ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، لَمۡ يَقُومُوا بِذٰلِكَ، هَٰؤُلَاءِ مِثۡلُ أَبِي طَالِبٍ؛ لِأَنَّهُمۡ مَا بَذَلُوا الۡخَيۡرَ لِهَٰذَا الدِّينِ، وَلَا دَعَوۡا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا بَيَّنُوا لِلنَّاسِ، بَلۡ كَتَمُوا الۡعِلۡمَ الَّذِي عِنۡدَهُمۡ وَسَكَتُوا عَنِ الشِّرۡكِ وَعَاشُوا مَعَ الۡمُشۡرِکِینَ. 

‘Ulama’ yang dimaksud beliau adalah orang-orang yang berada di zamannya yang mereka mengetahui kebenaran, mengetahui tauhid, mengetahui kebatilan kesyirikan, akan tetapi bersamaan dengan itu mereka tidak menegakkan dakwah kepada Allah, memerintahkan kepada tauhid, melarang dari kesyirikan, dan mengingkari orang-orang musyrik. Mereka tidak menegakkan hal-hal itu. Mereka ini semisal Abu Thalib karena mereka tidak memberikan kebaikan untuk agama ini, tidak pula berdakwah kepada Allah—‘azza wa jalla—, tidak pula menerangkan kepada manusia, bahkan mereka menyembunyikan ilmu yang di sisi mereka, diam dari kesyirikan, dan hidup bersama orang-orang musyrik.