Cari Blog Ini

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (9), Bab Shalat Jum'at dan Shalat Dua Hari Raya

Bab Shalat Jum’at

Setiap yang terkena kewajiban shalat jama’ah maka dia wajib shalat jum’at, jika dia sedang bermukim di suatu tempat.
Termasuk syarat-syarat shalat jum’at adalah: melakukannya pada waktunya, diadakan di dalam pemukiman, didahului dengan dua khuthbah. Dari Jabir, beliau berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احۡمَرَّتۡ عَيۡنَاهُ وَعَلَا صَوۡتُهُ وَاشۡتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنۡذِرُ جَيۡشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمۡ وَمَسَّاكُمۡ، وَيَقُولُ أَمَّا بَعۡدُ فَإِنَّ خَيۡرَ الۡحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيۡرَ الۡهَدۡيِ هَدۡيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الۡأُمُورِ مُحۡدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhuthbah, kedua mata beliau merah, suaranya lantang, emosinya menggebu-gebu, sampai seakan-akan beliau pemberi peringatan pasukan yang sedang mengatakan: Musuh akan datang di pagi hari, musuh akan datang di sore hari. Beliau bersabda: Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim[1]). Di dalam lafazh Imam Muslim yang lain[2],
كَانَتۡ خُطۡبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَوۡمَ الۡجُمۡعَةِ يَحۡمَدُ اللهَ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثۡرِ ذَلِكَ وَقَدۡ عَلَا صَوۡتُهُ...
“Khuthbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at adalah beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian beliau bersabda setelahnya, dan suara beliau lantang...” Di dalam riwayat Imam Muslim yang lain[3],
مَنۡ يَهۡدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ لَهُ
“Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.” Dan beliau bersabda,
إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقَصۡرَ خُطۡبَتِهِ مَئِنَةٌ مِنۡ فِقۡهِهِ
“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khuthbah menunjukkan pemahaman dia terhadap agama.” (HR. Muslim[4]). Dan disunnahkan berkhuthbah di atas mimbar.
Jika imam naik mimbar, maka dia menghadap manusia, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian duduk, lalu mu`adzdzin adzan. Kemudian imam berdiri, khuthbah, lalu duduk. Kemudian khuthbah yang kedua. Lalu shalat ditegakkan. Imam shalat bersama manusia dua raka’at dengan mengeraskan bacaan. Di raka’at pertama membaca surat Al-A’laa, di raka’at kedua membaca Al-Ghaasyiyah, atau surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun.
Disunnahkan bagi yang menghadiri shalat Jum’at: mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaiannya yang paling bagus, dan berpagi-pagi menuju masjid. Di dalam Ash-Shahihain,
إِذَا قُلۡتَ لِصَاحِبِكَ أَنۡصِتۡ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ وَالۡإِمَامُ يَخۡطُبُ فَقَدۡ لَغَوۡتَ
“Jika engkau berkata kepada temanmu: Diamlah, pada hari Jum’at, padahal imam sedang berkhuthbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.”[5] Pernah seorang laki-laki masuk masjid pada hari Jum’at ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhuthbah, maka Nabi bertanya, “Apakah engkau sudah shalat?” Orang itu menjawab, “Belum.” Nabi bersabda, “Bangkitlah dan shalatlah dua raka’at.” (Muttafaqun ‘alaih[6]).

Bab Shalat Dua Hari Raya

أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ بِالۡخُرُوجِ إِلَيۡهَا حَتَّى الۡعَوَاتِقِ وَالۡحُيَّضِ يَشۡهَدُونَ الۡخَيۡرَ وَدَعۡوَةَ الۡمُسۡلِمِينَ وَيَعۡتَزِلُ الۡحُيَّضُ الۡمُصَلَّى
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia agar keluar menghadiri shalat ‘id termasuk gadis-gadis remaja dan wanita yang sedang haidh supaya mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Wanita yang sedang haidh menjauh dari tempat shalat. (Muttafaqun ‘alaih[7]).
Waktu shalat ‘id semenjak matahari meninggi setinggi tombak hingga tergelincir.
Sunnahnya mengerjakannya di lapangan, mendahulukan shalat ‘Idul Adhha, mengakhirkan shalat ‘Idul Fithr, makan sebelum shalat ‘Idul Fithr dengan kurma sebanyak ganjil, membersihkan badan dan memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang paling bagus, dan berangkat dari satu jalan lalu pulang lewat jalan lain.
Kemudian shalat bersama-sama dua raka’at tanpa adzan dan iqamah. Pada raka’at pertama bertakbir tujuh kali termasuk takbiratul ihram, pada raka’at kedua bertakbir lima kali selain takbir berdiri. Mengangkat tangan pada setiap takbir, memuji Allah dan mengucapkan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara dua takbir. Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan surat yang lain dan mengeraskan bacaan. Setelah salam, berkhuthbah kepada manusia dengan dua khuthbah, seperti dua khuthbah Jum’at, hanya saja pada setiap khuthbah ‘Id ini, kaum muslimin diingatkan tentang hukum-hukum yang sesuai pada waktu itu.
Disunnahkan takbir mutlak pada malam-malam hari raya dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun takbir muqayyad adalah setelah shalat-shalat wajib, sejak shalat subuh pada hari ‘Arafah sampai ‘ashr pada akhir hari tasyriq. Bacaannya,
اللهُ أَكۡبَرُ، اللهُ أَكۡبَرُ، اللهُ أَكۡبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، اللهُ أَكۡبَرُ اللهُ أَكۡبَرُ، وَلِلهِ الۡحَمۡدُ

[1] Nomor 867.
[4] Nomor 869 dari hadits ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu.
[5] HR. Al-Bukhari (934) dan Muslim (851) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[6] HR. Al-Bukhari (931) dan Muslim (875) dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
[7] HR. Al-Bukhari (351) dan Muslim (890) dari hadits ‘Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (8), Bab Shalat Orang yang Mempunyai Udzur

Orang yang sakit dimaafkan untuk tidak menghadiri jama’ah. Jika shalat dengan berdiri akan menambah sakitnya, maka dia shalat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka shalat dengan berbaring. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Imran bin Hushain,
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ
“Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu, maka dengan duduk. Jika engkau tidak mampu, maka dengan berbaring.” (HR. Al-Bukhari[1]).
Jika sulit untuk mengerjakan shalat pada tiap waktunya, maka boleh baginya untuk menjama’ zhuhur dengan ‘ashr atau maghrib dengan ‘isya` dalam salah satu waktu. Begitu pula bagi musafir boleh untuk menjama’. Disunnahkan bagi musafir untuk mengqashar shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at, dan boleh berbuka ketika bulan Ramadhan.
Boleh dilakukan shalat khauf sesuai dengan cara yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Di antaranya hadits Shalih bin Khawwaat dari orang yang pernah shalat khauf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari perang Dzatur Riqaa’,
أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةً وِجَاهَ الْعَدُوِّ فَصَلَّى بِالَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتِمُّوا لأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ انْصَرَفُوا وَصَفُّواوِجَاهَ الْعَدُوِّ، وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الأُخْرَى فَصَلَّى بِهِمُ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتِمُّوا لأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ
“Sekelompok pasukan berbaris bersama beliau, sekelompok yang lain menghadap ke musuh. Kemudian beliau shalat dengan orang-orang yang bersama beliau satu raka’at. Lalu beliau tetap berdiri dan orang-orang menyempurnakan shalat mereka sendiri. Kemudian mereka beranjak pergi dan berbaris menghadap ke musuh. Lalu sekelompok pasukan yang lain datang, kemudian Nabi shalat bersama mereka satu raka’at yang tersisa. Kemudian beliau tetap duduk dan orang-orang menyempurnakan shalat mereka, lalu beliau salam bersama mereka.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).
Apabila rasa takut sangat kuat, maka shalatlah dengan berjalan kaki atau berkendara, baik menghadap kiblat atau selainnya, berisyarat ketika ruku’ dan sujud. Demikian pula bagi setiap orang yang mengkhawatirkan dirinya, dia shalat sesuai dengan keadaannya. Dia boleh melakukan setiap apa yang dia butuhkan untuk melakukannya, seperti ketika sedang melarikan diri atau selainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (Muttafaqun ‘alaih[3]).

[1] Nomor 1117.
[3] HR. Al-Bukhari (7288) dan Muslim (1337) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (7), Bab Shalat Jama’ah dan Keimaman

Shalat jama’ah pada shalat lima waktu adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki baik mukim maupun safar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ أَنْ تُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِحَزْمٍ مِنْ حَطَبٍ إِلَى أُنَاسٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنْهَا فَأُحَرِّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Sungguh aku ingin agar shalat ditegakkan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi dengan membawa seikat kayu bakar kepada orang-orang yang meninggalkan shalat jama’ah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (Muttafaqun ‘alaih[1]).
Shalat jama’ah paling sedikit adalah imam dan makmum. Manakala lebih banyak orangnya maka lebih dicintai Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).
Beliau juga bersabda,
إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلَّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةً
“Jika kalian shalat di rumah kalian, kemudian kalian mendatangi masjid ada shalat jama’ah, maka shalatlah bersama mereka. Sesungguhnya shalat itu dihitung sebagai shalat nafilah (sunnah) untuk kalian.” (HR. Ahlus Sunan[3]).
Dari Abu Hurairah secara marfu’,
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلاَ تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ، وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian, dan janganlah kalian takbir sampai imam bertakbir. Jika imam ruku’, maka ruku’lah kalian, dan jangan kalian ruku’ sampai imam ruku’. Jika imam mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbana wa lakal hamdu. Dan jika imam sujud, maka sujudlah kalian, dan jangan kalian sujud sampai imam sujud. Jika imam shalat dengan berdiri, maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika imam shalat dengan duduk, shalatlah kalian semua dengan duduk.” (HR. Abu Dawud dan asal hadits ini ada di Shahihain[4]).
Beliau bersabda,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدُ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Yang mengimami shalat kaum muslimin adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur`an. Jika mereka sama di dalam hafalan, maka yang paling berilmu tentang sunnah. Jika mereka sama dalam ilmu tentang sunnah, maka yang paling dahulu hijrah. Jika mereka sama di dalam hijrah, maka yang paling tua. Dan janganlah sekali-kali seseorang mengimami orang lain di daerah orang tersebut dan jangan pula dia duduk di rumahnya di atas tempat duduk khususnya kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim[5]).
Sepantasnya imam berada di depan dan para makmum berbaris rapat dan menyempurnakan shaf awal terlebih dahulu.
Barangsiapa shalat dalam keadaan sendirian di belakang shaf tanpa ada udzur, maka dia mengulangi shalatnya. Ibnu ‘Abbas berkata,
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ
“Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Akupun berdiri di sebelah kiri beliau, namun beliau menarik kepalaku dari belakang, lalu beliau menjadikan aku berada di sebelah kanan beliau.” (Muttafaqun ‘alaih[6]).
Beliau bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah kalian menuju shalat, dan kalian wajib tenang dan tidak tergesa-gesa. Janganlah kalian terburu-buru. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah kalian. Dan apa yang kalian luput, maka sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih[7]). Dan di dalam riwayat At-Tirmidzi[8],
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَالإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ
“Jika salah seorang kalian mendatangi shalat ketika imam sudah memulai shalatnya, maka kerjakanlah seperti yang sedang imam kerjakan.”

[1] HR. Al-Bukhari (644) dan Muslim (651) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[2] HR. Al-Bukhari (645) dan Muslim (650) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
[3] HR. Abu Dawud (575), At-Tirmidzi (219), dan An-Nasai (2/112-113) dari hadits Yazid ibnul Aswad radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”, Ibnus Sakan dan Al-’Allamah Al-Albani di Shahih Sunan Abu Dawud menshahihkannya.
[4] HR. Abu Dawud (603) secara sempurna, Al-Bukhari meriwayatkannya secara ringkas (722), dan Muslim (414).
[5] Nomor 673 dari hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
[7] HR. Al-Bukhari (636) dan Muslim (602) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[8] Nomor 590 dari hadits ‘Ali dan Mu’adz radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi dan Al-Hafizh mendha’ifkannya. Lihatlah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1188) karya Al-Albani.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (6), Bab Shalat Tathawwu’

Yang paling ditekankan adalah shalat gerhana (kusuf) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya dan memerintahkannya. Shalat ini dikerjakan dengan tata cara di dalam hadits ‘Aisyah,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلاَةِ الْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan di dalam shalat kusuf, beliau shalat 2 raka’at dengan 4 ruku’ dan 4 sujud.” (Muttafaqun ‘alaih[1]).
Lalu shalat witir adalah shalat sunnah yang ditekankan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakannya baik pada waktu mukim atau safar. Beliau menganjurkan manusia untuk mengerjakannya[2].
Shalat witir paling sedikit satu raka’at, paling banyak sebelas raka’at. Waktunya semenjak shalat ‘isya sampai terbit fajar. Lebih utama untuk menjadikannya sebagai shalat yang terakhir, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat kalian pada malam hari.” (Muttafaqun ‘alaih[3]). Beliau bersabda,
مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang khawatir tidak bisa shalat di akhir malam, hendaknya shalat witir pada awal malam. Barangsiapa yang ingin shalat di akhir malam, hendaknya shalat witir pada akhir malam. Sesungguhnya shalat pada akhir malam disaksikan, dan itu lebih utama.” (HR. Muslim[4]).
Kemudian shalat minta hujan (istisqa`) adalah sunnah jika manusia membutuhkan karena tidak adanya air. Shalat ini dikerjakan seperti shalat ‘id di lapangan. Manusia keluar menuju lapangan dengan khusyu’, merendahkan diri, dan menghinakan diri. Lalu shalat 2 raka’at, kemudian berkhuthbah dengan 1 khuthbah, di dalam khuthbah itu diperbanyak istighfar dan membaca ayat-ayat yang memerintahkan istighfar, merengek dalam berdo’a, dan jangan merasa do’anya lambat dikabulkan.
Sebelum keluar ke lapangan, hendaknya: mengerjakan sebab-sebab yang dapat menolak kejelekan dan mendatangkan rahmat, seperti istighfar, taubat, berhenti dari segala kezhaliman, berbuat baik terhadap sesama makhluk, dan sebab-sebab lain yang Allah menjadikannya mendatangkan rahmat dan menolak kemurkaan. Wallahu a’lam.
Waktu-waktu yang terlarang mengerjakan shalat sunnah mutlak: semenjak setelah fajar hingga matahari naik setinggi tombak, semenjak setelah shalat ‘ashr sampai matahari tenggelam, dan semenjak matahari tepat di tengah langit sampai tergelincir.

[1] HR. Al-Bukhari (1065) dan Muslim (901).
[2] Silakan melihat Nailul Authar (2/206) dan setelahnya.
[3] HR. Al-Bukhari (998) dan Muslim (751) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
[4] Nomor 755 dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (5), Bab Pembatal Shalat dan Hal yang Dibenci dalam Shalat

Shalat bisa batal karena:
  • meninggalkan rukun atau syarat dalam keadaan dia mampu baik karena sengaja, lupa, atau tidak tahu,
  • menginggalkan kewajiban secara sengaja,
  • berbicara dengan sengaja,
  • tertawa keras,
  • banyak bergerak yang terus-menerus tanpa kebutuhan.
Hal itu oleh karena, pada pembatal-pembatal yang awal seseorang meninggalkan perkara-perkara yang suatu ibadah tidak bisa sempurna kecuali dengannya. Adapun pada pembatal-pembatal yang akhir, seseorang melakukan perkara-perkara yang dia dilarang melakukannya ketika shalat.
Hal-hal yang dibenci:

  • menoleh ketika shalat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai menoleh ketika shalat. Beliau menjawab,
    هَذَا إِخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
    “Itu adalah pencurian yang setan mencurinya dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari[1]).
  • melakukan hal yang sia-sia,
  • meletakkan tangan di pinggang,
  • menjalinkan jari-jemarinya,
  • menekuk ruas jari-jari sehingga berbunyi,
  • duduk ketika shalat dengan jongkok seperti jongkoknya anjing,
  • menghadap pada sesuatu yang dapat melalaikannya,
  • atau dia masuk shalat dalam keadaan hatinya tersibukkan oleh buang air kecil atau besar atau makanan yang sudah dihidangkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ
    “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan dan tidak ada shalat dalam keadaan dia menahan dari buang air kecil atau besar.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menghamparkan hastanya (lengan bawah) ketika sujud.[3]

[1] Nomor 751 dari hadits sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
[2] HR. Muslim (560) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Al-Bukhari tidak meriwayatkan hadits ini.
[3] HR. Al-Bukhari (532) dan Muslim (493) dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu.