Manhajus Salikin - Kitab Shalat (7), Bab Shalat Jama’ah dan Keimaman

Shalat jama’ah pada shalat lima waktu adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki baik mukim maupun safar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ أَنْ تُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِحَزْمٍ مِنْ حَطَبٍ إِلَى أُنَاسٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنْهَا فَأُحَرِّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Sungguh aku ingin agar shalat ditegakkan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi dengan membawa seikat kayu bakar kepada orang-orang yang meninggalkan shalat jama’ah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (Muttafaqun ‘alaih[1]).
Shalat jama’ah paling sedikit adalah imam dan makmum. Manakala lebih banyak orangnya maka lebih dicintai Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).
Beliau juga bersabda,
إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلَّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةً
“Jika kalian shalat di rumah kalian, kemudian kalian mendatangi masjid ada shalat jama’ah, maka shalatlah bersama mereka. Sesungguhnya shalat itu dihitung sebagai shalat nafilah (sunnah) untuk kalian.” (HR. Ahlus Sunan[3]).
Dari Abu Hurairah secara marfu’,
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلاَ تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ، وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian, dan janganlah kalian takbir sampai imam bertakbir. Jika imam ruku’, maka ruku’lah kalian, dan jangan kalian ruku’ sampai imam ruku’. Jika imam mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbana wa lakal hamdu. Dan jika imam sujud, maka sujudlah kalian, dan jangan kalian sujud sampai imam sujud. Jika imam shalat dengan berdiri, maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika imam shalat dengan duduk, shalatlah kalian semua dengan duduk.” (HR. Abu Dawud dan asal hadits ini ada di Shahihain[4]).
Beliau bersabda,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدُ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Yang mengimami shalat kaum muslimin adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur`an. Jika mereka sama di dalam hafalan, maka yang paling berilmu tentang sunnah. Jika mereka sama dalam ilmu tentang sunnah, maka yang paling dahulu hijrah. Jika mereka sama di dalam hijrah, maka yang paling tua. Dan janganlah sekali-kali seseorang mengimami orang lain di daerah orang tersebut dan jangan pula dia duduk di rumahnya di atas tempat duduk khususnya kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim[5]).
Sepantasnya imam berada di depan dan para makmum berbaris rapat dan menyempurnakan shaf awal terlebih dahulu.
Barangsiapa shalat dalam keadaan sendirian di belakang shaf tanpa ada udzur, maka dia mengulangi shalatnya. Ibnu ‘Abbas berkata,
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ
“Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Akupun berdiri di sebelah kiri beliau, namun beliau menarik kepalaku dari belakang, lalu beliau menjadikan aku berada di sebelah kanan beliau.” (Muttafaqun ‘alaih[6]).
Beliau bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah kalian menuju shalat, dan kalian wajib tenang dan tidak tergesa-gesa. Janganlah kalian terburu-buru. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah kalian. Dan apa yang kalian luput, maka sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih[7]). Dan di dalam riwayat At-Tirmidzi[8],
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَالإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ
“Jika salah seorang kalian mendatangi shalat ketika imam sudah memulai shalatnya, maka kerjakanlah seperti yang sedang imam kerjakan.”

[1] HR. Al-Bukhari (644) dan Muslim (651) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[2] HR. Al-Bukhari (645) dan Muslim (650) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
[3] HR. Abu Dawud (575), At-Tirmidzi (219), dan An-Nasai (2/112-113) dari hadits Yazid ibnul Aswad radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”, Ibnus Sakan dan Al-’Allamah Al-Albani di Shahih Sunan Abu Dawud menshahihkannya.
[4] HR. Abu Dawud (603) secara sempurna, Al-Bukhari meriwayatkannya secara ringkas (722), dan Muslim (414).
[5] Nomor 673 dari hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
[7] HR. Al-Bukhari (636) dan Muslim (602) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[8] Nomor 590 dari hadits ‘Ali dan Mu’adz radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi dan Al-Hafizh mendha’ifkannya. Lihatlah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1188) karya Al-Albani.