Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 1687. 'Abdullah bin Umu Maktum

١٦٨٧ – [عَبۡدُ اللهِ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ الۡعَامِرِيُّ]:
1687. ‘Abdullah bin Umu Maktum Al-‘Amiri


عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ الۡأَعۡمَى الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ، لَمۡ يَخۡتَلِفُوا أَنَّهُ مِنۡ بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ، وَاسۡمُ أُمِّهِ أُمُّ مَكۡتُومٍ عَاتِكَةُ بِنۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَنَكَثَةَ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ مَخۡزُومٍ. وَاخۡتَلَفُوا فِي اسۡمِ أَبِيهِ، فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ. وَقَالَ آخَرُونَ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَصَمِّ بۡنِ رِوَاحَةَ بۡنِ صَخۡرِ بۡنِ عَبۡدِ بۡنِ مُعَيۡصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ، كَانَ قَدِيمَ الۡإِسۡلَامِ بِمَكَّةَ وَهَاجَرَ إِلَى الۡمَدِينَةِ.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa ia berasal dari Bani ‘Amir bin Lu`ayy dan nama ibunya adalah Umu Maktum ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai nama ayahnya. Sebagian mengatakan bahwa namanya adalah ‘Abdullah bin Za`idah bin Al-Ashamm, sementara yang lain mengatakan: Ia adalah ‘Abdullah bin Qais bin Malik bin Al-Ashamm bin Rawahah bin Shakhr bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Lu`ayy Al-Qurasyi Al-‘Amiri. Ia termasuk yang awal-awal masuk Islam di Makkah dan berhijrah ke Madinah.

وَاخۡتُلِفَ فِي وَقۡتِ هِجۡرَتِهِ إِلَيۡهَا، فَقِيلَ: كَانَ مِمَّنۡ قَدِمَ الۡمَدِينَةَ مَعَ مُصۡعَبِ بۡنِ عُمَيۡرٍ قَبۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. وَقَالَ الۡوَاقِدِيُّ: قَدِمَهَا بَعۡدَ بَدۡرٍ بِيَسِيرٍ، فَنَزَلَ دَارَ الۡقُرَّاءِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَمَّا قَدِمَ الۡمَدِينَةَ يَسۡتَخۡلِفُهُ عَلَيۡهَا فِي أَكۡثَرِ غَزَوَاتِهِ. وَسَنَذۡكُرُ خَبَرَهُ فِي بَابِ عَمۡرٍو، فَإِنَّ أَكۡثَرَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ يَقُولُ اسۡمُ ابۡنِ أُمِّ مَكۡتُومٍ عَمۡرُو بۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ، وَقَالَ مُصۡعَبُ الزُّبَيۡرِيُّ: أَبُوهُ قَيۡسُ بۡنُ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ، وَلَمۡ يَقُلۡ فِي اسۡمِهِ عَبۡدُ اللهِ وَلَا عَمۡرٌو. وَقَالَ الزُّبَيۡرِيُّ: هُوَ عَمۡرُو بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ وَهُوَ قَوۡلُ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ. وَقَالَ سَلَمَةُ بۡنُ فَضۡلٍ، عَنۡ ابۡنِ إِسۡحَاقَ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شُرَيۡحٍ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ بۡنِ هَرِمٍ بۡنِ رِوَاحَةَ بۡنِ حُجۡرِ بۡنِ عَبۡدِ بۡنِ مُعَيۡصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ. وَهَكَذَا قَالَ عَلِيُّ بۡنُ الۡمَدِينِيِّ وَالۡحُسَيۡنُ بۡنُ وَاقِدٍ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شُرَيۡحٍ. وَقَالَ قَتَادَةُ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَائِدَةَ وَأَظُنُّهُ نَسَبَهُ إِلَى جَدِّهِ. وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ سَعۡدٍ كَاتِبُ الۡوَاقِدِيِّ: أَمَّا أَهۡلُ الۡمَدِينَةِ فَيَقُولُونَ اسۡمُهُ عَبۡدُ اللهِ، وَأَهۡلُ الۡعِرَاقِ يَقُولُونَ اسۡمُهُ عَمۡرٌو. قَالَ: ثُمَّ أَجۡمَعُوا عَلَى أَنَّهُ ابۡنُ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu hijrahnya ke Madinah. Ada yang berpendapat bahwa ia termasuk di antara mereka yang datang ke Madinah bersama Mush’ab bin ‘Umair sebelum Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Al-Waqidi berkata bahwa ia datang tak lama setelah perang Badr dan tinggal di Dar Al-Qurra`.

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, beliau menunjuknya sebagai wakilnya di sana dalam sebagian besar perang yang beliau pimpin. Kita akan menyebutkan kisahnya dalam bab ‘Amr, karena sebagian besar ulama hadis mengatakan bahwa nama Ibnu Umu Maktum adalah ‘Amr bin Umu Maktum. Mush’ab Az-Zubairi berkata: Ayahnya adalah Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm, dan ia tidak menyebutkan namanya ‘Abdullah atau ‘Amr. Az-Zubairi berkata: Ia adalah ‘Amr bin Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm, dan ini adalah pendapat Musa bin ‘Uqbah. Salamah bin Fadhl dari Ibnu Ishaq berkata: Dia adalah ‘Abdullah bin Syuraih bin Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm bin Haram bin Rawahah bin Hajar bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Lu`ayy. Demikian pula yang dikatakan oleh ‘Ali bin Al-Madini dan Al-Husain bin Waqid: Ibnu Umu Maktum adalah ‘Abdullah bin Syuraih. Qatadah berkata: Dia adalah ‘Abdullah bin Za`idah, dan aku mengira dia menasabkan diri kepada kakeknya. Muhammad bin Sa’d, juru tulis al-Waqidi, berkata: Penduduk Madinah menyebut namanya ‘Abdullah, sedangkan penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Beliau berkata: Kemudian mereka semua sepakat bahwa dia adalah putra Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm.

قَالَ أَبُو عُمَرَ رَحِمَهُ اللهُ: لَمۡ يَجۡمَعُوا لِمَا ذَكَرۡنَا عَنۡ ابۡنِ إِسۡحَاقَ وَعَلِيِّ بۡنِ الۡمَدِينِيِّ - وَحُسَيۡنِ بۡنِ وَاقِدٍ: وَكَانَ يُؤَذِّنُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ مَعَ بِلَالٍ، وَشَهِدَ الۡقَادِسِيَّةَ فِيمَا يَقُولُونَ، وَبَاقِي خَبَرِهِ يَأۡتِي فِي بَابِ عَمۡرٍو.

Abu ‘Umar berkata: Mereka tidak bersepakat (tentang namanya), seperti yang telah kami sebutkan dari Ibnu Ishaq, ‘Ali bin Al-Madini, dan Husain bin Waqid. ‘Abdullah bin Umu Maktum menjadi muazin bersama Bilal untuk Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia juga ikut serta dalam pertempuran Qadisiyah, menurut pendapat mereka. Sisa kabarnya akan disebutkan dalam bab tentang ‘Amr.

Al-Isti'ab - 2026. 'Auf bin Malik

٢٠٢٦ - [عوف بن مالك الأشجعي]:
2026. ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i


عَوۡفُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ أَبِي عَوۡفٍ الۡأَشۡجَعِيُّ. يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ. وَيُقَالُ أَبُو حَمَّادٍ. وَيُقَالُ أَبُو عُمَرَ. وَأَوَّلُ مَشَاهِدِهِ خَيۡبَر، وَكَانَتۡ مَعَهُ رَايَةُ أَشۡجَعَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ.

‘Auf bin Malik bin Abu ‘Auf Al-Asyja’i. Nama kunyah beliau adalah Abu ‘Abdurrahman. Ada yang berpendapat Abu Hammad dan ada yang berpendapat Abu ‘Umar. Pertempuran pertamanya adalah perang Khaibar. Dahulu beliau membawa panji kabilah Asyja’ pada hari penaklukan Makkah.

سَكَنَ الشَّامَ وَعُمِّرَ، وَمَاتَ فِي خِلَافَةِ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ مَرۡوَانَ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ.

Beliau tinggal dan hidup lama di Syam. Beliau wafat pada masa kekhalifahan ‘Abdul Malik bin Marwan pada tahun 73 H.

رَوَى عَنۡهُ جَمَاعَةٌ مِنۡ التَّابِعِينَ، مِنۡهُمۡ يَزِيدُ بۡنُ الۡأَصَمِّ، وَشَدَّادُ بۡنُ عَمَّارٍ، وَجُبَيۡرُ بۡنُ نُفَيۡرٍ وَغَيۡرُهُمۡ. وَرَوَى عَنۡهُ مِنۡ الصَّحَابَةِ أَبُو هُرَيۡرَةَ.

Sekelompok tabiin meriwayatkan hadis dari beliau. Di antara mereka adalah Yazid bin Al-Ashamm, Syaddad bin ‘Ammar, Jubair bin Nufair, dan lainnya. Yang meriwayatkan dari beliau dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7545

٧٥٤٥ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَسَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ، وَعَلۡقَمَةُ بۡنُ وَقَّاصٍ، وَعُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ حِينَ قَالَ لَهَا أَهۡلُ الۡإِفۡكِ مَا قَالُوا، وَكُلٌّ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنَ الۡحَدِيثِ، قَالَتۡ: فَاضۡطَجَعۡتُ عَلَى فِرَاشِي، وَأَنَا حِينَئِذٍ أَعۡلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ، وَأَنَّ اللهَ يُبَرِّئُنِي، وَلَكِنۡ وَاللهِ مَا كُنۡتُ أَظُنُّ أَنَّ اللهَ يُنۡزِلُ فِي شَأۡنِي وَحۡيًا يُتۡلَى، وَلَشَأۡنِي فِي نَفۡسِي كَانَ أَحۡقَرَ مِنۡ أَنۡ يَتَكَلَّمَ اللهُ فِيَّ بِأَمۡرٍ يُتۡلَى، وَأَنۡزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالۡإِفۡكِ﴾ [النور: ١١] الۡعَشۡرَ الۡآيَاتِ كُلَّهَا. [طرفه في: ٢٥٩٣].

7545. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab: ‘Urwah bin Az-Zubair, Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqash, dan ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah mengabarkan kepadaku dari hadis ‘Aisyah ketika para pembuat berita bohong mengatakan ucapan mereka. Masing-masing menceritakan kepadaku potongan hadis tersebut. ‘Aisyah berkata:

Aku berbaring di atas pembaringanku dalam keadaan waktu itu aku mengetahui bahwa diriku bersih dari tuduhan tersebut dan bahwa Allah akan memulihkan nama baikku. Akan tetapi, demi Allah, tadinya aku tidak mengira bahwa Allah akan menurunkan wahyu perihal keadaanku yang akan dibaca, dan dalam pandanganku, sungguh keadaanku saat itu terlalu remeh untuk dibicarakan oleh Allah dalam suatu wahyu yang akan dibaca. Allah—‘azza wa jalla—menurunkan: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong ...” (QS An-Nur: 11) semuanya berjumlah sepuluh ayat.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7530, 7531, dan 7532

٤٦ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغۡ مَا أُنۡزِلَ إِلَيۡكَ مِنۡ رَبِّكَ وَإِنۡ لَمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَاتِهِ﴾ [المائدة: ٦٧]
46. Bab Firman Allah Taala: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS Al-Maidah: 67)


وَقَالَ الزُّهۡرِيُّ: مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡبَلَاغُ، وَعَلَيۡنَا التَّسۡلِيمُ.

Az-Zuhri berkata: Risalah agama Islam hanya dari Allah—‘azza wa jalla—, kewajiban Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hanyalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah tunduk.

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿لِيَعۡلَمَ أَنۡ قَدۡ أَبۡلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمۡ﴾ [الجن: ٢٨]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿أُبَلِّغُكُمۡ رِسَالَاتِ رَبِّي﴾ [الأعراف: ٦٢].

Allah berfirman taala, “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rab mereka.” (QS Al-Jinn: 28).

Allah taala berfirman, “Aku sampaikan kepadamu amanat risalah Rabku.” (QS Al-A’raf: 62).

وَقَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ، حِينَ تَخَلَّفَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: ﴿وَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُ﴾ [التوبة: ٩٤].

Ka’b bin Malik berkata ketika tidak menyertai Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Allah dan Rasul-Nya akan melihat amalan kalian.” (QS At-Taubah: 94).

وَقَالَتۡ عَائِشَةُ: إِذَا أَعۡجَبَكَ حُسۡنُ عَمَلِ امۡرِىءٍ فَقُلِ: ﴿اعۡمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُ وَالۡمُؤۡمِنُونَ﴾ [التوبة: ١٠٥] وَلَا يَسۡتَخِفَّنَّكَ أَحَدٌ.

‘Aisyah berkata: Ketika baiknya amalan seseorang menakjubkanmu, ucapkanlah: “Beramallah! Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin akan melihat amalan kalian.” (QS At-Taubah: 105), dan jangan sampai engkau terkecoh dengan (amalan) seseorang.

وَقَالَ مَعۡمَرٌ: ﴿ذٰلِكَ الۡكِتَابُ﴾ هٰذَا الۡقُرۡآنُ ﴿هُدًى لِلۡمُتَّقِينَ﴾ [البقرة: ٢] بَيَانٌ وَدِلَالَةٌ، كَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿ذَلِكُمۡ حُكۡمُ اللهِ﴾ [الممتحنة: ١٠]: هٰذَا حُكۡمُ اللهِ ﴿لَا رَيۡبَ﴾ [البقرة: ٢]: لَا شَكَّ. تِلۡكَ آيَاتُ الله: يَعۡنِي هٰذِهِ أَعۡلَامُ الۡقُرۡآنِ، وَمِثۡلُهُ: ﴿حَتَّى إِذَا كُنۡتُمۡ فِي الۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِمۡ﴾ [يونس: ٢٢]: يَعۡنِي بِكُمۡ،

Ma’mar berkata: “Itu adalah kitab” yaitu Al-Qur’an ini “petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Baqarah: 2), artinya: keterangan dan petunjuk, seperti firman Allah taala: “Itulah hukum Allah” (QS Al-Mumtahanah: 10) maksudnya: ini adalah hukum Allah. “Lā raiba” (QS Al-Baqarah: 2) artinya tidak ada keraguan. Itu adalah ayat-ayat Allah, yakni: ini adalah tanda-tanda Al-Qur'an. Dan yang semisal itu: “Sehingga apabila kalian berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa mereka” (QS Yunus: 22) yakni membawa kalian.

وَقَالَ أَنَسٌ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَالَهُ حَرَامًا إِلَى قَوۡمِهِ وَقَالَ: أَتُؤۡمِنُونِي أُبَلِّغُ رِسَالَةَ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ فَجَعَلَ يُحَدِّثُهُمۡ.

Anas berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengirim pamannya, yaitu Haram,   kepada kaumnya. Haram berkata: Apakah kalian mempercayaiku untuk menyampaikan amanat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—? Lalu Haram mulai berbicara kepada mereka.

٧٥٣٠ - حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ يَعۡقُوبَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ جَعۡفَرٍ الرَّقِّيُّ: حَدَّثَنَا الۡمُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ الثَّقَفِيُّ: حَدَّثَنَا بَكۡرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡمُزَنِيُّ، وَزِيَادُ بۡنُ جُبَيۡرِ بۡنِ حَيَّةَ، عَنۡ جُبَيۡرِ بۡنِ حَيَّةَ: قَالَ الۡمُغِيرَةُ: أَخۡبَرَنَا نَبِيُّنَا ﷺ، عَنۡ رِسَالَةِ رَبِّنَا: أَنَّهُ مَنۡ قُتِلَ مِنَّا صَارَ إِلَى الۡجَنَّةِ. [طرفه في: ٣١٥٩].

7530. Al-Fadhl bin Ya’qub telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Ja’far Ar-Raqqi menceritakan kepada kami: Al-Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Sa’id bin ‘Ubaidullah Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami: Bakr bin ‘Abdullah Al-Muzani dan Ziyad bin Jubair bin Hayyah menceritakan kepada kami dari Jubair bin Hayyah: Al-Mughirah berkata: Nabi kita—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan kepada kami dari risalah Rab kita bahwa barang siapa di antara kita yang terbunuh (dalam jihad), akan masuk janah.

٧٥٣١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: مَنۡ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ كَتَمَ شَيۡئًا. وَقَالَ مُحَمَّدٌ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الۡعَقَدِيُّ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: مَنۡ حَدَّثَكَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَتَمَ شَيۡئًا مِنَ الۡوَحۡيِ فَلَا تُصَدِّقۡهُ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغۡ مَا أُنۡزِلَ إِلَيۡكَ مِنۡ رَبِّكَ وَإِنۡ لَمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُ﴾. [طرفه في: ٣٢٣٤].

7531. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Isma’il, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau berkata: Barang siapa bercerita kepadamu bahwa Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyembunyikan sebagian (wahyu).

Muhammad berkata: Abu ‘Amir Al-‘Aqadi menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau berkata: Barang siapa bercerita kepadamu bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyembunyikan sebagian wahyu, jangan percayai dia. Sesungguhnya Allah taala berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabmu. Dan jika tidak kamu kerjakan, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”

٧٥٣٢ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُرَحۡبِيلَ قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الذَّنۡبِ أَكۡبَرُ عِنۡدَ اللهِ؟ قَالَ: (أَنۡ تَدۡعُوَ لِلهِ نِدًّا، وَهُوَ خَلَقَكَ). قَالَ: ثُمَّ أَيّ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَنۡ تَقۡتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنۡ يَطۡعَمَ مَعَكَ). قَالَ: ثُمَّ أَيّ؟ قَالَ: (أَنۡ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ). فَأَنۡزَلَ اللهُ تَصۡدِيقَهَا: ﴿وَالَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ النَّفۡسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَ وَمَنۡ يَفۡعَلۡ ذٰلِكَ﴾ [الفرقان: ٦٨] الۡآيَةَ. [طرفه في: ٤٤٧٧].

7532. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari ‘Amr bin Syurahbil. Beliau berkata: ‘Abdullah berkata:

Seorang pria bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”

Rasulullah menjawab, “Engkau mendakwakan Allah memiliki tandingan padahal Allah lah yang menciptakanmu.”

Kemudian pria itu bertanya, “Lalu apa?”

Rasulullah menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena dia makan bersamamu.”

Pria itu bertanya, “Kemudian apa?”

Rasulullah menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Lalu Allah menurunkan ayat yang membenarkannya, “Dan orang-orang yang tidak beribadah kepada sembahan lain bersama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu ..." (QS Al-Furqan: 68).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7525, 7526, dan 7527

٤٤ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَأَسِرُّوا قَوۡلَكُمۡ أَوِ اجۡهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الۡخَبِيرُ﴾ [الملك: ١٣-١٤]
44. Bab Firman Allah Taala: “Dan rahasiakanlah perkataan kalian atau tampakkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian tampakkan atau rahasiakan) padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS Al-Mulk: 13-14)


﴿يَتَخَافَتُونَ﴾ [القلم: ٢٣] [طه: ١٠٣]: يَتَسَارُّونَ.

Yatakhāfatūna” (QS Al-Qalam: 23 dan Taha: 103) artinya mereka saling berbisik-bisik.

٧٥٢٥ - حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ زُرَارَةَ، عَنۡ هُشَيۡمٍ: أَخۡبَرَنَا أَبُو بِشۡرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ [الإسراء: ١١٠] قَالَ: نَزَلَتۡ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ مُخۡتَفٍ بِمَكَّةَ، فَكَانَ إِذَا صَلَّى بِأَصۡحَابِهِ رَفَعَ صَوۡتَهُ بِالۡقُرۡآنِ، فَإِذَا سَمِعَهُ الۡمُشۡرِكُونَ، سَبُّوا الۡقُرۡآنَ وَمَنۡ أَنۡزَلَهُ وَمَنۡ جَاءَ بِهِ، فَقَالَ اللهُ لِنَبِيِّهِ ﷺ: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ﴾: أَيۡ بِقِرَاءَتِكَ، فَيَسۡمَعَ الۡمُشۡرِكُونَ فَيَسُبُّوا الۡقُرۡآنَ ﴿وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ عَنۡ أَصۡحَابِكَ فَلَا تُسۡمِعُهُمۡ ﴿وَابۡتَغِ بَيۡنَ ذٰلِكَ سَبِيلًا﴾. [طرفه في: ٤٧٢٢].

7525. ‘Amr bin Zurarah telah menceritakan kepadaku dari Husyaim: Abu Bisyr mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—tentang firman Allah taala: “Janganlah engkau mengeraskan suara dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya!” (QS Al-Isra: 110).

Beliau berkata: Ayat tersebut turun ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih (berdakwah) sembunyi-sembunyi di Makkah. Dahulu apabila beliau salat mengimami para sahabatnya, beliau meninggikan suara Al-Qur’an. Lalu apabila orang-orang musyrik mendengarnya, mereka mencela Al-Qur’an, yang menurunkannya, dan yang membawanya. Lalu Allah berkata kepada Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Jangan engkau menjahar dalam salatmu,” yaitu dalam qiraahmu yang berakibat orang-orang musyrik akan mendengarnya lalu mereka mencela Al-Qur’an. “Jangan pula terlalu lirih” dari (pendengaran) para sahabatmu yang berakibat engkau tidak memperdengarkannya kepada mereka. “Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu!”

٧٥٢٦ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: نَزَلَتۡ هٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ فِي الدُّعَاءِ. [طرفه في: ٤٧٢٣].

7526. ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan: Ayat: “Janganlah engkau mengeraskan suara dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya!” turun dalam masalah doa.

٧٥٢٧ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَيۡسَ مِنَّا مَنۡ لَمۡ يَتَغَنَّ بِالۡقُرۡآنِ). وَزَادَ غَيۡرُهُ: (يَجۡهَرُ بِهِ).

7527. Ishaq telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bukanlah termasuk pengikut sunah kami, orang yang tidak memperindah suara Al-Qur’annya.”

Selain Abu Hurairah menambahkan, “(Makna yataganna bil-qur’ān adalah) mengeraskan suaranya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7522 dan 7523

٤٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٍ﴾ [الرحمن: ٢٩]
42. Bab Firman Allah Taala, “Setiap waktu Dia ada kegiatan” (QS Ar-Rahman: 29)


﴿وَمَا يَأۡتِيهِمۡ مِنۡ ذِكۡرٍ مِنۡ رَبِّهِمۡ مُحۡدَثٍ﴾ [الأنبياء: ٢]، وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَعَلَّ اللهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذٰلِكَ أَمۡرًا﴾ [الطلاق: ١].

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Rab mereka,” (QS Al-Anbiya’: 2). Dan firman Allah taala, “Barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (QS At-Talaq: 1).

وَأَنَّ حَدَثَهُ لَا يُشۡبِهُ حَدَثَ الۡمَخۡلُوقِينَ؛ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَيۡءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الۡبَصِيرُ﴾ [الشورى: ١١]. وَقَالَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِنَّ اللهَ يُحۡدِثُ مِنۡ أَمۡرِهِ مَا يَشَاءُ، وَإِنَّ مِمَّا أَحۡدَثَ: أَنۡ لَا تَكَلَّمُوا فِي الصَّلَاةِ).

Pengadaan hal baru yang Allah lakukan tidak seperti yang dilakukan oleh para makhluk, berdasar firman Allah taala, “Tidak ada yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura: 11).

Ibnu Mas’ud berkata, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Sesungguhnya Allah menetapkan hal yang baru dari aturan-Nya sesuai kehendak-Nya dan di antara aturan baru yang Allah tetapkan: jangan kalian berbicara ketika salat.”

٧٥٢٢ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا حَاتِمُ بۡنُ وَرۡدَانَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَيۡفَ تَسۡأَلُونَ أَهۡلَ الۡكِتَابِ عَنۡ كُتُبِهِمۡ، وَعِنۡدَكُمۡ كِتَابُ اللهِ، أَقۡرَبُ الۡكُتُبِ عَهۡدًا بِاللهِ، تَقۡرَؤُونَهُ مَحۡضًا لَمۡ يُشَبۡ؟. [طرفه في: ٢٦٨٥].

7522. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Hatim bin Wardan menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Bagaimana bisa kalian bertanya kepada ahli kitab tentang kitab-kitab mereka, padahal kalian memiliki Al-Qur’an, kitab suci paling baru (diturunkan) dari Allah, yang kalian membacanya dalam keadaan asli belum dicampuri?!

٧٥٢٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ قَالَ: يَا مَعۡشَرَ الۡمُسۡلِمِينَ، كَيۡفَ تَسۡأَلُونَ أَهۡلَ الۡكِتَابِ عَنۡ شَيۡءٍ، وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أَنۡزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّكُمۡ ﷺ أَحۡدَثُ الۡأَخۡبَارِ بِاللهِ، مَحۡضًا لَمۡ يُشَبۡ، وَقَدۡ حَدَّثَكُمُ اللهُ: أَنَّ أَهۡلَ الۡكِتَابِ قَدۡ بَدَّلُوا مِنۡ كُتُبِ اللهِ وَغَيَّرُوا، فَكَتَبُوا بِأَيۡدِيهِمۡ، قَالُوا: هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ لِيَشۡتَرُوا بِذٰلِكَ ثَمَنًا قَلِيلًا، أَوَ لَا يَنۡهَاكُمۡ مَا جَاءَكُمۡ مِنَ الۡعِلۡمِ عَنۡ مَسۡأَلَتِهِمۡ؟ فَلَا وَاللهِ، مَا رَأَيۡنَا رَجُلًا مِنۡهُمۡ يَسۡأَلُكُمۡ عَنِ الَّذِي أُنۡزِلَ عَلَيۡكُمۡ. [طرفه في: ٢٦٨٥].

7523. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah mengabarkan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata:

Wahai sekalian kaum muslimin, bagaimana bisa kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu, padahal kitab kalian yang Allah turunkan kepada Nabi kalian—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merupakan berita-berita yang paling baru dari Allah, yang masih asli belum dicampuri?! Padahal Allah telah menceritakan kepada kalian bahwa ahli kitab telah menukar-nukar dan mengubah-ubah kitab-kitab Allah, lalu mereka tulis dengan tangan-tangan mereka sendiri. Mereka berkata: Ini dari sisi Allah; (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Bukankah ilmu yang telah datang kepada kalian melarang untuk bertanya kepada mereka? Demi Allah, kami tidak melihat ada seorang dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kalian.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7521

٤١ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَمَا كُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَنۡ يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَا أَبۡصَارُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ وَلَكِنۡ ظَنَنۡتُمۡ أَنَّ اللهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعۡمَلُونَ﴾ [فصلت: ٢٢]
41. Bab Firman Allah Taala, “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian kepada kalian bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan” (QS Fussilat: 22)


٧٥٢١ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا مَنۡصُورٌ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ أَبِي مَعۡمَرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: اجۡتَمَعَ عِنۡدَ الۡبَيۡتِ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ، أَوۡ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ، كَثِيرَةٌ شَحۡمُ بُطُونِهِمۡ، قَلِيلَةٌ فِقۡهُ قُلُوبِهِمۡ، فَقَالَ أَحَدُهُمۡ: أَتَرَوۡنَ أَنَّ اللهَ يَسۡمَعُ مَا نَقُولُ؟ قَالَ الۡآخَرُ: يَسۡمَعُ إِنۡ جَهَرۡنَا، وَلَا يَسۡمَعُ إِنۡ أَخۡفَيۡنَا، وَقَالَ الۡآخَرُ: إِنۡ كَانَ يَسۡمَعُ إِذَا جَهَرۡنَا فَإِنَّهُ يَسۡمَعُ إِذَا أَخۡفَيۡنَا، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا كُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَنۡ يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَا أَبۡصَارُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ﴾ الۡآيَةَ‏.‏ [طرفه في: ٤٨١٦].

7521. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Manshur menceritakan kepada kami dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan:

Dua orang Tsaqif dan satu orang Quraisy, atau dua orang Quraisy dan satu orang Tsaqif, bertemu di dekat baitullah. Perut mereka banyak lemaknya namun hati mereka sedikit ilmunya. Salah seorang dari mereka berkata, “Apa kalian berpandangan bahwa Allah mendengar ucapan kita?”

Seorang yang lain menjawab, “Dia mendengar apabila kita bersuara keras dan Dia tidak mendengar apabila kita bersuara lirih.”

Yang lain lagi berkata, “Jika Dia mendengar apabila kita bersuara keras, maka Dia pasti mendengar apabila kita bersuara lirih.”

Lalu Allah taala menurunkan ayat “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian …”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7519

٧٥١٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سِنَانٍ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحٌ: حَدَّثَنَا هِلَالٌ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَوۡمًا يُحَدِّثُ، وَعِنۡدَهُ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَادِيَةِ: (أَنَّ رَجُلًا مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ اسۡتَأۡذَنَ رَبَّهُ فِي الزَّرۡعِ، فَقَالَ لَهُ: أَوَ لَسۡتَ فِيمَا شِئۡتَ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنِّي أُحِبُّ أَنۡ أَزۡرَعَ، فَأَسۡرَعَ وَبَذَرَ، فَتَبَادَرَ الطَّرۡفَ نَبَاتُهُ وَاسۡتِوَاؤُهُ وَاسۡتِحۡصَادُهُ وَتَكۡوِيرُهُ أَمۡثَالَ الۡجِبَالِ، فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى: دُونَكَ يَا ابۡنَ آدَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُشۡبِعُكَ شَيۡءٌ). فَقَالَ الۡأَعۡرَابِيُّ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَا تَجِدُ هٰذَا إِلَّا قُرَشِيًّا أَوۡ أَنۡصَارِيًّا، فَإِنَّهُمۡ أَصۡحَابُ زَرۡعٍ، فَأَمَّا نَحۡنُ فَلَسۡنَا بِأَصۡحَابِ زَرۡعٍ، فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ. [طرفه في: ٢٣٤٨].

7519. Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami: Fulaih menceritakan kepada kami: Hilal menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Hurairah:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—suatu hari pernah bercerita dalam keadaan di dekatnya ada seorang pria badui:

Sesungguhnya ada seseorang penghuni janah meminta izin kepada Rabnya untuk bercocok tanam. Allah berkata kepadanya, “Bukankah engkau sudah mendapatkan semua yang engkau inginkan?”

Orang itu berkata, “Benar, akan tetapi aku suka bercocok tanam.”

Orang itu bergegas menabur benih. Dalam sekejap mata, benih itu tumbuh, matang, dipanen, dan dikumpulkan bagai gunung-gunung. Lalu Allah taala berkata, “Ambillah wahai anak Adam karena tidak ada yang dapat memuaskanmu.”

Si badui Arab berkata, “Wahai Rasulullah, engkau tidak akan menemukan orang seperti ini kecuali orang Quraisy atau Ansar karena mereka adalah ahli bercocok tanam. Adapun kami, kami bukan ahli bercocok tanam.”

Rasulullah tertawa.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7517

٧٥١٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ، عَنۡ شَرِيكِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ، لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنۡ مَسۡجِدِ الۡكَعۡبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبۡلَ أَنۡ يُوحَى إِلَيۡهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّلُهُمۡ: أَيُّهُمۡ هُوَ؟ فَقَالَ أَوۡسَطُهُمۡ: هُوَ خَيۡرُهُمۡ، فَقَالَ آخِرُهُمۡ: خُذُوا خَيۡرَهُمۡ، فَكَانَتۡ تِلۡكَ اللَّيۡلَةَ، فَلَمۡ يَرَهُمۡ حَتَّى أَتَوۡهُ لَيۡلَةً أُخۡرَى، فِيمَا يَرَى قَلۡبُهُ، وَتَنَامُ عَيۡنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلۡبُهُ، وَكَذٰلِكَ الۡأَنۡبِيَاءُ تَنَامُ أَعۡيُنُهُمۡ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمۡ، فَلَمۡ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احۡتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنۡدَ بِئۡرِ زَمۡزَمَ،

7517. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepadaku dari Syarik bin ‘Abdullah. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu Malik berkata di malam Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diperjalankan dari masjid Ka’bah:

Tiga malaikat mendatangi beliau sebelum wahyu diturunkan kepada beliau ketika beliau tidur di Masjidilharam. Malaikat pertama bertanya, “Yang mana dia?”

Malaikat yang di tengah menjawab, “Dia adalah yang paling baik dari mereka.”

Malaikat yang paling akhir berkata, “Ambillah yang paling baik dari mereka!”

Demikian kejadian malam itu. (Setelah itu) beliau tidak melihat mereka sampai mereka mendatanginya di malam yang lain di saat kalbu beliau melihat. Mata beliau tidur namun kalbu beliau tidak tidur. Demikian pula semua nabi. Mata-mata mereka tidur namun kalbu mereka tidak tidur. Mereka tidak berbicara kepada beliau hingga mereka mengangkatnya lalu meletakkannya di dekat sumur Zamzam.

فَتَوَلَّاهُ مِنۡهُمۡ جِبۡرِيلُ، فَشَقَّ جِبۡرِيلُ مَا بَيۡنَ نَحۡرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ، حَتَّى فَرَغَ مِنۡ صَدۡرِهِ وَجَوۡفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنۡ مَاءِ زَمۡزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنۡقَى جَوۡفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ فِيهِ تَوۡرٌ مِنۡ ذَهَبٍ، مَحۡشُوًّا إِيمَانًا وَحِكۡمَةً، فَحَشَا بِهِ صَدۡرَهُ وَلَغَادِيدَهُ، يَعۡنِي عُرُوقَ حَلۡقِهِ، ثُمَّ أَطۡبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنۡيَا، فَضَرَبَ بَابًا مِنۡ أَبۡوَابِهَا، فَنَادَاهُ أَهۡلُ السَّمَاءِ: مَنۡ هٰذَا؟ فَقَالَ: جِبۡرِيلُ، قَالُوا: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مَعِي مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالُوا: فَمَرۡحَبًا بِهِ وَأَهۡلًا.

Jibril mengambil alihnya dari mereka. Jibril menyayat bagian antara dada paling atas sampai dada bagian tempat kalung sampai mengosongkan isi dada dan perutnya. Lalu Jibril mencucinya menggunakan air Zamzam dengan tangannya sampai membersihkan bagian dalam tubuhnya. Kemudian ada yang membawa baskom dari emas. Di dalamnya ada bejana kecil dari emas. Baskom itu berisi iman dan hikmah lalu Jibril memenuhi dada dan pembuluh darah tenggorokan beliau dengan itu, kemudian Jibril menutup sayatan itu.

Kemudian Jibril membawa beliau naik ke langit dunia, lalu mengetuk salah satu pintunya. Penghuni langit itu berseru kepadanya, “Siapa ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Mereka bertanya, “Siapa yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Yang bersamaku adalah Muhammad.”

Ada yang bertanya, “Beliau sudah diutus (untuk Isra)?”

Jibril menjawab, “Iya.”

Mereka berkata, “Marhaban. Selamat datang untuknya.”

فَيَسۡتَبۡشِرُ بِهِ أَهۡلُ السَّمَاءِ، لَا يَعۡلَمُ أَهۡلُ السَّمَاءِ بِمَا يُرِيدُ اللهُ بِهِ فِي الۡأَرۡضِ حَتَّى يُعۡلِمَهُمۡ، فَوَجَدَ فِي السَّمَاءِ الدُّنۡيَا آدَمَ، فَقَالَ لَهُ جِبۡرِيلُ: هٰذَا أَبُوكَ فَسَلِّمۡ عَلَيۡهِ، فَسَلَّمَ عَلَيۡهِ وَرَدَّ عَلَيۡهِ آدَمُ وَقَالَ: مَرۡحَبًا وَأَهۡلًا بِابۡنِي، نِعۡمَ الۡاِبۡنُ أَنۡتَ، فَإِذَا هُوَ فِي السَّمَاءِ الدُّنۡيَا بِنَهَرَيۡنِ يَطَّرِدَانِ، فَقَالَ: مَا هٰذَانِ النَّهَرَانِ يَا جِبۡرِيلُ؟ قَالَ: هٰذَانِ النِّيلُ وَالۡفُرَاتُ عُنۡصُرُهُمَا، ثُمَّ مَضَى بِهِ فِي السَّمَاءِ فَإِذَا هُوَ بِنَهَرٍ آخَرَ، عَلَيۡهِ قَصۡرٌ مِنۡ لُؤۡلُؤٍ وَزَبَرۡجَدٍ، فَضَرَبَ يَدَهُ فَإِذَا هُوَ مِسۡكٌ، قَالَ: مَا هٰذَا يَا جِبۡرِيلُ؟ قَالَ: هٰذَا الۡكَوۡثَرُ الَّذِي خَبَأَ لَكَ رَبُّكَ،

Penduduk langit (dunia) bersuka cita dengannya. Penduduk langit tidak mengetahui apa yang Allah inginkan dengannya di bumi sampai Dia memberitahu mereka. Lalu Jibril mendapati Adam di langit dunia. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad, “Ini adalah ayahmu, bersalamlah kepadanya!”

Nabi Muhammad bersalam kepada Adam dan Adam membalas salam beliau dan berkata, “Selamat datang putraku. Sebaik-baik putra adalah engkau.”

Ternyata di langit dunia ada dua sungai yang mengalir. Nabi Muhammad bertanya, “Dua sungai apa ini wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “Ini adalah hulu sungai Nil dan Eufrat.”

Kemudian Jibril melanjutkan perjalanan dengan beliau di langit (dunia) itu, ternyata ada sungai lain. Di atasnya ada istana dari mutiara dan zamrud. Lalu beliau memasukkan tangannya (ke sungai) ternyata itu adalah kesturi. Nabi Muhammad bertanya, “Apa ini wahai Jibril?”

Jibril menjawab, “Ini adalah kausar yang Allah simpan untukmu.”

ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَقَالَتِ الۡمَلَائِكَةُ لَهُ مِثۡلَ مَا قَالَتۡ لَهُ الۡأُولَى: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قَالُوا: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قَالُوا: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالُوا: مَرۡحَبًا بِهِ وَأَهۡلًا، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، وَقَالُوا لَهُ مِثۡلَ مَا قَالَتِ الۡأُولَى وَالثَّانِيَةُ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى الرَّابِعَةِ فَقَالُوا لَهُ مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الۡخَامِسَةِ، فَقَالُوا مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثۡلَ ذٰلِكَ،

Kemudian Jibril naik ke langit kedua, lalu para malaikat bertanya kepadanya semisal pertanyaan yang diajukan oleh malaikat langit pertama kepadanya, “Siapa ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Mereka bertanya, “Siapa yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Para malaikat bertanya, “Beliau sudah diutus (untuk Isra)?”

Jibril menjawab, “Iya.”

Mereka berkata, “Selamat datang untuknya.”

Kemudian Jibril naik dengan beliau ke langit ketiga. Penduduk langit ketiga berkata kepadanya semisal perkataan malaikat langit pertama dan kedua. Kemudian Jibril naik ke langit keempat lalu penduduk langit keempat mengatakan semisal itu kepadanya. Kemudian Jibril naik dengannya ke langit kelima. Para penduduk langit kelima berkata semisal itu. Kemudian Jibril naik dengannya ke langit keenam, lalu para penduduk langit keenam berkata semisal itu kepadanya. Kemudian Jibril naik dengannya ke langit ketujuh, lalu penduduk langit ketujuh berkata semisal itu kepadanya.

كُلُّ سَمَاءٍ فِيهَا أَنۡبِيَاءُ قَدۡ سَمَّاهُمۡ، فَأَوۡعَيۡتُ مِنۡهُمۡ إِدۡرِيسَ فِي الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الۡخَامِسَةِ لَمۡ أَحۡفَظِ اسۡمَهُ، وَإِبۡرَاهِيمَ فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفۡضِيلِ كَلَامِ اللهِ، فَقَالَ مُوسَى: رَبِّ لَمۡ أَظُنَّ أَنۡ يُرۡفَعَ عَلَيَّ أَحَدٌ، ثُمَّ عَلَا بِهِ فَوۡقَ ذٰلِكَ بِمَا لَا يَعۡلَمُهُ إِلَّا اللهُ، حَتَّى جَاءَ سِدۡرَةَ الۡمُنۡتَهَى، وَدَنَا الۡجَبَّارُ رَبُّ الۡعِزَّةِ، فَتَدَلَّى حَتَّى كَانَ مِنۡهُ قَابَ قَوۡسَيۡنِ أَوۡ أَدۡنَى، فَأَوۡحَى اللهُ فِيمَا أَوۡحَى إِلَيۡهِ: خَمۡسِينَ صَلَاةً عَلَى أُمَّتِكَ كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ،

Di setiap langit ada nabi-nabi yang beliau sebutkan nama mereka. Yang aku hafal dari mereka adalah Idris di langit kedua, Harun di langit keempat, nabi lain di langit kelima yang namanya tidak kuhafal, Ibrahim di langit keenam, dan Musa di langit ketujuh karena beliau memiliki keutamaan Allah berbicara langsung kepadanya. Musa berkata, “Wahai Rabku, aku tidak mengira ada seseorang yang diangkat ke atas tempatku.”

Kemudian Jibril terus naik dengannya ke atas dengan jarak yang hanya diketahui oleh Allah sampai tiba di Sidratulmuntaha. Allah Al-Jabbar Pemilik kemuliaan mendekat lalu turun, sampai sejarak dua busur panah atau kurang. Lalu Allah mewahyukan. Di antara wahyunya: lima puluh salat diperintahkan kepada umatmu setiap sehari semalam.

ثُمَّ هَبَطَ حَتَّى بَلَغَ مُوسَى، فَاحۡتَبَسَهُ مُوسَى فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ مَاذَا عَهِدَ إِلَيۡكَ رَبُّكَ؟ قَالَ: (عَهِدَ إِلَيَّ خَمۡسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ). قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسۡتَطِيعُ ذٰلِكَ، فَارۡجِعۡ فَلۡيُخَفِّفۡ عَنۡكَ رَبُّكَ وَعَنۡهُمۡ، فَالۡتَفَتَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبۡرِيلَ كَأَنَّهُ يَسۡتَشِيرُهُ فِي ذٰلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيۡهِ جِبۡرِيلُ: أَنۡ نَعَمۡ إِنۡ شِئۡتَ، فَعَلَا بِهِ إِلَى الۡجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: (يَا رَبِّ خَفِّفۡ عَنَّا، فَإِنَّ أُمَّتِي لَا تَسۡتَطِيعُ هٰذَا). فَوَضَعَ عَنۡهُ عَشۡرَ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُوسَى فَاحۡتَبَسَهُ، فَلَمۡ يَزَلۡ يُرَدِّدُهُ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ حَتَّى صَارَتۡ إِلَى خَمۡسِ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ احۡتَبَسَهُ مُوسَى عِنۡدَ الۡخَمۡسِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، وَاللهِ لَقَدۡ رَاوَدۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ قَوۡمِي عَلَى أَدۡنَى مِنۡ هٰذَا فَضَعُفُوا فَتَرَكُوهُ، فَأُمَّتُكَ أَضۡعَفُ أَجۡسَادًا وَقُلُوبًا وَأَبۡدَانًا وَأَبۡصَارًا وَأَسۡمَاعًا، فَارۡجِعۡ فَلۡيُخَفِّفۡ عَنۡكَ رَبُّكَ، كُلَّ ذٰلِكَ يَلۡتَفِتُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبۡرِيلَ لِيُشِيرَ عَلَيۡهِ، وَلَا يَكۡرَهُ ذٰلِكَ جِبۡرِيلُ،

Kemudian beliau turun hingga sampai bertemu Musa. Musa menahannya lalu bertanya, “Wahai Muhammad, apa yang Rabmu perintahkan kepadamu?”

Nabi Muhammad menjawab, “Dia memerintahkan lima puluh salat setiap sehari semalam kepadaku.”

Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Kembalilah agar Rabmu meringankan untukmu dan untuk mereka.”

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menoleh kepada Jibril seakan-akan meminta pendapatnya akan hal itu. Jibril memberi isyarat kepada beliau, “Iya jika engkau menghendaki.”

Jibril naik lagi dengannya kepada Allah Al-Jabbar. Lalu Nabi Muhammad berkata dan beliau berada di tempat yang sama dengan sebelumnya, “Wahai Rabku, ringankanlah untuk kami karena umatku tidak akan mampu melakukan ini.”

Allah menggugurkan sepuluh salat darinya. Kemudian beliau kembali kepada Musa, lalu Musa menahannya. Musa terus menyuruh Nabi Muhammad agar kembali kepada Rabnya sampai menjadi lima salat. Kemudian Musa menahannya ketika (kewajiban telah dikurangi menjadi) lima salat lalu berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah, aku telah membujuk kaumku bani Israil untuk mengerjakan yang lebih ringan daripada ini, namun mereka tidak kuat dan meninggalkannya. Padahal umatmu lebih lemah jasad, hati, badan, penglihatan, dan pendengarannya. Kembalilah agar Rabmu meringankan untukmu.”

Setiap kali Musa menyuruhnya kembali, Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menoleh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya dan Jibril tidak membenci hal itu.

فَرَفَعَهُ عِنۡدَ الۡخَامِسَةِ فَقَالَ: (يَا رَبِّ إِنَّ أُمَّتِي ضُعَفَاءُ، أَجۡسَادُهُمۡ وَقُلُوبُهُمۡ وَأَسۡمَاعُهُمۡ وَأَبۡدَانُهُمۡ، فَخَفِّفۡ عَنَّا). فَقَالَ الۡجَبَّارُ: يَا مُحَمَّدُ، قَالَ: (لَبَّيۡكَ وَسَعۡدَيۡكَ). قَالَ: إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الۡقَوۡلُ لَدَيَّ، كَمَا فَرَضۡتُ عَلَيۡكَ فِي أُمِّ الۡكِتَابِ، قَالَ: فَكُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشۡرِ أَمۡثَالِهَا، فَهِيَ خَمۡسُونَ فِي أُمِّ الۡكِتَابِ، وَهِيَ خَمۡسٌ عَلَيۡكَ، فَرَجَعَ إِلَى مُوسَى فَقَالَ: كَيۡفَ فَعَلۡتَ؟ فَقَالَ: (خَفَّفَ عَنَّا، أَعۡطَانَا بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشۡرَ أَمۡثَالِهَا). قَالَ مُوسَى: قَدۡ وَاللهِ رَاوَدۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ عَلَى أَدۡنَى مِنۡ ذٰلِكَ فَتَرَكُوهُ، ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَلۡيُخَفِّفۡ عَنۡكَ أَيۡضًا، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا مُوسَى، قَدۡ وَاللهِ اسۡتَحۡيَيۡتُ مِنۡ رَبِّي مِمَّا اخۡتَلَفۡتُ إِلَيۡهِ). قَالَ: فَاهۡبِطۡ بِاسۡمِ اللهِ، قَالَ: وَاسۡتَيۡقَظَ وَهُوَ فِي مَسۡجِدِ الۡحَرَامِ. [طرفه في: ٣٥٧٠].

Jibril menaikkannya untuk yang kelima kali, lalu Nabi Muhammad berkata, “Wahai Rabku, sesungguhnya umatku adalah orang-orang yang lemah jasadnya, hatinya, pendengarannya, dan badannya. Ringankanlah untuk kami.”

Allah Al-Jabbar berkata, “Wahai Muhammad.”

Nabi Muhammad berkata, “Aku siap mematuhi-Mu selalu dan mengharap kebahagiaan dari-Mu.”

Allah berkata, “Sesungguhnya ketetapan di sisi-Ku tidak bisa diganti sebagaimana yang telah Aku wajibkan atasmu di lauhulmahfuz.”

Allah berkata, “Setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, jadi itu adalah lima puluh salat di dalam lauhulmahfuz dan engkau hanya wajib lima salat.”

Beliau kembali kepada Musa. Musa bertanya, “Bagaimana yang engkau lakukan?”

Nabi Muhammad menjawab, “Allah telah meringankan untuk kami. Dia memberi kami untuk setiap kebaikan sepuluh kali lipatnya.”

Musa berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah membujuk bani Israil untuk melakukan yang lebih ringan dari itu, namun mereka meninggalkannya. Kembalilah kepada Rabmu agar Dia meringankan untukmu pula.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Wahai Musa, demi Allah, sungguh aku malu kepada Rabku karena mondar-mandir kepada-Nya.”

Jibril berkata, “Kalau begitu, turunlah dengan nama Allah.”

Nabi Muhammad bangun dalam keadaan beliau di dalam Masjidilharam.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 336

١٢٧ - بَابٌ الۡمَجۡدُورُ يَتَيَمَّمُ
127. Bab Orang yang Sakit Cacar Bertayamum


٣٣٦ - (حسن دون قوله: (إنما كان يكفيه)) حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الۡأَنۡطَاكِيُّ، ثَنا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ خُرَيۡقٍ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرٍ، قَالَ: خَرَجۡنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأۡسِهِ، [ثُمَّ احۡتَلَمَ]، فَسَأَلَ أَصۡحَابَهُ فَقَالَ: هَلۡ تَجِدُونَ لِي رُخۡصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخۡصَةً وَأَنۡتَ تَقۡدِرُ عَلَى الۡمَاءِ، فَاغۡتَسَلَ، فَمَاتَ! فَلَمَّا قَدِمۡنَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أُخۡبِرَ بِذٰلِكَ، فَقَالَ: (قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَّا سَأَلُوا إِذۡ لَمۡ يَعۡلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الۡعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيهِ أَنۡ يَتَيَمَّمَ وَيَعۡصِرَ - أَوۡ يَعۡصِبَ شَكَّ مُوسَى - عَلَى جُرۡحِهِ خِرۡقَةً، ثُمَّ يَمۡسَحَ عَلَيۡهَا، وَيَغۡسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ).

336. [Hasan selain ucapannya: Sebenarnya cukup baginya …] Musa bin ‘Abdurrahman Al-Anthaki telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Az-Zubair bin Khuraiq, dari ‘Atha`, dari Jabir. Beliau mengatakan:

Kami keluar dalam suatu safar, lalu ada batu yang mengenai salah seorang kami sehingga melukai kepalanya. Kemudian dia mimpi basah. Dia bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian mendapati adanya rukhsah untukku untuk tayamum?”

Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui adanya rukhsah untukmu dalam keadaan engkau mampu untuk menggunakan air.”

Dia pun mandi lalu meninggal. Ketika kami tiba di tempat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau dikabari hal itu, lalu beliau berkata, “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membunuh mereka. Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu?! Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum dan membalut lukanya, kemudian dia usap di atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya (yang lain).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7536 dan 7537

٥٠ - بَابُ ذِكۡرِ النَّبِيِّ ﷺ وَرِوَايَتِهِ عَنۡ رَبِّهِ
50. Bab Penyebutan dan Riwayat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari Rabnya


٧٥٣٦ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحِيمِ: حَدَّثَنَا أَبُو زَيۡدٍ سَعِيدُ بۡنُ الرَّبِيعِ الۡهَرَوِيُّ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ، قَالَ: (إِذَا تَقَرَّبَ الۡعَبۡدُ إِلَيَّ شِبۡرًا تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبۡتُ مِنۡهُ بَاعًا، وَإِذَا أَتَانِي مَشۡيًا أَتَيۡتُهُ هَرۡوَلَةً).

7536. Muhammad bin ‘Abdurrahim telah menceritakan kepadaku: Abu Zaid Sa’id bin Ar-Rabi’ Al-Harawi menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau meriwayatkannya dari Rabnya. Beliau bersabda, “Apabila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Apabila dia mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat sejarak satu depa. Apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.”

٧٥٣٧ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنِ التَّيۡمِيِّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: رُبَّمَا ذَكَرَ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِذَا تَقَرَّبَ الۡعَبۡدُ مِنِّي شِبۡرًا تَقَرَّبۡتُ مِنۡهُ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبۡتُ مِنۡهُ بَاعًا، أَوۡ بُوعًا). وَقَالَ مُعۡتَمِرٌ: سَمِعۡتُ أَبِي: سَمِعۡتُ أَنَسًا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ. [طرفه في: ٧٤٠٥].

7537. Musaddad telah menceritakan kepada kami dari Yahya, dari At-Taimi, dari Anas bin Malik, dari Abu Hurairah. Anas berkata: Abu Hurairah sering kali menyebut Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejarak sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sejarak sehasta. Apabila dia mendekat kepada-Ku sejarak sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak sedepa.”

Mu’tamir berkata: Aku mendengar ayahku: Aku mendengar Anas dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau meriwayatkannya dari Rabnya—‘azza wa jalla.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7539

٧٥٣٩ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ. وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فِيمَا يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ، قَالَ: (لَا يَنۡبَغِي لِعَبۡدٍ أَنۡ يَقُولَ: إِنَّهُ خَيۡرٌ مِنۡ يُونُسَ بۡنِ مَتَّى). وَنَسَبَهُ إِلَى أَبِيهِ. [طرفه في: ٣٣٩٥].

7539. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah. Khalifah berkata kepadaku: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Abu Al-‘Aliyah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam riwayat beliau dari Rabnya. Allah berkata, “Tidak pantas bagi seorang hamba pun untuk mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Yunus bin Matta.” Beliau menasabkan Yunus kepada ayahnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7540

٧٥٤٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ أَبِي سُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنَا شَبَابَةُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ قُرَّةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُغَفَّلٍ الۡمُزَنِيِّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ، يَقۡرَأُ سُورَةَ الۡفَتۡحِ، أَوۡ مِنۡ سُورَةِ الۡفَتۡحِ، قَالَ: فَرَجَّعَ فِيهَا، قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ مُعَاوِيَةُ يَحۡكِي قِرَاءَةَ ابۡنِ مُغَفَّلٍ، وَقَالَ: لَوۡلَا أَنۡ يَجۡتَمِعَ النَّاسُ عَلَيۡكُمۡ لَرَجَّعۡتُ كَمَا رَجَّعَ ابۡنُ مُغَفَّلٍ، يَحۡكِي النَّبِيَّ ﷺ، فَقُلۡتُ لِمُعَاوِيَةَ: كَيۡفَ كَانَ تَرۡجِيعُهُ؟ قَالَ: آ آ آ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. [طرفه في: ٤٢٨١].

7540. Ahmad bin Abu Suraij telah menceritakan kepada kami: Syababah mengabarkan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani. Beliau berkata: Aku melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan Makkah di atas untanya dalam keadaan membaca surah Al-Fath atau sebagian surah Al-Fath. ‘Abdullah bin Mughaffal berkata: Lalu beliau melakukan tarji’ (mengulang suara di tenggorokan) ketika membacanya.

Syu’bah berkata: Kemudian Mu’awiyah menghikayatkan qiraah Ibnu Mughaffal dan berkata: Kalau bukan karena nanti orang-orang berkumpul mengerumuni kalian, niscaya aku akan melakukan tarji’ sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mughaffal yang menghikayatkan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Aku (Syu’bah) bertanya kepada Mu’awiyah, “Bagaimana tarji’-nya?” Mu’awiyah mengatakan, “Aa aa aa,” sebanyak tiga kali.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7542

٧٥٤٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ: أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: كَانَ أَهۡلُ الۡكِتَابِ يَقۡرَؤُونَ التَّوۡرَاةَ بِالۡعِبۡرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالۡعَرَبِيَّةِ لِأَهۡلِ الۡإِسۡلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تُصَدِّقُوا أَهۡلَ الۡكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمۡ، وَقُولُوا ﴿آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنۡزِلَ﴾ [البقرة: ١٣٦] الۡآيَةَ). [طرفه في: ٤٤٨٥].

7542. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: ‘Utsman bin ‘Umar menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan:

Dahulu ahli kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk kaum muslimin, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian mempercayai ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka! Ucapkanlah ‘Kami beriman kepada Allah dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kami…’ (QS Al-Baqarah: 136).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7547

٧٥٤٧ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ أَبِي بِشۡرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ مُتَوَارِيًا بِمَكَّةَ، وَكَانَ يَرۡفَعُ صَوۡتَهُ، فَإِذَا سَمِعَ الۡمُشۡرِكُونَ سَبُّوا الۡقُرۡآنَ وَمَنۡ جَاءَ بِهِ، فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ ﷺ: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ [الإسراء: ١١٠]. [طرفه في: ٤٧٢٢].

7547. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih (berdakwah) sembunyi-sembunyi di Makkah dan dahulu beliau meninggikan suara Al-Qur’an. Lalu apabila orang-orang musyrik mendengarnya, mereka mencela Al-Qur’an dan yang membawanya. Lalu Allah—‘azza wa jalla—berkata kepada Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Janganlah engkau mengeraskan suara dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya.” (QS Al-Isra: 110).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7550

٥٣ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿فَاقۡرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الۡقُرۡآنِ﴾ [المزَّمِّل: ٢٠]
53. Bab Firman Allah Taala, “Bacalah Al-Qur’an yang mudah (bagi kalian)!” (QS Al-Muzamil: 20)


٧٥٥٠ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: حَدَّثَنِي عُرۡوَةُ: أَنَّ الۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ وَعَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَبۡدٍ الۡقَارِيَّ حَدَّثَاهُ: أَنَّهُمَا سَمِعَا عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ يَقُولُ: سَمِعۡتُ هِشَامَ بۡنَ حَكِيمٍ يَقۡرَأُ سُورَةَ الۡفُرۡقَانِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَاسۡتَمَعۡتُ لِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا هُوَ يَقۡرَأُ عَلَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمۡ يُقۡرِئۡنِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَكِدۡتُ أُسَاوِرُهُ فِي الصَّلَاةِ، فَتَصَبَّرۡتُ حَتَّى سَلَّمَ، فَلَبَبۡتُهُ بِرِدَائِهِ، فَقُلۡتُ: مَنۡ أَقۡرَأَكَ هٰذِهِ السُّورَةَ الَّتِي سَمِعۡتُكَ تَقۡرَأُ؟ قَالَ: أَقۡرَأَنِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقُلۡتُ: كَذَبۡتَ، أَقۡرَأَنِيهَا عَلَى غَيۡرِ مَا قَرَأۡتَ، فَانۡطَلَقۡتُ بِهِ أَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: إِنِّي سَمِعۡتُ هٰذَا يَقۡرَأُ سُورَةَ الۡفُرۡقَانِ عَلَى حُرُوفٍ لَمۡ تُقۡرِئۡنِيهَا، فَقَالَ: (أَرۡسِلۡهُ، اقۡرَأۡ يَا هِشَامُ). فَقَرَأَ الۡقِرَاءَةَ الَّتِي سَمِعۡتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كَذٰلِكَ أُنۡزِلَتۡ). ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اقۡرَأۡ يَا عُمَرُ). فَقَرَأۡتُ الَّتِي أَقۡرَأَنِي، فَقَالَ: (كَذٰلِكَ أُنۡزِلَتۡ، إِنَّ هٰذَا الۡقُرۡآنَ أُنۡزِلَ عَلَى سَبۡعَةِ أَحۡرُفٍ، فَاقۡرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنۡهُ). [طرفه في: ٢٤١٩].

7550. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab: ‘Urwah menceritakan kepadaku: Al-Miswar bin Makhramah dan ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qari menceritakan kepadanya: Mereka berdua mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata:

Aku mendengar Hisyam bin Hakim (mengimami salat dengan) membaca surah Al-Furqan di masa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih hidup. Aku menyimak qiraahnya. Ternyata dia membacanya dengan banyak kata yang tidak seperti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ajarkan kepadaku. Hampir saja aku menubruknya ketika salat itu, tapi aku menyabarkan diri sampai dia salam.

Aku mencengkeram bajunya dan berkata, “Siapa yang mengajarimu surah yang kudengar engkau membacanya?”

Hisyam menjawab, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengajariku bacaan surah itu.”

Aku berkata, “Engkau bohong karena Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengajariku bacaan surah itu tidak seperti yang kaubaca.”

Aku pergi dengannya menariknya menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Aku berkata, “Sesungguhnya aku mendengar orang ini membaca surah Al-Furqan dengan kata-kata yang tidak engkau ajarkan kepadaku.”

Rasulullah berkata, “Lepaskan dia! Bacalah wahai Hisyam!”

Hisyam membacakan qiraah yang telah kudengar kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Demikianlah surah ini diturunkan.”

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Bacalah wahai ‘Umar!”

Aku pun membaca qiraah yang beliau ajarkan kepadaku. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Demikianlah surah ini diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh dialek bahasa Arab. Bacalah yang mudah darinya!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7551

٥٤ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡآنَ لِلذِّكۡرِ﴾ [القمر: ١٧]
54. Bab Firman Allah Taala, “Sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran” (QS Al-Qamar: 17)


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ). يُقَالُ: مُيَسَّرٌ مُهَيَّأٌ.

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Masing-masing akan dimudahkan kepada takdir yang telah diciptakan untuknya.” Ada yang berkata: muyassar artinya disiapkan.

وَقَالَ مَطَرٌ الۡوَرَّاقُ: ﴿وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡآنَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِنۡ مُدَّكِرٍ﴾ [القمر: ١٧]. قَالَ: هَلۡ مِنۡ طَالِبِ عِلۡمٍ فَيُعَانَ عَلَيۡهِ.

Mathar Al-Warraq berkata tentang ayat “Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar: 17), beliau berkata: Adakah yang menuntut ilmu? Nanti dia akan ditolong.

٧٥٥١ - حَدَّثَنَا أَبُو مَعۡمَرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ: قَالَ يَزِيدُ: حَدَّثَنِي مُطَرِّفُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عِمۡرَانَ قَالَ: قُلۡتُ يَا رَسُولَ اللهِ، فِيمَا يَعۡمَلُ الۡعَامِلُونَ؟ قَالَ: (كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ). [طرفه في: ٦٥٩٦].

7551. Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Yazid berkata: Mutharrif bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku dari ‘Imran. Beliau berkata:

Aku bertanya kepada Rasulullah, “Untuk apa orang-orang beramal?”

Beliau menjawab, “Masing-masing akan dimudahkan kepada takdir yang telah diciptakan untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7557, 7558, dan 7559

٧٥٥٧ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ الۡقَاسِمِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ أَصۡحَابَ هٰذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَيُقَالُ لَهُمۡ: أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ). [طرفه في: ٢١٠٥].

7557. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah yang telah kalian buat.”

٧٥٥٨ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ أَصۡحَابَ هٰذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمۡ: أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ). [طرفه في: ٥٩٥١].

7558. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah yang telah kalian buat.”

٧٥٥٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ عُمَارَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ: سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنۡ ذَهَبَ يَخۡلُقُ كَخَلۡقِي، فَلۡيَخۡلُقُوا ذَرَّةً، أَوۡ لِيَخۡلُقُوا حَبَّةً، أَوۡ شَعِيرَةً). [طرفه في: ٥٩٥٣].

7559. Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami dari ‘Umarah, dari Abu Zur’ah. Beliau mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah—‘azza wa jalla—berkata: Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang berusaha membuat seperti ciptaan-Ku. Coba saja mereka menciptakan seekor semut atau coba menciptakan satu benih atau sebutir barli.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7515

٣٧ - بَابُ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكۡلِيمًا﴾ [النساء: ١٦٤]
37. Bab Firman Allah Taala, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisa’: 164)


٧٥١٥ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ: حَدَّثَنَا عُقَيۡلٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (احۡتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: أَنۡتَ آدَمُ الَّذِي أَخۡرَجۡتَ ذُرِّيَّتَكَ مِنَ الۡجَنَّةِ؟ قَالَ آدَمُ: أَنۡتَ مُوسَى الَّذِي اصۡطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَاتِهِ وَكَلَامِهِ، ثُمَّ تَلُومُنِي عَلَى أَمۡرٍ قَدۡ قُدِّرَ عَلَيَّ قَبۡلَ أَنۡ أُخۡلَقَ؟ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى). [طرفه في: ٣٤٠٩].

7515. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami: ‘Uqail menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab: Humaid bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata:

Adam dan Musa saling mendebat. Musa berkata, “Engkau Adam yang telah menyebabkan keturunanmu keluar dari janah?”

Adam berkata, “Engkau Musa yang Allah telah memilih engkau dengan risalah-Nya dan dengan pembicaraan Allah kepadamu secara langsung, kemudian engkau mencelaku terhadap suatu perkara yang telah ditakdirkan sebelum aku diciptakan?”

Adam mengalahkan Musa.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7513 dan 7514

٧٥١٣ - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَبِيدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ حَبۡرٌ مِنَ الۡيَهُودِ فَقَالَ: إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، جَعَلَ اللهُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡأَرَضِينَ عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصۡبَعٍ، وَالۡخَلَائِقَ عَلَى إِصۡبَعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الۡمَلِكُ أَنَا الۡمَلِكُ، فَلَقَدۡ رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَضۡحَكُ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ، تَعَجُّبًا وَتَصۡدِيقًا لِقَوۡلِهِ، ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: ﴿وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدۡرِهِ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿يُشۡرِكُونَ﴾ [الزمر: ٦٧]. [طرفه في: ٤٨١١].

7513. ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim, dari ‘Abidah, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Seorang alim Yahudi datang seraya berkata, “Sesungguhnya ketika hari kiamat, Allah menjadi langit-langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan makhluk-makhluk di atas satu jari, kemudian Dia mengguncang mereka, kemudian Dia berkata, ‘Aku adalah raja. Aku adalah raja.’”

Sungguh aku melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat karena takjub dan membenarkannya. Kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membaca ayat, “Mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya,” sampai firman-Nya, “mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar: 67).

٧٥١٤ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابۡنَ عُمَرَ: كَيۡفَ سَمِعۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ فِي النَّجۡوَى؟ قَالَ: (يَدۡنُو أَحَدُكُمۡ مِنۡ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيۡهِ، فَيَقُولُ: أَعَمِلۡتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمۡ، وَيَقُولُ: عَمِلۡتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمۡ، فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرۡتُ عَلَيۡكَ فِي الدُّنۡيَا، وَأَنَا أَغۡفِرُهَا لَكَ الۡيَوۡمَ). وَقَالَ آدَمُ: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: حَدَّثَنَا صَفۡوَانُ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ. [طرفه في: ٢٤٤١].

7514. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Shafwan bin Muhriz:

Seorang pria bertanya kepada Ibnu ‘Umar: Bagaimana yang engkau dengar tentang sabda Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang pembicaraan rahasia?

Beliau berkata:

Salah seorang kalian mendekat kepada Rabnya, sampai Dia meletakkan tabir-Nya yang menutupinya. Lalu Allah berkata, “Apakah engkau melakukan ini dan ini?”

Orang itu menjawab, “Iya.”

Allah berkata, “Apakah engkau melakukan ini dan ini?”

Orang itu berkata, “Iya.”

Allah membuatnya mengaku kemudian berkata, “Sesungguhnya Aku telah menutupi aibmu di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya.”

Adam berkata: Syaiban menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami: Shafwan menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Umar: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 1986

١٩٨٦ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ مَسۡعُودٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ وَهُوَ ابۡنُ زُرَيۡعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ أَبِي عَبۡدِ اللهِ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنۡ أَبِي إِبۡرَاهِيمَ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الۡمَيِّتِ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنۡثَانَا، وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا). [(الترمذي)(١٠٣٥)].

1986. [Sahih] Isma’il bin Mas’ud telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hisyam bin Abu ‘Abdullah menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Ibrahim Al-Anshari, dari ayahnya: Beliau mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdoa dalam salat jenazah, “Allāhummagfir liḥayyinā wa mayyitinā, wa syāhidinā wa gā’ibinā, wa żakarinā wa unṡānā, wa ṣagīrinā wa kabīrinā (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati dari kami, orang-orang yang hadir bersama kami dan yang tidak hadir, laki-laki dan wanita dari kami, anak-anak yang masih kecil dan orang-orang dewasa dari kami).”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 3201

٣٢٠١ - (صحيح) حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ مَرۡوَانَ الرَّقِّيُّ، نا شُعَيۡبٌ - يَعۡنِي ابۡنَ إِسۡحَاقَ -، عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنۡثَانَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، اللّٰهُمَّ مَنۡ أَحۡيَيۡتَهُ مِنَّا فَأَحۡيِهِ عَلَى الۡإِيمَانِ، وَمَنۡ تَوَفَّيۡتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الۡإِسۡلَامِ، اللّٰهُمَّ لَا تَحۡرِمۡنَا أَجۡرَهُ، وَلَا تُضِلَّنَا بَعۡدَهُ). [(الأحكام)(١٢٤)].

3201. [Sahih] Musa bin Marwan Ar-Raqqi telah menceritakan kepada kami: Syu’aib bin Ishaq menceritakan kepada kami dari Al-Auza’i, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyalati jenazah lalu berdoa, “Allāhummagfir liḥayyinā wa mayyitinā, wa ṣagīrinā wa kabīrinā, wa żakarinā wa unṡānā, wa syāhidinā wa gā’ibinā (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati dari kami, anak-anak yang masih kecil dan orang-orang dewasa dari kami, laki-laki dan wanita dari kami, orang-orang yang hadir bersama kami dan yang tidak hadir). Allāhumma man aḥyaitahu minnā fa aḥyihi ‘alal-īmān wa man tawaffaitahu minnā fatawaffahu ‘alal-islām (Ya Allah, barang siapa yang masih Engkau hidupkan dari kami, hidupkanlah dia di atas keimanan dan barang siapa yang sudah Engkau wafatkan dari kami, wafatkanlah di atas keislaman). Allāhumma lā taḥrimnā ajrahu walā tuḍillanā ba‘dah (Ya Allah, jangan Engkau haramkan pahalanya untuk kami dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya).”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1498

١٤٩٨ - (صحيح) حَدَّثَنَا سُوَيۡدُ بۡنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، يَقُولُ: (اللّٰهُمَّ! اغۡفِرۡ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنۡثَانَا، اللّٰهُمَّ مَنۡ أَحۡيَيۡتَهُ مِنَّا فَأَحۡيِهِ عَلَى الۡإِسۡلَامِ، وَمَنۡ تَوَفَّيۡتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الۡإِيمَانِ، اللّٰهُمَّ! لَا تَحۡرِمۡنَا أَجۡرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعۡدَهُ). [(الأحكام)(١٢٤)، (المشكاة)(١٦٧٥)].

1498. [Sahih] Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau berkata:

Dahulu apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyalati jenazah, beliau berdoa, “Allāhummagfir liḥayyinā wa mayyitinā, wa syāhidinā wa gā’ibinā, wa ṣagīrinā wa kabīrinā, wa żakarinā wa unṡānā (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati dari kami, orang-orang yang hadir bersama kami dan yang tidak hadir, anak-anak yang masih kecil dan orang-orang dewasa dari kami, laki-laki dan wanita dari kami). Allāhumma man aḥyaitahu minnā fa aḥyihi ‘alal-islām wa man tawaffaitahu minnā fatawaffahu ‘alal-īmān (Ya Allah, barang siapa yang masih Engkau hidupkan dari kami, hidupkanlah dia di atas keislaman dan barang siapa yang sudah Engkau wafatkan dari kami, wafatkanlah di atas keimanan). Allāhumma lā taḥrimnā ajrahu walā tuḍillanā ba‘dah (Ya Allah, jangan Engkau haramkan pahalanya untuk kami dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya).”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1024

٣٨ - بَابُ مَا يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الۡمَيِّتِ
38. Bab Bacaan dalam Salat Jenazah


١٠٢٤ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا هِقۡلُ بۡنُ زِيَادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو إِبۡرَاهِيمَ الۡأَشۡهَلِيُّ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا صَلَّى عَلَى الۡجَنَازَةِ قَالَ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنۡثَانَا). قَالَ يَحۡيَى: وَحَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِثۡلَ ذٰلِكَ. وَزَادَ فِيهِ: (اللّٰهُمَّ مَنۡ أَحۡيَيۡتَهُ مِنَّا فَأَحۡيِهِ عَلَى الۡإِسۡلَامِ وَمَنۡ تَوَفَّيۡتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الۡإِيمَانِ). قَالَ وَفِي الۡبَابِ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ، وَعَائِشَةَ، وَأَبِي قَتَادَةَ، وَعَوۡفِ بۡنِ مَالِكٍ، وَجَابِرٍ. حَدِيثُ وَالِدِ أَبِي إِبۡرَاهِيمَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَرَوَى هِشَامٌ الدَّسۡتَوَائِيُّ وَعَلِيُّ بۡنُ الۡمُبَارَكِ هٰذَا الۡحَدِيثَ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مُرۡسَلًا. وَرَوَى عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَحَدِيثُ عِكۡرِمَةَ بۡنِ عَمَّارٍ غَيۡرُ مَحۡفُوظٍ، وَعِكۡرِمَةُ رُبَّمَا يَهِمُ فِي حَدِيثِ يَحۡيَى. وَرَوَى هَمَّامٌ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَسَمِعۡتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ: أَصَحُّ الرِّوَايَاتِ فِي هٰذَا، حَدِيثُ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي إِبۡرَاهِيمَ الۡأَشۡهَلِيِّ عَنۡ أَبِيهِ. وَسَأَلۡتُهُ عَنِ اسۡمِ أَبِي إِبۡرَاهِيمَ فَلَمۡ يَعۡرِفۡهُ. [(ابن ماجه)(١٤٩٨)].

1024. [Sahih] ‘Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hiql bin Ziyad mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir. Beliau berkata: Abu Ibrahim Al-Asyhali menceritakan kepadaku dari ayahnya. Beliau berkata:

Dahulu, apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyalati jenazah, beliau berdoa, “Allāhummagfir liḥayyinā wa mayyitinā, wa syāhidinā wa gā’ibinā, wa ṣagīrinā wa kabīrinā, wa żakarinā wa unṡānā (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati dari kami, orang-orang yang hadir bersama kami dan yang tidak hadir, anak-anak yang masih kecil dan orang-orang dewasa dari kami, laki-laki dan wanita dari kami).”

Yahya berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semisal itu. Beliau menambahkan, “Allāhumma man aḥyaitahu minnā fa aḥyihi ‘alal-islām wa man tawaffaitahu minnā fatawaffahu ‘alal-īmān (Ya Allah, barang siapa yang masih Engkau hidupkan dari kami, hidupkanlah dia di atas keislaman dan barang siapa yang sudah Engkau wafatkan dari kami, wafatkanlah di atas keimanan).”

Dalam bab ini ada riwayat dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Aisyah, Abu Qatadah, ‘Auf bin Malik, dan Jabir. Hadis ayah Abu Ibrahim adalah hadis hasan sahih.

Hisyam Ad-Dustuwa`i dan ‘Ali bin Al-Mubarak meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—secara mursal.

‘Ikrimah bin ‘Ammar meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari ‘Aisyah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Hadis ‘Ikrimah bin ‘Ammar tidak mahfuzh (hadis yang menyelisihi hadis dari perawi yang lebih tsiqah) dan ‘Ikrimah terkadang keliru dalam hadis Yahya.

Hammam meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Aku mendengar Muhammad berkata: Riwayat yang paling sahih dalam hal ini adalah hadis Yahya bin Abu Katsir dari Abu Ibrahim Al-Asyhali, dari ayahnya. Aku bertanya kepada beliau tentang nama Abu Ibrahim namun beliau tidak mengetahuinya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7508

٧٥٠٨ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَبِي الۡأَسۡوَدِ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ: سَمِعۡتُ أَبِي: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ عُقۡبَةَ بۡنِ عَبۡدِ الۡغَافِرِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا فِيمَنۡ سَلَفَ، أَوۡ فِيمَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ، قَالَ كَلِمَةً - يَعۡنِي - أَعۡطَاهُ اللهُ مَالًا وَوَلَدًا، فَلَمَّا حَضَرَتِ الۡوَفَاةُ، قَالَ لِبَنِيهِ: أَيَّ أَبٍ كُنۡتُ لَكُمۡ؟ قَالُوا: خَيۡرَ أَبٍ، قَالَ: فَإِنَّهُ لَمۡ يَبۡتَئِرۡ، أَوۡ لَمۡ يَبۡتَئِزۡ عِنۡدَ اللهِ خَيۡرًا، وَإِنۡ يَقۡدِرِ اللهُ عَلَيۡهِ يُعَذِّبۡهُ، فَانۡظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحۡرِقُونِي، حَتَّى إِذَا صِرۡتُ فَحۡمًا فَاسۡحَقُونِي، أَوۡ قَالَ: فَاسۡحَكُونِي، فَإِذَا كَانَ يَوۡمُ رِيحٍ عَاصِفٍ فَأَذۡرُونِي فِيهَا)، فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ: (فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمۡ عَلَى ذٰلِكَ وَرَبِّي، فَفَعَلُوا ثُمَّ أَذۡرَوۡهُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٍ، فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنۡ، فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ، قَالَ اللهُ: أَيۡ عَبۡدِي مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنۡ فَعَلۡتَ مَا فَعَلۡتَ؟ قَالَ: مَخَافَتُكَ، أَوۡ: فَرَقٌ مِنۡكَ، قَالَ: فَمَا تَلَافَاهُ أَنۡ رَحِمَهُ عِنۡدَهَا). وَقَالَ مَرَّةً أُخۡرَى: (فَمَا تَلَافَاهُ غَيۡرُهَا). فَحَدَّثۡتُ بِهِ أَبَا عُثۡمَانَ فَقَالَ: سَمِعۡتُ هٰذَا مِنۡ سَلۡمَانَ، غَيۡرَ أَنَّهُ زَادَ فِيهِ: (أَذۡرُونِي فِي الۡبَحۡرِ) أَوۡ كَمَا حَدَّثَ.

حَدَّثَنَا مُوسَى: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ وَقَالَ: (لَمۡ يَبۡتَئِرۡ). وَقَالَ خَلِيفَةُ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ وَقَالَ: (لَمۡ يَبۡتَئِزۡ). فَسَّرَهُ قَتَادَةُ: لَمۡ يَدَّخِرۡ. [طرفه في: ٣٤٧٨].

7508. ‘Abdullah bin Abu Al-Aswad telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami: Aku mendengar ayahku: Qatadah menceritakan kepada kami dari ‘Uqbah bin ‘Abdul Ghafir, dari Abu Sa’id, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:

Beliau menyebut seorang pria yang termasuk orang-orang terdahulu atau sebelum kalian. Beliau menyebut suatu kalimat yang bermakna Allah telah memberikan harta dan anak kepadanya. Ketika tampak tanda kematian pada dirinya, dia bertanya kepada putra-putranya, “Menurut kalian, ayah seperti apa aku ini?”

Mereka menjawab, “Sebaik-baik ayah.”

Beliau berkata: Sesungguhnya dia belum pernah mengunjukkan satu kebaikan pun di sisi Allah, jika dia nanti menghadap Allah, niscaya Allah akan mengazabnya.

Pria itu berkata, “Perhatikan! Apabila aku nanti mati, bakarlah jasadku hingga menghitam lalu lumatkan aku.” Atau dia berkata, “Lalu remukkan aku. Kemudian di hari yang berangin kencang, taburkan aku di udara.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam— berkata:

Dia mengambil perjanjian dari anak-anaknya untuk melakukan itu—demi Rabku—mereka pun melakukannya, kemudian mereka menaburkan abunya di hari yang berangin kencang.

Lalu Allah—‘azza wa jalla—berkata, “Jadilah!”

Seketika itu, pria itu berdiri. Kemudian Allah berkata, “Hai hamba-Ku, apa yang mendorongmu untuk melakukannya?”

Dia menjawab, “Rasa takut dari-Mu.”

Nabi berkata: Setelah dia mengucapkan itu, Allah merahmatinya sehingga dia terhindar dari azab.

Di saat lain beliau berkata: Tidak ada selain rahmat Allah yang menghindarkannya dari azab.

Aku (Sulaiman At-Taimi) menceritakan hadis ini kepada Abu ‘Utsman lalu beliau berkata: Aku mendengar ini dari Salman hanya saja beliau menambahkan dalam hadis itu, “Taburkan aku ke laut” atau sebagaimana yang dia ceritakan.

Musa menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami dan berkata, “lam yabta’ir.” Khalifah berkata: Mu’tamir menceritakan kepada kami dan berkata, “lam yabta’iz.” Qatadah menafsirkannya dengan lam yaddakhir (tidak menyimpan).