Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Ad-Durarul Bahiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ad-Durarul Bahiyyah. Tampilkan semua postingan

Ad-Dararil Mudhiyyah - Hukum Ijarah

Al-Imam Asy-Syaukani berkata:

تَجُوزُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ لَمۡ يَمۡنَعۡ مِنۡهُ مَانِعٌ شَرۡعِيٌّ وَتَكُونُ الۡأُجۡرَةُ مَعۡلُومَةً عِنۡدَ الۡاِسۡتِئۡجَارِ

Hukum pengupahan ini boleh untuk setiap pekerjaan yang tidak dilarang oleh syariat dan upah sudah diketahui ketika dipekerjakan.

أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الۡإِجَارَةِ تَجُوزُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ لَمۡ يَمۡنَعۡ مِنۡهُ مَانِعٌ شَرۡعِيٌّ، فَلِإِطۡلَاقِ الۡأَدِلَّةِ الۡوَارِدَةِ فِي ذٰلِكَ كَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ قَالَ: (نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ اسۡتِئۡجَارِ الۡأَجِيرِ حَتَّى يُبَيَّنَ لَهُ أَجۡرُهُ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ، وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا الۡبَيۡهَقِيُّ، وَعَبۡدُ الرَّزَّاقِ، وَإِسۡحَاقُ فِي مُسۡنَدِهِ، وَأَبُو دَاوُدَ فِي الۡمَرَاسِيلِ، وَالنَّسَائِيُّ فِي الزِّرَاعَةِ غَيۡرَ مَرۡفُوعٍ وَلَفۡظُ بَعۡضِهِمۡ: مَنِ اسۡتَأۡجَرَ أَجِيرًا فَلۡيُسَمِّ لَهُ أُجۡرَتَهُ،

Aku (Asy-Syaukani) berkata: Kebolehan pengupahan untuk segala pekerjaan yang tidak dilarang oleh syariat didasari oleh keumuman dalil yang menerangkan hal itu, seperti hadis Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau mengatakan, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang mengupah pekerja sampai upahnya dijelaskan kepadanya.” (HR. Ahmad).[1] Para rawinya adalah perawi kitab Shahih. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, ‘Abdurrazzaq, Ishaq dalam Musnad-nya, Abu Dawud dalam Al-Marasil, dan An-Nasa`i dalam Az-Zira’ah secara tidak marfuk. Lafaz sebagian lainnya, “Siapa saja yang mengupah pekerja, sebutkan upahnya kepadanya.”

وَلِإِطۡلَاقِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ الۡبُخَارِيِّ وَأَحۡمَدَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصۡمُهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؛ وَمَنۡ كُنۡتُ خَصۡمَهُ خَصَمۡتُهُ. رَجُلٌ أَعۡطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ جُزۡءًا وَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسۡتَأۡجَرَ أَجِيرًا فَاسۡتَوۡفَى مِنۡهُ وَلَمۡ يُوَفِّهِ أَجۡرَهُ).

Juga karena keumuman hadis Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Ahmad. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah—‘azza wa jalla—berkata: Tiga golongan orang yang Aku akan menjadi musuh mereka pada hari kiamat dan siapa saja yang Aku sudah menjadi musuhnya, pasti Aku akan memusuhinya. Yaitu: orang yang membuat janji dengan nama-Ku lalu dia berkhianat, orang yang menjual orang merdeka lalu dia memakan hasil penjualannya, dan orang yang mengupah pekerja yang sudah memenuhi haknya namun dia tidak memenuhi upahnya.”[2]

وَقَدِ اسۡتَأۡجَرَ النَّبِيُّ ﷺ دَلِيلًا عِنۡدَ هِجۡرَتِهِ إِلَى الۡمَدِينَةِ كَمَا فِي الۡبُخَارِيِّ وَغَيۡرِهِ؛ وَثَبَتَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ الۡبُخَارِيِّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الۡغَنَمَ، فَقَالَ أَصۡحَابُهُ: وَأَنۡتَ؟ قَالَ: نَعَمۡ. كُنۡتُ أَرۡعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهۡلِ مَكَّةَ). وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ وَصَحَّحَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ سُوَيۡدِ بۡنِ قَيۡسٍ قَالَ: (جَلَبۡتُ أَنَا وَمَخۡرَمَةُ الۡعَبۡدِيُّ بَزًّا مِنۡ هَجَرَ فَأَتَيۡنَا بِهِ مَكَّةَ فَجَاءَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَمۡشِي فَسَاوَمَنَا سَرَاوِيلَ فَبِعۡنَاهُ وَثَمَّ رَجُلٌ يَزِنُ بِالۡأَجۡرِ، فَقَالَ لَهُ زِنۡ وَارۡجَحۡ). وَفِيهِ أَنَّهُ ﷺ لَمۡ يَذۡكُرۡ لَهُ قَدۡرَ أُجۡرَتِهِ بَلۡ أَعۡطَاهُ مَا يَعۡتَادُهُ فِي مِثۡلِ ذٰلِكَ،

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah mengupah seorang penunjuk jalan ketika beliau hijrah ke Madinah sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya.

Juga ada riwayat yang sudah pasti dari hadis Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari. Beliau mengatakan:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali dia pernah menggembala kambing.”

Para sahabatnya bertanya, “Apa engkau juga?”

Nabi menjawab, “Iya. Dahulu aku menggembala kambing dengan upah beberapa qirath untuk penduduk Makkah.”[3]

Ahmad dan para penyusun kitab Sunan meriwayatkan suatu riwayat dan dinilai sahih oleh At-Tirmidzi dari hadis Suwaid bin Qais. Beliau berkata:

Aku dan Makhramah Al-‘Abdi mendatangkan dagangan pakaian dari daerah Hajar. Kami membawanya ke Makkah. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang berjalan ke tempat kami dan melakukan tawar-menawar sirwal (celana panjang longgar) dengan kami. Kamipun menjualnya kepada beliau.

Di sana ada seseorang yang sedang menimbang dengan upah, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Timbanglah dan perberat!”[4]

Dalam riwayat tersebut, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak menyebutkan jumlah upahnya, namun beliau memberinya upah yang umum pada pekerjaan yang semisal itu.

وَقَدۡ كَانَ الصَّحَابَةُ يُؤَجِّرُونَ أَنۡفُسَهُمۡ فِي عَصۡرِهِ، وَيَعۡمَلُونَ الۡأَعۡمَالَ الۡمُخۡتَلِفَةَ حَتَّى إِنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ (أَجَّرَ نَفۡسَهُ مِنِ امۡرَأَةٍ عَلَى أَنۡ يَنۡزِعَ لَهَا كُلَّ ذَنُوبٍ بِتَمۡرَةٍ فَنَزَعَ سِتَّةَ عَشَرَ ذَنُوبًا حَتَّى مَجَلَتۡ يَدَاهُ، فَعَدَّتۡ لَهُ سِتَّ عَشۡرَةَ تَمۡرَةٍ فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ فَأَكَلَ مَعَهُ مِنۡهَا) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ مِنۡ حَدِيثِ عَلِيٍّ بِإِسۡنَادٍ جَيِّدٍ، وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا ابۡنُ مَاجَة وَصَحَّحَهُ ابۡنُ السَّكَنِ، وَأَخۡرَجَهُ الۡبَيۡهَقِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: (أَجَّرَ نَفۡسَهُ مِنۡ يَهُودِيٍّ يَسۡقِي لَهُ كُلَّ دَلۡوٍ بِتَمۡرَةٍ). وَأَمَّا الۡمَانِعُ الشَّرۡعِيُّ فَهُوَ مِثۡلُ الصُّوَرِ الَّتِي سَيَأۡتِي ذِكۡرُهَا.

وَأَمَّا اعۡتِبَارُ كَوۡنِ الۡأُجۡرَةِ مَعۡلُومَةً فَلِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الۡمُتَقَدَّمِ.

Dahulu para sahabat mempekerjakan dirinya dengan upah tertentu di masanya dan melakukan berbagai macam pekerjaan. Sampai-sampai ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—mempekerjakan dirinya kepada seorang wanita untuk menimbakan air untuknya. Setiap ember air, upahnya satu butir kurma. Beliau menimba enam belas ember hingga kedua telapak tangannya melepuh. Lalu wanita itu menyiapkan enam belas butir kurma untuknya. ‘Ali mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menceritakan kejadian itu. Nabi ikut serta makan sebagian kurma itu.[5] Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis ‘Ali dengan sanad jayyid (baik). Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh Ibnu As-Sakan.

Al-Baihaqi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—pernah mempekerjakan dirinya kepada seorang Yahudi untuk mengambilkan air untuknya dengan upah satu butir kurma untuk setiap ember air.[6]

Adapun penghalang dari sisi syariat adalah seperti bentuk-bentuk yang akan disebutkan.

Adapun pernyataan bahwa upah harus diketahui, berdasarkan hadis Abu Sa’id yang telah disebutkan.








Ad-Dararil Mudhiyyah - Syarat Tidak Ada Penipuan

Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani--rahimahullah--(wafat 1250 H) berkata di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah,

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجُوزُ شَرۡطُ عَدَمِ الۡخِدَاعِ، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ قَالَ: ذَكَرَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ يُخۡدَعُ فِي الۡبُيُوعِ، فَقَالَ: (مَنۡ بَايَعۡتَ فَقُلۡ لَا خِلَابَةَ) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ. وَالۡخِلَابَةُ: الۡخَدِيعَةُ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ مَنۡ قَالَ بِذٰلِكَ ثَبَتَ لَهُ الۡخِيَارُ سَوَاءٌ غُبِنَ أَوۡ لَمۡ يُغۡبَنۡ.

Adapun bolehnya syarat tidak adanya penipuan adalah berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar di dalam dua kitab Shahih. Beliau berkata: Seseorang menyebutkan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa dirinya ditipu dalam jual beli. Lantas Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang engkau ajak berjual beli, katakanlah: Tidak ada penipuan.”[1]

Di dalam bab ini ada beberapa hadis. Khilabah adalah penipuan.

Yang tampak dari hadis tersebut adalah bahwa siapa saja yang mengucapkan hal itu, berarti dia memiliki hak khiar, sama saja dia ditipu atau tidak.


Ad-Dararil Mudhiyyah - Larangan Menjual Barang yang Tidak Dimiliki

Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani (wafat 1250 H)--rahimahullah--berkata di dalam Ad-Darari Al-Mudhiyyah,

وَأَمَّا بَيۡعُ مَا لَيۡسَ عِنۡدَ الۡبَائِعِ، فَلِحَدِيثِ حَكِيمِ بۡنِ حِزَامٍ قَالَ: قُلۡتُ يَا رَسُولَ اللهِ يَأۡتِينِي الرَّجُلُ فَيَسۡأَلُنِي عَنِ الۡبَيۡعِ لَيۡسَ عِنۡدِي أَبِيعُهُ مِنۡهُ ثُمَّ أَبۡتَاعُهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ: (لَا تَبِعۡ مَا لَيۡسَ عِنۡدَكَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَصَحَّحَهُ التِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانَ. وَالۡمُرَادُ بِقَوۡلِهِ: (مَا لَيۡسَ عِنۡدَكَ)، مَا لَيۡسَ فِي مُلۡكِكَ وَقُدۡرَتِكَ.

Adapun larangan menjual barang yang tidak dimiliki oleh penjual adalah berdasarkan hadis Hakim bin Hizam. Beliau berkata:

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku lalu dia memintaku untuk menjual barang yang tidak aku miliki. Aku bertransaksi dengannya lalu aku membelikan barang tersebut dari pasar.”

Rasulullah bersabda, “Jangan jual barang yang tidak engkau miliki!”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban menilainya sahih.

Yang diinginkan dengan sabda beliau, “barang yang tidak engkau miliki,” adalah barang yang tidak di dalam kekuasaanmu.

Ad-Dararil Mudhiyyah - Larangan Dua Jual Beli dalam Satu Transaksi

Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani (wafat 1250 H)--rahimahullah--berkata,

وَأَمَّا الۡبَيۡعَتَانِ فِي بَيۡعَةٍ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَالنَّسَائِيِّ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ: (إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ بَيۡعَتَيۡنِ فِي بَيۡعَةٍ). وَلَفۡظُ أَبِي دَاوُدَ: (مَنۡ بَاعَ بَيۡعَتَيۡنِ فِي بَيۡعَةٍ فَلَهُ أَوۡكَسُهُمۡ أَوِ الرِّبَا) وَأَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: (نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ صَفۡقَتَيۡنِ فِي صَفۡقَةٍ). قَالَ سِمَاكٌ: هُوَ الرَّجُلُ يَبِيعُ الۡبَيۡعَ فَيَقُولُ: هُوَ بِنَسِىءٍ كَذَا وَبِنَقۡدٍ كَذَا وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ. وَمَا ذَكَرَهُ سِمَاكٌ هُوَ مَعۡنَى الۡبَيۡعَتَيۡنِ فِي بَيۡعَةٍ. وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَفۡسِيرُ الشَّرۡطَيۡنِ فِي بَيۡعٍ بِمِثۡلِ هَٰذَا وَلَيۡسَ بِصَحِيحٍ، بَلِ الۡمُرَادُ بِالشَّرۡطَيۡنِ فِي بَيۡعَهٍ، إِنَّ الۡبَيۡعَ وَاحِدٌ شُرِطَ فِيهِ شَرۡطَانِ، وَهُنَا الۡبَيۡعُ الۡبَيۡعَانِ.

Larangan dua jual beli dalam satu transaksi adalah berdasarkan hadis Abu Hurairah riwayat Ahmad, An-Nasa`i, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi—beliau menilai sahih hadis tersebut—, “Sesungguhnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang dua jual beli dalam satu transaksi.”[1]

Lafaz dalam riwayat Abu Dawud, “Barang siapa melakukan dua jual beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang paling rendah atau (jika tidak, dia telah berbuat) riba.”[2]

Ahmad juga meriwayatkan dari hadis ‘Abdullah bin Mas’ud. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang dua transaksi dalam satu transaksi.

Simak berkata: Yaitu seseorang menjual barang, lalu dia katakan: Barang ini dengan kredit seharga sekian, dengan tunai seharga sekian. Para periwayatnya adalah para periwayat kitab Shahih. Yang disebutkan Simak itu adalah makna dua jual beli dalam satu transaksi.

Sudah disebutkan penjelasan dua syarat dalam satu jual beli dengan pengertian semisal ini, namun itu tidak benar. Yang dimaukan dengan dua syarat dalam satu jual beli adalah satu jual beli yang dipersyaratkan dua syarat padanya. Adapun dalam penjelasan ini, jual belinya ada dua.


[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1231 dan An-Nasa`i nomor 4632.
[2] HR. Abu Dawud nomor 3459.

Ad-Dararil Mudhiyyah - Puasa Sunah

Al-Imam Al-'Allamah Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani (wafat tahun 1250 hijriah) rahimahullah berkata:

بَابُ
صَوۡمِ التَّطَوُّعِ 


يُسۡتَحَبُّ صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ، وَتِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ، وَمُحَرَّمٍ، وَشَعۡبَانَ، وَالاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ وَأَيَّامِ الۡبِيضِ، وَأَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمُ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارُ يَوۡمٍ. 

Disukai puasa enam hari di bulan Syawal, sembilan hari pertama bulan Zulhijah, puasa Muharam, puasa Syakban, puasa Senin dan Kamis, dan puasa hari-hari putih. 

Puasa yang paling afdal adalah puasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. 

أَقُولُ: أَمَّا صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ فَلِحَدِيثٍ: (مَنۡ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتۡبَعَهُ سِتًّا مِنۡ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهۡرِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ. 

Aku berkata: Adapun puasa enam hari di bulan Syawal, adalah berdasarkan hadis, “Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu adalah puasa satu tahun.”[1] Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah dan selain beliau dari hadis Abu Ayyub. Di dalam bab ini ada beberapa hadis. 

وَأَمَّا صِيَامُ تِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ؛ فَلِمَا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ مِنۡ حَدِيثِ حَفۡصَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ قَالَتۡ: (أَرۡبَعٌ لَمۡ يَكُنۡ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالۡعَشۡرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ) وَأَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِلَفۡظٍ: (كَانَ يَصُومُ تِسۡعَ ذِي الۡحِجَّةِ، وَيَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَأَوَّلَ اثۡنَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ وَالۡخَمِيسِ)، وَقَدۡ أَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ عَنۡ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتۡ: (مَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَائِمًا فِي الۡعَشۡرِ قَطُّ). وَفِي رِوَايَةٍ: (لَمۡ يَصُمِ الۡعَشۡرَ قَطُّ). وَعَدَمُ رُؤۡيَتِهَا وَعِلۡمِهَا لَا يَسۡتَلۡزِمُ الۡعَدَمَ، وَآكَدُ التِّسۡعِ يَوۡمُ عَرَفَةَ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صَوۡمُ يَوۡمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيۡنِ مَاضِيَةً وَمُسۡتَقۡبَلَةً، وَصَوۡمُ يَوۡمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً). 

Adapun puasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah adalah berdasarkan riwayat yang pasti dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadis Hafshah riwayat Ahmad dan An-Nasa`i. Hafshah mengatakan, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah puasa Asyura, puasa sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, dan puasa tiga hari setiap bulan.”[2]

Abu Dawud meriwayatkannya dengan redaksi, “Dahulu, beliau berpuasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin awal bulan dan hari Kamis.”[3]

Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.”[4]

Dalam riwayat lain, “Beliau tidak pernah berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.” 

Ketiadaan penglihatan dan pengetahuan ‘Aisyah ini tidak mengharuskan ketiadaan perbuatan beliau. 

Yang paling ditekankan dari sembilan hari awal bulan Zulhijah adalah hari Arafah, karena telah pasti di dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadis Abu Qatadah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan yang akan datang. Puasa hari Asyura menghapus dosa satu tahun lalu.”[5]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ مُحَرَّمٍ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَمُسۡلِمٍ وَأَهۡلِ السُّنَنِ؛ أَنَّهُ ﷺ سُئِلَ أَيُّ الصِّيَامِ بَعۡدَ رَمَضَانُ أَفۡضَلُ؟ فَقَالَ: (شَهۡرُ اللهِ الۡمُحَرَّمُ)، وَآكَدُهُ يَوۡمُ عَاشُورَاءَ لِمَا وَرَدِ فِيهِ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الثَّابِتَةِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ: (أَنَّهُ ﷺ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَٰذَا يَوۡمُ عَاشُورَاءَ وَلَمۡ يُكۡتَبۡ عَلَيۡكُمۡ صِيَامُهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنۡ شَاءَ صَامَ، وَمَنۡ شَاءَ فَلۡيُفۡطِرۡ)، وَقَدۡ تَقَدَّمَ أَنَّهُ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً. وَثَبَتَ فِي مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ: (أَنَّهُ لَمَّا أَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوۡمٌ يُعَظِّمُهُ الۡيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ: إِذَا كَانَ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ إِنۡ شَاءَ اللهُ صُمۡنَا التَّاسِعَ، فَلَمۡ يَأۡتِ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ). 

Adapun puasa bulan Muharam berdasarkan hadis Abu Hurairah riwayat Ahmad, Muslim, dan penyusun kitab Sunan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya puasa apa yang paling afdal setelah Ramadan. Lalu beliau bersabda, “(Puasa) bulan Allah, yaitu Muharam.”[6]

Yang paling ditekankan adalah hari Asyura, berdasarkan hadis-hadis yang sabit yang menerangkan tentangnya di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, dari sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan puasa hari Asyura. Kemudian beliau bersabda, “Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan puasa bagi kalian. Namun aku berpuasa. Maka, siapa saja ingin, silakan berpuasa, dan siapa saja yang ingin, silakan tidak berpuasa.”[7]

Telah disebutkan bahwa puasa Asyura menghapuskan dosa satu tahun yang lalu. 

Juga telah pasti di dalam riwayat Muslim dan selainnya, bahwa ketika Rasulullah memerintahkan puasa hari Asyura, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagung-agungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” 

Rasulullah bersabda, “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan.” 

Namun tahun depan belum tiba, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.[8]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ شَعۡبَانَ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ: (أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمۡ يَكُنۡ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهۡرًا تَامًّا إِلَّا شَعۡبَانَ، يَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ: (مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَهۡرٍ مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَعۡبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلۡ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (وَمَا رَأَيۡتُهُ فِي شَهۡرٍ أَكۡثَرَ مِنۡهُ صِيَامًا فِي شَعۡبَانَ). 

Adapun puasa bulan Syakban adalah berdasarkan hadis Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu tahun tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali Syakban. Beliau menyambungnya dengan Ramadan.[9] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan penulis kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan. 

Di dalam dua kitab Shahih, dari hadis ‘Aisyah, “Rasulullah tidak pernah berpuasa sebagaimana beliau berpuasa di bulan Syakban. Dahulu, beliau banyak berpuasa di bulan Syakban kecuali sedikit. Bahkan beliau berpuasa di sepanjang bulan Syakban.”[10] Dalam redaksi lain, “Aku tidak melihat beliau di suatu bulan lebih banyak berpuasa daripada di bulan Syakban.”[11]

وَأَمَّا الۡإِثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسُ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الۡاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، وَأَخۡرَجَهُ النَّسَائِيُّ أَيۡضًا وَفِي إِسۡنَادِهِ مَجۡهُولٌ، مَعَ أَنَّهُ قَدۡ صَحَّحَهُ ابۡنُ خُزَيۡمَةَ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (تُعۡرَضُ الۡأَعۡمَالُ كُلَّ اثۡنَيۡنِ وَخَمِيسٍ فَأُحِبُّ أَنۡ يُعۡرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ)، وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الاثۡنَيۡنِ فَقَالَ: (ذٰلِكَ يَوۡمُ وُلِدۡتُ فِيهِ، وَأُنۡزِلَ عَلَيَّ فِيهِ). 

Adapun puasa hari Senin dan Kamis adalah berdasarkan hadis ‘Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memilih untuk puasa hari Senin dan Kamis.[12] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi—dan beliau menilainya sahih—, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—. Abu Dawud juga meriwayatkan semisal itu dari hadis Usamah bin Zaid. An-Nasa`i juga meriwayatkannya. Di dalam sanadnya ada rawi yang majhul (tidak diketahui), bersamaan dengan itu Ibnu Khuzaimah telah menilainya sahih. 

Ahmad dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) setiap hari Senin dan Kamis, sehingga aku senang amalanku dihadapkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.”[13]

Di dalam Shahih Muslim rahimahullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin, lantas beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.”[14]

وَأَمَّا صَوۡمُ أَيَّامِ الۡبِيضِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيرِهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثٌ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، فَهَٰذَا صِيَامُ الدَّهۡرِ كُلِّهِ)، وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا صُمۡتَ مِنَ الشَّهۡرِ ثَلَاثَةً فَصُمۡ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ. 

Adapun puasa hari-hari putih adalah berdasarkan hadis Abu Qatadah riwayat Muslim dan selainnya. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hari setiap bulan dan Ramadan ke Ramadan berikutnya, ini adalah puasa satu tahun penuh.”[15]

Ahmad, An-Nasa`i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—meriwayatkan dari hadis Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau berpuasa tiga hari dari sebulan, maka berpuasalah hari ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas.”[16] Di dalam bab ini ada beberapa hadis. 

وَأَمَّا كَوۡنُ أَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمَ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارَ يَوۡمٍ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (صُمۡ فِي كُلِّ شَهۡرٍ ثَلَاثَةً، قُلۡتُ: إِنِّي أَقۡوَى مِنۡ ذٰلِكَ، فَلَمۡ يَزَلۡ يَرۡفَعۡنِي حَتَّى قَالَ: صُمۡ يَوۡمًا وَأَفۡطِرۡ يَوۡمًا؛ فَإِنَّهُ أَفۡضَلُ الصِّيَامِ، وَهُوَ صَوۡمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ). 

Adapun puasa sunah yang paling afdal adalah puasa sehari dan tidak berpuasa sehari, adalah berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan.” 

Aku (‘Abdullah bin ‘Amr) berkata, “Sesungguhnya aku lebih kuat daripada itu.” Maka, Rasulullah terus menambah kekerapan puasa untukku hingga beliau bersabda, “Puasalah satu hari dan tidak berpuasalah satu hari. Karena itu adalah puasa yang paling afdal dan itu adalah puasa saudaraku Dawud ‘alaihis salam.”[17]


















Ad-Dararil Mudhiyyah - Pasal Wajibnya Kada Puasa dan Rukhsah Berbuka bagi Musafir

فَصۡلٌ
فِي وُجُوبِ الۡقَضَاءِ وَرُخۡصَةِ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ 


يَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ أَنۡ يَقۡضِيَ. وَالۡفِطۡرُ لِلۡمُسَافِرِ وَنَحۡوِهِ رُخۡصَةٌ إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةٌ. وَمَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ، وَالۡكَبِيرُ الۡعَاجِزُ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ بِإِطۡعَامِ مِسۡكِينٍ. 


  • Wajib mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur syar’i.
  • Tidak berpuasa bagi musafir dan semisalnya adalah rukhsah. Kecuali apabila akan celaka atau lemah dalam menghadapi peperangan, maka berbuka menjadi wajib.
  • Siapa saja yang mati dan masih punya utang puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.
  • Orang yang sudah tua lagi lemah, baik untuk berpuasa atau menggantinya, maka membayar kafarat setiap harinya memberi makan satu orang miskin. 

أَقُولُ: أَمَّا وُجُوبُ الۡقَضَاءِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ كَالۡمُسَافِرِ وَالۡمَرِيضِ؛ فَقَدۡ صَرَّحَ بِذٰلِكَ الۡقُرۡآنُ الۡكَرِيمُ: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ﴾ [البقرة: ١٨٤] وَقَدۡ وَرَدَ فِي الۡحَائِضِ حَدِيثُ مُعَاذٍ عَنۡ عَائِشَةَ وَقَدۡ تَقَدَّمَ ذِكۡرُهُ، وَالنُّفَسَاءُ مِثۡلُهَا. 

Aku katakan: Adapun wajibnya mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur yang dibenarkan oleh syariat, seperti musafir dan orang sakit, maka Alquran telah menerangkan hal itu. Yaitu ayat yang artinya, “Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184). 

Juga ada hadis Mu’adz dari ‘Aisyah tentang wanita yang sedang haid. Hadis itu telah disebutkan. Yang semisal itu adalah wanita yang sedang nifas. 

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ رُخۡصَةً إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةً، فَالۡأَحَادِيثُ مِنۡهَا قُوۡلُهُ ﷺ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ) لَمَّا سَأَلَهُ حَمۡزَةُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيُّ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ (كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: (يَا رَسُولَ اللهِ أَجِدُ مِنِّي قُوَّةً عَلَى الصَّوۡمِ فَهَلۡ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ: هِيَ رُخۡصَةٌ مِنَ اللهِ فَمَنۡ أَخَذَهَا فَحَسَنٌ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَصُومَ فَلَاجُنَاحَ عَلَيۡهِ). 

Tidak berpuasa bagi musafir adalah rukhsah kecuali apabila dia khawatir celaka atau lemah dalam berperang, maka berbuka menjadi wajib. Ada banyak hadis, di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, tidak usah berpuasa.”[1] Hal itu ketika beliau ditanyai oleh Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami tentang puasa ketika safar. Riwayat ini ada di dalam dua kitab Shahih dari hadis ‘Aisyah. 

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Anas, “Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa. Dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.”[2]

Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, aku memiliki kekuatan untuk berpuasa (ketika safar). Apakah aku berdosa?” 

Rasulullah menjawab, “(Tidak berpuasa ketika safar) merupakan rukhsah dari Allah. Siapa saja yang mengambilnya, maka baik. Dan siapa saja yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.”[3]

وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي سَفۡرَةٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدۡ ظُلِّلَ عَلَيۡهِ فَقَالَ: مَا هَٰذَا؟ فَقَالُوا: صَائِمٌ، فَقَالَ: لَيۡسَ مِنَ الۡبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ، وَأَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: (سَافَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى مَكَّةَ وَنَحۡنُ صِيَامٌ قَالَ: فَنَزَلۡنَا مَنۡزِلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّكُمۡ قَدۡ دَنَوۡتُمۡ مِنۡ عَدُوِّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوَى لَكُمۡ، فَكَانَتۡ رُخۡصَةً فَمِنَّا مَنۡ صَامَ وَمِنَّا مَنۡ أَفۡطَرَ. ثُمَّ نَزَلۡنَا مَنۡزِلًا آخَرَ، فَقَالَ: إِنَّكُمۡ مُصۡبِحُونَ عَدُوَّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوى لَكُمۡ فَافۡطُرُوا فَكَانَتۡ عَزِيمَةً، ثُمَّ لَقَدۡ رَأَيۡتُنَا نَصُومُ بَعۡدَ ذٰلِكَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي السَّفَرِ). 

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah safar. Beliau melihat ada orang-orang mengerumuni seseorang yang diberi naungan. 

Beliau bertanya, “Ada apa ini?” 

Orang-orang menjawab, “Dia berpuasa.” 

Rasulullah bersabda, “Berpuasa ketika safar tidak termasuk kebajikan.”[4]

Imam Muslim rahimahullah, Ahmad, dan Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Sa’id. Beliau berkata: Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Makkah dalam keadaan kami berpuasa. Abu Sa’id berkata: Lalu kami singgah di suatu tempat. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian sudah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa lebih kuat bagi kalian.” 

Ketika itu, tidak berpuasa adalah rukhsah sehingga di antara kami ada yang berpuasa dan di antara kami ada yang tidak. Kemudian kami singgah di tempat lain. 

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya besok pagi kalian akan bertemu dengan musuh kalian dan tidak berpuasa lebih kuat untuk kalian. Berbukalah!” 

Sehingga tidak berpuasa ketika itu merupakan kewajiban. Kemudian setelah itu sungguh aku melihat kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.[5]

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى كَوۡنِ الصَّوۡمِ رُخۡصَةً فِي السَّفَرِ الۡجُمۡهُورُ، وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ بَعۡضِ الظَّاهِرِيَّةِ وَهُوَ مَحۡكِيٌّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَالۡإِمَامِيَّةِ أَنَّ الۡفِطۡرَ فِي السَّفَرِ وَاجِبٌ، وَأَنَّ الصَّوۡمَ لَا يُجۡزِىءُ وَكَذَا الۡمُسَافِرُ وَالۡمُرۡضِعُ وَالۡحُبۡلَى لِمَا أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ الۡكَعۡبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الۡمُسَافِرِ الصَّوۡمَ وَشَطۡرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الۡحُبۡلَي وَالۡمُرۡضِعِ الصَّوۡمَ). 

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa ketika safar adalah rukhsah. Telah diriwayatkan dari sebagian penganut paham Zhahiriyyah dan dikisahkan dari Abu Hurairah dan Imamiyyah, bahwa berbuka ketika safar adalah wajib dan bahwa berpuasa tidak sah. 

Demikian pula musafir, wanita yang menyusui, dan wanita yang hamil, berdasarkan riwayat Ahmad dan penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan. Yaitu riwayat dari Anas bin Malik Al-Ka’bi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan puasa (pada saat itu) dan separuh salat dari musafir. Juga menggugurkan puasa (pada saat itu) dari wanita yang hamil dan menyusui.”[6]

وَأَمَّا كَوۡنُ مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ؛ فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صِيَامٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ)، وَقَدۡ زَادَ الۡبَزَّارُ لَفۡظَ (إِنۡ شَاءَ). قَالَ فِي مَجۡمَعِ الزَّوَائِدِ وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ، وَبِهِ قَالَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ الۡحَدِيثِ، وَبَعۡضُ أَصۡحَابِ الشَّافِعِيَّةِ، وَأَبُو ثَوۡرٍ، وَالصَّادِقُ، وَالنَّاصِرُ، وَالۡمُؤَيَّدُ بِاللهِ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ قَالَ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي الۡخِلَافِيَّاتِ: هَٰذِهِ السُّنَّةُ ثَابِتَةٌ لَا أَعۡلَمُ خِلَافًا بَيۡنَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ فِي صِحَّتِهَا. وَذَهَبَ جمُهۡوُر ُالۡفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ صَوۡمُ الۡوَلِيِّ عَنۡ وَلِيِّهِ. 

Adapun perihal siapa saja yang mati dalam keadaan ada tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya, maka berdasarkan hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya.”[7]

Al-Bazzar menambahkan dengan lafal, “Jika dia mau.” Beliau berkata di dalam Majma’ Az-Zawa`id: Dan sanadnya hasan. 

Sebagian ahli hadis, sebagian murid Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Ash-Shadiq, An-Nashir, Al-Mu`ayyad Billah, Al-Auza’i, dan Ahmad bin Hanbal berpendapat dengannya. Al-Baihaqi berkata dalam Al-Khilafiyyat: Sunah ini sabit/telah pasti. Aku tidak mengetahui ada perselisihan antara ahli hadis tentang kesahihannya. Mayoritas fukaha berpendapat tidak wajibnya puasa wali orang yang meninggal atas namanya. 

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡكَبِيرِ الۡعَاجِزِ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ بِمَا ذُكِرَ؛ فَلِحَدِيثِ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ الثَّابِتِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: (أُنۡزِلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٤] كَانَ مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيَفۡتَدِيَ حَتَّى أُنۡزِلَتِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا فَنَسَخَتۡهَا). وَأَخۡرَجَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، عَنۡ مُعَاذٍ بِنَحۡوِ مَا تَقَدَّمَ وَزَادَ ثُمَّ أَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٥] فَأَثۡبَتَ اللهُ صِيَامَهُ عَلَى الۡمُقِيمِ الصَّحِيحِ، وَرَخَّصَ فِيهِ لِلۡمَرِيضِ وَالۡمُسَافِرِ وَثَبَّتَ الۡإِطۡعَامَ لِلۡكَبِيرِ الَّذِي لَا يَسۡتَطِيعُ الصِّيَامَ. 

Adapun orang yang sudah tua yang tidak mampu menunaikan puasa dan kada, maka membayar kafarat dengan yang telah disebutkan (memberi makan setiap harinya satu orang miskin), adalah berdasar hadis Salamah bin Al-Akwa’ yang sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. 

Beliau mengatakan: Ketika turun ayat yang artinya, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184), siapa saja yang ingin tidak berpuasa maka dia membayar fidiah. Sampai ayat setelahnya turun dan menasakhnya.[8]

Hadis ini dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Mu’adz seperti yang telah disebutkan dan beliau menambahkan: Kemudian Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi Allah menetapkan kewajiban puasa Ramadan bagi orang yang tidak bepergian dan sehat; dan Allah memberi rukhsah kepada orang sakit dan musafir; dan Allah menetapkan fidiah memberi makan seorang miskin bagi orang yang tua yang sudah tidak mampu berpuasa. 

وَأَخۡرَجَ الۡبُخَارِيُّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (لَيۡسَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ مَنۡسُوخَةً هِيَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ وَالۡمَرۡأَةِ الۡكَبِيرَةِ لَا يَسۡتَطِيعَانِ أَنۡ يَصُومَا فَيُطۡعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا)، وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لَهُ: أَثَبَتَتۡ لِلۡحُبۡلَى وَالۡمُرۡضِعِ أَنۡ يُفۡطِرَا وَيُطۡعِمَا كُلَّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا. وَأَخۡرَجَ الدَّارَقُطۡنِيُّ وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (رُخِّصَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيُطۡعِمَ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ)، وَهَٰذَا عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ تَفۡسِيرٌ لِمَا فِي الۡقُرۡآنِ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الۡإِشۡعَارِ بِالرَّفۡعِ فَكَانَ ذٰلِكَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ الۡكَفَّارَةَ هِيَ إِطۡعَامُ مِسۡكِينٍ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ. 

Al-Bukhari mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Ayat ini tidak mansukh. Ayat ini berlaku untuk orang laki-laki atau wanita yang sudah tua renta yang sudah tidak mampu berpuasa, maka dia memberi makan untuk ganti setiap harinya satu orang miskin.”[9]

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkata, “Tetap berlaku bagi wanita yang hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari satu orang miskin.”[10]

Ad-Daraquthni mengeluarkan riwayat dan disahihkan oleh Al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Diberi keringanan untuk orang yang sudah sangat tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin dan tidak wajib kada baginya.” 

Ucapan dari Ibnu ‘Abbas ini sebagai tafsir ayat dalam Alquran beserta adanya pengabaran bahwa pendapat beliau bersumber dari Nabi, maka hal itu menjadi dalil bahwa kafarat (orang yang tidak mampu berpuasa) adalah memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. 











Ad-Dararil Mudhiyyah - Pasal Pembatal Saum

Al-Imam Al-'Allamah Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani (wafat tahun 1250 H) rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Dararil Mudhiyyah:

فَصۡلٌ

فِي ذِكۡرِ مُبۡطِلَاتِ الصَّوۡمِ 

يَبۡطُلُ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ وَالۡجِمَاعِ وَالۡقَيۡءِ عَمۡدًا، وَيَحۡرُمُ الۡوِصَالُ. وَعَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا كَفَّارَةٌ كَكَفَّارَةِ الظِّهَارِ، وَيُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ. 

Puasa menjadi batal karena makan, minum, jimak, dan muntah dengan sengaja. Puasa wishal haram. Bagi siapa saja yang membatalkan puasa dengan sengaja wajib kafarat seperti kafarat zhihar. Disukai menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur. 

أَقُولُ: أَمَّا بُطۡلَانُ الصَّوۡمِ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ عَمۡدًا فَلَا خِلَافَ فِي ذٰلِكَ، وَأَمَّا مَعَ نِسۡيَانٍ فَلَا، لِمَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوۡ شَرِبَ فَلۡيُتِمَّ صَوۡمَهُ فَاللهُ أَطۡعَمَهُ وَسَقَاهُ). وَفِي لَفۡظِ الدَّارُقُطۡنِيُّ بِإِسۡنَادٍ صَحِيحٍ: (فَإِنَّمَا هُوَ رِزۡقٌ سَاقَهُ اللهُ إِلَيۡهِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ). وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ لِلدَّارُقُطۡنِيِّ، وَابۡنِ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنِ حِبَّانَ، وَالۡحَاكِمِ: (مَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا مِنۡ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ)، وَإِسۡنَادُهُ صَحِيحٌ أَيۡضًا. 

Aku katakan: Adapun batalnya puasa karena makan dan minum dengan sengaja (tidak lupa), maka tidak ada perselisihan padanya. Adapun dalam keadaan lupa, maka tidak batal. Berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang lupa sedang berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaknya ia melanjutkan menyempurnakan puasanya. Karena Allah yang telah memberinya makan dan minum.”[1] Di dalam lafal Ad-Daruquthni dengan sanad yang sahih, “Karena itu adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadanya dan tidak ada kewajiban kada puasa atasnya.” Di dalam lafal yang lain milik Ad-Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di suatu hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.” Sanadnya juga sahih. 

وَهَٰكَذَا الۡجِمَاعُ لَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ يُبۡطِلُ الصِّيَامَ إِذَا وَقَعَ مِنۡ عَامِدٍ، وَأَمَّا إِذَا وَقَعَ مَعَ الۡنِسۡيَانِ فَبَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَلۡحَقَهُ بِمَنۡ أَكَلَ أَوۡ شَرِبَ نَاسِيًا، وَتَمَسَّكَ بِقَوۡلِهِ فِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى: (وَمَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ). وَبَعۡضُهُمۡ مَنَعَ مِنَ الۡإِلۡحَاقِ، وَأَمَّا الۡقَيۡءُ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ ذَرَعَهُ الۡقَيۡءُ فَلَيۡسَ عَلَيۡهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسۡتَقَاءَ عَمۡدًا فَلۡيَقۡضِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَاۡبُن حِبَّانَ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ. 

Demikian pula jimak, tidak ada perselisihan bahwa hal itu membatalkan puasa ketika dilakukan oleh orang yang sengaja (tidak lupa). Adapun ketika dilakukan dalam keadaan lupa, maka sebagian ulama mengikutkannya dengan orang yang makan atau minum dalam keadaan lupa. Mereka berpegang dengan sabda Nabi di dalam riwayat yang lain, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di siang hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.” Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak mengikutkan (jimak dalam keadaan lupa dengan makan minum dalam keadaan lupa). Adapun muntah secara sengaja, maka berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang dikalahkan oleh muntah, maka tidak ada kewajiban kada puasa atasnya. Adapun yang memuntahkan dengan sengaja, maka dia harus mengada.”[2] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, dan Al-Hakim; dan beliau menilainya sahih. 

وَقَدۡ حَكَى ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ الۡإِجۡمَاعَ عَلَى أَنَّ تَعَمُّدَ الۡقَيۡءِ يُفۡسِدُ الصِّيَامَ وَفِيهِ نَظَرٌ، فَإِنَّ ابۡنَ مَسۡعُودٍ، وَعِكۡرِمَةَ، وَرَبِيعَةَ، وَالۡهَادِيَ، وَالۡقَاسِمَ قَالُوا: إِنَّهُ لَا يُفۡسِدُ الصَّوۡمَ سَوَاءً كَانَ غَالِبًا أَوۡ مُسۡتَخۡرَجًا مَالَمۡ يَرۡجِعۡ مِنۡهُ شَيۡءٌ بِاخۡتِيَارِهِ، وَاسۡتَدَلُّوا بِحَدِيثٍ: (ثَلَاثٌ لَا يُفۡطِرۡنَ: الۡقَيۡءُ وَالۡحِجَامَةُ وَالۡاحۡتِلَامُ) أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ، وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَعَلَى فَرۡضِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلۡإِسۡتِدۡلَالِ فَلَا يُعَارِضُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيۡرَةَ لِأَنَّ هَٰذَا مُطۡلَقٌ وَذَاكَ مُقَيَّدٌ بِالۡعَمۡدِ. 

Ibnu Al-Mundzir mengisahkan adanya kesepakatan bahwa sengaja muntah dapat merusak puasa. Namun kesepakatan ini perlu dilihat lagi karena Ibnu Mas’ud, ‘Ikrimah, Rabi’ah, Al-Hadi, dan Al-Qasim berkata: Bahwa hal itu tidak merusak puasa, sama saja apakah muntah itu keluar tanpa diusahakan atau memang sengaja dikeluarkan selama tidak ada bagian muntahan itu yang masuk kembali dengan dia upayakan. Mereka berdalil dengan sebuah dalil, “Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: muntah, bekam, dan mimpi basah.”[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Abu Sa’id. Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan dia daif. Dan atas dasar pendapat yang menetapkan bolehnya hadis tersebut dipakai untuk berdalil, hal itu tidak bertentangan dengan hadis Abu Hurairah. Karena hadis ini mutlak, sementara hadis Abu Hurairah itu dikaitkan dengan unsur kesengajaan. 

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ الۡوِصَالُ؛ فَلِنَهۡيِهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَابۡنِ عُمَرَ، وَعَائِشَةَ وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ. 

Adapun haramnya puasa wishal (menyambung puasa) adalah berdasarkan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal itu. Sebagaimana di dalam hadis Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, dan ‘Aisyah yang terdapat di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. Di dalam bab ini ada beberapa hadis. 

وَأَمَّا وُجُوبُ الۡكَفَّارَةِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ الۡمُجَامِعِ فِي رَمَضَانَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ: (هَلۡ تَجِدُ مَا تُعۡتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تَصُومَ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَجِدُ مَا تُطۡعِمُ سِتِّينَ مِسۡكِينًا؟ قَالَ: لَا، ثُمَّ أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمۡرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقۡ بِهَٰذَا، قَالَ: فَهَلۡ عَلَى أَفۡقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيۡنَ لَابَتَيۡهَا أَهۡلُ بَيۡتٍ أَحۡوَجُ مِنَّا، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ وَقَالَ: اذۡهَبۡ فَأَطۡعِمۡهُ أَهۡلَكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَعَائِشَةَ. وَقَدۡ قِيلَ إِنَّ الۡكَفَّارَةَ لَا تَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَامِدًا بِأَيِّ سَبَبٍ بَلۡ بِالۡجِمَاعِ فَقَطۡ، وَلَكِنۡ الرَّجُلُ إِنَّمَا جَامَعَ امۡرَأَتَهُ فَلَيۡسَ فِي الۡجِمَاعِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إِلَّا مَا فِي الۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ لِكَوۡنِ الۡجَمِيعُ حَلَالًا لَمۡ يَحۡرُمۡ إِلَّا لِعَارِضِ الصَّوۡمِ. وَقَدۡ وَقَعَ فِي رِوَايَةٍ مِنۡ هَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ أَفۡطَرَ وَلَمۡ يُذۡكَرِ الۡجِمَاعُ. 

Adapun wajibnya kafarat bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja, maka berdasarkan hadis pria yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadan. 

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu yang bisa membebaskan seorang budak?” 

Pria itu menjawab, “Tidak.” 

Nabi bertanya, “Apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?” 

Pria itu menjawab, “Tidak.” 

Nabi bertanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” 

Pria itu menjawab, “Tidak.” 

Kemudian ada yang datang membawa sekeranjang kurma. Nabi bersabda, “Bersedekahlah dengan ini!” 

Pria itu berkata, “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Tidak ada di antara dua tanah berbatu hitam ini seorang penghuni rumah pun yang lebih butuh daripada kami.” 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi-gigi geraham beliau dan beliau bersabda, “Berilah makan keluargamu dengannya!”[4]

Hadis ini ada di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Abu Hurairah dan ‘Aisyah. 

Ada yang berkata bahwa kafarat tidak wajib bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja dengan sebab yang manapun kecuali jimak saja. Akan tetapi pria tadi menjimak istrinya dan tidaklah pada jimak di siang hari bulan Ramadan kecuali ada pula pada makan dan minum, karena semuanya itu adalah perkara yang halal kecuali ketika sedang puasa. Juga terdapat suatu riwayat dari hadis ini bahwa pria itu batal puasanya, namun tidak disebutkan penyebabnya adalah jimak. 

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ؛ فَلِحَدِيثِ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيۡرٍ مَا عَجَّلُوا الۡفِطۡرَ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَعَنۡ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيۡرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الۡفِطۡرَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَفِي إِسۡنَادِهِ سُلَيۡمَانُ بۡنُ أَبِي عُثۡمَانَ، قَالَ أَبُو حَاتِمٍ، مَجۡهُولٌ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ: (إِنَّهُ كَانَ بَيۡنَ تَسَحُّرِهِ ﷺ وَدُخُولِهِ فِي الصَّلَاةِ قَدۡرَ مَا يَقۡرَأُ الرَّجُلُ خَمۡسِينَ آيَةً) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ. 

Adapun disukainya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur adalah berdasarkan hadis Sahl bin Sa’d: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[5] Hadis ini ada dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. 

Dan dari Abu Dzarr, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa akan baik selama mereka mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan buka puasa.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan dalam sanadnya ada Sulaiman bin Abu ‘Utsman. Abu Hatim berkata, “Dia majhul (tidak diketahui).” 

Telah sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Zaid bin Tsabit bahwa waktu antara makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuknya beliau (ke masjid) untuk salat adalah sekadar seseorang membaca lima puluh ayat.”[6] Di dalam bab ini ada banyak hadis. 


[1] HR. Al-Bukhari nomor 1933, Muslim nomor 1155, Ibnu Majah nomor 1673, Ad-Darimi, dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/395, 425). 

[2] HR. Abu Dawud nomor 2380, At-Tirmidzi nomor 720, Ibnu Majah nomor 1676, Ad-Darimi, Malik, dan Ahmad (2/498). 




Ad-Dararil Mudhiyyah - Kriteria Calon Istri

Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,
وَيَنۡبَغِي أَنۡ تَكُونَ الۡمَرۡأَةُ وَدُودًا، وَلُودًا، بِكۡرًا، ذَاتَ جَمَالٍ وَحَسَبٍ وَدِينٍ، وَمَالٍ
Seyogyanya wanita (yang dinikahi) adalah wanita yang penyayang, subur, perawan, cantik, memiliki nasab yang baik, memiliki agama yang baik, dan memiliki harta.

Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah:

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَنۡبَغِي أَنۡ تَكُونَ الۡمَرۡأَةُ وَدُودًا، وَلُودًا، وَبِكۡرًا ذَاتَ جَمَالٍ وَحَسَبٍ وَدِينٍ وَمَالٍ، فَلِحَدِيثِ أَنَسٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَابۡنِ حِبَّان وَصَحَّحَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (تَزَوَّجُوا الۡوَدُودَ الۡوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الۡأَنۡبِيَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ)، وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَمۡرُو، وَفِي إِسۡنَادِهِ جَرِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡعَامِرِي، وَقَدۡ وُثِّقَ وَفِيهِ ضَعۡفٌ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانَ مِنۡ حَدِيثِ مَعۡقِلِ بۡنِ يَسَارٍ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ: (تَزَوَّجۡتَ بِكۡرًا أَمۡ ثَيِّبًا؟ قَالَ: ثَيِّبًا، قَالَ: فَهَلَّا تَزَوَّجۡتَ بِكۡرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ)؟ وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (تُنۡكَحُ الۡمَرۡأَةُ لِأَرۡبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظۡفَرۡ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتۡ يَدَاكَ). وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَغَيۡرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ الۡمَرۡأَةَ تُنۡكَحُ عَلَى دِينِهَا، وَمَالِهَا، وَجَمَالِهَا، فَعَلَيۡكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتۡ يَدَاكَ). 

Adapun perihal sebaiknya wanita (yang dinikahi) bersifat penyayang, subur, perawan, memiliki paras cantik, nasab yang baik, agama yang bagus, dan harta, maka berdasar hadis Anas riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, dan beliau nyatakan sahih; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hari kiamat di hadapan para nabi.” Ahmad juga mengeluarkan riwayat semisal itu dari hadis Ibnu ‘Amr, di dalam sanadnya ada Jarir bin ‘Abdullah Al-‘Amiri. Beliau dinyatakan tepercaya namun ada kelemahan padanya. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan Ibnu Hibban juga mengeluarkan riwayat[1] semacam itu dari hadis Ma’qil bin Yasar. 

Di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Jabir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau menikah dengan perawan atau janda?” Jabir menjawab, “Janda.” Nabi bersabda, “Mengapa engkau tidak menikahi perawan sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu?”[2]

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, kalau tidak, kedua tanganmu akan celaka.”[3] Di dalam Shahih Muslim rahimahullahu ta’ala dan selain beliau, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya wanita dinikahi karena agama, harta, dan kecantikannya. Maka, pilihlah wanita yang baik agamanya, karena kalau tidak, engkau akan sengsara.”[4]


[1] HR. Abu Dawud nomor 2050, An-Nasa`i nomor 3227, dan Ibnu Hibban (6/143). 

Ad-Dararil Mudhiyyah - Hukum Menikah dan Membujang

Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,
يُشۡرَعُ لِمَنِ اسۡتَطَاعَ الۡبَاءَةَ، وَبَجِبُ عَلَىٰ مَنۡ خَشِيَ الۡوُقُوعَ فِي الۡمَعۡصِيَةِ، وَالتَّبَتُّلُ غَيۡرُ جَائِزٍ إِلَّا لِعَجۡزٍ عَنِ الۡقِيَامِ بِمَا لَا بُدَّ مِنۡهُ.
Nikah disyariatkan bagi siapa saja yang mampu menikah, bahkan wajib bagi siapa saja yang dikhawatirkan terjatuh ke dalam maksiat. Hidup membujang tidak boleh kecuali bagi yang tidak mampu mengerjakan kewajiban-kewajiban.
Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata:
أَقُولُ: أَمَّا مَشۡرُوعِيَّتِهِ لِمَنِ اسۡتَطَاعَ الۡبَاءَةَ، فَلَمَّا وَرَدَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا مَعۡشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلۡبَصَرِ، وَأَحۡصَنُ لِلۡفَرۡجِ، وَمَنَ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ، فَعَلَيۡهِ بِالصَّوۡمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ). وَالۡمُرَادُ بِالۡبَاءَةِ النِّكَاحُ. وَالۡأَحَادِيثُ الۡوَارِدَةُ فِي التَّرۡغِيبِ فِي النِّكَاحِ كَثِيرَةٌ.
Adapun disyariatkannya menikah bagi siapa saja yang mampu ba`ah, adalah berdasarkan hadis yang terdapat di dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Ibnu Mas’ud, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu ba`ah, maka hendaknya ia menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya ia puasa, karena puasa dapat memutus syahwat.”[1] Dan yang dimaukan dengan ba`ah adalah menikah. Dan hadis-hadis yang ada tentang anjuran menikah ada banyak.
وَأَمَّا وُجُوبُهُ عَلَى مَنۡ خَشِيَ الۡوُقُوعَ فِي الۡمَعۡصِيَةِ، فَلِأَنَّ اجۡتِنَابَ الۡحَرَامِ وَاجِبٌ، وَإِذَا لَمۡ يَتِمَّ الۡإِجۡتِنَابُ إِلَّا بِالنِّكَاحِ كَانَ وَاجِبًا، وَعَلَى ذٰلِكَ تُحۡمَلُ الۡأَحَادِيثُ الۡمُقۡتَضِيَةُ لِوُجُوبِ النِّكَاحِ كَحَدِيثِ أَنَسٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا؛ أَنَّ نَفَرًا مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ بَعۡضُهُمۡ: لَا أَتَزَوَّجُ، وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: أُصَلِّى وَلَا أَنَامُ، وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: أَصُومُ وَلَا أُفۡطِرُ، فَبَلَغَ ذٰلِكَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: (مَا بَالُ أَقۡوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا، لٰكِنِّي أَصُومُ وَأُفۡطِرُ وَأُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنۡ رَغِبَ عَنۡ سُنَّتِي فَلَيۡسَ مِنِّي)، وَأَخۡرَجَ ابۡنُ مَاجَهۡ وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ الۡحَسَنِ، عَنۡ سَمُرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ (نَهَى عَنِ التَّبَتُّلِ). قَالَ التِّرۡمِذِيُّ: إِنَّهُ حَسَنٌ غَرِيبٌ. قَالَ: وَرَوَى الۡأَشۡعَثُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ هٰذَا الۡحَدِيثَ عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ هِشَامٍ، عَنۡ عَائِشَةَ وَيُقَالُ كِلَا الۡحَدِيثَيۡنِ صَحِيحٌ انۡتَهَى. وَفِي سِمَاعِ الۡحَسَنِ عَنۡ سَمُرَةَ مَقَالٌ مَعۡرُوفٌ. وَأَخۡرَجَ النَّهۡيَ عَنِ التَّبَتُّلِ أَحۡمَدُ وَابۡنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ. وَأَخۡرَجَ ابۡنُ مَاجَةۡ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (النِّكَاحُ مِنۡ سُنَّتِي، فَمَنۡ لَمۡ يَعۡمَلۡ بِسُنَّتِي فَلَيۡسَ مِنِّي).
Adapun kewajiban menikah bagi siapa saja yang khawatir jatuh ke dalam maksiat karena menjauhi perkara yang haram adalah wajib. Sehingga ketika tidak bisa terwujud perbuatan menjauhi keharaman tersebut kecuali dengan menikah, maka menikah menjadi wajib. Dan hadis-hadis yang menetapkan kewajiban menikah dibawa ke makna itu, seperti hadis Anas di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya; Bahwa ada beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka berkata: Aku tidak akan menikah. Sebagian yang lain berkata: Aku akan selalu salat dan tidak akan tidur malam. Dan sebagian lainnya berkata: Aku akan terus berpuasa dan tidak pernah tidak berpuasa. Ucapan itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Kenapa ada orang-orang yang berkata begini dan begitu? Padahal aku puasa dan juga tidak berpuasa, aku salat dan aku juga tidur malam, dan aku menikahi para wanita. Siapa saja yang membenci sunahku, ia bukan golonganku.”[2]
Ibnu Majah dan At-Tirmidzi mengeluarkan riwayat dari hadis Al-Hasan dari Samurah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hidup membujang[3]. At-Tirmidzi berkata: Hadis ini hasan garib. Beliau berkata: Al-Asy’ats bin ‘Abdul Malik meriwayatkan pula hadis ini dari Al-Hasan, dari Sa’d bin Hisyam, dari ‘Aisyah. Dan ada yang berkata: Masing-masing kedua hadis ini adalah sahih. Selesai ucapan At-Tirmidzi. Dalam masalah apakah Al-Hasan mendengar dari Samurah ada perbincangan yang sudah banyak diketahui.
Ahmad dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya juga mengeluarkan riwayat larangan dari hidup membujang dari hadis Anas.
Ibnu Majah mengeluarkan riwayat dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikah termasuk sunahku. Sehingga, siapa saja yang tidak mengamalkan sunahku, ia bukan dari golonganku.”[4]
وَأَمَّا عَدَمُ جَوَازِ التَّبَتُّلِ، فَلِمَا تَقَدَّمَ. وَأَمَّا جَوَازُهُ مَعَ الۡعَجۡزِ عَنِ الۡقِيَامِ بِمَا لَا بُدَّ مِنۡهُ، فَلِمَا ثَبَتَ فِي الۡكِتَابِ الۡعَزِيزِ مِنَ النَّهۡيِ عَنۡ مُضَارَّةِ النِّسَاءِ، وَالۡأَمۡرِ بِمُعَاشَرَتِهِنَّ بِالۡمَعۡرُوفِ، فَمَنۡ لَا يَسۡتَطِيعُ ذٰلِكَ لَمۡ يَجُزۡ لَهُ أَنۡ يَدۡخُلَ فِي أَمۡرٍ يُوقِعُهُ فِي حَرَامٍ، وَعَلَى ذٰلِكَ تُحۡمَلُ الۡأَدِلَّةُ الۡوَارِدَةُ فِي الۡعُزۡبَةِ وَالۡعُزۡلَةِ.
Adapun tidak bolehnya hidup membujang, maka berdasar pembahasan sebelumnya. Adapun bolehnya hidup membujang disertai dengan ketidakmampuan melakukan kewajiban yang mesti dilakukan, maka berdasarkan larangan yang telah pasti ada di dalam Alquran dari melakukan kemudaratan terhadap para wanita dan perintah untuk menggauli mereka dengan cara yang baik. Sehingga, siapa saja yang tidak mampu mewujudkan hal tersebut, maka tidak boleh baginya untuk masuk ke dalam suatu perkara yang akan menjatuhkannya ke dalam sesuatu yang haram.
Dan dalil-dalil yang ada tentang hidup membujang dan hidup mengasingkan diri dibawa ke makna tersebut.