Syaikh Al Albani, Ahli Hadits Abad Ini


Jika kita membaca tulisan-tulisan dakwah, sering hadits-hadits yang dikutip di tulisan tersebut ada keterangan “dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani”. Siapakah “Al Albani”?

Muhammad Nashiruddin Al-Albani bin Nuh Najati, putra seorang ulama mazhab Hanafi. Al-Albani adalah nisbat kepada negeri kelahiran beliau yaitu Albania. Karena orang Albania, jangan bayangkan penampilan seperti ulama-ulama lain yang kebanyakan dari jazirah Arab. Wajah beliau khas “bule” dengan kulit putih kemerahan layaknya orang-orang Eropa.

Beliau dilahirkan di kota Ashqadar, ibu kota Albania pada waktu itu, pada tahun 1333 H atau 1914 M. Beliau tinggal di kota tersebut selama kurang lebih sembilan tahun. Saat komunis menguasai daerah tersebut di bawah kepemimpinan Ahmet Zogu, sang ayah mengajak keluarganya untuk berhijrah ke Damaskus, ibu kota Suriah, demi keselamatan agama mereka.

Ketika beliau remaja, ayah beliau mendidik sendiri putranya untuk belajar agama. Ayahnya mengajarkan Al Albani muda pelajaran Al-Qur`an dan tajwid, ilmu sharaf, dan fikih melalu mazhab Hanafi karena ayahnya termasuk ulama madzhab tersebut. Selain belajar kepada ayahnya sendiri, tak lupa beliau belajar kepada beberapa syaikh dan ulama teman-teman ayahnya.

BELAJAR ILMU HADITS


Pada umur sekitar dua puluh tahun, suatu hari pandangan beliau tertuju pada sebuah majalah bernama Al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha1 di salah satu toko. Dibukanya lembaran demi lembaran majalah tersebut. Terhentilah beliau pada makalah Muhammad Rasyid Ridha yang melakukan studi kritik terhadap kitab Ihya` Ulumuddin dan hadits-haditsnya. “Pertama kali aku dapati kritik ilmiah semacam ini,” ujar beliau.

Ilmu hadits begitu luar biasa memikatnya. Beliau lalu banyak menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu hadits sejak saat itu. Profesi beliau sebagai tukang reparasi jam lambat laun mulai dikurangi jam kerjanya, agar beliau bisa semakin banyak belajar ilmu hadits. Beliau pun lambat laun meninggalkan kefanatikan dalam bermazhab Hanafi. Beliau mengajarkan bahwa kebenaran itu melalui kuat tidaknya dalil yang digunakan, bukan melalui mazhab-mazhab tertentu.

Karya-karya beliau jumlahnya lebih dari dua ratus karya, baik yang kecil maupun yang besar, dan berjilid-jilid, baik yang sudah lengkap maupun yang belum lengkap menjadi bukti. Di Indonesia pun karya-karya beliau sudah banyak yang diterjemahkan. Salah satu yang paling terkenal adalah “Shifatu Shalatin Nabi”.

Peninggalan beliau berupa ilmu sungguh besar manfaatnya bagi kaum muslimin. Melalui penelitian beliaulah, kaum muslimin sekarang ini tahu mana hadits yang shahih dan mana yang palsu.

Di akhir-akhir usianya, beliau sering sakit-sakitan hingga dimasukkan ke rumah sakit di negeri ketiganya, Yordania. Namun, Allah telah menetapkan pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M, beliau meninggal dunia. Sungguh, beliau merupakan ulama pembaru yang menyerukan pemurnian Islam di abad ini. (Ristyandani)


1 Namun ternyata Muhammad Rasyid Ridha memiliki beberapa pemahaman yang tidak sesuai dengan sunnah. Sehingga pemahaman Syaikh Albani dengan Muhammad Rasyid Ridha berbeda.

Sumber: Majalah Tashfiyah, edisi 31 volume 3 1434 H / 2013 M, rubrik Ensiklopedi.