Shahih Al-Bukhari hadits nomor 43

٣٣ - بَابٌ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدۡوَمُهُ 
33. Bab amalan agama yang paling Allah azza wajalla cintai adalah yang paling berkesinambungan 


٤٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَيۡهَا وَعِنۡدَهَا امۡرَأَةٌ قَالَ: (مَنۡ هَٰذِهِ؟) قَالَتۡ: فُلَانَةُ، تَذۡكُرُ مِنۡ صَلَاتِهَا، قَالَ: (مَهۡ، عَلَيۡكُمۡ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوا). وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيۡهِ مَادَامَ عَلَيۡهِ صَاحِبُهُ. [الحديث ٤٣ – طرفه في: ١١٥١]. 

43. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Hisyam. Beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuinya dalam keadaan ada seorang wanita di dekatnya. 

Nabi bertanya, “Siapa wanita ini?” 

‘Aisyah menjawab, “Fulanah.” Lalu ‘Aisyah menyebutkan tentang banyaknya salat dia. 

Nabi bersabda, “Cukup. Hendaknya kalian mengamalkan amalan yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak bosan sampai kalian sendiri yang bosan.” 

Amalan ketaatan yang paling Rasul cintai adalah amalan yang dilakukan secara berkesinambungan oleh pelakunya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 41 dan 42

٣٢ - بَابُ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ 
32. Bab baiknya keislaman seseorang 


٤١ - قَالَ مَالِكٌ: أَخۡبَرَنِي زَيۡدُ بۡنُ أَسۡلَمَ: أَنَّ عَطَاءَ بۡنَ يَسَارٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيَّ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِذَا أَسۡلَمَ الۡعَبۡدُ فَحَسُنَ إِسۡلَامُهُ، يُكَفِّرُ اللهُ عَنۡهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا، وَكَانَ بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡقِصَاصُ: الۡحَسَنَةُ بِعَشۡرِ أَمۡثَالِهَا إِلَى سَبۡعِمِائَةِ ضِعۡفٍ، وَالسَّيِّئَةُ بِمِثۡلِهَا إِلَّا أَنۡ يَتَجَاوَزَ اللهُ عَنۡهَا). 

41. Malik berkata: Zaid bin Aslam mengabarkan kepadaku: Bahwa ‘Atha` bin Yasar mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sa’id Al-Khudri mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang hamba masuk Islam, lalu baik keislamannya, maka Allah akan menghapuskan seluruh kejelekan yang dahulu dia kerjakan. Dan setelah itu, berlaku kisas. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sedangkan satu kejelekan dibalas semisalnya kecuali Allah memaafkannya.” 

٤٢ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا أَحۡسَنَ أَحَدُكُمۡ إِسۡلَامَهُ، فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعۡمَلُهَا تُكۡتَبُ لَهُ بِعَشۡرِ أَمۡثَالِهَا إِلَى سَبۡعِمِائَةِ ضِعۡفٍ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعۡمَلُهَا تُكۡتَبُ لَهُ بِمِثۡلِهَا). 

42. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian memperbagus keislamannya, maka setiap kebaikan yang dia lakukan akan dicatat sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat dan setiap kejelekan yang dia lakukan akan dicatat satu kejelekan semisal itu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 40

٣١ - بَابٌ الصَّلَاةُ مِنَ الۡإِيمَانِ
31. Bab salat termasuk keimanan


وَقَوۡلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمۡ﴾ [البقرة: ١٤٣] يَعۡنِي صَلَاتَكُمۡ عِنۡدَ الۡبَيۡتِ. 

Dan firman Allah taala yang artinya, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143), yakni salat kalian 

٤٠ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ، عَنِ الۡبَرَاءِ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الۡمَدِينَةَ نَزَلَ عَلَى أَجۡدَادِهِ، أَوۡ قَالَ: أَخۡوَالِهِ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، وَأَنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهۡرًا، أَوۡ سَبۡعَةَ عَشَرَ شَهۡرًا، وَكَانَ يُعۡجِبُهُ أَنۡ تَكُونَ قِبۡلَتُهُ قِبَلَ الۡبَيۡتِ، وَأَنَّهُ صَلَّى أَوَّلَ صَلَاةٍ صَلَّاهَا صَلَاةَ الۡعَصۡرِ، وَصَلَّى مَعَهُ قَوۡمٌ، فَخَرَجَ رَجُلٌ مِمَّنۡ صَلَّى مَعَهُ، فَمَرَّ عَلَى أَهۡلِ مَسۡجِدٍ وَهُمۡ رَاكِعُونَ، فَقَالَ: أَشۡهَدُ بِاللهِ لَقَدۡ صَلَّيۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ قِبَلَ مَكَّةَ، فَدَارُوا كَمَا هُمۡ قِبَلَ الۡبَيۡتِ، وَكَانَتِ الۡيَهُودُ قَدۡ أَعۡجَبَهُمۡ إِذۡ كَانَ يُصَلِّي قِبَلَ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ، وَأَهۡلُ الۡكِتَابِ، فَلَمَّا وَلَّى وَجۡهَهُ قِبَلَ الۡبَيۡتِ أَنۡكَرُوا ذٰلِكَ. 
قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ، عَنِ الۡبَرَاءِ فِي حَدِيثِهِ هَٰذَا: أَنَّهُ مَاتَ عَلَى الۡقِبۡلَةِ قَبۡلَ أَنۡ تُحَوَّلَ رِجَالٌ وَقُتِلُوا، فَلَمۡ نَدۡرِ مَا نَقُولُ فِيهِمۡ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمۡ﴾ [البقرة: ١٤٣]. [الحديث ٤٠ – أطرافه في: ٣٩٩، ٤٤٨٦، ٤٤٩٢، ٧٢٥٢]. 

40. ‘Amr bin Khalid telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Zuhair menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami dari Al-Bara`: 

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu awal kali tiba di Madinah beliau singgah di tempat kakek-kakeknya. Atau beliau berkata: paman-pamannya dari kalangan ansar. 

Beliau salat menghadap Baitulmakdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Ketika itu, beliau ingin apabila kiblatnya menghadap Kakbah. Awal salat yang beliau lakukan menghadap Kakbah adalah salat Asar. Beliau salat bersama orang-orang. Lalu salah seorang di antara orang yang ikut salat bersama beliau keluar pergi lalu melewati jemaah suatu masjid yang sedang rukuk. 

Lalu orang itu berkata, “Aku bersaksi dengan Allah. Sungguh aku telah salat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Makkah.” 

Maka mereka berputar menghadap Kakbah. Orang-orang Yahudi senang apabila Nabi salat menghadap Baitul Makdis. Begitu pula ahli kitab. Ketika beliau mengalihkan wajah ke arah Kakbah, mereka mengingkari hal itu. 

Zuhair berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami dari Al-Bara` di dam hadisnya ini: Bahwa ada orang-orang yang sudah meninggal dan terbunuh ketika kiblat belum berpindah ke arah Kakbah, sehingga kami tidak tahu apa yang akan kami katakan tentang mereka. Lalu Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Shahih Muslim hadits nomor 212

٣٦٢ – (٢١٢) – وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ النَّهۡدِيِّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أَهۡوَنُ أَهۡلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنۡتَعِلٌ بِنَعۡلَيۡنِ يَغۡلِي مِنۡهُمَا دِمَاغُهُ). 

362. (212). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Affan menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, dari Ibnu ‘Abbas: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 38

٢٩ - بَابٌ صَوۡمُ رَمَضَانَ احۡتِسَابًا مِنَ الۡإِيمَانِ 
29. Bab puasa Ramadan dengan mengharap pahala termasuk keimanan 


٣٨ - حَدَّثَنَا ابۡنُ سَلَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُضَيۡلٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحۡتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [طرفه في: ٣٥]. 

38. Ibnu Salam telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Fudhail mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 37

٢٨ - بَابٌ تَطَوُّعُ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنَ الۡإِيمَانِ
28. Bab salat sunah malam Ramadan termasuk iman


٣٧ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ حُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحۡتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [طرفه في: ٣٥]. 

37. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari Humaid bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang salat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 36

٢٧ - بَابٌ الۡجِهَادُ مِنَ الۡإِيمَانِ 
27. Bab jihad termasuk keimanan 


٣٦ - حَدَّثَنَا حَرَمِيُّ بۡنُ حَفۡصٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَارَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو زُرۡعَةَ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ جَرِيرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (انۡتَدَبَ اللهُ لِمَنۡ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ، لَا يُخۡرِجُهُ إِلَّا إِيمَانٌ بِي وَتَصۡدِيقٌ بِرُسُلِي، أَنۡ أُرۡجِعَهُ بِمَا نَالَ مِنۡ أَجۡرٍ، أَوۡ غَنِيمَةٍ، أَوۡ أُدۡخِلَهُ الۡجَنَّةَ، وَلَوۡلَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدۡتُ خَلۡفَ سَرِيَّةٍ، وَلَوَدِدۡتُ أَنِّي أُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ اللهِ، ثُمَّ أُحۡيَا، ثُمَّ أُقۡتَلُ، ثُمَّ أُحۡيَا، ثُمَّ أُقۡتَلُ). 
[الحديث ٣٦ – أطرافه في: ٢٧٨٧، ٢٧٩٧، ٢٩٧٢، ٣١٢٣، ٧٢٢٦، ٧٢٢٧، ٧٤٥٧، ٧٤٦٣]. 

36. Harami bin Hafsh telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Umarah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang keluar berperang di jalan Allah—tidak ada yang membuatnya keluar kecuali iman kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya—Allah akan memberinya balasan dengan mengembalikannya membawa pahala atau ganimah yang dia dapatkan atau memasukkannya ke dalam janah. Kalau tidak memberatkan umatku, aku tidak akan tinggal di belakang pasukan perang. Sungguh aku sangat ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 33

٢٥ – بَابُ عَلَامَةِ الۡمُنَافِقِ 
25. Bab tanda munafik 


٣٣ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا نَافِعُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (آيَةُ الۡمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخۡلَفَ، وَإِذَا اؤۡتُمِنَ خَانَ). 
[الحديث ٣٣ – أطرافه في: ٢٦٨٢، ٢٧٤٩، ٦٠٩٥]. 

33. Sulaiman Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir Abu Suhail menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika bercerita, dusta; jika berjanji, mungkir; dan jika diberi amanah, khianat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 32

٢٤ - بَابٌ ظُلۡمٌ دُونَ ظُلۡمٍ
24. Bab zhulmun duna zhulmin (kezaliman kecil)


٣٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ (ح) قَالَ: وَحَدَّثَنِي بِشۡرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمۡ يَلۡبِسُوا إِيمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ﴾ [الأنعام: ٨٢]، قَالَ أَصۡحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَيُّنَا لَمۡ يَظۡلِمۡ؟! فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿إِنَّ الشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ﴾ [لقمان: ١٣]. 
[الحديث ٣٢ – أطرافه في: ٣٣٦٠، ٣٤٢٨، ٣٤٢٩، ٤٦٢٩، ٤٧٧٦، ٦٩١٨، ٦٩٣٧]. 

32. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Beliau berkata: Bisyr menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Muhammad menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Beliau berkata: 

Ketika turun ayat yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,” (QS. Al-An’am: 82), para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa di antara kita yang tidak melakukan kezaliman?” 

Lalu Allah azza wajalla menurunkan ayat yang artinya, “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 31

٢٣ - بَابُ ﴿وَإِنۡ طَائِفَتَانِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ اقۡتَتَلُوا فَأَصۡلِحُوا بَيۡنَهُمَا﴾ [الحجرات: ٩] فَسَمَّاهُمُ الۡمُؤۡمِنِينَ 
23. Bab, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”, Allah menamai mereka sebagai orang-orang yang beriman 


٣١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ الۡمُبَارَكِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ وَيُونُسُ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنِ الۡأَحۡنَفِ بۡنِ قَيۡسٍ قَالَ: ذَهَبۡتُ لِأَنۡصُرَ هَٰذَا الرَّجُلَ، فَلَقِيَنِي أَبُو بَكۡرَةَ، فَقَالَ: أَيۡنَ تُرِيدُ؟ قُلۡتُ: أَنۡصُرُ هَٰذَا الرَّجُلَ، قَالَ: ارۡجِعۡ، فَإِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِذَا الۡتَقَى الۡمُسۡلِمَانِ بِسَيۡفَيۡهِمَا فَالۡقَاتِلُ وَالۡمَقۡتُولُ فِي النَّارِ) فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ هَٰذَا الۡقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الۡمَقۡتُولِ؟! قَالَ: (إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتۡلِ صَاحِبِهِ). [الحديث ٣١ – طرفاه في: ٦٨٧٥، ٧٠٨٣]. 

31. ‘Abdurrahman bin Al-Mubarak telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami: Ayyub dan Yunus menceritakan kepada kami dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf bin Qais. Beliau berkata: Aku pergi untuk menolong orang ini, lalu Abu Bakrah berjumpa denganku seraya bertanya: Ke mana engkau hendak pergi? Aku jawab: Aku hendak menolong orang ini. Abu Bakrah berkata: Pulanglah, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika dua orang muslim saling bertemu dengan membawa masing-masing pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh di dalam neraka.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, si pembunuh wajar di neraka, namun mengapa yang terbunuh juga di dalam neraka?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya dia sebelumnya bersemangat untuk membunuh temannya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 30

٢٢ - بَابٌ الۡمَعَاصِي مِنۡ أَمۡرِ الۡجَاهِلِيَّةِ، وَلَا يُكَفَّرُ صَاحِبُهَا بِارۡتِكَابِهَا إِلَّا بِالشِّرۡكِ 
22. Bab kemaksiatan termasuk perkara jahiliah namun pelakunya tidak lantas dikafirkan apabila melakukannya, kecuali kesyirikan 

لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِنَّكَ امۡرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ)، وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ﴾ [النساء: ٤٨]. 
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya engkau memiliki suatu perangai jahiliah.” Dan firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). 
٣٠ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ وَاصِلٍ الۡأَحۡدَبِ، عَنِ الۡمَعۡرُورِ قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ، وَعَلَيۡهِ حُلَّةٌ، وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلۡتُهُ عَنۡ ذٰلِكَ فَقَالَ: إِنِّي سَابَبۡتُ رَجُلًا فَعَيَّرۡتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرۡتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امۡرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخۡوَانُكُمۡ خَوَلُكُمۡ، جَعَلَهُمُ اللهُ تَحۡتَ أَيۡدِيكُمۡ، فَمَنۡ كَانَ أَخُوهُ تَحۡتَ يَدِهِ، فَلۡيُطۡعِمۡهُ مِمَّا يَأۡكُلُ، وَلۡيُلۡبِسۡهُ مِمَّا يَلۡبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمۡ مَا يَغۡلِبُهُمۡ، فَإِنۡ كَلَّفۡتُمُوهُمۡ فَأَعِينُوهُمۡ). [الحديث ٣٠ – طرفاه: ٢٥٤٥، ٦٠٥٠]. 
30. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Washil Al-Ahdab, dari Al-Ma’rur. Beliau berkata: Aku berjumpa dengan Abu Dzarr di Rabadzah. Beliau memakai pakaian hullah (pakaian yang terdiri dari dua helai, yaitu bagian dalam dan luar dan berjenis sama) dan demikian pula budaknya. Aku menanyakan kepada beliau tentang hal itu. Beliau menjawab: Sesungguhnya aku pernah mencela seseorang dengan menghina ibunya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzarr, apakah engkau mencelanya dengan ibunya? Sesungguhnya engkau memiliki perangai jahiliah. Mereka itu saudara-saudara kalian. Mereka itu yang melayani kalian. Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Siapa saja yang saudaranya ada di bawah kekuasaannya, hendaknya dia memberinya makanan dari makanan yang dia makan dan memberi pakaian dari pakaian yang ia pakai. Dan janganlah membebaninya dengan pekerjaan yang mereka tidak mampu dan jika kalian harus membebankan pekerjaan itu kepada mereka, bantulah mereka.”

Syarh Al-Ajurrumiyyah - 'Adl

ثَالِثًا: (عَادِلًا) قَالَ أَهۡلُ النَّحۡوِ: يَعۡنِي: مَا كَانَ الۡمَانِعُ فِيهِ الۡعَدۡلُ، يَعۡنِي: عُدِلَ مِنۡ شَيۡءٍ إِلَى آخَرَ، يَعۡنِي: مِنۡ وَزۡنٍ إِلَى وَزۡنٍ، وَيَكُونُ عَلَمًا، وَيَكُونُ صِفَةً، يَعۡنِي: يَكُونُ فِي الۡأَعۡلَامِ، فَيَكُونُ الۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةَ وَالۡعَدۡلَ، وَيَكُونُ فِي الۡأَوۡصَافِ، فَيَكُونُ الۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةَ وَالۡعَدۡلَ، فَلَا بُدَّ مَعَ الۡعَدۡلِ مِنۡ إِضَافَةِ عِلَّةٍ أُخۡرَى، وَفِي الۡعَلَمِيَّةِ أَوِ الۡوَصۡفِيَّةِ. 

Ketiga: “عَادِلًا”. Ahli ilmu nahwu berkata: Maksudnya faktor penghalangnya adalah ‘adl. Yaitu, diubah dari sesuatu ke bentuk lain. Yakni, dari satu pola ke pola lain. Bisa berupa nama dan bisa berupa sifat. Yakni bisa terjadi pada nama, sehingga penghalang dari tanwin adalah nama dan ‘adl. Bisa terjadi pada sifat, sehingga penghalang dari tanwin adalah sifat dan ‘adl. Jadi bersamaan dengan ‘adl harus ada penyandaran kepada penyebab lain, yaitu nama atau sifat. 

مِثَالُهُ فِي الۡأَعۡلَامِ: (عُمَرُ)، فَدَائِمًا نَقۡرَأُ (عَنۡ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ)، فَآخِرُهَا مَفۡتُوحٌ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ؛ لِأَنَّ أَصۡلَ (عُمَرَ) (عَامِرٌ) فَعُدِلَ مِنۡ (عَامِرٍ) إِلَى (عُمَرَ) إِذَنۡ الۡمَانِعُ هُوَ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

Contoh pada nama adalah “عُمَر” (‘Umar). Kita senantiasa mengucapkan, “عَنۡ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ” (Dari ‘Umar bin Al-Khaththab). Akhir kata ‘Umar ini difathah karena merupakan isim yang tidak bisa ditanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama dan ‘adl karena asal kata عُمَر adalah عَامِر. Jadi diubah dari عَامِر menjadi عُمَر, sehingga penghalangnya adalah nama dan ‘adl

(مَرَرۡتُ بِعُمَرَ) 
(مَرَرۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ. 
(بِعُمَرَ): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ جَرٍّ، (عُمَرَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

“مَرَرۡتُ بِعُمَرَ” (Aku melewati ‘Umar). 

مَرَرۡتُ adalah fiil dan fa’il (pelaku). 

بِعُمَرَ, huruf ba adalah huruf jarr. عُمَرَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba dan tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya adalah nama dan ‘adl

(سَلَّمۡتُ عَلَى عُمَرَ) 
(عَلَى): حَرۡفُ جَرٍّ. 
(عُمَرَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(عَلَى)، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

“سَلَّمۡتُ عَلَى عُمَرَ” (Aku mengucapkan salam kepada ‘Umar). 

عَلَى adalah huruf jarr

عُمَرَ adalah isim yang di-jarr dengan عَلَى dan tanda jarr-nya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Penghalangnya adalah nama dan ‘adl

وَمِثۡلُهُ أَيۡضًا (زُفَرَ)، نَقُولُ: (وَهَٰذَا قَوۡلُ زُفَرَ). 
(قَوۡلُ): مُضَافٌ. 
(زُفَرَ): مُضَافٌ إِلَيۡهِ مَجۡرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالۡعَدۡلِ. 

Contoh lainnya adalah زُفَر (Zufar, nama orang). Kita katakan, “هَٰذَا قَوۡلُ زُفَرَ” (Ini ucapan Zufar). 

قَوۡلُ adalah mudhaf

زُفَرَ adalah mudhaf ilaih yang di-jarr dan tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin dengan sebab nama dan ‘adl

يُوجَدُ نَجۡمٌ يُسَمَّى (زُحَلَ) أَعۡلَى السَّيَّارَاتِ السَّبۡعِ عِنۡدَ الۡقُدَمَاءِ، فَلَا نَقُولُ: (نَظَرۡتُ إِلَى زُحَلٍ)، بَلۡ (زُحَلَ)، فَالصَّحِيحُ أَنۡ يَكُونَ مَفۡتُوحَ الۡآخِرِ؛ وَذٰلِكَ لِأَنَّهُ عَلَمٌ مَعۡدُولٌ عَنۡ (زَاحِلٍ)، فَصَارَ مَمۡنُوعًا مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالۡعَدۡلِ. 
وَيُقَالُ حَسَبَ كَلَامِ أَهۡلِ الۡهَيۡئَةِ الۡأَقۡدَمِينَ: 
زُحَلُ شَرَا مُرِّيخَهُ مِنۡ شَمۡسِهِ فَتَزَاهَرَتۡ بِعُطَارِدِ الۡأَقۡمَارُ 
تَرۡتِيبٌ تَنَازُلِيٌّ، زُحَلُ: أَعۡلَاهَا، شَرَا: الۡمُشۡتَرَى، مُرِّيخَهُ: الۡمَرِيخُ، مِنۡ شَمۡسِهِ: الشَّمۡسُ، فَتَزَاهَرَتۡ: الزَّهۡرَةُ، بِعُطَارِدَ: عَطَارِدُ، الۡأَقۡمَارُ: الۡقَمَرُ؛ هُوَ أَسۡفَلُهَا؛ أَيۡ أَسۡفَلُ السَّيَّارَاتِ السَّبۡعَةِ. 

Terdapat suatu bintang yang dinamakan زُحَل (Zuhal/planet Saturnus), tujuh planet yang paling tinggi menurut orang-orang dahulu. Kita tidak katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى زُحَلٍ,” tapi, “زُحَلَ.” Yang benar difathah huruf akhirnya. Hal itu karena isim tersebut merupakan nama yang diubah dari زَاحِل, lalu menjadi isim yang terhalang dari tanwin karena nama dan ‘adl

Sesuai ucapan ahli ilmu hai’ah (ilmu falak) yang awal, dikatakan: زُحَلُ شَرَا مُرِّيخَهُ مِنۡ شَمۡسِهِ فَتَزَاهَرَتۡ بِعُطَارِدِ الۡأَقۡمَارُ urut dari atas ke bawah. زُحَل (Saturnus) yang paling tinggi. شَرَا adalah Yupiter. مُرِّيخَه adalah Mars. مِنۡ شَمۡسِهِ adalah matahari. فَتَزَاهَرَتۡ adalah Venus. بِعُطَارِدِ adalah عَطَارِدُ (Merkurius). الۡأَقۡمَارُ adalah bulan, yang paling bawah. Yakni yang paling rendah dari tujuh planet. 

قُلۡنَا: إِنَّ الۡعَدۡلَ يَكُونُ فِي الۡأَعۡلَامِ، فَتَقُولُ: الۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. وَيَكُونُ فِي الۡأَوۡصَافِ، فَيَكُونُ الۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ: الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ، مِثَالُ: (أُخَر)، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ [البقرة: ١٨٤]، وَلَمۡ يَقُلۡ (أُخَرٍ) مَعَ أَنَّ (أُخَرَ) مَجۡرُورَةٌ؛ لِأَنَّهَا صِفَةٌ لِـ(أَيَّامٍ) وَ(أَيَّامٍ) مَجۡرُورَةٌ بِـ(مِنۡ)، وَلٰكِنۡ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾، الۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 
مَعۡدُولَةٌ عَنۡ مَاذَا؟ مَا قَالُوا عَنۡ آخَر. قَالُوا: مَعۡدُولَةٌ عَنِ (الۡأُخَرِ)، أَصۡلُهَا (الۡأُخَرِ)، فَاللهُ أَعۡلَمُ هَلۡ هِيَ هَٰذِهِ، أَوۡ مَعۡدُولَةٌ عَنِ (الۡآخَرِ)، عَلَى كُلِّ حَالٍ (أُخَرُ) مَمۡنُوعَةٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

Kita katakan: Sesungguhnya ‘adl terjadi pada nama, sehingga engkau katakan: Yang menghalangi dari tanwin adalah nama dan ‘adl. Juga bisa terjadi pada sifat sehingga yang menghalangi dari tanwin adalah sifat dan ‘adl. Contoh: أُخَر. Allah taala berfirman, “فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ” (maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain). (QS. Al-Baqarah: 184). Allah tidak katakan, “أُخَرٍ” padahal kata tersebut di-jarr karena merupakan sifat bagi أَيَّامٍ. Sedangkan أَيَّامٍ di-jarr dengan مِنۡ. Akan tetapi Allah azza wajalla berfirman, “مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ.” Yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan ‘adl

Diubah dari apa? Mereka tidak katakan diubah dari آخَر. Mereka katakan: Diubah dari الۡأُخَرِ. Asalnya adalah الۡأُخَرِ. Allah yang lebih tahu apakah memang diubah dari kata ini atau diubah dari الۡآخَرِ. Bagaimanapun أُخَرُ terhalang dari tanwin dan yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan ‘adl

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ [البقرة: ١٨٤]، (مِنۡ): حَرۡفُ جَرٍّ، (أَيَّامٍ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ، أَلَمۡ تَسۡمَعۡ إِلَى قَوۡلِ الۡقَائِلِ: 
كَأَنِّي تَنۡوِينٌ وَأَنۡتَ إِضَافَةٌ فَأَيۡنَ تَرَانِي لَا تَحِلُّ مَكَانِي 
أَيَّامٍ: مَجۡرُورٌ بِـ(مِنۡ)، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡكَسۡرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ، وَأُخَرَ: نَعۡتٌ لِأَيَّامٍ مَجۡرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

Allah taala berfirman, “فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ” (QS. Al-Baqarah: 184). مِنۡ adalah huruf jarr. أَيَّامٍ adalah isim yang di-jarr. Tidakkah engkau mendengar ada yang mengatakan: كَأَنِّي تَنۡوِينٌ وَأَنۡتَ إِضَافَةٌ فَأَيۡنَ تَرَانِي لَا تَحِلُّ مَكَانِي (Seakan-akan aku tanwin, sedangkan engkau idhafah. Di mana saja engkau melihatku, engkau tidak bisa singgah di tempatku). 

أَيَّامٍ di-jarr dengan مِنۡ dan tanda jarr-nya adalah harakat kasrah yang tampak di akhir kata. أُخَرَ adalah na’t (sifat) bagi أَيَّامٍ yang di-jarr dan tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya adalah sifat dan ‘adl

وَمِنۡ ذٰلِكَ (مَثۡنَى، وَثُلَاثُ، وَرُبَاعُ، وَخُمَاسُ، وَسُدَاسُ، وَسُبَاعُ، وَثُمَانُ، وَتُسَاعُ، وَعُشَارُ) قَالَ تَعَالَى: ﴿أُو۟لِىٓ أَجۡنِحَةٍ مَّثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ ۚ﴾ [فاطر: ١]، (أَجۡنِحَةٍ): مَجۡرُورَةٌ بِالۡإِضَافَةِ، وَعَلَامَةُ الۡجَرِّ الۡكَسۡرَةُ. (مَثۡنَى وَثُلَاث وَرُبَاع): هَٰذِهِ بَدَلٌ، وَمَعَ ذٰلِكَ مَفۡتُوحَةٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ، الۡوَصۡفِيَّةُ؛ لِأَنَّهَا وَصۡفٌ. 

Yang termasuk itu pula adalah مَثۡنَى, ثُلَاثُ, رُبَاعُ, خُمَاسُ, سُدَاسُ, سُبَاعُ, ثُمَانُ, تُسَاعُ, dan عُشَارُ. Allah taala berfirman, “أُو۟لِىٓ أَجۡنِحَةٍ مَّثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ ۚ” (yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat). (QS. Fathir: 1). أَجۡنِحَةٍ (sayap-sayap) di-jarr dengan sebab idhafah dan tanda jarr-nya adalah harakat kasrah. مَثۡنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ini adalah badal, namun bersamaan dengan itu harakatnya fathah karena kata tersebut tidak bisa ditanwin. Yang menghalangi dari tanwin adalah washfiyyah dan ‘adl. Washfiyyah karena merupakan sifat. 

وَعَنۡ أَيِّ شَيۡءٍ عُدِلَتۡ؟ 
قَالُوا: (مَثۡنَى) مَعۡدُولَةٌ عَنۡ (اثۡنَيۡنِ اثۡنَيۡنِ)، (ثُلَاث) عَنۡ (ثَلَاثَةٍ ثَلَاثَةٍ)، (رُبَاع) عَنۡ أَرۡبِعَةٍ أَرۡبِعَةٍ). 

Dari kata apa diubah? 

Mereka berkata: مَثۡنَى diubah dari اثۡنَيۡنِ اثۡنَيۡنِ (dua dua). ثُلَاثُ dari ثَلَاثَةٍ ثَلَاثَةٍ (tiga tiga). رُبَاعُ dari أَرۡبِعَةٍ أَرۡبِعَةٍ (empat empat). 

(وَرُبَاع): (الۡوَاوُ) حَرۡفُ عَطۡفٍ، (رُبَاع): مَعۡطُوفٌ عَلَى مَثۡنَى مَجۡرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡوَصۡفِيَّةِ وَالۡعَدۡلِ. 
إِذَنۡ الۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ: الۡوَصۡفِيَّةُ، وَالۡعَدۡلُ. 

“وَرُبَاع”, huruf wawu adalah huruf ‘athf. “رُبَاع” di-‘athf pada مَثۡنَى yang di-jarr. Tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena terhalang dari tanwin dengan sebab sifat dan ‘adl

Jadi penghalangnya dari tanwin adalah sifat dan ‘adl

وَنَقُولُ فِي إِعۡرَابِهَا: (مَثۡنَى): بَدَلٌ مِنۡ أَجۡنِحَةٍ، وَبَدَلُ الۡمَجۡرُورِ مَجۡرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ فَتۡحَةٌ مُقَدَّرَةٌ عَلَى الۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ. 

Kita katakan ketika meng-i’rab-nya: “مَثۡنَى” badal dari أَجۡنِحَةٍ. Badal isim yang di-jarr adalah di-jarr. Tanda jarr-nya adalah harakat fathah muqaddarah (tersembunyi) pada huruf alif sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang tidak bisa ditanwin. Penghalangnya dari tanwin adalah sifat dan ‘adl

نَقُولُ: (جَاءَ الۡقَوۡمُ مَثۡنَى مَثۡنَى). 
(جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ. 
(الۡقَوۡمُ): فَاعِلٌ. 
(مَثۡنَى): حَالٌ مِنَ الۡقَوۡمِ مَنۡصُوبٌ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى آخِرِهِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ. 

Kita katakan, “جَاءَ الۡقَوۡمُ مَثۡنَى مَثۡنَى” (Kaum itu telah datang dua-dua). 

جَاءَ adalah fiil madhi

الۡقَوۡمُ adalah fa’il (pelaku). 

مَثۡنَى adalah hal (keadaan) dari kaum itu. Di-nashb dengan fathah yang tersembunyi di akhir kata. Yang menghalangi dari munculnya adalah ta’adzdzur (tidak mampu diucapkan).

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Wazan Fi'il

Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata:

ثَانِيًا: (زِنۡ): قَالُوا: الۡمُرَادُ بِهَا وَزۡنُ الۡفِعۡلِ، فَإِذَا جَاءَ الۡاسۡمُ عَلَى وَزۡنِ الۡفِعۡلِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مَمۡنُوعًا مِنَ الصَّرۡفِ، سَوَاءٌ أَكَانَ هَٰذَا الۡاسۡمُ عَلَمًا أَوۡ صِفَةً، وَسَوَاءٌ أَكَانَ الۡفِعۡلُ مَاضِيًا، أَمۡ مُضَارِعًا، أَمۡ أَمۡرًا؛ فَإِنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ.

Kedua: “زِنۡ”. Mereka berkata: Yang dimaukan dengannya adalah wazan fiil. Jadi, jika ada isim sesuai dengan pola fiil, maka isim tersebut terhalangi dari tanwin. Sama saja, apakah isim ini berupa nama atau sifat. Sama pula apakah pola fiil madhi, mudhari’, atau amr; semuanya terhalang dari tanwin.

فَلَوۡ سَمَّيۡنَا رَجُلًا (يَزِيدَ) فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ؛ وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ هُوَ وَزۡنُ الۡفِعۡلِ؛ لِأَنَّ (يَزِيدَ) الۡاسۡمَ يُسَاوِي (يَزِيدُ) الۡفِعۡلَ، تَقُولُ: (هَٰذَا يَزِيدُ وَيَنۡقُصُ).
(يَشۡكُرُ) اسۡمُ رَجُلٍ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ: الۡعَلَمِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.
(أَحۡمَدُ) مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.

Andai kita menamai seseorang dengan nama Yazid (يزيد), maka kata ini terhalang dari tanwin. Yang menghalangi dari tanwin adalah pola fiil karena يَزِيد merupakan sebuah isim yang bentuknya sama dengan fiil يزيد (artinya bertambah). Contohnya adalah engkau katakan, “هَٰذَا يَزِيدُ وَيَنۡقُصُ” (Ini bertambah dan berkurang).

يَشۡكُر (Yasykur) nama seorang pria terhalang dari tanwin. Yang menghalangi dari tanwin adalah nama dan pola fiil.

أَحۡمَد (Ahmad) terhalang dari tanwin dan yang menghalangi dari tanwin adalah nama dan pola fiil.

(أَفۡضَلُ)، (مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَفۡضَلَ مِنۡ فُلَانٍ) (أَفۡضَلَ) مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ. وَمَا الۡمَانِعُ لَهُ؟ الۡوَصۡفِيَّةُ –لِأَنَّهُ اسۡمُ تَفۡضِيلٍ- وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ؛ لِأَنَّ (أَفۡضَلَ) عَلَى وَزۡنِ (أَكۡرَمَ) وَ(أَكۡرَمَ) فِعۡلٌ مَاضٍ.

أَفۡضَل (Afdal), مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَفۡضَلَ مِنۡ فُلَانٍ (Aku melewati seseorang yang lebih mulia daripada Polan). أَفۡضَل terhalangi dari tanwin. Apa penghalangnya? Sifat—karena merupakan isim tafdhil—dan pola fiil karena أَفۡضَلَ sesuai pola أَكۡرَمَ, sementara أَكۡرَمَ adalah fiil madhi.

(نَظَرۡتُ إِلَى أَفۡضَلَ مِنۡكَ): (إِلَى): حَرۡفُ خَفۡضٍ، (أَفۡضَلَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(إِلَى) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.
وَنَقُولُ فِي إِعۡرَابِهِ:
(أَفۡضَلَ): صِفَةٌ مَجۡرُورَةٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهَا الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهَا مَمۡنُوعَةٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَوَزۡنِ الۡفِعۡلِ.

نَظَرۡتُ إِلَى أَفۡضَلَ مِنۡكَ (Aku memandang kepada orang yang lebih mulia daripada engkau). إِلَى adalah huruf khafdh, أَفۡضَلَ isim yang di-jarr dengan إِلَى dan tanda jarr-nya adalah fathah yang tampak di akhir kata sebagai ganti dari kasrah karena kata ini terhalang dari tanwin. Penghalangnya adalah nama (seharusnya sifat, wallahualam, penerj.) dan pola fiil.

Kita katakan ketika meng-i’rab-nya:

أَفۡضَلَ merupakan suatu sifat yang di-jarr dan tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena kata yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan pola fiil.

وَتَقُولُ: (نَزَلۡتُ ضَيۡفًا عَلَى أَكۡرَمَ مِنۡ حَاتِمٍ).
(عَلَى): حَرۡفُ جَرٍّ.
(أَكۡرَمَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(عَلَى)، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.

Engkau katakan: نَزَلۡتُ ضَيۡفًا عَلَى أَكۡرَمَ مِنۡ حَاتِمٍ.

عَلَى adalah huruf jarr. أَكۡرَمَ adalah isim yang di-jarr dengan عَلَى dan tanda jarr-nya adalah harakat fathah sebagai ganti dari kasrah karena kata yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan pola fiil.

وَهُنَاكَ مَكَانٌ يُسَمَّى (اصۡمُتۡ)، وَهَٰذَا عَلَى وَزۡنِ الۡفِعۡلِ أَيۡضًا، وَهُوَ فِعۡلُ أَمۡرٍ.

Di sana ada suatu tempat yang dinamakan اصۡمُتۡ dan ini sesuai pola fiil, yaitu fiil amr.

(مَرَرۡتُ بِيَزِيدَ).
(مَرَرۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ.
(بِيَزِيدَ): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ جَرٍّ، (يَزِيدَ) اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.

مَرَرۡتُ بِيَزِيدَ (Aku melewati Yazid). مَرَرۡتُ adalah fiil dan pelaku. بِيَزِيدَ: Huruf ba adalah huruf jarr. يَزِيدَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba dan tanda jarr-nya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah karena isim yang tidak bisa ditanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama dan pola fiil.

إِذَنۡ الۡقَاعِدَةُ: كُلُّ اسۡمٍ جَاءَ عَلَى وَزۡنِ فِعۡلٍ فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، سَوَاءٌ كَانَ هَٰذَا الۡاسۡمُ عَلَمًا مِثۡلُ: (أَحۡمَدَ) أَوۡ صِفَةً مِثۡلُ: (أَفۡضَلَ).
(أَحۡمَدُ) يُمۡكِنُ أَنۡ نُحَوِّلَهَا إِلَى صِفَةٍ، فَنَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَحۡمَدَ مِنۡ فُلَانٍ عِنۡدَ النِّعَمِ) (أَحۡمَدَ) هُنَا اسۡمُ تَفۡضِيلٍ، يَعۡنِي: أَكۡثَرَ حَمۡدًا.

Jadi kaidahnya bahwa setiap isim yang sesuai pola fiil, maka isim tersebut terhalang dari tanwin. Sama saja apakah isim itu berupa nama semisal أَحۡمَد (Ahmad) atau sifat semisal أَفۡضَل (lebih mulia).

أَحۡمَد mungkin kita mengubahnya menjadi sifat, sehingga kita ucapkan, “مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَحۡمَدَ مِنۡ فُلَانٍ عِنۡدَ النِّعَمِ” (Aku melewati seorang lelaki yang lebih terpuji daripada Polan ketika mendapat banyak kenikmatan). أَحۡمَدَ di sini adalah isim tafdhil, yakni: lebih banyak sifat terpujinya.

سَمَّيۡتَ ابۡنَكَ (يَفۡضُلُ ابۡنُ فُلَانٍ)، فَـ(يَفۡضُلُ) مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَوَزۡنِ الۡفِعۡلِ.
وَلَوۡ سَمَّيۡتَ ابۡنَكَ (اسۡكُتۡ) فَنَادَيۡتَهُ (اسۡكُتۡ بۡنُ مُحَمَّدٍ)، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ، وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ، وَهُوَ فِعۡلُ الۡأَمۡرِ.
(أَفۡعَى) نَوۡعٌ مِنَ الۡحَيَّاتِ، وَهِيَ اسۡمُ جِنۡسٍ، وَلَيۡسَتۡ عَلَمًا، فَهِيَ لَيۡسَتۡ مَمۡنُوعَةً مِنَ الصَّرۡفِ.

Kalau engkau namai putramu dengan nama يَفۡضُلُ ابۡنُ فُلَانٍ (Yafdhulu bin Polan), maka يَفۡضُلُ terhalang dari tanwin karena nama dan pola fiil.

Andai engkau namai putramu dengan اسۡكُتۡ, maka engkau panggil dia اسۡكُتۡ بۡنُ مُحَمَّدٍ. Yang menghalangi dari tanwin adalah nama dan pola fiil, yaitu fiil amr.

أَفۡعَى satu jenis ular. Sehingga kata ini merupakan nama jenis dan bukan ‘alam (nama), sehingga tidak terhalangi dari tanwin.

إِذَنۡ كُلُّ مَا كَانَ عَلَى وَزۡنِ فِعۡلٍ، فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، إِنۡ كَانَ عَلَمًا فَلِلۡعَلَمِيَّةِ وَوَزۡنِ الۡفِعۡلِ، وَإِنۡ كَانَ وَصۡفًا، فَلِلۡوَصۡفِيَّةِ وَوَزۡنِ الۡفِعۡلِ، فَلَا بُدَّ فِيهِ مِنۡ عِلَّتَيۡنِ، وَزۡنِ الۡفِعۡلِ مَعَ الۡوَصۡفِيَّةِ أَوِ الۡعَلَمِيَّةِ. فَإِنۡ كَانَ اسۡمًا جَامِدًا فَإِنَّهُ يَنۡصَرِفُ.

Jadi, setiap kata yang sesuai pola fiil, maka kata tersebut terhalangi dari tanwin. Walaupun kata tersebut berupa nama, maka karena nama dan pola fiil. Jika berupa sifat, maka karena sifat dan pola fiil. Sehingga harus karena dua faktor, yaitu pola fiil disertai sifat atau nama. Jika isim tersebut berupa isim jamid (bukan musytaqq, bukan bentukan dari kata lain), maka bisa ditanwin.

Dalil Doa

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الدُّعَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]. 

وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَهُۥ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ﴾ [الرعد: ١٤]. 

Dalil doa[1] adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan bahwa masjid-masjid itu adalah milik Allah, jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)[2]. Dan firman Allah yang artinya, “Hanya bagi-Nya lah doa yang benar. Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya dan ternyata air itu tidak bisa sampai ke mulutnya. Dan tidaklah doa orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)[3]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] لَمَّا ذَكَرَ أَهَمَّ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ أَرَادَ أَنۡ يَسۡتَدِلَّ لِكُلِّ نَوۡعٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ؛ لِأَنَّ الۡكَلَامَ بِدُونِ دَلِيلٍ لَا يُقۡبَلُ، لَا سِيَّمَا الۡكَلَامُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ الۡعَظِيمِ الۡمُهِمِّ وَهُوَ الۡكَلَامُ فِي الۡعِبَادَاتِ؛ لِأَنَّ الۡعِبَادَاتِ تَوۡقِيفِيَّةٌ، لَا يُفۡعَلُ مِنۡهَا شَيۡءٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ. 

Ketika Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah telah menyebutkan jenis-jenis ibadah yang terpenting, beliau hendak menunjukkan dalil setiap jenis ibadah ini, karena ucapan tanpa dalil tidak bisa diterima terlebih ucapan dalam hal perkara yang agung dan penting ini, yaitu pembicaraan dalam masalah ibadah-ibadah. Karena ibadah merupakan perkara tauqifiyyah artinya sedikit saja dari ibadah tidak boleh dilakukan kecuali dengan dalil. 


[2] هَٰكَذَا يَجِبُ أَنۡ تَكُونَ الۡمَسَاجِدُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا تُبۡنَى لِلرِّيَاءِ وَالسُّمۡعَةِ، أَوۡ تُبۡنَى عَلَى الۡأَضۡرِحَةِ وَالۡقُبُورِ، وَإِنَّمَا تُبۡنَى لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَهِيَ بُيُوتُ اللهِ، ﴿فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]. هَٰذَا مَحَلُّ الشَّاهِدِ، حَيۡثُ نَهَى أَنۡ يُدۡعَى مَعَهُ غَيۡرُهُ. 

Demikianlah, wajib agar masjid-masjid itu untuk Allah azza wajalla. Masjid tidak boleh dibangun untuk ria dan sumah. Tidak boleh dibangun di atas kuburan. Masjid hanya dibangun untuk ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Masjid adalah rumah-rumah Allah. Allah berfirman yang artinya, “Jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18). Inilah letak pendalilannya, yaitu Allah melarang di samping berdoa kepada Allah, juga berdoa kepada selain Dia. 


[3] أَيۡ: هُوَ الَّذِي يُدۡعَى حَقًّا، وَأَمَّا غَيۡرُهُ مِنَ الۡأَصۡنَامِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡقُبُورِ وَالۡأَضۡرِحَةِ فَدُعَاؤُهَا بَاطِلٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَسۡمَعُ وَلَا تَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَةِ مَنۡ دَعَاهَا، ﴿وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ﴾ [الرعد: ١٤]. لَوۡ جِئۡتَ إِلَى مَاءٍ فِي قَعۡرِ بِئۡرٍ وَلَيۡسَ مَعَكَ دَلۡوٌ وَلَا حَبۡلٌ، وَجَعَلۡتَ تُشِيرُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِكَ فَإِنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَيۡكَ، وَهَٰذَا مَثَلُ مَنۡ يَدۡعُو غَيۡرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ حُصُولَ نَفۡعِهِ لَهُ مِنَ الۡمُسۡتَحِيلِ كَاسۡتِحَالَةِ وُصُولِ الۡمَاءِ إِلَى مَنۡ يَبۡسُطُ يَدَهُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِهِ دُونَ أَنۡ يَكُونَ مَعَهُ سَبَبٌ يَرۡفَعُهُ. 

Artinya, Allah adalah Zat yang tepat untuk menujukan doa. Adapun selain Allah, seperti berhala-berhala, bebatuan, kuburan, maka berdoa kepada mereka adalah batil karena benda-benda tersebut tidak bisa mendengar dan tidak mampu memperkenankan siapa saja yang berdoa kepadanya. Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya.” (QS. Ar-Ra’d: 14). Andai engkau datang ke tempat air di bibir sumur dalam keadaan tidak ada timba dan tali, lalu engkau memberi isyarat ke arah air agar naik ke mulutmu, niscaya air itu tidak bisa sampai kepadamu. Ini adalah permisalan orang yang berdoa kepada selain Allah azza wajalla karena terwujudnya kemanfaatan untuknya termasuk perkara yang mustahil sebagaimana kemustahilan air bisa sampai kepada orang yang membentangkan tangannya ke arah air agar naik ke mulutnya tanpa ada satu sebab pun yang bisa membuat air itu naik kepadanya. 

Perintah dan Larangan Allah yang Terbesar

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Al-Jami' li 'Ibadatillah berkata:

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَجَلُّ أَمۡرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ؟ 
قِيلَ: تَوۡحِيدُهُ بِالۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَأَعۡظَمُ نَهۡيٍ نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ بِهِ، وَهُوَ أَنۡ يَدۡعُوَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ. 
فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدِ اتَّخَذَهُ رَبًّا وَإِلٰهًا، وَأَشۡرَكَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ مِنَ الۡآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَهَى اللهُ عَنۡهُ، وَأَنۡكَرَهُ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، وَقَدۡ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا﴾ [النساء: ١١٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ٧٢]. وَاللهُ أَعۡلَمُ. 
Jika ada yang bertanya, “Lalu apa perkara paling mulia yang Allah perintahkan?” 
Maka engkau katakan, “Menauhidkan Allah dalam ibadah. Hal itu telah dijelaskan sebelumnya. Dan larangan terbesar yang Allah larang darinya adalah berbuat syirik kepada Allah, yaitu di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain-Nya atau menujukan jenis-jenis ibadah yang lain kepada selain-Nya.”[1]
Jadi siapa saja yang memalingkan sedikit saja dari berbagai macam ibadah tadi untuk selain Allah taala, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan dan sesembahan dan dia telah menjadikannya sekutu di samping Allah. Atau dia menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah. Dan telah berlalu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ini merupakan kesyirikan yang telah Allah larang dan Allah ingkari terhadap orang-orang musyrik. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72).[2] Wallahualam. 
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.
Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan sahabatnya. 


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ، وَأَعۡظَمُ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ، فَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ الۡمَأۡمُورَاتِ، وَالشِّرۡكُ أَعۡظَمُ الۡمَنۡهِيَّاتِ أَعۡظَمُ مِنۡ شُرۡبِ الۡخَمۡرِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ قَتۡلِ النَّفۡسِ بِغَيۡرِ حَقٍّ. 

Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid dan larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Jadi tauhid adalah seagung-agung perkara yang diperintahkan, sedangkan syirik adalah perkara terbesar yang dilarang, lebih besar daripada meminum khamar dan lebih besar daripada membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. 

وَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، أَعۡظَمُ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَعۡظَمُ مِنَ الزَّكَاةِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ جَمِيعِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَلِذٰلِكَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ بِهِ الرَّسُولُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى التَّوۡحِيدِ، شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِذَا نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيۡنِ فَإِنَّكَ تَأۡمُرُهُ بِالصَّلَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالزَّكَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالۡحَجِّ، أَمَّا مَا دَامَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡطِقۡ بِالشَّهَادَتَيۡنِ لَا تَقُلۡ لَهُ: صَلِّ؛ لِأَنَّهُ لَوۡ صَلَّى فَلَا فَائِدَةَ فِي ذٰلِكَ، وَلَا تُقۡبَلۡ صَلَاتُهُ، وَلِهَٰذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِمُعَاذٍ: (إِنَّكَ تَأۡتِي قَوۡمًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلُ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ شَهَادَةَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً). يَعۡنِي: الزَّكَاةَ، فَلَمۡ يَأۡمُرۡهُمۡ بِالصَّلَاةِ وَلَا بِالزَّكَاةِ قَبۡلَ أَنۡ يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَأَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ؛ لِأَنَّهُ الۡأَصۡلُ وَالۡأَسَاسُ وَالۡقَاعِدَةُ لِهَٰذَا الدِّينِ. 

Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung. Lebih agung daripada salat dan zakat, bahkan lebih agung dari seluruh jenis ibadah. Oleh karena itulah, awal yang rasul dakwahkan adalah memulai dengan tauhid, syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka baru engkau perintah dia untuk salat, zakat, dan haji. Adapun selama dia belum mengucapkan dua kalimat syahadat, maka engkau jangan katakan kepadanya, “Salatlah!” Karena andai dia salat, hal itu tidak berfaedah dan tidak diterima salatnya. Karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menyambut ajakanmu itu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam kepada mereka. Jika mereka menyambut seruanmu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari nomor 1458 dan Muslim nomor 19). Yakni zakat. Beliau tidak memerintahkan mereka salat dan zakat sebelum mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, perintah Allah yang paling agung adalah tauhid karena tauhid adalah pokok, asas, dan fondasi agama ini. 


[2] هَٰذَا وَاضِحٌ، وَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [النساء: ٤٨]. فَإِذَا كَانَ الشِّرۡكُ لَا يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ وَغَيۡرُهُ يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ، فَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ، الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ وَشُرۡبُ الۡخَمۡرِ وَأَكۡلُ الرِّبَا هَٰذِهِ قَابِلَةٌ لِلۡمَغۡفِرَةِ فَهِيَ تَحۡتَ الۡمَشِيئَةِ، إِنۡ شَاءَ اللهُ غَفَرَ لِأَصۡحَابِهَا، وَإِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُمۡ، وَلَكِنۡ لَا يَخۡلُدُونَ فِي النَّارِ، وَإِنَّمَا يُعَذَّبُونَ بِقَدۡرِ ذُنُوبِهِمۡ ثُمَّ يَخۡرُجُونَ مِنَ النَّارِ؛ لِأَنَّهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ وَأَهلِ الۡإِيمَانِ، أَمَّا الشِّرۡكُ فَإِنَّهُ لَا يُغۡفَرُ، وَصَاحِبُهُ لَا يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ أَبَدًا، ﴿كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡ ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]. ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ﴾ [المائدة: ٧٢]. 

Ayat ini sudah jelas dan ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Maka jika dosa kesyirikan tidak diampuni, sedangkan dosa lainnya bisa diampuni, maka ini merupakan dalil bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Zina, pencurian, meminum khamar, memakan harta riba; ini semua bisa diampuni jika Allah kehendaki. Jika Allah ingin, maka Dia ampuni pelakunya, dan jika Dia ingin, Dia siksa mereka. Akan tetapi mereka tidak kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sekadar dosa-dosa mereka, kemudian mereka akan keluar dari neraka karena mereka masih termasuk orang yang memiliki tauhid dan keimanan. Adapun dosa kesyirikan tidak diampuni (selama belum tobat) dan pelakunya tidak akan keluar dari neraka selama-lamanya. Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah, Allah perlihatkan amalan-amalan mereka agar menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). “Sesungguhnya siapa saja yang berbuat syirik terhadap Allah, maka sungguh Allah haramkan janah baginya.” (QS. Al-Maidah: 72). 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ. 

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga, dan sahabatnya.

Memalingkan Ibadah kepada Selain Allah adalah Syirik

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ غَيۡرَهُ.
Sehingga, siapa saja yang memalingkan salah satu jenis ibadah ini kepada selain Allah taala, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] لِأَنَّ هَٰذِهِ كُلَّهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا نَوۡعًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا بِاللهِ فِي عِبَادَتِهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الَّذِي لَا يُغۡفَرُ إِلَّا بِالتَّوۡبَةِ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ وَيَصۡرِفُونَ أَنۡوَاعًا كَثِيرَةً مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، وَيَعۡتَبِرُونَ هَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَإِنَّمَا هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاءُ وَوَسَائِطُ تُقَرِّبُهُمۡ إِلَى اللهِ، يُزَيِّنُ لَهُمۡ شَيَاطِينُ الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ هَٰذَا الۡعَمَلَ، وَيُسَمُّونَ الشِّرۡكَ بِغَيۡرِ اسۡمِهِ، يُسَمُّونَهُ طَلَبًا لِلشَّفَاعَةِ، يُسَمُّونَهُ تَوَسُّلًا إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الَّتِي أَضَلُّوا بِهَا كَثِيرًا مِنَ الرِّعَاعِ، لَا سِيَّمَا وَأَنَّهُمۡ يُرَغِّبُونَ بِأَنَّهُ مَنۡ فَعَلَ هَٰذَا حَصَلَ لَهُ كَذَا، وَأَنۡ مَنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡهُ يَحۡصُلُ عَلَيۡهِ كَذَا، وَيُرَهِّبُونَهُمۡ، فَالنَّاسُ الَّذِينَ لَيۡسَ فِيهِمۡ إِيمَانٌ قَوِيٌّ يُتَأَثَّرُونَ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ أَوۡ بِهَٰذِهِ الۡوُعُودِ وَالتَّرۡهِيبَاتِ، فَيُمَارِسُونَ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعَ إِمَّا خَوۡفًا وَإِمَّا رَجَاءً، تَأَثُّرًا بِمَا يَسۡمَعُونَ وَمَا يَقۡرَءُونَ مِنَ الدِّعَايَةِ لِعِبَادَةِ غَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يُسَمُّونَهَا شِرۡكًا بَلۡ يَقُولُونَ إِنَّهَا مِنۡ صَمِيمِ التَّوۡحِيدِ، وَالَّذِي يُنۡكِرُهَا يَصِفُونَهُ بِأَنَّهُ خَارِجِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَعۡرِفُ قَدۡرَ الصَّالَحِينَ. 

Karena semua ini termasuk jenis-jenis ibadah, maka siapa saja yang memalingkan satu jenis dari ibadah-ibadah tersebut, maka dia menjadi orang yang berbuat syirik kepada Allah di dalam ibadah kepada-Nya dengan syirik akbar yang tidak akan diampuni kecuali dengan tobat. Banyak orang yang mengaku Islam namun mereka memalingkan banyak dari jenis-jenis ibadah ini untuk selain Allah azza wajalla. Kita memohon penjagaan kepada Allah. Mereka menganggap ini bukan termasuk ibadah dan mereka ini hanyalah pemberi syafaat dan perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Para setan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi amalan ini dan mereka menamakan syirik dengan nama lain. Mereka menamakannya dengan permintaan syafaat. Mereka menamakannya dengan tawasul kepada Allah subhanahu wa taala. Mereka juga menamakannya dengan nama-nama selain itu sehingga mereka menyesatkan banyak rakyat jelata dengannya. Terlebih lagi mereka memberi motivasi bahwa siapa yang melakukan ini, maka akan memperoleh ini. Dan siapa yang tidak melakukannya akan tertimpa musibah ini dalam rangka menakut-nakuti mereka. Sehingga orang-orang yang tidak memiliki iman yang kuat menjadi terpengaruh dengan ancaman, janji, dan intimidasi ini. Lalu mereka pun mencoba melakukan amalan syirik ini, bisa jadi dengan rasa takut atau rasa harap karena pengaruh apa yang mereka dengar atau baca dari propaganda/ajakan untuk beribadah kepada selain Allah azza wajalla. Para setan dari kalangan jin dan manusia itu tidak menamakannya dengan kesyirikan, bahkan mereka menamakannya sebagai bagian dari inti tauhid. Sementara orang yang mengingkari amalan kesyirikan ini, akan mereka sifati bahwa dia adalah orang berpemikiran khawarij dan orang tersebut tidak mengerti kedudukan orang-orang saleh. 

وَلَا يَتَأَمَّلُونَ الۡقُرۡآنَ وَالسُّنَّةَ؛ لِأَنَّ اللهَ أَعۡمَى بَصَائِرَهُمۡ فَلَمۡ يَلۡتَفِتُوا إِلَى دَلَائِلِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، وَإِنَّمَا يَلۡتَفِتُونَ إِلَى أَقۡوَالِ شُيُوخِهِمۡ وَمُعَظَّمِيهِمۡ وَيَقُولُونَ: هُمۡ أَعۡلَمُ مِنَّا بِالۡقُرۡآنِ، وَأَعۡلَمُ مِنَّا بِالسُّنَّةِ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةٍ. 

Mereka tidak mau memperhatikan Alquran dan Sunah karena Allah telah membutakan mata hati mereka sehingga mereka tidak menoleh kepada dalil-dalil Alquran dan Sunah. Mereka hanya menoleh kepada ucapan-ucapan syekh-syekh dan tokoh-tokoh mereka. Mereka berkata, “Mereka lebih mengetahui Alquran daripada kami dan mereka lebih mengerti Sunah daripada kami.” Ini dari satu segi. 

وَالنَّاحِيَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّ مَنۡ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَإِنَّهُ مُسۡلِمٌ مُؤۡمِنٌ وَلَوۡ عَمِلَ مَا عَمِلَ مِنَ الۡأُمُورِ، لَوۡ يَدۡعُو الۡأَمۡوَاتِ وَيَسۡتَغِيثُ بِهِمۡ وَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَهُوَ مُسۡلِمٌ. 

Segi yang kedua, bahwa mereka mengatakan, “Siapa saja yang telah mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia adalah seorang muslim dan mukmin, walaupun dia mengerjakan amalan apa saja. Jadi, andai dia berdoa kepada orang-orang mati, istigasah kepada mereka, dan menyembelih untuk mereka, selama dia mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia tetap muslim.” 

وَهُوَ إِنَّمَا يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَفۡظًا وَيُنَاقِضُهَا مَعۡنًى، وَهَٰذَا لَا يُفِيدُهُ شَيۡئًا، هُوَ قَالَهَا بِلِسَانِهِ لَكِنۡ خَالَفَهَا بِاعۡتِقَادِهِ وَخَالَفَهَا بِأَفۡعَالِهِ، فَلَا تُفِيدُهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ شَيۡئًا لِأَنَّهُ أَبۡطَلَهَا وَنَاقَضَهَا. 

Padahal orang yang hanya mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah,” secara lafal saja, namun dia malah menggugurkan makna dari ucapan itu, maka ini tidak memberi faedah apa-apa untuknya. Dia hanya mengatakan dengan lisannya saja, namun iktikad dan perbuatannya menyelisihinya. Sehingga ucapan “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah” tidak memberi faedah apapun baginya karena dia sendiri yang membatalkan dan menggugurkannya.

Dalil Khusyuk

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا. 

Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199)[1]
Dan ayat-ayat semisal itu. 


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] الۡخُشُوعُ هُوَ الۡانۡخِفَاضُ وَعَدَمُ التَّرَفُّعِ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَهَٰذِهِ فِيهَا الثَّنَاءُ عَلَى مُؤۡمِنِي أَهۡلِ الۡكِتَابِ الۡمُتَّصِفِينَ بِهَٰذِهِ الصِّفَةِ، فَهُمۡ لَا يَخۡشَعُونَ لِغَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Khusyuk adalah merendah dan tidak merasa tinggi. Khusyuk ini adalah satu jenis dari sekian jenis ibadah. Dalam ayat tersebut, ada sanjungan bagi orang-orang mukmin ahli kitab yang berhias dengan sifat khusyuk ini. Mereka tidak khusyuk kepada selain Allah subhanahu wa taala.

Dalil Rukuk dan Sujud

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].
Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] حَيۡثُ أَمَرَ اللهُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَالرُّكُوعُ هُوَ الۡخُضُوعُ بِالرَّأۡسِ وَالۡانۡحِنَاءُ، وَالسُّجُودُ: وَضۡعُ الۡجَبۡهَةِ عَلَى الۡأَرۡضِ عَلَى وَجۡهِ التَّعۡظِيمِ، هَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَرۡكَعَ لِأَحَدٍ، وَلَا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ، فَإِنۡ رَكَعَ لِغَيۡرِ اللهِ أَوۡ سَجَدَ لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ. 

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan rukuk dan sujud. Rukuk adalah menundukkan kepala dan merunduk. Sujud adalah meletakkan dahi di atas bumi sebagai bentuk pengagungan. Ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh bagi seorang pun untuk rukuk atau sujud kepada orang lain. Jika dia rukuk atau sujud untuk selain Allah, maka dia seorang musyrik.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1458

٤٢ - بَابٌ لَا تُؤۡخَذُ كَرَائِمُ أَمۡوَالِ النَّاسِ فِي الصَّدَقَةِ 
42. Bab tidak boleh diambil harta kaum muslimin yang sangat bernilai untuk zakat 


١٤٥٨ - حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بۡنُ بِسۡطَامٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أُمَيَّةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَيۡفِيٍّ، عَنۡ أَبِي مَعۡبَدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَلَى الۡيَمَنِ، قَالَ: (إِنَّكَ تَقۡدَمُ عَلَى قَوۡمٍ أَهۡلِ كِتَابٍ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ عِبَادَةُ اللهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ قَدۡ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوۡمِهِمۡ وَلَيۡلَتِهِمۡ، فَإِذَا فَعَلُوا، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ زَكَاةً مِنۡ أَمۡوَالِهِمۡ، وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا، فَخُذۡ مِنۡهُمۡ، وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمۡوَالِ النَّاسِ). [طرفه في: ١٣٩٥]. 

1458. Umayyah bin Bistham telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Rauh bin Al-Qasim menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Umayyah, dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shaifi, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Jika mereka sudah mengenali Allah, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu sehari semalam kepada mereka. Jika mereka telah melakukannya, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat dari sebagian harta mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatinya, maka ambillah sebagian harta mereka dan jauhilah dari (mengambil) harta-harta kaum muslimin yang sangat bernilai.”

Dalil Ta`alluh

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣].
Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] إِلٰهُكُمۡ: يَعۡنِي: مَعۡبُودُكُمۡ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ، إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يَسۡتَحِقُّ الۡعِبَادَةَ غَيۡرُهُ ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ﴾ [الحج: ٦٢]. وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ غَيۡرَ اللهِ فَقَدۡ اتَّخَذَهُ إِلٰهًا، لَكِنَّهُ إِلٰهٌ بَاطِلٌ، وَالۡإِلٰهُ الۡحَقُّ هُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَجُوزُ أَنۡ نَتَأَلَّهَ لِغَيۡرِهِ. 

Ilah kalian artinya sembahan kalian yang berhak diibadahi, sembahan yang esa, yaitu Allah subhanahu wa taala. Adapun selain Allah tidak berhak diibadahi. Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu karena Allah Dialah (Ilah) yang Mahabenar. Adapun apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62). Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka dia telah menjadikan yang disembah itu sebagai ilah, namun ilah yang batil. Adapun ilah yang benar adalah Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah subhanahu wa taala, tidak boleh kita menjadikan selain Allah sebagai ilah.

Dalil Raghbah dan Rahbah

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].
Dalil raghbah dan rahbah adalah firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan perasaan harap dan cemas, serta mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] لَمَّا ذَكَرَ اللهُ فِي سُورَةِ الۡأَنۡبِيَاءِ مَوَاقِفَ الۡأَنۡبِيَاءِ فِي الۡعِبَادَةِ وَمَوَاقِفَهُمۡ عِنۡدَ الۡابۡتِلَاءِ وَالۡامۡتِحَانِ، قَالَ: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا﴾ أَيۡ: طَمۡعًا فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، ﴿وَرَهَبًا ۖ﴾ [الأنبياء: ٩٠] أَيۡ: خَوۡفًا مِنۡ عِقَابِهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الرَّغۡبَةَ وَالرَّهۡبَةَ نَوۡعَانِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ إِخۡلَاصُهُمَا لِلهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. قُدِّمَ الۡجَارُّ وَالۡمَجۡرُورُ لِيُفِيدُ الۡحَصۡرَ؛ أَيۡ: لَا نَرۡغَبُ إِلَى غَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Ketika Allah telah menyebutkan di dalam surah Al-Anbiya` tentang pendirian para Nabi dalam ibadah dan pendirian mereka ketika ujian dan cobaan, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam berbagai kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan raghbah,” yakni sangat mengharap apa yang ada di sisi Allah. “Serta rahbah,” (QS. Al-Anbiya`: 90, yakni takut dari hukuman-Nya. Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa raghbah dan rahbah adalah dua jenis di antara sekian jenis ibadah yang wajib mengikhlaskan dua ibadah itu untuk Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku, kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Dikedepankannya jarr dan majrur adalah untuk memberi faedah pembatasan. Maksudnya, kami tidak takut kepada selain Allah subhanahu wa taala. 

وَفِي الۡآيَةِ رَدٌّ عَلَى الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا نَعۡبُدُهُ خَوۡفًا مِنۡ نَارِهِ وَلَا طَمۡعًا فِي جَنَّتِهِ، وَإِنَّمَا نَعۡبُدُهُ لِأَنَّنَا نُحِبُّهُ وَهَٰذَا مُخَالِفٌ لِمَا عَلَيۡهِ الۡأَنۡبِيَاءُ. 

Di dalam ayat ini ada bantahan kepada kelompok Shufiyyah (penganut Sufisme) yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepada Allah karena takut dari neraka-Nya dan mengharap janah-Nya. Kami beribadah kepada Allah hanya karena kami mencintai-Nya.” Ucapan ini menyelisihi pendirian para Nabi.

Dalil Khasyyah

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الۡخَشۡيَةِ: ﴿فَلَا تَخۡشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ﴾ [الۡمَائدة: ٤٤].
Dalil khasyyah, “Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الۡخَشۡيَةَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَأَنَّ مَنۡ خَشِيَ غَيۡرَ اللهِ فَتَرَكَ مَا أَوۡجَبَهُ اللهُ عَلَيۡهِ فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِهِ. 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa khasyyah (rasa takut) adalah salah satu jenis ibadah dan bahwa siapa saja yang takut kepada selain Allah sehingga meninggalkan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah.

Dalil Mahabah

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الۡمَحَبَّةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].
Dalil mahabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] ﴿وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥] لِأَنَّهُمۡ أَحَبُّوا اللهَ وَحۡدَهُ، وَلَمۡ يُحِبُّوا مَعَهُ غَيۡرَهُ، أَمَّا الۡمُشۡرِكُونَ فَإِنَّهُمۡ أَحَبُّوا مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ؛ وَلِذٰلِكَ صَارُوا مُشۡرِكِينَ. 

Firman Allah yang artinya, “Sedangkan orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Karena mereka mencintai Allah semata dan di samping mencintai Allah, mereka tidak mencintai selain Allah. Adapun orang-orang musyrik, mereka di samping mencintai Allah, juga mencintai selain Dia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang musyrik.