Al-Qawa'idul Arba' (القواعد الأربع)

Alhamdulillah. Matan kitab bahasa arab Al-Qawa'idul Arba' karya Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab dalam format PDF bisa didownload di sini. Adapun terjemahan, audio mp3, dan lain-lain bisa didapatkan di situs kaahil.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (4), Bab Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur

Sujud sahwi disyariatkan jika seseorang ketika shalat menambah ruku’, sujud, berdiri, duduk karena lupa. Atau mengurangi salah satu rukun, maka dia menyempurnakannya kemudian sujud. Atau meninggalkan salah satu kewajiban-kewajiban shalat karena lupa atau ragu-ragu lebih atau kurang.
Sungguh telah tsabit bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri padahal seharusnya tasyahhud awal, kemudian beliau bersujud[1]. Beliau pernah salam pada saat dua raka’at zhuhr atau ashr, kemudian para shahabat mengingatkan beliau, lalu beliau menyempurnakan dan sujud karena lupa[2]. Beliau juga pernah shalat zhuhr lima raka’at, lalu dikatakan kepada beliau, “Apakah shalat ini ditambah raka’atnya?” Kemudian beliau bertanya, “Kenapa begitu?” Mereka menjawab, “Engkau shalat lima raka’at.” Kemudian beliau sujud 2 kali setelah salam. (Muttafaqun ‘alaih[3]). Beliau pernah bersabda,
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ رَابِعًا، فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
“Jika salah seorang kalian ragu-ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa raka’at, tiga atau empat, maka hendaknya dia campakkan keragu-raguannya dan hendaknya dia berpatokan pada apa yang dia yakini, kemudian sujud 2 kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat 5 raka’at, maka sujudnya menggenapkan shalatnya. Jika ternyata dia shalat sempurna 4 raka’at, maka sujudnya sebagai penghinaan untuk setan.” (HR. Ahmad dan Muslim[4]). Dia boleh memilih sujud sebelum salam atau setelahnya.
Disunnahkan bagi yang membaca Al-Qur`an dan yang menyimaknya, jika membaca ayat sajdah, agar dia sujud satu kali, baik ketika shalat atau di luar shalat.
Demikian pula, jika seseorang baru saja mendapatkan nikmat atau terlindung dari siksa, disyariatkan sujud kepada Allah dalam rangka syukur. Hukum sujud syukur seperti hukum sujud tilawah.

[1] HR. Al-Bukhari (1224) dan Muslim (570).
[2] HR. Al-Bukhari (482) dan Muslim (573) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. Al-Bukhari (404) dan Muslim (572) dari hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
[4] HR. Ahmad (3/72) dan Muslim (571) dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu.

Manhajus Salikin - Kitab Shalat (3)

Rukun-rukun yang berupa ucapan dari hal-hal yang telah disebutkan adalah takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah bagi selain ma`mum, membaca tasyahhud akhir, dan salam.
Dan perbuatan-perbuatan shalat yang lainnya merupakan rukun-rukun fi’liyyah (berupa perbuatan), kecuali tasyahhud awal. Tasyahhud awal termasuk kewajiban-kewajiban shalat, seperti halnya takbir-takbir selain takbiratul ihram, ucapan
سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡعَظِيمِ
Subhaana rabbiyal ‘azhim (Maha Suci Rabbku yang Maha Agung)” ketika ruku’ dan ucapan
سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡأَعۡلَى
Subhaana rabbiyal a’laa (Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi)” sekali ketika sujud, dan ucapan
رَبِّ اغۡفِرۡ لِي
Rabbighfirli (Wahai Rabbku, ampunilah aku)” di antara dua sujud satu kali satu kali apabila ditambah maka itu sunnah, dan ucapan
سَمِعَ اللهُ لِمَنۡ حَمِدَهُ
Sami'allahu liman hamidah (Allah Maha Mendengar setiap orang yang memujiNya)” bagi imam dan orang yang shalat sendirian, dan ucapan
رَبَّنَا لَكَ الۡحَمۡدُ
Rabbana lakal hamdu (Wahai Rabb kami, hanya untuk Engkaulah segala pujian)” bagi semuanya. Ini adalah kewajiban-kewajiban shalat yang gugur karena lupa, dan sujud sahwi dapat menggantikannya.
Adapun rukun-rukun tidak bisa gugur karena lupa, tidak tahu, atau sengaja. Adapun yang lainnya merupakan sunnah-sunnah ucapan dan perbuatan yang menyempurnakan shalat.
Termasuk rukun adalah thuma'ninah di semua rukun-rukun shalat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قُمۡتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسۡبِغۡ الۡوُضُوءَ ثُمَّ اسۡتَقۡبِلۡ الۡقِبۡلَةَ فَكَبِّرۡ، ثُمَّ اقۡرَأۡ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ، ثُمَّ ارۡكَعۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّى تَعۡتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسۡجُدۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسۡجُدۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افۡعَلۡ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
“Jika engkau berdiri untuk shalat maka sempurnakanlah wudhu`, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbir. Kemudian membaca surat Al-Qur`an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’ sampai engkau thuma`ninah dalam ruku’. Kemudian bangkit sampai berdiri lurus. Kemudian sujudlah sehingga engkau thuma`ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah sehingga engkau thuma`ninah duduk. Kemudian sujudlah sehingga engkau thuma`ninah dalam sujud. Kemudian lakukanlah hal-hal tersebut di dalam seluruh shalatmu.” (Muttafaqun ‘alaih[1]).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيۡتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaqun ‘alaih[2]).
Jika telah selesai dari shalat, beristighfar tiga kali, lalu mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَنۡتَ السَّلَامُ وَمِنۡكَ السَّلَامُ تَبَارَكۡتَ يَا ذَا الۡجَلَالِ وَالۡإِكۡرَامِ، سُبۡحَانَ اللهِ وَالۡحَمۡدُ للهِ وَاللهُ أَكۡبَرُ
“Ya Allah, Engkau adalah As-Salaam, hanya dari Engkaulah keselamatan. Maha suci Engkau wahai yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar” (33 kali). Dan mengucapkan,
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الۡمُلۡكُ وَلَهُ الۡحَمۡدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌ
“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, satu-satunya tidak ada sekutu bagiNya. MilikNyalah kekuasaan dan bagiNyalah pujian dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” sempurna 100.
Shalat rawatib yang sunnah mu`akkadah mengikuti shalat-shalat wajib ada sepuluh, yaitu yang tersebut di dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,
حَفِظۡتُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ رَكَعَاتٍ: رَكۡعَتَانِ قَبۡلَ الظُّهۡرِ وَرَكۡعَتَانِ بَعۡدَهَا وَرَكۡعَتَانِ بَعۡدَ الۡمَغۡرِبِ فِي بَيۡتِهِ وَرَكۡعَتَانِ بَعۡدَ الۡعِشَاءِ فِي بَيۡتِهِ وَرَكۡعَتَانِ قَبۡلَ صَلَاةِ الصُّبۡحِ
“Aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 raka’at: 2 raka’at sebelum zhuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib di rumah beliau, 2 raka’at setelah ‘isya` di rumah beliau, dan 2 raka’at sebelum shalat shubuh.” (Muttafaqun ‘alaih[3]).

[1] HR. Al-Bukhari (757) dan Muslim (397).
[2] HR. Al-Bukhari (631) dari hadits Malik bin Al-Huwairits. Dan konteks ini bukan riwayat Muslim.

كشف الشبهات Kasyfusy Syubuhaat (Menyingkap Syubhat-syubhat)

Alhamdulillah, matan kitab Kasyfusy Syubuhaat format PDF bisa didownload di link berikut: Kasyfusy Syubuhaat. Adapun terjemahan kitab ini bisa dilihat di Maktabah At-Tamimi. Audio matannya bisa didownload di sini. Ceramah ta'lim yang membahas kitab ini di antaranya:
Wa lillaahil hamd.