Ibnu Khuzaimah

Naisabur menjadi satu dari sekian tempat lahirnya pakar hadis dan ulama kelas dunia. Bagi sebagian pembaca mungkin Kota Naisabur masih terasa asing di telinga. Kota indah ini secara geografis terletak di Provinsi Khurasan yang sekarang masuk wilayah Iran. Kota Naisabur berjarak kurang lebih 432 mil dari arah timur Teheran yang merupakan Ibu kota Iran. Kota ini pernah mencapai masa keemasan pada abad 10 sebelum luluh lantak karena invasi pasukan Mongol. Di sinilah terlahir seorang tokoh ilmu hadis pada abad ke 4 yang sangat terkenal. Beliau adalah Ibnu Khuzaimah yang sejatinya bernama lengkap Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Shalih bin Bakar An Naisaburi Asy Syafi’i rahimahullah. Ulama dengan kuniah Abu Bakar lahir pada bulan Shafar tahun 223 atau bertepatan dengan 838 M di Naisabur. 

PENDIDIKAN ILMIYAHNYA 


Semenjak kecil beliau tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang taat beragama. Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan antusias mempelajari hadis sejak usia kecil. Memang luar biasa, sangat jarang ada anak kecil punya semangat menggelora untuk belajar ilmu hadis. Bahkan Ibnu Khuzaimah kecil meminta izin kepada ayahnya untuk belajar hadis kepada Qutaibah bin Sa’id rahimahullah. Ia sangat berharap dukungan dari sang ayah untuk merealisasikan tekadnya tersebut. Namun sang ayah menghasung agar fokus mempelajari Al Quran terlebih dahulu. “Aku akan mengizinkanmu jika engkau menyelesaikan Al Quran terlebih dahulu.” Ujar sang ayah. Beliau pun termotivasi dengan syarat yang diajukan ayahnya, sehingga mampu menyelesaikan hafalan Al Quran ketika masih kecil. 

Talenta besar beliau memang sudah terlihat di masa kanak-kanak. Menjadi penghafal Al Quran di masa kecil merupakan fenomena yang biasa di kalangan salaf. Tibalah saatnya beliau berpetualang mencari hadis dari para ulama. Ibnu Khuzaimah menuturkan, “Aku pergi ke Moru dan mendengarkan hadis dari Muhammad bin Hisyam lalu sampailah berita kematian Ibnu Qutaibah kepada kami.” Ibnu Qutaibah meninggal pada tahun 240 H sehingga perjalanan ilmiyah Ibnu Khuzaimah mulai dilakukan pada usia 17 tahun. 

Petulangan mencari hadis dilakukan dengan antusias dan spirit yang tinggi. Beliau melawat ke berbagai negeri semata-mata demi periwayatan hadis bukan untuk tujuan lain. Belahan negeri Islam bagian timur menjadi target utama dalam periwayatan hadis. Selain Naisabur, lawatan beliau meliputi Marwa, Ray, Syam, Jazirah, Mesir, Wasith, Baghdad, Bashrah, dan Kufah. Selama penjelajahan ke negeri-negeri tersebut beliau belajar kepada para ulama semisal Ali bin Muhammad, Muhammad bin Mihran Al Jammal, Musa bin Sahl Ar Ramli, Abdul Jabbar bin Al A’la, Yunus bin Abdul A’la, Muhammad bin Harb, Nashr bin Ali Al Azdi, Abu Kuraib Muhammad bin Al A’la, Ali bin Hujr, Muhammad bin Basyar, dan masih banyak yang lainnya. 

Beliau banyak mencurahkan hidupnya untuk mengkaji hadis dan ilmu fikih. Hingga akhirnya menjadi ulama dengan kepakarannya dalam ilmu hadis dan dukungan intelektual yang tinggi serta hafalan super kuat. Sampai-sampai beliau pernah menyatakan, “Tidaklah aku menulis hitam di atas putih kecuali aku pasti mengetahuinya.” Bahkan di zaman itu beliau merupakan salah satu ulama yang paling berilmu tentang fikihnya Syafi’i. Beliau juga seorang imam mujtahid dalam bidang fikih bahkan telah mencapai level mujtahid mutlak. Tak pelak beliau menjadi incaran para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri. Sehingga Al Bukhari dan Muslim juga pernah meriwayatkan darinya pada selain kedua kitab shahihnya. Bahkan sebagian syaikhnya juga meriwayatkan darinya seperti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, Yahya bin Muhammad bin Sha’id, Abu Ali an-Naisaburi, dan yang lainnya. 

PUJIAN ULAMA 


Ada banyak ulama yang memberikan apresiasi yang baik kepada beliau atas kapasitas keilmuan dan integritasnya dalam dakwah. Berkata Ibnu Hibban rahimahullah, “Aku belum pernah melihat di atas muka bumi ini orang yang sangat baik penguasaan terhadap hadis melebihi Muhammad bin Ishaq. Ia mampu menghafal lafal-lafal hadis beserta dengan tambahannya. Seakan-akan seluruh hadis berada di hadapan kedua pelupuk matanya.” 

“Seorang Hafizh (penghafal), Hujjah, Syaikhul Islam, Imamnya para ulama, pemilik berbagai karya tulis, mengerahkan segenap kemampuan di masa mudanya untuk mempelajari hadis hingga menjadi simbol dalam ilmu agama dan kekuatan hafalan.” Demikian sanjungan Adz Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A’lamin Nubala. Ad Daruquthni tak ketinggalan memujinya setinggi langit, “Ibnu Khuzaimah adalah seorang imam dan pakar hadis yang sangat teliti dan ulama yang tiada duanya.” 

Para pembaca yang budiman, apa rahasianya hingga beliau menjadi ulama yang ilmunya sangat luas dan bermanfaat bagi Islam serta kaum muslimin. Rasa penasaran mendorong sebagian orang untuk bertanya kepada beliau, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu sedemikian luas.” Ibnu Khuzaimah rahimahullah menjawab, “Air zam-zam memberikan manfaat sesuai yang diinginkan ketika meminumnya. Dan aku ketika minum air zam-zam memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” 

Tentu semua adalah karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang terlimpah kepada beliau. Dengan didukung tajamnya kecerdasan, kekuatan hafalan, dan perjuangan nan tinggi. Pantaslah jika Ibnu Abi Hatim merasa heran ketika ditanya bagaimana status Ibnu Khuzaimah. Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata, “Celaka kalian, semestinya beliau yang ditanya tentang kami, bukan kami yang ditanya tentang beliau! Jelas beliau adalah seorang Imam yang pantas diteladani.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ia adalah lautan ilmu yang telah mengembara ke banyak negeri untuk mencari hadis dan ilmu. Lalu ia mencatat, menulis, dan mengumpulkannya. Adapun kitabnya Ash Shahih termasuk kitab yang paling bermanfaat lagi agung. Dialah seorang mujtahid dalam agama Islam.” 

KARYA TULISNYA 


Ratusan karya ilmiyah terlahir dari tangan beliau sepanjang hidup. Pengabdiannya terhadap Islam tidak hanya terwujud dengan lisan semata. Namun ternyata beliau sangat aktif menorehkan tinta hitam dalam berbagai disiplin ilmu agama. Tentang hal ini Al Hakim rahimahullah pernah berkata, “Menurutku, kelebihan-kelebihan Ibnu Khuzaimah terhimpun dalam kertas-kertas yang begitu banyak. Sementara karya tulisnya lebih dari 140 buku dan itu pun belum termasuk karyanya yang berupa masail yang jumlahnya lebih dari 100 juz. Beliau juga mempunyai tulisan yang membahas fikih hadis Barirah sebanyak 3 juz.” Namun sangat disayangkan mayoritas karya tulisnya tidak sampai kepada kita hingga saat ini. 

Di antara kitabnya yang sangat terkenal adalah Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah. Nama asli kitab ini sebagaimana disebutkan oleh penulisnya sendiri adalah Mukhtasharul Mukhtashar minal Musnad Ash Shahih ‘anin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam binaqlil ‘adli ‘anil adli maushulan ilaihi shallallahu ‘alaihi wa sallam min ghairi Qath’in fi Atsnail Isnad wa Jarhin fi Naqilil Ikhbar. Demikian halnya kitab At Tauhid yang mendeskripsikan tentang akidah Ahlus Sunnah wa Jama’ah. Dan juga di antara buah karyanya adalah kitab Sya’nun Du’a wa Tafsirul Ad’iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Khuzaimah merupakan figur ulama yang komitmen terhadap Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akidah yang lurus. Tulisan-tulisan ilmiyahnya terutama At Tauhid mencerminkan bagaimana hakikat akidah beliau. Demikian halnya statmen beliau dalam bab Tauhid Asma’ wa Shifat semisal pernyataannya, “Siapa saja yang enggan menetapkan bahwa Allah beristiwa’ di atas Arsy-Nya di atas tujuh langit, berarti dia seorang kafir.” 

Tentang Al Quran beliau menyatakan, “Al Quran adalah Kalamullah (firman Allah) dan barang siapa mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk maka dia telah kafir. Pelakunya harus dimintai tobatnya, jika dia bertobat maka itu yang diinginkan. Namun jika tidak maka hukumannya adalah dibunuh dan tidak boleh menguburkannya di pemakaman kaum muslimin.” Ibnu Khuzaimah juga tegas membantah kelompok-kelompok menyimpang semisal Jahmiyah, Kullabiyah, dan yang lainnya. 

AKHIR HAYATNYA 


Beliau meninggal pada malam Sabtu di bulan Dzulqa’dah tahun 311 H dalam usia 88 tahun. Jenazah Ibnu Khuzaimah disalati oleh putranya sendiri, yaitu Abu Nashr bersama dengan segenap kaum muslimin. Pada awalnya jenazah beliau dimakamkan di kamar rumahnya. Namun selanjutnya kamar tersebut dijadikan sebagai kuburan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau dan memberikan balasan yang terbaik atas segala kebaikan beliau untuk Islam serta kaum muslimin. Allahu A’lam

Sumber: Majalah Qudwah edisi 58 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah

Shahih Muslim hadits nomor 88

١٤٤ - (٨٨) - وَحَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ حَبِيبٍ الۡحَارِثِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ – وَهُوَ: ابۡنُ الۡحَارِثِ -: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فِي الۡكَبَائِرِ قَالَ: (الشِّرۡكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الۡوَالِدَيۡنِ، وَقَتۡلُ النَّفۡسِ، وَقَوۡلُ الزُّورِ). 
144. (88). Yahya bin Habib Al-Haritsi telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah bin Abu Bakr mengabarkan kepada kami dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa-dosa besar. Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa seseorang, dan ucapan dusta.” 
(...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡوَلِيدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡحَمِيدِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ قَالَ: ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡكَبَائِرَ - أَوۡ سُئِلَ عَنِ الۡكَبَائِرِ - فَقَالَ: (الشِّرۡكُ بِاللهِ، وَقَتۡلُ النَّفۡسِ، وَعُقُوقُ الۡوَالِدَيۡنِ)، وَقَالَ: (أَلَا أُنَبِّئُكُمۡ بِأَكۡبَرِ الۡكَبَائِرِ؟) قَالَ: (قَوۡلُ الزُّورِ - أَوۡ قَالَ: شَهَادَةُ الزُّورِ -). قَالَ شُعۡبَةُ: وَأَكۡبَرُ ظَنِّي أَنَّهُ: (شَهَادَةُ الزُّورِ). 
[البخاري: كتاب الشهادات، باب ما قيل في شهادة الزور، رقم: ٢٥١٠]. 
Muhammad bin Al-Walid bin ‘Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin Abu Bakr menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Malik mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dosa-dosa besar atau ditanya tentang dosa-dosa besar, lalu beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa seseorang, dan durhaka kepada kedua orang tua.” Dan beliau bersabda, “Maukah aku beritakan kepada kalian dosa yang paling besar?” Beliau bersabda, “Ucapan dusta.” Atau beliau bersabda, “Persaksian dusta.” Syu’bah berkata: Perkiraan kuatku bahwa itu adalah, “Persaksian dusta.”

Shahih Muslim hadits nomor 87

٣٨ - بَابُ بَيَانِ الۡكَبَائِرِ وَأَكۡبَرِهَا 
38. Bab keterangan dosa-dosa besar dan dosa yang paling besar 

١٤٣ - (٨٧) - حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ بُكَيۡرِ بۡنِ مُحَمَّدٍ النَّاقِدُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عُلَيَّةَ، عَنۡ سَعِيدٍ الۡجُرَيۡرِيِّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ أَبِي بَكۡرَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: كُنَّا عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (أَلَا أُنَبِّئُكُمۡ بِأَكۡبَرِ الۡكَبَائِرِ؟ - ثَلَاثًا -: الۡإِشۡرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الۡوَالِدَيۡنِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَوۡ قَوۡلُ الزُّورِ). وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ، فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلۡنَا: لَيۡتَهُ سَكَتَ. 
[البخاري: كتاب الشهادات، باب ما قيل في شهادة الزور، رقم: ٢٥١١]. 
143. (87). ‘Amr bin Muhammad bin Bukair bin Muhammad An-Naqid telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Sa’id Al-Jurairi: ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Beliau mengatakan: Kami pernah berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan dosa-dosa terbesar?” Sebanyak tiga kali. “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian dusta atau ucapan dusta.” Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan bersandar, lalu beliau duduk dan beliau senantiasa mengulang-ulanginya sampai-sampai kami berkata: Andai beliau diam.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2381

٢٣٨١ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو مَعۡمَرٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو، نا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، نا الۡحُسَيۡنُ، عَنۡ يَحۡيَى، حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ يَعِيشَ بۡنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ هِشَامٍ، أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ، حَدَّثَنِي مَعۡدَانُ بۡنُ طَلۡحَةَ، أَنَّ أَبَا الدَّرۡدَاءِ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَاءَ فَأَفۡطَرَ، فَلَقِيتُ ثَوۡبَانَ مَوۡلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي مَسۡجِدِ دِمَشۡقَ، فَقُلۡتُ: إِنَّ أَبَا الدَّرۡدَاءِ حَدَّثَنِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَاءَ فَأَفۡطَرَ، قَالَ: صَدَقَ، وَأَنَا صَبَبۡتُ لَهُ وَضُوءَهُ [ﷺ]. 
2381. Abu Ma’mar ‘Abdullah bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Al-Husain menceritakan kepada kami dari Yahya: ‘Abdurrahman bin ‘Amr Al-Auza’i menceritakan kepadaku dari Ya’isy bin Al-Walid bin Hisyam, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya: Ma’dan bin Thalhah menceritakan kepadaku, bahwa Abu Ad-Darda` menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muntah dan membatalkan puasa. Lalu aku berjumpa dengan Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid Damaskus. Aku berkata: Sesungguhnya Abu Ad-Darda` menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muntah dan membatalkan puasa. Tsauban berkata: Dia benar dan akulah yang menuangkan air untuk wudu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2377, 2378, dan 2379

٣١ - بَابٌ فِي الۡكُحۡلِ عِنۡدَ النَّوۡمِ لِلصَّائِمِ 
31. Bab tentang celak ketika akan tidur malam bagi orang yang berpuasa 

٢٣٧٧ – (ضعيف) حَدَّثَنَا النُّفَيۡلِيُّ، نا عَلِيُّ بۡنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ النُّعۡمَانِ بۡنِ مَعۡبَدِ بۡنِ هَوۡذَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ أَمَرَ بِالۡإِثۡمِدِ الۡمُرَوَّحِ عِنۡدَ النَّوۡمِ وَقَالَ: (لِيَتَّقِهِ الصَّائِمُ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: قَالَ لِي يَحۡيَى بۡنُ مَعِينٍ: هُوَ حَدِيثٌ مُنۡكَرٌ. يَعۡنِي حَدِيثَ الۡكُحۡلِ. 
2377. An-Nufaili telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Tsabit menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin An-Nu’man bin Ma’bad bin Haudzah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan untuk memakai itsmid (bahan celak) yang diberi wewangian ketika hendak tidur dan bersabda, “Orang yang berpuasa hendaknya menghindarinya.” Abu Dawud berkata: Yahya bin Ma’in berkata kepadaku: Ini adalah hadis munkar, yakni hadis celak. 
٢٣٧٨ – (حسن موقوف) حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ بَقِيَّةَ، أنا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنۡ عُتۡبَةَ أَبِي مُعَاذٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ كَانَ يَكۡتَحِلُ وَهُوَ صَائِمٌ. 
2378. Wahb bin Baqiyyah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami dari ‘Utbah bin Abu Mu’adz, dari ‘Ubaidullah bin Abu Bakr bin Anas, dari Anas bin Malik, bahwa beliau dahulu pernah bercelak dalam keadaan berpuasa. 
٢٣٧٩ – (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡمُخَرِّمِيُّ وَيَحۡيَى بۡنُ مُوسَى الۡبَلۡخِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ عِيسَى، عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: مَا رَأَيۡتُ أَحَدًا مِنۡ أَصۡحَابِنَا يَكۡرَهُ الۡكُحۡلَ لِلصَّائِمِ، وَكَانَ إِبۡرَاهِيمُ يُرَخِّصُ أَنۡ يَكۡتَحِلَ الصَّائِمُ بِالصَّبِرِ. 
2379. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Mukharrimi dan Yahya bin Musa Al-Balkhi telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Yahya bin ‘Isa menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. Beliau berkata: Aku tidak melihat seorang pun dari kalangan sahabat kami yang membenci celak bagi orang yang berpuasa dan dahulu Ibrahim memberi keringanan orang yang berpuasa untuk bercelak menggunakan shabir (getah pohon yang pahit).

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Asal dalam Mengi'rab Kata yang Dii'rab dengan Harakat dan yang Keluar dari Aturan itu

الۡأَصۡلُ فِي إِعۡرَابِ مَا يُعۡرَبُ بِالۡحَرَكَاتِ وَمَا خَرَجَ عَنۡهُ

قَالَ: وَكُلُّهَا تُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ، وَتُنۡصَبُ بِالۡفَتۡحَةِ، وَتُخۡفَضُ بِالۡكَسۡرَةِ، وَتُجۡزَمُ بِالسُّكُونِ؛ وَخَرَجَ عَنۡ ذٰلِكَ ثَلَاثَةُ أَشۡيَاءَ: جَمۡعُ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمُ يُنۡصَبُ بِالۡكَسۡرَةِ، وَالۡاسۡمُ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ يُخۡفَضُ بِالۡفَتۡحَةِ، وَالۡفِعۡلُ الۡمُضَارِعُ الۡمُعۡتَلُّ الۡآخِرُ يُجۡزَمُ بِحَذۡفِ آخِرِهِ.
Seluruh kata yang dii'rab menggunakan harakat dirafa' dengan dhammah, dinashab dengan fathah, dikhafdh dengan kasrah, dan dijazm dengan sukun. Ada tiga yang keluar dari aturan tersebut: jamak muannats salim dinashab dengan kasrah, isim ghairu munsharif dikhafdh dengan fathah, dan fi'il mudhari' mu'tal akhir dijazm dengan menghilangkan huruf akhir.
أَقُولُ: الۡأَصۡلُ فِي الۡأَنۡوَاعِ الۡأَرۡبَعَةِ الۡمُتَقَدِّمَةِ أَنۡ تُرۡفَعَ كُلُّهَا بِالضَّمَّةِ، نَحۡوُ: (يَضۡرِبُ زَيۡدٌ وَالرِّجَالُ وَالۡمُسۡلِمَاتُ) فَكُلٌّ مِنۡ (يَضۡرِبُ وَزَيۡدٌ وَالرِّجَالُ وَالۡمُسۡلِمَاتُ) مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
Asal dalam empat jenis yang telah disebutkan adalah seluruhnya dirafa' dengan dhammah, contoh: يَضۡرِبُ زَيۡدٌ وَالرِّجَالُ وَالۡمُسۡلِمَاتُ. Jadi, setiap dari يَضۡرِبُ, زَيۡدٌ, الرِّجَالُ, dan الۡمُسۡلِمَاتُ dirafa'. Tanda rafa'nya adalah dhammah yang tampak di akhir kata.
وَأَنۡ تُنۡصَبَ كُلُّهَا بِالۡفَتۡحَةِ -مَا عَدَا جَمۡعَ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمَ- فَإِنَّهُ يُنۡصَبُ بِالۡكَسۡرَةِ، نَحۡوُ: (لَنۡ أَضۡرِبَ زَيۡدًا وَالرِّجَالَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ) فَكُلٌّ مِنۡ (أَضۡرِبَ وَزَيۡدًا وَالرِّجَالَ) مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. وَ(الۡمُسۡلِمَاتِ) مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡكَسۡرَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ جَمۡعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ.
Dan seluruhnya dinashab dengan fathah selain jamak muannats salim yang dinashab dengan kasrah, contoh: لَنۡ أَضۡرِبَ زَيۡدًا وَالرِّجَالَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ. Jadi setiap dari أَضۡرِبَ, زَيۡدًا, dan الرِّجَالَ dinashab. Tanda nashabnya adalah fathah yang tampak di akhir kata. Dan الۡمُسۡلِمَاتِ dinashab, tanda nashabnya adalah kasrah sebagai ganti dari fathah, karena kata tersebut merupakan jamak muannats salim.
وَأَنۡ تُخۡفَضَ كُلُّهَا بِالۡكَسۡرَةِ -مَا عَدَا الۡاسۡمَ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ- فَإِنَّهُ يُخۡفَضُ بِالۡفَتۡحَةِ، وَمَا عَدَا الۡفِعۡلَ الۡمُضَارِعَ فَإِنَّهُ لَا يَدۡخُلُهُ الۡخَفۡضُ، نَحۡوُ: (مَرَرۡتُ بِزَيۡدٍ وَالرِّجَالِ وَالۡمُسۡلِمَاتِ وَأَحۡمَدَ) فَكُلٌّ مِنۡ (زَيۡدٍ وَالرِّجَالِ وَالۡمُسۡلِمَاتِ) مَخۡفُوضٌ وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡكَسۡرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. وَ(أَحۡمَدَ) مَخۡفُوضٌ أَيۡضًا وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ.
Dan seluruhnya dikhafdh dengan kasrah. Kecuali isim ghairu munsharif yang dikhafdh dengan fathah dan fi'il mudhari' yang tidak bisa dikhafdh. Contoh: مَرَرۡتُ بِزَيۡدٍ وَالرِّجَالِ وَالۡمُسۡلِمَاتِ وَأَحۡمَدَ. Jadi setiap dari زَيۡدٍ, الرِّجَالِ, dan الۡمُسۡلِمَاتِ adalah dikhafdh, tanda khafdhnya adalah kasrah yang tampak di akhir kata. Dan أَحۡمَدَ dikhafdh pula, tanda khafdhnya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah, karena kata tersebut adalah isim ghairu munsharif.
وَأَنَّ الۡمُضَارِعَ يُجۡزَمُ بِالسُّكُونِ مَا لَمۡ يَكُنۡ مُعۡتَلَّ الۡآخِرِ. نَحۡوُ: (لَمۡ يَضۡرِبۡ زَيۡدٌ) فَـ(يَضۡرِبۡ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَمۡ) وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ الظَّاهِرُ عَلَى آخِرِهِ، فَإِنۡ كَانَ مُعۡتَلَّ الۡآخِرِ جُزِمَ بِحَذۡفِ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ عَلَى خِلَافِ الۡأَصۡلِ، نَحۡوُ: (لَمۡ يَسۡعَ زَيۡدٌ) فَـ(يَسۡعَ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَمۡ) وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ وَهُوَ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ، وَالۡفَتۡحَةُ الَّتِي قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا.
Dan bahwasanya fi'il mudhari' dijazm dengan sukun selama tidak mu'tal akhir. Contoh: لَمۡ يَضۡرِبۡ زَيۡدٌ. Jadi يَضۡرِبۡ adalah fi'il mudhari' dijazm dengan لَمۡ, tanda jazmnya adalah sukun yang tampak di akhir kata. Jika fi'il mudhari'nya mu'tal akhir, maka dijazm dengan menghilangkan huruf 'illah, berbeda dengan asalnya, contoh: لَمۡ يَسۡعَ زَيۡدٌ. Di sini يَسۡعَ adalah fi'il mudhari' dijazm dengan لَمۡ. Tanda jazmnya adalah dihilangkannya huruf 'illah yaitu alif, sebagai ganti dari sukun. Dan fathah di huruf sebelumnya adalah indikasi atas hal itu.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2376

٣٠ – بَابٌ فِي الصَّائِمِ يَحۡتَلِمُ نَهَارًا فِي [شَهۡرِ] رَمَضَانَ 
30. Bab tentang orang yang berpuasa mengalami mimpi basah di siang hari bulan Ramadan 

٢٣٧٦ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ، أنا سُفۡيَانُ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ رَجُلٍ مِنۡ أَصۡحَابِهِ، عَنۡ رَجُلٍ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُفۡطِرُ مَنۡ قَاءَ، وَلَا مَنِ احۡتَلَمَ، وَلَا مَنِ احۡتَجَمَ). 
2376. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari salah seorang sahabatnya, dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah batal puasa orang yang muntah, mimpi basah, dan orang yang berbekam.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2374 dan 2375

٢٣٧٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَابِسٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي لَيۡلَى، حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ الۡحِجَامَةِ وَالۡمُوَاصَلَةِ، وَلَمۡ يُحَرِّمۡهُمَا إِبۡقَاءً عَلَى أَصۡحَابِهِ، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ تُوَاصِلُ إِلَى السَّحَرِ، فَقَالَ: (إِنِّي أُوَاصِلُ إِلَى السَّحَرِ، وَرَبِّي يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِي). 
2374. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abis, dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila: Seseorang dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari berbekam dan menyambung puasa tanpa berbuka, namun beliau tidak mengharamkan keduanya karena sayang kepada para sahabatnya. Ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau menyambung puasa sampai waktu sahur.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku menyambung puasa sampai waktu sahur dalam keadaan Rabb-ku memberiku makan dan minum.” 
٢٣٧٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، نا سُلَيۡمَانُ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡمُغِيرَةِ -، عَنۡ ثَابِتٍ قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: مَا كُنَّا نَدَعُ الۡحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ إِلَّا كَرَاهِيَةَ الۡجُهۡدِ. [خ نحوه]. 
2375. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami dari Tsabit. Beliau berkata: Anas mengatakan: Kami tidaklah meninggalkan bekam bagi orang yang berpuasa kecuali karena benci dari kepayahan (yang diakibatkannya).

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2372 dan 2373

٢٩ - بَابٌ فِي الرُّخۡصَةِ فِي ذٰلِكَ 
29. Bab tentang rukhsah dalam hal itu 

٢٣٧٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو مَعۡمَرٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو، نا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ عِكرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ احۡتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ وُهَيۡبُ بۡنُ خَالِدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ بِإِسۡنَادِهِ مِثۡلَهُ، وَجَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ وَهِشَامٌ، يَعۡنِي ابۡنَ حَسَّانَ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنۡ ابۡنِ عَبَّاسٍ مِثۡلَهُ. [خ]. 
2372. Abu Ma’mar ‘Abdullah bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berpuasa. Abu Dawud berkata: Diriwayatkan pula oleh Wuhaib bin Khalid dari Ayyub melalui sanadnya semisal hadis tersebut. Juga diriwayatkan oleh Ja’far bin Rabi’ah dan Hisyam bin Hassan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas semisal hadis tersebut. 
٢٣٧٣ – (ضعيف) حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ، نا شُعۡبَةُ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنۡ مِقۡسَمٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ احۡتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ مُحۡرِمٌ. 
2373. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu Ziyad, dari Miqsam, dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dalam keadaan puasa dan ihram.

Ujian Kubur

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah (wafat 260 H) di dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata:
وَفِتۡنَةُ الۡقَبۡرِ حَقٌّ، وَسُؤَالُ مُنۡكَرٍ وَنَكِيرٍ حَقٌّ.
Ujian di alam kubur adalah benar. Pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah benar. 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:
فِتۡنَةُ الۡقَبۡرِ: 
الۡفِتۡنَةُ لُغَةً: الاخۡتِبَارُ، وَفِتۡنَةُ الۡقَبۡرِ: سُؤَالُ الۡمَيِّتِ عَنۡ رَبِّهِ وَدِينِهِ وَنَبِيِّهِ. 
وَهِيَ ثَابِتَةٌ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. 
Ujian kubur: 
Al-Fitnah secara bahasa artinya adalah ujian. Ujian kubur adalah pertanyaan kepada mayit tentang Rabb-nya, agamanya, dan nabinya. Ujian kubur ini adalah suatu kepastian berdasarkan Alquran dan Sunah. 
قَالَ اللهُ تَعَالىَ: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِي الۡحَيَاةِ الدُّنۡيَا وَفِي الۡآخِرَةِ﴾ [إبراهيم: ٢٧]. 
وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الۡمُسۡلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الۡقَبۡرِ؛ شَهِدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ. فَذٰلِكَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِي الۡحَيَاةِ الدُّنۡيَا وَفِي الۡآخِرَةِ﴾ [إبراهيم: ٢٧]) مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ. 
Allah taala berfirman (yang artinya), “Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27). 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur, dia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Maka itulah firman Allah taala (yang artinya): Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat. (QS. Ibrahim: 27).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari nomor 1369). 
وَالسَّائِلُ مَلَكَانِ لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِنَّ الۡعَبۡدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ وَتَوَلَّى عَنۡهُ أَصۡحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسۡمَعُ قَرۡعَ نِعَالِهِمۡ، قَالَ: يَأۡتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقۡعِدَانِهِ). رَوَاهُ مُسۡلِمٌ. وَاسۡمُهُمَا: مُنۡكَرٌ وَنَكِيرٌ كَمَا رَوَاهُ التِّرۡمِذِيُّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ مَرۡفُوعًا، وَقَالَ: حَسَنٌ غَرِيبٌ.. قَالَ الۡأَلۡبَانِيُّ: وَسَنَدُهُ حَسَنٌ وَهُوَ عَلَى شَرۡطِ مُسۡلِمٍ. 
Yang bertanya adalah dua malaikat berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengiringnya pergi meninggalkannya, maka dia benar-benar mendengar suara derap sandal-sandal mereka.” Nabi melanjutkan, “Akan ada dua malaikat yang mendatanginya dan mendudukkannya.”(HR. Muslim nomor 2870). Nama kedua malaikat itu adalah Munkar dan Nakir sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (nomor 1071) dari Abu Hurairah secara marfuk dan beliau berkata: hasan garib. Al-Albani berkata: Sanadnya hasan dan sesuai dengan syarat Muslim. 
وَالسُّؤَالُ عَامٌّ لِلۡمُكَلَّفِينَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡكَافِرِينَ وَمِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ وَغَيۡرِهِمۡ عَلَى الۡقَوۡلِ الصَّحِيحِ وَفِي غَيۡرِ الۡمُكَلَّفِينَ خِلَافٌ. 
Pertanyaan ini umum diajukan baik kepada mukalaf dari kaum mukmin dan kafir, baik dari umat ini maupun selain mereka, menurut pendapat yang sahih. Sedangkan untuk selain mukalaf, maka ada perselisihan. 
وَظَاهِرُ كَلَامِ ابۡنِ الۡقَيِّمِ فِي كِتَابِ (الرُّوحِ) تَرۡجِيحَ السُّؤَالِ. وَيُسۡتَثۡنَى مِنۡ ذٰلِكَ الشَّهِيدُ لِحَدِيثٍ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ، وَمَنۡ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ لِحَدِيثٍ رَوَاهُ مُسۡلِمٌ. 
Lahiriah ucapan Ibnu Al-Qayyim dalam kitab Ar-Ruh menguatkan pendapat adanya pertanyaan malaikat. Yang dikecualikan dari hal itu adalah orang yang mati syahid berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa`i (nomor 2053). Juga orang yang meninggal dalam keadaan berjaga di perbatasan wilayah kaum muslimin di jalan Allah berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim (nomor 1913).

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2369, 2370, dan 2371

٢٣٦٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، نا وُهَيۡبٌ، نا أَيُّوبُ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ أَبِي الۡأَشۡعَثِ، عَنۡ شَدَّادِ بۡنِ أَوۡسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِالۡبَقِيعِ، وَهُوَ يَحۡتَجِمُ، وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِي، لِثَمَانِ عَشۡرَةَ خَلَتۡ مِنۡ رَمَضَانَ، فَقَالَ: (أَفۡطَرَ الۡحَاجِمُ وَالۡمَحۡجُومُ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَرَوَى خَالِدٌ الۡحَذَّاءُ عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ بِإِسۡنَادِ أَيُّوبَ مِثۡلَهُ. 
2369. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah, dari Abu Al-Asy’ats, dari Syaddad bin Aus, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada seseorang di Baqi’ yang sedang dibekam saat delapan belas hari bulan Ramadan telah berlalu dalam keadaan Rasulullah memegang tanganku, lalu beliau bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam telah berbuka puasa.” Abu Dawud berkata: Khalid Al-Hadzdza` meriwayatkan dari Abu Qilabah melalui sanad Ayyub semisal dengannya. 
٢٣٧٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ وَعَبۡدُ الرَّزَّاقِ، ح، وَنا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، نا إِسۡمَاعِيلُ - يَعۡنِي ابۡنَ إِبۡرَاهِيمَ - عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، أَخۡبَرَنِي مَكۡحُولٌ، أَنَّ شَيۡخًا مِنَ الۡحَيِّ - قَالَ عُثۡمَانُ فِي حَدِيثِهِ: مُصَدَّقٌ – أَخۡبَرَهُ أَنَّ ثَوۡبَانَ مَوۡلَى النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ قَالَ: (أَفۡطَرَ الۡحَاجِمُ وَالۡمَحۡجُومُ). 
2370. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bakr dan ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij: Makhul mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang yang tua dari sebuah kampung—‘Utsman berkata di dalam hadisnya: Bahwa orang itu dapat dipercaya—mengabarkan kepadanya bahwa Tsauban maula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam telah berbuka puasa.” 
٢٣٧١ – (صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ خَالِدٍ، نا مَرۡوَانُ، نا الۡهَيۡثَمُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، نا الۡعَلَاءُ بۡنُ الۡحَارِثِ، عَنۡ مَكۡحُولٍ، عَنۡ أَبِي أَسۡمَاءَ الرَّحَبِيِّ، عَنۡ ثَوۡبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (أَفۡطَرَ الۡحَاجِمُ وَالۡمَحۡجُومُ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: [وَ]رَوَاهُ ابۡنُ ثَوۡبَانَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ مَكۡحُولٍ، مِثۡلَهُ بِإِسۡنَادِهِ. 
2371. Mahmud bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Marwan menceritakan kepada kami: Al-Haitsam bin Humaid menceritakan kepada kami: Al-‘Ala` bin Al-Harits menceritakan kepada kami dari Makhul, dari Abu Asma` Ar-Rahabi, dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam telah berbuka puasa.” Abu Dawud berkata: Ibnu Tsauban meriwayatkannya dari ayahnya, dari Makhul, semisal hadis tersebut dengan sanadnya.

Fairuz Ad Dailami radhiyallahu ‘anhu

Shahabat kita kali ini adalah shahabat yang berasal dari Negeri Yaman. Beliau adalah Fairuz Ad Dailamy. Beliau berkuniah Abu Abdillah atau Abu Abdirrahman atau Abu Dhahhak, seorang putra dari saudara perempuan Najasy Al Himyari. Terkadang beliau dipanggil dengan Ibnu Ad Dailamiy. Ayahnya berasal dari keturunan persia sedang ibu berasal dari bangsa Arab. Beliau dari qobilah Himyar Yaman sehingga beliau terkenal dengan Al Himyari, dinisbahkan kepada tempat beliau tinggal. 

Bagaimana cerita keislaman beliau? Suatu ketika, Fairuz datang kepada Rasulullah dan mengatakan; ‘Sesungguhnya Kisra telah menulis surat kepada Baadzan (raja Yaman, red) yang berbunyi, “Sesungguhnya di negerimu ada seseorang yang mengaku-aku kenabian, maka tangkap dan bawalah ia kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Rabbku telah murka kepada tuanmu (kisra) maka Ia pun mematikannya”. Maka Fairuz pun pulang ke negerinya dan mendengar khabar kematian Kisra. Maka ia pun masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Raja Yaman (Baadzan) pun melepaskan diri dari kekuasaan imperialis Persia dan memilih memeluk Islam bersama dengan rakyat Yaman. 

Sesaat setelah kematian Baadzan, muncullah gerakan nabi palsu Al Aswad Al Ansy. Ia merebut kekuasaan negeri Yaman dari putra Baadzan dan membunuhnya. Selain banyak berbuat zalim, ia pun mengaku-aku mendapatkan kenabian dan menggunakan praktik perdukunan dan kecurangan demi melancarkan misi palsunya. Tak hanya itu, pembunuhan pun ia lakukan terhadap siapa saja yang berani merintanginya. Perlu diketahui bahwa nabi palsu yang mengaku mendapatkan kenabian saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup adalah ‘Abhalah bin Kaab (Al Aswad Al Insiy), Tsumamah bin Qais (Musailamah Al Kadzdzab), dan Thulaikah bin Al Asady. 

Ketika Rasulullah menerima laporan gerakan Aswad Al Ansy, beliau segera mengutus sepuluh orang shahabat untuk membawa surat kepada para shahabat yang dianggap berpengaruh di kawasan Yaman. Beliau memerintahkan mereka supaya segera bertindak menumpas bencana yang membahayakan Iman dan Islam. Beliau memerintahkan supaya menyingkirkan Aswad Al Ansy dengan cara yang sebaik-baiknya. 

Perintah Rasulullah tersebut disambut antusias oleh para shahabat, termasuk Fairus Ad-Dailamy dan anak buahnya. Bahkan dialah orang yang pertama kali merespon perintah Rasulullah tersebut untuk memberangus para nabi palsu. 

Fairuz akhirnya bisa membunuh Al Aswad Al Ansy dengan menyelinap masuk melalui bantuan anak paman beliau, Istri putra Baadzan yang dikawini paksa oleh Al Aswad, dan Qois bin Al Maksyuh. Maka Fairuzlah yang membunuh dan memenggal kepala Al Aswad. Kematian tersebut terjadi sesaat sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Beliau mendapat wahyu akan kematian Al Kadzdzab dan mengatakan; 
قَتَلَهُ الۡعَبۡدُ الصَّالِحُ فَيۡرُوز الدَّيۡلَمِي 
“Telah membunuhnya hamba yang saleh Fairuz Ad Dailamy.” Dalam riwayat lain, 
قَتَلَهُ رَجُلٌ مُبَارَكٌ مِنۡ أَهۡلِ بَيۡتٍ مُبَارَكِينَ 
“Yang membunuh Al Aswad Al ‘Insi adalah seorang lelaki yang diberkati yang berasal dari keluarga yang diberkati.” 

Kematian Al Aswad Al Ansy ini terjadi sekitar 3 hingga 4 bulan setelah pengakuan kenabian tersebut. Alhamdulillah. 

Yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah tiga putra beliau, Dhahhak bin Fairuz, Abdullah bin Fairuz seorang shahabat, dan Abu Imran Said bin Fairuz. Demikian juga Abu Khair Martsad bin Abdillah, Abul Kharras Ar Raiini (beliau adalah Tabiin) dan selain mereka. 

KEDUDUKAN FAIRUZ DI HADAPAN UMAR 


Umar menulis surat kepada Fairuz Ad Dailamy dalam rangka mengundang beliau pada suatu keperluan. Maka Fairuz pun datang dan meminta izin kepada Umar untuk masuk. Maka Umar pun mengizinkannya. Maka tiba-tiba ada seseorang pemuda dari suku Quraisy yang mendesaknya (untuk mendahului beliau masuk, red). Fairuz pun marah dan menampar hidung orang tersebut. Maka, orang tersebut mendahuluinya menemui Umar dengan hidung berdarah. Maka Umar bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Maka dijawab Fairuz, sedang beliau berada di pintu masuk. Maka Umar pun mengizinkan beliau untuk masuk. Umar pun bertanya, “Apa yang terjadi wahai Fairuz?” Fairuz mengatakan, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya aku adalah seorang yang baru mendapatkan kekuasaan, dan engkau menulis surat untukku (memanggilku), sedang engkau tidak memanggilnya. Engkau mengizinkanku untuk masuk sedang engkau belum mengizinkan dia masuk. Maka ia pun ingin masuk sebelumku dengan izinmu untukku.” 

Maka Umar mengatakan, “(Apakah ditegakkan) qishash?” Fairuz pun mengatakan, ‘Ya, qishash’. Maka Fairuz pun duduk berdiri di atas lutut beliau siap untuk diqishash. Ketika si pemuda hendak mengqishashnya, Umarpun mengatakan, ‘Sebentar wahai pemuda, sampai aku khabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Telah terbunuh si zalim Aswad Al Ansy. Telah membunuhnya seorang hamba yang saleh Fairuz Ad Dailamy.” Apakah engkau tetap akan menegakkan (qishash) kepadanya setelah mendengar ini dari Rasulullah.” Maka sang pemudapun mengatakan, ‘Sungguh aku telah memaafkannya setelah aku mendengarnya dari Rasulullah’. Maka Fairuz pun memberi untuk si pemuda pedang, kuda, dan tiga puluh ribu dari harta beliau sambil mengatakan, ‘Pemberian maafmu tentu akan berpahala wahai saudara Quraisy dan engkau pun akan mendapatkan harta’. 

Beliau meninggal di Negeri Yaman, diperselisihkan apakah di masa khalifah Utsman bin Affan ataukah di masa Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. Pada tahun 53 hijriyah, dimakamkan di Yaman. Wallahu a’lam. [Ustadz Hammam] 

Sumber: Majalah Tashfiyah vol.07 1439H-2018H edisi 77 rubrik Figur.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2053

١١٢ – الشَّهِيدُ 
112. Orang yang mati syahid 

٢٠٥٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنۡ لَيۡثِ بۡنِ سَعۡدٍ عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ صَالِحٍ أَنَّ صَفۡوَانَ بۡنَ عَمۡرٍو حَدَّثَهُ عَنۡ رَاشِدِ بۡنِ سَعۡدٍ عَنۡ رَجُلٍ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! مَا بَالُ الۡمُؤۡمِنِينَ يُفۡتَنُونَ فِي قُبُورِهِمۡ إِلَّا الشَّهِيدَ؟! قَالَ: (كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأۡسِهِ فِتۡنَةً). [(أحكام الجنائز)(٣٦)، (التعليق الرغيب)(٢/١٩٧)]. 
2053. Ibrahim bin Al-Hasan telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami dari Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Shafwan bin ‘Amr menceritakan kepadanya dari Rasyid bin Sa’d, dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di kubur-kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?” 
Nabi bersabda, “Cukuplah kelebatan pedang-pedang di atas kepalanya sebagai ujian.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1071

٧١ – بَابُ مَا جَاءَ فِي عَذَابِ الۡقَبۡرِ 
71. Bab riwayat tentang azab kubur 

١٠٧١ – (حسن) حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحۡيَى بۡنُ خَلَفٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ الۡمُفَضَّلِ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ إِسۡحَاقَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا قُبِرَ الۡمَيِّتُ – أَوۡ قَالَ: أَحَدُكُمۡ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسۡوَدَانِ أَزۡرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الۡمُنۡكَرُ، وَلِلۡآخَرِ: النَّكِيرُ، فَيَقُولَانِ: مَا كُنۡتَ تَقُولُ فِي هَٰذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ: قَدۡ كُنَّا نَعۡلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَٰذَا ثُمَّ يُفۡسَحُ لَهُ فِي قَبۡرِهِ سَبۡعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبۡعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمۡ. فَيَقُولُ: أَرۡجِعُ إِلَى أَهۡلِي فَأُخۡبِرَهُمۡ؟ فَيَقُولَانِ: نَمۡ كَنَوۡمَةِ الۡعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهۡلِهِ إِلَيۡهِ، حَتَّى يَبۡعَثَهُ اللهُ مِنۡ مَضۡجَعِهِ ذٰلِكَ. وَإِنۡ كَانَ مُنَافِقًا، قَالَ: سَمِعۡتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلۡتُ مِثۡلَهُ، لَا أَدۡرِي. فَيَقُولَانِ: قَدۡ كُنَّا نَعۡلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذٰلِكَ. فَيُقَالُ لِلۡأَرۡضِ: الۡتَئِمِي عَلَيۡهِ، فَتَلۡتَئِمُ عَلَيۡهِ، فَتَخۡتَلِفُ فِيهَا أَضۡلَاعُهُ، فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبۡعَثَهُ اللهُ مِنۡ مَضۡجَعِهِ ذٰلِكَ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ عَلِيٍّ، وَزَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ، وَابۡنِ عَبَّاسٍ، وَالۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ، وَأَبِي أَيُّوبَ، وَأَنَسٍ، وَجَابِرٍ، وَعَائِشَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ. كُلُّهُمۡ رَوَوۡا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي عَذَابِ الۡقَبۡرِ. حَدِيثُ أَبِي هُرَيۡرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. [(المشكاة)(١٣٠)، (الصحيحة)(١٣٩١)]. 
1071. Abu Salamah Yahya bin Khalaf telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Ishaq, dari Sa’id bin Abu Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika mayit—atau beliau berkata: salah seorang kalian—telah dikuburkan, maka ada dua malaikat hitam dan biru yang mendatanginya. Salah satunya disebut Munkar dan yang lain disebut Nakir. 
Keduanya berkata: Apa yang dahulu engkau katakan tentang lelaki ini? 
Maka dia akan menjawab dengan perkataannya yang dahulu ia ucapkan: Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. 
Kedua malaikat itu berkata: Kami sudah tahu bahwa engkau akan mengatakan ini. 
Kemudian kuburnya diluaskan seukuran tujuh puluh hasta kali tujuh puluh hasta, kemudian kuburnya disinari. 
Kemudian dikatakan kepadanya: Tidurlah. 
Dia berkata: Apakah aku bisa kembali kepada keluargaku, supaya aku bisa mengabarkan kepada mereka? 
Kedua malaikat itu berkata: Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak ada yang membangunkannya kecuali istri yang paling dia cintai. 
Sampai Allah nanti membangkitkannya dari tempat berbaringnya itu. 
Dan jika si mayit adalah seorang munafik, maka dia berkata: Aku mendengar orang-orang berkata, lalu aku ikut berkata yang semisalnya. Aku tidak tahu. 
Kedua malaikat itu berkata: Kami sudah tahu bahwa engkau akan berkata begitu. 
Lalu dikatakan kepada bumi: Himpitlah dia. 
Maka bumi menghimpitnya sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan. Dia terus-menerus diazab sampai Allah membangkitnya dari tempat pembaringannya itu.” 
Di dalam bab ini ada riwayat dari ‘Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu ‘Abbas, Al-Bara` bin ‘Azib, Abu Ayyub, Anas, Jabir, ‘Aisyah, dan Abu Sa’id. Mereka semua meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang azab kubur. Hadis Abu Hurairah adalah hadis hasan garib.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1338

٦٧ - بَابٌ الۡمَيِّتُ يَسۡمَعُ خَفۡقَ النِّعَالِ 
67. Bab mayit mendengar suara sandal 

١٣٣٨ - حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ ح. وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡعَبۡدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ وَتَوَلَّى وَذَهَبَ أَصۡحَابُهُ، حَتَّى إِنَّهُ لَيَسۡمَعُ قَرۡعَ نِعَالِهِمۡ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقۡعَدَاهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنۡتَ تَقُولُ فِي هَٰذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ﷺ؟ فَيَقُولُ: أَشۡهَدُ أَنَّهُ عَبۡدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، فَيُقَالُ: انۡظُرۡ إِلَى مَقۡعَدِكَ مِنَ النَّارِ، أَبۡدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقۡعَدًا مِنَ الۡجَنَّةِ). قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وَأَمَّا الۡكَافِرُ، أَوِ الۡمُنَافِقُ: فَيَقُولُ: لَا أَدۡرِي، كُنۡتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لَا دَرَيۡتَ وَلَا تَلَيۡتَ، ثُمَّ يُضۡرَبُ بِمِطۡرَقَةٍ مِنۡ حَدِيدٍ ضَرۡبَةً بَيۡنَ أُذُنَيۡهِ، فَيَصِيحُ صَيۡحَةً يَسۡمَعُهَا مَنۡ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيۡنِ). [الحديث ١٣٣٨ – طرفه في: ١٣٧٤]. 
1338. ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami: Sa’id menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Khalifah berkata kepadaku: Ibnu Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Seorang hamba ketika telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengiringnya telah pulang dan pergi, hingga dia benar-benar mendengar suara derap sandal-sandal mereka, maka ada dua malaikat yang mendatanginya dan mendudukkannya. Keduanya berkata kepadanya: Apa yang dahulu kamu katakan tentang lelaki ini, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Lalu dia akan berkata: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Maka dikatakan kepadanya: Lihatlah ke tempat dudukmu dari neraka. Allah telah menggantikannya dengan tempat duduk dari surga.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia melihat kedua tempat duduknya sekaligus. Adapun orang kafir atau munafik, maka dia akan berkata: Aku tidak tahu, aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan orang-orang. Lalu dikatakan kepadanya: Engkau tidak tahu, tidak pula membaca. Kemudian dia dipukul dengan keras dengan palu dari besi ke antara dua telinganya. Maka, dia berteriak dengan teriakan yang dapat didengar siapa saja yang ada di sekitarnya kecuali jin dan manusia.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1369

٨٦ - بَابُ مَا جَاءَ فِي عَذَابِ الۡقَبۡرِ 
86. Bab riwayat tentang azab kubur 

وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الۡمَوۡتِ وَالۡمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوا أَنۡفُسَكُمُ الۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡهُونِ﴾ [الأنعام: ٩٣]. هُوَ الۡهَوَانُ، وَالۡهَوۡنُ: الرِّفۡقُ. وَقَوۡلُهُ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿سَنُعَذِّبُهُمۡ مَرَّتَيۡنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ﴾ [التوبة: ١٠١]. وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَحَاقَ بِآلِ فِرۡعَوۡنَ سُوءُ الۡعَذَابِ ۞ النَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوۡمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدۡخِلُوا آلَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ العَذَابِ﴾ [غافر: ٤٥-٤٦]. 
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kalian dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan.” (QS. Al-An’am: 93). Al-Hun adalah menghinakan. Al-Haun adalah kelembutan. Dan firman Allah jalla dzikruh (yang artinya), “Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah: 101). Dan firman Allah taala (yang artinya), “Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 45-46). 
١٣٦٩ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ بۡنِ مَرۡثَدٍ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ عُبَيۡدَةَ، عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا أُقۡعِدَ الۡمُؤۡمِنُ فِي قَبۡرِهِ أُتِيَ، ثُمَّ شَهِدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَذٰلِكَ قَوۡلُهُ: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ﴾) [إبراهيم: ٢٧]. [الحديث ١٣٦٩ – طرفه في: ٤٦٩٩]. 
1369. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Alqamah bin Martsad, dari Sa’d bin ‘Ubaidah, dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Jika seorang mukmin didudukkan di dalam kuburnya dan telah didatangi (malaikat Munkar dan Nakir), kemudian dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, maka itu adalah firman Allah (yang artinya): Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh. (QS. Ibrahim: 27).” 
١٣٦٩م - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ بِهَٰذَا، وَزَادَ: ﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا﴾ نَزَلَتۡ فِي عَذَابِ الۡقَبۡرِ. 
1369. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dengan riwayat ini dan beliau menambahkan: (Ayat yang artinya) “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman” turun tentang azab kubur.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 3231

٣٢٣١ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ الۡأَنۡبَارِيُّ، ثنا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ - يَعۡنِي ابۡنَ عَطَاءٍ -، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (إِنَّ الۡعَبۡدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ وَتَوَلَّى عَنۡهُ أَصۡحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسۡمَعُ قَرۡعَ نِعَالِهِمۡ). [(الصحيحة)(١٣٤٤): ق وسيأتي بأتم منه (٤٧٥١)]. 
3231. Muhammad bin Sulaiman Al-Anbari telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahhab bin ‘Atha` menceritakan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengiringnya pergi meninggalkannya, maka dia benar-benar mendengar suara derap sandal-sandal mereka.”

Shahih Muslim hadits nomor 1913

٥٠ - بَابُ فَضۡلِ الرِّبَاطِ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ 
50. Bab keutamaan ribath (berjaga di perbatasan wilayah kaum muslimin) di jalan Allah azza wajalla 

١٦٣ - (١٩١٣) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ بَهۡرَامٍ الدَّارِمِيُّ. حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ - يَعۡنِي ابۡنَ سَعۡدٍ - عَنۡ أَيُّوبَ بۡنِ مُوسَىٰ، عَنۡ مَكۡحُولٍ، عَنۡ شُرَحۡبِيلَ بۡنِ السَّمِطِ، عَنۡ سَلۡمَانَ. قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (رِبَاطُ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ خَيۡرٌ مِنۡ صِيَامِ شَهۡرٍ وَقِيَامِهِ. وَإِنۡ مَاتَ، جَرَىٰ عَلَيۡهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعۡمَلُهُ، وَأُجۡرِيَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُ، وَأَمِنَ الۡفَتَّانَ). 
163. (1913). ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Bahram Ad-Darimi telah menceritakan kepada kami: Abu Al-Walid Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami: Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Ayyub bin Musa, dari Makhul, dari Syurahbil bin As-Samith, dari Salman. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berjaga di perbatasan wilayah kaum muslimin selama satu hari satu malam lebih baik daripada puasa dan salat malam selama sebulan. Jika dia meninggal, maka amalan yang biasa dia lakukan itu akan tetap mengalir, rezekinya akan tetap dialirkan kepadanya, dan dia akan aman dari ujian (di alam kubur).” 
(...) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ شُرَيۡحٍ، عَنۡ عَبۡدِ الۡكَرِيمِ بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أَبِي عُبَيۡدَةَ بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنۡ شُرَحۡبِيلَ بۡنِ السَّمِطِ، عَنۡ سَلۡمَانَ الۡخَيۡرِ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِ اللَّيۡثِ، عَنۡ أَيُّوبَ بۡنِ مُوسَىٰ. 
Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Syuraih, dari ‘Abdul Karim bin Al-Harits, dari Abu ‘Ubaidah bin ‘Uqbah, dari Syurahbil bin As-Samith, dari Salman Al-Khair, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakna dengan hadis Al-Laits dari Ayyub bin Musa.

Shahih Muslim hadits nomor 2870

٧٠ - (٢٨٧٠) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ قَتَادَةَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ: (إِنَّ الۡعَبۡدَ، إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ، وَتَوَلَّىٰ عَنۡهُ أَصۡحَابُهُ، إِنَّهُ لَيَسۡمَعُ قَرۡعَ نِعَالِهِمۡ) قَالَ: (يَأۡتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقۡعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنۡتَ تَقُولُ فِي هَٰذَا الرَّجُلِ؟) قَالَ: (فَأَمَّا الۡمُؤۡمِنُ فَيَقُولُ: أَشۡهَدُ أَنَّهُ عَبۡدُ اللهِ وَرَسُولُهُ). قَالَ: (فَيُقَالُ لَهُ: انۡظُرۡ إِلَىٰ مَقۡعَدِكَ مِنَ النَّارِ. قَدۡ أَبۡدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقۡعَدًا مِنَ الۡجَنَّةِ). قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ: (فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا). 
قَالَ قَتَادَةُ: وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفۡسَحُ لَهُ فِي قَبۡرِهِ سَبۡعُونَ ذِرَاعًا. وَيُمۡلَأُ عَلَيۡهِ خَضِرًا إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ. 
70. (2870). ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami: Syaiban bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Qatadah: Anas bin Malik menceritakan kepada kami. Beliau mengatakan: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba itu jika telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengiringnya pergi meninggalkannya, maka dia benar-benar mendengar suara sandal-sandal mereka.” Beliau bersabda, “Lalu ada dua malaikat yang mendatangi dan mendudukkannya. Keduanya berkata kepadanya: Apa yang dahulu kamu katakan tentang lelaki ini?” Nabi bersabda, “Adapun seorang mukmin, maka dia akan berkata: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Maka ada yang berkata kepadanya: Lihatlah ke tempat dudukmu dari neraka. Allah telah menggantikanmu dengan tempat duduk dari surga.” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka, hamba itu dapat melihat kedua tempat duduknya sekaligus.” 
Qatadah berkata: Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya diluaskan seukuran tujuh puluh hasta dan dipenuhi oleh pepohonan sampai hari dibangkitkan. 
٧١ - (...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مِنۡهَالٍ الضَّرِيرُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ الۡمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ، إِنَّهُ لَيَسۡمَعُ خَفۡقَ نِعَالِهِمۡ إِذَا انۡصَرَفُوا). 
[البخاري: كتاب الجنائز، باب المسألة في القبر، رقم: ٢٠٤٩]. 
71. Muhammad bin Minhal Adh-Dharir telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id bin Abu ‘Arubah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mayit apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, maka dia benar-benar dapat mendengar suara derap sandal-sandal mereka ketika pulang.” 
٧٢ - (...) - حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ زُرَارَةَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ، يَعۡنِي ابۡنَ عَطَاءٍ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ الۡعَبۡدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبۡرِهِ، وَتَوَلَّىٰ عَنۡهُ أَصۡحَابُهُ) فَذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ شَيۡبَانَ، عَنۡ قَتَادَةَ. 
72. ‘Amr bin Zurarah telah menceritakan kepadaku: ‘Abdul Wahhab bin ‘Atha` mengabarkan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Anas bin Malik; Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengiringnya pergi meninggalkannya,” lalu beliau menyebutkan semisal hadis Syaiban dari Qatadah.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2367 dan 2368

٢٨ – بَابٌ فِي الصَّائِمِ يَحۡتَجِمُ 
28. Bab tentang orang yang berpuasa dibekam 

٢٣٦٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ، ح، وَنا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا حَسَنُ بۡنُ مُوسَى، نا شَيۡبَانُ، جَمِيعًا عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ أَبِي أَسۡمَاءَ – يَعۡنِي الرَّحَبِيَّ -، عَنۡ ثَوۡبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (أَفۡطَرَ الۡحَاجِمُ وَالۡمَحۡجُومُ). قَالَ شَيۡبَانُ [فِي حَدِيثِهِ]: أَخۡبَرَنِي أَبُو قِلَابَةَ، أَنَّ أَبَا أَسۡمَاءَ الرَّحَبِيَّ حَدَّثَهُ، أَنَّ ثَوۡبَانَ مَوۡلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ أَخۡبَرَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ. 
2367. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Hisyam. (Dalam riwayat lain) Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami: Syaiban menceritakan kepada kami. Semuanya dari Yahya, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma` Ar-Rahabi, dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam telah berbuka puasa.” Syaiban berkata di dalam hadisnya: Abu Qilabah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Asma` Ar-Rahabi menceritakan kepadanya: Bahwa Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
٢٣٦٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا حَسَنُ بۡنُ مُوسَى، نا شَيۡبَانُ، عَنۡ يَحۡيَى، [قَالَ]: حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ الۡجَرۡمِيُّ، أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ أَنَّ شَدَّادَ بۡنَ أَوۡسٍ بَيۡنَمَا هُوَ يَمۡشِي مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَذَكَرَ نَحۡوَهُ. 
2368. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami: Syaiban menceritakan kepada kami dari Yahya. Beliau berkata: Abu Qilabah Al-Jarmi menceritakan kepadaku bahwa beliau mengabarkan kepadanya bahwa Syaddad bin Aus ketika sedang berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menyebutkan semisal hadis tersebut.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2365 dan 2366

٢٧ - بَابُ الصَّائِمِ يَصُبُّ عَلَيۡهِ الۡمَاءَ مِنَ الۡعَطَشِ وَيُبَالِغُ فِي الۡاسۡتِنۡشَاقِ 
27. Bab orang yang berpuasa mengguyurkan air ke tubuhnya karena haus dan bersungguh-sungguh dalam memasukkan air ke dalam hidung ketika wudu 

٢٣٦٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَى أَبِي بَكۡرِ [بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ]، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ بَعۡضِ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ النَّاسَ فِي سَفَرِهِ عَامَ الۡفَتۡحِ بِالۡفِطۡرِ، وَقَالَ: (تَقَوَّوۡا لِعَدُوِّكُمۡ) وَصَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: قَالَ الَّذِي حَدَّثَنِي: لَقَدۡ رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ بِالۡعَرۡجِ يَصُبُّ عَلَى رَأۡسِهِ الۡمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الۡعَطَشِ أَوۡ مِنَ الۡحَرِّ. 
2365. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Sumayy maula Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang agar berbuka ketika safarnya pada tahun Fathu Makkah. Beliau bersabda, “Kuatkanlah diri kalian untuk menghadapi musuh kalian.” Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa. Abu Bakr berkata: Orang yang menceritakan kepadaku berkata: Aku benar-benar telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di daerah ‘Arj mengguyurkan air ke kepala beliau karena haus atau karena cuaca panas ketika beliau sedang puasa. 
٢٣٦٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، نا يَحۡيَى بۡنُ سُلَيۡمٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ لَقِيطِ بۡنِ صَبۡرَةَ، عَنۡ أَبِيهِ لَقِيطِ بۡنِ صَبۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَالِغۡ فِي الۡاسۡتِنۡشَاقِ، إِلَّا أَنۡ تَكُونَ صَائِمًا). [هو طرفه من الحديث المتقدم (١٤٢)]. 
2366. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sulaim menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Katsir, dari ‘Ashim bin Laqith bin Shabrah, dari ayahnya, yaitu Laqith bin Shabrah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung ketika wudu kecuali apabila engkau sedang puasa.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2364

٢٦ - بَابُ السِّوَاكِ لِلصَّائِمِ 
26. Bab siwak bagi orang yang berpuasa 

٢٣٦٤ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ، نا شَرِيكٌ، ح، وَنا مُسَدَّدٌ، نا يَحۡيَى، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ رَبِيعَةَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَسۡتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ. زَادَ مُسَدَّدٌ [فِي حَدِيثِهِ]: مَا لَا أَعُدُّ وَلَا أُحۡصِي. 
2364. Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepada kami: Syarik menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah, dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak dalam keadaan puasa. Musaddad menambahkan di dalam hadisnya: Perbuatan beliau tidak bisa aku hitung jumlahnya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2362 dan 2363

٢٥ - بَابُ الۡغِيبَةِ لِلصَّائِمِ 
25. Bab gibah bagi orang yang berpuasa 

٢٣٦٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ، ثنا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنِ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَدَعۡ قَوۡلَ الزُّورِ وَالۡعَمَلَ بِهِ [وَالۡجَهۡلَ] فَلَيۡسَ لِلهِ حَاجَةٌ أَنۡ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ). قَالَ أَحۡمَدُ: فَهِمۡتُ إِسۡنَادَهُ مِنِ ابۡنِ أَبِي ذِئۡبٍ، وَأَفۡهَمَنِي الۡحَدِيثَ رَجُلٌ إِلَى جَنۡبِهِ أُرَاهُ ابۡنَ أَخِيهِ. [خ]. 
2362. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami dari Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta, berbuat dusta, dan berbuat jahil, maka Allah tidak menghiraukan amalannya meninggalkan makan dan minum.” Ahmad (bin Yunus) berkata: Aku memahami sanad hadis ini dari Ibnu Abu Dzi`b dan seseorang yang berada di sisi Ibnu Abu Dzi`b telah memahamkan hadis ini kepadaku. Aku mengira orang itu adalah putra saudara laki-lakinya. 
٢٣٦٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ [قَالَ: (إِذَا كَانَ][1] أَحَدُكُمۡ صَائِمًا فَلَا يَرۡفُثۡ وَلَا يَجۡهَلۡ، فَإِنۡ امۡرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوۡ شَاتَمَهُ فَلۡيَقُلۡ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ).] [ق]. 
2363. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah berkata jorok dan berbuat jahil. Jika ada seseorang yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya, maka hendaknya ia katakan: Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” 

[1] فِي (نسخة): (قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ). (منه).

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2360 dan 2361

٢٤ - بَابٌ فِي الۡوِصَالِ 
24. Bab tentang menyambung puasa tanpa berbuka 

٢٣٦٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ الۡوِصَالِ، قَالُوا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (إِنِّي لَسۡتُ كَهَيۡئَتِكُمۡ، إِنِّي أُطۡعَمُ وَأُسۡقَى). [ق]. 
2360. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari menyambung puasa tanpa berbuka. Para sahabat berkata, “Sesungguhnya engkau menyambung puasa, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Aku tidak seperti keadaan kalian karena sesungguhnya aku diberi makan dan diberi minum.” 
٢٣٦١ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، أَنَّ بَكۡرَ بۡنَ مُضَرَ حَدَّثَهُمۡ، عَنِ ابۡنِ الۡهَادِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ خَبَّابٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمۡ أَرَادَ أَنۡ يُوَاصِلَ فَلۡيُوَاصِلۡ حَتَّى السَّحَرَ) قَالُوا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ! قَالَ: (إِنِّي لَسۡتُ كَهَيۡئَتِكُمۡ، إِنَّ لِي مُطۡعِمًا يُطۡعِمُنِي وَسَاقِيًا يَسۡقِينِي). [خ]. 
2361. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami bahwa Bakr bin Mudhar menceritakan kepada mereka dari Ibnu Al-Had, dari ‘Abdullah bin Khabbab, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyambung puasa tanpa berbuka. Siapa saja dari kalian yang hendak menyambung puasa, maka sambunglah sampai waktu sahur.” Para sahabat berkata, “Sesungguhnya engkau menyambung puasa.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku tidak seperti keadaan kalian. Sesungguhnya aku ada yang memberiku makan dan ada yang memberiku minum.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2359

٢٣ - بَابُ الۡفِطۡرِ قَبۡلَ غُرُوبِ الشَّمۡسِ 
23. Bab berbuka sebelum matahari tenggelam 

٢٣٥٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، الۡمَعۡنَى، قَالَا: نا أَبُو أُسَامَةَ، نا هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ الۡمُنۡذِرِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ قَالَتۡ: أَفۡطَرۡنَا يَوۡمًا فِي رَمَضَانَ فِي غَيۡمٍ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمۡسُ. قَالَ أَبُو أُسَامَةَ: قُلۡتُ لِهِشَامٍ: أُمِرُوا بِالۡقَضَاءِ؟ قَالَ: وَبُدٌّ مِنۡ ذٰلِكَ؟!. [خ]. 
2359. Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Juga Muhammad bin Al-‘Ala` secara makna. Keduanya berkata: Abu Usamaha menceritakan kepada kami: Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepada kami dari Fathimah binti Al-Mundzir, dari Asma` binti Abu Bakr. Beliau mengatakan: Kami pernah berbuka suatu hari di bulan Ramadan ketika langit berawan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian matahari kembali terlihat. Abu Usamah berkata: Aku bertanya keapda Hisyam: Apakah mereka diperintah untuk mengada puasa? Beliau menjawab: Apakah hal itu tidak harus?!

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2357 dan 2358

٢٢ - بَابُ الۡقَوۡلِ عِنۡدَ الۡإِفۡطَارِ 
22. Bab doa ketika iftar 

٢٣٥٧ – (حسن) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ يَحۡيَى [أَبُو مُحَمَّدٍ]، نا عَلِيُّ بۡنُ الۡحَسَنِ، أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ وَاقِدٍ، نا مَرۡوَانُ - يَعۡنِي ابۡنَ سَالِمٍ الۡمُقَفَّعَ - قَالَ: رَأَيۡتُ ابۡنَ عُمَرَ يَقۡبِضُ عَلَى لِحۡيَتِهِ، فَيَقۡطَعُ مَا زَادَتۡ عَلَى الۡكَفِّ، وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَفۡطَرَ قَالَ: (ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابۡتَلَّتِ الۡعُرُوقُ، وَثَبَتَ الۡأَجۡرُ إِنۡ شَاءَ اللهُ). 
2357. ‘Abdullah bin Muhammad bin Yahya Abu Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Al-Hasan menceritakan kepada kami: Al-Husain bin Waqid mengabarkan kepada kami: Marwan bin Salim Al-Muqaffa’ menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku melihat Ibnu ‘Umar menggenggam jenggotnya lalu beliau memotong jenggot yang melebihi telapak tangannya dan beliau mengatakan: Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah berbuka, beliau berkata, “Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.” 
٢٣٥٨ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا هُشَيۡمٌ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ زُهۡرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا أَفۡطَرَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ لَكَ صُمۡتُ، وَعَلَى رِزۡقِكَ أَفۡطَرۡتُ). 
2358. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah bahwa sampai kepada beliau bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, apabila telah berbuka, beliau berdoa, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa dan hanyalah aku berbuka dengan rezeki-Mu.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2355 dan 2356

٢١ - بَابُ مَا يُفۡطَرُ عَلَيۡهِ 
21. Bab tentang santapan untuk berbuka 

٢٣٥٥ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ زِيَادٍ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ عَمِّهَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا كَانَ أَحَدُكُمۡ صَائِمًا فَلۡيُفۡطِرۡ عَلَى التَّمۡرِ، فَإِنۡ لَمۡ يَجِدِ التَّمۡرَ فَعَلَى الۡمَاءِ، فَإِنَّ الۡمَاءَ طَهُورٌ). 
2355. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir, pamannya. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika dia tidak mendapati kurma, maka dengan air karena air itu sangat bersih.” 
٢٣٥٦ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، نا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، أنا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُفۡطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبۡلَ أَنۡ يُصَلِّيَ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنۡ مَاءٍ. 
2356. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani mengabarkan kepada kami bahwa beliau mendengar Anas bin Malik mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa ruthab (kurma muda) sebelum salat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr (kurma). Jika tidak ada, maka dengan beberapa teguk air.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2353 dan 2354

٢٠ - بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ مِنۡ تَعۡجِيلِ الۡفِطۡرِ 
20. Bab tentang disukainya menyegerakan berbuka 

٢٣٥٣ – (حسن) حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ بَقِيَّةَ، عَنۡ خَالِدٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ - يَعۡنِي ابۡنَ عَمۡرٍو - عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الۡفِطۡرَ، لِأَنَّ الۡيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ). 
2353. Wahb bin Baqiyyah telah menceritakan kepada kami dari Khalid, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Agama ini akan senantiasa menang selama orang-orang menyegerakan berbuka karena orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” 
٢٣٥٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَى عَائِشَةَ [رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا] أَنَا وَمَسۡرُوقٌ فَقُلۡنَا: يَا أُمَّ الۡمُؤۡمِنِينَ، رَجُلَانِ مِنۡ أَصۡحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الۡإِفۡطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ، وَالۡآخَرُ يُؤَخِّرُ الۡإِفۡطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ، قَالَتۡ: أَيُّهُمَا يُعَجِّلُ الۡإِفۡطَارَ، وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ؟ قُلۡنَا: عَبۡدُ اللهِ، قَالَتۡ: كَذٰلِكَ كَانَ يَصۡنَعُ رَسُولُ اللهِ ﷺ. [م]. 
2354. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari Abu ‘Athiyyah. Beliau berkata: Aku dan Masruq masuk menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan berkata, “Wahai ibunda kaum mukminin, ada dua orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat. Sementara yang lain mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan salat.” ‘Aisyah bertanya, “Siapa di antara kedua orang itu yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat?” Kami menjawab, “’Abdullah (bin Mas’ud).” ‘Aisyah berkata, “Seperti itulah yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2351 dan 2352

١٩ - بَابُ وَقۡتِ فِطۡرِ الصَّائِمِ 
19. Bab waktu orang yang berpuasa berbuka 

٢٣٥١ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا وَكِيعٌ، نا هِشَامٌ، ح، وَنا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دَاوُدَ، عَنۡ هِشَامٍ، الۡمَعۡنَى، قَالَ هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا جَاءَ اللَّيۡلُ مِنۡ هَا هُنَا، وَذَهَبَ النَّهَارُ مِنۡ هَا هُنَا – زَادَ مُسَدَّدٌ: وَغَابَتِ الشَّمۡسُ -: فَقَدۡ أَفۡطَرَ الصَّائِمُ). [ق]. 
2351. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dawud menceritakan kepada kami dari Hisyam secara makna. Hisyam bin ‘Urwah berkata dari ayahnya, dari ‘Ashim bin ‘Umar, dari ayahnya. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika malam telah datang dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini—Musaddad menambahkan: Dan matahari telah tenggelam—maka orang yang berpuasa sudah bisa berbuka.” 
٢٣٥٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ، نا سُلَيۡمَانُ الشَّيۡبَانِيُّ، [قَالَ]: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أَبِي أَوۡفَى يَقُولُ: سِرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمۡسُ قَالَ: (يَا بِلَالُ انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ لَوۡ أَمۡسَيۡتَ، قَالَ: (انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّ عَلَيۡكَ نَهَارًا، قَالَ: (انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) فَنَزَلَ فَجَدَحَ، فَشَرِبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: (إِذَا رَأَيۡتُمُ اللَّيۡلَ قَدۡ أَقۡبَلَ مِنۡ هَا هُنَا فَقَدۡ أَفۡطَرَ الصَّائِمُ) وَأَشَارَ بِإِصۡبَعِهِ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ. [ق]. 
2352. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami: Sulaiman Asy-Syaibani menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Abu Aufa berkata: Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau berpuasa. Ketika matahari telah tenggelam, beliau bersabda, “Wahai Bilal, turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, andai lebih sore lagi.” Nabi bersabda, “Turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari masih siang.” Nabi bersabda, “Turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal pun turun dan menyiapkan hidangan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum kemudian bersabda, “Jika kalian telah melihat malam telah datang dari arah sini, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.” Beliau mengisyaratkan dengan jari beliau ke arah timur.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2350

١٨ - بَابٌ [فِي] الرَّجُلِ يَسۡمَعُ النِّدَاءَ وَالۡإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ 
18. Bab tentang seseorang yang mendengar azan sementara bejana ada di tangannya 

٢٣٥٠ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى بۡنُ حَمَّادٍ، نا حَمَّادٌ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالۡإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعُهُ حَتَّى يَقۡضِيَ حَاجَتَهُ مِنۡهُ). 
2350. ‘Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian mendengar azan dalam keadaan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia letakkan sampai ia menunaikan hajat darinya.”

Sabar suatu Kemestian

Ayat-ayat tentang Sabar


Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصۡبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَيۡءٍ مِنَ الۡخَوۡفِ وَالۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَنۡفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:155)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar:10)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَمَنۡ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ الأُمُورِ
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syuuraa:43)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسۡتَعِينُوا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:153)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّى نَعۡلَمَ الۡمُجَاهِدِينَ مِنۡكُمۡ وَالصَّابِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian." (Muhammad:31)

Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.

Pengertian dan Jenis-jenis Sabar


Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan di antara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.

Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama.

Jenis sabar yang pertama: yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.

Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصۡبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)

Allah juga berfirman
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Thaahaa:132)

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ الۡقُرۡءَانَ تَنۡزِيلًا ۝٢٣ فَاصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:23-24)

Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَاصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ بِالۡغَدَاةِ وَالۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (Al-Kahfi:28)

Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Jenis sabar yang kedua: yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.

Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.

Di antara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِي إِلَيۡهِ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُنۡ مِنَ الۡجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Yuusuf:33)

Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.

Jenis sabar yang ketiga: yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).

Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.

Taqdir yang bersifat menyenangkan: maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan: yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.

Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.

Allah berfirman:
فَاصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:24)

Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.

Dan di antara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
فَاصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُولُو الۡعَزۡمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِلۡ لَهُمۡ
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (Al-Ahqaaf:35)

Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.

Dan juga di antara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
مُرۡهَا فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR. Al-Bukhariy no.1284 dan Muslim no.923)

Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah


Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Dan keadaan keempat: bersyukur.

Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.

Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.

Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.

Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.

Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.

Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.

Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.

Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.

Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
الۡحَمۡدُ لِلهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."

Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.

Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya." 

Tingkatan Sabar


Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.

Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.

Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.

Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.

Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.


Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin.

Sumber: Buletin Jumat Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-5 Tahun ke-3 / 24 Desember 2004 M / 12 Dzul Qo'dah 1425 H.