Syarh Al-Ajurrumiyyah - Penghalang Tanwin: 'Ujmah

(الۡعُجۡمَةُ): يَعۡنِي: الۡاسۡمَ الۡأَعۡجَمِيَّ، وَالۡاسۡمُ الۡأَعۡجَمِيُّ يُجَرُّ بِالۡفَتۡحَةِ، لَكِنۡ بِشَرۡطِ أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا زَائِدًا عَنۡ ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ؛ فَإِنۡ كَانَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ سَاكِنَ الۡوَسَطِ، فَإِنَّهُ يَنۡصَرِفۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَقُلۡ: عَلَمًا إِلَّا أَنۡ يَكُونَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ، وَسَطُهُ سَاكِنٌ فَيَنۡصَرِفۡ. 

‘Ujmah yakni nama ‘ajam/non arab. Isim ‘ajam di-jarr menggunakan harakat fatah namun dengan syarat harus berupa nama orang yang lebih dari tiga huruf. Jika terdiri dari tiga huruf dan huruf tengahnya disukun, maka kata tersebut ditanwin. Atau bisa engkau katakan: Semua nama orang non arab, dikecualikan yang ditanwin adalah yang terdiri dari tiga huruf dan huruf tengahnya disukun. 

(إِبۡرَاهِيمُ) اسۡمٌ أَعۡجَمِيٌّ؛ وَلِهَٰذَا يُجَرُّ بِالۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ عَلَمٌ زَائِدٌ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَ‌ٰهِيمَ﴾ [النساء: ١٦٣]، وَلَمۡ يَقُلۡ: إِلَى إِبۡرَاهِيمٍ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ؛ وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعُجۡمَةُ. 

“إِبۡرَاهِيمُ (Ibrahim)” adalah nama non arab. Oleh karena itu, kata ini di-jarr menggunakan harakat fatah karena merupakan nama orang yang lebih dari tiga huruf. 

Allah taala berfirman, “وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَ‌ٰهِيمَ (Dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim).” (QS. An-Nisa`: 163). Allah tidak mengatakan, “إِلَى إِبۡرَاهِيمٍ” karena kata tersebut merupakan isim yang tidak ditanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama orang dan non arab. 

(إِسۡمَاعِيل) أَعۡجَمِيٌّ، يُجَرُّ بِالۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ عَلَمٌ أَعۡجَمِيٌّ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَ‌ٰهِيمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ﴾ [النساء: ١٦٣]، وَلَمۡ يَقُلۡ: وَإِسۡمَاعِيلٍ؛ لِأَنَّ إِسۡمَاعِيلَ أَعۡجَمِيٌّ، وَزَائِدٌ عَنۡ ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ. 

“إِسۡمَاعِيل (Isma’il)” adalah non arab, di-jarr menggunakan fatah karena merupakan nama non arab. Allah taala berfirman, “وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَ‌ٰهِيمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ (Dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim dan Isma’il).” (QS. An-Nisa`: 163). Allah tidak mengatakan, “وَإِسۡمَاعِيلٍ,” karena Isma’il adalah nama non arab dan lebih dari tiga huruf. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ﴾ [البقرة: ١٢٥]. 

(إِلَى): حَرۡفُ جَرٍّ. 

(إِبۡرَاهِيمَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعُجۡمَةُ. 

Allah taala berfirman, “وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ (Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim).” (QS. Al-Baqarah: 125). 

“إِلَى” adalah huruf jarr

“إِبۡرَاهِيمَ” adalah isim yang di-jarr dan tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang tidak ditanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama orang dan non arab. 

لَوۡ قُلۡتُ: (نَظَرۡتُ إِلَى آدَمَ): يَنۡصَرِفُ أَوۡ لَا يَنۡصَرِفُ؟ لَا يَنۡصَرِفُ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالۡعُجۡمَةِ. 

Andai aku katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى آدَمَ (Aku memandang Adam).” Ditanwin atau tidak? Tidak ditanwin. Karena kata آدَم terhalang dari tanwin dengan sebab nama orang dan non arab. 

إِذَا كَانَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحۡرُفٍ سَاكِنَ الۡوَسَطِ، فَإِنَّهُ يُصۡرَفُ وَيُجَرُّ بِالۡكَسۡرَةِ مِثۡلُ: نُوحٍ، لُوطٍ، هُودٍ، هَٰذِهِ تُصۡرَفُ. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٍ﴾ [النساء: ١٦٣]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلُوطًا ءَاتَيۡنَـٰهُ حُكۡمًا وَعِلۡمًا﴾ [الأنبياء: ٧٤] هَٰذَا مُنۡصَرِفٌ؛ لِأَنَّهُ مُنَوَّنٌ. 

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿أَلَا بُعۡدًا لِّعَادٍ قَوۡمِ هُودٍ﴾ [هود: ٦٠]، مَجۡرُورَةٌ بِالۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ ثُلَاثِيٌّ سَاكِنُ الۡوَسَطِ. 

إِذَنۡ يُسۡتَثۡنَى مِنَ الۡأَعۡجَمِيِّ كُلُّ ثُلَاثِيٍّ سَاكِنِ الۡوَسَطِ، فَإِنَّهُ يَنۡصَرِفُ وَلَوۡ كَانَ أَعۡجَمِيًّا. 

Apabila nama orang non arab terdiri dari tiga huruf yang huruf tengahnya disukun, maka ditanwin dan di-jarr menggunakan harakat kasrah. Contoh: نُوحٍ (Nuh), لُوطٍ (Luth), هُودٍ (Hud). Nama-nama ini ditanwin. 

Allah taala berfirman, “إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٍ (Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh).” (QS. An-Nisa`: 163). Allah taala berfirman, “وَلُوطًا ءَاتَيۡنَـٰهُ حُكۡمًا وَعِلۡمًا (Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu).” (QS. Al-Anbiya`: 74). Ini ditanwin. 

Allah taala berfirman, “أَلَا بُعۡدًا لِّعَادٍ قَوۡمِ هُودٍ (Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu).” (QS. Hud: 60). Di-jarr menggunakan kasrah karena tiga huruf yang huruf tengahnya disukun. 

Jadi dikecualikan dari nama non arab, setiap nama yang terdiri dari tiga huruf dan huruf tengahnya disukun. Nama yang keadaannya begini ditanwin walaupun non arab. 

مِنۡ أَسۡمَاءِ الۡأَنۡبِيَاءِ: (صَالِحٌ)، (شُعَيۡبٌ)، أَسۡمَاءٌ مَصۡرُوفَةٌ قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبًا﴾ [الأعراف: ٨٥]، وَأَسۡمَاءُ الۡأَنۡبِيَاءِ مِثۡلُ غَيۡرِهَا إِنۡ كَانَتۡ أَعۡجَمِيَّةً، فَهِيَ غَيۡرُ مَصۡرُوفَةٍ، إِذَا تَجَاوَزَتۡ ثَلَاثَةَ أَحۡرُفٍ، وَإِنۡ كَانَتۡ عَرَبِيَّةً؛ فَإِنَّهَا مَصۡرُوفَةٌ. 

(شُعَيۡبٌ) اسۡمٌ عَرَبِيٌّ، (صَالِحٌ) اسۡمٌ عَرَبِيٌّ. (مُحَمَّدٌ) اسۡمٌ عَرَبِيٌّ. 

Termasuk nama-nama para nabi adalah “صَالِحٌ (Shalih)”, “شُعَيۡبٌ (Syu’aib).” Nama-nama yang ditanwin. Allah taala berfirman, “وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبًا (Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib).” (QS. Al-A’raf: 85). Dan nama-nama nabi selain contoh ini, jika non arab, maka tidak ditanwin apabila lebih dari tiga huruf. Jika nama arab, maka ditanwin. 

“شُعَيۡبٌ” adalah nama yang berasal dari bahasa arab, “صَالِحٌ” adalah nama yang berasal dari bahasa arab, “مُحَمَّدٌ” adalah nama yang berasal dari bahasa arab. 

فَإِنۡ كَانَ الۡاسۡمُ أَعۡجَمِيًّا، وَغَيۡرَ عَلَمٍ، فَإِنَّهُ يُصۡرَفُ لِفَوَاتِ الشَّرۡطِ؛ لِأَنَّا اشۡتَرَطۡنَا أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا. 

Jika suatu nama bukan dari bahasa Arab namun bukan nama orang, maka ditanwin karena tidak memenuhi syarat. Karena kita mensyaratkan nama orang. 

يُقَالُ: إِنَّ عَلِيَّ بۡنَ أَبِي طَالِبٍ سَأَلَ شُرَيۡحًا عَنۡ مَسۡأَلَةٍ فِي الۡعِدَّةِ: امۡرَأَةٌ ادَّعَتۡ أَنَّ عِدَّتَهَا تَمَّتۡ فِي خِلَالِ شَهۡرٍ، وَعِدَّةُ الۡمَرۡأَةِ ثَلَاثُ حِيَضٍ. قَالَ عَلِيٌّ لِشُرَيۡحٍ: اقۡضِ فِيهَا. قَالَ: إِنۡ جَاءَتۡ بِبَيِّنَةٍ مِنۡ بِطَانَةِ أَهۡلِهَا مِمَّنۡ يُعۡرَفُ دِينُهُ؛ فَإِنَّهَا تُقۡبَلُ، فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: قَالُونٌ –قَالُونٌ يَعۡنِي: جَيِّدًا بِاللُّغَةِ الرُّومِيَّةِ- (قَالُونٌ) هَٰذَا مَصۡرُوفٌ؛ لِأَنَّهُ لَيۡسَ عَلَمًا، وَنَحۡنُ نَشۡتَرِطُ فِي الۡأَعۡجَمِيِّ أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا، إِذَا لَمۡ يَكُنۡ عَلَمًا، فَإِنَّهُ يَكُونُ مَصۡرُوفًا. 

Dikatakan: Sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib bertanya kepada Syuraih tentang masalah idah. Seorang wanita menyatakan bahwa idahnya telah sempurna dalam jangka waktu belum sebulan, padahal masa idah wanita adalah tiga kali haid. ‘Ali berkata kepada Syuraih, “Buatlah keputusan pada dia.” Syuraih berkata, “Jika ada orang dari kalangan keluarga dekatnya yang dikenal kebaikan agamanya datang membawa bukti, maka pernyataan wanita itu diterima.” ‘Ali berkata kepada Syuraih, “قَالُونٌ.” Qalun yakni bagus dalam bahasa Romawi. قَالُونٌ ini ditanwin karena bukan nama orang, sedangkan kita mensyaratkan pada bahasa non arab harus berupa nama orang. Jika bukan nama orang, maka ditanwin. 

إِذَنۡ (الۡعُجۡمَةُ) لَا تَمۡنَعُ مِنَ الصَّرۡفِ إِلَّا إِذَا كَانَتۡ عَلَمًا؛ يَعۡنِي عِلَّتَهَا: الۡعَلَمِيَّةُ وَالۡعُجۡمَةُ. 

أَمَّا الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعُجۡمَةُ، أَوِ الۡاسۡمِيَّةُ وَالۡعُجۡمَةُ، فَلَا تُؤَثِّرَانِ؛ لَا بُدَّ مِنۡ أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا. 

Jadi ‘ujmah tidak menghalangi tanwin kecuali apabila berupa nama orang. Yakni faktornya adalah nama orang dan bahasa non arab. 

Adapun sifat dan non arab atau isim dan non arab, maka tidak berpengaruh. Jadi harus berupa nama orang.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Penghalang Tanwin: Tambahan Alif dan Nun

(وَزِدۡ) يُشِيرُ إِلَى زِيَادَةِ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ، فَكُلُّ اسۡمٍ مَخۡتُومٍ بِأَلِفٍ وَنُونٍ زَائِدَتَيۡنِ، وَهُوَ مُفۡرَدٌ، فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، إِنۡ كَانَ عَلَمًا، أَوۡ صِفَةً. 

(الۡعَلَمُ) مِثۡلُ: (سُلَيۡمَانُ)، (سَلۡمَانُ)، (عِلِيَّانُ)، (عُثۡمَانُ)، (نُعۡمَانُ)، كُلُّ اسۡمٍ عَلَمٍ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ، فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ، وَزِيَادَةِ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

“وَزِدۡ (Dan tambahkan)” beliau mengisyaratkan kepada tambahan huruf alif dan nun. Setiap isim yang diakhir dengan alif dan nun tambahan dan berbentuk mufrad, maka isim tersebut terhalang dari tanwin, baik berupa nama atau sifat. 

Contoh nama: سُلَيۡمَانُ (Sulaiman), سَلۡمَانُ (Salman), عِلِيَّانُ (‘Iliyyan), عُثۡمَانُ (‘Utsman), نُعۡمَانُ (Nu’man). Setiap isim nama yang ada tambahan huruf alif dan nun, maka isim tersebut terhalang dari tanwin karena nama dan tambahan huruf alif dan nun. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلِسُلَيۡمَـٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةً﴾ [الأنبياء: ٨١]، لِمَاذَا (سُلَيۡمَانَ) وَاللَّامُ حَرۡفُ جَرٍّ؟ لِأَنَّ (سُلَيۡمَانَ) اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ، وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

(وَعَنۡ سَلۡمَانَ الۡفَارِسِيِّ) نَقُولُ: عَنۡ سَلۡمَانَ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ، وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

Allah taala berfirman, “وَلِسُلَيۡمَـٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةً (Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang)” (QS. Al-Anbiya`: 81). Mengapa سُلَيۡمَانَ padahal huruf lam adalah huruf jarr? Karena سُلَيۡمَانَ adalah isim yang tidak bisa ditanwin. Penghalangnya dari tanwin adalah nama dan tambahan huruf alif dan nun. 

“وَعَنۡ سَلۡمَانَ الۡفَارِسِيِّ (Dan dari Salman Al-Farisi).” Kita katakan: عَنۡ سَلۡمَانَ karena سَلۡمَانَ adalah isim yang terhalangi dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama dan tambahan huruf alif dan nun. 

إِذَا قَالَ قَائِلٌ: مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهَا زَائِدَةٌ؟ (سَلۡمَانُ) مِنۡ (سَلِمَ)، وَالۡآنَ (سَلِمَ) ثَلَاثَةُ حُرُوفٍ وَ(سَلۡمَانُ) خَمۡسَةُ حُرُوفٍ، إِذَنۡ يُوجَدُ حَرۡفَانِ زَائِدَانِ. 

(سُلَيۡمَانُ) مِنۡ (سَلِمَ)، وَهِيَ ثَلَاثَةُ حُرُوفٍ، وَ(سُلَيۡمَانُ) مُكَوَّنَةٌ مِنۡ سِتَّةِ حُرُوفٍ آخِرُهَا أَلِفٌ وَنُونٌ زَائِدَةٌ، فَلَمَّا زِيدَتِ الۡأَلِفُ وَالنُّونُ صَارَ اسۡمًا لَا يَنۡصَرِفُ. 

Ketika ada yang bertanya, “Apa dalil bahwa huruf itu adalah tambahan?” سَلۡمَانُ dari kata سَلِمَ. Sekarang سَلِمَ hanya tiga huruf sedang سَلۡمَانُ ada lima huruf. Jadi didapati ada dua huruf tambahan. 

سُلَيۡمَانُ dari kata سَلِمَ yang hanya tiga huruf. Sedangkan سُلَيۡمَانُ tersusun dari enam huruf. Akhir hurufnya adalah huruf alif dan nun tambahan. Ketika ditambahi oleh alif dan nun, maka jadilah isim yang tidak bisa ditanwin. 

وَمِثَالُهَا فِي الصِّفَاتِ: مِثۡلُ: (سَكۡرَانَ) وَصۡفٌ. هَٰذَا الۡوَصۡفُ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ؛ لِأَنَّ أَصۡلَهُ (سَكِرَ) إِذَنۡ فِيهِ زِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. إِذَنۡ تَقُولُ: (سَكۡرَانُ) اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ، وَيُشۡتَرَطُ أَلَّا يَكُونَ مُؤَنَّثُهُ بِالتَّاءِ. 

Contohnya dalam sifat, seperti سَكۡرَانَ (mabuk). Ini adalah sifat. Sifat ini ada tambahan huruf alif dan nun karena asalnya adalah سَكِرَ. Jadi padanya ada tambahan huruf alif dan nun. Jadi engkau katakan, “سَكۡرَانُ” isim yang tidak ditanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan tambahan huruf alif dan nun. Juga disyaratkan bahwa bentuk muanasnya tidak dengan huruf ta. 

(عَطۡشَانُ) اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ؛ لِأَنَّهُ وَصۡفٌ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ، وَكُلُّ وَصۡفٍ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ، فَإِنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡوَصۡفِيَّةِ وَزِيَادَةِ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

(غَضۡبَانُ) مَأۡخُوذَةٌ مِنۡ (غَضِبَ) إِذَنۡ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ، وَهُوَ وَصۡفٌ، فَيَكُونُ مَمۡنُوعًا مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡوَصۡفِيَّةِ وَزِيَادَةِ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

(مَرۡضَانُ) أَصۡلُهَا مِنۡ (مَرِضَ) إِذَنۡ فِيهَا زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ. 

“عَطۡشَانُ (haus)” adalah isim yang tidak bisa ditanwin karena kata tersebut adalah sifat yang ada tambahan huruf alif dan nun. Setiap sifat yang ada tambahan huruf alif dan nun, terhalangi dari tanwin karena faktor sifat dan tambahan alif dan nun. 

“غَضۡبَانُ (marah)” diambil dari kata غَضِبَ. Jadi ada tambahan huruf alif dan nun, sehingga menjadi terhalang dari tanwin karena faktor sifat dan tambahan huruf alif dan nun. 

“مَرۡضَانُ (sakit)” asalnya adalah dari مَرِضَ, jadi ada tambahan huruf alif dan nun. 

وَذٰلِكَ بِخِلَافِ مَا إِذَا قُلۡتَ: (نَدۡمَانٌ)، فَإِنَّ مُؤَنَّثَهُ (نَدۡمَانَة)، وَ(سُلۡطَانٌ) مُؤَنَّثُهُ (سُلۡطَانَة)، فَإِنَّهُ لَا يَنۡصَرِفُ، لِأَنَّ مُؤَنَّثَةُ عَلَى وَزۡنِ (فَعۡلَانَة). 

Berbeda apabila engkau katakan, “نَدۡمَانٌ (menyesal),” karena bentuk muanasnya adalah نَدۡمَانَةُ. Juga “سُلۡطَانٌ (kekuasaan)” bentuk muanasnya adalah سُلۡطَانَةُ. Bentuk muanas ini tidak ditanwin karena muanasnya sesuai pola فَعۡلَانَة. 

كَلِمَةُ (شَيۡطَان) فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَحِفۡظًا مِّن كُلِّ شَيۡطَـٰنٍ مَّارِدٍ﴾ [الصافات: ٧]؟ صُرِفَتۡ كَلِمَةُ (شَيۡطَان) لِأَنَّهُ مِنۡ: شَطَنَ يَشۡطُنُ، فَالنُّونُ فِيهِ أَصۡلِيَّةٌ، وَلَيۡسَتۡ زَائِدَةً. 

وَكَلِمَةُ (أَبَانٌ) مَصۡرُوفَةٌ، لِأَنَّ الۡأَلِفَ وَالنُّونَ لَيۡسَا زَائِدَيۡنِ. 

Kata “شَيۡطَان” dalam firman Allah taala, “وَحِفۡظًا مِّن كُلِّ شَيۡطَـٰنٍ مَّارِدٍ (dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka).” (QS. Ash-Shaffat: 7). Kata شَيۡطَانٍ ditanwin karena berasal dari kata شَطَنَ يَشۡطُنُ. Jadi huruf nun pada kata itu memang asli bukan tambahan. 

Kata “أَبَانٌ” ditanwin karena huruf alif dan nun di sini bukan tambahan. 

(إِلَى سَلۡمَانَ). 

(إِلَى): حَرۡفُ جَرٍّ. 

(سَلۡمَانَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ. 

“إِلَى سَلۡمَانَ (Ke Salman).” 

إِلَى adalah huruf jarr

سَلۡمَانَ adalah isim yang di-jarr. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya adalah nama dan tambahan huruf alif dan nun. 

(نَظَرۡتُ إِلَى سَكۡرَانَ). 

(إِلَى): حَرۡفُ خَفۡضٍ. 

(سَكۡرَانَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ. 

“نَظَرۡتُ إِلَى سَكۡرَانَ (Aku memandang seorang pemabuk).” 

إِلَى adalah huruf khafdh

سَكۡرَانَ adalah isim yang di-jarr. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah sifat dan wazan fiil (seharusnya tambahan huruf alif dan nun). 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ﴾ [البقرة: ٢٦٤]، جُرَّتۡ (صَفۡوَان) بِالۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمِيَّةً، وَلَا وَصۡفِيَّةً، فَهِيَ اسۡمٌ جَامِدٌ. 

Allah taala berfirman, “كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ (seperti batu licin).” (QS. Al-Baqarah: 264). صَفۡوَانٍ di-jarr dengan kasrah karena bukan nama dan bukan sifat. Kata tersebut adalah isim jamid (isim yang tidak dibentuk dari kata lain). 

إِذَنۡ كُلُّ عَلَمٍ، أَوۡ وَصۡفٍ فِيهِ زِيَادَةُ أَلِفٍ وَنُونٍ، فَإِنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَيُقَالُ: الۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ –إِنۡ كَانَ عَلَمًا- وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ، أَوِ الۡوَصۡفِيَّةُ –إِنۡ كَانَ وَصۡفًا- وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ بِشَرۡطِ أَلَّا يَكُونَ مُؤَنَّثُهُ بِالتَّاءِ. 

Jadi setiap nama atau sifat yang ada tambahan huruf alif dan nun, maka terhalang dari tanwin. Dan dikatakan: Yang menghalanginya dari tanwin adalah nama—jika berupa nama—dan tambahan huruf alif dan nun. Atau sifat—jika berupa sifat—dan tambahan huruf alif dan nun dengan syarat bentuk muanasnya tidak dengan huruf ta.

Ishaq Ibnu Rahawaih rahimahullah

Salah satu kisah indah para pendahulu kita yang saleh adalah daya hafal mereka yang sangat kuat. Sulit rasanya saat ini ada manusia yang bisa menandingi kekuatan hafalan dan daya ingat mereka. Kapasitas hafalan yang sangat luas dengan hafalan kokoh, cepat, dan begitu mudah terucap kapanpun dan di manapun. Ribuan bahkan ratusan ribu hadis tersimpan dengan baik dalam memori hafalan mereka. Para Huffazh (penghafal hadis) bertebaran di berbagai penjuru negeri kaum muslimin. Di antara mereka ada seorang ulama bertabur pujian dengan hafalan yang sangat kuat.

Dia adalah Ishaq bin Rahawaih rahimahullah yang merupakan satu dari sekian ulama dengan kekuatan hafalan yang ajaib dan mengagumkan. Ulama dengan kuniah Abu Ya’qub ini dilahirkan apda tahun 161 H. Demikian ditegaskan oleh Adz Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala. Nasab panjangnya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Abdillah bin Mathar bin Ubaidillah bin Ghalib bin Warits bin Ubaidillah bin Athiyyah bin Murrah bin Ka’ab bin Hammam bin Asad bin Asad bin Murrah bin Amr bin Handzalah bin Malik Zaid Manah bin Tamim At-Tamimi rahimahullah.

Rahawaih adalah sebutan untuk ayahnya yang bernama Ibrahim, namun julukan tersebut melekat kepada Ishaq. Julukan tersebut diberikan kepada ayahnya karena terlahir di jalan Kota Mekah. Sang ayah sebenarnya tidak suka mendapat julukan seperti itu karena dalam bahasa persia Raah artinya jalan dan Waih adalah menemukan. Adapun Ishaq merasa nyaman dengan gelar tersebut dan tidak masalah bagi beliau untuk menyandangnya.

Di awal masa periwayatan hadisnya, beliau pernah mendengarkan hadis dari Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Namun saat itu beliau tidak meriwayatkan hadis dari Ibnul Mubarak karena masih berstatus pemula dalam menuntut ilmu. Kecintaan terhadap hadis membuat Ishaq bertekad melakukan perjananan ke berbagai negeri. Peristiwa ini terjadi tahun 184 H dan beliau berhasil menjelajahi berbagai negeri seperti Irak, Yaman, Syam, Hijaz, dan selainnya. Di tempat itulah beliau bertemu dan belajar kepada para ulama besar di masanya. Termasuk meriwayatkan hadis dari para ulama atba’ tabi’in (ulama pengikut tabiin). Sebut saja Al-Fudhail bin Iyadh, Mu’tamir bin Sulaiman, Al Fadhl bin Musa As Sinani, Abdul Aziz Ad Darawardi, Sufyan bin Uyainah, Abu Muawiyah Adh Dharir, Abdullah bin Wahb, Muhammad bin Ja’far Ghundar, Al Walid bin Muslim, Ismail bin Ulayyah, Yazid bin Harun, Yahya bin Sa’id Al Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, dan selain mereka.

Murid-murid beliau juga tak kalah banyaknya dan yang luar biasa berasal dari berbagai kalangan. Ada di antara guru-gurunya yang meriwayatkan hadis darinya seperti Yahya bin Adam dan Baiqiyyah bin Al Walid. Atau dari deretan ulama serating beliau seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Masih banyak ulama-ulama besar yang lainnya seperti Muhammad bin Ismail Al Bukhari dan Muslim Al Hajjaj, keduanya adalah pemilik Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kemudian Abu Dawud dan An Nasai dalam Kitab Sunan keduanya yang sangat terkenal. Muhammad bin Nashr Al Marwazi, Dawud bin Ali Ath Thahiri, Ja’far Al Firyabi, Abul Abbas As Sarraj yang merupakan murid terakhirnya, dan masih banyak selain mereka. Di antara kelebihan Ishaq bin Rahawaih rahimahullah adalah hafalannya yang sangat kuat.

Hafalan Sangat Kuat


Para ulama yang sezaman dengannya dan tentu saja murid-muridnya telah mempersaksikan hafalan Ishaq yang sangat kuat. Abu Dawud Al Khaffaf rahimahullah berkisah bahwa Ishaq bin Rahawaih pernah menuliskan kepadanya dan teman-temannya sebelas ribu hadis dari hafalannya sendiri. Tidak sampai di situ, bahkan setelah itu Ishaq membaca semuanya tanpa ada kekurangan atau kelebihan satu hurufpun. Apa yang tertulis di lembaran-lembaran catatan disebutkan dengan sempurna tanpa ada kesalahan.

Pernah pula Ishaq ditanya oleh Abdullah bin Thahir tentang kemampuannya menghafal seratus ribu hadis. Maka Ishaq menegaskan bahwa tidaklah beliau mendengar sesuatu melainkan pasti menghafalnya dan tidaklah beliau hafal sesuatu kemudian lupa. Bahkan ulama sekelas Abu Zur’ah sekali pun mengakui kekokohan hafalannya, ia berkata, “Belum pernah terlihat ada manusia yang lebih kuat hafalannya daripada Ishaq.” Padahal Abu Zur’ah sendiri mempunyai daya hafal yang sangat luar biasa. Ia pernah berkata, “Tidaklah telingaku mendengar ilmu melainkan pasti akan dihafal oleh kalbuku.” Sampai-sampai Abu Zur’ah harus menutup telinga ketika berjalan di pasar karena takut suara nyanyian biduan wanita akan terhafal olehnya.” Namun demikian ia pun tanpa ragu mengakui kekuatan hafalan Ishaq bin Rahawaih.

Abu Hatim mengatakan, “Sungguh mengagumkan kesempurnaan dan kekuatan hafalan yang dimilikinya sehingga selamat dari kesalahan.” Maka dikatakan kepada Abu Hatim, “Sesungguhnya Ishaq mendiktekan tafsir dengan menggunakan hafalannya.” Abu Hatim berkata, “Ini lebih mengagumkan, karena sungguh ketelitian hafalan hadis dengan sanadnya lebih mudah dan ringan daripada ketelitian hafalan sanad-sanad riwayat tafsir. Oleh karenanya disebutkan dalam biografinya bahwa Ishaq selalu menyampaikan hadis kepada murid-muridnya dengan hafalan. Beliau tidak pernah sama sekali menulis hitam di atas putih dalam meriwayatkan hadis. Bahkan Ishaq sendiri pernah melakukan penelitian terhadap tujuh puluh ribu hadis yang beliau riwayatkan dengan hafalannya. Dan sungguh luar biasa, ternyata dari puluhan ribu hadis itu hanya didapatkan dua kesalahan saja!

SANJUNGAN ULAMA


Para ulama seolah tak henti-hentinya mengalirkan pujian kepada Ishaq bin Rahawaih rahimahullah. Simak berbagai pujian dan rekomendasi baik dari para ulama berikut ini. Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala, “Ishaq bin Rahawaih adalah seorang imam besar, Syaikh dari timur, dan penghulunya para hafizh. Selain hafalan yang kuat, Ishaq adalah imam dalam ilmu tafsir, tokoh dalam ilmu fikih, dan termasuk imam mujtahid.”

Yahya bin Yahya pernah ditanya tentang Ishaq, maka ia berkata, “Satu hari bersama Ishaq lebih aku sukai daripada umurku.” Muhammad bin AbdulWahhab Al Farra’ mengatakan, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Ishaq, betapa faqih dan berilmunya dia.” Al Hakim mengatakan, “Ishaq bin Rahawaih adalah Imam di masanya dalam menghafal dan berfatwa. Ia tinggal di Naisabur dan meninggal di sana.” Pembelaan juga datang dari Nu’aim bin Hammad dalam pernyataannya, “Jika engkau melihat ada yang membicarakan keburukan tentang Ishaq, maka curigailah agama orang tersebut.”

Tatkala Ishaq meninggal, Muhammad bin Aslam Ath Thusi rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun di zaman ini yang lebih takut (kepada Allah) daripada Ishaq bin Rahawaih.” Kemudian ia membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” [QS. Fathir: 28]. Dan Ishaq adalah orang yang paling berilmu di zamannya. Kalau seandainya Sufyan Ats Tsauri masih hidup tentu ia akan membutuhkan Ishaq.”

Ishaq dikenal sebagai pribadai yang jujur dan membenci kedustaan, hingga Abu Muhammad Ad Darimi berkata, “Ishaq memimpin penduduk timur dan barat dengan kejujurannya.” Khatib Al Baghdadi menyatakan, “Ishaq adalah salah seorang imam dan ulamanya kaum muslimin dalam ilmu agama. Terkumpul padanya ilmu hadis, fikih, hafalan, kejujuran, sifat wara’ dan zuhud.” Ali bin Hujr mengatakan, “Pada hari kematiannya, Ishaq belum meninggalkan ulama yang setara dengannya dalam hal keilmuan dan pemahaman.”

Abu Nu’aim Al Hafizh mengatakan, “Ishaq adalah qarinnya (sahabat dekatnya) Ahmad. Ishaq adalah ulama yang menyebarkan hadis serta menghancurkan hujjah para ahli bid’ah.” Imam Ahmad rahimahullah pun pernah ditanya tentang Ishaq bin Rahawaih, maka beliau pun terkejut seraya berkata, “Ulama seperti Ishaq ditanya?! Ishaq adalah Imam bagi kami.”

Imam Ibnu Huzaimah rahimahullah juga tak ketinggalan memberikan sanjungan kepada Ishaq dalam pernyataannya, “Demi Allah kalau seandainya Ishaq hidup di zaman tabiin, niscaya mereka akan mengakui hafalan, keilmuan, dan kefakihannya.” Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkisah tentang pengalaman pribadinya, “Aku datang menemui Ishaq bin Rahawaih, sahabat kami, tahun 199 H di Baghdad. Saat itu para pakar hadis berkumpul di Rashaafah, di antara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan yang lainnya. Di awal majelis mereka berikan kepada Ishaq dan beliau menjadi khatib.”

BERAKIDAH AHLUS SUNNAH


Ishaq adalah seorang ulama berakidah ahlus sunnah, hal ini sangat nampak dalam statment dan pernyataannya. Harb Al Kirmani pernah bertanya kepada Ishaq tentang tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang melainkan Dia lah yang keempat.” [QS. Al Mujadilah: 7]. Ishaq pun menjawab, “Di manapun engkau berada, maka Dia lebih dekat kepadamu daripada urat leher. Namun Allah subhanahu wa ta’ala tinggi di atas makhluk ciptaan-Nya. Ayat yang paling jelas tentang hal ini adalah firman-Nya, “Ar Rahman beristiwa’ di atas Arsy-Nya.” [terjemah Q.S. Thaha: 5].

Pada kesempatan lain Ishaq menegaskan kesepakatan para ulama tentang istiwa’nya Allah di atas Arsy-Nya dan Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di lapisan bumi ke tujuh. Beliau juga menyatakan, “Tidak ada perselisihan pendapat di antara ulama bahwa Al Quran adalah firman Allah bukan makhluk. Bagaimana mungkin sesuatu yang keluar dari Rabb adalah makhluk?!” Pernah beliau ditanya oleh Manshur bin Thalhah, “Wahai Abu Ya’qub! Apakah engkau akan menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia setiap malam?” Ishaq pun menjawab, “Kita mengimani hal itu, jika engkau tidak beriman bahwa Allah di atas langit, maka engkau tidak perlu bertanya kepadaku tentang hal ini.”

Abu Dawud As Sijistani rahimahullah berkisah bahwa Ishaq mengatakan, “Siapa saja yang mengatakan: ‘Aku tidak akan berpendapat bahwa Al Quran itu makhluk atau bukan makhluk’, maka dia adalah seorang Jahmi (pengikut Jahmiyah).” Ishaq juga berkata, “Telah berlalu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan itu merupakan kenikmatan penduduk surga yang paling besar.”

Al Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ishaq meninggal pada malam nishfu Sya’ban tahun 238 hijriah dengan usia 77 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat serta pahala-Nya kepada Ishaq bin Rahawaih rahimahullah atas jasa-jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. (Ustadz Abu Hafiy)


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 87 vol.07 1440H/2019M rubrik Figur.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Penghalang Tanwin: Tarkib Mazji

(رَكِّبۡ): الۡمُرَادُ التَّرۡكِيبُ الۡمَزۡجِيُّ، وَالنَّحۡوِيُّونَ عِنۡدَهُمُ التَّرَاكِيبُ أَنۡوَاعٌ: تَرۡكِيبٌ إِضَافِيٌّ، وَتَرۡكِيبٌ إِسۡنَادِيٌّ، تَرۡكِيبٌ مَزۡجِيٌّ. 

“Susunlah”: Yang dimaukan adalah tarkib mazji. Menurut para ahli nahwu, tarkib ada bermacam-macam. Ada tarkib idhafi, tarkib isnadi, tarkib mazji

التَّرۡكِيبُ الۡإِضَافِيُّ: هُوَ الۡجَارِي بَيۡنَ الۡمُضَافِ وَالۡمُضَافِ إِلَيۡهِ، كَمَا لَوۡ قُلۡتُ: (هَٰذَا كِتَابُ فُلَانٍ) هَٰذَا تَرۡكِيبٌ إِضَافِيٌّ. 

التَّرۡكِيبُ الۡإِسۡنَادِيُّ: مَا تَرَكَّبَ مِنۡ مُبۡتَدَأٍ وَخَبَرٍ، أَوۡ فِعۡلٍ وَفَاعِلٍ. 

هَٰذَانِ النَّوۡعَانِ لَيۡسَ لَنَا فِيهِمَا دَخۡلٌ، لِأَنَّ الۡمُرَكَّبَ تَرۡكِيبًا إِضَافِيًّا يَكُونُ عَلَى حَسَبِ الۡعَوَامِلِ، وَالۡمُرَكَّبَ تَرۡكِيبًا إِسۡنَادِيًّا تُقَدَّرُ عَلَيۡهِ الۡحَرَكَاتِ تَقۡدِيرًا. 

Tarkib idhafi adalah yang berlaku antara mudhaf dengan mudhaf ilaih. Sebagaimana andai engkau berkata, “هَٰذَا كِتَابُ فُلَانٍ (Ini adalah kitab Fulan).” Ini adalah tarkib idhafi

Tarkib isnadi adalah susunan kata yang tersusun dari mubtada` dan khabar atau fiil dan fail. 

Dua jenis tarkib ini tidak perlu kita dalami di sini, karena susunan tarkib idhafi sesuai dengan amil-amil/perangkat kata yang mendahului, sedangkan susunan tarkib isnadi, maka harakatnya tersembunyi di akhir kata. 

مِثَالُ: الۡمُرَكَّبِ تَرۡكِيبًا إِضَافِيًّا: إِذَا قُلۡتُ: (جَاءَ غُلَامُ زَيۡدٍ) (غُلَامُ): فَاعِلٌ وَمُضَافٌ، (زَيۡدٍ): مُضَافٌ إِلَيۡهِ. 

Contoh susunan tarkib idhafi: Apabila engkau katakan, “جَاءَ غُلَامُ زَيۡدٍ (Budaknya Zaid telah datang),” غُلَامُ adalah fail dan mudhaf, زَيۡدٍ adalah mudhaf ilaih

وَالتَّرۡكِيبُ الۡإِسۡنَادِيُّ: أَنۡ تُسَمِّيَ شَخۡصًا (زَيۡدٌ قَائِمٌ) هَٰذَا مُرَكَّبٌ تَرۡكِيبًا إِسۡنَادِيًّا، نُعۡرِبُهُ بِحَرَكَاتٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى آخِرِهِ، فَنَقُولُ: (جَاءَ زَيۡدٌ قَائِمٌ) (جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ. (زَيۡدٌ قَائِمٌ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ بِالضَّمَّةِ الۡمُقَدَّرَةِ عَلَى آخِرِهِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا الۡحِكَايَةُ. 

Tarkib isnadi contohnya engkau menamai seseorang dengan nama زَيۡدٌ قَائِمٌ (Zaid Qa`im). Nama ini tersusun dengan tarkib isnadi. Kita meng-i’rab-nya dengan harakat yang disembunyikan di akhir kata. Sehingga kita katakan, “جَاءَ زَيۡدٌ قَائِمٌ (Zaid Qa`im telah datang).” جَاءَ fiil madhi. زَيۡدٌ قَائِمٌ fail yang di-rafa’ dengan harakat damah yang tersembunyi di akhir kata. Yang menghalangi dari munculnya adalah hikayah (menyebutkan apa adanya tanpa terpengaruh amil i’rab). 

يُوجَدُ رَجُلٌ يُسَمَّى: (شَابَ قَرۡنَاهَا)، تَقُولُ: (جَاءَ شَابَ قَرۡنَاهَا) وَ(رَأَيۡتُ شَابَ قَرۡنَاهَا)، وَ(مَرَرۡتُ بِشَابَ قَرۡنَاهَا)، هَٰذَا لَيۡسَ لَنَا فِيهِ تَدَخُّلٌ؛ لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ يُعۡرَبُ بِحَرَكَاتٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى آخِرِهِ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا الۡحِكَايَةُ. 

Didapati ada seorang pria dinamai “شَابَ قَرۡنَاهَا (Syaba Qarnaha).” Engkau katakan, “جَاءَ شَابَ قَرۡنَاهَا (Syaba Qarnaha telah datang)”, “رَأَيۡتُ شَابَ قَرۡنَاهَا (Aku melihat Syaba Qarnaha)”, “مَرَرۡتُ بِشَابَ قَرۡنَاهَا (Aku melewati Syaba Qarnaha).” Kita tidak perlu mendalami ini di sini. Mengapa? Karena kata tersebut di-i’rab dengan harakat yang tersembunyi di akhir kata. Yang menghalangi dari kemunculannya adalah hikayah

(التَّرۡكِيبُ الۡمَزۡجِيُّ) هَٰذَا الَّذِي يُشِيرُ إِلَيۡهِ النَّاظِمُ فِي قَوۡلِهِ: (رَكِّبۡ). 

التَّرۡكِيبُ الۡمَزۡجِيُّ: أَنۡ تَأۡتِيَ بِكَلِمَتَيۡنِ تَجۡعَلُهُمَا كَلِمَةً وَاحِدَةً، مِثۡلُ: (حَضۡرَمَوۡتُ) هَٰذِهِ كَلِمَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنۡ كَلِمَتَيۡنِ: حَضۡرَ وَمَوۡت، (بَعۡلَبَكَّ) هَٰذِهِ كَلِمَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنۡ (بَعۡلَ) وَ(بَكَّ). 

يُسَمُّونَ هَٰذَا تَرۡكِيبًا مَزۡجِيًّا، هَٰذَا الۡمُرَكَّبُ تَرۡكِيبًا مَزۡجِيًّا يُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ، وَيُنۡصَبُ بِالۡفَتۡحَةِ، وَيُجَرُّ كَذٰلِكَ بِالۡفَتۡحَةِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّرۡكِيبُ الۡمَزۡجِيُّ. 

Tarkib mazji. Inilah yang diisyaratkan penyajak dalam ucapannya, “رَكِّبۡ (Susunlah).” 

Tarkib mazji adalah engkau membawa dua kata lalu engkau jadikan dalam satu kata. Contoh “حَضۡرَمَوۡتُ (Hadhramaut).” Kata ini tersusun dari dua kata: حَضۡرَ dan مَوۡت. Contoh lain “بَعۡلَبَكَّ (Ba’labakk).” Kata ini tersusun dari بَعۡلَ dan بَكَّ. 

Mereka menamakan ini tarkib mazji. Susunan tarkib mazji ini di-rafa’ dengan harakat damah, di-nashab dengan harakat fatah, dan di-jarr dengan harakat fatah pula sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang tidak ditanwin. Penghalang dari tanwin adalah nama dan tarkib mazji

تَقُولُ: (سَافَرۡتُ إِلَى حَضۡرَمَوۡتَ). 

(سَافَرۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ. 

(إِلَى): حَرۡفُ جَرٍّ. 

(حَضۡرَمَوۡت): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(إِلَى)، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ؛ وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّرۡكِيبُ الۡمَزۡجِيُّ. 

Engkau katakan, “سَافَرۡتُ إِلَى حَضۡرَمَوۡتَ (Aku safar ke Hadhramaut).” 

سَافَرۡتُ adalah fiil dan fail. 

إِلَى adalah huruf jarr

حَضۡرَمَوۡتَ adalah isim yang di-jarr dengan إِلَى. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena isim yang tidak ditanwin. Penghalangnya dari tanwin adalah nama dan tarkib mazji

(أَقَمۡتُ فِي بَعۡلَبَكَّ). 

(أَقَمۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ. 

(فِي): حَرۡفُ جَرٍّ. 

(بَعۡلَبَكَّ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(فِي) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالتَّرۡكِيبِ. 

“أَقَمۡتُ فِي بَعۡلَبَكَّ (Aku tinggal di Ba’labakk).” 

أَقَمۡتُ adalah fiil dan fail. 

فِي adalah huruf jarr

بَعۡلَبَكَّ adalah isim yang di-jarr dengan فِي. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena isim yang tidak bisa ditanwin dengan sebab nama dan tarkib

(مَعۡدِيكَرِبَ) اسۡمُ رَجُلٍ، أَصۡلُهُ: (مَعۡدِيُّ كَرِبَ) مِنۡ كَلِمَتَيۡنِ فَصَارَتَا كَلِمَةً وَاحِدَةً، فَيُقَالُ: هَٰذَا تَرۡكِيبٌ مَزۡجِيٌّ. 

“مَعۡدِيكَرِبَ (Ma’dikarib)” adalah nama seorang lelaki. Asalnya adalah مَعۡدِيُّ كَرِبَ dari dua kata lalu menjadi satu kata. Maka dikatakan bahwa ini adalah tarkib mazji

هَلِ الۡوَصۡفِيَّةُ تُؤَثِّرُ فِي بَابِ التَّرۡكِيبِ؟ الۡجَوَابُ: لَا؛ التَّرۡكِيبُ عَلَمِيَّةٌ فَقَطۡ. 

Apakah sifat berpengaruh dalam bab tarkib? Jawabnya tidak. Tarkib hanya pada nama.

Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah termasuk jajaran shahabat kecil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Nama beliau adalah Abu Abdillah Jundub bin Abdillah bin Sufyan Al Bajali Al ‘Alaqy radhiyallahu ‘anhu. Terkadang beliau dinisbahkan kepada kakeknya sehingga dipanggil dengan nama Jundub bin Sufyan. Terkadang juga disebut sebagai Jundub Al Faaruq, atau Jundub bin Ummi Jundub. Penduduk Bashrah mengenalnya dengan nama Jundub bin Abdillah, sedang penduduk Kufah mengenalnya dengan Jundub bin Sufyan.

UPAYA THALABUL ILMI


Walau masih belia, namun perhatikanlah semangat beliau dalam menimba ilmu di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُنَّا غِلۡمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَتَعَلَّمَنَا الۡإِيمَانَ قَبۡلَ الۡقُرۡآنِ، ثُمَّ تَعَلَّمَنَا الۡقُرۡآنَ، فَازۡدَدۡنَا بِهِ إِيمَانًا وَإِنَّكُمُ الۡيَوۡمَ تَعَلَّمُونَ الۡقُرۡآنَ قَبۡلَ الۡإِيمَانِ
Dulu kami adalah anak-anak kecil yang sudah cukup kuat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, kami pun mempelajari iman sebelum Al Quran, kemudian kami mempelajari Al Quran (setelah itu). Maka, semakin bertambahlah iman kami. Sementara kalian di hari ini, kalian mempelajari Al Quran sebelum iman.” [H.R. Ibnu Majah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Selain dari nabi, beliau juga meminta ilmu dan riwayat dari shahabat Ubay bin Kaab dan Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhuma. Demikian semangat dalam menimba ilmu, sehingga dikenal oleh masyarakat muslimin karena banyaknya riwayat hadis dari beliau.

Beliau pernah tinggal di Kufah kemudian pindah ke Kota Bashrah. Beliau mendatangi kota tersebut bersama dengan Mushab bin Zubair. Enam imam penulis kitab induk hadis pun meriwayatkan hadis-hadis lewat jalur beliau, mereka adalah Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasai, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam Kitab Musnadnya, Imam Ahmad rahimahullah membuat musnad yang isinya adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Nabi ini. Demikianlah, memang beliau dikenal sebagai shahabat yang gemar belajar ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara hadis yang beliau riwayatkan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنۡ قُتِلَ تَحۡتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ، يَدۡعُو عَصَبِيَّةً، أَوۡ يَنۡصُرُ عَصَبِيَّةً، فَقِتۡلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
Siapa saja yang terbunuh di bawah bendera kesukuan, mengajak kepada ashabiyah (kesukuan) atau membela karena ashabiyah maka matinya adalah mati jahiliyah.” [H.R. Muslim].
كَانَ فِيمَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ رَجُلٌ بِهِ جُرۡحٌ، فَجَزِعَ، فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ، فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبۡدِي بِنَفۡسِهِ، حَرَّمۡتُ عَلَيۡهِ الۡجَنَّةَ
Dulu di antara umat sebelum kalian ada orang yang terkena luka, sampai dia tidak sabar. Kemudian dia mengambil pisau dan dia potong nadi tangannya. Darah terus mengalir sampai dia mati. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului-Ku dengan bunuh dirinya, Aku haramkan untuknya surga.” [H.R. Bukhari].
إِنِّي أَبۡرَأُ إِلَى اللهِ، أَنۡ يَكُونَ لِي مِنۡكُمۡ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى، قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبۡرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوۡ كُنۡتُ مُتَّخِذًا مِنۡ أُمَّتِي خَلِيلًا، لَاتَّخَذۡتُ أَبَا بَكۡرٍ خَلِيلًا، أَلَا وَإِنَّ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ، كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنۡبِيَائِهِمۡ وَصَالِحِيهِمۡ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الۡقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنۡهَاكُمۡ عَنۡ ذٰلِكَ
Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah, untuk menjadikan dari kalian untukku sebagai seorang Khalil (kekasih), karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai Khalil sebagaimana menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Khalil. Jikalau aku menjadikan dari umatku seorang Khalil niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil. Ingatlah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan Nabi-nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu.” [H.R. Muslim].

Demikianlah kesungguhan beliau dalam belajar mencari ilmu. Di antara yang meriwayatkan dari beliau dari kalangan penduduk Al Bashrah adalah Al Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirin, Anas bin Sirin, Abu Suwar Al Adawi, Bakar bin Abdillah Al Muzani, Maimun bin Sayyah, Laahiq bin Humaid, Yunus bin Jubair Al Baahili, Shafwan bin Muhraz, dan Abu Imran Al Juuni. Adapun yang meriwayatkan hadits beliau dari kalangan penduduk Kufah adalah Abdul Malik bin Umair, Al Aswad bin Qais, dan Salamah bin Kuhail. Sedangkan dari kalangan penduduk Syam yang meriwayatkan dari beliau di antaranya adalah Syahr bin Hausyab.

NASEHAT EMAS


Bagaimanapun keadaan para shahabat, mereka ibarat bintang di langit yang memberi cahaya kepada pejalan malam. Mereka adalah penyambung ilmu antara kita dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu generasi setelah mereka tidak layak untuk meninggalkan petuah dan bimbingan mereka dalam setiap permasalahan. Terlebih pada perkara berat yang sulit bagi seseorang untuk bersikap dengan sikap terbaik. Semacam peristiwa munculnya fitnah (kekacauan) besar, yang terjadi di antara kaum muslimin.

Diriwayatkan dari Sufyan bin Muharriz bahwa Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiyallahu ‘anhu mengutus utusan kepada ‘As’as bin Salamah di saat terjadinya masa fitnah (perselisihan) di zaman Ibnu Zubair. Beliau berkata, “Kumpulkanlah beberapa orang saudaramu supaya aku bisa berbicara dengan mereka.” Maka diutuslah utusan kepada mereka. Tatkala mereka telah berkumpul, datanglah Jundub. Beliau memakai Burnuz (baju semacam jubah yang memiliki tudung kepala) berwarna kuning. Maka beliau berkata, “Sungguh dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus pasukan muslimin kepada kaum musyrikin. Saat kedua kubu bertemu, ada seorang laki-laki dari musyrikin yang bila menarget seorang muslim, ia pasti bisa membunuhnya. Maka ada seorang pasukan muslim yang mencari-cari kelemahannya tatkala pedang sudah diangkat untuk menebasnya, orang musyrik itu mengatakan laa ilaha illallah, namun ia tetap membunuhnya. Lalu diutuslah utusan untuk menyampaikan kabar gembira (kemenangan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka utusan tersebut mengabarkan tentang peperangan hingga ia menceritakan kejadian berbagai peristiwa yang dilakukan muslim tadi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memanggil laki-laki itu dan berkata, “Mengapa engkau membunuhnya?” Orang ini menjawab, “Wahai Rasulullah, ia membuat takut kaum muslimin, dan membunuh fulan dan fulan. Sambil menyebut beberapa nama. Dan aku mengarahkan pedangku kepadanya, tatkala ia melihat pedang itu ia mengatakan laa ilaha illallah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau membunuhnya?” Ia menjawab, “Iya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
فَكَيۡفَ تَصۡنَعُ بِلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ إِذَا جَاءَتۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؟
Lalu apa yang bisa kamu perbuat dengan kalimat laa ilaha illallah jika telah datang nanti hari kiamat!’ Maka beliau tidak melebihkan ucapan beliau dari kalimat, ‘Lalu apa yang bisa kamu perbuat dengan kalimat laa ilaha illallah jika telah datang nanti hari kiamat!

Lalu Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kami, “Fitnah telah menaungi kalian, siapa yang larut padanya ia akan binasa.” Kami pun bertanya, “Lalu apa yang ada nasehatkan apabila fitnah itu datang ke negeri kami? Semoga Allah memperbaiki keadaan anda.” Beliau berkata, “Masuklah ke kampung-kampung kalian (menjauhi fitnah tersebut, red).” Kami berkata, “Bagaimana bila mereka masuk ke kampung kami?” Beliau berkata, “Masuklah ke rumah-rumah kalian.” Kami berkata, “Bagaimana bila mereka masuk ke rumah-rumah kami?” Beliau berkata, “Masuklah ke kamar kalian.” Kami berkata, “Bagaimana bila mereka masuk ke kamar kami?” Beliau berkata, “Jadilah kalian hamba Allah yang terbunuh dan janganlah kalian menjadi hamba Allah yang membunuh.” [Riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasai]. Demikian nasehat beliau saat terjadi fitnah (peperangan) yang melanda antara kaum muslimin.

MENINGGALNYA


Disebutkan bahwa beliau meninggal di usia tujuh puluh tahun. Radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridainya).


Sumber: Majalah Qudwah edisi 68 vol.06 1440H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Abdirrahman Hammam.

Syarh Al-Ajurrumiyah - Penghalang Tanwin: Ta`nits

رَابِعًا: أَنِّثۡ: التَّأۡنِيثُ تَارَةً يَكُونُ بِالۡأَلِفِ، وَتَارَةً يَكُونُ بِالتَّاءِ، وَتَارَةً يَكُونُ بِالۡمَعۡنَى. 

Keempat: أَنِّثۡ. Pembentukan kata muanas bisa suatu kali menggunakan huruf alif, bisa huruf ta, dan bisa dengan makna. 

فَالۡمُؤَنَّثُ بِالۡأَلِفِ: مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَلَا يُشۡتَرَطُ فِيهِ إِضَافَةُ عَلَمِيَّةٍ، وَلَا وَصۡفِيَّةٍ. الۡمُؤَنَّثُ بِالۡأَلِفِ: مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ دَائِمًا. 

وَالۡأَلِفُ: إِمَّا مَقۡصُورَةٌ، وَإِمَّا مَمۡدُودَةٌ، فَـ(سُلۡمَى): مَقۡصُورَةٌ وَ(أَسۡمَاءُ): مَمۡدُودَةٌ، كَذَا وَ(أَشۡيَاءُ): مَمۡدُودَةٌ، وَ(حُبۡلَى): مَقۡصُورَةٌ، وَ(لَيۡلَى)، وَ(حَمۡرَاءُ): مَمۡدُودَةٌ، وَ(زَرۡقَاءُ): مَمۡدُودَةٌ، وَ(صَحۡرَاءُ): مَمۡدُودَةٌ. 

Isim muanas dengan alif adalah isim yang terhalang dari tanwin dan tidak disyaratkan padanya adanya penyandaran nama atau sifat. Jadi isim muanas dengan alif adalah isim yang selama-lamanya terhalang dari tanwin.

Huruf alif bisa maqshurah dan bisa mamdudah. سُلۡمَى maqshurah. أَسۡمَاءُ mamdudah. Begitu pula أَشۡيَاءُ mamdudah. حُبۡلَى maqshurah, juga لَيۡلَى. Dan حَمۡرَاءُ mamdudah, زَرۡقَاءُ mamdudah, صَحۡرَاءُ mamdudah

تَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِلَيۡلَى). 

(بِلَيۡلَى): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ جَرٍّ. 

(لَيۡلَى): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى آخِرِهِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ الۡمَقۡصُورَةُ. 

Engkau katakan, “مَرَرۡتُ بِلَيۡلَى (Aku melewati Laila).” 

بِلَيۡلَى: huruf ba adalah huruf jarr

لَيۡلَى: isim majrur dengan huruf ba. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah yang tersembunyi di akhir kata sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah alif ta`nits maqshurah

(سَلَّمۡتُ عَلَى لَيۡلَى). 

(سَلَّمۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ. 

(عَلَى): حَرۡفُ خَفۡضٍ. 

(لَيۡلَى): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى الۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ الۡمَقۡصُورَةُ. 

“سَلَّمۡتُ عَلَى لَيۡلَى (Aku mengucapkan salam kepada Laila).” 

سَلَّمۡتُ adalah fiil dan fail. 

عَلَى adalah huruf khafdh

لَيۡلَى adalah isim yang di-jarr dan tanda jarr-nya adalah harakat fatah yang tersembunyi di huruf alif sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah alif ta`nits maqshurah

(مَرَرۡتُ بِأَسۡمَاءَ). 

(مَرَرۡتُ): فِعۡلٌ وَفَاعِلٌ. 

(بِأَسۡمَاءَ): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ خَفۡضٍ. (أَسۡمَاءَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ الۡمَمۡدُودَةُ. 

“مَرَرۡتُ بِأَسۡمَاءَ (Aku melewati Asma`).” 

مَرَرۡتُ adalah fiil dan fail. 

بِأَسۡمَاءَ: huruf ba adalah huruf khafdh. أَسۡمَاءَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba dan tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah huruf alif ta`nits mamdudah

لَوۡ قَالَ قَائِلٌ: مَا تَقُولُونَ فِي (أَسۡمَاء) جَمۡعِ (اسۡمٍ)؟ 

نَقُولُ: الۡهَمۡزَةُ هُنَا هَمۡزَةُ جَمۡعٍ، وَلَيۡسَتۡ هَمۡزَةَ تَأۡنِيثٍ، فَهِيَ مَصۡرُوفَةٌ، لِذَا قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنۡ هِىَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ سَمَّيۡتُمُوهَآ﴾ [النجم: ٢٣]. 

كَذٰلِكَ: (سَمَاء)، الۡهَمۡزَةُ أَصۡلِيَةٌ، فَهِيَ مِنۡ سَمَا يَسۡمُوا، فَأَصۡلُهَا: (سَمَاوٌ). 

Kalau ada yang bertanya: Apa yang engkau katakan tentang kata أَسۡمَاء sebagai bentuk jamak dari اسۡم? 

Kita jawab: Huruf hamzah di sini adalah hamzah jamak dan bukan hamzah ta`nits sehingga itu adalah kata yang bisa ditanwin. Oleh karena itu, Allah taala berfirman: إِنۡ هِىَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ سَمَّيۡتُمُوهَآ (QS. An-Najm: 23). 

Begitu pula سَمَاء, huruf hamzahnya asli. Dia berasal dari kata سَمَا يَسۡمُوا, sehingga aslinya adalah سَمَاوٌ. 

كَذٰلِكَ: (أَشۡيَاء) جَمۡعُ (شَيۡءٍ)، وَمَعَ ذٰلِكَ لَا تَنۡصَرِفُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسۡـَٔلُوا۟ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾ [المائدة: ١٠١]، وَلَمۡ تَنۡصَرِفۡ لِأَنَّ (أَشۡيَاء) أَصۡلُهَا (شَيۡآء) عَلَى وَزۡنِ (أَفۡعَال)، فَهِيَ مَمۡدُودَةٌ. 

وَنَقُولُ فِي إِعۡرَبِهَا: (عَنۡ): حَرۡفُ جَرٍّ. (أَشۡيَاءَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(عَلَى) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ الۡمَمۡدُودَةُ. 

Begitu pula kata أَشۡيَاء bentuk jamak dari شَيۡءٍ, namun bersamaan dengan itu kata ini tidak ditanwin. Allah taala berfirman: يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسۡـَٔلُوا۟ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ (QS. Al-Maidah: 101). Tidak ditanwin karena أَشۡيَاءَ asalnya adalah شَيۡآء sesuai pola أَفۡعَال, sehingga ada alif mamdudah

Kita katakan ketika meng-i’rab-nya: عَنۡ adalah huruf jarr. أَشۡيَاءَ adalah isim yang di-jarr dengan عَلَى (seharusnya عَنۡ). Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya adalah alif ta`nits mamdudah

إِذَنۡ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ –مَمۡدُودَةً كَانَتۡ أَمۡ مَقۡصُورَةً- تَمۡنَعُ الۡاسۡمَ مِنَ الصَّرۡفِ. 

وَلَا يُشۡتَرَطُ إِضَافَةُ عَلَمِيَّةٍ أَوۡ وَصۡفِيَّةٍ؛ إِذَنۡ أَلِفُ التَّأۡنِيثِ، وَصِيَغُ مُنۡتَهَى الۡجُمُوعِ لَا تُشۡتَرَطُ فِيهِمَا الۡعَلَمِيَّةُ أَوِ الۡوَصۡفِيَّةُ. 

Jadi alif ta`nits baik mamdudah atau maqshurah menghalangi isim dari tanwin. Dan tidak disyaratkan mengandung makna nama atau sifat. Jadi alif ta`nits dan shighah muntaha al-jumu’ tidak disyaratkan padanya kandungan makna nama atau sifat. 

الۡقِسۡمُ الثَّانِي مِنَ التَّأۡنِيثِ: التَّأۡنِيثُ الۡمَعۡنَوِيُّ. يَعۡنِي: الۡاسۡمَ الۡمَوۡضُوعَ عَلَمًا عَلَى أُنۡثَى، وَالتَّأۡنِيثُ الۡمَعۡنَوِيُّ: لَا بُدَّ فِيهِ مِنَ الۡعَلَمِيَّةِ، وَالتَّأۡنِيثُ اللَّفۡظِيُّ بِالتَّاءِ: لَا بُدَّ فِيهِ أَيۡضًا مِنَ الۡعَلَمِيَّةِ، وَلَا تَأۡتِي الۡوَصۡفِيَّةُ فِيهِ. 

Bagian kedua dari pembentukan kata muanas adalah ta`nits ma’nawi, yakni isim yang disematkan sebagai nama bagi wanita. Ta`nits ma’nawi harus berupa nama, sedangkan ta`nits lafzhi (pembentukan kata muanas secara lafal) menggunakan huruf ta juga harus berupa nama. Tidak ada sifat dalam bagian ini. 

قَالَ ابۡنُ مَالِكٍ –رَحِمَهُ اللهُ-: 

فَأَلِفُ التَّأۡنِيثِ مُطۡلَقًا مَنَعۡ صَرۡفَ الَّذِي حَوَاهُ كَيۡفَمَا وَقَعۡ 

(مُطۡلَقً) يَعۡنِي: مَقۡصُورَةً وَمَمۡدُودَةً. 

قَوۡلُهُ: (صَرۡفَ الَّذِي حَوَاهُ كَيۡفَمَا وَقَعۡ): يَعۡنِي: سَوَاءٌ وَقَعَ عَلَمًا، أَوۡ وَصۡفًا، أَوِ اسۡمًا جَامِدًا، أَوۡ أَيَّ شَيۡءٍ كَانَ. 

Ibnu Malik rahimahullah berkata, “Alif ta`nits secara mutlak menghalangi tanwin pada kata yang memilikinya bagaimanapun bentuknya.” 

“Secara mutlak”, yakni baik maqshurah atau mamdudah

Ucapan Ibnu Malik, “bagaimanapun bentuknya”, yakni sama saja baik berbentuk nama, sifat, isim jamid (bukan musytaqq, bukan bentukan dari kata lain), atau apapun itu. 

الۡمُؤَنَّثُ بِغَيۡرِ الۡأَلِفِ لَا بُدَّ فِيهِ مِنۡ إِضَافَةِ الۡعَلَمِيَّةِ، سَوَاءٌ كَانَ تَأۡنِيثُهُ لَفۡظِيًّا، أَوۡ مَعۡنَوِيًّا، أَوۡ لَفۡظِيًّا مَعۡنَوِيًّا. 

فَالۡمُؤَنَّثُ بِغَيۡرِ الۡأَلِفِ لَا يُمۡنَعُ مِنَ الصَّرۡفِ إِلَّا إِذَا كَانَ عَلَمًا، وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَنۡوَاعٍ: مَعۡنَوِيٌّ، وَلَفۡظِيٌّ، وَمَعۡنَوِيٌّ لَفۡظِيٌّ. 

Isim muanas tanpa huruf alif harus ada kandungan makna nama, sama saja baik pembentukan muanasnya secara lafal atau secara makna, atau kedua-duanya. Jadi, isim muanas tanpa huruf alif tidak terhalang dari tanwin kecuali jika dia berupa nama dan itu ada tiga jenis: secara makna, secara lafal, dan secara keduanya sekaligus. 

(قَتَادَةُ) اسۡمُ رَجُلٍ، (طَلۡحَةُ) اسۡمُ رَجُلٍ، مَمۡنُوعَانِ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالتَّأۡنِيثِ اللَّفۡظِيِّ، وَيَمُرُّ بِنَا كَثِيرًا (عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ) (طَلۡحَةَ)، فَلِمَاذَا لَمۡ نَقُلۡ (عَنۡ طَلۡحَةِ)؟ لِأَنَّهَا مَمۡنُوعَةٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ: الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ اللَّفۡظِيُّ. 

قَتَادَةُ adalah nama seorang laki-laki, طَلۡحَةُ juga nama seorang laki-laki. Keduanya terhalang dari tanwin karena merupakan nama dan pembentukan kata muanas secara lafal. Sering kita lalui عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ (Dari Thalhah bin ‘Abdullah). طَلۡحَةَ, mengapa tidak kita katakan عَنۡ طَلۡحَةِ? Karena kata tersebut terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah merupakan nama dan ta`nits lafzhi

(مَرَرۡتُ بِطَلۡحَةَ). 

(بِطَلۡحَةَ): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ خَفۡضٍ. (طَلۡحَةَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ اللَّفۡظِيُّ. 

“مَرَرۡتُ بِطَلۡحَةَ (Aku melewati Thalhah).” 

بِطَلۡحَةَ: huruf ba adalah huruf khafdh. طَلۡحَةَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Yang menghalanginya dari tanwin adalah karena merupakan nama dan ta`nits lafzhi

(زَيۡنَبُ) اسۡمُ أُنۡثَى مَعۡنًى؛ لِأَنَّهُ لَيۡسَ فِيهِ تَاءُ التَّأۡنِيثِ. 

(مَرَرۡتُ بِزَيۡنَبَ). 

(بِزَيۡنَبَ): (الۡبَاءُ) حَرۡفُ خَفۡضٍ. (زَيۡنَبَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالتَّأۡنِيثِ الۡمَعۡنَوِيِّ. 

زَيۡنَبُ adalah nama wanita secara makna karena padanya tidak ada huruf ta ta`nits

“مَرَرۡتُ بِزَيۡنَبَ (Aku melewati Zainab).” 

بِزَيۡنَبَ: huruf ba adalah huruf khafdh. زَيۡنَبَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang terhalang dari tanwin. Faktornya adalah nama dan ta`nits ma’nawi

وَتَقُولُ: (وَعَنۡ زَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ). 

(عَنۡ): حَرۡفُ جَرٍّ. 

(زَيۡنَبَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِـ(عَنۡ) وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ. 

إِذَنۡ (زَيۡنَبُ) مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، فَتَقُولُ: (عَنۡ زَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ –رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا-). 

إِذَنۡ الۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ الۡمَعۡنَوِيُّ. 

Engkau katakan, “وَعَنۡ زَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ (Dan dari Zainab binti Jahsy).” 

عَنۡ adalah huruf jarr

زَيۡنَبَ adalah isim yang di-jarr dengan عَنۡ. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang tidak bisa ditanwin. Yang menghalanginya adalah faktor nama dan ta`nits

Jadi زَيۡنَبُ terhalang dari tanwin. Engkau katakan, “عَنۡ زَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ (Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha).” 

Jadi yang menghalanginya dari tanwin adalah faktor nama dan ta`nits ma’nawi

(سُعَاد) اسۡمُ امۡرَأَةٍ، لَا تَنۡصَرِفُ لِأَنَّهَا مُؤَنَّثَةٌ تَأۡنِيثًا مَعۡنَوِيًّا، تَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِزَيۡنَبَ)، وَتَقُولُ: (نَظَرۡتُ إِلَى سُعَادَ)، وَتَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِهِنۡدَ)؛ لِأَنَّهَا مُؤَنَّثَةٌ تَأۡنِيثًا مَعۡنَوِيًّا. 

وَكَذٰلِكَ (دَعۡد) اسۡمُ امۡرَأَةٍ، وَمَا أَشۡبَهَ ذٰلِكَ. 

(حَفۡصَةُ)، (عَائِشَةُ)، (مَيۡمُونَةُ)، (خَدِيجَةُ)، (فَاطِمَةُ)، الۡمَانِعُ لَهَا مِنَ الصَّرۡفِ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ الۡمَعۡنَوِيُّ وَاللَّفۡظِيُّ. 

سُعَاد adalah nama wanita. Tidak bisa ditanwin karena merupakan kata muanas dengan ta`nits ma’nawi. Engkau katakan, “مَرَرۡتُ بِزَيۡنَبَ (Aku melewati Zainab).” Dan engkau katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى سُعَادَ (Aku memandang Su’ad).” Engkau katakan, “مَرَرۡتُ بِهِنۡدَ (Aku melewati Hind),” karena nama-nama tadi adalah muanas secara makna. 

Begitu pula دَعۡد adalah nama wanita dan yang semacam itu. 

حَفۡصَةُ, عَائِشَةُ, مَيۡمُونَةُ, خَدِيجَةُ, فَاطِمَةُ, yang menghalangi dari tanwin adalah nama dan kata muanas secara makna dan lafal. 

لَوۡ قَالَ قَائِلٌ: (هَٰذِهِ امۡرَأَةٌ عَائِشَةٌ بِكَسۡبِ يَدِهَا)، لَقُلۡنَا: هِيَ هُنَا مَصۡرُوفَةٌ؛ لِأَنَّهَا وَصۡفٌ، وَلَيۡسَتۡ عَلَمًا. 

(مَرَرۡتُ بِعَائِشَةَ) (الۡبَاءُ): حَرۡفُ خَفۡضٍ، (عَائِشَةَ): اسۡمٌ مَجۡرُورٌ بِالۡبَاءِ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ لِلۡعَلَمِيَّةِ وَالتَّأۡنِيثِ. 

Andai ada yang berkata, “هَٰذِهِ امۡرَأَةٌ عَائِشَةٌ بِكَسۡبِ يَدِهَا (Dia ini adalah seorang wanita yang hidup dengan hasil usahanya),” tentu kita katakan bahwa kata عَائِشَةٌ di sini bisa ditanwin karena merupakan sifat dan bukan nama. 

“مَرَرۡتُ بِعَائِشَةَ (Aku melewati ‘Aisyah).” Huruf ba adalah huruf khafdh. عَائِشَةَ adalah isim yang di-jarr dengan huruf ba. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena kata tersebut terhalang dari tanwin disebabkan faktor nama dan bermakna muanas. 

(جَاءَنِي غُلَامُ عَائِشَةَ). 

(جَاءَنِي): (جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ، (الۡيَاءُ): مَفۡعُولٌ بِهِ، وَالنُّونُ نُونُ الۡوِقَايَةِ. 

(غُلَامُ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَهُوَ مُضَافٌ. 

(عَائِشَةَ): مُضَافٌ إِلَيۡهِ مَجۡرُورٌ بِالۡإِضَافَةِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ الۡعَلَمِيَّةُ وَالتَّأۡنِيثُ. 

“جَاءَنِي غُلَامُ عَائِشَةَ (Budak ‘Aisyah telah datang kepadaku).” 

جَاءَنِي: جَاءَ adalah fiil madhi. Huruf ya adalah maf’ul bih. Huruf nun adalah nun wiqayah

غُلَامُ adalah fail yang di-rafa’ dan mudhaf

عَائِشَةَ adalah mudhaf ilaih yang di-jarr karena idhafah. Tanda jarr-nya adalah harakat fatah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim yang tidak bisa ditanwin. Yang menghalanginya adalah faktor nama dan bermakna muanas. 

لَوۡ قُلۡتُ: (نَظَرۡتُ إِلَى شَجَرَةٍ) هَلۡ هِيَ مَمۡنُوعَةٌ مِنَ الصَّرۡفِ؟ لَا. لِمَاذَا؟ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمًا. 

وَلَوۡ قُلۡتُ: (مَرَرۡتُ بِقَائِمَةٍ عَلَى الطَّرِيقِ) (بِقَائِمَةٍ) أَمۡ (بِقَائِمَةَ)؟ بِالتَّنۡوِينِ. لِمَاذَا؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمًا. هِيَ وَصۡفٌ. 

وَلَوۡ قَالَ قَائِلٌ: (هَٰذِهِ امۡرَأَةٌ فَاطِمَةٌ وَلَدَهَا)، لَقُلۡنَا أَيۡضًا: هِيَ هُنَا مَصۡرُوفَةٌ؛ لِأَنَّهَا وَصۡفٌ، وَلَيۡسَتۡ عَلَمًا. 

Andai aku katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى شَجَرَةٍ (Aku memandang suatu pohon).” Apakah kata شَجَرَة terhalang dari tanwin? Tidak. Mengapa? Karena kata tersebut bukan nama. 

Andai aku katakan, “مَرَرۡتُ بِقَائِمَةٍ عَلَى الطَّرِيقِ.” Apakah بِقَائِمَةٍ atau بِقَائِمَةَ? Jawabannya adalah dengan tanwin. Mengapa? Karena kata tersebut bukan nama, namun sifat. 

Andai ada yang berkata, “هَٰذِهِ امۡرَأَةٌ فَاطِمَةٌ وَلَدَهَا (Dia ini adalah seorang wanita yang menyapih putranya).” Tentu kita katakan pula bahwa kata فَاطِمَةٌ di sini bisa ditanwin karena merupakan sifat dan bukan nama. 

قَالَ قَائِلٌ مِنَ النَّاسِ: (نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةٍ عَظِيمَةٍ)، وَطَلۡحَةُ هُنَا بِمَعۡنَى شَجَرَةٍ، وَ(رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ). صَحِيحٌ. مَا الَّذِي فَاتَ فِي الۡأَوَّلِ (طَلۡحَةٍ)؟ فَاتَتِ الۡعَلَمِيَّةُ؛ وَنَحۡنُ نَشۡتَرِطُ فِي الۡمُؤَنَّثِ بِغَيۡرِ الۡأَلِفِ أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا. 

Ada orang yang berkata, “نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةٍ عَظِيمَةٍ (Aku memandang suatu pohon yang besar.” طَلۡحَةُ di sini bermakna pohon. “رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ (Aku meriwayatkan dari Thalhah bin ‘Abdullah).” Ini benar. Syarat apa yang tidak terpenuhi di طَلۡحَة yang pertama? Tidak terpenuhi faktor nama. Dan kita mensyaratkan kata muanas tanpa huruf alif harus berupa nama. 

قَوۡلُ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا يَشۡرَبُ الۡخَمۡرَ حِينَ يَشۡرَبُهَا)، (الۡخَمۡرُ) هُنَا مَصۡرُوفَةٌ، وَهِيَ مُؤَنَّثَةٌ تَأۡنِيثًا مَعۡنَوِيًّا، لَكِنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمًا، لِذَا انۡصَرَفَتۡ. 

وَتَقُولُ: (مَنۡ شَرِبَ كَأۡسَ خَمۡرٍ جَلَدۡنَاهُ) فَكَلِمَةُ (خَمۡرٍ) هُنَا مَصۡرُوفَةٌ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمًا. 

(أُسَامَةُ) عَلَمِيَّةٌ، وَتَأۡنِيثٌ لَفۡظِيٌّ. 

(حَارِثَةُ) عَلَمِيَّةٌ، وَتَأۡنِيثٌ لَفۡظِيٌّ. 

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “لَا يَشۡرَبُ الۡخَمۡرَ حِينَ يَشۡرَبُهَا (Tidaklah seseorang ketika sedang meminum khamar …).” الۡخَمۡرُ di sini bisa ditanwin padahal dia muanas secara makna. Akan tetapi kata tersebut bukan nama, oleh karenanya bisa ditanwin. 

Engkau katakan, “مَنۡ شَرِبَ كَأۡسَ خَمۡرٍ جَلَدۡنَاهُ (Siapa saja yang meminum segelas khamar, maka kami mencambuknya).” Kata خَمۡرٍ di sini bisa ditanwin karena bukan nama. 

أُسَامَةُ adalah nama dan muanas secara lafal. 

حَارِثَةُ adalah nama dan muanas secara lafal. 

تَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِامۡرَأَةٍ قَائِمَةٍ)، أَوۡ (مَرَرۡتُ بِامۡرَأَةَ قَائِمَةَ) الۡأَوَّلُ صَحِيحٌ؛ لِأَنَّ (امۡرَأَةٍ) لَيۡسَتۡ عَلَمًا. (قَائِمَةٍ) وَصۡفٌ وَالۡوَصۡفُ قُلۡنَا: لَا يَنۡفَعُ بِخِلَافِ وَزۡنِ الۡفِعۡلِ، فَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ يَنۡفَعُ فِيهِ الۡوَصۡفُ، لَكِنِ التَّأَنۡيِثُ لَا يَنۡفَعُ فِيهِ إِلَّا الۡعَلَمِيَّةُ فَقَطۡ. 

Engkau katakan, “مَرَرۡتُ بِامۡرَأَةٍ قَائِمَةٍ,” atau “مَرَرۡتُ بِامۡرَأَةَ قَائِمَةَ”? Yang pertama yang benar. Karena امۡرَأَةٍ bukanlah nama. قَائِمَةٍ adalah sifat dan telah kita katakan bahwa sifat tidak berpengaruh di sini. Berbeda dengan wazan fiil, karena sifat berpengaruh pada wazan fiil. Akan tetapi, yang hanya berpengaruh pada ta`nits adalah nama saja. 

خُلَاصَةُ التَّأۡنِيثِ: 


  • مَا كَانَ مُؤَنَّثًا بِالۡأَلِفِ الۡمَمۡدُودَةِ، أَوِ الۡمَقۡصُورَةِ، فَهُوَ مَمۡنُوعٌ مِنَ الصَّرۡفِ، سَوَاءٌ كَانَ عَلَمًا، أَوۡ صِفَةً، أَوۡ اسۡمًا جَامِدًا.

  • مَا كَانَ مُؤَنَّثًا بِغَيۡرِ الۡأَلِفِ فَهُوَ ثَلَاثَةُ أَنۡوَاعٍ: مُؤَنَّثٌ لَفۡظًا، وَمُؤَنَّثٌ مَعۡنًى، وَمُؤَنَّثٌ لَفۡظًا وَمَعۡنًى. وَكُلٌّ يُشۡتَرَطُ فِيهِ الۡعَلَمِيَّةُ، وَلَوۡ كَانَ غَيۡرَ عَلَمٍ، فَإِنَّهُ يَنۡصَرِفُ، سَوَاءٌ كَانَ صِفَةً، أَوِ اسۡمًا جَامِدًا. 

Kesimpulan ta`nits

  • Selama isim muanas dengan alif mamdudah atau maqshurah, maka isim tersebut terhalang dari tanwin. Sama saja apakah nama, sifat, atau isim jamid
  • Selama isim muanas tanpa alif, maka ada tiga macam: muanas secara lafal, muanas secara makna, dan muanas secara lafal dan makna. Setiap macam itu disyaratkan berupa nama. Andai isim itu bukan nama, maka isim tersebut bisa ditanwin, sama saja baik berupa sifat atau isim jamid

مَرَّ بِنَا قَبۡلَ قَلِيلٍ: (نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةٍ عَظِيمَةٍ)، وَ(رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ) وَقُلۡنَا: إِنَّ هَٰذِهِ الۡعَبَارَةَ صَحِيحَةٌ. 

لَوۡ قُلۡتُ: (نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةَ الۡكَرِيمِ)، وَ(رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ) صَحِيحٌ؟ نَعَمۡ. لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الۡأَوَّلَ صَارَ عَلَمًا إِلَى طَلۡحَةَ الۡكَرِيمَ، مَعۡنَاهُ: رَجُلٌ. إِذَنۡ هُوَ عَلَمٌ، لَكِنۡ وَالتَّأۡنِيثُ لَفۡظِيٌّ أَمۡ مَعۡنَوِيٌّ؟ لَفۡظِيٌّ. 

Telah kita lewati baru saja, “نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةٍ عَظِيمَةٍ (Aku memandang suatu pohon yang besar)” dan “رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ (Aku meriwayatkan dari Thalhah bin ‘Abdullah)”, dan kita katakan sesungguhnya ungkapan kalimat ini benar. 

Andai aku katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى طَلۡحَةَ الۡكَرِيمِ (Aku memandang Thalhah yang karim)” dan “رَوَيۡتُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ”, apakah benar? Iya benar. Mengapa? Karena contoh pertama kata tersebut adalah nama untuk Thalhah yang karim. Maknanya: seseorang pria yang memiliki nama itu. Jadi kata tersebut adalah nama. Tetapi, kata tersebut muanas secara lafal atau makna? Secara lafal. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُوا۟ بَقَرَةً﴾ [البقرة: ٦٧]، (بَقَرَةً): مَصۡرُوفَةٌ أَمۡ غَيۡرُ مَصۡرُوفَةٍ؟ مَصۡرُوفَةٌ، وَكُلُّ مُنَوَّنٍ مَصۡرُوفٌ، لِمَاذَا صُرِفَتۡ مَعَ أَنَّهَا مُؤَنَّثَةٌ لَفۡظًا وَمَعۡنًى؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ عَلَمًا؛ وَنَحۡنُ نَشۡتَرِطُ فِي التَّأۡنِيثِ بِغَيۡرِ الۡأَلِفِ أَنۡ يَكُونَ عَلَمًا. 

Allah taala berfirman, “إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُوا۟ بَقَرَةً (Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menyembelih seekor sapi betina)” (QS. Al-Baqarah: 67). بَقَرَةً ditanwin atau tidak ditanwin? Ditanwin. Mengapa ditanwin padahal kata tersebut muanas secara lafal dan makna? Karena kata tersebut bukan nama. Sedangkan kita mensyaratkan dalam ta`nits tanpa huruf alif harus berupa nama. 

لَوۡ سَمَّيۡتَ ابۡنَتَكَ (بَقَرَةَ)، يُمۡنَعُ مِنَ الصَّرۡفِ، فَتَقُولُ مَثَلًا: (نَظَرۡتُ إِلَى بَقَرَةَ بِنۡتِ بَكۡرٍ) صَحِيحٌ؟ نَعَمۡ؛ لِأَنَّهَا عَلَمٌ. 

وَ(نَظَرۡتُ إِلَى بَقَرَةٍ مِلۡكِ زَيۡدٍ) صَحِيحٌ. 

Andai engkau namai putrimu dengan nama بَقَرَةَ, maka kata ini terhalang dari tanwin. Lalu misal engkau katakan, “نَظَرۡتُ إِلَى بَقَرَةَ بِنۡتِ بَكۡرٍ (Aku memandang Baqarah binti Bakr),” apa ini benar? Iya benar karena kata tersebut adalah nama. 

“نَظَرۡتُ إِلَى بَقَرَةٍ مِلۡكِ زَيۡدٍ (Aku memandang seekor sapi betina milik Zaid)” ini juga benar. 

إِذَنۡ (أَكۡرَمۡتُ بَقَرَةَ بِنۡتَ بَكۡرٍ)، وَ(حَلَبۡتُ بَقَرَةً مِلۡكَ زَيۡدٍ) صَحِيحٌ، الۡأَوَّلُ غَيۡرُ مُنَوَّنٍ، وَالثَّانِي مُنَوَّنٌ؛ لِأَنَّ الۡأَوَّلَ عَلَمٌ، وَالثَّانِي غَيۡرُ عَلَمٍ. 

Jadi “أَكۡرَمۡتُ بَقَرَةَ بِنۡتَ بَكۡرٍ (Aku memuliakan Baqarah binti Bakr)” dan “حَلَبۡتُ بَقَرَةً مِلۡكَ زَيۡدٍ (Aku memerah seekor sapi milik Zaid)” adalah ungkapan yang benar. Contoh pertama tidak ditanwin dan contoh kedua ditanwin. Karena kata بَقَرَة di contoh pertama merupakan nama, sedangkan yang kedua bukan nama. 

(بِمَعۡرِفَةٍ): إِشَارَةٌ إِلَى الۡعَلَمِيَّةِ. 

“بِمَعۡرِفَةٍ” adalah isyarat kepada nama.