Shahih Muslim hadits nomor 32

٥٣ - (٣٢) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ؛ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ، وَمُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحۡلِ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (مَا مِنۡ عَبۡدٍ يَشۡهَدُ أَنَّ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُخۡبِرُ بِهَا النَّاسَ فَيَسۡتَبۡشِرُوا؟ قَالَ: (إِذًا يَتَّكِلُوا)، فَأَخۡبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنۡدَ مَوۡتِهِ، تَأَثُّمًا.
53. (32). Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Mu’adz bin Hisyam mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah. Beliau berkata: Anas bin Malik menceritakan kepada kami; Bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan Mu’adz bin Jabal di atas unta. Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hambapun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya kecuali Allah haramkan neraka baginya.” Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah aku kabarkan kepada orang-orang sehingga mereka bisa bergembira?” Nabi bersabda, “(Jangan) nanti mereka akan bersandar.” Mu’adz mengabarkan hadis ini menjelang kematiannya karena khawatir jatuh ke dalam dosa.

Shahih Muslim hadits nomor 31

٥٢ - (٣١) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ الۡحَنَفِيُّ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو كَثِيرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيۡرَةَ، قَالَ: كُنَّا قُعُودًا حَوۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، مَعَنَا أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ، فِي نَفَرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ بَيۡنِ أَظۡهُرِنَا، فَأَبۡطَأَ عَلَيۡنَا، وَخَشِينَا أَنۡ يُقۡتَطَعَ دُونَنَا، وَفَزِعۡنَا فَقُمۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَخَرَجۡتُ أَبۡتَغِي رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى أَتَيۡتُ حَائِطًا لِلۡأَنۡصَارِ لِبَنِي النَّجَّارِ، فَدُرۡتُ بِهِ هَلۡ أَجِدُ لَهُ بَابًا. فَلَمۡ أَجِدۡ، فَإِذَا رَبِيعٌ يَدۡخُلُ فِي جَوۡفِ حَائِطٍ مِنۡ بِئۡرٍ خَارِجَةٍ - وَالرَّبِيعُ الۡجَدۡوَلُ – فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، فَدَخَلۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (أَبُو هُرَيۡرَةَ؟) فَقُلۡتُ: نَعَمۡ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (مَا شَأۡنُكَ؟) قُلۡتُ: كُنۡتَ بَيۡنَ أَظۡهُرِنَا، فَقُمۡتَ فَأَبۡطَأۡتَ عَلَيۡنَا، فَخَشِينَا أَنۡ تُقۡتَطَعَ دُونَنَا، فَفَزِعۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَأَتَيۡتُ هَٰذَا الۡحَائِطَ، فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، وَهَٰؤُلَاءِ النَّاسُ وَرَائِي. فَقَالَ: (يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ) - وَأَعۡطَانِي نَعۡلَيۡهِ - قَالَ: (اذۡهَبۡ بِنَعۡلَيَّ هَاتَيۡنِ، فَمَنۡ لَقِيتَ مِنۡ وَرَاءِ هَٰذَا الۡحَائِطِ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، فَبَشِّرۡهُ بِالۡجَنَّةِ)، فَكَانَ أَوَّلَ مَنۡ لَقِيتُ عُمَرُ.
52. (31). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: ‘Umar bin Yunus Al-Hanafi menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Katsir menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Abu Hurairah menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Kami pernah duduk di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersama kami ada Abu Bakr dan ‘Umar dalam sekelompok orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit (meninggalkan) kami. Lalu beliau tidak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir beliau dicegat musuh di luar pengawasan kami. Kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku keluar mencari-cari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai aku mendatangi suatu kebun milik seorang ansar Bani An-Najjar. Aku berkeliling untuk mencari pintu masuknya, namun aku tidak menemukan. Ternyata ada sebuah sungai kecil yang masuk ke dalam tengah kebun yang berasal dari sumur di luar. Aku pun masuk dari situ dengan menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya. Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya, “Abu Hurairah kah itu?” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aku menjawab, “Engkau tadi ada di tengah-tengah kami, lalu engkau bangkit pergi dan tak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir engkau dicegat musuh di luar pengawasan kami sehingga kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku pun mendatangi kebun ini, lalu aku menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya sementara orang-orang masih berada di belakangku. Nabi bersabda, “Wahai Abu Hurairah.” Sembari Nabi memberi dua sandalnya kepadaku, beliau melanjutkan, “Pergilah membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang engkau jumpai di belakang kebun ini yang orang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka berilah kabar gembira surga kepadanya.” Orang yang pertama aku jumpai adalah ‘Umar.
فَقَالَ: مَا هَاتَانِ النَّعۡلَانِ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟ فَقُلۡتُ: هَاتَانِ نَعۡلَا رَسُولِ اللهِ ﷺ، بَعَثَنِي بِهِمَا، مَنۡ لَقِيتُ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرۡتُهُ بِالۡجَنَّةِ، فَضَرَبَ عُمَرُ بِيَدِهِ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ. فَخَرَرۡتُ لِاسۡتِي، فَقَالَ: ارۡجِعۡ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَأَجۡهَشۡتُ بُكَاءً. وَرَكِبَنِي عُمَرُ، فَإِذَا هُوَ عَلَى أَثَرِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا لَكَ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟) قُلۡتُ: لَقِيتُ عُمَرَ فَأَخۡبَرۡتُهُ بِالَّذِي بَعَثۡتَنِي بِهِ، فَضَرَبَ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ ضَرۡبَةً، خَرَرۡتُ لِاسۡتِي، قَالَ: ارۡجِعۡ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا عُمَرُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلۡتَ؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنۡتَ وَأُمِّي، أَبَعَثۡتَ أَبَا هُرَيۡرَةَ بِنَعۡلَيۡكَ، مَنۡ لَقِيَ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرَهُ بِالۡجَنَّةِ؟ قَالَ: (نَعَمۡ) قَالَ: فَلَا تَفۡعَلۡ، فَإِنِّي أَخۡشَىٰ أَنۡ يَتَّكِلَ النَّاسُ عَلَيۡهَا، فَخَلِّهِمۡ يَعۡمَلُونَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (فَخَلِّهِمۡ).
‘Umar bertanya, “Dua sandal apa ini wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Ini sepasang sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengutusku membawa ini dengan berpesan siapa saja yang aku jumpai, dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka aku memberi kabar gembira surga kepadanya.” ‘Umar lalu mendorong di antara dua dadaku dengan tangannya sehingga aku terjatuh di atas pantatku. ‘Umar mengatakan, “Kembalilah wahai Abu Hurairah.” Aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku serasa ingin menangis. ‘Umar membuntutiku. Ternyata beliau persis di belakangku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Kenapa engkau wahai Abu Hurairah.” Aku menjawab, “Aku berjumpa dengan ‘Umar lalu aku kabarkan kepadanya apa yang engkau utus aku tadi. Lalu beliau mendorong di antara dadaku dengan kuat sehingga aku terjatuh di atas pantatku. Dia berkata: Kembalilah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Umar, apa yang mendorongmu melakukan perbuatan itu?” ‘Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Apa benar engkau mengutus Abu Hurairah dengan membawa sepasang sandalmu dengan pesan siapa saja yang dia jumpai dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, lalu dia beri kabar gembira surga kepada orang itu?” Nabi menjawab, “Iya.” ‘Umar mengatakan, “Jangan engkau lakukan. Karena aku khawatir orang-orang akan bersandar padanya. Jadi biarkan saja mereka beramal.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya, biarkan mereka beramal.”

Kitab At-Tauhid - Tafsir Tauhid dan Syahadat

٥ - بَابُ تَفۡسِيرِ التَّوۡحِيدِ وَشَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
5. Bab Tafsir Tauhid dan Syahadat bahwa Tidak Ada Sesembahan yang Berhak Diibadahi kecuali Allah

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالىَ: ﴿أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورًا﴾ [الإسراء: ٥٧].
Firman Allah taala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra`: 57).
وَقَوۡلِهِ: ﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ۝٢٦ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ﴾ [الزخرف: ٢٦-٢٧].
Dan firman-Nya (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali yang telah menciptakanku karena sesungguhnya Dia yang akan memberiku petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27).
وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَـٰنَهُمۡ أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓا۟ إِلَـٰهًا وَٰحِدًا ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبۡحَـٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ﴾ [التوبة: ٣١].
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Mereka menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Demikian pula Al-Masih ‘Isa bin Maryam. Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar mereka menyembah sesembahan yang esa, yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).
وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah. Mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti cintanya kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
وَفِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (مَنۡ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ).
Di dalam kitab Shahih, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa saja yang mengucapkan: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah; dan mengingkari segala apa yang diibadahi selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga. Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah azza wajalla.”[1]
وَشَرۡحُ هَٰذِهِ التَّرۡجَمَةِ مَا بَعۡدَهَا مِنَ الۡأَبۡوَابِ.
Penjelasan bab ini ada pada bab-bab setelah ini.
فِيهِ مَسَائِلُ:
فِيهِ أَكۡبَرُ الۡمَسَائِلِ وَأَهَمُّهَا، وَهِيَ تَفۡسِيرُ التَّوۡحِيدِ، وَتَفۡسِيرُ الشَّهَادَةِ، وَبَيَّنَهَا بِأُمُورٍ وَاضِحَةٍ.
Di dalam keterangan di atas ada beberapa permasalahan:
Pada uraian di atas ada permasalahan yang terbesar dan terpenting, yaitu penjelasan tauhid dan penjelasan syahadat. Allah menerangkannya dengan perkara-perkara yang gamblang.
مِنۡهَا آيَةُ الۡإِسۡرَاءِ: بَيَّنَ فِيهَا الرَّدَّ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ الصَّالِحِينَ؛ فَفِيهَا: بَيَانُ أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ.
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Al-Isra`. Allah menjelaskan di dalam ayat tersebut bantahan terhadap orang-orang musyrik yang berdoa kepada orang-orang saleh. Sehingga di ayat tersebut ada keterangan bahwa perbuatan ini adalah syirik akbar.
وَمِنۡهَا آيَةُ بَرَاءَةَ: بَيَّنَ فِيهَا أَنَّ أَهۡلَ الۡكِتَابِ اتَّخَذُوا أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَانَهُمۡ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللهِ، وَبَيَّنَ أَنَّهُمۡ لَمۡ يُؤۡمَرُوا إِلَّا بِأَنۡ يَعۡبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا، مَعَ أَنَّ تَفۡسِيرَهَا الَّذِي لَا إِشۡكَالَ فِيهِ: طَاعَةُ الۡعُلَمَاءِ وَالۡعُبَّادِ فِي غَيۡرِ الۡمَعۡصِيَةِ، لَا دُعَاؤُهُمۡ إِيَّاهُمۡ.
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Bara`ah. Allah menjelaskan di dalam ayat tersebut bahwa ahli kitab menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Allah menjelaskan bahwa mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Tuhan yang Esa. Juga menjelaskan bahwa tafsirnya yang tidak ada kemuskilan padanya adalah menaati para ulama dan ahli ibadah dalam hal selain maksiat dan tidak boleh berdoa kepada mereka.
وَمِنۡهَا قَوۡلُ الۡخَلِيلِ عَلَيۡهِ السَّلَامُ لِلۡكُفَّارِ: ﴿إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ۝٢٦ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى﴾ [الزخرف: ٢٦-٢٧]، فَاسۡتَثۡنَى مِنَ الۡمَعۡبُودِينَ رَبَّهُ، وَذَكَرَ سُبۡحَانَهُ أَنَّ هَٰذِهِ الۡبَرَاءَةَ وَهَٰذِهِ الۡمُوَالَاةِ: هِيَ تَفۡسِيرُ شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ: فَقَالَ: ﴿وَجَعَلَهَا كَلِمَةًۢ بَاقِيَةً فِى عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ﴾ [الزخرف: ٢٨].
Di antaranya adalah ucapan khalil Allah ‘alaihis salam kepada orang-orang kafir, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27). Ibrahim mengecualikan Rabb-nya dari sesembahan yang lain. Allah yang Mahasuci menyebutkan bahwa berlepas diri (dari sesembahan selain Allah) dan setia kepada (Allah) adalah tafsir syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka, Allah berfirman yang artinya, “Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az-Zukhruf: 28).
وَمِنۡهَا آيَةُ الۡبَقَرَةِ فِي الۡكُفَّارِ الَّذِينَ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]؛ ذَكَرَ أَنَّهُمۡ يُحِبُّونَ أَنۡدَادَهُمۡ كَحُبِّ اللهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمۡ يُحِبُّونَ اللهَ حُبًّا عَظِيمًا وَلَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ؛ فَكَيۡفَ بِمَنۡ أَحَبَّ النِّدَّ أَكۡثَرَ مِنۡ حُبِّ اللهِ؟! فَكَيۡفَ بِمَنۡ لَمۡ يُحِبَّ إِلَّا النِّدَّ وَحۡدَهُ؟ وَلَمۡ يُحِبَّ اللهَ؟!
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Al-Baqarah tentang orang-orang kafir yang Allah berfirman tentang mereka (yang artinya), “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). Allah menyebutkan bahwa mereka mencintai tandingan-tandingan selain Allah seperti cintanya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mencintai Allah dengan cinta yang besar namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Lalu bagaimana dengan orang yang lebih mencintai tandingan selain Allah daripada Allah?! Lalu bagaimana dengan orang yang hanya mencintai tandingan itu semata dan tidak mencintai Allah?!
وَمِنۡهَا قَوۡلُهُ ﷺ: (مَنۡ قَالَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ؛ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ)، وَهَٰذَا مِنۡ أَعۡظَمِ مَا يُبَيِّنُ مَعۡنَى (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ)، فَإِنَّهُ لَمۡ يَجۡعَلِ التَّلَفُّظَ بِهَا عَاصِمًا لِلدَّمِ وَالۡمَالِ، بَلۡ وَلَا مَعۡرِفَةَ مَعۡنَاهَا مَعَ لَفۡظِهَا، بَلۡ وَلَا الۡإِقۡرَارَ بِذٰلِكَ، بَلۡ وَلَا كَوۡنُهُ لَا يَدۡعُو إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، بَلۡ لَا يَحۡرُمُ مَالُهُ وَدَمُهُ حَتَّى يُضِيفَ إِلَى ذٰلِكَ الۡكُفۡرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ. فَإِنۡ شَكَّ أَوۡ تَوَقَّفَ لَمۡ يَحۡرُمۡ مَالُهُ وَدَمُهُ. فَيَالَهَا مِنۡ مَسۡأَلَةٍ مَا أَعۡظَمَهَا وَأَجَلَّهَا! وَيَالَهُ مِنۡ بَيَانٍ مَا أَوۡضَحَهُ! وَحُجَّةٍ مَا أَقۡطَعَهَا لِلۡمُنَازِعِ!
Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang mengucapkan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah; dan mengingkari segala yang diibadahi selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga. Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah.” Ini termasuk hadis yang paling agung yang menjelaskan makna “tidak sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah”. Yang menjadikan dia terjaga darah dan hartanya:
  • bukan karena melafalkan saja,
  • bukan pula hanya mengetahui makna dan melafalkannya saja,
  • bukan hanya menetapkan itu,
  • bukan hanya dia tidak berdoa kecuali kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Bahkan tidak terjaga harta dan darahnya sampai dia mengingkari segala yang diibadahi selain Allah. Jika dia ragu atau tidak menentukan sikap dalam masalah ini, maka harta dan darahnya tidak terlindung. Duhai, alangkah agung dan mulianya permasalahan ini. Alangkah jelasnya keterangan ini. Betapa argumen ini sangat membungkam orang yang suka mendebat. 

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3531

٣٥٣١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ أَبِي الۡخَصِيبِ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ مُبَارَكٍ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ الۡحُصَيۡنِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلۡقَةٌ مِنۡ صُفۡرٍ فَقَالَ: (مَا هَٰذِهِ الۡحَلۡقَةُ؟) قَالَ: هَٰذِهِ مِنَ الۡوَاهِنَةِ، قَالَ: (انۡزِعۡهَا، فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهۡنًا). [(الضعيفة)(١٠٢٩)، (صحيح أبي داود) تحت الحديث (٤٦٩)].
3531. ‘Ali bin Abu Al-Khashib telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Mubarak, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Al-Hushain. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki di tangannya ada sebuah gelang dari kuningan, lantas beliau bertanya, “Kalung apa ini?” Lelaki itu menjawab, “Itu karena penyakit wahinah (penyakit yang menyerang bahu sehingga menyebabkan lemas dan sulit menggerakkan lengan).” Nabi bersabda, “Lepaskan gelang itu karena gelang itu hanya menambah kelemahan kepadamu.”

Shahih Muslim hadits nomor 29

٤٧ - (٢٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ عَنِ ابۡنِ عَجۡلَانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ يَحۡيَىٰ بۡنِ حَبَّانَ، عَنِ ابۡنِ مُحَيۡرِيزٍ، عَنۡ الصُّنَابِحِيِّ، عَنۡ عُبَادَةَ بۡنِ الصَّامِتِ: أَنَّهُ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَيۡهِ وَهُوَ فِي الۡمَوۡتِ، فَبَكَيۡتُ. فَقَالَ: مَهۡلًا، لِمَ تَبۡكِي؟ فَوَاللّٰهِ، لَئِنۡ اسۡتُشۡهِدۡتُ لَأَشۡهَدَنَّ لَكَ، وَلَئِنۡ شُفِّعۡتُ لَأَشۡفَعَنَّ لَكَ، وَلَئِنۡ اسۡتَطَعۡتُ لَأَنۡفَعَنَّكَ. ثُمَّ قَالَ: وَاللهِ مَا مِنۡ حَدِيثٍ سَمِعۡتُهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَكُمۡ فِيهِ خَيۡرٌ إِلَّا حَدَّثۡتُكُمُوهُ، إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا. وَسَوۡفَ أُحَدِّثُكُمُوهُ الۡيَوۡمَ، وَقَدۡ اُحِيطَ بِنَفۡسِي. سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ شَهِدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، حَرَّمَ اللهُ عَلَيۡهِ النَّارَ).
47. (29). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Ibnu Muhairiz, dari Ash-Shunabihi, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit. Bahwa Ash-Shunabihi berkata: Aku masuk menemui ‘Ubadah menjelang kematiannya, lalu aku menangis. ‘Ubadah mengatakan: Tenanglah, mengapa engkau menangis? Demi Allah, jika engkau meminta persaksianku, niscaya aku akan mempersaksikan (kebaikan) untukmu. Jika aku diizinkan untuk memberi syafaat, niscaya aku akan memberi syafaat kepadamu. Jika aku diberi kemampuan, niscaya aku akan memberi kemanfaatan kepadamu. Kemudian ‘Ubadah mengatakan: Demi Allah, tidak ada satu hadispun yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada kebaikan untuk kalian kecuali sudah aku ceritakan kepada kalian, kecuali satu hadis. Aku akan menceritakannya kepada kalian pada hari ini karena aku telah dekat dengan kematian. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan haramkan neraka baginya.”