Dalil Khusyuk

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا. 

Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199)[1]
Dan ayat-ayat semisal itu. 


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] الۡخُشُوعُ هُوَ الۡانۡخِفَاضُ وَعَدَمُ التَّرَفُّعِ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَهَٰذِهِ فِيهَا الثَّنَاءُ عَلَى مُؤۡمِنِي أَهۡلِ الۡكِتَابِ الۡمُتَّصِفِينَ بِهَٰذِهِ الصِّفَةِ، فَهُمۡ لَا يَخۡشَعُونَ لِغَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Khusyuk adalah merendah dan tidak merasa tinggi. Khusyuk ini adalah satu jenis dari sekian jenis ibadah. Dalam ayat tersebut, ada sanjungan bagi orang-orang mukmin ahli kitab yang berhias dengan sifat khusyuk ini. Mereka tidak khusyuk kepada selain Allah subhanahu wa taala.

Dalil Rukuk dan Sujud

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].
Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] حَيۡثُ أَمَرَ اللهُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَالرُّكُوعُ هُوَ الۡخُضُوعُ بِالرَّأۡسِ وَالۡانۡحِنَاءُ، وَالسُّجُودُ: وَضۡعُ الۡجَبۡهَةِ عَلَى الۡأَرۡضِ عَلَى وَجۡهِ التَّعۡظِيمِ، هَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَرۡكَعَ لِأَحَدٍ، وَلَا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ، فَإِنۡ رَكَعَ لِغَيۡرِ اللهِ أَوۡ سَجَدَ لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ. 

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan rukuk dan sujud. Rukuk adalah menundukkan kepala dan merunduk. Sujud adalah meletakkan dahi di atas bumi sebagai bentuk pengagungan. Ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh bagi seorang pun untuk rukuk atau sujud kepada orang lain. Jika dia rukuk atau sujud untuk selain Allah, maka dia seorang musyrik.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1458

٤٢ - بَابٌ لَا تُؤۡخَذُ كَرَائِمُ أَمۡوَالِ النَّاسِ فِي الصَّدَقَةِ 
42. Bab tidak boleh diambil harta kaum muslimin yang sangat bernilai untuk zakat 


١٤٥٨ - حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بۡنُ بِسۡطَامٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أُمَيَّةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَيۡفِيٍّ، عَنۡ أَبِي مَعۡبَدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَلَى الۡيَمَنِ، قَالَ: (إِنَّكَ تَقۡدَمُ عَلَى قَوۡمٍ أَهۡلِ كِتَابٍ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ عِبَادَةُ اللهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ قَدۡ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوۡمِهِمۡ وَلَيۡلَتِهِمۡ، فَإِذَا فَعَلُوا، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ زَكَاةً مِنۡ أَمۡوَالِهِمۡ، وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا، فَخُذۡ مِنۡهُمۡ، وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمۡوَالِ النَّاسِ). [طرفه في: ١٣٩٥]. 

1458. Umayyah bin Bistham telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Rauh bin Al-Qasim menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Umayyah, dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shaifi, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Jika mereka sudah mengenali Allah, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu sehari semalam kepada mereka. Jika mereka telah melakukannya, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat dari sebagian harta mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatinya, maka ambillah sebagian harta mereka dan jauhilah dari (mengambil) harta-harta kaum muslimin yang sangat bernilai.”

Dalil Ta`alluh

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣].
Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] إِلٰهُكُمۡ: يَعۡنِي: مَعۡبُودُكُمۡ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ، إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يَسۡتَحِقُّ الۡعِبَادَةَ غَيۡرُهُ ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ﴾ [الحج: ٦٢]. وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ غَيۡرَ اللهِ فَقَدۡ اتَّخَذَهُ إِلٰهًا، لَكِنَّهُ إِلٰهٌ بَاطِلٌ، وَالۡإِلٰهُ الۡحَقُّ هُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَجُوزُ أَنۡ نَتَأَلَّهَ لِغَيۡرِهِ. 

Ilah kalian artinya sembahan kalian yang berhak diibadahi, sembahan yang esa, yaitu Allah subhanahu wa taala. Adapun selain Allah tidak berhak diibadahi. Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu karena Allah Dialah (Ilah) yang Mahabenar. Adapun apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62). Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka dia telah menjadikan yang disembah itu sebagai ilah, namun ilah yang batil. Adapun ilah yang benar adalah Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah subhanahu wa taala, tidak boleh kita menjadikan selain Allah sebagai ilah.

Dalil Raghbah dan Rahbah

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].
Dalil raghbah dan rahbah adalah firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan perasaan harap dan cemas, serta mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] لَمَّا ذَكَرَ اللهُ فِي سُورَةِ الۡأَنۡبِيَاءِ مَوَاقِفَ الۡأَنۡبِيَاءِ فِي الۡعِبَادَةِ وَمَوَاقِفَهُمۡ عِنۡدَ الۡابۡتِلَاءِ وَالۡامۡتِحَانِ، قَالَ: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا﴾ أَيۡ: طَمۡعًا فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، ﴿وَرَهَبًا ۖ﴾ [الأنبياء: ٩٠] أَيۡ: خَوۡفًا مِنۡ عِقَابِهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الرَّغۡبَةَ وَالرَّهۡبَةَ نَوۡعَانِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ إِخۡلَاصُهُمَا لِلهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. قُدِّمَ الۡجَارُّ وَالۡمَجۡرُورُ لِيُفِيدُ الۡحَصۡرَ؛ أَيۡ: لَا نَرۡغَبُ إِلَى غَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Ketika Allah telah menyebutkan di dalam surah Al-Anbiya` tentang pendirian para Nabi dalam ibadah dan pendirian mereka ketika ujian dan cobaan, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam berbagai kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan raghbah,” yakni sangat mengharap apa yang ada di sisi Allah. “Serta rahbah,” (QS. Al-Anbiya`: 90, yakni takut dari hukuman-Nya. Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa raghbah dan rahbah adalah dua jenis di antara sekian jenis ibadah yang wajib mengikhlaskan dua ibadah itu untuk Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku, kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Dikedepankannya jarr dan majrur adalah untuk memberi faedah pembatasan. Maksudnya, kami tidak takut kepada selain Allah subhanahu wa taala. 

وَفِي الۡآيَةِ رَدٌّ عَلَى الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا نَعۡبُدُهُ خَوۡفًا مِنۡ نَارِهِ وَلَا طَمۡعًا فِي جَنَّتِهِ، وَإِنَّمَا نَعۡبُدُهُ لِأَنَّنَا نُحِبُّهُ وَهَٰذَا مُخَالِفٌ لِمَا عَلَيۡهِ الۡأَنۡبِيَاءُ. 

Di dalam ayat ini ada bantahan kepada kelompok Shufiyyah (penganut Sufisme) yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepada Allah karena takut dari neraka-Nya dan mengharap janah-Nya. Kami beribadah kepada Allah hanya karena kami mencintai-Nya.” Ucapan ini menyelisihi pendirian para Nabi.