Shahih Muslim hadits nomor 112

١٧٩ - (١١٢) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ - وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡقَارِيُّ - حَيٌّ مِنَ الۡعَرَبِ - عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ الۡتَقَىٰ هُوَ وَالۡمُشۡرِكُونَ فَاقۡتَتَلُوا، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى عَسۡكَرِهِ، وَمَالَ الۡآخَرُونَ إِلَى عَسۡكَرِهِمۡ، وَفِي أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمۡ شَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضۡرِبُهَا بِسَيۡفِهِ. فَقَالُوا: مَا أَجۡزَأَ مِنَّا الۡيَوۡمَ أَحَدٌ كَمَا أَجۡزَأَ فُلَانٌ ‍، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَا إِنَّهُ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ). 
179. (112). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman Al-Qari menceritakan kepada kami—Al-Qari adalah salah satu desa Arab—dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan pasukan musyrikin, lalu mereka berperang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kembali kepada pasukannya dan yang lain kembali kepada pasukan mereka, ternyata di tengah-tengah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang lelaki yang tidaklah membiarkan ada orang yang keluar dari barisan pasukan musuh kecuali dia menguntitnya dan menebasnya dengan pedang. Para sahabat berkata, “Tidak ada yang sudah mencukupi kita pada hari ini seperti apa yang telah dilakukan si Polan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dia termasuk penduduk neraka.” 
فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: أَنَا صَاحِبُهُ أَبَدًا، قَالَ: فَخَرَجَ مَعَهُ، كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ، وَإِذَا أَسۡرَعَ أَسۡرَعَ مَعَهُ، قَالَ: فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرۡحًا شَدِيدًا، فَاسۡتَعۡجَلَ الۡمَوۡتَ فَوَضَعَ نَصۡلَ سَيۡفِهِ بِالۡأَرۡضِ وَذُبَابَهُ بَيۡنَ ثَدۡيَيۡهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيۡفِهِ فَقَتَلَ نَفۡسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: أَشۡهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: (وَمَا ذَاكَ؟) قَالَ: الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرۡتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، فَأَعۡظَمَ النَّاسُ ذٰلِكَ، فَقُلۡتُ: أَنَا لَكُمۡ بِهِ. فَخَرَجۡتُ فِي طَلَبِهِ حَتَّى جُرِحَ جُرۡحًا شَدِيدًا، فَاسۡتَعۡجَلَ الۡمَوۡتَ، فَوَضَعَ نَصۡلَ سَيۡفِهِ بِالۡأَرۡضِ وَذُبَابَهُ بَيۡنَ ثَدۡيَيۡهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيۡهِ فَقَتَلَ نَفۡسَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، عِنۡدَ ذٰلِكَ: (إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعۡمَلُ عَمَلَ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ فِيمَا يَبۡدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعۡمَلُ عَمَلَ أَهۡلِ النَّارِ فِيمَا يَبۡدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ). 
[البخاري: كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، رقم: ٣٩٦٦]. 
Salah seorang lelaki berkata, “Aku akan terus menyertainya.” Beliau berkata: Orang itu keluar menyertai si Polan tadi. Setiap kali si Polan berhenti, orang itu ikut berhenti bersamanya. Jika si Polan bergerak cepat, orang itu ikut bergerak cepat. Beliau berkata: Si Polan mengalami luka sangat parah, lalu dia menyegerakan kematian. Dia meletakkan bagian tumpul pedangnya di tanah dan bagian tajam pedangnya di antara kedua dadanya, kemudian dia menjatuhkan diri kepadanya sehingga membunuh dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengetahui hal itu, “Sesungguhnya ada seseorang yang terlihat oleh manusia mengamalkan amalan penduduk surga padahal dia termasuk penduduk neraka. Dan sungguh ada seseorang yang terlihat oleh manusia mengamalkan amalan penduduk neraka padahal dia termasuk penduduk surga.”

Shahih Muslim hadits nomor 111

١٧٨ - (١١١) - وَحَدَّثَنَا مُحمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ وَعَبۡدُ بۡنُ حُميۡدٍ، جَمِيعًا عَنۡ عَبۡدِ الرَّزَّاقِ، قَالَ ابۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنِ ابۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: شَهِدۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ حُنَيۡنًا، فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنۡ يُدۡعَى بِالۡإِسۡلَامِ: (هَٰذَا مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ). فَلَمَّا حَضَرۡنَا الۡقِتَالَ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالًا شَدِيدًا فَأَصَابَتۡهُ جِرَاحَةٌ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، الرَّجُلُ الَّذي قُلۡتَ لَهُ آنِفًا: (إِنَّهُ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ)، فَإِنَّهُ قَاتَلَ الۡيَوۡمَ قِتَالًا شَدِيدًا، وَقَدۡ مَاتَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِلَى النَّارِ)! فَكَادَ بَعۡضُ الۡمُسۡلِمِينَ أَنۡ يَرۡتَابَ. فَبَيۡنَمَا هُمۡ عَلَى ذٰلِكَ إِذۡ قِيلَ: إِنَّهُ لَمۡ يَمُتۡ، وَلَٰكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيدًا، فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيۡلِ لَمۡ يَصۡبِرۡ عَلَى الۡجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفۡسَهُ، فَأُخۡبِرَ النَّبِيُّ ﷺ بِذٰلِكَ فَقَالَ: (اللهُ أَكۡبَرُ، أَشۡهَدُ أَنِّي عَبۡدُ اللهِ وَرَسُولُهُ)، ثُمَّ أَمَرَ بِلَالًا فَنَادَى فِي النَّاسِ: (إِنَّهُ لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ إِلَّا نَفۡسٌ مُسۡلِمَةٌ، وَإِنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَٰذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الۡفَاجِرِ). 
[البخاري: كتاب الجهاد، باب إن الله يؤيد الدين بالرجل الفاجر، رقم: ٢٨٩٧]. 
178. (111). Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari ‘Abdurrazzaq. Ibnu Rafi’ berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Ibnu Al-Musayyab, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Kami mengikuti perang Hunain bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata tentang seseorang yang termasuk dinyatakan beragama Islam, “Orang ini termasuk penduduk neraka.” Ketika kami menghadiri peperangan itu, ternyata orang tersebut berperang dengan gigih sehingga mengalami luka. Lalu, ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, lelaki yang tadi engkau katakan bahwa dia termasuk penduduk neraka, ternyata dia berperang sangat gigih pada hari ini dan dia telah meninggal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia ke neraka.” Sebagian kaum muslimin hampir saja ragu. Ketika mereka masih seperti itu, tiba-tiba ada yang berkata, “Sesungguhnya dia belum meninggal, akan tetapi dia mengalami luka parah.” Lalu malamnya, dia tidak sabar terhadap lukanya sehingga membunuh dirinya. Hal itu dikabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau memerintahkan Bilal agar menyeru kepada orang-orang, “Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri dan sesungguhnya Allah terkadang menguatkan agama ini dengan seseorang yang bermaksiat.”

Fenomena Ibadatul-Autsaan

Ibadah bila dilihat dari sisi lughowi mempunyai arti ketundukan dan kerendahan, sedangkan menurut makna istilahi ibadah adalah sebutan yang menyeluruh untuk setiap apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya dari ucapan-ucapan dan amalan-amalan lahir maupun batin. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Majmu'ul Fatawa: 10/149)

Adapun al-autsaan diambil dari asal kata al-watsan, yaitu sebuah nama yang digunakan untuk menyebutkan semua jenis peribadahan, seperti do'a, istighotsah yakni minta kelapangan dari segala kesempitan hidup, kondisi yang tidak menentu, kekacauan, ketakutan dan yang lainnya, kemudian isti'anah yakni meminta pertolongan dalam mendatangkan segala kemaslahatan dan menolak berbagai macam mudharat, lalu at-tabarruk, yakni dengan istilah orang sekarang: ngalap berkah dan lain-lainnya dari jenis ibadah yang diperuntukkan kepada selain Allah, seperti kuburan yang dianggap keramat, batu ajaib, paranormal, khodam setia atau rijalul ghoib (jin muslim atau kafir) dan seterusnya.

Sebagian orang barangkali beranggapan kalau watsan atau autsaan adalah patung dan berhala, sehingga praktek ibadatul autsaan hanyalah ditujukan bagi mereka-mereka penyembah patung atau berhala. Cara pandang model ini jelas keliru, sebab Allah telah berfirman dalam Al Qur`an mengenai perkataan Ibrahim kepada kaumnya,
إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَـٰنًا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًا
"Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah autsaan, dan kamu membuat dusta." (QS Al Ankabuut: 17).
Allah juga berfirman,
قَالُوا۟ نَعۡبُدُ أَصۡنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَـٰكِفِينَ
"Mereka menjawab: Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya." (QS Asy Syu'araa: 71).
قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ
"Ibrahim berkata: Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?" (QS Ash Shaffaat: 95).
Maka, diketahuilah dari sini bahwa watsan atau autsaan digunakan untuk menyebutkan patung-patung dan selainnya yang diibadahi di samping Allah. (Fathul Majid: 292, cet. Al Bayaan)

Karena itu, siapapun orangnya yang berdo'a dan meminta pertolongan dalam mengatasi problema hidup kepada selain Allah -dalam perkara yang tidak dimampui oleh seorang pun dari makhluk dan menjadi kekhususan kekuasaan Allah-, maka dia telah terjerumus dalam praktek ibadatul-autsaan.

Di tengah-tengah sulitnya mencari penghidupan, ekonomi yang morat-marit, status sosial selalu menjadi ukuran, gaya hidup yang bonafid jadi idaman, memiliki pasangan hidup yang asli (anti selingkuh) jadi impian. Ketika kelezatan dunia menjadi target utama, maka orang-orang yang lemah keimanannya dan lemah pendiriannya mulai goyah terseok-seok ke sana ke mari ingin segera meraih kemudahan dan kelezatan dunia yang sebetulnya tak lebih dari sekedar fatamorgana.

Namanya juga memanfaatkan situasi dan kondisi sekaligus nyari rezeki. Paranormal, orang-orang pintar dan ustadz bin kiyai gadungan yang juga serba kesusahan segera bereaksi, seolah kehadiran mereka sebagai satu-satunya jalan keluar meski harus melakukan praktek syirik dan mengajak orang berbuat musyrik.

Mereka membuka layanan praktek ibadatul-autsaan 1x24 jam dengan kata-kata dan janji-janji manis sebagai daya tarik laris. Praktek yang dibukanya biasanya berkisar seputar: berhubungan dengan rijalul ghoib (jin muslim atau kafir), tarik rejeki, penglaris usaha, penolak bala, jauhkan perselingkuhan, tampil cantik dan menarik, datangkan aura pesona, perjodohan dan banyak lagi yang lainnya.

Media elektronik baik yang dibaca, didengar ataupun dilihat ikut berperan meramaikan suasana, sayangnya keberadaan media elektronik itu hanya sekedar alat untuk menjembatani wali-wali syaithon dalam menyebarkan propaganda praktek ibadatul-autsaan. Wa ilallahil musytaka...

Mendapati kenyataan yang demikian ini, akan bertambahlah keimanan dan keyakinan serta kehati-hatian dalam mengarungi kehidupan dan mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam keseharian bagi siapa yang membaca sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Akan ada di antara kalian yang mengikuti tata cara beragama orang-orang sebelum kalian, sampai-sampai kalau mereka masuk lubang biawak kalian pun turut memasukinya." Para sahabat bertanya, "Apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?" Rasulullah menjawab, "Siapa lagi jika bukan mereka?!" (HR Bukhari Muslim)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini bahwa apa yang pernah dilakukan oleh orang Yahudi dan Nashrani akan kembali dilakukan oleh ummat ini, satu peringatan agar kita selaku ummatnya selalu mawas diri jangan sampai terperangkap ke dalam praktek ibadah mereka. Tak salah bila kemudian Imam Sufyan ibnu Uyainah memvonis siapa saja yang berilmu namun rusak ada kemiripan dengan Yahudi dan ahli ibadah namun rusak ada kemiripan dengan Nashrani.

Ibadatul-autsaan bila ditelusuri dari awal historinya, jelas bukan bermula dari ummat ini, ia hanyalah warisan dari ummat-ummat yang menyimpang seperti disinggung dalam hadits di atas, ironinya justru umat ini yang malah gemar dan semarak mempraktekkan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah bahwa Huyay bin Ahthab dan Ka'ab ibnul Asyrof datang ke Mekkah, maka berkumpullah orang-orang musyrikin di sekitarnya dan berkata, "Kalian (berdua) ahli kitab dan ahli ilmu, kabarkan kepada kami tentang kami dan Muhammad." Huyay dan Ka'ab bertanya, "Apa bedanya kalian dan Muhammad?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang yang menyambung hubungan silaturrahim, menyediakan makanan dan minuman (bagi yang membutuhkan), menghilangkan kesusahan dan memberi minum para jama'ah haji. Sedangkan Muhammad adalah orang yang pelit dan selalu memutuskan silaturrahim, siapa yang paling baik, kami ataukah dia?" Ka'ab dan Huyay menjawab, "Kalian yang paling baik dan benar jalannya." Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala,
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ نَصِيبًا مِّنَ ٱلۡكِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ سَبِيلًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (yaitu syaithon dan semua yang diibadahi selain Allah) dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa merekalah yang lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman." (QS An Nisaa: 51)

Di dalam ayat ini Allah beritakan ihwal orang-orang sebelum kita yang diberikan kepadanya sebahagian Al Kitab (yakni Taurat dan Injil) di mana mereka percaya kepada jibt dan thaghut alias syetan dan semua yang diibadahi selain Allah dan inilah sesungguhnya praktek ibadatul-autsaan yang menjadi bagian dari agamanya mereka, ini pulalah fakta yang menggambarkan kalau ibadatul-autsaan bukan bagian dari agama kita dan bukan pula bagian dari praktek ibadah kita.

Pada ayat lainnya Allah menceritakan kebinasaan dan hukuman bagi orang-orang Yahudi karena mereka melakukan praktek ibadatul-autsaan. Allah berfirman,
قُلۡ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَ‌ٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ وَعَبَدَ ٱلطَّـٰغُوتَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ
"Katakanlah: Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." (QS Al Maidah: 60).
Allah juga berfirman,
وَلَقَدۡ عَلِمۡتُمُ ٱلَّذِينَ ٱعۡتَدَوۡا۟ مِنكُمۡ فِى ٱلسَّبۡتِ فَقُلۡنَا لَهُمۡ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔينَ
"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina." (QS Al Baqarah: 65)
Ayat inipun menjadi bukti bahwa ibadatul-autsaan adalah model ibadahnya Yahudi.

Bila kita menengok kembali sejarahnya para ashabul kahfi, sungguh sangat menakjubkan, seperti firman Allah,
أَمۡ حَسِبۡتَ أَنَّ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡكَهۡفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنۡ ءَايَـٰتِنَا عَجَبًا
"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?" (QS Al Kahfi: 9).
Namun demikian ternyata praktek ibadatul-autsaan telah terjadi saat itu jauh sebelum kita, yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin, para penguasa di zaman tersebut.

Ashabul kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah yang berada di dalam negeri syirik, mereka keluar dari negeri itu guna menyelamatkan aqidah lalu Allah mudahkan untuk mereka hingga menjumpai sebuah gua, mereka pun masuk ke dalamnya dan tertidur di dalamnya sampai waktu yang sangat panjang sekira tiga ratus sembilan tahun, seperti firman Allah,
وَلَبِثُوا۟ فِى كَهۡفِهِمۡ ثَلَـٰثَ مِا۟ئَةٍ سِنِينَ وَٱزۡدَادُوا۟ تِسۡعًا
"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)." (QS Al Kahfi: 25).

Mereka tertidur tidak membutuhkan makan dan minum, Allah bolak-balikkan tubuh mereka sehingga tidaklah membeku darah pada salah satu bagian tubuhnya. Ini semua termasuk hikmah Allah. Allah berfirman,
وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظًا وَهُمۡ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِ
"Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri." (QS Al Kahfi: 18). (Al Qoulul Mufid: 478, cet. Ibnul Haitsam -Qohiroh-).

Pendeknya, ketika para ashabul kahfi itu terbangun dan diketahui keberadaannya oleh penduduk negeri, hingga mereka (para ashabul kahfi) meninggal dunia, maka para penguasa di waktu itu berkeinginan untuk membangunkan masjid di atas kuburan-kuburannya. Dan inilah praktek ibadatul-autsaan. Allah berfirman,
قَالَ ٱلَّذِينَ غَلَبُوا۟ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِمۡ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيۡهِم مَّسۡجِدًا
"Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." (QS Al Kahfi: 21).

Para pembaca, semua kisah dan berita di dalam Al Qur`an ataupun As Sunnah yang memuat kejelekan suatu perbuatan, siksaan, kebinasaan, musibah, dan kehancuran yang telah menimpa orang-orang dan umat sebelum kita, bukanlah sebatas kisah dan cerita tanpa makna, bukanlah dongeng yang hanya diperdengarkan setiap pagi dan petang hari, bukan pula senandung penghantar tidur atau nina bobo. Tetapi semua itu adalah pelajaran yang berharga sehingga kita dapat memahami arti hidup ini.

Anda, kami, dan semua dibimbing dan dituntut untuk meyakini firman Allah subhanahu wa ta'ala,
لَقَدۡ كَانَ فِى قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفۡتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِى بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَىۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS Yusuf: 111).

Kehancuran, siksa, kebinasaan, dan keguncangan serta berbagai macam malapetaka yang telah melibas orang-orang dulu, umat sebelum kita disebabkan karena ulah perbuatannya yang menyimpang dan di luar kehendak Allah, akan kembali dirasakan dan terulang jalan ceritanya berikut episodenya pada umat ini, pada kita jika kita melakukan tindakan-tindakan yang sama seperti mereka.

Bila orang-orang sebelum kita mereka disiksa dan dibinasakan karena melakukan praktek ibadatul-autsaan, maka kita pun akan mengalami nasib yang sama jika melakukan hal yang sama.

Mengapakah kita rela menjual aqidah-aqidah kita yang teramat berharga dengan kelezatan yang usianya hanya sesaat, sehingga kita lebih memilih untuk mengabi kepada al-andaad, al-aalihah, dan al-autsaan daripada mengabdi kepada Allah, Al Ahad laa syariikalah. Benarlah apa yang dikatakan Imam Sufyan Ats-Tsauri, "Tidak ada kebaikan dalam kelezatan yang ujungnya neraka."

Bukankah kita tahu bahwa Allah lah yang telah berfirman,
وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَو‌ٰةِ وَٱلۡعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥ ۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَو‌ٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS Al Kahfi: 28).

Anda, kami, dan kita semua sama-sama meyakini bahwa tidaklah Allah menciptakan kita melainkan telah disiapkan rizkinya, maka raihlah rizki itu dengan cara yang diridhoiNya, hadapilah kesulitan-kesulitan yang ada. Mengapakah kita lemah?! Kesulitan adalah sebuah tantangan guna mengukur daya keyakinan kita kepada Rabbul Izzah. Di balik kesulitan ada kemudahan!!

Duhai bahagia rasanya... lega dan puas, tatkala kita bisa memasuki dan menempati sebuah rumah yang terbuat dari bambu namun pintunya dari besi, cobalah! Semoga Allah menolong kami dan kalian.

Wal ilmu indallah.

Ditulis oleh Abu Hamzah Al-Atsary.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-19 Tahun ke-3 / 08 April 2005 M / 29 Shafar 1426 H.

Mampukah Kita Bersyukur?

Di antara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: "Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah" dan ucapan yang sejenisnya.

Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan.

Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata?

Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan.

Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Di mana syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu: pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua: membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga: meminta bantuan dengan nikmat tersebut di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah).

Maka kesimpulannya, syukur itu berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Adapun tugasnya hati adalah pertama: mengakui nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah bukan dari yang lainnya walaupun sebabnya bisa jadi melalui teman, jual beli atau yang lainnya akan tetapi semuanya itu hanyalah sebab atau perantara dalam mendapatkan nikmat akan tetapi pada hahikatnya yang memberinya hanyalah Allah semata; dan kedua: mencintai Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut demikian juga mencintai nikmat tersebut.

Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta'ala) dan menahan nikmat tersebut jangan sampai digunakan untuk kemaksiatan kepada-Nya.

Dan sungguh Allah telah menggandengkan syukur dengan iman dan mengkhabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengadzab makhluk-Nya apabila mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
"Allah tidak akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisaa`:147)

Allah juga mengkhabarkan bahwasanya orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang khusus diberikan anugerah di antara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
وَكَذٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَآءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (Al-An'aam:53)

Dan Allah membagi manusia bahwasanya di antara mereka ada orang-orang yang bersyukur dan ada pula yang kufur, maka sesuatu yang paling dibenci oleh Allah adalah kekufuran dan pelakunya dan sebaliknya sesuatu yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa syukur dan pelakunya. Allah berfirman:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (Al-Insaan:3)

Dan Dia juga berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian memaklumkan: "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya 'adzab-Ku sangat pedih." (Ibraahiim:7)

Di dalam ayat tersebut Allah Ta'ala mengaitkan tambahan nikmat dengan syukur, sementara tambahan nikmat dari-Nya tiada akhir/batasnya sebagaimana tidak ada batasnya untuk mensyukuri-Nya, dan Allah menerangkan bahwasanya kebanyakan balasan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya itu tergantung kehendak-Nya, seperti firman-Nya:
وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ
"Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki." (At-Taubah:28)

Dia juga berfirman tentang masalah ampunan:
وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ
"Dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (Al-Maa`idah:40)

Dan Dia berfirman tentang masalah taubat:
وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ
"Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya." (At-Taubah:15)

Allah memutlakkan balasan syukur dengan semutlak-mutlaknya ketika menyebutnya seperti firman-Nya:
وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
"Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Aali 'Imraan:145)

Dan ketika musuh Allah, Iblis, mengetahui betapa tingginya kedudukan syukur, dan bahwasanya syukur itu termasuk dari seagung-agung kedudukan dan yang paling tingginya, maka dia (Iblis) menjadikan tujuan (utamanya) adalah berusaha memutuskan manusia dari syukur, lalu dia berkata:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
"Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)." (Al-A'raaf:17)

Allah telah mensifati orang-orang yang bersyukur bahwasanya mereka adalah orang-orang yang sedikit di antara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (berterima kasih)." (Saba`:13)

Dan telah tetap di dalam Ash-Shahiihain dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Bahwasanya beliau berdiri shalat malam sampai kedua telapak kakinya bengkak-bengkak, maka dikatakan kepada beliau: Mengapa engkau melakukan ini dalam keadaan Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu yang dahulu maupun yang akan datang? Maka beliau menjawab: "Apakah aku tidak boleh untuk menjadi orang yang bersyukur?"

Dan telah tetap di dalam Musnad Al-Imam Ahmad bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Mu'adz: Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu, maka janganlah kamu lupa untuk mengatakan setelah selesai dari setiap shalat fardhu:
اللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."

Syukur itu pengikat kenikmatan dan sebab bertambahnya nikmat, sebagaimana diucapkan oleh 'Umar bin 'Abdul 'Aziz:
"Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan syukur kepada-Nya."

Dan Ibnu Abid Dunya telah menyebutkan dari 'Ali bin Abi Thalib bahwasanya dia berkata kepada seorang laki-laki dari daerah Hamdzaan: "Sesungguhnya nikmat itu disambung dengan syukur sedangkan syukur itu sendiri berkaitan dengan bertambahnya nikmat, dan keduanya bergandengan pada suatu masa, maka tidak akan terputus tambahan nikmat dari Allah sampai terputusnya rasa syukur dari seorang hamba."

Berkata Al-Hasan: Perbanyaklah menyebut nikmat-nikmat ini, karena sesungguhnya menyebutnya merupakan rasa syukur, dan sungguh Allah telah memerintahkan Nabi-Nya agar menceritakan nikmat Rabbnya. Allah berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
"Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuhaa:11)

Dan Allah senang apabila ditampakkan pengaruh nikmat-Nya kepada hamba-Nya, karena sesungguhnya hal ini merupakan syukur di segala keadaan.

Adalah Abul Mughirah apabila dikatakan kepadanya: Bagaimana engkau berada di pagi hari ya Abu Muhammad? Dia berkata: Kami berada di pagi hari dalam keadaan tenggelam dengan kenikmatan-kenikmatan, tetapi lemah untuk bersyukur, Rabb kami telah memperlihatkan cinta-Nya kepada kami sementara Dia tidak butuh kepada kami dan kami seakan-akan menampakkan kebencian kepada-Nya (dengan sering terjatuh kepada maksiat dan sedikit bersyukur) sementara kami butuh kepada-Nya."

Berkata Syuraih: "Tidaklah seorang hamba ditimpa dengan suatu musibah kecuali Allah memberikan kepadanya tiga kenikmatan: musibah itu tidak berkaitan dengan agamanya; musibah itu tidak lebih besar daripada apa yang telah ada; dan bahwasanya musibah itu mesti terjadi maka sungguh telah terjadi (sebagai ujian baginya)."

Dan berkata Yunus bin 'Ubaid: Seseorang berkata kepada Abu Ghanimah: "Bagaimana keadaanmu di pagi hari? Dia berkata: "Aku berada di pagi hari di antara dua nikmat yang aku tidak tahu mana dari keduanya yang lebih utama: dosa-dosa yang ada padaku telah Allah tutupi maka tidak ada seorangpun yang mampu mencelaku; dan rasa cinta yang Allah berikan kepada hati-hati para hamba yang amalku sendiri tidak bisa mencapainya."

Sufyan menerangkan ayat:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
"Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui." (Al-Qalam:44)

"Mereka diberikan berbagai nikmat tetapi mereka terhalang dari bersyukur." Dan berkata yang lainnya: "Setiap kali mereka terjatuh ke dalam perbuatan dosa maka beritahukan akan nikmat (yang telah Allah berikan kepada mereka)."

Berkata seseorang kepada Abu Hazim: "Bagaimana bentuk syukurnya kedua mata ya Abu Hazim?" Maka dia menjawab: "Jika engkau melihat kebaikan, engkau mengumumkannya (memberitahukan kepada yang lainnya) dan sebaliknya jika engkau melihat kejelekan, engkau menyembunyikannya." Laki-laki tadi bertanya lagi: "Bagaimana syukurnya kedua telinga?" Beliau menjawab: "Jika engkau mendengar kebaikan maka engkau menjaganya dan jika engkau mendengar kejelekan, engkau menolaknya." Dia bertanya lagi: "Bagaimana syukurnya kedua tangan?" Beliau menjawab: "Janganlah engkau mengambil apa-apa yang bukan milik keduanya dan janganlah engkau tahan hak untuk Allah apa yang ada pada keduanya." Dia bertanya lagi: "Bagaimana syukurnya perut?" Beliau menjawab: "Jadikanlah makanan di bawahnya dan ilmu di atasnya." Dia bertanya lagi: "Bagaimana syukurnya kemaluan?" Beliau menjawab dengan membacakan ayat:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۝٥ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝٦ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝٧
"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (Al-Mukminuun:5-7)
Dia bertanya lagi: "Bagaimana syukurnya kedua kaki?" Beliau menjawab: "Jika engkau mengetahui suatu mayat yang engkau iri kepadanya (karena ketika hidupnya melakukan ketaatan kepada Allah), maka pergunakan keduanya sebagaimana dia amalkan.

Jika engkau tidak bersyukur dengan seluruh anggota badanmu, maka permisalannya adalah seperti seseorang yang mempunyai pakaian lalu dia mengambil ujungnya dan tidak memakainya, maka pakaian tersebut tidak memberikan manfaat kepadanya untuk menghindari panas, dingin, salju dan hujan."

Dan sebagian 'ulama telah menulis surat kepada salah seorang saudaranya: "Ammaa ba'd, sungguh kami telah berada di pagi hari dengan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak dapat dihitung bersamaan banyaknya maksiat yang telah kami lakukan, maka kami tidak tahu mana di antara keduanya yang kami bisa bersyukur, apakah keindahan (yaitu kebaikan-kebaikan) yang telah dimudahkan bagi kita ataukah kejelekan-kejekan yang telah ditutupi?!"

Subhaanallah, seorang muslim tidak boleh sekejap pun untuk melupakan syukur kepada Allah. Mengapa? Tidakkah kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dalam keadaan kita sering terjatuh kepada kemaksiatan akan tetapi Allah tutupi aib-aib kita.

Untuk itu bersegeralah kembali dan taubat kepada-Nya serta kita minta kepada-Nya agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang pandai bersyukur. Wallaahul Muwaffiq.

Disadur dari Tazkiyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid dengan beberapa perubahan.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-9 Tahun ke-3 / 28 Januari 2005 M / 17 Dzul Hijjah 1425 H.

Semua Makhluk Ditanggung Rizkinya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا 
"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi di awal siang (pagi hari) dalam keadaan perut kosong (lapar) dan pulang di akhir siang (sore hari) dalam keadaan perut penuh berisi (kenyang)." (HR. Ahmad no.205, At-Tirmidziy no.2344 dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, lihat Ash-Shahiihah no.310) 

Sabda beliau: "dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada-Nya" artinya bertawakkal secara hakiki yaitu kalian bersandar kepada Allah dengan penyandaran yang sempurna dalam mencari rizki kalian dan dalam hal lainnya. 

Dan sabdanya: "niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung" menunjukkan bahwa rizki burung telah ditanggung oleh Allah, karena burung tersebut adalah binatang yang terbang bebas, tidak ada yang memilikinya. Lalu dia keluar dari sarangnya, terbang di udara dan mencari rizki Allah. 

Burung tersebut keluar dalam keadaan tidak ada sesuatu pun di perutnya, akan tetapi dia bertawakkal kepada Rabbnya 'Azza wa Jalla. Kemudian dia kembali ke sarangnya dalam keadaan perut penuh berisi dari rizki Allah. 

Di dalam hadits ini terdapat dalil atas beberapa masalah: 

Pertama: Bahwasanya selayaknya bagi manusia untuk bersandar kepada Allah dengan sebenar-benarnya penyandaran. 

Kedua: Bahwasanya tidak ada satu makhluk pun di bumi kecuali rizkinya telah Allah jamin sampai pun burung yang terbang di udara, yang tidak ada yang menahannya di udara kecuali Allah dan tidak ada yang memberinya rizki kecuali Allah. 

Semua binatang melata di bumi dari yang terkecilnya seperti semut yang kecil sampai yang terbesarnya seperti gajah dan yang sejenisnya, semuanya telah Allah tanggung rizkinya. Allah berfirman: 
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 
"Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Huud:6) 

Dan sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata orang yang berprasangka buruk terhadap Rabbnya, lalu mengatakan: "Janganlah kalian memperbanyak anak, niscaya akan sempit rizki kalian!" 

Demi Rabbnya 'Arsy, mereka dusta. Apabila mereka memperbanyak anak maka Allah akan memperbanyak rizki mereka. Karena sesungguhnya tidak ada satu makhluk pun di bumi kecuali Allahlah yang menanggung rizkinya. 

Rizki anak-anakmu dan bayi-bayimu, Allahlah yang menanggungnya. Dialah yang membukakan untukmu pintu-pintu rizki lantaran kamu menafkahi mereka. Akan tetapi kebanyakan manusia, mereka berprasangka buruk kepada Allah dan hanya bersandar kepada perkara-perkara yang sifatnya kebendaan yang dilihat oleh mata dan mereka tidak melihat kepada kekuasaan Allah, bahwasanya Dialah yang memberikan rizki walaupun banyak anaknya. 

"Perbanyaklah anak maka akan banyak rizkimu!" Ini adalah perkataan yang benar. 

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya manusia apabila bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka hendaklah dia melakukan sebab-sebabnya. Dan sungguh telah sesat orang yang berkata: "Saya tidak akan melakukan sebab dan saya bertawakkal kepada Allah." Ini tidak benar. 

Orang yang bertawakkal adalah orang yang melakukan sebab-sebab dalam keadaan bersandar kepada Allah, dan karena inilah beliau bersabda: "sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi dalam keadaan lapar" burung tersebut pergi untuk mencari rizki, tidak diam di sarangnya, akan tetapi pergi dan mencari rizki. 

Apabila kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkkal maka kamu harus melakukan sebab-sebab yang telah Allah syari'atkan untukmu dari mencari rizki dengan cara yang halal seperti bertani, dagang dan lain-lainnya dari sebab-sebab mencari rizki. 

Di antara faedah hadits ini: bahwasanya burung-burung dan yang lainnya dari makhluk-makhluk Allah, itu semuanya mengenal Allah, sebagaimana Allah berfirman: 
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ 
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka." (Al-Israa`:44) 

Maka burung-burung mengenal Penciptanya dan mereka terbang mencari rizki dengan fithrah yang Allah berikan kepada mereka yang dengan fithrah tersebut mereka mendapat petunjuk menuju apa-apa yang bermanfaat bagi mereka. Di akhir siang mereka kembali ke sarang-sarangnya dalam keadaan perut kenyang dan demikianlah keadaan mereka setiap hari dan Allahlah yang memberi rizki kepada mereka dan yang memudahkan rizki bagi mereka. 

Lihatlah kepada hikmahnya Allah, bagaimana burung tersebut keluar menuju tempat-tempat yang jauh dan kembali ke sarangnya dalam keadaan tidak salah jalan. Karena sesungguhnya Allah memberikan segala sesuatu penciptaannya kemudian menunjukinya. Wallaahul Muwaffiq

Diringkas dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/293-294.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-7 Tahun ke-3 / 07 Januari 2005 M / 26 Dzul Qo'dah 1425 H.