Sunan Abu Dawud hadits nomor 1479

٣٥٨ – بَابُ الدُّعَاءِ

358. Bab doa

١٤٧٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ، نا شُعۡبَةُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ ذَرٍّ، عَنۡ يُسَيۡعٍ الۡحَضۡرَمِيِّ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ، [﴿وَ]قَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُونِي أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ﴾).
1479. Hafsh bin 'Umar telah menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Dzarr, dari Yusai' Al-Hadhrami, dari An-Nu'man bin Basyir, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Doa adalah ibadah. Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.”

Tawasul (Menjadikan Perantara dalam Ibadah) antara Sunnah, Bid'ah, dan Syirik

Do'a adalah seutama-utamanya pendekatan diri yang menghubungkan seorang hamba dengan Penciptanya. Telah shahih hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda "Doa adalah ibadah" (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al Albany dalam Shahih Sunnan Abu Dawud) hal ini disebabkan karena pada diri orang yang berdoa terkumpul sifat kehinaan, ketundukan dan kebergantungan kepada Dzat yang di Tangan-Nya lah perbendaharaan segala sesuatu.

Dengan do'a yang kedudukannya seperti ini, Allah Azza Wajalla memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa di setiap keadaan. Allah ta'ala berfirman,
ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (Al A'raf:55).
Kemudian Allah menjelaskan kepada mereka bahwa di antara sarana-sarana diharapkan doa tersebut diterima adalah berdo'a dengan nama-nama dan sifat Allah, sebagaimana Allah katakan:
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَـٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al A'raf : 180)

Maka disyariatkan bagi orang yang berdo'a untuk memulai do'anya dengan bertawasul (menjadikan perantara) dengan menyebut nama Allah dan sifat-Nya yang berkaitan dengan doa tersebut. Apabila seorang muslim menginginkan kasih sayang dan ampunan Allah maka dia berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim, Al Ghafur, Al Karim. Apabila dia menginginkan rizki, maka dia berdoa kepada Rabbnya dengan nama Ar Razzaq (Maha Pemberi Rizki), Al Mu'thi (Maha Pemberi), Al Jawwad (Maha Penderma), demikianlah seorang yang berdoa hendaklah dia berdoa dengan perantaraan nama-nama yang sesuai dengan hal yang dia inginkan, karena hal ini menjadi sebab diterimanya doa.

Tawasul Yang Disyariatkan (Sunnah)


Tawasul dalam berdoa ada beberapa macam, di antaranya ada tawasul yang disyariatkan, ada pula tawasul yang terlarang. Di antara tawasul yang yang disyariatkan adalah tawasul dengan amalan shaleh yang telah dilakukan oleh seorang hamba. Allah ta'ala berfirman:
رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَـٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran :193). 

Maka perhatikanlah bagaimana mereka bertawasul dengan keimanan terhadap Rabbnya Jalla Wa'ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisahkan kepada kita kisah tiga orang yang sedang berjalan, kemudian turunlah hujan lebat, sehingga mereka mencari tempat perlindungan di sebuah gua di bukit yang mereka daki, namun mereka terperangkap di depan pintu gua yang sangat kokoh sehingga mereka tidak bisa keluar darinya, merekapun berusaha untuk menyingkirkan batu tersebut akan tetapi mereka tidak mampu, akhirnya merekapun sepakat untuk berdoa kepada Allah Azza Wajalla dengan sebaik-baik amalan shaleh yang telah mereka kerjakan. Maka salah seorang di antara mereka bertawasul dengan perbuatan baktinya kepada orang tuanya, yang lain bertawasul dengan baiknya pengawasan dan penggunaan harta majikannya, dan yang lain dengan meninggalkan zina setelah zina itu memungkinkan baginya. Ketika salah seorang dari mereka berdoa maka tersingkirkanlah sedikit dari batu karang itu, akan tetapi mereka tetap tidak bisa keluar darinya, sampai lengkaplah ketiganya berdo'a yang akhirnya tersingkirlah batu karang tersebut dari depan pintu sehingga mereka bisa keluar darinya dengan leluasa. Maka disyariatkan bagi seorang muslim jika dia hendak berdo'a kepada Allah Azza Wajalla untuk bertawasul dengan amalan shaleh yang dia harapkan amalan itu ikhlas untuk Allah.

Di antara tawasul yang disyariatkan adalah memohon doa dari orang-orang shaleh yang masih hidup, hal ini karena seorang hamba berbeda-beda dalam kebaikannya, kedekatannya dan kedudukannya di sisi Allah. Oleh karena itu para sahabat begitu bersemangat meminta do'a kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan harapan diterima dan dikabulkan do'anya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: "Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Masuk ke dalam sorga dari umatku sekelompok orang yaitu 70 ribu orang, wajah-wajah mereka bercahaya layaknya bulan purnama", berdirilah Ukasyah bin Mihshon berkata "Do'akanlah aku wahai Rasulullah agar aku termasuk di antara mereka", beliau bersabda "Ya Allah jadikanlah dia diantara mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Di antara tawasul yang disyariatkan adalah menyebutkan kelemahan dan sangat butuhnya orang yang berdoa kepada Allah. Seperti mengatakan "Ya Allah sesungguhnya aku sangat butuh kepada-Mu, aku adalah tawanan-Mu, sanagat mengharapkan ampunan-Mu, pengharapanku dari-Mu terhadap rahmat dari sisi-Mu". Adapun dalil bahwa contoh semacam ini adalah termasuk tawasul yang disyariatkan adalah doa Dzakaria 'alaihis salam
قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَ‌ٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا
"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra." (Maryam:4-5).
Dan di antaranya juga perkataan Musa 'alaihis salam,
رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (Al-Qashash:24)

Maka ini adalah sebagian dari macam-macam tawasul yang disyariatkan yang semestinya seorang muslim untuk bersemangat kepadanya, dan membuka do'a dengannya sebagai wujud permintaan kepada Allah untuk ditunaikan hajatnya.

Tawasul Bid'ah dan Syirik


Kemudian ada beberapa macam tawasul yang dilakukan oleh sebagian manusia, di antaranya ada yang mencapai batas bid'ah dan syirik dengan anggapan bahwa yang mereka perbuat adalah perbuatan taqarub kepada Allah. Sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa perbuatan taqarub kepada-Nya hanyalah dengan sesuatu yang disyari'atkan bukan dengan hawa nafsu dan kebid'ahan.

Di antara macam tawasul yang bid'ah adalah meminta do'a dari orang yang telah mati, seperti datang kepada mayit yang dikubur padahal dia sendiri tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun madharat terhadap dirinya sendiri, kemudian orang tersebut minta darinya agar dia mendo'akan kepada Allah baginya dalam suatu perkara seperti kesembuhan dari sakitnya. Dalil tentang bid'ahnya tawasul ini adalah tertolaknya dalil yang membolehkannya, padahal ibadah hanyalah diperbuat dengan ittiba (mengikuti dalil) bukan dengan ibtida' (membuat bid'ah). Hal lain yang menunjukan bid'ahnya tawasul ini adalah para shahabat yang mereka itu sangat banyak ilmunya dan paling keras dalam mengambil contoh terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka sedikitpun tidak pernah mengamalkan amalan ini. Kalau seandainya amalan ini baik niscaya mereka lebih dulu dalam mengamalkannya, sampai Umar radhiyallahu anhu ketika terjadi masa kekeringan di Madinah, beliau mendatangi Abbas paman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar dia mendoa'kan kepada Allah agar menurunkan hujan, tidaklah Umar meminta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di kuburannya karena Umar tahu tentang terlarangnya hal tersebut.

Adapun yang termasuk tawasul yang diada-adakan manusia dan ini termasuk kategori syirik adalah meminta kepada orang mati untuk dihilangkannya kesempitan dan dipenuhi segala kebutuhannya. Siapa saja mayit itu baik seorang yang shaleh, nabi ataupun para rasul. Hal ini karena doa adalah ibadah dan ibadah itu tidak boleh diperuntukkan kecuali untuk Allah ta'ala. Maka berdoa kepada selain Allah adalah syirik dan menghinakan. Allah berfirman, 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Ghafir:60).

Kemudian Allah pun memerintahkan agar do'a itu hanya bagi-Nya dan mengkaitkan jawaban atas doa itu dengan keikhlasan kepada-Nya,
لَهُۥ دَعْوَةُ ٱلْحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىْءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلْكَـٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ
"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." (Ar-Ra'd: 14)
Dan juga firman-Nya:
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang lalim." (Yunus: 106)

Maka ini adalah macam-macam tawasul dalam do'a dan hukum-hukumnya, semestinya bagi setiap muslim untuk lebih bersemangat terhadap perkara yang disyariatkan, dan bersungguh-sungguh dalam berdo'a kepada Allah dalam segala keadaan, sampai Allah tahu jujurnya kefaqiran dia terhadap-Nya sehingga Allah mengabulkan do'anya dan menolongnya. Dan bagi setiap muslim juga wajib untuk menjauhkan diri dari tawasul yang bid'ah, dan supaya menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari tawasul yang syirik, karena hal itu sangat berbahaya terhadap agama dan aqidah seorang muslim. Kami minta kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang yang mendengar ucapan ini kemdian mengikuti yang terbaik darinya. Sesungguhnya segala puji hanya untuk Allah.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-21 Tahun ke-1 / 09 Mei 2003 M / 07 Rabi'ul Awwal 1424 H.

Sumpah Iblis Untuk Menggoda Bani Adam

Oleh : Al-Ustadz Qomar Suaidi 

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَ‌ٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ۝١٦ ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـٰكِرِينَ
"Iblis menjawab : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (Al-A'raf : 16-17)

Di dalam ayat ini Allah Ta'ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi. 

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighotsatul Lahfan menjelaskan : "Jalan yang dilalui oleh insan ada empat, (tidak lebih) ia terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya".

Syahqiq pernah berkata : "Tiada suatu pagi pun melanikan syaithan telah duduk mengintaiku dari empat penjuru dari depan dan belakangku serta dari arah kanan dan kiriku. Iapun berkata : "Jangan engkau takut karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang maka aku membaca :
وَإِنِّى لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا ثُمَّ ٱهْتَدَىٰ
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar." (Thaha: 82)

Adapun dari arah belakangku maka ia menakut-nakuti akan menelantarkan keluarga yang akan aku tinggalkan. Maka aku membaca :
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."(Hud : 6)

Dari arah kanan ia mendatangiku dari sisi perempuan, maka aku baca : "….Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".

Dari arah kiri ia mendatangiku dari sisi syahwat, maka aku membaca :
وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ
"Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan…."(Saba' : 54)
(Lihat Mawaridul Aman 173-174)

Inilah ambisi syaithan, untuk menyesatkan semua bani Adam sampai tidak tersisa seorang pun dari mereka yang bersyukur dan taat kepada Allah. Secara realita, ternyata program syaithan ini menjadi kenyataan karena mayoritas bani Adam telah terperangkap dalam jebakan-jebakannya, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Iblis :
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۝٨٢ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ ۝٨٣ قَالَ فَٱلْحَقُّ وَٱلْحَقَّ أَقُولُ ۝٨٤ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ
"Iblis menjawab : "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." Allah berfirman: " Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenismu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semua." (Shad : 82-85)

Cara Syaithan Menggoda Bani Adam


Dalam rangka menyesatkan bani Adam dari jalan yang lurus, syaithan mempersiapkan cara dan jebakan-jebakan. Ada enam tingkatan jebakan yang dipasang syaithan untuk menjerat bani Adam sebagaimana yang diteraangkan para ulama, yaitu :

Pertama : Syaithan akan berupaya menjerumuskan bani Adam ke lembah kekafiran atau kesyirikan. Namun bila bani Adam selamat dari jebakan ini syaithan akan menggunakan cara berikutnya.

Kedua : Syaithan akan berusaha menjatuhkan bani Adam ke lembah bid'ah sehingga ia mengamalkan bid'ah dan menjadi ahlil bid'ah. Namun bila bani Adam termasuk ahli sunnah dan tidak mampu diperdaya, maka syaithan akan menggunakan cara berikutnya.

Ketiga : Syaithan akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa besar. Namun bila Allah menjaganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Keempat : Syaithan akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa kecil dan menganggapnya remeh. Bila gagal, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Kelima : Syaithan akan menyibukkan bani Adam dengan perkara mubah sehingga mereka lalai dari perkara pokok. Namun bila bani Adam selamat dari perangkap ini, maka syaithan akan menggunakan cara yang terakhir.

Keenam : Syaithan akan menyibukkan bani Adam dengan amalan yang rendah nilai pahalanya, misalnya dia menyibukkan bani Adam dengan amal sunnah sehingga melalaikannya dari amal wajib. Demikian seterusnya (Lihat Madakhilus Syaithon 'alas shalihin 9-10)

Bila ada seorang yang selamat dari enam perangkap syaithan tersebut, maka dia termasuk hamba Allah yang ikhlas yang tidak dapat digoda oleh syaithan dengan taufiq dan hidayah dari Allah Ta'ala.

Makar Jahat Syaithon


1. Menabur Benih Permusuhan dan Buruk Sangka di Kalangan Muslimin

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits bersabda : "Sesungguhnya iblis telah berputus asa untuk dapat disembah oleh orang-orang sholih, namun dia berupaya menebarkan benih permusuhan di kalangan mereka." (HR Muslim 2812 dan Tirmidzi 1938)

Su'udhan atau buruk sangka adalah salah satu cara syaithan mencerai-beraikan bani Adam (barisan kaum muslimin). Demikian pula tahrisy (menebar benih permusuhan). Dalam sebuah hadits dari Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai, dia bercerita : "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah i'tikaf di masjid, lalu aku datang menjenguk beliau pada suatu malam untuk berbincang-bincang dengan beliau. (Setelah selesai) aku pun bangkit untuk kembali dan beliau pun bangkit bersamaku untuk menemani. Ketika itu lewatlah dua orang laki-laki Anshor radliallahu 'anhuma. Tatkala mereka melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, mereka pun mempercepat langkahnya. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pun berseru : "Perlahanlah! Wanita ini adalah Shafiyah!" Dua orang itupun berkata : "Subhanallah, ya Rasulullah!" Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya syaithan menjalar pada diri Adam pada aliran darah dan sungguh aku khawatir syaithan akan melemparkan kejahatan pada hati kalian berdua (ketika melihat aku) lalu terucaplah sesuatu." (HR Bukhari 4/349-350)

2. Menghiasi Bid'ah Bagi Manusia

Syaithan akan datang pada seseorang dengan menghiasi kebid'ahan dan membisikkan dalam hatinya : "Orang-orang di masa kini telah jauh meninggalkan agamanya dan sulit sekali mengembalikan mereka kepada agama. Alangkah baiknya kalau engkau mengerjakan beberapa amal ibadah dengan beberapa tambahan dari apa yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasul dengan harapan agar mereka kembali pada agama mereka, karena menambah amal kebajikan adalah baik." Akhirnya orang bodoh tersebut pun mengikuti bisikan syaithan.

Kita telah mengetahui bahwa ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu harus diambil dari petunjuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam semata. Kita tidak memiliki hak untuk menambah dan mengurangi atau mengubah semau kita karena ini adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dan termasuk perangkap syaithan.

3. Menakut-nakuti Bani Adam

Dalam hal ini syaithan akan menakuti bani Adam dengan dua cara :

Pertama : Syaithan akan menakuti bani Adam dengan wali-walinya dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, fasiq, dan ahli maksiat. Syaithan membisikkan : "Hati-hati kamu dari mereka! Mereka memiliki kekuatan yang dahsyat….!" Akhirnya dia pun bergabung dengan wali-wali syaithan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
إِنَّمَا ذَ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya yang demikian itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya (orang musyrik Quraisy) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman." (Ali Imron : 175)

Kedua : Syaithan akan menakuti bani Adam dengan kefakiran. Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan :
ٱلشَّيْطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ
"Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu dengan kejahatan (kikir) …" (Al-Baqarah : 268)

Syaithan membisikkan kepada tukang riba : "Kalau engkau tinggalkan profesimu, dari mana kamu akan mendapatkan harta? Kamu akan jatuh miskin!" Akhirnya orang tersebut lebih bersemangat menekuni profesi riba.

Syaithan membisikkan kepada penjual khamr : "Jangan engkau tinggalkan profesimu, tidak ada profesi yang lebih menguntungkan selain profesi yang sedang engkau geluti. Kalau engkau tinggalkan engkau akan jatuh. Belum tentu engkau mendapati profesi pengganti sebaik ini!" Akhirnya dia pun semakin giat memasarkan berbagai produk dan merek khamr.

Semua itu adalah bisikan syaithan yang menyesatkan bani Adam padahal Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman :
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ۝٢ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq : 2-3)

4. Melemparkan Keraguan Dalam Hati

Termasuk cara syaithan menyesatkan bani Adam adalah melemparkan keraguan dan was was dalam hati baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun muamalah. (Lihat Madakhilus Syaithan 'alas Shalihin 11-27)

Masih banyak lagi cara dan perangkap yang dipasang syaithan untuk menjerat bani Adam. Di samping itu ada beberapa hal yang mudahnya syaithan menjalankan makarnya, di antaranya :
  1. Kebodohan bani Adam
  2. Hawa nafsu, lemah keikhlasan, dan tipisnya keimanan
  3. Lalai dari dzikrullah
  4. Tidak memperhatikan jebakan-jebakan syaithan
  5. Mengerjakan perbuatan sia-sia
  6. Berlebih-lebihan (israf) dari kebutuhan
(Lihat al-Fawaid hal 185-186 dan Madakhilus Syaithan 'alas Shalihin hal 28)

Jalan Keluar dari Makar Syaithan


Di akhir pembahasan ini kami sebutkan beberapa cara untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman, godaan dan jebakan-jebakan syaithan yang tertulis dalam kitab Madakhilus Syaithon 'alas Shalihin hal 28-29, yaitu 
1. Beriman kepada Allah Ta'ala dan bertawakal kepada-Nya. Allah berfirman :
إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَـٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya syaithan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-Nya." (An-Nahl :99)
2. Menuntut ilmu syar'i dari sumber dan pemahaman yang benar karena dengan ilmu ini kita terbimbing kepada jalan yang lurus dan mampu menepis sekian banyak perangkap syaithan yang dipasang untuk menjerat kita.
3. Mengokohkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
"Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka." (Al-Hijr :40)
4. Membentengi dengan dzikrullah dan isti'adzah (memohon perlindungan) kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman :
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Dan jika kamu ditimpa godaan syaithan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (Al-A'raf : 200)

Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari jebakan-jebakan syaithan yang menyesatkan. 

Amin ya Mujibas Sailin

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-20 Tahun ke-1 / 02 Mei 2003 M / 29 Shafar 1424 H.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1937

٢٥ – بَابُ مَا جَاءَ فِي التَّبَاغُضِ

25. Bab tentang saling membenci

١٩٣٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي سُفۡيَانَ، عَنۡ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ الشَّيۡطَانَ قَدۡ أَيِسَ أَنۡ يَعۡبُدَهُ الۡمُصَلُّونَ، وَلَٰكِنۡ فِي التَّحرِيشِ بَيۡنَهُمۡ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَنَسٍ، وَسُلَيۡمَانَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡأَحۡوَصِ عَنۡ أَبِيهِ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَأَبُو سُفۡيَانَ اسۡمُهُ: طَلۡحَةُ بۡنُ نَافِعٍ. [(الصحيحة) (١٦٠٦): م].
1937. Hannad telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat, akan tetapi dia tidak putus asa untuk mengadu domba mereka.” Dalam bab ini ada hadits dari Anas dan Sulaiman bin 'Amr bin Al-Ahwash dari ayahnya. Ini adalah hadits hasan. Abu Sufyan namanya adalah Thalhah bin Nafi'.

Shahih Muslim hadits nomor 2812

١٦ – بَابُ تَحۡرِيشِ الشَّيۡطَانِ، وَبَعۡثِهِ سَرَايَاهُ لِفِتۡنَةِ النَّاسِ، وَأَنَّ مَعَ كُلِّ إِنۡسَانٍ قَرِينًا

16. Bab setan mengadu domba dan mengutus pasukannya untuk memfitnah manusia dan bahwa setiap manusia ada yang menyertainya

٦٥ – (٢٨١٢) – حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ عُثۡمَانُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي سُفۡيَانَ، عَنۡ جَابِرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ الشَّيۡطَانَ قَدۡ أَيِسَ أَنۡ يَعۡبُدَهُ الۡمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الۡعَرَبِ، وَلَٰكِنۡ فِي التَّحۡرِيشِ بَيۡنَهُمۡ).
65. (2812). 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. 'Utsman berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir. Beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah Arab. Akan tetapi dia tidak putus asa untuk mengadu domba antara mereka.”
(…) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan hadits ini kepada kami: Waki' menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami. Masing-masing mereka berdua dari Al-A'masy, dengan sanad ini.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Huruf Ya` dari Fathah

نِيَابَةُ الۡيَاءِ عَنِ الۡفَتۡحَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡيَاءُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصۡبِ فِي التَّثۡنِيَةِ وَالۡجَمۡعِ.
Adapun huruf ya` merupakan tanda nashab pada isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim.
أَقُولُ: تَكُونُ الۡيَاءُ عَلَامَةً عَلَى نَصۡبِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ- فِي مَوۡضِعَيۡنِ:
Huruf ya` merupakan tanda nashab suatu kata -sebagai ganti dari fathah- pada dua tempat:
أَحَدُهُمَا: فِي الۡاسۡمِ الۡمُثَنَّى، وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ نَحۡوُ: (قَرَأۡتُ كِتَابَيۡنِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيۡنِ﴾ [القصص: ١٥] وَنَحۡوُ (أَكَلۡتُ تَمۡرَتَيۡنِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿جَعَلۡنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ﴾ [الكهف: ٣٢] فَكُلٌّ مِنۡ (كِتَابَيۡنِ وَرَجُلَيۡنِ وَتَمۡرَتَيۡنِ وَجَنَّتَيۡنِ) مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡيَاءُ الۡمَفۡتُوحُ مَا قَبۡلَهَا الۡمَكۡسُورُ مَا بَعۡدَهَا نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
1. Isim mutsanna dan definisinya telah lewat. Contoh: قَرَأۡتُ كِتَابَيۡنِ dan firman Allah ta'ala: فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيۡنِ (QS. Al-Qashash: 15). Dan contoh: أَكَلۡتُ تَمۡرَتَيۡنِ dan firman Allah ta'ala: جَعَلۡنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ (QS. Al-Kahfi: 32). Jadi setiap كِتَابَيۡنِ, رَجُلَيۡنِ, تَمۡرَتَيۡنِ, dan جَنَّتَيۡنِ manshub dan tanda nashabnya adalah huruf ya` yang huruf sebelumnya difathah dan huruf setelahnya dikasrah sebagai ganti dari fathah karena ia isim mutsanna. Dan huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.
الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: جَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ أَيۡضًا نَحۡوُ: (حَذَّرۡتُ الۡمُسۡلِمِينَ مِنۡ تَقۡلِيدِ أَعۡدَائِهِمۡ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَا تَتَّخِذُوا الۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ﴾ [النساء: ١٤٤] فَكُلٌّ مِنۡ (الۡمُسۡلِمِينَ وَالۡكَافِرِينَ) مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡيَاءُ الۡمَكۡسُورُ مَا قَبۡلَهَا الۡمَفۡتُوحُ مَا بَعۡدَهَا نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
2. Jamak mudzakkar salim dan definisinya juga telah lewat. Contoh: حَذَّرۡتُ الۡمُسۡلِمِينَ مِنۡ تَقۡلِيدِ أَعۡدَائِهِمۡ dan firman Allah ta'ala: لَا تَتَّخِذُوا الۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ (QS. An-Nisa`: 144). Jadi setiap dari الۡمُسۡلِمِينَ dan الۡكَافِرِينَ adalah manshub dan tanda nashabnya adalah huruf ya` yang huruf sebelumnya dikasrah dan huruf setelahnya difathah sebagai ganti dari fathah karena ia merupakan jamak mudzakkar salim. Dan huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.

Lihat pula:

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Kasrah dari Fathah

نِيَابَةُ الۡكَسۡرَةِ عَنِ الۡفَتۡحَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡكَسۡرَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصۡبِ فِي جَمۡعِ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمِ.
Adapun kasrah merupakan tanda nashab pada jamak muannats salim.
أَقُولُ: تَكُونُ الۡكَسۡرَةُ عَلَامَةً عَلَى نَصۡبِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ- فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ وَهُوَ جَمۡعُ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمُ -وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ- نَحۡوُ: (حَذَّرۡتُ الۡمُسۡلِمَاتِ مِنۡ مُشَابَهَةِ الۡكَافِرَاتِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَاسۡتَبِقُوا الۡخَيۡرَٰتِ﴾ [البقرة: ١٤٨] فَكُلٌّ مِنَ (الۡمُسۡلِمَاتِ وَالۡخَيۡرَاتِ) جَمۡعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡكَسۡرَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ.
Kasrah menjadi tanda nashab suatu kata -sebagai ganti dari fathah- di satu tempat yaitu jamak muannats salim -definisinya telah berlalu-. Contoh: حَذَّرۡتُ الۡمُسۡلِمَاتِ مِنۡ مُشَابَهَةِ الۡكَافِرَاتِ dan firman Allah ta'ala: فَاسۡتَبِقُوا الۡخَيۡرَٰتِ (QS. Al-Baqarah: 148). Jadi setiap dari الۡمُسۡلِمَاتِ dan الۡخَيۡرَاتِ adalah jamak muannats salim manshub. Tanda nashabnya adalah kasrah yang tampak di akhir kata, sebagai ganti dari fathah.
وَقَدۡ يَكُونُ نَصۡبُهُ بِكَسۡرَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (أَدَّبۡتُ بَنَاتِي) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي﴾ [الأنعام: ١٣٠] فَـ(بَنَاتِي) وَمِثۡلُهُ (آيَاتِي) جَمۡعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡكَسۡرَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى مَا قَبۡلَ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا اشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسِبَةِ نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ.
Terkadang nashab suatu kata menggunakan kasrah muqaddarah, contoh: أَدَّبۡتُ بَنَاتِي dan firman Allah ta'ala: يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي (QS. Al-An'am: 130). Jadi بَنَاتِي dan آيَاتِي adalah jamak muannats salim manshub dan tanda nashabnya adalah kasrah muqaddarah pada huruf sebelum huruf ya` mutakallim. Yang menghalangi dari munculnya adalah terpakainya tempat oleh harakat yang menyesuaikan, sebagai ganti dari fathah.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Huruf Alif dari Fathah

نِيَابَةُ الۡأَلِفِ عَنِ الۡفَتۡحَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡأَلِفُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصۡبِ فِي الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، نَحۡوُ: (رَأَيۡتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ)، وَمَا أَشۡبَهَ ذَلِكَ.
Adapun huruf alif menjadi tanda nashab pada al-asma`ul khamsah (isim yang lima), contoh: رَأَيۡتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ dan yang menyerupai itu.
أَقُولُ: لَمَّا أَنۡهَى الۡكَلَامَ عَلَى الۡفَتۡحَةِ أَخَذَ يَتَكَلَّمُ عَلَى مَا يَنُوبُ عَنۡهَا مُقَدِّمًا الۡأَلِفَ عَلَى غَيۡرِهَا، فَذَكَرَ أَنَّهَا تَكُونُ عَلَامَةً عَلَى نَصۡبِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ- فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ: الۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ، الَّتِي تَقَدَّمَ ذِكۡرُهَا فِي (نِيَابَةِ الۡوَاوِ عَنِ الضَّمَّةِ).
Ketika beliau telah selesai membicarakan fathah, beliau mulai membicarakan pengganti fathah. Beliau mendahulukan huruf alif daripada yang lainnya. Beliau menyebutkan bahwa huruf alif merupakan tanda nashab suatu kata -sebagai ganti dari fathah- di satu tempat, yaitu: al-asma`ul khamsah yang telah lewat penyebutannya di “penggantian huruf wawu dari dhammah”.
فَمِثَالُهَا مَنۡصُوبَةً قَوۡلُكَ: (أَطِعۡ أَبَاكَ) وَ(احۡتَرِمۡ أَخَاكَ) وَ(زُورِي حَمَاكِ) وَ(نَظِّفۡ فَاكَ) وَ(أَحۡبَبۡتُ ذَا الۡعِلۡمِ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ﴾ [يوسف: ١٦] وَ﴿ءَاوَىٰٓ إِلَيۡهِ أَخَاهُ﴾ [يوسف: ٦٩] وَ﴿أَن كَانَ ذَا مَالٍ﴾ [القلم: ١٤] فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَسۡمَاءِ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنۡ الۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَهُوَ مُضَافٌ وَمَا بَعۡدَهُ مِنۡ ضَمِيرٍ أَوِ اسۡمٍ ظَاهِرٍ مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
Contoh asma`ul khamsah yang dinashab adalah perkataanmu: أَطِعۡ أَبَاكَ, احۡتَرِمۡ أَخَاكَ, زُورِي حَمَاكِ, نَظِّفۡ فَاكَ, dan أَحۡبَبۡتُ ذَا الۡعِلۡمِ serta firman Allah ta'ala: وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ (QS. Yusuf: 16), ءَاوَىٰٓ إِلَيۡهِ أَخَاهُ (QS. Yusuf: 69), أَن كَانَ ذَا مَالٍ (QS. Al-Qalam: 14). Jadi setiap dari isim-isim ini dinashab. Tanda nashabnya huruf alif sebagai ganti dari fathah karena isim tersebut termasuk asma`ul khamsah dan merupakan mudhaf. Dan kata setelahnya berupa dhamir atau isim zhahir adalah mudhaf ilaih.

Lihat pula:

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Tempat-tempat Fathah

مَوَاضِعُ الۡفَتۡحَةِ

قَالَ: فَأَمَّا الۡفَتۡحَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصۡبِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ: فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ، وَجَمۡعِ التَّكۡسِيرِ، وَالۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ إِذَا دَخَلَ عَلَيۡهِ نَاصِبٌ، وَلَمۡ يَتَّصِلۡ بِآخِرِهِ شَيۡءٌ.
Adapun fathah merupakan tanda nashab di tiga tempat: isim mufrad, jamak taksir, dan fi'il mudhari' apabila ada yang menashabkannya dan tidak ada apapun yang bersambung di akhirnya.
أَقُولُ: الۡفَتۡحَةُ هِيَ الۡعَلَامَةُ الۡأَصۡلِيَّةُ لِلنَّصۡبِ كَمَا تَقَدَّمَ. وَلِهَٰذَا بَدَأَ بِهَا الۡمُصَنِّفُ، وَهِيَ تَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصۡبِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ:
Fathah adalah tanda asli nashab sebagaimana telah lalu. Oleh karena itu, penyusun memulai darinya. Fathah merupakan tanda nashab di tiga tempat:
الۡأَوَّلُ: فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ -وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ- سَوَاءٌ كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (أَكۡرَمۡتُ مُحَمَّدًا) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَاذۡكُرۡ إِسۡمَٰعِيلَ﴾ [ص: ٤٨] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (تَزَوَّجۡتُ هِنۡدًا) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَاذۡكُرۡ فِي الۡكِتَٰبِ مَرۡيَمَ﴾ [مريم: ١٦] فَكُلٌّ مِنۡ (مُحَمَّدًا وَإِسۡمَاعِيلَ وَهِنۡدًا وَمَرۡيَمَ) اسۡمُ مُفۡرَدٍ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ نَصۡبُهُ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (زُرۡتُ الۡفَتَى وَغُلَامِي) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَتَّبِعِ الۡهَوَىٰ﴾ [ص: ٢٦] فَكُلٌّ مِنۡ (الۡفَتَى وَغُلَامِي وَالۡهَوَى) اسۡمُ مُفۡرَدٍ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ فِي (الۡفَتَى وَالۡهَوَى) وَحَرَكَةُ الۡمُنَاسَبَةِ فِي (غُلَامِي).
1. Isim mufrad -definisinya telah disebutkan-, sama saja apakah untuk mudzakkar seperti: أَكۡرَمۡتُ مُحَمَّدًا dan firman Allah ta'ala: وَاذۡكُرۡ إِسۡمَٰعِيلَ (QS. Shad: 48) atau untuk muannats seperti: تَزَوَّجۡتُ هِنۡدًا dan firman Allah ta'ala: وَاذۡكُرۡ فِي الۡكِتٰبِ مَرۡيَمَ (QS. Maryam: 16). Sehingga, setiap dari مُحَمَّدًا, إِسۡمَاعِيلَ, هِنۡدًا, مَرۡيَمَ adalah isim mufrad manshub. Tanda nashabnya adalah fathah yang tampak di akhir kata.
Terkadang nashabnya bisa dengan fathah muqaddarah seperti: زُرۡتُ الۡفَتَى وَغُلَامِي dan firman Allah ta'ala: وَلَا تَتَّبِعِ الۡهَوَىٰ (QS. Shad: 26). Sehingga, setiap dari الۡفَتَى, غُلَامِي, dan الۡهَوَى adalah isim mufrad manshub. Tanda nashabnya adalah fathah muqaddarah. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur pada kata الۡفَتَى dan الۡهَوَى; serta harakat yang sesuai pada kata غُلَامِي.
الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: جَمۡعُ التَّكۡسِيرِ -وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ أَيۡضًا- سَوَاءٌ كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (حَفِظۡتُ أَبۡيَاتًا مِنَ الشِّعۡرِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَتَرَى الۡجِبَالَ﴾ [النمل: ٨٨] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (رَغَّبۡتُ الۡهُنُودَ فِي فِعۡلِ الۡخَيۡرِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَأَنبَتۡنَا بِهِ حَدَآئِقَ﴾ [النمل: ٦٠] فَكُلٌّ مِنۡ (أَبۡيَاتًا وَالۡجِبَالَ وَالۡهُنُودَ وَحَدَائِقَ) جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ، مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ نَصۡبُهُ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (عَلَّمۡتُ أَوۡلَادِي قَوۡلَ الصِّدۡقِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَنۡكِحُوا الۡأَيَٰمَىٰ﴾ [النور: ٣٢] فَكُلٌّ مِنۡ (أَوۡلَادِي وَالۡأَيَامَى) جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ فِي (الۡأَيَامَى)، وَحَرَكَةُ الۡمُنَاسَبَةِ فِي (أَوۡلَادِي).
2. Jamak taksir -definisinya juga sudah disebutkan-, sama saja apakah untuk mudzakkar seperti: حَفِظۡتُ أَبۡيَاتًا مِنَ الشِّعۡرِ dan firman Allah ta'ala: وَتَرَى الۡجِبَالَ (QS. An-Naml: 88) atau untuk muannats seperti: رَغَّبۡتُ الۡهُنُودَ فِي فِعۡلِ الۡخَيۡرِ dan firman Allah ta'ala: فَأَنۡبَتۡنَا بِهِ حَدَآئِقَ (QS. An-Naml: 60). Jadi setiap dari أَبۡيَاتًا, الۡجِبَالَ, الۡهُنُودَ, dan حَدَائِقَ adalah jamak taksir manshub. Tanda nashabnya adalah fathah yang tampak di akhir kata.
Ada kalanya nashabnya bisa dengan fathah muqaddarah seperti: عَلَّمۡتُ أَوۡلَادِي قَوۡلَ الصِّدۡقِ dan firman Allah ta'ala: وَأَنۡكِحُوا الۡأَيَٰمَىٰ (QS. An-Nur: 32). Sehingga, setiap dari أَوۡلَادِي dan الۡأَيَامَى adalah jamak taksir manshub. Tanda nashabnya adalah fathah muqaddarah. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur pada kata الۡأَيَامَى dan harakat yang sesuai pada kata أَوۡلَادِي.
الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ: الۡفِعۡلُ الۡمُضَارِعُ الَّذِي سَبَقَهُ نَاصِبٌ وَلَمۡ يَتَّصِلۡ بِآخِرِهِ شَيۡءٌ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي عَلَامَاتِ الرَّفۡعِ، وَمِثَالُهُ قَوۡلُكَ: (لَنۡ أَصۡحَبَ الۡأَشۡرَارَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَن نَّدۡعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَـٰهًا﴾ [الكهف: ١٤] فَكُلٌّ مِنۡ (أَصۡحَبَ وَنَدۡعُوَ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِـ(لَنۡ) وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ نَصۡبُهُ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (لَنۡ أَسۡعَى إِلَى الشَّرِّ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ الۡيَهُودُ وَلَا النَّصَٰرَىٰ﴾ [البقرة: ١٢٠] فَكُلٌّ مِنۡ (أَسۡعَى وَتَرۡضَى) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِـ(لَنۡ) وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى الۡأَلِفِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ.
3. Fi'il mudhari' yang didahului oleh perangkat yang menashabkan dan tidak ada sesuatu pun yang telah disebutkan di tanda rafa' yang bersambung di akhirnya. Contohnya adalah perkataanmu: لَنۡ أَصۡحَبَ الۡأَشۡرَارَ dan firman Allah ta'ala: لَن نَّدۡعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَـٰهًا (QS. Al-Kahfi: 14). Jadi setiap dari أَصۡحَبَ dan نَدۡعُوَ adalah fi'il mudhari' manshub dengan لَنۡ. Tanda nashabnya adalah fathah yang tampak di akhir kata.
Terkadang nashabnya dengan fathah muqaddarah seperti: لَنۡ أَسۡعَى إِلَى الشَّرِّ dan firman Allah ta'ala: وَلَنۡ تَرۡضَىٰ عَنكَ الۡيَهُودُ وَلَا النَّصَٰرَىٰ (QS. Al-Baqarah: 120). Sehingga, setiap dari kata أَسۡعَى dan تَرۡضَى adalah fi'il mudhari' manshub dengan لَنۡ. Tanda nashabnya adalah fathah muqaddarah pada huruf alif. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur.
فَإِنِ اتَّصَلَ بِآخِرِهِ نُونُ النِّسۡوَةِ نَحۡوُ: (الۡعَفِيفَاتُ لَنۡ يَتَبَرَّجۡنَ) كَانَ مَبۡنِيًّا عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ.
وَإِنِ اتَّصَلَ بِهِ نُونُ التَّوۡكِيدِ الۡخَفِيفَةُ نَحۡوُ: (لَنۡ أَخۡرُجَنۡ) أَوۡ الثَّقِيلَةُ نَحۡوُ: (لَنۡ أَخۡرُجَنَّ) كَانَ مَبۡنِيًّا عَلَى الۡفَتۡحِ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ.
وَإِنِ اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الۡاثۡنَيۡنِ نَحۡوُ: (لَنۡ تَقُومَا) أَوۡ وَاوُ الۡجَمَاعَةِ نَحۡوُ (لَنۡ تَقُومُوا) أَوۡ يَاءُ الۡمُؤَنَّثَةِ الۡمُخَاطَبَةُ نَحۡوُ: (لَنۡ تَقُومِي) كَانَ نَصۡبُهُ بِحَذۡفِ النُّونِ لَا بِالۡفَتۡحَةِ، وَالۡأَلِفُ أَوِ الۡوَاوُ أَوِ الۡيَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ رَفۡعٍ فَاعِلٌ. كَمَا سَيَأۡتِي بَيَانُهُ فِي (نِيَابَةِ حَذۡفِ النُّونِ عَنِ الۡفَتۡحَةِ) إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Adapun jika nun niswah bersambung di akhirnya seperti: الۡعَفِيفَاتُ لَنۡ يَتَبَرَّجۡنَ, maka dia mabni atas tanda sukun di kedudukan nashab.
Apabila nun taukid bersambung di akhirnya, baik khafifah seperti: لَنۡ أَخۡرُجَنۡ atau tsaqilah seperti: لَنۡ أَخۡرُجَنَّ, maka ia mabni atas tanda fathah pada kedudukan nashab.
Dan jika alif itsnain bersambung di akhir fi'il mudhari' tersebut seperti: لَنۡ تَقُومَا atau wawu jama'ah seperti: لَنۡ تَقُومُوا atau ya` muannatsah mukhathabah seperti: لَنۡ تَقُومِي, maka nashabnya dengan menghilangkan huruf nun, bukan dengan fathah. Dan huruf alif, wawu, atau ya` adalah dhamir muttashil mabni atas tanda sukun pada kedudukan rafa' sebagai fa'il. Sebagaimana penjelasannya akan datang di bab “Penggantian Hadzfun Nun dari Fathah” insya Allah ta'ala.


Lihat pula:

At-Tuhfatus Saniyyah - Daftar Pos

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Berikut daftar pos terjemahan kitab At-Tuhfatus Saniyyah. Soal-soal dan latihan tidak diikutkan.
Alhamdulillah, terjemahan At-Tuhfatus Saniyyah bi Syarhil Muqaddimah Al-Ajrumiyyah format PDF sudah ada di link ini. Tanpa soal dan latihan.

At-Tuhfatus Saniyyah - Penggantian Fathah dari Kasrah

نِيَابَةُ الْفَتْحَةِ عَنِ الْكَسْرَةِ

وَأَمَّا الْفَتْحَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِي الْإِسْمِ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ.
Adapun fathah adalah tanda khafdh pada isim ghairu munsharif.
وَأَقُولُ: لِلْفَتْحَةِ مَوْضِعٌ وَاحِدٌ تَكُونُ فِيهِ عَلَامَةٌ عَلَى خَفْضِ الْإِسْمِ، وَهُوَ الْإِسْمُ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ.
Fathah memiliki satu tempat yang padanya ia menjadi tanda khafdh suatu isim, yaitu pada isim ghairu munsharif.
وَمَعْنَى كَوْنِهِ لَا يَنْصَرِفُ: أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ الصَّرْفَ، وَهُوَ التَّنْوِينُ، وَالْإِسْمُ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ هُوَ: (الَّذِي أَشْبَهَ الْفِعْلَ فِي وُجُودِ عِلَّتَيْنِ فَرْعِيَّتَيْنِ: إِحْدَاهُمَا تَرْجِعُ إِلَى اللَّفْظِ، وَالْأُخْرَى تَرْجِعُ إِلَى الْمَعْنَى، أَوْ وُجِدَ فِيهِ عِلَّةٌ وَاحِدَةٌ تَقُومُ مَقَامَ الْعِلَّتَيْنِ).
Makna isim itu ghairu munsharif yakni tidak ditanwin. Dan pengertian isim ghairu munsharif adalah isim yang menyerupai fi’il dalam hal keberadaan dua ‘illah yang cabang - salah satunya kembali kepada lafazh, dan yang lain kembali kepada makna -, atau terdapat pada isim itu satu ‘illah yang menduduki kedudukan dua ‘illah tersebut.
وَالْعِلَلُ الَّتِي تُوجَدُ فِي الْإِسْمِ وَتَدُلُّ عَلَى الْفَرْعِيَّةِ وَهِي رَاجِعَةٌ إِلَى الْمَعْنَى اثْنَتَانِ لَيْسَ غَيْرُ: الْأُولَى الْعَلَمِيَّةُ، وَالثَّانِيَةُ الْوَصْفِيَّةُ، وَلَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ وَاحِدَةٍ مِنْ هَاتَيْنِ الْعِلَّتَيْنِ فِي الْإِسْمِ الْمَمْنُوعِ مِنَ الصَّرْفِ بِسَبَبِ وُجُودِ عِلَّتَيْنِ فِيهِ.
‘Illah yang terdapat pada isim dan menunjukkan kepada cabang yang kembali kepada makna ada dua, tidak ada yang lain. Pertama: ‘alamiyyah, kedua: washfiyyah. Dan keberadaan satu dari dua ‘illah jenis ini harus ada pada isim mamnu’ minash sharf dengan sebab keberadaan dua ‘illah padanya.
وَالْعِلَلُ الَّتِي تُوجَدُ فِي الْإِسْمِ وَتَدُلُّ عَلَى الْفَرْعِيَّةِ وَتَكُونُ رَاجِعَةً إِلَى اللَّفْظِ سِتُّ عِلَلٍ، وَهِيَ: التَّأْنِيثُ بِغَيْرِ أَلِفٍ، وَالْعُجْمَةُ، وَالتَّرْكِيبُ، وَزِيَادَةُ الْأَلِفِ وَالنُّونِ، وَوَزْنُ الْفِعْلِ، وَالْعَدْلُ، وَلَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ وَاحِدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْعِلَلِ مَعَ وُجُودِ الْعَلَمِيَّةِ فِيهِ، وَأَمَّا مَعَ الْوَصْفِيَّةِ فَلَا يُوجَدُ مِنْهَا إِلَّا وَاحِدَةٌ مِنْ ثَلَاثٍ، وَهِيَ: زِيَادَةُ الْأَلِفِ وَالنُّونِ، أَوْ وَزْنُ الْفِعْلِ، أَوِ الْعَدْلُ.
‘Illah yang terdapat pada isim dan menunjukkan kepada cabang yang kembali kepada lafazh ada enam ‘illah, yaitu: ta`nits tanpa huruf alif, ‘ujmah, tarkib, tambahan huruf alif dan nun, wazan fi’il, dan ‘adl. Dan harus ada satu dari ‘illah ini bersama dengan keberadaan ‘alamiyyah padanya. Adapun bersama washfiyyah maka tidak terdapat padanya kecuali satu dari tiga, yaitu: tambahan huruf alif dan nun, wazan fi’il, atau ‘adl.
فَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ التَّأْنِيثِ بَغِيْرِ أَلِفٍ: فَاطِمَةُ، وَزَيْنَبُ، وَحَمْزَةُ.
Contoh ‘alamiyyah dengan ta`nits tanpa huruf alif: فَاطِمَةُ، وَزَيْنَبُ، وَحَمْزَةُ.
وَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ الْعُجْمَةِ: إِدْرِيسُ، وَيَعْقُوبُ، وَإِبْرَاهِيمُ.
Contoh ‘alamiyyah dengan ‘ujmah (bukan bahasa ‘Arab): إِدْرِيسُ، وَيَعْقُوبُ، وَإِبْرَاهِيمُ.
وَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ التَّرْكِيبِ: مَعْدِيكَرِبُ، وَبَعْلَبَكُّ، وَقَاضِيخَانُ، وَبُزُرْجَمِهْرُ، وَرَامَهُرْمُزُ.
Contoh ‘alamiyyah dengan tarkib (susunan dari dua kata): مَعْدِيكَرِبُ، وَبَعْلَبَكُّ، وَقَاضِيخَانُ، وَبُزُرْجَمِهْرُ، وَرَامَهُرْمُزُ.
وَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ زِيَادَةِ الْأَلِفِ وَالنُّونِ: مَرْوَانُ، وَعُثْمَانُ، وَغَطَفَانُ، وَعَفَّانُ، وَسَحْبَانُ، وَسُفْيَانُ، وَعِمْرَانُ، وَقَحْطَانُ، وَعَدْنَانُ.
Contoh ‘alamiyyah dengan tambahan huruf alif dan nun: مَرْوَانُ، وَعُثْمَانُ، وَغَطَفَانُ، وَعَفَّانُ، وَسَحْبَانُ، وَسُفْيَانُ، وَعِمْرَانُ، وَقَحْطَانُ، وَعَدْنَانُ.
وَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ وَزْنِ الْفِعْلِ: أَحْمَدُ، وَيَشْكُرُ، وَيَزِيدُ، وَتَغْلِبُ، وَتَدْمُرُ.
Contoh ‘alamiyyah sesuai dengan wazan fi’il: أَحْمَدُ، وَيَشْكُرُ، وَيَزِيدُ، وَتَغْلِبُ، وَتَدْمُرُ.
وَمِثَالُ الْعَلَمِيَّةِ مَعَ الْعَدَلِ: عُمَرُ، وَزُفَرُ، وَقُثَمُ، وَهُبَلُ، وَزُحَلُ، وَجُمَحُ، وَقُزَحُ، وَمُضَرُ.
Contoh ‘alamiyyah ma’al ‘adal: عُمَرُ، وَزُفَرُ، وَقُثَمُ، وَهُبَلُ، وَزُحَلُ، وَجُمَحُ، وَقُزَحُ، وَمُضَرُ.
وَمِثَالُ الْوَصْفِيَّةِ مَعَ زِيَادَةِ الْأَلِفِ وَالنُّونِ: رَيَّانُ، وَشَبْعَانُ، وَيَقْظَانُ.
Contoh washfiyyah dengan tambahan huruf alif dan nun: رَيَّانُ، وَشَبْعَانُ، وَيَقْظَانُ.
وَمِثَالُ الْوَصْفِيَّةِ مَعَ وَزْنِ الْفِعْلِ: أَكْرَمُ، وَأَفْضَلُ، وَأَجْمَلُ.
Contoh washfiyyah dengan wazan fi’il: أَكْرَمُ، وَأَفْضَلُ، وَأَجْمَلُ.
وَمِثَالُ الْوَصْفِيَّةِ مَعَ الْعَدَلِ: مَثْنَى، وَثُلَاثُ، وَرُبَاعُ، وَأُخَرُ.
Contoh washfiyyah dengan ‘adal: مَثْنَى، وَثُلَاثُ، وَرُبَاعُ، وَأُخَرُ.
وَأَمَّا الْعِلَّتَانِ اللَّتَانِ تَقُومُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مَقَامَ الْعِلَّتَيْنِ فَهُمَا: صِيغَةُ مُنْتَهَى الْجُمُوعُ، وَأَلِفُ التَّأْنِيثِ الْمَقْصُورَةُ أَوِ الْمَمْدُودَةُ.
Adapun dua ‘illah yang setiap satu ‘illah dari keduanya menduduki kedudukan dua ‘illah, adalah: shighah muntahal jumu’, alif ta`nits maqshurah atau mamdudah.
أَمَّا صِيغَةُ مُنْتَهَى الْجُمُوعُ فَضَابِطُهَا: أَنْ يَكُونَ الْإِسْمُ جَمْعَ تَكْسِيرٍ، وَقَدْ وَقَعَ بَعْدَ أَلِفِ تَكْسِيرِهِ حَرْفَانِ نَحْوُ: مَسَاجِدَ، وَمَنَابِرَ، وَأَفَاضِلَ، وَأَمَاجِدَ، وَأَمَاثِلَ، وَحَوَائِضَ، وَطَوَامِثَ، أَوْ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ وَسَطُهَا سَاكِنٌ، نَحْوُ: مَفَاتِيحَ، وَعَصَافِيرَ، وَقَنَادِيلَ.
Adapun shighah muntahal jumu’, maka ketentuannya isimnya berupa jama’ taksir dan terdapat dua huruf setelah huruf alif taksirnya. Contoh: مَسَاجِدَ، وَمَنَابِرَ، وَأَفَاضِلَ، وَأَمَاجِدَ، وَأَمَاثِلَ، وَحَوَائِضَ، وَطَوَامِثَ. Atau terdapat tiga huruf yang huruf tengahnya disukun, contoh: مَفَاتِيحَ، وَعَصَافِيرَ، وَقَنَادِيلَ.
وَأَمَّا أَلِفُ التَّأْنِيثِ الْمَقْصُورَةُ فَنَحْوُ: حُبْلَى، وَقُصْوَى، وَدُنْيَا، وَدَعْوَى.
Adapun alif ta`nits maqshurah contohnya: حُبْلَى، وَقُصْوَى، وَدُنْيَا، وَدَعْوَى.
وَأَمَّا أَلِفُ التَّأْنِيثِ الْمَمْدُودَةُ فَنَحْوُ: حَمْرَاءُ، وَدَعْجَاءُ، وَحَسْنَاءُ، وَبَيْضَاءُ، وَكَحْلَاءُ، وَنَافِقَاءُ، وَعُلَمَاءُ.
Adapun alif ta`nits mamdudah contohnya: حَمْرَاءُ، وَدَعْجَاءُ، وَحَسْنَاءُ، وَبَيْضَاءُ، وَكَحْلَاءُ، وَنَافِقَاءُ، وَعُلَمَاءُ.
فَكُلُّ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ، وَكَذَا مَا أَشْبَهَهَا، لَا يَجُوزُ تَنْوِينُهُ، وَيُخْفَضُ بِالْفَتْحَةِ نِيَابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ، نَحْوُ: (صَلَّى اللهُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِهِ) وَنَحْوُ: (رَضِيَ اللهُ عَنْ عُمَرَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ)، فَكُلٌّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ وَعُمَرَ مَخْفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرْفِ الْخَفْضِ عَلَيْهِ، وَعَلَامَةُ خَفْضِهِمَا الْفَتْحَةُ نِيَابَةً عَنِ الْكَسْرَةِ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا اسْمٌ لَا يَنْصَرِفُ، وَالْمَانِعُ مِنْ صَرْفِ إِبْرَاهِيمَ الْعَلَمِيَّةُ وَالْعُجْمَةُ، وَالْمَانِعُ مَنْ صَرْفِ عُمَرَ الْعَلَمِيَّةُ وَالْعَدَلُ. وَقِسْ ذَلِكَ الْبَاقِي.
Jadi, segala apa yang telah kita sebutkan dari isim-isim ini dan yang menyerupainya, tidak boleh ditanwin. Namun dikhafdh dengan fathah sebagai pengganti dari kasrah. Contoh: صَلَّى اللهُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِهِ dan رَضِيَ اللهُ عَنْ عُمَرَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ. Kata إِبْرَاهِيمَ dan عُمَرَ dikhafdh, karena diawali huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah sebagai pengganti kasrah; karena kata-kata tersebut adalah isim ghairu munsharif. Yang menghalangi dari tanwin kata إِبْرَاهِيمَ adalah ‘alam dan ‘ujmah (bukan kata bahasa ‘arab). Yang menghalangi dari tanwin kata عُمَرَ adalah ‘alam dan ‘adal. Dan kiaskanlah hal itu pada kata-kata yang lain.
وَيُشْتَرَطُ لِخَفْضِ الْإِسْمِ الَّذِي لَا يَنْصَرِفُ بِالْفَتْحَةِ: أَنْ يَكُونَ خَالِيًا مِنْ (أل) وَأَلَّا يُضَافُ إِلَى اسْمٍ بَعْدَهُ، فَإِنْ اقْتُرِنَ بِأَلْ أَوْ أُضِيفَ خُفِضَ بِالْكَسْرَةِ، نَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: (وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ) وَنَحْوُ: (مَرَرْتُ بِحَسْنَاءِ قُرَيْشٍ).
Syarat khafdhnya isim ghairu munsharif dengan fathah adalah: isim tersebut tidak diawali alif lam dan tidak diidhafahkan kepada isim setelahnya. Adapun jika diawali alif lam atau diidhafahkan, maka dikhafdh dengan kasrah. Contohnya firman Allah ta’ala: وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ dan مَرَرْتُ بِحَسْنَاءِ قُرَيْشٍ.