Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2544

١٤ - بَابُ فَضۡلِ مَنۡ أَدَّبَ جَارِيَتَهُ وَعَلَّمَهَا
14. Bab keutamaan orang yang mendidik budak wanitanya dan mengajarinya


٢٥٤٤ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: سَمِعَ مُحَمَّدَ بۡنَ فُضَيۡلٍ، عَنۡ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَتۡ لَهُ جَارِيَةٌ فَعَالَهَا فَأَحۡسَنَ إِلَيۡهَا، ثُمَّ أَعۡتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا كَانَ لَهُ أَجۡرَانِ). [طرفه في: ٩٧]. 

2544. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Beliau mendengar Muhammad bin Fudhail dari Mutharrif, dari Asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa saja yang memiliki budak wanita, lalu dia urusi dan berbuat baik kepadanya, kemudian dia bebaskan dan dia nikahi, maka dua pahala untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6244

١٣ - بَابُ التَّسۡلِيمِ وَالۡاِسۡتِئۡذَانِ ثَلَاثًا
13. Bab bersalam dan minta izin sebanyak tiga kali


٦٢٤٤ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا، وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا. [طرفه في: ٩٤]. 

6244. Ishaq telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad mengabarkan kepada kami: ‘Abdullah bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami: Tsumamah bin ‘Abdullah menceritakan kepada kami dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu apabila bersalam, maka beliau bersalam tiga kali. Apabila mengucapkan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali.

Shahih Al-Bukhari - 97. Kitab Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunah

٩٧ – كِتَابُ الۡإِعۡتِصَامِ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
97. Kitab Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunah

Hadis nomor 7268
Hadis nomor 7270
1. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku diutus dengan jawami’ al-kalim (kalimat ringkas padat)”
2. Bab meneladani sunah-sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hadis nomor 7275
Hadis nomor 7287
Hadis nomor 7288
3. Bab hal yang dibenci dari banyak bertanya dan membebani diri dengan perkara yang tidak berguna
Hadis nomor 7291
Hadis nomor 7294 dan 7295
4. Bab meneladani perbuatan-perbuatan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam
5. Bab dibencinya sikap melampaui batas, berdebat dalam masalah ilmu, dan berlebih-lebihan di dalam agama dan bidah
Hadis nomor 7299
7. Bab hal yang disebutkan berupa tercelanya pendapat pribadi dan kias yang membebani diri
10. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Ada sekelompok dari umatku senantiasa berperang dalam keadaan unggul di atas kebenaran”
Hadis nomor 7311
Hadis nomor 7312
13. Bab riwayat tentang ijtihad hakim menurut apa yang Allah taala turunkan
Hadis nomor 7316
15. Bab dosa bagi siapa saja yang mengajak kepada kesesatan atau memberi contoh yang jelek
Hadis nomor 7326
Hadis nomor 7343
20. Bab apabila petugas atau hakim berijtihad lalu keliru menyelisihi Rasul tanpa ilmu, maka hukumnya tertolak
21. Bab pahala seorang hakim apabila berijtihad lalu tepat atau keliru
Hadis nomor 7352
26. Bab dibencinya perselisihan
27. Bab larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti pengharaman kecuali sesuatu yang diketahui kebolehannya dan demikian pula perintah beliau
Hadis nomor 7367
28. Bab
Hadis nomor 7369

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7294 dan 7295

٧٢٩٤ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. وَحَدَّثَنِي مَحۡمُودٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمۡسُ فَصَلَّى الظُّهۡرَ، فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ، فَذَكَرَ السَّاعَةَ، وَذَكَرَ أَنَّ بَيۡنَ يَدَيۡهَا أُمُورًا عِظَامًا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَسۡأَلَ عَنۡ شَىۡءٍ فَلۡيَسۡأَلۡ عَنۡهُ، فَوَاللهِ لَا تَسۡأَلُونِي عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا أَخۡبَرۡتُكُمۡ بِهِ مَا دُمۡتُ فِي مَقَامِي هَٰذَا). قَالَ أَنَسٌ: فَأَكۡثَرَ الۡأَنۡصَارُ الۡبُكَاءَ، وَأَكۡثَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي). فَقَالَ أَنَسٌ: فَقَامَ إِلَيۡهِ رَجُلٌ فَقَالَ: أَيۡنَ مَدۡخَلِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (النَّارُ). فَقَامَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ حُذَافَةَ فَقَالَ: مَنۡ أَبِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). قَالَ: ثُمَّ أَكۡثَرَ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي، سَلُونِي). فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا. قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ قَالَ عُمَرُ ذٰلِكَ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَقَدۡ عُرِضَتۡ عَلَىَّ الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرۡضِ هَٰذَا الۡحَائِطِ، وَأَنَا أُصَلِّي، فَلَمۡ أَرَ كَالۡيَوۡمِ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ). [طرفه في: ٩٣]. 

7294. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Mahmud telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: 

Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—mengabarkan kepadaku bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar ketika matahari telah mulai turun, lalu beliau salat Zuhur. Ketika beliau sudah salam, beliau bangkit menuju mimbar, lalu menyebutkan hari kiamat. Beliau juga menyebutkan bahwa di hadapannya ada perkara-perkara yang besar. Kemudian beliau bersabda, “Siapa saja yang ingin menanyakan sesuatu, maka silakan dia menanyakannya. Demi Allah, tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku kabarkan kepada kalian selama aku berdiri di tempatku ini.” 

Anas berkata: Orang-orang ansar banyak menangis, sementara Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengulang-ulang perkataan, “Bertanyalah kepadaku!” 

Anas berkata: Ada seseorang berdiri menuju beliau seraya bertanya, “Di mana tempatku masuk nanti, wahai Rasulullah?” 

Rasulullah menjawab, “Neraka.” 

‘Abdullah bin Hudzafah bangkit seraya bertanya, “Siapa ayahku wahai Rasulullah?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” 

Anas berkata: Kemudian beliau mengulang-ulang ucapan, “Tanyalah kepadaku! Tanyalah kepadaku!” 

‘Umar berlutut seraya berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebagai rasul.” 

Anas berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun diam ketika ‘Umar mengatakan itu. Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh janah dan neraka telah diperlihatkan kepadaku tadi di sisi dinding ini ketika aku salat. Aku belum pernah melihat kebaikan dan kejelekan seperti hari ini.” 

٧٢٩٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحِيمِ: أَخۡبَرَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: أَخۡبَرَنِي مُوسَى بۡنُ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللهِ، مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (أَبُوكَ فُلَانٌ). وَنَزَلَتۡ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ﴾ الۡآيَةَ [المائدة: ١٠١]. [طرفه في: ٩٣]. 

7295. Muhammad bin ‘Abdurrahim telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah mengabarkan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Musa bin Anas mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Malik mengatakan: 

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah polan.” 

Turun ayat yang artinya, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu.” Sampai akhir ayat QS. Al-Ma`idah: 101.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7089, 7090, dan 7091

١٥ - بَابُ التَّعَوُّذِ مِنَ الۡفِتَنِ
15. Bab berlindung dari cobaan-cobaan


٧٠٨٩ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلُوا النَّبِيَّ ﷺ حَتَّى أَحۡفَوۡهُ بِالۡمَسۡأَلَةِ، فَصَعِدَ النَّبِيُّ ذَاتَ يَوۡمٍ الۡمِنۡبَرَ فَقَالَ: (لَا تَسۡأَلُونِي عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا بَيَّنۡتُ لَكُمۡ). فَجَعَلۡتُ أَنۡظُرُ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِذَا كُلُّ رَجُلٍ رَأۡسُهُ فِي ثَوۡبِهِ يَبۡكِي، فَأَنۡشَأَ رَجُلٌ، كَانَ إِذَا لَاحَى يُدۡعَى إِلَى غَيۡرِ أَبِيهِ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ مَنۡ أَبِي؟ فَقَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). ثُمَّ أَنۡشَأَ عُمَرُ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، نَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا رَأَيۡتُ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ كَالۡيَوۡمِ قَطُّ، إِنَّهُ صُوِّرَتۡ لِي الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ، حَتَّى رَأَيۡتُهُمَا دُونَ الۡحَائِطِ). قَالَ قَتَادَةُ: يُذۡكَرُ هَٰذَا الۡحَدِيثُ عِنۡدَ هَٰذِهِ الۡآيَةِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ إِنۡ تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾ [المائدة: ١٠١]. 

7089. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Orang-orang bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga mereka mendesak beliau dengan pertanyaan itu. Lalu Nabi pada suatu hari naik ke mimbar seraya bersabda, “Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku terangkan kepada kalian.” 

Aku memandang ke kanan dan ke kiri. Ternyata setiap orang, kepalanya berada di dalam pakaiannya sembari menangis. 

Lalu bangkitlah seseorang yang jika dia bertengkar, dia dipanggil dengan panggilan yang disandarkan kepada selain ayahnya. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Nabi menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” 

Kemudian ‘Umar bangkit seraya berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Kami berlindung kepada Allah dari buruknya cobaan-cobaan.” 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku tidak pernah melihat sama sekali kebaikan dan kejelekan seperti hari ini. Sungguh janah dan neraka telah digambarkan kepadaku hingga aku melihat keduanya di belakang dinding ini.” 

Qatadah berkata: Hadis ini disebutkan ketika disebutkan ayat yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang apabila dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Ma`idah: 101). 

٧٠٩٠ - وَقَالَ عَبَّاسٌ النَّرۡسِيُّ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمۡ: أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ، بِهَٰذَا، وَقَالَ: كُلُّ رَجُلٍ لَافًّا رَأۡسَهُ فِي ثَوۡبِهِ يَبۡكِي. وَقَالَ: عَائِذًا بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ، أَوۡ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ. [طرفه في: ٩٣]. 

7090. ‘Abbas An-Nursi berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami bahwa Anas menceritakan kepada mereka: Bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seperti hadis ini dan Anas berkata: Setiap orang menudungi kepalanya di dalam pakaian mereka sembari menangis. Beliau berkata: Aku berlindung kepada Allah dari jeleknya cobaan-cobaan. 

٧٠٩١ - وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ وَمُعۡتَمِرٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ قَتَادَةَ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمۡ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِهَٰذَا. وَقَالَ: عَائِذًا بِاللهِ مِنۡ شَرِّ الۡفِتَنِ. [طرفه في: ٩٣]. 

7091. Khalifah berkata kepadaku: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id dan Mu’tamir menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Qatadah bahwa Anas menceritakan kepada mereka dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan hadis ini. Beliau berkata: Aku berlindung kepada Allah dari buruknya cobaan-cobaan.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6486

٦٤٨٦ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (‏لَوۡ تَعۡلَمُونَ مَا أَعۡلَمُ لَضَحِكۡتُمۡ قَلِيلًا وَلَبَكَيۡتُمۡ كَثِيرًا). [طرفه في: ٩٣]. 

6486. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Musa bin Anas, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6468

٦٤٦٨ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُلَيۡحٍ قَالَ حَدَّثَنِي: أَبِي، عَنۡ هِلَالِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُهُ يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَلَّى لَنَا يَوۡمًا الصَّلَاةَ، ثُمَّ رَقِيَ الۡمِنۡبَرَ، فَأَشَارَ بِيَدِهِ قِبَلَ قِبۡلَةِ الۡمَسۡجِدِ، فَقَالَ: (قَدۡ أُرِيتُ الۡآنَ مُنۡذُ صَلَّيۡتُ لَكُمُ الصَّلَاةَ، الۡجَنَّةَ وَالنَّارَ، مُمَثَّلَتَيۡنِ فِي قُبُلِ هَٰذَا الۡجِدَارِ، فَلَمۡ أَرَ كَالۡيَوۡمِ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ، فَلَمۡ أَرَ كَالۡيَوۡمِ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ). [طرفه في: ٩٣]. 

6468. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Fulaih menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Hilal bin ‘Ali, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—. Hilal berkata: Aku mendengar Anas mengatakan bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—salat mengimami kami pada suatu hari. Kemudian beliau naik ke mimbar lalu mengisyaratkan dengan tangannya ke arah kiblat masjid seraya bersabda, “Sekarang ini, sejak aku salat mengimami kalian tadi, sungguh diperlihatkan janah dan neraka kepadaku. Keduanya digambarkan di depan dinding ini. Aku belum pernah melihat kebaikan dan kejelekan seperti hari ini. Aku belum pernah melihat kebaikan dan kejelekan seperti hari ini.”

Shahih Al-Bukhari - 80. Kitab Doa-doa

٨٠ - كِتَابُ الدَّعَوَاتِ
80. Kitab Doa-doa

3. Bab istigfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam
Hadis nomor 6307
4. Bab tobat
Hadis nomor 6308
Hadis nomor 6309
6. Bab Jika Tidur dalam Keadaan Suci
Hadis nomor 6311
10. Bab doa ketika terbangun di waktu malam
Hadis nomor 6316
17. Bab doa di dalam salat
Hadis nomor 6326
Hadis nomor 6334
26. Bab doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pelayannya dengan panjang umur dan banyak harta
Hadis nomor 6344
Hadis nomor 6354
Hadis nomor 6355
35. Bab berlindung dari cobaan-cobaan
Hadis nomor 6362
Hadis nomor 6366
41. Bab meminta perlindungan dari sifat pengecut dan malas
Hadis nomor 6369
Hadis nomor 6373
48. Bab mendoakan banyak harta dan anak disertai keberkahan
Hadis nomor 6378 dan 6379
49. Bab mendoakan banyak anak disertai keberkahan
Hadis nomor 6380 dan 6381
65. Bab bacaan amin
Hadis nomor 6402
71. Bab mauizah berjeda
Hadis nomor 6411

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6362

٣٥ - بَابُ التَّعَوُّذِ مِنَ الۡفِتَنِ
35. Bab berlindung dari cobaan-cobaan


٦٣٦٢ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: سَأَلُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى أَحۡفَوۡهُ الۡمَسۡأَلَةَ، فَغَضِبَ فَصَعِدَ الۡمِنۡبَرَ، فَقَالَ: (لَا تَسۡأَلُونِي الۡيَوۡمَ عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا بَيَّنۡتُهُ لَكُمۡ). فَجَعَلۡتُ أَنۡظُرُ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِذَا كُلُّ رَجُلٍ لَافٌّ رَأۡسَهُ فِي ثَوۡبِهِ يَبۡكِي، فَإِذَا رَجُلٌ، كَانَ إِذَا لَاحَى الرِّجَالَ يُدۡعَى لِغَيۡرِ أَبِيهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (حُذَافَةُ). ثُمَّ أَنۡشَأَ عُمَرُ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا، نَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الۡفِتَنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا رَأَيۡتُ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ كَالۡيَوۡمِ قَطُّ، إِنَّهُ صُوِّرَتۡ لِي الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ، حَتَّى رَأَيۡتُهُمَا وَرَاءَ الۡحَائِطِ). وَكَانَ قَتَادَةُ يَذۡكُرُ عِنۡدَ الۡحَدِيثِ هَٰذِهِ الۡآيَةَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ إِنۡ تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾ [المائدة: ١٠١]. [طرفه في: ٩٣]. 

6362. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga mendesak beliau dengan pertanyaan itu. 

Beliau marah, naik mimbar, lalu bersabda, “Tidaklah kalian bertanya kepadaku pada hari ini tentang sesuatu kecuali aku terangkan untuk kalian.” 

Aku melihat ke kanan dan kiri. Ternyata setiap orang menudungi kepalanya dengan pakaiannya dalam keadaan menangis. 

Lalu ada seseorang yang apabila dia bertengkar dengan orang-orang, dia dipanggil dengan panggilan yang tidak dinisbahkan kepada ayahnya. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Hudzafah.” 

Kemudian ‘Umar bergegas mengatakan, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebagai rasul. Kami berlindung kepada Allah dari cobaan-cobaan.” 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah aku sama sekali melihat kebaikan dan kejelekan seperti hari ini. Sungguh janah dan neraka telah digambarkan kepadaku hingga aku melihat keduanya di belakang dinding ini.” 

Dahulu Qatadah ketika menyebutkan hadis ini, beliau menyebutkan ayat yang artinya, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang apabila diterangkan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Ma`idah: 101).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4621

١٢ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ إِنۡ تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾ ۝١٠١
12. Bab firman Allah yang artinya, “Janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Ma`idah: 101)


٤٦٢١ - حَدَّثَنَا مُنۡذِرُ بۡنُ الۡوَلِيدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡجَارُودِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ خُطۡبَةً مَا سَمِعۡتُ مِثۡلَهَا قَطُّ قَالَ: (لَوۡ تَعۡلَمُونَ مَا أَعۡلَمُ لَضَحِكۡتُمۡ قَلِيلًا وَلَبَكَيۡتُمۡ كَثِيرًا). قَالَ فَغَطَّى أَصۡحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ وُجُوهَهُمۡ لَهُمۡ خَنِينٌ، فَقَالَ رَجُلٌ: مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (فُلَانٌ). فَنَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ إِنۡ تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾. رَوَاهُ النَّضۡرُ، وَرَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ، عَنۡ شُعۡبَةَ. [طرفه في: ٩٣]. 

4621. Mundzir bin Al-Walid bin ‘Abdurrahman Al-Jarudi telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Musa bin Anas, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyampaikan khotbah yang belum pernah aku dengar sama sekali. Beliau bersabda, “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” 

Anas berkata: Para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menutup wajah-wajah mereka dan terdengar suara isak tangis mereka. 

Ada seseorang bertanya, “Siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Polan.” 

Lalu ayat ini turun (yang artinya), “Janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” 

Diriwayatkan oleh An-Nadhr dan Rauh bin ‘Ubadah dari Syu’bah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4727

٤ – بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَـٰذَا نَصَبًا﴾ ۝٦٢
4. Bab firman Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (QS. Al-Kahfi: 62)


إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿عَجَبًا﴾ [٦٣]، ﴿صُنۡعًا﴾ [١٠٤] عَمَلًا. ﴿حِوَلًا﴾ [١٠٨] تَحَوُّلًا. 

Sampai firman-Nya, “dengan cara yang aneh sekali.” (QS. Al-Kahfi: 63). “Shun’ā,” (QS. Al-Kahfi: 104) artinya perbuatan. “Hiwalā,” (QS. Al-Kahfi: 108) artinya adalah berpindah. 

﴿قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِ ۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا﴾ [٦٤]، ﴿إِمۡرًا﴾ [٧١] وَ﴿نُكۡرًا﴾ [٧٤] دَاهِيَةً. ﴿يَنۡقَضَّ﴾ [٧٧] يَنۡقَاضُ كَمَا تَنۡقَاضُ السِّنُّ. ﴿لَتَخِذۡتَ﴾ [٧٧] وَاتَّخَذۡتَ وَاحِدٌ. ﴿رُحۡمًا﴾ [٨١] مِنَ الرُّحۡمِ، وَهِيَ أَشَدُّ مُبَالَغَةً مِنَ الرَّحۡمَةِ، وَنَظُنُّ أَنَّهُ مِنَ الرَّحِيمِ، وَتُدۡعَى مَكَّةُ أُمَّ رُحۡمٍ، أَيِ الرَّحۡمَةُ تَنۡزِلُ بِهَا. 

“Musa berkata: Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64). “Imrā” (QS. Al-Kahfi: 71) dan “Nukrā” (QS. Al-Kahfi: 74) artinya adalah sangat mungkar. “Yanqadhdha” (QS. Al-Kahfi: 77) artinya retak sebagaimana retaknya gigi. “Latakhidzta” (QS. Al-Kahfi: 77) dan ittakhadzta artinya sama (yaitu mengambil). “Ruhmā” (QS. Al-Kahfi: 81) dari kata ar-ruhm yang memiliki arti lebih dalam daripada kata ar-rahmah. Kami mengira bahwa kata itu berasal dari kata ar-rahīm. Makkah dipanggil dengan nama Ummu Ruhm, artinya bahwa rahmat turun di situ. 

٤٧٢٧ - حَدَّثَنِي قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ قَالَ: قُلۡتُ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: إِنَّ نَوۡفًا الۡبَكَالِيَّ يَزۡعُمُ: أَنَّ مُوسَى بَنِي إِسۡرَائِيلَ لَيۡسَ بِمُوسَى الۡخَضِرِ، فَقَالَ: كَذَبَ عَدُوُّ اللهِ؛ حَدَّثَنَا أُبَىُّ بۡنُ كَعۡبٍ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: 

4727. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepadaku dari ‘Amr bin Dinar, dari Sa’id bin Jubair. 

Beliau berkata: Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas bahwa Nauf Al-Bakali menyatakan bahwa Musa bani Israil bukanlah Musa yang bersama Al-Khadhir. 

Ibnu ‘Abbas berkata: Musuh Allah itu telah bohong. Ubai bin Ka’b menceritakan kepada kami dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda: 

(قَامَ مُوسَى خَطِيبًا فِي بَنِي إِسۡرَائِيلَ، فَقِيلَ لَهُ: أَىُّ النَّاسِ أَعۡلَمُ؟ قَالَ: أَنَا، فَعَتَبَ اللهُ عَلَيۡهِ، إِذۡ لَمۡ يَرُدَّ الۡعِلۡمَ إِلَيۡهِ، وَأَوۡحَى إِلَيۡهِ: بَلَى، عَبۡدٌ مِنۡ عِبَادِي بِمَجۡمَعِ الۡبَحۡرَيۡنِ، هُوَ أَعۡلَمُ مِنۡكَ. قَالَ: أَىۡ رَبِّ، كَيۡفَ السَّبِيلُ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: تَأۡخُذُ حُوتًا فِي مِكۡتَلٍ، فَحَيۡثُمَا فَقَدۡتَ الۡحُوتَ فَاتَّبِعۡهُ، 

Musa berdiri berkhotbah di hadapan bani Israil. Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Siapa orang yang paling berilmu?” 

Musa menjawab, “Aku.” 

Lalu Allah menegurnya karena beliau tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah mewahyukan kepada beliau, “Ada. Seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku di tempat bertemunya dua laut. Dia lebih berlimu daripada engkau.” 

Musa berkata, “Ya Rabi, bagaimana jalan ke tempatnya?” 

Allah berkata, “Engkau ambil seekor (bangkai) ikan (lalu letakkan) di dalam keranjang. Di mana saja engkau kehilangan ikan itu, maka ikutilah (arah perginya) ikan itu.” 

قَالَ: فَخَرَجَ مُوسَى وَمَعَهُ فَتَاهُ يُوشَعُ بۡنُ نُونٍ، وَمَعَهُمَا الۡحُوتُ، حَتَّى انۡتَهَيَا إِلَى الصَّخۡرَةِ فَنَزَلَا عِنۡدَهَا، قَالَ: فَوَضَعَ مُوسَى رَأۡسَهُ فَنَامَ - قَالَ سُفۡيَانُ: وَفِي حَدِيثِ غَيۡرِ عَمۡرٍو قَالَ - وَفِي أَصۡلِ الصَّخۡرَةِ عَيۡنٌ يُقَالُ لَهَا الۡحَيَاةُ، لَا يُصِيبُ مِنۡ مَائِهَا شَىۡءٌ إِلَّا حَيِيَ، فَأَصَابَ الۡحُوتَ مِنۡ مَاءِ تِلۡكَ الۡعَيۡنِ، قَالَ: فَتَحَرَّكَ وَانۡسَلَّ مِنَ الۡمِكۡتَلِ فَدَخَلَ الۡبَحۡرَ، فَلَمَّا اسۡتَيۡقَظَ مُوسَى قَالَ لِفَتَاهُ: ﴿آتِنَا غَدَاءَنَا﴾ [٦٢] الۡآيَةَ، قَالَ: وَلَمۡ يَجِدِ النَّصَبَ حَتَّى جَاوَزَ مَا أُمِرَ بِهِ، قَالَ لَهُ فَتَاهُ يُوشَعُ بۡنُ نُونٍ: ﴿أَرَأَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَا إِلَى الصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الۡحُوتَ﴾ [٦٣] الۡآيَةَ، قَالَ: فَرَجَعَا يَقُصَّانِ فِي آثَارِهِمَا، فَوَجَدَا فِي الۡبَحۡرِ كَالطَّاقِ مَمَرَّ الۡحُوتِ، فَكَانَ لِفَتَاهُ عَجَبًا، وَلِلۡحُوتِ سَرَبًا، 

Perawi berkata: Musa keluar pergi bersama muridnya, yaitu Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa seekor ikan. Hingga ketika keduanya sampai di sebuah batu, keduanya singgah di situ. Perawi berkata: Musa menyandarkan kepalanya lalu tidur. Sufyan berkata: Di dalam hadis selain ‘Amr, perawi berkata: Di dasar batu itu ada mata air yang diberi nama mata air kehidupan. Tidaklah sesuatupun yang terkena airnya kecuali akan hidup. Air dari mata air itu mengenai (bangkai) ikan itu. Perawi berkata: Lalu ikan itu bergerak-gerak dan keluar dari keranjang, masuk ke laut. 

Ketika Musa bangun, beliau berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita,” (QS. Al-Kahfi: 62) sampai akhir ayat. Perawi berkata: Musa tidak merasa letih hingga telah melewati tempat yang diperintahkan. 

Muridnya, yaitu Yusya’ bin Nun, berkata kepada Musa, “Apakah engkau ingat ketika kita berlindung di sebuah batu, saat itu aku lupa (menyebutkan) ikan itu,” (QS. Al-Kahfi: 63) sampai akhir ayat. 

Perawi berkata: Lalu keduanya kembali menyusuri jejak mereka semula. Keduanya mendapati di laut ada seperti lengkungan pada tempat yang dilewati ikan tadi. Maka muridnya heran sekali dan ikan itu memiliki jalan. 

قَالَ: فَلَمَّا انۡتَهَيَا إِلَى الصَّخۡرَةِ، إِذَا هُمَا بِرَجُلٍ مُسَجًّى بِثَوۡبٍ، فَسَلَّمَ عَلَيۡهِ مُوسَى، قَالَ: وَأَنَّى بِأَرۡضِكَ السَّلَامُ؟ فَقَالَ: أَنَا مُوسَى، قَالَ: مُوسَى بَنِي إِسۡرَائِيلَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنۡ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمۡتَ رَشَدًا؟ قَالَ لَهُ الۡخَضِرُ: يَا مُوسَى إِنَّكَ عَلَى عِلۡمٍ مِنۡ عِلۡمِ اللهِ عَلَّمَكَهُ اللهُ لَا أَعۡلَمُهُ، وَأَنَا عَلَى عِلۡمٍ مِنۡ عِلۡمِ اللهِ عَلَّمَنِيهِ اللهُ لَا تَعۡلَمُهُ. قَالَ: بَلۡ أَتَّبِعُكَ، قَالَ: فَإِنِ اتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡأَلۡنِي عَنۡ شَىۡءٍ حَتَّى أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرًا. 

Perawi berkata: Ketika keduanya sampai di batu tadi, ternyata keduanya menjumpai seorang pria yang berselimutkan baju. Musa mengucapkan salam kepadanya. Pria itu berkata, “Bagaimana bisa di tempatmu ada ucapan salam?” 

Musa berkata, “Aku Musa.” 

Pria itu bertanya, “Musa bani Israil?” 

Musa menjawab, “Iya.” Musa melanjutkan, “Apakah aku boleh mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” 

Al-Khadhir berkata kepada Musa, “Wahai Musa, sesungguhnya engkau memiliki ilmu dari ilmu Allah yang telah Allah ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya. Aku pun memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Allah ajarkan kepadaku dan tidak engkau ketahui.” 

Musa berkata, “Aku tetap mengikutimu.” 

Al-Khadhir berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka engkau tidak boleh bertanya sesuatu pun kepadaku hingga aku sendiri yang menceritakannya kepadamu.” 

فَانۡطَلَقَا يَمۡشِيَانِ عَلَى السَّاحِلِ، فَمَرَّتۡ بِهِمَا سَفِينَةٌ فَعُرِفَ الۡخَضِرُ، فَحَمَلُوهُمۡ فِي سَفِينَتِهِمۡ بِغَيۡرِ نَوۡلٍ، يَقُولُ: بِغَيۡرِ أَجۡرٍ، فَرَكِبَا السَّفِينَةَ. قَالَ: وَوَقَعَ عُصۡفُورٌ عَلَى حَرۡفِ السَّفِينَةِ، فَغَمَسَ مِنۡقَارَهُ الۡبَحۡرَ، فَقَالَ الۡخَضِرُ لِمُوسَى: مَا عِلۡمُكَ وَعِلۡمِي وَعِلۡمُ الۡخَلَائِقِ فِي عِلۡمِ اللهِ، إِلَّا مِقۡدَارُ مَا غَمَسَ هَٰذَا الۡعُصۡفُورُ مِنۡقَارَهُ، قَالَ: فَلَمۡ يَفۡجَأۡ مُوسَى، إِذۡ عَمَدَ الۡخَضِرُ إِلَى قَدُومٍ فَخَرَقَ السَّفِينَةَ، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: قَوۡمٌ حَمَلُونَا بِغَيۡرِ نَوۡلٍ، عَمَدۡتَ إِلَى سَفِينَتِهِمۡ فَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا ﴿لَقَدۡ جِئۡتَ﴾ [٧١] الۡآيَةَ، 

Keduanya berangkat berjalan di tepi pantai. Ada sebuah kapal melewati keduanya. Ada orang (di kapal) yang mengenali Al-Khadhir. Maka pemilik kapal mengangkut mereka berdua tanpa upah. Keduanya pun naik ke kapal. 

Perawi berkata: Seekor burung hinggap di tepi kapal lalu mencelupkan paruhnya ke laut. 

Al-Khadhir berkata kepada Musa, “Tidaklah ilmumu, ilmuku, dan ilmu semua makhluk di dalam ilmu Allah, kecuali seukuran burung ini mencelupkan paruhnya.” 

Perawi berkata: Musa belum sempat mencegah, tiba-tiba Al-Khadhir sudah bangkit menuju beliung lalu melubangi kapal itu. 

Musa berkata kepada Al-Khadhir, “Ada orang yang mengangkut kita tanpa upah, engkau malah sengaja melubangi kapal mereka agar menenggelamkan penumpangnya. Sungguh engkau telah berbuat,” (QS. Al-Kahfi: 71) sampai akhir ayat. 

فَانۡطَلَقَا إِذَا هُمَا بِغُلَامٍ يَلۡعَبُ مَعَ الۡغِلۡمَانِ، فَأَخَذَ الۡخَضِرُ بِرَأۡسِهِ فَقَطَعَهُ، قَالَ لَهُ مُوسَى: أَقَتَلۡتَ نَفۡسًا زَكِيَّةً بِغَيۡرِ نَفۡسٍ، لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡئًا نُكۡرًا، قَالَ: أَلَمۡ أَقُلۡ لَكَ إِنَّكَ لَنۡ تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرًا - إِلَى قَوۡلِهِ - فَأَبَوۡا أَنۡ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنۡ يَنۡقَضَّ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا فَأَقَامَهُ، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: إِنَّا دَخَلۡنَا هَٰذِهِ الۡقَرۡيَةَ فَلَمۡ يُضَيِّفُونَا وَلَمۡ يُطۡعِمُونَا، لَوۡ شِئۡتَ لَاتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرًا، قَالَ: هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَ، سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِعۡ عَلَيۡهِ صَبۡرًا. 

Keduanya melanjutkan perjalanan. Mereka bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain bersama anak-anak yang lain. Al-Khadhir mengambil kepala anak itu lalu memotongnya. Musa berkata kepada Al-Khadhir, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci bukan karena (membunuh) jiwa lain? Sungguh engkau telah berbuatu sesuatu yang mungkar.” 

Al-Khadhir berkata, “Bukankah aku katakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?” 

Hingga ucapannya—lalu mereka enggan untuk menjamu keduanya. Keduanya mendapati di negeri itu ada sebuah dinding yang hampir roboh. Beliau memberi isyarat dengan tangannya begini, lalu beliau menegakkannya. 

Musa berkata kepada Al-Khadhir, “Sesungguhnya kita masuk negeri ini, namun mereka tidak mau menjamu dan memberi kita makan. Kalau engkau mau, engkau bisa mengambil upah atas itu.” 

Al-Khadhir berkata, “Ini adalah perpisahan antara aku dengan engkau. Aku akan beritakan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar atasnya.” 

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: وَدِدۡنَا أَنَّ مُوسَى صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيۡنَا مِنۡ أَمۡرِهِمَا). قَالَ: وَكَانَ ابۡنُ عَبَّاسٍ يَقۡرَأُ: وَكَانَ أَمَامَهُمۡ مَلِكٌ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ صَالِحَةٍ غَصۡبًا، وَأَمَّا الۡغُلَامُ فَكَانَ كَافِرًا. [طرفه في: ٧٤]. 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kami sangat ingin Musa bersabar hingga akan diceritakan kepada kami kisah mereka berdua.” 

Perawi berkata: Ibnu ‘Abbas membaca dengan qiraah yang artinya, “Di depan mereka ada seorang raja yang mengambil paksa setiap kapal yang bagus. Adapun anak itu, maka dia kafir.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 749

٧٤٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سِنَانٍ قَالَ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحٌ قَالَ: حَدَّثَنَا هِلَالُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّى لَنَا النَّبِيُّ ﷺ، ثُمَّ رَقَا الۡمِنۡبَرَ، فَأَشَارَ بِيَدَيۡهِ قِبَلَ قِبۡلَةِ الۡمَسۡجِدِ، ثُمَّ قَالَ: (لَقَدۡ رَأَيۡتُ الۡآنَ، مُنۡذُ صَلَّيۡتُ لَكُمُ الصَّلَاةَ، الۡجَنَّةَ وَالنَّارَ، مُمَثَّلَتَيۡنِ فِي قِبۡلَةِ هَٰذَا الۡجِدَارِ، فَلَمۡ أَرَ كَالۡيَوۡمِ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ). ثَلَاثًا. [طرفه في: ٩٣]. 

749. Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Fulaih menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hilal bin ‘Ali menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Beliau berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—salat mengimami kami kemudian beliau naik mimbar. Beliau memberi isyarat dengan kedua tangannya ke arah kiblat masjid kemudian bersabda, “Sungguh aku melihat sekarang—sejak aku mengimami kalian salat tadi—janah dan neraka digambarkan di arah kiblat di tembok ini. Aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 540

١١ - بَابُ وَقۡتِ الظُّهۡرِ عِنۡدَ الزَّوَالِ
11. Bab waktu Zuhur ketika matahari mulai turun


وَقَالَ جَابِرٌ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي بِالۡهَاجِرَةِ. 

Jabir berkata: Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—salat di pertengahan siang ketika suhu panas. 

٥٤٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمۡسُ، فَصَلَّى الظُّهۡرَ، فَقَامَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ، فَذَكَرَ السَّاعَةَ، فَذَكَرَ أَنَّ فِيهَا أُمُورًا عِظَامًا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَسۡأَلَ عَنۡ شَىۡءٍ فَلۡيَسۡأَلۡ، فَلَا تَسۡأَلُونِي عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا أَخۡبَرۡتُكُمۡ مَا دُمۡتُ فِي مَقَامِي هَٰذَا). فَأَكۡثَرَ النَّاسُ فِي الۡبُكَاءِ، وَأَكۡثَرَ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي). فَقَامَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ حُذَافَةَ السَّهۡمِيُّ فَقَالَ: مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). ثُمَّ أَكۡثَرَ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي). فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، فَسَكَتَ. ثُمَّ قَالَ: (عُرِضَتۡ عَلَىَّ الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرۡضِ هَٰذَا الۡحَائِطِ، فَلَمۡ أَرَ كَالۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ). [طرفه في: ٩٣]. 

540. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Anas bin Malik mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar ketika matahari mulai turun, lalu beliau salat Zuhur. Kemudian beliau berdiri di atas mimbar lalu menyebutkan hari kiamat. Beliau menyebutkan bahwa di saat itu ada perkara-perkara yang besar. 

Kemudian beliau bersabda, “Siapa saja yang ingin bertanya tentang sesuatu, maka silakan bertanya. Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku akan kabarkan kepada kalian selama aku berada di tempat berdiriku ini.” Kebanyakan manusia sedang menangis dan beliau mengulang-ulang mengatakan, “Bertanyalah kepadaku!” 

Lalu ‘Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi bangkit seraya bertanya, “Siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” Kemudian beliau mengulang-ulang ucapan, “Bertanyalah kepadaku!” 

‘Umar berlutut seraya mengatakan, “Kami rida Allah sebagai tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi.” 

Maka Rasulullah diam. Kemudian beliau bersabda, “Tadi, janah dan neraka diperlihatkan kepadaku di sisi dinding ini. Aku belum pernah melihat pemandangan semisal kebaikan dan kejelekan itu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7291

٣ - بَابُ مَا يُكۡرَهُ مِنۡ كَثۡرَةِ السُّؤَالِ وَتَكَلُّفِ مَا لَا يَعۡنِيهِ
3. Bab hal yang dibenci dari banyak bertanya dan membebani diri dengan perkara yang tidak berguna


٧٢٩١ - حَدَّثَنَا يُوسُفُ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ بُرَيۡدِ بۡنِ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى الۡأَشۡعَرِيِّ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنۡ أَشۡيَاءَ كَرِهَهَا، فَلَمَّا أَكۡثَرُوا عَلَيۡهِ الۡمَسۡأَلَةَ غَضِبَ، وَقَالَ: (سَلُونِي). فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). ثُمَّ قَامَ آخَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنۡ أَبِي؟ فَقَالَ: (أَبُوكَ سَالِمٌ مَوۡلَى شَيۡبَةَ). فَلَمَّا رَأَى عُمَرُ مَا بِوَجۡهِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنَ الۡغَضَبِ قَالَ: إِنَّا نَتُوبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. [طرفه في: ٩٢]. 

7291. Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid bin Abu Burdah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang beliau benci. 

Ketika orang-orang banyak bertanya kepada beliau, beliau marah dan bersabda, “Tanyalah kepadaku!” 

Seseorang berdiri seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” 

Kemudian orang yang lain berdiri seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah Salim maula Syaibah.” 

Tatkala ‘Umar melihat kemarahan di raut wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau berkata, “Sungguh kami bertobat kepada Allah azza wajalla.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6112

٦١١٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: أَخۡبَرَنَا رَبِيعَةُ بۡنُ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: (عَرِّفۡهَا سَنَةً، ثُمَّ اعۡرِفۡ وِكَاءَهَا وَعِفَاصَهَا، ثُمَّ اسۡتَنۡفِقۡ بِهَا، فَإِنۡ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيۡهِ). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَضَالَّةُ الۡغَنَمِ؟ قَالَ: (خُذۡهَا، فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَضَالَّةُ الۡإِبِلِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى احۡمَرَّتۡ وَجۡنَتَاهُ، أَوِ احۡمَرَّ وَجۡهُهُ، ثُمَّ قَالَ: (مَالَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا حِذَاؤُهَا وَسِقَاؤُهَا، حَتَّى يَلۡقَاهَا رَبُّهَا). 

6112. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami: Rabi’ah bin Abu ‘Abdurrahman mengabarkan kepada kami dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang barang hilang yang ditemukan. 

Beliau bersabda, “Umumkan selama setahun! Kemudian ingatlah tali pengikat dan bungkusnya, lalu manfaatkanlah! Jika pemiliknya datang, serahkan kepadanya.” 

Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang hilang?” 

Beliau menjawab, “Ambillah ia! Karena ia milikmu, atau saudaramu, atau untuk serigala.” 

Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta yang hilang?” 

Zaid berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—marah hingga kedua keningnya memerah atau wajahnya memerah. Kemudian beliau bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada ‘sepatu’ dan persediaan airnya hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Shahih Al-Bukhari - 45. Kitab tentang Barang Hilang

٤٥ - كِتَابٌ فِي اللُّقَطَةِ
45. Kitab tentang Barang Hilang

1. Bab apabila pemilik barang hilang mengabarkan ciri-cirinya dengan tepat, maka barang itu diserahkan kepadanya
Hadis nomor 2426
2. Bab unta yang hilang
Hadis nomor 2427
3. Bab kambing yang hilang
Hadis nomor 2428
4. Bab apabila pemilik barang tidak didapati setelah satu tahun, maka barang itu milik penemunya
Hadis nomor 2429
5. Bab apabila mendapati sebatang kayu di laut, atau cambuk, atau yang semacamnya
Hadis nomor 2430
6. Bab apabila menemukan kurma di jalan
Hadis nomor 2431
Hadis nomor 2432
7. Bab bagaimana cara mengumumkan barang hilang penduduk Makkah
Hadis nomor 2433
Hadis nomor 2434
8. Bab binatang ternak tidak boleh diperah susunya tanpa seizin pemiliknya
Hadis nomor 2435
9. Bab apabila pemilik barang yang hilang datang lebih dari satu tahun, maka barangnya diserahkan kepadanya karena barang itu hanya titipan di sisinya
Hadis nomor 2436
10. Bab apakah seseorang boleh memungut barang hilang dan tidak membiarkannya terlantar agar tidak diambil oleh orang yang tidak berhak?
Hadis nomor 2437
11. Bab barang siapa mengumumkan barang hilang dan dia tidak menyerahkannya kepada penguasa
Hadis nomor 2438
12. Bab
Hadis nomor 2439

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5292

٢٢ - بَابُ حُكۡمِ الۡمَفۡقُودِ فِي أَهۡلِهِ وَمَالِهِ
22. Bab hukum orang hilang dalam hal keluarga dan hartanya


وَقَالَ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ: إِذَا فُقِدَ فِي الصَّفِّ عِنۡدَ الۡقِتَالِ تَرَبَّصُ امۡرَأَتُهُ سَنَةً. وَاشۡتَرَى ابۡنُ مَسۡعُودٍ جَارِيَةً، وَالۡتَمَسَ صَاحِبَهَا سَنَةً، فَلَمۡ يَجِدۡهُ، وَفُقِدَ، فَأَخَذَ يُعۡطِي الدِّرۡهَمَ وَالدِّرۡهَمَيۡنِ، وَقَالَ: اللّٰهُمَّ عَنۡ فُلَانٍ فَإِنۡ أَبَى فُلَانٌ فَلِي وَعَلَيَّ، وَقَالَ: هَٰكَذَا فَافۡعَلُوا بِاللُّقَطَةِ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ نَحۡوَهُ. وَقَالَ الزُّهۡرِيُّ فِي الۡأَسِيرِ يُعۡلَمُ مَكَانُهُ: لَا تَتَزَوَّجُ امۡرَأَتُهُ، وَلَا يُقۡسَمُ مَالُهُ، فَإِذَا انۡقَطَعَ خَبَرُهُ فَسُنَّتُهُ سُنَّةُ الۡمَفۡقُودِ. 

Ibnu Al-Musayyab berkata: Apabila seorang pria hilang di dalam barisan ketika perang, maka istrinya menunggu selama setahun. 

Ibnu Mas’ud membeli seorang budak wanita lalu beliau mencari pemiliknya selama setahun, namun beliau tidak menemukannya dan dianggap hilang. Lalu beliau mulai memberikan sedekah satu dan dua dirham. Beliau berkata, “Ya Allah, ini dari si Polan. Jika si Polan tidak mau, maka pahalanya untukku dan tanggunganku untuk mengganti harganya.” Beliau berkata, “Lakukanlah seperti ini dalam hal barang hilang.” 

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan semisal itu. 

Az-Zuhri berkata tentang tawanan yang diketahui tempatnya, “Istrinya tidak boleh menikah lagi. Hartanya tidak boleh dibagi-bagi. Jika telah terputus kabar darinya, maka aturan yang berlaku padanya adalah hukum orang hilang.” 

٥٢٩٢ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ عَنۡ ضَالَّةِ الۡغَنَمِ، فَقَالَ: (خُذۡهَا، فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). وَسُئِلَ عَنۡ ضَالَّةِ الۡإِبِلِ، فَغَضِبَ وَاحۡمَرَّتۡ وَجۡنَتَاهُ، وَقَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا الۡحِذَاءُ وَالسِّقَاءُ، تَشۡرَبُ الۡمَاءَ، وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ، حَتَّى يَلۡقَاهَا رَبُّهَا). وَسُئِلَ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: (اعۡرِفۡ وِكَاءَهَا وَعِفَاصَهَا، وَعَرِّفۡهَا سَنَةً، فَإِنۡ جَاءَ مَنۡ يَعۡرِفُهَا، وَإِلَّا فَاخۡلِطۡهَا بِمَالِكَ). قَالَ سُفۡيَانُ: فَلَقِيتُ رَبِيعَةَ بۡنَ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، قَالَ سُفۡيَانُ: وَلَمۡ أَحۡفَظۡ عَنۡهُ شَيۡئًا غَيۡرَ هَٰذَا. فَقُلۡتُ: أَرَأَيۡتَ حَدِيثَ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ فِي أَمۡرِ الضَّالَّةِ، هُوَ عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ؟ قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ يَحۡيَى: وَيَقُولُ رَبِيعَةُ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ. قَالَ سُفۡيَانُ: فَلَقِيتُ رَبِيعَةَ فَقُلۡتُ لَهُ. [طرفه في: ٩١]. 

5292. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari Yazid maula Al-Munba’its, bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang kambing hilang yang ditemukan. Beliau bersabda, “Ambillah! Karena kambing itu milikmu, atau milik saudaramu, atau untuk serigala.” 

Beliau ditanya tentang unta hilang yang ditemukan. Lalu beliau marah dan kedua keningnya memerah. Beliau bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada ‘sepatu’ dan persediaan air. Dia bisa minum air dan makan daun di pohon hingga ditemukan oleh pemiliknya.” 

Beliau ditanya tentang barang hilang yang ditemukan. Beliau bersabda, “Ingatlah tali pengikat dan bungkusnya, kemudian umumkan selama satu tahun. Jika ada orang yang mengetahui ciri-cirinya, maka serahkan kepadanya. Jika tidak ada, maka campurkanlah dengan hartamu.” 

Sufyan berkata: Lalu aku berjumpa dengan Rabi’ah bin Abu ‘Abdurrahman. Sufyan berkata: Aku tidak menghafal sesuatupun darinya selain ini. Aku bertanya: Apakah engkau berpendapat bahwa hadis Yazid maula Al-Munba’its dalam urusan barang hilang adalah dari Zaid bin Khalid? Beliau menjawab: Iya. Yahya berkata: Rabi’ah berkata dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid. Sufyan berkata: Lalu aku menjumpai Rabi’ah lalu aku katakan kepadanya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2438

١١ - بَابُ مَنۡ عَرَّفَ اللُّقَطَةَ وَلَمۡ يَدۡفَعۡهَا إِلَى السُّلۡطَانِ
11. Bab barang siapa mengumumkan barang hilang dan dia tidak menyerahkannya kepada penguasa


٢٤٣٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ رَبِيعَةَ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ أَعۡرَابِيًّا، سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ اللُّقَطَةِ، قَالَ: (عَرِّفۡهَا سَنَةً، فَإِنۡ جَاءَ أَحَدٌ يُخۡبِرُكَ بِعِفَاصِهَا وَوِكَائِهَا، وَإِلَّا فَاسۡتَنۡفِقۡ بِهَا). وَسَأَلَهُ عَنۡ ضَالَّةِ الۡإِبِلِ، فَتَمَعَّرَ وَجۡهُهُ قَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ الۡمَاءَ وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ، دَعۡهَا حَتَّى يَجِدَهَا رَبُّهَا). وَسَأَلَهُ عَنۡ ضَالَّةِ الۡغَنَمِ، فَقَالَ: (هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). [طرفه في: ٩١]. 

2438. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Rabi’ah, dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhu—bahwa seorang arab badui bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang barang hilang yang ditemukannya. 

Nabi bersabda, “Umumkan selama setahun! Jika ada seseorang yang mengabarkan kepadamu tentang bungkus dan tali pengikatnya (maka serahkan kepadanya). Jika tidak ada, maka engkau bisa membelanjakannya.” 

Orang itu bertanya kepada beliau tentang unta yang hilang. Raut wajah beliau berubah. Beliau bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada persediaan air dan ‘sepatu’nya. Dia bisa mendatangi air dan makan daun di pohon. Biarkan dia hingga ditemukan oleh pemiliknya.” 

Orang itu bertanya kepada beliau tentang kambing yang hilang. Beliau bersabda, “Kambing itu milikmu, atau milik saudaramu, atau untuk serigala.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2436

٩ - بَابٌ إِذَا جَاءَ صَاحِبُ اللُّقَطَةِ بَعۡدَ سَنَةٍ رَدَّهَا عَلَيۡهِ، لِأَنَّهَا وَدِيعَةٌ عِنۡدَهُ
9. Bab apabila pemilik barang yang hilang datang lebih dari satu tahun, maka barangnya diserahkan kepadanya karena barang itu hanya titipan di sisinya


٢٤٣٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ رَبِيعَةَ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ اللُّقَطَةِ، قَالَ: (عَرِّفۡهَا سَنَةً، ثُمَّ اعۡرِفۡ وِكَاءَهَا وَعِفَاصَهَا، ثُمَّ اسۡتَنۡفِقۡ بِهَا، فَإِنۡ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيۡهِ) قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَضَالَّةُ الۡغَنَمِ؟ قَالَ: (خُذۡهَا، فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَضَالَّةُ الۡإِبِلِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى احۡمَرَّتۡ وَجۡنَتَاهُ، أَوِ احۡمَرَّ وَجۡهُهُ، ثُمَّ قَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا حِذَاؤُهَا وَسِقَاؤُهَا، حَتَّى يَلۡقَاهَا رَبُّهَا). [طرفه في: ٩١]. 

2436. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Rabi’ah bin Abu ‘Abdurrahman, dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani—radhiyallahu ‘anhu—bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang barang hilang yang dia temukan. 

Beliau bersabda, “Umumkan selama satu tahun. Kenalilah bungkus dan tali pengikatnya. Setelah setahun, engkau bisa membelanjakannya. Jika pemiliknya datang, maka serahkanlah kepadanya.” 

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang hilang?” 

Beliau bersabda, “Ambillah! Karena dia milikmu atau milik saudaramu atau untuk serigala.” 

Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta yang hilang?” 

Zaid berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—marah hingga kedua keningnya memerah atau wajahnya memerah. Kemudian beliau bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada ‘sepatu’ dan persediaan airnya hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2429

٤ - بَابٌ إِذَا لَمۡ يُوجَدۡ صَاحِبُ اللُّقَطَةِ بَعۡدَ سَنَةٍ فَهِيَ لِمَنۡ وَجَدَهَا
4. Bab apabila pemilik barang tidak didapati setelah satu tahun, maka barang itu milik penemunya


٢٤٢٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ رَبِيعَةَ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَسَأَلَهُ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: (اعۡرِفۡ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ عَرِّفۡهَا سَنَةً، فَإِنۡ جَاءَ صَاحِبُهَا، وَإِلَّا فَشَأۡنَكَ بِهَا). قَالَ: فَضَالَّةُ الۡغَنَمِ؟ قَالَ: (هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ: فَضَالَّةُ الۡإِبِلِ؟ قَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ الۡمَاءَ وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلۡقَاهَا رَبُّهَا). [طرفه في: ٩١]. 

2429. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Rabi’ah bin Abu ‘Abdurrahman, dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Ada seseorang datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya kepada beliau tentang barang hilang yang dia temukan. 

Rasulullah bersabda, “Perhatikan bungkus dan tali pengikatnya kemudian umumkan selama setahun. Jika pemiliknya datang (maka serahkan kepadanya). Jika tidak, maka silakan engkau manfaatkan.” 

Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan kambing yang hilang?” 

Rasulullah bersabda, “Dia milikmu atau milik saudaramu atau untuk serigala.” 

Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan unta yang hilang?” 

Rasulullah bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada persediaan air dan ‘sepatu’nya. Unta bisa mendatangi air dan makan daun di pohon hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2428

٣ - بَابُ ضَالَّةِ الۡغَنَمِ
3. Bab kambing yang hilang


٢٤٢٨ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ: أَنَّهُ سَمِعَ زَيۡدَ بۡنَ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَزَعَمَ أَنَّهُ قَالَ: (اعۡرِفۡ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ عَرِّفۡهَا سَنَةً). يَقُولُ يَزِيدُ: إِنۡ لَمۡ تُعۡتَرَفِ اسۡتَنۡفَقَ بِهَا صَاحِبُهَا، وَكَانَتۡ وَدِيعَةً عِنۡدَهُ. قَالَ يَحۡيَى: فَهَٰذَا الَّذِي لَا أَدۡرِي أَفِي حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ هُوَ أَمۡ شَىۡءٌ مِنۡ عِنۡدِهِ. ثُمَّ قَالَ: كَيۡفَ تَرَى فِي ضَالَّةِ الۡغَنَمِ؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (خُذۡهَا، فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ يَزِيدُ: وَهِىَ تُعَرَّفُ أَيۡضًا. ثُمَّ قَالَ: كَيۡفَ تَرَى فِي ضَالَّةِ الۡإِبِلِ؟ قَالَ: فَقَالَ: (دَعۡهَا فَإِنَّ مَعَهَا حِذَاءَهَا وَسِقَاءَهَا، تَرِدُ الۡمَاءَ وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَجِدَهَا رَبُّهَا). [طرفه في: ٩١]. 

2428. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku dari Yahya, dari Yazid maula Al-Munba’its, bahwa beliau mendengar Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang barang temuan. 

Khalid menyatakan bahwa Nabi bersabda, “Kenali bungkus dan tali pengikatnya kemudian umumkan selama satu tahun!” 

Yazid berkata: Jika tidak ada yang mengaku, maka penemunya boleh membelanjakannya dan barang itu menjadi titipan di sisinya. Yahya berkata: Ini yang tidak aku ketahui apakah termasuk hadis Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—atau perkataan dari sisinya. 

Kemudian orang tadi bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang kambing yang hilang?” 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ambillah! Karena dia milikmu atau milik saudaramu atau untuk serigala.” 

Yazid berkata: Kambing yang hilang pun juga diumumkan. 

Kemudian orang tadi bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang unta yang hilang?” 

Nabi bersabda, “Biarkan dia! Karena bersamanya ada ‘sepatu’ dan persediaan airnya. Dia bisa mendatangi air dan makan daun di pohon hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2427

٢ - بَابُ ضَالَّةِ الۡإِبِلِ
2. Bab unta yang hilang


٢٤٢٧ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَبَّاسٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ رَبِيعَةَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ النَّبِيَّ ﷺ فَسَأَلَهُ عَمَّا يَلۡتَقِطُهُ، فَقَالَ: (عَرِّفۡهَا سَنَةً، ثُمَّ احۡفَظۡ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، فَإِنۡ جَاءَ أَحَدٌ يُخۡبِرُكَ بِهَا وَإِلَّا فَاسۡتَنۡفِقۡهَا). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَضَالَّةُ الۡغَنَمِ؟ قَالَ: (لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ: ضَالَّةُ الۡإِبِلِ؟ فَتَمَعَّرَ وَجۡهُ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا حِذَاؤُهَا وَسِقَاؤُهَا، تَرِدُ الۡمَاءَ وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ). [طرفه في: ٩١]. 

2427. ‘Amr bin ‘Abbas telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Rabi’ah: Yazid maula Al-Munba’its menceritakan kepadaku dari Zaid bin Khalid Al-Juhani—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Seorang arab badui datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya kepada beliau tentang barang temuannya. 

Nabi bersabda, “Umumkan selama satu tahun! Kemudian hafalkan bungkus dan tali pengikatnya. Jika ada seseorang yang mengabarkan kepadamu (ciri-ciri barang temuan, maka serahkanlah kepadanya). Jika tidak ada, maka engkau boleh membelanjakannya.” 

Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang hilang?” 

Nabi bersabda, “Milikmu atau milik saudaramu atau untuk serigala.” 

Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan unta yang hilang?” 

Raut wajah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berubah lalu bersabda, “Apa urusanmu dengan unta itu? Bersamanya ada telapak kaki dan persediaan airnya. Dia bisa mendatangi air dan makan daun di pohon.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2372

٢٣٧٢ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ رَبِيعَةَ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى الۡمُنۡبَعِثِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَسَأَلَهُ عَنِ اللُّقَطَةِ، فَقَالَ: (اعۡرِفۡ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ عَرِّفۡهَا سَنَةً، فَإِنۡ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَشَأۡنَكَ بِهَا). قَالَ: فَضَالَّةُ الۡغَنَمِ؟ قَالَ: (هِيَ لَكَ أَوۡ لِأَخِيكَ أَوۡ لِلذِّئۡبِ). قَالَ: فَضَالَّةُ الۡإِبِلِ؟ قَالَ: (مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ الۡمَاءَ وَتَأۡكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلۡقَاهَا رَبُّهَا). [طرفه في: ٩١]. 

2372. Isma’il telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Rabi’ah bin Abu ‘Abdurrahman, dari Yazid maula Al-Munba’its, dari Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya kepada beliau tentang barang temuan. 

Rasulullah bersabda, “Perhatikan bungkus dan tali pengikatnya, kemudian umumkan selama satu tahun. Jika pemiliknya datang (maka kembalikan kepadanya) dan jika tidak, maka barang itu menjadi milikmu.” 

Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan kambing yang aku temukan?” 

Rasulullah bersabda, “Kambing itu milikmu atau milik saudaramu atau untuk serigala.” 

Orang itu bertanya, “Bagaimana dengan unta yang aku temukan?” 

Rasulullah bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya ada tempat minum dan telapak kakinya. Unta itu bisa mendatangi air dan memakan daun di pohon hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7159

٧١٥٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسِ بۡنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ الۡأَنۡصَارِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي وَاللهِ لَأَتَأَخَّرُ عَنۡ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ، مِنۡ أَجۡلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فِيهَا، قَالَ: فَمَا رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ قَطُّ أَشَدَّ غَضَبًا فِي مَوۡعِظَةٍ مِنۡهُ يَوۡمَئِذٍ، ثُمَّ قَالَ: (يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ مِنۡكُمۡ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمۡ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلۡيُوجِزۡ، فَإِنَّ فِيهِمُ الۡكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الۡحَاجَةِ). [طرفه في: ٩٠]. 

7159. Muhammad bin Muqatil telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Isma’il bin Abu Khalid mengabarkan kepada kami dari Qais bin Abu Hazim, dari Abu Mas’ud Al-Anshari. 

Beliau mengatakan: Seseorang datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku—demi Allah—sengaja tidak mengikuti jemaah salat Subuh karena si Polan yang memperpanjang salat mengimami kami.” 

Abu Mas’ud berkata: Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lebih hebat kemarahannya ketika mauizah daripada hari itu. Kemudian beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sungguh di antara kalian ada yang membuat orang lari. Siapa pun dari kalian yang salat mengimami orang-orang, maka ringkaslah! Karena di tengah-tengah mereka ada orang yang sudah tua, lemah, dan memiliki hajat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6110

٦١١٠ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ: حَدَّثَنَا قَيۡسُ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنۡ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ، مِنۡ أَجۡلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا، قَالَ: فَمَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَطُّ أَشَدَّ غَضَبًا فِي مَوۡعِظَةٍ مِنۡهُ يَوۡمَئِذٍ، قَالَ: فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ مِنۡكُمۡ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمۡ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلۡيَتَجَوَّزۡ، فَإِنَّ فِيهِمُ الۡمَرِيضَ وَالۡكَبِيرَ وَذَا الۡحَاجَةِ). [طرفه في: ٩٠]. 

6110. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid: Qais bin Abu Hazim menceritakan kepada kami dari Abu Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. 

Beliau mengatakan: Seseorang datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Sungguh aku sengaja tidak mengikuti salat Subuh berjemaah karena si Polan yang memperpanjang salat mengimami kami.” 

Abu Mas’ud berkata: Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lebih hebat kemarahannya ketika mauizah daripada hari itu. Abu Mas’ud berkata: Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sungguh di antara kalian ada yang membuat orang lari. Siapa saja dari kalian yang salat mengimami orang-orang, maka ringankanlah! Karena di tengah-tengah mereka ada orang yang sakit, tua, dan memiliki hajat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 704

٦٣ - بَابُ مَنۡ شَكَا إِمَامَهُ إِذَا طَوَّلَ
63. Bab barang siapa mengeluhkan imamnya ketika memperpanjang salat


وَقَالَ أَبُو أُسَيۡدٍ: طَوَّلۡتَ بِنَا يَا بُنَيَّ. 

Abu Usaid berkata, “Panjangkanlah salat mengimami kami wahai putraku!” 

٧٠٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسِ بۡنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنِ الصَّلَاةِ فِي الۡفَجۡرِ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فُلَانٌ فِيهَا، فَغَضِبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، مَا رَأَيۡتُهُ غَضِبَ فِي مَوۡضِعٍ كَانَ أَشَدَّ غَضَبًا مِنۡهُ يَوۡمَئِذٍ، ثُمَّ قَالَ: (يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ مِنۡكُمۡ مُنَفِّرِينَ، فَمَنۡ أَمَّ النَّاسَ فَلۡيَتَجَوَّزۡ، فَإِنَّ خَلۡفَهُ الضَّعِيفَ وَالۡكَبِيرَ وَذَا الۡحَاجَةِ). [طرفه في: ٩٠]. 

704. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Abu Mas’ud. Beliau berkata: 

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak ikut salat berjamaah di waktu subuh karena si Polan memperpanjang salat mengimami kami di waktu itu.” 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—marah. Aku tidak pernah melihat beliau marah dalam suatu kesempatan yang lebih hebat kemarahannya daripada hari itu. Kemudian beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat orang lari. Siapa saja yang mengimami orang-orang, maka ringankanlah, karena di belakangnya ada orang yang lemah, tua, dan memiliki hajat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 702

٦١ - بَابُ تَخۡفِيفِ الۡإِمَامِ فِي الۡقِيَامِ، وَإِتۡمَامِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
61. Bab imam memperingan ketika berdiri dan menyempurnakan rukuk dan sujud


٧٠٢ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: سَمِعۡتُ قَيۡسًا قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو مَسۡعُودٍ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنۡ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ مِنۡ أَجۡلِ فُلَانٍ، مِمَّا يُطِيلُ بِنَا، فَمَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي مَوۡعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنۡهُ يَوۡمَئِذٍ، ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ مِنۡكُمۡ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمۡ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلۡيَتَجَوَّزۡ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالۡكَبِيرَ وَذَا الۡحَاجَةِ). [طرفه في: ٩٠]. 

702. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Zuhair menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Qais berkata: Abu Mas’ud mengabarkan kepadaku bahwa seseorang berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sengaja tidak ikut salat subuh berjemaah karena si Polan yang memperpanjang salat mengimami kami.” 

Aku tidak pernah melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika memberi mauizah lebih marah daripada hari itu. Lalu beliau bersabda, “Sungguh di antara kalian ada yang membuat orang lari. Siapa saja dari kalian yang salat mengimami orang-orang, maka ringankanlah! Karena di tengah-tengah mereka ada orang yang lemah, orang yang tua, dan orang yang memiliki hajat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7287

٧٢٨٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ الۡمُنۡذِرِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ ابۡنَةِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهَا قَالَتۡ: أَتَيۡتُ عَائِشَةَ حِينَ خَسَفَتِ الشَّمۡسُ وَالنَّاسُ قِيَامٌ، وَهِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّي فَقُلۡتُ: مَا لِلنَّاسِ؟ فَأَشَارَتۡ بِيَدِهَا نَحۡوَ السَّمَاءِ فَقَالَتۡ: سُبۡحَانَ اللهِ، فَقُلۡتُ: آيَةٌ؟ قَالَتۡ بِرَأۡسِهَا: أَنۡ نَعَمۡ، فَلَمَّا انۡصَرَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَمِدَ اللهَ وَأَثۡنَى عَلَيۡهِ ثُمَّ قَالَ: (مَا مِنۡ شَىۡءٍ لَمۡ أَرَهُ إِلَّا وَقَدۡ رَأَيۡتُهُ فِي مَقَامِي، حَتَّى الۡجَنَّةَ وَالنَّارَ، وَأُوحِيَ إِلَىَّ أَنَّكُمۡ تُفۡتَنُونَ فِي الۡقُبُورِ قَرِيبًا مِنۡ فِتۡنَةِ الدَّجَّالِ، فَأَمَّا الۡمُؤۡمِنُ أَوِ الۡمُسۡلِمُ - لَا أَدۡرِي أَىَّ ذٰلِكَ قَالَتۡ أَسۡمَاءُ – فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ جَاءَنَا بِالۡبَيِّنَاتِ فَأَجَبۡنَا وَآمَنَّا، فَيُقَالُ: نَمۡ صَالِحًا عَلِمۡنَا أَنَّكَ مُوقِنٌ، وَأَمَّا الۡمُنَافِقُ أَوِ الۡمُرۡتَابُ - لَا أَدۡرِي أَىَّ ذٰلِكَ قَالَتۡ أَسۡمَاءُ – فَيَقُولُ: لَا أَدۡرِي، سَمِعۡتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيۡئًا فَقُلۡتُهُ). [طرفه في: ٨٦]. 

7287. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari Fathimah binti Al-Mundzir, dari Asma` putri Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhuma—bahwa beliau mengatakan: Aku datang ke tempat ‘Aisyah ketika gerhana matahari. Kaum muslimin sedang berdiri salat, demikian pula ‘Aisyah sedang berdiri salat. 

Aku bertanya, “Kenapa orang-orang?” 

‘Aisyah memberi isyarat dengan tangannya ke arah langit seraya mengatakan, “Mahasuci Allah.” 

Aku bertanya, “Suatu tanda?” 

‘Aisyah membenarkannya dengan isyarat kepalanya. 

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—selesai salat, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang belum aku melihatnya kecuali aku telah melihatnya di tempat berdiriku ini. Sampai pun janah dan neraka. Juga telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di dalam kubur, (dahsyatnya) mendekati cobaan Dajjal. 

Adapun seorang mukmin atau muslim—aku tidak tahu yang mana yang Asma` ucapkan—, maka dia akan berkata: (Pria itu adalah) Muhammad yang datang kepada kami membawa bukti-bukti nyata, lalu kami menyambut ajakannya dan beriman. 

Maka dikatakan kepadanya: Tidurlah dengan nyenyak. Kami sudah tahu bahwa engkau orang yang yakin. 

Adapun seorang munafik atau orang yang bimbang—aku tidak tahu mana yang Asma` ucapkan—, maka dia berkata: Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengucapkan sesuatu, lalu akupun mengucapkannya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2519 dan 2520

٣ - بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ مِنَ الۡعَتَاقَةِ فِي الۡكُسُوفِ وَالۡآيَاتِ
3. Bab disukainya membebaskan budak ketika gerhana dan tanda-tanda lainnya


٢٥١٩ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ مَسۡعُودٍ: حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بۡنُ قُدَامَةَ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ الۡمُنۡذِرِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَتۡ: أَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِالۡعَتَاقَةِ فِي كُسُوفِ الشَّمۡسِ. تَابَعَهُ عَلِيٌّ، عَنِ الدَّرَاوَرۡدِيِّ، عَنۡ هِشَامٍ. [طرفه في: ٨٦]. 

2519. Musa bin Mas’ud telah menceritakan kepada kami: Za`idah bin Qudamah menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari Fathimah binti Al-Mundzir, dari Asma` binti Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan membebaskan budak ketika gerhana matahari. ‘Ali mengiringi Musa bin Mas’ud dari Ad-Darawardi, dari Hisyam. 

٢٥٢٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ: حَدَّثَنَا عَثَّامٌ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ الۡمُنۡذِرِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَتۡ: كُنَّا نُؤۡمَرُ عِنۡدَ الۡخُسُوفِ بِالۡعَتَاقَةِ. [طرفه في: ٨٦]. 

2520. Muhammad bin Abu Bakr telah menceritakan kepada kami: ‘Atstsam menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Fathimah binti Al-Mundzir, dari Asma` binti Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Dahulu ketika gerhana, kami diperintahkan membebaskan budak.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1373

١٣٧٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَسۡمَاءَ بِنۡتَ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا تَقُولُ: قَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ خَطِيبًا، فَذَكَرَ فِتۡنَةَ الۡقَبۡرِ الَّتِي يَفۡتَتِنُ فِيهَا الۡمَرۡءُ، فَلَمَّا ذَكَرَ ذٰلِكَ ضَجَّ الۡمُسۡلِمُونَ ضَجَّةً. [طرفه في: ٨٦]. 

1373. Yahya bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa beliau mendengar Asma` binti Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri berkhotbah. Beliau menyebutkan ujian kubur yang akan dialami seseorang. Ketika beliau menyebutkan hal itu, kaum muslimin berteriak ketakutan.

Shahih Al-Bukhari - 5. Kitab Mandi

5. Kitab Mandi

1. Bab wudu sebelum mandi
2. Bab seorang pria mandi bersama istrinya
3. Bab mandi menggunakan satu sha’ air dan semisal itu
Hadis nomor 252
4. Bab barang siapa menuang ke kepala sebanyak tiga kali
Hadis nomor 255
5. Bab mandi satu kali
6. Bab barang siapa memulai dengan susu atau wewangian ketika mandi
7. Bab berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika mandi janabat
8. Bab mengusapkan tangan ke tanah agar lebih bersih
9. Bab apakah boleh orang yang junub memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum membasuhnya jika tidak ada kotoran di tangannya selain junubnya
10. Bab memberi jeda dalam mandi dan wudu
11. Bab barang siapa menuangkan dengan tangan kanan ke tangan kiri ketika mandi
12. Bab apabila telah berjimak terus mengulangi dan barang siapa yang berputar kepada para istrinya dalam satu kali mandi
Hadis nomor 267
13. Bab membasuh mazi dan wudu karenanya
14. Bab barang siapa memakai wewangian lalu mandi dan masih ada bekas wewangian itu
Hadis nomor 271
15. Bab menyela rambut sehingga dikira air telah membasahi kulit kepalanya lalu menuangkan air ke atasnya
Hadis nomor 272
Hadis nomor 273
16. Bab siapa yang berwudu ketika mandi junub kemudian membasuh seluruh tubuh dan tidak mengulangi mencuci anggota tubuh wudu sekali lagi
Hadis nomor 274
17. Bab apabila dia ingat di dalam masjid bahwa dia sedang junub, maka dia keluar dalam keadaan itu dan dia tidak bertayamum
18. Bab menyeka air menggunakan kedua tangan setelah mandi janabat
19. Bab barang siapa memulai dengan belahan rambut yang kanan ketika mandi
20. Bab barang siapa mandi tanpa busana di tempat yang tidak ada orang dan barang siapa yang bertabir maka bertabir afdal
21. Bab bertabir ketika mandi di dekat orang-orang
22. Bab jika seorang wanita mimpi basah
Hadis nomor 282
23. Bab keringat orang yang junub dan bahwa muslim itu tidak najis
Hadis nomor 283
24. Bab orang yang sedang junub keluar dan berjalan di pasar dan selainnya
Hadis nomor 285
25. Bab keberadaan orang yang junub di dalam rumah apabila dia sudah wudu sebelum mandi
26. Bab tidurnya orang yang junub
Hadis nomor 287
27. Bab orang yang junub berwudu kemudian tidur
28. Bab apabila dua khitan telah bersentuhan
Hadis nomor 291
29. Bab membasuh apa yang kena cairan dari farji istri