Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4372

٧٢ – بَابُ وَفۡدِ بَنِي حَنِيفَةَ، وَحَدِيثِ ثُمَامَةَ بۡنِ أُثَالٍ
72. Bab utusan Bani Hanifah dan cerita Tsumamah bin Utsal

٤٣٧٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي سَعِيدٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَيۡلًا قِبَلَ نَجۡدٍ، فَجَاءَتۡ بِرَجُلٍ مِنۡ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بۡنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنۡ سَوَارِي الۡمَسۡجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (مَا عِنۡدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟) فَقَالَ: عِنۡدِي خَيۡرٌ، يَا مُحَمَّدُ، إِنۡ تَقۡتُلَنِي، تَقۡتُل ذَا دَمٍ، وَإِنۡ تُنۡعِمۡ، تُنۡعِمۡ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنۡ كُنۡتَ تُرِيدَ الۡمَالُ، فَسَلۡ مِنۡهُ مَا شِئۡتَ، حَتَّى كَانَ الۡغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: (مَا عِنۡدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟) قَالَ: مَا قُلۡتُ لَكَ؛ إِنۡ تُنۡعِمۡ، تُنۡعِمۡ عَلَى شَاكِرٍ، فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعۡدَ الۡغَدِ، فَقَالَ: (مَا عِنۡدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟) فَقَالَ: عِنۡدِي مَا قُلۡتُ لَكَ، فَقَالَ: (أَطۡلِقُوا ثُمَامَةَ). فَانۡطَلَقَ إِلَى نَجۡلٍ قَرِيبٍ مِنَ الۡمَسۡجِدِ، فَاغۡتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ، فَقَالَ: أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، يَا مُحَمَّدُ، وَاللهِ مَا كَانَ عَلَى الۡأَرۡضِ وَجۡهٌ أَبۡغَضَ إِلَيَّ مِنۡ وَجۡهِكَ، فَقَدۡ أَصۡبَحَ وَجۡهُكَ أَحَبَّ الۡوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللهِ مَا كَانَ مۡنِ دِينٍ أَبۡغَضُ إِلَيَّ مِنۡ دَينِكَ، فَأَصۡبَحَ دَينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ. وَاللهِ مَا كَانَ مِنۡ بَلَدٍ أَبۡغَضُ إِلَيَّ مِنۡ بَلَدِكَ، فَأَصۡبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الۡبِلَادِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيۡلَكَ أَخَذَتۡنِي، وَأَنَا أُرِيدُ الۡعُمۡرَةَ، فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَمَرَهُ أَنۡ يَعۡتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوۡتَ؟ قَالَ: لَا، وَلٰكِنۡ أَسۡلَمۡتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلَا وَاللهِ، لَا يَأۡتِيكُمۡ مِنَ الۡيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنۡطَةٍ حَتَّى يَأۡذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ ﷺ. [طرفه في: ٤٦٢].
4372. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Sa’id bin Abu Sa’id menceritakan kepadaku: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu pasukan berkuda ke arah Najd, lalu pasukan tersebut datang membawa seorang lelaki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Lalu mereka mengikatnya di salah satu tiang masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya seraya bertanya, “Apa pendapatmu, wahai Tsumamah?” Tsumamah menjawab: Menurutku ini adalah kebaikan, wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau membunuh manusia yang memiliki darah. Apabila engkau berbuat baik, maka engkau berbuat baik kepada orang yang bisa berterima kasih. Dan jika engkau ingin harta, maka mintalah harta semaumu. Sampai keesokan hari, Nabi bertanya kepada Tsumamah, “Apa pendapatmu, wahai Tsumamah?” Tsumamah menjawab: Apa yang telah aku katakan kepadamu; jika engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik kepada seseorang yang bisa berterima kasih. Nabi pun meninggalkannya sampai esok lusa, lalu bertanya, “Apa pendapatmu, wahai Tsumamah?” Tsumamah menjawab: Aku berpendapat apa yang telah aku katakan kepadamu. Nabi bersabda, “Bebaskan Tsumamah!” Lalu Tsumamah pergi ke kolam air yang dekat dengan masjid, mandi, lalu masuk masjid. Ia berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di atas muka bumi ini yang lebih aku benci daripada wajahmu, namun sungguh wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci daripada agamamu, lalu sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada negeri yang lebih aku benci daripada negerimu, lalu sekarang negerimu menjadi negeri yang paling aku cintai. Sungguh, pasukan berkudamu telah menangkapku dalam keadaan aku ingin umrah. Bagaimana pendapatmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepadanya dan memerintahkannya untuk umrah. Ketika Tsumamah tiba di Makkah, ada yang berkata kepadanya: Apakah engkau telah pindah agama? Tsumamah menjawab: Tidak, akan tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan, demi Allah, tidak akan ada satu biji gandum pun dari Yamamah yang akan datang kepada kalian sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 462

٧٦ – بَابُ الۡاغۡتِسَالِ إِذَا أَسۡلَمَ، وَرَبۡطِ الۡأَسِيرِ أَيۡضًا فِي الۡمَسۡجِدِ
76. Bab mandi ketika masuk Islam dan mengikat tawanan di dalam masjid

وَكَانَ شُرَيۡحٌ يَأۡمُرُ الۡغَرِيمَ أَنۡ يُحۡبَسَ إِلَى سَارِيَةِ الۡمَسۡجِدِ
Syuraih dahulu memerintahkan orang yang terlilit hutang untuk diikat di tiang masjid.
٤٦٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي سَعِيدٍ: سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَيۡلًا قِبَلَ نَجۡدٍ، فَجَاءَتۡ بِرَجُلٍ مِنۡ بَنِي حَنِيفَةَ، يُقَالُ لَهُ: ثُمَامَةُ بۡنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنۡ سَوَارِي الۡمَسۡجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (أَطۡلِقُوا ثُمَامَةَ). فَانۡطَلَقَ إِلَى نَخۡلٍ قَرِيبٍ مِنَ الۡمَسۡجِدِ، فَاغۡتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ، فَقَالَ: أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.
462. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Al-Laits menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Sa’id bin Abu Sa’id menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Abu Hurairah, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu pasukan berkuda ke arah Najd. Lalu pasukan berkuda itu datang membawa seorang lelaki dari Bani Hanifah bernama: Tsumamah bin Utsal. Mereka mengikatnya di sebuah tiang di antara tiang-tiang masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya dan bersabda, “Bebaskan Tsumamah!” Lalu Tsumamah pergi ke sebuah kebun kurma yang berada di dekat masjid, mandi, lalu masuk masjid. Tsumamah berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Shahih Muslim hadits nomor 1275

٢٥٧ – (١٢٧٥) – وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مَعۡرُوفُ بۡنُ خَرَّبُوذَ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا الطُّفَيۡلِ يَقُولُ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَطُوفُ بِالۡبَيۡتِ، وَيَسۡتَلِمُ الرُّكۡنَ بِمِحۡجَنٍ مَعَهُ، وَيُقَبِّلُ الۡمِحۡجَنَ.
257. (1275). Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Dawud menceritakan kepada kami: Ma’ruf bin Kharrabudz menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Aku mendengar Abuth Thufail mengatakan: Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaf di Kakbah. Beliau menyentuh rukun dengan tongkat yang bersama beliau lalu beliau mencium tongkat itu.

Shahih Muslim hadits nomor 1272

٤٢ – بَابُ جَوَازِ الطَّوَافِ عَلَى بَعِيرٍ وَغَيۡرِهِ وَاسۡتِلَامِ الۡحَجَرِ بِمِحۡجَنٍ وَنَحۡوِهِ لِلرَّاكِبِ
42. Bab bolehnya tawaf di atas unta dan selainnya, juga boleh menyentuh hajar aswad dengan tongkat dan selainnya bagi yang menaiki tunggangan

٢٥٣ – (١٢٧٢) – حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ طَافَ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ عَلَىٰ بَعِيرٍ يَسۡتَلِمُ الرُّكۡنَ بِمِحۡجَنٍ.
253. (1272). Abuth Thahir dan Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku, keduanya mengatakan: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tawaf pada haji wadak di atas unta, beliau menyentuh rukun menggunakan tongkat.

Shahih Muslim hadits nomor 1270

٤١ – بَابُ اسۡتِحۡبَابِ تَقۡبِيلِ الۡحَجَرِ الۡأَسۡوَدِ فِي الطَّوَافِ
41. Bab disukainya mencium Hajar Aswad ketika tawaf

٢٤٨ – (١٢٧٠) – وَحَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ وَعَمۡرٌو. (ح) وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمٍ، أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ، قَالَ: قَبَّلَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ الۡحَجَرَ ثُمَّ قَالَ: أَمَ وَاللهِ، لَقَدۡ عَلِمۡتُ أَنَّكَ حَجَرٌ، وَلَوۡ لَا أَنِّي رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلۡتُكَ.
زَادَ هَارُونُ فِي رِوَايَتِهِ: قَالَ عَمۡرٌو: وَحَدَّثَنِي بِمِثۡلِهَا زَيۡدُ بۡنُ أَسۡلَمَ، عَنۡ أَبِيهِ أَسۡلَمَ.
248. (1270). Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus dan ‘Amr mengabarkan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb menceritakan kepadaku: ‘Amr mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Salim, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, beliau mengatakan: ‘Umar bin Al-Khaththab mencium hajar aswad kemudian mengatakan: Demi Allah, sungguh aku sudah tahu bahwa engkau adalah batu, kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menciummu, tentu aku tidak menciummu.
Harun menambahkan di dalam riwayat beliau: ‘Amr mengatakan: Zaid bin Aslam menceritakan kepadaku semisal hadis tersebut, dari ayahnya, yaitu Aslam.
٢٤٩ – (...) – وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ قَبَّلَ الۡحَجَرَ وَقَالَ: إِنِّي لَأُقَبِّلُكَ وَإِنِّي لَأَعۡلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، وَلَكِنِّي رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ.
249. Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa ‘Umar mencium hajar aswad dan berkata: Sungguh aku benar-benar menciummu dan sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, akan tetapi aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu.
٢٥٠ – (...) – حَدَّثَنَا خَلَفُ بۡنُ هِشَامٍ وَالۡمُقَدَّمِيُّ وَأَبُو كَامِلٍ وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ. كُلُّهُمۡ عَنۡ حَمَّادٍ. قَالَ خَلَفٌ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ سَرۡجِسَ قَالَ: رَأَيۡتُ الۡأَصۡلَعَ – يَعۡنِي عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ – يُقَبِّلُ الۡحَجَرَ وَيَقُولُ: وَاللهِ إِنِّي لَأُقَبِّلُكَ، وَإِنِّي أَعۡلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، وَأَنَّكَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنۡفَعُ. وَلَوۡ لَا أَنِّي رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَبَّلَكَ مَا قَبَّلۡتُكَ.
وَفِي رِوَايَةِ الۡمُقَدَّمِيِّ وَأَبِي كَامِلٍ: رَأَيۡتُ الۡأُصَيۡلِعَ.
250. Khalaf bin Hisyam, Al-Muqaddami, Abu Kamil, dan Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami. Mereka seluruhnya dari Hammad. Khalaf mengatakan: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari ‘Abdullah bin Sarjis, beliau mengatakan: Aku melihat al-ashla’ (orang yang botak) –yakni ‘Umar bin Al-Khaththab- mencium hajar aswad dan mengatakan: Demi Allah, aku benar-benar menciummu dan sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu dan bahwa engkau tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tentu aku tidak menciummu.
Di dalam riwayat Al-Muqaddami dan Abu Kamil: Aku melihat al-ushaili’ (sedikit botak).
٢٥١ – (...) – وَحَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ. جَمِيعًا عَنۡ أَبِي مُعَاوِيَةَ. قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَابِسِ بۡنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيۡتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الۡحَجَرَ وَيَقُولُ: إِنِّي لَأُقَبِّلُكَ وَأَعۡلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، وَلَوۡ لَا أَنِّي رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ لَمۡ أُقَبِّلۡكَ.
251. Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Abu Mu’awiyah. Yahya mengatakan: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Abis bin Rabi’ah, beliau mengatakan: Aku melihat ‘Umar mencium hajar aswad dan berkata: Sungguh aku benar-benar menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.

Shahih Muslim hadits nomor 1261

٣٩ – بَابُ اسۡتِحۡبَابِ الرَّمَلِ فِي الطَّوَافِ وَالۡعُمۡرَةِ وَفِي الطَّوَافِ الۡأَوَّلِ فِي الۡحَجِّ
39. Bab disukainya jalan cepat dalam tawaf, umrah, dan tawaf qudum dalam haji

٢٣٠ – (١٢٦١) – حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا طَافَ بِالۡبَيۡتِ الطَّوَافَ الۡأَوَّلَ، خَبَّ ثَلَاثًا وَمَشَىٰ أَرۡبَعًا، وَكَانَ يَسۡعَىٰ بِبَطۡنِ الۡمَسِيلِ إِذَا طَافَ بَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ.
وَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ يَفۡعَلُ ذٰلِكَ.
230. (1261). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tawaf di Kakbah tawaf yang pertama, beliau berjalan cepat tiga putaran dan berjalan empat putaran. Dan beliau berlari kecil di dasar lembah ketika sai antara Shafa dan Marwah.
Ibnu ‘Umar biasa melakukan itu.
٢٣١ – (...) – وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا حَاتِمٌ – يَعۡنِي ابۡنَ إِسۡمَاعِيلَ – عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا طَافَ فِي الۡحَجِّ وَالۡعُمۡرَةِ، أَوَّلَ مَا يَقۡدَمُ، فَإِنَّهُ يَسۡعَىٰ ثَلَاثَةَ أَطۡوَافٍ بِالۡبَيۡتِ، ثُمَّ يَمۡشِي أَرۡبَعَةً، ثُمَّ يُصَلِّي سَجۡدَتَيۡنِ، ثُمَّ يَطُوفُ بَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ.
231. Muhammad bin ‘Abbad telah menceritakan kepada kami: Hatim bin Isma’il menceritakan kepada kami, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tawaf dalam haji dan Umrah ketika awal kali datang, beliau berlari kecil tiga putaran di Kakbah, kemudian berjalan empat putaran. Kemudian beliau salat dua rakaat, lalu sai antara Shafa dan Marwah.
٢٣٢ – (...) – وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ. قَالَ حَرۡمَلَةُ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، أَنَّ سَالِمَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ حِينَ يَقۡدَمُ مَكَّةَ، إِذَا اسۡتَلَمَ الرُّكۡنَ الۡأَسۡوَدَ، أَوَّلَ مَا يَطُوفُ حِينَ يَقۡدَمُ، يَخُبُّ ثَلَاثَةَ أَطۡوَافٍ مِنَ السَّبۡعِ.
232. Abuth Thahir dan Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Harmalah mengatakan: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, bahwa Salim bin ‘Abdullah mengabarkan kepada beliau: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan: Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Makkah, beliau menyentuh pojok Al-Aswad. Yaitu pada saat awal kali beliau tawaf qudum, beliau berjalan kecil pada tiga putaran pertama di antara tujuh putaran.

Shahih Muslim hadits nomor 1266

٢٤٠ – (١٢٦٦) – وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ – يَعۡنِي ابۡنَ زَيۡدٍ – عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ مَكَّةَ وَقَدۡ وَهَنَتۡهُمۡ حُمَّى يَثۡرِبَ. قَالَ الۡمُشۡرِكُونَ: إِنَّهُ يَقۡدَمُ عَلَيۡكُمۡ غَدًا قَوۡمٌ قَدۡ وَهَنَتۡهُمُ الۡحُمَّىٰ وَلَقُوا مِنۡهَا شِدَّةً، فَجَلَسُوا مِمَّا يَلِي الۡحِجۡرَ، وَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَرۡمُلُوا ثَلَاثَةَ أَشۡوَاطٍ، وَيَمۡشُوا مَا بَيۡنَ الرُّكۡنَيۡنِ لِيَرَى الۡمُشۡرِكُونَ جَلَدَهُمۡ. فَقَالَ الۡمُشۡرِكُونَ: هٰؤُلَاءِ زَعَمۡتُمۡ أَنَّ الۡحُمَّىٰ قَدۡ وَهَنَتۡهُمۡ، هٰؤُلَاءِ أَجۡلَدُ مِنۡ كَذَا وَكَذَا.
قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: وَلَمۡ يَمۡنَعۡهُ أَنۡ يَأۡمُرَهُمۡ أَنۡ يَرۡمُلُوا الۡأَشۡوَاطَ كُلَّهَا، إِلَّا الۡإِبۡقَاءُ عَلَيۡهِمۡ.
240. (1266). Abur Rabi’ Az-Zahrani telah menceritakan kepadaku: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tiba di Makkah dan demam Yatsrib telah melemahkan mereka. Kaum musyrikin mengatakan: Sungguh besok akan datang kepada kalian sebuah kaum yang penyakit demam Yatsrib (Madinah) telah melemahkan mereka dan mereka mengalami kepayahan. Kaum musyrikin pun duduk di dekat al-hijr. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat agar berlari kecil sebanyak tiga putaran dan berjalan di antara dua pojok (rukun Yamani dan rukun Al-Aswad) agar kaum musyrikin melihat kekuatan mereka. Kaum musyrikin mengatakan: Mereka ini yang kalian sangka bahwa demam telah melemahkan mereka. Mereka malah lebih kuat daripada ini dan itu.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: Tidak ada yang menghalangi beliau untuk memerintahkan mereka berlari kecil di seluruh putaran kecuali kasih sayang beliau terhadap mereka.
٢٤١ – (...) – وَحَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ وَابۡنُ أَبِي عُمَرَ وَأَحۡمَدُ بۡنُ عَبۡدَةَ. جَمِيعًا عَنِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ. قَالَ ابۡنُ عَبۡدَةَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِنَّمَا سَعَىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَرَمَلَ بِالۡبَيۡتِ، لِيُرِيَ الۡمُشۡرِكِينَ قُوَّتَهُ.
241. ‘Amr An-Naqid, Ibnu Abu ‘Umar, dan Ahmad bin ‘Abdah telah menceritakan kepadaku. Semuanya dari Ibnu ‘Uyainah. Ibnu ‘Abdah mengatakan: Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Amr, dari ‘Atha`, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melakukan sai dan berlari kecil di Kakbah untuk memperlihatkan kekuatan beliau kepada kaum musyrikin.

Al-Ishabah - 957. Tsumamah bin Utsal

٩٥٧ – ثُمَامَةُ بۡنُ أُثَالِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ سَلَمَةَ بۡنِ عُبَيۡدِ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ يَرۡبُوع بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ الدُّؤَلِ بۡنِ حَنِيفَةَ الۡحَنَفِيُّ أَبُو أُمَامَةَ الۡيَمَامِيُّ

957. Tsumamah bin Utsal bin An-Nu’man bin Salamah bin ‘Ubaid bin Tsa’labah bin Yarbu’ bin Tsa’labah bin Ad-Dual bin Hanifah Al-Hanafi Abu Umamah Al-Yamami

حَدِيثُهُ فِي الۡبُخَارِيِّ مِنۡ طَرِيقِ سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَيۡلًا قِبَلَ نَجۡدٍ فَجَاءَتۡ بِرَجُلٍ مِنۡ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بۡنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنۡ سِوَارِي الۡمَسۡجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيۡهِ ﷺ فَقَالَ: (أَطۡلِقُوا ثُمَامَةَ)، فَانۡطَلَقَ إِلَى نَخۡلٍ قَرِيبٍ مِنَ الۡمَسۡجِدِ فَاغۡتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ فَقَالَ: أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا مُطَوَّلًا.
Hadis beliau ada di dalam Shahih Al-Bukhari[1] dari jalan Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan berkuda ke arah Najd. Lalu pasukan tersebut datang membawa seorang lelaki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka mengikatnya pada sebuah tiang di antara tiang-tiang masjid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya dan bersabda, “Bebaskan Tsumamah!” Tsumamah pun pergi ke sebuah kebun kurma yang berada di dekat masjid, lalu mandi. Kemudian beliau masuk ke Masjid seraya berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Al-Bukhari juga mengeluarkan riwayat tersebut secara panjang lebar[2].
وَرَوَاهُ ابۡنُ إِسۡحَاقَ فِي الۡمَغَازِي عَنۡ سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ مُطَوَّلًا وَأَوَّلُهُ أَنَّ ثُمَامَةَ كَانَ عَرَضَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَأَرَادَ قَتۡلَهُ، فَدَعَا رَسُولُ اللهِ ﷺ رَبَّهُ أَنۡ يُمَكِّنَهُ مِنۡهُ، فَلَمَّا أَسۡلَمَ قَدِمَ مَكَّةَ مُعۡتَمِرًا فَقَالَ: وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ لَا تَأۡتِيكُمۡ حَبَّةٌ مِنَ الۡيَمَامَةِ، وَكَانَتۡ رِيفَ أَهۡلِ مَكَّةَ، حَتَّى يَأۡذَنَ فِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ.
Ibnu Ishaq meriwayatkannya di dalam Al-Maghazi dari Sa’id Al-Maqburi secara panjang lebar. Pertamanya, bahwa Tsumamah pernah berurusan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Tsumamah ingin membunuh beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Rabbnya agar bisa menguasai Tsumamah. Ketika Tsumamah telah masuk Islam, beliau tiba di Makkah dalam rangka umrah, beliau berkata: Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada satu biji pun datang kepada kalian dari Yamamah -Yamamah adalah tanah suburnya penduduk Makkah-, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya.
وَرَوَاهُ الۡحُمَيۡدِيُّ عَنۡ سُفۡيَانَ عَنِ ابۡنِ عَجۡلَانَ عَنۡ سَعِيدٍ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
Al-Humaidi meriwayatkannya dari Sufyan dari Ibnu ‘Ajlan dari Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah.
وَذَكَرَ أَيۡضًا ابۡنُ إِسۡحَاقَ أَنَّ ثُمَامَةَ ثَبَتَ عَلَى إِسۡلَامِهِ لَمَّا ارۡتَدَّ أَهۡلُ الۡيَمَامَةِ، وَارۡتَحَلَ هُوَ وَمَنۡ أَطَاعَهُ مِنۡ قَوۡمِهِ، فَلَحِقُوا بِالۡعَلَاءِ بۡنِ الۡحَضۡرَمِيِّ فَقَاتَلَ مَعَهُ الۡمُرۡتَدِّينَ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَحۡرَيۡنِ، فَلَمَّا ظَفِرُوا اشۡتَرَى ثُمَامَةُ حُلَّةً كَانَتۡ لِكَبِيرِهِمۡ، فَرَآهَا عَلَيۡهِ نَاسٌ مِنۡ بَنِي قَيۡسِ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ فَظَنُّوا أَنَّهُ هُوَ الَّذِي قَتلَهُ وَسَلَبَهُ، فَقَتَلُوهُ، وَسَيَأۡتِي لَهُ ذِكۡرٌ فِي تَرۡجَمَةِ عَمِّهِ عَامِرِ بۡنِ سَلَمَةَ الۡحَنَفِيِّ.
Ibnu Ishaq juga menyebutkan bahwa Tsumamah tetap di atas keislamannya ketika penduduk Yamamah murtad. Beliau dan orang-orang yang menaatinya pergi dari kaumnya. Mereka bertemu dengan Al-‘Ala bin Al-Hadhrami lalu bersama beliau memerangi orang-orang yang murtad dari penduduk Bahrain. Ketika mereka telah menang, Tsumamah membeli sebuah perhiasan milik salah seorang pembesar mereka. Lalu, orang-orang dari Bani Qais bin Tsa’labah melihat perhiasan tersebut. Mereka menyangka bahwa Tsumamah lah yang membunuh pemiliknya dan melucutinya, kemudian mereka membunuh beliau. Akan datang penyebutannya di biografi paman beliau, yaitu ‘Amir bin Salamah Al-Hanafi.
وَرَوَى ابۡنُ مَنۡدَه مِنۡ طَرِيقِ عِلۡبَاءَ بۡنِ أَحۡمَرَ عَنۡ عِكۡرِمَةَ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قِصَّةَ إِسۡلَامِ ثُمَامَةَ وَرُجُوعِهِ إِلَى الۡيَمَامَةِ، وَمَنۡعِهِ عَنۡ قُرَيۡشٍ الۡمِيرَةَ، وَنُزُولِ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ أَخَذۡنَٰهُمۡ بِالۡعَذَابِ فَمَا اسۡتَكَانُوا لِرَبِّهِمۡ وَمَ يَتَضَرَّعُونَ﴾ وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ.
Ibnu Mandah telah meriwayatkan dari ‘Ilba` bin Ahmar dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas kisah tentang Islamnya Tsumamah, kepulangan beliau ke Yamamah, pemboikotan makanan yang beliau lakukan terhadap Quraisy, dan turunnya firman Allah taala, “Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepadaNya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al-Mu`minun: 76). Dan sanadnya hasan.
وَذَكَرَ وَثِيمَةُ لَهُ مَقَامًا حَسَنًا فِي الرِّدَّةِ وَأَنۡشَدَ لَهُ فِي الۡإِنۡكَارِ عَلَى بَنِي حَنِيفَةَ أَبۡيَاتًا مِنۡهَا:
أَهُمُّ بِتَرۡكِ الۡقَوۡلِ ثُمَّ يَرُدُّنِي   إِلَى الۡقَوۡلِ إِنۡعَامُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
شَكَرۡتُ لَهُ فَكِّي مِنَ الۡغُلِّ بَعۡدَمَا   رَأَيۡتُ خَيَالًا مِنۡ حُسَامٍ مُهَنَّدٍ
Watsimah menyebutkan tentang Tsumamah suatu kedudukan yang baik dalam menghadapi kemurtadan dan beliau melantunkan beberapa bait pengingkaran terhadap Bani Hanifah, di antaranya:
Aku bermaksud untuk meninggalkan agama ini, namun pemberian Nabi Muhammad mengembalikanku tetap pada agama ini.
Aku berterima kasih kepadanya (atas pemberian yang mengobati) rahangku dari dahaga setelah apa yang aku lihat dari bayangan pedang India. 

[1] HR. Al-Bukhari nomor 462. 
[2] HR. Al-Bukhari nomor 4372.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1632 dan 1633

٧٤ – بَابُ الۡمَرِيضِ يَطُوفُ رَاكِبًا
74. Bab orang yang sakit tawaf dengan naik tunggangan

١٦٣٢ – حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ الۡوَاسِطِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ، عَنۡ خَالِدٍ الۡحَذَّاءِ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ طَافَ بِالۡبَيۡتِ، وَهُوَ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى عَلَى الرُّكۡنِ أَشَارَ إِلَيۡهِ بِشَيۡءٍ فِي يَدِهِ، وَكَبَّرَ. [طرفه في: ١٦٠٧].
1632. Ishaq Al-Wasithi telah menceritakan kepadaku: Khalid menceritakan kepada kami, dari Khalid Al-Hadzdza`, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaf di Kakbah dalam keadaan beliau di atas unta. Setiap kali beliau melewati rukun Aswadi beliau memberi isyarat kepadanya menggunakan sesuatu yang ada di tangan beliau dan beliau bertakbir.
١٦٣٣ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بِنۡ نَوۡفَلٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: شَكَوۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنِّي أَشۡتَكِي، فَقَالَ: (طُوفِي مِنۡ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنۡتِ رَاكِبَةٌ). فَطُفۡتُ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي إِلَى جَنۡبِ الۡبَيۡتِ، وَهُوَ يَقۡرَأُ بِالطُّورِ وَكِتَابٍ مَسۡطُورٍ. [طرفه في: ٤٦٤].
1633. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal, dari ‘Urwah, dari Zainab putri Ummu Salamah, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Aku mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku sakit, lalu beliau bersabda, “Tawaflah engkau di belakang orang-orang dalam keadaan engkau menaiki tunggangan.” Aku pun tawaf dalam keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di sisi Kakbah dan beliau membaca surah Ath-Thur.

Shahih Al-Bukhari - 25. Kitab Haji

  1. Bab wajibnya haji dan keutamaannya
    1. Hadis nomor 1513
  2. Bab firman Allah ta’ala, “niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” (QS. Al-Hajj: 27-28)
    1. Hadis nomor 1514 dan 1515
  3. Bab haji di atas kendaraan
    1. Hadis nomor 1516, 1517, dan 1518
  4. Bab keutamaan haji yang mabrur
    1. Hadis nomor 1519, 1520, dan 1521
  5. Bab wajibnya mikat-mikat haji dan umrah
    1. Hadis nomor 1522
  6. Bab firman Allah taala yang artinya, “Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS. Al-Baqarah: 197)
    1. Hadis nomor 1523
  7. Bab tempat ihlal (memulai talbiah) penduduk Makkah untuk haji dan umrah
    1. Hadis nomor 1524
  8. Bab mikat penduduk Madinah dan mereka tidak memulai ihram sebelum Dzul Hulaifah
    1. Hadis nomor 1525
  9. Bab mikat penduduk Syam
    1. Hadis nomor 1526
  10. Bab mikat penduduk Najd
    1. Hadis nomor 1527 dan 1528
  11. Bab tempat mulai bertalbiah bagi yang tinggal lebih dekat daripada mikat-mikat
    1. Hadis nomor 1529
  12. Bab mikat penduduk Yaman
    1. Hadis nomor 1530
  13. Bab Dzatu ‘Irq mikat untuk penduduk ‘Iraq
    1. Hadis nomor 1531
  14. Bab
    1. Hadis nomor 1532
  15. Bab keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui jalur Asy-Syajarah
    1. Hadis nomor 1533
  16. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “’Aqiq adalah sebuah lembah yang diberkahi”
    1. Hadis nomor 1534 dan 1535
  17. Bab mencuci bagian pakaian yang terkena wewangian sebanyak tiga kali
    1. Hadis nomor 1536
  18. Bab wewangian ketika ihram, apa yang dipakai apabila ia ingin berihram, bersisir, dan meminyaki
    1. Hadis nomor 1537, 1538, dan 1539
  19. Bab barang siapa yang memulai talbiah dengan merekatkan rambut
    1. Hadis nomor 1540
  20. Bab memulai talbiyah dan ihram di dekat masjid Dzul Hulaifah
    1. Hadis nomor 1541
  21. Bab pakaian yang tidak boleh dipakai orang yang berihram
    1. Hadis nomor 1542
  22. Bab menaiki tunggangan dan memboncengkan ketika haji
    1. Hadis nomor 1543 dan 1544
  23. Bab pakaian, kain atas, dan kain bawah yang dikenakan orang yang berihram
    1. Hadis nomor 1545
  24. Bab barang siapa bermalam di Dzul Hulaifah sampai subuh
    1. Hadis nomor 1546 dan 1547
  25. Bab mengeraskan suara dalam bertalbiah
    1. Hadis nomor 1548
  26. Bab talbiah
    1. Hadis nomor 1549 dan 1550
  27. Bab tahmid, tasbih, dan takbir sebelum mulai bertalbiah ketika mengendarai hewan tunggangan
    1. Hadis nomor 1551
  28. Bab barang siapa mulai bertalbiah ketika hewan tunggangannya telah berdiri
    1. Hadis nomor 1552
  29. Bab mulai talbiah dengan menghadap kiblat
    1. Hadis nomor 1553 dan 1554
  30. Bab membaca talbiah apabila telah turun di lembah
    1. Hadis nomor 1555
  31. Bab bagaimana wanita haid dan nifas mulai bertalbiah
    1. Hadis nomor 1556
  32. Bab barangsiapa yang berihlal (berihram) pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ihlal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    1. Hadis nomor 1557, 1558, dan 1559
  33. Bab firman Allah ta’ala, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, siapa saja yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)
    1. Hadis nomor 1560
  34. Bab haji tamatuk, kiran, dan ifrad; serta membatalkan haji (menjadi umrah) bagi siapa saja yang tidak membawa hadyu
    1. Hadis nomor 1561, 1562, dan 1563
    2. Hadis nomor 1564, 1565, dan 1566
    3. Hadis nomor 1567, 1568, dan 1569
  35. Bab barang siapa bertalbiah dengan haji dan menentukannya
    1. Hadis nomor 1570
  36. Bab haji tamatuk
    1. Hadis nomor 1571
  37. Bab firman Allah taala, “Demikian itu (kewajiban membayar fidiah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah)” (QS. Al-Baqarah: 196)
    1. Hadis nomor 1572
  38. Bab mandi ketika akan masuk Makkah
    1. Hadis nomor 1573
  39. Bab masuk Makkah pada siang atau malam hari
    1. Hadis nomor 1574
  40. Bab dari mana masuk Makkah
    1. Hadis nomor 1575
  41. Bab dari mana keluar dari Makkah
    1. Hadis nomor 1576, 1577, dan 1578
    2. Hadis nomor 1579, 1580, dan 1581
  42. Bab keutamaan Makkah dan bangunannya
    1. Hadis nomor 1582 dan 1583
    2. Hadis nomor 1584, 1585, dan 1586
  43. Bab keutamaan tanah haram
    1. Hadis nomor 1587
  44. Bab mewariskan, membeli, dan menjual rumah di Makkah dan bahwa semua manusia di dalam Masjidil Haram itu sama keistimewaannya
    1. Hadis nomor 1588
  45. Bab singgahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah
    1. Hadis nomor 1589 dan 1590
  46. Bab firman Allah taala:
  47. Bab firman Allah taala:
    1. Hadis nomor 1591, 1592, dan 1593
  48. Bab kiswah Kakbah
    1. Hadis nomor 1594
  49. Bab kehancuran Ka’bah
    1. Hadis nomor 1595 dan 1596
  50. Bab tentang hajar Aswad
    1. Hadis nomor 1597
  51. Bab penutupan Ka’bah dan salat di sisi Ka’bah yang mana saja yang ia kehendaki
    1. Hadis nomor 1598
  52. Bab salat di dalam Kakbah
    1. Hadis nomor 1599
  53. Bab barang siapa yang tidak masuk Kakbah
    1. Hadis nomor 1600
  54. Bab barang siapa bertakbir di sisi-sisi Kakbah
    1. Hadis nomor 1601
  55. Bab awal mula disyariatkan berjalan cepat
    1. Hadis nomor 1602
  56. Bab menjamah hajar aswad ketika tiba di Makkah saat tawaf pertama kali dan berjalan cepat tiga putaran pertama
    1. Hadis nomor 1603
  57. Bab berjalan cepat dalam haji dan umrah
    1. Hadis nomor 1604, 1605, dan 1606
  58. Bab menyentuh rukun dengan tongkat
    1. Hadis nomor 1607
  59. Bab barang siapa yang tidak menyentuh kecuali dua rukun yang menghadap Yaman (rukun Yamani dan Aswadi)
    1. Hadis nomor 1608 dan 1609
  60. Bab mencium hajar Aswad
    1. Hadis nomor 1610 dan 1611
  61. Bab barang siapa yang memberi isyarat ke rukun (hajar Aswad) ketika melewatinya
    1. Hadis nomor 1612
  62. Bab membaca takbir di sisi rukun (Aswadi)
    1. Hadis nomor 1613
  63. Bab barang siapa tawaf di Ka’bah ketika tiba di Makkah sebelum kembali ke rumahnya, kemudian salat dua rakaat kemudian keluar menuju bukit Shafa
    1. Hadis nomor 1614, 1615, 1616, dan 1617
  64. Bab tawafnya wanita bersama lelaki
    1. Hadis nomor 1618 dan 1619
  65. Bab berbicara ketika tawaf
    1. Hadis nomor 1620
  66. Bab apabila ia melihat tali kulit atau sesuatu yang dibenci ketika tawaf, lalu memotongnya
    1. Hadis nomor 1621
  67. Bab orang yang telanjang tidak boleh tawaf di Ka’bah dan orang musyrik tidak boleh haji
    1. Hadis nomor 1622
  68. Bab apabila berhenti ketika tawaf
  69. Bab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salat dua rakaat setelah putaran ketujuh
    1. Hadis nomor 1623 dan 1624
  70. Bab barang siapa yang tidak mendekati Kakbah dan dia tidak tawaf sampai keluar ke Arafah dan kembali setelah tawaf yang pertama
    1. Hadis nomor 1625
  71. Bab barang siapa yang salat dua rakaat tawaf di luar Masjidil Haram
    1. Hadis nomor 1626
  72. Bab barang siapa salat dua rakaat tawaf di belakang makam Ibrahim
    1. Hadis nomor 1627
  73. Bab tawaf setelah Subuh dan Asar
    1. Hadis nomor 1628, 1629, 1630, dan 1631
  74. Bab orang yang sakit tawaf dengan naik tunggangan
    1. Hadis nomor 1632 dan 1633
  75. Bab memberi minum jemaah haji
    1. Hadis nomor 1634 dan 1635
  76. Bab tentang air Zamzam
    1. Hadis nomor 1636 dan 1637
  77. Bab tawafnya orang yang haji kiran
    1. Hadis nomor 1638, 1639, dan 1640
  78. Bab tawaf dalam keadaan sudah berwudu
    1. Hadis nomor 1641 dan 1642
  79. Bab wajibnya sai antara bukit Shafa dan Marwah dan hal itu dijadikan sebagian dari syiar-syiar Allah
    1. Hadis nomor 1643
  80. Bab tentang sai antara Shafa dan Marwah
    1. Hadis nomor 1644, 1645, dan 1646
    2. Hadis nomor 1647, 1648, dan 1649
  81. Bab wanita haid mengerjakan seluruh manasik haji kecuali tawaf di Kakbah dan apabila seseorang melakukan sai antara Shafa dan Marwah tanpa wudu
    1. Hadis nomor 1650, 1651, dan 1652
  82. Bab memulai ihram (untuk haji) dari Bathha` dan selainnya bagi penduduk Makkah dan orang yang haji (tamatuk) apabila keluar ke Mina
  83. Bab di mana salat Zuhur pada hari tarwiah
    1. Hadis nomor 1653 dan 1654
  84. Bab salat di Mina
    1. Hadis nomor 1655, 1656, dan 1657
  85. Bab puasa hari Arafah
    1. Hadis nomor 1658
  86. Bab talbiah dan takbir ketika berangkat dari Mina menuju Arafah
    1. Hadis nomor 1659
  87. Bab berangkat (dari Namirah ke Arafah) pada pertengahan siang hari Arafah
    1. Hadis nomor 1660
  88. Bab wukuf di atas tunggangan di Arafah
    1. Hadis nomor 1661
  89. Bab menjamak dua salat di Arafah
    1. Hadis nomor 1662
  90. Bab meringkas khotbah di Arafah
    1. Hadis nomor 1663
  91. Bab bersegera ke tempat wukuf
  92. Bab wukuf di Arafah
    1. Hadis nomor 1664 dan 1665
  93. Bab menempuh perjalanan ketika bertolak dari Arafah
    1. Hadis nomor 1666
  94. Bab singgah di antara Arafah dengan Muzdalifah
    1. Hadis nomor 1667, 1668, 1669, dan 1670
  95. Bab perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tenang ketika meninggalkan tempat wukuf dan isyarat beliau kepada mereka dengan menggunakan cambuk
    1. Hadis nomor 1671
  96. Bab menjamak dua salat di Muzdalifah
    1. Hadis nomor 1672
  97. Bab barang siapa yang menjamak dua salat dan tidak melakukan salat sunah
    1. Hadis nomor 1673 dan 1674
  98. Bab barang siapa yang mengumandangkan azan dan ikamah setiap satu salat dari dua salat yang dijamak
    1. Hadis nomor 1675
  99. Bab barang siapa yang mendahulukan keluarganya yang lemah pada malam hari, mereka berhenti di Muzdalifah lalu berdoa lalu lebih dahulu pergi ketika bulan telah menghilang
    1. Hadis nomor 1676, 1677, dan 1678
    2. Hadis nomor 1679, 1680, dan 1681
  100. Bab barang siapa yang salat subuh di Muzdalifah
    1. Hadis nomor 1682 dan 1683
  101. Bab kapan bertolak dari Muzdalifah
    1. Hadis nomor 1684
  102. Bab talbiah dan takbir pada keesokan hari nahar ketika melempar jamrah dan berboncengan selama perjalanan
    1. Hadis nomor 1685, 1686, dan 1687
  103. Bab “Maka, bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari ketika sudah pulang. Itu adalah sepuluh hari yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidiah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah).” (QS. Al-Baqarah: 196)
    1. Hadis nomor 1688
  104. Bab menunggang unta-unta sembelihan
    1. Hadis nomor 1689 dan 1690
  105. Bab barang siapa yang menggiring unta-unta sembelihan haji bersamanya
    1. Hadis nomor 1691 dan 1692
  106. Bab barang siapa yang membeli hadyu dalam perjalanan
    1. Hadis nomor 1693
  107. Bab barang siapa yang memberi tanda dan mengalungi (hewan hadyu) di Dzul Hulaifah kemudian berihram
    1. Hadis nomor 1694, 1695, dan 1696
  108. Bab melilit kalung-kalung untuk unta-unta dan sapi-sapi (sembelihan haji)
    1. Hadis nomor 1697 dan 1698
  109. Bab memberi tanda unta sembelihan haji
    1. Hadis nomor 1699
  110. Bab barang siapa yang mengalungkan tali kalung dengan tangannya
    1. Hadis nomor 1700
  111. Bab mengalungi kambing
    1. Hadis nomor 1701, 1702, 1703, dan 1704
  112. Bab kalung-kalung dari wol
    1. Hadis nomor 1705
  113. Bab mengalungkan sandal
    1. Hadis nomor 1706
  114. Bab penutup unta-unta sembelihan haji
    1. Hadis nomor 1707
  115. Bab barang siapa membeli hewan sembelihan hajinya di tengah perjalanan dan mengalunginya
    1. Hadis nomor 1708
  116. Bab penyembelihan sapi oleh suami atas nama para istrinya tanpa perintah dari mereka
    1. Hadis nomor 1709
  117. Bab menyembelih di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih di Mina
    1. Hadis nomor 1710 dan 1711
  118. Bab barang siapa menyembelih hewan sembelihan hajinya dengan tangannya
    1. Hadis nomor 1712
  119. Bab menyembelih unta dalam keadaan diikat
    1. Hadis nomor 1713
  120. Bab menyembelih unta-unta kurban haji dalam keadaan unta itu berdiri
    1. Hadis nomor 1714 dan 1715
  121. Bab tidak boleh memberi sedikit pun bagian hewan sembelihan haji kepada jagal
    1. Hadis nomor 1716
  122. Bab kulit-kulit hewan sembelihan haji disedekahkan
    1. Hadis nomor 1717
  123. Bab jilal unta sembelihan haji disedekahkan
    1. Hadis nomor 1718
  124. Bab
  125. Bab tentang (pemilik hewan sembelihan haji) memakan dan menyedekahkan unta-unta sembelihan haji
    1. Hadis nomor 1719 dan 1720
  126. Bab menyembelih sebelum menggundul
    1. Hadis nomor 1721, 1722, 1723, dan 1724
  127. Bab barang siapa yang merekatkan rambutnya ketika hendak ihram dan menggundul
    1. Hadis nomor 1725
  128. Bab menggundul dan memangkas pendek rambut ketika tahalul
    1. Hadis nomor 1726 dan 1727
    2. Hadis nomor 1728, 1729, dan 1730
  129. Bab orang yang berhaji tamatuk memangkas pendek rambut setelah umrah
    1. Hadis nomor 1731
  130. Bab tawaf ziarah (ifadhah) pada hari nahar
    1. Hadis nomor 1732 dan 1733
  131. Bab apabila melempar jamrah setelah sore atau menggundul kepala sebelum menyembelih baik lupa atau tidak tahu
    1. Hadis nomor 1734 dan 1735
  132. Bab berfatwa di atas tunggangan di dekat jamrah
    1. Hadis nomor 1736, 1737, dan 1738
  133. Bab khotbah hari-hari Mina
    1. Hadis nomor 1739 dan 1740
    2. Hadis nomor 1741
    3. Hadis nomor 1742
  134. Bab apakah orang yang bertugas memberi minum atau selain mereka boleh bermalam di Makkah ketika malam-malam Mina?
    1. Hadis nomor 1743, 1744, dan 1745
  135. Bab melempari jamrah-jamrah
    1. Hadis nomor 1746
  136. Bab melempari jamrah dari dasar lembah
    1. Hadis nomor 1747
  137. Bab melempari jamrah dengan tujuh kerikil
    1. Hadis nomor 1748
  138. Bab barang siapa yang melempari jamrah aqabah dengan menjadikan Kakbah di sebelah kirinya
    1. Hadis nomor 1749
  139. Bab bertakbir bersamaan setiap lemparan kerikil
    1. Hadis nomor 1750
  140. Bab barang siapa yang melempari jamrah aqabah lalu tidak berhenti
  141. Bab apabila telah melempari dua jamrah, berdiri dan menuju tempat yang datar dengan menghadap kiblat
    1. Hadis nomor 1751
  142. Bab mengangkat kedua tangan di dekat jamrah ula dan wusta
    1. Hadis nomor 1752
  143. Bab doa di dekat dua jamrah
    1. Hadis nomor 1753
  144. Bab memakai wewangian setelah melempari jamrah dan menggunduli kepala sebelum tawaf ifadhah
    1. Hadis nomor 1754
  145. Bab tawaf perpisahan
    1. Hadis nomor 1755 dan 1756
  146. Bab apabila seorang wanita mengalami haid setelah tawaf ifadhah
    1. Hadis nomor 1757, 1758, dan 1759
    2. Hadis nomor 1760, 1761, dan 1762
  147. Bab barang siapa salat Asar pada hari nafar di Abthah
    1. Hadis nomor 1763 dan 1764
  148. Bab Muhashshab
    1. Hadis nomor 1765 dan 1766
  149. Bab singgah di Dzu Thuwa sebelum masuk Makkah dan singgah di Bathha` di Dzul Hulaifah apabila pulang dari Makkah
    1. Hadis nomor 1767 dan 1768
  150. Bab barang siapa yang singgah di Dzu Thuwa ketika kembali dari Makkah
    1. Hadis nomor 1769
  151. Bab berdagang pada hari-hari musim haji dan jual beli di pasar-pasar jahiliah
    1. Hadis nomor 1770
  152. Bab melakukan perjalanan di akhir malam dari Muhashshab
    1. Hadis nomor 1771 dan 1772

Ad-Dararil Mudhiyyah - Larangan-larangan Ihram

فَصۡلٌ
فِي مُحَرَّمَاتِ الۡإِحۡرَامِ

وَلَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ الۡقَمِيصَ، وَلَا الۡعِمَامَةَ، وَلَا الۡبُرۡنُسَ، وَلَا السَّرَاوِيلَ، وَلَاثَوۡبًا مَسَّهُ وَرۡسٌ وَلَا زَعۡفَرَانٌ، وَلَا الۡخُفَّيۡنِ إِلَّا أَنۡ لَا يَجِدَ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَقۡطَعۡهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، وَلَا تَنۡتَقِبُ الۡمَرۡأَةُ، وَلَا تَلۡبَسُ الۡقُفَّازَيۡنِ، وَمَا مَسَّهُ الۡوَرۡسُ وَالزَّعۡفَرَانُ، وَلَا تُطَيِّبُ ابۡتِدَاءً، وَلَا يَأۡخُذُ مِنۡ شَعۡرِهِ أَوۡ بَشَرِهِ إِلَّا لِعُذۡرٍ، وَلَا يَرۡفُثُ، وَلَا يَفۡسُقُ، وَلَا يُجَادِلُ، وَلَا يَنۡكِحُ، وَلَا يَخۡطُبُ، وَلَا يَقۡتُلُ صَيۡدًا، وَمَنۡ قَتَلَ فَعَلَيۡهِ جَزَاءٌ مِثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحۡكُمُ بِهِ ذَوَا عَدۡلٍ، وَلَا يَأۡكُلُ مَا صَادَ غَيۡرُهُ إِلَّا إِذَا كَانَ الصَّائِدُ حَلَالًا وَلَمۡ يَصُدۡهُ لِأَجۡلِهِ، وَلَا يَعۡضُدُ مِنۡ شَجَرِ الۡحَرَمِ إِلَّا الۡإِذۡخِرَ، وَيَجُوزُ لَهُ قَتۡلُ الۡفَوَاسِقِ الۡخَمۡسِ، وَصَيۡدُ حَرَمِ الۡمَدِينَةِ وَشَجَرُهُ كَحَرَمِ مَكَّةَ، إِلَّا أَنۡ قَطَعَ مِنۡ شَجَرِهِ أَوۡ خَبَطَهُ كَانَ سَلۡبُهُ حَلَالًا لِمَنۡ وَجَدَهُ، وَيَحۡرُمُ صَيۡدُ وَجٍّ وَشَجَرُهُ. 
Seorang yang berihram tidak boleh memakai gamis, serban, burnus (jubah yang memiliki penutup kepala), sirwal (celana yang lebar), pakaian yang terkena wars (pewarna nabati jingga yang berbau wangi) dan safron. Tidak pula khuf (sejenis sepatu) kecuali ia tidak mendapatkan sandal, maka ia potong lebih rendah daripada kedua mata kaki. Tidak boleh memakai wewangian saat memulai ihram. Tidak boleh mengambil rambut atau kulit kecuali karena ada uzur. Tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berdebat. Tidak boleh menikah, melamar. Tidak boleh membunuh hewan buruan. Siapa saja yang membunuhnya maka wajib baginya untuk menebus dengan binatang ternak semisal yang telah ditetapkan oleh dua orang yang adil. Tidak boleh memakan hewan buruan yang diburu oleh orang lain kecuali si pemburu tidak berihram dan ia tidak memburu untuk orang yang berihram. Pepohonan di tanah haram tidak boleh ditebang kecuali idzkhir. Boleh untuk membunuh lima hewan fasik. Hewan buruan dan pepohonan di tanah suci Madinah seperti di tanah suci Makkah, kecuali apabila ada yang menebang pohon atau memangkas dedaunannya, maka barang-barangnya halal bagi siapa saja yang memergokinya. Haram pula hewan buruan dan pepohonan daerah Wajj.
أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَلۡبَسُ تِلۡكَ الۡأُمُورَ، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: مَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ؟ فَقَالَ: (لَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ الۡقَمِيصَ؛ وَلَا الۡعِمَامَةَ، وَلَا الۡبُرۡنُسَ، وَلَا السَّرَاوِيلَ، وَلَا ثَوۡبًا مَسَّهُ وَرۡسٌ وَلَا زَعۡفَرَانٌ، وَلَا الۡخُفَّيۡنِ إِلَّا أَنۡ لَا يَجِدَ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَقۡطَعۡهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ). قَالَ الۡقَاضِي عِيَاض: أَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَا ذُكِرَ فِي هٰذَا الۡحَدِيثِ لَا يَلۡبَسُهُ الۡمُحۡرِمُ.
Orang yang berihram tidak boleh memakai perkara-perkara tersebut, berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar di dalam dua kitab Shahih[1] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: Apakah yang boleh dipakai orang yang berihram? Beliau menjawab, “Seorang yang berihram tidak boleh memakai gamis, serban, burnus (jubah yang memiliki penutup kepala, sirwal (celana yang lebar), pakaian yang diolesi wars dan safron. Tidak boleh pula khuf (sejenis sepatu) kecuali apabila ia tidak mendapatkan sandal, maka ia potong khuf tersebut sehingga menjadi lebih rendah daripada dua mata kaki.” Al-Qadhi ‘Iyadh[2] mengatakan: Kaum muslimin bersepakat bahwa apa saja yang disebutkan di dalam hadis ini tidak boleh dipakai oleh seorang yang berihram.
وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَجِدۡ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَلۡبَسۡ خُفَّيۡنِ، وَمَنۡ لَمۡ يَجِدۡ إِزَارًا فَلۡيَلۡبِسۡ سَرَاوِيلَ) وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ نَحۡوُهُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ.
Muslim[3] dan selain beliau mengeluarkan riwayat dari hadis Jabir, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak mendapatkan sandal, maka silakan memakai khuf, dan siapa saja yang tidak mendapatkan izar (kain yang disarungkan), maka silakan memakai sirwal.” Dan di dalam dua kitab Shahih[4] semisal riwayat tersebut dari hadis Ibnu ‘Abbas.
وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ وَالۡبُخَارِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرۡمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تَنۡتَقِبُ الۡمَرۡأَةُ الۡمُحۡرِمَةُ، وَلَا تَلۡبَسُ الۡقُفَّازَيۡنِ). وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ، وَالۡحَاكِمُ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ: (وَمَا مَسَّ الۡوَرَسُ، وَالزَّعۡفَرَانُ مِنَ الثِّيَابِ). وَالۡقُفَّازُ: بِضَمِّ الۡقَافِ وَتَشۡدِيدِ الۡفَاءِ وَبَعۡدَ الۡأَلِفِ زَايٌ مَا تَلۡبَسُهُ الۡمَرۡأَةُ فِي يَدَيۡهَا فَيُغۡطِي أَصَابِعَهَا وَكَفَّهَا عِنۡدَ مَعُانَاةِ شَيۡءٍ.
Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi[5] mengeluarkan riwayat –dan At-Tirmidzi telah menyahihkannya- dari hadis Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang berihram tidak boleh memakai penutup wajah dan tidak boleh memakai sarung tangan.” Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi[6] menambahkan, “Dan setiap pakaian yang diolesi wars dan safron.” Al-Quffaz dengan mendhammah huruf qaf, mentasydid huruf fa`, dan setelahnya huruf alif adalah huruf zai artinya adalah sesuatu yang dipakai seorang wanita di kedua tangannya untuk menutupi jari-jemari dan telapak tangannya ketika menyentuh sesuatu.
وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَتَطَيَّبُ ابۡتِدَاءً، وَيَجُوزُ لَهُ أَنۡ يَسۡتَمِرَّ عَلَى الطِّيبِ الَّذِي كَانَ عَلَى بَدَنِهِ قَبۡلَ الۡإِحۡرَامِ، فَذٰلِكَ هُوَ الرَّاجِحُ جَمۡعًا بَيۡنَ الۡأَدِلَّةِ، وَقَدۡ أَوۡضَحۡتُ ذٰلِكَ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى.
Seorang yang sudah berihram tidak boleh baru mengenakan wangi-wangian setelah ihramnya, namun boleh ia tetap membiarkan wewangian yang sudah berada di badannya sebelum memulai ihram. Ini adalah pendapat yang kuat karena mengumpulkan berbagai dalil. Aku telah menjelaskannya di dalam Syarh Al-Muntaqa.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَأۡخُذُ مِنۡ شَعۡرِهِ أَوۡ بَشَرِهِ إِلَّا لِعُذۡرٍ، فَلِحَدِيثِ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: كَانَ بِي أَذًى مِنۡ رَأۡسِي فَحُمِلۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَالۡقَمۡلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجۡهِي، فَقَالَ: (مَا كُنۡتُ أَرَى أَنَّ الۡجَهۡدَ قَدۡ بَلَغَ مِنۡكَ مَا أَرَى أَتَجِدُ شَاةً؟) قُلۡتُ: لَا، فَنَزَلَتِ الۡآيَةُ: ﴿فَفِدۡيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٍ﴾ [البقرة: ١٩٦] قَالَ: (هُوَ صَوۡمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ إِوۡإِطۡعَامُ سِتَّةِ مَسَاكِينَ نِصۡفَ صَاعِ طَعَامًا لِكُلِّ مِسۡكِينٍ).
Adapun orang yang berihram tidak boleh mengambil rambut dan kulitnya kecuali ada uzur, berdasarkan hadis Ka’b bin ‘Ujrah di dalam dua kitab Shahih[7] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Dahulu aku tertimpa gangguan di kepalaku, lalu aku dibawa menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kutu bertebaran di wajahku. Beliau bersabda, “Aku tadinya tidak menyangka bahwa engkau telah mengalami kepayahan seperti yang kulihat. Apakah engkau mempunyai seekor kambing?” Aku menjawab: Tidak. Maka, turunlah ayat, “Maka wajiblah atasnya berfidiah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban.” (QS. Al-Baqarah: 196). Beliau bersabda, “Yaitu puasa selama tiga hari dan memberi makan enam orang miskin, setiap satu orang miskin setengah sha’ makanan.”
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَرۡفُثُ، وَلَا يَفۡسُقُ، وَلَا يُجَادِلُ، فَلِنَصِّ الۡقُرۡآنِ، وَهٰذِهِ الۡأُمُورُ لَا تَحِلُّ لِلۡحَلَالِ وَلَكِنَّهَا مَعَ الۡإِحۡرَامِ أَغۡلَظُ.
Orang yang berihram tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan tidak boleh berdebat, berdasarkan nas Alquran. Dan perkara-perkara ini tidak halal bagi orang yang tidak berihram. Akan tetapi, apabila sedang ihram, perkara ini lebih sangat tidak halal.
وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَنۡكِحُ وَلَا يُنۡكِحُ، فَلِحَدِيثِ عُثۡمَانَ الثَّابِتِ فِي مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَنۡكِحُ وَلَا يُنۡكِحُ وَلَا يَخۡطُبُ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ، وَأَمَّا مَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَ مَيۡمُونَةَ وَهُوَ مُحۡرِمٌ. فَقَدۡ عَارَضَهُ مَا فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ مِنۡ حَدِيثِ مَيۡمُونَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلَالٌ. وَمَا أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَالتِّرۡمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَزَوَّجَ مَيۡمُونَةَ حَلَالًا. وَكَانَ أَبُو رَافِعٍ السَّفِيرُ بَيۡنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبَيۡنَ مَيۡمُونَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، وَهُمَا أَعۡرَفُ بِذٰلِكَ؛ وَعَلَى فَرۡضِ صِحَّةِ خَبَرِ ابۡنِ عَبَّاسٍ وَمُطَابَقَتِهِ لِلۡوَاقِعِ فَلَا يُعَارِضُ الۡأَحَادِيثُ الۡمُصَرَّحَةُ بِالنَّهۡيِ، بَلۡ يَكُونُ هٰذَا خَاصًّا بِالنَّبِيِّ ﷺ.
Seorang yang berihram tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan, berdasarkan hadis ‘Utsman yang telah pasti di dalam riwayat Muslim[8] dan selain beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan tidak boleh melamar.” Dalam bab ini ada banyak hadis. Adapun di dalam dua kitab Shahih[9] dan selain keduanya dari hadis Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram. Maka hadis Maimunah di dalam Shahih Muslim[10] dan selainnya telah membantahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya dalam keadaan tidak ihram. Serta riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi[11] –dan beliau menghasankannya- dari hadis Abu Rafi’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan tidak ihram. Abu Rafi’ adalah perantara pernikahan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Maimunah radhiyallahu ‘anha. Dan keduanya lebih mengetahui hal itu. Atas dasar anggapan kesahihan pengabaran Ibnu ‘Abbas dan kesesuaiannya dengan kenyataan, maka tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang terang mengenai larangan tersebut. Tetapi, bisa jadi ini merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَقۡتُلُ صَيۡدًا؛ فَقَدۡ وَرَدَ ذٰلِكَ الۡقُرۡآنُ الۡكَرِيمُ فَإِذَا قَتَلَ صَيۡدًا فَعَلَيۡهِ الۡجَزَاءُ يَحۡكُمُ بِهِ ذَوَا عَدۡلٍ كَمَا قَالَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَأۡكُلُ مَا صَادَهُ غَيۡرُهُ إِلَى آخِرِهِ؛ فَلِحَدِيثِ الصَّعۡبِ بۡنِ جَثَامَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: أَنَّهُ أَهۡدَى إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ حِمَارًا وَحۡشِيًّا وَهُوَ بِالۡأَبۡوَاءِ أَوۡ بِوَدَّانَ فَرَدَّهُ عَلَيۡهِ؛ فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجۡهِهِ قَالَ: (إِنَّا لَمۡ نرد عَلَيۡكَ إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ)، وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ نَحۡوَهُ مِنۡ حَدِيثِ زَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمٍ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَكَلَ مِنۡ صَيۡدِهِ الَّذِي صَادَهُ وَهُوَ حَلَالٌ. وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ مُحۡرِمًا فَأَكَلَ عَضُدَ حِمَارِ الۡوَحۡشِ الَّذِي صَادَهُ. وَجَمَعَ بَيۡنَ حَدِيثِ الصَّعۡبِ وَحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ بِأَنَّهُ ﷺ إِنَّمَا امۡتَنَعَ مِنۡ أَكۡلِ صَيۡدِ الصَّعۡبِ لِكَوۡنِهِ صَادَ لِأَجۡلِهِ، وَأَكَلَ مِنۡ صَيۡدِ أَبِي قَتَادَةَ لِكَوۡنِهِ لَمۡ يَصُدۡهُ لِأَجۡلِهِ، وَيَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ حَدِيثُ جَابِرٍ عَنۡ أَحۡمَدَ، وَأَهۡلِ السُّنَنِ، وَابۡنِ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنِ حِبَّان، وَالدَّارُقُطۡنِيِّ، وَالۡحَاكِمِ، وَالۡبَيۡهَقِيِّ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (صَيۡدُ الۡبَرِّ لَكُمۡ حَلَالٌ وَأَنۡتُمۡ حُرُمٌ مَا لَمۡ تَصِيدُوهُ أَوۡ يُصَدۡ لَكُمۡ).
Perihal orang yang berihram tidak boleh membunuh binatang buruan, terdapat di Alquran. Apabila ia telah membunuh, maka dia wajib menebus dengan tebusan yang diputuskan oleh dua orang yang adil. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah firmankan. Adapun orang yang berihram tidak boleh memakan binatang yang diburu oleh orang lain sampai akhir kalimat, berdasarkan hadis Ash-Sha’b bin Jatsamah di dalam dua kitab Shahih[12] dan selain keduanya: Bahwa beliau pernah menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor zebra ketika beliau di Al-Abwa` atau di Waddan, namun beliau mengembalikannya. Ketika Nabi melihat raut mukanya, beliau bersabda: Sesungguhnya kami mengembalikan kepadamu hanya karena kami sedang berihram. Muslim[13] juga mengeluarkan riwayat semisal itu dari Zaid bin Arqam. Dan di dalam dua kitab Shahih[14] dan selain keduanya dari hadis Abu Qatadah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan binatang buruan yang dia buru dalam keadaan Abu Qatadah tidak ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan ihram, lalu beliau memakan lengan atas zebra yang dia buru. Pengumpulan antara hadis Ash-Sha’b dengan hadis Abu Qatadah adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melarang dari makan binatang buruan Ash-Sha’b karena binatang tersebut diburu untuk beliau. Dan beliau makan dari binatang buruan Abu Qatadah karena Abu Qatadah tidak memburu untuk kepentingan beliau. Yang menunjukkan hal itu adalah hadis Jabir dari Ahmad, para penulis kitab As-Sunan, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi[15]; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Binatang buruan darat halal untuk kalian dalam keadaan kalian ihram selama kalian tidak memburunya atau diburu untuk kalian.”
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَعۡضُدُ مِنۡ شَجَرِ الۡحَرَمِ إِلَّا الۡإِذۡخِرَ، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ: (إِنَّ هَٰذَا الۡبَلَدَ حَرَامٌ، لَا يُعۡضَدُ شَجَرُهُ، وَلَا يُخۡتَلَى خَلَاؤُهُ، وَلَا يُنَفَّرُ صَيۡدُهُ، وَلَا تُلۡتَقَطُ لُقَطَتُهُ إِلَّا لِمُعَرِّفٍ) قَالَ الۡعَبَّاسُ: إِلَّا الۡإِذۡخِرَ فَإِنَّهُ لَا بُدَّ لَهُمۡ مِنۡهُ، فَإِنَّهُ لِلۡقُبُورِ وَالۡبُيُوتِ فَقَالَ: (إِلَّا الۡإِذۡخِرَ). وَأَخۡرَجَا نَحۡوَهُ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
Orang yang berihram tidak boleh menebang pepohonan tanah suci kecuali idzkhir, berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas di dalam dua kitab Shahih[16] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Fathu Makkah, “Sesungguhnya kota ini suci, pepohonannya tidak boleh ditebang, rerumputannya tidak boleh dicabut, binatang buruannya tidak boleh diburu, dan barang tercecernya tidak boleh dipungut kecuali bagi yang ingin mengumumkannya.” Al-‘Abbas mengatakan: Kecuali idzkhir karena mereka harus menggunakannya untuk kuburan-kuburan dan rumah-rumah. Beliau bersabda, “Kecuali idzkhir.” Keduanya juga mengeluarkan[17] semisal hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجُوزُ قَتۡلُ الۡفَوَاسِقِ الۡخَمۡسِ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَتۡ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَتۡلِ خَمۡسِ فَوَاسِقِ فِي الۡحِلِّ وَالۡحَرَمِ: الۡغُرَابُ، وَالۡحِدَأَةُ، وَالۡعَقۡرَبُ، وَالۡفَأۡرَةُ، وَالۡكَلۡبُ الۡعَقُورُ. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَمۡسٌ مِنَ الدَّوَابِّ لَيۡسَ فِي قَتۡلِهِنَّ جُنَاحٌ). وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ زِيَادَةً: الۡحَيَّةُ. وَكَذٰلِكَ فِي حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، بِإِسۡنَادٍ فِيهِ لَيۡثُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمٍ.
Orang yang berihram boleh membunuh lima hewan fasik, berdasarkan hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih[18] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membunuh lima hewan fasik di tanah halal dan tanah haram: burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing liar yang buas. Dan di dalam dua kitab Shahih[19] pula dari hadis Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lima binatang yang tidak berdosa membunuhnya.” Di dalam Shahih Muslim[20] dari hadis Ibnu ‘Umar dengan tambahan: ular. Demikian pula dalam hadis Ibnu ‘Abbas riwayat Ahmad[21] dengan sanad yang ada Laits bin Abu Sulaim.
وَأَمَّا كَوۡنُ صَيۡدِ الۡمَدِينَةِ وَشَجَرِهِ كَحَرَمِ مَكَّةَ، فَلِحَدِيثِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيۡنَ عَيۡرٍ إِلَى ثَوۡرٍ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ عَبَّادِ بۡنِ تَمِيمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَإِنِّي حَرَّمۡتُ الۡمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبۡرَاهِيمُ مَكَّةَ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ فِي الصَّحِيحَيۡنِ، وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ.
Binatang buruan Madinah seperti binatang buruan tanah suci Makkah, berdasarkan hadis ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Air sampai Tsaur.” Hadis ini ada di dalam dua kitab Shahih[22] dan selain keduanya. Juga terdapat di dalam dua kitab Shahih[23] dari hadis ‘Abbad bin Tamim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah tanah suci dan mendoakan kebaikan untuknya. Dan aku menjadikan Madinah sebagai tanah suci sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah suci.” Dalam bab ini ada beberapa hadis di dalam dua kitab Shahih[24] dan selain keduanya dari sekelompok sahabat.
وَأَمَّا كَوۡنُ مَنۡ قَطَعَ شَجَرَ الۡمَدِينَةِ أَوۡ خَبَطَهُ يُسۡلَبُ، فَلِحَدِيثِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ :أَنَّهُ رَكِبَ إِلَى قَصۡرِهِ بِالۡعَقِيقِ فَوَجَدَ عَبۡدًا يَقۡطَعُ شَجَرًا أَوۡ يَخۡبِطُهُ فَسَلَبَهُ، فَلَمَّا رَجَعَ سَعۡدٌ جَاءَهُ أَهۡلُ الۡعَبۡدِ فَكلموهُ أَنۡ يَرُدَّ عَلَى غُلَامِهِمۡ أَوۡ عَلَيۡهِمۡ مَا أَخَذَهُ مِنۡ غُلَامِهِمۡ، فَقَالَ: مَعَاذَ الله أَنۡ أَرُدَّ شَيۡئًا نَفَّلَنِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبَى أَنۡ يَرُدَّ عَلَيۡهِمۡ. أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَأَحۡمَدُ. وَفِي لَفۡظٍ لِأَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالۡحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ رَأَيۡتُمُوهُ يَصِيدُ فِيهِ شَيۡئًا فَلَكُمۡ سَلَبُهُ).
Adapun perihal siapa saja yang menebang pohon Madinah atau memangkasnya, boleh dilucuti, maka berdasarkan hadis Sa’d bin Abu Waqqash, “Bahwa beliau pernah mengendarai tunggangan ke rumahnya di Al-‘Aqiq, lalu beliau memergoki seorang hamba yang menebang sebuah pohon atau memangkasnya, maka dia pun melucuti barang-barangnya. Ketika Sa’d telah pulang, majikan budak tersebut datang lalu berbicara dengannya supaya mengembalikan kepada budak tersebut atau kepada mereka semua barang yang ia ambil darinya. Beliau mengatakan: Aku berlindung kepada Allah dari mengembalikan sesuatu yang telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku dan beliau tidak mau mengembalikannya. (HR. Muslim dan Ahmad[25]). Di dalam satu riwayat milik Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim[26] –beliau menyahihkannya-; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang kalian lihat dia berburu di tanah haram, maka barang-barangnya untuk kalian.”
وَأَمَّا تَحۡرِيمُ صَيۡدِ وَجٍّ وَشَجَرِهِ وَعِضَاهِهِ؛ فَلِحَدِيثِ الزُّبَيۡرِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ صَيۡدَ وَجٍّ وَعِضَاهَهُ حَرَمٌ مُحَرَّمٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالۡبُخَارِيُّ فِي تَارِيخِهِ، وَحَسَّنَهُ الۡمُنۡذِرِيُّ، وَصَحَّحَهُ الشَّافِعِيُّ. وَوَجٌّ: بِفَتۡحِ الۡوَاوِ وَتَشۡدِيدِ الۡجِيمِ وَادٌ بِالطَّائِفِ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى مَا فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ الشَّافِعِيُّ وَالۡإِمَامُ يَحۡيَى وَهُوَ الۡحَقُّ، وَلَمۡ يَأۡتِ مَنۡ قَدَحَ فِي الۡحَدِيثِ بِمَا يَصۡلُحُ لِلۡقَدۡحِ الۡمُسۡتَلۡزِمِ لِعَدَمِ ثُبُوتِ التَّكۡلِيفِ بِمَا تَضَمَّنَهُ.
Adapun pengharaman binatang buruan Wajj, pepohonan, dan pohon berdurinya, berdasarkan hadis Az-Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya binatang buruan Wajj dan pepohonannya adalah haram. Diharamkan untuk Allah ‘azza wa jalla.” Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Bukhari[27] di dalam Tarikh beliau, dihasankan oleh Al-Mundziri[28], dan disahihkan oleh Asy-Syafi’i[29]. Wajj dengan menfathah huruf wawu dan tasydid huruf jim adalah sebuah lembah di Thaif. Asy-Syafi’i dan Imam Yahya berpendapat dengan kandungan hadis ini dan inilah yang benar. Dan yang mengkritik hadis ini tidak mendatangkan suatu alasan yang bisa menjatuhkan kesahihannya, yang bisa mengakibatkan tidak berlakunya pensyariatan kandungan hadis ini.

[2] Di dalam Al-Ikmal (4/162). 
[5] HR. Ahmad (2/119), Al-Bukhari nomor 1838, An-Nasa`i (5/133), dan At-Tirmidzi nomor 833. Yang kuat dalam masalah tambahan ini adalah bahwa ia mauquf. Abu ‘Ali An-Naisaburi Al-Hafizh mengatakan: Kalimat “wanita tidak boleh menutup wajah” adalah dari ucapan Ibnu ‘Umar yang terselip di dalam hadis tersebut, sebagaimana di dalam As-Sunanul Kubra karya Al-Baihaqi. Abu Dawud dan Al-Baihaqi telah memberi isyarat akan hal itu. 
[6] HR. Abu Dawud nomor 1827, Al-Hakim (1/486), dan Al-Baihaqi (5/46). 
[10] Nomor 1411, namun riwayat ini ada cacatnya. Al-Bukhari telah menyatakan cacatnya adalah mursal sebagaimana di dalam ‘Ilal At-Tirmidzi (234). Ad-Daruquthni mengatakan: lebih tepat dihukumi mursal. Al-‘Ilal (15/292), dan riwayat mursal ini juga dikeluarkan oleh An-Nasa`i di dalam Al-Kubra (4/288). 
[11] HR. Ahmad (6/393) dan At-Tirmidzi nomor 841 dan ia adalah riwayat yang diingkari ke-maushul-annya. Di dalam sanadnya ada Mathar bin Thahman Al-Warraq dan dia lemah. At-Tirmidzi mengatakan: Ini adalah hadis hasan dan kami tidak mengetahui seorang pun yang membuat sanad ini selain Hammad bin Zaid dari Mathar Al-Warraq dari Rabi’ah. Namun yang sahih perihal hadis ini adalah mursal, diriwayatkan oleh Malik di dalam Al-Muwaththa` (1/348) dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar (2/270). Ad-Daruquthni telah menyebutkan perselisihan hadis ini di dalam Al-‘Ilal (6/13), juga Ibnu ‘Abdul Barr dalam At-Tamhid (3/152). 
[15] HR. Ahmad (3/362), Abu Dawud nomor 1851, An-Nasa`i (5/187), At-Tirmidzi nomor 846, Ibnu Khuzaimah nomor 2641, Ibnu Hibban (6/112), Ad-Daruquthni (2/290), Al-Hakim (1/456), dan Al-Baihaqi (5/190) dan hadis ini munqathi’. At-Tirmidzi mengatakan: Al-Muththalib kami tidak tahu dia mendengar dari Jabir. 
Al-Bukhari mengatakan: Kami tidak tahu dia mendengar dari salah seorang sahabat pun, demikian yang dikatakan oleh Ad-Darimi. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: Al-Muththalib bin Hanthab, keumuman hadisnya adalah mursal. Beliau tidak bertemu dengan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kecuali Sahl bin Sa’d, Anas, dan Salamah bin Al-Akwa’. Namun beliau tidak mendengar dari Jabir… Namun sepertinya dia sempat menjumpai Jabir, sebagaimana di dalam Jami’ut Tahshil nomor 774. 
Aku berkata: Ad-Daruquthni telah menerangkan di dalam Sunan beliau bahwa di sana ada seorang yang memperantarai Al-Muththalib dengan Jabir. 
[20] Nomor 1200. Abu Hatim mencacatnya dengan sesuatu yang tidak dapat mengurangi kesahihannya, beliau mengatakan: Sesungguhnya Ibnu ‘Umar tidak mendengar hadis ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau hanyalah mendengarnya dari saudarinya, yaitu Hafshah. Sebagaimana di dalam Al-‘Ilal karya putranya (1/281). 
Aku katakan: Tidak menghalangi Ibnu ‘Umar bahwa dia mendengar dari Hafshah kemudian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan meskipun ia tidak mendengar langsung dari Nabi, tidak menurunkan derajat hadis tersebut karena itu berarti mursal shahabi dan semua sahabat adalah adil. Ibnu Hajar mengatakan: Yang tampak bahwa Ibnu ‘Umar mendengarnya dari saudarinya, yaitu Hafshah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan ketika ditanya. (Al-Fath 4/43). 
[21] (1/257), dan Laits adalah lemah dan beliau tidak konsisten dalam hadis ini. Abu Ya’la mengeluarkan hadis tersebut (4/317) dari jalannya, beliau menyebutkan “burung elang” sebagai ganti dari “ular”. 
[24] Dari Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari nomor 1869 dan Muslim nomor 1372. Dari Anas riwayat Al-Bukhari nomor 1867 dan Muslim nomor 1366. Dari Abu Sa’id nomor 1374, dari Sa’d bin Abu Waqqash nomor 1363, dari Rafi’ bin Khadij nomor 1361, dan dari Jabir nomor 1362 keempat-empatnya riwayat Muslim. 
[25] HR. Muslim nomor 1364 dan Ahmad (1/168). 
[26] HR. Ahmad (1/170), Abu Dawud nomor 2037, dan Al-Hakim (1/486). Dan lafal ini milik Ahmad dan Abu Dawud secara makna. Adapun Al-Hakim, lafalnya berbeda dari keduanya dan hadis tersebut lemah. Di dalamnya ada Sulaiman bin Abu ‘Abdullah majhul. Abu Hatim mengatakan: Bukan orang yang terkenal, namun hadisnya bisa diperhitungkan (Al-Jarh 4/127). 
[27] HR. Ahmad (1/165), Abu Dawud nomor 2032, dan Al-Bukhari (1/140). 
[28] Di dalam takhrij beliau terhadap hadis-hadis Al-Muhadzdzab sebagaimana di dalam Al-Badrul Munir (6/370), dan beliau mendaifkannya di dalam Mukhtashar As-Sunan (2/442). Beliau membawakan ucapan para imam dalam mendaifkan Muhammad bin ‘Abdullah bin Insan Ath-Tha`ifi dan ayahnya. Hadis ini didaifkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Azdi, Al-Bukhari, Al-‘Uqaili, Ibnul Qaththan, dan An-Nawawi sebagaimana di dalam At-Talkhish (2/280). Begitu pula Abu Hatim mendaifkannya sebagaimana di dalam Al-Jarh (7/294), Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa` (4/92), dan selain keduanya. Di dalam hadis ini ada perselisihan yang disebutkan oleh Ad-Daruquthni di dalam ‘Ilal beliau (4/239). 
[29] Ibnul Mulaqqin mengatakan: Adz-Dzahabi telah menyatakannya garib, beliau mengatakan di dalam kitab Mizan beliau: Sesungguhnya Asy-Syafi’i telah menyahihkan hadisnya dan bertopang padanya. Al-Badrul Munir (6/371).

Silakan simak pembahasan Fiqh Ibadah Haji oleh Al-Ustadz Qomar Su'aidi hafizhahullah di audiokajian.