KEKASIH Sepanjang MASA

Siapa orangnya yang tidak ingin dikenang oleh orang yang dicintainya. Selalu diingat di hatinya, sering kali disebut namanya di lisannya, sekalipun yang dikenang telah lama tiada, mendahului berpulang keharibaan-Nya. Ibarat kekasih, dialah kekasih sepanjang masa. Tak dapat tergantikan di hati walaupun telah ada yang lain menemani. Tak dapat terlupakan di ingatan walaupun telah berlalu banyak peristiwa. Rasa cinta kepadanya tidak terputus hanya karena terpisahkan kematian. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan kasih sayang seperti itu. Tentu ada sebab khusus yang membuat seseorang menjadi begitu berarti di hati orang lain. Namun, demikianlah kiranya jika kita mau menggambarkan rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri pertama beliau. Dia adalah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha.

Jikalau kita memerhatikan kisah perjalanan kehidupan Khadijah bintu Khuwailid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita tidak akan merasa heran mengapa Khadijah radhiyallahu ‘anha mendapatkan tempat yang begitu mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum Allah mempertemukan mereka berdua, Khadijah memang sudah menjadi sesosok wanita yang matang dan pantas untuk menjadi pendamping pemimpin umat ini. Khadijah adalah seorang wanita yang mempunyai paras rupawan, mempunyai nasab yang mulia, memiliki harta, dan memiliki kematangan serta kedewasaan yang melebihi wanita yang lain di kalangan kaumnya. Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan pertemuan antara mereka berdua tentu bukan tanpa maksud. Risalah yang akan Allah embankan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah perkara yang ringan. Bahkan menanti di hadapannya berbagai gangguan dan rintangan yang harus dihadapi. Mungkin itulah salah satu hikmah Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan bagi Rasul-Nya Khadijah sebagai pendamping pertama dalam kehidupan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda memang terkenal kebagusan akhlak dan kejujurannya, sehingga tertariklah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha yang ketika itu dalam keadaan menjanda untuk memperkerjakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semakin lama bekerja bersamanya, semakin terlihat pesona kepribadian anak muda tersebut. Bahkan kekaguman Khadijah terhadap diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalahkan pandangan dan penilaiannya kepada para pembesar Quraisy yang tidak sedikit di antara mereka tertarik untuk melamarnya. Kekaguman yang akhirnya berbuah kecondongan yang ada dalam hati Khadijah terhadap diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tertangkap oleh shahabat Khadijah yaitu Nafisah bintu Munyah. Maka Nafisah kemudian mencoba mengutarakan hal tersebut ke hadapan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Takdir Allah memang mesti terlaksana. Sekalipun perbedaan usia antara Khadijah dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu berpaut umur yang cukup jauh, Allah memberikan kecondongan pula di hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda untuk menerima penawaran Nafisah yang meminta beliau menikahi Khadijah bintu Khuwailid. Khadijah bintu Khuwailid yang ketika itu berusia 40 tahun, sedangkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun.

Sungguh sebuah pernikahan yang mengandung banyak hikmah di dalamnya. Kebahagiaan demi kebahagiaan menyelimuti pernikahan mereka berdua. Lahirlah dari keduanya putra putri penyejuk hati. Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Khultsum, Fatimah, dan Abdullah. Sehingga jadilah kehidupan mereka penuh dengan rasa syukur dan limpahan rahmat dari Sang Maha Kuasa. Kemapanan hidup yang mereka rasakan Allah jadikan salah satu sebab yang membawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda dapat memaksimalkan dirinya mencari hakekat kehidupan di dunia. Kebersihan fitrah yang Allah berikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak kecil hingga dewasa, terus berlanjut hingga beliau berkeluarga. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali memanfaatkan waktunya untuk menyendiri dari keramaian manusia untuk merenungi kebesaran dan keagungan penguasa semesta alam, menjauh dari segala kemusyrikan peribadatan yang dilakukan oleh kaumnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali pergi ke Gua Hira di Jabal Nur, sebuah gua yang tidak terlalu besar, yang berjarak kurang lebih dua mil dari Kota Mekkah.

Sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala kemudian berkehendak mengangkat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang nabi dan Rasul di usia 40 tahun. Di dalam keremangan Gua Hira, di bulan Ramadhan, datanglah malaikat kepada beliau seraya berkata “Bacalah!” Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat tersebut mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, kemudian memegangi dan merangkul beliau hingga beliau merasa sesak kemudian melepaskan beliau dan berkata:
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS. Al Alaq 1-5]

Dengan perasaan yang masih penuh dengan ketakutan, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti bacaan tersebut. Setelah peristiwa itu berlalu, maka pulanglah beliau dengan badan menggigil dan gemetar berkata kepada istrinya Khadijah, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha sebagai soerang istri yang ketika itu telah berusia 55 tahun dapat berperan dengan baik untuk menenangkan dan menghibur hati suami yang sedang dilanda ketakutan. Setelah dapat menenangkan diri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan apa yang telah terjadi, dan beliau mengutarakan kekhawatiran beliau terhadap dirinya sendiri, khawatir telah mengganggu pikiran dan kejiwaannya.

Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha sebagai seorang istri yang sangat mengenal suaminya, berkata menenangkan, “Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang suka menyambung tali persaudaraan, senang meringankan beban orang lain, senang memberi makan orang miskin, senang menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.” Maka Khadijah membawa suaminya pergi mengunjungi anak pamannya yang dikenal taat beragama, yaitu Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza. Waraqah adalah seorang Nasrani yang taat. Dia mengerti kitab Injil dan membacanya. Dia seorang yang tua dan buta.

Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang beliau alami, serta merta Waraqah berkata, “Itu adalah Namus, (Malaikat Jibril) yang diturunkan Allah kepada Musa. Andai saja aku masih muda pada saat itu, andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu…” “Benarkah mereka akan mengusirku?” Tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Benar, tidak ada seorangpun yang pernah membawa seperti yang akan engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada saat itu tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh,” ujar Waraqah meyakinkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah berkata demikian karena ia memahami apa yang dijanjikan Allah dalam kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat dan Injil, akan datang seorang nabi terakhir, penutup para nabi, dengan tanda-tanda yang dapat dikenali bagi yang mengetahui. Tapi takdir Allah menetapkan Waraqah tidak hidup lama setelahnya. Waraqah wafat pada saat-saat awal turunnya wahyu.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Waraqah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sedikit tenang dan mulai tumbuh keyakinan di dalam diri beliau akan benarnya perkataan Waraqah. Akan tetapi perkara ini tidak berlalu begitu saja. Beberapa saat setelah wahyu yang pertama turun, beliau kembali berjumpa dengan malaikat yang menjumpai beliau di Gua Hira, dan turunlah kepada beliau Al Qur’an Surat Al Mudatsir: 1-7,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ ۝٥ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ۝٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصْبِرْ ۝٧
“Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Maka dengan turunnya surat tersebut, tetaplah sudah perintah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa wajib bagi beliau untuk memberikan peringatan kepada kaumnya, bahkan kepada umat manusia semuanya, untuk mengajari mereka menauhidkan Allah semata dalam setiap peribadatan, dan untuk memberi peringatan akan bahayanya menyekutukan Allah dalam perkara tersebut. Tentu pihak pertama yang diharapkan dukungannya adalah keluarga tercinta yaitu istri dan anak-anak beliau. Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disusul ke empat putri mereka, Zainab, Ruqayyah, Ummu Khultsum, dan Fathimah. Sementara kedua putra mereka wafat dalam usia kanak-kanak. Kemudian mengikuti mereka, maula beliau Zaid bin Haritsah, kemudian anak paman beliau Ali bin Abi Thalib dan shahabat beliau Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhum.

Perjalanan dakwah baru dimulai. Apa yang dikatakan Waraqah terbukti sebagaimana tersebut dalam kitab terdahulu. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditentang, dihalangi dilecehkan bahkan diberikan gangguan-gangguan yang menyakitkan. Tapi yang demikian itulah sunnatullah. Ketetapan Allah yang mesti terjadi. Dan gangguan itu adalah ujian dari Allah atas keimanan mereka. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الٓمٓ ۝١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝٢﴾وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ ۝٣
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” [Q.S. Al Ankabut: 1-3].

Demikianlah. Masa-masa awal kenabian adalah masa perjuangan yang sangat berat. Celaan, hinaan, gangguan kepada keluarga Rasulullah semakin menjadi. Khadijah binti Khuwailid menghadapi segala keadaan dengan penuh kesabaran. Dengan segenap kemampuan dicurahkannya perhatian, dan dukungan kepada suaminya dari segala sisi. Hartanya, jiwanya, pikiran, tenaga, dan hatinya tertuju pada dakwah yang dibawa oleh suaminya. Tidak pernah tebersit di dalam benaknya untuk mundur ke belakang, setelah mengetahui rintangan yang harus dihadapi. Bantuannya yang besar dalam mendukung dan meneguhkan hati suaminya menghadapi berbagai rintangan membuat perannya sungguh tidak mungkin terlupakan, menetap dan senantiasa terkenang di sudut hati Rasulullah yang paling dalam. Bahkan ketika kafir Quraisy sepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Al Muthallib karena sebab dukungan dan pembelaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah radhiyallahu ‘anha senantiasa berada di sisi suaminya menghadapi masa-masa sulit tersebut. Sekalipun ketika itu usia Khadijah sudah melebihi 60 tahun.

Tiga tahun masa pemboikotan sungguh menjadi masa yang panjang disebabkan keadaan yang benar-benar sulit. Musyrikin Quraisy tidak membiarkan ada barang dagangan masuk ke dalam Makkah kecuali mereka pasti memborongnya agar Bani Hasyim dan Bani Al Muthallib tidak mendapatkan suatu apapun untuk kebutuhan mereka. Harga dibuat menjadi begitu tinggi ketika barang telah berada di tangan mereka hingga Bani Hasyim tidak mampu membelinya. Rintihan kelaparan terdengar dari perkampungan mereka. Tetapi Rasulullah tetap berdakwah menyeru mereka kepada Islam. Hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun ke sepuluh dari nubuwwah, piagam pemboikotan yang mereka buat Allah takdirkan terkoyak. Allah memberikan pertolongan dan menuntaskan ujian kepada orang-orang yang beriman dengan kehendak-Nya. Musyrikin Quraisy menyaksikan sendiri piagam tersebut termakan rayap, dan terhapuslah isinya kecuali sepenggal tulisan bertuliskan “Bismika Allahumma” dan setiap tulisan yang ada kata Allah di dalamnya. SubhanAllah… Dan akhirnya musyrikin Quraisy memutuskan untuk menghentikan pemboikotan yang mereka lakukan.

Pemboikotan yang panjang memberikan dampak yang cukup besar bagi kesehatan Abu Thalib paman Rasulullah dan juga istri beliau Khadijah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu telah berusia lanjut. Keduanya tertimpa sakit yang cukup serius, bahkan kurang lebih 6 bulan setelah pemboikotan tersebut, Abu Thalib wafat. Sayangnya, Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa membantu dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir, masih berpegang kepada agama nenek moyangnya. Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Teman-teman Abu Thalib senantiasa mendampinginya di saat-saat akhir kehidupannya, sehingga sulit bagi Abu Thalib untuk meninggalkan agama nenek moyangnya disebabkan kecondongannya kepada teman-temannya yang buruk. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari teman-teman yang buruk.

Kurang lebih 3 bulan setelah kematian Abu Thalib, Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha wafat, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun ke sepuluh nubuwwah, pada usia 65 tahun. Sungguh tahun yang penuh duka bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kehilangan dua sosok yang selama ini sangat berperan di dalam kehidupan beliau. Terutama Khadijah. Dia adalah sosok pendamping setia, menyayangi sepenuh hati, menenangkan di kala gundah, membantu di kala susah, senantiasa bersama dalam suka dan duka. Pantaslah kiranya kenangan bersamanya tidak mungkin terlupakan. Bahkan teriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memuji Khadijah yang artinya, “Dia beriman kepadaku saat semua mengingkariku, dia membenarkanku saat semua mendustakanku, dia menyerahkan hartanya kepadaku saat semua tidak mau memberikannya, dan Allah mengkaruniakan kepadaku anak darinya yang Allah tidak memberikannya kepadaku dari wanita selainnya.” SubhanAllah

Bukan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan pujian dan pernyataan akan kebaikan Khadijah, tapi Jibril ‘alaihis salam pun pernah menyampaikan salam dan kabar gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Khadijah akan adanya balasan baginya di surga dalam keadaan dia masih hidup. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah, dia datang kepadamu membawa bejana yang di dalamnya terdapat lauk, makanan dan minuman. Maka jika dia mendatangimu sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya dan dariku, dan sampaikan kabar gembira kepadanya tentang sebuah rumah di surga yang tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak pula keletihan.” SubhanAllah.

Rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha tampak jelas terlihat. Sepeninggal Khadijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengunjungi orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dan kedekatan kepada Khadijah di masa hidupnya, sebagai bentuk menyambung tali kasih sayang dengan orang-orang yang pernah dekat dengan Khadijah. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing, beliau tidak lupa untuk menghadiahkan sebagiannya pada orang-orang terdekat Khadijah. Hal tersebut terasakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta Rasulullah sepeninggal Khadijah. Bahkan tak elak muncul kecemburuan dalam diri Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Tidaklah aku pernah cemburu kepada seorang wanita sebagaimana kecemburuanku kepada Khadijah. Sungguh dia telah wafat 3 tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku, (akan tetapi) aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali menyebutnya.”

Pantaslah kiranya kasih dan sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha terus terjaga sepeninggalnya. Kemuliaan Khadijah bukan hanya semata untuk meraih kecintaan suami, tapi didasari keimanan yang kuat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wanita yang mulia di sisi Rabbnya pantas mendapatkan balasan setimpal di dunia berupa kasih sayang yang besar dari suaminya, dan balasan di akhirat kelak berupa surga-Nya. Dan sudah sepantasnya pula wanita setelahnya menjadikannya sebagai suri teladan, dan mengambil pelajaran dari pelajaran hidupnya yang penuh kemuliaan. Semoga kita dimudahkan… amin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Niswah. Pemateri: Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.

USAID BIN HUDHAIR AL AUSI

Usaid bin Hudhair Al Ausi radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat Nabi yang mulia dan merupakan pemuka kabilah Aus di Madinah, baik sebelum dia berislam maupun sesudahnya. Ia mewarisi posisi kepemimpinan ini dari ayahnya. Usaid juga merupakan sosok yang berkepribadian lurus, bersih dan teguh, serta memiliki pandangan yang tajam. Di masa jahiliah, ia dinilai layak mendapatkan julukan Al Kamil (perfeck/ideal)[1] seperti ayahnya.

Rantai nasab beliau adalah Usaid bin Hudhair bin Simak bin ‘Atik bin Imriil Qais bin Zaid bin Abdil Asyhal bin Jusyam bin Al Harits bin Al Khazraj bin ‘Amr bin Malik bin Al Aus. Setidaknya ada lima pendapat tentang kuniah beliau, namun menurut pendapat yang paling masyhur beliau ber-kuniah Abu Yahya. Ibunda beliau adalah Ummu Usaid binti An Nu’man bin Imriil Qais bin Zaid bin Abdil Asyhal.

Ayah beliau, yang disebut dengan Hudhair Al Kataib, adalah salah satu bangsawan Arab di masa jahiliah dan termasuk petempur-petempur Arab yang tangguh. Dialah kesatria berkuda andalan suku Aus. Dia pula komandan Aus di hari pertempuran Bu’ats, pertempuran yang mengakhiri rangkaian perang saudara antara mereka dengan suku tetangga mereka, yaitu Khazraj. Tapi sungguh naas, pertempuran yang terjadi enam tahun sebelum hijrahnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah ini menutup riwayat hidup Hudhair Al Kataib; ia tewas dalam perang sebelum berislam.

KISAH KEISLAMAN USAID BIN HUDHAIR


Seusai Baiat Aqabah pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Mush’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu dari Mekah ke Madinah yang saat itu dikenal dengan nama Yatsrib, untuk mengajarkan Al Quran dan syariat Islam kepada penduduk Madinah yang telah beriman, dan mendakwahkan Islam kepada mereka-mereka yang belum berislam. Saat itu Usaid masih di atas kesyirikan. Setibanya di sana Mush’ab tinggal di kediaman Abu Umamah As’ad bin Zurarah.

Suatu ketika, Mush’ab tengah berkumpul bersama beberapa orang yang sudah berislam dari Al Ansar dalam sebuah majelis untuk menyampaikan dan memahamkan mereka ajaran dinul-Islam. Tokoh Aus lain sekaligus teman dekat Usaid yang bernama Sa’ad bin Mu’adz mengetahui hal ini. Dia ingin membubarkan mereka tapi tidak mampu karena As’ad bin Zurarah adalah sepupunya sendiri. Ia pun menghasut Usaid agar mau memperingatkan dan membubarkan mereka. Lalu Usaid pergi mengambil tombak dan mendatangi mereka dengan menentengnya. Tatkala As’ad bin Zurarah melihatnya dari kejauhan, dia berkata kepada Mush’ab, “Orang ini adalah pemuka di kaumnya; ia mendatangimu”. Ketika Usaid telah berdiri di hadapan mereka, dia berkata, “Apa yang membawa kalian ke sini? Kalian hendak membodohi orang-orang lemah kami? Menyingkirlah!” Mush’ab menimpali, “Tidakkah Anda duduk dan mendengarkan? Jika Anda suka bisa Anda terima, dan jika Anda tidak suka akan kami hentikan.” Usaid menerima tawarannya. Ia menancapkan tombaknya lalu duduk.

Mush’ab mulai membacakan Al Quran dan menjabarkan prinsip-prinsip Islam kepada Usaid. Rupanya, Usaid tersentuh dengan kata-katanya. Tampak dari sinar wajahnya keinginan untuk berislam. Lantas dia berkata, “Alangkah bagus dan indahnya ucapan ini! Apa yang kalian kerjakan ketika ingin masuk agama ini?” Mereka menjawab, “Mandi dan menyucikan pakaian, kemudian bersyahadat, kemudian salat dua rakaat.” Dia pun lekas bangkit dan mengerjakan apa yang dituntunkan serta menyatakan keislamannya. Sa’ad bin Mu’adz juga berislam sesaat setelah Usaid berislam. Demikianlah keadaan hamba-hamba Allah yang berkalbu baik, mereka akan segera menerima kebenaran ketika mendengarnya; Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada siapa yang pantas menerimanya.

Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu turut serta dalam Baiat Aqabah kedua bersama tujuh puluh orang Al Ansar. Beliau adalah salah satu dari kedua belas Nuqaba’ yang saat itu diamanahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawasi dan bertanggung jawab atas kaumnya yang telah masuk Islam, di samping juga mendakwahkan Islam kepada yang belum beriman. Beliau dipercaya sebagai penanggung jawab muslimin dari suku Aus.

Setibanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Kota Madinah, beliau mempersaudarakan Usaid dengan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Selanjutnya Usaid turut serta dalam pertempuran-pertempuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika pecah perang Uhud, Usaid terluka pada tujuh bagian dari tubuhnya. Namun beliau tetap tegar bersama beberapa shahabat lain di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membentengi beliau dari tebasan pedang, tusukan tombak, dan lesatan anak panah yang dengan intens dilakukan oleh pasukan kafir Quraisy. Seluruh peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti oleh Usaid, kecuali perang Badar. Diriwayatkan bahwa Usaid berkata kepada Nabi sekembalinya beliau dari Badar dan menyampaikan alasan ketidak ikutsertaannya ini, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah memenangkan Anda dan menyejukkan mata Anda. Demi Allah, wahai Rasulullah, tidaklah aku tertinggal dari perang Badar dalam keadaan aku tahu bahwa Anda hendak menjumpai pasukan musuh, tapi aku mengira bahwa Anda hanyalah akan mencegat kafilah dagang. Seandainya aku tahu bahwa Anda akan berperang melawan musuh tentu aku tidak akan tertinggal.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima alasannya. Usaid juga turut serta dalam penaklukan baitul maqdis di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

At Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan sebuah hadis yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو بَكْرٍ، نِعْمَ الرَّجُلُ عُمَرُ، نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، نِعْمَ الرَّجُلُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ
“Sebaik-baik laki-laki adalah Abu Bakar. Sebaik-baik laki-laki adalah Umar. Sebaik-baik laki-laki adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah. Sebaik-baik laki-laki adalah Usaid bin Hudhair.”

KARAMAH USAID BIN HUDHAIR


Pada suatu malam yang gelap gulita, Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu dan temannya yang bernama ‘Abbad bin Bisyr berbincang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suatu keperluan. Kemudian saat mereka bangkit dan keluar dari tempat tersebut, bercahayalah tongkat salah satu dari mereka berdua hingga menerangi jalan mereka. Tatkala jalan memisahkan mereka, bercahayalah tongkat masing-masing dari mereka hingga menerangi jalannya.

Usaid adalah salah seorang shahabat Nabi yang memiliki suara yang indah dalam tilawatil Quran. Pada suatu malam ia membaca surat Al Baqarah sementara kuda miliknya berada di dekatnya dalam keadaan terikat, dan anak laki-lakinya yang bernama Yahya berada di sampingnya dalam keadaan tidur. Tiba-tiba kudanya gaduh dan berputar-putar. Usaid pun menghentikan bacaannya dan bangkit karena mengkhawatirkan putranya. Lalu kuda tersebut diam dan tenang kembali. Kemudian dia melanjutkan bacaannya, dan kuda itu kembali bergerak-gerak. Hal itu terjadi beberapa kali. Kemudian ia mengangkat pandangannya ke langit. Ia melihat sesuatu seperti awan yang terdapat padanya lampu-lampu mendekat dari langit. Ia ketakutan dan tidak melanjutkan bacaannya. Di keesokan harinya, Usaid menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi mengatakan, “Itu adalah para malaikat. Mereka mendekat untuk mendengarkan suara bacaanmu. Seandainya engkau terus membaca niscaya orang-orang akan melihat mereka di pagi hari.”

WAFATNYA USAID BIN HUDHAIR RADHIYALLAHU ‘ANHU


Usaid meninggal dunia di bulan Sya’ban tahun dua puluh Hijriah. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ikut mengusung jenazahnya ke pemakaman Baqi’ dan menyalatinya di Baqi’. Usaid wafat dengan meninggalkan utang senilai empat ribu dirham. Lalu ahli warisnya berniat menjual kebun peninggalannya untuk menutupi utang tersebut. Mendengar hal itu, Sang Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menawarkan kepada para pemberi utang untuk menangguhkan pelunasan, dengan mereka menerima seribu dirham dari hasil kebun tersebut setiap tahunnya, hingga terlunasi dalam empat tahun. Mereka pun menerima tawarannya.

Radhiyallahu ‘anish-shahabati ajma’in. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Khairul Ummah. Pemateri: Ustadz Abu Haidar Harits.

[1] Istilah al Kamil menurut bangsa Arab di masa jahiliah dan awal-awal Islam adalah sebutan untuk seseorang yang mampu menulis tulisan Arab, pandai berenang, dan mahir memanah. Kala itu, buta aksara adalah keadaan yang mendominasi mereka.

Sang DERMAWAN

“Barangkali Al Khatib sendiri tidak melihat ada seorangpun yang selevel dengan dirinya,” tutur Abu Ali Al Bardani. Jikalau disebutkan nama Al Khatib maka yang tebersit dalam benak adalah seorang ulama tersohor dari kota Baghdad di Irak. Tidak lain beliau adalah Al Khatib Al Baghdadi seorang ulama yang sangat produktif menghasilkan karya tulis pada masanya. Salah satu buah karya beliau yang sangat fantastis dan terkenal adalah Tarikh Baghdad (sejarah Baghdad). Nama lengkapnya Al Khatib Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit rahimahullah yang terlahir pada tahun 392 H atau bertepatan dengan 1002 M.

PERKEMBANGAN INTELEKTUALNYA


Semenjak kecil beliau terbimbing di satu komunitas yang kental dengan pendidikan ilmu agama. Tercatat dalam biografinya bahwa ayahanda beliau yang bernama Abul Hasan adalah seorang khatib di sebuah desa yang bernama Darzijan di Irak. Di samping itu, ayahnya adalah seorang qari’ (ahli baca Al Quran) dengan bacaan Hafsh Al Kattani. Al Khatib tumbuh dan dewasa dalam bimbingan sang ayahanda yang merupakan seorang pecinta ilmu agama. Sejak kecil sang ayah telah menanamkan kepada putranya benih-benih kecintaan terhadap ilmu agama. Ayahnya memotivasinya untuk belajar ilmu hadis dan ilmu fikih. Oleh sebab itulah, Al Khatib telah mendengar dan belajar hadis tatkala usianya baru genap sebelas tahun.

Demikianlah masa kecil beliau begitu terkondisi dalam semangat belajar ilmu agama. Hingga akhirnya antusias belajar beliau ini terus membekas dan berlanjut hingga masa remaja. Bukan suatu hal yang aneh jika beliau menyukai rihlah menuntut ilmu agama pada usianya yang relatif masih sangat muda. Pada usia dua puluh tahun, beliau pergi ke Kota Bashrah untuk menuntut ilmu agama di hadapan para ulama di kota tersebut. Selang tiga tahun berikutnya beliau bertolak ke Naisabur dengan membawa misi mulia memperdalam ilmu agama. Bahkan dalam usianya yang sudah tidak muda lagi beliau masih sempat melakukan perjalanan ke Negeri Syam, Mekah, Ashfahan, Dainur, Hamadzan, Ray, Kufah, dan selainnya. Satu pembuktian akan semangat beliau yang menjulang tinggi untuk terus menuntut ilmu agama dan meriwayatkan hadis.

Di Akbara, Al Khatib belajar kepada Al Husain bin Muhammad Ash Shaigh. Sementara itu di Bashrah beliau menimba ilmu kepada Abu Umaral Hasyimi untuk fokus mendalami ilmu hadis. Demikian pula di Kota Naisabur, beliau berjumpa dengan sejumlah ulama semisal Al Qadhi Abu Bakar Al Hiyari, Abu Said Ash Shairafi, Abul Qasim Abdurrahman As Siraj, dan selain mereka. Adapun di Ashfahan, beliau berguru kepada Al Hafizh Abu Nu’aim dan sejumlah ulama yang lainnya. Hingga para ulama pun memberikan rekomendasi terhadap Al Khatib dalam perjalanan ilmiahnya mendalami ilmu agama. Seperti Abu Bakar Al Barqani yang pernah menulis sebuah surat kepada Abu Nuaim Al Hafizh, “Sungguh telah datang kepada Anda saudara kami (Al Khatib) untuk menimba ilmu kepada Anda. Alhamdulillah, dia termasuk pribadi dengan kedudukan yang baik dalam bidang ilmu hadis dan pengetahuan yang kokoh. Sungguh dia telah menempuh perjalanan jauh dalam rangka untuk mencari ilmu agama. Dia pun berhasil mendapatkan ilmu yang tidak mampu dihasilkan oleh ulama yang selevel dengannya.”

KARYA TULISNYA


Al Khatib sangat produktif menghasilkan berbagai karya tulis di sela pengembaraannya ke berbagai negeri. Penjelajahan beliau ke sekian negeri tidak menyurutkan langkah dalam berkarya dan berkhidmah untuk Islam. Mengumpulkan berbagai literatur, membaca dan menulis sehingga menjadi kesibukan dalam keseharian. Melakukan penelitian terhadap derajat hadis, menilai status para perawi hadis terkait dengan kredibilitas dalam periwayatan, dan bahkan mampu menulis sejarah serta menjelaskannya dengan terperinci. Sehingga beliau terpandang sebagai hafizh yang paling menojol dan mumpuni di masanya.

Tercatat ada lima puluh sekian karya tulis yang telah beliau persembahkan untuk Islam dan muslimin. Di antaranya adalah buah karyanya yang terkenal selain Tarikh Baghdad adalah Al Kifayah fi Ma’rifat Ushul ‘Ilm Al Riwayat, Iqtidha Al ‘Ilmi Al Amal, Syarf Ashab Al Hadis, Taqyid Al ‘Ilm, As Sabiq wal Lahiq, Rihlah fi Thalabil Hadis, Al Faqih wal Mutafaqqih, dan selainnya.

PUJIAN PARA ULAMA


Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan banyak kelebihan kepada Al Khatib Al Baghdadi. Hal ini diakui oleh para ulama besar dengan banyaknya pujian dan sanjungan mereka kepada beliau. Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala menyatakan, “Beliau adalah imam pilih tanding, sangat luas pengetahuannya, mufti, seorang hafizh (penghafal) yang begitu cerdas, pakar hadis di masanya, pemilik sekian karya tulis dan penutup para hafizh.”

Pembaca yang budiman, ternyata cukup banyak ulama yang menyejajarkan beliau dengan Ad Daruquthni. Salah satu muridnya yang bernama Ibnu Makula menuturkan, “Abu Bakar (Al Khatib) termasuk ulama terakhir yang kami saksikan pengetahuan, hafalan, kekokohan, dan ketelitiannya terhadap hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menguasai illah-illahnya (kesalahan-kesalahan dalam periwayatan hadis) dan sanad-sanadnya. Tidak ada ulama Baghdad setelah Abul Hasan Ad Daruquthni yang semisal dengan beliau.” Hal senada juga dipersaksikan oleh Al Muktaman As Sajiy, “Setelah Ad Daruquthni, Baghdad tidak pernah lagi melahirkan ulama yang lebih hafal daripada Abu Bakar Al Khatib.” Bahkan ulama besar sekelas Abu Ishaq Asy Syairazi juga menyatakan, “Abu Bakar Al Khatib mirip Ad Daruquthni dan ulama sekelasnya dalam ilmu hadis dan hafalannya.”

Al Khatib rahimahullah merupakan seorang figur ulama yang berwibawa dan disegani oleh kaum muslimin, bahkan para ulama. Beliau memiliki karakter tenang dalam menghadapi berbagai situasi dan dikenal memiliki tulisan yang bagus serta bahasa yang fasih.

AKHLAK DAN IBADAHNYA


Beliau termasuk ulama yang wara’ dan sangat menjaga kehormatan dirinya. Suatu saat ada seseorang datang dengan membawa uang dinar di lengan bajunya seraya mengatakan kepada Al Khatib, “Ini ada emas yang bisa engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.” Maka Al Khatib mengerutkan keningnya dan bermuka masam lantas mengatakan, “Aku tidak butuh kepada dinar-dinar itu.” Maka laki-laki itu berkata, “Seolah-olah engkau menganggap sedikit pemberianku.” Ia pun melempar dinar yang ada di lengan bajunya tersebut di hadapan Al Khatib. “Ini tiga ratus dinar untukmu”, tukas laki-laki itu. Namun Al Khatib langsung bangkit dengan raut wajah yang memerah lantas pergi meninggalkan orang itu. Akhirnya lelaki itu dengan hina dina terpaksa harus memungut lagi kepingan-kepingan dinar yang telah dia lempar. Sepenggal kisah ini menggambarkan bahwa beliau sangat menjaga kehormatan diri dan tidak silau dengan harta duniawi. Beliau lebih tidak mau untuk meminta-minta dan menghinakan diri di hadapan penguasa demi harta.

Namun lihatlah para pembaca, bagaimana semangat beliau dalam berderma. Tentang hal ini Abu Zakaria At Tibrizi berkisah, “Aku pernah pergi ke Damaskus lantas aku membaca kitab-kitab sastra Arab di hadapan Al Khatib di sebuah majelis di masjid Jami’. Saat itu aku tinggal di menara masjid Jami’. Lalu Al Khatib naik menemuiku seraya mengatakan, “Aku ingin mengunjungimu di rumahmu.” Kami pun terlibat dalam perbincangan selama beberapa saat. Tiba-tiba beliau mengeluarkan lembaran kertas dan berkata, “Hadiah adalah sunnah. Belilah pena dengan ini.” Kemudian beliau bangkit lalu pergi dan ternyata itu adalah uang senilai lima dinar mesir. Pada kesempatan yang lain beliau kembali naik ke atas dan meletakkan uang yang sama.”

Tentang ibadah beliau pun dipersaksikan oleh para ulama. Al Khatib pernah menunaikan ibadah haji dan mengkhatamkan Al Quran dengan bacaan yang tartil selama pelaksanaan haji tersebut. Kemudian orang-orang pun datang berkumpul menemui beliau dan meminta beliau meriwayatkan hadis. Maka Al Khatib meriwayatkan hadis kepada mereka di atas kendaraannya. Bahkan yang luar biasa beliau pernah mengkhatamkan Al Quran sepanjang perjalanan safar dari Damaskus ke Baghdad di setiap harinya. Subhanallah, dalam kondisi sedemikian sulitnya beliau masih mampu mengkhatamkan Al Quran.

Di akhir kehidupannya, Al Khatib sakit. Tepatnya pada pertengahan bulan Ramadhan dan kondisi beliau semakin memburuk pada bulan Dzulhijjah. Akhirnya beliau meninggal pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 463 H dan turut hadir dalam pemakamannya para qadhi dan tokoh-tokoh agama serta ahli fiqh. Beliau pun dimakamkan di samping Bisyr Al Hafi karena itulah keinginan beliau selama masih hidup.

Beliau rahimahullah sempat meminta agar hartanya yang berjumlah 200 dinar diinfakkan untuk kebaikan dan kepentingan kaum muslimin. Selain itu beliau juga berwasiat agar menyedekahkan seluruh pakaiannya untuk orang-orang yang membutuhkannya. Bahkan beliau juga mewakafkan seluruh kitab-kitab pribadinya. Sungguh beliau pribadi yang sangat gemar bederma untuk umat. Baik semasa hidupnya maupun setelah beliau meninggal dunia. Semoga Allah membalas jasa dan kebaikan beliau dengan balasan yang sebesar-besarnya. Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2441

٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أَلَا لَعۡنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾ [هود: ١٨]
2. Bab firman Allah taala (yang artinya), “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18)

٢٤٤١ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي قَتَادَةُ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ الۡمَازِنِيِّ قَالَ: بَيۡنَمَا أَنَا أَمۡشِي مَعَ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا آخِذٌ بِيَدِهِ، إِذۡ عَرَضَ رَجُلٌ فَقَالَ: كَيۡفَ سَمِعۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ فِي النَّجۡوَى؟ فَقَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ اللهَ يُدۡنِي الۡمُؤۡمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيۡهِ كَنَفَهُ وَيَسۡتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعۡرِفُ ذَنۡبَ كَذَا؟ أَتَعۡرِفُ ذَنۡبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمۡ أَيۡ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفۡسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرۡتُهَا عَلَيۡكَ فِي الدُّنۡيَا، وَأَنَا أَغۡفِرُهَا لَكَ الۡيَوۡمَ، فَيُعۡطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ. وَأَمَّا الۡكَافِرُ وَالمُنَافِقُونَ، فَيَقُولُ الۡأَشۡهَادُ: ﴿هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمۡ أَلَا لَعۡنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾) [هود: ١٨]. [الحديث ٢٤٤١ – أطرافه في: ٤٦٨٥، ٦٠٧٠، ٧٥١٤].
2441. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Qatadah mengabarkan kepadaku dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini, beliau berkata: Ketika aku berjalan bersama Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan berpegangan tangan beliau, tiba-tiba muncul seorang pria seraya bertanya: Bagaimana engkau mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembicaraan rahasia? Ibnu ‘Umar menjawab: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Dia meletakkan tabir-Nya dan menutupinya. Lalu Allah berkata: Apakah engkau mengenali dosa ini? Apakah engkau mengenali dosa ini? Si mukmin itu berkata: Iya, wahai Rabb-ku. Sampai ketika ia telah mengakui dosa-dosanya dan mengetahui pada dirinya bahwa ia akan celaka, Allah berkata: Aku telah menutupi dosamu itu ketika di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya. Lalu ia diberi catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata: Mereka ini adalah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (QS. Hud: 18).”

Abu Ayyub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu

Nama beliau tentu tidak asing bagi keumuman kaum muslimin. Beliau adalah bagian dari kaum Al Anshar namun masih memiliki tali kekerabatan dengan Nabi dari jalur nenek beliau. Beliaulah Abu Ayyub Al Anshari. Nama beliau adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Abdu ibnu Auf bin Ghanam bin Malik Abu Ayyub An Najjari. Ibunya adalah Hindun binti Saad bin Amr bin Imrilqais bin Malik bin Tsa’labah bin Kaab bin Al Khazraj bin Al Harits bin Al Khazraj Al Akbar.

Beliau termasuk As Sabiqunal Awwalun, muslimin yang terdahulu dalam Islam dari kalangan Anshar. Beliau juga termasuk kaum Anshar yang mengikuti Baiat ‘Aqabah. Di saat peristiwa hijrah Rasul, sesampainya di negeri Madinah, di rumah beliaulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal sementara, setelah sebelumnya beliau singgah di perkampungan Bani Amr bin Auf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di rumah tersebut beberapa bulan hingga beliau sudah memiliki rumah sendiri yang dibangun bersamaan dengan membangun masjid. Sebagaimana shahabat Anshar yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersaudarakan beliau dengan seorang Muhajirin, yaitu Mushab bin Umair, dai Islam pertama yang dikirim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke negeri Yatsrib.

Di antara bentuk kecintaan Abu Ayyub terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang beliau ceritakan sendiri:
نَزَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَيْتِنَا الْأَسْفَلِ وَكُنْتُ فِي الْغُرْفَةِ فَأَهْرِيقُ مَاءً فِي الْغُرْفَةِ فَقُمْتُ أَنَا وَأُمُّ أَيُّوبَ بِقَطِيفَةٍ تَتَّبِعُ الْمَاءَ شَفْقَةً أَنْ يَخْلُصَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْهُ شَيْءٌ
“Rasulullah tinggal di rumah kami di bagian bawah, dan ketika itu aku di dalam kamar (bagian atas) maka tumpahlah air yang berada di kamar, maka aku dan Ummu Ayyub pun bergegas mengelap bekas-bekas air dengan sebuah kain supaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tertimpa dengan tetesan air tersebut.” Tak sedikit pun beliau ingin menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walau dengan sesuatu yang remeh.

PEPERANGAN YANG DIIKUTI


Beliau termasuk shahabat yang senantiasa mengikuti peperangan dalam Islam. Beliau mengikuti perang Badar, Uhud, Khandaq, dan peperangan setelahnya. Hampir semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau ikuti. Seorang yang terkenal pemberani, penyabar, bertakwa, dan suka berjihad ini adalah keutamaan yang ada pada diri beliau.

Di saat kekhalifahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib, beliau termasuk jajaran shahabat yang berperang di bawah bendera Ali bin Abi Thalib dan termasuk shahabat dekat Ali bin Abi Thalib. Beliau bersama Ali bin Abi Thalib dalam Perang Jamal, perang menghadapi kaum khawarij dan pernah menjadi pengganti Ali saat Ali berangkat menuju ke Negeri Irak dan memindahkan pusat pemerintahan di sana.

Di antara hal yang menunjukkan semangat beliau dalam berjihad adalah riwayat yang disebutkan oleh Abu Yazid Al Madini, ia mengatakan, “Dahulu Abu Ayyub dan Miqdad bin Aswad mengatakan, ‘Kami diperintahkan untuk berperang dalam segala keadaan.’” Dan keduanya berdalih dengan ayat
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat.” [Q.S. At Taubah:41]

Di saat umur beliau senja, tepatnya saat kepemimpinan kaum muslimin berada di tangan Muawiyyah, Allah takdirkan beliau ikut serta berperang bersama-sama anak-anak beliau ke Negeri Romawi. Saat itu pasukan dipimpin oleh Yazid bin Muawiyyah. Suatu ketika beliau terluka dalam peperangan sehingga menyebabkan beliau sakit. Maka tatkala sakitnya bertambah parah, Yazid pun meminta kepada beliau sebuah wasiat. Maka beliau pun berpesan, “Jika aku mati, kafanilah aku, kemudian perintahkan manusia untuk memacu hewan-hewan (untuk beperang) menuju ke daerah musuh. Apabila kalian telah bertemu dengan musuh maka kuburkanlah aku di bawah kaki-kaki kalian. Maka Yazid pun memenuhi wasiat beliau itu sehingga beliau pun dikuburkan berada di dekat benteng mereka. Beliau meninggal di negeri Konstantinopel berkisar tahun 50, 51, atau 52 Hijriah dengan umur 80 tahun.

SEMANGAT BELAJAR


Di antara semangat beliau dalam menimba ilmu adalah apa yang disebutkan dari Juraij ia berkata, “Aku mendengar seorang syaikh dari Madinah menyebutkan hadis kepada ‘Atha bahwa Abu Ayyub melakukan safar ke Mesir menuju ‘Uqbah bin Amir demi mendapatkan sebuah hadis maka tatkala ‘Uqbah bin Amir mendengar kedatangan Abu Ayyub, maka beliau pun keluar menyambut demi memuliakan beliau. Maka beliau berkata kepadanya, ‘(Sebutkanlah) sebuah hadis yang engkau pernah dengar dari Rasulullah tentang menutupi rahasia muslim.’ Maka Uqbah pun mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ سَتَرَ عَلَى مُؤْمِنٍ خَزِيَّةً فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
‘Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat.’ Setelah mendengar hadis tersebut, maka Abu Ayyub pun menuju tunggangannya lalu pulang.

Beliau adalah seorang shahabat yang meriwayatkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung atau melewati riwayat Ubay bin Kaab dan lainnya. Tercatat pula murid-murid yang meriwayatkan dari beliau dari kalangan shahabat seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Zaid bin Khalid, Jabir bin Samurah, Al Barra bin Azib, Miqdam bin Ma’dikarib. Sedang di kalangan tabiin seperti Abdullah bin Yazid al-Khathami, Jubair bin Nufair, Sa’id bin Al Musayyib, Musa bin Thalhah, Urwah bin Zubair, Atha’ bin Yazid Al Laits, Aflah maula Atha’ bin Yazid Al Laitsi, Abu Rumam As Sima’i bin Abdirrahman, Abu Salamah bin Abdirrahman, Abdurrahman bin Abi Laila, Qartsa’ Adh Dhubai, Muhammad bin Ka’ab, Al Qasim Abu Abdirrahman, dan lain-lain.

KEDERMAWANAN


Di antara keutamaan beliau adalah sifat dermawan. Beliau senantiasa menyediakan makan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama beliau tinggal di rumahnya. Bahkan sifat dermawan juga tampak pada beliau sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Abbas, “Suatu hari, Abu Bakar keluar di siang hari. Saat matahari sedang panas-panasnya. Umar melihat Abu Bakar, kemudian ia bertanya, ‘Apa yang menyebabkanmu keluar di jam-jam seperti ini, Abu Bakar?’ ‘Tidak ada alasan lain yang membuatku keluar (rumah), kecuali aku merasa sangat lapar,’ jawab Abu Bakar. Umar menanggapi, ‘Aku pun demikian -demi Allah- tidak ada alasan lain yang membuatku keluar kecuali itu.” Saat keduanya dalam keadaan demikian Rasulullah keluar dan menghampiri keduanya. Beliau bersabda, ‘Apa yang menyebabkan kalian keluar pada waktu seperti ini?’ Keduanya mengatakan, “Tidak ada yang menyebabkan kami keluar kecuali apa yang kami rasakan di perut kami. Kami merasa sangat lapar.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku juga -demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya- tidak ada hal lain yang membuatku keluar kecuali itu. Ayo berangkat bersamaku.

Ketiganya pun beranjak. Mereka menuju rumah Abu Ayyub Al Anshari. Kebiasaan Abu Ayyub, beliau senantiasa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Jika istri-istri beliau tidak punya sesuatu untuk dimakan, beliau biasa ke rumah Abu Ayyub. Ketika ketiganya sampai di rumah Abu Ayyub, istri Abu Ayyub, Ummu Ayyub, mengatakan, “Selamat datang Nabi Allah dan orang-orang yang bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Di mana Abu Ayyub?” Abu Ayyub yang sedang bekerja di kebun kurma mendengar suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bersegera menuju rumahnya dan mengatakan, “Marhaban untuk Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.” Abu Ayyub berkata, “Wahai Rasulullah, waktu ini bukanlah waktu kebiasaan Anda datang ke sini.” “Benar,” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Ayyub segera memetikkan beberapa tangkai kurma kering, kurma basah, dan kurma muda. Kemudian menawarkannya kepada Rasulullah, “Rasulullah, makanlah ini. Aku juga akan menyembelihkan hewan untukmu,” kata Abu Ayyub. “Kalau engkau mau menyembelih, jangan sembelih yang memiliki susu,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Ayyub kemudian menghidangkan masakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sepotong daging dan meletakkannya pada roti. Kemudian beliau meminta Abu Ayyub, “Wahai Abu Ayyub, tolong antarkan ini untuk Fatimah karena telah lama ia tidak makan yang seperti ini.

Setelah kenyang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma muda.” Beliau menitikkan air mata. Kemudian bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Ini adalah kenikmatan, yang nanti akan ditanyakan di hari kiamat.

Demikian sekelumit kisah tentang Abu Ayyub Al Anshari, semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua. Amin. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah vol.06 1438H-2017M edisi 71 rubrik Figur.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3470

٣٤٧٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كَانَ فِي بَنِي إِسۡرَائِيلَ رَجُلٌ قَتَلَ تِسۡعَةً وَتِسۡعِينَ إِنۡسَانًا، ثُمَّ خَرَجَ يَسۡأَلُ، فَأَتَى رَاهِبًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ لَهُ: هَلۡ مِنۡ تَوۡبَةٍ؟ قَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَجَعَلَ يَسۡأَلُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: ائۡتِ قَرۡيَةَ كَذَا وَكَذَا، فَأَدۡرَكَهُ الۡمَوۡتُ، فَنَاءَ بِصَدۡرِهِ نَحۡوَهَا، فَاخۡتَصَمَتۡ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحۡمَةِ وَمَلَائِكَةُ الۡعَذَابِ، فَأَوۡحَى اللهُ إِلَى هَٰذِهِ أَنۡ تَقَرَّبِي، وَأَوۡحَى اللهُ إِلَى هَٰذِهِ أَنۡ تَبَاعَدِي، وَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيۡنَهُمَا، فَوُجِدَ إِلَى هَٰذِهِ أَقۡرَبَ بِشِبۡرٍ، فَغُفِرَ لَهُ).
3470. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Abu ‘Adi menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu Ash-Shiddiq An-Naji, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dahulu di kalangan Bani Israil ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia. Kemudian ia keluar ingin bertanya. Ia datang kepada seorang rahib (ahli ibadah) lalu bertanya kepadanya. Ia bertanya apakah masih ada tobat untuknya. Rahib itu menjawab: Tidak. Orang itu membunuh si rahib. Lalu ia bertanya lagi, kemudian ada orang yang berkata kepadanya: Datangilah negeri ini dan ini. Namun kematian menghampirinya. Ia sempat mencondongkan dada ke arah negeri tujuannya. Malaikat rahmat dan malaikat azab bertikai tentangnya. Lalu Allah memerintahkan kepada negeri tujuan agar mendekat dan Allah memerintahkan kepada negeri asal agar menjauh. Allah berkata: Ukurlah jarak antara keduanya. Lalu didapati orang ini lebih dekat ke negeri tujuan, sehingga ia diampuni.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6823

١٣ - بَابُ إِذَا أَقَرَّ بِالۡحَدِّ وَلَمۡ يُبَيِّنۡ هَلۡ لِلۡإِمَامِ أَنۡ يَسۡتُرَ عَلَيۡهِ
13. Bab apabila seseorang mengakui telah melakukan suatu perbuatan yang diancam dengan hudud, namun dia tidak menjelaskan jenis perbuatan itu, apakah pemimpin tetap menutupi aibnya

٦٨٢٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡقُدُّوسِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ عَاصِمٍ الۡكِلَابِيُّ: حَدَّثَنَا هَمَّامُ بۡنُ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَصَبۡتُ حَدًّا فَأَقِمۡهُ عَلَيَّ، قَالَ: وَلَمۡ يَسۡأَلۡهُ عَنۡهُ، قَالَ: وَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ﷺ الصَّلَاةَ، قَامَ إِلَيۡهِ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَصَبۡتُ حَدًّا، فَأَقِمۡ فِيَّ كِتَابَ اللهِ، قَالَ: (أَلَيۡسَ قَدۡ صَلَّيۡتَ مَعَنَا؟). قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَإِنَّ اللهَ قَدۡ غَفَرَ لَكَ ذَنۡبَكَ، أَوۡ قَالَ: حَدَّكَ).
6823. ‘Abdul Quddus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Amr bin ‘Ashim Al-Kilabi menceritakan kepadaku: Hammam bin Yahya menceritakan kepada kami: Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku pernah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang pria sembari berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan suatu perbuatan yang diancam dengan hudud, laksanakanlah hukuman itu terhadapku. Anas mengatakan: Nabi tidak menanyainya. Anas mengatakan: Waktu salat telah tiba. Pria itu salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat, pria itu berdiri menghadap beliau dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan suatu perbuatan yang diancam dengan hudud, laksanakanlah hukum kitab Allah terhadapku. Nabi bertanya, “Bukankah engkau telah salat bersama kami?” Pria itu menjawab: Iya. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu—atau beliau berkata: hukuman hududmu—.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 526

٥٢٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ التَّيۡمِيِّ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ النَّهۡدِيِّ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ: أَنَّ رَجُلًا أَصَابَ مِنَ امۡرَأَةٍ قُبۡلَةً، فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ، فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيۡلِ إِنَّ الۡحَسَنَاتِ يُذۡهِبۡنَ السَّيِّئَاتِ﴾ [هود: ١١٤] فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلِي هَٰذَا؟ قَالَ: (لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِمۡ).
[الحديث ٥٢٦ – طرفه في: ٤٦٨٧].
526. Qutaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, dari Ibnu Mas’ud: Bahwa ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu pria itu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabari beliau. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). Pria itu bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku? Beliau menjawab, “Untuk seluruh umatku.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5222 dan 5223

٥٢٢٢ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ: أَنَّ عُرۡوَةَ بۡنَ الزُّبَيۡرِ حَدَّثَهُ عَنۡ أُمِّهِ أَسۡمَاءَ: أَنَّهَا سَمِعَتۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا شَيۡءَ أَغۡيَرُ مِنَ اللهِ).
5222. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami dari Yahya, dari Abu Salamah: Bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadanya dari ibunya, yaitu Asma`: Bahwa Asma` mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih cemburu daripada Allah.”
٥٢٢٣ - وَعَنۡ يَحۡيَى: أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ حَدَّثَهُ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ.
5223. Dan dari Yahya: Bahwa Abu Salamah menceritakan kepadanya: Bahwa Abu Hurairah menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَغَيۡرَةُ اللهِ أَنۡ يَأۡتِيَ الۡمُؤۡمِنُ مَا حَرَّمَ اللهُ).
Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Syaiban menceritakan kepada kami dari Yahya, dari Abu Salamah: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah apabila seorang mukmin melakukan apa saja yang Allah haramkan.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4418

٨١ - بَابُ حَدِيثِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، وَقَوۡلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا﴾
81. Bab peristiwa Ka’b bin Malik dan firman Allah azza wajalla (yang artinya), “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka”

٤٤١٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، وَكَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ مِنۡ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ، قَالَ: سَمِعۡتُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنۡ قِصَّةِ تَبُوكَ، قَالَ كَعۡبٌ: لَمۡ أَتَخَلَّفۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةٍ غَزَاهَا إِلَّا فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ، غَيۡرَ أَنِّي كُنۡتُ تَخَلَّفۡتُ فِي غَزۡوَةِ بَدۡرٍ، وَلَمۡ يُعَاتِبۡ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنۡهَا، إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُرِيدُ عِيرَ قُرَيۡشٍ، حَتَّى جَمَعَ اللهُ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ عَدُوِّهِمۡ عَلَى غَيۡرِ مِيعَادٍ،
4418. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik: Bahwa ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik—beliau adalah penuntun Ka’b ketika buta dari kalangan putranya—berkata: Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan ketika beliau absen dari perang Tabuk. Ka’b mengatakan: Aku tidak pernah absen dari peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali pada perang Tabuk. Hanya saja aku juga absen pada perang Badr, namun Allah tidak mencela seorang pun yang absen darinya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadinya hanya ingin menghadang kafilah dagang Quraisy, sampai ternyata Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka tanpa direncanakan.
وَلَقَدۡ شَهِدۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَيۡلَةَ العَقَبَةِ، حِينَ تَوَاثَقۡنَا عَلَى الۡإِسۡلَامِ، وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشۡهَدَ بَدۡرٍ، وَإِنۡ كَانَتۡ بَدۡرٌ أَذۡكَرَ فِي النَّاسِ مِنۡهَا، كَانَ مِنۡ خَبَرِي: أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ قَطُّ أَقۡوَى وَلَا أَيۡسَرَ حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡهُ فِي تِلۡكَ الۡغَزَاةِ، وَاللهِ مَا اجۡتَمَعَتۡ عِنۡدِي قَبۡلَهُ رَاحِلَتَانِ قَطُّ، حَتَّى جَمَعۡتُهُمَا فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ، وَلَمۡ يَكُنۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُرِيدُ غَزۡوَةً إِلَّا وَرَّى بِغَيۡرِهَا، حَتَّى كَانَتۡ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةُ، غَزَاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، وَاسۡتَقۡبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا، وَمَفَازًا وَعَدُوًّا كَثِيرًا، فَجَلَّى لِلۡمُسۡلِمِينَ أَمۡرَهُمۡ لِيَتَأَهَّبُوا أُهۡبَةَ غَزۡوِهِمۡ، فَأَخۡبَرَهُمۡ بِوَجۡهِهِ الَّذِي يُرِيدُ، وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ كَثِيرٌ، وَلَا يَجۡمَعُهُمۡ كِتَابٌ حَافِظٌ، يُرِيدُ الدِّيوَانَ،
Aku telah mengikuti malam ‘Aqabah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika kami berjanji untuk membela Islam. Aku tidak suka untuk menggantinya dengan perang Badr, meskipun Badr lebih dikenang manusia daripadanya. Termasuk dari beritaku adalah bahwa diriku tidak pernah sama sekali lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika aku absen pada perang Tabuk. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah mengumpulkan dua tunggangan sama sekali, sampai aku mengumpulkan dua tunggangan untuk perang itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menghendaki perang kecuali beliau mengecoh dengan hal selainnya. Sampai pada perang itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perang itu ketika cuaca sangat panas, menghadapi perjalanan yang jauh, rute yang tandus, dan musuh yang banyak. Beliau menampakkan perkara ini secara terang-terangan kepada kaum muslimin agar mereka mempersiapkan persiapan perang mereka. Lalu beliau mengabarkan arah yang beliau tuju kepada mereka. Dan kaum muslimin yang ikut beserta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak dan tidak ada tulisan yang mencatat nama-nama mereka. Yang beliau maksud adalah daftar pasukan.
قَالَ كَعۡبٌ: فَمَا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنۡ يَتَغَيَّبَ إِلَّا ظَنَّ أَنۡ سَيَخۡفَى لَهُ، مَا لَمۡ يَنۡزِلۡ فِيهِ وَحۡيُ اللهِ، وَغَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلَالُ، وَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ، فَطَفِقۡتُ أَغۡدُو لِكَيۡ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمۡ، فَأَرۡجِعُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا، فَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: أَنَا قَادِرٌ عَلَيۡهِ، فَلَمۡ يَزَلۡ يَتَمَادَى بِي حَتَّى اشۡتَدَّ بِالنَّاسِ الۡجِدُّ، فَأَصۡبَحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ، وَلَمۡ أَقۡضِ مِنۡ جَهَازِي شَيۡئًا، فَقُلۡتُ أَتَجَهَّزُ بَعۡدَهُ بِيَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ ثُمَّ أَلۡحَقُهُمۡ، فَغَدَوۡتُ بَعۡدَ أَنۡ فَصَلُوا لِأَتَجَهَّزَ، فَرَجَعۡتُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا، ثُمَّ غَدَوۡتُ، ثُمَّ رَجَعۡتُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا، فَلَمۡ يَزَلۡ بِي حَتَّى أَسۡرَعُوا وَتَفَارَطَ الۡغَزۡوُ، وَهَمَمۡتُ أَنۡ أَرۡتَحِلَ فَأُدۡرِكَهُمۡ، وَلَيۡتَنِي فَعَلۡتُ، فَلَمۡ يُقَدَّرۡ لِي ذٰلِكَ،
Ka’b mengatakan: Tidaklah ada seseorang yang ingin absen kecuali ia menyangka bahwa hal itu akan tersembunyi dari Nabi, selama wahyu tidak turun mengenainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perang itu ketika buah-buahan dan berada di bawah naungan begitu menyenangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin bersiap-siap. Aku mulai beranjak untuk bersiap-siap bersama mereka. Aku kembali, namun aku tidak melakukan sesuatu. Aku berkata di dalam hati: Aku sanggup melakukannya nanti. Aku senantiasa menunda-nunda sampai orang-orang sudah sangat siap. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin berangkat, namun aku belum mempersiapkan perlengkapanku sedikitpun. Aku berkata: Aku akan mempersiapkannya satu atau dua hari setelahnya, kemudian aku akan menyusul mereka. Keesokannya setelah kepergian mereka, aku hendak bersiap-siap. Aku kembali namun aku tidak melakukan apa-apa. Kemudian keesokannya, aku kembali dan tetap tidak melakukan apa-apa. Aku senantiasa demikian sampai mereka telah pergi jauh dan perang pun terluputkan dariku. Aku ingin untuk menaiki tunggangan lalu menyusul mereka. Seandainya aku melakukannya, namun perang itu telah tidak ditakdirkan untukku.
فَكُنۡتُ إِذَا خَرَجۡتُ فِي النَّاسِ بَعۡدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَطُفۡتُ فِيهِمۡ، أَحۡزَنَنِي أَنِّي لَا أَرَى إِلَّا رَجُلًا مَغۡمُوصًا عَلَيۡهِ النِّفَاقُ، أَوۡ رَجُلًا مِمَّنۡ عَذَرَ اللهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ، وَلَمۡ يَذۡكُرۡنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى بَلَغَ تَبُوكَ، فَقَالَ، وَهُوَ جَالِسٌ فِي الۡقَوۡمِ بِتَبُوكَ: (مَا فَعَلَ كَعۡبٌ؟). فَقَالَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، حَبَسَهُ بُرۡدَاهُ، وَنَظَرُهُ فِي عِطۡفِهِ. فَقَالَ مُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ: بِئۡسَ مَا قُلۡتَ، وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ إِلَّا خَيۡرًا. فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
Ketika aku keluar menemui orang-orang setelah keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku berkeliling kepada mereka. Sangat menyedihkanku ternyata aku tidak melihat kecuali orang yang tertuduh kenifakan atau orang-orang lemah yang memang Allah beri uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutku sampai tiba di Tabuk. Beliau berkata ketika duduk bersama orang-orang di Tabuk, “Apa yang dilakukan Ka’b?” Seseorang dari Bani Salimah berkata: Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan ia memandangi sisinya. Mu’adz bin Jabal menyanggah: Sungguh jelek yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui pada diri Ka’b kecuali kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam.
قَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّهُ تَوَجَّهَ قَافِلًا حَضَرَنِي هَمِّي، وَطَفِقۡتُ أَتَذَكَّرُ الۡكَذِبَ وَأَقُولُ: بِمَاذَا أَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ غَدًا، وَاسۡتَعَنۡتُ عَلَى ذٰلِكَ بِكُلِّ ذِي رَأۡيٍ مِنۡ أَهۡلِي، فَلَمَّا قِيلَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ أَظَلَّ قَادِمًا زَاحَ عَنِّي الۡبَاطِلُ، وَعَرَفۡتُ أَنِّي لَنۡ أَخۡرُجَ مِنۡهُ أَبَدًا بِشَيۡءٍ فِيهِ كَذِبٌ، فَأَجۡمَعۡتُ صِدۡقَهُ، وَأَصۡبَحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَادِمًا، وَكَانَ إِذَا قَدِمَ مِنۡ سَفَرٍ بَدَأَ بِالۡمَسۡجِدِ فَيَرۡكَعُ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ، فَلَمَّا فَعَلَ ذٰلِكَ جَاءَهُ الۡمُخَلَّفُونَ، فَطَفِقُوا يَعۡتَذِرُونَ إِلَيۡهِ وَيَحۡلِفُونَ لَهُ، وَكَانُوا بِضۡعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا، فَقَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلاَنِيَتَهُمۡ، وَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ، وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمۡ إِلَى اللهِ،
Ka’b bin Malik mengatakan: Ketika sampai kepadaku kabar bahwa beliau sedang menuju pulang, kesedihan menghampiriku. Aku mulai berpikir untuk berdusta. Aku berkata: Dengan alasan apa aku bisa lolos dari kemarahan beliau besok. Aku meminta tolong kepada keluargaku yang memiliki pendapat dalam hal itu. Ketika ada yang berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebentar lagi datang, maka hilanglah pikiran batil itu dariku dan aku mengetahui bahwa aku tidak akan bisa lolos dari beliau selama-lamanya dengan alasan dusta. Maka, aku pun mengumpulkan kejujuran. Keesokan hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba. Beliau apabila tiba dari safar, biasa mengawali ke masjid, lalu salat dua rakaat di sana. Kemudian beliau duduk bertemu dengan orang-orang. Ketika beliau melakukan hal itu, orang-orang yang absen perang Tabuk mendatangi beliau. Mereka mulai mengajukan uzur kepada beliau dan bersumpah kepada beliau. Mereka ada delapan puluh sekian pria. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima lahiriah mereka, mengambil baiat mereka, meminta ampunan untuk mereka, dan menyerahkan rahasia diri mereka kepada Allah.
فَجِئۡتُهُ، فَلَمَّا سَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ المُغۡضَبِ، ثُمَّ قَالَ: (تَعَالَ). فَجِئۡتُ أَمۡشِي حَتَّى جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، فَقَالَ لِي: (مَا خَلَّفَكَ، أَلَمۡ تَكُنۡ قَدِ ابۡتَعۡتَ ظَهۡرَكَ؟). فَقُلۡتُ: بَلَى، - إِنِّي وَاللهِ - لَوۡ جَلَسۡتُ عِنۡدَ غَيۡرِكَ مِنۡ أَهۡلِ الدُّنۡيَا، لَرَأَيۡتُ أَنۡ سَأَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ بِعُذۡرٍ، وَلَقَدۡ أُعۡطِيتُ جَدَلًا، وَلَكِنِّي وَاللهِ، لَقَدۡ عَلِمۡتُ لَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ الۡيَوۡمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرۡضَى بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنۡ يُسۡخِطَكَ عَلَيَّ، وَلَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ حَدِيثَ صِدۡقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرۡجُو فِيهِ عَفۡوَ اللهِ، لَا وَاللهِ، مَا كَانَ لِي مِنۡ عُذۡرٍ، وَاللهِ مَا كُنۡتُ قَطُّ أَقۡوَى وَلَا أَيۡسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا هَٰذَا فَقَدۡ صَدَقَ، فَقُمۡ حَتَّى يَقۡضِيَ اللهُ فِيكَ).
Lalu aku mendatangi beliau. Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum tawar, kemudian bersabda, “Kemari.” Aku datang berjalan hingga aku duduk di hadapan beliau. Beliau berkata kepadaku, “Apa yang membuatmu absen? Bukankah engkau sudah membeli tunggangan?” Aku menjawab: Benar, sesungguhnya aku—demi Allah—kalau duduk di sisi selain engkau dari kalangan pencari dunia, aku yakin bisa lolos dari kemarahannya dengan suatu alasan karena aku diberi kemampuan berdebat. Akan tetapi aku—demi Allah—benar-benar mengetahui bahwa jika aku mengatakan kepada engkau pada hari ini dengan ucapan dusta sehingga engkau rida kepadaku, tentu nantinya Allah akan membuat engkau marah kepadaku. Dan jika aku ucapkan kepada engkau dengan ucapan yang jujur sehingga engkau membenciku karenanya, maka sesungguhnya aku benar-benar mengharap ampunan Allah. Tidak—demi Allah—aku tidak memiliki uzur apapun. Demi Allah, tidaklah aku lebih kuat dan lebih mudah daripada keadaanku ketika aku tidak ikut denganmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Adapun orang ini, maka ia telah jujur. Pergilah sampai Allah memberi keputusan terhadapmu.” 
فَقُمۡتُ، وَثَارَ رِجَالٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي، فَقَالُوا لِي: وَاللهِ مَا عَلِمۡنَاكَ كُنۡتَ أَذۡنَبۡتَ ذَنۡبًا قَبۡلَ هَٰذَا، وَلَقَدۡ عَجَزۡتَ أَنۡ لَا تَكُونَ اعۡتَذَرۡتَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ بِمَا اعۡتَذَرَ إِلَيۡهِ الۡمُتَخَلِّفُونَ، قَدۡ كَانَ كَافِيَكَ ذَنۡبَكَ اسۡتِغۡفَارُ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَكَ. فَوَاللّٰهِ مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونِي حَتَّى أَرَدۡتُ أَنۡ أَرۡجِعَ فَأُكَذِّبَ نَفۡسِي، ثُمَّ قُلۡتُ لَهُمۡ: هَلۡ لَقِيَ هَٰذَا مَعِي أَحَدٌ؟ قَالُوا: نَعَمۡ، رَجُلَانِ قَالَا مِثۡلَ مَا قُلۡتَ، فَقِيلَ لَهُمَا مِثۡلُ مَا قِيلَ لَكَ، فَقُلۡتُ: مَنۡ هُمَا؟ قَالُوا: مُرَارَةُ بۡنُ الرَّبِيعِ الۡعَمۡرِيُّ، وَهِلَالُ بۡنُ أُمَيَّةَ الۡوَاقِفِيُّ، فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيۡنِ صَالِحَيۡنِ، قَدۡ شَهِدَا بَدۡرًا، فِيهِمَا أُسۡوَةٌ، فَمَضَيۡتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي،
Aku bangkit pergi. Lalu ada orang-orang dari Bani Salimah berlompatan mengikutiku. Mereka berkata kepadaku: Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan suatu dosa sebelum ini. Engkau tidak mampu untuk mengajukan uzur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan yang diajukan oleh orang-orang yang absen itu. Padahal, permintaan ampunan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untukmu, akan dapat mencukupimu dari dosamu. Demi Allah, mereka terus saja mencelaku sampai aku ingin untuk kembali lalu mendustakan diriku tadi. Kemudian aku bertanya kepada mereka: Apakah beliau menjumpai orang yang bersamaku dalam hal ini? Mereka menjawab: Iya, ada dua orang yang mengatakan seperti yang engkau katakan, lalu dikatakan kepada keduanya seperti apa yang dikatakan kepadamu. Aku bertanya: Siapa mereka berdua? Mereka menjawab: Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi. Mereka menyebutkan kepadaku dua orang yang saleh yang mengikuti perang Badr. Pada diri keduanya ada teladan. Lalu aku tetap pada pendirianku ketika mereka menyebutkan dua orang itu kepadaku.
وَنَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمُسۡلِمِينَ عَنۡ كَلَامِنَا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ مِنۡ بَيۡنِ مَنۡ تَخَلَّفَ عَنۡهُ، فَاجۡتَنَبَنَا النَّاسُ وَتَغَيَّرُوا لَنَا، حَتَّى تَنَكَّرَتۡ فِي نَفۡسِي الۡأَرۡضُ فَمَا هِيَ الَّتِي أَعۡرِفُ، فَلَبِثۡنَا عَلَى ذٰلِكَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً، فَأَمَّا صَاحِبَايَ فَاسۡتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبۡكِيَانِ، وَأَمَّا أَنَا فَكُنۡتُ أَشَبَّ الۡقَوۡمِ وَأَجۡلَدَهُمۡ فَكُنۡتُ أَخۡرُجُ فَأَشۡهَدُ الصَّلَاةَ مَعَ الۡمُسۡلِمِينَ، وَأَطُوفُ فِي الۡأَسۡوَاقِ وَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ، وَآتِي رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأُسَلِّمُ عَلَيۡهِ وَهُوَ فِي مَجۡلِسِهِ بَعۡدَ الصَّلَاةِ، فَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: هَلۡ حَرَّكَ شَفَتَيۡهِ بِرَدِّ السَّلَامِ عَلَيَّ أَمۡ لَا؟ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنۡهُ، فَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ، فَإِذَا أَقۡبَلۡتُ عَلَى صَلَاتِي أَقۡبَلَ إِلَيَّ، وَإِذَا الۡتَفَتُّ نَحۡوَهُ أَعۡرَضَ عَنِّي،
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami. Yaitu hanya kepada tiga orang di antara orang-orang yang absen dari perang Tabuk. Orang-orang menjauhi kami dan berubah sikap kepada kami sampai bumi ini menjadi asing bagi diriku lalu menjadi tempat yang tidak kukenal. Kami berada dalam keadaan itu selama lima puluh malam. Adapun kedua sahabatku, mereka tinggal mengurung diri di rumah-rumah mereka dalam keadaan menangis. Adapun aku adalah orang yang paling muda dan paling tegar di antara mereka. Aku masih keluar, mengikuti salat bersama kaum muslimin, dan berkeliling di pasar-pasar, namun tidak ada satu orang pun yang mengajak bicara aku. Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam kepada beliau sementara beliau berada di majelisnya setelah salat. Aku bertanya di dalam hati: Apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak. Kemudian aku salat di dekat beliau dan mencuri-curi pandang. Ketika aku menekuni salatku, beliau menghadap kepadaku. Namun ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling dariku.
حَتَّى إِذَا طَالَ عَلَيَّ ذٰلِكَ مِنۡ جَفۡوَةِ النَّاسِ، مَشَيۡتُ حَتَّى تَسَوَّرۡتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ، وَهُوَ ابۡنُ عَمِّي وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ، فَسَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ، فَوَاللّٰهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلَامَ، فَقُلۡتُ: يَا أَبَا قَتَادَةَ، أَنۡشُدُكَ بِاللهِ هَلۡ تَعۡلَمُنِي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ؟ فَسَكَتَ، فَعُدۡتُ لَهُ فَنَشَدۡتُهُ فَسَكَتَ، فَعُدۡتُ لَهُ فَنَشَدۡتُهُ، فَقَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ، فَفَاضَتۡ عَيۡنَايَ وَتَوَلَّيۡتُ حَتَّى تَسَوَّرۡتُ الۡجِدَارَ.
Sampai ketika aku mereka pengucilan orang-orang kepadaku terasa lama, aku berjalan hingga menaiki pagar kebun Abu Qatadah. Beliau adalah saudara sepupuku dan orang yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak menjawab salamku. Aku berkata: Wahai Abu Qatadah, aku bertanya kepadamu dengan nama Allah. Bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Abu Qatadah diam. Aku mengulangi bertanya kepadanya, namun dia masih diam. Aku mengulangi bertanya kepadanya. Lalu Abu Qatadah berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Air mataku berlinang dan aku berbalik pulang sampai menaiki pagar tadi.
قَالَ: فَبَيۡنَا أَنَا أَمۡشِي بِسُوقِ الۡمَدِينَةِ، إِذَا نَبَطِيٌّ مِنۡ أَنۡبَاطِ أَهۡلِ الشَّأۡمِ، مِمَّنۡ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالۡمَدِينَةِ، يَقُولُ: مَنۡ يَدُلُّ عَلَى كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ؟ فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ، حَتَّى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابًا مِنۡ مَلِكِ غَسَّانَ، فَإِذَا فِيهِ: أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّهُ قَدۡ بَلَغَنِي أَنَّ صَاحِبَكَ قَدۡ جَفَاكَ، وَلَمۡ يَجۡعَلۡكَ اللهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلَا مَضۡيَعَةٍ، فَالۡحَقۡ بِنَا نُوَاسِكَ. فَقُلۡتُ لَمَّا قَرَأۡتُهَا: وَهَٰذَا أَيۡضًا مِنَ الۡبَلَاءِ، فَتَيَمَّمۡتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرۡتُهُ بِهَا، حَتَّى إِذَا مَضَتۡ أَرۡبَعُونَ لَيۡلَةً مِنَ الخَمۡسِينَ، إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَأۡتِينِي فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُكَ أَنۡ تَعۡتَزِلَ امۡرَأَتَكَ، فَقُلۡتُ: أُطَلِّقُهَا أَمۡ مَاذَا أَفۡعَلُ؟ قَالَ: لَا، بَلِ اعۡتَزِلۡهَا وَلَا تَقۡرَبۡهَا. وَأَرۡسَلَ إِلَى صَاحِبَيَّ مِثۡلَ ذٰلِكَ، فَقُلۡتُ لِامۡرَأَتِي: الۡحَقِي بِأَهۡلِكِ، فَتَكُونِي عِنۡدَهُمۡ حَتَّى يَقۡضِيَ اللهُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ.
Ka’b mengatakan: Ketika aku berjalan di pasar Madinah, ada seorang petani non-Arab dari kalangan petani penduduk Syam—yaitu di antara orang-orang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah—berkata: Siapa yang dapat menunjukkan Ka’b bin Malik? Orang-orang menunjukinya, sampai ia datang kepadaku dan menyerahkan tulisan dari raja Ghassan kepadaku. Di situ tertulis: Amabakdu, sesungguhnya sampai kabar kepadaku bahwa sahabatmu telah mengucilkanmu. Allah tidak akan menjadikan engkau berada di negeri yang hina dan telantar. Jadi, bergabunglah bersama kami, maka akan kami lipur laramu. Aku berkata ketika telah membacanya: Ini juga merupakan bencana. Aku membawa tulisan itu ke tanur dan membakarnya. Sampai kemudian berlalu empat puluh malam dari lima puluh malam, ketika utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku seraya berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhmu untuk menjauhi istrimu. Aku bertanya: Apakah aku ceraikan dia atau bagaimana? Dia menjawab: Tidak perlu, cukup jauhi saja dan jangan dekati dia. Beliau juga mengutus kepada kedua sahabatku semisal itu. Aku berkata kepada istriku: Berkumpullah dengan keluargamu dan tetaplah di sisi mereka sampai Allah memberi keputusan dalam perkara ini.
قَالَ كَعۡبٌ: فَجَاءَتِ امۡرَأَةُ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هِلَالَ بۡنَ أُمَيَّةَ شَيۡخٌ ضَائِعٌ لَيۡسَ لَهُ خَادِمٌ، فَهَلۡ تَكۡرَهُ أَنۡ أَخۡدُمَهُ؟ قَالَ: (لَا، وَلَٰكِنۡ لَا يَقۡرَبۡكِ). قَالَتۡ: إِنَّهُ وَاللهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَى شَيۡءٍ، وَاللهِ مَا زَالَ يَبۡكِي مُنۡذُ كَانَ مِنۡ أَمۡرِهِ، مَا كَانَ إِلَى يَوۡمِهِ هَٰذَا. فَقَالَ لِي بَعۡضُ أَهۡلِي: لَوِ اسۡتَأۡذَنۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي امۡرَأَتِكَ، كَمَا أَذِنَ لِامۡرَأَةِ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ أَنۡ تَخۡدُمَهُ؟ فَقُلۡتُ: وَاللهِ لَا أَسۡتَأۡذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ ﷺ، وَمَا يُدۡرِينِي مَا يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اسۡتَأۡذَنۡتُهُ فِيهَا، وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ؟ فَلَبِثۡتُ بَعۡدَ ذٰلِكَ عَشۡرَ لَيَالٍ، حَتَّى كَمَلَتۡ لَنَا خَمۡسُونَ لَيۡلَةً مِنۡ حِينَ نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنۡ كَلَامِنَا،
Ka’b mengatakan: Istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang hidup sendirian, tidak memiliki pelayan. Apakah engkau tidak suka aku melayaninya? Beliau menjawab, “Tidak, tetapi dia tidak boleh mendekatimu.” Istri Hilal berkata: Sesungguhnya dia itu, demi Allah, tidak memiliki keinginan terhadap sesuatupun. Demi Allah, dia terus-menerus menangis sejak kejadian ini sampai hari ini. Sebagian keluargaku berkata kepadaku: Andai engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk istrimu sebagaimana beliau memberi izin kepada istri Hilal bin Umayyah untuk melayaninya. Aku berkata: Demi Allah, aku tidak akan meminta izin untuk istriku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa nanti yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika aku meminta izin kepada beliau untuk istriku padahal aku lelaki yang masih muda. Setelah itu, aku dalam keadaan demikian selama sepuluh malam hingga genaplah lima puluh malam yang kami lalui sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk berbicara dengan kami.
فَلَمَّا صَلَّيۡتُ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ صُبۡحَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً، وَأَنَا عَلَى ظَهۡرِ بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِنَا، فَبَيۡنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الۡحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ، قَدۡ ضَاقَتۡ عَلَيَّ نَفۡسِي، وَضَاقَتۡ عَلَيَّ الۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ، سَمِعۡتُ صَوۡتَ صَارِخٍ، أَوۡفَى عَلَى جَبَلِ سَلۡعٍ، بِأَعۡلَى صَوۡتِهِ: يَا كَعۡبُ بۡنَ مَالِكٍ أَبۡشِرۡ، قَالَ: فَخَرَرۡتُ سَاجِدًا، وَعَرَفۡتُ أَنۡ قَدۡ جَاءَ فَرَجٌ، وَآذَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَوۡبَةِ اللهِ عَلَيۡنَا حِينَ صَلَّى صَلَاةَ الۡفَجۡرِ، فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا، وَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَيَّ مُبَشِّرُونَ، وَرَكَضَ إِلَيَّ رَجُلٌ فَرَسًا، وَسَعَى سَاعٍ مِنۡ أَسۡلَمَ، فَأَوۡفَى عَلَى الۡجَبَلِ، وَكَانَ الصَّوۡتُ أَسۡرَعَ مِنَ الۡفَرَسِ، فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعۡتُ صَوۡتَهُ يُبَشِّرُنِي نَزَعۡتُ لَهُ ثَوۡبَيَّ، فَكَسَوۡتُهُ إِيَّاهُمَا بِبُشۡرَاهُ، وَاللهِ مَا أَمۡلِكُ غَيۡرَهُمَا يَوۡمَئِذٍ، وَاسۡتَعَرۡتُ ثَوۡبَيۡنِ فَلَبِسۡتُهُمَا،
Ketika aku salat Subuh pada keesokan malam kelima puluh dan aku sedang berada di loteng rumah kami, ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang Allah sebutkan—jiwaku terasa sempit dan bumi pun kurasa sempit padahal luas—aku mendengar suara orang yang berteriak—orang itu naik di atas celah gunung—dengan suaranya yang paling keras: Wahai Ka’b bin Malik, bergembiralah. Ka’b mengatakan: Aku menyungkur sujud dan aku mengetahui bahwa telah ada jalan keluar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan penerimaan Allah terhadap tobat kami ketika beliau telah salat Subuh. Orang-orang beranjak pergi memberi kabar gembira kepada kami dan para pemberi kabar gembira pergi ke arah kedua sahabatku. Sementara ada seseorang yang memacu kudanya ke tempatku dan ada pula seseorang dari Bani Aslam yang berjalan cepat lalu naik ke atas gunung. Suara itu lebih cepat daripada kuda. Ketika orang yang aku dengar suaranya datang kepadaku memberi kabar gembira kepadaku, aku melepas kedua pakaianku dan mengenakannya padanya atas kabar gembiranya. Demi Allah, pada hari itu aku tidak mempunyai pakaian selain keduanya. Aku meminjam dua pakaian lain lalu aku kenakan.
وَانۡطَلَقۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَيَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوۡجًا فَوۡجًا، يُهَنُّونِي بِالتَّوۡبَةِ يَقُولُونَ: لِتَهۡنِكَ تَوۡبَةُ اللهِ عَلَيۡكَ، قَالَ كَعۡبٌ: حَتَّى دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ حَوۡلَهُ النَّاسُ، فَقَامَ إِلَيَّ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ يُهَرۡوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّانِي، وَاللهِ مَا قَامَ إِلَيَّ رَجُلٌ مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ غَيۡرَهُ، وَلَا أَنۡسَاهَا لِطَلۡحَةَ، قَالَ كَعۡبٌ: فَلَمَّا سَلَّمۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَهُوَ يَبۡرُقُ وَجۡهُهُ مِنَ السُّرُورِ: (أَبۡشِرۡ بِخَيۡرِ يَوۡمٍ مَرَّ عَلَيۡكَ مُنۡذُ وَلَدَتۡكَ أُمُّكَ). قَالَ: قُلۡتُ: أَمِنۡ عِنۡدِكَ يَا رَسُولَ اللهِ، أَمۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ؟ قَالَ: (لَا، بَلۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ). وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا سُرَّ اسۡتَنَارَ وَجۡهُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ قِطۡعَةُ قَمَرٍ، وَكُنَّا نَعۡرِفُ ذٰلِكَ مِنۡهُ،
Aku berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang berduyun-duyun menyambutku dan memberi selamat atas penerimaan tobat. Mereka mengatakan: Selamat atas penerimaan Allah atas tobatmu. Ka’b melanjutkan ucapannya: Sampai aku masuk masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dikelilingi orang-orang. Thalhah bin ‘Ubaidullah bangkit menyambutku dengan berlari kecil hingga menjabat tanganku dan memberi selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan muhajirin yang berdiri selain dia. Aku tidak melupakan kejadian itu dari Thalhah. Ka’b mengatakan: Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan wajah yang berseri-seri, “Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang engkau lewati sejak ibumu melahirkanmu.” Ka’b mengatakan: Aku bertanya: Apakah ini dari sisimu wahai Rasulullah atau dari sisi Allah? Beliau menjawab, “Tidak, bahkan dari sisi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila gembira, wajahnya bercahaya sampai seperti kepingan rembulan dan kami mengetahui kegembiraan beliau dari hal itu.
فَلَمَّا جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ أَنۡخَلِعَ مِنۡ مَالِي صَدَقَةً إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمۡسِكۡ عَلَيۡكَ بَعۡضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيۡرٌ لَكَ). قُلۡتُ: فَإِنِّي أُمۡسِكُ سَهۡمِي الَّذِي بِخَيۡبَرَ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ إِنَّمَا نَجَّانِي بِالصِّدۡقِ، وَإِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ لَا أُحَدِّثَ إِلَّا صِدۡقًا مَا بَقِيتُ. فَوَاللّٰهِ مَا أَعۡلَمُ أَحَدًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ أَبۡلَاهُ اللهُ فِي صِدۡقِ الۡحَدِيثِ مُنۡذُ ذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، أَحۡسَنَ مِمَّا أَبۡلَانِي، مَا تَعَمَّدۡتُ مُنۡذُ ذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى يَوۡمِي هَٰذَا كَذِبًا، وَإِنِّي لَأَرۡجُو أَنۡ يَحۡفَظَنِي اللهُ فِيمَا بَقِيتُ. وَأَنۡزَلَ اللهُ عَلَى رَسُولِهِ ﷺ: ﴿لَقَدۡ تَابَ اللهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالۡمُهَاجِرِينَ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾ [التوبة: ١١٧-١١٩].
Ketika aku duduk di hadapan beliau, aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dari bentuk tobatku, aku mengeluarkan hartaku untuk sedekah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahanlah sebagian hartamu karena itu lebih baik untukmu.” Aku mengatakan: Sesungguhnya aku menahan bagianku yang ada di Khaibar. Aku berkata lagi: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku dengan kejujuran dan sungguh, dari bentuk tobatku, aku tidak akan mengucapkan kecuali kejujuran pada sisa hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang Allah beri nikmat pada kejujuran ucapan—sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang lebih baik daripada nikmat yang telah diberikan Allah kepadaku. Aku tidak pernah sengaja berdusta sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini. Sungguh, aku benar-benar mengharap agar Allah menjagaku pada sisa umurku. Lalu, Allah menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi dan orang-orang muhajirin” sampai firman-Nya, “dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 117-119).
فَوَاللّٰهِ مَا أَنۡعَمَ اللهُ عَلَيَّ مِنۡ نِعۡمَةٍ قَطُّ، بَعۡدَ أَنۡ هَدَانِي لِلۡإِسۡلَامِ، أَعۡظَمَ فِي نَفۡسِي مِنۡ صِدۡقِي لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، أَنۡ لَا أَكُونَ كَذَبۡتُهُ فَأَهۡلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا، فَإِنَّ اللهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا - حِينَ أَنۡزَلَ الۡوَحۡيَ - شَرَّ مَا قَالَ لِأَحَدٍ، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿سَيَحۡلِفُونَ بِاللهِ لَكُمۡ إِذَا انۡقَلَبۡتُمۡ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿فَإِنَّ اللهَ لَا يَرۡضَى عَنِ الۡقَوۡمِ الۡفَاسِقِينَ﴾ [التوبة: ٩٥-٩٦].
Demi Allah, tidaklah sama sekali Allah memberikan suatu nikmat kepadaku—setelah menunjukiku kepada Islam—yang lebih besar untuk diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu bahwa aku tidak menjadi orang yang berdusta kepadanya lalu aku celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta itu celaka. Sesungguhnya Allah mengatakan untuk orang-orang yang berdusta—ketika wahyu telah turun—dengan seburuk-buruk ucapan yang ditujukan untuk seseorang. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka,” sampai firman-Nya, “sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS. At-Taubah: 95-96).
قَالَ كَعۡبٌ: وَكُنَّا تَخَلَّفۡنَا أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ عَنۡ أَمۡرِ أُولٰئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ حَلَفُوا لَهُ، فَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ، وَأَرۡجَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَمۡرَنَا حَتَّى قَضَى اللهُ فِيهِ، فَبِذٰلِكَ قَالَ اللهُ: ﴿وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا﴾ [التوبة: ١١٨]. وَلَيۡسَ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ مِمَّا خُلِّفۡنَا عَنِ الۡغَزۡوِ، إِنَّمَا هُوَ تَخۡلِيفُهُ إِيَّانَا، وَإِرۡجَاؤُهُ أَمۡرَنَا، عَمَّنۡ حَلَفَ لَهُ وَاعۡتَذَرَ إِلَيۡهِ فَقَبِلَ مِنۡهُ. [طرفه في: ٢٧٥٧].
Ka’b mengatakan: Kami bertiga ditangguhkan dari perkara mereka. Yaitu orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menerima alasan mereka ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau mengambil baiat dan memintakan ampunan untuk mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda perkara kami sampai Allah yang memberi keputusan. Tentang itulah, Allah berfirman (yang artinya), “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka.” (QS. At-Taubah: 118). Bukanlah yang disebutkan Allah itu tentang ketidakikutan kami dari perang Tabuk, namun yang dimaksud adalah penangguhan dan penundaan Nabi terhadap urusan kami dari orang-orang yang bersumpah kepada beliau dan mengajukan alasannya lalu beliau menerima alasan mereka.

Shahih Muslim hadits nomor 2769

٩ - بَابُ حَدِيثِ تَوۡبَةِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ وَصَاحِبَيۡهِ
9. Bab hadis tobatnya Ka’b bin Malik dan dua sahabatnya

٥٣ - (٢٧٦٩) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ سَرۡحٍ مَوۡلَىٰ بَنِي أُمَيَّةَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: ثُمَّ غَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ غَزۡوَةَ تَبُوكَ. وَهُوَ يُرِيدُ الرُّومَ وَنَصَارَى الۡعَرَبِ بِالشَّامِ.
53. (2769). Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh maula Bani Umayyah telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi orang-orang Romawi dan Nasrani Arab di Syam.
قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: فَأَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبٍ كَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ، مِنۡ بَنِيهِ، حِينَ عَمِيَ. قَالَ: سَمِعۡتُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ. قَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: لَمۡ أَتَخَلَّفۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ، إِلَّا فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ. غَيۡرَ أَنِّي قَدۡ تَخَلَّفۡتُ فِي غَزۡوَةِ بَدۡرٍ. وَلَمۡ يُعَاتِبۡ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنۡهُ. إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ يُرِيدُونَ عِيرَ قُرَيۡشٍ، حَتَّىٰ جَمَعَ اللهُ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ عَدُوِّهِمۡ، عَلَىٰ غَيۡرِ مِيعَادٍ. وَلَقَدۡ شَهِدۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَيۡلَةَ الۡعَقَبَةِ. حِينَ تَوَاثَقۡنَا عَلَىٰ الۡإِسۡلَامِ. وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشۡهَدَ بَدۡرٍ. وَإِنۡ كَانَتۡ بَدۡرٌ أَذۡكَرَ فِي النَّاسِ مِنۡهَا. وَكَانَ مِنۡ خَبَرِي، حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ، أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ قَطُّ أَقۡوَىٰ وَلَا أَيۡسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡهُ فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. وَاللهِ، مَا جَمَعۡتُ قَبۡلَهَا رَاحِلَتَيۡنِ قَطُّ، حَتَّىٰ جَمَعۡتُهُمَا فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. فَغَزَاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، وَاسۡتَقۡبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا، وَاسۡتَقۡبَلَ عَدُوًّا كَثِيرًا. فَجَلَا لِلۡمُسۡلِمِينَ أَمۡرَهُمۡ لِيَتَأَهَّبُوا أُهۡبَةَ غَزۡوِهِمۡ. فَأَخۡبَرَهُمۡ بِوَجۡهِهِمُ الَّذِي يُرِيدُ. وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ كَثِيرٌ، وَلَا يَجۡمَعُهُمۡ كِتَابُ حَافِظٍ – يُرِيدُ، بِذٰلِكَ، الدِّيوَانَ -.
Ibnu Syihab berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku bahwa ‘Abdullah bin Ka’b—beliau adalah seorang putra Ka’b yang menuntun Ka’b ketika mengalami kebutaan—berkata: Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan kejadian yang dialaminya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perang Tabuk. Ka’b bin Malik berkata: Aku sama sekali tidak pernah absen ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja aku juga tidak ikut perang Badr, namun beliau tidak mencela seorang pun yang absen darinya. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tadinya keluar hanya bermaksud menghadang kafilah Quraisy. Namun, ternyata Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka tanpa direncanakan. Aku hadir bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ‘Aqabah, ketika kami berjanji untuk membela Islam. Dan aku tidak suka untuk menukar malam itu dengan perang Badr, walaupun peristiwa perang Badr lebih dikenang orang-orang daripada malam ‘Aqabah. Dan termasuk berita tentangku—ketika aku tidak menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk—bahwa ketika itu aku tidaklah merasa lebih kuat dan lebih mudah daripada keadaanku ketika absen pada perang tersebut. Demi Allah, aku sebelumnya sama sekali tidak pernah menyiapkan dua tunggangan, sampai aku telah mengumpulkan dua tunggangan untuk perang itu. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berperang di suatu hari yang sangat panas, menghadapi perjalanan yang panjang melalui daratan tandus, dan menghadapi musuh yang banyak. Sehingga beliau menampakkan perkara mereka kepada kaum muslimin secara terang-terangan agar mereka mempersiapkan persiapan perang mereka. Beliau juga mengabarkan kepada mereka arah tujuan yang beliau kehendaki. Kaum muslimin yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak dan tidak ada buku pencatat yang mengumpulkan nama-nama mereka. Yang Ka’b maksudkan adalah daftar pasukan.
قَالَ كَعۡبٌ: فَقَلَّ رَجُلٌ يُرِيدُ أَنۡ يَتَغَيَّبَ، يَظُنُّ أَنَّ ذٰلِكَ سَيَخۡفَىٰ لَهُ مَا لَمۡ يَنۡزِلۡ فِيهِ وَحۡيٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَغَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلَالُ، فَأَنَا إِلَيۡهَا أَصۡعَرُ. فَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ. وَطَفِقۡتُ أَغۡدُو لِكَيۡ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمۡ. فَأَرۡجِعُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا. وَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: أَنَا قَادِرٌ عَلَىٰ ذٰلِكَ، إِذَا أَرَدۡتُ. فَلَمۡ يَزَلۡ ذٰلِكَ يَتَمَادَىٰ بِي حَتَّىٰ اسۡتَمَرَّ بِالنَّاسِ الۡجِدُّ. فَأَصۡبَحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ غَادِيًا وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ. وَلَمۡ أَقۡضِ مِنۡ جَهَازِي شَيۡئًا. ثُمَّ غَدَوۡتُ فَرَجَعۡتُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا. فَلَمۡ يَزَلۡ ذٰلِكَ يَتَمَادَىٰ بِي حَتَّى أَسۡرَعُوا وَتَفَارَطَ الۡغَزۡوُ. فَهَمَمۡتُ أَنۡ أَرۡتَحِلَ فَأُدۡرِكَهُمۡ، فَيَا لَيۡتَنِي فَعَلۡتُ. ثُمَّ لَمۡ يُقَدَّرۡ ذٰلِكَ لِي.
Ka’b mengatakan: Sedikit lelaki yang ingin untuk tidak mengikutinya karena menyangka bahwa hal itu akan tidak diketahui oleh Nabi selama wahyu dari Allah azza wajalla tidak turun tentangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berperang Tabuk ketika buah-buahan dan tinggal di bawah naungan begitu menyenangkan dan diriku cenderung kepada hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bersiap-siap. Aku beranjak berangkat untuk bersiap-siap bersama mereka, lalu aku pulang namun aku tidak melakukan apapun. Aku berkata di dalam hati: Aku mampu untuk itu ketika aku sudah berkeinginan. Hal itu terus senantiasa menunda-nundaku sampai orang-orang sudah selesai bersiap-siap. Lalu keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama kaum muslimin. Sementara aku belum menyiapkan persiapan apapun. Kemudian aku kembali dan aku tetap belum melakukan apa-apa. Hal itu terus senantiasa menunda-nundaku sampai mereka telah bergegas pergi dan perang itu terlewatkan. Lalu aku sangat ingin untuk berangkat dan menyusul mereka. Duhai, seandainya aku melakukannya. Kemudian perang itu telah tidak ditakdirkan untukku.
فَطَفِقۡتُ، إِذَا خَرَجۡتُ فِي النَّاسِ، بَعۡدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَحۡزُنُنِي أَنِّي لَا أَرَىٰ لِي أُسۡوَةً. إِلَّا رَجُلًا مَغۡمُوصًا عَلَيۡهِ فِي النِّفَاقِ، أَوۡ رَجُلًا مِمَّنۡ عَذَرَ اللهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّىٰ بَلَغَ تَبُوكًا فَقَالَ، وَهُوَ جَالِسٌ فِي الۡقَوۡمِ بِتَبُوكَ: (مَا فَعَلَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ؟) قَالَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، حَبَسَهُ بُرۡدَاهُ وَالنَّظَرُ فِي عِطۡفَيۡهِ. فَقَالَ لَهُ مُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ: بِئۡسَ مَا قُلۡتَ، وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ إِلَّا خَيۡرًا. فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. فَبَيۡنَمَا هُوَ عَلَىٰ ذٰلِكَ رَأَىٰ رَجُلًا مُبَيِّضًا يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُنۡ أَبَا خَيۡثَمَةَ)، فَإِذَا هُوَ أَبُو خَيۡثَمَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ. وَهُوَ الَّذِي تَصَدَّقَ بِصَاعِ التَّمۡرِ حِينَ لَمَزَهُ الۡمُنَافِقُونَ.
Ketika aku keluar bertemu orang-orang setelah perginya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mulai bersedih karena aku tidak melihat ada teladan untukku, kecuali orang yang tertuduh dengan kenifakan atau orang-orang lemah yang Allah beri uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutku hingga beliau tiba di Tabuk. Beliau bersabda dalam keadaan duduk bersama orang-orang di Tabuk, “Apa yang dilakukan oleh Ka’b bin Malik?” Seseorang dari Bani Salimah berkata: Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan memandangi kedua sisinya. Mu’adz bin Jabal berkata kepadanya: Jelek sekali yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui padanya kecuali kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam. Ketika sedang dalam keadaan itu, beliau melihat ada seseorang muncul dari kejauhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya Allah), jadikan orang itu Abu Khaitsamah.” Ternyata dia memang Abu Khaitsamah Al-Anshari. Dia adalah orang yang menyedekahkan satu sha’ kurma ketika diejek oleh orang-orang munafik.
فَقَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ تَوَجَّهَ قَافِلًا مِنۡ تَبُوكَ، حَضَرَنِي بَثِّي، فَطَفِقۡتُ أَتَذَكَّرُ الۡكَذِبَ وَأَقُولُ: بِمَ أَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ غَدًا؟ وَأَسۡتَعِينُ عَلَىٰ ذٰلِكَ كُلَّ ذِي رَأۡيٍ مِنۡ أَهۡلِي. فَلَمَّا قِيلَ لِي: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ أَظَلَّ قَادِمًا، زَاحَ عَنِّي الۡبَاطِلُ. حَتَّىٰ عَرَفۡتُ أَنِّي لَنۡ أَنۡجُوَ مِنۡهُ بِشَيۡءٍ أَبَدًا. فَأَجۡمَعۡتُ صِدۡقَهُ. وَصَبَّحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَادِمًا. وَكَانَ، إِذَا قَدِمَ مِنۡ سَفَرٍ، بَدَأَ بِالۡمَسۡجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ. فَلَمَّا فَعَلَ ذٰلِكَ جَاءَهُ الۡمُخَلَّفُونَ. فَطَفِقُوا يَعۡتَذِرُونَ إِلَيۡهِ. وَيَحۡلِفُونَ لَهُ، وَكَانُوا بِضۡعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا. فَقَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَانِيَتَهُمۡ. وَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ، وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمۡ إِلَىٰ اللهِ، حَتَّىٰ جِئۡتُ.
Ka’b bin Malik mengatakan: Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuju kembali pulang dari Tabuk, kesedihan menghampiriku. Aku berkeinginan untuk menyebutkan suatu kedustaan dan aku bertanya-tanya: Dengan apa aku bisa keluar dari kemarahan beliau besok? Aku meminta pertolongan setiap keluargaku yang punya pendapat akan hal itu. Ketika ada yang berkata kepadaku: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah hampir tiba; maka alasan-alasan batil itu hilang dariku, hingga aku tahu bahwa aku tidak akan bisa lolos dari beliau dengan alasan apapun selama-lamanya. Aku pun mengumpulkan kejujuran. Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba. Beliau apabila tiba dari safar, beliau mulai ke masjid dan salat dua rakaat. Kemudian beliau duduk di hadapan orang-orang. Ketika beliau melakukan itu, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau. Mereka mulai meminta uzur dan bersumpah kepada beliau. Mereka berjumlah delapan puluh sekian laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima lahiriah mereka, mengambil baiat mereka, dan memintakan ampunan untuk mereka. Dan beliau menyerahkan rahasia hati mereka kepada Allah, hingga aku datang.
فَلَمَّا سَلَّمۡتُ، تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الۡمُغۡضَبِ ثُمَّ قَالَ: (تَعَالَ)، فَجِئۡتُ أَمۡشِي حَتَّىٰ جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ. فَقَالَ لِي: (مَا خَلَّفَكَ؟ أَلَمۡ تَكُنۡ قَدِ ابۡتَعۡتَ ظَهۡرَكَ؟) قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي، وَاللهِ، لَوۡ جَلَسۡتُ عِنۡدَ غَيۡرِكَ مِنۡ أَهۡلِ الدُّنۡيَا، لَرَأَيۡتُ أَنِّي سَأَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ بِعُذۡرٍ، وَلَقَدۡ أُعۡطِيتُ جَدَلًا. وَلَٰكِنِّي، وَاللهِ، لَقَدۡ عَلِمۡتُ، لَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ الۡيَوۡمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرۡضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنۡ يُسۡخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ حَدِيثَ صِدۡقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرۡجُو فِيهِ عُقۡبَىٰ اللهِ، وَاللهِ، مَا كَانَ لِي عُذۡرٌ. وَاللهِ، مَا كُنۡتُ قَطُّ أَقۡوَىٰ وَلَا أَيۡسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡكَ. قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا هَٰذَا، فَقَدۡ صَدَقَ. فَقُمۡ حَتَّىٰ يَقۡضِيَ اللهُ فِيكَ) فَقُمۡتُ. وَثَارَ رِجَالٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي. فَقَالُوا لِي: وَاللهِ مَا عَلِمۡنَاكَ أَذۡنَبۡتَ ذَنۡبًا قَبۡلَ هَٰذَا. لَقَدۡ عَجَزۡتَ فِي أَنۡ لَا تَكُونَ اعۡتَذَرۡتَ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ، بِمَا اعۡتَذَرَ بِهِ إِلَيۡهِ الۡمُخَلَّفُونَ. فَقَدۡ كَانَ كَافِيَكَ ذَنۡبَكَ، اسۡتِغۡفَارُ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَكَ.
Ketika aku mengucapkan salam, beliau tersenyum dengan senyum tawar, kemudian beliau bersabda, “Kemari.” Aku datang berjalan hingga aku duduk di hadapan beliau. Beliau bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau sudah membeli tunggangan?” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku—demi Allah—kalau aku duduk di sisi orang selainmu dari kalangan para pencari dunia, tentu aku berpandangan untuk keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu uzur dan sungguh aku telah diberikan kemampuan berdebat. Akan tetapi aku—demi Allah—sungguh mengetahui bahwa jika pada hari ini aku menceritakan kepadamu ucapan dusta sehingga engkau rida kepadaku, tentu nanti pasti Allah akan membuatmu marah terhadapku. Dan jika aku menceritakan engkau dengan ucapan yang jujur sehingga engkau membenciku, maka sesungguhnya aku mengharap balasan Allah. Demi Allah, aku tidak punya uzur apapun. Demi Allah, aku tidak pernah sama sekali lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak menyertaimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun orang ini, maka ia telah jujur. Bangkitlah, sampai Allah memberi keputusan tentangmu.” Aku pun beranjak bangkit. Beberapa lelaki dari Bani Salimah juga bangkit dan mengikutiku. Mereka berkata kepadaku: Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau berbuat suatu dosa sebelum ini. Engkau tidak mampu untuk mengutarakan uzur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan uzur yang telah disampaikan orang-orang yang tidak ikut perang. Padahal, permintaan ampun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untukmu akan mencukupimu terhadap dosamu.
قَالَ: فَوَاللّٰهِ، مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونَنِي حَتَّىٰ أَرَدۡتُ أَنۡ أَرۡجِعَ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَأُكَذِّبَ نَفۡسِي. قَالَ: ثُمَّ قُلۡتُ لَهُمۡ: هَلۡ لَقِيَ هَٰذَا مَعِي مِنۡ أَحَدٍ؟ قَالُوا: نَعَمۡ. لَقِيَهُ مَعَكَ رَجُلَانِ. قَالَا مِثۡلَ مَا قُلۡتَ. فَقِيلَ لَهُمَا مِثۡلَ مَا قِيلَ لَكَ. قَالَ: قُلۡتُ: مَنۡ هُمَا؟ قَالُوا: مُرَارَةُ بۡنُ رَبِيعَةَ الۡعَامِرِيُّ، وَهِلَالُ بۡنُ أُمَيَّةَ الۡوَاقِفِيُّ. قَالَ: فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيۡنِ صَالِحَيۡنِ قَدۡ شَهِدَا بَدۡرًا، فِيهِمَا أُسۡوَةٌ. قَالَ: فَمَضَيۡتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي.
قَالَ: وَنَهَىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمُسۡلِمِينَ عَنۡ كَلَامِنَا، أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ، مِنۡ بَيۡنِ مَنۡ تَخَلَّفَ عَنۡهُ.
Ka’b mengatakan: Mereka terus mencelaku sampai aku ingin untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku mendustakan diriku tadi. Ka’b mengatakan: Kemudian aku bertanya kepada mereka: Apakah beliau menjumpai orang yang memiliki kasus sepertiku? Mereka menjawab: Iya. Beliau mendapati ada dua orang yang seperti engkau. Keduanya mengatakan seperti yang engkau ucapkan. Lalu dikatakan kepada keduanya semisal apa yang dikatakan kepadamu. Ka’b mengatakan: Aku bertanya: Siapa keduanya? Mereka menjawab: Murarah bin Rabi’ah Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi. Ka’b mengatakan: Mereka menyebutkan kepadaku dua lelaki yang saleh yang telah mengikuti perang Badr dan pada diri keduanya ada teladan. Ka’b mengatakan: Aku pun tetap pada pendirianku ketika mereka menyebutkan dua orang itu kepadaku.
Ka’b mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin dari berbicara dengan kami bertiga saja di antara orang-orang yang tidak mengikuti perang Tabuk.
قَالَ: فَاجۡتَنَبَنَا النَّاسُ. وَقَالَ: تَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّىٰ تَنَكَّرَتۡ لِي فِي نَفۡسِيَ الۡأَرۡضُ. فَمَا هِيَ بِالۡأَرۡضِ الَّتِي أَعۡرِفُ. فَلَبِثۡنَا عَلَىٰ ذٰلِكَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً. فَأَمَّا صَاحِبَايَ فَاسۡتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبۡكِيَانِ. وَأَمَّا أَنَا فَكُنۡتُ أَشَبَّ الۡقَوۡمِ وَأَجۡلَدَهُمۡ. فَكُنۡتُ أَخۡرُجُ فَأَشۡهَدُ الصَّلَاةَ وَأَطُوفُ فِي الۡأَسۡوَاقِ وَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ. وَآتِي رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأُسَلِّمُ عَلَيۡهِ، وَهُوَ فِي مَجۡلِسِهِ بَعۡدَ الصَّلَاةِ. فَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: هَلۡ حَرَّكَ شَفَتَيۡهِ بِرَدِّ السَّلَامِ، أَمۡ لَا؟ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنۡهُ وَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ. فَإِذَا أَقۡبَلۡتُ عَلَىٰ صَلَاتِي نَظَرَ إِلَيَّ. وَإِذَا الۡتَفَتُّ نَحۡوَهُ أَعۡرَضَ عَنِّي. حَتَّىٰ إِذَا طَالَ ذٰلِكَ عَلَيَّ مِنۡ جَفۡوَةِ الۡمُسۡلِمِينَ، مَشَيۡتُ حَتَّىٰ تَسَوَّرۡتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ، وَهُوَ ابۡنُ عَمِّي، وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ. فَسَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ. فَوَاللّٰهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلَامَ. فَقُلۡتُ لَهُ: يَا أَبَا قَتَادَةَ، أَنۡشُدُكَ بِاللهِ، هَلۡ تَعۡلَمَنَّ أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ؟ قَالَ: فَسَكَتَ، فَعُدۡتُ فَنَاشَدۡتُهُ. فَسَكَتَ فَعُدۡتُ فَنَاشَدۡتُهُ. فَقَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ. فَفَاضَتۡ عَيۡنَايَ، وَتَوَلَّيۡتُ، حَتَّىٰ تَسَوَّرۡتُ الۡجِدَارَ.
Ka’b mengatakan: Orang-orang pun menjauhi kami. Beliau juga mengatakan: Mereka berubah sikap terhadap kami sampai bumi ini menjadi tempat yang asing pada jiwaku sehingga ia menjadi bumi yang tidak aku kenal. Kami berada dalam keadaan itu selama lima puluh malam. Adapun kedua sahabatku, mereka menetap dan duduk di kedua rumah masing-masing dalam keadaan menangis. Adapun aku, ketika itu adalah orang yang paling muda dan tegar di antara mereka. Aku keluar rumah, mengikuti salat, dan berkeliling di pasar namun tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara. Aku mencoba mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau sedang berada di majlisnya setelah salat. Aku berkata di dalam hati: Apakah beliau menggerakkan kedua bibir untuk membalas salam atau tidak. Kemudian aku salat di dekat beliau dan aku mencuri pandang. Ketika aku menekuni salatku, beliau memandangku. Dan ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling dariku. Sampai ketika pengucilan oleh kaum muslimin sudah berlangsung lama, aku berjalan sampai aku naik ke pagar kebun Abu Qatadah—dia adalah sepupuku dan orang yang paling aku cintai—lalu aku ucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salamku. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Qatadah, aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah engkau benar-benar tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Ka’b mengatakan: Abu Qatadah hanya diam. Aku pun mengulang dan bertanya kepadanya dengan nama Allah, namun dia tetap diam. Aku mengulang dan kembali bertanya kepadanya dengan nama Allah, namun dia berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu kedua mataku mencucurkan air mata lalu aku berpaling dan menaiki pagar tadi.
فَبَيۡنَا أَنَا أَمۡشِي فِي سُوقِ الۡمَدِينَةِ، إِذَا نَبَطِيٌّ مِنۡ نَبَطِ أَهۡلِ الشَّامِ، مِمَّنۡ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالۡمَدِينَةِ. يَقُولُ: مَنۡ يَدُلُّ عَلَىٰ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ. قَالَ: فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ إِلَيَّ. حَتَّىٰ جَاءَنِي فَدَفَعَ إِلَيَّ كِتَابًا مِنۡ مَلِكِ غَسَّانَ. وَكُنۡتُ كَاتِبًا. فَقَرَأۡتُهُ فَإِذَا فِيهِ: أَمَّا بَعۡدُ. فَإِنَّهُ قَدۡ بَلَغَنَا أَنَّ صَاحِبَكَ قَدۡ جَفَاكَ. وَلَمۡ يَجۡعَلۡكَ اللهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلَا مَضۡيَعَةٍ فَالۡحَقۡ بِنَا نُوَاسِكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ، حِينَ قَرَأۡتُهَا: وَهَٰذِهِ أَيۡضَا مِنَ الۡبَلَاءِ. فَتَيَامَمۡتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرۡتُهَا بِهَا.
Lalu ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, ada seorang petani non-Arab dari kalangan penduduk Syam, yaitu di antara orang-orang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Orang itu berkata: Siapa yang bisa menunjukkan kepada Ka’b bin Malik. Ka’b mengatakan: Orang-orang pun memberi isyarat untuknya ke arahku. Sampai orang itu mendatangiku lalu menyerahkan sebuah tulisan dari Raja Ghassan kepadaku. Aku waktu itu sudah bisa baca tulis. Aku membacanya, ternyata di dalamnya tertulis: Amabakdu, sesungguhnya telah sampai kabar kepada kami bahwa sahabatmu telah mengucilkanmu dan Allah tidak menjadikan engkau berada di negeri yang hina dan tempat di mana hakmu diabaikan. Maka, bergabunglah bersama kami, maka kami akan melipur laramu. Ka’b mengatakan: Aku berkata ketika telah membacanya: Ini juga termasuk bencana. Aku beranjak menuju tanur lalu aku bakar tulisan itu di sana.
حَتَّىٰ إِذَا مَضَتۡ أَرۡبَعُونَ مِنَ الۡخَمۡسِينَ، وَاسۡتَلۡبَثَ الۡوَحۡيُ، إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَأۡتِينِي. فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُكَ أَنۡ تَعۡتَزِلَ امۡرَأَتَكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ: أُطَلِّقُهَا أَمۡ مَاذَا أَفۡعَلُ؟ قَالَ: لَا. بَلِ اعۡتَزِلۡهَا. فَلَا تَقۡرَبَنَّهَا. قَالَ: فَأَرۡسَلَ إِلَىٰ صَاحِبَيَّ بِمِثۡلِ ذٰلِكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ لِامۡرَأَتِي: الۡحَقِي بِأَهۡلِكِ فَكُونِي عِنۡدَهُمۡ حَتَّىٰ يَقۡضِيَ اللهُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ. قَالَ: فَجَاءَتِ امۡرَأَةُ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللهِ ﷺ. فَقَالَتۡ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هِلَالَ بۡنَ أُمَيَّةَ شَيۡخٌ ضَائِعٌ لَيۡسَ لَهُ خَادِمٌ. فَهَلۡ تَكۡرَهُ أَنۡ أَخۡدُمَهُ؟ قَالَ: (وَلَٰكِنۡ لَا يَقۡرَبَنَّكِ)، فَقَالَتۡ: إِنَّهُ، وَاللهِ، مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَىٰ شَيۡءٍ. وَوَاللهِ مَا زَالَ يَبۡكِي مُنۡذُ كَانَ مِنۡ أَمۡرِهِ مَا كَانَ. إِلَىٰ يَوۡمِهِ هَٰذَا.
Sampai ketika telah berlalu empat puluh dari lima puluh malam dan wahyu belum juga turun, utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku. Lalu ia mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanmu agar menjauhi istrimu. Ka’b mengatakan: Aku bertanya: Apakah aku cerai dia atau bagaimana? Utusan itu menjawab: Tidak, jauhi saja dia dan jangan sekali-kali engkau mendekatinya. Ka’b mengatakan: Lalu Nabi juga mengutus kepada kedua orang sahabatku semisal itu. Ka’b mengatakan: Aku berkata kepada istriku: Berkumpullah bersama keluargamu dan tetaplah di sisi mereka sampai Allah memberi keputusan dalam perkara ini. Ka’b mengatakan: Istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang fakir tidak memiliki pelayan. Apakah engkau benci jika aku melayaninya? Nabi bersabda, “Tetapi dia jangan sekali-kali mendekatimu.” Istri Hilal berkata: Sesungguhnya dia—demi Allah—tidak mempunyai keinginan apapun dan demi Allah dia terus menangis semenjak perkara ini terjadi sampai hari ini.
قَالَ: فَقَالَ لِي بَعۡضُ أَهۡلِي: لَوِ اسۡتَأۡذَنۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي امۡرَأَتِكَ؟ فَقَدۡ أَذِنَ لِامۡرَأَةِ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ أَنۡ تَخۡدُمَهُ. قَالَ: فَقُلۡتُ: لَا أَسۡتَأۡذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ ﷺ. وَمَا يُدۡرِينِي مَاذَا يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا اسۡتَأۡذَنۡتُهُ فِيهَا، وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ.
Ka’b mengatakan: Sebagian keluargaku berkata kepadaku: Andai engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal istrimu. Sesungguhnya beliau mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya. Ka’b mengatakan: Aku berkata: Aku tidak akan meminta izin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini dan apa yang akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan jika aku meminta izin beliau dalam hal istriku padahal aku orang yang masih muda.
قَالَ: فَلَبِثۡتُ بِذٰلِكَ عَشۡرَ لَيَالٍ. فَكَمِلَ لَنَا خَمۡسُونَ لَيۡلَةً مِنۡ حِينَ نُهِيَ عَنۡ كَلَامِنَا. قَالَ: ثُمَّ صَلَّيۡتُ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ صَبَاحَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً، عَلَىٰ ظَهۡرِ بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِنَا. فَبَيۡنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الۡحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَّا. قَدۡ ضَاقَتۡ عَلَيَّ نَفۡسِي وَضَاقَتۡ عَلَيَّ الۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ، سَمِعۡتُ صَوۡتَ صَارِخٍ أَوۡفَىٰ عَلَىٰ سَلۡعٍ يَقُولُ، بِأَعۡلَىٰ صَوۡتِهِ: يَا كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ، أَبۡشِرۡ. قَالَ: فَخَرَرۡتُ سَاجِدًا. وَعَرَفۡتُ أَنۡ قَدۡ جَاءَ فَرَجٌ.
Ka’b mengatakan: Aku masih berada dalam keadaan itu selama sepuluh malam, sehingga sempurnalah lima puluh malam sejak saat orang-orang dilarang untuk berbicara dengan kami. Ka’b mengatakan: Aku salat subuh pada pagi hari kelima puluh di atas loteng rumah kami. Ketika aku duduk sesuai kondisi yang disebutkan Allah azza wajalla tentang kami—jiwa terasa sempit dan bumi menjadi sempit padahal bumi itu luas—aku mendengar suara orang yang berteriak yang datang dari atas celah gunung, berkata dengan suara yang sangat keras: Wahai Ka’b bin Malik, bergembiralah. Ka’b mengatakan: Aku pun menyungkur sujud dan aku tahu bahwa jalan keluar telah datang.
قَالَ: فَآذَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّاسَ بِتَوۡبَةِ اللهِ عَلَيۡنَا، حِينَ صَلَّىٰ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ. فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا، فَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَيَّ مُبَشِّرُونَ. وَرَكَضَ رَجُلٌ إِلَيَّ فَرَسًا. وَسَعَىٰ سَاعٍ مِنۡ أَسۡلَمَ قِبَلِي. وَأَوۡفَىٰ الۡجَبَلَ. فَكَانَ الصَّوۡتُ أَسۡرَعَ مِنَ الۡفَرَسِ. فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعۡتُ صَوۡتَهُ يُبَشِّرُنِي. فَنَزَعۡتُ لَهُ ثَوۡبَيَّ فَكَسَوۡتُهُمَا إِيَّاهُ بِبِشَارَتِهِ. وَاللهِ، مَا أَمۡلِكُ غَيۡرَهُمَا يَوۡمَئِذٍ. وَاسۡتَعَرۡتُ ثَوۡبَيۡنِ فَلَبِسۡتُهُمَا. فَانۡطَلَقۡتُ أَتَأَمَّمُ رَسُولَ اللهِ ﷺ. يَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوۡجًا فَوۡجًا، يُهَنِّئُونِي بِالتَّوۡبَةِ وَيَقُولُونَ: لِتَهۡنِئۡكَ تَوۡبَةُ اللهِ عَلَيۡكَ. حَتَّىٰ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ فِي الۡمَسۡجِدِ، وَحَوۡلَهُ النَّاسُ. فَقَامَ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ يُهَرۡوِلُ حَتَّىٰ صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي. وَاللهِ، مَا قَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ غَيۡرُهُ. قَالَ: فَكَانَ كَعۡبٌ لَا يَنۡسَاهَا لِطَلۡحَةَ.
Ka’b mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan penerimaan tobat kami dari Allah kepada manusia ketika beliau telah salat Subuh. Lalu orang-orang pergi untuk memberi kabar gembira kepada kami. Para pemberi kabar gembira pergi ke arah dua sahabatku. Ada seseorang yang memacu kuda ke tempatku dan ada seseorang dari Bani Aslam yang berjalan cepat ke arahku dan naik ke atas gunung. Ternyata suara itu lebih cepat daripada kuda. Ketika orang yang aku dengar suaranya untuk memberiku kabar gembira telah datang, aku melepas dua pakaianku lalu aku kenakan kedua pakaian itu kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembiranya. Demi Allah, aku pada hari itu tidak memiliki selain dua pakaian itu. Aku meminjam dua pakaian lain dan aku kenakan, lalu aku pergi menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang berduyun-duyun menyambutku. Mereka memberi selamat kepadaku atas diterimanya tobat. Mereka berkata: Selamat atas penerimaan Allah atas tobatmu. Sampai aku masuk masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid dan orang-orang ada di sekitar beliau. Thalhah bin ‘Ubaidullah bangkit berlari kecil sampai menjabat tangan dan memberi selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang bangkit berdiri selain dia. Ka’b mengatakan: Ka’b tidak melupakan kejadian itu dari Thalhah.
قَالَ كَعۡبٌ: فَلَمَّا سَلَّمۡتُ عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ، وَهُوَ يَبۡرُقُ وَجۡهُهُ مِنَ السُّرُورِ وَيَقُولُ: (أَبۡشِرۡ بِخَيۡرِ يَوۡمٍ مَرَّ عَلَيۡكَ مُنۡذُ وَلَدَتۡكَ أُمُّكَ)، قَالَ: فَقُلۡتُ: أَمِنۡ عِنۡدِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ أَمۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ؟ فَقَالَ: (لَا. بَلۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ)، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا سُرَّ اسۡتَنَارَ وَجۡهُهُ، كَأَنَّ وَجۡهَهُ قِطۡعَةُ قَمَرٍ. قَالَ: وَكُنَّا نَعۡرِفُ ذٰلِكَ.
Ka’b mengatakan: Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda dalam keadaan wajahnya bersinar karena gembira, “Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang engkau lalui sejak ibumu melahirkanmu.” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Apakah kabar gembira ini dari sisimu, wahai Rasulullah? Ataukah dari sisi Allah? Nabi menjawab, “Tidak, bahkan dari sisi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sedang gembira, wajahnya bersinar seakan-akan wajah beliau adalah kepingan rembulan. Ka’b mengatakan: Dan kami dahulu mengetahui hal itu.
قَالَ: فَلَمَّا جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ أَنۡخَلِعَ مِنۡ مَالِي صَدَقَةً إِلَىٰ اللهِ وَإِلَىٰ رَسُولِهِ ﷺ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمۡسِكۡ بَعۡضَ مَالِكَ. فَهُوَ خَيۡرٌ لَكَ)، قَالَ: فَقُلۡتُ: فَإِنِّي أُمۡسِكُ سَهۡمِيَ الَّذِي بِخَيۡبَرَ. قَالَ: وَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ إِنَّمَا أَنۡجَانِي بِالصِّدۡقِ. وَإِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ لَا أُحَدِّثَ إِلَّا صِدۡقًا مَا بَقِيتُ. قَالَ: فَوَاللّٰهِ، مَا عَلِمۡتُ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ أَبۡلَاهُ اللهُ فِي صِدۡقِ الۡحَدِيثِ، مُنۡذُ ذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَىٰ يَوۡمِي هَٰذَا، أَحۡسَنَ مِمَّا أَبۡلَانِي اللهُ بِهِ. وَاللهِ، مَا تَعَمَّدۡتُ كَذِبَةً مُنۡذُ قُلۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، إِلَىٰ يَوۡمِي هَٰذَا. وَإِنِّي لَأَرۡجُو أَنۡ يَحۡفَظَنِي اللهُ فِيمَا بَقِيَ.
Ka’b mengatakan: Ketika aku duduk di hadapan beliau, aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dari bentuk tobatku adalah aku mengeluarkan dari hartaku untuk sedekah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahanlah sebagian hartamu, maka itu baik untukmu.” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Sesungguhnya aku masih menahan bagianku di Khaibar. Ka’b mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran dan sesungguhnya dari bentuk tobatku adalah aku tidak akan menceritakan kecuali dengan kejujuran pada sisa hidupku. Ka’b mengatakan: Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa ada seseorang dari kalangan kaum muslimin yang diberi kenikmatan oleh Allah dalam kejujuran ucapan semenjak aku menyebutkan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini, yang lebih baik daripada nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Demi Allah, aku tidak pernah sengaja berbohong semenjak aku mengatakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengharap Allah menjagaku di sisa hidupku. 
قَالَ: فَأَنۡزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ۝١١٧ وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ﴾ [التوبة: ١١٧-١١٨] حَتَّىٰ بَلَغَ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ ۝١١٩﴾ [التوبة: ١١٩].
Ka’b mengatakan: Lalu Allah azza wajalla menurunkan ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,” (QS. At-Taubah: 117-118) sampai, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
قَالَ كَعۡبٌ: وَاللهِ، مَا أَنۡعَمَ اللهُ عَلَيَّ مِنۡ نِعۡمَةٍ قَطُّ، بَعۡدَ إِذۡ هَدَانِي اللهُ لِلۡإِسۡلَامِ، أَعۡظَمَ فِي نَفۡسِي، مِنۡ صِدۡقِي رَسُولَ اللهِ ﷺ. أَنۡ لَا أَكُونَ كَذَبۡتُهُ فَأَهۡلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا. إِنَّ اللهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا، حِينَ أَنۡزَلَ الۡوَحۡيَ، شَرَّ مَا قَالَ لِأَحَدٍ. وَقَالَ اللهُ: ﴿سَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمْ إِذَا ٱنقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ ۖ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ۝٩٥ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ ۖ فَإِن تَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْفَـٰسِقِينَ ۝٩٦﴾ [التوبة: ٩٥-٩٦].
Ka’b mengatakan: Demi Allah, tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepadaku—setelah Allah menunjukiku kepada Islam—yang lebih agung pada diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu aku tidak berdusta kepadanya yang dapat menyebabkanku celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta itu celaka. Sesungguhnya Allah berfirman untuk orang-orang yang telah berdusta—ketika wahyu telah turun—dengan seburuk-buruk ucapan kepada seseorang. Allah berfirman (yang artinya), “Kelak mereka akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, apabila kalian kembali kepada mereka, supaya kalian berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepada kalian, agar kalian rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian rida kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS. At-Taubah: 95-96).
قَالَ كَعۡبٌ: كُنَّا خُلِّفۡنَا، أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ، عَنۡ أَمۡرِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ حَلَفُوا لَهُ. فَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ. وَأَرۡجَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَمۡرَنَا حَتَّىٰ قَضَىٰ اللهُ فِيهِ. فَبِذٰلِكَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟﴾ [التوبة: ١١٨]. وَلَيۡسَ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ مِمَّا خُلِّفۡنَا، تَخَلُّفَنَا عَنِ الۡغَزۡوِ. وَإِنَّمَا هُوَ تَخۡلِيفُهُ إِيَّانَا، وَإِرۡجَاؤُهُ أَمۡرَنَا، عَمَّنۡ حَلَفَ لَهُ وَاعۡتَذَرَ إِلَيۡهِ فَقَبِلَ مِنۡهُ.
[البخاري: كتاب المغازي، باب حديث كعب بن مالك، رقم: ٤٤١٨].
Ka’b mengatakan: Kami bertiga ditangguhkan dari perkara mereka, yaitu orang-orang yang alasan mereka diterima oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu Nabi mengambil baiat dan meminta ampun untuk mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda perkara kami sampai Allah membuat keputusan dalam hal tersebut. Oleh karena itu, Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka.” (QS. At-Taubah: 118). Bukanlah yang disebutkan Allah itu ketidakikutan kami dalam perang. Namun yang dimaksud adalah penangguhan tobat untuk kami dan penundaan perkara kami dari orang-orang yang bersumpah kepada beliau dan mengajukan uzur kepada beliau, lalu beliau langsung menerima alasan darinya.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا حُجَيۡنُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ... بِإِسۡنَادِ يُونُسَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. سَوَاءً.
Muhammad bin Rafi’ telah menceritakannya kepadaku: Hujain bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab… melalui sanad Yunus dari Az-Zuhri. Sama hadisnya.
٥٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُسۡلِمٍ، ابۡنُ أَخِي الزُّهۡرِيِّ عَنۡ عَمِّهِ، مُحَمَّدِ بۡنِ مُسۡلِمٍ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، وَكَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ حِينَ عَمِيَ، قَالَ: سَمِعۡتُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ، حِينَ تَخَلَّفَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ.
وَزَادَ فِيهِ، عَلَىٰ يُونُسَ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَلَّمَا يُرِيدُ غَزۡوَةً إِلَّا وَرَّى بِغَيۡرِهَا، حَتَّىٰ كَانَتۡ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةُ.
وَلَمۡ يَذۡكُرۡ، فِي حَدِيثِ ابۡنِ أَخِي الزُّهۡرِيِّ، أَبَا خَيۡثَمَةَ وَلُحُوقَهُ بِالنَّبِيِّ ﷺ.
54. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku: Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—menceritakan kepada kami dari pamannya, yaitu Muhammad bin Muslim Az-Zuhri: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’b bin Malik—beliau adalah penuntun Ka’b ketika telah buta—berkata: Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan kisahnya ketika tidak ikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk… lalu beliau membawakan hadis itu.
Beliau menambahi riwayat Yunus: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ingin berperang, seringnya mengecoh dengan selainnya. Sampai pada perang itu.
Beliau tidak menyebutkan Abu Khaitsamah dan perihal dia menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadis keponakan Az-Zuhri.
٥٥ - (...) - وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بۡنُ شَبِيبٍ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ أَعۡيَنَ: حَدَّثَنَا مَعۡقِلٌ وَهُوَ ابۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ عَمِّهِ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبٍ. وَكَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ حِينَ أُصِيبَ بَصَرُهُ، وَكَانَ أَعۡلَمَ قَوۡمِهِ وَأَوۡعَاهُمۡ لِأَحَادِيثِ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي، كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ، وَهُوَ أَحَدُ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيۡهِمۡ، يُحَدِّثُ، أَنَّهُ لَمۡ يَتَخَلَّفۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ. غَيۡرَ غَزۡوَتَيۡنِ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ وَقَالَ فِيهِ: وَغَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِنَاسٍ كَثِيرٍ يَزِيدُونَ عَلَىٰ عَشۡرَةِ آلَافٍ. وَلَا يَجۡمَعُهُمۡ دِيوَانُ حَافِظٍ.
55. Salamah bin Syabib telah menceritakan kepadaku: Al-Hasan bin A’yan menceritakan kepada kami: Ma’qil bin ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku dari pamannya, yaitu ‘Ubaidullah bin Ka’b. Beliau adalah penuntun Ka’b ketika tertimpa musibah pada penglihatannya dan beliau adalah orang yang paling berilmu dan paling menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: Aku mendengar ayahku, yaitu Ka’b bin Malik—beliau adalah salah satu dari tiga orang yang diterima tobatnya—menceritakan bahwa beliau tidak pernah sama sekali absen dari perang yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain dua perang… beliau membawakan hadis tersebut dan beliau berkata padanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang bersama orang-orang yang banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Dan tidak ada daftar catatan yang mengumpulkan (nama-nama) mereka.