Shahih Muslim hadits nomor 902

(٩٠٢) - قَالَ الزُّهۡرِيُّ: وَأَخۡبَرَنِي كَثِيرُ بۡنُ عَبَّاسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ أَنَّهُ صَلَّىٰ أَرۡبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكۡعَتَيۡنِ، وَأَرۡبَعَ سَجَدَاتٍ.
902. Az-Zuhri berkata: Katsir bin ‘Abbas mengabarkan kepadaku dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa beliau salat (gerhana) empat rukuk dan empat sujud dalam dua rakaat.
(...) - وَحَدَّثَنَا حَاجِبُ بۡنُ الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡوَلِيدِ الزُّبَيۡدِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. قَالَ: كَانَ كَثِيرُ بۡنُ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ؛ أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ كَانَ يُحَدِّثُ عَنۡ صَلَاةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوۡمَ كَسَفَتِ الشَّمۡسُ. بِمِثۡلِ مَا حَدَّثَ عُرۡوَةُ، عَنۡ عَائِشَةَ.
Hajib bin Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Harb menceritakan kepada kami: Muhammad bin Al-Walid Az-Zubaidi menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Dahulu Katsir bin ‘Abbas menceritakan bahwa Ibnu ‘Abbas pernah menceritakan tentang salat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ketika terjadi gerhana matahari. Semisal riwayat yang diceritakan ‘Urwah dari ‘Aisyah.

Tanda Hari Kiamat: Kemunculan Dajjal

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:
١- (خُرُوجُ الدَّجَّالِ):
1. Munculnya Dajjal.
وَهُوَ لُغَةً: صِيغَةُ مُبَالَغَةٍ مِنَ الدَّجۡلِ وَهُوَ الۡكَذِبُ وَالتَّمۡوِيهُ.
وَشَرۡعًا: رَجُلٌ مُمَوِّهٌ يَخۡرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَدَّعِى الرُّبُوبِيَّةَ.
Dajjal secara bahasa adalah bentuk mubalaghah (memberi arti sangat) dari ad-dajl yaitu dusta dan pengelabuan. Secara makna syariat adalah seorang pria yang sangat pendusta yang akan muncul di akhir zaman dengan mengaku-aku Tuhan. 
وَخُرُوجُهُ ثَابِتٌ بِالسُّنَّةِ وَالۡإِجۡمَاعِ.
Munculnya Dajjal ini telah pasti berdasarkan sunah dan ijmak.
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (قُولُوا: اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنۡ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ. وكان النبي ﷺ يتعوذ منه في الصلاة متفق عليه.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam. Aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari ujian Al-Masih Ad-Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari ujian kehidupan dan kematian.” (HR. Muslim nomor 588).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika salat biasa berlindung dari Dajjal. (HR. Al-Bukhari nomor 1377 dan Muslim).
وَأَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى خُرُوجِهِ.
Kaum muslimin bersepakat tentang kemunculan Dajjal.
وَقِصَّتُهُ أَنَّهُ يَخۡرُجُ مِنۡ طَرِيقٍ بَيۡنَ الشَّامِ وَالۡعِرَاقِ فَيَدۡعُو النَّاسَ إِلَى عِبَادَتِهِ فَأَكۡثَرُ مَنۡ يَتَّبِعُهُ الۡيَهُودُ وَالنِّسَاءُ وَالۡأَعۡرَابُ، وَيَتَّبِعُهُ سَبۡعُونَ أَلۡفًا مِنۡ يَهُودِ أَصۡفَهَانَ، فَيَسِيرُ فِي الۡأَرۡضِ كُلِّهَا كَالۡغَيۡثِ اسۡتَدۡبَرَتۡهُ الرِّيحُ إِلَّا مَكَّةَ وَالۡمَدِينَةَ فَيُمۡنَعُ مِنۡهُمَا وَمُدَّتُهُ أَرۡبَعُونَ يَوۡمًا يَوۡمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوۡمٌ كَشَهۡرٍ، وَيَوۡمٌ كَجُمۡعَةٍ وَبَاقِيُ أَيَّامِهِ كَالۡعَادَةِ. وَهُوَ أَعۡوَرُ الۡعَيۡنِ مَكۡتُوبٌ بَيۡنَ عَيۡنَيۡهِ ك ف ر يَقۡرَؤُهُ الۡمُؤۡمِنُ فَقَطۡ. وَلَهُ فِتۡنَةٌ عَظِيمَةٌ مِنۡهَا أَنَّهُ يَأۡمُرُ السَّمَاءَ فَتُمۡطِرَ وَالۡأَرۡضَ فَتَنۡبُتَ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَجَنَّتُهُ نَارٌ وَنَارُهُ جَنَّةٌ. حَذَّرَ مِنۡهُ النَّبِيُّ ﷺ وَقَالَ: (مَنۡ سَمِعَ بِهِ فَلۡيَنۡأَ عَنۡهُ وَمَنۡ أَدۡرَكَهُ فَلۡيَقۡرَأۡ عَلَيۡهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الۡكَهۡفِ أَوۡ بِفَوَاتِحِ سُورَةِ الۡكَهۡفِ).
Kisahnya adalah bahwa Dajjal akan keluar dari jalan di antara Syam dan ‘Iraq, lalu dia mengajak manusia untuk menyembahnya. Sebagian besar yang mengikutinya adalah orang-orang Yahudi, para wanita, dan arab badui. Dia diikuti oleh tujuh puluh ribu Yahudi Isfahan. Dia berjalan di seluruh permukaan bumi bagaikan hujan yang mengiringi angin kecuali Makkah dan Madinah. Dia dihalangi masuk ke dua tempat tersebut. Dia muncul selama empat puluh hari. Sehari ada yang seperti setahun, sehari ada yang seperti sebulan, dan sehari ada yang seperti sepekan. Hari-hari lainnya seperti hari-hari biasanya. Dia buta sebelah matanya. Tertulis di antara kedua matanya huruf kaf fa ra, yang bisa dibaca oleh orang mukmin saja. Dia memiliki ujian yang sangat besar. Di antaranya bahwa dia bisa memerintahkan langit sehingga turun hujan dan memerintahkan bumi sehingga menumbuhkan tetumbuhan. Bersamanya ada surga dan neraka, namun surga Dajjal adalah neraka dan neraka Dajjal adalah surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan darinya dan beliau bersabda, “Siapa saja yang mendengar kemunculannya, maka hendaknya ia menjauhinya. Siapa saja yang menjumpainya, maka bacakan kepadanya awal-awal surah Al-Kahfi.” (HR. Muslim nomor 2937).

Shahih Muslim hadits nomor 588

١٢٨ - (٥٨٨) - وَحَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجَهۡضَمِيُّ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ وَأَبُو كُرَيۡبٍ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، جَمِيعًا عَنۡ وَكِيعٍ. قَالَ أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ حَسَّانَ بۡنِ عَطِيَّةَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي عَائِشَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. وَعَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَسۡتَعِذۡ بِاللهِ مِنۡ أَرۡبَعٍ. يَقُولُ: اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنۡ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَمِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ، وَمِنۡ شَرِّ فِتۡنَةِ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ).
128. (588). Nashr bin ‘Ali Al-Jahdhami, Ibnu Numair, Abu Kuraib, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Waki’. Abu Kuraib berkata: Waki’ menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Hassan bin ‘Athiyyah, dari Muhammad bin Abu ‘Aisyah, dari Abu Hurairah. Dan dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian telah membaca tasyahud, maka hendaknya dia meminta perlindungan kepada Allah dari empat hal. Dia mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari ujian kehidupan dan kematian, dan dari keburukan ujian Al-Masih Ad-Dajjal.”
١٣٠ - (٥٨٨) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ: حَدَّثَنِي الۡأَوۡزَاعِيُّ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بۡنُ عَطِيَّةَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي عَائِشَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمۡ مِنَ التَّشَهُّدِ الۡآخِرِ، فَلۡيَتَعَوَّذۡ بِاللهِ مِنۡ أَرۡبَعٍ: مِنۡ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَمِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ، وَمِنۡ شَرِّ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ).
130. (588). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepadaku: Hassan bin ‘Athiyyah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Abu ‘Aisyah menceritakan kepadaku: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika salah seorang kalian selesai dari membaca tasyahud akhir, maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal: dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari ujian kehidupan dan kematian, dan dari kejelekan Al-Masih Ad-Dajjal.”
وَحَدَّثَنِيهِ الۡحَكَمُ بۡنُ مُوسَىٰ: حَدَّثَنَا هِقۡلُ بۡنُ زِيَادٍ. (ح) قَالَ: وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ خَشۡرَمٍ: أَخۡبَرَنَا عِيسَىٰ - يَعۡنِي ابۡنَ يُونُسَ - جَمِيعًا عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: (إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمۡ مِنَ التَّشَهُّدِ) وَلَمۡ يَذۡكُرِ (الۡآخِرَ).
Al-Hakam bin Musa telah menceritakannya kepadaku: Hiql bin Ziyad menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Beliau berkata: ‘Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Semuanya dari Al-Auza’i melalui sanad ini. Beliau bersabda, “Ketika salah seorang kalian selesai dari membaca tasyahud,” dan beliau tidak menyebutkan, “akhir.”
١٣١ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ يَحۡيَىٰ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ؛ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ: (اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَفِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ، وَشَرِّ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ).
131. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari Yahya, dari Abu Salamah; Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah mengatakan: Nabi Allah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, ujian kehidupan dan kematian, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal.”
١٣٢ - (...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ طَاوُسٍ؛ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (عُوذُوا بِاللهِ مِنۡ عَذَابِ اللهِ. عُوذُوا بِاللهِ مِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ. عُوذُوا بِاللهِ مِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ. عُوذُوا بِاللهِ مِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ).
132. Muhammad bin ‘Abbad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Thawus; Beliau berkata: Aku mendengar Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab Allah. Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur. Berlindunglah kalian kepada Allah dari ujian Al-Masih Ad-Dajjal. Berlindunglah kalian kepada Allah dari ujian kehidupan dan kematian.”
(...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... مِثۡلَهُ.
Muhammad bin ‘Abbad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… semisal hadis tersebut.
(...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبَّادٍ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... مِثۡلَهُ.
Muhammad bin ‘Abbad, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… semisal hadis tersebut.
١٣٣ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ بُدَيۡلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ شَقِيقٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَعَذَابِ جَهَنَّمَ، وَفِتۡنَةِ الدَّجَّالِ.
133. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Budail, dari ‘Abdullah bin Syaqiq, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwa beliau dahulu biasa berlindung dari azab kubur, azab jahanam, dan ujian Ad-Dajjal.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1377

١٣٧٧ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡعُو: (اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنۡ عَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَمِنۡ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَحۡيَا وَالۡمَمَاتِ، وَمِنۡ فِتۡنَةِ الۡمَسِيحِ الدَّجَّالِ).
1377. Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari ujian kehidupan dan kematian, dan dari ujian Al-Masih Ad-Dajjal.”

Shahih Muslim hadits nomor 70

١٢٤ - (٧٠) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مُغِيرَةَ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ قَالَ: كَانَ جَرِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ يُحَدِّثُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا أَبَقَ الۡعَبۡدُ لَمۡ تُقۡبَلۡ لَهُ صَلَاةٌ).
124. (70). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Jarir mengabarkan kepada kami dari Mughirah, dari Asy-Sya’bi. Beliau berkata: Jarir bin ‘Abdullah pernah menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Jika seorang budak kabur, maka tidak diterima darinya satu salat pun.”

Shahih Muslim hadits nomor 69

١٢٣ - (٦٩) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ، عَنۡ دَاوُدَ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ جَرِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَيُّمَا عَبۡدٍ أَبَقَ فَقَدۡ بَرِئَتۡ مِنۡهُ الذِّمَّةُ).
123. (69). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Hafsh bin Ghiyats menceritakan kepada kami dari Dawud, dari Asy-Sya’bi, dari Jarir. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Budak mana saja yang kabur maka sungguh jaminan keamanan telah lepas darinya.”

Shahih Muslim hadits nomor 68

٣١ - بَابُ تَسۡمِيَةِ الۡعَبۡدِ الۡآبِقِ كَافِرًا
31. Bab penamaan terhadap budak yang kabur dengan kafir

١٢٢ - (٦٨) - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ السَّعۡدِيُّ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ - يَعۡنِي ابۡنَ عُلَيَّةَ -، عَنۡ مَنۡصُورِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ جَرِيرٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: (أَيُّمَا عَبۡدٍ أَبَقَ مِنۡ مَوَالِيهِ فَقَدۡ كَفَرَ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَيۡهِمۡ).
قَالَ مَنۡصُورٌ: قَدۡ وَاللهِ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَٰكِنِّي أَكۡرَهُ أَنۡ يُرۡوَى عَنِّي هَاهُنَا بِالۡبَصۡرَةِ.
122. (68). ‘Ali bin Hujr As-Sa’di telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Manshur bin ‘Abdurrahman, dari Asy-Sya’bi, dari Jarir bahwa beliau mendengarnya mengatakan, “Budak mana saja yang kabur dari tuannya, maka ia telah kufur sampai kembali kepada mereka.”
Manshur berkata: Demi Allah, sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun aku tidak suka hal itu diriwayatkan dariku di Bashrah sini.

Shahih Muslim hadits nomor 67

٣٠ - بَابُ إِطۡلَاقِ اسۡمِ الۡكُفۡرِ عَلَى الطَّعۡنِ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةِ عَلَى الۡمَيِّتِ
30. Bab pemutlakan kata kekafiran terhadap perbuatan mencela nasab dan meratapi mayat

١٢١ - (٦٧) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ، اللَّفۡظُ لَهُ: حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدٍ، كُلُّهُمۡ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اثۡنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمۡ كُفۡرٌ: الطَّعۡنُ فِي النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الۡمَيِّتِ).
121. (67). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: Ayahku dan Muhammad bin ‘Ubaid menceritakan kepada kami. Mereka semua dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua perkara kekufuran yang ada pada manusia, yaitu mencela nasab dan meratapi mayat.”

Shahih Muslim hadits nomor 66

١١٩ - (٦٦) - وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ وَاقِدِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِمِثۡلِهِ.
[البخاري: كتاب المغازي، باب حجة الوداع، رقم: ٤٤٠٢].
119. (66). ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Waqid bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut.
١٢٠ - (...) - وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ خَلَّادٍ الۡبَاهِلِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ وَاقِدِ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ زَيۡدٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ قَالَ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ: (وَيۡحَكُمۡ، - أَوۡ قَالَ: وَيۡلَكُمۡ - لَا تَرۡجِعُوا بَعۡدِي كُفَّارًا، يَضۡرِبُ بَعۡضُكُمۡ رِقَابَ بَعۡضٍ).
120. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Bakr bin Khallad Al-Bahili telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Waqid bin Muhammad bin Zaid: Bahwa beliau mendengar ayahnya menceritakan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwa beliau bersabda ketika haji wadak, “Celaka kalian, janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain.”
(...) - حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُمَرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِمِثۡلِ حَدِيثِ شُعۡبَةَ عَنۡ وَاقِدٍ.
Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: ‘Umar bin Muhammad menceritakan kepadaku: Bahwa ayahnya menceritakan kepadanya dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Syu’bah dari Waqid.

Shahih Muslim hadits nomor 119

٥٢ - بَابُ مَخَافَةِ الۡمُؤۡمِنِ أَنۡ يَحۡبَطَ عَمَلُهُ
52. Bab kekhawatiran seorang mukmin akan terhapus amalannya

١٨٧ - (١١٩) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرۡفَعُوٓا۟ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِىِّ﴾ [الحجرات: ٢] إِلَى آخِرِ الۡآيَةِ. جَلَسَ ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسٍ فِي بَيۡتِهِ وَقَالَ: أَنَا مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ. وَاحۡتَبَسَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَسَأَلَ النَّبِيُّ ﷺ سَعۡدَ بۡنَ مُعَاذٍ فَقَالَ: (يَا أَبَا عَمۡرٍو، مَا شَأۡنُ ثَابِتٍ؟ أَشۡتَكَى؟) قَالَ سَعۡدٌ: إِنَّهُ لَجَارِي، وَمَا عَلِمۡتُ لَهُ بِشَكۡوَى، قَالَ: فَأَتَاهُ سَعۡدٌ فَذَكَرَ لَهُ قَوۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَقَالَ ثَابِتٌ: أُنۡزِلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ، وَلَقَدۡ عَلِمۡتُمۡ أَنِّي مِنۡ أَرۡفَعِكُمۡ صَوۡتًا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَنَا مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ سَعۡدٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَلۡ هُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ).
187. (119). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik bahwa beliau mengatakan: Ketika ayat ini turun (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi.” (QS. Al-Hujurat: 2) sampai akhir ayat. Tsabit bin Qais duduk di dalam rumahnya seraya berkata: Aku termasuk penduduk neraka. Beliau mengurung diri sehingga tidak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Sa’d bin Mu’adz, “Wahai Abu ‘Amr, bagaimana keadaan Tsabit? Apa dia sakit?”
Sa’d menjawab, “Sesungguhnya Tsabit adalah tetanggaku, namun aku tidak mengetahui bahwa dia sakit.”
Anas berkata: Sa’d mendatangi Tsabit lalu Sa’d menyebutkan kepada Tsabit pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tsabit berkata, “Ayat ini turun dan sungguh kalian mengetahui bahwa aku paling tinggi suara di antara kalian melebihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga aku termasuk penduduk neraka.”
Lalu Sa’d menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan dia termasuk penduduk surga.”
١٨٨ - (...) - وَحَدَّثَنَا قَطَنُ بۡنُ نُسَيۡرٍ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ خَطِيبَ الۡأَنۡصَارِ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ هٰذِهِ الۡآيَةُ... بِنَحۡوِ حَدِيثِ حَمَّادٍ. وَلَيۡسَ فِي حَدِيثِهِ ذِكۡرُ سَعۡدِ بۡنِ مُعَاذٍ.
188. Qathan bin Nusair telah menceritakan kepada kami: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan: Tsabit bin Qais bin Syammas adalah khatibnya kaum ansar. Ketika ayat ini turun… seperti hadis Hammad. Namun tidak disebutkan Sa’d bin Mu’adz di dalam hadisnya.
وَحَدَّثَنِيهِ أَحۡمَدُ بۡنُ سَعِيدِ بۡنِ صَخۡرٍ الدَّارِمِيُّ: حَدَّثَنَا حَبَّانُ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَا تَرۡفَعُوٓا۟ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِىِّ﴾ [الحجرات: ٢]. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ سَعۡدَ بۡنَ مُعَاذٍ فِي الۡحَدِيثِ.
Ahmad bin Sa’id bin Shakhr Ad-Darimi telah menceritakannya kepadaku: Habban menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas. Beliau mengatakan: Ketika turun ayat (yang artinya), “Janganlah kalian meninggikan suara-suara kalian melebihi suara Nabi.” (QS. Al-Hujurat: 2). Namun beliau tidak menyebutkan Sa’d bin Mu’adz di dalam hadis itu.
(...) - وَحَدَّثَنَا هُرَيۡمُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ الۡأَسَدِيُّ: حَدَّثَنَا الۡمُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يَذۡكُرُ عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ... وَاقۡتَصَّ الۡحَدِيثَ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ سَعۡدَ بۡنَ مُعَاذٍ. وَزَادَ: فَكُنَّا نَرَاهُ يَمۡشِي بَيۡنَ أَظۡهُرِنَا رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ.
Huraim bin ‘Abdul A’la Al-Asadi telah menceritakan kepada kami: Al-Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar ayahku menyebutkan dari Tsabit, dari Anas. Beliau mengatakan: Ketika ayat ini turun… dan beliau mengisahkan hadis itu namun beliau tidak menyebutkan Sa’d bin Mu’adz. Beliau menambahkan: Setelah itu kami melihat Tsabit bin Qais, yaitu seorang pria yang termasuk penduduk surga, berjalan di tengah-tengah kami.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 225

٢٢٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ؛ قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ نَفَّسَ عَنۡ مُسۡلِمٍ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ الدُّنۡيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنۡهُ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، وَمَنۡ سَتَرَ مُسۡلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَمَنۡ يَسَّرَ عَلَى مُعۡسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيۡهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوۡنِ الۡعَبۡدِ مَا كَانَ الۡعَبۡدُ فِي عَوۡنِ أَخِيهِ، وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الۡجَنَّةِ، وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ؛ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيۡنَهُمۡ إِلَّا حَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ وَنَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ، وَمَنۡ أَبۡطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ). [(صحيح الترغيب)(١/٣١/٦٧)، (التعليق الرغيب)(١/٥٢)، (تخريج العلم)(١١٣/١٧)، (صحيح أبي داود)(١٣٠٨): م].
225. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan dunia dari seorang muslim, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan berikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga. Tidaklah ada suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat yang ada di sisi-Nya. Siapa saja yang berlambat-lambat dalam beramal, maka nasabnya tidak dapat mempercepatnya.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2646

٢ - بَابُ فَضۡلِ طَلَبِ الۡعِلۡمِ
2. Bab keutamaan menuntut ilmu

٢٦٤٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. [(ابن ماجه)(٢٢٥): م].
2646. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga.” Ini adalah hadis hasan.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 247

٢٢ - بَابُ الۡوَصَاةِ بِطَلَبَةِ الۡعِلۡمِ
22. Bab wasiat untuk para penuntut ilmu

٢٤٧ – (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡحَارِثِ بۡنِ رَاشِدٍ الۡمِصۡرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ عَبۡدَةَ، عَنۡ أَبِي هَارُونَ الۡعَبۡدِيِّ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (سَيَأۡتِيكُمۡ أَقۡوَامٌ يَطۡلُبُونَ الۡعِلۡمَ، فَإِذَا رَأَيۡتُمُوهُمۡ فَقُولُوا لَهُمۡ: مَرۡحَبًا مَرۡحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَاقۡنُوهُمۡ). قُلۡتُ لِلۡحَكَمِ: مَا (اقۡنُوهُمۡ)؟ قَالَ: عَلِّمُوهُمۡ. [(الصحيحة)(٢٨٠)].
247. Muhammad bin Al-Harits bin Rasyid Al-Mishri telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Hakam bin ‘Abdah menceritakan kepada kami dari Abu Harun Al-‘Abdi, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Akan datang kepada kalian suatu kaum yang menuntut ilmu. Jika kalian melihat mereka, maka ucapkan kepada mereka: Marhaban, selamat datang wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan ajarilah mereka.” Aku bertanya kepada Al-Hakam: Apa arti اقۡنُوهُمۡ? Beliau menjawab: Ajarilah mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6369

٤١ – بَابُ الۡاسۡتِعَاذَةِ مِنَ الۡجُبۡنِ وَالۡكَسَلِ
41. Bab meminta perlindungan dari sifat pengecut dan malas

٦٣٦٩ - حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ أَبِي عَمۡرٍو قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: (اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الۡهَمِّ وَالۡحَزَنِ، وَالۡعَجۡزِ وَالۡكَسَلِ، وَالۡجُبۡنِ وَالۡبُخۡلِ، وَضَلَعِ الدَّيۡنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ). [طرفه في: ٣٧١].
6369. Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Amr bin Abu ‘Amr menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Anas mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu biasa mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, terlilit utang, dan ditindas orang.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6026

٣٦ - بَابُ تَعَاوُنِ الۡمُؤۡمِنِينَ بَعۡضِهِمۡ بَعۡضًا
36. Bab sikap saling menolong kaum mukminin sebagian mereka terhadap sebagian yang lainnya

٦٠٢٦ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ بُرَيۡدِ بۡنِ أَبِي بُرۡدَةَ قَالَ: أَخۡبَرَنِي جَدِّي أَبُو بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡمُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِ كَالۡبُنۡيَانِ، يَشُدُّ بَعۡضُهُ بَعۡضًا). ثُمَّ شَبَّكَ بَيۡنَ أَصَابِعِهِ. [طرفه في: ٤٨١]
وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ جَالِسًا، إِذۡ جَاءَ رَجُلٌ يَسۡأَلُ، أَوۡ طَالِبُ حَاجَةٍ، أَقۡبَلَ عَلَيۡنَا بِوَجۡهِهِ فَقَالَ: (اشۡفَعُوا فَلۡتُؤۡجَرُوا، وَلۡيَقۡضِ اللهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ). [طرفه في: ١٤٣٢].
6026. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Burdah Buraid bin Abu Burdah. Beliau berkata: Kakekku Abu Burdah mengabarkan kepadaku, dari ayahnya, yaitu Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Kemudian beliau menjalin jari-jemarinya.
Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk. Tiba-tiba seseorang datang meminta atau seorang yang mempunyai kebutuhan. Nabi menghadapkan wajahnya kepada kami, lalu bersabda, “Berikanlah pertolongan agar kalian diberi pahala dan semoga Allah melakukan apa yang Dia kehendaki melalui ucapan Nabi-Nya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 481

٤٨١ - حَدَّثَنَا خَلَّادُ بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ جَدِّهِ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ المُؤۡمِنَ لِلۡمُؤۡمِنِ كَالۡبُنۡيَانِ، يَشُدُّ بَعۡضُهُ بَعۡضًا). وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ. [الحديث ٤٨١ – طرفاه في: ٢٤٤٦، ٦٠٢٦].
481. Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Burdah bin ‘Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Beliau menjalin jari-jemarinya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2446

٢٤٤٦ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ بُرَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡمُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِ كَالۡبُنۡيَانِ، يَشُدُّ بَعۡضُهُ بَعۡضًا). وَشَبَّكَ بَيۡنَ أَصَابِعِهِ. [طرفه في: ٤٨١].
2446. Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Beliau menjalin jari-jemarinya.

Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku!

Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka cita adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.

Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim no.2999 dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu)

Kriteria Orang yang Paling Mulia


Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al-Hujuraat:13)

Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia


Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy no.3208 dan Muslim no.2643 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta'ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝٢٢ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝٢٣ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ ۝٢٤
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hadiid:22-24)

Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى الْجَنَّةِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَلَا عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ لَا يَسْتَبْطِئَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ رِزْقُهُ أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَلْقَى فِيْ رَوْعِيْ أَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَنْ يَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقُهُ فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا النَّاسُ وَاَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنْ اسْتَبْطَأَ أَحَدٌ مِنْكُمْ رِزْقُهُ فَلَا يَطْلُبْهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يُنَالُ فَضْلُهُ بِمَعْصِيَةٍ
"Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (Shahih, HR. Al-Hakim no.2136 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).

Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.

Hendaklah Orang yang Mampu Membantu


Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Al-Maa`idah:2)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim no.2699 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Berdo'a ketika Sedih


Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَا أَصَابَ أَحَدًا قَط هَمٌّ وَلاَ حُزْنٌ فَقَالَ: (اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ) إلا أذهب الله همه وحزنه وأبدله مكانه فرجا قال فقيل يا رسول الله ألا نتعلمها فقال بلى ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها
"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad no.3712 dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy)

Juga do'a berikut ini:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وِالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Al-Bukhariy 7/158 dari Anas radhiyallahu 'anhu)

Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan


Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.

Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin hal.92, dari Aadaabu Thaalibil 'Ilmi hal.71)

Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.

Contoh Orang-orang yang Sabar


Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.

Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub:
وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَاأَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ۝٨٤ قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ ۝٨٥ قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ۝٨٦
"Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (Yuusuf:84-86)

Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا ۝٢٢ فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَالَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا ۝٢٣ فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ۝٢٤ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۝٢٥
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (Maryam:22-25)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.


Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-4 Tahun ke-3 / 17 Desember 2004 M / 05 Dzul Qo'dah 1425 H.

Shahih Muslim hadits nomor 2586

٦٦ - (٢٥٨٦) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَثَلُ الۡمُؤۡمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمۡ وَتَرَاحُمِهِمۡ وَتَعَاطُفِهِمۡ، مَثَلُ الۡجَسَدِ: إِذَا اشۡتَكَىٰ مِنۡهُ عُضۡوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الۡجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالۡحُمَّىٰ).
[البخاري: كتاب الأدب، باب رحمة الناس والبهائم، رقم: ٦٠١١].
66. (2586). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Zakariyya` menceritakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, dari An-Nu’man bin Basyir. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan kaum mukminin dalam sikap saling cinta, kasih, dan sayang di antara mereka seperti satu jasad. Jika salah satu anggota tubuhnya menderita sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ الۡحَنۡظَلِيُّ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِنَحۡوِهِ.
Ishaq Al-Hanzhali telah menceritakan kepada kami: Jarir mengabarkan kepada kami dari Mutharrif, dari Asy-Sya’bi, dari An-Nu’man bin Basyir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… seperti hadis tersebut.
٦٧ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ. قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمُؤۡمِنُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ: إِنِ اشۡتَكَىٰ رَأۡسُهُ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الۡجَسَدِ بِالۡحُمَّىٰ وَالسَّهَرِ).
67. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Asy-Sya’bi, dari An-Nu’man bin Basyir. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum mukminin seperti satu orang. Jika kepalanya menderita sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.”
(...) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ خَيۡثَمَةَ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمُسۡلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ: إِنِ اشۡتَكَىٰ عَيۡنُهُ، اشۡتَكَىٰ كُلُّهُ. وَإِنِ اشۡتَكَىٰ رَأۡسُهُ، اشۡتَكَىٰ كُلُّهُ).
Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepadaku: Humaid bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari An-Nu’man bin Basyir. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum muslimin seperti satu orang. Jika matanya sakit, maka semuanya juga merasakan sakit. Jika kepalanya sakit, maka semuanya juga merasakan sakit.”
(...) - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... نَحۡوَهُ.
Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Humaid bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Asy-Sya’bi, dari An-Nu’man bin Basyir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… seperti hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 2585

١٧ - بَابُ تَرَاحُمِ الۡمُؤۡمِنِينَ وَتَعَاطُفِهِمۡ وَتَعَاضُدِهِمۡ
17. Bab saling menyayangi, mencintai, dan membantu sesama kaum mukminin

٦٥ - (٢٥٨٥) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو عَامِرٍ الۡأَشۡعَرِيُّ. قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ إِدۡرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُبَارَكِ وَابۡنُ إِدۡرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ. كُلُّهُمۡ عَنۡ بُرَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَىٰ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِ كَالۡبُنۡيَانِ، يَشُدُّ بَعۡضُهُ بَعۡضًا).
[البخاري: كتاب الصلاة، باب تشبيك الأصابع في المسجد وغيره، رقم: ٤٨١].
65. (2585). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu ‘Amir Al-Asy’ari telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdullah bin Idris dan Abu Usamah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-‘Ala` Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Idris, dan Abu Usamah menceritakan kepada kami. Mereka semua dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”

An Nu’man bin Muqarrin radhiyallahu ‘anhu

Seorang tokoh shahabat, dengan perantaraan beliau, kaumnya tunduk kepada kemuliaan Islam. Beliau berasal dari Kabilah Muzainah, sebuah kabilah badui yang tinggal di dekat kota Madinah, terletak di antara Madinah dan Makkah. Kabar tentang Islam dan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah sampai ke telinga mereka. Dakwah beliau, kepada apa beliau mengajak dan juga keluhuran akhlak beliau telah meluluhkan hati tokoh ini dan hati kaumnya. Beliau adalah Abu Amr An Nu’man bin Muqarrin bin ‘Aidz bin Miijan bin Hujair bin Nasr bin Hubsiyyah bin Kaab bin Abd bin Tsaur bin Hadmah bin Laathim bin Utsman Al Muzani. Putra-putra Utsman ini disebut Muzainah disandarkan kepada ibu mereka. Suatu ketika beliau berkata kepada kaumnya,
يَا قَوۡمِ وَاللهِ مَا عَلِمۡنَا عَنۡ مُحَمَّدٍ إِلَّا خَيۡرًا، وَلَا سَمِعۡنَا مِنۡ دَعۡوَتِهِ إِلَّا مَرۡحَمَةً وَإِحۡسَانًا وَعَدۡلًا، فَمَا بَالُنَا نُبۡطِئُ عَنۡهُ، وَالنَّاسُ إِلَيۡهِ يُسۡرِعُونَ؟! أَمَّا أَنَا فَقَدۡ عَزَمۡتُ عَلَى أَنۡ أَغۡدُوَ عَلَيۡهِ إِذَا أَصۡبَحۡتُ، فَمَنۡ شَاءَ مِنۡكُمۡ أَنۡ يَكُونَ مَعِي فَلۡيَتَجَهَّزۡ.
“Wahai kaumku, sungguh kita tidak mengetahui tentang Muhammad kecuali kebaikan, kita tidak mendengar tentang dakwahnya kecuali kasih sayang, kebaikan, dan keadilan. Lalu kenapa kita tidak segera menyambutnya, sedang manusia bersegera menyambutnya? Adapun aku, sungguh aku telah bertekad untuk datang kepadanya besok. Maka siapa di antara kalian yang mau bersamaku maka hendaklah dia bersiap-siap.”

Maka, di pagi harinya beliau datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sepuluh saudara beliau sebapak dan bersama mereka sejumlah empat ratus orang pasukan berkuda dari kaumnya. Maka, kedatangan beliau beserta rombongan ini untuk masuk Islam memberikan kegembiraan yang sangat pada kaum muslimin di Madinah. Kepada beliau dan kaum beliaulah turun ayat Allah berikut ini:
وَمِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ مَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡءَاخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَـٰتٍ عِندَ ٱللَّهِ وَصَلَوَ‌ٰتِ ٱلرَّسُولِ ۚ أَلَآ إِنَّهَا قُرۡبَةٌ لَّهُمۡ ۚ سَيُدۡخِلُهُمُ ٱللَّهُ فِى رَحۡمَتِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. At Taubah: 99]

Beliau dan saudara-saudara beliau, semuanya sejumlah tujuh orang adalah shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ikut berhijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu pun dari keluarga Arab ketika itu yang melakukan seperti mereka. Mereka adalah: Abu Amrah Ma’qil bin Muqarrin Al Muzani, Abdullah bin Muqarrin al Muzani, Abu Hakiim ‘Aqiil bin Muqarrin Al Muzani, Abu ‘Ady Suwaid bin Muqarrin Al Muzani, Sinan bin Muqarrin Al Muzani, Nuaim bin Muqarrin Al Muzani (beliaulah yang mengambil bendera dari tangan An-Nu’man saat beliau gugur, kemudian menyerahkannya ke Hudzaifah. Dan di tangan Nuaim inilah banyak dibukakan negeri-negeri persia). Tak ketinggalan, putra beliau Amr bin An Nu’man pun juga merupakan salah satu shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji keluarga ini sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
إِنَّ لِلۡإِيمَانِ بُيُوتًا وَلِلنِّفَاقِ بُيُوتًا، وَإِنَّ بَيۡتَ بَنِي مُقَرِّنۡ مِنۡ بُيُوتِ الۡإِيمَانِ
“Sesungguhnya iman memiliki rumah-rumah dan kemunafikan juga memiliki rumah-rumah, dan sesungguhnya rumah-rumah bani Muqarrin adalah rumah-rumah keimanan.”

KEUTAMAAN BELIAU


Beliau termasuk pembesar shahabat. Berbagai keutamaan ada pada beliau. Setelah masuknya beliau ke dalam Islam, beliau senantiasa mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, turut serta berhijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti perang Ahzab/ Khandaq, mengikuti Bai’atur Ridwan, mengikuti pertempuran menghadapi kaum yang murtad dan lainnya. Beliau juga meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara yang tercatat meriwayatkan hadis dari beliau adalah Ma’qil bin Yasar, seorang shahabat. Adapun dari kalangan tabiin, ada Muhammad bin Sirin, Khalid Al Waalibii, anak beliau Muawiyah, Muslim bin Al Haidham, dan Jubair bin Hayyah.

PERAN SERTA DALAM MEMBELA KHALIFAH PERTAMA


Pada masa kepemimpinan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dikirimlah pasukan besar di bawah komando Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, untuk menghadapi bangsa Romawi. Di saat yang hampir bersamaan, muncul gerakan-gerakan pemberontakan dari banyak kabilah-kabilah arab terhadap khalifah Abu Bakr Ash Shiddiq. Ada beberapa kelompok mereka yang tidak mau menyerahkan zakat kepada beliau, dan menganggap bahwa zakat hanya ditunaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Ada pula kabilah yang menyempal dari Islam dengan menetapkan adanya kenabian setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muncul gerakan Musailamah Al Kadzdzab yang didukung oleh kabilah besar dari Bani Hanifah. Muncul pula Sajah, wanita yang mengaku sebagai nabi dari Bani Tamim, Al Aswad di Negeri Yaman, dan Thulaihah. Mereka menyangka kaum muslimin dalam keadaan lemah dan pecah sehingga berani menampakkan penentangan. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan kaum muslimin yang tersisa di Madinah dan sekitarnya pun berjuang menghadapi para pemberontak tersebut dengan keberanian.

Dalam pertempuran menghadapi Thulaihah Al Asadi, An Nu’man memiliki andil besar. Abu Bakar sendiri yang turun tangan keluar menghadapi pasukan Tulaihah pada suatu malam. Beliau bersama An Nu’man di sebelah kanan dan Abdullah bin Muqarrin di sebelah kiri dan di arah belakang Suwaid bin Muqarrin. Maka tatkala fajar terbit, telah berhadapanlah kedua pasukan tersebut dan Allah pun menjadikan pasukan sang nabi palsu lari tunggang langgang dan dikejar oleh pasukan muslimin hingga daerah Dzil Qishshah. Pada akhirnya, Tulaihah pun menyatakan tobatnya dan kembali dalam deretan kaum muslimin dan baik keislamannya.

PERAN SERTA DALAM MEMBELA KHALIFAH KEDUA


Di masa kekhalifahan Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah diangkat menjadi gubernur di daerah Kasykar, suatu negeri di dekat Sungai Tigris (dajlah) dan Efrat (furat), Iraq. Suatu ketika, terdengar kabar bahwa pasukan Persia telah berkumpul dan siap berperang menghadapi muslimin. Mereka berkumpul di daerah Nahawand. Maka Umar bin Al Khattab pun menulis kepada penduduk Kufah dan Bashrah, memerintahkan mereka untuk mengirimkan 2/3 jumlah mereka guna bertempur dengan pasukan Persia. Dan menjadikan An Nu’man sebagai pemimpin pasukan. Beliau memberikan pengarahan kepada pasukan dan mengatakan, “Apabila Nu’man terbunuh maka Hudzaifah (menggantikannya) dan apabila Hudzaifah terbunuh maka Jarir (yang menggantikannya).”

Maka keluarlah Nu’man dengan membawa bendera perang, bersama beliau Hudzaifah, Az Zubair, Al Mughirah bin Syu’bah, Asy’ats bin Qais, dan Abdullah bin Umar. Maka Allah pun memenangkan kaum muslimin dan membukakan Negeri Ashbahan di bawah komando beliau.

Tatkala pasukan ini sampai di Negeri Nahawand, An Nu’man pun mengatakan sebuah ucapan yang terkenal, “Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya aku pernah menyaksikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila tidak memulai berperang di permulaan siang (dhuha,red), maka beliau menunda pertempuran sampai datang akhir siang, saat angin mulai berhembus dan akan turunlah pertolongan. Yaa Allah berikanlah rezeki syahid untuk An Nu’man dengan pertolongan-Mu untuk kaum Muslimin. Dan menangkanlah untuk mereka.” Maka kaum musliminpun mengamini doa beliau. Beliau juga mengatakan, “Sungguh aku akan menggerakkan bendera perang tiga kali. Apabila aku telah tiga kali menggerakkannya, maka bertempurlah, dan janganlah satu sama lain saling menoleh. Apabila An Nu’man terbunuh, janganlah kalian menoleh kepadanya.” Maka bergeraklah beliau dan pasukan pada gerakan bendera yang ketiga. Dan Allah menetapkan bahwa beliau adalah orang pertama yang tersungkur dan mendapatkan syahadah. Radhiyallah anhu.

Pertempuran Nahawand ini terjadi di tahun 21 Hijriyyah. Dan beliau meninggal di hari Jumat. Maka saat datang Abu Utsman mengabarkan kepada Umar bin Al Khattab berita kematian beliau, beliaupun keluar dan naik mimbar untuk mengabarkan kepada manusia berita tersebut. Beliau pun meletakkan tangan pada kepala beliau sambil menangis. Radhiyallah anhu. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 75 vol.07 1439H-2018H rubrik Figur.

Al-Ishabah - 10975. Jamilah binti Ubayy

١٠٩٧٥ – جَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ الۡخَزۡرَجِيَّةُ
10975. Jamilah binti Ubayy Al-Khazrajiyyah

أُخۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أُبَيِّ بۡنِ سَلُولٍ. قَالَ ابۡنُ مَنۡدَةَ: وَكَانَتۡ تَحۡتَ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ، رَوَى عَنۡهَا ابۡنُ عَبَّاسٍ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ رَبَاحٍ، ثُمَّ سَاقَ مِنۡ طَرِيقِ هَمَّامٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ مُرۡسَلًا، وَمِنۡ طَرِيقِ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ مَوۡصُولًا أَنَّ جَمِيلَةَ بِنۡتَ أُبَيِّ بۡنِ سَلُولٍ أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ تُرِيدُ الۡخُلۡعَ، فَقَال لَهَا: (مَا أَصۡدَقَكِ؟) قَالَتۡ: حَدِيقَةً، قَالَ: فَرُدِّي عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ.
Saudara perempuan ‘Abdullah bin Ubayy bin Salul. Ibnu Mandah berkata: Jamilah pernah menjadi istri Tsabit bin Qais bin Syammas. Ibnu ‘Abbas dan ‘Abdullah bin Rabah meriwayatkan darinya. Kemudian beliau membawakan riwayat dari jalan Hammam dari Qatadah, dari ‘Ikrimah secara mursal; dan dari jalan Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas secara maushul (bersambung) bahwa Jamilah binti Ubayy bin Salul datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan khuluk.
Nabi bertanya kepadanya, “Apa yang telah Tsabit berikan kepadamu sebagai mahar?”
Jamilah menjawab, “Sebuah kebun.”
Nabi bersabda, “Kembalikan kebunnya kepadanya.”
وَمِنۡ طَرِيقِ خَالِدٍ الۡحَذَّاءِ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ امۡرَأَةَ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسٍ، وَهِيَ جَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَا أَنَا وَلَا ثَابِتٌ... فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ فِي خُلۡعِهَا مِنۡهُ قَالَ: وَرُوِيَ عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ مُتَّصِلًا، وَالصَّوَابُ عَنۡهُ، وَعَنۡ قَتَادَةَ مُرۡسَلًا وَكَذَا رَوَاهُ الۡحُسَيۡنُ بۡنُ وَاقِدٍ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، وَوَصَلَهُ مُحَمَّدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ وَاضِحٍ، عَنِ الۡحُسَيۡنِ، فَذَكَرَ ابۡنَ عَبَّاسٍ فِيهِ.
Dan dari jalan Khalid Al-Hadzdza`, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa istri Tsabit bin Qais, yaitu Jamilah binti Ubayy berkata, “Wahai Rasulullah, aku dan Tsabit tidak bisa hidup bersama.” Lalu beliau menyebutkan hadis tentang pengajuan khuluk oleh Jamilah dari Tsabit.
Beliau berkata: Dan diriwayatkan dari Ayyub, dari ‘Ikrimah secara bersambung. Yang benar adalah dari Ayyub dan dari Qatadah adalah riwayat yang mursal. Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Husain bin Waqid dari Tsabit, dari ‘Ikrimah. Muhammad bin Humaid meriwayatkannya secara tersambung dari Yahya bin Wadhih, dari Al-Husain, lalu beliau menyebutkan Ibnu ‘Abbas di dalam sanadnya.
وَوَصَلَ أَبُو نُعَيۡمٍ طَرِيقَ سَعِيدٍ الۡمَوۡصُولَةَ، وَلَفۡظُ الۡمَتۡنِ: أَنَّ جَمِيلَةَ بِنۡتَ أُبَيٍّ قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَا أَعِيبُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ، وَلَا خُلُقٍ، وَلَٰكِنِّي أَكۡرَهُ الۡكُفۡرَ بَعۡدَ الۡإِسۡلَامِ وَإِنِّي لَا أُطِيقُهُ بُغۡضًا، فَقَالَ: أَتَرُدِّينَ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ؟ قَالَ: قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَأَمَرَهُ أَنۡ يَأۡخُذَهَا مِنۡهَا،
Abu Nu’aim juga meriwayatkan secara tersambung jalur Sa’id yang mauhsul. Lafal matan riwayatnya adalah bahwa Jamilah binti Ubayy berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama, tidak pula akhlak. Akan tetapi aku benci kekufuran setelah Islam dan aku tidak mampu menahan kebencian terhadapnya.”
Nabi bertanya, “Apakah engkau bisa mengembalikan kebunnya kepadanya?”
Jamilah menjawab, “Bisa.”
Maka Nabi memerintahkan Tsabit agar mengambil kembali kebun itu dari Jamilah.
وَرِوَايَةُ حَفۡصِ بۡنِ عُمَرَ الضَّرِيرِ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، وَأَيُّوبَ، كِلَاهُمَا عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّ جَمِيلَةَ بِنۡتَ أُبَيِّ بۡنِ سَلُولٍ أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ قَالَتۡ: ... فَذَكَرَ نَحۡوَهُ،
Riwayat Hafsh bin ‘Umar Adh-Dharir dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit Al-Bunani dan Ayyub. Masing-masing keduanya dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa Jamilah binti Ubayy bin Salul datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata… lalu beliau menyebutkan semisal riwayat itu.
وَأَسۡنَدَهُ مِنۡ طَرِيقِ مُحَمَّدِ بۡنِ خَالِدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الطَّحَّانِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي الۡجَلِيلِ، عَنۡ جَمِيلَةَ بِنۡتِ أُبَيِّ بۡنِ سَلُولٍ أَنَّهَا كَانَتۡ تَحۡتَ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسٍ.
Beliau menyebutkan sanadnya dari jalur Muhammad bin Khalid bin ‘Abdullah Ath-Thahhan, dari ayahnya, dari Abu Al-Jalil, dari Jamilah binti Ubayy bin Salul bahwa Jamilah pernah menjadi istri Tsabit bin Qais.
قُلۡتُ: وَرِوَايَةُ ابۡنُ حُمَيۡدٍ الَّتِي أَشَارَ إِلَيۡهَا ابۡنُ مَنۡدَةَ أَخۡرَجَهَا ابۡنُ أَبِي خَيۡثَمَةَ وَالطَّبرَانِيُّ عَنۡهُ، وَلَفۡظُ الۡمَتۡنِ أَنَّهَا كَانَتۡ تَحۡتَ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ، فَنَشَزَتۡ عَلَيۡهِ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا جَمِيلَةَ، مَا كَرِهۡتِ مِنۡ ثَابِتٍ؟ فَقَالَتۡ: وَاللهِ مَا كَرِهۡتُ مِنۡهُ شَيۡئًا إِلَّا دَمَامَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَتَرُدِّينَ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَفَرَّقَ بَيۡنَهُمَا،
Aku berkata: Dan riwayat Ibnu Humaid yang ditunjukkan oleh Ibnu Mandah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Khaitsamah dan Ath-Thabarani darinya. Lafal matannya adalah bahwa Jamilah pernah menjadi istri Tsabit bin Qais bin Syammas lalu Jamilah membangkang terhadap Tsabit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan kepada Jamilah dan bertanya, “Wahai Jamilah, apa yang engkau tidak suka dari Tsabit?”
Jamilah menjawab, “Demi Allah, aku tidak membenci apapun dari Tsabit kecuali keburukan rupanya.”
Nabi bertanya kepada Jamilah, “Apakah engkau bisa mengembalikan kebunnya kepadanya?”
Jamilah menjawab, “Bisa.”
Lalu Nabi menceraikan keduanya.
وَرِوَايَةُ ابۡنُ عَبَّاسٍ عَنۡهَا أَخۡرَجَهَا الطَّبَرِيُّ، مِنۡ طَرِيقِ ابۡنِ جَرِيرٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَوَّلُ خُلۡعٍ كَانَ فِي الۡإِسۡلَامِ أُخۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أُبَيٍّ أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَتۡ: ... فَذَكَرَ الۡقِصَّةَ،
Riwayat Ibnu ‘Abbas dari Jamilah dikeluarkan oleh Ath-Thabari dari jalur Ibnu Jarir, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Khuluk pertama yang terjadi di dalam Islam adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Ubayy datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata… Lalu beliau menyebutkan kisah itu.
قَالَ أَبُو عُمَرَ: كَنَاهَا سَعيِدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ أُمَّ جَمِيلٍ، وَكَانَتۡ قَبۡلَ ثَابِتٍ عِنۡدَ حَنۡظَلَةَ بۡنِ أَبِي عَامِرٍ غَسِيلِ الۡمَلَائِكَةِ، ثُمَّ تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ ثَابِتٍ؛ مَالِكُ بۡنُ الدُّخۡشُمِ، ثُمَّ تَزَوَّجَهَا بَعۡدَهُ حَبِيبُ بۡنُ إِسَافٍ، قَالَ أَبُو عُمَرَ: رَوَى الۡبَصۡرِيُّونَ أَنَّهَا جَمِيلَةٌ يَعۡنِي الَّتِي اخۡتَلَعَتۡ مِنۡ ثَابِتٍ، وَرَوَى أَهۡلُ الۡمَدِينَةِ أَنَّهَا حَبِيبَةُ بِنۡتُ سَهۡلٍ.
Abu ‘Umar berkata: Sa’id bin Al-Musayyab menyebutnya dengan kunyah Ummu Jamil. Sebelum dengan Tsabit beliau adalah istri Hanzhalah bin Abu ‘Amir yang dimandikan oleh malaikat. Kemudian setelah Tsabit, dinikahi oleh Malik bin Ad-Dukhsyum. Kemudian setelahnya dinikahi oleh Habib bin Isaf. Abu ‘Umar berkata: Orang-orang Bashrah meriwayatkan bahwa wanita yang mengajukan khuluk dari Tsabit adalah Jamilah, sedangkan penduduk Madinah meriwayatkan bahwa dia adalah Habibah binti Sahl.
قُلۡتُ: وَسَيَأۡتِي قَوۡلُ مَنۡ قَالَ: إِنَّهَا جَمِيلَةُ بِنۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أُبَيِّ بۡنِ سَلُولٍ قَرِيبًا إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Aku berkata: Dan sebentar lagi akan datang ucapan yang berpendapat bahwa dia adalah Jamilah binti ‘Abdullah bin Ubayy bin Salul insya Allah taala.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2417

٢٤١٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا الۡأَسۡوَدُ بۡنُ عَامِرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ أَبِي بَرۡزَةَ الۡأَسۡلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبۡدٍ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ حَتَّى يُسۡأَلَ عَنۡ عُمُرِهِ فِيمَا أَفۡنَاهُ، وَعَنۡ عِلۡمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنۡ مَالِهِ مِنۡ أَيۡنَ اكۡتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنۡفَقَهُ، وَعَنۡ جِسۡمِهِ فِيمَ أَبۡلَاهُ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَسَعِيدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ جُرَيۡجٍ هُوَ بَصۡرِيٌّ، وَهُوَ مَوۡلَى أَبِي بَرۡزَةَ، وَأَبُو بَرۡزَةَ اسۡمُهُ: نَضۡلَةُ بۡنُ عُبَيۡدٍ. [المصدر نفسه، (تخريج اقتضاء العلم العمل)(١٥/١)].
2417. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Aswad bin ‘Amir mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Bakr bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Sa’id bin ‘Abdullah bin Juraij, dari Abu Barzah Al-Aslami. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba bergeser pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang umurnya, dalam perkara apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; dan tentang badannya, dalam perkara apa ia gunakan.” Ini adalah hadis hasan sahih. Sa’id bin ‘Abdullah bin Juraij adalah orang Bashrah dan beliau adalah maula (budak yang dimerdekakan oleh) Abu Barzah. Sedangkan, nama Abu Barzah adalah Nadhlah bin ‘Ubaid.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2330

٢٢ - بَابٌ مِنۡهُ
22. Bab termasuk pembahasan sebelumnya

٢٣٣٠ – (صحيح بما قبله) حَدَّثَنَا أَبُو حَفۡصٍ عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ الۡحَارِثِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرَةَ، عَنۡ أَبِيهِ؛ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيۡرٌ، قَالَ: (مَنۡ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ)، قَالَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: (مَنۡ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
2330. Abu Hafsh ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Ali bin Zaid, dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya; Bahwa seorang pria bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia mana yang paling baik?” Nabi menjawab, “Siapa saja yang umurnya panjang dan amalannya baik.” Orang itu bertanya lagi, “Manusia mana yang paling jelek?” Nabi menjawab, “Siapa saja yang umurnya panjang dan amalannya jelek.” Ini adalah hadis hasan sahih.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2329

٢١ - بَابُ مَا جَاءَ فِي طُولِ الۡعُمۡرِ لِلۡمُؤۡمِنِ
21. Bab tentang umur panjang bagi seorang mukmin

٢٣٢٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ حُبَابٍ، عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ صَالِحٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ قَيۡسٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بُسۡرٍ؛ أَنَّ أَعۡرَابِيًّا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنۡ خَيۡرُ النَّاسِ؟ قَالَ: (مَنۡ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَجَابِرٍ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. [(الصحيحة)(١٨٣٦)، (المشكاة)(٥٢٨٥)/ التحقيق الثاني، (الروض)(٩٢٦)].
2329. Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Zaid bin Hubab menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Shalih, dari ‘Amr bin Qais, dari ‘Abdullah bin Busr; Bahwa seorang arab badui bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling baik?” Nabi menjawab, “Siapa saja yang umurnya panjang dan amalannya baik.” Di dalam bab ini ada riwayat dari Abu Hurairah dan Jabir. Ini adalah hadis hasan garib dari jalur ini.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4236

٤٢٣٦ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَرَفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡمُحَارِبِيُّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أَعۡمَارُ أُمَّتِي مَا بَيۡنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبۡعِينَ، وَأَقَلُّهُمۡ مَنۡ يَجُوزُ ذٰلِكَ). [(المشكاة)(٥٢٨٠)، (الصحيحة)(٧٥٧)].
4236. Al-Hasan bin ‘Arafah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepadaku dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi umur itu.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 3550

٣٥٥٠ – (حسن) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَرَفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡمُحَارِبِيُّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَعۡمَارُ أُمَّتِي مَا بَيۡنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبۡعِينَ، وَأَقَلُّهُمۡ مَنۡ يَجُوزُ ذٰلِكَ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنۡ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ لَا نَعۡرِفُهُ إِلَّا مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ مِنۡ غَيۡرِ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. [وقد مضى نحوه برقم (٢٣٣١)].
3550. Al-Hasan bin ‘Arafah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepadaku dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh dan sedikit dari mereka yang melebihi umur itu.” Ini adalah hadis hasan garib dari hadis Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Dan telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari selain jalur ini.

Usdul Ghabah - 6838. Habibah binti Sahl Al-Anshariyyah

٦٨٣٨ – حَبِيبَةُ بِنۡتُ سَهۡلٍ الۡأَنۡصَارِيَّةُ
6838. Habibah binti Sahl Al-Anshariyyah

ب د ع: حَبِيبَةُ بِنۡتُ سَهۡلٍ الۡأَنۡصَارِيَّةُ، أَرَادَ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَتَزَوَّجَهَا ثُمَّ تَرَكَهَا فَتَزَوَّجَهَا ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ.
رَوَتۡ عَنۡهَا عَمۡرَةُ.
Habibah binti Sahl Al-Anshariyyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menikahinya, namun beliau meninggalkannya. Lalu Tsabit bin Qais bin Syammas menikahinya.
وَهِيَ الَّتِي اخۡتَلَعَتۡ مِنۡ زَوۡجِهَا ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ أَنَّ الَّتِي اخۡتَلَعَتۡ مِنۡهُ جَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ ابۡنِ سَلُولٍ.
Dia adalah yang mengajukan khuluk dari suaminya, yaitu Tsabit bin Qais bin Syammas. Dan telah berlalu bahwa wanita yang mengajukan khuluk terhadap Tsabit adalah Jamilah binti Ubayy bin Salul.
أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ بۡنُ هِبَةِ اللهِ بِإِسۡنَادِهِ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَحۡمَدَ: حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡقُدُّوسِ بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ خُنَيۡسٍ أَخۡبَرَنَا حَجَّاجٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُعَيۡبٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو.
(ح) وَالۡحَجَّاجُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سُلَيۡمَانَ بۡنِ أَبِي حَثۡمَةَ، عَنۡ عَمِّهِ سَهۡلِ بۡنِ أَبِي حَثۡمَةَ قَالَا: كَانَتۡ حَبِيبَةُ بِنۡتُ سَهۡلٍ تَحۡتَ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ فَكَرِهَتۡهُ، وَكَانَ رَجُلًا دَمِيمًا، فَجَاءَتۡ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَأَرَاهُ، وَلَوۡلَا مَخَافَةَ اللهِ لَبَزَقۡتُ فِي وَجۡهِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (تَرُدِّينَ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ الَّتِي أَصۡدَقَكَ؟) قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهِ فَرَدَّتۡ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ، وَفَرَّقَ بَيۡنَهُمَا.
وَكَانَ ذٰلِكَ أَوَّلُ خُلۡعٍ فِي الۡإِسۡلَامِ.
‘Abdul Wahhab bin Hibatullah telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Ahmad: Ayahku menceritakan kepadaku: ‘Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais menceritakan kepada kami: Hajjaj mengabarkan kepada kami dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. (Dalam riwayat lain) Al Hajjaj dari Muhammad bin Sulaiman bin Abu Hatsmah, dari pamannya, yaitu Sahl bin Abu Hatsmah. Keduanya berkata: Habibah binti Sahl pernah menjadi istri Tsabit bin Qais bin Syammas, lalu Habibah tidak menyukai Tsabit. Tsabit adalah lelaki yang buruk rupa.
Lalu Habibah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar melihatnya, kalau tidak karena takut kepada Allah, tentu aku akan meludah ke wajahnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Engkau bisa mengembalikan kebun yang telah ia berikan kepadamu sebagai mahar?”
Habibah menjawab, “Iya.”
Nabi mengutus utusan kepada Tsabit lalu Habibah mengembalikan kebunnya dan Nabi memisahkan keduanya.
Itu adalah khuluk yang pertama terjadi di dalam Islam. 
وَرَوَاهُ ابۡنُ جُرَيۡجٍ، وَيَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ، وَهُشَيۡمٌ، وَيَحۡيَى بۡنُ أَبِي زَائِدَةَ؛ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ حَبِيبَةَ وَقَالُوا: فَتَزَوَّجَهَا ثَابِتٌ، وَكَانَ فِي خُلُقِ ثَابِتٍ شِدَّةٌ فَضَرَبَهَا، وَذَكَرُوا الۡخُلۡعَ.
Ibnu Juraij, Yazid bin Harun, Husyaim, dan Yahya bin Abu Za`idah telah meriwayatkannya dari Yahya bin Sa’id Al-Anshari, dari ‘Amrah, dari Habibah. Mereka mengatakan: Tsabit menikahinya dan Tsabit memiliki sifat keras dalam akhlak lalu Tsabit pernah memukul Habibah. Mereka juga menyebutkan tentang khuluk.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ، قَالَ أَبُو عُمَرَ: جَائِزٌ أَنۡ يَكُونَ حَبِيبَةُ وَجَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ اخۡتَلَعَتَا مِنۡ ثَابِتٍ، وَاللهُ أَعۡلَمُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar). Abu ‘Umar berkata: Bisa saja Habibah dan Jamilah binti Ubayy keduanya mengajukan khuluk dari Tsabit. Wallahualam.

Usdul Ghabah - 6814. Jamilah binti Ubayy bin Salul

٦٨١٤ – جَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ ابۡنِ سَلُولٍ
6814. Jamilah binti Ubayy bin Salul

ب د ع: جَمِيلَةُ بِنۡتُ أُبَيٍّ ابۡنِ سَلُولٍ، أُخۡتُ عَبۡدِ اللهِ رَأۡسِ الۡمُنَافِقِينَ. وَقِيلَ كَانَتِ ابۡنَةَ عَبۡدِ اللهِ، وَهُوَ وَهۡمٌ، وَكَانَتۡ تَحۡتَ حَنۡظَلَةَ بۡنِ أَبِي عَامِرٍ غَسِيلِ الۡمَلَائِكَةِ، فَقُتِلَ عَنۡهَا يَوۡمَ أُحُدٍ، فَتَزَوَّجَهَا ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ، فَتَرَكَتۡهُ وَنَشَزَتۡ عَلَيۡهِ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا كَرِهۡتِ مِنۡ ثَابِتٍ؟) فَقَالَتۡ: وَاللهِ مَا كَرِهۡتُ مِنۡهُ شَيۡئًا إِلَّا دَمَامَتَهُ فَقَالَ لَهَا: (أَتُرَدِّينَ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ؟) قَالَتۡ: نَعَمۡ. فَفَرَّقَ بَيۡنَهُمَا، وَتَزَوَّجَهَا بَعۡدَهُ مَالِكُ بۡنُ الدُّخۡشُمِ، ثُمَّ تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ مَالِكٍ حَبِيبُ بۡنُ إِسَافٍ.
Jamilah binti Ubayy bin Salul, saudari ‘Abdullah pemimpin orang-orang munafik. Ada yang mengatakan bahwa Jamilah adalah putri ‘Abdullah, namun ini keliru. Jamilah pernah menjadi istri Hanzhalah bin Abu ‘Amir orang yang dimandikan malaikat. Hanzhalah terbunuh pada hari perang Uhud. Lalu Tsabit bin Qais bin Syammas menikahinya, namun Jamilah meninggalkan Tsabit dan membangkang terhadapnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan kepada Jamilah dan menanyakan, “Apa yang engkau benci dari diri Tsabit?” Jamilah menjawab, “Demi Allah, aku tidak membenci sesuatu pun darinya kecuali keburukan rupanya.” Nabi bertanya, “Apa engkau bisa mengembalikan kebunnya kepadanya?” Jamilah menjawab, “Iya.” Lalu Nabi memisahkan keduanya. Kemudian Malik bin Ad-Dukhsyum menikahi Jamilah setelah itu. Kemudian setelah Malik, Habib bin Isaf menikahinya.
أَخۡرَجَهَا الثَّلَاثَةُ، قَالَ أَبُو عُمَرَ: رَوَى الۡبَصۡرِيُّونَ هَٰكَذَا، يَعۡنِي: جَمِيلَةَ بِنۡتَ أُبَيٍّ، وَرَوَى أَهۡلُ الۡمَدِينَةِ فَقَالُوا: حَبِيبَةُ بِنۡتُ سَهۡلٍ الۡأَنۡصَارِيِّ. وَأَمَّا ابۡنُ مَنۡدَه فَلَمۡ يَذۡكُرۡ أَنَّهَا كَانَتۡ تَحۡتَ حَنۡظَلَةَ فَقُتِلَ عَنۡهَا، وَذَكَرَ مَا سِوَى ذٰلِكَ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar). Abu ‘Umar berkata: Orang-orang Bashrah meriwayatkan demikian, yakni Jamilah binti Ubayy. Adapun penduduk Madinah meriwayatkan dengan mengatakan: Habibah binti Sahl Al-Anshari. Adapun Ibnu Mandah tidak menyebutkan bahwa Jamilah pernah menjadi istri Hanzhalah, lalu terbunuh dan beliau menyebutkan yang selain itu.