Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah

Pada tanggal 7 Safar tahun 691 H, di negeri Damaskus, ibukota Syam kala itu, terlahir seorang bayi bernama Muhammad, putra Abu Bakar. Bayi tampan ini kelak menjadi masyhur dengan sebutan Ibnu Qayyim Al Jauziyah atau singkatnya Ibnul Qayyim. Artinya adalah putra seorang qayyim. Sebabnya, sang ayah yang bernama Abu Bakar bin Sa’ad bin Hariz adalah seorang qayyim (pengelola) sebuah sekolah yang berjuluk Madrasah Jauziyyah.

IBNUL QAYYIM & IBNUL JAUZI


Kadang orang keliru menyebut beliau dengan nama Ibnul Jauzi. Pembaca, Ibnul Qayyim bukanlah Ibnul Jauzi. Yang kedua ini adalah seorang alim yang wafat lebih kurang satu abad sebelum Ibnul Qayyim dilahirkan. Dialah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Ubaidillah Al Jauzi Al Qurasyi Al Baghdadi. Seorang alim yang hidup di Baghdad.

Konon diceritakan bahwa madrasah yang dikelola ayahanda Ibnul Qayyim adalah waqaf dari Ibnul Jauzi. Makanya disebut dengan madrasah jauziyah. Karena kemiripan nisbah inilah, lisan kadang terpeleset menyebut Ibnu Qayyim Al Jauziyah dengan Ibnul Jauzi.

AKHLAK BELIAU YANG INDAH


Ibnul Qayyim tumbuh dalam rumah tangga yang dihiasi ilmu. Ayahanda beliau adalah seorang alim, begitu pula kakaknya. Tak heran, jika kedua putra dari Ibnul Qayyim yakni Abdullah dan Ibrahim juga kelak menjadi alim di masanya.

Ibnul Qayyim memiliki tekad baja untuk mendapatkan kebaikan. Dia juga dikenal memiliki perangai dan akhlak yang sangat baik.

Ibnu Katsir yang juga sebagai murid Ibnul Qayyim menyaksikan bahwa gurunya memiliki perangai indah dan sangat tekun membaca dan menelaah. Ia juga dikenal sangat mencintai saudara seiman. Manusia pun menaruh kecintaan kepada beliau. Tidak ada rasa hasad pada dirinya kepada siapa pun. Tidak pernah menyakiti atau mencela. Pokoknya, sulit dicari tandingan dalam keluhuran budi, dan ketinggian akhlak.

Ibnu Rajab -murid beliau yang lain- yang masyhur dengan kedalamannya dalam ilmu hadits, menyebutkan bahwa gurunya adalah sosok yang tekun beribadah. Rajin bertahajud. Sangat lama ketika berdiri menghadap Rabb-nya. Lisannya selalu berdzikir. Tampak dari zahirnya bahwa qalbu beliau dipenuhi dengan mahabbah kepada Allah. Banyak bertaubat dan beristighfar, kembali kepada Allah dengan menampakkan segala kelemahan dan kefakirannya di hadapan Ilahi.

Kata Ibnu Rajab selanjutnya, “Aku belum pernah menyaksikan orang yang ilmunya sangat luas, pemahaman terhadap tafsir Al Quran dan As Sunnah dan hakikat-hakikat kehidupan yang sangat detail seperti Ibnul Qayyim. Memang ia bukanlah seorang yang ma’shum (terbebas dari kesalahan). Namun, sungguh aku belum pernah mendapati bandingnya.”

PERJALANAN MENUNTUT ILMU


Pada umur ke-7, beliau mulai menuntut ilmu. Sebagaimana disebutkan oleh beliau sendiri bahwa syaikh pertamanya (setelah ayahandanya) bernama Syaikh Syihab Al ‘Abir. Syaikh ini wafat pada tahun 697, ketika itu umur beliau kurang lebih 7 tahun.

Pada awal mula perjalanan ilmiahnya, Ibnul Qayyim terbawa pemikiran yang melenceng dari al haq. Sampai pada akhirnya Allah takdirkan ia bertemu dengan Syaikh Taqiyudin Ibnu Taimiyah. Maka dengan taufik Allah, Ibnul Qayyim kembali kepada sunnah dan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebagai wujud terimakasihnya kepada sang guru, serta nasihat bagi mereka yang masih terombang-ambing dalam kesesatan, beliau menuliskan bait-bait syair dalam Nuniyahnya yang kurang lebih terjemahnya adalah sebagai berikut:
“Wahai kaumku, demi Allah yang Maha Agung. Ambillah nasihat dari saudaramu yang mencintai.
Aku sudah mencoba semua dan mencicipi. Jaring-jaring itu telah menjeratku, sehingga hidupku tak menentu.

Sampai Tuhanku memudahkan pertemuanku dengan seorang alim yang lisan dan tanganku tak mampu membalas segala kebaikannya.
Ialah seorang alim yang datang dari negeri Harran. Allah, Dialah yang akan membalasnya. Dengan jannah dan ridha-Nya.”

Setelah pertemuan ini, beliau bermulazamah di sisi Ibnu Taimiyah. Banyak ilmu yang dia ambil dari beliau. Lebih-lebih setelah Syaikhul Islam pulang dari Mesir pada tahun 712 H. Beliau terus bermulazamah dengan Syaikhul Islam hingga sang guru wafat pada tahun 728 H.

Ibnu Rajab berkata, Ibnul Qayyim memperdalam fiqih sesuai dengan mazhab Hanbali hingga mencapai tingkatan berhak memberi fatwa. Bahkan dengan mulazamah yang panjang di sisi Syaikhul Islam, terbentuklah beliau sebagai seorang sosok yang mahir dalam banyak bidang ilmu: ilmu tafsir, ushuludin, ilmu hadits beserta maknanya, fiqih, dan ilmu-ilmu yang lain bermanfaat, baik terkait dengan agama atau kehidupan dunia.

KELUASAN ILMU


Beliau dikenal dengan kelembutan dalam istinbath (menarik hukum dan faedah dari sebuah dalil) yang begitu menakjubkan. Sepertinya tidak ada yang bisa menyusulnya dalam hal ini.

Dan yang menunjukkan keluasan ilmunya adalah banyaknya karangan dan tulisan beliau. Karangan beliau berjilid-jilid. Yang mengherankan, sebagiannya ditulis di sela-sela rihlah/safarnya. Subhanallah. Sungguh umur yang barakah. Di antara kitab yang beliau tulis saat safar adalah:
  • Miftah Daris Sa’adah (Kunci Menuju Negeri Kebahagiaan)
  • Zadul Ma’ad (Bekal untuk Hari Berpulang)
  • Raudhatul Muhibbin (Taman Indah bagi Orang-orang yang Sedang Jatuh Cinta)
  • Bada`i’ al Fawaid (Faedah-faedah yang Menakjubkan)
  • Tahdzib Sunan Abu Dawud

Ilmunya adalah ibarat danau yang airnya tidak akan keruh oleh timba-timba yang kandas di dasarnya. Di antara yang menunjukkan kedalaman ilmunya adalah kitab Ad Da’u wad Dawa’ (penyakit dan obatnya). Kitab ini ditulisnya sebagai jawaban dari pertanyaan seseorang yang sedang murung karena ditimpa bala. Orang ini telah berusaha membebaskan diri dari petaka ini, namun selalu menemui kebuntuan. Dia khawatir jika keadaan ini dibiarkan, akan membahayakan dunia dan agamanya. Lalu beliau jawab pertanyaan ini dalam sebuah kitab yang tebal.

UJIAN BAGI SANG IMAM


Imam Asy Syafi’i pernah ditanya apakah seorang itu diberi kedudukan dan kemuliaan, atau akan diuji dengan berbagai kesulitan?

Beliau menjawab bahwa seorang itu jika akan mendapatkan kedudukan, ia pasti mendapat ujian terlebih dahulu. Begitu pula Ibnul Qayyim. Tidaklah beliau mendapatkan kedudukan yang mulia ini, kecuali setelah melalui ujian yang berlika-liku. Ujian yang berat dan menempa kesabaran.

Keluar masuk penjara bersama gurunya, Syaikhul Islam. Bahkan menjelang wafat sang guru, dia dipindahkan ke dalam bui khusus, terpisah dari gurunya. Barulah dia dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah meninggal.

Sebagai seorang mufti yang alim dan tidak begitu saja membabi buta, mengekor terhadap semua pendapat mazhab hanbali. Kadang ia memfatwakan sesuatu yang menyelisihi tokoh-tokoh mazhab di negerinya. Dengan fatwa itu, sebenarnya al haq menjadi terang benderang. Namun di sisi lain, karena berseberangan dengan kebijakan kerajaan atau para mufti kerajaan, maka jadilah Ibnul Qayyim sebagai korban kezaliman mereka.

Di antara fatwanya, ia mengingkari syaddur rihal, menyengaja bersafar ke Madinah hanya untuk menziarahi kuburan Nabi. Karena fatwa ini, -menurut Ibnu Rajab- ia berkali-kali masuk bui.

Beliau juga berfatwa bahwa seorang suami yang menjatuhkan talak dengan ucapan “aku jatuhkan untukmu talak 3 sekaligus” sebagai talak satu. Sementara menurut ulama negerinya, ucapan itu telah memisahkan suami istri tanpa ada kesempatan lagi untuk rujuk, kecuali mantan istrinya menikah lagi dengan lelaki lain lalu dicerai.

Walaupun begitu, beliau tetap memiliki sikap ihtiram (penghormatan) kepada para imam dan ulama yang pendapatnya diselisihi. Beliau masih sebutkan pendapat-pendapat mereka dan kadang-kadang beliau memakainya sebagai penguat dari apa yang beliau fatwakan dalam berbagai permasalahan.

Beliau berkata bahwa tidak sedikit masalah keyakinan yang beliau harus berseberangan dengan pendapat mazhab. “Maka saya tidak mampu untuk tetap bersikukuh memegangi pendapat mazhab, sementara pendapat tersebut nyata-nyata bertolak belakang dengan keyakinan saya. Betapa kebenaran lebih berhak diikuti daripada menuruti pendapat mazhab.”

Dalam menulis, beliau menjunjung tinggi dalil. Tidak pernah merendahkan dan mencacatinya, atau beranggapan bahwa dalam masalah tertentu mengambil ucapan seseorang dari manusia lebih sesuai daripada menjadikan sebuah ayat/hadits sebagai dalil. Tidak demikian metode beliau dalam setiap kitab.

Setelah ayat dan hadits, beliau mendahulukan ucapan shahabat daripada yang lain. Pada tataran berikutnya, pendapat tabiin, para ulama berikutnya, demikian seterusnya.

KEAJAIBAN DALAM BUKU-BUKU KARANGANNYA


Di antara keajaiban karangan beliau adalah keindahan kerangka dan metode penyampaian yang begitu menawan. Tatkala memecahkan sebuah masalah atau mendudukkan sebuah kaidah, dia tampak sebagai seorang penulis yang paling mahir dalam bidang ini.

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdurrazaq Afifi, bahwa tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam membantah ahlul batil begitu telak. Membuat musuhnya tak lagi bisa berkutik dalam tempo singkat. Ibarat seorang yang membawa godam besar, lalu meluluh lantakkan pagar tembok hanya dengan beberapa ayunan.

Berbeda dengan gurunya, Ibnul Qayyim berusaha menghancurkan tembok itu dengan perlahan tapi pasti. Batu demi batu. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa karangan Ibnu Taimiyah tidak serapi Ibnu Qayyim. Bahkan kalau kita mau membaca kitab Ibnu Taimiyah yang berjudul Minhajus Sunnah Nabawiyah atau Al Jawab Ash Shahih, maka kita akan mendapati keindahan kata dan gaya penyampaiannya.

Pemikiran Ibnu Qayyim sangat tertata, baik saat beliau membantah atau meletakkan kaidah. Sebagai contoh ketika beliau ingin menyebutkan keutamaan ilmu. Beliau sebutkan 150 sisi dan fadhilah ilmu, baru kemudian beliau sebutkan dalil-dalilnya. Beliau sebutkan dari yang paling penting, lalu yang berikutnya, dan berikutnya.

SIKAP INSHAF YANG PERLU DITELADANI


Beliau juga adil dalam memosisikan musuh. Bantahan-bantahannya bukanlah dimaksudkan untuk bagaimana menjatuhkan lawan. Namun, yang beliau tuju dalam bantahannya adalah bagaimana meluruskan ketergelincirannya.

Dalam sebuah kesempatan beliau membantah Syaikhul Islam Al Imam Al Harawi dalam karangannya Manazil As Sa`irin. Al Harawi berkata dalam bukunya di atas, “Sikap roja` (berharap rahmat Allah), adalah selemah-lemah kedudukan orang yang berjalan menuju Allah.” Masih kata Al Harawi, “Orang yang memiliki sikap roja’ berarti telah terjatuh dalam kerendahan. Hanya ada satu faedah dari sikap ini yang disebutkan dalam At Tanzil dan As Sunnah, yaitu meredam rasa takut yang berlebihan, yang dikhawatirkan bakal mengantarkan kepada sikap putus asa dari rahmat-Nya.”

Cobalah perhatikan bagaimana Ibnul Qayyim membantah ucapan ini dengan penuh kelembutan. Ia berkata, “Al Harawi termasuk orang yang kita cintai. Namun setiap muslim tentu lebih cinta kepada kebenaran daripada beliau. Kita meyakini bahwa setiap manusia -terkecuali Rasulullah- ucapannya bisa diambil, bisa pula ditinggalkan. Dan barangkali Al Harawi mengucapkan hal ini karena ada hal-hal tertentu yang melatari.”

Lanjut Ibnul Qayyim, “Ucapan Al Harawi bahwa roja’ adalah kedudukan yang paling lemah bagi orang yang berjalan menuju Allah adalah ucapan yang keliru. Justru roja’ adalah termasuk setinggi-tinggi, semulia-mulia, dan seagung-agung kedudukan mereka yang sedang meniti jalan menuju Allah Ta’ala. Dengan sikap roja` (berharap) dan khauf (takut) inilah seorang muslim berjalan menuju Allah. Perhatikanlah bagaimana Allah memuji dan menyanjung orang yang memiliki sikap roja`.”

Setelah itu Ibnul Qayyim menyebutkan ayat:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ ٱللهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya bagi kalian dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik. Tentunya bagi orang yang memiliki sikap roja` (berharap kepada rahmat Allah) dan (mengharap kebahagiaan) di Hari Akhir, serta banyak berdzikir kepada-Nya.” [Q.S. Al Ahzab:21].

Di tempat lain, Ibnul Qayyim mengatakan tentang Al Harawi, “Beliau adalah orang yang kita cintai. Namun, kebenaran lebih kita cintai dari dirinya. Guru saya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyatakan bahwa amalan Al Harawi lebih unggul daripada bobot keilmuannya. Sungguh tepat apa yang dituturkan oleh Ibnu Taimiyah. Kita tidak bisa melupakan bagaimana kesungguhannya dalam amar ma’ruf nahi munkar, kegigihan berjihad melawan ahli bid’ah. Sungguh dia memiliki peran yang penting dalam menolong agama Allah ini. Namun kita harus sadar, bahwa Allah telah enggan untuk menjamin siapa pun dengan ‘ishmah (keselamatan dari kesalahan) melainkan terhadap diri Ash Shadiq Al Mashduq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Para pembaca, apa yang anda bayangkan, sekiranya kesalahan-kesalahan Al Harawi didapati oleh mereka para pemula, anak-anak muda yang dangkal ilmu namun terbakar semangat. Barangkali, mereka akan jadikan kesalahan ini sebagai bahan berita besar. Dibangun bahan material ini, menara yang tinggi menjulang yang dari puncak menara itu Al Harawi dijatuhkan dan dibuang sia-sia.

Ibnul Qayyim memiliki nasihat khusus dalam bab ini. Beliau berkata, “Saat kalian menelaah sebuah ucapan. Lalu kalian ingin menghukumi apakah ucapan tersebut sesuai dengan kebenaran atau justru menyelisihinya, maka tanggalkan dari ucapan tersebut ungkapan-ungkapan yang belum jelas. Di lain sisi, bersihkan pula qalbumu dari sikap berat sebelah. Perhatikanlah ucapan tersebut dengan pandangan mata yang adil. Tidak seperti orang yang selalu menilai baik setiap ucapan yang muncul dari mazhabnya. Jangan pula seperti orang yang selalu menganggap salah setiap ucapan yang muncul dari golongan lain. Orang yang menilai sesuatu dengan pandangan kebencian akan melihat yang baik sebagai kejelekan. Dan sebaliknya, orang yang menilai sesuatu dengan keridhaan akan melihat yang jelek sebagai kebaikan. Dan, tidak ada yang bisa selamat dari ketidakadilan dalam menilai ucapan seseorang, melainkan mereka yang Allah kehendaki mendapatkan kemuliaan dan keridhaan untuk menerima kebenaran.

Betapa butuhnya kita dengan adab yang diingatkan oleh beliau, terkhusus mereka yang giat mencari ilmu dan para pembawanya.


WARISAN SANG IMAM


Ibnul Qayyim meninggalkan warisan ilmu yang besar. Dalam tafsir, ilmu Al Quran, hadits, ‘ilal hadits, rijal hadits, fiqih dan ushulnya, lughah, suluk, dan akhlak. Beliau memiliki karangan berjudul Syifa`ul ‘alil dalam permasalahan Qadha dan Qadar, kitab yang sangat bermanfaat dan belum pernah ada yang mendahuluinya. Dan masih banyak lagi.

Beliau juga meninggalkan murid-murid berbakat yang juga memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Di antara mereka adalah Ibnu Katsir, Ibnu Rajab Al Hanbali, dan Adz Dzahabi.

Beliau juga seorang pujangga dan penyair yang sangat ulung. Beliau juga memiliki qashidah (syair) yang semua baitnya berakhiran dengan huruf nun. Qashidah ini beliau beri judul Al Kafiyah Asy Syafiyah fil Intishar lil firqah an Najiyah. Dan masih banyak lagi karya-karya beliau dalam bentuk qashidah.


MENUJU RAHMAT ALLAH


Setelah menghabiskan jatah umur dan rezekinya, berjuang dengan jiwa raga dan ilmunya, Ibnul Qayyim meninggalkan alam fana. Kurang lebih di penghujung waktu Isya pada malam kamis, tanggal 23 Rajab 751 H, beliau dijemput malaikat maut. Di siang harinya, selepas shalat Zhuhur, beliau dishalatkan di masjid Jami’ Al Umawy. Kemudian dishalatkan lagi di masjid Jami’ Jarrah dan diantarkan oleh ribuan pelayat. Tidak diketahui jumlah mereka kecuali oleh Allah. Kemudian beliau dikuburkan di pekuburan Babush Shaghir.

Selamat jalan wahai Syaikhul Islam. Semoga Allah membangkitkan engkau bersama para Nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Ya Allah, bangkitkanlah kami bersama mereka dengan rahmat-Mu. Amin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 9 vol.01 1434H/2013M rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Maf'ul Lahu (2)

وَاعۡلَمۡ أَنَّ جَمِيعَ الشُّرُوطِ الَّتِي اشۡتُرِطَتۡ لِلۡمَفۡعُولِ لَهُ خَمۡسَةٌ، وَهِيَ:
الۡأَوَّلُ: أَنۡ يَكُونَ مَصۡدَرًا.
الثَّانِي: أَنۡ يَكُونَ قَلۡبِيًّا. أَيۡ: مِنۡ أَفۡعَالِ النَّفۡسِ الۡبَاطِنَةِ كَالرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ وَالۡإِجۡلَالِ وَالۡمَحَبَّةِ وَالۡخَوۡفِ، وَنَحۡوِ ذٰلِكَ.
الثَّالِثُ: أَنۡ يَكُونَ عِلَّةً لِمَا قَبۡلَهُ.
الرَّابِعُ: أَنۡ يَتَّحِدَ مَعَ عَامِلِهِ فِي الزَّمَنِ.
الۡخَامِسُ: أَنۡ يَتَّحِدَ مَعَ عَامِلِهِ فِي الۡفَاعِلِ.
Ketahuilah, bahwa syarat-syarat maf'ul lahu ada lima: 
  1. berupa mashdar, 
  2. berupa qalbiyyan, yaitu amalan jiwa yang tidak tampak seperti rasa harap, cemas, penghormatan, cinta, takut, dan yang semacam itu, 
  3. merupakan sebab dari perbuatan yang disebutkan sebelumnya, 
  4. satu zaman dengan 'amilnya, 
  5. satu pelaku (fa'il) dengan 'amilnya. 
مِثَالُ الۡمُسۡتَوۡفِي لِلشُّرُوطِ الۡخَمۡسَةِ قَوۡلُكَ: (قَامَ زَيۡدٌ إِجۡلَالًا لِعَمۡرٍو) وَ(قَصَدۡتُكَ ابۡتِغَاءَ مَعۡرُوفِكَ) فَـ(إِجۡلَالًا) مَفۡعُولٌ لِأَجۡلِهِ؛ لِأَنَّهُ مَصۡدَرٌ قَلۡبِيٌّ، ذُكِرَ لِبَيَانِ عِلَّةِ الۡقِيَامِ، وَزَمَنُهُ وَزَمَنُ الۡقِيَامِ وَاحِدٌ، وَفَاعِلُهُ وَفَاعِلُ الۡقِيَامِ وَاحِدٌ وَهُوَ (زَيۡدٌ). وَ(ابۡتِغَاءَ) مَفۡعُولٌ لِأَجۡلِهِ؛ لِأَنَّهُ مَصۡدَرٌ قَلۡبِيٌّ، ذُكِرَ لِبَيَانِ عِلَّةِ الۡقَصۡدِ وَزَمَنُهُ وَزَمَنُ الۡقَصۡدِ وَاحِدٌ، وَفَاعِلُهُ وَفَاعِلُ الۡقَصۡدِ وَاحِدٌ، وَهُوَ ضَمِيرُ الۡفَاعِلِ وَهُوَ مُضَافٌ، وَ(مَعۡرُوفِكَ) مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
Contoh yang memenuhi lima syarat di atas adalah ucapanmu: قَامَ زَيۡدٌ إِجۡلَالًا لِعَمۡرٍو dan قَصَدۡتُكَ ابۡتِغَاءَ مَعۡرُوفِكَ. Di sini إِجۡلَالًا adalah maf'ul li ajlih karena ia merupakan mashdar qalbi, disebutkan untuk menjelaskan sebab الۡقِيَام berdiri, zamannya sama dengan zaman berdiri, dan fa'ilnya dan fa'il berdiri juga sama, yaitu Zaid. Sedangkan ابۡتِغَاءَ adalah maf'ul li ajlih karena merupakan mashdar qalbi, disebutkan untuk menjelaskan sebab الۡقَصۡد, zamannya sama dengan zaman الۡقَصۡد, dan fa'ilnya dan fa'il الۡقَصۡد adalah satu, yaitu dhamir fa'il dan إِجۡلَالًا ini adalah mudhaf. Sedangkan مَعۡرُوفِكَ adalah mudhaf ilaih.
وَمِثَالُهُ مِنَ التَّنۡزِيلِ قَوۡلُ الۡغَنِيِّ الۡحَمِيدِ: ﴿وَلَا تَقۡتُلُوٓا۟ أَوۡلَـٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَـٰقٍ ۖ﴾ [الإسراء: ٣١] فَـ(خَشۡيَةَ) مَفۡعُولٌ لِأَجۡلِهِ؛ لِأَنَّهُ مَصۡدَرٌ قَلۡبِيٌّ، ذُكِرَ لِبَيَانِ عِلَّةِ الۡقَتۡلِ، وَزَمَنُهُ وَزَمَنُ الۡقَتۡلِ وَاحِدٌ، وَفَاعِلُهُ وَفَاعِلُ الۡقَتۡلِ وَاحِدٌ، وَهُوَ وَاوُ الۡجَمَاعَةِ وَهُوَ مُضَافٌ وَ(إِمۡلَاقٍ) مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
Adapun contohnya dari Al-Qur`an adalah firman Allah Al-Ghani Al-Hamid: وَلَا تَقۡتُلُوٓا۟ أَوۡلَـٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَـٰقٍ (QS. Al-Isra`: 31). Di sini خَشۡيَةَ adalah maf'ul li ajlih karena ia merupakan mashdar qalbi, disebutkan untuk menjelaskan sebab الۡقَتۡل (pembunuhan), zamannya sama dengan zaman الۡقَتۡل, fa'ilnya sama dengan fa'il الۡقَتۡل, yaitu wawu jama'ah dan خَشۡيَةَ adalah mudhaf. Sedangkan إِمۡلَاقٍ adalah mudhaf ilaih.

Zadul Ma’ad

Zadul Ma'ad

Bekal Menuju Akhirat


Membaca karya-karya Ibnul Qayyim rahimahullah seakan menyelami lautan nasihat nan berharga. Nasihat yang disampaikan oleh seorang dokter bagi jiwa yang membutuhkan penyembuhan dan terapi hati. Karya-karya beliau pun mencerminkan pengajaran yang sarat dengan bimbingan untuk sampai kepada ridha ilahi. Beliau adalah salah seorang dokter spesialis yang mengetahui penyakit kronis yang ditimbulkan dari bakteri “syaithan” dan virus “nafsu” yang mengganggu. Namun jangan salah, selain pakar dalam hal ini beliau juga ahli dalam berbagai cabang-cabang ilmu agama lainnya. Oleh karenanya, tidak salah kalau beliau disebut Syaikhul Islam, murid dari Syaikhul Islam pula. Salah satu karya tulis yang begitu bernilai bagi kaum muslimin yang beliau tulis adalah kitab Zadul Ma’ad.

Nama lengkap dari kitab ini adalah Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad. Karya tulis ini beliau tulis di atas kuda saat perjalanan naik haji. Perjalanan jauh yang melelahkan tidak menjadikan beliau berhenti dari berkarya. Bahkan kitab ini banyak dipuji oleh para ulama karena metode penyusunannya yang begitu tertib dan tertata. Tema yang disajikan pun sangat penting. Yaitu, tema yang banyak didapati dalam kehidupan manusia.

Beliau banyak menyebutkan dasar Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pembahasan. Asalnya, kitab ini adalah kitab tarikh. Namun beliau banyak memasukkan di dalamnya pembahasan seputar kedokteran (pengobatan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), fikih, akhlak, hadits, adab dst. Oleh karenanya, kitab-kitab tentang sejarah Islam yang dikarang setelahnya hampir-hampir tidak lepas dari Kitab Zadul Ma’ad sebagai referensi.

Buku ini bercorak ensiklopedis yang membahas berbagai macam persoalan yang termuat dalam berbagai cabang dan disiplin ilmu. Dalam permasalah fikih, beliau juga membungkusnya dengan metode pengajaran dan pembahasan yang menarik, dengan corak pembahasan khas beliau rahimahullah. Sangat tepatlah bila buku ini dinamai dengan nama tersebut, yang artinya “bekal menuju akhirat dalam petunjuk hamba pilihan”.

Dalam manuskrip aslinya, kitab ini terdiri dari enam jilid, masing-masing jilid mengetengahkan pokok pembahasan yang berbeda. Dengan bahasan yang terperinci dan teratur, kitab ini mampu menarik pembaca untuk terus membaca dan menelaahnya. Pada awal pembahasan kitab ini penulis banyak membahas seputar masalah ma’rifatullah dengan menyebutkan Dzat, sifat, dan nama-Nya. Disebutkan pula hak dan konsekuensi dari nama dan sifat Allah tersebut. Kemudian disusul dengan ulasan mengenai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah jadikan sebagai pembawa risalah sekaligus sebagai penutup para nabi dan rasul.

Kitab ini juga mengupas fikih dengan berbagai masalah hukum secara umum, hukum pernikahan dan segala permasalahannya serta berbagai masalah jual beli. Masalah zakat, sedekah, puasa, haji, dan berbagai adab, serta dzikir-dzikir dan doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan terkandung di dalam kitab ini. Kitab ini juga mengupas masalah jihad yang syar’i.

Sirah (perjalanan hidup) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikupas di buku ini. Semenjak berada di Makkah hingga hijrah ke Madinah, hingga terjadi berbagai peperangan dengan bermacam-macam musuh. Di sinilah nampak kepiawaian beliau dalam pembahasan seputar tarikh dan sirah.

Kemudian kitab ini pun mengupas masalah pengobatan nabawi, yang berkaitan dengan cara penyembuhan dan obat-obatan yang sesuai dengan tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang ingin mengetahui seluk beluk kedokteran dalam konteks dan metode yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, bisa melihat ke dalamnya.

Semua pembahasan ini senantiasa beliau dukung dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al Quran atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula terkadang beliau menyebutkan sejumlah pendapat dari para ulama, atau pendapat mazhab-mazhab fikih kemudian beliau ambil pendapat yang paling rajih dari berbagai pendapat yang ada tersebut. Bila ada hadits yang perlu untuk diulas, beliau pun mengulasnya dengan menyebutkan hukum sanad dan matannya. Tentulah kita dapat membayangkan ulasan seorang Syaikhul Islam tatkala membahas sebuah hadits, penuh dengan pembahasan yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Demikianlah kitab ini dibuat, dengan senantiasa mengedepankan dalil, beliau mampu mengajak para pembaca untuk memahami pelbagai permasalahan agama dengan begitu cerdas dan apik.

Semoga Allah memberi manfaat kepada kaum muslimin melalui buku ini, dan menganugerahkan pahala atas ilmu yang beliau berikan kepada kita melalui karya-karya tulisnya. Wallahu ta’ala a’lam.



Sumber: Majalah Qudwah edisi 9 vol.01 1434H/2013M rubrik Maktabah. Pemateri: Ustadz Abu Abdirrahman Hammam.

Syarh Al-Ushulus Sittah - Pondasi Keempat (3)

وَقَدۡ بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى هٰذَا الۡأَصۡلَ فِي أَوَّلِ سُورَةِ الۡبَقَرَةِ مِنۡ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا بَنِي إِسۡرَائِيلَ اذۡكُرُوا نِعۡمَتِيَ الَّتِي أَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ﴾ [البقرة: ٤٠]. إِلَى قَوۡلِهِ قَبۡلَ ذِكۡرِ إِبۡرَاهِيمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ: ﴿يَا بَنِي إِسۡرَائِيلَ﴾ [البقرة: ١٢٢].
Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Dan sungguh Allah ta’ala telah menjelaskan pondasi ini di awal surah Al-Baqarah, dari firmanNya yang artinya: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 40) sampai firmanNya sebelum penyebutan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang artinya: “Hai Bani Israil…” (QS. Al-Baqarah: 122).

[١٨] اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- فِي سُورَةِ الۡبَقَرَةِ أَنۡزَلَ آيَاتٍ كَثِيرَةٍ فِي بَنِي إِسۡرَائِيلَ لِتَذۡكِيرِهِمۡ بِنِعۡمَةِ اللهِ عَلَيۡهِمۡ، وَأَمَرَهُمۡ بِاتِّبَاعِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَعۡرِفُونَ نُبُوَّتَهُ وَرِسَالَتَهُ فِي كُتُبِهِمۡ، وَبَشَرَتۡ بِهِ أَنۡبِيَاؤُهُمۡ، بَدَأَهَا مِنۡ قَوۡلِهِ: ﴿يَا بَنِي إِسۡرَائِيلَ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَأَوۡفُوا۟ بِعَهۡدِىٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ﴾ [البقرة: ٤٠] وَخَتَمَهَا بِقَوۡلِهِ: ﴿يَا بَنِي إِسۡرَائِيلَ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَأَنِّى فَضَّلۡتُكُمۡ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [البقرة: ٤٧] ﴿وَٱتَّقُوا۟ يَوۡمًا لَّا تَجۡزِى نَفۡسٌ عَن نَّفۡسٍ شَيۡـًٔا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡهَا عَدۡلٌ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَـٰعَةٌ﴾ [البقرة: ١٢٣] ثُمَّ ذَكَرَ إِبۡرَاهِيمَ -عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- فَقَالَ: ﴿وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَـٰتٍ﴾ [البقرة: ١٢٤].
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Allah jalla wa ‘ala pada surah Al-Baqarah menurunkan banyak ayat mengenai Bani Israil untuk mengingatkan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka. Juga untuk memerintahkan mereka agar mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka mengetahui kenabian dan kerasulan beliau di dalam kitab-kitab mereka dan para nabi mereka pun telah memberi kabar gembira dengan kedatangan beliau. Allah memulainya dari firmanNya yang artinya, “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 40). Dan Dia menutupnya dengan firmanNya yang artinya, “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah: 47). “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya…” (QS. Al-Baqarah: 123). Kemudian Dia menyebutkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam. Allah berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan)...” (QS. Al-Baqarah: 124).
كُلُّ هٰذِهِ الۡآيَاتِ مَا بَيۡنَ الۡآيَةِ الۡأُولَى وَالۡآيَةِ الۡأَخِيرَةِ، آيَاتٌ كَثِيرَةٌ كُلُّهَا فِي بَنِي إِسۡرَائِيلَ لِتَذۡكِيرِهِمۡ بِنِعۡمَةِ اللهِ بِإِرۡسَالِ الرُّسُلِ وَإِنۡزَالِ الۡكُتُبِ، وَأَنَّ الۡوَاجِبَ عَلَيۡهِمۡ أَنۡ يُؤۡمِنُوا بِرَسُولِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.
Seluruh ayat-ayat antara ayat pertama dan ayat terakhir, ayat-ayat yang banyak ini mengenai Bani Israil untuk mengingatkan mereka terhadap nikmat Allah dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Dan sesungguhnya wajib bagi mereka untuk beriman kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَبَنُو إِسۡرَائِيلَ هُمۡ أَوۡلَادُ يَعۡقُوبَ، فَإِسۡرَائِيلُ هُوَ يَعۡقُوبُ؛ لِأَنَّهُمۡ مِنۡ ذُرِّيَّتِهِ وَهُمۡ اثۡنَا عَشَرَ سِبۡطًا، كُلُّ ابۡنٍ مِنۡ أَبۡنَائِهِ صَارَ لَهُ ذُرِّيَّةٌ، وَكُلُّ ذُرِّيَّةٍ يُسَمُّونَ السِّبۡطَ بِمَثَابَةِ الۡقَبَائِلِ فِي الۡعَرَبِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَقَطَّعۡنَـٰهُمُ ٱثۡنَتَىۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمًا﴾ [الأعراف: ١٦٠].
Bani Israil adalah anak-anak Ya’qub. Israil adalah Ya’qub. Bani Israil berasal dari keturunan beliau dan mereka ada dua belas sibth (suku). Setiap anak dari anak-anak beliau menjadi keturunan beliau. Dan setiap keturunan dinamakan sibth yang sederajat dengan kabilah-kabilah di kalangan ‘Arab. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar…” (QS. Al-A’raf: 160).

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Maf'ul Lahu (1)

الۡمَفۡعُولُ لَهُ

قَالَ: (بَابُ: الۡمَفۡعُولِ مِنۡ أَجۡلِهِ) وَهُوَ: الۡإِسۡمُ، الۡمَنۡصُوبُ، الَّذِي يُذۡكَرُ بَيَانًا لِسَبَبِ وُقُوعِ الفِعۡلِ، نَحۡوُ قَوۡلِكَ: (قَامَ زَيۡدٌ إِجۡلَالًا لِعَمۡرٍو)، وَ(قَصَدۡتُكَ ابۡتِغَاءَ مَعۡرُوفِكَ).
Ibnu Ajrum berkata: Bab maf'ul min ajlih, yaitu: isim manshub yang disebutkan untuk menjelaskan sebab terjadinya perbuatan. Contohnya ucapanmu: قَامَ زَيۡدٌ إِجۡلَالًا لِعَمۡرٍو (Zaid berdiri untuk menghormati 'Amr) dan قَصَدۡتُكَ ابۡتِغَاءَ مَعۡرُوفِكَ (Aku menuju engkau untuk mengharap kebaikanmu).
أَقُولُ: التَّاسِعُ مِنَ الۡمَنۡصُوبَاتِ: الۡمَفۡعُولُ مِنۡ أَجۡلِهِ، وَيُسَمَّى أَيۡضًا (الۡمَفۡعُولَ لِأَجۡلِهِ، وَالۡمَفۡعُولَ لَهُ) وَهُوَ: (الۡإِسۡمُ الۡمَنۡصُوبُ الَّذِي يُذۡكَرُ بَيَانًا لِسَبَبِ وُقُوعِ الۡفِعۡلِ).
Ahmad bin Tsabit berkata: Yang kesembilan dari isim-isim yang dinashab adalah maf'ul min ajlih. Ia dinamakan pula dengan maf'ul li ajlih dan maf'ul lahu. Yaitu isim dinashab yang disebutkan untuk menjelaskan sebab terjadinya perbuatan.
فَقَوۡلُهُ: (الۡإِسۡمُ) خَرَجَ بِهِ الۡفِعۡلُ وَالۡحَرۡفُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهَا مَفۡعُولًا لَهُ، وَهُوَ يَشۡمَلُ الصَّرِيحَ وَالۡمُؤَوَّلَ بِالصَّرِيحِ.
فَالصَّرِيحُ: هُوَ الَّذِي لَا يَحۡتَاجُّ فِي جَعۡلِهِ مَفۡعُولًا لَهُ إِلَى تَأۡوِيلٍ. نَحۡوُ: (جِئۡتُ إِكۡرَامًا لِزَيۡدٍ)، فَـ(إِكۡرَامًا) مَفۡعُولٌ لَهُ صَرِيحٌ.
وَالۡمُؤَوَّلُ بِالصَّرِيحِ: هُوَ الَّذِي يَحۡتَاجُّ فِي جَعۡلِهِ مَفۡعُولًا لَهُ إِلَى تَأۡوِيلٍ. نَحۡوُ: (جِئۡتُ أَنۡ أُكۡرِمَ زَيۡدًا) فَالۡمَصۡدَرُ الۡمُؤَوَّلُ مِنَ الۡفِعۡلِ الۡمَسۡبُوكِ بِـ(أَنۡ) مَفۡعُولٌ لَهُ وَالتَّقۡدِيرُ (جِئۡتُ إِكۡرَامًا لِزَيۡدٍ).
Ucapan beliau: “isim” artinya fi'il dan huruf tidak masuk padanya. Sehingga tidak bisa fi'il atau huruf menjadi maf'ul lahu. Dan kata isim ini meliputi isim sharih dan yang dita`wil kepada isim sharih.
Isim sharih yaitu: isim yang tidak butuh ta`wil ketika menjadi maf'ul lahu. Contoh: جِئۡتُ إِكۡرَامًا لِزَيۡدٍ (Aku datang untuk memuliakan Zaid), maka إِكۡرَامًا adalah maf'ul lahu sharih.
Yang dita`wil kepada isim sharih yaitu yang butuh kepada ta`wil ketika menjadi maf'ul lah. Contoh: جِئۡتُ أَنۡ أُكۡرِمَ زَيۡدً (Aku datang untuk agar aku memuliakan Zaid), maka mashdar yang dita`wil dari fi'il yang terbentuk dengan أَنۡ adalah maf'ul lah dan taqdirnya adalah جِئۡتُ إِكۡرَامًا لِزَيۡدٍ.
وَقَوۡلُهُ: (الۡمَنۡصُوبُ) خَرَجَ بِهِ الۡمَرۡفُوعُ وَالۡمَجۡرُورُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا مَفۡعُولًا لَهُ.
Ucapan beliau: “yang dinashab” artinya isim yang dirafa' dan majrur tidak termasuk padanya, sehingga salah satu dari keduanya tidak bisa menjadi maf'ul lahu.
وَقَوۡلُهُ: (الَّذِي يُذۡكَرُ...) إلخ، خَرَجَ بِهِ بَقِيَّةُ الۡمَنۡصُوبَاتِ.
Ucapan beliau: “yang disebutkan...” sampai akhir, artinya isim-isim yang dinashab lainnya tidak termasuk padanya.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Hukum Munada

حُكۡمُ الۡمُنَادَى

قَالَ: فَأَمَّا الۡمُفۡرَدُ الۡعَلَمُ وَالنَّكِرَةُ الۡمَقۡصُودَةُ فَيُبۡنَيَانِ عَلَى الضَّمِّ مِنۡ غَيۡرِ تَنۡوِينٍ، نَحۡوُ: (يَا زَيۡدُ)، وَ(يَا رَجُلُ) وَالثَّلَاثَةُ الۡبَاقِيَةُ مَنۡصُوبَةٌ لَا غَيۡرُ.
Ibnu Ajrum berkata: Adapun mufrad 'alam dan nakirah maqshudah mabni atas dhammah tanpa tanwin, contoh: يَا زَيۡدُ dan يَا رَجُلُ. Dan tiga sisanya dinashab.
أَقُولُ: حُكۡمُ الۡمُنَادَى أَنَّهُ يَنۡقَسِمُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: مَبۡنِيٌّ وَمُعۡرَبٌ.
فَأَمَّا الۡمُفۡرَدُ الۡعَلَمُ وَالنَّكِرَةُ الۡمَقۡصُودَةُ فَإِنَّهُمَا يُبۡنَيَانِ عَلَى مَا يُرۡفَعَانِ بِهِ فِي حَالَةِ الۡإِعۡرَابِ.
Ahmad bin Tsabit berkata: Hukum munada adalah terbagi menjadi dua bagian: mabni dan mu'rab.
Adapun mufrad 'alam dan nakirah maqshudah, keduanya mabni di atas tanda rafa'nya pada keadaan i'rab.
فَإِنۡ كَانَا يُرۡفَعَانِ بِالضَّمَّةِ -وَذٰلِكَ الۡمُفۡرَدُ وَجَمۡعُ التَّكۡسِيرِ وَجَمۡعُ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمُ- فَإِنَّهُمَا يُبۡنَيَانِ عَلَى الضَّمِّ.
مِثَالُ الۡمُفۡرَدِ قَوۡلُكَ: (يَا زَيۡدُ، وَيَا رَجُلُ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَٰنُوحُ اهۡبِطۡ بِسَلَٰمٍ﴾ [هود: ٤٨] وَقَوۡلُهُ: ﴿يَـٰٓأَرۡضُ ٱبۡلَعِى مَآءَكِ﴾ [هود: ٤٤].
وَمِثَالُ جَمۡعِ التَّكۡسِيرِ قَوۡلُكَ: (يَا زُيُودُ، وَيَا هُنُودُ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَٰجِبَالُ أَوِّبِى مَعَهُ﴾ [سبإ: ١٠].
وَمِثَالُ جَمۡعِ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمِ قَوۡلُكَ: (يَا هِنۡدَاتُ، وَيَا فَتَيَاتُ).
فَالۡمُنَادَى فِي جَمِيعِ هٰذِهِ الۡأَمۡثِلَةِ مَبۡنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ مَفۡعُولٌ بِهِ؛ لِأَنَّ الۡأَصۡلَ: (أَدۡعُو زَيۡدًا وَرَجُلًا وَنُوحًا وَ... إلخ) فَحُذِفَ الۡفِعۡلُ وَهُوَ (أَدۡعُو) وَنَابَتۡ عَنۡهُ (يَا) فَصَارَ (يَا زَيۡدُ) وَقِسۡ عَلَيۡهِ مَا بَعۡدَهُ.
Jadi, jika keduanya dirafa' dengan dhammah -yaitu pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats salim-, maka keduanya mabni atas tanda dhammah.
Contoh isim mufrad adalah ucapanmu: يَا زَيۡدُ، وَيَا رَجُلُ dan firman Allah ta'ala: يَٰنُوحُ اهۡبِطۡ بِسَلَٰمٍ (QS. Hud: 48) dan firman Allah ta'ala: يَـٰٓأَرۡضُ ٱبۡلَعِى مَآءَكِ (QS. Hud: 44).
Contoh jamak taksir adalah ucapanmu: يَا زُيُودُ، وَيَا هُنُودُ dan firman Allah ta'ala: يَٰجِبَالُ أَوِّبِى مَعَهُ (QS. Saba`: 10).
Contoh jamak muannats salim adalah ucapanmu: يَا هِنۡدَاتُ، وَيَا فَتَيَاتُ.
Semua munada pada contoh-contoh ini mabni atas tanda dhammah pada kedudukan nashab maf'ul bih. Karena asalnya adalah أَدۡعُو زَيۡدًا وَرَجُلًا وَنُوحًا وَ... إلخ (Aku menyeru Zaid, seorang laki-laki, Nuh, … dan seterusnya), kemudian fi'ilnya dibuang yaitu (أَدۡعُو) dan يَا menggantikannya sehingga menjadi يَا زَيۡدُ. Dan kiaskan dengannya apa-apa yang setelahnya.
وَإِنۡ كَانَا يُرۡفَعَانِ بِالۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ -وَذٰلِكَ الۡمُثَنَّى- فَإِنَّهُمَا يُبۡنَيَانِ عَلَى الۡأَلِفِ نَحۡوُ: (يَا زَيۡدَانِ، وَيَا رَجُلَانِ) فَالۡمُثَنَّى فِي هٰذَيۡنِ الۡمِثَالَيۡنِ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡأَلِفِ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ مَفۡعُولٌ بِهِ.
Jika keduanya dirafa' dengan huruf alif sebagai ganti dari dhammah -yaitu isim mutsanna-, maka keduanya mabni atas huruf alif, contoh: يَا زَيۡدَانِ، وَيَا رَجُلَانِ. Maka isim mutsanna pada dua contoh ini mabni atas huruf alif pada kedudukan nashab maf'ul bih.
وَإِنۡ كَانَا يُرۡفَعَانِ بِالۡوَاوِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ -وَذٰلِكَ جَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ- فَإِنَّهُمَا يُبۡنَيَانِ عَلَى الۡوَاوِ نَحۡوُ: (يَا زَيۡدُونَ، وَيَا مُسۡلِمُونَ) فَالۡجَمۡعُ فِي هٰذَيۡنِ الۡمِثَالَيۡنِ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡوَاوِ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ مَفۡعُولٌ بِهِ.
Jika keduanya dirafa' dengan huruf wawu sebagai ganti dari dhammah -yaitu jamak mudzakkar salim-, maka keduanya mabni atas huruf wawu, contoh: يَا زَيۡدُونَ، وَيَا مُسۡلِمُونَ. Maka jamak pada dua contoh ini mabni atas huruf wawu pada kedudukan nashab maf'ul bih.
وَأَمَّا النَّكِرَةُ غَيۡرُ الۡمَقۡصُودَةِ وَالۡمُضَافُ وَالشَّبِيهُ بِالۡمُضَافِ فَحُكۡمُهَا النَّصۡبُ وُجُوبًا.
فَمِثَالُ النَّكِرَةِ غَيۡرِ الۡمَقۡصُودَةِ قَوۡلُ الۡأَعۡمَى: (يَا رَجُلًا، خُذۡ بِيَدِي!).
وَمِثَالُ الۡمُضَافِ قَوۡلُكَ: (يَا طَالِبَ الۡعِلۡمِ، اجۡتَهِدۡ) وَنَحۡوُ: (يَا أَبَا زَيۡدٍ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ﴾ [آل عمران: ٦٤].
وَمِثَالُ الشَّبِيهِ بِالۡمُضَافِ -مَعَ مَا تَقَدَّمَ- قَوۡلُكَ: (يَا رَاغِبًا فِي الۡعِلۡمِ، تَصَبَّرۡ!).
فَالۡمُنَادَى فِي جَمِيعِ هٰذِهِ الۡأَمۡثِلَةِ مَنۡصُوبٌ وُجُوبًا؛ لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ غَيۡرُ مَقۡصُودَةٍ أَوۡ مُضَافٌ أَوۡ شَبِيهٌ بِالۡمُضَافِ، وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ مَا عَدَا (أَبَا زَيۡدٍ) فَإِنَّ عَلَامَةَ نَصۡبِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الۡفَتۡحَةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَإِنَّمَا خَصَصۡتُهُ بِالذِّكۡرِ؛ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ الطُّلَّابِ يَخۡطَئُونَ فِي التَّلَفُّظِ بِهِ فَيَقُولُونَ: (يَا أَبُو زَيۡدٍ) أَوۡ (يَا أَبِي زَيۡدٍ)، وَاللهُ الۡمُوَفِّقُ!
Adapun nakirah ghairu maqshudah, mudhaf, dan yang menyerupai mudhaf, maka hukumnya wajib nashab.
Contoh nakirah ghairu maqshudah adalah ucapan seorang yang buta: يَا رَجُلًا، خُذۡ بِيَدِي (Wahai seseorang, tolong gamit tanganku).
Contoh mudhaf adalah ucapanmu: يَا طَالِبَ الۡعِلۡمِ، اجۡتَهِدۡ (Wahai penuntut ilmu, bersungguh-sungguhlah) dan يَا أَبَا زَيۡدٍ (Wahai Abu Zaid), dan firman Allah ta'ala: يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ (QS. Aali 'Imran: 64).
Contoh yang menyerupai mudhaf -beserta apa yang telah lalu- adalah ucapanmu: يَا رَاغِبًا فِي الۡعِلۡمِ، تَصَبَّرۡ (Wahai yang mencintai ilmu, teruslah bersabar).
Munada di seluruh contoh-contoh tersebut adalah wajib manshub karena ia berupa nakirah ghairu maqshudah, mudhaf, atau menyerupai mudhaf. Tanda nashabnya adalah fathah yang nampak pada huruf akhirnya selain أَبَا زَيۡدٍ, alamat nashab ini adalah huruf alif sebagai ganti dari fathah karena ia termasuk asma`ul khamsah. Dan hanyalah aku mengkhususkannya untuk mengingatkan saja. Karena banyak dari penuntut ilmu yang keliru dalam melafazhkannya dengan mengatakan: يَا أَبُو زَيۡدٍ atau يَا أَبِي زَيۡدٍ. Wallahul muwaffiq.
تَنۡبِيهٌ: قَوۡلُ الۡمُصَنِّفِ: (فَيُبۡنَيَانِ عَلَى الضَّمِّ مِنۡ غَيۡرِ تَنۡوِينٍ) لَا يَشۡمَلُ الۡأَلِفَ وَالۡوَاوَ فِي الۡمُثَنَّى وَالۡجَمۡعِ، فَلَوۡ قَالَ: (عَلَى مَا يُرۡفَعَانِ بِهِ) لَكَانَ أَوۡلَى؛ لِيَشۡمَلَ مَا تَقَدَّمَ، لٰكِنۡ قَدۡ أُجِيبَ عَنۡهُ بِأَنَّهُ أَرَادَ بِـ(الضَّمِّ) مَا يَشۡمَلُ نَائِبَهُ أَيۡضًا.
وَقَوۡلُهُ: (مِنۡ غَيۡرِ تَنۡوِينٍ) لَا حَاجَةَ إِلَيۡهِ؛ لِأَنَّ مِنَ الۡمَعۡلُومِ أَنَّ كُلَّ مَبۡنِيٍّ عَلَى الضَّمِّ لَا يُنَوَّنُ إِلَّا أَنۡ يُقَالَ: إِنَّمَا ذَكَرَهُ لِلتَّوۡضِيحِ.
Peringatan: Ucapan penyusun “keduanya mabni atas harakat dhammah tanpa tanwin” tidak mencakup alif dan wawu pada isim mutsanna dan jamak, sekiranya beliau mengatakan “mabni atas tanda yang dia dirafa' dengannya” tentu lebih baik karena lebih mencakup apa yang telah lalu. Tetapi bisa dijawab bahwa yang beliau inginkan dengan dhammah adalah mencakup juga penggantinya.
Dan ucapan beliau “tanpa tanwin” tidak perlu. Karena sudah dimaklumi bahwa setiap yang mabni atas dhammah tidak ditanwin. Kecuali apabila dikatakan bahwa beliau menyebutkannya untuk lebih memperjelas.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2910

١٦ – بَابُ مَا جَاءَ فِيمَنۡ قَرَأَ حَرۡفًا مِنَ الۡقُرۡآنِ مَا لَهُ مِنَ الۡأَجۡرِ

16. Bab tentang balasan bagi orang yang membaca satu huruf Al-Qur`an

٢٩١٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ الۡحَنَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بۡنُ عُثۡمَانَ، عَنۡ أَيُّوبَ بۡنِ مُوسَى، قَالَ: سَمِعۡتُ مُحَمَّدَ بۡنَ كَعۡبٍ الۡقُرَظِيَّ يَقُولُ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مَسۡعُودٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ قَرَأَ حَرۡفًا مِنۡ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالۡحَسَنَةُ بِعَشۡرِ أَمۡثَالِهَا، لَا أَقُولُ الٓـمٓ حَرۡفٌ، وَلٰكِنۡ أَلِفٌ حَرۡفٌ وَلَامٌ حَرۡفٌ وَمِيمٌ حَرۡفٌ) وَيُرۡوَى هٰذَا الۡحَدِيثُ مِنۡ غَيۡرِ هٰذَا الۡوَجۡهِ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ، رَوَاهُ أَبُو الۡأَحۡوَصِ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ رَفَعَهُ بَعۡضُهُمۡ، وَوَقَفَهُ بَعۡضُهُمۡ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ. هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنۡ هٰذَا الۡوَجۡهِ. سَمِعۡتُ قُتَيۡبَةَ بۡنَ سَعِيدٍ يَقُولُ: بَلَغَنِي أَنَّ مُحَمَّدَ بۡنَ كَعۡبٍ الۡقُرَظِيَّ وُلِدَ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ كَعۡبٍ يُكۡنَى أَبَا حَمۡزَةَ. [(تخريج الطحاوية) (١٣٩)، (المشكاة) (٢١٣٧)].
2910. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepada kami, beliau berkata: Adh-Dhahhak bin 'Utsman menceritakan kepada kami, dari Ayyub bin Musa, beliau berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” Hadits ini juga diriwayatkan dari selain jalan ini dari Ibnu Mas'ud. Abul Ahwash meriwayatkannya dari Ibnu Mas'ud. Sebagian perawi menyambungkannya sampai kepada Nabi dan sebagian yang lain ada yang hanya berhenti sampai Ibnu Mas'ud. Ini adalah hadits hasan shahih gharib dari jalan ini. Aku mendengar Qutaibah bin Sa'id berkata: Telah sampai kabar kepadaku bahwa Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi dilahirkan pada masa hidup Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Muhammad bin Ka'b diberi kuniah Abu Hamzah.

Muhammad bin Abdil Wahhab, Bukan Pencetus Wahabi

Cap sebagai Wahabi sering disematkan kepada seseorang yang menentang tradisi masyarakat, ritual maupun kepercayaan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Bahkan, mereka dituding bertolak belakang dengan ajaran Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Demikianlah fenomena yang sering terjadi hingga saat ini.

Gelar ini merupakan nisbat yang keliru kepada Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Padahal, justru Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah adalah orang yang berusaha mengamalkan agama berdasarkan Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun itu berkonsekuensi menyelisihi tradisi. Memang, inilah salah satu ujian bagi siapa saja berpegang teguh dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Akan ada sebagian orang yang menggelarinya dengan gelar yang buruk. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu disebut tukang sihir, syair, dan berbagai gelar jelek lainnya? Bukankah Imam Asy-Syafi’i dulu disebut mujassim (kelompok sesat dalam penetapan sifat Allah subhanahu wa ta’ala), padahal beliau berlepas diri darinya? Bukankah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah banyak mendapatkan sebutan yang sama sekali tidak benar?

Di samping itu, jika kita perhatikan, Wahabi justru merupakan nisbat kepada Al-Wahhab (Sang Pemberi, Allah subhanahu wa ta’ala). Inilah salah satu Asmaul Husna (nama indah) yang dimiliki oleh Allah ‘azza wa jalla.

Nah, siapakah sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Siapakah yang banyak disebut sebagai pemilik mazhab kelima ini? Siapakah yang kerap dianggap sebagai pembuat onar ini?

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H di sebuah tempat yang bernama Uyainah. Yaitu sebuah daerah yang terletak di sebelah utara kota Riyadh. Ayahanda beliau adalah seorang qadhi (hakim) di zamannya dan bahkan kakek beliau yang bernama Sulaiman adalah ulama besar di masanya. Beliau dikaruniai hafalan yang sangat kuat. Terbukti pada usia 10 tahun beliau telah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu juga beliau juga diberi kelebihan berupa kefasihan dalam berbicara dan berargumen. Tak ayal, potensi besar ini membuat orang-orang merasa sangat kagum. Beliau terus tumbuh dewasa dan semakin tekun mempelajari berbagai bidang ilmu. Seperti ilmu tafsir, hadits, pendapat para ulama dari berbagai mazhab, dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit penuntut ilmu yang mengajak beliau untuk berdiskusi dan bertukar faedah.

Suatu ketika, Syaikh pergi meninggalkan tempat kelahirannya menuju ke Makkah. Beliau pergi ke sana dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Seusai melaksanakan ibadah haji, beliau pun melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah. Beliau sempat singgah di masjid Nabawi dan mengunjungi makam Nabi dan para shahabatnya. Di sana pula, beliau menimba ilmu dari para ulama kota Madinah di antaranya adalah Syaikh Muhammad Hayatus Sindi. Beliau adalah seorang ahli hadits yang sangat ternama hingga kemudian Syaikh memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan hadits-hadits darinya. Demikian halnya beliau juga belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim Asy-Syamiri. Selanjutnya beliau bertolak menuju ke Bashrah untuk belajar ilmu bahasa, hadits, dan yang lainnya.

Setelah melakukan rihlah menuntut ilmu ini, akhirnya beliau kembali ke kampung halaman. Namun begitu, bukan berarti usai pula safari beliau dalam mencari ilmu dan berdakwah. Beliau terus belajar dan menelaah karya-karya para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau memang pribadi yang sangat rajin dalam menulis dan mencatat faedah-faedah yang diperoleh dari para ulama. Sehingga tidak sedikit karya tulis yang lahir dari tangan beliau. Bahkan hingga kini karya-karya beliau terus dipelajari dan dimanfaatkan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kitab Tauhid, Ushul Tsalatsah, Kasyfu Syubhat adalah kitab-kitab beliau yang sangat populer di kalangan kaum muslimin.

Usai rihlah dalam mencari ilmu syar’i, beliau dikejutkan dengan berbagai fenomena yang sangat memprihatinkan di sekitar Nejed, Haramain (Makkah dan Madinah), Irak, dan negeri yang lainnya. Di sana beliau melihat berbagai kesyirikan, khurafat, dan bid’ah merajalela. Di negerinya beliau mendengar sebagian wanita yang bertawasul dengan pohon kurma yang besar. Para wanita itu menjadikan pohon tersebut sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah agar keinginan mereka terkabulkan. Sementara di Hijaz, beliau melihat pengultusan terhadap kuburan sebagian shahabat atau Ahli Bait. Semua ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang peribadatan kepada selain Allah dalam bentuk apa pun. Bahkan selama berada tinggal di kota Madinah, beliau sempat menyaksikan ritual istighatsah dan doa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Spontan beliau bertanya kepada sang guru, Syaikh Muhammad Hayatus Sindi, “Apa pendapat anda wahai Syaikh tentang perbuatan mereka ini?” Sang guru pun langsung menjawab dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Beliau mulai melancarkan dakwah secara terang-terangan setelah meninggalnya sang ayah pada tahun 1153 H. Beliau sangat gencar dalam menyebarkan dakwah tauhid dan membasmi kesyirikan serta bid’ah. Dakwah beliau ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahan dinasti Su’udiyah yang saat itu masih berkuasa. Akhirnya dakwah tauhid pun semakin tersebar dan disambut oleh kaum muslimin di berbagai penjuru Saudi Arabia. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyeru kaum muslimin supaya menauhidkan Allah dan menjauhi berbagai kesyirikan.

Dakwah tauhid ini rupanya mengusik keberadaan Quburiyyun (pengagung kuburan) dan para ahli bid’ah. Sehingga mereka sangat membenci dan menentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Berbagai cara dilakukan untuk menghalangi dan memerangi dakwah beliau. Mulai dari menyebarluaskan berita dusta dan keji, sampai ada sebagian orang yang berupaya melakukan pembunuhan terhadap beliau. Namun Allah memberikan penjagaan dan pertolongan-Nya sehingga dakwah tauhid terus berlangsung dan tersebar luas di negeri Hijaz dan lainnya. Maha Benar Allah yang telah menjamin pertolongan kepada siapa saja yang menolong agama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” [Q.S. Muhammad:7]

Berbagai macam tuduhan telah dilontarkan kepada beliau. Sehingga tersebarlah fitnah yang sangat besar di tengah-tengah kaum muslimin. Sebagaimana penuturan syaikh sendiri dalam salah satu kitabnya, bahwa salah satu tuduhan yang disebarkan adalah beliau tidak mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anti shalawat. Jelas tuduhan semacam ini sama sekali tidak berlandaskan dalil yang ilmiah dan bahkan sangat bertolak belakang dengan realita yang terjadi. Tuduhan semacam ini tetap eksis hingga saat ini, bagi orang-orang yang dicap sebagai Wahabi. Hal ini disebabkan mereka tidak mau melantunkan shalawat-shalawat yang tidak ada tuntunannya dalam Islam dengan cara yang bid’ah. Sementara itu, banyak di antara shalawat-shalawat tersebut yang mengandung kesyirikan. Padahal, kenyataannya dalam berbagai karya tulisnya, beliau sering menjelaskan tentang wajibnya setiap muslim untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Lebih dari itu, beliau menulis sebuah kitab tentang sejarah Nabi yang berjudul Mukhtashar Siratir Rasul (Ringkasan Biografi Rasul). Jelas ini menjadi bukti cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk tuduhan dusta yang dilontarkan oleh para penentang dakwah tauhid adalah bahwa beliau mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itulah, beliau anti kepada shalawat, kata mereka. Siapa pun yang pernah mempelajari kitab-kitab karya beliau pasti bisa menilai bahwa ini merupakan kedustaan yang nyata. Sebagai contoh dalam Kitab At-Tauhid, beliau membuat sebuah bab yang berjudul Syafaat.

Sejatinya, beliau tidak mengingkari syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang beliau ingkari adalah syafaat yang diharapkan orang-orang musyrik pada hari kiamat nanti. Syafaat yang diharapkan dari makhluk yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Karena orang-orang musyrik mengharapkan syafaat tersebut dari sesembahan-sesembahan yang mereka ibadahi.

Kemudian, beliau jelaskan hakikat syafaat yang sebenarnya dengan menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Syafaat Allah subhanahu wa ta’ala tersebut hanya menjadi hak orang-orang yang bertauhid dengan seizin-Nya. Syafaat ini tidak akan diberikan kepada siapa saja yang berbuat syirik kepada-Nya. Pada hakikatnya, syafaat adalah karunia dari Allah kepada orang-orang yang bertauhid. Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni mereka melalui perantara siapa saja yang Dia beri izin untuk memberi syafaat. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala bisa saja langsung memberikan ampunan tanpa melalui perantaraan syafaat siapa pun. Hal ini dalam rangka untuk memuliakan orang yang diberi izin memberi syafaat. Tujuannya agar dia memperoleh kedudukan yang mulia. Demikianlah hakekat syafaat yang beliau jelaskan dalam kitab tersebut.

Demikian halnya dengan tuduhan-tuduhan buruk yang lainnya terhadap beliau. Sungguh, seseorang yang menilai dengan sikap yang adil dan obyektif akan mengetahui bahwa beliau adalah ulama Ahlus Sunnah yang berakidah lurus. Berbagai tuduhan buruk kepada beliau tidak berlandaskan referensi yang otentik dan sangat kontradiktif dengan realita yang ada. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 9 vol.01 1434H/2013M rubrik Ulama. Pemateri: Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

Siyar A’lamin Nubala`

Menyingkap Biografi para Tokoh Islam


“Orang-orang sangat gandrung dengan karya-karyanya. Disebabkan karya tulis beliau itulah, mereka rela menembus safar yang jauh. Mereka berusaha untuk mendapatkannya; saling membaca, menyalin, atau mendengarnya dari guru mereka.” (Ibnu Hajar w. 852 H dalam Ad Durar 3/427).

Beliaulah imam besar, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi rahimahullah (w. 748 H/1374 M). Di antara karya fenomenal beliau adalah Siyar A’lamin Nubala’. Sebuah kitab yang memuat biografi orang-orang penting di masa shahabat hingga masa beliau rahimahullah.

Sebuah referensi kitab sejarah dan perawi hadits yang sangat lengkap. Sumbangsih berharga terhadap kaum muslimin, terkhusus para ulama. Jalaluddin As Suyuthi rahimahullah (w. 911 H) mempersaksikan, “Para ulama ahli hadits, dalam hal ilmu rijal (perawi/ periwayat hadits), dan cabang ilmu hadits yang lainnya, sungguh sangat butuh terhadap empat imam; Al Mizzi, Adz Dzahabi, Al ‘Iraqi, dan Ibnu Hajar.”

Siyar A’lamin Nubala’ termasuk kitab tarikh (sejarah) yang terakhir ditulis oleh Adz Dzahabi. Sebelumnya, beliau telah menulis banyak kitab tarikh. Tercatat lebih dari 70 kitab tarikh, siyar (biografi) yang beliau tulis. Ini menunjukkan bahwa kitab Siyar A’lamin Nubala adalah pelengkap bagi kitab-kitab tarikh beliau rahimahullah sebelumnya.

Kita akan dapati kuatnya ketelitian beliau dalam kitab ini. Beliau memberikan beberapa sandaran rujukan tambahan yang sebelumnya tidak ada. Juga memperbarui tata letak kitab-kitab beliau sebelumnya. Hal ini mengisyaratkan, bahwa dalam penulisannya, beliau meneliti dan memerhatikan kembali tulisan-tulisan yang terdahulu, setelah menambahinya tahqiq (klarifikasi ke sumber berita) dan tamhish (pemfilteran terhadap berita yang lemah atau palsu).

Kitab ini menggunakan metode yang ringkas dan sederhana. Pemaparan biografi para ulama, raja, hakim, dan sebagainya sangatlah praktis dan mudah dipahami. Beliau tuliskan nama asli, kuniah, keutamaan, kejadian yang menimpanya, kejadian-kejadian di masa hidupnya, serta nama-nama guru dan muridnya. Disebutkan rihlah (safar ke luar daerah dalam menuntut ilmu) yang dilakukan, tanggal lahir, tempat menetap, serta tahun kematiannya. Demikian pula beliau menukilkan hadits yang diriwayatkan beserta sanad (rantai silsilah periwayat hadits) dan tashihnya (penshahihannya). Beliau sampaikan pula nukilan-nukilan para ulama tentang hadits tersebut, dan syair pendukung dalam penjelasan sisi makna bahasa.

Banyak dari kutipan yang beliau sampaikan di dalam kitab ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menempatkan kedudukan seseorang sesuai dengan kedudukannya. Nukilan-nukilan itu juga memberi teladan akhlak mulia yang mesti dimiliki kaum muslimin setelahnya. Karena di dalamnya terdapat mutiara-mutiara kata yang dalam dan menyentuh jiwa.

Selain itu, biografi-biografi yang beliau tuliskan mencerminkan sebuah pelajaran bahwa janganlah terburu-buru dalam menilai orang lain. Nilailah dengan adil tanpa ada buruk sangka.

Beliau juga memberikan pujian serta kritikan sesuai dengan derajatnya dalam agama, tanpa memandang status sosial duniawiah. Beliau terkadang memuji orang miskin karena keutamaan yang dimilikinya. Sebaliknya, beliau tak jarang mengkritik kesalahan orang yang berada. Beliau terkadang menyanjung budak hitam. Dan di lain waktu beliau mengkritik tuan yang berkedudukan. Semuanya beliau komentari sesuai dengan proporsi masing-masing individu.

Kitab ini tidak hanya berisi biografi semata. Tetapi memuat pula keterangan akibat penyelisihan syariat, di sela-sela pemaparan biografi seorang tokoh. Di dalam kitab ini, Al Imam Adz Dzahabi membuat sekitar 40 thabaqah (tingkatan) manusia berdasarkan zaman mereka. Di mulai dari tingkatan shahabat dan seterusnya.

Memang, Adz Dzahabi rahimahullah termasuk jajaran ulama yang memiliki kekokohan ilmu hadits dan cabang-cabangnya. Oleh karenanya, kitab ini sarat faedah dan ilmu yang luas bagi para ulama, penuntut ilmu, ahli sejarah, bahkan kaum muslimin secara umum.

Pembaca kitab ini juga bisa mengetahui lintasan peristiwa sejarah Islam. Mencakup awal mula munculnya Islam hingga abad ketujuh, abad di mana beliau hidup. Mulai dari perjalanan hidup Nabi beserta shahabat, hingga peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia Islam secara umum.

Dalam Siyar A’lamin Nubala cetakan Muassasah Ar Risalah (28 jilid), dalam mukaddimah disebutkan biografi beliau secara ringkas.

Dimulai penyebutan tentang perhatian beliau terhadap ilmu sejak masih kecil, seputar perjalanan hidup beliau, beserta jerih payahnya dalam belajar. Juga informasi tentang perjalanan rihlah beliau. Dari negerinya, Damaskus, ke negeri-negeri lainnya seperti Syam, Mesir, Hijaz dalam rangka mencari ilmu agama. Guru beliau dan kejadian-kejadian yang menimpa beliau di masa-masa itu.

Lalu berlanjut kepada penyebutan tahun dimulainya penulisan, jumlah jilid, dan keterangan bahwa Adz Dzahabi tidaklah menulis jilid 1 dan 2 dalam kitab ini. Sebab, jilid pertama sebenarnya berisi tentang sirah Nabi, mu’jizat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan peperangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan jilid 2 tentang sirah Khulafa’ Ar Rasyidin.

Kedua jilid ini sebenarnya diambil dari kitab beliau yang lain yaitu Tarikh Al Islam.

Mencermati kitab ini, kita akan melihat ketelitian pengarang dalam pemaparannya. Beliau melakukan pengecekan dan menjelaskan secara detail sisi kelebihan dan kekurangan seorang tokoh, beserta keterangan yang diperlukan menurut syariat. Ketelitian dalam menilai kepribadian manusia ini, memberikan cahaya terang yang dapat diambil manfaatnya oleh Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 5 vol.01 1434H/2013M, rubrik Maktabah. Pemateri: Ustadz Abu Abdirrahman Hammam.

Imam Malik bin Anas rahimahullah

Sang Imam di Negeri Hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Malik bin Anas rahimahullah, salah seorang empat imam madzhab yang tentu tidak asing lagi. Banyak kisah tentang keteladanan beliau. Kisah menawan sebagai panutan untuk kaum muslimin.

Sebagai imam di masanya, beliau benar-benar menjadi suri tauladan dalam berbagai aspek kehidupan. Memang, semenjak kecil beliau terdidik di bawah naungan ilmu syar’i, dalam nuansa islami yang sangat kental. Anas rahimahullah, ayah beliau, adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in. Oleh karenanya beliau tumbuh dan berkembang dalam pengawasan yang cukup ketat dari sang ayah. Di samping itu beliau juga dianugerahi kecerdasan dan hafalan yang sangat kuat. Maka menginjak usia dua puluh satu tahun, beliau telah diberi izin untuk berfatwa.

Beliau terkenal sebagai Imam Darul Hijrah. Karena beliau senantiasa menetap di kota Madinah, baik ketika menuntut ilmu maupun berdakwah. Kakek dan ayahnya termasuk ulama hadits ternama di kota Madinah. Oleh karenanya, sejak kecil tiada keinginan sama sekali pada diri Imam Malik untuk meninggalkan Madinah, meskipun dalam rangka mencari ilmu. Dengan keberadaan para ulama besar di Madinah, beliau yakin kota tersebut adalah pusat ilmu yang berlimpah.

Sejak kecil Imam Malik telah mengenal ilmu hadits dari sang ayah. Juga dari sebagian saudaranya yang pernah berguru pada para ulama terkenal di masanya, seperti Ibnu Syihab Al Zuhri, Abu Zinad, dan yang lainnya. Beliau sendiri juga berguru kepada ulama ahli hadits di antaranya Nafi’, Sa’id Al Maqburi, Ibnu Al Munkadir, Abdullah bin Dinar, dan sederet ulama-ulama besar lainnya.

Bukti tingginya kedudukan beliau adalah banyaknya ulama besar yang berguru kepada beliau. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Ayyub bin Abu Tamimah As Sakhtiyani, Ibrahim bin ‘Uqbah, Isma’il bin Abi Hakim, dan tentu saja Al Imam Asy Syafi’i.

Kecintaan Imam Malik terhadap ilmu syar’i menjadikan beliau mengabdikan hampir seluruh hidupnya dalam dunia dakwah. Beliau sangat bersemangat dalam mengajarkan ilmu agama kepada kaum muslimin. Bahkan, Khalifah Al Manshur, Al Mahdi, Harun Ar Rasyid, dan Al Makmun pernah berguru kepada beliau. Sungguh fantastis, para penguasa pun tunduk dan bersimpuh menimba ilmu di hadapan Imam Malik. Demikianlah Allah mengangkat derajat hamba-hamba-Nya dengan ilmu syar’i.

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [Q.S. Al-Mujadilah:11].

Imam Malik adalah salah satu bukti nyata ayat ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang beriman di atas hamba-hamba-Nya yang lain. Beliau sebagai imam di kota Madinah. Begitu banyak orang mencari beliau dari berbagai penjuru negeri. Mulai dari rakyat jelata yang datang untuk sekedar meminta fatwa, atau bertanya tentang masalah agama, hingga para penguasa bahkan para ulama untuk meriwayatkan hadits dari beliau. Kekuasaan atau kekayaan duniawi bukanlah simbol kemuliaan sebagaimana penilaian kebanyakan orang. Kalaulah kemuliaan hidup ini dipandang dari kenikmatan duniawi, maka tentunya banyak orang-orang kafir yang lebih mulia daripada orang-orang yang beriman.

Hal ini mengingatkan kita tentang sebuah kisah yang diriwayatkan dari Abu Thufail, bahwa Nafi’ bin Abdil Harits datang dari Makkah untuk menjemput Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab di ‘Usfan. Nafi’ bin Abdil Harits adalah gubernur yang diangkat oleh Umar sebagai pemimpin penduduk Makkah. Umar pun bertanya, “Siapa yang engkau tunjuk sebagai wakilmu di Makkah?” Ia pun menjawab, “Ibnu Abza.” Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?” “Dia adalah seorang bekas budak,” Jawabnya. Umar berkata, “Engkau mengangkat pemimpin dari mantan budak?! Maka Ia pun mengatakan, “Karena dia adalah seorang yang ahli membaca Al-Qur’an dan pakar dalam ilmu waris.” Umar berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalian telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Al Quran ini sekelompok kaum dan merendahkan yang lainnya.’

Meskipun telah mencapai derajat mufti (ahli fatwa) dan mujtahid (ahli ijtihad), Imam Malik adalah pribadi yang sangat berhati-hati dalam berfatwa. Gelar Imam Darul Hijrah, tidaklah membuat Imam Malik bermudah-mudahan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Atau merasa malu ketika tidak bisa menjawabnya. Sungguh hal ini mencerminkan tawadhunya beliau sebagai seorang ulama besar.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan sebagian da’i di zaman ini. Mereka sering memaksakan diri dalam menjawab pertanyaan. Seolah-olah dia mengetahui segala sesuatu, tidak kenal dengan kata tidak tahu. Padahal, mengatakan ‘Allahu A’lam’, Allah yang maha mengetahui, ketika tidak tahu merupakan setengah ilmu.

Perhatikanlah kisah berikut ini. Khalid bin Khidasy berkisah, “Aku pernah datang kepada Malik dengan membawa 40 permasalahan. Namun, tidaklah beliau menjawabnya kecuali 5 permasalahan saja.” Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Ketika kami berada di sisi Al Imam Malik bin Anas, datanglah seseorang kepada beliau. Ia berkata, ‘Aku datang kepada Anda dari jarak 6 bulan perjalanan. Penduduk negeriku menugaskanku agar menanyakan kepada Anda suatu permasalahan.’ Al-Imam Malik berkata, ‘Tanyakanlah!’ Orang tersebut menyampaikan kepada beliau suatu permasalahan. Al-Imam Malik menjawab, ‘Saya tidak bisa menjawabnya.’ Orang tersebut terperanjat. Sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu. Kemudian orang tersebut berkata, ‘Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku, jika aku pulang kepada mereka?’ Imam Malik berkata, ‘Katakan kepada mereka, ‘Malik tidak mengetahui jawabannya.’”

Sungguh, sikap tawadhu beliau tersebut sama sekali tidak menurunkan pamor dan reputasi beliau sebagai ulama besar. Bahkan beliau semakin dihormati, semakin tinggi kedudukan beliau. Para ulama tidak henti-hentinya memberikan pujian kepada beliau. Imam Asy-Syafi’i pernah mengatakan, “Jika disebut para ulama, maka Malik adalah bintangnya.” Yahya bin Qathan mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang keshahihan haditsnya melebihi Malik. Beliau adalah imam dalam ilmu hadits.” Bahkan, seorang ulama sekaliber Sufyan bin Uyainah pun pernah mengatakan, “Siapakah kami dibandingkan Malik? Kami hanya bisa mengikuti jejak Malik.”

Mushab bin Abdullah mengatakan dalam lantunan bait-bait syairnya,
‘Jika beliau tidak menjawab pertanyaan,
     maka pertanyaan pun tidak lagi diajukan.
Yang demikian itu karena orang segan,
     disebabkan kewibawaan beliau serta cahaya ketakwaan.’

Imam Malik juga dikenal sebagai figur pembela Al-Qur’an dan As Sunnah di atas pemahaman yang benar. Hal ini tercermin dalam ucapan atau amal perbuatan beliau. Di antara kisah yang sering dinukilkan oleh para ulama dalam kitab-kitab akidah mereka, yaitu kisah yang diriwayatkan dari Ja’far bin Abdillah, “Suatu saat kami pernah bermajelis di hadapan Malik. Tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), kita tahu bahwa Allah ber-istiwa, berada di atas Arsy-Nya. Lalu bagaimanakah istiwa itu?’ Maka Malik sangat marah. Belum pernah kulihat sebelumnya kemarahan seperti itu. Beliau pun melihat ke arah bawah dan memukul lantai dengan batang kayu yang berada di tangannya. Keringat beliau bercucuran. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan membuang batang kayu tersebut seraya berkata, ‘Kaifiyah (tata cara) beristiwa itu tidak diketahui. Namun istiwa bukanlah perkara yang majhul (tidak diketahui). Mengimani istiwa adalah wajib hukumnya. Dan bertanya tentang kaifiyahnya adalah bid’ah. Aku yakin bahwa engkau adalah ahli bid’ah.” Lantas beliau memerintahkan supaya orang tersebut dikeluarkan dari majelis. Orang tersebut akhirnya diusir.

Inilah akidah Ahlu Sunnah. Yaitu mengimani seluruh sifat Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa menanyakan kaifiyahnya. Karena kaifiyah sifat-sifat tersebut tidak disebutkan dalam Al Quran ataupun As Sunnah. Tentang keimanan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas Arsy-Nya, cukup banyak ayat Al-Qur’an dan hadits shahih yang menjelaskan tentang sifat ini. Bahkan, para ulama salaf sejak shahabat telah bersepakat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas langit dan tinggi di atas Arsy-Nya.

Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah menegaskan bahwa inilah pendapat para ulama. Dalam tafsir surat Al-A’raf ayat 54 beliau mengatakan, “Pendapat yang kami yakini terkait dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebagaimana pendapat para ulama salafush shalih. Semisal Imam Malik, Al-’Auzai, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’ad, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan para ulama lainnya dari dulu hingga sekarang. Yaitu meyakini dalil-dalil tentang sifat Allah subhanahu wa ta’ala seperti apa adanya. Tanpa melakukan takyif (menanyakan kaifiyahnya), tasybih (menyerupakan dengan makhluk ciptaan-Nya), takwil (menyelewengkan maknanya), tidak pula melakukan ta’thil (menolak sifat tersebut). Demikianlah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Inilah akidah yang benar dalam memahami seluruh sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala.

Imam Malik sangat gigih mendakwahkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbagai pendapat beliau tentang akidah yang lurus ini dinukilkan generasi demi generasi. Semacam penjelasan beliau bahwa iman adalah keyakinan dalam qalbu, ucapan dengan lisan, dan amalan anggota badan. Iman bisa bertambah dan berkurang. Juga perkataan beliau dalam kesempatan lain bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah) bukan makhluk.

Pengabdian Imam Malik dalam dunia dakwah tidak hanya terbatas ceramah-ceramah semata. Namun, beliau juga memiliki sejumlah karya tulis. Yang paling fenomenal adalah kitab hadits beliau yang berjudul Al-Muwaththa’. Sebuah kitab hadits yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fiqih. Para ulama sangat mengagumi karya beliau yang satu ini. Hingga Imam Syafi’i mengatakan, “Tidaklah muncul di atas muka bumi ini setelah Kitabullah yang lebih shahih dari kitabnya Malik.”

Oleh karenanya, sebagian ulama memasukkan kitab Muwaththa’ sebagai salah satu dari Kutubus Sittah. Yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan At-Tirmidzi, dan Muwaththa’ sebagai pengganti dari Sunan Ibnu Majah. Karena kitab Muwaththa’ memuat hadits shahih yang lebih banyak. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Hasan Ahmad bin Razin As Sarqasti dalam kitabnya At-Tajrid fil Jam’i baina Shihah. Demikian pula Abus Sa’adat yang populer dengan nama Ibnul Atsir, Az-Zubaidi, dan yang lainnya. Namun demikian, ada juga ulama yang tidak sependapat dengan hal ini.

Terlepas dari silang pendapat di antara ulama, dan melihat berbagai pujian mereka terhadap kitab Muwaththa’, cukup menunjukkan bahwa kitab ini disambut sangat baik oleh para ulama. Yang demikian ini karena Imam Malik hanya meriwayatkan hadits dari orang yang adil dan terpercaya dalam sikap, akidah, dan kecerdasannya. Imam Malik dikenal sebagai ulama yang sangat hati-hati dan selektif dalam meriwayatkan hadits.

Imam Malik rahimahullah, Imam Darul Hijrah yang jasa-jasanya akan senantiasa diingat oleh kaum muslimin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 5 vol.01 1434H/2013M, rubrik Ulama’. Pemateri: Ustadz Abu Hafiy Abdullah.