Sang Pemilik Hari Uhud

Gunung Uhud menjadi saksi bisu atas keberanian dan pengorbanan para generasi terbaik umat ini. Benderang perang telah tertabuh, dua pasukan pun terlibat pertempuran sengit. Masing-masing memperjuangkan yang mereka yakini. Gemerlap kilatan pedang tersorot ke setiap arah dan gemerincingnya semakin menambah kerinduan untuk mendapatkan syahid. Saat itu para ksatria muslim bagaikan singa yang mengamuk dan menerkam mangsanya, keperkasaan mereka tiada banding. Pedang-pedang para kekasih Allah itu menyambar dan menyabet setiap musuh yang menghadang. Hal ini menjadikan orang-orang musyrik kocar-kacir sehingga mereka mundur, dan ghanimah pun bertabur.

Hampir-hampir kemenangan diraih kaum muslimin, namun –Qaddarallah wama sya’a fa’al- pasukan pemanah yang melindungi kaum muslimin di Gunung Rumat (anak Gunung Uhud) turun darinya karena tergiur dengan ghanimah yang berserakan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas ini, orang-orang musyrik pun berbalik menuju Uhud dan menguasainya. Keadaan menjadi terbalik, kaum muslimin menjadi terjepit dan barisan mereka pun porak poranda. Terlebih setelah terdengar teriakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah gugur.

Di saat itulah pengorbanan yang luar biasa ditunjukkan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu. Sebagai bukti cinta kepada sang kekasih, bukan hanya harta, tetapi jiwa dan raga ia pertaruhkan. Thalhah bin Ubaidillah, salah seorang shahabat yang memiliki keutamaan yang melimpah. Bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu apabila disebutkan kepadanya Perang Uhud beliau berkata, “Hari itu seluruhnya milik Thalhah bin Ubaidillah.”

Beliau dikenal dengan Thalhah Al Juud (sang dermawan), Thalhah Al Khair (pecinta kebaikan), dan Thalhah Al Fayyadh (yang banyak berbuat kebaikan). Semua itu adalah gelar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepadanya pada berbagai kesempatan. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kedudukan beliau yang tinggi.

PERTEMPURAN DI GUNUNG UHUD


Tatkala orang-orang musyrik melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat, maka perhatian mereka pun terfokus kepada beliau. Beliaulah sasaran utama yang hendak mereka tumpas. Maka tertumpuklah peperangan di sekitar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para shahabat bersegera mengelilingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan badan-badan mereka sebagai tameng hidup. Maka mulailah mereka bertempur habis-habisan sampai tetes darah yang terakhir. Bagai hujan yang tiada henti sabetan pedang dan anak panah merobek dan menusuk tubuh-tubuh para shahabat. Satu persatu para kekasih Allah meraih syahid.

Sungguh Thalhah saat itu mendapatkan ujian yang terindah, beliau bertempur dengan sebelas orang musyrik sehingga jari-jarinya terputus dan terdapat 70 lebih luka di sekujur tubuhnya, akibat sayatan dan hujaman pedang.

Berkata Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya yang menyaksikan Perang Uhud, “Sungguh Thalhah pada hari Uhud mendapatkan ujian yang indah. Ia telah melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan badannya dan menahan lesatan anak panah dengan tangannya sehingga menjadikan tangannya lumpuh, dan kepalanya terkena sabetan pedang. Pada pertempuran yang sangat mendebarkan itu, beliau sempat menggendong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang saat itu terluka) sampai meletakkannya di atas batu dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Hari ini telah wajib bagi Thalhah, wahai, Abu Bakar.

Berkata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Thalhah bin Ubaidillah sungguh telah wajib untukmu surga dan telah disediakan untukmu bidadari yang cantik jelita.” Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Qais bin Abi Hazm (seorang ulama tabiin) berkata, “Aku melihat tangan Thalhah lumpuh, karena melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Perang Uhud.”

Sungguh pertunjukan pembuktian cinta yang mempesona dari generasi termulia umat ini. Benar, telah tertanam dalam sanubari mereka bahwa cinta butuh pembuktian tidak hanya pengakuan. Allahummarzuqnaa iimaanan shaadiqan.

SYAHID YANG BERJALAN DI ATAS BUMI


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ ۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبۡدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada (pula) yang gugur (wafat). Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” [Q.S. Al Ahzab: 23].

Berkata Ibnu Abbas dan Hasan Al Bashri, “Kata مِنۡهُمۡ مَنۡ قَضَى نَحۡبَهُ (di antara mereka ada (pula) yang gugur) adalah orang yang gugur di atas kejujuran (imannya) dan menunaikan janji kepada Allah.” Diriwayatkan dari Isa bin Thalhah bin Ubaidillah, “Bahwasanya seorang Arab badui datang kepada Nabi dan bertanya, “Siapakah (yang disebut dalam ayat) مِنۡهُمۡ مَنۡ قَضَى نَحۡبَهُ (orang yang gugur di atas penunaian janji kepada Allah)?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya. Kemudian dia bertanya lagi dan beliau pun berpaling lagi, kemudian datang Thalhah dari pintu masjid dan dia memakai pakaian hijau, maka Nabi bersabda yang artinya, “Inilah orang yang gugur (wafat) di atas penunaian janji kepada Allah.

Demikian pula dalam hadis yang diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa menyukai untuk melihat seorang syahid berjalan di atas permukaan bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani rahimahullah].

WAFATNYA SANG SYAHID


Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah, “Thalhah radhiyallahu ‘anhu ikut terlibat dalam peperangan fitnah melawan pasukan Ali radhiyallahu ‘anhu. Sebagian ulama mengatakan bahwa pada saat gentingnya pertempuran, Ali memanggil dan menyebutkan keutamaan dan terdahulunya Thalhah dalam Islam. Maka Thalhah pun menarik diri dari memerangi Ali. Beliau pun akhirnya meninggalkan shaf peperangan, kemudian terkena anak panah dan mengenai urat kakinya, maka darahnya terus keluar sampai wafat.”

Sungguh kehidupan yang bertabur bunga kemuliaan, pengorbanan, dan perjuangan. Harumnya semerbak sepanjang masa. Jasanya terhadap Islam selalu diingat oleh setiap generasi umat. Semoga kita bisa meneladaninya radhiyallahu ‘anhu.

Referensi:
  • Kitab Sirah Nabawiyyah, karya Ibnu Katsir.
  • Kitab Rakhiqil Makhtum, karya Mubarakfuri.
  • Kitab Al Isti’ab fii Ma’rifatil Ashab, karya Ibnu Abdil Barr.
  • Kitab Al A’lam, karya Zarkali.
  • Kitab Tafsir, karya Thabari.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 54 vol.05 1439 H rubrik Khairul Ummah. Pemateri: Al Ustadz Abu Ma'mar Abbas bin Husein.

Istri Para Syuhada

Nama beliau adalah Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rayyah bin Abdillah Al Qurasyiyah Al Adawiyyah radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah saudari seayah dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh orang yang dijanjikan surga. Beliau adalah anak perempuan dari paman Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Sedang ibu beliau adalah Ummu Kuraiz binti Abdillah bin Ammar bin Malik Al Hadramiyah. Atikah termasuk wanita yang dikaruniai paras yang rupawan dan budi pekerti yang baik. Demikian pula beliau termasuk wanita yang memiliki kepandaian dalam syair. Beliau termasuk wanita Quraisy yang ikut berhijrah ke negeri Madinah.

Atikah binti Zaid radhiyallahu ‘anha menikah beberapa kali dengan para shahabat yang utama. Cukuplah kita melihat kemuliaan shahabat wanita ini dengan para pendamping hidupnya. Di antara shahabat mulia yang menikah dengan beliau adalah Abdullah bin Abu Bakar. Pada pernikahan beliau ini sempat terjadi perceraian antara keduanya. Ini disebabkan permintaan sang ayah, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang melihat bahwa putranya –Abdullah- terlalu tersibukkan dengan cintanya kepada Atikah dari hak-hak Allah. Dengan sebab cintanya kepada sang istri, sang anak terlalaikan dari hak Allah, demikian anggapan ayah beliau. Demi mengikuti nasihat sang ayah, Abdullah bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma pun menceraikan istrinya. Namun, perpisahan tersebut menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi sang suami, demikian pula dengan Atikah. Dengan sebab perpisahan ini Abdullah membuat bait-bait syair kesedihan yang terdengar sampai kepada Abu Bakar Ash Shiddiiq dan menyebabkan beliau merasa iba. Abu Bakar pun mengijinkan putranya untuk merujuk kembali sang istri. Namun, pernikahan ini pun hanya berjalan beberapa waktu lamanya dan berakhir dengan gugurnya Abdullah bin Abi Bakar terkena anak panah saat berperang di Thaif bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah kepergian sang suami dan selesai dari masa iddah, Atikah pun dipersunting oleh Zaid bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Namun, suami beliau ini pun gugur dalam peristiwa perang Yamamah.

Pada tahun 12 hijriah, Atikah radhiyallahu ‘anha menikah dengan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Umar bin Al Khaththab sendiri adalah kakak ipar dari Said bin Zaid yang menikahi Fathimah binti Al Khaththab. Oleh karenanya, telah ada hubungan kedekatan antara keluarga Atikah dan keluarga Umar bin Khaththab sebelumnya. Dalam pernikahan ini, Atikah mempersyaratkan kepada Umar bin Al Khaththab agar dirinya tidak dilarang untuk turut hadir dalam salat berjamaah bersama kaum muslimin di Masjid Nabi dan tidak memukulnya. Maka, Umar bin Al Khaththab pun menyetujui syarat tersebut dengan berat hati. Dalam pernikahan ini, lahir seorang anak laki-laki bernama Iyadh bin Umar bin Al Khaththab. Selama sekitar 10 tahun lamanya beliau setia mendampingi khalifah Umar bin Al Khaththab. Hingga beliau meninggal terbunuh syahid oleh seorang majusi di tahun ke-22 hijriah.

Lalu beliau pun dipinang oleh Az Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, sang hawari (pengikut setia) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Beliau pun menerima pinangan tersebut dengan meminta syarat yang sama dengan yang beliau ajukan kepada suami sebelumnya, yaitu meminta syarat untuk tidak dilarang menghadiri salat jamaah di masjid Nabi. Maka, Az Zubair pun memenuhi syarat tersebut.

Namun saat datang waktu salat Isya’, dan sang istri bersiap menghadirinya, Az Zubair pun merasa berat dengan hal ini, akan tetapi beliau tidak kuasa melarangnya disebabkan syarat yang telah diajukan tersebut. Demikianlah kecemburuan para suami atas istri mereka ketika mereka keluar rumah. Walaupun tujuan keluarnya adalah demi beribadah kepada-Nya di masjid-Nya.

Maka tatkala sang istri beranjak pergi, Az-Zubair mendahului beliau dan menunggu sang istri melewatinya di tempat yang tidak terlihat. Maka tatkala sang istri lewat, Az Zubair mencolek sang istri. Maka seketika itu sang istri beristirja’ dan berlari pulang. Sang istri tidak mengetahui bahwa yang mencoleknya adalah suaminya sendiri. Sejak itu Atikah tidak lagi keluar mengikuti salat berjamaah karena merasa takut akan diganggu manusia. Demikianlah seharusnya sikap yang ditunjukkan kaum mukminah, berusaha menjaga dirinya dari gangguan manusia. Terlebih di zaman ini, zaman yang penuh kemungkaran dan telah mulai menipis ketakwaan manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pernikahan berakhir dengan syahidnya Az Zubair dalam Perang Jamal.

Setelah kematian Az Zubair, sang khalifah di saat itu adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali pun berkeinginan untuk meminang Atikah binti Zaid. Namun, Atikah binti Zaid menolak pinangan Ali bin Abi Thalib disebabkan saat itu Ali menjadi pemimpin kaum muslimin. Sedangkan beliau melihat bahwa para suaminya meninggal semua dalam keadaan syahid. Beliau pun takut hal ini juga terjadi atas sang khalifah sebagaimana telah menimpa kepada suami beliau sebelumnya. Maka Ali bin Abi Thalib mengurungkan pinangan tersebut.

Lalu beliau dilamar oleh Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dan ini adalah suami beliau yang terakhir. Walau dalam pernikahan ini Atikah radhiyallahu ‘anha telah memasuki masa senja, namun, beliau tetaplah menjadi wanita yang disayangi dan dihormati oleh sang suami, Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, sebelum pernikahan terjadi, Atikah telah mempersyaratkan agar calon suaminya tersebut tidak boleh melakukan jihad. Hal ini disebabkan kecemasan beliau terhadap kematian yang mungkin juga akan menimpa sang suami sebagaimana syahidnya suami-suami beliau sebelumnya. Akan tetapi, takdir Allah tidaklah dapat diganti dan diubah. Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan Al Hasan meninggal pula sebagai syahid meninggalkan beliau seorang diri.

Setelah kematian Al Hasan beliau pun hendak dilamar oleh Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, namun beliau menolaknya dan mengatakan, “Cukuplah bagiku menjadi wanita menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Atikah radhiyallahu ‘anha meninggal di masa kekuasaan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. [Ustadz Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 73 vol. 07 1439H-2017M rubrik Figur.

Shahih Muslim hadits nomor 39

١٤ - بَابُ بَيَانِ تَفَاضُلِ الۡإِسۡلَامِ وَأَيُّ أُمُورِهِ أَفۡضَلُ
14. Bab keterangan bahwa Islam itu bertingkat-tingkat dan perkara mana yang paling utama

٦٣ - (٣٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحِ بۡنِ الۡمُهَاجِرِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنۡ أَبِي الۡخَيۡرِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ: أَيُّ الۡإِسۡلَامِ خَيۡرٌ؟ قَالَ: (تُطۡعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقۡرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنۡ عَرَفۡتَ، وَمَنۡ لَمۡ تَعۡرِفۡ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب إطعام الطعام في الإسلام، رقم: ١٢].
63. (39). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Abu Al-Khair, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam yang manakah yang terbaik?” Nabi menjawab, “Engkau memberi makanan dan engkau menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenali dan yang tidak engkau kenal.”

Shahih Muslim hadits nomor 36

٥٩ - (٣٦) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الۡحَيَاءِ، فَقَالَ: (الۡحَيَاءُ مِنَ الۡإِيمَانِ).
59. (36). Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Amr An-Naqid, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang yang sedang menasihati saudaranya tentang sikap malu (berbuat maksiat). Lantas Nabi bersabda, “Malu adalah sebagian dari iman.”
(...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: مَرَّ بِرَجُلٍ مِنَ الۡأَنۡصَارِ يَعِظُ أَخَاهُ.
‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri melalui sanad ini. Beliau berkata: Nabi melewati seorang sahabat ansar yang sedang menasihati saudaranya.

Shahih Muslim hadits nomor 34

١١ - بَابُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ مَنۡ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالۡإِسۡلَامِ دَينًا وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا فَهُوَ مُؤۡمِنٌ وَإِنِ ارۡتَكَبَ الۡمَعَاصِي
11. Bab dalil yang menunjukkan bahwa siapa saja yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul, maka dia mukmin walaupun melakukan maksiat

٥٦ - (٣٤) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي عُمَرَ الۡمَكِّيُّ، وَبِشۡرُ بۡنُ الۡحَكَمِ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ - وَهُوَ ابۡنُ مُحَمَّدٍ - الدَّرَاوَرۡدِيُّ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ الۡهَادِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنِ الۡعَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (ذَاقَ طَعۡمَ الۡإِيمَانِ: مَنۡ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا).
56. (34). Muhammad bin Yahya bin Abu ‘Umar Al-Makki dan Bisyr bin Al-Hakam telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darwardi menceritakan kepada kami dari Yazid bin Al-Had, dari Muhammad bin Ibrahim, dari ‘Amir bin Sa’d, dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib; Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, siapa saja yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”

Shahih Muslim hadits nomor 32

٥٣ - (٣٢) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ؛ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ، وَمُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحۡلِ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (مَا مِنۡ عَبۡدٍ يَشۡهَدُ أَنَّ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُخۡبِرُ بِهَا النَّاسَ فَيَسۡتَبۡشِرُوا؟ قَالَ: (إِذًا يَتَّكِلُوا)، فَأَخۡبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنۡدَ مَوۡتِهِ، تَأَثُّمًا.
53. (32). Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Mu’adz bin Hisyam mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah. Beliau berkata: Anas bin Malik menceritakan kepada kami; Bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan Mu’adz bin Jabal di atas unta. Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hambapun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya kecuali Allah haramkan neraka baginya.” Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah aku kabarkan kepada orang-orang sehingga mereka bisa bergembira?” Nabi bersabda, “(Jangan) nanti mereka akan bersandar.” Mu’adz mengabarkan hadis ini menjelang kematiannya karena khawatir jatuh ke dalam dosa.

Shahih Muslim hadits nomor 31

٥٢ - (٣١) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ الۡحَنَفِيُّ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو كَثِيرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيۡرَةَ، قَالَ: كُنَّا قُعُودًا حَوۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، مَعَنَا أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ، فِي نَفَرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ بَيۡنِ أَظۡهُرِنَا، فَأَبۡطَأَ عَلَيۡنَا، وَخَشِينَا أَنۡ يُقۡتَطَعَ دُونَنَا، وَفَزِعۡنَا فَقُمۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَخَرَجۡتُ أَبۡتَغِي رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى أَتَيۡتُ حَائِطًا لِلۡأَنۡصَارِ لِبَنِي النَّجَّارِ، فَدُرۡتُ بِهِ هَلۡ أَجِدُ لَهُ بَابًا. فَلَمۡ أَجِدۡ، فَإِذَا رَبِيعٌ يَدۡخُلُ فِي جَوۡفِ حَائِطٍ مِنۡ بِئۡرٍ خَارِجَةٍ - وَالرَّبِيعُ الۡجَدۡوَلُ – فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، فَدَخَلۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (أَبُو هُرَيۡرَةَ؟) فَقُلۡتُ: نَعَمۡ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (مَا شَأۡنُكَ؟) قُلۡتُ: كُنۡتَ بَيۡنَ أَظۡهُرِنَا، فَقُمۡتَ فَأَبۡطَأۡتَ عَلَيۡنَا، فَخَشِينَا أَنۡ تُقۡتَطَعَ دُونَنَا، فَفَزِعۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَأَتَيۡتُ هَٰذَا الۡحَائِطَ، فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، وَهَٰؤُلَاءِ النَّاسُ وَرَائِي. فَقَالَ: (يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ) - وَأَعۡطَانِي نَعۡلَيۡهِ - قَالَ: (اذۡهَبۡ بِنَعۡلَيَّ هَاتَيۡنِ، فَمَنۡ لَقِيتَ مِنۡ وَرَاءِ هَٰذَا الۡحَائِطِ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، فَبَشِّرۡهُ بِالۡجَنَّةِ)، فَكَانَ أَوَّلَ مَنۡ لَقِيتُ عُمَرُ.
52. (31). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: ‘Umar bin Yunus Al-Hanafi menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Katsir menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Abu Hurairah menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Kami pernah duduk di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersama kami ada Abu Bakr dan ‘Umar dalam sekelompok orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit (meninggalkan) kami. Lalu beliau tidak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir beliau dicegat musuh di luar pengawasan kami. Kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku keluar mencari-cari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai aku mendatangi suatu kebun milik seorang ansar Bani An-Najjar. Aku berkeliling untuk mencari pintu masuknya, namun aku tidak menemukan. Ternyata ada sebuah sungai kecil yang masuk ke dalam tengah kebun yang berasal dari sumur di luar. Aku pun masuk dari situ dengan menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya. Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya, “Abu Hurairah kah itu?” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aku menjawab, “Engkau tadi ada di tengah-tengah kami, lalu engkau bangkit pergi dan tak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir engkau dicegat musuh di luar pengawasan kami sehingga kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku pun mendatangi kebun ini, lalu aku menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya sementara orang-orang masih berada di belakangku. Nabi bersabda, “Wahai Abu Hurairah.” Sembari Nabi memberi dua sandalnya kepadaku, beliau melanjutkan, “Pergilah membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang engkau jumpai di belakang kebun ini yang orang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka berilah kabar gembira surga kepadanya.” Orang yang pertama aku jumpai adalah ‘Umar.
فَقَالَ: مَا هَاتَانِ النَّعۡلَانِ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟ فَقُلۡتُ: هَاتَانِ نَعۡلَا رَسُولِ اللهِ ﷺ، بَعَثَنِي بِهِمَا، مَنۡ لَقِيتُ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرۡتُهُ بِالۡجَنَّةِ، فَضَرَبَ عُمَرُ بِيَدِهِ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ. فَخَرَرۡتُ لِاسۡتِي، فَقَالَ: ارۡجِعۡ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَأَجۡهَشۡتُ بُكَاءً. وَرَكِبَنِي عُمَرُ، فَإِذَا هُوَ عَلَى أَثَرِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا لَكَ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟) قُلۡتُ: لَقِيتُ عُمَرَ فَأَخۡبَرۡتُهُ بِالَّذِي بَعَثۡتَنِي بِهِ، فَضَرَبَ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ ضَرۡبَةً، خَرَرۡتُ لِاسۡتِي، قَالَ: ارۡجِعۡ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا عُمَرُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلۡتَ؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنۡتَ وَأُمِّي، أَبَعَثۡتَ أَبَا هُرَيۡرَةَ بِنَعۡلَيۡكَ، مَنۡ لَقِيَ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرَهُ بِالۡجَنَّةِ؟ قَالَ: (نَعَمۡ) قَالَ: فَلَا تَفۡعَلۡ، فَإِنِّي أَخۡشَىٰ أَنۡ يَتَّكِلَ النَّاسُ عَلَيۡهَا، فَخَلِّهِمۡ يَعۡمَلُونَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (فَخَلِّهِمۡ).
‘Umar bertanya, “Dua sandal apa ini wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Ini sepasang sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengutusku membawa ini dengan berpesan siapa saja yang aku jumpai, dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka aku memberi kabar gembira surga kepadanya.” ‘Umar lalu mendorong di antara dua dadaku dengan tangannya sehingga aku terjatuh di atas pantatku. ‘Umar mengatakan, “Kembalilah wahai Abu Hurairah.” Aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku serasa ingin menangis. ‘Umar membuntutiku. Ternyata beliau persis di belakangku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Kenapa engkau wahai Abu Hurairah.” Aku menjawab, “Aku berjumpa dengan ‘Umar lalu aku kabarkan kepadanya apa yang engkau utus aku tadi. Lalu beliau mendorong di antara dadaku dengan kuat sehingga aku terjatuh di atas pantatku. Dia berkata: Kembalilah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Umar, apa yang mendorongmu melakukan perbuatan itu?” ‘Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Apa benar engkau mengutus Abu Hurairah dengan membawa sepasang sandalmu dengan pesan siapa saja yang dia jumpai dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, lalu dia beri kabar gembira surga kepada orang itu?” Nabi menjawab, “Iya.” ‘Umar mengatakan, “Jangan engkau lakukan. Karena aku khawatir orang-orang akan bersandar padanya. Jadi biarkan saja mereka beramal.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya, biarkan mereka beramal.”

Kitab At-Tauhid - Tafsir Tauhid dan Syahadat

٥ - بَابُ تَفۡسِيرِ التَّوۡحِيدِ وَشَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
5. Bab Tafsir Tauhid dan Syahadat bahwa Tidak Ada Sesembahan yang Berhak Diibadahi kecuali Allah

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالىَ: ﴿أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورًا﴾ [الإسراء: ٥٧].
Firman Allah taala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra`: 57).
وَقَوۡلِهِ: ﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ۝٢٦ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ﴾ [الزخرف: ٢٦-٢٧].
Dan firman-Nya (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali yang telah menciptakanku karena sesungguhnya Dia yang akan memberiku petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27).
وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَـٰنَهُمۡ أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓا۟ إِلَـٰهًا وَٰحِدًا ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبۡحَـٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ﴾ [التوبة: ٣١].
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Mereka menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Demikian pula Al-Masih ‘Isa bin Maryam. Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar mereka menyembah sesembahan yang esa, yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).
وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah. Mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti cintanya kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
وَفِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (مَنۡ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ).
Di dalam kitab Shahih, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa saja yang mengucapkan: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah; dan mengingkari segala apa yang diibadahi selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga. Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah azza wajalla.”[1]
وَشَرۡحُ هَٰذِهِ التَّرۡجَمَةِ مَا بَعۡدَهَا مِنَ الۡأَبۡوَابِ.
Penjelasan bab ini ada pada bab-bab setelah ini.
فِيهِ مَسَائِلُ:
فِيهِ أَكۡبَرُ الۡمَسَائِلِ وَأَهَمُّهَا، وَهِيَ تَفۡسِيرُ التَّوۡحِيدِ، وَتَفۡسِيرُ الشَّهَادَةِ، وَبَيَّنَهَا بِأُمُورٍ وَاضِحَةٍ.
Di dalam keterangan di atas ada beberapa permasalahan:
Pada uraian di atas ada permasalahan yang terbesar dan terpenting, yaitu penjelasan tauhid dan penjelasan syahadat. Allah menerangkannya dengan perkara-perkara yang gamblang.
مِنۡهَا آيَةُ الۡإِسۡرَاءِ: بَيَّنَ فِيهَا الرَّدَّ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ الصَّالِحِينَ؛ فَفِيهَا: بَيَانُ أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ.
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Al-Isra`. Allah menjelaskan di dalam ayat tersebut bantahan terhadap orang-orang musyrik yang berdoa kepada orang-orang saleh. Sehingga di ayat tersebut ada keterangan bahwa perbuatan ini adalah syirik akbar.
وَمِنۡهَا آيَةُ بَرَاءَةَ: بَيَّنَ فِيهَا أَنَّ أَهۡلَ الۡكِتَابِ اتَّخَذُوا أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَانَهُمۡ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللهِ، وَبَيَّنَ أَنَّهُمۡ لَمۡ يُؤۡمَرُوا إِلَّا بِأَنۡ يَعۡبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا، مَعَ أَنَّ تَفۡسِيرَهَا الَّذِي لَا إِشۡكَالَ فِيهِ: طَاعَةُ الۡعُلَمَاءِ وَالۡعُبَّادِ فِي غَيۡرِ الۡمَعۡصِيَةِ، لَا دُعَاؤُهُمۡ إِيَّاهُمۡ.
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Bara`ah. Allah menjelaskan di dalam ayat tersebut bahwa ahli kitab menjadikan para alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Allah menjelaskan bahwa mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Tuhan yang Esa. Juga menjelaskan bahwa tafsirnya yang tidak ada kemuskilan padanya adalah menaati para ulama dan ahli ibadah dalam hal selain maksiat dan tidak boleh berdoa kepada mereka.
وَمِنۡهَا قَوۡلُ الۡخَلِيلِ عَلَيۡهِ السَّلَامُ لِلۡكُفَّارِ: ﴿إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ۝٢٦ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى﴾ [الزخرف: ٢٦-٢٧]، فَاسۡتَثۡنَى مِنَ الۡمَعۡبُودِينَ رَبَّهُ، وَذَكَرَ سُبۡحَانَهُ أَنَّ هَٰذِهِ الۡبَرَاءَةَ وَهَٰذِهِ الۡمُوَالَاةِ: هِيَ تَفۡسِيرُ شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ: فَقَالَ: ﴿وَجَعَلَهَا كَلِمَةًۢ بَاقِيَةً فِى عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ﴾ [الزخرف: ٢٨].
Di antaranya adalah ucapan khalil Allah ‘alaihis salam kepada orang-orang kafir, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27). Ibrahim mengecualikan Rabb-nya dari sesembahan yang lain. Allah yang Mahasuci menyebutkan bahwa berlepas diri (dari sesembahan selain Allah) dan setia kepada (Allah) adalah tafsir syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka, Allah berfirman yang artinya, “Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az-Zukhruf: 28).
وَمِنۡهَا آيَةُ الۡبَقَرَةِ فِي الۡكُفَّارِ الَّذِينَ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]؛ ذَكَرَ أَنَّهُمۡ يُحِبُّونَ أَنۡدَادَهُمۡ كَحُبِّ اللهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمۡ يُحِبُّونَ اللهَ حُبًّا عَظِيمًا وَلَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ؛ فَكَيۡفَ بِمَنۡ أَحَبَّ النِّدَّ أَكۡثَرَ مِنۡ حُبِّ اللهِ؟! فَكَيۡفَ بِمَنۡ لَمۡ يُحِبَّ إِلَّا النِّدَّ وَحۡدَهُ؟ وَلَمۡ يُحِبَّ اللهَ؟!
Di antaranya adalah ayat di dalam surah Al-Baqarah tentang orang-orang kafir yang Allah berfirman tentang mereka (yang artinya), “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). Allah menyebutkan bahwa mereka mencintai tandingan-tandingan selain Allah seperti cintanya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mencintai Allah dengan cinta yang besar namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Lalu bagaimana dengan orang yang lebih mencintai tandingan selain Allah daripada Allah?! Lalu bagaimana dengan orang yang hanya mencintai tandingan itu semata dan tidak mencintai Allah?!
وَمِنۡهَا قَوۡلُهُ ﷺ: (مَنۡ قَالَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ؛ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ)، وَهَٰذَا مِنۡ أَعۡظَمِ مَا يُبَيِّنُ مَعۡنَى (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ)، فَإِنَّهُ لَمۡ يَجۡعَلِ التَّلَفُّظَ بِهَا عَاصِمًا لِلدَّمِ وَالۡمَالِ، بَلۡ وَلَا مَعۡرِفَةَ مَعۡنَاهَا مَعَ لَفۡظِهَا، بَلۡ وَلَا الۡإِقۡرَارَ بِذٰلِكَ، بَلۡ وَلَا كَوۡنُهُ لَا يَدۡعُو إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، بَلۡ لَا يَحۡرُمُ مَالُهُ وَدَمُهُ حَتَّى يُضِيفَ إِلَى ذٰلِكَ الۡكُفۡرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ. فَإِنۡ شَكَّ أَوۡ تَوَقَّفَ لَمۡ يَحۡرُمۡ مَالُهُ وَدَمُهُ. فَيَالَهَا مِنۡ مَسۡأَلَةٍ مَا أَعۡظَمَهَا وَأَجَلَّهَا! وَيَالَهُ مِنۡ بَيَانٍ مَا أَوۡضَحَهُ! وَحُجَّةٍ مَا أَقۡطَعَهَا لِلۡمُنَازِعِ!
Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang mengucapkan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah; dan mengingkari segala yang diibadahi selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga. Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah.” Ini termasuk hadis yang paling agung yang menjelaskan makna “tidak sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah”. Yang menjadikan dia terjaga darah dan hartanya:
  • bukan karena melafalkan saja,
  • bukan pula hanya mengetahui makna dan melafalkannya saja,
  • bukan hanya menetapkan itu,
  • bukan hanya dia tidak berdoa kecuali kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Bahkan tidak terjaga harta dan darahnya sampai dia mengingkari segala yang diibadahi selain Allah. Jika dia ragu atau tidak menentukan sikap dalam masalah ini, maka harta dan darahnya tidak terlindung. Duhai, alangkah agung dan mulianya permasalahan ini. Alangkah jelasnya keterangan ini. Betapa argumen ini sangat membungkam orang yang suka mendebat. 

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3531

٣٥٣١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ أَبِي الۡخَصِيبِ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ مُبَارَكٍ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ الۡحُصَيۡنِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلۡقَةٌ مِنۡ صُفۡرٍ فَقَالَ: (مَا هَٰذِهِ الۡحَلۡقَةُ؟) قَالَ: هَٰذِهِ مِنَ الۡوَاهِنَةِ، قَالَ: (انۡزِعۡهَا، فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهۡنًا). [(الضعيفة)(١٠٢٩)، (صحيح أبي داود) تحت الحديث (٤٦٩)].
3531. ‘Ali bin Abu Al-Khashib telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Mubarak, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Al-Hushain. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki di tangannya ada sebuah gelang dari kuningan, lantas beliau bertanya, “Kalung apa ini?” Lelaki itu menjawab, “Itu karena penyakit wahinah (penyakit yang menyerang bahu sehingga menyebabkan lemas dan sulit menggerakkan lengan).” Nabi bersabda, “Lepaskan gelang itu karena gelang itu hanya menambah kelemahan kepadamu.”

Shahih Muslim hadits nomor 29

٤٧ - (٢٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ عَنِ ابۡنِ عَجۡلَانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ يَحۡيَىٰ بۡنِ حَبَّانَ، عَنِ ابۡنِ مُحَيۡرِيزٍ، عَنۡ الصُّنَابِحِيِّ، عَنۡ عُبَادَةَ بۡنِ الصَّامِتِ: أَنَّهُ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَيۡهِ وَهُوَ فِي الۡمَوۡتِ، فَبَكَيۡتُ. فَقَالَ: مَهۡلًا، لِمَ تَبۡكِي؟ فَوَاللّٰهِ، لَئِنۡ اسۡتُشۡهِدۡتُ لَأَشۡهَدَنَّ لَكَ، وَلَئِنۡ شُفِّعۡتُ لَأَشۡفَعَنَّ لَكَ، وَلَئِنۡ اسۡتَطَعۡتُ لَأَنۡفَعَنَّكَ. ثُمَّ قَالَ: وَاللهِ مَا مِنۡ حَدِيثٍ سَمِعۡتُهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَكُمۡ فِيهِ خَيۡرٌ إِلَّا حَدَّثۡتُكُمُوهُ، إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا. وَسَوۡفَ أُحَدِّثُكُمُوهُ الۡيَوۡمَ، وَقَدۡ اُحِيطَ بِنَفۡسِي. سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ شَهِدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، حَرَّمَ اللهُ عَلَيۡهِ النَّارَ).
47. (29). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Ibnu Muhairiz, dari Ash-Shunabihi, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit. Bahwa Ash-Shunabihi berkata: Aku masuk menemui ‘Ubadah menjelang kematiannya, lalu aku menangis. ‘Ubadah mengatakan: Tenanglah, mengapa engkau menangis? Demi Allah, jika engkau meminta persaksianku, niscaya aku akan mempersaksikan (kebaikan) untukmu. Jika aku diizinkan untuk memberi syafaat, niscaya aku akan memberi syafaat kepadamu. Jika aku diberi kemampuan, niscaya aku akan memberi kemanfaatan kepadamu. Kemudian ‘Ubadah mengatakan: Demi Allah, tidak ada satu hadispun yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada kebaikan untuk kalian kecuali sudah aku ceritakan kepada kalian, kecuali satu hadis. Aku akan menceritakannya kepada kalian pada hari ini karena aku telah dekat dengan kematian. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan haramkan neraka baginya.”

Shahih Muslim hadits nomor 27

٤٤ - (٢٧) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ النَّضۡرِ بۡنِ أَبِي النَّضۡرِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو النَّضۡرِ هَاشِمُ بۡنُ الۡقَاسِمِ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ الۡأَشۡجَعِيُّ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ مِغۡوَلٍ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ مُصَرِّفٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي مَسِيرٍ، قَالَ: فَنَفِدَتۡ أَزۡوَادُ الۡقَوۡمِ، قَالَ: حَتَّى هَمَّ بِنَحۡرِ بَعۡضِ حَمَائِلِهِمۡ، قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ جَمَعۡتَ مَا بَقِيَ مِنۡ أَزۡوَادِ الۡقَوۡمِ، فَدَعَوۡتَ اللهَ عَلَيۡهَا، قَالَ فَفَعَلَ. قَالَ: فَجَاءَ ذُو الۡبُرِّ بِبُرِّهِ. وَذُو التَّمۡرِ بِتَمۡرِهِ. قَالَ - وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَذُو النَّوَاةِ بِنَوَاهُ - قُلۡتُ: وَمَا كَانُوا يَصۡنَعُونَ بِالنَّوَى؟ قَالَ: كَانُوا يَمُصُّونَهُ وَيَشۡرَبُونَ عَلَيۡهِ الۡمَاءَ، قَالَ: فَدَعَا عَلَيۡهَا حَتَّى مَلَأَ الۡقَوۡمُ أَزۡوِدَتَهُمۡ، قَالَ: فَقَالَ عِنۡدَ ذٰلِكَ: (أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لَا يَلۡقَى اللهَ بِهِمَا عَبۡدٌ، غَيۡرَ شَاكٍّ فِيهِمَا، إِلَّا دَخَلَ الۡجَنَّةَ).
44. (27). Abu Bakr bin An-Nadhr bin Abu An-Nadhr telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah Al-Asyja’i menceritakan kepada kami dari Malik bin Mighwal, dari Thalhah bin Musharrif, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu perjalanan. Abu Hurairah berkata: Perbekalan orang-orang telah habis. Abu Hurairah berkata: Sampai mereka berkeinginan untuk menyembelih sebagian unta pengangkut barang. Abu Hurairah berkata: ‘Umar mengatakan: Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengumpulkan sisa perbekalan orang-orang, lalu engkau mendoakannya kepada Allah. Abu Hurairah berkata: Nabi melakukannya. Abu Hurairah berkata: Orang yang punya gandum datang membawa gandumnya. Orang yang punya kurma datang membawa kurmanya. Beliau berkata—Mujahid berkata: Dan orang yang punya biji buah membawa biji buahnya—Aku bertanya: Apa yang bisa mereka perbuat dengan biji buah? Dahulu mereka biasa mengisapnya dan meminum air di atasnya. Abu Hurairah berkata: Nabi mendoakannya sehingga orang-orang bisa memenuhi perbekalan mereka. Abu Hurairah berkata: Lalu Nabi bersabda setelah itu, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba pun yang berjumpa Allah dengan dua persaksian ini dalam keadaan tidak ragu terhadapnya, kecuali ia akan masuk surga.”
٤٥ - (...) - حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ عُثۡمَانَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، جَمِيعًا عَنۡ أَبِي مُعَاوِيَةَ، قَالَ أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَوۡ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ - شَكَّ الۡأَعۡمَشُ - قَالَ: لَمَّا كَانَ غَزۡوَةُ تَبُوكَ، أَصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ أَذِنۡتَ لَنَا فَنَحَرۡنَا نَوَاضِحَنَا فَأَكَلۡنَا وَادَّهَنَّا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (افۡعَلُوا). قَالَ: فَجَاءَ عُمَرُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنۡ فَعَلۡتَ قَلَّ الظَّهۡرُ، وَلَكِنِ ادۡعُهُمۡ بِفَضۡلِ أَزۡوَادِهِمۡ، ثُمَّ ادۡعُ اللهَ لَهُمۡ عَلَيۡهَا بِالۡبَرَكَةِ، لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَ فِي ذٰلِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَعَمۡ). قَالَ: فَدَعَا بِنِطَعٍ فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفَضۡلِ أَزۡوَادِهِمۡ، قَالَ: فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ، قَالَ: وَيَجِيءُ الۡآخَرُ بِكَفِّ تَمۡرٍ. قَالَ: وَيَجِيءُ الۡآخَرُ بِكَسۡرَةٍ، حَتَّى اجۡتَمَعَ عَلَى النِّطَعِ مِنۡ ذٰلِكَ شَيۡءٌ يَسِيرٌ، قَالَ: فَدَعَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَيۡهِ بِالۡبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: (خُذُوا فِي أَوۡعِيَتِكُمۡ). قَالَ: فَأَخَذُوا فِي أَوۡعِيَتِهِمۡ، حَتَّى مَا تَرَكُوا فِي الۡعَسۡكَرِ وِعَاءً إِلَّا مَلَأُوهُ، قَالَ: فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا. وَفَضَلَتۡ فَضۡلَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لَا يَلۡقَى اللهَ بِهِمَا عَبۡدٌ، غَيۡرَ شَاكٍّ، فَيُحۡجَبَ عَنِ الۡجَنَّةِ).
45. Sahl bin ‘Utsman dan Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Abu Mu’awiyah. Abu Kuraib berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau dari Abu Sa’id—Al-A’masy ragu—, beliau mengatakan: Ketika perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, andai engkau izinkan kami menyembelih unta-unta kami sehingga kami bisa makan dan membuat lemak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah!” Perawi berkata: ‘Umar datang seraya berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau lakukan itu, niscaya tunggangan menjadi sedikit. Tetapi, panggillah mereka dengan membawa sisa bekal mereka kemudian berdoalah keberkahan untuk mereka kepada Allah. Semoga Allah menjadikan berkah pada sisa bekal mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya.” Perawi berkata: Lalu beliau minta agar dibentangkan hamparan dari kulit binatang kemudian beliau minta didatangkan sisa bekal mereka. Perawi berkata: Lalu ada orang yang datang membawa segenggam jagung. Perawi berkata: Yang lain datang membawa segenggam kurma. Perawi berkata: Yang lain datang membawa remah-remah. Sampai sedikit makanan terkumpul di atas hamparan itu. Perawi berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan makanan tersebut kemudian bersabda, “Kalian ambil ke dalam karung-karung kalian.” Perawi berkata: Mereka mengambil ke dalam karung-karung mereka sampai mereka tidak meninggalkan dalam pasukan itu satu karung pun kecuali mereka penuhi. Perawi berkata: Lalu mereka makan sampai kenyang, sementara masih ada sisa makanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hambapun berjumpa Allah dengan dua persaksian ini dalam keadaan tidak ragu lalu ia akan dihalangi dari surga.”

Shahih Muslim hadits nomor 2406

٣٤ - (٢٤٠٦) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ، يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ - وَاللَّفۡظُ هَٰذَا -: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ، يَعۡنِي ابۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ: أَخۡبَرَنِي سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ يَوۡمَ خَيۡبَرَ: (لَأُعۡطِيَنَّ هَٰذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يَفۡتَحُ اللهُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ، يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ)، قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيۡلَتَهُمۡ أَيُّهُمۡ يُعۡطَاهَا. قَالَ: فَلَمَّا أَصۡبَحَ النَّاسُ غَدَوۡا عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ. كُلُّهُمۡ يَرۡجُونَ أَنۡ يُعۡطَاهَا. فَقَالَ: (أَيۡنَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ؟) فَقَالُوا: هُوَ، يَا رَسُولَ اللهِ، يَشۡتَكِي عَيۡنَيۡهِ. قَالَ فَأَرۡسِلُوا إِلَيۡهِ. فَأُتِيَ بِهِ، فَبَصَقَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي عَيۡنَيۡهِ. وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ، حَتَّىٰ كَأَنۡ لَمۡ يَكُنۡ بِهِ وَجَعٌ. فَأَعۡطَاهُ الرَّايَةَ. فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُقَاتِلُهُمۡ حَتَّىٰ يَكُونُوا مِثۡلَنَا. فَقَالَ: (انۡفُذۡ عَلَىٰ رِسۡلِكَ، حَتَّىٰ تَنۡزِلَ بِسَاحَتِهِمۡ، ثُمَّ ادۡعُهُمۡ إِلَى الۡإِسۡلَامِ، وَأَخۡبِرۡهُمۡ بِمَا يَجِبُ عَلَيۡهِمۡ مِنۡ حَقِّ اللهِ فِيهِ. فَوَاللّٰهِ، لَأَنۡ يَهۡدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيۡرٌ لَكَ مِنۡ أَنۡ يَكُونَ لَكَ حُمۡرُ النَّعَمِ).
2406. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami—dan lafal hadisnya adalah ini—: Ya’qub bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Abu Hazim: Sahl bin Sa’d mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Khaibar, “Aku sungguh akan memberikan panji ini kepada seorang pria yang Allah akan memberi kemenangan melalui kedua tangannya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”
Sahl berkata: Orang-orang melalui malam mereka dalam keadaan bertanya-tanya, siapa di antara mereka yang akan diberi panji itu. Sahl berkata: Ketika waktu subuh, orang-orang berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua berharap agar diberi panji itu.
Nabi bertanya, “Di mana ‘Ali bin Abu Thalib?”
Orang-orang menjawab, “Dia, wahai Rasulullah, sedang sakit kedua matanya.”
Sahl berkata: Mereka diutus kepada ‘Ali, lalu ‘Ali didatangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludah di kedua mata ‘Ali dan mendoakannya. ‘Ali sembuh sampai seakan-akan belum pernah sakit. Nabi memberikan panji itu kepada ‘Ali.
‘Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku perangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?”
Nabi bersabda, “Majulah dengan perlahan, sampai ketika engkau singgah di halaman mereka, ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kewajiban bagi mereka dari hak Allah dalam Islam. Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau adalah lebih baik untukmu daripada engkau memiliki unta-unta merah.”

Al-Ishabah - 3529. Sahl bin Sa'd As-Sa'idi

٣٥٢٩ - سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ خَالِدِ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ حَارِثَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ سَاعِدَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ السَّاعِدِيُّ.
3529. Sahl bin Sa’d bin Malik bin Khalid bin Tsa’labah bin Haritshah bin ‘Amr bin Al-Khazraj bin Sa’idah Al-Anshari As-Sa’idi

مِنۡ مَشَاهِيرِ الصَّحَابَةِ، يُقَالُ: كَانَ اسۡمُهُ حَزۡنًا فَغَيَّرَهُ النَّبِيُّ ﷺ، حَكَاهُ ابۡنُ حِبَّانَ.
Termasuk sahabat yang masyhur. Ada yang berkata: Dahulu namanya Hazn, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah namanya. Ini dikisahkan oleh Ibnu Hibban.
وَرَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَعَنۡ أُبَيٍّ، وَعَاصِمِ بۡنِ عَدِيٍّ، وَعَمۡرِو بۡنِ عَنۡبَسَةَ. وَرَوَى عَنۡ مَرۡوَانَ، وَمَرۡوَانُ أَصۡغَرُ مِنۡهُ.
Beliau meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ubayy, ‘Ashim bin ‘Adi, dan ‘Amr bin ‘Anbasah. Beliau meriwayatkan pula dari Marwan, padahal Marwan lebih muda daripada beliau.
رَوَى عَنۡهُ ابۡنُهُ الۡعَبَّاسُ، وَأَبُو حَازِمٍ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَآخَرُونَ.
Yang meriwayatkan dari beliau adalah putranya yaitu Al-‘Abbas, Abu Hazim, Az-Zuhri, dan lain-lain.
قَالَ الزُّهۡرِيُّ: مَاتَ النَّبِيُّ ﷺ، وَهُوَ ابۡنُ خَمۡسَ عَشۡرَةَ سَنَةً، وَهُوَ آخِرُ مَنۡ مَاتَ بِالۡمَدِينَةِ، مِنَ الصَّحَابَةِ، مَاتَ سَنَةَ إِحۡدَى وَتِسۡعِينَ، وَقِيلَ قَبۡلَ ذٰلِكَ، قَالَ الۡوَاقِدِيُّ: عَاشَ مِائَةَ سَنَةً، وَكَذَا قَالَ أَبُو حَاتِمٍ، وَزَادَ: أَوۡ أَكۡثَرَ، وَقِيلَ: سِتًّا وَتِسۡعِينَ، وَزَعَمَ ابۡنُ أَبِي دَاوُدَ: إِنَّهُ مَاتَ بِالۡإِسۡكَنۡدَرِيَّةِ، وَرُوِيَ عَنۡ قَتَادَةَ: أَنَّهُ مَاتَ بِمِصۡرَ، وَيَحۡتَمِلُ أَنۡ يَكُونَ وَهَمًا، وَالصَّوَابُ أَنَّ ذٰلِكَ ابۡنُهُ الۡعَبَّاسُ.
Az-Zuhri berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal ketika Sahl berumur lima belas tahun. Beliau sahabat terakhir yang meninggal di Madinah. Beliau meninggal tahun 91 H. Ada yang berkata sebelum itu. Al-Waqidi berkata: Beliau hidup selama seratus tahun. Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Hatim dan beliau menambahkan: atau lebih. Ada yang berkata: Sembilan puluh enam tahun. Ibnu Abu Dawud menyatakan bahwa Sahl meninggal di Iskandariyah. Diriwayatkan dari Qatadah bahwa beliau meninggal di Mesir. Bisa jadi ini adalah waham (kekeliruan) dan yang benar bahwa yang meninggal itu adalah putra Sahl yaitu Al-‘Abbas.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2756

٢٧٥٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بۡنُ مَنۡظُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غَدۡوَةٌ أَوۡ رَوۡحَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيۡرٌ مِنَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا). [(الإرواء) أَيضًا: ق].
2756. Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Zakariyya bin Manzhur menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Hazim menceritakan kepada kami dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menempuh perjalanan di pagi atau sore hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia beserta isinya.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1648

١٧ - بَابُ مَا جَاءَ فِي فَضۡلِ الغُدُوِّ وَالرَّوَاحِ فِي سَبِيلِ اللهِ
17. Bab tentang keutamaan menempuh perjalanan di pagi dan sore hari di jalan Allah

١٦٤٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡعَطَّافُ بۡنُ خَالِدٍ الۡمَخۡزُومِيُّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غَدۡوَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيۡرٌ مِنَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا، وَمَوۡضِعُ سَوۡطٍ فِي الجَنَّةِ خَيۡرٌ مِنَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَابۡنِ عَبَّاسٍ، وَأَبِي أَيُّوبَ، وَأَنَسٍ. وَهَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(ابن ماجه)(٢٧٥٦): ق].
1648. Qutaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-‘Aththaf bin Khalid Al-Makhzumi menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menempuh perjalanan di pagi hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia beserta isinya dan sebuah tempat cambuk di surga lebih baik daripada dunia beserta isinya.” Di dalam bab ini ada riwayat dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas, Abu Ayyub, dan Anas. Ini adalah hadis hasan sahih.

Usdul Ghabah - 2295. Sahl bin Sa'd

٢٢٩٥ - سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدٍ
2295. Sahl bin Sa’d

ب د ع: سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ مَالِكِ بۡن خَالِدِ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ حَارِثَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ سَاعِدَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ السَّاعِدِيُّ. وَقَالَ الۡعدويُّ فِي نَسَبِهِ: سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ مَالِكِ بۡن خَالِدٍ، وَهَٰذَا يُؤَيِّدُ قَوۡلَ أَبِي عُمَرَ فِي ثَعۡلَبَةَ بۡنِ سَعۡدٍ، فَإِنَّهُ قَالَ فِيهِ: عَمُّ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ، يُكۡنَى سَهۡلٌ: أَبَا الۡعَبَّاسِ، وَقِيلَ: أَبُو يَحۡيَى.
Sahl bin Sa’d bin Malik bin Khalid bin Tsa’labah bin Haritsah bin ‘Amr bin Al-Khazraj bin Sa’idah bin Ka’b bin Al-Khazraj Al-Anshari As-Sa’idi. Al-‘Adawi berkata di dalam nasab beliau: Sahl bin Sa’d bin Sa’d bin Malik bin Khalid. Ini menguatkan pendapat Abu ‘Umar tentang Tsa’labah bin Sa’d karena Abu ‘Umar berkata tentangnya: Paman Sahl bin Sa’d. Sahl mempunyai nama kunyah Abu Al-‘Abbas. Ada yang mengatakan: Abu Yahya.
وَشَهِدَ قَضَاءَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الۡمُتَلَاعِنَيۡنِ، وَأَنَّهُ فَرَّقَ بَيۡنَهُمَا، وَكَانَ اسۡمُهُ حَزۡنًا فَسَمَّاهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ سَهۡلًا، قَالَ الزُّهۡرِيُّ: رَأَى سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدٍ النَّبِيَّ ﷺ وَسَمِعَ مِنۡهُ، وَذَكَرَ أَنَّهُ كَانَ لَهُ يَوۡمَ تُوُفِّيَ النَّبِيُّ ﷺ خَمۡسَ عَشۡرَةَ سَنَةً.
Beliau menyaksikan penetapan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sepasang suami istri yang saling melaknat (lian) dan bahwa beliau memisahkan keduanya. Dahulu, dia bernama Hazn, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya nama Sahl. Az-Zuhri berkata: Sahl bin Sa’d melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengar dari beliau. Beliau menyebutkan bahwa pada hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sahl berumur lima belas tahun.
وَعَاشَ سَهۡلٌ وَطَالَ عُمۡرُهُ، حَتَّى أَدۡرَكَ الۡحَجَّاجَ بۡنَ يُوسُفَ، وَامۡتُحِنَ مَعَهُ، أَرۡسَلَ الۡحَجَّاجُ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَسَبۡعِينَ إِلَى سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ، رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَقَالَ لَهُ: مَا مَنَعَكَ مِنۡ نَصۡرِ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ عُثۡمَانَ؟ قَالَ: قَدۡ فَعَلۡتُهُ، قَالَ: كَذَبۡتَ، ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَخَتَمَ فِي عُنُقِهِ، وَخَتَمَ أَيۡضًا فِي عُنُقِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، حَتَّى وَرَدَ عَلَيۡهِ كِتَابُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ مَرۡوَانَ فِيهِ، وَخَتَمَ فِي يَدِ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ؛ يُرِيدُ إِذۡلَالَهُمۡ بِذٰلِكَ، وَأَنۡ يَجۡتَنِبَهُمُ النَّاسَ، وَلَا يَسۡمَعُوا مِنۡهُمۡ.
Sahl hidup dan panjang umurnya sampai beliau menjumpai masa Al-Hajjaj bin Yusuf. Beliau diuji bersamanya. Al-Hajjaj mengutus utusan pada tahun 74 H kepada Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu. Al-Hajjaj bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu dari menolong amirulmukminin ‘Utsman?” Sahl menjawab, “Aku telah melakukannya.” Al-Hajjaj berkata, “Engkau dusta.” Kemudian Al-Hajjaj memerintahkan agar memberi tanda pada leher Sahl. Dia juga memberi tanda pada leher Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sampai datang kitab ‘Abdul Malik bin Marwan kepadanya tentang itu. Dia juga memberi tanda pada tangan Jabir bin ‘Abdullah. Dia ingin untuk menghinakan mereka dengan cara itu dan menjauhkan mereka dari manusia agar mereka tidak mendengar dari mereka.
وَرَوَى عَنۡ سَهۡلٍ أَبُو هُرَيۡرَةَ وَسَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَأَبُو حَازِمٍ، وَابۡنُهُ عَبَّاسُ بۡنُ سَهۡلٍ، وَغَيۡرُهُمۡ.
Yang meriwayatkan dari Sahl adalah Abu Hurairah, Sa’id bin Al-Musayyab, Az-Zuhri, Abu Hazim, anaknya yaitu ‘Abbas bin Sahl, dan selain mereka.
أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ مِهۡرَانَ، وَغَيۡرُ وَاحِدٍ، قَالُوا، بِإِسۡنَادِهِمۡ، عن أَبِي عِيسَى التِّرۡمِذِيِّ، أَخۡبَرَنَا قُتَيۡبَةُ، حَدَّثَنَا الۡعَطَّافُ بۡنُ خَالِدٍ الۡمَخۡزُومِيُّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غُدۡوَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيۡرٌ مِنَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا، وَمَوۡضِعُ سَوۡطٍ، فِي الۡجَنَّةِ خَيۡرٌ مِنَ الدُّنۡيَا وَمَا فِيهَا).
Ibrahim bin Muhammad bin Mihran dan lebih dari satu orang telah mengabarkan kepada kami. Mereka berkata melalui sanad mereka, dari Abu ‘Isa At-Tirmidzi. Qutaibah mengabarkan kepada kami: Al-‘Aththaf bin Khalid Al-Makhzumi menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menempuh perjalanan di pagi hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia beserta isinya. Dan sebuah tempat cemeti di surga lebih baik daripada dunia beserta isinya.”[1]
وَتُوُفِّيَ سَهۡلٌ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَمَانِينَ، وَهُوَ ابۡنُ سِتِّ وَتِسۡعِينَ سَنَةً، وَقِيلَ: تُوُفِّيَ سَنَةَ إِحۡدَى وَتِسۡعِينَ، وَقَدۡ بَلَغَ مِائَةَ سَنَةً، وَيُقَالُ: إِنَّهُ آخِرُ مَنۡ بَقِيَ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ بِالۡمَدِينَةِ.
Sahl wafat tahun 88 H ketika beliau berumur 96 tahun. Ada yang berkata: Beliau wafat tahun 91 H dan beliau telah mencapai umur 100 tahun. Ada pula yang berkata bahwa Sahl adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling akhir tersisa di Madinah.
قَالَ أَبُو حَازِمٍ: سَمِعۡتُ سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ، يَقُولُ: لَوۡ مِتُّ لَمۡ تَسۡمَعُوا مِنۡ أَحَدٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
Abu Hazim berkata: Aku mendengar Sahl bin Sa’d mengatakan: Andai aku meninggal, kalian tidak lagi mendengar dari seorang pun yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
وَكَانَ يُصَفِّرُ لِحۡيَتَهُ.
Beliau dahulu mewarnai kuning jenggot putihnya.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1648.

Usdul Ghabah - 180. Al-Asyajj Al-'Abdi

١٨٠ - الۡأَشَجُّ الۡعَبۡدِي
180. Al-Asyajj Al-‘Abdi

ب د ع: الۡأَشَجُّ الۡعَبۡدِيُّ، وَاسۡمُهُ: الۡمُنۡذِرُ بۡنُ الۡحَارِثِ بۡنِ زِيَادِ بۡنِ عَصَرِ بۡن عَوۡفِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ جَذِيمَةَ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ أَنۡمَارِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ وَدِيعَةَ بۡنِ لُكَيۡزِ بۡنِ أَفۡصَى بۡنِ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ بۡنِ أَفۡصَى بۡنِ دُعۡمِيِّ بۡنِ جَدِيلَةَ بۡنِ أَسَدِ ابۡنِ رَبِيعَةَ بۡنِ نَزَارِ بۡنِ مَعۡدِ بۡنِ عَدۡنَانَ الۡعَبۡدِيُّ الۡعَصَرِيُّ، قَالَهُ ابۡنُ الۡكَلۡبِي، وَقِيلَ فِي نَسَبِهِ غَيۡرُ ذٰلِكَ، وَيُذۡكَرُ فِي الۡمُنۡذِرِ بۡنِ عَائِذٍ، إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Al-Asyajj Al-‘Abdi. Namanya adalah Al-Mundzir bin Al-Harits bin Ziyad bin ‘Ashar bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin Jadzimah bin ‘Auf bin Anmar bin ‘Amr bin Wadi’ah bin Lukaiz bin Afsha bin ‘Abdul Qais bin Afsah bin Dum’i bin Jadilah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazar bin Ma’d bin ‘Adnan Al-‘Abdi Al-‘Ashari. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Al-Kalbi. Juga ada yang mengatakan selain itu tentang nasabnya. Akan disebutkan di Al-Mundzir bin ‘A`idz insya Allah.
وُفِدَ إِلَى النَّبِيّ ﷺ فِي وَفۡدِ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ.
Beliau diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama utusan ‘Abdul Qais.
أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡفَضۡلِ الۡمَنۡصُورُ بۡنُ أَبِي الۡحَسَنِ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ اللهِ الطَّبَرِيُّ الدِّينِيُّ الۡمَخۡزُومِيُّ الۡفَقِيهُ الشَّافِعِيُّ، بِإِسۡنَادِهِ إِلَى أَبِي يَعۡلَى أَحۡمَدَ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ الۡمُثَنَّى، قَالَ: قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ، أَخۡبَرَنَا هُشَيۡمٌ، أَخۡبَرَنَا يُونُسُ بۡنُ عُبَيۡدٍ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرَةَ، عَنِ الۡأَشَجِّ، أَشَجُّ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ فِيكَ لَخَلَّتَيۡنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ)، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا هُمَا؟ قَالَ: (الۡحِلۡمُ وَالۡأَنَاةُ، أَوِ الۡحِلۡمُ وَالۡحَيَاءُ) قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ كَانَا فِيَّ أَمۡ حَدِيثٌ؟ قَالَ: (بَلۡ قَدِيمٌ) قَالَ: قُلۡتُ: الۡحَمۡدُ لِلهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خَلَّتَيۡنِ يُحِبُّهُمَا.
Abu Al-Fadhl Al-Manshur bin Abu Al-Hasan bin Abu ‘Abdullah Ath-Thabari Ad-Dini Al-Makhzumi Al-Faqih Asy-Syafi’i telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya kepada Abu Ya’la Ahmad bin ‘Ali bin Al-Mutsanna. Beliau berkata: Beliau berkata: Muhammad bin Ash-Shabbah menceritakan kepada kami: Husyaim mengabarkan kepada kami: Yunus bin ‘Ubaid mengabarkan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari Al-Asyajj, Asyajj ‘Abdul Qais. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang Allah cintai.” Al-Asyajj bertanya, “Wahai Rasulullah, apa dua perangai tersebut?” Nabi menjawab, “Berakal dan tidak tergesa-gesa atau berakal dan rasa malu.” Al-Asyajj berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kedua perangai itu sudah ada sejak dulu pada diriku atau baru saja?” Nabi menjawab, “Bahkan sudah lama ada.” Al-Asyajj berkata: Aku berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan aku memiliki dua tabiat yang Dia cintai.”
أَخۡرَجَهُ ثَلَاثَتُهُمۡ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

Usdul Ghabah - 3738. ‘Ukkasyah bin Mihshan

٣٧٣٨ - عُكَّاشَةُ بۡنُ مِحۡصَنٍ
3738. ‘Ukkasyah bin Mihshan

ب د ع: عُكَّاشَةُ بنُ مِحۡصَنِ بۡنِ حُرۡثَانَ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ مُرَّةَ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ غَنۡمِ بۡنِ دُودَانَ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ خُزَيۡمَةَ الۡأَسَدِيُّ. حَلِيفُ بَنِي عَبۡدِ شَمۡسٍ، يُكۡنَى أَبَا مِحۡصَنٍ.
‘Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais bin Murrah bin Katsir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah Al-Asadi. (Bani Asad bin Khuzaimah) adalah sekutu Bani ‘Abdu Syams. Dipanggil dengan Abu Mihshan.
كَانَ مِنۡ سَادَاتِ الصَّحَابَةِ وَفُضَلَائِهِمۡ. هَاجَرَ إِلَى الۡمَدِينَةِ، وَشَهِدَ بَدۡرًا وَأَبۡلَى فِيهَا بَلَاءً حَسَنًا، وَانۡكَسَرَ فِي يَدِهِ سَيۡفٌ، فَأَعۡطَاهُ رُسُولُ اللهِ ﷺ عُرۡجُونًا - أَو: عُودًا - فَعَادَ فِي يَدِهِ سَيۡفًا يَوۡمَئِذٍ شَدِيدَ الۡمَتۡنِ، أَبۡيَضَ اۡلَحدِيدَةِ، فَقَاتَلَ بِهِ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رَسُولِهِ ﷺ، ثُمَّ لَمۡ يَزَلۡ عِنۡدَهُ يَشۡهَدُ بِهِ الۡمَشَاهِدَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ حَتَّى قُتِلَ فِي الرِّدَّةِ وَهُوَ عِنۡدَهُ، وَكَانَ ذٰلِكَ السَّيۡفُ يُسَمَّى الۡعَوۡنَ.
Beliau termasuk tokoh sahabat dan sahabat yang memiliki keutamaan. Beliau ikut hijrah ke Madinah dan mengikuti perang Badr. Di dalam perang Badr tersebut, beliau memperlihatkan kekuatan dan keberaniannya. Sampai patahlah sebuah pedang di tangannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebatang tangkai pohon atau kayu kepadanya. Ternyata kayu di tangannya itu berubah menjadi sebilah pedang yang sangat kuat dan berbahan besi berwarna putih keperakan. Beliau berperang menggunakannya sampai Allah azza wajalla berikan kemenangan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ‘Ukkasyah senantiasa membawa pedang tersebut mengikuti peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai terbunuh dalam perang Riddah dalam keadaan pedang itu berada di sisinya. Pedang itu diberi nama pedang ‘Aun.
وَشَهِدَ أُحُدًا، وَالۡخَنۡدَقَ، وَالۡمَشَاهِدَ كُلَّهَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّهُ مِمَّنۡ يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ بِغَيۡر حسَابٍ.
Beliau mengikuti perang Uhud, Khandaq, dan semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepadanya bahwa dia termasuk orang yang masuk surga tanpa hisab.
وَقُتِلَ فِي قِتَالِ أَهۡلِ الرِّدَّةِ، فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكۡرٍ؛ قَتَلَهُ طُلَيۡحَةُ بۡنُ خُوَيۡلِدٍ الۡأَسَدِيُّ الَّذِي ادَّعَى النُّبُوَّةَ، قُتِلَ هُوَ وَثَابِتُ بۡنُ أَقۡرَمَ يَوۡمَ (بُزَاخَةَ). هَٰذَا قَوۡلُ أَهۡلِ السِّيَرِ وَالتَّوَارِيخِ.
Beliau terbunuh dalam perang menghadapi orang-orang yang murtad pada masa kekhalifahan Abu Bakr. Beliau dibunuh oleh Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi yang mengaku nabi. Beliau dan Tsabit bin Aqram terbunuh pada hari perang Buzakhah. Ini adalah pendapat para ahli sejarah dan tarikh.
وَقَالَ سُلَيۡمَانُ التَّيۡمِيُّ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعَثَ سَرِيَّةً إِلَى بَنِي أَسَدٍ، فَقَتَلَهُ طُلَيۡحَةُ بۡنُ خُوَيۡلِدٍ، وَقَتَلَ ثَابِتَ بۡنَ أَقۡرَم.
وَهُوَ وَهۡمٌ، وَإِنَّمَا قَالَهُ لِقُرۡبِ الۡحَادِثَةِ مِنۡ عَهۡدِ الرَّسُولِ ﷺ. وَكَانَ عُكَّاشَةُ يَوۡمَ تُوُفِّيَ النَّبِيُّ ﷺ ابۡنَ أَرۡبَعٍ وَأَرۡبَعِينَ سَنَةً، وَكَانَ مِنۡ أَجۡمَلِ الرِّجَالِ.
Sulaiman At-Taimi berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus suatu rombongan pasukan menuju Bani Asad, lalu Thulaihah bin Khuwailid membunuh ‘Ukkasyah dan juga membunuh Tsabit bin Aqram. Namun pendapat ini keliru. Beliau berpendapat demikian karena dekatnya waktu peristiwa ini dengan masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ‘Ukkasyah berumur 44 tahun dan beliau termasuk pria yang baik rupanya.
رَوَى عَنۡهُ أَبُو هُرَيۡرَةَ وَابۡنُ عَبَّاسٍ.
Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas meriwayatkan darinya.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).
عُكَّاشَةُ بِتَخۡفِيفِ الۡكَافِ وَتَشۡدِيدِهَا، وَحُرۡثَانُ: بِضَمِّ الۡحَاءِ الۡمُهۡمَلَةِ، وَسُكُونِ الرَّاءِ، وَبِالثَّاءِ، الۡمُثَلَّثَةِ، وَبَعۡدَ الۡأَلِفِ نُونٌ.
‘Ukkasyah bisa dengan huruf kaf tanpa tasydid, bisa pula dengan tasydid. Hurtsan dengan mendamah huruf ha tanpa titik, huruf ra disukun, huruf tsa dengan titik tiga, dan huruf nun setelah huruf alif.

Usdul Ghabah - 4592. Malik bin Ad-Dukhsyum

٤٥٩٢ - مَالِكُ بۡنُ الدُّخۡشُمِ
4592. Malik bin Ad-Dukhsyum

ب د ع: مَالِكُ بۡنُ الدُّخۡشُمِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ غَنۡمِ بۡنِ عَوۡفِ بۡن عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ.
وَقِيلَ: مَالِكُ بۡنُ الدُّخۡشُمِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الدُّخۡشُمِ بۡنِ مَرۡضَخَةَ بۡنِ غَنۡمٍ.
Malik bin Ad-Dukhsyum bin Malik bin Ghanm bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf. Ada yang mengatakan: Malik bin Ad-Dukhsyum bin Malik bin Ad-Dukhsyum bin Mardhakhah bin Ghanm.
شَهِدَ الۡعَقَبَةَ فِي قَوۡلِ ابۡنِ إِسۡحَاقَ، وَمُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، وَالۡوَاقِدِيِّ.
وَقَالَ أَبُو مَعۡشَرٍ: لَمۡ يَشۡهَدۡ مَالِكٌ الۡعَقَبَةَ. وَقَدۡ رُوِيَ عَنِ الۡوَاقِدِيِّ أَيۡضًا أَنَّهُ لَمۡ يَشۡهَدۡهَا.
Beliau mengikuti baiat ‘Aqabah menurut pendapat Ibnu Ishaq, Musa bin ‘Uqbah, dan Al-Waqidi. Abu Ma’syar berkata: Malik tidak mengikuti baiat ‘Aqabah. Diriwayatkan pula dari Al-Waqidi bahwa beliau tidak mengikutinya.
وَشَهِدَ بَدۡرًا فِي قَوۡلِ الۡجَمِيعِ، وَهُوَ الَّذِي أَسَرَّ يَوۡمَ بَدۡرٍ سُهَيۡلَ بۡنَ عَمۡرٍو. وَكَانَ يُتَّهَمُ بِالنِّفَاقِ.
Beliau mengikuti perang Badr menurut seluruh pendapat. Beliau adalah orang yang menyembunyikan Suhail bin ‘Amr pada perang Badr dan beliau dituduh dengan kemunafikan.
وَهُوَ الَّذِي قَالَ فِيهِ عِتۡبَانُ بۡنُ مَالِكٍ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: إِنَّهُ مُنَافِقٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَلَيۡسَ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟) فَقَالَ: بَلَى، وَلَا شَهَادَةَ لَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَلَيۡسَ يُصَلِّي؟) قَالَ: بَلَى، وَلَا صَلَاةَ لَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَهَانِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ).
وَلَا يَصِحُّ عَنۡهُ النِّفَاقُ، وَقَدۡ ظَهَرَ مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِهِ مَا يَمۡنَعُ مِنَ اتِّهَامِهِ.
Beliaulah yang dikatakan oleh ‘Itban bin Malik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwa dia itu munafik. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah dia sudah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah?” Lalu dia berkata: Memang benar, tetapi tidak ada syahadat baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah dia salat?” Dia berkata: Memang benar, tetapi tidak ada salat baginya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka ini orang-orang yang Allah telah melarangku dari (membunuh) mereka.”
Dan tidak benar ada kemunafikan dari diri beliau, bahkan telah nyata kebaikan keislamannya, yang menepis tuduhan terhadap beliau.
وَهُوَ الَّذِي أَرۡسَلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَحۡرَقَ مَسۡجِدَ الضِّرَارِ هُوَ وَمَعۡنُ بۡنُ عَدِيٍّ.
Beliau adalah orang yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membakar masjid dhirar bersama Ma’n bin ‘Adi.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

Usdul Ghabah - 4777. Mahmud bin Ar-Rabi'

٤٧٧٧ - مَحۡمُودُ بۡنُ الرَّبِيعِ
4777. Mahmud bin Ar-Rabi’

ب د ع: مَحۡمُودُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ سُرَاقَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ. قِيلَ: إِنَّهُ مِنۡ بَنِي الۡحَارِثِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ. وَقِيلَ: مِنۡ بَنِي سَالِمِ بۡنِ عَوۡفٍ. وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّهُ مِنۡ بَنِي عَبۡدِ الۡأَشۡهَلِ، فَعَلَى هَٰذَا الۡقَوۡلِ يَكُونُ مِنَ الۡأَوۡسِ، يُكۡنَى أَبَا نُعَيۡمٍ، وَقِيلَ: أَبُو مُحَمَّدٍ.
Mahmud bin Ar-Rabi’ bin Suraqah Al-Anshari Al-Khazraji. Ada yang berkata bahwa beliau termasuk Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Ada yang berkata: Dari Bani Salim bin ‘Auf. Juga ada yang berkata bahwa beliau termasuk Bani ‘Abdul Asyhal, sehingga berdasar pendapat ini, beliau termasuk Aus. Beliau dipanggil dengan Abu Nu’aim dan ada yang mengatakan Abu Muhammad.
يُعَدُّ فِي أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ. عَقِلَ مَجَّةً مَجَّهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ دَلۡوٍ فِي بِئۡرِهِمۡ. وَحَفِظَ ذٰلِكَ وَلَهُ أَرۡبَعُ سِنِينَ، وَقِيلَ: خَمۡسُ سِنِينَ.
Beliau terhitung penduduk Madinah. Beliau mengingat air yang disemburkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sebuah ember di sumur mereka.[1] Beliau mengingat hal itu ketika umur empat tahun. Ada yang mengatakan: lima tahun.
رَوَى عَنۡهُ أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَرَجَاءُ بۡنُ حَيۡوَةَ.
Yang meriwayatkan dari beliau adalah Anas bin Malik, Az-Zuhri, dan Raja` bin Haiwah.
وَتُوُفِّيَ سَنَةَ تِسۡعٍ وَتِسۡعِينَ، وَقِيلَ: سَنَةَ سِتِّ وَتِسۡعِينَ.
Beliau wafat tahun 99 H. Ada yang mengatakan: tahun 96 H.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

Usdul Ghabah - 3541. 'Itban bin Malik

٣٥٤١ - عِتۡبَانُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَجۡلَانِ
3541. ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al-‘Ajlan

ب د ع: عِتۡبَانُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَجۡلَانِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ غَنَمِ بۡنِ سَالِمِ بۡنِ عَوۡفِ بۡن الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيِّ الۡخَزۡرَجِيُّ السَّالِمِيُّ.
‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al-‘Ajlan bin Zaid bin Ghanam bin Salim bin ‘Auf bin Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji As-Salimi.
شَهِدَ بَدۡرًا، وَلَمۡ يَذۡكُرۡهُ ابۡنُ إِسۡحَاقَ فِي الۡبَدۡرِيِّينَ، وَذَكَرَهُ غَيۡرُهُ.
Beliau mengikuti perang Badr. Namun Ibnu Ishaq tidak menyebut beliau di dalam golongan sahabat yang mengikuti perang Badr, sementara selain Ibnu Ishaq memasukkan beliau.
أَخۡبَرَنَا الۡخَطِيبُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَحۡمَدَ الطُّوسِيُّ بِإِسۡنَادِهِ عَنۡ أَبِي دَاوُدَ الطَّيَالِسِيِّ، أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ قَالَ: سَمِعۡتُ الزُّهۡرِيَّ يُحَدِّثُ، عَنۡ مَحۡمُودِ بۡنِ الرَّبِيعِ، عَنۡ عِتۡبَانَ بۡنِ مَالِكٍ السَّالِمِيِّ قَالَ: كُنۡتُ أَؤُمُّ قَوۡمِي بَنِي سَالِمٍ، وَكَانَ إِذَا جَاءَتِ السُّيُولُ شَقَّ عَلَيَّ أَنۡ أَجۡتَازَ وَادِيًا بَيۡنِي وَبَيۡنَ الۡمَسۡجِدِ، فَأَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي يَشُقُّ عَلَيَّ أَنۡ أَجۡتَازَهُ، فَإِنۡ رَأَيۡتَ أَنۡ تَأۡتِيَنِي وَتُصَلِّيَ فِي بَيۡتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى؟ قَالَ: (أَفۡعَلُ). فَجَاءَنِي الۡغَدَ فَاحۡتَبَسَهُ عَلَى خَزِيرَةٍ فَلَمَّا دَخَلَ لَمۡ يَجلِسۡ حَتَّى قَالَ: (أَيۡنَ تُحِبُّ أَنۡ أُصَلِّيَ فِي بَيۡتِكَ؟) فَأَشَرۡتُ إِلَى الۡمَوۡضِعِ الَّذِي أُصَلِّي فِيهِ. فَصَلَّى فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ.. ثُمَّ ذَكَرَ الۡحَدِيثَ.
وَإِنَّمَا طَلَبَ ذٰلِكَ لِأَنَّهُ كَانَ قَدۡ عَمِيَ، وَقِيلَ: كَانَ فِي بَصَرِهِ ضَعۡفٌ.
Al-Khathib ‘Abdullah bin Ahmad Ath-Thusi telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Abu Dawud Ath-Thayalisi: Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Az-Zuhri menceritakan dari Mahmud bin Ar-Rabi’, dari ‘Itban bin Malik As-Salimi, beliau berkata: Dahulu, aku mengimami kaumku Bani Salim. Namun, apabila ada banjir, maka aku kesulitan melintasi lembah yang berada di antara aku dengan masjid. Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kesulitan untuk melintasinya. Maka bagaimana apabila engkau datang ke tempatku lalu salat di rumahku, di suatu tempat yang akan aku menjadikannya sebagai tempat salat?” Nabi bersabda, “Akan aku lakukan.” Beliau pun mendatangiku keesokan hari. Beliau tertahan untuk menyantap khazirah[1] terlebih dulu. Ketika beliau sudah masuk, beliau tidak duduk sampai bertanya, “Di bagian mana engkau ingin aku salat di rumahmu?” Aku pun menunjukkan ke suatu tempat yang aku salat di situ. Beliau salat dua rakaat di situ… Kemudian beliau menyebutkan hadis tersebut.[2]
‘Itban meminta hal itu karena beliau telah buta. Ada pula yang mengatakan: Ketika itu pandangan beliau sudah melemah.
أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَرَايَا بۡنِ عَلِيٍّ الۡفَقِيهُ، وَمِسۡمَارٌ، وَأَبُو الۡفَرَجِ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي الۡعِزِّ وَغَيۡرُهُمۡ، قَالُوا بِإِسۡنَادِهِمۡ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ مَحۡمُودِ بۡنِ الرَّبِيعِ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ عِتۡبَانَ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّهُ كَانَ يَؤُمُّ قَوۡمَهُ وَهُوَ أَعۡمَى، وَأَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا تَكُونُ الظُّلۡمَةُ وَالسَّيۡلُ، وَأَنَا رَجُلٌ ضَرِيرُ الۡبَصَرِ، فَصَلِّ يَا رَسُولَ اللهِ فِي بَيۡتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى. فَجَاءَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (أَيۡنَ تُحِبُّ أَنۡ تُصَلِّيَ؟) فَأَشَارَ إِلَى مَكَانٍ مِنَ الۡبَيۡتِ، فَصَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
Muhammad bin Saraya bin ‘Ali Al-Faqih, Mismar, Abu Al-Faraj Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Al-‘Izz, dan selain mereka telah mengabarkan kepada kami. Mereka berkata dengan sanad mereka dari Muhammad bin Isma’il: Isma’il menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Mahmud bin Ar-Rabi’ Al-Anshari, dari ‘Itban bin Malik: Bahwa beliau dahulu biasa mengimami kaumnya sementara beliau telah buta. Beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kadang keadaan begitu gelap atau banjir, sementara aku adalah seorang yang mengalami gangguan pandangan. Jadi salatlah, wahai Rasulullah, di rumahku di suatu tempat yang akan aku jadikan sebagai tempat salat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan bertanya, “Di mana engkau suka engkau salat?” ‘Itban menunjuk ke suatu tempat di bagian rumahnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di situ.[3]
رَوَى عَنۡهُ أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، وَمَحۡمُودٌ. وَمَاتَ أَيَّامَ مُعَاوِيَةَ.
Anas bin Malik dan Mahmud meriwayatkan darinya. Beliau meninggal di masa kepemimpinan Mu’awiyah.
أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

[1] Khazirah adalah daging yang dipotong kecil-kecil dan dituangi air yang banyak. Jika sudah matang, ditaburi tepung. 
[2] HR. Al-Bukhari nomor 424 dan 1186, Muslim nomor 1199, An-Nasa`i nomor 1326, 787, dan 843, Ibnu Majah nomor 754, Imam Ahmad (4/44 dan 5/449), Ibnu Hibban di dalam Shahihnya nomor 223, Abu Dawud Ath-Thayalisi di dalam Musnadnya nomor 1241, Al-Baihaqi di dalam Sunan Al-Kubra (3/53 dan 3/87, 88), Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (18/48), dan Ibnu Sa’d di dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra (5/330). 
[3] HR. Al-Bukhari nomor 667, An-Nasa`i nomor 787, Malik di dalam Al-Muwaththa` nomor 424, dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya nomor 1612.

Kitab At-Tauhid - Dakwah kepada Syahadat Lā Ilāha Illallāh

٤ - بَابُ الدُّعَاءِ إِلَى شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
4. Bab Ajakan kepada Syahadat bahwa Tidak Ada Sesembahan yang Berhak Diibadahi kecuali Allah

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدۡعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ۝١٠٨﴾ [يوسف: ١٠٨].
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Katakanlah: Ini adalah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas ilmu. Mahasuci Allah. Aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).
عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الۡيَمَنِ قَالَ لَهُ: (إِنَّكَ تَأۡتِي قَوۡمًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ فَلۡيَكُنۡ أَوَّلَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ) وَفِي رِوَايَةٍ: (إِلَى أَنۡ يُوَحِّدُوا اللهَ. فَإِنۡ هُمۡ أَطَاعُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ. فَإِنۡ هُمۡ أَطَاعُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً تُؤۡخَذُ مِنۡ أَغۡنِيَائِهِمۡ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ. فَإِنۡ هُمۡ أَطَاعُوكَ لِذٰلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمۡوَالِهِمۡ، وَاتَّقِ دَعۡوَةَ الۡمَظۡلُومِ، فَإِنَّهُ لَيۡسَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ اللهِ حِجَابٌ). أَخۡرَجَاهُ.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab. Maka, jadikanlah awal pertama yang engkau ajak mereka kepadanya adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.” Di dalam riwayat lain, “Untuk menauhidkan Allah. Jika mereka menaatimu, maka ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam kepada mereka. Jika mereka menaatimu, maka ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatimu, maka hati-hatilah engkau dari harta-harta berharga mereka dan takutlah dari doa orang yang dizalimi karena tidak ada penghalang apapun antaranya dengan Allah.”[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
وَلَهُمَا عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ - رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ -: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ يَوۡمَ خَيۡبَرَ: (لَأُعۡطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، يَفۡتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيۡهِ)، فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيۡلَتَهُمۡ أَيُّهُمۡ يُعۡطَاهَا؟ فَلَمَّا أَصۡبَحُوا غَدَوۡا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ كُلُّهُمۡ يَرۡجُو أَنۡ يُعۡطَاهَا فَقَالَ: (أَيۡنَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ؟) فَقِيلَ: هُوَ يَشۡتَكِي عَيۡنَيۡهِ، فَأَرۡسَلُوا إِلَيۡهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَبَصَقَ فِي عَيۡنَيۡهِ، وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ كَأَنۡ لَمۡ يَكُنۡ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعۡطَاهُ الرَّايَةَ وَقَالَ: (انۡفُذۡ عَلَى رِسۡلِكَ حَتَّى تَنۡزِلَ بِسَاحَتِهِمۡ، ثُمَّ ادۡعُهُمۡ إِلَى الۡإِسۡلَامِ. وَأَخۡبِرۡهُمۡ بِمَا يَجِبُ عَلَيۡهِمۡ مِنۡ حَقِّ اللهِ تَعَالَى فِيهِ، فَوَاللّٰهِ لَأَنۡ يَهۡدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيۡرٌ لَكَ مِنۡ حُمۡرِ النَّعَمِ).
يَدُوكُونَ أَيۡ: يَخُوضُونَ.
Juga dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Khaibar, “Besok aku benar-benar akan memberikan panji ini kepada seorang pria yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya.” Malam itu, orang-orang menduga-duga di sepanjang malam siapa di antara mereka yang akan diberi panji tersebut. Ketika sudah subuh, mereka berangkat menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua berharap untuk diberi panji tersebut. Nabi bertanya, “Di mana ‘Ali bin Abu Thalib?” Ada yang berkata: Dia sedang sakit kedua matanya. Mereka mengutus orang kepadanya lalu beliau didatangkan. Nabi meludah di kedua mata ‘Ali lalu mendoakannya. ‘Ali pun sembuh seakan belum pernah sakit. Nabi lalu memberinya panji itu dan bersabda, “Berangkatlah dengan tenang sampai engkau tiba di halaman mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka kewajiban berupa hak Allah taala yang ada di dalam Islam. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah seseorang melalui engkau lebih baik bagimu daripada unta merah.”[2]
Yadūkūna artinya yakhūḍūna (membicarakan).
فِيهِ مَسَائِلُ:
الۡأُولَى: أَنَّ الدَّعۡوَةَ إِلَى اللهِ طَرِيقُ مَنِ اتَّبَعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ.
الثَّانِيَةُ: التَّنۡبِيهُ عَلَى الۡإِخۡلَاصِ؛ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَوۡ دَعَا إِلَى الۡحَقِّ، فَهُوَ يَدۡعُو إِلَى نَفۡسِهِ.
الثَّالِثَةُ: أَنَّ الۡبَصِيرَةَ مِنَ الۡفَرَائِضِ.
Dalam keterangan di atas ada beberapa permasalahan:
1. Bahwa dakwah kepada Allah adalah jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Perhatian kepada ikhlas karena banyak di antara manusia walaupun mengajak kepada kebenaran, namun dia juga menyeru kepada dirinya sendiri.
3. Bahwa bashirah (ilmu) termasuk kewajiban.
الرَّابِعَةُ: مِنۡ دَلَائِلِ حُسۡنِ التَّوۡحِيدِ كَوۡنُهُ تَنۡزِيهًا لِلهِ تَعَالَى عَنِ الۡمَسَبَّةِ.
الۡخَامِسَةُ: أَنَّ مِنۡ قُبۡحِ الشِّرۡكِ كَوۡنَهُ مُسَبَّةً لِلهِ.
السَّادِسَةُ: وَهِيَ مِنۡ أَهَمِّهَا. إِبۡعَادُ الۡمُسۡلِمِ عَنِ الۡمُشۡرِكِينَ لِئَلَّا يَصِيرَ مِنۡهُمۡ، وَلَوۡ لَمۡ يُشۡرِكۡ.
4. Termasuk yang menunjukkan keindahan tauhid adalah bahwa tauhid itu menyucikan Allah dari kerendahan.
5. Bahwa termasuk jeleknya kesyirikan adalah bahwa kesyirikan itu merendahkan Allah.
6. Dan ini termasuk yang terpenting adalah menjauhkan seorang muslim dari orang-orang musyrik agar dia tidak menjadi seperti mereka, walaupun dia tidak berbuat kesyirikan.
السَّابِعَةُ: كَوۡنُ التَّوۡحِيدِ أَوَّلَ وَاجِبٍ.
الثَّامِنَةُ: أَنَّهُ يُبۡدَأُ بِهِ قَبۡلَ كُلِّ شَيۡءٍ، حَتَّى الصَّلَاةِ.
التَّاسِعَةُ: أَنَّ مَعۡنَى: (أَنۡ يُوَحِّدُوا اللهَ). مَعۡنَى شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.
7. Tauhid adalah kewajiban pertama.
8. Bahwa tauhid didahulukan sebelum segala sesuatu, sampai salat sekalipun.
9. Bahwa makna “menauhidkan Allah” adalah makna syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.
الۡعَاشِرَةُ: أَنَّ الۡإِنۡسَانَ قَدۡ يَكُونُ مِنۡ أَهۡلِ الۡكُتُبِ وَهُوَ لَا يَعۡرِفُهَا، أَوۡ يَعۡرِفُهَا وَلَا يَعۡمَلُ بِهَا.
الۡحَادِيَةَ عَشۡرَةَ: التَّنۡبِيهُ عَلَى التَّعۡلِيمِ بِالتَّدۡرِيجِ.
الثَّانِيَةَ عَشۡرَةَ: الۡبِدَاءَةُ بِالۡأَهَمِّ فَالۡأَهَمِّ.
10. Bahwa manusia terkadang termasuk ahli kitab namun ia tidak berilmu terhadap syahadat. Atau ia mengilmuinya namun tidak mengamalkannya.
11. Perhatian untuk memberi pengajaran dengan bertahap.
12. Memulai dari yang terpenting lalu yang terpenting setelahnya.
الثَّالِثَةَ عَشۡرَةَ: مَصۡرِفُ الزَّكَاةِ.
الرَّابِعَةَ عَشۡرَةَ: كَشۡفُ الۡعَالِمِ الشُّبۡهَةَ عَنِ الۡمُتَعَلِّمِ.
الۡخَامِسَةَ عَشۡرَةَ: النَّهۡيُ عَنۡ كَرَائِمِ الۡأَمۡوَالِ.
13. Sasaran penyaluran zakat.
14. Seorang yang berilmu menyingkap kesamaran dari orang yang belajar.
15. Larangan dari (mengambil sedekah) harta-harta yang berharga. 
السَّادِسَةَ عَشۡرَةَ: اتِّقَاءُ دَعۡوَةِ الۡمَظۡلُومِ.
السَّابِعَةَ عَشۡرَةَ: الۡإِخۡبَارُ بِأَنَّهَا لَا تُحۡجَبُ.
الثَّامِنَةَ عَشۡرَةَ: مِنۡ أَدِلَّةِ التَّوۡحِيدِ مَا جَرَى عَلَى سَيِّدِ الۡمُرۡسَلِينَ وَسَادَاتِ الۡأَوۡلِيَاءِ مِنَ الۡمَشَقَّةِ وَالۡجُوعِ وَالۡوَبَاءِ.
16. Berhati-hati dari doa orang yang dizalimi.
17. Pengabaran bahwa doa tersebut tidak dihalangi.
18. Termasuk dalil tauhid adalah apa yang dialami oleh penghulu para rasul dan pemuka para wali berupa kesempitan hidup, kelaparan, dan wabah.
التَّاسِعَةَ عَشۡرَةَ: قَوۡلُهُ: (لَأُعۡطِيَنَّ الرَّايَةَ ...) إلخ: عَلَمٌ مِنۡ أَعۡلَامِ النُّبُوَّةِ.
الۡعِشۡرُونَ: تَفۡلُهُ فِي عَيۡنَيۡهِ عَلَمٌ مِنۡ أَعۡلَامِهَا أَيۡضًا.
الۡحَادِيَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: فَضِيلَةُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.
19. Ucapan beliau, “Aku benar-benar akan memberikan panji ini…” sampai akhir, adalah salah satu tanda kenabian.
20. Meludahnya beliau pada kedua mata ‘Ali juga merupakan salah satu tanda kenabian.
21. Keutamaan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.
الثَّانِيَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: فَضۡلُ الصَّحَابَةِ فِي دَوۡكِهِمۡ تِلۡكَ اللَّيۡلَةَ وَشُغۡلِهِمۡ عَنۡ بِشَارَةِ الۡفَتۡحِ.
الثَّالِثَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: الۡإِيمَانُ بِالۡقَدۡرِ، لِحُصُولِهَا لِمَنۡ لَمۡ يَسۡعَ لَهَا وَمَنۡعِهَا عَمَّنۡ سَعَى.
الرَّابِعَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: الۡأَدَبُ فِي قَوۡلِهِ: (عَلَى رِسۡلِكَ).
22. Keutaman para sahabat ketika mereka berbincang-bincang di sepanjang malam itu dan kesibukan mereka tentang kabar gembira kemenangan.
23. Iman kepada takdir karena bisa terwujud pada orang yang tidak mengusahakannya dan tidak terwujud dari orang yang mengusahakannya.
24. Adab dalam sabda beliau, “Perlahan-lahan.”
الۡخَامِسَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: الدَّعۡوَةُ إِلَى الۡإِسۡلَامِ قَبۡلَ الۡقِتَالِ.
السَّادِسَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: أَنَّهُ مَشۡرُوعٌ لِمَنۡ دُعُوا قَبۡلَ ذٰلِكَ وَقُوتِلُوا.
السَّابِعَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: الدَّعۡوَةُ بِالۡحِكۡمَةِ؛ لِقَوۡلِهِ: (أَخۡبِرۡهُمۡ بِمَا يَجِبُ عَلَيۡهِمۡ).
25. Berdakwah kepada Islam, sebelum memerangi.
26. Bahwa memerangi disyariatkan bagi siapa saja yang telah didakwahi sebelumnya atau bagi siapa saja yang diperangi.
27. Dakwah dengan sikap hikmah berdasarkan sabda beliau, “Kabarkan apa saja yang wajib bagi mereka.”
الثَّامِنَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: الۡمَعۡرِفَةُ بِحَقِّ اللهِ فِي الۡإِسۡلَامِ.
التَّاسِعَةُ وَالۡعِشۡرُونَ: ثَوَابُ مَنِ اهۡتَدَى عَلَى يَدَيۡهِ رَجُلٌ وَاحِدٌ.
الثَّلَاثُونَ: الۡحَلِفُ عَلَى الۡفُتۡيَا.
28. Mengetahui hak Allah di dalam Islam.
29. Pahala bagi siapa saja yang melalui perantaraannya seseorang mendapat petunjuk.
30. Bersumpah dalam fatwa.

[2] HR. Al-Bukhari nomor 2942 dan Muslim nomor 2406.