Sunan An-Nasa`i hadits nomor 4102

٤١٠٢ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ خَيۡثَمَةَ، عَنۡ سُوَيۡدِ بۡنِ غَفَلَةَ، عَنۡ عَلِيٍّ، قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، يَقُولُ: (يَخۡرُجُ قَوۡمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، أَحۡدَاثُ الۡأَسۡنَانِ، سُفَهَاءُ الۡأَحۡلَامِ، يَقُولُونَ مِنۡ خَيۡرِ قَوۡلِ الۡبَرِيَّةِ، لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمۡ حَنَاجِرَهُمۡ، يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمۡ فَاقۡتُلُوهُمۡ؛ فَإِنَّ قَتۡلَهُمۡ أَجۡرٌ لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ) [(ظلال الجنة)(٩١٤)، ق]. 

4102. [Sahih] Muhammad bin Basysyar telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghaflah, dari ‘Ali. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suatu kaum akan keluar di akhir zaman. Mereka muda-muda umurnya dan bodoh akalnya. Mereka berkata dari ucapan manusia terbaik, namun iman mereka tidak melampaui laring/tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus keluar dari sasarannya. Apabila kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah perintah penguasa). Karena ada pahala bagi yang membunuh mereka pada hari kiamat.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 4765 dan 4766

٤٧٦٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَاصِمٍ الۡأَنۡطَاكِيُّ، نا الۡوَلِيدُ وَمُبَشِّرٌ - يَعۡنِي ابۡنَ إِسۡمَاعِيلَ – الۡحَلَبِيَّ، بِإِسۡنَادِهِ عَنۡ أَبِي عَمۡرٍو، قَالَ - يَعۡنِي الۡوَلِيدَ -: ثنا أَبُو عَمۡرٍو، قَالَ: حَدَّثَنِي قَتَادَةُ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ وَأَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي اخۡتِلَافٌ وَفُرۡقَةٌ، قَوۡمٌ يُحۡسِنُونَ الۡقِيلَ وَيُسِيئُونَ الۡفِعۡلَ، يَقۡرَءُونَ الۡقُرۡآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمۡ، يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهۡمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ، [ثُمَّ] لَا يَرۡجِعُونَ حَتَّى يَرۡتَدَّ عَلَى فُوقِهِ، هُمۡ شَرُّ الۡخَلۡقِ وَالۡخَلِيقَةِ، طُوبَى لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ وَقَتَلُوهُ، يَدۡعُونَ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَلَيۡسُوا مِنۡهُ فِي شَىۡءٍ، مَنۡ قَاتَلَهُمۡ كَانَ أَوۡلَى بِاللهِ تَعَالَى مِنۡهُمۡ) قَالُوا ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا سِيمَاهُمۡ؟ قَالَ: (التَّحۡلِيقُ). [(الظلال)(٩٤٠)]. 

4765. [Sahih] Nashr bin ‘Ashim Al-Anthaki telah menceritakan kepada kami: Al-Walid dan Mubasysyir bin Isma’il Al-Halabi menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Abu ‘Amr. Al-Walid berkata: Abu ‘Amr menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Qatadah menceritakan kepadaku dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Akan terjadi perselisihan dan perpecahan di dalam umatku. Ada suatu kaum yang memperindah ucapan namun jelek dalam perbuatan. Mereka membaca Alquran namun tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah menembus dari sasarannya. Kemudian mereka tidak kembali sampai anak panah itu kembali ekornya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk. Alangkah beruntung orang yang membunuh mereka dan dibunuh oleh mereka. Mereka mengajak kepada kitab Allah padahal mereka tidak memiliki sedikitpun bagian darinya. Siapa saja yang memerangi mereka (di bawah perintah pemimpin negara) lebih pantas mendapat pertolongan Allah taala daripada mereka.” 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa tanda-tanda mereka?” 

Beliau menjawab, “Menggundul kepala.” 

٤٧٦٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ، نا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، نا مَعۡمَرٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ، [ذَكَرَ] نَحۡوَهُ، قَالَ: (سِيمَاهُمُ التَّحۡلِيقُ وَالتَّسۡمِيدُ، فَإِذَا رَأَيۡتُمُوهُمۡ فَأَنِيمُوهُمۡ). [(ابن ماجه)(١٧٥)]. 

4766. [Sahih] Al-Hasan bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—beliau menyebutkan semisal hadis tersebut—bersabda, “Ciri-ciri mereka adalah menggundul kepala. Apabila kalian melihat mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah perintah pemimpin negara).”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 4767

٤٧٦٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ، نا سُفۡيَانُ، نا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ خَيۡثَمَةَ، عَنۡ سُوَيۡدِ بۡنِ غَفَلَةَ قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: إِذَا حَدَّثۡتُكُمۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ حَدِيثًا فَلَأَنۡ أَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنۡ أَنۡ أَكۡذِبَ عَلَيۡهِ، وَإِذَا حَدَّثۡتُكُمۡ فِيمَا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ فَإِنَّمَا الۡحَرۡبُ خُدۡعَةٌ، سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (يَأۡتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوۡمٌ حُدَثَاءُ الۡأَسۡنَانِ، سُفَهَاءُ الۡأَحۡلَامِ، يَقُولُونَ [مِنۡ خَيۡرِ قَوۡلِ الۡبَرِيَّةِ]، يَمۡرُقُونَ مِنَ الۡإِسۡلَامِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمۡ حَنَاجِرَهُمۡ، فَأَيۡنَمَا لَقِيتُمُوهُمۡ فَاقۡتُلُوهُمۡ، فَإِنَّ قَتۡلَهُمۡ أَجۡرٌ لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). [(الظلال)(٩١٤): ق]. 

4767. [Sahih] Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghaflah. Beliau berkata: ‘Ali berkata: Apabila aku menceritakan kepada kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh aku jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berdusta atas nama beliau. Dan apabila aku menceritakan kepada kalian antara aku dengan kalian, maka perang adalah tipu daya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di akhir zaman, akan datang suatu kaum yang muda umurnya dan bodoh akalnya. Mereka berkata dari ucapan makhluk yang terbaik, namun mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus keluar sasarannya. Iman mereka tidak melampaui laring/tenggorokan mereka. Di mana saja kalian temui mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah perintah pemimpin), karena ada pahala di hari kiamat bagi yang membunuh mereka.”

Shahih Muslim hadits nomor 1066

٤٨ - بَابُ التَّحۡرِيضِ عَلَى قَتۡلِ الۡخَوَارِجِ 
48. Bab penyemangatan untuk membunuh khawarij 


١٥٤ - (١٠٦٦) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ. جَمِيعًا عَنۡ وَكِيعٍ. قَالَ الۡأَشَجُّ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ خَيۡثَمَةَ، عَنۡ سُوَيۡدِ بۡنِ غَفَلَةَ قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: إِذَا حَدَّثۡتُكُمۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَلَأَنۡ أَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنۡ أَنۡ أَقُولَ عَلَيۡهِ مَا لَمۡ يَقُلۡ. وَإِذَا حَدَّثۡتُكُمۡ فِيمَا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ فَإِنَّ الۡحَرۡبَ خَدۡعَةٌ، سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (سَيَخۡرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوۡمٌ أَحۡدَاثُ الۡأَسۡنَانِ، سُفَهَاءُ الۡأَحۡلَامِ، يَقُولُونَ مِنۡ خَيۡرِ قَوۡلِ الۡبَرِيَّةِ، يَقۡرَءُونَ الۡقُرۡآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمۡ، يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمۡ فَاقۡتُلُوهُمۡ، فَإِنَّ فِي قَتۡلِهِمۡ أَجۡرًا لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ عِنۡدَ اللهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). 


154. (1066). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair dan ‘Abdullah bin Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Waki’. Al-Asyajj berkata: Waki’ menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghaflah. Beliau berkata: ‘Ali mengatakan: Apabila aku menceritakan kepada kalian hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh aku jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku mengatakan atas beliau apa yang tidak beliau ucapkan. Dan apabila aku menceritakan kepada kalian tentang antara aku dengan kalian, maka sesungguhnya perang adalah tipu muslihat. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suatu kaum akan keluar di akhir zaman. Mereka muda-muda umurnya dan bodoh akalnya. Mereka mengatakan perkataan dari ucapan makhluk terbaik. Mereka membaca Alquran namun tidak melampaui laring/tenggorokannya. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus keluar dari sasarannya. Apabila kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah perintah penguasa), karena dalam perbuatan membunuh mereka ada pahala bagi yang membunuh mereka di sisi Allah pada hari kiamat.” 

(...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ نَافِعٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ. كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، مِثۡلَهُ. 

Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami dan Abu Bakr bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy, melalui sanad ini, semisal hadis tersebut. 

(...) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. 

وَلَيۡسَ فِي حَدِيثِهِمَا: (يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ). 

‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Kuraib, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy melalui sanad ini. 

Di dalam hadis keduanya tidak ada ucapan, “Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus keluar dari sasarannya.” 

١٥٥ - (...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُلَيَّةَ وَحَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ - وَاللَّفۡظُ لَهُمَا - قَالَا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عُلَيَّةَ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَبِيدَةَ، عَنۡ عَلِيٍّ. قَالَ: ذَكَرَ الۡخَوَارِجَ فَقَالَ: فِيهِمۡ رَجُلٌ مُخۡدَجُ الۡيَدِ، أَوۡ مُودَنُ الۡيَدِ، أَوۡ مَثۡدُونُ الۡيَدِ، لَوۡلَا أَنۡ تَبۡطَرُوا لَحَدَّثۡتُكُمۡ بِمَا وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ يَقۡتُلُونَهُمۡ عَلَىٰ لِسَانِ مُحَمَّدٍ ﷺ. قَالَ: قُلۡتُ: آنۡتَ سَمِعۡتَهُ مِنۡ مُحَمَّدٍ ﷺ؟ قَالَ: إِي وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، إِي وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، إِي وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ. 

155. Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Ulayyah dan Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Redaksi hadis ini milik mereka berdua. Keduanya berkata: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Muhammad, dari ‘Abidah, dari ‘Ali. 

‘Abidah berkata: ‘Ali menyebutkan khawarij, lalu beliau berkata, “Di kalangan mereka ada seseorang pria yang tangannya tidak sempurna atau pendek. Andai kalian tidak jatuh dalam kesombongan, niscaya aku akan ceritakan kepada kalian dengan janji Allah kepada orang-orang yang membunuh mereka sebagaimana yang diucapkan melalui lisan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

‘Abidah berkata: Aku bertanya, “Apakah engkau mendengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?” 

‘Ali menjawab, “Iya, demi Tuhan Kakbah. Iya, demi Tuhan Kakbah. Iya, demi Tuhan Kakbah.” 

(...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَبِيدَةَ قَالَ: لَا أُحَدِّثُكُمۡ إِلَّا مَا سَمِعۡتُ مِنۡهُ: فَذَكَرَ عَنۡ عَلِيٍّ، نَحۡوَ حَدِيثِ أَيُّوبَ، مَرۡفُوعًا. 

Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun, dari Muhammad, dari ‘Abidah. Beliau berkata: Aku tidak menceritakan kepada kalian kecuali yang aku mendengarnya. Lalu beliau menyebutkan dari ‘Ali semisal hadis Ayyub secara marfuk. 

١٥٦ - (...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ بۡنُ هَمَّامٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بۡنُ كُهَيۡلٍ: حَدَّثَنِي زَيۡدُ بۡنُ وَهۡبٍ الۡجُهَنِيُّ؛ أَنَّهُ كَانَ فِي الۡجَيۡشِ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، الَّذِينَ سَارُوا إِلَى الۡخَوَارِجِ، فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (يَخۡرُجُ قَوۡمٌ مِنۡ أُمَّتِي يَقۡرَءُونَ الۡقُرۡآنَ، لَيۡسَ قِرَاءَتُكُمۡ إِلَىٰ قِرَاءَتِهِمۡ بِشَيۡءٍ، وَلَا صَلَاتُكُمۡ إِلَىٰ صَلَاتِهِمۡ بِشَيۡءٍ، وَلَا صِيَامُكُمۡ إِلَىٰ صِيَامِهِمۡ بِشَيۡءٍ، يَقۡرَءُونَ الۡقُرۡآنَ يَحۡسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمۡ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ، لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمۡ تَرَاقِيَهُمۡ، يَمۡرُقُونَ مِنَ الۡإِسۡلَامِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ). لَوۡ يَعۡلَمُ الۡجَيۡشُ الَّذِينَ يُصِيبُونَهُمۡ، مَا قُضِيَ لَهُمۡ عَلَىٰ لِسَانِ نَبِيِّهِمۡ ﷺ لَاتَّكَلُوا عَنِ الۡعَمَلِ، وَآيَةُ ذٰلِكَ أَنَّ فِيهِمۡ رَجُلًا لَهُ عَضُدٌ وَلَيۡسَ لَهُ ذِرَاعٌ، عَلَىٰ رَأۡسِ عَضُدِهِ مِثۡلُ حَلَمَةِ الثَّدۡيِ، عَلَيۡهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ، فَتَذۡهَبُونَ إِلَىٰ مُعَاوِيَةَ وَأَهۡلِ الشَّامِ وَتَتۡرُكُونَ هَٰؤُلَاءِ يَخۡلُفُونَكُمۡ فِي ذَرَارِيِّكُمۡ وَأَمۡوَالِكُمۡ! وَاللهِ، إِنِّي لَأَرۡجُو أَنۡ يَكُونُوا هَٰؤُلَاءِ الۡقَوۡمَ، فَإِنَّهُمۡ قَدۡ سَفَكُوا الدَّمَ الۡحَرَامَ، وَأَغَارُوا فِي سَرۡحِ النَّاسِ، فَسِيرُوا عَلَى اسۡمِ اللهِ. 

156. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq bin Hammam menceritakan kepada kami: ‘Abdul Malik bin Abu Sulaiman menceritakan kepada kami: Salamah bin Kuhail menceritakan kepada kami: Zaid bin Wahb Al-Juhani menceritakan kepadaku bahwa beliau dahulu berada dalam pasukan yang bersama ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Yaitu orang-orang yang berperang menghadapi khawarij. 

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Alquran. Qiraah kalian tidak ada apa-apanya dibanding qiraah mereka. Salat kalian juga tidak ada apa-apanya dibandingkan salat mereka. Siam kalian tidak ada apa-apanya dibanding siam mereka. Mereka membaca Alquran dalam keadaan menyangka bahwa Alquran itu mendukung mereka padahal sedang mengancam mereka. Salat mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus keluar dari sasarannya.” 

Andai pasukan yang akan menyerang orang-orang khawarij mengetahui apa yang ditetapkan untuk mereka melalui lisan Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya mereka akan berpangku tangan dari beramal. Tanda orang khawarij itu adalah bahwa pada mereka ada seorang pria yang memiliki lengan atas namun tidak memiliki lengan bawah. Di ujung lengan atasnya ada semisal puting payudara yang di atasnya ada bulu-bulu berwarna putih. Lalu apakah kalian ingin pergi kepada Mu’awiyah dan penduduk Syam dan kalian meninggalkan mereka ini tinggal di belakang kalian bersama keturunan dan harta kalian? Demi Allah, sungguh aku berharap orang-orang khawarij itu adalah mereka ini, karena mereka telah menumpahkan darah yang suci dan merampas binatang ternak orang-orang. Maka berangkatlah kalian dengan nama Allah. 

قَالَ سَلَمَةُ بۡنُ كُهَيۡلٍ: فَنَزَّلَنِي زَيۡدُ بۡنُ وَهۡبٍ مَنۡزِلًا حَتَّىٰ قَالَ: مَرَرۡنَا عَلَىٰ قَنۡطَرَةٍ، فَلَمَّا الۡتَقَيۡنَا وَعَلَىٰ الۡخَوَارِجِ يَوۡمَئِذٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ الرَّاسِبِيُّ، فَقَالَ لَهُمۡ: أَلۡقُوا الرِّمَاحَ، وَسُلُّوا سُيُوفَكُمۡ مِنۡ جُفُونِهَا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنۡ يُنَاشِدُوكُمۡ كَمَا نَاشَدُوكُمۡ يَوۡمَ حَرُورَاءَ، فَرَجَعُوا فَوَحَّشُوا بِرِمَاحِهِمۡ، وَسَلُّوا السُّيُوفَ، وَشَجَرَهُمُ النَّاسُ بِرِمَاحِهِمۡ. قَالَ: وَقُتِلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ، وَمَا أُصِيبَ مِنَ النَّاسِ يَوۡمَئِذٍ إِلَّا رَجُلَانِ. فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: الۡتَمِسُوا فِيهِمُ الۡمُخۡدَجَ. فَالۡتَمَسُوهُ فَلَمۡ يَجِدُوهُ. فَقَامَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ بِنَفۡسِهِ حَتَّىٰ أَتَىٰ نَاسًا قَدۡ قُتِلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَى بَعۡضٍ. قَالَ: أَخِّرُوهُمۡ. فَوَجَدُوهُ مِمَّا يَلِي الۡأَرۡضَ، فَكَبَّرَ، ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ وَبَلَّغَ رَسُولُهُ. قَالَ: فَقَامَ إِلَيۡهِ عَبِيدَةُ السَّلۡمَانِيُّ فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، أَلِلَّهَ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ، لَسَمِعۡتَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ فَقَالَ: إِي وَاللهِ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ، حَتَّىٰ اسۡتَحۡلَفَهُ ثَلَاثًا وَهُوَ يَحۡلِفُ لَهُ. 

Salamah bin Kuhail berkata: Zaid bin Wahb menunjukkan kepadaku tempat-tempat singgah pasukan itu satu demi satu, hingga beliau berkata: Kami melewati sebuah jembatan. 

Ketika kami berjumpa dengan orang-orang khawarij pada hari itu, mereka dipimpin oleh ‘Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi. Dia berkata kepada mereka: Lemparkan tombak-tombak dan hunuskan pedang-pedang kalian dari sarungnya, karena aku khawatir mereka akan meminta kalian untuk kembali pulang sebagaimana mereka telah minta kalian untuk kembali pada hari Harura`. 

Mereka kembali, melempar tombak-tombak mereka, dan menghunus pedang-pedang. Lalu pasukan ‘Ali menyerang orang-orang khawarij dengan tombak-tombak mereka sendiri. Sehingga sebagian mereka terbunuh di atas mayat sebagian lainnya dan tidak ada yang terbunuh dari pasukan ‘Ali pada hari itu kecuali dua orang. 

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Carilah orang yang buntung di antara mereka. 

Mereka pun mencarinya, namun tidak menemukannya. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bangkit sendiri sampai beliau mendatangi korban-korban yang saling bertindihan.

Beliau berkata: Singkirkan mereka. 

Mereka pun mendapati orang yang dimaksud menempel di atas tanah, lalu beliau bertakbir. Kemudian beliau berkata: Allah Mahabenar dan Rasul-Nya telah menyampaikan. 

Beliau berkata: ‘Abidah As-Salmani berdiri menghadapnya seraya berkata: Wahai amirulmukminin, demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, apakah engkau benar-benar mendengar hadis ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

‘Ali menjawab: Iya demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. 

Sampai ‘Abidah meminta beliau bersumpah dan ‘Ali pun bersumpah untuknya. 

١٥٧ - (...) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَيُونُسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ. قَالَا: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ، عَنۡ بُكَيۡرِ بۡنِ الۡأَشَجِّ، عَنۡ بُسۡرِ بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي رَافِعٍ، مَوۡلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ أَنَّ الۡحَرُورِيَّةَ لَمَّا خَرَجَتۡ، وَهُوَ مَعَ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، قَالُوا: لَا حُكۡمَ إِلَّا لِلهِ. قَالَ عَلِيٌّ: كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ، إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَصَفَ نَاسًا إِنِّي لَأَعۡرِفُ صِفَتَهُمۡ فِي هَٰؤُلَاءِ، (يَقُولُونَ الۡحَقَّ بِأَلۡسِنَتِهِمۡ لَا يَجُوزُ هَٰذَا مِنۡهُمۡ - وَأَشَارَ إِلَىٰ حَلۡقِهِ -، مِنۡ أَبۡغَضِ خَلۡقِ اللهِ إِلَيۡهِ، مِنۡهُمۡ أَسۡوَدُ، إِحۡدَىٰ يَدَيۡهِ طُبۡيُ شَاةٍ أَوۡ حَلَمَةُ ثَدۡيٍ). فَلَمَّا قَتَلَهُمۡ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: انۡظُرُوا، فَنَظَرُوا فَلَمۡ يَجِدُوا شَيۡئًا. فَقَالَ: ارۡجِعُوا، فَوَاللهِ مَا كَذَبۡتُ وَلَا كُذِبۡتُ، مَرَّتَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثًا، ثُمَّ وَجَدُوهُ فِي خَرِبَةٍ، فَأَتَوۡا بِهِ حَتَّىٰ وَضَعُوهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ. قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: وَأَنَا حَاضِرُ ذٰلِكَ مِنۡ أَمۡرِهِمۡ، وَقَوۡلِ عَلِيٍّ فِيهِمۡ. 

زَادَ يُونُسُ فِي رِوَايَتِهِ: قَالَ بُكَيۡرٌ: وَحَدَّثَنِي رَجُلٌ، عَنِ ابۡنِ حُنَيۡنٍ أَنَّهُ قَالَ: رَأَيۡتُ ذٰلِكَ الۡأَسۡوَدَ. 

157. Abu Ath-Thahir dan Yunus bin ‘Abdul A’la telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: ‘Amr bin Al-Harits mengabarkan kepadaku dari Bukair bin Al-Asyajj, dari Busr bin Sa’id, dari ‘Ubaidullah bin Abu Rafi’ maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa haruriyyah (kelompok khawarij) ketika muncul—‘Ubaidullah bersama pihak ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu—mereka berkata: Tidak ada hukum kecuali milik Allah. ‘Ali berkata, “Kalimat kebenaran namun yang dimaukan kebatilan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati suatu orang-orang dan sungguh aku mengetahui sifat mereka ada pada mereka ini. Yaitu, “Mereka mengatakan kebenaran dengan lisan-lisan mereka, namun tidak melampaui ini—beliau memberi isyarat ke arah tenggorokannya—. Mereka termasuk makhluk yang paling Allah murkai. Di antara mereka ada orang hitam, salah satu dari kedua tangannya seperti pentil kambing atau puting payudara.” 

Ketika ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu telah membunuh mereka, beliau berkata: Carilah! 

Orang-orang pun mencari namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. 

‘Ali berkata: Ulangilah! Demi Allah aku tidak dusta dan aku tidak dibohongi. Sebanyak dua atau tiga kali. 

Lalu orang-orang mendapatinya ada di reruntuhan. Dia dibawa sampai mereka letakkan di hadapan ‘Ali. 

‘Ubaidullah berkata: Aku hadir di tempat itu, baik ketika terjadinya peristiwa mereka dan ucapan ‘Ali kepada mereka. 

Yunus menambahkan dalam riwayatnya: Bukair berkata: Seorang pria menceritakan kepadaku dari Ibnu Hunain, bahwa beliau berkata: Aku melihat orang hitam itu.

Shahih Muslim hadits nomor 194

٣٢٧ – (١٩٤) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ - وَاتَّفَقَا فِي سِيَاقِ الۡحَدِيثِ، إِلَّا مَا يَزِيدُ أَحَدُهُمَا مِنَ الۡحَرۡفِ بَعۡدَ الۡحَرۡفِ – قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا بِلَحۡمٍ، فَرُفِعَ إِلَيۡهِ الذِّرَاعُ، وَكَانَتۡ تُعۡجِبُهُ، فَنَهَسَ مِنۡهَا نَهۡسَةً فَقَالَ: (أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ. وَهَلۡ تَدۡرُونَ بِمَ ذَاكَ؟ يَجۡمَعُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ الۡأَوَّلِينَ وَالۡآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَيُسۡمِعُهُمُ الدَّاعِي وَيَنۡفُذُهُمُ الۡبَصَرُ، وَتَدۡنُو الشَّمۡسُ، فَيَبۡلُغُ النَّاسَ مِنَ الۡغَمِّ وَالۡكَرۡبِ مَا لَا يُطِيقُونَ، وَمَا لَا يَحۡتَمِلُونَ. فَيَقُولُ بَعۡضُ النَّاسِ لِبَعۡضٍ: أَلَا تَرَوۡنَ مَا أَنۡتُمۡ فِيهِ؟ أَلَا تَرَوۡنَ مَا قَدۡ بَلَغَكُمۡ؟ أَلَا تَنۡظُرُونَ مَنۡ يَشۡفَعُ لَكُمۡ إِلَى رَبِّكُمۡ؟ 

327. (194). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami. Keduanya sepakat dalam konteks hadis ini hanya saja salah satu dari keduanya menambah sedikit huruf saja. Keduanya berkata: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami: Abu Hayyan menceritakan kepada kami dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Pada suatu hari dihidangkan masakan daging kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagian lengannya disodorkan kepada beliau. Itu adalah bagian yang beliau senangi. Beliau pun menggigitnya, lalu bersabda, 

“Aku adalah pemuka manusia pada hari kiamat. Apakah kalian tahu bagaimana bisa begitu? Allah akan mengumpulkan orang-orang pada hari kiamat dari awal sampai akhir di sebuah daratan. Penyeru akan bisa memperdengarkan suara kepada mereka semua dan pandangan akan menjangkau mereka semua. Matahari akan mendekat sehingga orang-orang akan mengalami kepayahan dan kesulitan yang tidak mampu mereka menanggungnya dan memikulnya. 

Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kalian melihat yang kalian alami? Tidakkah kalian melihat apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian mencari orang yang dapat memberi syafaat untuk kalian kepada Rabb kalian?” 

فَيَقُولُ بَعۡضُ النَّاسِ لِبَعۡضٍ: ائۡتُوا آدَمَ، فَيَأۡتُونَ آدَمَ. فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ، أَنۡتَ أَبُو الۡبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنۡ رُوحِهِ وَأَمَرَ الۡمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنَّهُ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيۡتُهُ. نَفۡسِي، نَفۡسِي. اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي. اذۡهَبُوا إِلَى نُوحٍ. 

Sebagian orang berkata kepada yang lain, “Kalian datangilah Adam.” 

Mereka datang kepada Adam, lalu berkata, “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ciptaan-Nya kepadamu, dan memerintahkan malaikat sujud kepadamu. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau lihat keadaan yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Adam berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sungguh Allah telah melarangku dari sebuah pohon, namun aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Nuh.” 

فَيَأۡتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، أَنۡتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الۡأَرۡضِ، وَسَمَّاكَ اللهُ: عَبۡدًا شَكُورًا، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ. أَلَا تَرَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمۡ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنَّهُ قَدۡ كَانَتۡ لِي دَعۡوَةٌ دَعَوۡتُ بِهَا عَلَى قَوۡمِي. نَفۡسِي، نَفۡسِي. اذۡهَبُوا إِلَى إِبۡرَاهِيمَ ﷺ. 

Mereka datang kepada Nuh, lalu berkata, “Wahai Nuh, sesungguhnya engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi. Allah telah menyebut engkau sebagai hamba yang banyak bersyukur. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Nuh berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sungguh dahulu aku memiliki suatu doa yang telah aku panjatkan untuk kaumku. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

فَيَأۡتُونَ إِبۡرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ: أَنۡتَ نَبِيُّ اللهِ وَخَلِيلُهُ مِنۡ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ. أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمۡ إِبۡرَاهِيمُ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ وَلَا يَغۡضَبُ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ. وَذَكَرَ كَذَبَاتِهِ. نَفۡسِي، نَفۡسِي. اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي اذۡهَبُوا إِلَى مُوسَىٰ. 

Mereka datang kepada Ibrahim, lalu berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah nabi dan khalil Allah dari kalangan penduduk bumi. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Beliau menyebutkan kebohongannya. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kepada Musa.” 

فَيَأۡتُونَ مُوسَىٰ ﷺ فَيَقُولُونَ: يَا مُوسَىٰ، أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ، فَضَّلَكَ اللهُ بِرِسَالَاتِهِ وَبِتَكۡلِيمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ. أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمۡ مُوسَىٰ ﷺ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ. وَإِنِّي قَتَلۡتُ نَفۡسًا لَمۡ أُومَرۡ بِقَتۡلِهَا، نَفۡسِي. نَفۡسِي. اذۡهَبُوا إِلَى عِيسَى ﷺ. 

Mereka datang kepada Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Musa, engkau adalah rasul Allah. Allah telah mengutamakan engkau di atas manusia dengan risalah-Nya dan pembicaraan langsung dengan-Nya. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau lihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku telah membunuh satu jiwa yang aku tidak diperintah untuk membunuhnya. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selainku. Pergilah kalian kepada ‘Isa shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

فَيَأۡتُونَ عِيسَىٰ فَيَقُولُونَ: يَا عِيسَىٰ، أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ، وَكَلَّمۡتَ النَّاسَ فِي الۡمَهۡدِ، وَكَلِمَةٌ مِنۡهُ أَلۡقَاهَا إِلَى مَرۡيَمَ، وَرُوحٌ مِنۡهُ، فَاشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ. أَلَا تَرَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمۡ عِيسَى ﷺ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ لَهُ ذَنۡبًا. نَفۡسِي. نَفۡسِي. اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي. اذۡهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ. 

Mereka datang kepada ‘Isa, lalu berkata, “Wahai ‘Isa, engkau adalah rasul Allah. Engkau berbicara kepada manusia saat di buaian. Engkau adalah kalimat dari-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari ciptaan-Nya. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

‘Isa shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Beliau tidak menyebutkan satu dosa pun. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selainku. Pergilah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

فَيَأۡتُونِّي فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ، أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ وَخَاتَمُ الۡأَنۡبِيَاءِ. وَغَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ. أَلَا تَرَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَأَنۡطَلِقُ فَآتِي تَحۡتَ الۡعَرۡشِ فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي. ثُمَّ يَفۡتَحُ اللهُ عَلَىَّ وَيُلۡهِمُنِي مِنۡ مَحَامِدِهِ وَحُسۡنِ الثَّنَاءِ عَلَيۡهِ شَيۡئًا لَمۡ يَفۡتَحۡهُ لِأَحَدٍ قَبۡلِي. ثُمَّ يُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ، ارۡفَعۡ رَأۡسَكَ، سَلۡ تُعۡطَهۡ، اشۡفَعۡ تُشَفَّعۡ، فَأَرۡفَعُ رَأۡسِي فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أُمَّتِي أُمَّتِي. فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ، أَدۡخِلِ الۡجَنَّةَ مِنۡ أُمَّتِكَ، مَنۡ لَا حِسَابَ عَلَيۡهِ، مِنَ الۡبَابِ الأَيۡمَنِ مِنۡ أَبۡوَابِ الۡجَنَّةِ. وَهُمۡ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذٰلِكَ مِنَ الۡأَبۡوَابِ. وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَا بَيۡنَ الۡمِصۡرَاعَيۡنِ مِنۡ مَصَارِيعِ الۡجَنَّةِ لَكَمَا بَيۡنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ - أَوۡ كَمَا بَيۡنَ مَكَّةَ وَبُصۡرَى -). 

[البخاري: كتاب أحاديث الأنبياء، باب يزفون النسلان في المشي، رقم: ٣٣٦١]. 

Mereka datang kepadaku, lalu berkata, “Wahai Muhammad engkau adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Aku pergi dan datang ke bawah ‘arsy. Aku menyungkur sujud kepada Rabb-ku. Kemudian Allah bukakan untukku pujian dan sanjungan yang indah untuk-Nya yang belum pernah Allah bukakan kepada seorang pun sebelumku. 

Kemudian ada yang berkata, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafaat, engkau akan dikabulkan.” 

Aku mengangkat kepalaku lalu berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku, umatku.” 

Lalu ada yang berkata, “Wahai Muhammad, masukkanlah ke janah dari umatmu siapa saja yang tidak dihisab dari pintu janah paling kanan. Mereka boleh masuk di pintu selain itu bersama dengan orang-orang yang lain.” 

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu janah benar-benar seperti jarak antara Makkah dengan Hajar, atau seperti jarak antara Makkah dengan Busra.” 

٣٢٨ – (...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ الۡقَعۡقَاعِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: وُضِعَتۡ بَيۡنَ يَدَىۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَصۡعَةٌ مِنۡ ثَرِيدٍ وَلَحۡمٍ، فَتَنَاوَلَ الذِّرَاعَ. وَكَانَتۡ أَحَبَّ الشَّاةِ إِلَيۡهِ، فَنَهَسَ نَهۡسَةً فَقَالَ: (أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ)، ثُمَّ نَهَسَ أُخۡرَى فَقَالَ: (أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ)، فَلَمَّا رَأَى أَصۡحَابَهُ لَا يَسۡأَلُونَهُ قَالَ: (أَلَا تَقُولُونَ كَيۡفَهۡ؟) قَالُوا: كَيۡفَهۡ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الۡعَالَمِينَ...) وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِ أَبِي حَيَّانَ عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ. وَزَادَ فِي قِصَّةِ إِبۡرَاهِيمَ فَقَالَ: وَذَكَرَ قَوۡلَهُ فِي الۡكَوۡكَبِ: ﴿هَٰذَا رَبِّي﴾ [الأنعام: ٧٧]. وَقَوۡلَهُ لِآلِهَتِهِمۡ: ﴿بَلۡ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا﴾ [الأنبياء: ٦٣]. وَقَوۡلَهُ: ﴿إِنِّي سَقِيمٌ﴾ [الصافات: ٨٩] قَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَا بَيۡنَ الۡمِصۡرَاعَيۡنِ مِنۡ مَصَارِيعِ الۡجَنَّةِ إِلَى عِضَادَتَيِ الۡبَابِ لَكَمَا بَيۡنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ - أَوۡ هَجَرٍ وَمَكَّةَ -). قَالَ: لَا أَدۡرِي أَىَّ ذٰلِكَ قَالَ. 

328. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami dari ‘Umarah bin Al-Qa’qa’, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: 

Semangkuk tsarid dan daging dihidangkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengambil daging bagian lengan. Itu adalah bagian daging yang paling beliau sukai. 

Beliau menggigitnya, lalu bersabda, “Aku adalah pemuka manusia pada hari kiamat.” 

Kemudian beliau menggigit lagi, lalu bersabda, “Aku adalah pemuka manusia pada hari kiamat.” 

Ketika beliau melihat para sahabatnya tidak bertanya kepadanya, beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak bertanya bagaimana itu?” 

Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa begitu, wahai Rasulullah?” 

Rasulullah menjawab, “Manusia akan berdiri menghadap Rabb alamin…” 

Dan beliau menuturkan hadis semakna hadis Abu Hayyan dari Abu Zur’ah. Beliau menambahkan dalam kisah Ibrahim. Beliau berkata: Dan beliau menyebutkan ucapan Ibrahim tentang bintang, “Ini Rabb-ku.” (QS. Al-An’am: 77). Dan ucapan Ibrahim kepada sesembahan orang musyrik, “Sebenarnya patung besar ini yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya`: 63). Dan ucapan Ibrahim, “Sesungguhnya aku sakit.” (QS. Ash-Shaffat: 89). 

Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu janah sampai ke tiang kosen pintu benar-benar seperti antara Makkah dengan Hajar, atau Hajar dengan Makkah.” 

Beliau berkata: Aku tidak tahu yang mana yang beliau katakan.

Shahih Muslim hadits nomor 2278

٢ - بَابُ تَفۡضِيلِ نَبِيِّنَا ﷺ عَلَى جَمِيعِ الۡخَلَائِقِ ‏‏ 
2. Bab pengutamaan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh makhluk 


٣ – (٢٢٧٨) - حَدَّثَنِي الۡحَكَمُ بۡنُ مُوسَىٰ، أَبُو صَالِحٍ: حَدَّثَنَا هِقۡلٌ، يَعۡنِي ابۡنَ زِيَادٍ، عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ: حَدَّثَنِي أَبُو عَمَّارٍ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:‏ (أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنۡ يَنۡشَقُّ عَنۡهُ الۡقَبۡرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ). 

3. (2278). Al-Hakam bin Musa Abu Shalih telah menceritakan kepadaku: Hiql bin Ziyad menceritakan kepada kami dari Al-Auza’i: Abu ‘Ammar menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Farrukh menceritakan kepadaku: Abu Hurairah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku penghulu anak Adam pada hari kiamat. Aku adalah orang pertama yang kuburnya terbelah. Dan aku adalah yang pertama memberi syafaat dan yang pertama dikabulkan syafaatnya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3655

٤ - بَابُ فَضۡلِ أَبِي بَكۡرٍ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ 
4. Bab keutamaan Abu Bakr setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 


٣٦٥٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كُنَّا نُخَيِّرُ بَيۡنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكۡرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ، ثُمَّ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ. [الحديث ٣٦٥٥ – طرفه في: ٣٦٩٧]. 

3655. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan: Kami dahulu memilih di antara kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kami memilih Abu Bakr, kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhum.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3650

٣٦٥٠ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا النَّضۡرُ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ: سَمِعۡتُ زَهۡدَمَ بۡنَ مُضَرِّبٍ: سَمِعۡتُ عِمۡرَانَ بۡنَ حُصَيۡنٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَيۡرُ أُمَّتِي قَرۡنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمۡ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمۡ - قَالَ عِمۡرَانُ: فَلَا أَدۡرِي: أَذَكَرَ بَعۡدَ قَرۡنِهِ قَرۡنَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثًا - ثُمَّ إِنَّ بَعۡدَكُمۡ قَوۡمًا يَشۡهَدُونَ وَلَا يُسۡتَشۡهَدُونَ، وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤۡتَمَنُونَ، وَيَنۡذُرُونَ وَلَا يَفُونَ، وَيَظۡهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ). [طرفه في: ٢٦٥١]. 

3650. Ishaq telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Abu Jamrah: Aku mendengar Zahdam bin Mudharrib: Aku mendengar ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat terbaik adalah kurunku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka—‘Imran berkata: Aku tidak tahu apakah beliau menyebutkan setelah kurunnya dua atau tiga kurun—kemudian sungguh setelah kalian ada suatu kaum yang memberi persaksian padahal mereka tidak diminta bersaksi, mereka berkhianat tanpa diberi amanah, mereka bernazar namun tidak memenuhinya, dan tampak kegemukan pada mereka.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4712

٥ – بَابُ ﴿ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبۡدًا شَكُورًا﴾ ۝٣ 
5. Bab “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra`: 3) 


٤٧١٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيۡمِيُّ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ جَرِيرٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِلَحۡمٍ، فَرُفِعَ إِلَيۡهِ الذِّرَاعُ، وَكَانَتۡ تُعۡجِبُهُ، فَنَهَسَ مِنۡهَا نَهۡسَةً ثُمَّ قَالَ: 

4712. Muhammad bin Muqatil telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Abu Hayyan At-Taimi mengabarkan kepada kami dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Sebuah daging dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagian lengannya disodorkan kepada beliau dan bagian itu beliau senangi. Beliau menggigitnya kemudian bersabda, 

(أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَهَلۡ تَدۡرُونَ مِمَّ ذٰلِكَ؟ يَجۡمَعُ اللهُ النَّاسَ الۡأَوَّلِينَ وَالۡآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، يُسۡمِعُهُمُ الدَّاعِي وَيَنۡفُذُهُمُ الۡبَصَرُ، وَتَدۡنُو الشَّمۡسُ، فَيَبۡلُغُ النَّاسَ مِنَ الۡغَمِّ وَالۡكَرۡبِ مَا لَا يُطِيقُونَ وَلَا يَحۡتَمِلُونَ، فَيَقُولُ النَّاسُ: أَلَا تَرَوۡنَ مَا قَدۡ بَلَغَكُمۡ، أَلَا تَنۡظُرُونَ مَنۡ يَشۡفَعُ لَكُمۡ إِلَى رَبِّكُمۡ؟ فَيَقُولُ بَعۡضُ النَّاسِ لِبَعۡضٍ: عَلَيۡكُمۡ بِآدَمَ، 

Aku adalah penghulu manusia pada hari kiamat. Apakah kalian tahu tentang hal itu? Allah akan mengumpulkan manusia dari awal sampai akhir di sebuah dataran. Yang menyeru akan bisa memperdengarkan kepada mereka semua, pandangan akan menjangkau mereka semua, dan matahari akan mendekat. Maka, kesusahan dan kepayahan akan menimpa manusia sehingga mereka tidak mampu menanggung dan memikulnya. 

Manusia pun berkata, “Bukankah kalian telah melihat apa yang menimpa kalian? Mengapa kalian tidak mencari orang yang dapat memberi syafaat untuk menyampaikan permohonan kalian kepada Rabb kalian?” 

Maka sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain, “Kalian datangi Adam.” 

فَيَأۡتُونَ آدَمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ فَيَقُولُونَ لَهُ: أَنۡتَ أَبُو الۡبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنۡ رُوحِهِ، وَأَمَرَ الۡمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدۡ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنَّهُ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيۡتُهُ، نَفۡسِي نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي، اذۡهَبُوا إِلَى نُوحٍ. 

Mereka datang kepada Adam ‘alaihis salam, lalu berkata kepada beliau, “Engkau bapak manusia. Allah telah menciptakan engkau dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ciptaan-Nya kepadamu, dan memerintahkan malaikat sujud kepadamu. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau lihat keadaan yang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?” 

Adam berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sungguh Allah telah melarangku dari sebuah pohon, namun aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Nuh.” 

فَيَأۡتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، إِنَّكَ أَنۡتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهۡلِ الۡأَرۡضِ، وَقَدۡ سَمَّاكَ اللهُ عَبۡدًا شَكُورًا، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنَّهُ قَدۡ كَانَتۡ لِي دَعۡوَةٌ دَعَوۡتُهَا عَلَى قَوۡمِي، نَفۡسِي نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي، اذۡهَبُوا إِلَى إِبۡرَاهِيمَ. 

Mereka datang kepada Nuh, lalu berkata, “Wahai Nuh, sesungguhnya engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi. Allah telah menyebut engkau sebagai hamba yang banyak bersyukur. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami?” 

Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku azza wajalla pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sungguh dahulu aku memiliki suatu doa yang telah aku panjatkan untuk kaumku. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Ibrahim.” 

فَيَأۡتُونَ إِبۡرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ: يَا إِبۡرَاهِيمُ، أَنۡتَ نَبِيُّ اللهِ وَخَلِيلُهُ مِنۡ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ لَهُمۡ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنِّي قَدۡ كُنۡتُ كَذَبۡتُ ثَلاَثَ كَذَبَاتٍ ـ فَذَكَرَهُنَّ أَبُو حَيَّانَ فِي الۡحَدِيثِ ـ نَفۡسِي نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي، اذۡهَبُوا إِلَى مُوسَى. 

Mereka datang kepada Ibrahim, lalu berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah nabi dan khalil Allah dari kalangan penduduk bumi. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami?” 

Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sungguh aku dahulu pernah berbohong tiga kebohongan—Abu Hayyan menyebutkan tiga kebohongan itu di dalam hadis—. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kepada Musa.” 

فَيَأۡتُونَ مُوسَى فَيَقُولُونَ: يَا مُوسَى، أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ، فَضَّلَكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلَامِهِ عَلَى النَّاسِ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ، وَإِنِّي قَدۡ قَتَلۡتُ نَفۡسًا لَمۡ أُومَرۡ بِقَتۡلِهَا، نَفۡسِي نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي، اذۡهَبُوا إِلَى عِيسَى. 

Mereka datang kepada Musa, lalu berkata, “Wahai Musa, engkau adalah rasul Allah. Allah telah mengutamakan engkau di atas manusia dengan risalah-Nya dan pembicaraan langsung dengan-Nya. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau lihat apa yang kami alami?” 

Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku telah membunuh satu jiwa yang aku tidak diperintah untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selainku. Pergilah kalian kepada ‘Isa.” 

فَيَأۡتُونَ عِيسَى فَيَقُولُونَ: يَا عِيسَى، أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلۡقَاهَا إِلَى مَرۡيَمَ وَرُوحٌ مِنۡهُ، وَكَلَّمۡتَ النَّاسَ فِي الۡمَهۡدِ صَبِيًّا، اشۡفَعۡ لَنَا أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ عِيسَى: إِنَّ رَبِّي قَدۡ غَضِبَ الۡيَوۡمَ غَضَبًا لَمۡ يَغۡضَبۡ قَبۡلَهُ مِثۡلَهُ، وَلَنۡ يَغۡضَبَ بَعۡدَهُ مِثۡلَهُ ـ وَلَمۡ يَذۡكُرۡ ذَنۡبًا ـ نَفۡسِي نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى غَيۡرِي، اذۡهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ. 

Mereka datang kepada ‘Isa, lalu berkata, “Wahai ‘Isa, engkau adalah rasul Allah, kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan ruh dari ciptaan-Nya. Engkau berbicara kepada manusia saat masih bayi di buaian. Berilah syafaat untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami?” 

‘Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya—beliau tidak menyebutkan satu dosa pun—. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada selainku. Pergilah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

فَيَأۡتُونَ مُحَمَّدًا ﷺ فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ أَنۡتَ رَسُولُ اللهِ، وَخَاتَمُ الۡأَنۡبِيَاءِ، وَقَدۡ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحۡنُ فِيهِ؟ فَأَنۡطَلِقُ فَآتِي تَحۡتَ الۡعَرۡشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يَفۡتَحُ اللهُ عَلَىَّ مِنۡ مَحَامِدِهِ وَحُسۡنِ الثَّنَاءِ عَلَيۡهِ شَيۡئًا لَمۡ يَفۡتَحۡهُ عَلَى أَحَدٍ قَبۡلِي، ثُمَّ يُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارۡفَعۡ رَأۡسَكَ، سَلۡ تُعۡطَهۡ، وَاشۡفَعۡ تُشَفَّعۡ، فَأَرۡفَعُ رَأۡسِي فَأَقُولُ: أُمَّتِي يَا رَبِّ، أُمَّتِي يَا رَبِّ، فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ أَدۡخِلۡ مِنۡ أُمَّتِكَ مَنۡ لَا حِسَابَ عَلَيۡهِمۡ مِنَ الۡبَابِ الأَيۡمَنِ مِنۡ أَبۡوَابِ الۡجَنَّةِ، وَهُمۡ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذٰلِكَ مِنَ الۡأَبۡوَابِ، ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، إِنَّ مَا بَيۡنَ الۡمِصۡرَاعَيۡنِ مِنۡ مَصَارِيعِ الۡجَنَّةِ، كَمَا بَيۡنَ مَكَّةَ وَحِمۡيَرَ، أَوۡ: كَمَا بَيۡنَ مَكَّةَ وَبُصۡرَى). [طرفه في: ٣٣٤٠]. 

Mereka datang kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Muhammad engkau adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami?” 

Aku pergi dan datang ke bawah ‘arsy. Aku menyungkur sujud kepada Rabb-ku azza wajalla. Kemudian Allah bukakan untukku pujian dan sanjungan yang indah untuk-Nya yang belum pernah Allah bukakan kepada seorang pun sebelumku. 

Kemudian ada yang berkata, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafaat, akan dikabulkan.” 

Aku mengangkat kepalaku lalu berkata, “Umatku wahai Rabb-ku. Umatku wahai Rabb-ku.” 

Lalu ada yang berkata, “Wahai Muhammad, masukkanlah dari umatmu siapa saja yang tidak dihisab dari pintu surga paling kanan. Mereka boleh masuk di pintu selain itu bersama dengan orang-orang yang lain.” 

Kemudian beliau berkata, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu surga seperti jarak antara Makkah dengan Himyar, atau seperti jarak antara Makkah dengan Busra.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1291

٣٣ – بَابُ مَا يُكۡرَهُ مِنَ النِّيَاحَةِ عَلَى الۡمَيِّتِ 
33. Bab bentuk ratapan yang dibenci terhadap mayit 


وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: دَعۡهُنَّ يَبۡكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيۡمَانَ، مَا لَمۡ يَكُنۡ نَقۡعٌ أَوۡ لَقۡلَقَةٌ. وَالنَّقۡعُ: التُّرَابُ عَلَى الرَّأۡسِ، وَاللَّقۡلَقَةُ: الصَّوۡتُ. 

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Biarkan mereka menangisi Abu Sulaiman, selama tidak berupa naq’ atau laqlaqah. Naq’ adalah (menaburkan) debu ke kepala. Laqlaqah adalah suara. 

١٢٩١ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُبَيۡدٍ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ رَبِيعَةَ، عَنِ الۡمُغِيرَةِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيۡسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنۡ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلۡيَتَبَوَّأۡ مَقۡعَدَهُ مِنَ النَّارِ)‏.‏ سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ نِيحَ عَلَيۡهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيۡهِ).‏ 

1291. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sa’id bin ‘Ubaid menceritakan kepada kami dari ‘Ali bin Rabi’ah, dari Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti dusta atas nama orang lain. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan dia menyiapkan tempat duduknya dari neraka.” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang diratapi, maka dia diazab dengan sebab ratapan terhadapnya.”

Mencukur Jenggot

Tanya: Suatu hari ana berdiskusi dengan salah satu kawan tentang JENGGOT. Katanya Rasulullah setiap hari Jum'at mencukur jenggot beliau. Apa benar demikian? Dan apa dalilnya? (Arfah) 

Jawab: Apa yang dikemukakannya tidak benar, tidak ada riwayat yang menjelaskannya sekalipun yang dhaif (lemah) apalagi yang shahih, hanya saja di sana ada riwayat yang datang dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memotong sebagian jenggotnya karena lebatnya dan panjangnya." Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no: 2762, namun di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Umar bin Harun

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 10/350, "Hadits ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi." Kemudian beliau menukil ucapan Imam Bukhari tentang Umar bin Harun, yakni "Aku tidak mengetahui hadits mungkar miliknya kecuali ini." Sedang di dalam Taqribut Tahdzib dikatakan "Ia seorang yang matruk (ditinggalkan periwayatannya)." 

Karena itulah Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Author 1/138, mengatakan "Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah." Demikian pula Imam An-Nawawi dalam Al Majmu' Syarh Muhadzdzab: 1/290 berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang dha'if tidak bisa dijadikan hujjah." 

Walhasil seseorang hendaknya berhati-hati dari menisbatkan sesuatu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebab beliau telah bersabda, "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama seseorang, maka siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia mengambil bagian tempatnya di neraka." (HR Muslim -Bab Taghlidul Kadzibi 'ala Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam-, diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari no: 1291, dan yang lainnya). Wal ilmu indallah.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-19 Tahun ke-3 / 08 April 2005 M / 29 Shafar 1426 H.

Taqrib At-Tahdzib - 317. Usamah bin Zaid Al-Laitsi

٣١٧ - [خت م ٤] أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ اللَّيۡثِيُّ مَوۡلَاهُمۡ، أَبُو زَيۡدٍ الۡمَدَنِيُّ، صَدُوقٌ يَهِمُ، مِنَ السَّابِعَةِ مَاتَ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَخَمۡسِينَ، وَهُوَ ابۡنُ بِضۡعٍ وَسَبۡعِينَ.
317. Usamah bin Zaid Al-Laitsi maula mereka, Abu Zaid Al-Madani. Beliau shaduq yahim (jujur terkadang keliru). Termasuk tingkatan ketujuh. Beliau meninggal pada tahun 153 H ketika berumur antara 73-79 tahun.

Taqrib At-Tahdzib - 5050. 'Amr bin Syu'aib

٥٠٥٠ - [ر ٤] عَمۡرُو بۡنُ شُعَيۡبِ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ، صَدُوقٌ، مِنَ الۡخَامِسَةِ، مَاتَ سَنَةَ ثَمَانِي عَشۡرَةَ وَمِائَةَ.
5050. 'Amr bin Syu'aib bin Muhammad bin 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash. Dia shaduq (jujur), termasuk tingkatan kelima. Beliau meninggal tahun 118 H.

Taqrib At-Tahdzib - 4979. 'Umar bin Harun Al-Balkhi

٤٩٧٩ - [ت ق] عُمَرُ بۡنُ هَارُونَ بۡنِ يَزِيدَ الثَّقَفِيُّ مَوۡلَاهُمۡ، الۡبَلۡخِيُّ، مَتۡرُوكٌ، وَكَانَ حَافِظًا، مِنۡ كِبَارِ التَّاسِعَةِ، مَاتَ سَنَةَ أَرۡبِعٍ وَتِسۡعِينَ.
4979. 'Umar bin Harun bin Yazid Ats-Tsaqafi maula mereka, Al-Balkhi. Beliau adalah matruk (orang yang ditinggalkan hadisnya) dan beliau adalah seorang hafizh. Termasuk senior tingkatan kesembilan. Beliau meninggal tahun 194 H.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2762

١٧ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الۡأَخۡذِ مِنَ اللِّحۡيَةِ 
17. Bab riwayat tentang memotong sebagian jenggot 


٢٧٦٢ – (موضوع) حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ هَارُونَ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُعَيۡبٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَأۡخُذُ مِنۡ لِحۡيَتِهِ مِنۡ عَرۡضِهَا وَطُولِهَا. هَٰذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ. وَسَمِعۡتُ مُحَمَّدَ بۡنَ إِسۡمَعِيلَ يَقُولُ: عُمَرُ بۡنُ هَارُونَ مُقَارِبُ الۡحَدِيثِ لَا أَعۡرِفُ لَهُ حَدِيثًا لَيۡسَ لَهُ أَصۡلٌ، أَوۡ قَالَ: يَنۡفَرِدُ بِهِ، إِلَّا هَٰذَا الۡحَدِيثَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأۡخُذُ مِنۡ لِحۡيَتِهِ مِنۡ عَرۡضِهَا وَطُولِهَا، لَا نَعۡرِفُهُ إِلَّا مِنۡ حَدِيثِ عُمَرَ بۡنِ هَارُونَ، وَرَأَيۡتُهُ حَسَنَ الرَّأۡيِ فِي عُمَرَ. وَسَمِعۡتُ قُتَيۡبَةَ يَقُولُ: عُمَرُ بۡنُ هَارُونَ كَانَ صَاحِبَ حَدِيثٍ، وَكَانَ يَقُولُ: الۡإِيمَانُ قَوۡلٌ وَعَمَلٌ. سَمِعۡتُ قُتَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعُ بۡنُ الۡجَرَّاحِ، عَنۡ رَجُلٍ، عَنۡ ثَوۡرِ بۡنِ يَزِيدَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَصَبَ الۡمَنۡجَنِيقَ عَلَى أَهۡلِ الطَّائِفِ، قَالَ قُتَيۡبَةُ: قُلۡتُ لِوَكِيعٍ: مَنۡ هَٰذَا؟ قَالَ: صَاحِبُكُمۡ عُمَرُ بۡن هَارُونَ. [(الضعيفة)(٢٨٨)]. 

2762. [Maudhu’/palsu] Hannad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Umar bin Harun menceritakan kepada kami dari Usamah bin Zaid, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memotong sebagian jenggot beliau dari bagian samping dan bawahnya. Ini adalah hadis garib. 

Aku mendengar Muhammad bin Isma’il berkata: ‘Umar bin Harun muqarib al-hadits (biasa meriwayatkan hadis yang mendekati hadis perawi yang tepercaya). Aku tidak mengetahui dia memiliki satu hadis yang tidak memiliki asalnya—atau beliau berkata: yang dia bersendirian meriwayatkannya—kecuali hadis ini, yaitu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memotong sebagian jenggot beliau dari bagian samping dan bawahnya. Kami tidak mengetahui hadis ini kecuali dari hadis ‘Umar bin Harun. Aku berpendapat bahwa Muhammad bin Isma’il berpikiran baik terhadap ‘Umar. 

Aku mendengar Qutaibah berkata: ‘Umar bin Harun dahulu adalah orang yang memiliki riwayat hadis. Dahulu beliau berpendapat bahwa iman adalah ucapan dan amalan. Aku mendengar Qutaibah berkata: Waki’ bin Al-Jarrah menceritakan kepada kami dari seseorang, dari Tsaur bin Yazid; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasang katapel besar ke arah penduduk Tha`if. Qutaibah berkata: Aku bertanya kepada Waki’: Siapa orang ini? Waki’ menjawab: Sahabat kalian, yaitu ‘Umar bin Harun.

Menghadiri Tahlilan

Tanya: Assalamu 'alaikum. Saya ingin bertanya apa hukum menghadiri tahlilan demi untuk hubungan sesama manusia walau tidak ada contoh dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? (Jay Cimahi, 081321125***) 

Jawab: Wa 'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, saudaraku Jay—semoga Allah menjagamu—hubungan sesama manusia adalah hal yang baik, bahkan diperintahkan oleh syariat. Jika demikian syariat tentu tidaklah mengesampingkan aturan mainnya. Syariat sedikitpun tidaklah menghendaki dengan dalih "hubungan sesama manusia", seseorang harus melakukan dosa, melakukan hal yang maksiat, hal yang diharamkan atau hal yang merupakan bid'ah. Oleh karena itulah maka Allah telah berfirman, 
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَ‌ٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ 
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (QS Al Maidah: 2). 

Wal ilmu indallah.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-19 Tahun ke-3 / 08 April 2005 M / 29 Shafar 1426 H.

Membeli Surga dengan 1 Dirham

Sunan Abu Dawud, siapa yang tidak kenal kitab ini? Kitab yang disusun untuk mengulas pembahasan hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan urutan bab-bab fikih. Kitab ini termasuk di antara enam kitab induk yang menjadi rujukan dalam membahas hadis.

Semua kalangan pasti kenal kitab ini. Tentunya ketenaran kitab ini tidak lepas dari sosok penyusunnya. Ya, beliau adalah Al Imam Sulaiman bin Al Asy'ats As Sijistaany yang lebih dikenal dengan kunyahnya Al Imam Abu Dawud rahimahullah.

Beliau lahir pada tahun 202 H. Beliau dikenal akan keilmuan dan ketakwaannya. Beliau menjadi rujukan umat di masanya. Beliau memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai macam bidang ilmu. Para ulama di masa itu banyak memberikan pujian untuk beliau. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal, tokoh mazhab Hambali pernah meriwayatkan satu hadis dari Imam Abu Dawud.

Imam Abu Bakar Al Khallal rahimahullah, salah seorang imam di masa itu pernah berkata tentang Al Imam Abu Dawud, "Abu Dawud adalah seorang imam yang sangat menonjol di masanya. Tidak ada satupun di masa itu yang mengungguli keilmuannya. Beliau adalah imam yang sangat bertakwa dan taat."

Apakah Anda pernah mendengar istilah "Jihbidz"? Ya, itu adalah gelar bagi para ulama pakar hadis yang memiliki kemampuan khusus dalam hal menilai kesalahan-kesalahan hadis yang sangat samar. Ulama hadis sangatlah banyak, namun tidak semua memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui penyakit hadis yang sangat samar. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu.

Dan ternyata kemampuan itu dimiliki oleh Al Imam Abu Dawud rahimahullah. Hal itu sangat nampak dari pujian para ulama yang diberikan kepada beliau. Berkata Ahmad bin Muhammad bin Yaasiin rahimahullah, "Abu Dawud adalah penjaga Islam yang sangat mengerti hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, baik dari sisi sanad maupun penyakit-penyakitnya. Beliau adalah imam yang sangat rajin dalam beribadah. Sangat menjaga kehormatan diri. Imam yang saleh dan bertakwa. Pakarnya ilmu hadis."

Ketika beliau menyusun kitab sunannya, semua kalangan menerima kitab tersebut. Bahkan mereka mengakui bagaimanakah keilmuan beliau dengan kitab itu. Berkata Muhammad bin Ishaq Ash Shaaghaani dan Ibrahim Al Harbi, "Ketika Abu Dawud menyusun kitab sunannya, seakan hadis ditundukkan untuk beliau. Sebagaimana besi ditundukkan untuk Nabi Dawud 'alaihis salam."

Berkata Muhammad bin Makhlad rahimahullah, "Ketika beliau menyusun kitab sunannya, beliau membacakannya kepada umat manusia. Para ulama hadis menganggap kitab beliau seperti mushaf. Mereka mengikutinya dan tidak menyelisihinya. Semua orang di masa beliau mengakui hafalan dan keunggulan beliau."

Suatu hari Sahl bin Abdillah Attustary datang mengunjungi Imam Abu Dawud. Seseorang berkata, “Wahai Abu Dawud, Sahl datang menemuimu.” Maka beliau pun menyambutnya dengan hangat dan meminta beliau untuk duduk bersamanya.

Sahl berkata, “Wahai Abu Dawud, aku memiliki kebutuhan denganmu.”

“Apa itu?” Tanya Abu Dawud.

“Engkau harus berjanji akan memenuhinya.” Tegas Sahl.

“Ya.” Jawab Abu Dawud.

“Keluarkan lisanmu yang engkau gunakan untuk membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ingin menciumnya.” Pinta Sahl. Beliau pun mengeluarkan lisannya dan Sahl pun menciumnya.

Subhaanallah, begitulah sikap hormat para ulama di masa itu kepada para pembawa hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hingga ada sebagian yang berlebihan dalam memuji beliau sampai mengatakan, “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk mengkhidmat hadis. Dan diciptakan di akhirat untuk surga.”

Beliau juga memiliki sikap adil dan ketegasan. Abu Bakar bin Jabir pembantu Abu Dawud pernah bercerita, “Suatu hari aku pernah bersama Abu Dawud di Kota Baghdad. Kami salat Maghrib di sana. Setelah itu datanglah Abu Ahmad Al Muwaffaq seorang amir (gubernur). Abu Dawud menyambutnya dan berkata, “Tidak biasanya seorang amir datang di waktu seperti ini.”

Dia menjawab, “Aku datang dengan membawa tiga hal.”

“Apa itu?” Tanya Abu Dawud.

Sang amir berkata, “Engkau harus pindah ke Bashrah dan tinggallah di sana. Agar para pencari ilmu datang berguru kepadamu. Sehingga Kota Bashrah menjadi kembali makmur. Karena Bashrah sekarang hancur dan ditinggal oleh manusia, setelah terjadi fitnah besar di sana.”

“Ini yang pertama.” Tanggap Abu Dawud.

Sang amir berkata lagi, “Aku minta engkau membacakan kitab sunanmu untuk anak-anakku.”

“Ya, sebutkan yang ketiga!”

Sang amir berkata, “Aku memintamu untuk mengajari mereka secara khusus. Karena anak-anak khalifah tidak bisa duduk bersama orang-orang umum.”

Dengan tegas Abu Dawud menolak dan berkata, “Kalau ini aku tidak bisa mengabulkannya. Semua manusia sama dalam hal mencari ilmu.” Anak-anak sang amir akhirnya hadir di majelis Abu Dawud, mereka duduk dengan memakai baju yang melingkar dan memiliki penutup. Mereka duduk dengan masyarakat umum yang lain. MasyaAllah, begitulah ilmu mengangkat derajat pemiliknya.

Ada sebuah kisah yang sangat menakjubkan dari beliau. Sebagai bukti akan ketakwaan beliau dan ketaatan beliau dalam menjalankan sunnah dan ibadah. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah penulis kitab Fathul Baari berkata, “Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Dawud rahimahullah penyusun kitab Sunan. Suatu hari beliau (Abu Dawud) sedang naik kapal. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang bersin di seberang dermaga, kemudian orang ini membaca Alhamdulillah. Segera Abu Dawud menyewa sampan kecil dengan tarif satu dirham. Beliau mendayungnya hingga menghampiri lelaki tadi, kemudian beliau membaca, ‘yarhamukallah.’ Setelah itu beliau kembali ke tempat semula.

Beliau ditanya mengapa bersusah payah menyewa sampan kecil hanya untuk menanggapi orang yang bersin. Beliau menjawab, “Siapa tahu orang tadi memiliki doa yang dikabulkan.”

Maksud beliau ketika dia berdoa untuk Abu Dawud, harapan beliau Allah mengabulkannya. Ketika waktu malam tiba, semua penduduk kapal tertidur. Tiba-tiba mereka mendengar seseorang berkata, “Wahai penghuni kapal, sungguh Abu Dawud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirham.”

MasyaAllah, alangkah semangatnya beliau dalam beribadah kepada Allah, bahkan dengan hal yang remeh sekalipun beliau berupaya untuk bisa menjalankannya. Semoga Allah merahmati beliau.

Beliau meninggal pada tanggal enam belas bulan Syawwal tahun dua ratus tujuh puluh lima. Semoga Allah merahmati beliau. Kita memohon kepada Allah taufik dan hidayah untuk bisa meniru dan meniti jejak ulama kita dalam membela sunnah, menyebarkannya, dan mendakwahkannya. Amin.


Disadur dari kitab Siyar A’laamun Nubala’ karya Al Hafizh Adz Dzahabi dan dari kitab Karaamaatul Auliya karya Abdur Raqib Al Ibbi.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 69 vol.06 1440 H rubrik Ulama. Pemateri: Al Ustadz Abu Amr As Sidawy.

Ma Hiya As-Salafiyyah? - Penutup dan Kalimat yang Mencerahkan

Bab Ketujuh: Penutup dan Kalimat yang Mencerahkan 


Telah lewat bersama kita—wahai saudara yang saya cintai—dalam ceramah ringkas ini, poin-poin penting yang wajib bagi seseorang yang bersemangat terhadap keselamatan dirinya untuk menetapi yang ditunjukkan oleh dalil, berupa berpegang teguh dengan urusan agama yang lampau, yaitu jalan para pendahulu umat ini yang saleh. Allah taala berfirman, 
فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا 
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya. (QS. Al-Kahfi: 110). 

Allah subhanahu wa taala berfirman,
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا 
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21). 

Di sini aku tambahkan beberapa kalimat yang mencerahkan pada nukilan sebelumnya, berupa anjuran, dorongan, dan perintah para imam agar menetapi jalan salaf saleh. Kami akan mengingatkan dengannya karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Di antara kalimat itu adalah: 

1. Salah satu pegawai Imam ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah bertanya tentang bidah-bidah, maka ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat kepadanya yang isinya, “Amabakdu. Sesungguhnya aku wasiatkan kepada engkau agar bertakwa kepada Allah, sederhana dalam agama-Nya, mengikuti jalan-Nya dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meninggalkan ibadah yang diada-adakan setelah beliau, yang sebenarnya sudah ada aturannya dan kebutuhan akan hal itu sudah terpenuhi. Lalu, engkau wajib untuk menetapi sunah, karena dengan izin Allah engkau akan terjaga. Ketahuilah bahwa tidaklah orang-orang melakukan bidah dalam suatu ibadah kecuali sebelumnya sudah ada dalil dan pelajaran tentangnya. Karena sunah telah dicontohkan oleh yang mengetahui jika sunah diselisihi akan mengakibatkan kekeliruan, dosa, kebodohan, dan sikap ekstrem. Sehingga, ridailah untuk dirimu dengan yang telah diridai oleh para sahabat untuk diri mereka, karena mereka adalah orang-orang yang telah mendahului kita. Mereka berpendirian di atas ilmu dan menahan diri di atas pandangan yang jauh ke depan. Apabila mereka ingin menyingkap berbagai urusan agama tentu lebih kuat dan apabila ada keutamaan dalam suatu urusan agama tentu mereka lebih bersemangat. Jika memang petunjuk itu ada pada jalan yang kalian lalui, tentu mereka akan mendahului kalian. Tidaklah engkau katakan perkara yang diada-adakan setelah mereka itu muncul kecuali dilakukan oleh orang yang mengikuti selain jalan para sahabat dan membenci mereka. Para sahabat telah berbicara dalam hal ini dengan ucapan yang cukup dan memberi gambaran yang memuaskan. Jadi yang menempuh jalan di bawah jalan para sahabat adalah orang yang mengurang-ngurangi, sedangkan yang menempuh jalan di atas mereka adalah orang yang melampaui batas. Sungguh orang-orang yang bermudah-mudahan di bawah jalan para sahabat telah bersikap keras, sedangkan orang-orang lainnya yang melampaui jalan para sahabat telah melampaui batas. Dan sesungguhnya mereka yang ada di antara itu pasti berada di atas petunjuk yang lurus.”[1]

2. Al-Imam Muhammad bin Muslim Az-Zuhri rahimahullah berkata, “Para ulama terdahulu mengatakan: Berpegang teguh dengan sunah adalah keselamatan. Ilmu dicabut dengan sangat cepat. Dengan keberadaan ilmu ini, agama dan dunia akan kokoh. Dan dengan sirnanya ilmu, akan sirna pula hal itu seluruhnya.”[2]

3. Al-Imam Ibnu Hibban di dalam mukadimah kitab Shahih[3] berkata, “Sesungguhnya dalam sikap menetapi sunah Rasulullah merupakan kesempurnaan keselamatan, terkumpulnya karamah. Sinarnya tidak dapat dipadamkan dan argumen-argumennya tidak dapat disanggah. Siapa saja yang menetapinya akan terjaga dari kesalahan dan siapa saja yang menyelisihinya akan menyesal. Karena sunah adalah benteng yang kokoh dan pilar yang sangat kuat. Keutamaannya telah jelas, talinya kuat. Siapa saja yang memegangnya dengan kuat akan mulia, sementara yang lebih suka menyelisihinya akan binasa. Sehingga, orang yang bergantung dengan sunah merupakan orang yang berbahagia kelak dan orang yang menjadi dambaan manusia di dunia.” 

4. Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata di dalam kitab Dzammil Muwaswisin[4], “Dalam sikap mengikuti sunah ada keberkahan mencocoki syariat, rida Allah subhanahu wa taala, terangkatnya derajat, tenteramnya hati, tenangnya badan, membuat setan marah, dan menempuh jalan yang lurus.” 

5. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Amalan yang paling mendekatkan kepada Allah adalah senantiasa mengikuti sunah dan berpihak padanya baik lahir maupun batin, senantiasa merasa butuh kepada Allah, dan mengharap wajah-Nya semata dalam ucapan dan perbuatan. Tidak ada yang dapat menyampaikan seorang pun kepada Allah kecuali dari tiga perkara ini. Dan tidaklah seorang pun terputus dari amalan yang mendekatkan kepada Allah kecuali karena terhalangi dari ketiganya atau salah satunya.”[5]

6. Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata di dalam kitabnya Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf[6], “Ilmu yang paling utama dalam tafsir Alquran, makna-makna hadis, perkataan tentang halal dan haram adalah selama ada riwayat dari sahabat, tabiin, dan yang mengikuti mereka sampai berakhir pada zaman para imam Islam yang terkenal yang diteladani. Yaitu yang telah kita sebutkan nama mereka pada pembahasan yang lalu. 

Maka memastikan riwayat mereka dalam hal itu adalah seutama-utama ilmu. Disertai memahaminya, mengilmuinya, dan mendalaminya. Adapun yang muncul setelah mereka berupa hal yang terlalu meluas, maka tidak ada kebaikan pada sebagian besarnya. Kecuali berupa penjelasan ucapan yang berkaitan dengan ucapan mereka. Adapun penjelasan yang menyelisihi ucapan mereka, maka sebagian besarnya adalah batil atau tidak ada manfaat padanya… Maka, tidaklah didapati kebenaran pada ucapan orang setelah mereka kecuali kebenaran itu ada pada ucapan para salaf dengan redaksi yang lebih ringkas dan ungkapan yang lebih padat. Dan tidaklah didapati kebatilan pada ucapan orang setelah mereka kecuali ada pada ucapan para salaf yang menjelaskan kebatilannya itu bagi orang yang mau memahami dan merenungi. Didapati pula pada ucapan para salaf, makna-makna yang luar biasa dan metode-metode yang rinci yang orang-orang setelahnya tidak bisa sampai kepadanya, sehingga siapa saja yang tidak mengambil ilmu dari ucapan salaf, dia akan luput dari seluruh kebaikan itu serta dia akan jatuh dalam banyak kebatilan karena mengikuti orang yang datang setelah mereka. 

Siapa saja yang ingin mengumpulkan ucapan para salaf, maka dia butuh untuk mengetahui yang sahih dari yang sakit. Yaitu dengan mengetahui ilmu al-jarh wat-tadil wal-’ilal (ilmu tentang penilaian ulama terhadap rawi dan cacat sanad). Jadi, siapa saja yang tidak mengerti hal itu, berarti dia tidak bisa memastikan ucapan yang dia nukil dan yang benar akan bercampur dengan yang batil… Di zaman kita ini, yang sudah tentu dipelajari adalah tulisan ucapan para imam salaf yang dijadikan teladan sampai zaman Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Abu ‘Ubaid. Dan hendaknya manusia berhati-hati dari ucapan setelah mereka karena muncul setelah mereka banyak peristiwa.” 

Hanya kepada Allah, aku meminta dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia 
  • agar Dia memberi taufik kepada kita semua pada perkara yang Dia cintai dan ridai, 
  • agar Allah menjadikan kita diberkahi di mana saja kita berada, 
  • agar Allah meneguhkan kita di atas Islam dan sunah, 
  • agar Allah mematikan kita dalam keadaan tidak kalah dalam ujian, 
  • agar Allah menyusulkan kita kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. 

Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan doa. Semoga selawat, salam, dan berkah Allah curahkan kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Segala puji untuk Allah Rabb semesta alam. 


[1] Diriwayatkan oleh Al-Ajurri di dalam Asy-Syari’ah halaman 48 dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anha nomor 74 dengan sanad yang sahih. Juga ada riwayat semisalnya di dalam Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (5/338). Juga silakan lihat Al-I’tisham (1/50) karya Asy-Syathibi. 
[2] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi di dalam Sunan (1/44) dengan sanad yang sahih. 
[3] (1/102 – Al-Ihsan). 
[4] (41). 
[5] Al-Fawa`id halaman 108. 
[6] (40-42).

Bintang Bersinar di Langit

Nama sebenarnya adalah Yahya bin Sa'id bin Farrukh Al Qaththan At Tamimi Al Ahwal dengan kunyah Abu Sa'id Al Bashri rahimahullah. Beliau dilahirkan pada awal tahun 120 H yang berstatus bekas budak Bani Tamim menurut sebagian ulama. Sejak usia remaja Yahya sangat menyukai ilmu-ilmu syar'i dan hadis. Wajar jika perhatian terfokus sepenuhnya kepada ilmu hadis. Beliau buktikan kecintaannya tersebut dengan kesungguhan meriwayatkan hadis hingga melakukan rihlah ke berbagai negeri.

Di antara ulama yang pernah diambil ilmunya adalah Sulaiman At Taimi, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa'id Al Anshari, Ibnu Abi Arubah, Syu'bah bin Al Hajjaj, Sufyan Ats Tsauri, Bahz bin Hakim, Abdurrahman bin Harmalah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di antara gurunya yang sangat berpengaruh adalah Syu'bah bin Al Hajjaj rahimahullah. Karena Yahya berguru kepada Syu'bah selama 20 tahun untuk meriwayatkan hadis darinya. Selama itu beliau mendengar lebih dari tiga belas hadis setiap harinya dari Syu'bah. Yahya juga banyak mengambil ilmu dari Syu'bah tentang ilmu jarh wa ta'dil.

KARAKTERNYA


Berpenampilan sederhana namun kapasitas ilmunya sangat luar biasa. Secara lahiriah Yahya terlihat sebagai seorang muslim biasa dan tidak ada istimewanya. Pernah suatu saat beliau disangka sebagai seorang pedagang biasa karena penampilannya yang sederhana. Namun tatkala berbicara menyampaikan ilmu, semua ahli fikih terdiam seribu bahasa.

Suatu ketika Yahya selesai melakukan salat Ashar, beliau bersandar pada salah satu tiang menara di masjidnya. Ternyata di hadapannya telah berdiri para ulama yang siap meriwayatkan hadis darinya semisal Ali bin Madini, Syadzakuni, Amr bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, dan yang lainnya. Mereka bertanya kepada Yahya tentang hadis dalam kondisi berdiri di atas kaki-kaki mereka sampai tiba waktu maghrib. Yahya tidak menyuruh seorang pun di antara mereka untuk duduk dan tidak pula mereka memintanya karena merasa segan kepada Yahya.

Beliau memang dikenal sebagai ulama yang berwibawa dan karismatik. Jarang berbicara dan tidak pernah tertawa, namun hanya tersenyum saja. Sebagaimana penuturan cucunya yang bernama Ahmad, "Kakekku tidak pernah bergurau dan tertawa, namun dia hanya tersenyum." Ini salah satu sebab yang membuat kewibawaan Yahya sangat besar di hadapan manusia.

Akidah dan keyakinan yang mantap nan lurus semakin mendukung kewibawaan Yahya di hadapan para ulama. Dalam sebuah pernyataannya beliau menyatakan, "Setiap ulama yang aku jumpai senantiasa berkata bahwa iman adalah ucapan dan amalan bisa bertambah serta berkurang. Mereka mengafirkan Jahmiyah dan mengutamakan Abu Bakar dan Umar dalam keutamaan dan kepemimpinan. Beliau juga menegaskan, "Barang siapa mengatakan bahwa Qul Huwallahu Ahad adalah makhluk maka dia adalah zindiq. Allah Dialah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia."

PUJIAN ULAMA


Imam Ahmad sangat menghormati Yahya sebagai ulama hadis dan memuliakannya. Sampai-sampai ia mengatakan, "Kedua mataku ini belum pernah melihat manusia seperti Yahya bin Sa'id. Belum pernah pula aku menulis hadis dari ulama semisal beliau." Rekomendasi juga datang dari Abu Awanah; ulama yang bernama Al Wadhah Al Yasykuri ini mengatakan, "Apabila kalian menginginkan hadis, maka kalian harus meriwayatkan dari Al Qaththan (Yahya bin Sa'id)." Maka seseorang bertanya kepadanya, "Lalu di mana Hammad bin Zaid?" Ia pun menegaskan, "Yahya bin Sa'id adalah guru kami."

Yahya bin Sa'id rahimahullah juga menjadi rujukan ulama untuk memutuskan perselisihan dalam ilmu hadis. Pernah para perawi hadis berselisih pendapat mengenai sebuah hadis di hadapan Syu'bah. Orang-orang pun berkata kepada Syu'bah, "Pilihlah penengah yang bisa memutuskan perselisihan di antara kita ini." Syu'bah berkata, "Aku rida jika Al Ahwal (Yahya bin Sa'id) sebagai pengadilnya." Datanglah Yahya dan memutuskan bahwa Syu'bah sebagai yang bersalah dalam perselisihan tersebut. Maka Syu'bah mengatakan, "Siapa yang mampu mengkritik keputusanmu wahai Ahwal."

Ali Madini rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang paling besar andilnya saat ini untuk Islam dan kaum muslimin. Maka Ali menjawab, "Dia adalah Yahya bin Sa'id Al Qaththan." Tentu apa yang Ali sebutkan bukan omong kosong tanpa bukti. Yahya bin Sa'id termasuk pakar hadis dalam ilmu jarh wa ta'dil (vonis kejelekan dan kebaikan perawi hadis). Ilmu ini memiliki posisi yang vital dalam disiplin ilmu hadis karena menjadi penentu diterima atau tertolaknya hadis. Tidak semua ahli hadis punya kapasitas yang mumpuni dalam ilmu jarh wa ta'dil. Karena ilmu ini terfokus kepada penelitian terhadap keadaan para perawi hadis. Adanya cacat pada perawi dalam agama atau hafalannya bisa berimplikasi tertolaknya hadis yang diriwayatkan. Dengan demikian akan teridentifikasi dengan baik hadis yang shahih dan hadis yang lemah atau palsu. Dengan keberadaan ulama jarh wa ta'dil ini akan terjaga kemurnian ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sementara popularitas Yahya bin Sa'id dalam hal ini telah membahana di berbagai penjuru negeri kaum muslimin. Kapasitas keilmuannya dalam bidang ini juga telah diakui oleh ulama-ulama besar. Ali bin Madini pernah menyatakan, "Aku belum pernah melihat seorang ulama yang lebih berilmu tentang keadaan para perawi hadis daripada Yahya bin Sa'id Al Qaththan." Al 'Ijli menyatakan, "Yahya bin Sa'id adalah seorang penyeleksi hadis. Tidaklah ia menyampaikan hadis melainkan dari perawi yang tsiqah (terpercaya)."

Putra Imam Ahmad yang bernama Abdullah pernah bertanya kepada sang ayah, "Siapa menurutmu yang paling berilmu tentang hadis?" Beliau menjawab, "Aku belum pernah melihat orang semisal Yahya bin Sa'id." Aku bertanya, "Lalu bagaimana dengan Hasyim (bin Basyir)?" Beliau menjawab, "Hasyim adalah seorang syaikh, aku belum pernah melihat orang semisal Yahya." Aku bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan Abdurrahman bin Mahdi?" "Kita belum pernah melihat orang yang semisal dengan Yahya dalam segala hal."

IBADAHNYA


Yahya adalah figur ulama ahli hadis dengan antusias dan semangat ibadah yang tinggi. Salah satu ibadah yang sangat beliau sukai dan dilakukan secara rutin adalah membaca Al Quran. Beliau senantiasa mengkhatamkan Al Quran di setiap malam dan siang lantas mendoakan seribu orang. Kemudian beliau keluar setelah Ashar untuk menyampaikan hadis kepada kaum muslimin.

Di samping merutinkan bacaan Al Quran, Yahya bin Sa'id rahimahullah sangat mudah tersentuh dengan bacaan Al Quran orang lain. Apabila dibacakan Al Quran beliau pun tersungkur dengan wajah menempel pada permukaan lantai. Demikianlah, rasa takut ulama salaf kepada Allah subhanahu wa ta'ala sangatlah besar tak terkecuali Yahya bin Sa'id.

Muhammad bin Sa'id At Tirmidzi rahimahullah berkisah, "Aku masuk ke Bashrah untuk menulis hadis dan Yahya bin Sa'id sedang duduk di atas sebuah tempat yang tinggi. Maka para ahli hadis melewatinya satu persatu untuk meriwayatkan hadis darinya. Tiba giliranku melewatinya dan aku gunakan kesempatan ini untuk bertanya kepadanya. Namun tiba-tiba Yahya berkata kepadaku, "Naiklah dan baca Al Quran dengan benar dan bacalah satu surat." Maka aku membaca إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا dan Yahya pun pingsan tak sadarkan diri.

Sebuah peristiwa di akhir hayatnya juga membuktikan betapa besar rasa takutnya kepada Allah. Ali bin Abdillah rahimahullah berkisah, "Suatu ketika kami pernah bersama Yahya bin Sa'id, kala itu ia keluar dari masjid dan kami pun keluar dari masjid. Tibalah kami di depan pintu rumahnya, lalu ia berdiri dan kami pun ikut berdiri. Maka Yahya mengatakan kepada seorang lelaki, "Bacalah!" Laki-laki itu membaca surat Ad Dukhan. Raut wajah Yahya berubah ketika lelaki itu mulai membaca surat Ad Dukhan. Hingga akhirnya setelah sampai firman-Nya:
إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ مِيقَـٰتُهُمْ أَجْمَعِينَ
"Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya." [Q.S. Ad Dukhan: 40]. Secara tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan lalu siuman setelah sekian waktu berlalu peristiwa tersebut.

Pada kesempatan lain kami pun pergi untuk menemuinya dan kami menjumpai Yahya berada di atas tempat tidur seraya membaca ayat yang artinya, "Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya." Kondisi demikian ini terus berlangsung hingga akhirnya Yahya meninggal dunia.

Muhammad bin Basyar berkisah, "Aku pulang pergi belajar kepada Yahya bin Sa'id selama 20 tahun. Aku menyangka bahwa dia tidak pernah bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Bahkan yang luar biasa adalah selama 40 tahun Yahya tidak pernah terlambat dari salat Zhuhur berjamaah di masjid. Karena sebelum zawal (tergelincirnya matahari) Yahya telah tiba di masjid.

WAFATNYA


Imam Adz Dzahabi rahimahullah menjelaskan dalam biografinya bahwa Yahya bin Sa'id meninggal pada bulan Shafar tahun 198 H. Beliau meninggal 4 bulan sebelum meninggalnya Abdurrahman bin Mahdi dan Sufyan bin Uyainah. Ali bin Madini berkisah, "Dalam tidur aku bermimpi melihat Khalid bin Al Harits lantas aku bertanya kepadanya, 'Apa yang telah engkau dapatkan dari Rabbmu?' Dia pun menjawab, "Rabbku telah mengampuniku. Sesungguhnya perkaranya begitu berat!" Maka aku kembali bertanya kepadanya, "Lalu bagaimana dengan Yahya bin Sa'id?" Dia menjawab, "Aku melihat Yahya bin Sa'id sebagaimana kalian melihat bintang bersinar di langit." Semoga Allah subhanahu wa ta'ala melimpahkan rahmat dan pahala-Nya kepada Yahya bin Sa'id Al Qaththan. Aamiin Ya Mujibas Sailin.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 69 vol.06 1440 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.