Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6702 dan 6703

٦٧٠٢ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ رَأَى رَجُلاً يَطُوفُ بِالۡكَعۡبَةِ بِزِمَامٍ أَوۡ غَيۡرِهِ فَقَطَعَهُ. [طرفه في: ١٦٢٠].
6702. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman Al-Ahwal, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang tawaf di Kakbah (mengikat dirinya dengan orang lain) menggunakan tali kekang atau selainnya. Lalu Nabi memotong tali itu.
٦٧٠٣ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ: أَنَّ ابۡنَ جُرَيۡجٍ أَخۡبَرَهُمۡ قَالَ: أَخۡبَرَنِى سُلَيۡمَانُ الۡأَحۡوَلُ: أَنَّ طَاوُسًا أَخۡبَرَهُ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ مَرَّ وَهُوَ يَطُوفُ بِالۡكَعۡبَةِ بِإِنۡسَانٍ يَقُودُ إِنۡسَانًا بِخِزَامَةٍ فِى أَنۡفِهِ، فَقَطَعَهَا النَّبِىُّ ﷺ بِيَدِهِ، ثُمَّ أَمَرَهُ أَنۡ يَقُودَهُ بِيَدِهِ. [طرفه في: ١٦٢٠].
6703. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami: Bahwa Ibnu Juraij mengabarkan kepada mereka, beliau berkata: Sulaiman Al-Ahwal mengabarkan kepadaku: Bahwa Thawus mengabarkan kepadanya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang tawaf di Kakbah, melewati seseorang yang menuntun orang lain menggunakan tali kekang di hidungnya. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong tali itu dengan tangan beliau kemudian beliau memerintahkan agar menuntunnya dengan menggandeng tangannya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 464

٧٨ – بَابُ إِدۡخَالِ الۡبَعِيرِ فِي الۡمَسۡجِدِ لِلۡعِلَّةِ
78. Bab memasukkan hewan tunggangan ke dalam masjid karena ada kebutuhan

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: طَافَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى بَعِيرٍ.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaf di atas unta tunggangan.
٤٦٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ نَوۡفَلٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ زَيۡنَبَ بِنۡتِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتۡ: شَكَوۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنِّي أَشۡتَكِي، قَالَ: (طُوفِي مِنۡ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنۡتِ رَاكِبَةٌ). فَطُفۡتُ، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي إِلَى جَنۡبِ الۡبَيۡتِ، يَقۡرَأُ بِالطُّورِ وَكِتَابٍ مَسۡطُورٍ. [الحديث ٤٦٤ – أطرافه في: ١٦١٩، ١٦٢٦، ١٦٣٣، ٤٨٥٣].
464. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Malik mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal, dari ‘Urwah, dari Zainab bintu Abu Salamah, dari Ummu Salamah, beliau mengatakan: Aku mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku sakit. Beliau bersabda, “Tawaflah di belakang orang-orang dalam keadaan engkau menaiki tunggangan.” Aku pun tawaf dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat menghadap sisi Kakbah. Beliau membaca surah Ath-Thur.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4256

٤٢٥٦ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، هُوَ ابۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ، فَقَالَ الۡمُشۡرِكُونَ: إِنَّهُ يَقۡدَمُ عَلَيۡكُمۡ وَفۡدٌ وَهَنَتۡهُمۡ حُمَّى يَثۡرِبَ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَرۡمُلُوا الۡأَشۡوَاطَ الثَّلَاثَةَ، وَأَنۡ يَمۡشُوا مَا بَيۡنَ الرُّكۡنَيۡنِ، وَلَمۡ يَمۡنَعۡهُ أَنۡ يَأۡمُرَهُمۡ أَنۡ يَرۡمُلُوا الۡأَشۡوَاطَ كُلَّهَا إِلَّا الۡإِبۡقَاءُ عَلَيۡهِمۡ.
وَزَادَ ابۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ لِعَامِهِ الَّذِي اسۡتَأۡمَنَ، قَالَ: (ارۡمُلُوا). لِيُرَي الۡمُشۡرِكُونَ قُوَّتَهُمۡ، وَالۡمُشۡرِكُونَ مِنۡ قِبَلِ قُعَيۡقِعَانَ. [طرفه في: ١٦٠٢].
4256. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau tiba (di Makkah). Orang-orang musyrik berkata: Sesungguhnya ada sekelompok orang yang akan datang kepada kalian dalam keadaan demam Yatsrib membuat mereka lemah. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar berjalan cepat di tiga putaran (pertama) dan agar berjalan biasa di antara dua pojok (hajar Aswad dan rukun Yamani). Tidaklah yang menghalangi beliau untuk memerintahkan mereka agar berjalan cepat di seluruh putaran kecuali rasa belas kasihan kepada mereka.
Ibnu Salamah menambahkan dari Ayyub, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba (di Makkah) pada tahun beliau mendapat jaminan keamanan. Beliau bersabda, “Berjalan cepatlah!” Supaya kekuatan mereka dilihat oleh orang-orang musyrik. Dan orang-orang musyrikin berada di arah gunung Qu’aiqi’an.

Shahih Muslim hadits nomor 1245

٢٠٨ – (١٢٤٥) – وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي عَطَاءٌ قَالَ: كَانَ ابۡنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: لَا يَطُوفُ بِالۡبَيۡتِ حَاجٌّ وَلَا غَيۡرُ حَاجٍّ إِلَّا حَلَّ. قُلۡتُ لِعَطَاءٍ: مِنۡ أَيۡنَ يَقُولُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: مِنۡ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَىٰ: ﴿ثُمَّ مَحِلُّهَآ إِلَى ٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ﴾ [الحج: ٣٣] قَالَ: قُلۡتُ: فَإِنَّ ذٰلِكَ بَعۡدَ الۡمُعَرَّفِ. فَقَالَ: كَانَ ابۡنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: هُوَ بَعۡدَ الۡمُعَرَّفِ وَقَبۡلَهُ، وَكَانَ يَأۡخُذُ ذٰلِكَ مِنۡ أَمۡرِ النَّبِيِّ ﷺ، حِينَ أَمَرَهُمۡ أَنۡ يَحِلُّوا فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ.
[البخاري: كتاب المغازي، باب حجة الوداع، رقم: ٤٣٩٦].
208. (1245) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bakr mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: ‘Atha` mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Ibnu ‘Abbas mengatakan: Tidaklah orang yang haji maupun tidak haji yang telah tawaf di Kakbah, kecuali ia telah tahalul. Aku bertanya kepada ‘Atha`: Dari mana beliau mengatakan hal itu? Beliau berkata: Dari firman Allah taala, “Kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 33). Beliau berkata: Aku berkata: Sesungguhnya tahalul adalah setelah wukuf di Arafah. Beliau berkata: Ibnu ‘Abbas mengatakan: Tahalul bisa setelah wukuf di Arafah dan bisa sebelumnya. Beliau berpegang dengan pendapat itu dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau memerintahkan mereka untuk tahalul ketika haji wadak.

Fathimah Bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pemimpin Para Wanita Penghuni Surga


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai beberapa putra dan putri. Mereka adalah al-Qasim, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan ‘Abdullah, yang lahir dari Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Rasulullah juga dikaruniai seorang putra dari budak wanita beliau yang bernama Mariyah al-Qibthiyyah. Putra beliau tersebut diberi nama Ibrahim.

Mereka semua telah wafat sebelum wafatnya sang ayah, kecuali Fathimah. Namun, Fathimah pun menyusul sang ayahanda hanya enam bulan sepeninggal beliau.

Al-’Allamah Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad (1/100), menegaskan bahwa Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling banyak memiliki keutamaan.

Di antara keutamaannya adalah menjadi pemimpin para wanita penduduk surga, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. al-Bukhari “Bab Manaqib Qarabati Rasulillah”, lihat Fathul Bari 8/673)

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan keutamaan Fathimah, “Para istri Rasulullah sedang berkumpul di sisi beliau, tidak ada satu pun yang tertinggal. Tidak lama kemudian datanglah Fathimah, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjalan persis seperti cara jalan ayahnya. Sang ayahanda pun menyambutnya sembari menyapa, ‘Marhaban (selamat datang dengan penuh kebahagiaan), wahai Putriku!’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakan Fathimah untuk duduk di sebelah kanan atau kiri beliau, lantas membisikkan sebuah rahasia ke telinga Fathimah. Seketika itu pula Fathimah menangis dengan tangis yang sangat memilukan. Ketika Rasulullah melihat kesedihan Fathimah, beliau kembali berbisik. Serta-merta Fathimah tertawa penuh kebahagiaan.

Tanpa bisa ditahan lagi, aku langsung bertanya kepada Fathimah, ‘Rasulullah mengkhususkanmu dengan sebuah rahasia (yang tidak diketahui oleh) istri-istri beliau, kemudian kamu menangis. Apa yang menyebabkanmu menangis?’

Fathimah tidak menjawab sepatah kata pun.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah beranjak dari tempat tersebut, aku kembali mengulangi pertanyaanku kepada Fathimah, ‘Apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu?’

‘Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,’ sahut Fathimah.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, aku tidak menyerah, tetap ingin mengetahui rahasia yang dibisikkan oleh Rasulullah kepada putri beliau ini. Aku pun bertanya kepada Fathimah, ‘Aku benar-benar bertanya kepadamu dan kamu benar-benar harus menceritakannya kepadaku. Apakah yang dahulu dikatakan oleh Rasulullah kepadamu?’

Fathimah mulai bercerita, ‘Adapun sekarang (setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), ya, tidak mengapa (akan kuceritakan). Pada bisikan pertama, Rasulullah mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasa membacakan (memurajaah) al-Qur’an kepada beliau satu kali setiap tahun; namun, pada tahun ini, Jibril membacakannya dua kali. Oleh karena itu, beliau bersabda, ‘Aku memiliki sangkaan besar bahwa ajalku telah dekat, maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya kamu adalah keluargaku yang pertama kali (wafat) menyusulku, dan sebaik-baik orang yang mendahuluimu adalah aku.’ Mendengar hal itu, aku pun menangis. Tatkala melihat kesedihanku, beliau pun berbisik lagi kepadaku, ‘Wahai Fathimah, tidakkah engkau bahagia kalau menjadi pemimpin para wanita kaum mukminin atau pemimpin para wanita umat ini?’ Aku pun tertawa karenanya.” (HR. al-Bukhari no. 6313 dan 6314)

Berdasarkan keutamaan yang sangat agung ini, al-Hafizh Ibnu Hajar merajihkan (menguatkan) bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha lebih utama daripada ibunya, yaitu Ummul Mukminin Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Sebab, dalam hadits di atas, Rasulullah menyebut Fathimah sebagai pemimpin para wanita kaum mukminin atau pemimpin kaum wanita umat ini, tanpa mengecualikan seorang wanita pun. (Fathul Bari, pada syarah hadits no 3820)

Ukhti fillah, semoga Allah senantiasa menjaga Anda. Hadits ‘Aisyah di atas juga diriwayatkan dengan redaksi yang sedikit berbeda. Pada bisikan pertama, Rasulullah mengabarkan kematian beliau, sedangkan pada bisikan kedua, beliau mengabarkan bahwa Fathimah adalah orang pertama di antara keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang (wafat) menyusul beliau. (HR. al-Bukhari no. 6312)

Keutamaan lain Fathimah disebutkan dalam hadits dari al-Miswar bin Makhramah radhiyallahu ‘anhu. Dia bercerita, “Saya mendengar Rasulullah bersabda di atas mimbar, berkhotbah di hadapan manusia. Pada saat itu saya sudah balig. Rasulullah berkhotbah, ‘Sesungguhnya Bani Hisyam bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan salah seorang putri mereka dengan ‘Ali bin Abi Thalib, maka aku tidak memberi izin kepada mereka, kemudian aku tidak memberi izin kepada mereka, kemudian aku tidak memberi izin kepada mereka, kecuali jika ‘Ali bin Abi Thalib mau menceraikan putriku (Fathimah). Ketika itulah ia boleh menikahi putri mereka. Sesungguhnya putriku adalah darah dagingku, membuatku khawatir segala sesuatu yang membuatnya khawatir, dan menyakitkan hatiku segala sesuatu yang menyakitkan hatinya’.”

Dalam riwayat lain terdapat tambahan, “Sesungguhnya aku khawatir ia akan mendapat fitnah (ujian) dalam agamanya.”

Al-Miswar bin al-Makhramah berkata lagi, “Kemudian, Rasulullah menyebut salah seorang menantu beliau dari Bani ‘Abdi Syams (yaitu Abul ‘Ash bin ar-Rabi’, suami Zainab bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau memujinya dalam hal hubungan kekerabatannya dengan beliau, karena pernikahannya dengan Zainab. Selanjutnya, beliau bersabda, ‘Aku tidak mengharamkan perkara halal dan tidak menghalalkan perkara haram. Namun, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada satu pria (suami) selama-lamanya.’ Akhirnya, ‘Ali tidak jadi meminang (anak perempuan Abu Jahl).” (HR. Muslim no. 2449, lihat syarah an-Nawawi rahimahullah)

Ketika menjelaskan maksud hadits di atas, al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah berkata bahwa hadits ini menunjukkan haramnya menyakiti Rasulullah dalam keadaan apa pun dan dengan cara bagaimanapun, meski perbuatan yang dapat menyakiti hati Rasulullah itu hukumnya mubah (boleh) ketika beliau masih hidup.

Para ulama juga mengatakan, Rasulullah sudah menjelaskan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib boleh menikahi putri Abu Jahl, yaitu dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku tidak mengharamkan perkara halal.’ Namun, beliau melarang dikumpulkannya dua wanita tersebut dengan dua alasan:
  1. Hal itu dapat menyakiti hati Fathimah sehingga Rasulullah juga akan merasa tersakiti. Sementara itu, setiap orang yang menyakiti Rasulullah akan binasa. Oleh karena itu, Rasulullah melarang ‘Ali bin Abi Thalib menikahi anak perempuan Abu Jahl karena sempurnanya kasih sayang beliau kepada ‘Ali dan Fathimah.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terjadi fitnah atas Fathimah disebabkan rasa cemburu.”[1]

Pembaca Qonitah, semoga Allah memuliakan Anda. Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahli bait (keluarga/kerabat Rasulullah), tidak menyakiti, dan tidak mencela mereka. Diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang berkata,
ارۡقُبُوا مُحَمَّدًا ﷺ فِي أَهۡلِ بَيۡتِهِ
“Perhatikanlah dan jagalah (kepentingan) Rasulullah yang berkaitan dengan ahli bait beliau.” (HR. al-Bukhari no. 3713)

Makna hadits di atas, jagalah (kehormatan) ahli bait, jangan menyakiti dan mencela mereka.

Siapakah ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?


Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari “Bab Manaqib Qarabati Rasulillah” (Keistimewaan Kerabat Rasulullah), mengatakan, “Yang dimaksud dengan ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang dinasabkan kepada kakek Nabi yang terdekat, yaitu ‘Abdul Muththalib, baik laki-laki maupun perempuan, dari kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum atau orang yang pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah:
  • ‘Ali bin Abi Thalib dan putra-putri beliau (termasuk yang dari selain Fathimah).
  • Al-Hasan, al-Husain, Muhsin, dan Ummu Kultsum (putra-putri ‘Ali bin Abi Thalib dari Fathimah radhiyallahu ‘anha).
  • Ja’far bin Abi Thalib dan putra-putra beliau, yaitu ‘Abdullah, ‘Aun, dan Muhammad. Ada yang mengatakan bahwa Ja’far bin Abi Thalib juga mempunyai putra yang bernama Ahmad.
  • ‘Aqil bin Abi Thalib dan putra beliau yang bernama Muslim bin ‘Aqil.
  • Hamzah bin ‘Abdil Muththalib dan putra-putra beliau yang bernama Ya’la, ‘Umarah, dan Umamah.
  • Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththalib dan putra-putra beliau yang berjumlah sepuluh orang, yaitu al-Fadhl, ‘Abdullah, Qutsam, ‘Ubaidullah, al-Harits, Ma’bad, ‘Abdurrahman, Katsir, ‘Aun, dan Tammam.
  • Al-’Abbas juga memiliki beberapa putri, yaitu Ummu Habib, Aminah, dan Shafiyyah. Kebanyakan putra-putri al-’Abbas adalah dari istri beliau yang bernama Lubabah Ummul Fadhl.
  • Mu’attib bin Abi Lahab.
  • Al-’Abbas bin ‘Utbah bin Abi Lahab, suami Aminah bintu al-’Abbas bin ‘Abdil Muththalib.
  • ‘Abdullah bin az-Zubair bin ‘Abdil Muththalib dan saudara perempuannya yang bernama Dhuba’ah, istri al-Miqdad bin al-Aswad.
  • Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abdil Muththalib dan putra beliau yang bernama Ja’far.
  • Naufal bin al-Harits bin ‘Abdil Muththalib dan kedua putranya, yaitu al-Mughirah dan al-Harits.
  • Umaimah, Arwa, ‘Atikah, dan Shafiyyah--mereka putri ‘Abdul Muththalib.”
(Lihat Fathul Bari 8/674, pada syarah hadits no. 3716)

Faedah


Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdiri di atas prinsip al-inshaf dan al-i’tidal (pertengahan, tidak berat sebelah). Maksudnya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memberikan wala’ (cinta dan kesetiaan) kepada ahli bait yang istiqamah dalam menjalankan agama Islam, dan berlepas diri dari siapa saja yang menyelisihi as-Sunnah dan menyimpang dari agama Islam meskipun ia termasuk ahli bait. Sebab, statusnya sebagai ahli bait dan hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bermanfaat sedikit pun, kecuali jika ia istiqamah di atas jalan Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Allah menurunkan Surat asy-Syu’ara ayat ke-214,
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ ۝٢١٤
‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.’
Rasulullah berdiri dan berseru, ‘Wahai sekalian Quraisy (atau kalimat yang semisal itu)! Belilah (selamatkan) jiwa-jiwa kalian! Aku tidak dapat melindungi kalian dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Bani ‘Abdi Manaf, aku tidak dapat melindungi kalian dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat melindungimu dari (azab) Allah sedikit pun! Wahai Fathimah bintu Muhammad, mintalah dari hartaku yang kamu ingini! Aku tidak dapat melindungimu dari (azab) Allah sedikit pun!’.” (HR. al-Bukhari no. 4771 dan Muslim no. 204)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berlepas diri dari orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap sebagian ahlul bait dan menganggap mereka terbebas dari dosa. Mereka juga berlepas diri dari orang-orang yang menancapkan permusuhan kepada ahli bait yang berkomitmen terhadap Islam. Mereka juga berlepas diri dari jalan ahli bid’ah dan khurafat, yang bertawassul[2] dengan (jasad) ahli bait dan menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah. (Dinukil dari Ushul al-Iman fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah 1/329)

Wallahu ta’ala a’lam.

---

Sebagian sisi kemuliaan sosok Fathimah bintu Rasulillah telah kita ketahui pada edisi lalu. Kali ini, kita masih membahas figur mulia ini, yang menjadi pemimpin wanita penduduk surga. Duhai, betapa agungnya keistimewaan yang ia raih.

Anda tentu bertanya-tanya dan ingin mengetahui lebih banyak tentang beliau. Nah, mari kita teropong lebih jauh jati diri tokoh kita ini. Yuk, kita simak.

Berwibawa Semenjak Kecil


Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dikisahkan bahwa dahulu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tinggal di Makkah, beliau melakukan shalat di sisi Baitullah (Ka’bah). Tidak jauh dari tempat itu, Abu Jahl dan kawan-kawannya sedang duduk-duduk bergerombol. Mereka, yang berjumlah tujuh orang itu, saling berbisik guna melancarkan makar jahat.

“Siapakah di antara kalian yang bisa mengambil kotoran anak unta, darah, beserta kulit janinnya, lalu meletakkannya di atas punggung Muhammad ketika ia sujud?” tanya salah seorang di antara mereka.

Berangkatlah ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, orang yang paling celaka dari segerombolan kafir Quraisy tersebut. Ia pun mengambil kotoran anak unta, darah, dan kulit janinnya. Ia menanti sebentar. Sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergerak turun dan sujud, ia segera meletakkan benda-benda tersebut di atas punggung Nabi Muhammad, di antara kedua pundak beliau.

Sahabat mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud yang meriwayatkan hadits ini bergumam, “Aku hanya bisa melihat, tidak mampu berbuat apa-apa untuk mencegah ulah buruk mereka. Duhai, andai aku mempunyai kekuatan (kemampuan untuk melawan), niscaya kubuang kotoran unta itu dari (pundak) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Seketika itu, tujuh gembong musyrikin Quraisy itu tertawa terbahak-bahak dengan pongahnya sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan sujud beliau dan tidak mengangkat kepala sama sekali. Sampai akhirnya, datanglah Fathimah kecil sambil berlari. Segera dibuangnya kotoran unta itu dari punggung sang ayah. Fathimah kecil yang pemberani dan berwibawa ini mendatangi ketujuh gembong Quraisy itu sambil mencaci maki mereka. Ketujuh orang itu tidak berani membantahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan kepala beliau seraya berdoa,
اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ
“Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy itu.”
Beliau memanjatkan doa tersebut, mengulang-ulanginya sebanyak tiga kali.

Ketika mendengar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan atas mereka, seketika itu pula mereka menghentikan tawa. Mereka takut akan akibat buruk doa beliau. Orang-orang Quraisy berkeyakinan bahwa doa di negeri Makkah terkabulkan.

Rasulullah menyebut nama mereka satu per satu, “Ya Allah, binasakanlah Abu Jahl, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, dan ‘Uqbah bin Abu Mu’aith.” Beliau[3] menyebut orang ketujuh, tetapi kami[4] tidak hafal (siapa dia).

Setelah membawakan hadits di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, dalam Fathul Bari, menarik beberapa faedah ilmu darinya. Di antara faedah tersebut, hadits di atas menunjukkan kuatnya jiwa Fathimah az-Zahra’ dan ketabahan hatinya semenjak dia masih berusia belia. Hadits di atas juga menggambarkan kepada kita bahwa Fathimah berkedudukan mulia, berkepribadian pemberani, dan berwibawa di tengah kaumnya.

Bayangkan, Fathimah kecil itu dengan tegas dan lantangnya mencaci maki gembong-gembong musyrikin Quraisy itu, tetapi mereka tidak berani mengadakan serangan balik sedikit pun. (Fathul Bari, syarah hadits no. 240)

Paling Memiliki Tempat di Hati Ayahanda


Pembaca, mungkin Anda pernah mendengar sebuah hadits dari Ummul Mukminin ‘Aisyah bintu Abu Bakr radhiyallahu ‘anha bahwa orang-orang Quraisy digemparkan oleh suatu kejadian yang menimpa seorang wanita al-Makhzumiyyah (dari kabilah Bani Makhzum, salah satu kabilah mulia, kabilah para bangsawan). Wanita itu telah mencuri yang mengharuskan tangannya dipotong.

Karena wanita itu dipandang terhormat dan berkedudukan di tengah masyarakat Quraisy pada saat itu, serta-merta mereka ingin melindunginya dari hukuman had berupa potong tangan, yang sudah berlaku di tengah masyarakat itu sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka berkata, “Siapakah yang sanggup mengangkat permasalahan ini kepada Rasulullah, untuk melindungi wanita dari Bani Makhzum ini dari hukuman had potong tangan?”

Mereka beranggapan bahwa tidak ada yang berani mengusulkannya kepada Rasulullah selain Usamah bin Zaid bin Haritsah, kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah pun mencoba melakukannya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar syafaat (permohonan bantuan) yang diajukan oleh Usamah, Rasulullah marah seraya berseru, “Apakah engkau hendak memintakan keringanan salah satu hukum had Allah untuk orang lain?”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah para sahabat dan berkhotbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah tersesat orang-orang sebelum kalian. Apabila ada orang terhormat melakukan perbuatan mencuri (termasuk korupsi dan sejenisnya, -pent.), mereka membiarkannya (tidak menegakkan hukum had atasnya). Namun, apabila yang mencuri adalah orang yang (dianggap) lemah/rendahan di antara mereka, mereka menegakkan hukum had atasnya. Sungguh, demi Allah, seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, pasti aku (Nabi Muhammad, sebagai waliyyul amri/pemerintah, -pent.) akan memotong tangannya.”

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar wanita yang telah mencuri itu dibawa ke hadapan beliau, lalu dipotonglah tangannya. (HR. al-Bukhari no. 6788)

Pembaca yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, mari kita renungkan khotbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas!

Khotbah tersebut menegaskan bahwa setiap perbuatan jahat (jinayah) yang mengakibatkan pelakunya dijatuhi hukuman had dalam syariat Islam, apabila perkaranya telah sampai ke hadapan pemerintah (wulatul umur), hukuman had tersebut harus tetap ditegakkan atas setiap mukallaf, siapa pun dia, baik orang rendahan maupun orang elite sekalipun, tanpa ada rasa pekewuh (bhs. Jawa; sungkan, -ed.)!

Dalam khotbah di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan secara khusus putri tersayang beliau, yaitu Fathimah radhiyallahu ‘anha. Hal ini sebagai perumpamaan untuk memberikan kesan mubalaghah (penekanan) bahwa hukum had tetap harus ditegakkan atas setiap mukallaf, siapa pun dia, sekalipun pelakunya adalah Fathimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan bahwa Fathimah adalah orang yang terkasih dan tersayang dalam hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian keluarga beliau yang masih hidup. Karena itulah Fathimah dijadikan sebagai perumpamaan dalam hadits di atas.

Namun, Allah subhanahu wa taala telah menjaga Fathimah dari melakukan perbuatan jahat yang membawa kepada hukum had. (Disadur dari Fathul Bari, syarah hadits no. 6788 hlm. 357-358)

Berhias dengan Akhlak yang Terpuji


Figur kita ini merupakan sosok wanita yang sangat penyabar dan dihiasi dengan sifat qana’ah, yang sudah pasti kedua sifat ini sangat dibutuhkan oleh kaum Hawa.

Kabar gembira bagi Anda, ibu rumah tangga, yang dalam keseharian tersibukkan oleh amalan-amalan besar:
  • Mengurus rumah, merapikannya, dan selalu menjaga kebersihannya.
  • Mendidik dan mengajar anak-anaknya.
  • Membantu dan melayani kebutuhan suami.
Jika amalan-amalan ini dilakukan dengan tulus ikhlas hanya mencari ridha Allah, surgalah pahalanya.

Lalu, apa kesibukan sehari-hari seorang wanita yang telah diangkat--melalui wahyu--sebagai pemimpin para wanita penghuni surga ini? Ternyata, beliau adalah wanita yang sibuk dengan kewajiban-kewajiban rumah tangganya, sampai-sampai kedua telapak tangan beliau menebal (kapalan) karena membuat adonan-adonan khubz (sejenis roti), makanan pokok bangsa Arab.

Dalam sebuah hadits, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, suami Fathimah radhiyallahu ‘anha, mengisahkan, “Pada suatu hari, Fathimah mengadukan rasa sakit, akibat bekas kapal (kulit yang menebal) yang tergores, di telapak tangannya.”

Karena kasihan, ‘Ali berkata, “Sungguh, Allah subhanahu wa taala telah memberikan beberapa tawanan perang kepada ayahmu (Rasulullah). Temuilah beliau, lalu mintalah seorang budak wanita!” Demikian saran sang suami.

Fathimah sendiri telah mendengar kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh beberapa tawanan perang (budak-budak). Beliau pun datang menemui sang ayahanda untuk meminta seorang budak wanita yang akan membantu pekerjaan-pekerjaan beliau. Namun, sayang sekali, Fathimah tidak mendapati sang ayahanda, sehingga beliau hanya menceritakan keperluannya itu kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Setelah Rasulullah pulang, Aisyah pun menceritakan kedatangan Fathimah dan keinginannya untuk meminta seorang budak wanita yang bisa membantu pekerjaan-pekerjaannya.

‘Ali bin Abi Thalib melanjutkan kisahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami ketika kami sedang berada di pembaringan. Aku pun beranjak bangun, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku. Beliau bersabda, ‘Tetaplah di tempatmu.’ Beliau kemudian duduk di antara kami (di antara ‘Ali dan Fathimah, -pent.) sampai-sampai aku merasakan dinginnya/sejuknya kedua telapak kaki beliau di dadaku[5].

Rasulullah bersabda kembali, ‘Maukah kalian berdua kuberi tahu sesuatu yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu? Apabila kalian sudah berada di pembaringan (hendak tidur), bacalah takbir (اللهُ أَكۡبَرُ) sebanyak 33 kali, tasbih (سُبۡحَانَ اللهِ) sebanyak 33 kali, dan tahmid (الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ) sebanyak 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu’.” (HR. al-Bukhari no. 6318)

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemui ‘Ali dan Fathimah, ‘Ali mengadu kepada beliau, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh, saya telah memikul air sampai punggung saya terasa sakit.” Fathimah juga mengeluh, “Sungguh, saya senantiasa menggiling adonan sampai kedua tangan saya kapalan. Sungguh, Allah telah mendatangkan kepada Anda tawanan-tawanan perang dan keluasan rezeki, maka berilah kami seseorang yang bisa membantu kami.”

Namun, Rasulullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberikan budak kepada kalian dan membiarkan ahlush shuffah[6] kelaparan karena tidak mendapatkan sesuatu yang dapat kugunakan untuk menafkahi mereka. Namun, akan kujual budak-budak itu dan akan kugunakan hasil penjualannya untuk menafkahi mereka.” (HR. al-Bukhari, Bab “Fardhul Khumus”)

Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari pada akhir syarah di atas, mengatakan, “Hadits di atas memperlihatkan dengan jelas keistimewaan ‘Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Dari hadits di atas kita juga mengerti betapa pengasih dan penyayangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putri dan menantu beliau, yang semestinya kita mengambil teladan dari sikap beliau ini.” (Fathul Bari, syarah hadits no. 6318)

Pembaca Qonitah, rahimakumullah

Hadits di atas menggambarkan kepada kita kesabaran Fathimah--putri Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus pemimpin kaum wanita penduduk surga--dalam menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga; keprihatinan hidup bersama sang suami, dan sikap menerima (qana’ah) beliau. Sungguh, semua sifat ini sangat dibutuhkan oleh setiap wanita agar dapat hidup bahagia dalam setiap kondisi, baik sempit maupun lapang.

Masih banyak lagi sifat mulia yang menghiasi sosok Fathimah radhiyallahu ‘anha bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melimpahkan kepada kita taufik-Nya untuk mengikuti jejaknya radhiyallahu ‘anha.


Sumber: Majalah Qonitah edisi 10 & 11 / vol. 01 / 1435H - 2014M rubrik Figur Mulia. Pemateri: Al-Ustadzah Hikmah.

[1] Lihat syarah an-Nawawi terhadap Shahih Muslim no. 2449.
[2] Menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara) antara mereka dan Allah azza wajalla dalam berdoa kepada-Nya, sehingga--menurut mereka--akan lebih mendekatkan diri mereka dengan-Nya dan doa mereka lebih terkabul.
[3] Yang dimaksud dengan “beliau” di sini adalah perawi hadits di atas yang bernama ‘Amr bin Maimun.
[4] Yang dimaksud dengan “kami” di sini adalah Abu Ishaq as-Sabi’i, yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Amr bin Maimun. (Fathul Bari, syarah/penjelasan hadits no. 240)
[5] Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa waktu itu musim dingin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara Ali dan Fathimah yang sedang berbaring sehingga sampai dinginnya kaki beliau dirasakan oleh dada Ali radhiyallahu ‘anhu, -red.
[6] Ahlush shuffah adalah fakir miskin dari kalangan sahabat, yang tinggal di bagian belakang masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Muslim hadits nomor 1244

٢٠٦ – (١٢٤٤) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا حَسَّانَ الۡأَعۡرَجَ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي الۡهُجَيۡمِ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: مَا هَذِهِ الۡفُتۡيَا الَّتِي قَدۡ تَشَغَّفَتۡ أَوۡ تَشَغَّبَتۡ بِالنَّاسِ: أَنَّ مَنۡ طَافَ بِالۡبَيۡتِ فَقَدۡ حَلَّ؟ فَقَالَ: سُنَّةُ نَبِيِّكُمۡ ﷺ، وَإِنۡ رَغِمۡتُمۡ.
206. (1244). Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnul Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, beliau berkata: Aku mendengar Abu Hassan Al-A’raj berkata: Seseorang dari Bani Al-Hujaim berkata kepada Ibnu ‘Abbas: Fatwa apa ini yang menyita perhatian orang-orang atau membuat mereka berselisih, bahwa siapa saja yang telah tawaf di Kakbah, maka ia telah tahalul? Ibnu ‘Abbas berkata: Itu adalah sunah nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun kalian tidak suka.
٢٠٧ – (...) – وَحَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ: حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ إِسۡحَاقَ: حَدَّثَنَا هَمَّامُ بۡنُ يَحۡيَىٰ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي حَسَّانَ قَالَ: قِيلَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: إِنَّ هٰذَا الۡأَمۡرَ قَدۡ تَفَشَّغَ بِالنَّاسِ، مَنۡ طَافَ بِالۡبَيۡتِ فَقَدۡ حَلَّ، الطَّوَافُ عُمۡرَةٌ. فَقَالَ: سُنَّةُ نَبِيِّكُمۡ ﷺ، وَإِنۡ رَغِمۡتُمۡ.
207. Ahmad bin Sa’id Ad-Darimi telah menceritakan kepadaku: Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami: Hammam bin Yahya menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Abu Hassan, beliau berkata: Ada yang berkata kepada Ibnu ‘Abbas: Sesungguhnya perkara ini telah menyebar kepada orang-orang yaitu siapa saja yang telah tawaf di Kakbah, maka ia telah tahalul. Tawaf adalah umrah. Ibnu ‘Abbas mengatakan: Itu adalah sunah nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun kalian tidak suka.

Shahih Muslim hadits nomor 1243

٣٢ – بَابُ تَقۡلِيدِ الۡهَدۡيِ وَإِشۡعَارِهِ عِنۡدَ الۡإِحۡرَامِ
32. Bab mengalungi dan menyobek punuk hewan kurban haji (sebagai tanda) ketika hendak ihram

٢٠٥ - (١٢٤٣) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. جَمِيعًا عَنِ ابۡنِ أَبِي عَدِيٍّ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي حَسَّانَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: صَلَّىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ الظُّهۡرَ بِذِي الۡحُلَيۡفَةِ، ثُمَّ دَعَا بِنَاقَتِهِ فَأَشۡعَرَهَا فِي صَفۡحَةِ سَنَامِهَا الۡأَيۡمَنِ وَسَلَتَ الدَّمَ، وَقَلَّدَهَا نَعۡلَيۡنِ، ثُمَّ رَكِبَ رَاحِلَتَهُ، فَلَمَّا اسۡتَوَتۡ بِهِ عَلَى الۡبَيۡدَاءِ، أَهَلَّ بِالۡحَجِّ.
205. (1243). Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari ibnu Abu ‘Adi. Ibnul Mutsanna berkata: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu Hassan, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat Zuhur di Dzul Hulaifah lalu beliau meminta didatangkan untanya. Beliau memberi tanda unta itu dengan menyobek sisi kanan punuk lalu membersihkan darah dan mengalunginya dengan dua sandal. Kemudian beliau mengendarai hewan tunggangannya. Ketika hewan tunggangan beliau sudah berdiri tegak di atas Baida`, beliau mulai ihram untuk haji.
(...) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ، فِي هٰذَا الۡإِسۡنَادِ، بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِ شُعۡبَةَ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ لَمَّا أَتَىٰ ذَا الۡحُلَيۡفَةِ، وَلَمۡ يَقُلۡ: صَلَّىٰ بِهَا الظُّهۡرَ.
Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku, dari Qatadah, pada sanad ini, semakna hadis Syu’bah. Hanya saja beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika datang ke Dzul Hulaifah. Dan beliau tidak berkata: Beliau salat Zuhur di sana.

Shahih Muslim hadits nomor 1242

٢٠٤ – (١٢٤٢) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا جَمۡرَةَ الضُّبَعِيَّ قَالَ: تَمَتَّعۡتُ فَنَهَانِي نَاسٌ عَنۡ ذٰلِكَ، فَأَتَيۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ فَسَأَلۡتُهُ عَنۡ ذٰلِكَ؟ فَأَمَرَنِي بِهَا.
قَالَ: ثُمَّ انۡطَلَقۡتُ إِلَى الۡبَيۡتِ فَنِمۡتُ، فَأَتَانِي آتٍ فِي مَنَامِي فَقَالَ: عُمۡرَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ، وَحَجٌّ مَبۡرُورٌ. قَالَ: فَأَتَيۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ فَأَخۡبَرۡتُهُ بِالَّذِي رَأَيۡتُ. فَقَالَ: اللهُ أَكۡبَرُ، اللهُ أَكۡبَرُ، سُنَّةُ أَبِي الۡقَاسِمِ ﷺ.
204. (1242). Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Abu Jamrah Adh-Dhaba’i berkata: Aku melakukan haji tamatuk namun orang-orang melarangku darinya. Lalu aku datang kepada Ibnu ‘Abbas dan menanyakan hal itu. Ternyata beliau memerintahkanku melakukan haji tamatuk.
Abu Jamrah berkata: Kemudian aku pergi ke Kakbah lalu aku tidur. Ada yang mendatangiku di dalam mimpi seraya berkata: Umrah yang diterima dan haji yang mabrur. Abu Jamrah berkata: Aku pun kembali datang kepada Ibnu ‘Abbas lalu aku kabarkan mimpiku kepada beliau. Beliau mengatakan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, itu adalah sunah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Muslim hadits nomor 1241

٢٠٣ – (١٢٤١) – وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ. (ح) وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ – وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هٰذِهِ عُمۡرَةٌ اسۡتَمۡتَعۡنَا بِهَا، فَمَنۡ لَمۡ يَكُنۡ عِنۡدَهُ الۡهَدۡيُ فَلۡيَحِلَّ الۡحِلَّ كُلَّهُ، فَإِنَّ الۡعُمۡرَةَ قَدۡ دَخَلَتۡ فِي الۡحَجِّ إِلَى يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ).
203. (1241). Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami –dan redaksi hadis ini milik beliau-: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah umrah yang kita nikmati. Siapa saja yang tidak membawa hewan kurban haji, maka hendaknya ia tahalul dari semuanya karena umrah telah masuk ke dalam haji sampai hari kiamat.”

Shahih Muslim hadits nomor 1240

٣١ – بَابُ جَوَازِ الۡعُمۡرَةِ فِي أَشۡهُرِ الۡحَجِّ
31. Bab bolehnya umrah di bulan-bulan haji

١٩٨ – (١٢٤٠) – وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانُوا يَرَوۡنَ أَنَّ الۡعُمۡرَةَ فِي أَشۡهُرِ الۡحَجِّ مِنۡ أَفۡجَرِ الۡفُجُورِ فِي الۡأَرۡضِ، وَيَجۡعَلُونَ الۡمُحَرَّمَ صَفَرًا، وَيَقُولُونَ: إِذَا بَرَأَ الدَّبَرۡ، وَعَفَا الۡأَثَرۡ، وَانۡسَلَخَ صَفَرۡ، حَلَّتِ الۡعُمۡرَةُ لِمَنِ اعۡتَمَرۡ. فَقَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ صَبِيحَةَ رَابِعَةٍ مُهِلِّينَ بِالۡحَجِّ، فَأَمَرَهُمۡ أَنۡ يَجۡعَلُوهَا عُمۡرَةً، فَتَعَاظَمَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُمۡ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الۡحِلِّ؟ قَالَ: (الۡحِلُّ كُلُّهُ).
198. (1240). Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Bahz menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Thawus menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Mereka dahulu berpendapat bahwa umrah di bulan-bulan haji termasuk perbuatan yang paling fujur di bumi. Mereka menamakan bulan Muharam dengan Safar. Mereka juga mengatakan: apabila punggung unta telah pulih (sepulang haji), bekas-bekas perjalanan telah hilang, dan bulan Safar telah berlalu, maka boleh umrah bagi siapa saja yang ingin mengerjakan umrah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau tiba di esok hari keempat dalam keadaan memulai ihram untuk haji. Beliau memerintahkan mereka untuk menjadikannya sebagai umrah. Namun hal itu terasa berat bagi mereka sehingga mereka bertanya: Wahai Rasulullah, tahalul yang mana? Beliau bersabda, “Tahalul dari semuanya.”
١٩٩ – (...) – حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجَهۡضَمِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ الۡبَرَّاءِ، أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: أَهَلَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالۡحَجِّ، فَقَدِمَ لِأَرۡبَعٍ مَضَيۡنَ مِنۡ ذِي الۡحِجَّةِ، فَصَلَّى الصُّبۡحَ وَقَالَ لَمَّا صَلَّى الصُّبۡحَ: (مَنۡ شَاءَ أَنۡ يَجۡعَلَهَا عُمۡرَةً فَلۡيَجۡعَلۡهَا عُمۡرَةً).
199. Nashr bin ‘Ali Al-Jahdhami telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Abul ‘Aliyah Al-Barra`, bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihram untuk haji. Beliau tiba (di Makkah) pada empat malam bulan Zulhijah telah berlalu. Beliau salat Subuh dan bersabda selesai salat, “Siapa saja yang ingin untuk menjadikannya sebagai umrah, maka hendaknya ia menjadikannya sebagai umrah.”
٢٠٠ – (...) – وَحَدَّثَنَاهُ إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ دِينَارٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الۡمُبَارَكِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ كَثِيرٍ. كُلُّهُمۡ عَنۡ شُعۡبَةَ، فِي هٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
أَمَّا رَوۡحٌ وَيَحۡيَى بۡنُ كَثِيرٍ فَقَالَا كَمَا قَالَ نَصۡرٌ: أَهَلَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالۡحَجِّ.
وَأَمَّا أَبُو شِهَابٍ فَفِي رِوَايَتِهِ: خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ نُهِلُّ بِالۡحَجِّ.
وَفِي حَدِيثِهِمۡ جَمِيعًا: فَصَلَّى الصُّبۡحَ بِالۡبَطۡحَاءِ. خَلَا الۡجَهۡضَمِيَّ، فَإِنَّهُ لَمۡ يَقُلۡهُ.
200. Ibrahim bin Dinar telah menceritakannya kepada kami: Rauh menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Dawud Al-Mubaraki telah menceritakan kepada kami: Abu Syihab menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Katsir menceritakan kepada kami. Mereka semua dari Syu’bah, pada sanad ini.
Adapun Rauh dan Yahya bin Katsir, keduanya berkata sebagaimana yang diucapkan oleh Nashr: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihram untuk haji.
Adapun Abu Syihab, di dalam riwayatnya: Kami keluar bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kami memulai ihram untuk haji.
Di dalam hadis mereka semua: Beliau salat Subuh di Bathha`. Kecuali Al-Jahdhami, karena beliau tidak mengucapkannya.
٢٠١ – (...) – وَحَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡفَضۡلِ السَّدُوسِيُّ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: أَخۡبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ الۡبَرَّاءِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ لِأَرۡبَعٍ خَلَوۡنَ مِنَ الۡعَشۡرِ وَهُمۡ يُلَبُّونَ بِالۡحَجِّ، فَأَمَرَهُمۡ أَنۡ يَجۡعَلُوهَا عُمۡرَةً.
201. Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Muhammad ibnul Fadhl As-Sadusi menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Ayyub mengabarkan kepada kami, dari Abul ‘Aliyah Al-Barra`, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tiba (di Makkah) pada empat malam telah berlalu dari sepuluh hari pertama (bulan Zulhijah) dalam keadaan mereka memulai ihram untuk haji. Lalu Nabi memerintahkan mereka agar menjadikannya sebagai umrah.
٢٠٢ – (...) – وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: صَلَّىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ الصُّبۡحَ بِذِي طُوًى. فَقَدِمَ لِأَرۡبَعٍ مَضَيۡنَ مِنۡ ذِي الۡحِجَّةِ، وَأَمَرَ أَصۡحَابَهُ أَنۡ يُحَوِّلُوا إِحۡرَامَهُمۡ بِعُمۡرَةٍ، إِلَّا مَنۡ كَانَ مَعَهُ الۡهَدۡيُ.
202. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Abul ‘Aliyah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat Subuh di Dzu Thuwa. Beliau tiba (di Makkah) pada empat malam berlalu dari bulan Zulhijah. Beliau memerintahkan para sahabatnya agar tahalul dari ihram mereka dengan umrah kecuali siapa saja yang membawa hewan kurban haji.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 398

٣٩٨ – حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ نَصۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ عَطَاءٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ الۡبَيۡتَ، دَعَا فِي نَوَاحِيهِ كُلِّهَا، وَلَمۡ يُصَلِّ حَتَّى خَرَجَ مِنۡهُ، فَلَمَّا خَرَجَ رَكَعَ رَكۡعَتَيۡنِ فِي قُبُلِ الۡكَعۡبَةِ، وَقَالَ: (هٰذِهِ الۡقِبۡلَةُ).
[الحديث ٣٩٨ – أطرافه في: ١٦٠١، ٣٣٥١، ٣٣٥٢، ٤٢٨٨].
398. Ishaq bin Nashr telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, dari ‘Atha`, beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas mengatakan: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Kakbah, beliau berdoa di semua sisi-sisi Kakbah dan beliau tidak salat sampai beliau keluar dari Kakbah. Ketika beliau telah keluar, beliau salat dua rakaat di depan Kakbah. Beliau bersabda, “Kakbah ini adalah kiblat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4255

٤٢٥٥ – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ: سَمِعَ ابۡنَ أَبِي أَوۡفَى يَقُولُ: لَمَّا اعۡتَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ سَتَرۡنَاهُ مِنۡ غِلۡمَانِ الۡمُشۡرِكِينَ وَمِنۡهُمۡ، أَنۡ يُؤۡذُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ. [طرفه في: ١٦٠٠].
4255. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Abu Khalid: Beliau mendengar Ibnu Abu Aufa mengatakan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah, kami menutupi (menjaga) beliau dari anak-anak orang-orang musyrik dan dari orang-orang musyrik agar mereka tidak bisa menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4188

٤١٨٨ – حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا يَعۡلَى: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أَبِي أَوۡفَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، حِينَ اعۡتَمَرَ، فَطَافَ فَطُفۡنَا مَعَهُ، وَصَلَّى وَصَلَّيۡنَا مَعَهُ، وَسَعَى بَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، فَكُنَّا نَسۡتُرُهُ مِنۡ أَهۡلِ مَكَّةَ لَا يُصِيبُهُ أَحَدٌ بِشَيۡءٍ. [طرفه في: ١٦٠٠].
4188. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ya’la menceritakan kepada kami: Isma’il menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Aufa radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan umrah. Beliau tawaf, kami pun tawaf bersama beliau. Beliau salat, kami pun salat bersama beliau. Beliau sai antara Shafa dan Marwah. Kami pun melindungi beliau dari penduduk (musyrik) Makkah supaya tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan gangguan terhadap beliau.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 506

٩٧ – بَابٌ
97. Bab

٥٠٦ – حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو ضَمۡرَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ عُقۡبَةَ، عَنۡ نَافِعٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ كَانَ إِذَا دَخَلَ الۡكَعۡبَةَ، مَشَى قِبَلَ وَجۡهِهِ حِينَ يَدۡخُلُ، وَجَعَلَ الۡبَابَ قِبَلَ ظَهۡرِهِ، فَمَشَى حَتَّى يَكُونَ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡجِدَارِ الَّذِي قِبَلَ وَجۡهِهِ قَرِيبًا مِنۡ ثَلَاثَةِ أَذۡرُعٍ صَلَّى، يَتَوَخَّى الۡمَكَانَ الَّذِي أَخۡبَرَهُ بِهِ بِلَالٌ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى فِيهِ، قَالَ: وَلَيۡسَ عَلَى أَحَدِنَا بَأۡسٌ إِنۡ صَلَّى فِي أَيِّ نَوَاحِي الۡبَيۡتِ شَاءَ. [طرفه في: ٣٩٧].
506. Ibrahim ibnul Mundzir telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Dhamrah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Musa bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami, dari Nafi’: Bahwa ‘Abdullah apabila masuk Kakbah, beliau berjalan ke arah wajah beliau ketika masuk dan menjadikan pintu di arah punggung beliau. Beliau berjalan sehingga jarak antara beliau dengan dinding di arah depannya sekitar tiga hasta lalu beliau salat. Beliau berupaya tepat di tempat yang dikabarkan oleh Bilal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di tempat itu. Ibnu ‘Umar mengatakan: Tidak masalah apabila kita salat di sisi Kakbah mana saja yang ia kehendaki.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 397

٣٩٧ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ سَيۡفٍ قَالَ: سَمِعۡتُ مُجَاهِدًا قَالَ: أُتِيَ ابۡنُ عُمَرَ، فَقِيلَ لَهُ: هَٰذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ دَخَلَ الۡكَعۡبَةَ، فَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ: فَأَقۡبَلۡتُ وَالنَّبِيُّ ﷺ قَدۡ خَرَجَ، وَأَجِدُ بِلَالًا قَائِمًا بَيۡنَ الۡبَابَيۡنِ، فَسَأَلۡتُ بِلَالًا فَقُلۡتُ: أَصَلَّى النَّبِيُّ ﷺ فِي الۡكَعۡبَةِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، رَكۡعَتَيۡنِ، بَيۡنَ السَّارِيَتَيۡنِ اللَّتَيۡنِ عَلَى يَسَارِهِ إِذَا دَخَلۡتَ، ثُمَّ خَرَجَ، فَصَلَّى فِي وَجۡهِ الۡكَعۡبَةِ رَكۡعَتَيۡنِ.
[الحديث ٣٩٧ – أطرافه في: ٤٦٨، ٥٠٤، ٥٠٦، ١١٦٧، ١٥٩٨، ١٥٩٩، ٢٩٨٨، ٤٢٨٩، ٤٤٠٠].
397. Musaddad telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Saif, beliau berkata: Aku mendengar Mujahid berkata: Ibnu ‘Umar didatangkan lalu dikatakan padanya: Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah masuk ke dalam Kakbah. Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku pun maju, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar. Aku mendapati Bilal berdiri di antara dua pintu. Aku bertanya kepada Bilal: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi salat di dalam Kakbah? Bilal menjawab: Ya, dua rakaat di antara dua pilar yang berada di sebelah kiri apabila engkau masuk, kemudian beliau keluar, lalu beliau salat di muka Kakbah sebanyak dua rakaat.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7275

٧٢٧٥ – حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَبَّاسٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ وَاصِلٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: جَلَسۡتُ إِلَى شَيۡبَةَ فِي هٰذَا الۡمَسۡجِدِ، قَالَ: جَلَسَ إِلَيَّ عُمَرُ فِي مَجۡلِسِكَ هٰذَا، فَقَالَ هَمَمۡتُ أَنۡ لَا أَدَعَ فِيهَا صَفۡرَاءَ وَلَا بَيۡضَاءَ إِلَّا قَسَمۡتُهَا بَيۡنَ الۡمُسۡلِمِينَ، قُلۡتُ: مَا أَنۡتَ بِفَاعِلٍ، قَالَ: لِمَ؟ قُلۡتُ: لَمۡ يَفۡعَلۡهُ صَاحِبَاكَ، قَالَ: هُمَا الۡمَرۡآنِ يُقۡتَدَى بِهِمَا. [طرفه في: ١٥٩٤].
7275. ‘Amr bin ‘Abbas telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Washil, dari Abu Wa`il, beliau berkata: Aku pernah duduk menemui Syaibah di masjid ini. Beliau berkata: ‘Umar pernah duduk menemuiku di tempat dudukmu ini. ‘Umar mengatakan: Aku sangat ingin untuk tidak meninggalkan emas, tidak pula perak di dalam Kakbah ini kecuali aku bagi-bagikan kepada kaum muslimin. Aku berkata: Engkau tidak akan melakukannya. ‘Umar bertanya: Mengapa? Aku katakan: Kedua sahabatmu tidak melakukannya. ‘Umar berkata: Keduanya adalah dua orang yang aku teladani.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4503 dan 4504

٤٥٠٣ – حَدَّثَنِي مَحۡمُودٌ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: دَخَلَ عَلَيۡهِ الۡأَشۡعَثُ وَهُوَ يَطۡعَمُ، فَقَالَ: الۡيَوۡمُ عَاشُورَاءُ! فَقَالَ: كَانَ يُصَامُ قَبۡلَ أَنۡ يَنۡزِلَ رَمَضَانُ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ تُرِكَ، فَادۡنُ فَكُلۡ.
4503. Mahmud telah menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah mengabarkan kepada kami, dari Isra`il, dari Manshur, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah, beliau berkata: Al-Asy’ats masuk menemuinya dalam keadaan ‘Abdullah sedang makan. Al-Asy’ats berkata: Hari ini hari Asyura. ‘Abdullah mengatakan: Hari ini dahulu memang biasa dilakukan puasa sebelum syariat puasa bulan Ramadan turun. Ketika syariat puasa Ramadan telah turun, puasa Asyura ditinggalkan. Jadi, mendekatlah dan makanlah!
٤٥٠٤ – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ يَوۡمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيۡشٌ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الۡمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ، كَانَ رَمَضَانُ الۡفَرِيضَةَ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ، فَكَانَ مَنۡ شَاءَ صَامَهُ وَمَنۡ شَاءَ لَمۡ يَصُمۡهُ.
[طرفه في: ١٥٩٢].
4504. Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepadaku: Yahya menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Dahulu, hari Asyura adalah hari orang Quraisy biasa berpuasa di zaman jahiliah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah berpuasa hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau berpuasa dan memerintahkan puasa hari itu. Ketika syariat puasa Ramadan turun, maka puasa Ramadan menjadi puasa wajib sedangkan puasa Asyura ditinggalkan. Sehingga, siapa saja yang ingin, ia boleh berpuasa hari itu, dan siapa saja yang ingin, ia pun boleh tidak berpuasa hari itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3831

٢٦ – بَابُ أَيَّامِ الۡجَاهِلِيَّةِ
26. Bab hari-hari jahiliah

٣٨٣١ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى: قَالَ هِشَامٌ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ عَاشُورَاءُ يَوۡمًا تَصُومُهُ قُرَيۡشٌ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الۡمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنۡ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنۡ شَاءَ لَا يَصُومُهُ. [طرفه في: ١٥٩٢].
3831. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami: Hisyam berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Asyura adalah suatu hari yang orang Quraisy biasa berpuasa di zaman jahiliah. Dulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa hari itu. Ketika syariat puasa Ramadan telah turun, maka siapa saja yang ingin, ia boleh berpuasa hari itu dan siapa saja yang ingin, ia boleh tidak berpuasa hari itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7479

٧٤٧٩ – حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. وَقَالَ أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (نَنۡزِلُ غَدًا إِنۡ شَاءَ اللهُ، بِخَيۡفِ بَنِي كِنَانَةَ، حَيۡثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الۡكُفۡرِ). يُرِيدُ الۡمُحَصَّبَ. [طرفه في: ١٥٨٩].
7479. Abul Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri. Ahmad bin Shalih berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kita akan singgah besok insya Allah di khaif (lembah) Bani Kinanah, tempat mereka saling bersumpah untuk berbuat kekufuran.” Yang beliau maukan adalah Al-Muhashshab.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4284 dan 4285

٤٢٨٤ – حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: حَدَّثَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡزِلُنَا – إِنۡ شَاءَ اللهُ، إِذَا فَتَحَ اللهُ – الۡخَيۡفُ، حَيۡثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الۡكُفۡرِ). [طرفه في: ١٥٨٩].
4284. Abul Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib menceritakan kepada kami: Abuz Zinad menceritakan kepada kami, dari ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat singgah kita insya Allah, apabila Allah taklukkan (Makkah), adalah khaif (lembah Bani Kinanah), tempat mereka saling bersumpah untuk berbuat kekufuran.”
٤٢٨٥ – حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ أَرَادَ حُنَيۡنًا: (مَنۡزِلُنَا غَدًا إِنۡ شَاءَ اللهُ، بِخَيۡفِ بَنِي كِنَانَةَ، حَيۡثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الۡكُفۡرِ). [طرفه في: ١٥٨٩].
4285. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika hendak perang Hunain, “Tempat singgah kita esok insya Allah adalah di khaif (lembah) Bani Kinanah, tempat mereka saling bersumpah untuk berbuat kekufuran.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3882

٣٩ – بَابُ تَقَاسُمِ الۡمُشۡرِكِينَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ
39. Bab orang-orang musyrik saling bersumpah terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

٣٨٨٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ أَرَادَ حُنَيۡنًا: (مَنۡزِلُنَا غَدًا إِنۡ شَاءَ اللهُ، بِخَيۡفِ بَنِي كِنَانَةَ، حَيۡثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الۡكُفۡرِ).
3882. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau hendak perang Hunain, “Tempat singgah kita besok insya Allah di lembah Bani Kinanah, tempat mereka saling bersumpah untuk perbuatan kekufuran.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3884

٣٨٨٣ – حَدَّثَنَا مَحۡمُودٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنِ ابۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتۡهُ الۡوَفَاةُ، دَخَلَ عَلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ وَعِنۡدَهُ أَبُو جَهۡلٍ، فَقَالَ: (أَيۡ عَمِّ، قُلۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنۡدَ اللهِ). فَقَالَ أَبُو جَهۡلٍ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ، تَرۡغَبُ عَنۡ مِلَّةِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، فَلَمۡ يَزَالَا يُكَلِّمَانِهِ، حَتَّى قَالَ آخِرَ شَيۡءٍ كَلَّمَهُمۡ بِهِ: عَلَى مِلَّةِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ مَا لَمۡ أُنۡهَ عَنۡهُ). فَنَزَلَتۡ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنۡ يَسۡتَغۡفِرُوا لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوا أُولِي قُرۡبَى مِنۡ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَابُ الۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣] وَنَزَلَتۡ: ﴿إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ﴾ [القصص: ٥٦]. [طرفه في: ١٣٦٠].
3884. Mahmud telah menceritakan kepada kami: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, dari ayahnya: Bahwa Abu Thalib ketika menjelang wafat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuinya, sedang di sisinya ada Abu Jahl. Beliau bersabda, “Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah, satu kalimat yang aku berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah.” Abu Jahl dan 'Abdullah bin Umayyah berkata: Wahai Abu Thalib, apakah engkau benci agama 'Abdul Muththalib? Keduanya terus-menerus mengajak bicara dia sampai akhirnya Abu Thalib mengucapkan ucapan mereka: di atas agama 'Abdul Muththalib. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan aku mohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.” Maka turunlah ayat yang artinya, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113). Dan turun pula ayat yang artinya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.” (QS. Al-Qashash: 56).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6764

٢٦ – بَابٌ لَا يَرِثُ الۡمُسۡلِمُ الۡكَافِرَ، وَلَا الۡكَافِرُ الۡمُسۡلِمَ
26. Bab seorang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim

وَإِذَا أَسۡلَمَ قَبۡلَ أَنۡ يُقۡسَمَ الۡمِيرَاثُ فَلَا مِيرَاثَ لَهُ.
Dan apabila ia masuk Islam sebelum harta warisan dibagikan, maka dia tidak ada warisan untuknya.
٦٧٦٤ – حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ حُسَيۡنٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ عُثۡمَانَ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَرِثُ الۡمُسۡلِمُ الۡكَافِرَ وَلَا الۡكَافِرُ الۡمُسۡلِمَ). [طرفه في: ١٥٨٨].
6764. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ali bin Husain, dari ‘Umar bin ‘Utsman, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.”

Shahih Muslim hadits nomor 1239

١٩٦ – (١٢٣٩) – وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ الۡقُرِّيُّ: سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: أَهَلَّ النَّبِيُّ ﷺ بِعُمۡرَةٍ، وَأَهَلَّ أَصۡحَابُهُ بِحَجٍّ، فَلَمۡ يَحِلَّ النَّبِيُّ ﷺ وَلَا مَنۡ سَاقَ الۡهَدۡيَ مِنۡ أَصۡحَابِهِ، وَحَلَّ بَقِيَّتُهُمۡ، فَكَانَ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ فِيمَنۡ سَاقَ الۡهَدۡيَ فَلَمۡ يَحِلَّ.
196. (1239). ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Muslim Al-Qurri menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihram untuk umrah, sementara para sahabat beliau memulai ihram untuk haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung tahalul. Begitu pula sebagian sahabat beliau yang membawa hewan kurban haji. Adapun sisanya, tahalul. Thalhah bin ‘Ubaidullah termasuk orang yang membawa hewan kurban haji, sehingga beliau tidak langsung tahalul.
١٩٧ – (...) – وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ – يَعۡنِي ابۡنَ جَعۡفَرٍ -: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: وَكَانَ مِمَّنۡ لَمۡ يَكُنۡ مَعَهُ الۡهَدۡيُ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ، وَرَجُلٌ آخَرُ، فَأَحَلَّا.
197. Muhammad bin Basysyar telah menceritakannya kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dengan sanad ini. Hanya saja beliau berkata: Orang yang termasuk tidak membawa hewan kurban haji adalah Thalhah bin ‘Ubaidullah dan satu orang lain, maka keduanya tahalul.

Shahih Muslim hadits nomor 1238

٣٠ – بَابٌ فِي مُتۡعَةِ الۡحَجِّ
30. Bab tentang haji tamatuk

١٩٤ – (١٢٣٨) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُسۡلِمٍ الۡقُرِّيِّ قَالَ: سَأَلۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا عَنۡ مُتۡعَةِ الۡحَجِّ؟ فَرَخَّصَ فِيهَا. وَكَانَ ابۡنُ الزُّبَيۡرِ يَنۡهَىٰ عَنۡهَا. فَقَالَ: هٰذِهِ أُمُّ ابۡنِ الزُّبَيۡرِ تُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ رَخَّصَ فِيهَا، فَادۡخُلُوا عَلَيۡهَا فَاسۡأَلُوهَا. قَالَ: فَدَخَلَنَا عَلَيۡهَا، فَإِذَا امۡرَأَةٌ ضَخۡمَةٌ عَمۡيَاءُ. فَقَالَتۡ: قَدۡ رَخَّصَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِيهَا.
194. (1238). Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Muslim Al-Qurri, beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang haji tamatuk? Beliau memberi rukhsah padanya. Namun, Ibnuz Zubair melarang dari haji tamatuk. Ibnu ‘Abbas mengatakan: Ini adalah ibu Ibnuz Zubair, beliau menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi rukhsah dalam haji tamatuk. Maka, temuilah dia dan tanyakanlah! Beliau berkata: Kami pun masuk menemuinya, ternyata beliau adalah wanita yang berbadan besar dan buta. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan dalam haji tamatuk. 
١٩٥ – (...) – وَحَدَّثَنَاهُ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ. (ح) وَحَدَّثَنَاهُ ابۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ – يَعۡنِي ابۡنَ جَعۡفَرٍ – جَمِيعًا عَنۡ شُعۡبَةَ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
فَأَمَّا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ فَفِي حَدِيثِهِ الۡمُتۡعَةُ، وَلَمۡ يَقُلۡ: مُتۡعَةُ الۡحَجِّ. وَأَمَّا ابۡنُ جَعۡفَرٍ فَقَالَ: قَالَ شُعۡبَةُ: قَالَ مُسۡلِمٌ: لَا أَدۡرِي مُتۡعَةُ الۡحَجِّ أَوۡ مُتۡعَةُ النِّسَاءِ.
195. Ibnul Mutsanna telah menceritakannya kepada kami: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Basysyar telah menceritakannya kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Semuanya dari Syu’bah dengan sanad ini.
Adapun ‘Abdurrahman, di dalam hadisnya hanya disebutkan al-mut’ah dan beliau tidak mengatakan: mut’atul hajj (haji tamatuk). Adapun Ibnu Ja’far, beliau berkata: Syu’bah berkata: Muslim berkata: Aku tidak tahu apakah mut’atul hajj (haji tamatuk) atau mut’atun nisa` (kawin mutah).

Shahih Muslim hadits nomor 1237

١٩٣ – (١٢٣٧) – وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ وَأَحۡمَدُ بۡنُ عِيسَىٰ. قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو، عَنۡ أَبِي الۡأَسۡوَدِ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ مَوۡلَىٰ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا حَدَّثَهُ، أَنَّهُ كَانَ يَسۡمَعُ أَسۡمَاءَ، كُلَّمَا مَرَّتۡ بِالۡحَجُونِ تَقُولُ: صَلَّىٰ اللهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَسَلَّمَ. لَقَدۡ نَزَلۡنَا مَعَهُ هَاهُنَا وَنَحۡنُ، يَوۡمَئِذٍ، خِفَافُ الۡحَقَائِبِ، قَلِيلٌ ظَهۡرُنَا، قَلِيلَةٌ أَزۡوَادُنَا، فَاعۡتَمَرۡتُ أَنَا وَأُخۡتِي عَائِشَةُ وَالزُّبَيۡرُ وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ، فَلَمَّا مَسَحۡنَا الۡبَيۡتَ أَحۡلَلۡنَا، ثُمَّ أَهۡلَلۡنَا مِنَ الۡعَشِيِّ بِالۡحَجِّ.
قَالَ هَارُونُ فِي رِوَايَتِهِ: أَنَّ مَوۡلَىٰ أَسۡمَاءَ، وَلَمۡ يُسَمِّ: عَبۡدَ اللهِ.
193. (1237). Harun bin Sa’id Al-Aili dan Ahmad bin ‘Isa telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: ‘Amr mengabarkan kepadaku, dari Abul Aswad, bahwa ‘Abdullah maula Asma` bintu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma menceritakan kepadanya, bahwa beliau pernah mendengar Asma` setiap kali melewati Hajun, beliau mengatakan: Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Rasul-Nya. Kami pernah singgah bersama beliau di sini. Kami, pada saat itu, masih ringan beban, sedikit tunggangan, dan sedikit bekal-bekal kami. Aku melakukan umrah bersama saudariku, yaitu ‘Aisyah, Az-Zubair, Polan, dan Polan. Ketika kami telah mengusap Kakbah, kami tahalul. Kemudian kami memulai ihram untuk haji di sore harinya.
Harun berkata di dalam riwayatnya: Bahwa maula Asma` dan beliau tidak menyebutkan nama ‘Abdullah.

Shahih Muslim hadits nomor 1236

١٩١ – (١٢٣٦) – حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ. (ح) وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ – وَاللَّفۡظُ لَهُ – حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: حَدَّثَنِي مَنۡصُورُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أُمِّهِ صَفِيَّةَ بِنۡتِ شَيۡبَةَ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَتۡ: خَرَجۡنَا مُحۡرِمِينَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَ مَعَهُ هَدۡيٌ فَلۡيَقُمۡ عَلَىٰ إِحۡرَامِهِ، وَمَنۡ لَمۡ يَكُنۡ مَعَهُ هَدۡيٌ فَلۡيَحۡلِلۡ). فَلَمۡ يَكُنۡ مَعِي هَدۡيٌ فَحَلَلۡتُ، وَكَانَ مَعَ الزُّبَيۡرِ هَدۡيٌ فَلَمۡ يَحۡلِلۡ.
قَالَتۡ: فَلَبِسۡتُ ثِيَابِي ثُمَّ خَرَجۡتُ فَجَلَسۡتُ إِلَى الزُّبَيۡرِ. فَقَالَ: قُومِي عَنِّي. فَقُلۡتُ: أَتَخۡشَىٰ أَنۡ أَثِبَ عَلَيۡكَ؟.
191. (1236). Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bakr mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku –dan redaksi hadis ini milik beliau-: Rauh bin ‘Ubadah menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami: Manshur bin ‘Abdurrahman menceritakan kepadaku, dari ibunya, Shafiyyah bintu Syaibah, dari Asma` bintu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Kami keluar bepergian dalam keadaan ihram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang membawa hewan kurban haji, hendaknya ia tetap dalam keadaan ihram dan siapa saja yang tidak membawa hewan kurban haji, maka ia tahalul.” Aku tidak membawa hewan kurban haji, sehingga aku pun tahalul. Sedangkan Az-Zubair membawa hewan kurban haji, sehingga ia tidak tahalul.
Asma` mengatakan: Aku memakai pakaianku lalu aku keluar dan duduk menemui Az-Zubair. Az-Zubair mengatakan: Menyingkirlah dariku! Aku berkata: Apa engkau khawatir aku akan melompat kepadamu?
١٩٢ – (...) – وَحَدَّثَنِي عَبَّاسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَظِيمِ الۡعَنۡبَرِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الۡمُغِيرَةُ بۡنُ سَلَمَةَ الۡمَخۡزُومِيُّ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: حَدَّثَنَا مَنۡصُورُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أُمِّهِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَتۡ: قَدِمۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ مُهِلِّينَ بِالۡحَجِّ. ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَقَالَ: اسۡتَرۡخِي عَنِّي، اسۡتَرۡخِي عَنِّي، فَقُلۡتُ: أَتَخۡشَىٰ أَنۡ أَثِبَ عَلَيۡكَ؟.
192. ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Azhim Al-‘Anbari telah menceritakan kepadaku: Abu Hisyam Al-Mughirah bin Salamah Al-Makhzumi menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Manshur bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari ibunya, dari Asma` bintu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Kami tiba bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan ihram untuk haji. Kemudian beliau menyebutkan semisal hadis Ibnu Juraij, hanya saja beliau berkata: Az-Zubair mengatakan: Menjauhlah dariku, menjauhlah dariku! Aku berkata: Apakah engkau takut aku akan melompat kepadamu?

Shahih Muslim hadits nomor 1234

١٨٩ – (١٢٣٤) – حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ. قَالَ: سَأَلۡنَا ابۡنَ عُمَرَ عَنۡ رَجُلٍ قَدِمَ بِعُمۡرَةٍ، فَطَافَ بِالۡبَيۡتِ وَلَمۡ يَطُفۡ بَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ. أَيَأۡتِي امۡرَأَتَهُ؟ فَقَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَطَافَ بِالۡبَيۡتِ سَبۡعًا، وَصَلَّىٰ خَلۡفَ الۡمَقَامِ رَكۡعَتَيۡنِ، وَبَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، سَبۡعًا، وَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ اللهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ.
[البخاري: كتاب الصلاة، باب قول الله تعالى: ﴿واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى﴾، رقم: ٣٩٥].
189. (1234). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin Dinar. Beliau berkata: Kami bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang seseorang yang datang untuk umrah lalu tawaf di Kakbah namun tidak sai antara Shafa dan Marwah. Apakah ia boleh menggauli istrinya? Ibnu ‘Umar mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Makkah, lalu beliau tawaf di Kakbah tujuh putaran. Lalu beliau salat dua rakaat di belakang makam (tempat berdiri) Ibrahim dan sai antara Shafa dan Marwah tujuh lintasan. Sungguh pada diri Rasulullah ada teladan yang baik untuk kalian.
(...) – حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ زَيۡدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ. جَمِيعًا عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَ حَدِيثِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ.
Yahya bin Yahya dan Abur Rabi’ Az-Zahrani telah menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid. (Dalam riwayat lain) ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bakr mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Semuanya dari ‘Amr bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Ibnu ‘Uyainah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4282

٤٢٨٢ – حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: حَدَّثَنَا سَعۡدَانُ بۡنُ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي حَفۡصَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ حُسَيۡنٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ عُثۡمَانَ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ: أَنَّهُ قَالَ زَمَنَ الۡفَتۡحِ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيۡنَ نَنۡزِلُ غَدًا؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَهَلۡ تَرَكَ لَنَا عُقَيۡلٌ مِنۡ مَنۡزِلٍ). [طرفه في: ١٥٨٨].
4282. Sulaiman bin ‘Abdurrahman telah menceritakan kepada kami: Sa’dan bin Yahya menceritakan kepada kami: Muhammad bin Abu Hafshah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari ‘Ali bin Husain, dari ‘Amr bin ‘Utsman, dari Usamah bin Zaid: Bahwa beliau pernah berkata di zaman Fathu Makkah: Wahai Rasulullah, di mana kita singgah besok? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah ‘Uqail meninggalkan tempat singgah untuk kita?”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3058

١٧٩ – بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ لِلۡيَهُودِ: أَسۡلِمُوا تَسۡلَمُوا
179. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Yahudi, “Masuk Islamlah, niscaya kalian akan selamat”

قَالَهُ الۡمَقۡبُرِيُّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
Al-Maqburi mengatakannya dari Abu Hurairah.

١٨٠ – بَابٌ إِذَا أَسۡلَمَ قَوۡمٌ فِي دَارِ الۡحَرۡبِ، وَلَهُمۡ مَالٌ وَأَرۡضُونَ، فَهِيَ لَهُمۡ
180. Bab apabila suatu kaum di negeri yang diperangi masuk Islam sementara mereka memiliki harta dan tanah, maka hal itu tetap milik mereka

٣٠٥٨ – حَدَّثَنَا مَحۡمُودٌ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ حُسَيۡنٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ عُثۡمَانَ بۡنِ عَفَّانَ، عَنۡ أَسُامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيۡنَ تَنۡزِلُ غَدًا؟ فِي حَجَّتِهِ، قَالَ: (وَهَلۡ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مَنۡزِلًا؟) ثُمَّ قَالَ: (نَحۡنُ نَازِلُونَ غَدًا بِخَيۡفِ بَنِي كِنَانَةَ الۡمُحَصَّبِ، حَيۡثُ قَاسَمَتۡ قُرَيۡشٌ عَلَى الۡكُفۡرِ). وَذٰلِكَ أَنَّ بَنِي كِنَانَةَ حَالَفَتۡ قُرَيۡشًا عَلَى بَنِي هَاشِمٍ: أَنۡ لَا يُبَايِعُوهُمۡ وَلَا يُؤۡوُوهُمۡ. قَالَ الزُّهۡرِيُّ: وَالۡخَيۡفُ: الۡوَادِي.
3058. Mahmud telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari ‘Ali bin Husain, dari ‘Amr bin ‘Utsman bin ‘Affan, dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, di mana engkau singgah besok? Ketika hajinya. Beliau bersabda, “Apakah ‘Uqail menyisakan untuk kita suatu tempat singgah?” Kemudian beliau bersabda, “Kita besok akan singgah di khaif Bani Kinanah, yaitu Al-Muhashshab, tempat di mana Quraisy bersumpah untuk perbuatan kekafiran.” Yaitu bahwa Bani Kinanah mengambil sumpah Quraisy atas Bani Hasyim agar tidak berjual beli dengan mereka dan tidak melindungi mereka. Az-Zuhri berkata: khaif adalah lembah.

Shahih Muslim hadits nomor 1233

٢٨ – بَابُ مَا يَلۡزَمُ مَنۡ أَحۡرَمَ بِالۡحَجِّ ثُمَّ قَدِمَ مَكَّةَ مِنَ الطَّوَافِ وَالسَّعۡيِ
28. Bab perbuatan yang harus dilakukan oleh siapa saja yang ihram untuk haji kemudian tiba di Makkah berupa tawaf dan sai

١٨٧ – (١٢٣٣) – حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا عَبۡثَرٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ وَبَرَةَ. قَالَ: كُنۡتُ جَالِسًا عِنۡدَ ابۡنِ عُمَرَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: أَيَصۡلُحُ لِي أَنۡ أَطُوفَ بِالۡبَيۡتِ قَبۡلَ أَنۡ آتِيَ الۡمَوۡقِفَ. فَقَالَ: نَعَمۡ. فَقَالَ: فَإِنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: لَا تَطُفۡ بِالۡبَيۡتِ حَتَّىٰ تَأۡتِيَ الۡمَوۡقِفَ. فَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ: فَقَدۡ حَجَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَطَافَ بِالۡبَيۡتِ قَبۡلَ أَنۡ يَأۡتِيَ الۡمَوۡقِفَ، فَبِقَوۡلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَحَقُّ أَنۡ تَأۡخُذَ، أَوۡ بِقَوۡلِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، إِنۡ كُنۡتَ صَادِقًا؟
187. (1233). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: ‘Abtsar mengabarkan kepada kami, dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Wabarah. Beliau berkata: Aku pernah duduk di dekat Ibnu ‘Umar, lalu datanglah seseorang seraya berkata: Apakah aku boleh untuk tawaf di Kakbah sebelum mendatangi tempat wukuf? Beliau menjawab: Ya, boleh. Orang itu berkata: Karena Ibnu ‘Abbas mengatakan: Jangan engkau tawaf di Kakba sampai engkau mendatangi tempat wukuf. Ibnu ‘Umar mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan haji, lalu beliau tawaf di Kakbah sebelum mendatangi tempat wukuf. Lalu, manakah yang lebih berhak engkau ikuti, ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah ucapan Ibnu ‘Abbas, jika engkau orang yang jujur?
١٨٨ – (...) – وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ بَيَانٍ، عَنۡ وَبَرَةَ. قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَطُوفُ بِالۡبَيۡتِ وَقَدۡ أَحۡرَمۡتُ بِالۡحَجِّ؟ فَقَالَ: وَمَا يَمۡنَعُكَ؟ قَالَ: إِنِّي رَأَيۡتُ ابۡنَ فُلَانٍ يَكۡرَهُهُ وَأَنۡتَ أَحَبُّ إِلَيۡنَا مِنۡهُ. رَأَيۡنَاهُ قَدۡ فَتَنَتۡهُ الدُّنۡيَا. فَقَالَ: وَأَيُّنَا – أَوۡ أَيُّكُمۡ – لَمۡ تَفۡتِنۡهُ الدُّنۡيَا؟ ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَحۡرَمَ بِالۡحَجِّ. وَطَافَ بِالۡبَيۡتِ، وَسَعَىٰ بَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، فَسُنَّةُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ ﷺ أَحَقُّ أَنۡ تَتَّبِعَ، مِنۡ سُنَّةِ فُلَانٍ، إِنۡ كُنۡتَ صَادِقًا.
188. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami, dari Bayan, dari Wabarah. Beliau berkata: Seseorang bertanya kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Apakah aku boleh tawaf di Kakbah padahal aku telah ihram untuk haji? Beliau berkata: Apa yang menghalangimu (untuk melakukannya)? Orang itu berkata: Sesungguhnya aku melihat Ibnu Fulan membencinya namun engkau lebih kami cintai daripada dia. Kami melihatnya telah tertimpa ujian dunia. Ibnu ‘Umar mengatakan: Siapa di antara kami –atau di antara kalian- yang tidak tertimpa ujian dunia? Kemudian Ibnu ‘Umar mengatakan: Kami telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram untuk haji. Beliau tawaf di Kakbah dan sai antara Shafa dan Marwah. Maka, sunah Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak engkau ikuti daripada sunah si Polan jika engkau jujur.