Shahih Muslim hadits nomor 79

٣٤ - بَابُ نُقۡصَانِ الۡإِيمَانِ بِنَقۡصِ الطَّاعَاتِ، وَبَيَانِ إِطۡلَاقِ لَفۡظِ الۡكُفۡرِ عَلَى غَيۡرِ الۡكُفۡرِ بِاللهِ، كَكُفۡرِ النِّعۡمَةِ وَالۡحُقُوقِ 
34. Bab berkurangnya iman karena berkurangnya ketaatan dan keterangan penggunaan kata kufur secara mutlak kepada perbuatan selain kufur terhadap Allah seperti kufur nikmat dan kufur hak-hak 

١٣٢ – (٧٩) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحِ بۡنِ الۡمُهَاجِرِ الۡمِصۡرِيُّ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ الۡهَادِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ قَالَ: (يَا مَعۡشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقۡنَ وَأَكۡثِرۡنَ الۡاسۡتِغۡفَارَ، فَإِنِّي رَأَيۡتُكُنَّ أَكۡثَرَ أَهۡلِ النَّارِ). فَقَالَتِ امۡرَأَةٌ مِنۡهُنَّ، جَزۡلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَكۡثَرَ أَهۡلِ النَّارِ؟ قَالَ: (تُكۡثِرۡنَ اللَّعۡنَ، وَتَكۡفُرۡنَ الۡعَشِيرَ، وَمَا رَأَيۡتُ مِنۡ نَاقِصَاتِ عَقۡلٍ وَدِينٍ أَغۡلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنۡكُنَّ). قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا نُقۡصَانُ الۡعَقۡلِ وَالدِّينِ؟ قَالَ: (أَمَّا نُقۡصَانُ الۡعَقۡلِ، فَشَهَادَةُ امۡرَأَتَيۡنِ تَعۡدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ، فَهَٰذَا نُقۡصَانُ الۡعَقۡلِ، وَتَمۡكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي، وَتُفۡطِرُ فِي رَمَضَانَ، فَهَٰذَا نُقۡصَانُ الدِّينِ). 
132. (79). Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir Al-Mishri telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Ibnu Al-Had, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istigfar karena aku melihat kalian sebagai penghuni neraka terbanyak.” 
Seorang wanita yang cerdas di antara mereka bertanya, “Mengapa kami menjadi penghuni neraka terbanyak wahai Rasulullah?” 
Nabi menjawab, “Kalian banyak melaknat, kufur terhadap suami, dan aku tidak melihat makhluk yang kurang akal dan agama lebih dapat mengalahkan pria yang berakal daripada kalian.” 
Wanita tadi bertanya, “Wahai Rasulullah, apa arti kekurangan akal dan agama?” 
Nabi bersabda, “Adapun kurangnya akal adalah persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang pria. Ini adalah kekurangan akal. Dan wanita melalui beberapa malam tanpa salat dan tidak berpuasa di bulan Ramadan (ketika haid). Ini adalah kekurangan agama.” 
وَحَدَّثَنِيهِ أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ بَكۡرِ بۡنِ مُضَرَ، عَنِ ابۡنِ الۡهَادِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. 
Abu Ath-Thahir menceritakannya kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami dari Bakr bin Mudhar, dari Ibnu Al-Had melalui sanad ini… semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 78

١٣١ - (٧٨) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. (ح) وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، عَنۡ زِرٍّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: وَالَّذِي فَلَقَ الۡحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهۡدُ النَّبِيِّ الۡأُمِّيِّ ﷺ إِلَيَّ: (أَنۡ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤۡمِنٌ، وَلَا يُبۡغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ). 
131. (78). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ dan Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami—lafal ini milik beliau—: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Adi bin Tsabit, dari Zirr. Beliau berkata: ‘Ali berkata: Demi Allah yang membelah biji dan menciptakan makhluk hidup, sesungguhnya wasiat Nabi Muhammad yang umi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku adalah, “Tidaklah mencintaiku kecuali seorang mukmin dan tidaklah membenciku kecuali seorang munafik.”

Shahih Muslim hadits nomor 77

(٧٧) - وَحَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُبۡغِضُ الۡأَنۡصَارَ رَجُلٌ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ). 
(77). ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak membenci kaum ansar.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2327

٧ - بَابُ مَنۡ قَالَ: فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَصُومُوا ثَلَاثِينَ 
7. Bab barang siapa berkata: Jika kalian terhalangi melihat hilal, maka berpuasalah tiga puluh hari 

٢٣٢٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ، نا حُسَيۡنٌ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ سِمَاكٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تُقَدِّمُوا الشَّهۡرَ بِصِيَامِ يَوۡمٍ وَلَا يَوۡمَيۡنِ، إِلَّا أَنۡ يَكُونَ شَيۡءٌ يَصُومُهُ أَحَدُكُمۡ، [وَ]لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوۡهُ، ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوۡهُ، فَإِنۡ حَالَ دُونَهُ غَمَامَةٌ، فَأَتِمُّوا الۡعِدَّةَ ثَلَاثِينَ، ثُمَّ أَفۡطِرُوا، وَالشَّهۡرُ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ حَاتِمُ بۡنُ أَبِي صَغِيرَةَ، وَشُعۡبَةُ، وَالۡحَسَنُ بۡنُ صَالِحٍ، عَنۡ سِمَاكٍ، بِمَعۡنَاهُ، لَمۡ يَقُولُوا: (ثُمَّ أَفۡطِرُوا). [قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهُوَ حَاتِمُ بۡنُ مُسۡلِمٍ ابۡنُ أَبِي صَغِيرَةَ، وَأَبُو صَغِيرَةَ زَوۡجُ أُمِّهِ]. 
2327. Al-Hasan bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Husain menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari Simak, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari. Kecuali puasa yang sudah rutin kalian kerjakan. Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal (Ramadan). Kemudian berpuasalah sampai kalian melihat hilal (Syawal). Jika awan menghalangi penglihatan, maka sempurnakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari. Setelah itu kalian selesai berpuasa. Dan satu bulan bisa dua puluh sembilan hari.” Abu Dawud berkata: Hatim bin Abu Shaghirah, Syu’bah, dan Al-Hasan bin Shalih meriwayatkannya dari Simak semakna dengannya, namun mereka tidak mengatakan, “Setelah itu kalian selesai berpuasa.” Abu Dawud berkata: Beliau adalah Hatim bin Muslim, yaitu putra Abu Shaghirah, sementara Abu Shaghirah adalah suami ibunya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2325 dan 2326

٦ - بَابٌ إِذَا أُغۡمِيَ الشَّهۡرُ 
6. Bab ketika terhalangi melihat hilal bulan Ramadan 

٢٣٢٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بۡنُ صَالِحٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي قَيۡسٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَحَفَّظُ مِنۡ شَعۡبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنۡ غَيۡرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤۡيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا ثُمَّ صَامَ. 
2325. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepadaku: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari ‘Abdullah bin Abu Qais. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan (hitungan) bulan Syakban dengan perhatian yang lebih daripada bulan lainnya. Kemudian beliau mulai berpuasa berdasarkan penglihatan hilal Ramadan. Jika terhalangi melihat hilal, beliau menghitung bulan Syakban tiga puluh hari, setelah itu baru berpuasa. 
٢٣٢٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ الۡبَزَّازُ، نا جَرِيرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡحَمِيدِ الضَّبِّيُّ، عَنۡ مَنۡصُورِ بۡنِ الۡمُعۡتَمِرِ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تُقَدِّمُوا الشَّهۡرَ حَتَّى تَرَوُا الۡهِلَالَ أَوۡ تُكۡمِلُوا الۡعِدَّةَ، ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوُا الۡهِلَالَ أَوۡ تُكۡمِلُوا الۡعِدَّةَ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: [وَ]رَوَاهُ سُفۡيَانُ وَغَيۡرُهُ عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ رِبۡعِيٍّ، عَنۡ رَجُلٍ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لَمۡ يُسَمِّ حُذَيۡفَةَ. 
2326. Muhammad bin Ash-Shabbah Al-Bazzaz telah menceritakan kepada kami: Jarir bin ‘Abdul Hamid Adh-Dhabbi menceritakan kepada kami dari Manshur bin Al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului puasa bulan Ramadan sampai kalian melihat hilal (Ramadan) atau menyempurnakan hitungan bulan (Syakban menjadi tiga puluh hari). Kemudian puasalah kalian sampai melihat hilal (Syawal) atau menyempurnakan hitungan bulan (Ramadan menjadi tiga puluh hari).” Abu Dawud berkata: Sufyan dan selain beliau meriwayatkannya dari Manshur, dari Rib’i, dari seseorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak menyebut nama Hudzaifah.

Shahih Muslim hadits nomor 76

١٣٠ - (٧٦) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ - يَعۡنِي ابۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡقَارِيَّ -، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يُبۡغِضُ الۡأَنۡصَارَ رَجُلٌ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ). 
130. (76). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman Al-Qari menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan membenci kaum ansar.”

Shahih Muslim hadits nomor 75

١٢٩ - (٧٥) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاذُ بۡنُ مُعَاذٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ الۡبَرَاءَ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ، فِي الۡأَنۡصَارِ: (لَا يُحِبُّهُمۡ إِلَّا مُؤۡمِنٌ وَلَا يُبۡغِضُهُمۡ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنۡ أَحَبَّهُمۡ أَحَبَّهُ اللهُ، وَمَنۡ أَبۡغَضَهُمۡ أَبۡغَضَهُ اللهُ). 
قَالَ شُعۡبَةُ: قُلۡتُ لِعَدِيٍّ: سَمِعۡتَهُ مِنَ الۡبَرَاءِ؟ قَالَ: إِيَّايَ حَدَّثَ. 
[البخاري: كتاب مناقب الأنصار، باب حب الأنصار من الإيمان، رقم: ٣٥٧٢]. 
129. (75). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepadaku. (Dalam riwayat lain) ‘Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi bin Tsabit. Beliau berkata: Aku mendengar Al-Bara` menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda tentang orang ansar, “Tidaklah mencintai mereka kecuali seorang mukmin dan tidaklah membenci mereka kecuali seorang munafik. Siapa saja yang mencintai mereka, maka Allah akan mencintainya dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah akan membencinya.” 
Syu’bah berkata: Aku bertanya kepada ‘Adi: Apakah engkau mendengarnya dari Al-Bara`? ‘Adi menjawab: Kepada akulah Al-Bara` bercerita.

Shahih Muslim hadits nomor 74

٣٣ - بَابُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ حُبَّ الۡأنۡصَارِ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ مِنَ الۡإِيمَانِ وَعَلَامَاتِهِ، وَبُغۡضَهُمۡ مِنۡ عَلَامَاتِ النِّفَاقِ 
33. Bab dalil bahwa mencintai kaum ansar dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum termasuk keimanan dan tanda-tandanya; sedangkan membenci mereka termasuk tanda-tanda kemunafikan 

١٢٨ - (٧٤) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ جَبۡرٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (آيَةُ الۡمُنَافِقِ بُغۡضُ الۡأَنۡصَارِ، وَآيَةُ الۡمُؤۡمِنِ حُبُّ الۡأَنۡصَارِ). 
128. (74). Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Jabr. Beliau berkata: Aku mendengar Anas mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik adalah membenci kaum ansar dan tanda orang mukmin adalah mencintai kaum ansar.” 
(...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ حَبِيبٍ الۡحَارِثِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡحَارِثِ -: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (حُبُّ الۡأَنۡصَارِ آيَةُ الۡإِيمَانِ، وَبُغۡضُهُمۡ آيَةُ النِّفَاقِ). 
Yahya bin Habib Al-Haritsi telah menceritakan kepada kami: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin ‘Abdullah, dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Mencintai orang ansar adalah tanda keimanan, sedangkan membenci mereka adalah tanda kemunafikan.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2324

٥ - بَابٌ إِذَا أَخۡطَأَ الۡقَوۡمُ الۡهِلَالَ 
5. Bab jika kaum muslimin keliru dalam masalah hilal 

٢٣٢٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدٍ، نا حَمَّادٌ فِي حَدِيثِ أَيُّوبَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، ذَكَرَ النَّبِيُّ ﷺ فِيهِ قَالَ: (وَفِطۡرُكُمۡ يَوۡمَ تُفۡطِرُونَ، وَأَضۡحَاكُمۡ يَوۡمَ تُضَحُّونَ، وَكُلُّ عَرَفَةَ مَوۡقِفٌ، وَكُلُّ مِنًى مَنۡحَرٌ، وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ مَنۡحَرٌ، وَكُلُّ جَمۡعٍ مَوۡقِفٌ). 
2324. Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dalam hadis Ayyub, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Abu Hurairah. Beliau menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padanya bersabda, “Idulfitri adalah hari kalian selesai berpuasa dan Iduladha adalah hari kalian berkurban. Semua Arafah adalah tempat wukuf. Semua Mina adalah tempat menyembelih. Semua jalan-jalan yang lebar di Makkah adalah tempat menyembelih. Dan Semua Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2322 dan 2323

٢٣٢٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ مَنِيعٍ، عَنِ ابۡنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنۡ عِيسَى بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ أَبِي ضِرَارٍ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ، قَالَ: لَمَا صُمۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ أَكۡثَرَ مِمَّا صُمۡنَا مَعَهُ ثَلَاثِينَ. 
2322. Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Za`idah, dari ‘Isa bin Dinar, dari ayahnya, dari ‘Amr bin Al-Harits bin Abu Dhirar, dari Ibnu Mas’ud. Beliau mengatakan: Kami lebih sering berpuasa dua puluh sembilan hari bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kami berpuasa tiga puluh hari bersama beliau. 
٢٣٢٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، أَنَّ يَزِيدَ بۡنَ زُرَيۡعٍ حَدَّثَهُمۡ، نا خَالِدٌ الۡحَذَّاءُ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (شَهۡرَا عِيدٍ لَا يَنۡقُصَانِ: رَمَضَانُ، وَذُو الۡحِجَّةِ). [ق]. 
2323. Musaddad telah menceritakan kepada kami bahwa Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada mereka: Khalid Al-Hadzdza` menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Dua bulan hari raya yang tidak berkurang, yaitu: Ramadan dan Zulhijah.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2319, 2320, dan 2321

٤ - بَابُ الشَّهۡرِ يَكُونُ تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ 
4. Bab satu bulan bisa dua puluh sembilan hari 

٢٣١٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ، حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ قَيۡسٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ عَمۡرٍو - يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدِ بۡنِ الۡعَاصِ -، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكۡتُبُ، وَلَا نَحۡسُبُ، الشَّهۡرُ هَٰكَذَا، وَهَٰكَذَا، وَهَٰكَذَا) وَخَنَسَ سُلَيۡمَانُ إِصۡبَعَهُ فِي الثَّالِثَةِ، يَعۡنِي: تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ، وَثَلَاثِينَ. [ق]. 
2319. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-Aswad bin Qais, dari Sa’id bin ‘Amr bin Sa’id Al-‘Ash, dari Ibnu ‘Umar. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami adalah umat yang umi. Kami tidak bisa menulis dan berhitung. Bulan itu begini, begini, dan begini.” Sulaiman tidak mengangkat satu jarinya di kali yang ketiga, yakni: Bisa dua puluh sembilan atau tiga puluh hari. 
٢٣٢٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ دَاوُدَ الۡعَتَكِيُّ، نا حَمَّادٌ، نا أَيُّوبُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الشَّهۡرُ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوۡهُ، وَلَا تُفۡطِرُوا حَتَّى تَرَوۡهُ، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَاقۡدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ). قَالَ: فَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ إِذَا كَانَ شَعۡبَانُ تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ: نُظِرَ لَهُ، فَإِنۡ رُئِيَ فَذَاكَ، وَإِنۡ لَمۡ يُرَ وَلَمۡ يَحُلۡ دُونَ مَنۡظَرِهِ سَحَابٌ وَلَا قَتَرَةٌ: أَصۡبَحَ مُفۡطِرًا، فَإِنۡ حَالَ دُونَ مَنۡظَرِهِ سَحَابٌ أَوۡ قَتَرَةٌ: أَصۡبَحَ صَائِمًا، قَالَ: فَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ يُفۡطِرُ مَعَ النَّاسِ وَلَا يَأۡخُذُ بِهَٰذَا الۡحِسَابِ. [ق دون قوله (فكان انب عمر...)]. 
2320. Sulaiman bin Dawud Al-‘Ataki telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bulan itu bisa dua puluh sembilan hari. Jadi kalian jangan berpuasa sampai melihat (hilal Ramadan) dan jangan selesai berpuasa (Ramadan) sampai kalian melihat (hilal Syawal). Jika awan menghalangi kalian dari melihat (hilal), maka tetapkan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari.” Nafi’ berkata: Dahulu Ibnu ‘Umar ketika Syakban sudah dua puluh sembilan hari, maka hilal dilihat. Jika terlihat, maka esoknya Ibnu ‘Umar berpuasa. Dan jika tidak terlihat dan tidak ada awan atau debu yang menghalangi pandangannya, maka Ibnu ‘Umar tidak berpuasa di pagi harinya. Namun jika ada awan atau debu yang menghalangi pandangannya, maka Ibnu ‘Umar berpuasa di pagi harinya. Nafi’ berkata: Lalu Ibnu ‘Umar selesai berpuasa (Ramadan) bersama kaum muslimin dan tidak memasukkan puasa (ketika hilal Ramadan tidak terlihat) tersebut ke dalam hitungan (puasa Ramadan). 
٢٣٢١ – (صحيح مقطوع) حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ مَسۡعَدَةَ، نا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ، حَدَّثَنِي أَيُّوبُ: قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ إِلَى أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ: بَلَغَنَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، نَحۡوَ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، زَادَ: (وَإِنَّ أَحۡسَنَ مَا يُقۡدَرُ لَهُ أَنَّا إِذَا رَأَيۡنَا هِلَالَ شَعۡبَانَ لِكَذَا وَكَذَا: فَالصَّوۡمُ إِنۡ شَاءَ اللهُ لِكَذَا وَكَذَا، إِلَّا أَنۡ يَرَوُا الۡهِلَالَ قَبۡلَ ذٰلِكَ). 
2321. Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepadaku. Beliau berkata: ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis kepada penduduk Bashrah bahwa telah sampai kepada kami hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menambahkan, “Dan sesungguhnya sebaik-baik perhitungan bulan adalah bahwa kita jika telah melihat hilal Syakban di malam sekian dan sekian, maka insya Allah puasa mulai tanggal sekian dan sekian, kecuali jika orang-orang melihat hilal (Ramadan) sebelum tanggal itu.”

Shahih Muslim hadits nomor 72

١٢٦ - (٧٢) - حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ، وَعَمۡرُو بۡنُ سَوَّادٍ الۡعَامِرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ الۡمُرَادِيُّ، قَالَ الۡمُرَادِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ عَنۡ يُونُسَ، وَقَالَ الۡآخَرَانِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ. قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَلَمۡ تَرَوۡا إِلَى مَا قَالَ رَبُّكُمۡ؟ قَالَ: مَا أَنۡعَمۡتُ عَلَى عِبَادِي مِنۡ نِعۡمَةٍ إِلَّا أَصۡبَحَ فَرِيقٌ مِنۡهُمۡ بِهَا كَافِرِينَ، يَقُولُونَ: الۡكَوَاكِبُ، وَبِالۡكَوَاكِبِ). 
126. (72). Harmalah bin Yahya, ‘Amr bin Sawwad Al-‘Amiri, dan Muhammad bin Salamah Al-Muradi telah menceritakan kepadaku. Al-Muradi berkata: ‘Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami dari Yunus. Dua rawi lainnya berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah menceritakan kepadaku: Bahwa Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah kalian melihat kepada firman Rabb kalian? Allah berkata: Tidaklah aku memberi suatu nikmat kepada hamba-hamba-Ku kecuali sebagian mereka mengingkarinya. Mereka berkata: Bintang-bintang ini dan karena bintang-bintang ini.” 
(...) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ الۡمُرَادِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ. (ح) وَحَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ سَوَّادٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ: أَنَّ أَبَا يُونُسَ مَوۡلَى أَبِي هُرَيۡرَةَ حَدَّثَهُ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا أَنۡزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنۡ بَرَكَةٍ إِلَّا أَصۡبَحَ فَرِيقٌ مِنَ النَّاسِ بِهَا كَافِرِينَ، يُنۡزِلُ اللهُ الۡغَيۡثَ، فَيَقُولُونَ: الۡكَوۡكَبُ كَذَا وَكَذَا). وَفِي حَدِيثِ الۡمُرَادِيِّ: (بِكَوۡكَبِ كَذَا وَكَذَا). 
Muhammad bin Salamah Al-Muradi telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Al-Harits. (Dalam riwayat lain) ‘Amr bin Sawwad telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: ‘Amr bin Al-Harits mengabarkan kepada kami: Bahwa Abu Yunus maula Abu Hurairah menceritakan kepadanya dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu berkah dari langit kecuali ada sebagian manusia yang mengingkarinya. Allah menurunkan hujan, namun mereka malah berkata: Bintang ini dan ini.” Di dalam hadis Al-Muradi, “Karena bintang ini dan ini.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2315 dan 2316

٢ - بَابُ نَسۡخِ قَوۡلِهِ تَعَالَى ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ﴾ 
2. Bab nasakh firman Allah taala (yang artinya), “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidiah” 

٢٣١٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، نا بَكۡرٌ - يَعۡنِي ابۡنَ مُضَرَ -، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ بُكَيۡرٍ، عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى سَلَمَةَ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ﴾ كَانَ مَنۡ أَرَادَ مِنَّا أَنۡ يُفۡطِرَ وَيَفۡتَدِيَ فَعَلَ، حَتَّى نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا فَنَسَخَتۡهَا. [ق]. 
2315. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Bakr bin Mudhar menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Al-Harits, dari Bukair, dari Yazid maula Salamah, dari Salamah bin Al-Akwa’. Beliau mengatakan: Ketika ayat ini turun (yang artinya), “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin,” maka siapa saja yang ingin untuk tidak berpuasa dan membayar fidiah, dia boleh melakukannya. Sampai ayat setelahnya turun dan menasakhkannya. 
٢٣١٦ – (حسن) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، نا عَلِيُّ بۡنُ حُسَيۡنٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ يَزِيدَ النَّحۡوِيِّ، عَنۡ عِكۡرَمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ﴾، فَكَانَ مَنۡ شَاءَ مِنۡهُمۡ أَنۡ يَفۡتَدِيَ بِطَعَامِ مِسۡكِينٍ افۡتَدَى وَتَمَّ لَهُ صَوۡمُهُ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَمَنۡ تَطَوَّعَ خَيۡرًا فَهُوَ خَيۡرٌ لَهُ وَأَنۡ تَصُومُوا خَيۡرٌ لَكُمۡ﴾ وَقَالَ: ﴿فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ وَمَنۡ كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ 
2316. Ahmad bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Husain menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Yazid An-Nahwi, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. (Ayat yang artinya), “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin,” dahulu siapa saja di antara mereka yang ingin membayar fidiah dengan memberi makan seorang miskin, maka dia boleh membayar fidiah dan puasanya tetap sempurna. Lalu Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu.” Dan Allah berfirman (yang artinya), “Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2313 dan 2314

١ - بَابُ مَبۡدَإِ فَرۡضِ الصِّيَامِ 
1. Bab permulaan kewajiban puasa 

٢٣١٣ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ شَبُّويَهۡ، حَدَّثَنِي عَلِيُّ بۡنُ حُسَيۡنِ بۡنِ وَاقِدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ يَزِيدَ النَّحۡوِيِّ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيۡكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ﴾ فَكَانَ النَّاسُ عَلَى عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا صَلَّوُا الۡعَتَمَةَ حَرُمَ عَلَيۡهِمُ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ وَالنِّسَاءُ وَصَامُوا إِلَى الۡقَابِلَةِ، فَاخۡتَانَ رَجُلٌ نَفۡسَهُ، فَجَامَعَ امۡرَأَتَهُ وَقَدۡ صَلَّى الۡعِشَاءَ وَلَمۡ يُفۡطِرۡ! فَأَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنۡ يَجۡعَلَ ذٰلِكَ يُسۡرًا لِمَنۡ بَقِيَ وَرُخۡصَةً وَمَنۡفَعَةً، فَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمۡ كُنۡتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنۡفُسَكُمۡ﴾ الۡآيَةَ. وَكَانَ هَٰذَا مِمَّا نَفَعَ اللهُ بِهِ النَّاسَ وَرَخَّصَ لَهُمۡ وَيَسَّرَ. 
2313. Ahmad bin Muhammad bin Syabbuyah telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Husain bin Waqid menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Yazid An-Nahwi, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas: “Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan kepada kalian sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kalian.” Dahulu, kaum muslimin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sudah salat Isya, maka haram makan, minum, dan (menggauli) istri atas mereka dan mereka berpuasa sampai malam berikutnya. Lalu ada seseorang pria yang tidak dapat menahan nafsunya. Dia menggauli istrinya dalam keadaan sudah salat Isya dan belum berbuka puasa. Lalu Allah azza wajalla menghendaki untuk menjadikan hal itu sebagai kemudahan, keringanan, dan manfaat bagi orang setelahnya. Allah yang Mahasuci berfirman (yang artinya), “Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian.” Hal ini termasuk di antara manfaat yang Allah berikan kepada manusia, serta keringanan dan kemudahan yang Allah berikan untuk mereka. 
٢٣١٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيِّ بۡنِ نَصۡرٍ الۡجَهۡضَمِيُّ، أنا أَبُو أَحۡمَدَ، أنا إِسۡرَائِيلُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنِ الۡبَرَاءِ، قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ إِذَا صَامَ فَنَامَ، لَمۡ يَأۡكُلۡ إِلَى مِثۡلِهَا، وَإِنَّ صِرۡمَةَ بۡنَ قَيۡسٍ الۡأَنۡصَارِيَّ أَتَى امۡرَأَتَهُ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ: عِنۡدَكِ شَيۡءٌ؟ قَالَتۡ: لَا، لَعَلِّي أَذۡهَبُ فَأَطۡلُبُ لَكَ شَيۡئًا، فَذَهَبَتۡ وَغَلَبَتۡهُ عَيۡنُهُ، فَجَاءَتۡ فَقَالَتۡ: خَيۡبَةً لَكَ، فَلَمۡ يَنۡتَصِفِ النَّهَارُ حَتَّى غُشِيَ عَلَيۡهِ، وَكَانَ يَعۡمَلُ يَوۡمَهُ فِي أَرۡضِهِ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَنَزَلَتۡ: ﴿أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمۡ﴾ قَرَأَ إِلَى قَوۡلِهِ ﴿مِنَ الۡفَجۡرِ﴾. [خ]. 
2314. Nashr bin ‘Ali bin Nashr Al-Jahdhami telah menceritakan kepada kami: Abu Ahmad mengabarkan kepada kami: Isra`il mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al-Bara`. Beliau berkata: Dahulu, jika ada seseorang yang berpuasa lalu tidur malam, maka dia tidak boleh makan sampai malam berikutnya. Dan sesungguhnya Shirmah bin Qais Al-Anshari datang menemui istrinya dalam keadaan berpuasa. Shirmah bertanya: Apakah engkau memiliki makanan? Istriya menjawab: Tidak, tetapi aku akan pergi barangkali aku bisa mencarikan makanan untukmu. Istrinya pergi. Ternyata Shirmah tertidur. Lalu istrinya datang dan berkata: Alangkah ruginya dirimu. Kemudian belum sampai separuh siang, Shirmah jatuh pingsan. Dia biasa bekerja menggarap tanahnya di sepanjang siang. Dia menyebutkan kejadian itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu turunlah ayat (yang artinya), “Dihalalkan untuk kalian pada malam bulan puasa untuk bercampur dengan istri-istri kalian.” Nabi membaca hingga firman Allah (yang artinya), “Yaitu fajar.”

Shahih Muslim - 18. Kitab Talak

  1. Bab pengharaman menalak wanita haid tanpa ridanya dan bahwa andai ada yang menyelisihi, maka tetap jatuh talak dan ia diperintah untuk merujuknya
    1. Hadis nomor 1471
  2. Bab talak tiga sekaligus
    1. Hadis nomor 1472
  3. Wajibnya kafarat bagi siapa saja yang mengharamkan istrinya namun tidak meniatkan talak
    1. Hadis nomor 1473
    2. Hadis nomor 1474
  4. Bab keterangan bahwa mengajukan pilihan kepada istrinya tidak jatuh talak kecuali dengan niat
    1. Hadis nomor 1475
    2. Hadis nomor 1476
    3. Hadis nomor 1477
    4. Hadis nomor 1478
  5. Bab tentang ila` (sumpah suami untuk tidak menggauli istri), menjauhi istri-istri, mengajukan pilihan kepada mereka, dan firman Allah taala (yang artinya), “Jika kalian berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi…” (QS. At-Tahrim: 4)
    1. Hadis nomor 1479
    2. Hadis nomor 1475
  6. Bab wanita yang ditalak tiga sudah tidak berhak lagi mendapat nafkah dan hunian (dari mantan suami)
    1. Hadis nomor 1480
    2. Hadis nomor 1481
    3. Hadis nomor 1482
  7. Bab bolehnya wanita yang menjalani idah talak bain dan yang ditinggal mati suaminya untuk keluar di siang hari untuk menunaikan hajatnya
    1. Hadis nomor 1483
  8. Bab selesainya idah wanita yang ditinggal mati suaminya dan selain itu dengan melahirkan
    1. Hadis nomor 1484
    2. Hadis nomor 1485
  9. Bab wajibnya ihdad dalam masa idah ditinggal mati suami dan pengharaman ihdad karena selain itu kecuali selama tiga hari
    1. Hadis nomor 1486
    2. Hadis nomor 1487
    3. Hadis nomor 1488
    4. Hadis nomor 1489
    5. Hadis nomor 1490
    6. Hadis nomor 1491
    7. Hadis nomor 938

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 313

١٣ - بَابُ الطِّيبِ لِلۡمَرۡأَةِ عِنۡدَ غُسۡلِهَا مِنَ الۡمَحِيضِ 
13. Bab wewangian bagi wanita ketika mandi haid 

٣١٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ حَفۡصَةَ - قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: أَوۡ هِشَامِ بۡنِ حَسَّانَ، عَنۡ حَفۡصَةَ - عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتۡ: كُنَّا نُنۡهَى أَنۡ نُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَى زَوۡجٍ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا، وَلَا نَكۡتَحِلَ، وَلَا نَتَطَيَّبَ، وَلَا نَلۡبَسَ ثَوۡبًا مَصۡبُوغًا إِلَّا ثَوۡبَ عَصۡبٍ، وَقَدۡ رُخِّصَ لَنَا عِنۡدَ الطُّهۡرِ، إِذَا اغۡتَسَلَتۡ إِحۡدَانَا مِنۡ مَحِيضِهَا، فِي نُبۡذَةٍ مِنۡ كُسۡتِ أَظۡفَارٍ، وَكُنَّا نُنۡهَى عَنِ اتِّبَاعِ الۡجَنَائِزِ. قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: رَوَاهُ هِشَامُ بۡنُ حَسَّانَ، عَنۡ حَفۡصَةَ، عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [الحديث ٣١٣ – أطرافه في: ١٢٧٨، ١٢٧٩، ٥٣٤٠، ٥٣٤١، ٥٣٤٢، ٥٣٤٣]. 
313. ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Hafshah—Abu ‘Abdullah berkata: Atau Hisyam bin Hassan dari Hafshah—dari Ummu ‘Athiyyah. Beliau mengatakan: Dahulu, kami dilarang untuk berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal kecuali terhadap suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami juga tidak boleh bercelak, tidak boleh mengenakan wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashb (pakaian orang Yaman yang dibuat dengan cara benangnya diikat, lalu dicelup, lalu ditenun dalam keadaan masih terikat sehingga akan memunculkan motif karena ikatan benangnya tetap berwarna putih akibat tidak terkena celupan). Kami diberi keringanan ketika suci, yaitu ketika salah seorang kami baru saja mandi haid untuk boleh mengenakan sedikit kust azhfar (sejenis dupa untuk menghilangkan bau tidak sedap, bukan untuk wewangian). Kami juga dilarang untuk mengiringi jenazah. Abu ‘Abdullah berkata: Diriwayatkan oleh Hisyam bin Hassan dari Hafshah, dari Ummu ‘Athiyyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1280

١٢٨٠ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بۡنُ مُوسَى قَالَ: أَخۡبَرَنِي حُمَيۡدُ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَتۡ: لَمَّا جَاءَ نَعۡيُ أَبِي سُفۡيَانَ مِنَ الشَّأۡمِ، دَعَتۡ أُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا بِصُفۡرَةٍ فِي الۡيَوۡمِ الثَّالِثِ، فَمَسَحَتۡ عَارِضَيۡهَا وَذِرَاعَيۡهَا، وَقَالَتۡ: إِنِّي كُنۡتُ عَنۡ هَٰذَا لَغَنِيَّةً، لَوۡلَا أَنِّي سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (لَا يَحِلُّ لِامۡرَأَةٍ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، أَنۡ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَى زَوۡجٍ، فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيۡهِ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا). [الحديث ١٢٨٠ – أطرافه في: ١٢٨١، ٥٣٣٤، ٥٣٣٩، ٥٣٤٥]. 
1280. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ayyub bin Musa menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Humaid bin Nafi’ mengabarkan kepadaku dari Zainab putri Abu Salamah. Beliau berkata: Ketika kabar kematian Abu Sufyan datang dari Syam, Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha meminta diambilkan shufrah (wewangian yang berwarna kuning) di hari ketiga. Lalu beliau mengoleskannya ke kedua pipi dan lengan atasnya; dan berkata: Sesungguhnya aku tidak membutuhkan ini andai aku tidak mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal. Kecuali terhadap suami, maka istri berihdad selama empat bulan sepuluh hari.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3991

٣٩٩١ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ أَبَاهُ كَتَبَ إِلَى عُمَرَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡأَرۡقَمِ الزُّهۡرِيِّ: يَأۡمُرُهُ أَنۡ يَدۡخُلَ عَلَى سُبَيۡعَةَ بِنۡتِ الۡحَارِثِ الۡأَسۡلَمِيَّةِ، فَيَسۡأَلَهَا عَنۡ حَدِيثِهَا، وَعَنۡ مَا قَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ اسۡتَفۡتَتۡهُ. فَكَتَبَ عُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡأَرۡقَمِ، إِلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ يُخۡبِرُهُ: أَنَّ سُبَيۡعَةَ بِنۡتَ الۡحَارِثِ أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّهَا كَانَتۡ تَحۡتَ سَعۡدِ بۡنِ خَوۡلَةَ، وَهُوَ مِنۡ بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ، وَكَانَ مِمَّنۡ شَهِدَ بَدۡرًا، فَتُوُفِّيَ عَنۡهَا فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ، فَلَمۡ تَنۡشَبۡ أَنۡ وَضَعَتۡ حَمۡلَهَا بَعۡدَ وَفَاتِهِ، فَلَمَّا تَعَلَّتۡ مِنۡ نِفَاسِهَا تَجَمَّلَتۡ لِلۡخُطَّابِ، فَدَخَلَ عَلَيۡهَا أَبُو السَّنَابِلِ بۡنُ بَعۡكَكٍ - رَجُلٌ مِنۡ بَنِي عَبۡدِ الدَّارِ - فَقَالَ لَهَا: مَا لِي أَرَاكِ تَجَمَّلۡتِ لِلۡخُطَّابِ، تُرَجِّينَ النِّكَاحَ؟ فَإِنَّكِ وَاللهِ مَا أَنۡتِ بِنَاكِحٍ حَتَّى تَمُرَّ عَلَيۡكِ أَرۡبَعَةُ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرٌ. قَالَتۡ سُبَيۡعَةُ: فَلَمَّا قَالَ لِي ذٰلِكَ جَمَعۡتُ عَلَيَّ ثِيَابِي حِينَ أَمۡسَيۡتُ، وَأَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَسَأَلۡتُهُ عَنۡ ذٰلِكَ، فَأَفۡتَانِي بِأَنِّي قَدۡ حَلَلۡتُ حِينَ وَضَعۡتُ حَمۡلِي، وَأَمَرَنِي بِالتَّزَوُّجِ إِنۡ بَدَا لِي. 
3991. Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah menceritakan kepadaku: Bahwa ayahnya menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdullah bin Al-Arqam Az-Zuhri memerintahkannya agar masuk menemui Subai’ah binti Al-Harits Al-Aslamiyyah, lalu menanyakan kepadanya tentang ceritanya dan tentang ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya ketika ia mintai fatwa. ‘Umar bin ‘Abdullah bin Al-Arqam menulis tanggapan kepada ‘Abdullah bin ‘Utbah untuk mengabarkan kepadanya: Bahwa Subai’ah mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah menjadi istri Sa’d bin Khaulah—beliau dari bani ‘Amir bin Lu`ayy dan mengikuti perang Badr—. Subai’ah ditinggal mati Sa’d ketika haji wadak dalam keadaan Subai’ah sedang hamil. Tidak lama setelah suaminya wafat, Subai’ah melahirkan kandungannya. Ketika nifasnya telah selesai, dia berhias untuk para pelamar. Abu As-Sanabil bin Ba’kak masuk menemuinya—dia adalah seorang pria dari bani ‘Abdu Ad-Dar—lantas berkata kepadanya, “Mengapa engkau berhias? Jangan-jangan engkau hendak menikah? Demi Allah, sesungguhnya engkau belum boleh menikah sampai melalui empat bulan sepuluh hari.” Subai’ah berkata: Ketika dia berkata demikian kepadaku, aku mengenakan pakaianku di sore hari, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan hal itu kepada beliau. Beliau memberi jawaban kepadaku bahwa aku sudah boleh menikah ketika aku melahirkan kandunganku dan beliau menyuruhku menikah jika aku mau. 
تَابَعَهُ أَصۡبَغُ، عَنِ ابۡنِ وَهۡبٍ، عَنۡ يُونُسَ. وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: وَسَأَلۡنَاهُ فَقَالَ: أَخۡبَرَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ ثَوۡبَانَ، مَوۡلَى بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ: أَنَّ مُحَمَّدَ بۡنَ إِيَاسِ بۡنِ الۡبُكَيۡرِ، وَكَانَ أَبُوهُ شَهِدَ بَدۡرًا، أَخۡبَرَهُ. [الحديث ٣٩٩١ – طرفه في: ٥٣١٩]. 
Ashbagh mengiringi Al-Laits dari Ibnu Wahb, dari Yunus. Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab: Dan kami bertanya kepadanya, lalu beliau berkata: Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Tsauban maula Bani ‘Amir bin Lu`ayy mengabarkan kepadaku bahwa Muhammad bin Iyas bin Al-Bukair—ayahnya mengikuti perang Badr—mengabarkan kepadanya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5323 dan 5324

٥٣٢٣، ٥٣٢٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتۡ: مَا لِفَاطِمَةَ، أَلَا تَتَّقِي اللهَ؟ يَعۡنِي فِي قَوۡلِهَا: لَا سُكۡنَى وَلَا نَفَقَةَ. [طرفه في: ٥٣٢١]. 
5323, 5324. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim, dari ayahnya, dari ‘Aisyah. Bahwa beliau mengatakan: Ada apa dengan Fathimah (binti Qais)? Tidakkah dia bertakwa kepada Allah. Yakni pada ucapannya: Tidak ada hak hunian dan nafkah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4786

٤ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَإِنۡ كُنۡتُنَّ تُرِدۡنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَاتِ مِنۡكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمًا﴾ ۝٢٩ 
4. Bab firman Allah (yang artinya), “Dan jika kalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29) 

وَقَالَ قَتَادَةُ: ﴿وَاذۡكُرۡنَ مَا يُتۡلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنۡ آيَاتِ اللهِ وَالۡحِكۡمَةِ﴾ [٣٤] الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ. 
Qatadah berkata, “(Ayat yang artinya) Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan hikmah (QS. Al-Ahzab: 34); Maksudnya adalah Alquran dan Sunah.” 
٤٧٨٦ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ: لَمَّا أُمِرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَخۡيِيرِ أَزۡوَاجِهِ بَدَأَ بِي فَقَالَ: (إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمۡرًا، فَلَا عَلَيۡكِ أَنۡ لَا تَعۡجَلِي حَتَّى تَسۡتَأۡمِرِي أَبَوَيۡكِ). قَالَتۡ: وَقَدۡ عَلِمَ أَنَّ أَبَوَيَّ لَمۡ يَكُونَا يَأۡمُرَانِي بِفِرَاقِهِ، قَالَتۡ: ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ اللهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ قَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلۡ لِأَزۡوَاجِكَ إِنۡ كُنۡتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَيَاةَ الدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا﴾ إِلَى: ﴿أَجۡرًا عَظِيمًا﴾) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: فَفِي أَيِّ هَٰذَا أَسۡتَأۡمِرُ أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيدُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ. قَالَتۡ: ثُمَّ فَعَلَ أَزۡوَاجُ النَّبِيِّ ﷺ مِثۡلَ مَا فَعَلۡتُ. 
4786. Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku bahwa ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperintah untuk mengajukan pilihan kepada para istrinya lalu beliau memulai dariku. 
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku akan menyebutkan suatu perkara kepadamu. Engkau tidak harus terburu-buru memutuskannya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.” 
‘Aisyah berkata: Beliau telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku tidak akan memerintahkanku untuk berpisah dengan beliau. 
Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah jalla tsana`uhu berfirman (yang artinya): Wahai Nabi, katakan kepada para istrimu jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya—sampai ayat—pahala yang besar.” 
‘Aisyah mengatakan: Aku berkata, “Apa dalam perkara ini aku harus bermusyawarah dengan kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” 
‘Aisyah berkata: Kemudian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan semisal yang aku lakukan. 
تَابَعَهُ مُوسَى بۡنُ أَعۡيَنَ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ. وَقَالَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ وَأَبُو سُفۡيَانَ الۡمَعۡمَرِيُّ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ. [طرفه في: ٤٧٨٥]. 
Musa bin A’yan mengiringi Al-Laits dari Ma’mar, dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Abu Salamah mengabarkan kepadaku. ‘Abdurrazzaq dan Abu Sufyan Al-Ma’mari berkata dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 89

٢٨ - بَابُ التَّنَاوُبِ فِي الۡعِلۡمِ 
28. Bab bergantian dalam mencari ilmu 

٨٩ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ (ح) قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي ثَوۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ عُمَرَ قَالَ: كُنۡتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فِي بَنِي أُمَيَّةَ بۡنِ زَيۡدٍ - وَهِيَ مِنۡ عَوَالِي الۡمَدِينَةِ - وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَنۡزِلُ يَوۡمًا، وَأَنۡزِلُ يَوۡمًا، فَإِذَا نَزَلۡتُ جِئۡتُهُ بِخَبَرِ ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ مِنَ الۡوَحۡيِ وَغَيۡرِهِ، وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثۡلَ ذٰلِكَ، فَنَزَلَ صَاحِبِي الۡأَنۡصَارِيُّ يَوۡمَ نَوۡبَتِهِ، فَضَرَبَ بَابِي ضَرۡبًا شَدِيدًا فَقَالَ: أَثَمَّ هُوَ؟ فَفَزِعۡتُ فَخَرَجۡتُ إِلَيۡهِ، فَقَالَ: قَدۡ حَدَثَ أَمۡرٌ عَظِيمٌ، قَالَ: فَدَخَلۡتُ عَلَى حَفۡصَةَ، فَإِذَا هِيَ تَبۡكِي، فَقُلۡتُ: طَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ قَالَتۡ: لَا أَدۡرِي. ثُمَّ دَخَلۡتُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقُلۡتُ وَأَنَا قَائِمٌ: أَطَلَّقۡتَ نِسَاءَكَ؟ قَالَ: (لَا) فَقُلۡتُ: اللهُ أَكۡبَرُ. 
89. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. (Dalam riwayat lain) Abu ‘Abdullah berkata: Ibnu Wahb berkata: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Abu Tsaur, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, dari ‘Umar. Beliau mengatakan: Dahulu, aku dan tetanggaku ansar tinggal di pemukiman Bani Umayyah bin Zaid, yaitu tempat yang termasuk ‘Awali Madinah. Kami dahulu saling bergantian turun ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia turun satu hari dan aku pun turun satu hari. Ketika aku turun, aku membawa kabar hari itu berupa wahyu atau selainnya. Dan ketika dia yang turun, dia melakukan semisal itu. Di hari gilirannya, sahabatku ansar itu turun. 
Lalu dia menggedor pintuku dengan keras seraya bertanya, “Apakah dia ada di sana?” 
Aku terkejut lalu keluar menemuinya. 
Dia berkata, “Ada perkara besar yang telah terjadi.” 
‘Umar berkata: Aku masuk menemui Hafshah dan ternyata dia sedang menangis. Aku bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceraikan kalian?” 
Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” 
Kemudian aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya dalam keadaan masih berdiri, “Apakah engkau menceraikan para istrimu?” 
Nabi menjawab, “Tidak.” 
Aku berkata, “Allahu Akbar.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4913

٢ - بَابُ ﴿تَبۡتَغِي مَرۡضَاةَ أَزۡوَاجِكَ﴾
﴿قَدۡ فَرَضَ اللهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَانِكُمۡ وَاللهُ مَوۡلَاكُمۡ وَهُوَ الۡعَلِيمُ الۡحَكِيمُ﴾ 
2. Bab “Kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?” “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” 

٤٩١٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ بِلَالٍ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ عُبَيۡدِ بۡنِ حُنَيۡنٍ: أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يُحَدِّثُ أَنَّهُ قَالَ: مَكَثۡتُ سَنَةً أُرِيدُ أَنۡ أَسۡأَلَ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ عَنۡ آيَةٍ، فَمَا أَسۡتَطِيعُ أَنۡ أَسۡأَلَهُ هَيۡبَةً لَهُ، حَتَّى خَرَجَ حَاجًّا فَخَرَجۡتُ مَعَهُ، فَلَمَّا رَجَعۡتُ وَكُنَّا بِبَعۡضِ الطَّرِيقِ، عَدَلَ إِلَى الۡأَرَاكِ لِحَاجَةٍ لَهُ، قَالَ: فَوَقَفۡتُ لَهُ حَتَّى فَرَغَ، ثُمَّ سِرۡتُ مَعَهُ فَقُلۡتُ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، مَنِ اللَّتَانِ تَظَاهَرَتَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ أَزۡوَاجِهِ؟ فَقَالَ: تِلۡكَ حَفۡصَةُ وَعَائِشَةُ، قَالَ: فَقُلۡتُ: وَاللهِ إِنۡ كُنۡتُ لَأُرِيدُ أَنۡ أَسۡأَلَكَ عَنۡ هَٰذَا مُنۡذُ سَنَةٍ، فَمَا أَسۡتَطِيعُ هَيۡبَةً لَكَ، قَالَ: فَلاَ تَفۡعَلۡ، مَا ظَنَنۡتَ أَنَّ عِنۡدِي مِنۡ عِلۡمٍ فَاسۡأَلۡنِي، فَإِنۡ كَانَ لِي عِلۡمٌ خَبَّرۡتُكَ بِهِ، 
4913. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami dari Yahya, dari ‘Ubaid bin Hunain: Bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa beliau berkata: Aku menahan diri selama satu tahun ingin bertanya kepada ‘Umar bin Al-Khaththab tentang sebuah ayat. Aku tidak mampu bertanya kepada beliau karena segan terhadap beliau. Sampai ketika beliau keluar safar untuk haji, aku ikut keluar bersama beliau. Ketika kami telah pulang dan berada di tengah perjalanan, beliau berbelok menuju ke pohon Arak untuk menunaikan hajat beliau. Ibnu ‘Abbas berkata: Aku menunggui beliau hingga selesai kemudian aku berjalan bersama beliau. 
Aku bertanya, “Wahai amirulmukminin, siapakah dua wanita di antara para istri Nabi yang bantu-membantu untuk menyusahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam?” 
Beliau menjawab, “Itu Hafshah dan ‘Aisyah.” 
Ibnu ‘Abbas berkata: Aku berkata kepada beliau, “Demi Allah, aku sebenarnya ingin bertanya kepada engkau tentang hal ini semenjak setahun lalu, namun aku tidak sanggup karena segan kepadamu.” 
‘Umar berkata, “Jangan engkau berlaku seperti itu, apa saja yang engkau kira bahwa aku memiliki suatu ilmu, maka bertanyalah kepadaku tentangnya. Jika aku mengetahuinya, maka aku akan kabarkan kepadamu.” 
قَالَ: ثُمَّ قَالَ عُمَرُ: وَاللهِ إِنۡ كُنَّا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ مَا نَعُدُّ لِلنِّسَاءِ أَمۡرًا، حَتَّى أَنۡزَلَ اللهُ فِيهِنَّ مَا أَنۡزَلَ وَقَسَمَ لَهُنَّ مَا قَسَمَ، قَالَ: فَبَيۡنَا أَنَا فِي أَمۡرٍ أَتَأَمَّرُهُ إِذۡ قَالَتِ امۡرَأَتِي: لَوۡ صَنَعۡتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَقُلۡتُ لَهَا: مَا لَكَ، وَلِمَا هَا هُنَا، وَفِيمَ تَكَلُّفُكِ فِي أَمۡرٍ أُرِيدُهُ؟ فَقَالَتۡ لِي: عَجَبًا لَكَ يَا ابۡنَ الۡخَطَّابِ، مَا تُرِيدُ أَنۡ تُرَاجَعَ أَنۡتَ، وَإِنَّ ابۡنَتَكَ لَتُرَاجِعُ رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى يَظَلَّ يَوۡمَهُ غَضۡبَانَ، فَقَامَ عُمَرُ، فَأَخَذَ رِدَاءَهُ مَكَانَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى حَفۡصَةَ فَقَالَ لَهَا: يَا بُنَيَّةُ إِنَّكِ لَتُرَاجِعِينَ رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى يَظَلَّ يَوۡمَهُ غَضۡبَانَ؟ فَقَالَتۡ حَفۡصَةُ: وَاللهِ إِنَّا لَنُرَاجِعُهُ، فَقُلۡتُ: تَعۡلَمِينَ أَنِّي أُحَذِّرُكِ عُقُوبَةَ اللهِ، وَغَضَبَ رَسُولِهِ ﷺ، يَا بُنَيَّةُ لَا تَغُرَّنَّكِ هَٰذِهِ الَّتِي أَعۡجَبَهَا حُسۡنُهَا حُبُّ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِيَّاهَا، يُرِيدُ عَائِشَةَ، 
Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Umar berkata, “Demi Allah, kami dahulu di masa jahiliah tidaklah menganggap para wanita memiliki kedudukan sampai Allah taala menurunkan ayat tentang mereka dan memberi bagian untuk mereka.” 
‘Umar bercerita: Ketika aku sedang berada di suatu urusan yang aku pikirkan, tiba-tiba istriku berkata kepadaku, “Andai engkau lakukan ini dan itu!” 
Aku berkata kepadanya, “Kenapa engkau begitu dan mengapa engkau di sini? Mengapa engkau membebani diri pada urusan yang aku inginkan?” 
Istriku berkata kepadaku, “Aku heran denganmu wahai putra Al-Khaththab. Engkau tidak ingin untuk dibantah, sementara putrimu telah membantah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau jadi marah seharian.” 
‘Umar berkata: Aku mengambil baju atasku di tempatnya sampai aku masuk menemui Hafshah. Aku bertanya kepadanya, “Wahai putriku, apakah engkau membantah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau menjadi marah seharian?” 
Hafshah berkata, “Demi Allah, sungguh kami memang membantah beliau.” 
Aku berkata, “Ketahuilah bahwa aku memperingatkan engkau dari hukuman Allah dan kemarahan Rasul-Nya. Wahai putriku, janganlah engkau teperdaya oleh wanita yang telah dikagumi kecantikannya yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Yang beliau maksud adalah ‘Aisyah. 
قَالَ: ثُمَّ خَرَجۡتُ حَتَّى دَخَلۡتُ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ لِقَرَابَتِي مِنۡهَا فَكَلَّمۡتُهَا، فَقَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: عَجَبًا لَكَ يَا ابۡنَ الۡخَطَّابِ، دَخَلۡتَ فِي كُلِّ شَيۡءٍ، حَتَّى تَبۡتَغِيَ أَنۡ تَدۡخُلَ بَيۡنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَزۡوَاجِهِ، فَأَخَذَتۡنِي وَاللهِ أَخۡذًا كَسَرَتۡنِي عَنۡ بَعۡضِ مَا كُنۡتُ أَجِدُ، فَخَرَجۡتُ مِنۡ عِنۡدِهَا. 
‘Umar berkata: Kemudian aku keluar sampai aku masuk menemui Ummu Salamah karena dia adalah kerabatku. Aku berbicara kepadanya, lalu Ummu Salamah berkata kepadaku, “Aku heran denganmu wahai putra Al-Khaththab. Engkau ikut campur dalam semua perkara sampai engkau berharap untuk ikut campur urusan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para istrinya.” 
Dia benar-benar mencegahku sehingga meredakan sebagian kemarahanku, lalu aku keluar dari tempatnya. 
وَكَانَ لِي صَاحِبٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ إِذَا غِبۡتُ أَتَانِي بِالۡخَبَرِ، وَإِذَا غَابَ كُنۡتُ أَنَا آتِيهِ بِالۡخَبَرِ، وَنَحۡنُ نَتَخَوَّفُ مَلِكًا مِنۡ مُلُوكِ غَسَّانَ، ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُرِيدُ أَنۡ يَسِيرَ إِلَيۡنَا، فَقَدِ امۡتَلَأَتۡ صُدُورُنَا مِنۡهُ، فَإِذَا صَاحِبِي الۡأَنۡصَارِيُّ يَدُقُّ الۡبَابَ، فَقَالَ: افۡتَحۡ افۡتَحۡ، فَقُلۡتُ: جَاءَ الۡغَسَّانِيُّ؟ فَقَالَ: بَلۡ أَشَدُّ مِنۡ ذٰلِكَ، اعۡتَزَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَزۡوَاجَهُ، فَقُلۡتُ: رَغِمَ أَنۡفُ حَفۡصَةَ وَعَائِشَةَ، 
Dahulu, aku memiliki seorang sahabat ansar. Jika aku tidak hadir, dia yang membawa kabar berita kepadaku. Dan jika dia yang tidak hadir, maka aku yang membawa kabar berita kepadanya. Kami, ketika itu, waspada terhadap salah seorang raja Ghassan. Disebutkan kepada kami bahwa dia ingin menyerang kami, sehingga dada-dada kami waswas olehnya. 
Sahabatku ansar tadi datang mengetuk pintu seraya berkata, “Buka! Buka!” 
Aku bertanya, “Apakah raja Ghassan telah datang?” 
Dia menjawab, “Lebih genting daripada itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjauhi para istrinya.” 
Aku berkata, “Celaka Hafshah dan ‘Aisyah.” 
فَأَخَذۡتُ ثَوۡبِي فَأَخۡرُجُ حَتَّى جِئۡتُ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي مَشۡرُبَةٍ لَهُ، يَرۡقَى عَلَيۡهَا بِعَجَلَةٍ، وَغُلَامٌ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ أَسۡوَدُ عَلَى رَأۡسِ الدَّرَجَةِ، فَقُلۡتُ لَهُ: قُلۡ: هَٰذَا عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ فَأَذِنَ لِي، قَالَ عُمَرُ: فَقَصَصۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ هَٰذَا الۡحَدِيثَ، فَلَمَّا بَلَغۡتُ حَدِيثَ أُمِّ سَلَمَةَ تَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَإِنَّهُ لَعَلَى حَصِيرٍ مَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهُ شَيۡءٌ، وَتَحۡتَ رَأۡسِهِ وِسَادَةٌ مِنۡ أَدَمٍ حَشۡوُهَا لِيفٌ، وَإِنَّ عِنۡدَ رِجۡلَيۡهِ قَرَظًا مَصۡبُوبًا، وَعِنۡدَ رَأۡسِهِ أَهَبٌ مُعَلَّقَةٌ، فَرَأَيۡتُ أَثَرَ الۡحَصِيرِ فِي جَنۡبِهِ فَبَكَيۡتُ، فَقَالَ: (مَا يُبۡكِيكَ؟) فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسۡرَى وَقَيۡصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ، وَأَنۡتَ رَسُولُ اللهِ! فَقَالَ: (أَمَا تَرۡضَى أَنۡ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنۡيَا وَلَنَا الۡآخِرَةُ). [طرفه في: ٨٩]. 
Kemudian aku mengambil pakaianku lalu keluar hingga aku datang (kepada Nabi). Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di kamar yang tinggi yang bisa dinaiki menggunakan tangga. Sementara budak berkulit hitam milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di anak tangga paling atas. 
Aku berkata kepadanya, “Katakan: Ini ‘Umar bin Al-Khaththab.” Lalu Nabi mengizinkan aku. 
‘Umar berkata: Aku mengisahkan cerita ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku sampai pada cerita Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. Beliau berada di atas tikar, tidak ada apapun antara beliau dengan tikar itu. Di bawah kepala beliau ada sebuah bantal dari kulit binatang yang sudah disamak, isinya serat pohon kurma. Di dekat kedua kaki beliau ada qarazh (daun pohon sejenis akasia untuk menyamak kulit binatang) yang sudah diguyur air dan di dekat kepala beliau ada kulit binatang yang digantung. Aku melihat bekas tikar itu di sisi tubuh beliau, lalu aku menangis. 
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” 
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Qaishar berada di istana mereka, sementara anda adalah Rasulullah?” 
Rasulullah bersabda, “Tidakkah engkau rida bahwa dunia menjadi milik mereka sedangkan akhirat menjadi milik kita?”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5262 dan 5263

٥ - بَابُ مَنۡ خَيَّرَ نِسَاءَهُ 
5. Bab barang siapa yang mengajukan pilihan kepada para istrinya 

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿قُلۡ لِأَزۡوَاجِكَ إِنۡ كُنۡتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَيَاةَ الدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا﴾ [الأحزاب: ٢٨]. 
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan mutah kepadamu dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28). 
٥٢٦٢ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: خَيَّرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَاخۡتَرۡنَا اللهَ وَرَسُولَهُ، فَلَمۡ يَعُدَّ ذٰلِكَ عَلَيۡنَا شَيۡئًا. [الحديث ٥٢٦٢ – طرفه في: ٥٢٦٣]. 
5262. ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: Muslim menceritakan kepada kami dari Masruq, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajukan pilihan kepada kami. Lalu kami memilih Allah dan Rasul-Nya dan hal itu tidak dianggap (talak) terhadap kami. 
٥٢٦٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَامِرٌ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ قَالَ: سَأَلۡتُ عَائِشَةَ عَنِ الۡخِيَرَةِ، فَقَالَتۡ: خَيَّرَنَا النَّبِيُّ ﷺ، أَفَكَانَ طَلَاقًا؟ قَالَ مَسۡرُوقٌ: لَا أُبَالِي أَخَيَّرۡتُهَا وَاحِدَةً أَوۡ مِائَةً، بَعۡدَ أَنۡ تَخۡتَارَنِي. [طرفه في: ٥٢٦٢]. 
5263. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Isma’il: ‘Amir menceritakan kepada kami dari Masruq. Beliau berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang pengajuan pilihan dari suami kepada istri. Lalu beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajukan pilihan kepada kami, apakah itu suatu bentuk talak? Masruq berkata: Aku tidak peduli apakah aku mengajukan pilihan kepada istriku satu atau seratus kali, jika ternyata dia setelah itu memilihku.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4789

٤٧٨٩ - حَدَّثَنَا حِبَّانُ بۡنُ مُوسَى: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا عَاصِمٌ الۡأَحۡوَلُ، عَنۡ مُعَاذَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَسۡتَأۡذِنُ فِي يَوۡمِ الۡمَرۡأَةِ مِنَّا، بَعۡدَ أَنۡ أُنۡزِلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿تُرۡجِي مَنۡ تَشَاءُ مِنۡهُنَّ وَتُؤۡوِي إِلَيۡكَ مَنۡ تَشَاءُ وَمَنِ ابۡتَغَيۡتَ مِمَّنۡ عَزَلۡتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكَ﴾. فَقُلۡتُ لَهَا: مَا كُنۡتِ تَقُولِينَ؟ قَالَتۡ: كُنۡتُ أَقُولُ لَهُ: إِنۡ كَانَ ذَاكَ إِلَيَّ، فَإِنِّي لَا أُرِيدُ يَا رَسُولَ اللهِ أَنۡ أُوثِرَ عَلَيۡكَ أَحَدًا. 
تَابَعَهُ عَبَّادُ بۡنُ عَبَّادٍ: سَمِعَ عَاصِمًا. 
4789. Hibban bin Musa telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: ‘Ashim Al-Ahwal mengabarkan kepada kami dari Mu’adzah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin di hari jatah istri di antara kami setelah turun ayat (yang artinya), “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa saja yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.” Aku (Mu’adzah) bertanya kepada ‘Aisyah: Apa yang dahulu engkau katakan? ‘Aisyah mengatakan: Dahulu aku berkata kepada beliau: Jika hari itu adalah jatahku, maka sesungguhnya aku tidak ingin—wahai Rasulullah—untuk mengutamakan seorang pun kepadamu. 
‘Abbad bin ‘Abbad mengiringi ‘Abdullah bin Al-Mubarak: Beliau mendengar ‘Ashim.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4785

٣ – بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿قُل لِأَزۡوَاجِكَ إِنۡ كُنۡتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَيَاةَ الدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا﴾ ۝٢٨ 
3. Bab firman Allah (yang artinya), “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mutah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28) 

وَقَالَ مَعۡمَرٌ: التَّبَرُّجُ: أَنۡ تُخۡرِجَ مَحَاسِنَهَا. ﴿سُنَّةَ اللهِ﴾ ۝٦٢ اسۡتَنَّهَا: جَعَلَهَا. 
Ma’mar berkata: tabarruj adalah seorang wanita menampakkan keindahannya. Sunnatallah, istannaha artinya menjadikannya. 
٤٧٨٥ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ جَاءَهَا حِينَ أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُخَيِّرَ أَزۡوَاجَهُ، فَبَدَأَ بِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمۡرًا، فَلَا عَلَيۡكِ أَنۡ تَسۡتَعۡجِلِي حَتَّى تَسۡتَأۡمِرِي أَبَوَيۡكِ). وَقَدۡ عَلِمَ أَنَّ أَبَوَيَّ لَمۡ يَكُونَا يَأۡمُرَانِي بِفِرَاقِهِ، قَالَتۡ: ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ اللهَ قَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلۡ لِأَزۡوَاجِكَ﴾) [٢٨] إِلَى تَمَامِ الۡآيَتَيۡنِ، فَقُلۡتُ لَهُ: فَفِي أَيِّ هَٰذَا أَسۡتَأۡمِرُ أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيدُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ. [الحديث ٤٧٨٥ – طرفه في: ٤٧٨٦]. 
4785. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku: Bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya ketika Allah memerintahkan untuk mengajukan pilihan kepada para istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai denganku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku akan menyebutkan kepadamu suatu perkara. Engkau tidak perlu terburu-buru menjawabnya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.” Beliau sudah tahu bahwasanya kedua orang tuaku tidak akan memerintahkanku untuk berpisah dengan beliau. ‘Aisyah berkata: Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman (yang artinya): Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu…” (QS. Al-Ahzab: 28) hingga sempurna dua ayat. Maka aku berkata kepada beliau: Apa dalam hal ini aku harus bermusyawarah dengan kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5431

٣٣ – بَابُ الۡحَلۡوَاءِ وَالۡعَسَلِ 
33. Bab manisan dan madu 

٥٤٣١ – حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ الۡحَنۡظَلِيُّ، عَنۡ أَبِي أُسَامَةَ، عَنۡ هِشَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُحِبُّ الۡحَلۡوَاءَ وَالۡعَسَلَ. [طرفه في: ٤٩١٢]. 
5431. Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali telah menceritakan kepadaku dari Abu Usamah, dari Hisyam. Beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai manisan dan madu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4911 dan 4912

١ - بَابُ ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبۡتَغِي مَرۡضَاةَ أَزۡوَاجِكَ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ ۝١ 
1. Bab “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” 

٤٩١١ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنِ ابۡنِ حَكِيمٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ: أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ فِي الۡحَرَامِ: يُكَفَّرُ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ اللهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ﴾ [الأحزاب: ٢١]. [الحديث ٤٩١١ – طرفه في: ٥٢٦٦]. 
4911. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Yahya, dari Ibnu Hakim, dari Sa’id bin Jubair: Bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berpendapat tentang mengharamkan (istri atas dirinya) bahwa dia harus menebus dengan kafarat (sumpah). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Sungguh telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah.” (QS. Al-Ahzab: 21). 
٤٩١٢ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى: أَخۡبَرَنَا هِشَامُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَشۡرَبُ عَسَلًا عِنۡدَ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ جَحۡشٍ، وَيَمۡكُثُ عِنۡدَهَا، فَوَاطَأۡتُ أَنَا وَحَفۡصَةُ عَنۡ: أَيَّتُنَا دَخَلَ عَلَيۡهَا فَلۡتَقُلۡ لَهُ: أَكَلۡتَ مَغَافِيرَ، إِنِّي أَجِدُ مِنۡكَ رِيحَ مَغَافِيرَ، قَالَ: (لَا، وَلَٰكِنِّي كُنۡتُ أَشۡرَبُ عَسَلًا عِنۡدَ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ جَحۡشٍ، فَلَنۡ أَعُودَ لَهُ، وَقَدۡ حَلَفۡتُ لَا تُخۡبِرِي بِذٰلِكَ أَحَدًا). [الحديث ٤٩١٢ – أطرافه في: ٥٢١٦، ٥٢٦٧، ٥٢٦٨، ٥٤٣١، ٥٥٩٩، ٥٦١٤، ٥٦٨٢، ٦٦٩١، ٦٩٧٢]. 
4912. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami: Hisyam bin Yusuf mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha`, dari ‘Ubaid bin ‘Umar, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy dan tinggal beberapa saat di tempatnya. Maka, Aku dan Hafshah bersepakat bahwa siapa saja di antara kami yang dimasuki oleh Nabi agar berkata kepada beliau: Apakah engkau baru saja memakan maghafir (getah manis yang tidak enak baunya)? Sesungguhnya aku mencium bau maghafir darimu. Nabi bersabda, “Tidak, akan tetapi aku tadi meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan aku telah bersumpah. Jangan engkau kabarkan hal itu kepada seorang pun.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5252 dan 5253

٢ - بَابُ إِذَا طُلِّقَتِ الۡحَائِضُ تَعۡتَدُّ بِذٰلِكَ الطَّلَاقِ 
2. Bab jika seorang wanita haid diceraikan, maka talak itu dihitung 

٥٢٥٢ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ؛ قَالَ: طَلَّقَ ابۡنُ عُمَرَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (لِيُرَاجِعۡهَا). قُلۡتُ: أَتُحۡتَسَبُ؟ قَالَ: (فَمَهۡ)؟ وَعَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ يُونُسَ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنۡ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا). قُلۡتُ: تُحۡتَسَبُ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ). [طرفه في: ٤٩٠٨]. 
5252. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Anas bin Sirin. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar. Anas bin Sirin berkata: Ibnu ‘Umar telah menceraikan istrinya dalam keadaan haid, lalu ‘Umar menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda, “Suruh Ibnu ‘Umar agar merujuknya.” 
Aku (Anas bin Sirin) bertanya (kepada Ibnu ‘Umar), “Apakah cerai itu dihitung?” 
Ibnu ‘Umar menjawab, “Mengapa tidak?” 
Juga dari Qatadah, dari Yunus bin Jubair, dari Ibnu ‘Umar. Nabi bersabda, “Perintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuknya.” 
Yunus bin Jubair bertanya (kepada Ibnu ‘Umar), “Apakah cerai itu dihitung?” 
Ibnu ‘Umar menjawab, “Iya walaupun si penalak itu tidak mampu dan bodoh.” 
٥٢٥٣ – وَقَالَ أَبُو مَعۡمَرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنۡ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: حُسِبَتۡ عَلَيَّ بِتَطۡلِيقَةٍ. 
5253. Abu Ma’mar berkata: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Umar. Beliau mengatakan: Kejadian itu dihitung satu talak padaku.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5332

٥٣٣٢ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ: أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، طَلَّقَ امۡرَأَةً لَهُ وَهِيَ حَائِضٌ تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً، فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُمۡسِكَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ عِنۡدَهُ حَيۡضَةً أُخۡرَى، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ مِنۡ حَيۡضِهَا، فَإِنۡ أَرَادَ أَنۡ يُطَلِّقَهَا فَلۡيُطَلِّقۡهَا حِينَ تَطۡهُرُ مِنۡ قَبۡلِ أَنۡ يُجَامِعَهَا: (فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ). وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ إِذَا سُئِلَ عَنۡ ذٰلِكَ، قَالَ لِأَحَدِهِمۡ: إِنۡ كُنۡتَ طَلَّقۡتَهَا ثَلاَثًا، فَقَدۡ حَرُمَتۡ عَلَيۡكَ حَتَّى تَنۡكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَكَ. وَزَادَ فِيهِ غَيۡرُهُ، عَنِ اللَّيۡثِ: حَدَّثَنِي نَافِعٌ: قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: لَوۡ طَلَّقۡتَ مَرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَنِي بِهَٰذَا. [طرفه في: ٤٩٠٨]. 
5332. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’: Bahwa Ibnu ‘Umar Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma telah menceraikan seorang istrinya talak satu dalam keadaan haid. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuk istrinya kemudian menahannya di sisinya sampai suci lalu haid satu kali lagi. Kemudian dia memberinya tempo sampai suci dari haidnya. Lalu jika dia ingin menceraikannya, maka dia bisa menceraikannya ketika suci sebelum menggaulinya. “Itu adalah waktu (wanita dapat menghadapi) idah (yang wajar) yang Allah perintahkan jikalau ingin menceraikan istri.” Dulu, ‘Abdullah jika ditanya tentang hal itu, beliau berkata kepada salah seorang mereka: Jika engkau menceraikannya dengan talak tiga, maka wanita itu haram bagimu sampai dia menikah dengan pria selain engkau. Selain Qutaibah menambahkan dalam hadis ini, dari Al-Laits: Nafi’ menceritakan kepadaku: Ibnu ‘Umar berkata: Andai engkau menceraikan istri dengan talak satu atau talak dua, maka sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkanku dengan ini (yakni merujuknya).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5251

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحۡصُوا الۡعِدَّةَ﴾ [الطلاق: ١] 
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu.” (QS. Ath-Thalaq: 1). 

١ – بَابٌ 
1. Bab 

﴿أَحۡصَيۡنَاهُ﴾ [يس: ١٢]: حَفِظۡنَاهُ وَعَدَدۡنَاهُ. وَطَلَاقُ السُّنَّةِ: أَنۡ يُطَلِّقَهَا طَاهِرًا مِنۡ غَيۡرِ جِمَاعٍ، وَيُشۡهِدَ شَاهِدَيۡنِ. 
“أَحۡصَيۡنَاهُ” (QS. Yasin: 12) yaitu Kami menyimpannya dan menghitungnya. Talak sunah adalah seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan suci belum digauli (pada masa sucinya) dan dia mempersaksikan kepada dua orang saksi. 
٥٢٥١ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لِيُمۡسِكۡهَا حَتَّى تَطۡهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ بَعۡدُ، وَإِنۡ شَاءَ طَلَّقَ قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّ، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ). [طرفه في: ٤٩٠٨]. 
5251. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa beliau telah menceraikan istrinya dalam keadaan haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruh dia agar merujuk istrinya kemudian menahannya sampai suci. Kemudian haid, kemudian suci. Baru setelah itu jika dia mau, dia tetap menahan (tidak menceraikan). Dan jika dia mau, dia menceraikan istrinya sebelum menggauli. Itu adalah waktu (istri dapat menghadapi) idah (yang wajar) yang telah diperintahkan Allah apabila hendak menceraikan para istri.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2380

٣٢ - بَابُ الصَّائِمِ يَسۡتَقِيءُ عَامِدًا 
32. Bab orang yang berpuasa memuntahkan dengan sengaja 

٢٣٨٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ، نا هِشَامُ بۡنُ حَسَّانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ ذَرَعَهُ قَيۡءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيۡسَ عَلَيۡهِ قَضَاءٌ، وَإِنۡ اسۡتَقَاءَ فَلۡيَقۡضِ). [قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ أَيۡضًا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ عَنۡ هِشَامٍ، مِثۡلَهُ]. 
2380. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus menceritakan kepada kami: Hisyam bin Hassan menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang dikalahkan oleh muntah (yakni muntah yang tidak dibuat-buat) dalam keadaan puasa, maka tidak ada kewajiban kada puasa atasnya. Namun jika dia memuntahkan dengan sengaja, maka dia harus mengada.” Abu Dawud berkata: Diriwayatkan pula oleh Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam, semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 938

١١ - بَابُ نَهۡيِ النِّسَاءِ عَنِ اتِّبَاعِ الۡجَنَائِزِ 
11. Bab larangan bagi wanita dari mengiringi jenazah 

٣٤ - (٩٣٨) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُلَيَّةَ: أَخۡبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ. قَالَ: قَالَتۡ أُمُّ عَطِيَّةَ: كُنَّا نُنۡهَىٰ عَنِ اتِّبَاعِ الۡجَنَائِزِ، وَلَمۡ يُعۡزَمۡ عَلَيۡنَا. 
34. (938). Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Ulayyah menceritakan kepada kami: Ayyub mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Sirin. Beliau berkata: Ummu ‘Athiyyah mengatakan, “Kami dahulu dilarang dari mengiringi jenazah, namun larangan tersebut tidak diharuskan kepada kami.” 
٣٥ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ. كِلَاهُمَا عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ، عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتۡ: نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الۡجَنَائِزِ وَلَمۡ يُعۡزَمۡ عَلَيۡنَا. 
[البخاري: كتاب الحيض، باب الطيب للمرأة عند غسلها من المحيض، رقم: ٣١٣]. 
35. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Hisyam, dari Hafshah, dari Ummu ‘Athiyyah. Beliau mengatakan, “Kami telah dilarang dari mengiringi jenazah namun larangan tersebut tidak diharuskan kepada kami.”
٦٦ - (٩٣٨) - وَحَدَّثَنَا حَسَنُ بۡنُ الرَّبِيعِ: حَدَّثَنَا ابۡنُ إِدۡرِيسَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ، عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تُحِدُّ امۡرَأَةٌ عَلَىٰ مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَىٰ زَوۡجٍ، أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا. وَلَا تَلۡبَسُ ثَوۡبًا مَصۡبُوغًا إِلَّا ثَوۡبَ عَصۡبٍ، وَلَا تَكۡتَحِلُ، وَلَا تَمَسُّ طِيبًا. إِلَّا إِذَا طَهُرَتۡ، نُبۡذَةً مِنۡ قُسۡطٍ أَوۡ أَظۡفَارٍ). 
[البخاري: كتاب الحيض، باب الطيب للمرأة عند غسلها من المحيض، رقم: ٣١٣]. 
66. (938). Hasan bin Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami: Ibnu Idris menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari Hafshah, dari Ummu ‘Athiyyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita tidak boleh berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal, kecuali terhadap suami selama empat bulan sepuluh hari. Dia tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashb (pakaian orang Yaman yang dibuat dengan cara benangnya diikat, lalu dicelup, lalu ditenun dalam keadaan masih terikat sehingga akan memunculkan motif karena ikatan benangnya tetap berwarna putih akibat tidak terkena celupan). Dia juga tidak boleh bercelak, mengenakan wewangian, kecuali ketika suci dari haid boleh mengenakan sedikit qusth dan azhfar (dua jenis dupa untuk menghilangkan bau tidak sedap, bukan untuk wewangian).” 
(...) - حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا عَمۡرٌو النَّاقِدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ. كِلَاهُمَا عَنۡ هِشَامٍ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَا: (عِنۡدَ أَدۡنَىٰ طُهۡرِهَا نُبۡذَةً مِنۡ قُسۡطٍ وَأَظۡفَارٍ). 
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakannya kepada kami: ‘Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Amr An-Naqid telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Hisyam melalui sanad ini. Keduanya berkata, “Ketika baru saja suci boleh mengenakan sedikit qusth dan azhfar.” 
٦٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ حَفۡصَةَ، عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتۡ: كُنَّا نُنۡهَىٰ أَنۡ نُحِدَّ عَلَىٰ مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَىٰ زَوۡجٍ، أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا، وَلَا نَكۡتَحِلُ، وَلَا نَتَطَيَّبُ، وَلَا نَلۡبَسُ ثَوۡبًا مَصۡبُوغًا، وَقَدۡ رُخِّصَ لِلۡمَرۡأَةِ فِي طُهۡرِهَا، إِذَا اغۡتَسَلَتۡ إِحۡدَانَا مِنۡ مَحِيضِهَا، فِي نُبۡذَةٍ مِنۡ قُسۡطٍ وَأَظۡفَارٍ. 
[البخاري: كتاب الحيض، باب الطيب للمرأة عند غسلها من المحيض، رقم: ٣١٣]. 
67. (938). Abu Ar-Rabi’ Az-Zahrani telah menceritakan kepadaku: Hammad menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Hafshah, dari Ummu ‘Athiyyah. Beliau berkata: Kami dahulu dilarang dari berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal kecuali terhadap suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami tidak boleh bercelak, tidak boleh mengenakan wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang dicelup. Dan diberi keringanan bagi wanita di masa sucinya ketika salah seorang kami telah mandi dari haidnya untuk mengenakan sedikit qusth dan azhfar.

Shahih Muslim hadits nomor 1491

٦٥ - (١٤٩١) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ - وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ - .- قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرُونَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ - عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَحِلُّ لِامۡرَأَةٍ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، أَنۡ تُحِدَّ عَلَىٰ مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَىٰ زَوۡجِهَا). 
65. (1491). Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Amr An-Naqid, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Yahya. Yahya berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Adapun yang lain berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad (berkabung) lebih dari tiga hari terhadap orang yang meninggal, kecuali terhadap suaminya.”

Shahih Muslim hadits nomor 1490

٦٣ - (١٤٩٠) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ رُمۡحٍ، عَنِ اللَّيۡثِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ نَافِعٍ، أَنَّ صَفِيَّةَ بِنۡتَ أَبِي عُبَيۡدٍ حَدَّثَتۡهُ، عَنۡ حَفۡصَةَ، أَوۡ عَنۡ عَائِشَةَ، أَوۡ عَنۡ كِلۡتَيۡهِمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَحِلُّ لِامۡرَأَةٍ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ - أَوۡ تُؤۡمِنُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ - أَنۡ تُحِدَّ عَلَىٰ مَيِّتٍ فَوۡقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، إِلَّا عَلَىٰ زَوۡجِهَا). 
63. (1490). Yahya bin Yahya, Qutaibah, dan Ibnu Rumh telah menceritakan kepada kami dari Al-Laits bin Sa’d, dari Nafi’, bahwa Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid menceritakan kepadanya dari Hafshah atau dari ‘Aisyah atau dari masing-masing keduanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir—atau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya—untuk berihdad terhadap orang yang meninggal lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya.” 
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ - يَعۡنِي ابۡنَ مُسۡلِمٍ -: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ، عَنۡ نَافِعٍ، بِإِسۡنَادِ حَدِيثِ اللَّيۡثِ، مِثۡلَ رِوَايَتِهِ. 
Syaiban bin Farrukh telah menceritakannya kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Muslim menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dinar menceritakan kepada kami dari Nafi’, dengan sanad hadis Al-Laits semisal riwayat beliau. 
٦٤ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو غَسَّانَ الۡمِسۡمَعِيُّ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى. قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ قَالَ: سَمِعۡتُ يَحۡيَىٰ بۡنَ سَعِيدٍ يَقُولُ: سَمِعۡتُ نَافِعًا يُحَدِّثُ، عَنۡ صَفِيَّةَ بِنۡتِ أَبِي عُبَيۡدٍ، أَنَّهَا سَمِعَتۡ حَفۡصَةَ بِنۡتَ عُمَرَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ تُحَدِّثُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِمِثۡلِ حَدِيثِ اللَّيۡثِ وَابۡنِ دِينَارٍ. 
وَزَادَ: (فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيۡهِ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٍ وَعَشۡرًا). 
64. Abu Ghassan Al-Misma’i dan Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Yahya bin Sa’id berkata: Aku mendengar Nafi’ menceritakan dari Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid bahwa dia mendengar Hafshah binti ‘Umar istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Al-Laits dan Ibnu Dinar. 
Beliau menambahkan, “Maka, dia berihdad atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari.” 
(...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَيُّوبَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، جَمِيعًا عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ صَفِيَّةَ بِنۡتِ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ بَعۡضِ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِهِمۡ. 
Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Ayyub. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami, semuanya dari Nafi’, dari Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semakna dengan hadis mereka.

Shahih Muslim hadits nomor 1489

(١٤٨٩) - قَالَ حُمَيۡدٌ: فَقُلۡتُ لِزَيۡنَبَ: وَمَا تَرۡمِي بِالۡبَعَرَةِ عَلَىٰ رَأۡسِ الۡحَوۡلِ؟ فَقَالَتۡ زَيۡنَبُ: كَانَتِ الۡمَرۡأَةُ إِذَا تُوُفِّيَ عَنۡهَا زَوۡجُهَا، دَخَلَتۡ حِفۡشًا، وَلَبِسَتۡ شَرَّ ثِيَابِهَا، وَلَمۡ تَمَسَّ طِيبًا وَلَا شَيۡئًا، حَتَّىٰ تَمُرَّ بِهَا سَنَةٌ، ثُمَّ تُؤۡتَىٰ بِدَابَّةٍ، حِمَارٍ أَوۡ شَاةٍ أَوۡ طَيۡرٍ، فَتَفۡتَضُّ بِهِ، فَقَلَّمَا تَفۡتَضُّ بِشَيۡءٍ إِلَّا مَاتَ، ثُمَّ تَخۡرُجُ فَتُعۡطَىٰ بَعَرَةً فَتَرۡمِي بِهَا، ثُمَّ تُرَاجِعُ، بَعۡدُ، مَا شَاءَتۡ مِنۡ طِيبٍ أَوۡ غَيۡرِهِ. 
(1489). Humaid berkata: Aku bertanya kepada Zainab: Apa makna si wanita melempar dengan kotoran binatang di akhir satu tahun? Zainab berkata: Dahulu (di masa jahiliah) wanita ketika ditinggal mati suaminya, dia masuk ke sebuah gubuk dan memakai pakaian terjeleknya. Dia tidak mengenakan wewangian atau sejenisnya sampai berlalu satu tahun. Kemudian didatangkan suatu binatang, bisa keledai, kambing, atau burung, lalu dia mengakhiri (masa berkabungnya) dengan binatang itu. Tidak jarang wanita yang mengakhiri (masa berkabungnya) dengan binatang itu (dengan mengusapkannya ke kulit dirinya), kecuali binatang itu mati. Kemudian si wanita boleh keluar dan diberi kotoran binatang (unta atau kambing) lalu ia melemparkannya. Setelah itu ia kembali boleh mengenakan apa saja yang ia inginkan berupa wewangian atau selainnya.